Rabu, 9 Juli 2008
FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPS PADA
PASIEN SKIZOFRENIA PARANOID
USULAN PENELITIAN TESIS
Oleh :
Yusak P Simanjuntak
Nomor Registrasi CHS : 17408
Pembimbing :
Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ (K)
DEPARTEMEN PSIKIATRI
FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPS PADA
PASIEN SKIZOFRENIA PARANOID
T E S I S
Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Untuk Mencapai Keahlian Dalam Bidang Ilmu Kedokteran Jiwa Pada Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara
OLEH :
YUSAK P SIMANJUNTAK
DEPARTEMEN PSIKIATRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP HAJI ADAM MALIK
LEMBAR PESETUJUAN TESIS
Judul Tesis : Faktor RisikoTerjadinya Relaps pada Pasien
Skizofrenia Paranoid
Nama Peserta PPDS : Yusak P. Simanjuntak
Nomor Registrasi CHS : 17408
Menyetujui,
Pembimbing,
Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ(K)
NIP. 130 517 437
Mengetahui/Mengesahkan :
Ketua Departemen Psikiatri
Fakultas Kedokteran USU
Ketua Program Studi Psikiatri
Fakultas Kedokteran USU
Prof. dr. Syamsir Bs, Sp.KJ (K)
NIP. 130 517 440
Prof. dr. Bahagia Loebis,
Sp.KJ(K)
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, karena berkat dan karunia-Nya penulisan
tesis ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas yang ada
sebelumnya dan memenuhi salah satu syarat untuk melengkapi keahlian
dalam bidang Ilmu Kedokteran Jiwa. Sebagai manusia biasa, saya
menyadari bahwa tesis ini memiliki banyak kekurangan dan masih jauh
dari sempurna. Namun demikian, besar harapan saya kiranya tulisan ini
dapat memberikan manfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan
khususnya tentang:
“Faktor RisikoTerjadinya Relaps pada Pasien Skizofrenia Paranoid”
Dengan selesainya laporan penelitian, perkenankanlah saya
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, dan ketua TKP PPDS I Kedokteran
Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan
kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis
Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara Medan.
2. Prof. dr. Bahagia Loebis, SpKJ (K), selaku Ketua Program Studi
PPDS I Psikiatri Fakultas Kedokteran USU dan sebagai pembimbing
penulis yang telah banyak memberikan bimbingan, memberikan
pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan dan memberikan
buku-buku bacaan yang berharga selama penulis menyelesaikan
tesis dan mengikuti pendidikan spesialis, baik dalam pertemuan
formal maupun informal.
3. Prof. dr. Syamsir BS, SpKJ (K), selaku Ketua Departemen Psikiatri
telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan yang sangat
berharga selama penulis mengikuti pendidikan spesialisasi.
4. dr. Harun. T. Parinduri, SpKJ (K), sebagai guru dan sebagai
pembimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini, dengan penuh
kesabaran, perhatian dalam membimbing, mengarahkan dan
memberi masukan-masukan berharga sehingga penulis mampu
menyelesaikan tulisan ini.
5. dr. Marhanuddin Umar, SpKJ (K) sebagai guru penulis yang telah
banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan yang sangat
berharga selama penulis mengikuti pendidikan spesialisasi.
6. dr. Raharjo Suparto, SpKJ, sebagai guru penulis yang telah banyak
memberikan bimbingan dan pengetahuan yang berharga selama
penulis mengikuti pendidikan spesialisasi.
7. Prof. dr. M. Joesoef Simbolon, SpKJ (K) sebagai guru yang telah
banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan yang sangat
berharga selama penulis mengikuti pendidikan spesialisasi, terutama
di bidang Psikiatri Anak.
8. dr. Elmeida Effendy, Sp.KJ, sebagai Sekretaris Program Studi PPDS
I Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan guru
penulis yang telah banyak membimbing, memberikan pengarahan,
pengetahuan, dorongan, dan dukungan, selama penulis mengikuti
pendidikan spesialisasi.
9. dr. Mustafa Mahmud Amin, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak
memberikan bimbingan dan pengetahuan yang sangat berharga
selama penulis mengikuti pendidikan spesialisasi ini.
10. dr. Vita Camelia, Sp.KJ sebagai guru yang telah banyak memberikan
bimbingan dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis
mengikuti pendidikan spesialisasi ini.
11. dr. Donald F. Sitompul, SpKJ sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa
Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan yang telah memberikan izin
12. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes. selaku pembimbing statistik yang
penuh dengan perhatian dan kesabaran dalam memberikan
bimbingan dan pengarahan sepenuhnya kepada penulis, sehingga
selesainya penulisan tesis ini.
13. dr. Rosminta Girsang, SpKJ; dr. Artina R. Ginting, SpKJ; dr. Sulastri
Effendi, SpKJ; dr. Hj. Mariati, SpKJ; dr. Evawati Siahaan, SpKJ; dr.
Paskawani Siregar, SpKJ; dr. Citra J. Tarigan SpKJ; dr. Dapot P.
Gultom, SpKJ; dan dr. Vera R.B. Marpaung, SpKJ sebagai senior
penulis yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan semangat
selama mengikuti pendidikan spesialisasi.
14. dr. Herlina Ginting, SpKJ; dr. Juskitar, SpKJ, dr. Mawar Gloria
Tarigan, SpKJ, dr. Freddy S. Nainggolan dan SpKJ, dr. Adhayani
Lubis, SpKJ yang telah banyak memberikan masukan, dan dorongan
selama penulis mengikuti pendidikan spesialisasi ini.
15. Ketua TKP PPDS I Fakultas Kedokteran USU atas kesempatan yang
diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan spesialisasi
Psikiatri FK USU.
16. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, Direktur
Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara, Direktur Rumah
Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan, Direktur Rumah Sakit Tembakau
Deli Medan yang telah memberikan izin, kesempatan dan fasilitas
kepada penulis untuk belajar dan bekerja selama mengikuti
pendidikan spesialisasi.
17. Prof. DR. dr. Hasan Sjahrir, SpS(K) selaku Ketua Departemen
Neurologi FK USU, dan dr. Rusli Dhanu, SpS selaku Ketua Program
Studi PPDS-I Neurologi FK USU, Prof. dr. Darulkutni Nasution, SpS
(K) dan dr. Yuneldy Anwar, SpS yang telah memberikan bimbingan
dan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjalani stase di
Departemen Neurologi FK USU.
18. Prof. dr. Habibah Hanum Nasution, SpPD, KPSi, selaku Kepala Sub
menerima dan membimbing penulis selama belajar di stase Sub
Divisi Psikosomatik Ilmu Penyakit Dalam FK USU.
19. Teman-teman sejawat peserta PPDS-I Psikiatri FK USU : dr. Evalina
Peranginangin, dr. Ghafur Fauzi, dr. Friedrich Lupini, dr. Wilson
Rimba, dr. Rudyhard E. Hutagalung, dr. Laila Silvya Sari, dr. Juwita
Saragih, dr. M. Surya Husada, dr. Silvy A. Hasibuan, dr. Victor E.
Pinem, dr. Siti Nurul Hidayati, dr. Lailan Sapinah, dr. Herny T.
Tambunan, dr. Baginda, dr. Yusuf, dr. Ricky dan dr. Ira yang banyak
memberikan masukan berharga kepada penulis melalui
diskusi-diskusi kritis baik dalam pertemuan formal maupun informal, serta
selalu memberikan dorongan yang membangkitkan semangat penulis
dalam menyelesaikan pendidikan spesialisasi ini.
20. Perawat, pegawai RSUP. H. Adam Malik Medan, RSUP. Dr. Pirngadi
Medan, RS. Tembakau Deli Medan, Rumah Sakit Jiwa Daerah
Propinsi Sumatera Utara, yang telah membantu penulis selama
dalam pendidikan spesialisasi.
21. Buat istriku Yunita dan anakku Yosephine yang telah banyak
membantu dan mendorong dalam menyelesaikan pendidikan
spesialisasi ini.
22. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
namanya yang telah membantu penulis selama mengikuti pendidikan
spesialisasi ini.
Medan, Oktober 2008
Penulis
ABSTRAK
Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data
faktor-faktor risiko yang menyebabkan terjadinya relaps pada pasien
skizofrenia paranoid dan untuk mengetahui faktor risiko yang paling
berpengaruh dalam menyebabkan relaps pada pasien skizofrenia
paranoid.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional
dengan disain case-control yang menilai hubungan antara faktor risiko dengan kejadian relaps dengan cara membandingkan sekelompok pasien
yang mengalami relaps (kasus, n=100) dan sekelompok pasien yang
terkontrol (kontrol, n=100) setelah dilakukan matching group pada jenis kelamin dan usia, di Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara
Medan. Penelitian dilakukan selama 6 bulan, terhitung sejak Mei 2008 s/d
Oktober 2008. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen
penelitian berupa kriteria diagnostik untuk skizofrenia paranoid menurut
PPDGJ-III dan Positive And Negative Syndrome Scale (PANSS) yang sudah divalidasi oleh Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia dibantu oleh seorang interater yang telah mendapatkan pelatihan (nilai uji korelasi peringkat 0.85, signifikansi pada
level 0.001), dan data sekunder didasarkan pada catatan yang ada pada
buku status pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah Pemerintah Propinsi
Sumatera Utara Medan.
