SURAT KETERANGAN
PENYERAHAN HAK EKSKLUSIF
Saya yang bertanda tangan dibawah ini bersedia:
Bahwa hasil penelitian dapat dionlinekan sesuai dengan peraturan
yang berlaku, untuk
kepentingan riset dan pendidikan .
Bandung, 12 September 2012
Penulis
Tema
AERODYNAMIC FORM
LAPORAN PERANCANGAN AR 38313 S – STUDIO TUGAS AKHIR
SEMESTER VIII TAHUN 2011/2012
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
Oleh :
Bagus Priyantomo
1.04.08.017
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
SARI
Olahraga Dirgantara Aeromodelling adalah scientific sport yang
menawarkan kebugaran dan kecerdasan yang memenuhi kodrat naluriah
dalam memelihara karunia fisik dan pengembangan nalar batiniah.
Pengembangan kedua unsur itu menghasilkan daya cipta, ketajaman rasa
serta membangun karsa untuk mejangkau kedalaman teknologi
kedirgantaraan, yang dapat diabdikan bagi kejayaan NKRI. Aeromodelling
dalam kegiatan fisiknya adalah perancangan model pesawat, pembuatan,
pengujian, penerbangan sampai menandingkan yang implementasinya
merupakan laboratorium alam untuk mengasah kecerdasan dan
pembentukan kebugaran fisik yang dapat ditekuni sepanjang hayat.
Kegiatan Aeromodelling bukan sekedar memupuk minat SDM
kedirgantaraan namun bahkan telah membuktikan manfaat riil bagi
masyarakat karena didasari begitu banyak disiplin ilmu.
Ruang udara Nasional bukan sekedar untuk dimiliki tetapi harus
dikuasai, dikelola, diamankan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan
serta kejayaan Nusantara. Menguasai teknologi kedirgantaraan
merupakan kewajiban Aeromodeller Indonesia, yang didorong oleh
kesadaran akan besarnya tanggung jawab sebagai pewaris ruang hidup
dan kehidupan bagi generasi penerus. Oleh karena itu Aeromodelling
Indonesia sebagai bagian dari Federasi Aero Sport Indonesia perlu
mengorganisir diri sebagai bagian dari kegiatan kedirgantaraan NKRI dan
dunia.
Didorong oleh kesadaran ikut bertanggung jawab terhadap
pencapaian cita-cita bangsa itu, maka dibutuhkan media arsitektural yaitu
Bandung Aeromodelling Centre yang berfungsi sebagai pusat organisasi,
pelatihan, informasi, penerbangan, lapangan kejuaraan, penjualan dan
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena rahmat
dan karunianya penulis dapat menyelasikan Tugas Akhir ini sesuai
dengan judul “BANDUNG AEROMODELLING CENTRE”.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran sangat diharapkan demi
perbaikan pengetahuan dan kemampuan di masa yang akan dating.
Penyelesain laporan Tugas Akhir ini juga tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan
terima kasih dan meberikan penghargaan setingi-tinginya kepada:
1. Dhini Dewiyanti Tantarto, Ir., MT, selaku Ketua Jurusan Teknik
Arsitektur UNIKOM atas dorongan dan bantuanya.
2. Dr. Salmon Martana, ST., MT., selaku Dosen Pembimbing dimana
dengan penuh perhatian, kesabaran dan ketelitian telah
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran . dalam membimbing dan
mengarahkan selama proses tugas akhir berlangsung.
3. Seluruh dosen pengajar yang telah memberikan ilmu – ilmunya
selama mengikuti jenjang perkuliahan
4. Ibu , Bapak, Kakak (Tasha) dan Adik (Devicha dan Aisyah) tercinta atas segala pengorbanan, kasih sayang, dukungan moril
dan materil yang tak terhingga, serta kepercayaan yang telah
diberikan.
5. Teman – teman seperjuangan, senasib, sepenanggungan,
angkatan 2008.
6. Teman-teman satu kosan dan orang terdekat yang selalu
memberikan semangat dalam mengerjakan tugas akhir ini.
Besar harapan penyusun kiranya laporan ini bisa bermanfaat bagi
penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.
Bandung, Juli 2012
DAFTAR ISI
2.4.1 Kegiatan Aeromodelling di Negara-negara Lain ... 30
2.4.2 Studi Banding Bangunan Sejenis ... 55
III. ELABORASI TEMA ... 63
3.1 Pengertian ... 63
3.2 Penerapan Pada Desain ... 64
IV. ANALISIS ... 66
4.2 Analisis Tapak ... 66
4.2.1 Orientasi Matahari ... 66
4.2.2 Kondisi Eksisting ... 67
4.2.3 Akses Dari Luar Kota Bandung ... 68
V. KONSEP PERANCANGAN ... 69
5.1 Sirkulasi ... 69
5.2 Pemintakatan Bangunan ... 70
5.3 Konsep Runway ... 71
5.4 Struktur ... 72
5.5 Gubahan Massa ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 74
FOTO MAKET ... 75
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Olahraga merupakan kodrat naluri manusia yang selalu ingin
melakukan gerakan-gerakan dan kegiatan jasmani yang bermakna
dan yang hasilnya menimbulkan kepuasan. Kodrat naluriah ini
merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang disamping
memberikan rasa kesenangan, kenikmatan dan kepuasan, apabila
dilakukan secara teratur, dapat pula menjadi suatu cara untuk
mencapai keselarasan rohani dan jasmani.
Olahraga Dirgantara Aeromodelling adalah scientific sport yang
menawarkan kebugaran dan kecerdasan yang memenuhi kodrat
naluriah dalam memelihara karunia fisik dan pengembangan nalar
batiniah. Pengembangan kedua unsur itu menghasilkan daya cipta,
ketajaman rasa serta membangun karsa untuk mejangkau
kedalaman teknologi kedirgantaraan, yang dapat diabdikan bagi
kejayaan NKRI. Aeromodelling dalam kegiatan fisiknya adalah
perancangan model pesawat, pembuatan, pengujian, penerbangan
sampai menandingkan yang implementasinya merupakan
laboratorium alam untuk mengasah kecerdasan dan pembentukan
kebugaran fisik yang dapat ditekuni sepanjang hayat. Kegiatan
Aeromodelling bukan sekedar memupuk minat SDM kedirgantaraan
namun bahkan telah membuktikan manfaat riil bagi masyarakat
karena didasari begitu banyak disiplin ilmu.
Olahraga Dirgantara Aeromodelling merupakan cabang
olahraga yang dapat memenuhi kodrat naluri keolahragaan yang
manusiawi itu, sekaligus secara khusus mengembangkan dan
memupuk Minat Dirgantara sebagai suatu wawasan yang mutlak
diperlukan bagi pembinaan Kekuatan Dirgantara Nasional yang
merupakan unsur Ketahanan Nasional. Oleh sebab itu Olahraga
dalam kehidupan Bangsa Indonesia, sehingga para pelakunya dapat
turut berperan dalam upaya mencapai cita-cita Bangsa.
Ruang udara Nasional bukan sekedar untuk dimiliki tetapi harus
dikuasai, dikelola, diamankan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan
serta kejayaan Nusantara. Menguasai teknologi kedirgantaraan
merupakan kewajiban Aeromodeller Indonesia, yang didorong oleh
kesadaran akan besarnya tanggung jawab sebagai pewaris ruang
hidup dan kehidupan bagi generasi penerus. Oleh karena itu
Aeromodelling Indonesia sebagai bagian dari Federasi Aero Sport
Indonesia perlu mengorganisir diri sebagai bagian dari kegiatan
kedirgantaraan NKRI dan dunia.
Berdasarkan data dari Federasi Aero Sport Indonesia per
Oktober 2011 jumlah anggota Aeromodelling yang telah terdaftar dan
memiliki Kartu Tanda Anggota/Sporting Licence sebanyak 1.027
orang yang tersebar di berbagai wilayah yang dibagi menjadi 6
wilayah yaitu:
Wilayah I, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,
Sumatera Barat.
Wilayah II, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan
Bangka Belitung, Riau, Kepulauan Riau, Jambi.
Wilayah III, DKI, Jawabarat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur,
Banten.
Wilayah IV, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur.
Wilayah V, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua.
Wilayah VI, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tengah, Sulawesi barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo.
Didorong oleh kesadaran ikut bertanggung jawab terhadap
yang mampu menampung seluruh aktivitas dan kegiatan
aeromodelling.
1.2 Masalah Perancangan
a. Berdasarkan hasil survay dan wawancara, bangunan eksisting
yang digunakan untuk kegiatan organisasi dan kejuaraan
aeromodelling belum memadai dan memenuhi kebutuhan
fungsi ruang.
b. Belum ada pusat aeromodelling di Indonesia yang berfungsi
sebagai pusat organisasi, pelatihan, informasi, penerbangan,
lapangan kejuaraan, penjualan dan servis yang terletak dalam
satu kawasan yang mendukung.
