• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejadian Infeksi dan Lama Rawatan Sebelum dan Sesudah Pemisahan Ruangan Perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kejadian Infeksi dan Lama Rawatan Sebelum dan Sesudah Pemisahan Ruangan Perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

KEJADIAN INFEKSI DAN LAMA RAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMISAHAN RUANGAN PERINATOLOGI DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN

TESIS

Oleh

IRA ALIZA SIREGAR 117032047/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KEJADIAN INFEKSI DAN LAMA RAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMISAHAN RUANGAN PERINATOLOGI DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi Rumah Sakit pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

IRA ALIZA SIREGAR 117032047/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Tesis : KEJADIAN INFEKSI DAN LAMA RAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMISAHAN RUANGAN PERINATOLOGI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN

Nama Mahasiswa : Ira Aliza Siregar Nomor Induk Mahasiswa : 117032047/ IKM

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Administrasi Rumah Sakit

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H) (dr. Heldy BZ, M.P.H)

Ketua Anggota

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(4)

Telah Diuji

Pada Tanggal : 26 November 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H Anggota : dr. Heldy BZ, M.P.H

dr. Fauzi, S.K.M

(5)

PERNYATAAN

KEJADIAN INFEKSI DAN LAMA RAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMISAHAN RUANGAN PERINATOLOGI DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Desember 2013

(6)

ABSTRAK

Sebelum pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan, kejadian infeksi pada bayi lahir yang dirawat meliputi kejadian diare, hipotermi, hipertermi, infeksi tali pusat, kemauan menghisap dan lama rawat tercatat sangat tinggi. Hal ini disebabkan bergabungnya bayi yang mengalami infeksi dengan bayi yang tidak mengalami infeksi pada satu ruangan berdampak pada terjadinya infeksi. Solusi yang dilakukan oleh pihak rumah sakit adalah melakukan pemisahan ruangan bagi bayi-bayi yang dirawat sehingga akan terjadi penurunan terjadinya infeksi setelah terjadinya pemisahan ruangan tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda infeksi nosokomial di RSUD Tapanuli Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi comparative sampling. Populasi penelitian adalah seluruh bayi yang lahir di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan sampel sebanyak 54 orang yakni 27 orang sebelum pemisahan dan 27 orang setelah pemisahan ruang perinatologi. Pengumpulan data diperoleh dari laporan petugas yang merawat bayi dan ibu serta hasil observasi dari catatan rekam medis RSUD Tapanuli Selatan. Analisis data menggunakan program SPSS untuk melakukan analisis univariat, analisis bivariat dan uji Chi Square.

Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tapanuli Selatan terutama perbedaan dalam kejadian diare, hipotermi, hipertermi, infeksi tali pusat, kemauan menghisap maupun lama rawat bayi yang mana nilai probabilitas untuk setiap kejadian infeksi yang diteliti bernilai lebih rendah dari p=0,05.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan agar pengawasan kunjungan dan tanda kejadian infeksi pada bayi di RSUD Tapanuli Selatan lebih ditingkatkan sehingga akan mengurangi penularan terjadinya infeksi perinatal dan juga penyuluhan tentang faktor-faktor penyebab kejadian infeksi perinatal pada masyarakat.

(7)

ABSTRACT

Before the separation of perinatology wards at Tapanuli Selatan District General Hospital, the incident of infection in the newly born babies including diarrhea, hypothermy, hyperthermy, umbilical cord infection, sucking desire and treatment duration was very highly noted. This happened because the babies who were and who were not suffering from infection were placed in the same room that it brought an impact of the incident of infection. The solution taken by the management of the hospital was to separate the room for the babies under treatment that the incident if infection decreased after the separation of the baby room.

The purpose of this sampling comparative study was to find out what happened before and after the separation of perinatology ward on the sign of the incident of infection at Tapanuli Selatan District General Hospital. The population of this study was all of the babies who were born at Tapanuli Selatan District General Hospital, and 54 of them comprising 27 babies belonged to before the separation of the perinatology ward and 27 babies belonged to after the separation of the perinatology ward were selected to be the samples for this study. The data for this study were obtained from the report submitted by the staff who took care of the babies and their mothers and the result of the observation on the medical record available at Tapanuli Selatan District General Hospital. The data obtained were analyzed through univariate analysis and bivariate analysis with Chi-square test using SPSS program.

The result of this study showed that there was a significant difference especially in the incident of the incident of diarrhea, hypothermy, hyperthermy, umbilical cord infection, sucking desire and baby treatment duration between before and after the separation of perinatology ward at Tapanuli Selatan District General Hospital. The value of probability of each incident of infection studied was less than p=0,05.

It is suggessted that visit control and the sign of the incident of infection at Tapanuli Selatan District General Hospital be improved to minimize the spread of the incident of perinatal infection and the extensions of the factors causing the incident of perinatal infection should be socialized to the community.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa

atas berkat dan rahmatNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan

tesis ini dengan judul “Kejadian Infeksi dan Lama Rawatan Sebelum dan Sesudah

Pemisahan Ruangan Perinatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli

Selatan.”

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyarakat akademik untuk

menyelesaikan pendidikan pada program studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat

Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

Dalam menyusun tesis ini, penulis mendapat bantuan, dorongan dan

bimbingan dari berbagai pihak untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan

terimakasih dan penghargaan kepada:

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu

(9)

5. Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, M.P.H dan Bapak dr. Heldy BZ, M.P.H selaku

komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada

penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis ini selesai.

6. Bapak dr. Fauzi, S.K.M dan Ibu Masnelly Lubis, S.Kep, M.A.R.S selaku penguji

tesis yang telah memberikan masukan dan koreksi untuk kesempurnaan tesis ini.

