• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Promosi Museum Sultan Mahmud Baadaruddin II Melalui Sign Sistem Dan Peta Kreatif Di Kota Palembang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Promosi Museum Sultan Mahmud Baadaruddin II Melalui Sign Sistem Dan Peta Kreatif Di Kota Palembang"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

47

Tempat/Tanggal lahir : Palembang, 15 Mei 1991 Jenis Kelamin : Laki - Laki

Agama : ISLAM

No Telepon : 085758242429

Fakultas : Desain

Jurusan : Desain Komunikasi Visual

NIM : 51912068

Kelas : DKV-3

E-Mail : [email protected]

Riwayat Pendidikan Dan Pelatihan

Periode Sekolah/Instansi/Universita s

Jurusan Jenjang

1997-2003 SD Negeri 4 Palembang 2003 - 2006 SMP Negeri 2 Palembang

2006 - 2009 SMK Negeri 2 Palembang Automotif

(5)

Laporan Pengantar Tugas Akhir

PERANCANGAN INFORMASI MUSEUM SULTAN MAHMUD

BADARUDDIN II MELALUI SIGN SYSTEM DAN PETA KREATIF DI

KOTA PALEMBANG

DK 38315 / Tugas Akhir

Semester II 2015-2016

oleh:

Achmad Ichsan Gani

NIM. 51912068

Program Studi Desain Komunikasi Visual

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(6)

vi I.1 Latar Belakang Masalah ... I.2 Identifikasi Masalah ... I.3 Rumusan Masalah ... I.4 Batasan Masalah ... I.5 Tujuan dan Manfaat Perancangan ...

BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II PALEMBANG ……… II.1 Landasan Teori ... II.2 Objek Penelitian ... II.3 Analisa ... II.4 Khalayak ... II.5 Resume yang Mengarah Pada Solusi Perancangan ...

BAB III. STRATEGI PERANCANGAN & KONSEP DESAIN ………

(7)

vii

III.1.8 Strategi Distribusi..………... III.2 Konsep Desain………...

BAB IV. MEDIA & TEKNIS PRODUKSI ……….

(8)

40 DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Achadiati. 1988. Sejarah Peradaban Manusia Zaman Sriwijaya. Jakarta: Gita Karya.

Hanafiah, Djohan. 1989. KUTO BESAK Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan. Jakarta: Haji Masagung.

Hastuti, Trini, Sugeng Mardoko. 2008. Sumatera Selatan Indonesia Volume 6. Jawa Barat: BAKOSURTANAL.

Palembang, Pemkot. 2008. Buku Museum Sultan Mahmud Badaruddin II . Palembang: Musi Pesona Persada.

Syarufie, Yudhy. 2005. Palembang kota Wisata Sungai. Humas Pemerintahan Kota Palembang: Kreasi Kifi.

Wieke Dwiharti, Ed. 2010. The Ancient Heritage of Sriwijaya: Dalam Kemilau Songket dan Perkawinan Adat. Jakarta: Dian Rakyat.

WEBSITE

Encarta Researcher, 2003 (06 Mei 2016).

http://globallavebookx.blogspot.co.id/2014/02/pengertian-museum-menurut-para-ahli.html [16 Mei 2008].

WAWANCARA

Evieta Maharani. 2016. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Wawancara oleh Penulis 07 Mei 2016, pukul 13:00.

(9)

1 BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Disetiap tempat atau kota pasti memiliki sejarah tersendiri tentang tempat atau kota tersebut. Sejarah tersebut di abadikan di dalam museum. Kota Palembang memiliki museum tentang sejarah kebudayaannya. Sejarah tersebut diabadikan didalam museum yang bernama Sultan Mahmud Baddarudin II.