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud
Adapun maksud pengambilan judul ini adalah :
a. Menyediakan gagasan desain arsitektural yang mampu
mewadahi dan memenuhi kebutuhan sarana dan fasilitas
kegiatan organisasi dan pelaksanaan Aeromodelling.
b. Membuat rancangan bangunan yang mampu
mengakomodasi kegiatan organisasi dan pelaksanaan
aeromodelling dengan sarana dan fasilitas pendukung
yang berada dalam satu kawasan.
Tujuan
Adapun tujuan dari perancangan Bandung Aeromodelling
centre ini adalah:
a. Dengan dibangunnya Bandung Aeromodelling Centre
akan memberikan ruang yang memadai dengan sarana
dan fasilitas yang mendukung kegiatan aeromodelling.
b. Mewujudkan pusat aeromodelling di Indonesia yang
berfungsi sebagai pusat organisasi, pelatihan, informasi,
penerbangan, lapangan kejuaraan, penjualan dan servis
1.4 Pendekatan
Studi lapangan terhadap lahan proyek mencakup kondisi
sekitar lahan, studi lingkungan fisik, bangunan dan suasana
yang ada di sekitar lahan.
Studi literatur tentang Aeromodelling di Indonesia dan
negara-negara lain.
Studi literatur mengenai kegiatan organisasi dan pelaksanaan
kejuaraan Aeromodelling
Pengumpulan syarat – syarat dasar bangunan shelter
Aeromodelling.
Studi lapangan terhadap lokasi penerbangan dan lokasi hobby
store eksisting untuk aeromodelling.
Studi Standar dan Literatur
Dengan menganalisa hasil dari survei, studi literatur dan studi
banding untuk dijadikan sebagai acuan proses desain dan
proses perancangan.
Proses Desain
Merupakan penjabaran dari semua proses di atas secara visual
dan grafis ke dalam bentuk gambar sketsa yang dicerminkan
dan diterapkan pada desain bangunan yang memadai dengan
sarana dan fasilitas pendukung.
1.5 Lingkup atau Batasan
Mengingat sangat luasnya permasalahan yang terkait dengan
beberapa faktor, serta waktu yang relatif cukup singkat, maka harus
terdapat batasan dari permasalahan yang ada, batasan tersebut
meliputi:
Merancang bangunan yang mampu mewadahi seluruh kegiatan
organisasi dan pelaksanaan kejuaraan secara memadai serta
dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendukung.
Merumuskan konsep-konsep dari proses identifikasi untuk
Untuk mencapai sasaran yang telah di rencanakan, sasaran tersebut
dibagi menjadi 2 tahap:
Pengenalan, pengecekan dari literatur serta wawancara
lapangan dan mengidentifiksai data-data yang terkumpul.
Menganalisa data dan merumuskan kesimpulan dari hasil
identifikasi permasalahan tersebut.
1.6 Tinjauan Pustaka
Olahraga Aeromodelling merupakan olahraga Dirgantara yang
tumbuh bersama-sama dengan dunia penerbangan baik sipil
maupun militer. Di Indonesia pertama kali timbul di lingkungan TNI -
AU melalui Kepanduan Pramuka Dirgantara.
Kegiatan pembuatan pesawat model ini dimulai sejak tahun
1946 bersamaan dengan dirintisnya pembuatan pesawat layang
pertama di Yogyakarta (Aeromodeller dan Pandu Udara) dan
berkembang ke kota-kota besar, Bandung, Yogyakarta, Surabaya,
Malang dan Surakarta.
Untuk menampung peminat yang makin banyak maka AURI
(TNI AU) memberikan wadah "BIRO AERO CLUB" yang dibina oleh
Kapten G. Reuneker, dan untuk pertama kalinya diadakan
perlombaan pada tanggal 27 Januari 1952 di Pangkalan Udara
Cililitan/Halim Perdanakusuma Jakarta yang diikuti Club-Club
Aeromodelling kota-kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan.
Pada 9 April 1953 Biro Aero Club membuka kursus
Aeromodelling di Jakarta yang mendapat perhatian besar dari
masyarakat. Menyusul perlombaan selanjutnya pada tanggal 17 Mei
1954, yang diikuti oleh Aero Club Jakarta, Bandung, Surabaya,
Palembang, Banjarmasin, Makasar, Ambon dan perlombaan ini
dilaksanakan setiap tahun.
Juni 1954 untuk pertama kalinya diadakan perkemahan Pandu
Udara di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang dihadiri oleh
80 Pandu Udara dari seluruh Indonesia. Di dalam perkemahan ini
merupakan percobaan jajak pendapat untuk melihat animo
masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk mendidik pelatih-pelatih
khusus hingga pada tahun 1955 telah tercatat 35.000 anggota Pandu
Udara di seluruh Indonesia.
Kegiatan Aero Club mulai nampak dengan berdirinya Aero Club
di kota-kota besar antara lain : Aviantara di Bandung, Jakarta Aero
Club di Jakarta, Pemudara dan Yan Debrito di Yogyakarta, Surakarta
Aero Club di Surakarta, Malang Aero Club di Malang.
Perlombaan tahun 1957, bagi pemenang / juara perlombaan
dipilih untuk dikirim ke Yugoslavia mengikuti pendidikan Terbang
Layang.Tahun 1960 TNI AU bekerja sama dengan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) menyelenggarakan pendidikan
Kursus Aeromodelling dan Peroketan (K.A.P) bertempat di Wing
Pendidikan 04 Lanud Adi Sumarno.
Pendidikan K.A.P ini diikuti oleh siswa-siswa daerah, baik
anggota TNI, Sipil TNI, Guru maupun Pramuka. K.A.P berjalan
sampai beberapa periode. Dari hasil pendidikan K.A.P tumbuh
masukan–masukan / usul-usul daerah untuk menghimpun
perkumpulan-perkumpulan / club-club Aeromodelling dalam satu
organisasi.
Dari masukan-masukan / usulan-usulan, Letnan Suhartono
(Kepala Kursus Aeromodelling dan Peroketan) memprakarsai untuk
mengadakan pertemuan membahas organisasi Aeromodelling.
Tahun 1962 di Hotel Merdeka Solo terlaksana diselenggarakan
Rapat Rencana Pembentukan Organisasi Aeromodelling, yang
dipimpin oleh Letnan Suhartono.
Dari hasil rapat disepakati terbentuknya Organisasi
Aeromodelling dengan nama Federasi Aeromodelling Seluruh
Indonesia disingkat FASI, yang kemudian nama FASI dijadikan nama
dari induk seluruh cabang olahraga dirgantara di Indonesia. Sebagai
04, khususnya dalam mengembangkan olahraga dirgantara
dikalangan Pramuka.
Pada tahun 1966 telah diadakan kerjasama antara kwartir
nasional Gerakan Pramuka dengan kepala staf TNI Angkatan Udara,
dengan membentuk satuan karya Dirgantara / Kompi-Kompi
Pramuka Angkasa dengan menyelenggarakan pendidikan
diantaranya Aeromodelling. Dalam upacara pembukaannya ditandai
dengan demonstrasi Aeromodelling, Terbang Layang, Terjun
Payung, Pesawat Bermotor serta peluncuran Roket yang
diselenggarakan di Pulo Mas dengan Inspektur Upacara Bung
Karno.
Untuk tinggal landas digunakan jalan By Pass sebagai
landasan pesawat terbang layang dengan pesawat penarik AUSTER
dan di Senayan Jakarta. Tanggal 10 s/d 20 November 1968
diselenggarakan Loka Karya Nasional Pramuka dengan ANUDIRGA
(Andalan Nasionala Urusan Dirgantara) Bapak Kardono di Jakarta
(Halim Perdanakusuma).
Olahraga Aeromodelling ini dilombakan baik tingkat nasional,
regional maupun internasional. Sejak tahun 1978 olahraga ini
sebagai cabang yang dilombakan ekshibisi di PON ( Pekan Olahraga
Nasional ) sampai PON XI 1981. Namun pada PON XII tahun 1989
cabang olahraga Aeromodelling tidak lagi diperlombakan /
dipertandingkan. Kemudian pada tahun 2000 mulai lagi dilombakan
dalam PON XV di Jawa Timur. Selain melaksanakan / mengikuti
lomba Aeromodelling juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang
diadakan PB FASI seperti Jambore Aero Sport, Safari FASI dan
lainnya.