7. dr. Ismail Fahmi Ritonga, M.Kes selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah

Kabupaten Tapanuli Selatan yang berkenan memberikan izin kepada penulis

untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli

Selatan.

8. Kepala Ruang Kebidanan di Ruang Rawat Inap Perinatologi Rumah Sakit Umum

Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan serta seluruh perawat yang telah bersedia

bekerjasama pada saat pengumpulan bahan penelitian ini.

9. Dosen dan Staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyrakat,

Minat Studi Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Universitas Sumatera Utara.

10. Terimakasih yang tak terhingga yang tulus dan ikhlas kepada kedua orang tua

saya Ayahanda (Alm) dr. H. Asrul Siregar dan Ibunda Hj. Sri Murniari Lubis

dalam doa dan dukungan.

11. Terima kasih kepada suami Rizkan Zulyadi, S.H, M.H yang telah memberikan

dukungan dan terus mendampingi dari awal masa studi sampai selesainya tesis

(10)

Chairunnisa, Habibi Mufasa Alriz dan Iszhaiya Zulzahaini Alriz yang sabar

menunggu dan terus mendukung dalam penyelesaian pendidikan ini.

12. Terimakasih kepada saudara terkasih dan tersayang atas dukungan penuh kepada

penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.

13. Teristimewa untuk seluruh rekan angkatan 2011, khususnya Minat Studi

Administrasi Rumah Sakit yang telah memberikan dukungan, semangat, bantuan

dan sumbangan ide dan bahan dalam melengkapi penulisan tesis ini.

Medan, Desember 2013 Penulis

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pematang Siantar pada tanggal 18 Juli 1977 dengan

nama Ira Aliza Siregar, agama Islam, alamat Jalan Rumah Sakit No.1 Sipirok,

merupakan anak ke empat dari empat bersaudara, dari pasangan Ayahanda (Alm) dr.

H. Asrul Siregar dan Ibunda Hj. Sri Murniari Lubis, mempunyai suami bernama

Rizkan Zulyadi, SH, MH dengan empat orang anak Yudha Putra Pratama, Githa Dara

Chairunnisa, Habibi Mufasa Alriz dan Iszhaiya Zulzahaini Alriz.

Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan di Sekolah Dasar Negeri di

Binjai selesai tahun 1989, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Medan

selesai tahun 1992, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Medan selesai tahun

1995. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan

jurusan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara selesai

tahun 2001 dan melanjutkan pendidikan ke Program Pendidikan Spesialis Anak

selesai tahun 2006 dan di tahun 2011 penulis mengikuti pendidikan di Program S2

Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi Rumah Sakit, Fakultas

Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

Penulis bekerja dan menjadi Pegawai Negeri Sipil di Wilayah Kerja Rumah

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 9

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Hipotesis ... 9

1.5. Manfaat Penelitian ... 9

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Infeksi ... 11

2.1.1. Definisi Infeksi ... 12

2.1.2. Istilah yang Berkaiatan dengan Infeksi ... 12

2.1.3. Infeksi Antenatal ... 13

2.1.4. Istilah Intranatal ... 13

2.1.5. Infeksi Pascanatal ... 15

2.2. Infeksi Nosokomial ... 16

2.2.1. Pengertian Infeksi Nosokomial ... 16

2.2.2. Penyebab Infeksi Nosokomial ... 17

2.2.3. Epidemiologi Infeksi Nosokomial ... 17

2.2.4. Sumber Infeksi Nosokomial ... 18

2.3. Gejala Klinik ... 19

2.4. Epidemiologi ... 20

2.4.1. Distribusi Frekuensi ... 20

2.4.2. Determinan Sepsis Neonatorum ... 21

2.4.3. Pencegahan Primer ... 34

2.4.4. Pencegahan Sekunder ... 38

2.4.5. Pencegahan Tertier ... 41

2.5. Hipotermi ... 42

2.5.1. Definisi Hipotermi ... 42

(13)

2.5.3. Tanda-Tanda Hipotermi ... 44

2.5.4. Pencegahan Hipotermi ... 44

2.5.5. Penanganan Hipotermi ... 46

2.6. Kebijakan dan Prosedur Ruang Perinatologi ... 48

2.7. Kerangka Konsep ... 49

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 51

3.1. Jenis Penelitian ... 51

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 51

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 51

3.2.2. Waktu Penelitian ... 51

3.3. Populasi dan Sampel ... 52

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 54

3.4.1. Prosedur Pengumpulan Data ... 55

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 55

3.5.1. Variabel Penelitian ... 55

3.5.2. Definisi Operasional ... 55

3.6. Metode Analisis Data ... 56

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 58

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 58

4.1.1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Tapanuli Selatan ... 58

4.1.2. Visi, Misi dan Motto ... 60

4.1.3. Struktur Organisasi ... 60

4.1.4. Sarana dan Prasarana... 61

4.1.5. Ketenagaan RSUD Tapanuli Selatan ... 63

4.2. Hasil Penelitian ... 64

4.2.1. Analisis Univariat ... 64

4.2.2. Analisis Bivariat ... 66

BAB 5. PEMBAHASAN ... 69

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

6.1. Kesimpulan ... 77

6.2. Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 78

(14)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

2.1. Kriteria Diagnosis Sepsis pada Neonatus ... 39

3.1. Observasi Pemanfaatan Alat Ukur ... 56

4.1. Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Tanda Kejadian Infeksi ... 64

4.2. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Diare sebelum dan sesudah

Pemisahan Ruang Perinatal ... 66

4.3. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Hipotermi sebelum dan sesudah