Kata museum berasal dari bahasa Yunani yaitu mouseion yang berarti tempat para muse. Muse adalah sembilan anak wanita Dewa Zeus yang memberikan inspirasi pada seniman. Yang kemudian mouseion tersebut dijadikan nama kuil tempat memuja dewi-dewi tersebut. Pada perkembangannya, mouseion dipakai sebagai tempat penyimpanan hadiah dan persembahan untuk dewa dari para umat. (Encarta Researcher, 2003)

Menurut Internalional Council of Museum (ICOM) museum adalah suatu lembaga yang memelihara dan memamerkan kumpulan benda-benda koleksi yang bernilai budaya dan ilmiah untuk tujuan penelitian, pendidikan dan hiburan. Peranan museum yang utama adalah menyajikan koleksinya kepada masyarakat untuk membantu pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan rasa senangnya. (Douglas dalam Desintha, 2002 ; 7)

(10)

2 masyarakat sekitar maupun pengunjung untuk menjaga kelestarian dan kebersihan disekitar museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Hal ini juga disebabkan karena pemerintah dan pengelola Museum Sultan Mahmud Badaruddin II tidak terlalu fokus terhadap promosi yang baik dan lengkap untuk museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

I.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan data yang ada dan telah dijelaskan di latar belakang, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

 Untuk membantu wisatawan atau pengunjung agar lebih mudah mencari informasi fasilitas yang ada dilingkungan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

 Kurangnya pengetahuan wisatawan atau pengunjung tentang informasi yang ada di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

I.3 Rumusan Masalah

Dari identifikasi masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu:  Media informasi apakah yang dapat membantu masyarakat Palembang

agar mereka mengetahui tentang sejarah museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan peninggalan-peninggalan yang berada di dalam museum?

 Bagaimanakah caranya agar wisatawan dapat mengetahui informasi yang ada di lingkungan museum Sultan Mahmud Badaruddin II?

I.4 Batasan Masalah

Dalam perancangan ini, penelitian permasalahan pada :

 Perancangan yang dibatasi pada museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang memiliki artefak-artefak didalam museum ini, agar informasi yang disampaikan ke masyarakat Palembang lebih menarik.

I.5 Tujuan dan Manfaat Perancangan

(11)
(12)

4 BAB II. PEMBAHASAN MASALAH DAN SOLUSI MASALAH MUSEUM

SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II PALEMBANG

II.1. Landasan Teori

Landasan teori dalam tugas akhir ini, saya menggunakan data atau referensi yang di dapat langsung dari hasil wawancara dengan narasumber dan penjelasan tambahan dari media internet.

II.2. Objek Penelitian

Gambar II.1 Museum Sultan Mahmud Baddarudin II Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(13)

5 memiliki sejarah yang sangat panjang. Nama Sultan Mahmud Badaruddin II diabadikan menjadi nama museum untuk mengingat dan menghargai jasanya bagi kota Palembang. Museum ini berdiri di atas bangunan Benteng Koto Lama yang disebut juga Kuto Tengkurokato Kuto Batu. Benteng ini habis dibakar oleh Belanda dan kemudian di atasnya dibangun gedung tempat tinggal Residen Belanda yang sekarang menjadi museum.Sebelum menjadi museum, bangunan ini digunakan untuk berbagai kepentingan.Pada Jaman Jepang (1942-1945) gedung ini dipakai sebagai markas Jepang.Setelah proklamasi dijadikan Teritorium II Kodam Sriwijaya, kemudian ditempati oleh Resimen Induk IV Sriwijaya yang kemudian berpindah pengelolaanya pada pemerintah Kota Palembang, sebelum akhirnya menjadi museum.

Gambar II.2 Sultan Mahmud Baddarudin II Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(14)

6 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate. Penggunaan nama Sultan Mahmmud Badaruddin II pada museum untuk menggingat dan menghargai jasa-jasanya.

Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988, pada lokasi ditemukan fondasi batu bata dari bangunan Kuto Lamo, di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar.Menurut catatan, bangunan Benteng Kuto Lamo di masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) resmi ditempati pada hari Senin, 29 September 1737.Karena itu disimpulkan bahwa balok-balok tersebut tentunya sudah terlebih dahulu ada.Hal ini di buktikan seperti yang di katakan oleh Djohan Hanafiah bahwa Bangunan ini dibangun kembali setelah dibongkar habis, dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo yang sering juga di sebut Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu, dimana pada bagian dalamnya pernah berdiri Keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758).

Pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dibongkar habis pada 7 Oktober 1823 atas perintah Reguring Commissaris Belanda, J. L. Van Seven Hoven. Pemerintah kolonial ingin menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya Loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1811. Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada diwilayah ini. Pasar dan kantor-kantor berdiri dilingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.

(15)

7 tahun 1824, tahap pertama rumah dikenal sebagai gedung siput. Setelah itu, bagian bangunan terus dilakukan penambahan. (Syarufie,Tudhy.2005. halaman: 9).

Bangunan ini selesai didirikan kembali dengan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dengan arsitektur Palembang sendiri. Dibangun bergaya indis sebagai bangunan yang lazim pada masa itu dan sudah menggunakan bangunan baja beton dan kaca sebagai imbas dari revolusi industri di Eropa. Pada tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan Komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan, sekaligus sebagai kantor Residen Belanda.

Seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika sejarah yang terjadi di Kota Palembang, Fungsi bangunan ini teah silih berganti, mulai dari markas Jepang pada masa pendudukan, Teritorium II Kodam Sriwijaaya di awal kemerdekaan yang kemudian berpindah pengelolaan ke Pemerintah Kota Palembang sebelum akhirnya menjadi Museum.

Meskipun telah mengalami renovasi, bentuk asli bangunan tidak berubah. Perubahan hanya dilakukan pada bagian dalam bangunan dengan menambah sekat-sekat dan penutupan pintu-pintu penghubung.Berbeda dengan bangunan yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang umumnya memakai bahan kayu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II memakai bahan bata.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah satu museum yang terdapat di kota Palembang atau tepatnya berada pada 104 45’ 40’’BT dan 02

59’25’’ LS. Museum ini meyimpan arca-arca kuno diantaranya Ganesha,

Amarawati dan Udha di era Sriwijaya, berbagai macam perabotan tradisional kesultanan Palembang serta sketsa yang menggambarkan perjuangan rakyat Palembang dalam usahanya mengusir penjajah Belanda. (Hastuti, Trini, Sugeng Mardoko. 2008.Hal 36-37).

(16)

8 1. Kain Songket

Gambar II.3 Kain Songket Khas Palembang Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(17)

9 2. Aesan Gede dan Aesan Paksangko

Gambar II.4 Baju Adat Khas Palembang Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(18)

10 3. Songket (Motif Bungo Cino)

Gambar II.5 Kain Songket Palembang Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

Kain songket jenis ini dikhususkan bagi kaum wanita keturunan bangsawan cina. Dengan ukuran kain, panjang 88cm dan lebar 81 cm. Selendang panjang 151 cm dan lebar 40cm.

4. Rumah Adat Palembang

(19)

11 Rumah limas merupakan salah satu rumah adat palembang, kata lintas berarti piramid yang terpancung (di jawa dikenal dengan limasan). Terdapat banyak model rumah limas, miniatur ini merupakan salah satu bentuk rumah limas adat palembang yang ruangannya terdiri dari: ruangan pagar tengaloong, ruangan jogan, ruangan kekijing, ruangan kerja yang dipakai juga sebagai ruang tamu terletak pada kiri dan kanan rumah, ruangan gegajah dimana semua upacara adat dilakukan, ruangan kepala keluarga terletak sebelah kanan rumah, ruangan pangkeng penganten terletak disebelah kiri rumah, ruangan keputren terleltak dibelakang pangkeng penganten.

5. Sewet Tanjung

Gambar II.7 Sewet Tanjung

Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(20)

12 6. Pakaian Sultan Mahmud Badaruddin II

Gambar II.8 Pakaian Sultan

Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

Gambar II.9 Sandal Sultan

(21)

13 Gambar II.10 Kelengkapan Pakaian Sultan

Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

Model pakaian sultan yaitu setelan kebaya kalemkari yang terdiri dari tutup kepala (tanjak), tekep dado, baju kelemkari (kebaya landong/panjang), celano belabas,tajong rumpak, badong (belt), pisau belati (dagger) dan terompah (slippers).