Definisi Aeromodelling
Menurut Buku Panduan yang dikeluarkan PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI – 2009, Aeromodelling adalah kegiatan
perancangan, pembuatan dan penerbangan pesawat model yang
yang diperoleh dari permukaan sayap dengan ukuran yang tertentu
dengan atau tanpa motor dan tidak dapat membawa manusia.
Mata Lomba yang dipertandingkan di Indonesia adalah sebagai
berikut :
a. Terbang Bebas Lempar (OHLG – Outdoor Hand-Launched
Glider).
b. Terbang Bebas Tarik A2 (F1A – Free Flight Glider A2).
c. Terbang Bebas Tarik A1 (F1H – Free Flight Glider A1)
d. Kecepatan Kendali Tali (F2A – Control Line Speed)
e. Aerobatik Kendali Tali (F2B – Control Line Aerobatics)
f. Balap Beregu Kendali Tali (F2C – Control Line Team Race)
g. Tempur Udara Kendali Tali (F2D – Control Line Combat)
h. Aerobatik Kendali Radio (F3A - Radio Control Aerobatics)
i. Helikopter Kendali Radio (F3C – Radio Control Helicopter)
j. Terbang Layang Kendali Radio (F3J – Radio Control Glider)
k. Nomor-nomor lain yang diselenggarakan oleh PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI
Persatuan Olah Raga Dirgantara Aeromodelling ( PORDIRGA
AEROMODELLING ) PB FASI adalah organisasi resmi
aeromodelling . Pordirga Aeromodelling juga membawahi segala
kejuaraan aeromodelling di Indonesia dan yang memberikan
sertifikasi rekor-rekor pada tingkat nasional.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI adalah organisasi
terbuka untuk siapa yang tertarik pada penerbangan pesawat model.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI adalah organisasi
nirlaba yang mandiri dengan tujuan utama memajukan
perkembangan aeromodelling sebagai olah raga dan sebagai sarana
rekreasi yang sangat berguna.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI adalah organisasi
yang sesuai dengan jenjangnya mengatur semua klub aeromodelling
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI mengatur tata cara
pelaksanaan pertandingan di Indonesia, keselamatan dan asuransi ,
bantuan untuk mendapatkan lapangan terbang aeromodelling.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI adalah satu dari 7
(tujuh) cabang olah raga dirgantara dibawah Pengurus Besar
Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI) yang merupakan anggota
resmi Federation Aeronatique Internationale (FAI). FAI adalah
organisasi resmi dunia yang mengatur kegiatan olah raga dirgantara.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI adalah satu-satunya
organisasi olah raga dirgantara aeromodelling resmi yang dapat
mengirim perwakilan Aeromodelling Indonesia.
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI merupakan
penghubung resmi dengan PB FASI yang menyangkut kepentingan
untuk kegiatan aeromodelling.
Keselamatan
Persyaratan Kesehatan
a. Semua orang yang terlibat dalam kegiatan olahraga
aeromodelling diwajibkan menyatakan kelayakan kesehatan
dirinya sendiri.
b. Tidak menderita penyakit yang dapat menyebabkan kehilangan
kesadaran atau kemampuan secara mendadak.
Persyaratan Usia
Usia minimum untuk umum adalah sekurang-kurangnya 12
tahun atau usia dibawahnya dengan pengawasan orang dewasa
yang berkompeten, usia maksimum tidak dibatasi dengan syarat
diketahui sehat. Usia maksimum atlit adalah setinggi-tingginya 70
tahun dan diketahui sehat.
Persyaratan Pelatihan Pemula
a. Semua kebutuhan pelatihan pemula harus diberikan oleh
pelatih/instruktur dari klub yang telah menjadi anggota
b. Setiap penerbangan pemula harus dibawah tuntunan
pelatih/instruktur sampai pada tahap pemula diijinkan
melakukan penerbangan solo.
c. Segala resiko permainan tanpa langkah pengamanan
memadai/cukup menjadi tanggung jawab perorangan.
Rekomendasi Safety
a. Aturan Keselamatan dalam lampiran BPAI ini dimaksudkan
sebagai pedoman bagi setiap Aeromodeller baik secara
individu maupun klub, yang sebagian besar mengacu FAI
Sporting Code dan Safety Rules serta AMA (Academy Model
Aeronautic).
b. Aturan Keselamatan ini dimaksudkan untuk mendorong setiap
Aeromodeller agar melaksanakan kegiatannya dengan AMAN,
dan jangan dianggap sebagai penghalang / penghambat bagi
Aeromodeller untuk menikmati kegiatan aeromodelling, namun
untuk membentuk Aeromodeller yang bertanggung jawab atas
keselamatannya sendiri dan bagi orang lain disekitarnya.
c. Sebagian besar kegiatan aeromodelling berlangsung sebagai
kegiatan rekreasi yang seringkali dilaksanakan ditempat umum
dibanding dengan kegiatan pertandingan olah raga resmi.
Setiap Aeromodeller harus menyadari bahwa kecelakaan yang
terjadi dapat mengakibatkan kerugian materi, luka, bahkan
dapat menyebabkan kematian. Apabila hal ini terjadi maka
akan merugikan citra olah raga aeromodelling dalam
perkembangannya. Oleh karena itu bagi setiap aeromodeller
wajib melaksanakan aturan keselamatan agar tidak merugikan
perkembangan dunia aeromodelling Indonesia.
d. Pengaturan keselamatan penerbangan aeromodelling
dilaksanakan melalui :
Pengaturan penggunaan radio dan alokasi frekwensi.
Pengaturan penggunaan peralatan.
Pengaturan kompentensi melalui keanggotaan.
Untuk memahami secara rinci peraturan keselamatan Lihat
Lampiran Peraturan Keselamatan.
Pengaturan Penggunaan Radio dan Alokasi Frekwensi
Pengendalian pesawat jarak jauh memerlukan prosedur
pengamanan dengan ketelitian yang akurat dan pada gelombang
frekwensi yang sudah dialokasikan khusus.
Penggunaan Peralatan
Ukuran pesawat, kecepatan, berat pesawat, tali dan
pengaitnya, pakaian dan pelindung pemainnya harus dapat
melindungi dari terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan luka.
Lapangan Terbang Aeromodelling
Lapangan atau tempat yang memenuhi syarat keamanan
direkomendasikan secara resmi oleh PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI dimana kegiatan menerbangkan
pesawat model dapat dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan
teknis, keselamatan , asuransi dan keamanan. Tata letak lapangan
atau tempat yang memenuhi persyaratan dapat direkomendasikan
oleh PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI atau oleh para ahli
yang ditunjuk.
Pengamanan pemain maupun penonton diatur dengan
penggunaan peralatan dan perlengkapan pelindung serta siapa
saja yang berada pada jarak tertentu untuk jenis pesawat model
khususnya yang bermesin. Shelter untuk penonton dan pemain
sekurang-kurangnya memiliki jaring pengaman pada sisi-sisi yang
dapat memperkecil resiko terjadinya kecelakaan . Disamping itu,
papan petunjuk yang berisi panduan menerbangkan , petunjuk
keselamatan bagi penerbang dan bukan penerbang disediakan oleh
pengelola atau penanggung jawab setempat. Disarankan agar
Untuk memahami secara rinci lapangan terbang aeromodelling
yang memenuhi syarat keselamatan Lihat Lampiran Tata Letak
Lapangan Pertandingan
Keanggotaan
a. Kategori Anggota
Anggota Biasa :
Perorangan : Adalah Warga Negara Indonesia yang
secara resmi telah mendaftarkan diri dan diterima
menjadi anggota Pordirga Aeromodelling Provinsi
melalui rekomendasi Pordirga Aeromodelling
Kota/Kab.
Perkumpulan/Klub : Perkumpulan yang secara resmi
telah mendaftarkan diri dan diterima di Pordirga
Aeromodelling Kota/Kab.
Anggota Luar Biasa:
Warga negara Indonesia yang tidak melaksanakan
kegiatan olahraga dirgantara tapi berjasa besar bagi
olahraga dirgantara.
Lembaga-lembaga atau badan-badan hukum non
perkumpulan olahraga dirgantara yang
melaksanakan kegiatan olahraga digantara.