Hasil Penelitian: Terdapat hubungan bermakna antara ketidakpatuhan
dan stresor psikososial secara umum dengan kejadian relaps. Faktor
sehubungan dengan pasien, sehubungan dengan pengobatan dan faktor
lingkungan sebagai bagian dari ketidakpatuhan juga memiliki hubungan
bermakna dengan kejadian relaps, sedangkan faktor sehubungan dengan
problem dengan primary support group, problem pekerjaan, dan problem ekonomi memiliki hubungan bermakna dengan kejadian relaps. Problem
berkaitan dengan lingkungan sosial, problem dengan akses pelayanan
kesehatan dan problem psikososial dan masalah lingkungan lain tidak
memiliki hubungan bermakna dengan kejadian relaps. Problem
pendidikan, problem perumahan dan problem berkaitan dengan sistem
hukum/kriminal tidak ada dilaporkan oleh responden. Setelah dilakukan uji
regresi logistik ganda didapatkan bahwa problem dengan primary support group merupakan faktor risiko paling dominan dengan nilai OR 131.2, diikuti faktor lingkungan (OR 18.5) dan problem ekonomi (OR 13.0).
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara ketidakpatuhan dan
stresor psikososial secara umum dengan kejadian relaps, dan problem
dengan primary support group merupakan faktor risiko paling dominan dalam menyebabkan relaps.
Kata Kunci: Relaps, skizofrenia paranoid, ketidakpatuhan, stresor
DAFTAR ISI
UCAPAN TERIMA KASIH ...i
ABSTRAK ...v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ...x
DAFTAR GAMBAR/SKEMA... xi
DAFTAR SINGKATAN ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 3
1.3 Hipotesis ... 4
BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 5
2.1 Tujuan Penelitian ... 5
2.1.1 Tujuan Umum ... 5
2.1.2 Tujuan Khusus... 5
2.2 Manfaat Penelitian ... 5
BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
3.1. Tinjauan Umum... 6
3.1.1. Prinsip Dasar Dari Relaps ... 8
3.1.2. Hubungan Relaps Dengan Prognosis ... 8
3.1.3. Angka Relaps (Relaps Rate) ... 9
3.2. Ketidakpatuhan Terhadap Pengobatan ... 10
3.2.1. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pasien ... 11
3.2.2. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pengobatan ... 13
3.2.3. Faktor Lingkungan ... 15
3.2.4. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Dokter... 15
3.3. Faktor Psikososial... 16
BAB 4. KERANGKA KONSEP ... 19
BAB 5. METODA PENELITIAN ... 20
5.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
5.3. Populasi dan Sampel ... 20
5.3.1. Populasi... 20
5.3.2. Sampel ... 20
5.4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi ... 21
5.4.1. Kriteria Inklusi ... 21
5.4.2. Kriteria Ekslusi... 21
5.5. Besar Sampel ... 22
5.6. Identifikasi Variabel... 23
5.6.1. Variabel Bebas ... 23
5.6.2. Variabel Tergantung ... 23
5.7. Definisi Operasional... 23
5.8. Manajemen Data... 26
5.8.1. Sumber Data ... 26
5.8.2. Metode Pengumpulan Data ... 26
5.8.3. Pengolahan Data... 26
5.8.4. Analisis Data... 27
BAB 6. KERANGKA OPERASIONAL ... 29
BAB 7. HASIL PENELITIAN ... 30
7.1. Karakteristik Sampel Penelitian ... 30
7.2. Analisis Univariat ... 31
7.3. Analisis Bivariat... 33
7.4. Analisis Multivariat ... 35
BAB 8. PEMBAHASAN ... 39
8.1. Keterbatasan Penelitian ... 39
8.1.1. Rancangan Penelitian ... 39
8.1.2. Parameter... 39
8.1.3. Kualitas Data ... 39
8.2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 40
Variabel Bebas, Nilai p, Rasio Odds,
Rasio dengan Confidence Interval (CI) 95%
pada Pasien Skizofrenia Paranoid ... 40
8.2.3. Hasil Analisis Multivariat ... 44
BAB 9. KESIMPULAN DAN SARAN ... 46
9.1. Kesimpulan ... 46
9.2. Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Karakteristik Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Pendidikan,
Tempat Tinggal, Status Perkawinan dan Penghasilan Kasus
dan Kontrol Pasien Skizofrenia Paranoid ... 30
Tabel 2. Hasil Uji-t pada Kelompok Umur dan Hasil Uji Chi-Square
Jenis Kelamin Kasus dan Kontrol
Pasien Skizofrenia Paranoid ... 31
Tabel 3. Hasil Uji Chi-Square pada Tempat Tinggal dan Penghasilan/bulan Kasus dan Kontrol
Pasien Skizofrenia Paranoid ... 32
Tabel 4. Hubungan Ketidakpatuhan dan Stresor Psikososial
dengan Kejadian Relaps. ... 32
Tabel5. Distribusi Proporsi Kasus dan Kontrol Berdasarkan
Variabel Bebas, Nilai p, Rasio Odds,
Rasio dengan Confidence Interval (CI)95%
pada Pasien Skizofrenia Paranoid... 33
Tabel 6. Uji Regresi Logistik Ganda untuk Identifikasi Variabel
dengan nilai p≤0.05. ... 37
Tabel 7. Hasil akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Pemodelan
DAFTAR GAMBAR/SKEMA
Gambar/Skema Kerangka Konsep Penelitian...19
DAFTAR SINGKATAN
CI : Confidence Interval
COV : Coefisien of Varians
OR : Odds Ratio
PANSS : Positive And Negative Syndrome Scale
PPDGJ-III : Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
di Indonesia, Edisi III
SD : Standard Deviation
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. POSITIVE AND NEGATIVE SYNDROME SCALE ... 50
LAMPIRAN 2. KUESIONER PENELITIAN... 53
LAMPIRAN 3. LEMBAR PENJELASAN UNTUK PENELITIAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA RELAPS PADA PASIEN SKIZOFRENIA PARANOID ... 54
LAMPIRAN 4. LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN ... 56
LAMPIRAN 5. Tabel Induk Penelitian ... 57
LAMPIRAN 6. Hasil Pemeriksaan PANSS... 61
LAMPIRAN 7. Hasil Uji Korelasi Peringkat PANSS ... 62
PERSETUJUAN KOMISI ETIK TENTANG PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Skizofrenia merupakan suatu sindroma klinis dari berbagai
keadaan psikopatologis yang sangat mengganggu yang melibatkan
proses pikir, emosi, persepsi dan tingkah laku.1 Argumentasi yang
dipelopori Emil Kraepelin menyatakan bahwa skizofrenia
dikarakteristikkan dengan onset dini yang diikuti dengan perjalanan penyakit dan kemunduran yang kronik. Bleuler menyatakan bahwa
perjalanan penyakit dan kemunduran yang kronik tersebut sering terjadi
tetapi bukanlah merupakan pegangan bahwa hal tersebut akan selalu
menjadi demikian sebagai suatu hasil akhir. Meskipun skizofrenia selalu
dianggap sebagai suatu penyakit yang serius, sudah jelas sekarang
bahwa pasien skizofrenik kemungkinan mengalami perjalanan penyakit
dengan keadaan relatif ringan.1
Perjalanan gangguan skizofrenik dapat berlanjut atau bersifat
episodik dengan defisit yang bersifat progresif atau bisa menetap atau
mengalami satu atau lebih episode dengan remisi sempurna atau tidak
sempurna.1 Kebanyakan pasien-pasien skizofrenik mengalami perjalanan
penyakit yang kronik dengan berbagai bentuk karakteristik relaps dengan
eksaserbasi psikosis dan peningkatan angka rehospitalisasi. Successive relapse dapat menurunkan tingkat dan durasi remisi, memperburuk disabilitas dan meningkatkan refrakteritas bagi pengobatan selanjutnya.2
Sebanyak 90% penderita successive relapse dan pada akhirnya tidak pernah sembuh secara sempurna (full recovery). Banyak studi-studi menunjukkan bahwa angka relaps (relapse rate) penderita skizofrenik dapat diturunkan dari 75% menjadi 20% dengan obat-obat neuroleptik.3
Menurut Campbell dalam Psychiatric Dictionary relaps didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana apabila seorang pasien yang sudah pulih
Dalam keadaan seperti ini pasien mungkin akan dirawat inap kembali dan
membutuhkan biaya yang tinggi.5
Penderita skizofrenik episode pertama umumnya berespons baik
terhadap pengobatan, tetapi angka relaps masih tinggi dalam setahun
perjalanan penyakit. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan
salah satu penyebab relaps dan pasien perlu dirawat inap kembali.6,7