7. Naskah Kuno

Gambar II.11 Naskah Kuno

(22)

14 Naskah ini bertulisan Huruf Melayu atau Jawi yang dibuat lebih kurang pada tahun 1800an. Isi dari naskah-naskah ini adalah yang bercerita tentang Raja-raja pada masa Kesultanan dan juga tentang kehidupan sehari-hari.

(23)

15 Gambar II.12 Naskah Ulu

Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)

(24)

16 II.3. Analisa

Sebelum menganalisa, penulis mengumpulkan data terlebih dahulu dengan menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Setelah mendapatkan data dan kemudian dianalisa, maka masalah yang didapati dari kedua data tersebut terhadap Museum Sultan Mahmud Baddarudin II adalah kurangnya media informasi tentang peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terdapat didalam Museum Sultan Mahmud Baddarudin II . Jika masalah ini tidak diatasi, maka akan sangat berpengaruh dengan sikap masyarakat yang tidak akan pernah peduli dengan sejarah, kelestarian dan kebersihan disekitar lingkungan Museum Sultan Mahmud Baddarudin II.

II.4. Khalayak

Menurut Bapak Sofyan selaku tour guide di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, ketertarikan pengunjung untuk mengetahui tentang museum peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini sangat kurang diminati.Kebanyakan pengunjung hanya sekedar ingin berfoto-foto dan melihat-lihat saja tanpa bertanya lebih banyak Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan juga peninggalan kerajaan Sriwijaya. Menurut penjelasan saudari Evita Maharani yang merupakan mengunjung museum Sultan Mahmud Badaruddin II, ia mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II hanya untuk berfoto-foto saja. Saya bertanya kepada saudari Evita Maharani mengenai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut, ia hanya menganggap kalau Museum tersebut hanyalah bangunan yang saja tanpa mengetahui jika itu adalah tempat bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya

II.5. Resume Yang Mengarah Pada Solusi Perancangan

(25)

17 adanya Media informasi tersebut, maka sejarah, kelestarian dan kebersihan terhadap Museum itu akan tetap selalu terjaga.

(26)

17 BAB III. STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP DESAIN SIGN

SYSTEM DAN PETA KREATIF MUSEUM SULTAN MAHMUD

BADARUDDIN II DI KOTA PALEMBANG

III.1 Strategi Perancangan

Permasalahan yang di temukan setelah dilakukannya penelitian terhadap Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah kurangnya media informasi berupa sign system dan peta kreatif di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Sebagai pemecahan masalah tersebut maka dibuatlah sign system dan peta kreatif untuk media informasi di dalam dan diluar Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Menyampaikan informasi melalui sign system dan petak reatif, yang di dalamnya berisi informasi seperti tanda identifikasi, petunjuk, larangan atau himbauan ada pun peta yang berisi lokasi dimana tempat peraturan di lingkungan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini.

III.1.1 Khalayak Sasaran 1. Consumer Insight

Pengertian Consumer Insight menurut Amelia E. Maulanayaitu proses mencari tahu secara lebih mendalam dan holistic, tentang latar belakang perbuatan, pemikiran dan prilaku seseorang konsumen yang berhubungan dengan produk dan iklan.Audiens utama media ini adalah masyarakat pada fase dewasa menengah di wilayah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Namun tidak menutup kemungkinan perancangan ini akan mempengaruhi masyarakat selain target audiens.

Berikut insight dari audiens:

 Terbiasa dengan budaya instan dan mudah

 Terbuka serta mengikuti perkembangan terhadapa teknologi baru  Eksistensi menjadi prioritas

(27)

18 2. ConsumerJourney

Tabel III.1 Consumer Journey

Sumber : Pribadi (7 Mei 2016)

Waktu AktivitasPengunjung Tempat Point Of

Contact

07.00-09.00 Mandi pagi, sarapan, perjalana ke museum

Kamar, kamar mandi, motor

Spanduk, poster

09.00-15.00 Sampai tujuan, Masuk museum, penelitian,

Tujuan dari pembuatan sign system dan peta kreatif ini adalah untuk memberikan informasi kepada pengunjung agar mengikuti aturan yang ada di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan mengidentifikasi tempat–tempat yang ada sehingga mudah dikenali dan dimengerti oleh pengunjung yang datang ke Museum.