Lembaga-lembaga atau badan-badan hukum non
perkumpulan olahraga dirgantara yang tidak
melaksanakan kegiatan olahraga dirgantara tapi
berjasa besar bagi olahraga dirgantara.
b. Persyaratan Keanggotaan:
Memenuhi persyaratan Administrasi
Memenuhi persyaratan Keselamatan
c. Iuran-iuran:
Iuran Anggota ditarik oleh PORDIRGA Aeromodelling
Provinsi, berdasar keanggotaan di Provinsi, dikeluarkan
Iuran Provinsi dan biaya Sporting License ditarik oleh
PORDIRGA Aeromodelling PB FASI
Pemilihan Ketua dan Pengurus
1. PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI
Ketua PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI disingkat
KAPORDIRGA sementara ini ditunjuk/dipilih dalam Munas PB
FASI , untuk masa yang akan datang sangat direkomendasikan
dipilih melaui Munas (Musyawarah Nasional) PORDIRGA
Aeromodelling dimana pesertanya adalah utusan PORDIRGA
Aeromodelling Provinsi. Apabila suatu Provinsi belum terbentuk
PORDIRGA Aeromodelling Provinsi maka dapat diwakili oleh
Perkumpulan Olah Raga Dirgantara yang ada diwilayah yang
bersangkutan.
2. PORDIRGA AEROMODELLING Provinsi
Ketua Aeromodeling Provinsi dipilih melalui MusProv
(Musyawarah Provinsi) PORDIRGA Aeromodelling dimana
pesertanya adalah utusan PORDIRGA Aeromodelling
Kota/Kabupaten. Apabila PORDIRGA Aeromodelling
Kota/Kabupaten belum terbentuk maka dapat diwakili oleh
Perkumpulan Olah Raga Dirgantara yang ada dikota/kabupaten
yang bersangkutan.
3. PORDIRGA AEROMODELLING Kota/Kabupaten
Ketua Aeromodeling Kota/Kabupaten dipilih melalui
MusKot (Musyawarah Kota) PORDIRGA Aeromodelling
Kota/Kab. dimana pesertanya adalah utusan klub-klub
aeromodelling didalam satu kota/kabupaten.
4. Ketua Klub Aeromodelling dipilih sesuai dengan AD/ART Klub
Syarat syarat mendirikan Klub Aeromodelling
Untuk mendirikan suatu Klub Aeromodelling sebaiknya
dimulai dari kelompok yang memiliki minat kuat untuk menekuni
Dalam pelaksanaannya disarankan menghubungi Pengurus
Pordirga Aeromodelling PB FASI , Aeromodelling Provinsi,
Aeromodelling Kota/Kab atau Klub yang sudah terbentuk untuk
mendapatkan pengawasan dan bimbingan seperlunya. Modal
pembentukan klub sekurang-kurangnya adalah sebagai berikut
:Mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
yang tidak bertentangan dengan AD/ART FASI
a. Cukup jumlah anggota ; sekurang kurangnya 10 orang
yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara dan
Anggota.
b. Memiliki Alamat tetap atau kantor dengan sarana
komunikasi (telepon/fax , e-mail atau internet).
c. Tersedia lapangan/tempat latihan.
PENGATURAN DAN PERATURAN PERTANDINGAN
Kejuaraan Resmi
Kejuaraan yang diselenggarakan di tingkat daerah dan nasional
berdasarkan program kerja yang telah disusun oleh FASI PROVINSI,
KONI PUSAT serta disetujui dan diusulkan oleh PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI . Kejuaraan yang termasuk dalam
kategori ini :
a. Kejuaraan Daerah ( KEJURDA )
Kejuaraan yang diadakan di tingkat daerah 1 ( satu ) kali
dalam setahun oleh FASI PROVINSI sebelum dilaksanakannya
kejuaraan resmi tingkat nasional dalam hal ini KEJURNAS.
b. Kejuaraan Nasional ( KEJURNAS )
Kejuaraan yang diadakan di tingkat nasional 1 ( satu ) kali
dalam setahun oleh PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI
atau pihak yang ditunjuk
c. Babak Kwalifikasi PON
Kejuaraan resmi tingkat nasional yang diadakan untuk
menentukan peserta dan daerah yang berhak mengikuti PON
oleh KONI Pusat dengan penyelenggara Panitia Penyelenggara
Pertandingan yang disahkan oleh PB PON dan pengawas
teknis dari PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI. Babak
kwalifikasi PON juga merupakan Kejurnas untuk tahun tersebut.
d. Pekan Olah Raga Nasional
Kejuaraan resmi tingkat nasional yang diadakan oleh
KONI Pusat 1 ( Satu ) kali dalam 4 tahun yang merupakan
bagian cabang olah raga yang dipertandingkan pada PON
dimana untuk penyelenggaraannya diatur oleh masing-masing
induk olah raga . Pada tahun pelaksanaan PON, Kejurnas
ditiadakan.
e. Seleksi Tim Nasional
Kejuaraan resmi tingkat nasional yang diselenggarakan
menentukan susunan peserta yang akan mewakili Tim Nasional
dalam Kejuaraan Tingkat Internasional .
f. Kejuaraan Terbuka
1. Kejuaraan yang diselenggarakan oleh PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI dan pesertanya tidak perlu
membawa mandat untuk mewakili daerahnya.
2. Kejuaraan yang dilaksanakan oleh institusi/organisasi
yang mendapat persetujuan Pordirga.
g. Kejuaraan Internasional
Kejuaraan yang diselenggarakan di Indonesia dengan
dasar kalender kerja resmi Pordirga atau FAI yang diikuti oleh
peserta luar negeri serta berpedoman pada peraturan resmi
FAI.
Kejuaraan Tidak Resmi
Kejuaraan yang tidak tercantum dalam kalender resmi
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI dan dapat
diselenggarakan oleh organisasi kemasyarakatan dengan mengikuti
ketentuan dan aturan baik yang bersifat umum dan untuk
keselamatan.
Kategori Peserta
Kategori Menurut Penyelenggaraan
Peserta kejuaraan resmi untuk tingkat daerah terdiri dari
anggota klub-klub aeromodelling yang tergabung dalam FASI
PROVINSI dimana peserta terbaik atau pemenangnya akan ditunjuk
oleh FASI PROVINSI dan KONI Provinsi sebagai wakil daerah dalam
kejuaraan resmi tingkat nasional.
Kategori Peserta Resmi Tingkat Nasional
a. Yang berhak mengikuti kejuaraan resmi untuk tingkat nasional
baik KEJURNAS, Babak Kwalifikasi PON , PON dan Seleksi
Tim Nasional adalah pemenang kejuaraan daerah FASI
b. Khusus PON calon peserta dan jenis pertandingan yang boleh
diikuti adalah yang terdaftar dalam babak kwalifikasi yang
ditetapkan oleh PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI
c. Setiap team dari masing-masing daerah harus dipimpin
seorang Team Manager.
d. Seleksi team nasional diikuti oleh pemenang kejuaraan daerah
dan peserta yang pernah memenangi kejuaraan resmi
nasional. Pemenang seleksi nasional berhak mewakili
Indonesia di kejuaraan ditingkat Internasional.
e. Nomor Peserta Pertandingan ditentukan oleh PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI.
f. Peserta memiliki Sporting License yang dikeluarkan oleh
Pordirga Aeromodelling PB. FASI.
Kategori Peserta Kejuaraan Tidak Resmi
Peserta kejuaraan tidak resmi terbuka untuk seluruh
masyarakat umum baik yang tergabung dalam klub aeromodelling
atau perorangan yang dapat membuktikan kelayakannya.
Kategori Peserta Menurut Keahlian
Beginner ( Novice )
Peserta yang belum pernah mengikuti kejuaraan resmi ditingkat
nasional sebanyak 3 ( tiga ) kali.
Peserta yang belum pernah menjadi menjadi pemenang di
kategori ini sebanyak 3 ( tiga ) kali untuk nomor tertentu
Intermediate
Peserta yang pernah menjadi juara di kategori beginner 3 (tiga)
kali
Peserta yang pernah mengikuti kejuaraan nasional
sekurang-kurangnya 3 ( tiga ) kali Memiliki peringkat diatas 6 dalam
PON.
Peserta yang sudah pernah mengikuti sekurang-kurangnya 3
(tiga) kali dalam kejuaraan resmi tingkat Nasional dan pernah
menjadi pemenang pada salah satu kejuaraan tersebut.
Tata Laksana Pertandingan
Tata laksana pertandingan mengatur organisasi, hak dan
kewajiban, prosedur umum tentang pelaksanaan lomba. Hal ini
dimaksudkan agar kegiatan dapat berlangsung aman, tertib dan
lancar serta ditaati oleh peserta, panitia serta pihak-pihak
pendukung.