Walaupun antipsikotik konvensional dapat menurunkan
gejala-gejala positif pada kebanyakan pasien setelah beberapa minggu,
penghentian obat antipsikotik dapat menyebabkan relaps sekitar 10%
setiap bulan, jadi kira-kira 50% atau lebih akan mengalami relaps dalam
waktu 6 bulan setelah penghentian pengobatan.8 Sehingga secara
internasional direkomendasikan pengobatan episode pertama dimulai
secepatnya dan dilanjutkan sekurang-kurangnya selama 2 tahun. Apabila
terjadi relaps, sebaiknya pengobatan dilanjutkan selama 5 tahun atau
lebih.3 Terapi dengan menggunakan obat merupakan pertahanan paling
penting dalam mencegah relaps. Perbedaan angka relaps antara
pasien-pasien yang menggunakan plasebo dan obat neuroleptik telah diteliti
(kira-kira 69% pada kelompok yang menggunakan plasebo vs 26% pada
kelompok yang menggunakan neuroleptik setelah 1 tahun). Angka relaps
tahun pertama dapat diturunkan dari 75% menjadi 15% dengan
menggunakan neuroleptik dalam pengobatan propilaktik.5
Suatu kesimpulan dari riset klinis yang didasarkan pada studi
follow-up menyatakan bahwa beberapa faktor berikut berkontribusi dalam membentuk episode psikotik yang baru (mengakibatkan terjadinya
relaps):5
a. ketidakpatuhan terhadap pengobatan;
b. faktor-faktor farmakologik (dosis obat);
c. faktor-faktor psikososial; dan
d. penyalahgunaan alkohol dan obat.5
Beberapa peneliti memasukkan faktor-faktor farmakologik sebagai
bagian dari ketidakpatuhan terhadap pengobatan yang meliputi efek
dasar tersebut, pada penelitian ini selanjutnya faktor-faktor farmakologik
yang diduga berperan dalam menimbulkan relaps akan dianggap sebagai
bagian dari ketidakpatuhan terhadap medikasi. Disamping itu,
penyalahgunaan alkohol dan obat selanjutnya akan menjadi faktor yang
diekslusikan untuk menghindari terjadinya diagnosis ganda. Hal ini
dialaskan pada kenyataan bahwa penyalahgunaan alkohol dan obat
memiliki blok tersendiri dalam buku panduan Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa III di Indonesia (PPDGJ III), yaitu pada blok
Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (F1..).11
Pemilihan kelompok relaps sebagai target populasi dalam
penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa rehospitalisasi sering
terjadi pada pasien-pasien yang mengalami relaps di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, umumnya pada pasien
skizofrenia, khususnya skizofrenia paranoid. Data tentang kejadian relaps
yang cukup sering terjadi ini juga belum ada karena belum pernah
dilakukan penelitian tentang hal ini sebelumnya. Dengan mengetahui
faktor risiko yang mengakibatkan terjadinya relaps diharapkan dapat
dilakukan pencegahan kejadian relaps dan dapat menurunkan angka
rehospitalisasi.
Berdasarkan keadaan tersebut diatas, perlu dilakukan penelitian
untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian relaps pada
skizofrenia, yang dapat digunakan untuk mencegah kejadian relaps dan
menurunkan angka rehospitalisasi.
1.2. Perumusan Masalah
a. Berapa prevalensi relaps pada pasien skizofrenik di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Pemerintah Propinsi Sumatera Utara?
b. Apakah ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan faktor risiko
terjadinya relaps pada pasien skizofrenia paranoid?
c. Apakah faktor psikososial merupakan faktor risiko terjadinya relaps
1.3. Hipotesis
a. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan faktor risiko
terjadinya relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
b. Faktor psikososial merupakan faktor risiko terjadinya relaps pada
BAB 2
TUJUAN PENELITIAN
2.1. Tujuan Penelitian
2.1.1. Tujuan Umum
Memperoleh data faktor-faktor risiko yang menyebabkan terjadinya
relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
2.1.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan faktor risiko ketidakpatuhan dengan kejadian
relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
b. Mengetahui hubungan faktor risiko stresor psikososial dengan kejadian
relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
c. Mengetahui faktor yang paling berpengaruh dalam menyebabkan
relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
2.2. Manfaat Penelitian
a. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya relaps
pada pasien skizofrenia paranoid, maka angka relaps dapat diturunkan
sehingga dapat menurunkan angka rehospitalisasi.
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Tinjauan Umum
Skizofrenia adalah pola penyakit bidang psikiatri, merupakan
sindroma klinis dari berbagai keadaan psikopatologis yang sangat
mengganggu, yang melibatkan proses pikir, persepsi, emosi, gerakan, dan
tingkah laku.1,12
Sebagai suatu gangguan kronik dengan konsekuensi fisik, sosial
dan ekonomik2, skizofrenia merupakan masalah utama dalam kesehatan
masyarakat yang berpengaruh pada sebagian besar orang dan kerugian
ekonomi diseluruh dunia.1 Kerugian secara ekonomik yang diakibatkan
skizofrenia diperkirakan sekitar 33 milyar dolar di Amerika Serikat pada
tahun 1990. Kebanyakan biaya tersebut dihubungkan dengan
konsekuensi gejala psikosis yang mengalami relaps.2
Gangguan skizofrenik umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan
persepsi yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar
(inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap dipertahankan walaupun defisit
kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Gangguan ini melibatkan
fungsi yang paling mendasar yang memberikan kepada orang normal
suatu perasaan kepribadian (individuality), keunikan dan pengarahan diri (self-direction).11 Skizofrenia merupakan gangguan mental yang mengakibatkan kerusakan berat dan mengakibatkan disabilitas.13 Di
Amerika Serikat, prevalensi Skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara
bervariasi terentang dari 1-1.5%14, biasanya diawali pada masa remaja
atau pada awal dewasa muda13, dengan usia puncak onset untuk laki-laki adalah 10-25 tahun; untuk wanita 25-35 tahun1,14, kurang dari 20 persen
pasien mengalami kesembuhan total (full recovery) setelah episode pertama.15
Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling sering
waham-waham yang secara relatif stabil, seringkali bersifat paranoid, biasanya
disertai oleh halusinasi-halusinasi, terutama halusinasi pendengaran, dan
gangguan-gangguan persepsi (simtom positif).11
Istilah relaps biasanya ditujukan untuk gejala perburukan atau
rekurensi gejala positif daripada gejala negatif, dan relaps mengganggu
perjalanan penyakit.5 Relaps yang satu akan mengakibatkan kemungkinan
terjadinya relaps berikutnya dan simtom residual pada penderita
skizofrenik.16
Sebagai gangguan kronik, skizofrenia biasanya dikarakteristikkan
dengan kemungkinan relaps dengan periode sembuh total atau
sebagian.15 Meskipun medikasi antipsikotik efektif dalam menurunkan
angka relaps, 30-40% pasien mengalami relaps dalam 1 tahun setelah
keluar dari rumah sakit meskipun mendapatkan medikasi maintenance.2,15 Dalam pengamatan selama setahun, ditemukan bahwa 33%
penderita skizofrenik relaps dan 12,1% akan dilakukan rawat inap
kembali. Tidak ada perbedaan kemungkinan relaps pada penderita yang
langsung diobati dibandingkan dengan yang terlambat diobati; meskipun
demikian, penderita yang sering relaps biasanya memiliki riwayat durasi
yang lebih panjang dari psikosis yang tidak diobati dibandingkan penderita
tanpa relaps.6
Disamping fakta bahwa obat-obat neuroleptik dengan efektifitas