III.1.2.1 Pendekatan Komunikasi

(28)

19 langsung maupun melalui media. Pendekatan yang akan digunakan dalam penyampaian informasi terbagi menjadi dua,

yaitu :

1. Pendekatan Komunikasi Visual

Pendekatan komunikasi visual dalam perancangan media informasi adalah menggunakan pendekatan budaya modern dengen menggunakan gaya visual

blocking dengan memanfaatkan situasi yang ada di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, baik dari bangunan dan fasilitas yang ada di Museum Sultan Mahmud Badarudin II.

2. Pendekatan Komunikasi Verbal

Dalam perancangan media informasi pendekatan verbal menggunakan kalimat yang formal dan menggunakan bahasa Indonesia yang baku sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima jelas oleh penggunjung.

III.1.3 Materi Pesan

Tujuan perancangan informasi ini adalah untuk pengunjung. Materi yang disampaikan adalah mengenai tanda, petunjuk, symbol, yang mempunyai tujuan yaitu: arahan, identifikasi, larangan dan himbauan kepada pengunjung Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

III.1.4 Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa formal yang singkat dan jelas, bertujuan untuk memberikan pengarahan kepada pengunjung baik dari sikap maupun perilaku setelah mendapatkan informasi dari media cetak yang berada di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

III.1.5 Strategi Kreatif

(29)

20 larangan dan himbauan pada kawasan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Perancangan media informasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berupa sign system dan peta kreatif disesuaikan dengan ciri khas atau unsur–unsur yang dimiliki oleh Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yaitu dengan bergaya atau bertema kerajaan, dengan konsep yang dibuat diharapkan dapat selaras dengan karakter khas yang dimiliki oleh Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan informasi yang akan disampaikan dapat dipahami dengan mudah dan jelas.

III.1.6 Strategi Media

Sign system dan peta kreatif merupakan media yang digunakan dalam perancangan ini, sign system digunakan sebagai petunjuk arah, letak lokasi, anjuran serta larangan dan himbauan dan peta kreatif digunakan untuk memberikan informasi di lokasi tersebut. Pemakaian bentuk sign system

disesuaikan dengan unsur–unsur atau ciri khas dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yaitu ukiran yang ada di atas bangunan museum, agar informasi tersebut tersampaikan dengan baik kepada pengunjung dan mencapai tujuan seperti yang diinginkan. Dalam hal ini digunakan teori media untuk perancangan yang menggunakan media primer utama dan pendukung.

III.1.7 Media Utama

Media utama yang akan dipilih untuk perancangan media informasi terhadap Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berupa sign system yang akan di gunakan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dari berbagai jenis sign system yang ada namun hanya beberapa saja yang akan digunakan, yaitu :

 Tanda Petunjuk arah (Direction)

Tanda ini adalah tanda untuk mengarahkan audiens atau pengunjung menuju suatu tempat

 Tanda Pengenal (Identification)

(30)

21  Tanda Larangan dan peringatan (Regulation)

Tanda ini bertujuan untuk menginformasikan mengenai apa yang tidak boleh dikerjakan atau dilarang.

III.1.7.1 Media Pendukung

Media pendukung adalah sebuah media tambahan untuk mendukung media utama, bertujuan memberikan nilai lebih kepada media utama dan menjadikan lebih menarik. Media pendukung yang digunakan dimedia informasi ini adalah poster dan brosur.

Poster

Poster merupakan media untuk menarik perhatian para wisatawan. Biaya produksi cukup rendah dan dapat menampung informasi-informasi secara lengkap. Dalam penyebarannya poster dapat ditempatkan di pos pelayanan yang berada di gerbang masuk datempat-tempat yang menyediakan fasilitas papan informasi.