Pemisahan Ruang Perinatal ... 66

4.4. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Hipertermi sebelum dan sesudah

Pemisahan Ruang Perinatal ... 67

4.5. Tabulasi Silang Kejadian Infeksi Tali Pusat sebelum dan sesudah

Pemisahan Ruang Perinatal ... 67

4.6. Tabulasi Silang Kejadian Kemauan Menghisap sebelum dan sesudah

Pemisahan Ruang Perinatal ... 68

4.7. Tabulasi Silang Kejadian Lama Rawat sebelum dan sesudah

(15)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1. Infeksi Akibat Chorioamnionitis ... 14

2.2. Lintas Infeksi pada Neonatus di dalam Kandungan ... 15

2.3. Sepsis Kulit Bayi karena Infeksi Bakteri dan Jamur dari Jalan Lahir ... 20

2.4. Tujuh Langkah Mencuci Tangan ... 36

2.5. Kerangka Konsep Penelitian ... 50

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Master Data Penelitian ... 84

2. Ouput Olahan SPSS ... 86

3. Surat Ijin Penelitian ... 89

(17)

ABSTRAK

Sebelum pemisahan ruangan perinatologi di RSUD Tapanuli Selatan, kejadian infeksi pada bayi lahir yang dirawat meliputi kejadian diare, hipotermi, hipertermi, infeksi tali pusat, kemauan menghisap dan lama rawat tercatat sangat tinggi. Hal ini disebabkan bergabungnya bayi yang mengalami infeksi dengan bayi yang tidak mengalami infeksi pada satu ruangan berdampak pada terjadinya infeksi. Solusi yang dilakukan oleh pihak rumah sakit adalah melakukan pemisahan ruangan bagi bayi-bayi yang dirawat sehingga akan terjadi penurunan terjadinya infeksi setelah terjadinya pemisahan ruangan tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian sebelum dan sesudah pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda infeksi nosokomial di RSUD Tapanuli Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi comparative sampling. Populasi penelitian adalah seluruh bayi yang lahir di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan sampel sebanyak 54 orang yakni 27 orang sebelum pemisahan dan 27 orang setelah pemisahan ruang perinatologi. Pengumpulan data diperoleh dari laporan petugas yang merawat bayi dan ibu serta hasil observasi dari catatan rekam medis RSUD Tapanuli Selatan. Analisis data menggunakan program SPSS untuk melakukan analisis univariat, analisis bivariat dan uji Chi Square.

Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemisahan ruangan perinatologi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Daerah Tapanuli Selatan terutama perbedaan dalam kejadian diare, hipotermi, hipertermi, infeksi tali pusat, kemauan menghisap maupun lama rawat bayi yang mana nilai probabilitas untuk setiap kejadian infeksi yang diteliti bernilai lebih rendah dari p=0,05.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan agar pengawasan kunjungan dan tanda kejadian infeksi pada bayi di RSUD Tapanuli Selatan lebih ditingkatkan sehingga akan mengurangi penularan terjadinya infeksi perinatal dan juga penyuluhan tentang faktor-faktor penyebab kejadian infeksi perinatal pada masyarakat.

(18)

ABSTRACT

Before the separation of perinatology wards at Tapanuli Selatan District General Hospital, the incident of infection in the newly born babies including diarrhea, hypothermy, hyperthermy, umbilical cord infection, sucking desire and treatment duration was very highly noted. This happened because the babies who were and who were not suffering from infection were placed in the same room that it brought an impact of the incident of infection. The solution taken by the management of the hospital was to separate the room for the babies under treatment that the incident if infection decreased after the separation of the baby room.

The purpose of this sampling comparative study was to find out what happened before and after the separation of perinatology ward on the sign of the incident of infection at Tapanuli Selatan District General Hospital. The population of this study was all of the babies who were born at Tapanuli Selatan District General Hospital, and 54 of them comprising 27 babies belonged to before the separation of the perinatology ward and 27 babies belonged to after the separation of the perinatology ward were selected to be the samples for this study. The data for this study were obtained from the report submitted by the staff who took care of the babies and their mothers and the result of the observation on the medical record available at Tapanuli Selatan District General Hospital. The data obtained were analyzed through univariate analysis and bivariate analysis with Chi-square test using SPSS program.

The result of this study showed that there was a significant difference especially in the incident of the incident of diarrhea, hypothermy, hyperthermy, umbilical cord infection, sucking desire and baby treatment duration between before and after the separation of perinatology ward at Tapanuli Selatan District General Hospital. The value of probability of each incident of infection studied was less than p=0,05.

It is suggessted that visit control and the sign of the incident of infection at Tapanuli Selatan District General Hospital be improved to minimize the spread of the incident of perinatal infection and the extensions of the factors causing the incident of perinatal infection should be socialized to the community.

(19)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Infeksi pada neonatus sering menjadi penyebab awal sepsis, sehingga infeksi

pada neonatus perlu dicegah. Perkembangan infeksi neonatus menjadi sepsis. Sepsis

neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan

dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO)

terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus

(kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup dan

98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang (WHO, 1996).

Secara khusus angka kematian neonatus di Asia Tenggara adalah 39 per 1000

kelahiran hidup (Darmstadt et al, 2005). Dalam laporan WHO yang dikutip dari State

of the world’s mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan bahwa 36% dari

kematian neonatus disebabkan oleh peyakit infeksi, diantaranya sepsis, pneumonia,

tetanus dan diare. Sedangkan 23% kasus disebabkan oleh asfiksia, 7% kasus

disebabkan oleh kelainan bawaan, 27% kasus disebabkan oleh bayi kurang bulan dan

berat badan lahir rendah, serta 7% kasus oleh sebab lain (WHO, 2007).