yang tinggi telah tersedia sejak 40 tahun yang lalu, 50% pasien
skizofrenik, yang mendapatkan pengobatan di bawah normal, mengalami
relaps dalam satu tahun setelah episode terakhirnya. Situasi paradoksikal
ini menjadi tantangan bagi para profesional, sejak hal ini
mengimplikasikan penderitaan, bagi pasien maupun keluarga, dan
mengakibatkan kerugian yang sangat besar dalam biaya perawatan.5
Pasien-pasien skizofrenik tetap akan mengalami relaps meskipun
mereka harus menghabiskan 15-20% waktunya dalam institusi psikiatrik
3.1.1. Prinsip Dasar Dari Relaps
Tidak ada kriteria umum yang dapat dianggap sebagai kriteria
relaps. Secara umum, istilah relaps ditujukan untuk gejala perburukan
atau rekurensi gejala positif daripada gejala negatif. Meskipun demikian,
batasan istilah schizophrenic relapse belum begitu jelas. Pada kenyataannya, relaps merupakan suatu istilah relatif dan harus meliputi
beberapa faktor berikut: kondisi pasien sebelum onset penyakit terakhir (sebelumnya); tingkat keberfungsian sebelum episode terbaru; keparahan
dari relaps dalam terminologi keparahan simtom, durasi dan pengaruhnya
terhadap fungsi personal; dan gambaran bentuk simtom atau perilaku
yang baru.5
Menurut Johnstone, relaps dapat didefinisikan sebagai pemunculan
kembali simtom-simtom skizofrenik pada pasien yang sudah mengalami
bebas gejala selama episode sebelumnya (tipe I) dan eksaserbasi simtom
positif secara persisten (tipe II). Tipe-tipe tersebut tidak selalu mudah
untuk dibedakan.5
Sehubungan dengan kesulitan dalam pengukuran skizofrenik
secara simtomatologi, beberapa sumber mengusulkan tambahan
beberapa penilaian dengan menggunakan penilaian secara (relatif) kasar
terhadap beberapa perubahan, seperti misalnya perujukan untuk dirawat
kembali. Meskipun demikian, dengan metode ini beberapa keadaan relaps
mungkin membutuhkan rujukan sehubungan dengan perilaku bunuh diri
atau kesulitan dalam hal sosial, tidak selalu berhubungan dengan simtom
positif.5
3.1.2. Hubungan Relaps Dengan Prognosis
Beberapa bukti menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi
membutuhkan waktu yang lama dari yang diperkirakan bagi pasien-pasien
yang menghentikan medikasi antipsikotik untuk kemudian mengalami
relaps ke fungsi klinis sebelum mereka menghentikan obat.5
Johnson et al. mengamati bahwa pasien-pasien yang akan
perlahan akan kembali ke kondisi sebelumnya, dan belum begitu jelas
apakah semua pasien akan mengalami hal yang sama, pada
kenyataannya, akan kembali ke fungsi sebelum mereka menghentikan
obat. Hanya 53% pasien yang menghentikan medikasi yang memiliki
pekerjaan yang sesuai 18 bulan setelah mereka mendaftarkan diri dalam
penelitian, dibanding dengan 84% pasien yang melanjutkan medikasi
secara reguler.5
Curson et al., menemukan korelasi negatif yang tinggi antara
penyesuaian diri secara sosial dan jumlah relaps yang terjadi setelah
follow-up selama 7 tahun.5
Baru-baru ini, dalam suatu penelitian prospektif yang dilakukan
terhadap pasien-pasien skizofrenik episode pertama, Lieberman
menemukan bahwa pasien-pasien menunjukkan respons yang buruk dan
waktu yang lebih lama untuk remisi pada episode berikutnya (kedua dan
ketiga), meskipun pasien-pasien tersebut mendapatkan pengobatan yang
sama seperti saat episode pertama.5
Temuan ini memberi kesan bahwa strategi intervensi
penatalaksanaan dibutuhkan sehingga diharapkan dapat meningkatkan
identifikasi dan penatalaksanaan skizofrenia secara dini, demikian juga
dengan ketaatan dan kepatuhan seiring dengan perbaikan dari kondisi
sebelumnya. Temuan ini juga menimbulkan pertanyaan yang menarik
sehubungan dengan mekanisme bagaimana hal ini bisa terjadi.5
Keseluruhan hasil pengamatan ini konsisten dengan pendapat
Kraeplin. Pada dasarnya, Kraeplin beranggapan bahwa defek yang
berkembang merupakan karakteristik dari gangguan ini, dan meskipun
beberapa penyakit mengalami perburukan yang progresif, pada
kebanyakan kasus dikarakteristikkan oleh episode selanjutnya yang
secara kolektif memperburuk gambaran klinisnya.5
3.1.3. Angka Relaps (Relapse Rate)
juga, parameter ini cukup signifikan dalam beberapa aspek. Setiap relaps
berpotensi menimbulkan bahaya bagi pasien dan keluarganya; seringkali
mengakibatkan rehospitalisasi dan membengkaknya biaya pengobatan.
Lebih jauh lagi, pertanyaan apakah dan berapa lama pencegahan relaps
dengan menggunakan neuroleptik dapat diandalkan.5
Di sisi lain, keuntungan dengan melanjutkan penggunaan
neuroleptik dalam mencegah eksaserbasi klinis dari skizofrenia
merupakan suatu penegasan, menunjukkan perbedaan yang besar secara
signifikan dalam hal angka relaps antara pengobatan aktif dan plasebo.
Pada saat ini angka relaps pada tahun pertama dapat diturunkan dari 75%
menjadi 15% dengan pengobatan propilaktik dengan menggunakan
neuroleptik. Artinya, tidak hanya membuat perbaikan yang sangat besar
dalam kualitas hidup pasien, akan tetapi secara langsung atau tidak
langsung telah menyelamatkan milyaran dolar uang negara.5
3.2. Ketidakpatuhan Terhadap Pengobatan
Faktor yang paling penting sehubungan dengan relaps pada
skizofrenia adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Bahkan dalam
penelitian terkontrol, persentase pasien-pasien yang tidak memakan obat
(36.5%) secara nyata lebih tinggi daripada pasien-pasien yang menjalani
pengobatan secara rutin.5
Menurut data Ayuso-Gutierrez et al., banyak sekali penderita
skizofrenik yang mengalami eksaserbasi klinis dan membutuhkan
perawatan akibat tidak menuruti penatalaksanaan yang diberikan.5
Menurut Kinon et al., kriteria ketidakpatuhan terhadap pengobatan
adalah jika ditemukan salah satu keadaan dibawah ini: 17
a. Pada pasien rawat jalan atau rawat inap dalam 72 jam
menunjukkan ≥ dua episode dari:
1) Menolak obat yang diresepkan baik secara aktif atau pasif.
2) Adanya bukti atau kecurigaan menyimpan atau meludahkan obat
yang diberikan.
b. Pasien rawat inap dengan riwayat tidak patuh pada pengobatan
sewaktu rawat jalan minimal tidak patuh selama 7 hari dalam
sebulan.
c. Pasien rawat jalan dengan riwayat ketidakpatuhan yang sangat
jelas seperti sudah pernah dilakukan keputusan untuk mengawasi
dengan ketat oleh orang lain dalam waktu sebulan.
d. Pasien rawat inap yang mengatakan dirinya tidak dapat menelan
obat-obatan walaupun tidak ditemukan kondisi medis yang dapat
mengakibatkan hal tersebut.
Faktor-faktor yang mempunyai hubungan dengan ketidakpatuhan
antara lain:3,9,10
a. Faktor-faktor sehubungan dengan pasien (keparahan penyakit,
insight yang buruk, komorbid dengan penggunaan zat).
b. Faktor-faktor sehubungan dengan pengobatan (efek samping obat
yang mengganggu, dosis yang tidak efektif).
c. Faktor lingkungan (kurangnya dukungan).
d. Faktor-faktor sehubungan dengan dokter (ikatan terapetik yang
buruk).
3.2.1. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pasien
Beberapa karakteristik demografi telah dihubungkan dengan
perilaku patuh. Usia masih merupakan masalah yang kontroversial dalam
hubungannya dengan ketidakpatuhan. Tampaknya pasien-pasien yang
berusia lanjut mempunyai permasalahan tentang kepatuhan terhadap
rekomendasi yang diberikan. Di kalangan usia muda, terutama pria,
cenderung mempunyai tingkat kepatuhan yang buruk terhadap
pengobatan. Alasan untuk hal ini kemungkinan bahwa pada dewasa muda
sehubungan dengan segala bentuk terapi atau dalam mengatur perjanjian,
mereka menganggap dirinya istimewa dan berbeda dengan yang lain.