Brosur

Brosur adalah segala macam keterangan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang dijabarkan, tujuannya agar pembaca tidak perlu bertanya-tanya lagi mengenai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.Media pendukung brosur ini dibuat agar target audience dapat melihat langsung penjelasannya. Brosur dipilih karena penyebaran brosur mudah dan praktis. Dalam segi ukuran, brosur adalah media promosi yang cukup kecil namun mampu memuat informasi-informasi yang ingin disampaikan.

X Banner

X Banner adalah media yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat atau pengunjung Museum Sultan Mahmud Badaruddin II agar mendapat kaninformasi yang ada di dalam Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini.

Flyer

(31)

22  Spanduk

Spanduk adalah suatu media yang memberikan ketertariakan masyarakat untuk berkunjung ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

III.1.8 Strategi Distribusi

Strategi distribus imerupakan rencana dalam menyebarkan atau menyalurkan produk kepada target audiens, dalam perancangan ini, produk tersebut adalah sign

system dan peta kreatif Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Media ini bersifat permanen dan tidak bias dibongkar pasang, sehingga tidak ada strategi dan target didalamnya.

III.2 Konsep Desain

Konsep Visual meliputi penjelasan format desain, layout, tipografi, ilustrasi, warna, dan sebagainya. Untuk mempromosikan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Dengan subjek perancangan informasi dalam hal ini Museum Sultan Mahmud Badarudin II terbentuklah suatu media informasi yang mempunyai nilai daya tarik yang optimal.

III.2.1 Format Desain

Dalam perancangan informasiMuseum Sultan Mahmud Badaruddin II media yang akan ditampilkan lebih mengutamakan penyampaian informasi yang lebih dalam, serta mencoba memunculkan daya tarik dari informasi yang akan disampaikan. Sehingga menimbulkan daya tarik yang efektif. Dalam perancangan media informasi tentang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, konsep visual yang digunakan berupa sign system dan peta kreatif.

III.2.2 Tata Letak (Layout)

(32)

23 mendapatkan perhatian pembaca dan mengikatnya supaya benar-benar dilihat, dibaca, dan dipahami pesan-pesan apa yang disampaikan. Layout yang digunakan dalam setiap media informasi tentang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah peletakan media informasi yang lebih ditonjolkan. Hal ini yang dimaksud adalah agar ketika target sasarannya melihat media tersebut dapat langsung fokus pada visual kemudian tertarik untuk membaca disetiap informasi media tersebut.

Gambar III. 2 Layout ( Sumber : Dokumen Pribadi )

III.2.3 Huruf

(33)

24 dapat menciptakan kesan atau karakteristik sebuah objek. Pada perancangan media informasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini mengunakan jenis huruf “Bambi Bold dan Birch Std” Jenis Huruf yang dipilih dalam perancangan informasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah :

Bambi Bold

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

1234567890.,?;’()

III.2.4 Warna

Karakter warna yang digunakan sebagai media utama adalah warna yang diambil dari museum sendiri. Warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Hendry Dreyfuss (Hartono,2010). Warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud symbol tersebut.

Gambar III.3 Warna Pada Sign System ( Sumber : Dokumen Pribadi )

1. Warna Hitam

(34)

25 2. Warna Merah

Merupakan warna untuk tanda larangan. Warna ini merupakan warna yang digunakan sebagai warna standar. Tujuanya penggunaan warna ini adalah agar masyarakat tidak kesulitan dengan tanda warna yang ada karena disesuaikan dengan rambu yang sudah ada

Gambar III.4 Warna Pada Peta Kreatif ( Sumber : Dokumen Pribadi ) 1. Warna abu-abu tua

Arti warna abu–abu adalah mencerminkan keamanan, tenang Cocok untuk bangunan yang cendrung kuno atau bersejarah.

2. Warna Coklat

Coklat selalu identic dengan stabilitas, dan keadaan dimana kita dapat meletakkan kepercayaan pada obyek-obyek berwarna coklat. Warna coklat sering mengesankan kondisi sehingga bias menimbulkan kesan yang dapat diandalkan dan mewakili dari museum tersebut.