Sepsis neonatorum sebagai salah satu bentuk penyakit infeksi pada bayi baru

lahir masih merupakan masalah utama yang belum dapat terpecahkan sampai saat

(20)

masih tinggi, yaitu besar 40%. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi

untuk bayi baru lahir (Child Health Research Project Special Report, 1999).

Angka kejadian atau insiden sepsis di negara berkembang cukup tinggi yaitu

1,8 - 18 per 1000 kelahiran hidup dengan CFR sebesar 12% – 68%, sedangkan di

negara maju angka kejadian sepsis berkisar antara 3 per 1000 kelahiran hidup dengan

CFR 10,3% (Shattuck KE, 1992 dan Watson RS, et al, 2003). Di Indonesia, data yang

diperoleh dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta periode Januari-September

2005 (Rohsiswatmo R, 2005).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

kematian perinatal antara lain kebiasaan merokok ibu, status anemia saat hamil,

kurang pemeriksaan Antenatal Care (ANC) dan Berat Badan Bayi Rendah (BBLR)

(Krause, 1989; Kerem, 2003; Rochelle, 2005). Selain itu tingkat pendidikan

yang rendah, pendapatan yang rendah juga mempengaruhi kematian janin. Hasil

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 didapatkan Angka

Kematian Bayi (AKB) adalah 52 per 1.000 kelahiran hidup dengan Angka Kematian

Neonatal 25 per 1.000 kelahiran hidup, dimana kematian perinatal memberikan

sumbangan terhadap kematian bayi sebesar 33,5% (Litbang Depkes, 2003). AKB di

Indonesia 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya serta

menunjukkan penurunan yang sangat lambat (Departemen Kesehatan RI, 2007).

Penyakit infeksi pada bayi dapat terjadi saat intra uterin, selama partus dan

kelahiran. Pada infeksi intra uterin, yang paling banyak adalah infeksi transplansenta

(21)

ada disekitarnya. Sumber infeksi yang utama adalah tangan yang merawat bayi,

alat-alat yang berhubungan dengan cairan, alat-alat resusitasi, alat-alat bantu nafas dan isap lendir.

Infeksi pada post natal dapat bersumber dari sebelumnya, selama dan sesudah lahir

(Wiknjosastro, 1999). Penyakit infeksi pada neonatus merupakan masalah yang

gawat. Dikatakan gawat karena merupakan 10-15% Penyebab kematian/kesakitan

pada neonatus. Infeksi pada neonatus dapat digolongkan infeksi ringan dan infeksi

berat. Infeksi saluran pernafasan akut termasuk dalam kategori infeksi berat

(Surodiprojdo, 1998).

Resiko pada bayi baru lahir dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kategori; resiko

prenatal, resiko nosokomial dan resiko neonatal. Faktor resiko neonatal, meliputi,

ketuban pecah dini (KPD) dan infeksi selama kehamilan. Faktor nosokomial yang

dapat menjadi predisposisi infeksi neonatal meliputi lama rawat, prosedur invasif,

ruang perawatan penuh, staf perawatan dan prosedur perawatan misalnya cuci tangan.

Faktor neonatal meliputi BBLR dan kelainan kongenital (Pusponegoro, 2000).

Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki resiko terinfeksi

bakteri karena fungsi dan anatomi kulit yang masih imatur dan lemahnya sistem

imun. Prajoga (1994) berpendapat bahwa bayi dengan BBLR kemungkinan untuk

meninggal pada masa neonatal 20-30 kali dan 17 kali lebih besar sebelum usia satu

tahun daripada bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir normal.

Komplikasi yang sering terjadi pada KPD adalah infeksi, oleh karena ketuban

(22)

infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti KPD maka infeksi lebih mudah

terjadi (Medlinux, 2007).

Berdasarkan data dari rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang sebagai

rumah sakit rujukan untuk daerah Sumatera Bagian Tengah didapatkan data omfalitis

21 kasus di tahun 2004, tahun 2005 tercatat 20 kasus dan pada tahun 2006 terdapat 31

kasus. Hasil penelitian dari 10 kasus yang terdiagnosa omfalitis didapatkan data

bahwa 50% riwayat persalinan didahului dengan KPD dan 40% ibu yang mempunyai

riwayat infeksi selama kehamilan. Meskipun infeksi transplasenta tidak universal atau

jarang terjadi, janin yang terinfeksi lebih besar kemungkinannya disertai dengan

infeksi maternal selama paruh pertama kehamilan. Sebagian besar infeksi selama

kehamilan bersifat rekuren (Lesi meluas), mayoritas neonatus yang terinfeksi secara

kongenital dilahirkan dari ibu yang menderita infeksi selama kehamilan (Suheimi,

2007). Sebesar 60% bayi dengan omfasilitis adalah bayi laki-laki dan 20% kasus

menderita kelainan kongenital. Disamping itu, hanya terdapat 10% kasus yang

memiliki berat badan lahir rendah, sedangkan 90% kasus terjadi pada bayi berat

badan lahir cukup.

Rumah Sakit Umum Permata Madina Penyabungan juga mendapati jumlah

kasus infeksi perinatologi yang tinggi sebelum adanya pemisahan ruangan, namun

setelah pemisahan ruangan dilakukan maka infeksi pada bayi dan lama rawatan

menurun (Profil RSU Permata Madina, 2011).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

(23)

lahir cukup bulan dan 59 bayi kurang bulan memperlihatkan sebagian besar bayi

dalam kondisi stabil dan lebih banyak dirujuk dengan tiga diagnosa utama sebagai

alasan dirujuk adalah Sepsis 29,5%, gangguan nafas 25,2% dan kelainan bedah 10%.