Sedangkan pada orangtua, kemungkinan memiliki defisit memori sehingga
komorbiditas fisik. Wanita cenderung lebih patuh terhadap pengobatan
dibandingkan pria, begitu juga wanita muda menunjukkan kepatuhan yang
lebih baik dibandingkan yang tua.10
Keadaan penyakit pasien sendiri juga mempunyai pengaruh yang
kuat dalam penerimaan terhadap pengobatan. Pasien yang merasa
tersiksa atau khawatir akan diracuni, akan merasa enggan untuk
menerima pengobatan.18
Permasalahan yang lain adalah model kepercayaan pasien tentang
kesehatannya, dimana menggambarkan pikiran pasien tentang penyebab
dan keparahan penyakit mereka. Banyak orang menilai bahwa skizofrenia
adalah penyakit yang kurang penting dan tidak begitu serius dibandingkan
penyakit-penyakit lain seperti diabetes, epilepsi dan kanker. Jadi jelas
bahwa jika mereka mempercayai penyakitnya tidak begitu serius dan tidak
penting untuk diterapi maka ketidakpatuhan dapat terjadi. Begitu juga
persepsi sosial juga berpengaruh, jika persepsi sosial buruk maka pasien
akan berusaha menghindari setiap hal tentang penyakitnya termasuk
pengobatan.10
Sikap pasien terhadap pengobatan juga perlu diperhitungkan dalam
pengaruhnya terhadap kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
Sangatlah penting untuk mengamati, berdiskusi dan jika memungkinkan
mencoba untuk merubah sikap pasien terhadap pengobatan. Pada pasien
dengan skizofrenia sikap pasien terhadap pengobatan dengan antipsikotik
bervariasi dari yang sangat negatif sampai sangat positif. Sikap negatif
terhadap pengobatan berhubungan dengan simtom positif dan efek
samping. Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa semakin lama pasien
akan berubah sikapnya terhadap pengobatan.10
Terakhir adalah masalah keuangan. Masalah keuangan dapat juga
mengganggu kepatuhan pasien. Beberapa pasien mungkin tidak mampu
untuk membeli obat atau walaupun mampu jarak tempuh dan transportasi
3.2.2. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pengobatan
Pasien yang tidak mengalami efek samping terhadap pengobatan
kemungkinan lebih mau melanjutkan pengobatan.16 Efek samping obat
neuroleptik yang tidak menyenangkan sebaiknya diperhitungkan sebab
dapat berperan dalam menurunkan kepatuhan. Efek samping yang umum
dan penting adalah efek pada ekstrapiramidal, gangguan seksual dan
penambahan berat badan. Namun, pada data ternyata tidak ada
hubungan antara regimen terapi dan profil efek samping dengan
kepatuhan terhadap pengobatan. Kenyataannya, pasien yang tidak patuh
tidak berbeda dari pasien yang patuh dalam melaporkan efek samping
obat neuroleptik. Penemuan ini adalah sama dengan penelitian lain yang
menemukan bahwa efek samping obat bukanlah alasan yang sering
dikatakan pasien dalam menolak pengobatan.5 Penderita skizofrenia yang
menggunakan antipsikotik atipikal lebih mau meneruskan pengobatan
dibandingkan penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional.19
Masalah tambahan dalam pengobatan skizofrenia adalah
kebanyakan obat-obat antipsikotik kerja obatnya (onset of action) lambat, sehingga pasien tidak merasakan dengan segera efek positif dari
antipsikotik. Malahan kadang-kadang pasien lebih dahulu merasakan efek
samping sebelum efek obat terhadap penyakitnya tersebut. Begitu juga
dengan pasien skizofrenia yang sudah dalam remisi biasanya relaps tidak
langsung segera terjadi bila pengobatan dihentikan. Relaps dapat terjadi
beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah obat anti psikotik
dihentikan, jadi penghentian pengobatan tidak terlalu berhubungan
dengan memburuknya keadaan pasien. Sebagai akibatnya pasien yang
sudah dalam remisi sempurna mempunyai permasalahan apakah remisi
tersebut berhubungan dengan pengobatan yang dilakukannya.10
Pasien mungkin juga merasakan obat-obatan tersebut tidaklah
seefektif seperti yang mereka harapkan atau bahkan berbahaya. Hal ini
menjadi tanggung jawab dokter dalam melakukan pengobatan untuk
mengenai profil keuntungan dan kerugian antipsikotik yang akan
diberikan.10
Beragamnya obat yang diresepkan juga memiliki peran penting
dalam kepatuhan. Pasien yang menerima regimen pengobatan yang
kompleks, misalnya mengkonsumsi beberapa obat dengan waktu yang
berbeda dalam satu hari atau mengkonsumsi 2 macam atau lebih
obat-obatan, mempunyai permasalahan dalam ketaatan terhadap obat yang
diberikan dibanding pasien yang hanya mengkonsumsi 1 macam obat
dengan dosis tunggal.10
Cara pemberian obat dapat juga mempengaruhi kepatuhan. Namun
hasil ketidakpatuhan yang sama diperoleh pada pasien yang tidak patuh
terhadap pemberian obat oral yang diganti dengan depot neuroleptik. Hal
ini yang sering terjadi kesalahpahaman bahwa pemberian obat depot akan
meningkatkan kepatuhan. Namun penggunaan antipsikotik kerja lama
dapat mengatasi kepatuhan yang parsial sehingga dapat memperbaiki
outcome penyakit.20
Dosis obat neuroleptik yang adekuat merupakan hal yang penting.5
Sayangnya, penelitian tentang obat seringkali berhenti sampai ditentukan
apakah suatu antipsikotik bermanfaat dalam menurunkan simtom positif
yang akut. Beberapa data telah tersedia tentang urutan tahapan
pengobatan.16 Beberapa studi telah dilakukan apakah obat neuroleptik
dosis rendah sama efektifnya dengan terapi jangka panjang. Hasil yang
ditunjukkan adalah perbedaan dalam angka relaps dengan menggunakan
dosis standar, berlawanan dengan fungsi sosial yang baik dengan obat
dosis rendah, kemungkinan terhadap efek samping yang ringan. Studi ini
membandingkan regimen yang konvensional dengan dosis rendah dan
tidak menentukan dosis minimum yang efektif.5
Sementara itu, dosis minimum efektif yang telah direkomendasikan
dalam suatu konsensus adalah sebagai berikut:5
Haloperidol 2,5 mg/hari.
Fluphenazine Hydrochloride 2,5 mg/hari.
Haloperidol Decanoate 50 – 60 mg i.m tiap 4 minggu.5
Bila dosis di bawah (kurang dari) yang tersebut di atas, maka risiko relaps
akan meningkat secara signifikan.5
3.2.3. Faktor Lingkungan
Dukungan dan bantuan merupakan variabel penting dalam
kepatuhan terhadap pengobatan. Pasien yang tinggal sendirian secara
umum mempunyai angka kepatuhan yang rendah dibandingkan mereka
yang tinggal dalam lingkungan yang mendukung. Sebagai kemungkinan
lain, sikap negatif dalam lingkungan sosial pasien terhadap pengobatan
psikiatri atau terhadap pasien sendiri dapat mempengaruhi kepatuhan.
Interaksi sosial yang penuh dengan stres dapat mengurangi kepatuhan
yang biasanya terjadi bila pasien tinggal dengan orang lain. Sebagai
contohnya adalah situasi emosional yang tinggi dan keluarga atau pihak
lain yang tidak mau memperhatikan sikap positif pasien terhadap
pengobatan.10
Tidak kalah penting faktor yang mempengaruhi perilaku pasien
terhadap kepatuhan adalah pengaruh obat terhadap penyakitnya. Sangat
penting untuk memberi dukungan untuk menambah sikap yang positif
terhadap pengobatan pada pasien. Sebagai dokter kadang-kadang
melupakan hal tersebut bahwa sikap positif tersebut perlu dibantu terus
menerus.10
Lingkungan terapetik juga harus diperhitungkan. Dalam pasien
rawat inap dimana teman sekamar pasien pernah mengalami pengalaman
yang buruk terhadap satu jenis obat dan menceritakannya maka akan
merubah sikap pasien terhadap obat yang sama.10
3.2.4. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Dokter
Hubungan terapetik yang dibangun dokter dengan pasien
merupakan suatu landasan atau dasar dari kepatuhan terhadap
keluhan-keluhan pasien adalah penting. Terciptanya suatu hubungan
yang baik merupakan prasyarat untuk masuk ke dalam ikatan terapetik
dan memberikan informasi adalah hal yang penting dalam hubungan ini.
Informasi dapat diberikan pada pasien ataupun keluarga baik dalam
jadwal konsultasi ataupun dalam kelompok psikoedukasi. Pasien dan
keluarga diberi informasi tentang penyakitnya dan rencana pengobatan
yang akan dilakukan. Psikoedukasi telah menunjukkan dalam
meningkatkan kepatuhan dan secara signifikan mengurangi angka relaps.
Melengkapi informasi juga termasuk mendiskusikan perencanaan
pengobatan baik kepada pasien atau kepada keluarga dimana pasien dan
keluarga dilibatkan dalam proses perencanaan pengobatan penyakitnya.