Organisasi Pertandingan
Panitia Pelaksana dengan susunan :
a. Ketua Panitia
b. Sekretaris/Bendahara
c. Ketua Bidang Pertandingan
d. Ketua Bidang Umum
e. Ketua Bidang Perwasitan
f. Panitia Pelaksana Teknis dengan Susunan :
g. Dewan Hakim
a. Peserta berhak mendapatkan perkembangan informasi dari
penyelenggaraan kegiatan
b. Peserta berhak mendapatkan tanda keikutsertaan selama
c. Peserta berhak mendapat legitimasi setelah mengikuti kegiatan
d. Peserta berhak mendapatkan penghargaan apabila keluar
sebagai pemain terbaik dan pemenang
Kewajiban Peserta
a. Peserta wajib memahami dan mengikuti peraturan
pertandingan serta ketentuan umum yang berlaku
b. Peserta wajib memahami dan mengikuti tata tertib lingkungan
c. Peserta wajib mengikuti pertemuan-pertemuan yang
dilaksanakan selama kegiatan
Hak dan Kewajiban Penyelenggara
a. Penyelenggara harus menginformasikan setiap rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan yang meliputi jenis-jenis
lomba, pendaftaran, peraturan pertandingan serta syarat-syarat
yang harus dipenuhi oleh calon peserta kegiatan
sekurang-kurangnya 3 ( tiga ) bulan sebelum pelaksanaan
b. Penyelenggara harus mengirimkan semua formulir yang
dibutuhkan untuk kelengkapan administratif dan teknis kegiatan
yang akan dilaksanakan
c. Penyelenggara berhak melarang/menghentikan suatu
penerbangan yang membahayakan, walaupun dalam peraturan
umum telah dipenuhi
d. Menetapkan petugas-petugas pelaksana pertandingan,
pencatat waktu, wasit dan juri dengan jumlah yang memadai
serta mampu menjalankan tugasnya
e. Menyediakan perlengkapan pengukuran atau penguji
karateristik pesawat model
f. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menetapkan
karateristik pesawat modelnya
g. Memberikan perkembangan informasi kepada peserta selama
h. Memberikan informasi kepada peserta tentang hasil
pertandingan secara tertulis melalui score board dan laporan
resmi akhir kepada Team Manager masing-masing
i. Panitia Pelaksana harus mendokumentasikan secara tertulis
dan sistematis setiap perubahan-perubahan yang diputuskan
selama penyelenggaraan
j. Untuk kejuaraan resmi, penyelenggaraan kegiatan harus
memberikan laporan resmi secara tertulis kepada FASI
PROVINSI, PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI dan PB
FASI serta pihak yang terkait
k. Menguji ulang karateristik sebelum pertandingan
sewaktu-waktu apabila dianggap perlu
Administrasi Umum
Dalam menjalankan organisasi khususnya untuk keperluan
berkomunikasi didalam dan diluar , PORDIRGA AEROMODELLING
PB FASI menggunakan media berupa surat menyurat hard copy,
electronic mail dan sarana yang ada di internet. Untuk memudahkan
koordinasi dan komunikasi antar perkumpulan , cabang, daerah dan
klub maupun aeromodeller perorangan agar secara periodik
mengakses berita yang berada di dalam Web Site PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI yang berisi pengumuman
kegiatan-kegiatan penting seperti Kejurnas, Seleksi Tim Nasional, Rakernas ,
Kejuaraan Internasional. Sarana lain yang dapat dipergunakan
seperti dibawah ini :
a. Alamat domisili
b. No telpon / telpon genggam
c. Telefax
d. E-mail pengurus
Khusus dalam penyelenggaraan kegiatan pertandingan, dalam
a. Administrasi umum meliputi penyiapan dokumen-dokumen
yang diperlukan korespondensi dan penyampaian informasi
Tahap Persiapan Tahap Pelaksanaan dan Penutupan antara
pihak penyelenggara baik untuk koordinasi didalam dan dengan
pihak luar kegiatan (media masa, sponsor, badan
pemerintahan) dari awal persiapan hingga akhir kegiatan agar
setiap perubahan data dapat didokumentasikan dengan baik.
b. Untuk kegiatan resmi tingkat nasional menggunakan
formulir-fornulir teknis dan non teknis sesuai standar PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI , sedangkan untuk tingkat
dibawahnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan
mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku.
Khusus penyelenggaraan kegiatan pertandingan, telah disusun
bentuk baku dasar blanko administrasi umum dan lembar penilaian
lomba.
Ketentuan Umum Pertandingan
Ketentuan Umum berisi petunjuk dan peraturan umum yang
berlaku dalam keseluruhan pelaksanaan Lomba Aeromodelling
Kejurda , Kejurnas, Kualifikasi PON dan PON. Sebagai acuan
ketentuan umum yang tertinggi digunakan dalam kegiatan nasional.
Peraturan Pertandingan
a. Untuk memperoleh standarisasi dan penilaian dalam rangka
peningkatan prestasi serta kelancaran penyelenggaraan yang
bersifat teknis, Peraturan Lomba PORDIRGA
AEROMODELLING PB FASI mengacu pada peraturan FAI
atau peraturan yang disusun oleh Pordirga Aero modelling PB
FASI .
b. Peraturan pertandingan merupakan peraturan yang digunakan
untuk penyelenggaraan suatu nomor lomba yang mencakup
definisi teknis karateristik model, cara penilaian, organisasi
merupakan ketentuan secara internasional untuk nomor
tertentu serta dikategorikan menurut pengelompokan nomor
peserta dan
c. Peraturan-peraturan diatas akan disusun dan disahkan serta
dilaksanakan dengan mempertimbangkan kemampuan
penyelenggaraan olah raga aeromodelling di Indonesia.
d. Jika ditemukan perbedaan peraturan antara peraturan FAI
dengan Peraturan PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI ,
maka Peraturan PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI
yang akan dipakai.
e. Peraturan pertandingan dapat diubah secara musyawarah
apabila tidak memungkinkan pelaksanaannya melalui technical
meeting sebelum pertandingan yang dihadiri oleh atlit, official,
panitia pelaksana, dewan hakim serta pengawas teknis dari
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI .
f. Peraturan ini akan digunakan pada kegiatan-kegiatan
PORDIRGA AEROMODELLING PB FASI tingkat nasional dan
internasional
Penjurian
Persyaratan Umum sebagai Wasit
a. Pria atau Wanita
b. Memiliki integritas dan loyalitas terhadap kemajuan
aeromodelling di Indonesia
c. Memahami bahasa Inggris lisan dan tulisan
d. Jujur , adil dan tegas
e. Sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna
f. Berusia 25 – 60 tahun
Persyaratan Khusus
b. Bersedia bekerja untuk pengabdian dan dapat dipanggil
sewaktu-waktu untuk keperluan penyelenggaraan pembinaan
aeromodelling di Indonesia
c. Sekurang-kurangnya pernah ikut serta sebagai atlit
aeromodelling pada kejuaraan resmi dan tidak resmi baik
tingkat dan nasional sebanyak 5 ( lima ) kali
d. Memahami ketentuan umum dalam pertandingan
aeromodelling tingkat nasional
e. Memiliki pengetahuan dasar – dasar aeromodelling atau
penyelenggaraan kegiatan aeromodelling
f. Memahami dasar peraturan pertandingan aeromodelling
sekurang-kurangnya 5 cabang yang umum dipertandingkan
resmi tingkat Nasional di Indonesia
g. Berpengalaman sebagai pembina aeromodelling
sekurang-kurangnya 5 tahun
h. Pernah berpartisipasi dalam kejuaraan resmi dan tidak resmi
baik tingkat daerah dan nasional sebagai Tim Manager, Atlit
atau Panitia Pelaksana
Petunjuk Penjurian
Petunjuk penjurian merupakan dasar penilaian suatu mata
lomba. Umumnya bersifat kuantitatif, terukur. Beberapa enggunakan
kriteria keindahan, kehalusan yang diterapkan pada nomor akrobatik
1.7 Kerangka Berpikir
Gambar 1.2 Kerangka berpikir 1.8 Sistematika Laporan
Sebagai penjelasan strukturisasi, penulis dalam membuat
laporan terlebih dahulu membuat sistematika pembahasan. Sebagai
berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Pada bab I, memuat tentang latar belakang, maksud dan
tujuan, sasaran, lingkup perancangan, masalah
perancangan, metoda pendekatan, kerangka berfikir
dalam perancangan “Bandung Aeromodelling Centre”
serta sistematika dari laporan tugas akhir.
BAB II. DESKRIPSI PROYEK DAN ANALISIS
Pada bab II, memuat penjelasan mengenai proyek secara
umum, program kegiatan dan studi banding terhadap
proyek sejenis.
BAB III. ELABORASI TEMA
Pada bab III, memuat tentang pengertian tema, hubungan
tema dengan rancangan proyek yang dikerjakan yaitu
menyangkut fungsi dan bentuknya serta studi banding
terhadap kasus yang sejenis.
BAB IV. ANALISA
Pada bab IV, memuat tentang analisa fungsi bangunan
dan analisa terhadap kondisi lingkungan.