Walaupun karena alasan merujuk BBLR tertera hanya 7 % namun secara keseluruhan

80% bayi adalah keadaan yang tidak stabil. Kondisi tidak stabil adalah

ketidakstabilan suhu atau diikuti dengan hipotermi dan hipertermi, diare ditularkan

secara orofekal dan diduga melalui diare maka dapat terkadang sebagai infeksi

nosokomial dengan gejala klinis sehingga menyebabkan bayi mudah jatuh ke dalam

keadaan dehidrasi sehingga memerlukan perawatan (Profil RSUD Kabupaten

Tapanuli Selatan, 2013).

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Tapanuli Selatan merupakan

rumah Sakit Pemerintah kelas C dan sudah sudah terakreditasi dari Komite Akreditasi

Rumah Sakit dengan Nomor.KARS-SERT/527/V/2012 tanggal 30 Mei 2012. Ruang

perinatologi RSUD Tapanuli Selatan melayani pasien bayi sehat dan bayi sakit

secara bersama atau bergabung sehingga kemungkinan dapat menyebabkan bayi

yang sehat ikut tertular dengan bayi yang terinfeksi.

RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 1937 didirikan Belanda

sebagai Rumah Sakit Pembantu. Kemudian pada tahun 1954 di masa kemerdekaan

RI, rumah sakit diserahkan Belanda ke daerah dan berubah status menjadi Puskesmas

Perawatan Sipirok. Pada tanggal 28 Mei 1998 RSUD Tapanuli Selatan diresmikan

oleh Gubernur Sumatera Utara dan dalam pelaksanaan otonomi daerah, rumah sakit

(24)

teknis, Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Selatan dan rumah sakit terus

mengembangkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat atas

pelayanan kesehatan yang optimal yang diharapkan oleh masyarakat yang pada

akhirnya RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan telah terakreditasi oleh Depkes yaitu

dengan Nomor.KARS-SERT/527/V/2012 tanggal 30 Mei 2012 (Profil RSUD

Kabupaten Tapanuli Selatan, 2013)

Pemantauan bayi di rumah sakit RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan

mengikuti prosedur dan aturan yang sudah diatur dan langsung dilakukan

pemantauannya oleh dokter spesialis anak dengan mengikuti peraturan dari Ikatan

Dokter Anak Indonesia (IDAI). Prosedural perawatan bayi baru lahir dilakukan dari

mulai saat pertama menerima bayi baru lahir yang dilakukan di ruang bersalin

maupun di ruang operasi, bidan menerima bayi, mengeringkan dibawah lampu

dengan pengaturan suhu, dilakukan pembersihan rongga mulut dan hidung, di

rangsang untuk penilaian dan pemeriksaan bayi, lalu kemudian dibalut dan dibawa ke

ruang bayi dan selanjutnya bayi diserahkan kepada petugas kebidanan menerima dan

meletakkan bayi diinkubator. Pemantauan ini dilakukan diantaranya untuk menilai

klinis bayi, suhu, kesadaran, tali pusat, daya hisap dan mempersiapkan kestabilan ibu

untuk dapat dilatih merawat bayinya. Prosedur ini sudah tercantum dalam catatan

medis rawatan pasien baru lahir.

Beberapa faktor sejarah rumah sakit yang berhubungan dengan tingginya

(25)

lahir yang pada umumnya belum memiliki sarana yang memadai untuk meningkatkan

pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Rumah sakit merupakan tempat di mana pasien mendapatkan terapi dan

perawatan untuk sembuh secara efektif dan efisien tetapi selain mendapat

kesembuhan juga merupakan tempat dari berbagai macam penyakit yang berasal dari

penderita yang berstatus sebagai karier. Kuman penyakit dapat berkembang di

lingkungan rumah sakit, dapat berupa medis dan non medis. Terjadinya infeksi

nosokomial menimbulkan kerugian diantaranya lama hari rawatan semakin panjang,

biaya yang meningkat dan penderitaan yang meningkat. Dugaan pada ruang

perawatan bayi baru lahir ditentukan apabila dijumpai 2 atau lebih bayi yang

menderita infeksi yang sama pada saat yang sama. Bila dugaan ini terjadi maka suatu

sistem pengawasan harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi

diantaranya ruang perawatan bayi yang beresiko dilokasikan di daerah yang tidak

terlalu banyak dilewati, bila memungkinkan tersedia ruangan yang khusus untuk bayi

yang baru lahir dan mengisolasi bayi yang terinfeksi.

Pencegahan infeksi merupakan bagian yang terpenting dari setiap komponen

perawatan bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi karena

sistem imunitasnya masih sangat kurang sempurna. Konsekuensi akibat tidak

mengingat prinsip pencegahan infeksi akan sangat merugikan. Latar belakang

pencegahan infeksi adalah untuk melindungi bayi dari penyebaran infeksi dengan

melakukan bayi yang mungkin mengisolasi bayi didalam ruangan yang khusus

(26)

Penurunan tanda kejadian infeksi oleh karena pemisahan ruangan

menyebabkan tingkat pasien rujukan berkurang, hal ini terjadi karena infeksi

pascanatal yang umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial yang diperoleh bayi dari

lingkungannya dan dari peralatan serta perawatan bayi. Infeksi nosokomial terjadi

diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan (Perry & Potter, 2005).