3. Warna Merah Marun

Warna ini mencerminkan rasa berani dan melambangkan kehidupan dengan gaya menarik tersendiri dan memiliki arti keindahan, yang terlukiskan secara tegas pada bangunan bersejarah.

(35)

26 Warna ini di ambil dari warna yang ada di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II agar memberikan arti dari bentuk bangunan yang sudah lama atau tua seperti bangunan museum ini sendiri.

III.2.5 Ilustrasi

Ilustrasi adalah gambar yang dapat berbentuk sketsa, image atau foto yang kemudian dibuat atau disederhanakan untuk melengkapi kebutuhan visual dalam perancangan media informasi sign system dan peta kreatif. Ilustrasi yang digunakan pada perancangan media informasi ini adalah foto yang di ambil dari kamera digital.

Berikut ini adalah foto yang dipakai dalam perancangan media informasi ini adalah :

Gambar III.5 Gerbang Utama Museum ( Sumber : Dokumen Pribadi )

(36)

27 BAB IV. MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI

IV.1 Teknis Media

Dalam proses produksi media dilakukan melalui beberapa tahap yaitu  Tahap Sketsa

Sketsa awal adalah proses pencarian bentuk pertama dari visual media informasi ini. Tahap ini dibuat dalam bentuk gambar yang dibuat menggunakan alat tulis seperti pensil. Tahap sketsa dilakukan agar mempermudah dalam eksekusi visual Berikut ini adalah beberapa sketsa perancangan yang dibuat :

(37)

28 Gambar IV. 2 Sketsa Perancangan media

( Sumber : Dokumen Pribadi )  Tahap Perancangan

Tahap perancangan adalah tahap penting untuk merancang media-media informasi yang akan dibuat sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan. Langkah pertama proses perancangan ini adalah mengolah simbol – simbol yang sudah dilakukan pada tahap eksekusi visual. Setelah di olah sedemikian rupa maka tahap selanjutnya adalah membuat layout dan memasukan informasi yang akan disampaikan yang berupa tulisan dalam media sign system.

IV.2 Sign System

Sign system merupakan media utama dalam perancangan media informasi ini. Hal ini dilakukan karena Museum Sultan Mahmud Badaruddin II mempunyai masalah dalam menyampaikan keadaan ruangan baik dari larangan, peringatan, petunjuk

arah dan keterangan tempat. Seluruh sign system yang dibuat merupakan keseluruhan informasi yang meliputi dari lingkungan diluar maupun di dalam

(38)

29  Berikut ini adalah peroses pembuatan icon atau simbol dan layout

(39)
(40)

31 Gambar IV. 9 Hasil Visualisasi

(Sumber : Dokumen Pribadi)  Sign Identification (Tanda Pengenal)

(41)

32 Gambar IV. 10 Sign Identification

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Berikut ini adalah spesifikasi Sign system di lingkungan Museum Sultan

Mahmud Badaruddin II

 Nama Ruangan

Ukuran : T 260 cm x P 35 cm x L 28 cm Jenis Huruf : Birch Std

 Media : Akrilik

: Print

Perancangan media ini menggunakan bahan akrilik bening dan kertas stiker yang diprint, dan menggunakan font yang jelas agar pengunjung bisa mentaati peraturan di lingkungan luar museum maupun didalam Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini.

Sign Direction (Petunjuk Arah)

(42)

33  Peta Kreatif

Gambar IV. 12 Peta Kreatif (Sumber : Dokumen Pribadi) Spesifikasi:

Fungsi : Sebagai sarana dalam memberi informasi suatu tempat kepada pengunjung

Ukuran : 42 cm x 59,4 cm Bahan : Albatros

Tehnik Cetak : Cetak Sparasi

IV.3 Tehnik Produksi

Dalam memasuki teknis sebuah media, kita harus terlebih dahulu harus menyiapkan beberapa rencana yang terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama yang harus dilakukan pada pembuatan sebuah sign system dan peta kreatif Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah mempersiapkan segala peralatan, data dan sarana penunjang yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah sign system

(43)

34 Badaruddin II, agar pada pelaksanaanya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tahap berikutnya adalah tahap perencanaan, tahap ini terdiri dari penentuan ide atau gagasan, tata letak dan penempatan elemen-elemen serta desain dan produksinya.