BAB V. KONSEP RANCANGAN
Pada bab V, memuat proses perencanaan dan
perancangan bangunan mulai dari konsep dasar, rencana
tapak (landscape), rencana fungsi bangunan utama dan
fungsi fasilitas pendukung serta penyelesaian ruang luar
II.
DESKRIPSI PROYEK
2.1. Umum
a. Lokasi : Jl. Raya Kopo-soreang Kompleks
Lanud Sulaiman
b. Luas Lahan : 565.774 M2
c. Luas Bangunan : 4.692 M2
d. Peraturan GSB : 6 Meter
e. Peraturan KDB : 10%
f. Peraturan KLB : 0.1
g. Pemilik : Swasta
h. Sumber Dana : Investor
i. Kelengkapan Fasilitas : Lokasi Lahan pada kondisi eksisting
digunakan untuk aktivitas kegiatan
organisasi dan penerbangan
aeromodelling. Kondisi lahan ini sangat
ideal untuk digunakan untuk
penerbangan karena bebas dari
gangguan penerbangan komersial dan
halangan obstacle seperti tiang listrik,
bangunan dan pepohonan.
Lokasi kawasan Lanud Sulaiman terletak tidak jauh dari
gerbang TOL Kopo, membuat kawasan ini mudah diakses dari dalam
dan luar Kota Bandung. Lokasi tapak yang sangat luas dan strategis
sangat baik digunakan untuk Kejuaraan Aeromodelling Nasional,
dengan dukungan fasilitas penginapan dan pusat perbelanjaan yang
Gambar 2.1 Foto Udara Lokasi Tapak Bandung Aeromodelling Centre.
Summber Gambar: Google Earth 2.2. Program Kegiatan
Gambar 2.2 Bagan Program Kegiatan
B
Sebagai pusat informasi mengenai perancangan, perakitan dan penerbangan pesawat model bagi pemula dan masyarakat khususnya di bandung.
Pusat Organisasi
Sebagai kantor organisasi yang membawahi seluruh organisasi aeromodelling di seluruh Indonesia sebagai pengatur dan pembuat ketentuan-ketentuan.
Tempat Pelatihan, Penerbangan dan Kejuaraan
Menyediakan tempat yang disewakan untuk latihan, penerbangan dan dapat berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan Kejuaraan Nasional.
Pusat Penjualan dan Servis
Sebagai pusat penjualan dan servis yang mampu mensuplai unit dan suku cadang ke seluruh Indonesia.
Hiburan Alternatif
2.3. Pola Aktivitas Pengguna
Tabel 2.1 Pola Aktivitas Pengguna Pengelola Gedung
Area Pilot Shelter Aeromodeller
Shelter Executive Pilot
80
Parkir Parkir 230 Mobil
2.4.1. Kegiatan Aeromodelling di Negara-negara Lain
Aeromodelling adalah suatu kegiatan yang
mempergunakan sarana pesawat terbang miniatur (model)
untuk tujuan rekreasi, edukasi dan olah raga. Kegiatan ini
umumnya digemari oleh peminat ilmu pengetahuan dan
teknologi secara perorangan ataupun yang tergabung dalam
organisasi sosial kemasyarakatan, yang digunakan untuk
menyebarluaskan minat kedirgantaraan di bidang
aeromodelling seperti Pramuka melalui kegiatan SAKA
(Satuan Karya) Dirgantara, Karang Taruna, UKM (Unit
kegiatan Mahasiswa) di kampus-kampus serta
perkumpulan-perkumpulan olah raga kedirgantaraan.
Para peminat aeromodelling yang ingin memulai
kegiatan ini dapat berkunjung atau menghubungi
perkumpulan aeromodelling setempat atau yang terdekat
untuk mendapatkan informasi-informasi dan bimbingan
teknis. Disamping itu dapat juga diperoleh melalui massa
baik cetak dan elektronik tentang kedirgantaraan pada
umumnya dan aeromodelling pada khususnya.
Apabila sudah didapat perkumpulan aeromodelling
untuk menyaksikan peragaan penerbangan aeromodelling
pada acara-acara latihan, demonstrasi dan pameran
kedirgantaraan.
Setelah itu biasanya peminat dapat menentukan jenis
penerbangan model yang mana paling diminati, apakah yang
bermotor atau tidak , terkendali atau tidak, Radio Control
atau Control Line tentunya sesuai dengan kemampuan
pengadaan bahan dan peralatan yang diperlukan.
Pada dasarnya peminat aeromodelling ini secara alami
terbagi dalama 3 kategori yaitu mereka yang tergabung
dalam kategori aeromodelling hanya untuk
bersenang-senang (fun), aeromodelling sebagai sarana menimba dan
memperdalam ilmu pengetahuan serta aeromodelling
sebagai sarana pencapaian prestasi olah raga
kedirgantaraan. Pada umumnya kategori dua yang terakhir
saling berhubungan erat dan konsisten dalam menjalankan
kegiatan ini.
Kegiatan aeromodelling tidak semata-mata
mempersiapkan remaja untuk berprofesi dalam dunia
penerbangan karena ada 2 pengaruh sosial yang pertama
yaitu melatih ketekunan, kesabaran dan ketelitian serta
menikmati keindahan, kedua mendapatkan nilai
Gambar 2.3 Eksisting Aeromodelling di Taiwan SUMBER : http://align.com.tw/alignhtml/EN/index.html
Gambar 2.4 Eksisting Aeromodelling di Georgia AS
Gambar 2.5 Eksisting Aeromodelling di Shanghai SUMBER PETA: GOOGLE EARTH, SUMBER GAMBAR :
http://www.thundertiger.com/article/news/452.html
Gambar 2.6 Eksisting sunriserchobbystore di IBCC Bandung
Pembagian Pesawat Udara
Pesawat udara adalah sebuah alat yang dibuat yang
menggunakan media udara. Terdiri dari :
a. Pesawat Udara Aerodinamis , yaitu pesawat udara
yang lebih berat dari udara (HEAVIER THAN AIR)
b. Pesawat Udara Aerostatis , yaitu pesawat udara yang
lebih ringan dari udara (LIGHTER THAN AIR)
Pesawat Udara Aerodinamis terdiri dari 2 kelompok
yaitu pesawat bermotor dan tidak bermotor. Yang bermotor
terdiri dari bersayap tetap (FIXED WING) dan sayap putar
(ROTARY WING) .Pesawat udara aerodinamis bermotor
bersayap tetap terdiri dari pesawat terbang , kapal terbang
dan amphibians. Yang bersayap putar terdiri dari Helicopter
dan Gyrocopter. Pesawat udara aerodinamis tidak bermotor
terdiri dari pesawat luncur (GLIDER) , pesawat layang
(SAILPLANE) dan layang-layang. Pesawat udara aerostatis
terdiri dari kapal udara dan balon udara.
Pembagian Pesawat Model
Pada dasarnya pembagian jenis pesawat model sama
dengan pesawat sebenarnya. Secara umum dapat
dibedakan sebagai berikut :
1. Pesawat Model Bermotor yang terdiri dari bersayap
tetap (FIXED WING) dan sayap putar (ROTARY
WING), kedua-duanya ada yang berfungsi sebagai
sport (FUN FLYING ), Trainer dan Kompetisi/Prestasi.
2. Pesawat Model yang tidak bermotor terdiri dari jenis
sport (FUN) dan Kompetisi/Prestasi.
Ada juga pesawat model yang dibuat menyerupai
pesawat sebenarnya baik dalam kategori FUN dan Kompetisi
yang disebut model Skala (SCALE MODEL). Untuk pesawat
( Federation Aeronatique Internationale ) yang berkedudukan
di Paris, Perancis.
Seperti kita ketahui bahwa bumi kita di selimuti oleh
lapisan udara yang disebut atmosfir. Dan dapat
dimengerti setiap benda yang memiliki berat dapat jatuh ke
bumi. Lalu bagaimana dengan pesawat udara yang beratnya
berton-ton dapat terbang?
Untuk memahami hal ini kita harus mengerti bahwa ada
4 gaya yang bekerja pada pesawat udara selama
penerbangan yaitu Gaya angkat (LIFT) atau gaya keatas,
Gaya berat (WEIGHT) atau gaya kebawah, selanjutnya Gaya
maju (THRUST) serta Gaya kebelakang (DRAG).
Dua gaya berikut dapat mudah dipahami. Gaya berat
(WEIGHT) bekerja menarik benda kembali ke bumi, sebagai
contoh apabila kita melemparkan batu ke atas maka akan
jatuh. Selanjutnya apabila kita mengendarai sepeda, maka
terasa hambatan dari depan.