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merasa perlu untuk melakukan

intervensi masalah-masalah penyebab tingginya angka bayi baru lahir yang menjadi

tidak stabil dan terpaksa dirujuk, antara lain dengan langkah awal yaitu menghindari

sumber infeksi dengan melakukan pemisahan ruangan terhadap bayi yang tidak stabil

dan bayi yang stabil, maka penelitian tentang perbedaan pemisahan ruang sebelum

dan sesudah adanya ruang perinatologi terhadap tanda kejadian infeksi di Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi penting dilakukan

mengingat konsekuensi dari infeksi perinatal sangat berpengaruh terhadap

keselamatan bayi, dalam menurunkan CFR bayi sehingga rumah sakit dapat

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan lebih baik lagi dan menjadi masukan dalam

manajemen perawatan pada bayi di rumah sakit untuk dilakukan pemisahan ruang

perinatologi yang dimulai dari 20 Maret 2013 pemisahan ruangan telah dilakukan

sehingga infeksi perinatologi diharapkan menurun, yang juga akan menurunkan

(27)

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi rumusan permasalahan

dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh perbedaan sebelum dan sesudah

pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda kejadian infeksi perinatal di Rumah

Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan.

1.3. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sebelum dan

sesudah pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda kejadian infeksi perinatal di

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan.

1.4. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara sebelum dan

sesudah pemisahan ruang perinatologi terhadap tanda kejadian infeksi perinatal di

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan di rumah sakit yakni dokter dan

bidan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap resiko terjadinya infeksi

perinatal

2. Sebagai bahan masukan bagi pengelola Rumah Sakit untuk meningkatkan

pelayanan kesehatan perinatal sehingga Angka Kematian Perinatal (AKP) dapat

(28)

3. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan pembuat kebijakan untuk menyusun

kebutuhan pelayanan kesehatan perinatal sehingga Angka Kematian Perinatal

(AKP) dapat diturunkan.

4. Sebagai pengembangan ilmu dan pengetahuan dalam bidang kesehatan

masyarakat khususnya bidang administrasi rumah sakit dalam merancang ruang

(29)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi

Selama dalam kandungan janin relatif aman terhadap kontaminasi kuman

karena terlindung oleh berbagai organ tubuh seperti plasenta, selaput amnion,

khorion, dan beberapa faktor anti infeksi dari cairan amnion. Infeksi pada neonatus

dapat terjadi antenatal, intranatal dan pascanatal. Lintas infeksi perinatal dapat

digolongkan antara lain infeksi antenatal, infeksi intranatal dan infeksi pascanatal.

2.1.1. Definisi Infeksi

Infeksi adalah invasi tubuh patogen atau mikroorganisme yang mampu

menyebabkan sakit (Perry & Potter, 2005). Infeksi adalah peristiwa masuk dan

penggandaan mikroorganisme di dalam tubuh penjamu (Linda Tietjen, 2004).

Infeksi adalah masuknya organisme ke dalam jaringan tubuh dan

berkembang biak. Mikroorganisme seperti disebut agen yang menular. Jika

mikroorganisme tidak memproduksi bukti-bukti infeksinya disebut asymptomatic

atau subclinical (Hassan & Jumah, 2007).

Dari pengertian tentang infeksi di atas peneliti menyimpulkan bahwa infeksi

adalah peristiwa masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh penjamu yang

menyebabkan sakit, patogen mengganggu fungsi normal tubuh dan dapat berakibat

(30)

2.1.2. Istilah Berkaitan dengan Infeksi

Beberapa istilah yang berkaitan dengan infeksi antara lain :

a. Asepsis atau teknik aseptik adalah istilah umum yang digunakan dalam pelayanan

kesehatan untuk menggambarkan semua usaha yang dilakukan untuk mencegah

masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar

mengakibatkan infeksi. Tujuan utama dari asepsis adalah untuk mengurangi atau

menghilangkan jumlah mikroorganisme baik yang terdapat pada permukaan

benda hidup (kulit, jaringan) maupun benda mati (alat kesehatan) hingga

mencapai tingkat yang aman.

b. Antiseptik adalah pencegahan infeksi dengan membunuh atau menghambat

pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh lainnya.

c. Dekontaminasi adalah proses atau tindakan yang dilakukan agar benda-benda

mati (peralatan kesehatan) dapat ditangani dan disentuh oleh petugas secara aman,

terutama petugas pembersih alat medis. Sasaran yang dimaksud yaitu meja

pemeriksaan, meja operasi, alat-alat medis, sarung tangan yang terkontaminasi

oleh darah atau cairan tubuh sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.

d. Pencucian adalah proses secara fisik yang menghilangkan darah, cairan tubuh dan

benda asing lainnya seperti debu atau kotoran dari kulit atau permukaan.

e. Desinfekstan adalah menggambarkan proses pemusnahan banyak atau semua

mikroorganisme dengan pengecualian spora bakteri dari objek yang mati (Rutala,

1995). Biasanya dengan menggunakan desinfekstan kimia. Contoh desinfekstan

(31)

f. Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan seluruh mikroorganisme

termasuk spora. Penguapan dengan tekanan, gas eliten oksida (ETO), dan bahan

kimia merupakan agens sterilisasi yang paling umum (Perry & Potter, 2005).

2.1.3. Infeksi Antenatal

Infeksi antenatal pada umumnya infeksi transplasenta, kuman berasal dari ibu,

kemudian melewati plasenta dan umbilikus dan masuk ke dalam tubuh bayi melalui

sirkulasi bayi. Infeksi bakteri antenatal antara lain oleh Streptococcus Group B.

Penyakit lain yang dapat melalui lintas ini adalah toksoplasmosis, malaria dan sifilis.