Adanya efek samping dapat memunculkan ketidakpatuhan dan sering
menimbulkan kesalahpahaman.10 Penting juga bagi dokter agar dapat
menepati jadwal pertemuan selanjutnya. Pasien yang sudah menerima
jadwal pertemuan berikutnya dan dokter akan menepati dan untuk tidak
menjadwal ulang walaupun sangat sibuk. Dokter juga dapat melakukan
perubahan dalam berkomunikasi dengan pasien baik itu dengan gaya
atau bahasa yang dapat dimengerti pasien sehingga dapat tercipta
hubungan terapetik yang baik yang nantinya dapat meningkatkan
kepatuhan.14 Klinisi juga harus mengikuti pedoman terapi yang
direkomendasikan. Dengan mengikuti pedoman yang telah ditentukan
maka pengobatan akan menjadi berguna, rasional dan gampang
dimengerti oleh pasien dan mereka tidak menjadi bingung bila mereka
mencoba mencari pendapat dokter lain.10
3.3. Faktor Psikososial
Berbagai macam stresor lingkungan kemungkinan berhubungan
dengan relapsnya skizofrenia.5 Yang dimaksud dengan stresor psikososial
adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan
dalam kehidupan seseorang yang memaksa orang tersebut untuk
dalam kurun waktu satu tahun sebelum gangguan jiwa saat ini. Yang
termasuk stresor psikososial adalah sebagai berikut:22
- Problem dengan kelompok pendukung utama (primary support group). - Problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial.
- Problem pendidikan.
- Problem pekerjaan.
- Problem perumahan.
- Problem ekonomi.
- Problem dengan akses pelayanan kesehatan.
- Problem yang berkaitan dengan interaksi sistem hukum/kriminal.
- Problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya.
Brown dan Birley menyatakan bahwa banyaknya peristiwa dalam
kehidupan dalam beberapa minggu sebelum relaps secara signifikan lebih
besar pada kasus relaps akut daripada kontrol normal. Begitupun juga,
tinjauan-tinjauan tersebut menimbulkan keraguan tentang validitas dari
apa yang disebut dengan hipotesis triggering ini. Penelitian retrospektif terbaru tidak mampu mendukung temuan tersebut.5
Perhatian utama ditujukan bagi emosi yang diekspresikan
(expressed emotion) dan risiko terjadinya relaps pada skizofrenia.5 Sebagai salah satu faktor, apa yang dimaksud dengan expressed emotion
dalam hal ini, berupa kebiasaan mempertontonkan kritikan atau emosi
yang berlebihan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Selain faktor
transaksional keluarga lainnya, studi-studi terbaru menunjukkan
ketertarikannya terhadap gaya afektif negatif (negative affective style), yang terdiri dari: kritisisme, sikap menyalahkan, gangguan-gangguan, dan
dukungan yang tidak adekuat. Pasien-pasien skizofrenia yang tinggal
dalam lingkungan keluarga dengan expressed emotion yang kuat (highly expressed emotion) atau gaya afektif negatif secara signifikan lebih sering mengalami relaps dibandingkan dengan yang tinggal dalam lingkungan
lingkungan rumah dimana sering terjadi keadaan kritis, kekerasan atau
emosi yang diekspresikan cenderung akan meningkatkan relaps. Studi
WHO menunjukkan outcome yang lebih baik pada pasien skizofrenik secara tradisional, di negara-negara non-Barat, dimana keluarga lebih
toleran. Intervensi keluarga terhadap terapi mungkin dapat menurunkan
atau paling tidak akan memperlambat relaps pada pasien. Intervensi yang
dapat dilakukan keluarga adalah lebih dapat menerima bentuk
manajemen, yang pada kebanyakan pasien tidak dapat menerimanya.
Selain itu, percobaan intervensi sosial pada keluarga penderita skizofrenik
dengan pengobatan ternyata menghasilkan angka relaps yang rendah
dibandingkan dengan hanya menggunakan pengobatan.5
Sehubungan dengan skizofrenia, Leff dan Vaughn melaporkan
bahwa bentuk empati merupakan bagian dari sekumpulan sikap dengan
pengekspresian emosi yang rendah. Sikap dari keluarga merupakan salah
BAB 4
KERANGKA KONSEP
(Relaps Pada Pasien Skizofrenia Paranoid)
KETIDAKPATUHAN
-Faktorsehubungan dengan pasien -Faktor sehubungan dengan
pengobatan -Faktor lingkungan
-Faktor sehubungan dengan dokter
RELAPS
TERKONTROL STRESOR PSIKOSOSIAL
-Problem dengan primary support group.
-Problem berkaitan dgn lingkungan sosial.
-Problem pendidikan. -Problem pekerjaan. -Problem perumahan. -Problem ekonomi.
-Problem dgn akses pelayanan kesehatan.
BAB 5
METODA PENELITIAN
5.1. Disain penelitian
Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan disain
case-control yang menilai hubungan antara faktor risiko dengan kejadian relaps dengan cara membandingkan sekelompok pasien
yang mengalami relaps (kasus) dan sekelompok pasien yang
terkontrol (kontrol).
5.2. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian: Poliklinik umum pria/wanita, bangsal pria/wanita
dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit jiwa Daerah
Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.
b. Waktu Penelitian: terhitung sejak Mei 2008 s/d Oktober 2008.
5.3. Populasi dan Sampel
5.3.1. Populasi
a. Populasi target:
Penderita skizofrenia paranoid yang mengalami relaps dan yang
terkontrol.
b. Populasi terjangkau:
Penderita skizofrenia paranoid yang mengalami relaps dan yang
terkontrol, yang berobat ke poliklinik umum dan UGD, maupun
yang dirawat di bangsal Rumah Sakit Jiwa Daerah Pemerintah
Propinsi Sumatera Utara.
5.3.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini ditetapkan secara consecutive, yaitu setiap pasien yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam
penelitian sampai kurun waktu tertentu sampai jumlah sampel yang
dibutuhkan terpenuhi dimana kasus dan kontrol akan diambil dalam satu
a. Kasus
Kasus adalah penderita skizofrenia paranoid pria dan wanita yang
mengalami relaps, berusia 21-60 tahun yang berobat kepoliklinik
umum jiwa dan UGD maupun yang dirawat di bangsal Rumah Sakit
Jiwa Daerah Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.
b. Kontrol
Kontrol adalah penderita skizofrenia paranoid dalam keadaan remisi
yang terkontrol, berusia 21-60 tahun yang berobat kepoliklinik umum
jiwa Rumah Sakit Jiwa Daerah Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.
Kontrol dipilih setelah dilakukan matching terhadap kasus, berupa
matching group pada jenis kelamin dan usia.
5.4. Kriteria inklusi dan ekslusi
5.4.1. Kriteria Inklusi
a. Penderita skizofrenia paranoid (memenuhi kriteria PPDGJ-III)
yang mengalami relaps.
b. Penderita skizofrenia paranoid (memenuhi kriteria PPDGJ-III)
yang terkontrol.
c. Berusia 21-60 tahun.
5.4.2. Kriteria ekslusi
a. Memiliki komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lainnya.
5.5. Besar Sampel
Dihitung berdasarkan rumus di bawah ini:25
Z /2 + Z √PQ 2 n1=n2= _______________
(P -½ )
Dimana
P = R dan Q = 1- P (1+R)
Keterangan:
R = Perkiraan Oddds Rasio = 2
= 0,005 Z = 1,96
= 0,10 Z = 1,28
P = 0,66
Q = 1 - 0,66 = 0,34
1,96/2 + 1,28 √0,66 – 0,34 2 n1=n2= ________________________
(0,66 – 0,5)
1,5816 2 n1=n2= _________
0,16
5.6. Identifikasi Variabel
5.6.1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari ketidakpatuhan
terhadap medikasi mencakup: faktor-faktor sehubungan dengan pasien,
sehubungan dengan pengobatan, faktor lingkungan, faktor-faktor
sehubungan dengan dokter; stresor psikososial mencakup: problem
dengan kelompok pendukung utama (primary support group), problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial, problem pendidikan, problem
pekerjaan, problem perumahan, problem ekonomi, problem dengan akses
pelayanan kesehatan, problem yang berkaitan dengan interaksi sistem
hukum/kriminal, problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya.
5.6.2. Variabel tergantung
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kejadian relaps.
5.7. Definisi Operasional
a. Skizofrenia paranoid adalah gangguan yang memenuhi kriteria
diagnostik PPDGJ-III.
b. Relaps adalah suatu keadaan pemunculan kembali simtom-simtom
skizofrenik pada pasien yang sudah mengalami bebas gejala
selama episode sebelumnya (tipe I) dan eksaserbasi simtom positif
secara persisten (tipe II).
c. Terkontrol adalah suatu keadaan dimana pasien skizofrenia
paranoid yang telah mengalami remisi atau dalam fase stabil tidak
mengalami relaps.
d. Remisi adalah suatu keadaan dimana didapatkan nilai
masing-masing item PANSS ≤3.26 e. Simtom positif adalah:
1). Halusinasi:
halusinasi auditorik, suara yang mengkomentari, suara yang
somatik-2). Waham:
waham kejar, waham kebesaran, waham menyangkut diri sendiri,
waham dikendalikan, waham dikendalikan, waham membaca pikiran,
siar pikiran, sisip pikiran, penarikan pikiran, pikiran yang dikendalikan,
waham cemburu, waham bersalah/dosa, waham keagamaan, waham
somatik.