Ada 2 gaya lain yang bekerja pada pesawat selama
diudara yaitu LIFT dan THRUST yang keduanya merupakan
kunci untuk penerbangan. Gaya-gaya tersebut oleh para
perancang pesawat diperhitungkan untuk mengatasi DRAG
dan WEIGHT. Gaya angkat (LIFT) dihasilkan oleh
permukaan sayap yang dirancang agar tekanan udara
diatas permukaan lebih kecil dari bagiah bawah.
Gaya-gaya lain yang bekerja untuk menjaga agar
pesawat tetap berada di udara yaitu THRUST. Gaya ini
menarik pesawat kearah depan, biasanya gaya ini diperoleh
dari putaran baling-baling (PROPELLER) mesin atau
dorongan mesin jet.
Gaya maju (THRUST) dan gaya angkat (LIFT) akan
bekerja bersamaan untuk menarik pesawat kearah depan
Klasifikasi Pesawat Model Menurut FAI
Chuck Glider/OHLG (On Hand Launched Glider)
2. Kelas F2 (Control Line) :
• F-5 B (Electric RC Glider)
• F-5 C (Electric RC Heli)
• F-5 D (Electric RC Pylon)
1. Kelas F1 (Free Flight) :
Salah satu model yang menggambarkan seluruh prinsip
aerodinamika bekerja adalah model terbang bebas.
Kenapa model ini ? salah satu alasannya yaitu penerbang
tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pesawat atau
model setelah terlepas dari penerbangnya. Gaya angkat
pesawat tersebut hanya dihasilkan oleh sayap yang tidak dapat
digerak-gerakkan
Selanjutnya kemampuan model untuk tetap terbang akan
sangat tergantung dengan struktur dan rancangan yang
diterapkan .Dengan rancangan tersebut apakah mampu
terbang lama di udara bebas karena tidak ada sumber tenaga
penggerak apapun baik yang dihasilkan oleh mesin maupun
motor listrik. Oleh karena itu model harus memiliki tingkat
akurasi dan presisi secara aerodinamika yang sangat tinggi
agar dapat terbang lama di udara. Tentunya didukung pula oleh
keahlian penerbangnya dalam memahami keadaan cuaca dan
mengatur stabilitas modelnya.
Model ini dapat dimainkan didalam (INDOOR) atau luar
ruangan (OUTDOOR). Salah satu cara menerbangkan yaitu
dengan melempar ke udara yang populer dengan nama
CHUCK Glider atau OHLG (Outdoor Hand Launched Glider).
Model yang baik akan dapat terbang lebih dari 120 detik (2
menit). Bentuk model ini bebas tetapi harus memiliki luas sayap
antara 187,5 cm2 sampai 800 cm2. Para pemula sangat
dianjurkan untuk membuat model ini karena akan melatih cara
memotong dan menghaluskan bahan serta pemahaman teori
dasar aerodinamika. Setelah berlatih dengan model OHLG,
bebas akan mencoba pesawat glider. Model ini memiliki
panjang sayap lebih dari 150 cm. Luas sayap dari model ini
berkisar antara 32-34 dm2 dengan berat minimum 410 gram.
Model ini diterbangkan diluar ruangan dan biasanya
ditempat yang luas, umumnya pangkalan udara menjadi pilihan
para modeller. Untuk membawa model ini keudara, penerbang
akan menarik dengan tali yang panjangnya tidak boleh lebih
dari 33 meter dan harus dilengkapi bendera berwarna. Seorang
pembantu penerbang akan memegang model dan
menghidupkan timer yang berguna untuk membatasi waktu
penerbangan. Model yang baik akan dapat mengudara selama
180 detik (3 menit) bahkan lebih. Apabila melewati waktu itu,
timer harus bekerja yang akan menyebabkan bagian horizontal
stabilizer (STABILO) pada posisi ekor bergerak keatas
(VERTICAL) dan sehingga memaksa pesawat turun vertical
seperti parasut.
Untuk mencapai waktu-waktu maksimal tersebut diatas
tidak mungkin hanya dengan cara melempar ataupun menarik
model dengan tali sepanjang yang ditentukan. Harus ada
bantuan arus udara naik yang biasa disebut THERMAL. Karena
itu penerbang akan berusaha melepaskan modelnya di dalam
Thermal. Oleh karena itu penerbang harus berlari di sekitar
lapangan untuk mecari kolom udara yan naik.
Thermal adalah pergerakan udara naik (vertical) karena
perbedaan suhu udara karena radiasi panas bumi akibat
penyinaran matahari. Panas bumi akan berbeda sesuai dengan
keadaan permukaan, sebagai contoh antara udara persawahan
dan bangunan. Udara diatas bangunan yang lebih cepat panas
sehingga lebih cepat bergerak naik
• F1A (Glider A2)
Pesawat model yang tidak dilengkapi oleh tenaga
penggerak (motor listrik atau piston) untuk mendapatkan gaya
dorong kedepan dan gaya angkat (LIFT) yang dihasilkan hanya
didapat dari permukaan aerodinamis yang bersifat tetap (tidak
dapat digerakkan)
Karateristik Model
Model ini memiliki luas permukaan (St) 32 - 34 dm 2 dan
beratnya tidak boleh kurang dari 410 gram. Muatan maksimum
50 gram/dm2. Panjang tali penarik maksimum dengan beban 5
kg adalah 33 meter atau 50 meter. Ketentuan panjang
ditetapkan dengan melihat situasi lapangan dan cuaca 1 hari
sebelum perlombaan serta berlaku hingga akhir kegiatan nomor
ini.
Penerbangan
Setiap penerbang mempunyai hak atas 7 kesempatan
penerbangan resmi (usaha pertama lebih besar dari 20 detik
dan usaha kedua apapun hasilnya). Penerbang diijinkan
membawa 1 orang pembantu untuk melepaskan modelnya. Tali
penarik harus terlepas dari model yang mengudara dan tidak
ada bagian model yang terlepas. Tali penarik antara peserta
tidak boleh saling beradu. Penerbang tidak boleh berlari terlalu
jauh sehingga tali penarik tidak terlihat pada saat lepas dari
model. Panitia akan menunjuk 2 pencatat waktu yang berjarak
10 meter dalam radius penerbangan.
Penilaian Pertandingan
Setiap peserta memiliki 7 kesempatan penerbangan
dengan masing-masing waktu maksimum 180 detik. Jika ada
jumlah yang sama maka akan dilakukan penerbangan
tambahan pada ronde tersebut.
Definisi Umum
Model OHLG atau yang lebih sering disebut dengan
Chuck Glider adalah model yang dirancang untuk terbang
bebas dengan daya yang ada pada model itu dilempar dengan
tangan manusia agar mencapai ketinggian tertentu untuk
memulai penerbangannya.
Ketentuan Model
Bentuk bebas dengan luas sayap minimum 187,5 cm2
dan maksimum 800 cm2.
Penerbangan
Penerbangan dilakukan dari dengan melemparkannya
kaki harus berpijak. Setiap peserta berhak atas 7 penerbangan
resmi dengan 4 nilai terbaik . Setiap penerbangan hanya dicatat
sampai 120 detik (2 menit) selebihnya tidak. Bila ada bagian
pesawat yang terlepas maka penerbangan batal. Bila
penerbangan dibawah 10 detik diberi kesempatan lagi dalam
ronde tersebut.
Pencatatan waktu dilakukan oleh 2 orang yang ditunjuk
Panita Penyelenggara. Hasil adalah jumlah rata-rata yang
dicatat oleh 2 orang pencatat waktu. Waktu penerbangan
dicatat sejak pesawat lepas dari tangan dan mendarat kembali
ke tanah, terhenti penerbangan karena ada halangan, 10 detik
hilang dari pandangan pencatat.
Pemenang
Pemenang adalah peserta yang mempunyai jumlah waktu
penerbangan terbanyak dari 4 waktu terbaik. Bila belum
memastikan, maka diadakan penerbangan tambahan
2. Kelas F2 (Control Line)
Yang dimaksud dengan model Control Line adalah
pesawat model yang dihubungkan dengan sepasang kawat
yang digenggam oleh tangan penerbang. Sedemikian rupa
sehingga masing-masing kawat berfungsi sebagai kawat naik
dan kawat turun.
Untuk model yang berukuran kecil dan ringan dapat
digunakan tali pancing ikan , sedangkan model yang lebih
besar umumnya menggunakan kawat baja dengan diameter
dan panjang yang sesuai dengan kapasitas mesin dan panjang
sayap. Umumnya panjang sayap berkisar antara 90cm hingga
150cm. Kapasitas mesin yang digunakan antara 2.5cc sampai
10 cc.
Model yang diterbangkan akan memiliki jarak yang tetap
sesuai dengan panjang tali. Adapun lintasan pesawat akan
berbentuk lingkaran dimana penerbang menjadi porosnya.