Pada dugaan infeksi transplasenta biasanya selain skrining untuk sifilis, juga

dilakukan skrining terhadap TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan

Herpes).

2.1.4. Infeksi Intranatal

Infeksi intranatal pada umumnya merupakan infeksi asendens yaitu infeksi

yang berasal dari vagina dan serviks. Karena ketuban pecah dini maka kuman dari

serviks dan vagina menjalar ke atas menyebabkan korionitis dan amnionitis. Akibat

korionitis, maka infeksi menjalar terus melalui umbilikus dan akhimya ke bayi.

Selain itu korionitis menyebabkan amnionitis dan liquor amnion yang terinfeksi ini

masuk ke traktus respiratorius dan traktus digestivus janin sehingga menyebabkan

(32)
[image:32.612.158.473.112.440.2]

Gambar 2.1. Infeksi Akibat Chorioamnionitis

Infeksi lintas jalan lahir ialah infeksi yang terjadi pada janin pada saat

melewati jalan lahir melalui kulit bayi atau tempat masuk lain. Pada umumnya infeksi

ini adalah akibat kuman Gram negatif yaitu bakteri yang menghasilkan warna merah

pada pewarnaan Gram dan kandida. Menurut Centers for Diseases Control and

Prevention (CDC) Amerika, paling tidak terdapat bakteria pada vagina atau rektum

pada satu dari setiap lima wanita hamil, yang dapat mengkontaminasi bayi selama

(33)

2.1.5. Infeksi Pascanatal

Infeksi pascanatal pada umumnya akibat infeksi nosokomial yang diperoleh

bayi dari lingkungannya di luar rahim ibu, seperti kontaminasi oleh alat-alat, sarana

perawatan dan oleh yang merawatnya. Kuman penyebabnya terutama bakteri, yang

sebagian besar adalah bakteri Gram negatif. Infeksi oleh karena kuman Gram negatif

umumnya terjadi pada saat perinatal yaitu intranatal dan pascanatal. Lintas infeksi

[image:33.612.227.450.303.527.2]

perinatal dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2. Lintas Infeksi pada Neonatus di dalam Kandungan

Bila paparan kuman ini berlanjut dan memasuki aliran darah, akan terjadi

respons tubuh yang berupaya untuk mengeluarkan kuman dari tubuh. Berbagai reaksi

tubuh yang terjadi akan memperlihatkan pula bermacam gambaran gejala klinis pada

(34)

berbeda. Oleh karena itu, pada penatalaksanaan selain pemberian antibiotika, harus

memperhatikan pula gangguan fungsi organ yang timbul akibat beratnya penyakit.

2.2. Infeksi Nosokomial

2.2.1. Pengertian Infeksi Nosokomial

Infeksi adalah proses dimana seseorang yang rentan (susceptible) terkena

invasi agen pathogen atau infeksius yang tumbuh, berkembang biak dan

menyebabkan sakit. Yang dimaksud agen bisa berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur

dan parasit. Penyakit menular atau infeksius adalah penyakit tertentu yang dapat

berpindah dari satu orang ke orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang muncul selama seseorang tersebut

dirawat di rumah sakit (Utama, 1999). Infeksi nosokomial adalah infeksi yang

didapat seseorang dalam waktu 3 x 24 jam sejak mereka masuk rumah sakit (Depkes

RI, 2012).

Infeksi nosokomial terjadi diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan dan

fasilitas perawatan kesehatan. Rumah sakit merupakan satu tempat yang paling

mungkin mendapat infeksi karena mengandung populasi mikroorganisme yang tinggi

dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik (Perry & Potter,

2005).

Kriteria infeksi nosokomial menurut Depkes RI (2012), antara lain:

a. Waktu mulai dirawat tidak didapat tanda-tanda klinik infeksi dan tidak sedang

(35)

b. Infeksi terjadi sekurang-kurangnya 3 x 24 jam (72 jam) sejak pasien dirawat

c. Infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan yang lebih lama dari waktu

inkubasi infeksi tersebut

d. Infeksi terjadi pada masa neonatus yang diperoleh dari ibunya pada saat

persalinan atau selama dirawat di rumah sakit

e. Bila dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan terbukti infeksi

tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu

yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.

2.2.2. Penyebab Infeksi Nosokomial

Penularan kuman penyebab infeksi nosokomial dapat terjadi melalui:

a. Infeksi sendiri (self infection) yaitu infeksi nosokomial berasal dari penderita

sendiri (flora endogen) yang berpindah ke tempat atau bagian tubuh lain seperti

kuman escherichia coli dan staphylococus aureus, kuman tersebut dapat

berpindah melalui benda yang dipakai seperti linen atau gesekan tangan sendiri

(Perry & Potter, 2005).

b. Infeksi silang (cross infection) yaitu infeksi nosokomial terjadi akibat penularan

dari penderita atau orang lain di rumah sakit.

c. Infeksi lingkungan (environmental infection) yaitu infeksi yang disebabkan

kuman yang didapat dari bahan atau benda di lingkungan rumah sakit.

2.2.3. Epidemiologi Infeksi Nosokomial

Epidemiologi ialah penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

(36)

umumnya mempunyai mata rantai, begitu juga infeksi nosokomial. Mula-mula

kuman keluar dari sumber infeksi melalui tempat keluar (port of exit) dengan media

tertentu. Setelah itu berpindah atau menular secara langsung atau tidak langsung

kepada inang pengantara melalui tempat masuk (port of entry) mencapai hospes baru

yang rentan. Jadi ada tiga faktor determinan yang menyebabkan suatu infeksi

termasuk infeksi yang diperoleh di rumah sakit yaitu sumber infeksi, rute penyebaran

mikroorganisme dan host yang rentan terhadap infeksi.