IV.4 Hardware (Perangkat Keras)

Melalui kecangihan teknologi komputer pada saat ini para desainer dapat membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan menghasilkan suatu karya digital yang lebih baik dan bagus.

Hardware yang mendukung dalam proses pembuatan Sign system dan Peta Kreatif dan media pendukung ini adalah sebagai berikut:

 PC Personal Computer)

 Intel(R) Core(TM) i5-3330 CPU @ 3.00GHz (4 CPUs),-3.0GHz  Installed Memory (RAM), 4.00 GB

IV.5 Software (Perangkat Lunak)

Dalam perancangan pembuatan sign system dan peta kreatif Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, menggunakan beberapa software desain untuk pembuatan

sign system dan peta kreatifini, diantaranya:

Sistem Oprasional yang digunakan adalah Windows 7 Ultimate 64-Bit dengan

(44)

35 IV.6 Media Pendukung

IV.6.1 Poster

Gambar IV. 13 Poster (Sumber : Dokumen Pribadi) Material Pada Poster

(45)

36 Media poster ini digunakan pada tahap pertama dari pelaksanaan promosi, yaitu tahap pengenalan. Poster ini memberikan attention kepada target audience berupa poster yang hanya berisikan yang bertuliskan “Pada tagline bertuliskan “Jangan Pernah Melupakan Sejarah”, tagline ini bertujuan untuk menarik wisatawan untuk peduli akan sejarah.

IV.6.2 Brosur

Gambar IV. 14 Brosur (Sumber : Dokumen Pribadi) Material Pada Brosur

Bahan : Kertas Art Paper Ukuran : A4 ( 21 cm x 29,7 cm ) Tehnik : Cetak offset

(46)

37 IV.6.3 X–Banner

Gambar IV. 15 X- Banner (Sumber : Dokumen Pribadi) Material Pada X-Banner

Bahan : Albatros

Ukuran : 160 cm x 60 cm Tehnik : Cetak offset

(47)

38 IV.6.4 Flayer

Gambar IV. 16 Flyer (Sumber : Dokumen Pribadi) Material Pada Flayer

Bahan : HVS

(48)

39 Flyer adalah salah satu media penyebaran pesan yang cukup ampuh dan lebih terarah kepada masyarakat yang akan berwisata ke Museum Sultan Mahmud

Badaruddin II

IV.6.5 Spanduk

Gambar IV. 17 Spanduk (Sumber : Dokumen Pribadi) Material Pada Spanduk

Bahan : Grade Ukuran : 1,5 m x 2 m Tehnik : Print digital

(49)

iii KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul

‘Perancangan Media Informasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota

Palembang’. Semoga dengan adanya tugas akhir dapat memberikan manfaat bagi

penulis dan semua pihak yang terkait. Tugas akhir ini diharapkan dapat membantu mengembangkan kreativitas dan wawasan untuk dapat menjadi lebih baik lagi. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis selalu terbuka dengan berbagi saran dan kritik yang dapat membuat tugas akhir ini lebih baik lagi. Selama pembuatan tugas akhir ini tidak akan berjalan lancar dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Semua pihak yang membantu dan mendukung dalam pembuatan laporan yang tidak dapat disebutkan satu per satu, penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Bandung, Januari 2016 Penulis,

Gambar

Gambar II.1 Museum Sultan Mahmud Baddarudin II Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)
Gambar II.6 Rumah Limas Rumah Adat Palembang       Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)
Gambar II.9 Sandal Sultan Sumber: (Dokumentasi Pribadi 07 Mei 2016)
Gambar II.12 Naskah Ulu
+7

Referensi

Dokumen terkait