Pergerakan dari handle pengendali pada pilot akan
diteruskan melalui kawat penghubung (LEAD OUT) dalam
sayap dengan bellcrank di pesawat yang akan diteruskan oleh
batang pendorong (PUSH ROD) ke flap dan elevator.
Pada saat kawat naik ditarik oleh handle penerbang
kebelakang maka elevator akan bergerak keatas dan demikian
sebaliknya. Dengan cara demikian pesawat dapat bergerak
menanjak (CLIMB) dan menukik (DIVE) , termasuk melakukan
gerakan membuat lingkaran (LOOP) atau terbang terbalik
(INVERTED)
Control Line model ini terdiri dari beberapa jenis dan
ukuran. Untuk pemula tersedia model sederhana yang miliki
karateristik stabilitas yang tinggi , kuat dan mudah dalam
pembuatannya.
Apabila penerbang pemula sudah mahir, dapat dilanjutkan
dengan membuat dan menerbangkan F-2B (Control Line
Aerobatic) model.
Umumnya model ini memiliki kemampuan melakukan
model ini dilengkapi flap yang terdapat di bagian belakang
sayap. Apabila flap digerakkan ke bawah maka elevator akan
naik dan sebaliknya.
Kegunaan dari flap ini adalah untuk menambah gaya
angkat pada pesawat pada kecepatan rendah. Bentuk
penampang sayap untuk model yang dikendalikan dengan tali
biasanya memiliki penampang sayap yang simetris yaitu tebal
bagian atas dan bawah sama . Model ini memiliki kapasitas
mesin antara 4cc hingga 9 cc dengan panjang tali maksimum
21.5 meter. Umumnya para modeller menyukai model yang
tahan terhadap cuaca (angin yang keras) dalam hal ini untuk
melakukan gerakan aerobatic seperti lingkaran (LOOP) atau
angka 8 mendatar (HORIZONTAL EIGHT) dsb . Sesusai
standar internasional ada 16 aerobatic dalam penerbangan
resmi dalam kejuaraan.
Model Combat (F-2D) adalah nomor lomba yang paling
menarik, karena memiliki kecepatan yang tinggi, kemampuan
aerobatic yang baik, bentuk yang sederhana. Penerbangan
Combat adalah 2 penerbang yang menerbangkan modelnya
bersamaan satu arena lingkaran. Masing-masing model
menarik seutas pita kertas krepe .Masing-masing model akan
berusaha memotong pita krepe lawannya dan agar pita sendiri
tidak terpotong . Setiap pemotongan krepe akan mendapat
nilai, dan nilai akan dikurangi apabila melakukan pelanggaran .
Kapasitas mesin yang digunakan tidak boleh melebihi 2.5 cc.
Dan panjang tali kedua penerbang harus sama dan maksimum
16 meter.
• F2B (CL Aerobatic)
Definisi Umum
Pesawat model dimana tenaga untuk menerbangkannya
diperoleh dari permukaan -permukaan pendukung model yang
tidak dapat digerakkan (kecuali bidang kemudi seperti Elevator)
sewaktu penerbangan. Obyek yang dinilai adalah
manuver-manuver yang telah ditentukan.
Ketentuan Model
Berat maksimum 5 kg
Luas permukaan maksimum (St) 150 dm2
Muatan maksimum 100 gr/dm2
Kapasitas maksimum motor 10cc
Motor harus dilengkapi peredam suara yang efektif Model
harus take-off dari tanah.
Tali Pengendali
Panjang harus lebih dari 15 m tetapi maksimum 21.5 m
Tali diukur dari handle penerbang sampai poros baling-baling.
Pengujian dilakukan pada seluruh sistem kemudi, tali dan
handle dalam keadaan siap terbang sebesar 15 kali berat
model
Penerbangan
• Model sudah harus mengudara (penerbangan resmi)
dalam waktu 3 menit
• Setiap penerbang memiliki 2 usaha atas penerbangan
resmi (model mengudara)
• Apabila ada bagian yang terlepas dari model maka
penerbangan dianggap batal
• Penerbang boleh membawa pembantu 2 orang
• Waktu penerbangan resmi adalah 7 menit
• Peserta harus menyelesaikan 16 manuver yang dilakukan
secara berurutan
• Panitia akan menunjuk 5 orang Juri yang disertai pencatat
• Setiap peserta berhak 2 kali penerbangan resmi dalam Babak Kwalifikasi dan akan diambil nilai tertinggi
• Limapeserta dengan nilai tertinggi berhak memasuki
babak Final.
• F2D (CL Combat)
Definisi Pertandingan
Pertandingan Combat adalah pertandingan dimana 2
buah model terbang bersamaan pada satu arena dalam periode
waktu yang telah ditentukan dengan tujuan saling memotong
pita kertas krepe (STREAMER) yang dipasang pada bagian
belakang model. Setiap pemotongan streamer akan diberikan
nilai.
Definisi Model
Model Combat adalah suatu model dimana tenaga
penggeraknya diperoleh dari motor serta gaya angkatnya
dihasilkan dari gaya aerodinamik yang bekerja pada
permukaan-permukaan yang tidak dapat digerakkan kecuali
bidang kemudi.
Arena Pertandingan
Lapangan arena Combat terdiri dari 2 (dua) lingkaran
dengan satu pusat yang terlihat jelas diatas tanah. Lingkaran
Tengah (Penerbang) berjari-jari 3 (tiga) meter, Lingkaran
penerbangan model 19 (sembilan belas) meter dan Lingkaran
Gambar 2.7 Tata Letak Lapangan Control Line
Gambar 2.8 Tata Letak Lapangan RC Aerobatic Aeroplane
Sumber : Buku Panduan Aeromodelling Indonesia, 2009.
Gambar 2.10 Tata Letak Lapangan RC Helicopter Class II
Sumber : Buku Panduan Aeromodelling Indonesia, 2009.
Peserta Pertandingan
Pilot boleh membawa 2 (dua) mekanik, dalam keadaan
basah mekanik tambahan diijinkan untuk memegang kertas
krepe . Selama pertandingan Pilot dan mekaniknya harus
menggunakan helm pengaman yang dengan pengikat dagu.
Pilot boleh membawa 2 model cadangan beserta talinya yang
harus ditempatkan diluar lingkaran tengah. Sisa streamer yang
tersisa pada model yang jatuh harus dipindahkan ke pesawat
cadangan yang siap terbang.
Karateristik Model
Luas permukaan maksimum 150 dm2. Berat model
maksimum 5 kg. Muatan maksimum 100 gr/dm2. Tidak boleh
ada peralatan tambahan untuk memotong streamer. Kapasitas
motor maksimum 2.5 cc, apabila dengan ball bearing harus
memiliki peredam suara serta motor harus memiliki pengikat
pada sumbu titik beratnya. Model harus memiliki meralatan
untuk menempatkan streamer dan terletak pada garis poros
Ketentuan Alat Pengendali
Panjang tali kedua penerbang harus sama yaitu 15.92 m,
diukur dari handel penerbang sampai sumbu baling-baling
motor. Setiap handle harus dilengkapi tali pengaman (SAFETY
STRAP) . Setiap memulai pertandingan , kekuatan tali dan
sistem kemudi akan diuji.
Penilaian Pertandingan
Waktu keseluruhan pertandingan adalah 5 menit. 1 menit
pertama model sudah harus hidup dan apabila gagal maka
dinyatakan kalah. Setelah model hidup, model harus
diterbangkan setelah tanda diberikan oleh pimpinan
pertandingan (Tanda Kedua). Apabila ke 2 model sudah
mengudara, maka pimpinan pertandingan akan memberikan
tanda bahwa ke pertempuran dapat dimulai. Umumnya juri
yang terlibat terdiri dari juri waktu, streamer, mekanik, juri
lingkaran penerbang .
Setiap pemotongan streamer akan mendapat nilai,
termasuk waktu terbangnya. Nilai pemotongan tersebut adalah
100, untuk waktu penerbangan nilai 1 akan diberikan untuk
setiap detik. Apabila model memotong benang, bukan
kertasnya maka tidak mendapat nilai. Model yang terbang
tanpa streamer karena terlepas akan didenda 100 dan harus
segera mendarat. Hasil akhir adalah jumlah komponen nilai
yang ada yang dikurangi oleh pelanggaran yang dilakukan oleh
penerbang dan mekaniknya selama penerbangan resmi
berlangsung.
Sistim pertandingan yang disusun biasanya hasil
kesepakatan pada pertemuan teknis sebelum pertandingan
dimulai. Penerbang dapat dinyatakan gagal (DISKWALIFIKASI)
apabila mesin modelnya tidak hidup dalam waktu 2 menit,
menyerang model lawan bukan pita kertas krepe lawannya