3). Perilaku aneh:
berpakaian dan berpenampilan aneh, perilaku sosial dan seksual yang
aneh, perilaku agresif-teragitasi, perilaku berulang-stereotipik.
4). Gangguan pikiran formal positif:
penyimpangan, tangensialitas, inkohorensi, ilogikalitas,
sirkumstansialitas, tekanan bicara, bicara mudah dialihkan,
menggemerincing (clanging).
f. Status perkawinan ditentukan apakah subjek masih dalam ikatan
perkawinan (menikah) atau tidak (belum menikah/janda/duda)
adalah kawin, tidak kawin.
g. Pendidikan merupakan jenjang pengajaran yang telah diikuti atau
sedang dijalani responden melalui pendidikan formal yang terbagi
atas SLTP ke bawah dan SLTA ke atas.
h. Pekerjaan adalah suatu pekerjaan yang mendapatkan upah yang
terbagi atas bekerja dan tidak bekerja.
i. Penilaian Status ekonomi dilihat dari penghasilan keluarga/bulan,
dibagi menjadi penghasilan < Rp. 1.500.000/bulan dan > Rp.
1.500.000/bulan.
j. Alamat adalah lingkungan demografik tempat di mana responden
berdomisili, dibagi dalam dua lingkungan, yaitu: Medan dan luar
Medan.
k. Kriteria ketidakpatuhan terhadap pengobatan, jika ditemukan
salah satu keadaan dibawah ini:
1) Pada pasien rawat jalan atau rawat inap dalam 72 jam
menunjukkan ≥ dua episode dari:
b). Adanya bukti atau kecurigaan menyimpan atau meludahkan
obat yang diberikan.
c). Menunjukkan keragu-raguan terhadap obat yang diberikan.
2). Pasien rawat inap dengan riwayat tidak patuh pada pengobatan
sewaktu rawat jalan minimal tidak patuh selama 7 hari dalam
sebulan.
3). Pasien rawat jalan dengan riwayat ketidakpatuhan yang sangat
jelas seperti sudah pernah dilakukan keputusan untuk mengawasi
dengan ketat oleh orang lain dalam waktu satu bulan.
4). Pasien rawat inap yang mengatakan dirinya tidak dapat menelan
obat-obatan walaupun tidak ditemukan kondisi medis yang dapat
mengakibatkan hal tersebut.
l. Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa
yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang yang
memaksa orang tersebut untuk beradaptasi atau menanggulangi,
dalam rentang waktu 1 tahun sebelum relaps. Yang termasuk ke
dalam stresor psikososial adalah:
- Problem dengan kelompok pendukung utama (primary support group).
- Problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial.
- Problem pendidikan.
- Problem pekerjaan.
- Problem perumahan.
- Problem ekonomi.
- Problem dengan akses pelayanan kesehatan.
- Problem yang berkaitan dengan interaksi sistem hukum/kriminal.
- Problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya (bencana
alam, amukan massa, diskriminasi, perkosaan,
5.8. Manajemen Data
5.8.1. Sumber data
a. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung
pada pasien dan keluarga pasien setelah menandatangani surat
perjanjian bersedia ikut dalam penelitian, menyangkut hal yang
berhubungan dengan faktor risiko ketidakpatuhan pasien dan stresor
psikososial.
b. Data sekunder meliputi data demografi pasien dan catatan
perkembangan penyakit pasien selama 1 tahun terakhir yang diperoleh
melalui buku status pasien.
5.8.2. Metode Pengumpulan Data
a. Istrumen Pengumpulan Data
1). Untuk pengumpulan data primer digunakan instrumen penelitian
berupa kriteria diagnostik untuk skizofrenia paranoid menurut
PPDGJ-III dan Positive And Negative Syndrome Scale (PANSS) yang sudah divalidasi oleh Departemen Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
2). Pengumpulan data sekunder didasarkan pada catatan yang ada
pada buku status pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah Pemerintah
Propinsi Sumatera Utara.
b. Tenaga Pengumpul Data
Pengumpulan data dikerjakan oleh peneliti sendiri. Untuk data primer
hasil penilaian PANSS dibandingkan dengan hasil yang didapat oleh
seorang interrater yang sudah mendapat pelatihan tentang PANSS. Hasil uji korelasi peringkat (Pearson Correlation) didapat nilai 0.85, dimana korelasi signifikan pada level 0.001 (2-tailed)
5.8.3. Pengolahan Data
Data dasar yang diperoleh dari tiap pasien dikelompokkan dan
5.8.4. Analisis Data
Data yang berhasil dikumpulkan diolah dan dianalisis dengan
mempergunakan program komputer dengan menggunakan perangkat
lunak komputer:
a. Analisis Univariat
Analisis data dimulai dengan melakukan analisis variabelitas pada
seluruh variabel, analisis ini dilakukan untuk mendeskripsikan tiap
variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini, yaitu faktor risiko dan
kejadian relaps.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel
bebas dengan variabel tergantung. Dari hasil analisis akan diketahui
variabel bebas manakah yang berhubungan bermakna secara statistik
dengan variabel tergantung. Jenis data adalah kategorik, maka teknik
analisis yang digunakan adalah chi-square dengan rumus sebagai berikut:
(Fo – Fe)2 X2 =
Fe
Keterangan:
X2 = Harga kuadrat yang dihitung dan dibandingkan dengan
Chi-kuadrat tabel
Fo = Frekuensi yang diselidiki (diobservasi) atau frekuensi empiris.
c. Analisis Multivariat
Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel
bebas terhadap kejadian relaps dengan menguji sekaligus variabel
yang mempunyai kemaknaan statistik pada analisis univariat, melalui
analisis regresi logistik ganda. Untuk melakukan analisis regresi
logistik ini digunakan rumus:
1n = Bo + B1X1 + …..+ BpXp = Bo + B1X1
Perkiraan probabilitas jadi kasus:
1
P =
1 + e – (Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3)
Odds kasus: 1
P = = e (Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3)
1-P e – (Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3)
Rasio Odds subyek yang terpapar X1 (X1 – 1) dan tidak terpapar terhadap
X1 (X1=0), adalah:
e (Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3)
Rasio Odds =
e (Bo + 0 + B2X2 + B3X3)
= e (Bo + B1X1 + B2X2 + B3X3) – (Bo + 0 + B2X2 + B3X3)
= e B1 atau Exp (B1)
BAB 6
KERANGKA OPERASIONAL
Inklusi Ekslusi
PANSS
SKIZOFRENIA PARANOID
TERKONTROL RELAPS
KETIDAKPATUHAN - Faktorsehubungan dengan
pasien
- Faktor sehubungan dengan pengobatan
- Faktor lingkungan
- Faktor sehubungan dengan dokter
STRESOR PSIKOSOSIAL
-Problem dengan primary support group
-Problem berkaitan dgn lingkungan sosial -Problem pendidikan
-Problem pekerjaan -Problem perumahan -Problem ekonomi
-Problem dgn akses pelayanan kesehatan -Problem berkaitan dgn interaksi sistem
hukum/kriminal
BAB 7
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini digambarkan secara berurutan dimulai dari
karakteristik sampel, analisis univariat meliputi distribusi frekwensi variabel
bebas yang mempengaruhi terjadinya relaps, analisis bivariat untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung dan
analisis multivariat untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara
bersama-sama terhadap variabel tergantung.
7.1. KARAKTERISTIK SAMPEL PENELITIAN
sambungan tabel 1....
Pada tabel 1 terlihat karakteristik responden yang terdiri dari 200
pasien skizofrenia paranoid dengan variasi umur 21-60 tahun yang dibagi
dalam empat kelompok masing-masing 100 sampel pada kelompok kasus
dan kontrol. Sampel dalam penelitian ini didominasi oleh kelompok umur
31-40 tahun (34.0%), jenis kelamin didominasi oleh laki-laki (67.0%), pada
pekerjaan didominasi oleh kelompok yang tidak bekerja (61.0%),
pendidikan didominasi oleh kelompok SLTA ke atas (61%), tempat tinggal
didominasi kelompok Medan (64.0%), status perkawinan didominasi
kelompok tidak kawin (61.5%), penghasilan/bulan didominasi <
Rp.1.500.000,00 (51.5%).
7.2. ANALISIS UNIVARIAT
Tabel 2. Hasil Uji-t pada Kelompok Umur dan Hasil Uji Chi-Square Jenis Kelamin Kasus dan Kontrol Pasien Skizofrenia Paranoid
Variabel Kasus Kontrol X2
SD= Standard Deviation, CoV= Coefisien of Varians
variasi umur responden tidak terlalu besar, terlihat dari nilai Coefisien of Varians (C0V) = 25.7 pada kasus dan 25.6 pada kelompok kontrol. Dari hasil uji Chi-Square pada jenis kelamin, dari 100 pasien skizofrenia paranoid laki-laki 67 orang dan perempuan 33 orang.
Tabel 3. Hasil Uji Chi-Square pada Tempat Tinggal dan Penghasilan/bulan Kasus dan Kontrol Pasien Skizofrenia Paranoid
Variabel Kasus Kontrol X2
Dari uji Chi-square pada tabel 3 terlihat hubungan yang signifikan antara tempat tinggal dengan kejadian relaps (p<0.05), sedangkan
penghasilan /bulan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan
kejadian relaps (p>0.05).
Tabel 4. Hubungan Ketidakpatuhan dan Stresor Psikososial dengan Kejadian Relaps
Pada tabel 4 terlihat hubungan bermakna antara ketidakpatuhan
dan stresor psikososial secara umum dengan kejadian relaps (p<0.05)
dimana pada kasus didapati ketidakpatuhan sebesar 78%, sedangkan
7.3. ANALISIS BIVARIAT
Untuk melihat kemaknaan faktor risiko ketidakpatuhan dan stresor
psikososial terhadap kejadian relaps pada skizofrenia paranoid dilakukan
uji Chi-square dengan hasil seperti yang terlihat pada tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Proporsi Kasus dan Kontrol Berdasarkan Variabel Bebas, Nilai p, Rasio Odds, Rasio dengan Confidence Interval
(CI)95% pada Pasien Skizofrenia Paranoid
sambungan tabel 5....
Pada tabel 5 terlihat hubungan bermakna antara faktor sehubungan
dengan pasien dengan kejadian relaps (p<0.05), dimana didapat 26%
ketidakpatuhan sehubungan dengan pasien.
Terdapat hubungan bermakna antara faktor sehubungan dengan
pengobatan dengan kejadian relaps (p<0.05), dimana didapat 15%
ketidakpatuhan sehubungan dengan pengobatan.
Terdapat hubungan bermakna antara faktor lingkungan dengan
kejadian relaps (p<0.05), dimana didapat 54% ketidakpatuhan
sehubungan dengan faktor lingkungan. Nilai OR 13.0 dengan interval
kepercayaan 95% (5.9-30.7).
stresor psikososial sehubungan dengan primary support group. Nilai OR 126.0 dengan interval kepercayaan 95% (16.9-939.5).
Tidak terdapat hubungan bermakna antara problem berkaitan
dengan lingkungan sosial dengan kejadian relaps (p>0.05), dimana
didapat hanya 6% stresor psikososial berkaitan dengan lingkungan sosial.
Nilai OR 6.3 dengan interval kepercayaan 95% (0.7-53.5).
Terdapat hubungan bermakna antara problem pekerjaan dengan
kejadian relaps (p<0.05) dimana didapat 9% stresor psikososial berkaitan
dengan problem pekerjaan. Nilai OR 4.8 dengan interval kepercayaan
95% (1.0-23.0).
Terdapat hubungan bermakna antara problem ekonomi dengan
kejadian relaps (p<0.05), dimana didapat stresor psikososial berkaitan
dengan problem ekonomi sebesar 25%. Nilai OR 10.8 dengan interval
kepercayaan 95% (3.1-37.1).
Tidak terdapat hubungan antara problem dengan akses pelayanan
kesehatan dengan kejadian relaps (p>0.05), dimana didapat hanya 1%
stresor berkaitan dengan akses pelayanan kesehatan.
7. 4. ANALISIS MULTIVARIAT
Analisis multivariat dilakukan untuk melihat beberapa variabel yang
secara bersama-sama berhubungan dengan kejadian relaps. Pada
penelitian ini dilakukan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regression) untuk mencari faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian relaps pada pasien skizofrenia paranoid.
Dari penelitian ini ada 13 variabel yang diduga berhubungan
dengan kejadian relaps, yaitu: faktor sehubungan dengan pasien, faktor
sehubungan dengan pengobatan, faktor lingkungan, faktor-faktor
sehubungan dengan dokter, problem dengan primary support group, problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial, problem pendidikan,
problem pekerjaan, problem perumahan, problem ekonomi, problem
interaksi sistem hukum/kriminal, problem psikososial dan masalah
lingkungan lainnya.
Dari hasil analisis bivariat antara variabel bebas dengan variabel
tergantung didapat 8 variabel yang memiliki nilai p<0.25, yaitu faktor
sehubungan dengan pasien, faktor sehubungan dengan pengobatan,
faktor lingkungan, problem dengan primary support group, problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial, problem pekerjaan, problem ekonomi,
problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya. Akan tetapi faktor
sehubungan dengan pasien, faktor sehubungan dengan pengobatan,
problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya tidak dimasukkan
menjadi kandidat model, sebab pada ketiga variabel dimaksud tidak dapat
dicari nilai OR. Jadi yang menjadi kandidat model dalam penelitian ini
adalah faktor lingkungan, problem dengan primary support group, problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial, problem pekerjaan,
dan problem ekonomi. Variabel tempat tinggal memiliki hubungan
bermakna dengan kejadian relaps (p<0.05), atas dasar tersebut variabel
ini akan diikutsertakan sebagai kandidat model dalam analisis regresi
logistik ganda.
Tahap berikutnya, pada keenam variabel ini akan dilakukan
analisis multivariat. Dalam pemodelan ini semua kandidat dicobakan
secara bersama-sama, kemudian variabel yang memiliki nilai p>0.05 akan
dikeluarkan secara bertahap dimulai dari nilai p terbesar (backward selection), dimulai dari variabel tempat tinggal, problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial diikuti dengan variabel problem pekerjaan. Hasil
Tabel 6. Uji Regresi Logistik Ganda untuk Identifikasi Variabel yang akan
Setelah dikeluarkan secara bertahap, maka didapatkan 3 variabel
yang akan masuk sebagai kandidat model, yaitu: faktor lingkungan,
problem dengan primary support group, dan problem ekonomi. Hasil akhir dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Hasil akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Pemodelan Faktor Risiko Relaps Pada Pasien Skizofrenia Paranoid
Variabel Bebas B p OR CI (95%)
Maka didapatkan model regresi logistik dalam bentuk persamaan
sebagai berikut:
1n = -1.8 + 2.9 (faktor lingkungan) + 4.9 (problem dengan primary support group) + 2.7 (problem ekonomi)
Dari model di atas didapatkan suatu turunan perhitungan
matematik tentang perkiraan probabilitas jadi kasus:
1 1
P = = = 0.87
Secara keseluruhan model ini dapat memprediksi besarnya
pengaruh faktor risiko dalam hubungannya dengan kejadian relaps
sebesar 87% (Overall percentage 87%). Pada variabel faktor lingkungan didapat nilai OR=18.5, artinya pasien skizofrenia paranoid yang memiliki
masalah sehubungan dengan faktor lingkungan yang mengakibatkan
ketidakpatuhan, kemungkinan besar 18.5 kali akan mengalami relaps
dibandingkan pasien skizofrenia paranoid yang tidak memiliki masalah
sehubungan dengan faktor lingkungan setelah problem dengan primary support group dan problem ekonomi dikendalikan. Nilai OR=131.2 pada problem dengan primary support group, artinya pasien skizofrenia paranoid yang memiliki stresor sehubungan problem dengan primary support group, kemungkinan besar 131.2 kali akan mengalami relaps dibandingkan pasien skizofrenia paranoid yang tidak memiliki stresor
sehubungan problem dengan primary support group setelah faktor lingkungan dan problem ekonomi dikendalikan. Nilai OR=13.0 pada
problem ekonomi, artinya pasien skizofrenia paranoid yang memiliki
stresor sehubungan problem ekonomi, kemungkinan besar 13.0 kali akan
mengalami relaps dibandingkan pasien skizofrenia paranoid yang tidak
memiliki stresor sehubungan problem ekonomi setelah faktor lingkungan
dan problem dengan primary support group dikendalikan.
Berdasarkan nilai OR tersebut di atas dapat diperkirakan kekuatan
pengaruh variabel faktor lingkungan, problem dengan primary support group dan problem ekonomi dalam hubungannya dengan kejadian relaps pada pasien skizofrenia paranoid. Semakin besar nilai OR, maka semakin
kuat pula pengaruh variabel tersebut terhadap kejadian relaps, atau dapat
disebutkan bahwa variabel dengan nilai OR terbesar merupakan variabel
paling dominan dalam menyebabkan kejadian relaps pada pasien
skizofrenia paranoid.
Melalui model ini, dengan 3 jenis variabel bebas sebagai prediktor
yang terdiri dari: faktor lingkungan, problem dengan primary support group
dan problem ekonomi dapat diperkirakan pengaruh faktor risiko dalam