2.2.4. Sumber Infeksi Nosokomial

Sumber penyebab infeksi nosokomial yaitu manusia, benda, aliran udara,

makanan dan hewan. Sumber mikroorganisme patogen yang paling banyak adalah

manusia. Parker (1983) menyatakan bahwa kuman penyebab infeksi nosokomial

secara umum dibedakan menjadi tiga tipe umum yaitu:

a. Mikroorganisme konvensional yaitu kuman penyebab penyakit pada orang sehat

yang tidak memiliki kekebalan khusus seperti virus influenza.

b. Mikroorganisme kondisional yaitu kuman yang dapat menyebabkan terjadinya

infeksi secara klinis pada bagian tubuh tertentu apabila terdapat faktor-faktor

predisposisi seperti pseudomonas sp dan proteus sp.

c. Mikroorganisme oppurtunistik yaitu kuman yang menyebabkan penyakit

(37)

2.3. Gejala Klinik

Gejala klinik infeksi sistemik pada neonatus tidak spesifik dan seringkali

sama dengan gejala klinik gangguan metabolisme, hematologik dan susunan saraf

pusat. Peningkatan suhu tubuh jarang terjadi dan bila ada umumnya terdapat pada

bayi cukup bulan. Hipotermia lebih sering ditemukan daripada hipertermia. Leukosit

pada neonatus mempunyai rentang yang luas yaitu antara 4.000 s/d 30.000 per mm3.

Gejala klinik sepsis neonatorum pada stadium dini sangat sulit ditemukan

karena tidak spesifik, tidak jelas dan seringkali tidak terobservasi. Karena itu,

dibutuhkan suatu dugaan keras terhadap kemungkinan ini agar diagnosa dapat

ditegakkan. Gejala klinik sepsis pada neonatus dapat digolongkan sebagai:

2.3.1. Gejala umum seperti: bayi tidak kelihatan sehat (not doing well), tidak mau

minum, kenaikan suhu tubuh, penurunan suhu tubuh dan sclerema.

2.3.2. Gejala gastrointestinal seperti: muntah, diare, hepatomegali dan perut

kembung.

2.3.3. Gejala saluran pernafasan seperti: dispnea, takipne dan sianosis.

2.3.4. Gejala sistem kardiovaskuler seperti: takikardia, edema, dan dehidrasi.

2.3.5. Gejala susunan saraf pusat seperti: letargi, irritable, dan kejang.

2.3.6. Gejala hematologik seperti: ikterus, splenomegali, petekie, dan perdarahan

(38)
[image:38.612.121.526.112.249.2]

Gambar 2.3. Sepsis pada Kulit Bayi karena Infeksi Bakteri dan Jamur dari Jalan Lahir

2.4. Epidemiologi

2.4.1. Distribusi Frekuensi

Distribusi frekuensi epidemiologi dapat digolongkan berdasarkan orang

maupun tempat dan waktu.

a. Distribusi Frekuensi Menurut Orang

Penelitian Nugrahani, dkk tahun 2005 di RS Dr. Sardjito Yogyakarta

menyebutkan bahwa berdasarkan umur, proporsi bayi dengan sepsis yang

berumur 0 -7 hari adalah 77,2% sedangkan yang berumur > 7 hari adalah 22,8%.

Berdasarkan jenis kelamin, proporsi bayi laki-laki dengan sepsis adalah 61,4%

sedangkan bayi perempuan adalah 38,6%. Menurut Jumah, dkk tahun 2007 di

Iraq terdapat 22 bayi yang berumur < 7 hari (62,9%) meninggal akibat sepsis, dan

(39)

Sepsis lebih sering terjadi pada bayi berkulit hitam daripada bayi berkulit

putih, namun hal ini dapat dijelaskan berdasarkan tingginya insiden prematur,

pecah ketuban, ibu demam, dan berat lahir rendah. Perbedaan kejadian sepsis

neonatorum pada suku bangsa lebih dikaitkan dengan kebiasaan dan pola makan

yang telah dianut oleh ibu dari bayi tersebut. Hal ini sangat berpengaruh pada

kondisi gizi ibu yang kemudian berdampak pada keadaan bayi.

Menurut Thirumoorthi dalam simposium penanggulangan infeksi pada

kehamilan menyebutkan bahwa dari semua penderita sepsis awitan dini, sebanyak

54% terjadi pada bayi berkulit hitam dan dari semua penderita sepsis awitan

lambat, sebanyak 65% juga terjadi pada bayi berkulit hitam.

b. Distribusi Frekuensi Menurut Tempat dan Waktu

Insiden sepsis neonatorum di negara berkembang sangat bervariasi menurut

waktu dan lokasi. Insiden yang bervariasi di berbagai rumah sakit tersebut

dihubungkan dengan angka prematuritas, perawatan perinatal, persalinan, dan

kondisi lingkungan waktu perawatan. Penelitian Rasul tahun 2007 di Bangladesh

menyebutkan bahwa insiden infeksi perinatal yang tinggi yaitu 50 - 60% selama

dua puluh tahun yang lalu mengalami penurunan menjadi 20 - 30% di

negara-negara berkembang. Di India, berbagai studi menunjukkan bahwa kejadian

bervariasi antara 10 - 20 per 1.000 kelahiran hidup.

2.4.2. Determinan Sepsis Neonatorum

Beberapa determinan sepsis neonatorum dibedakan berdasarkan host, agent,

(40)

a. Host

Faktor host yang menjadi determinan terjadinya sepsis neonatorum dapat dilihat

dari faktor bayi dan ibu.

a) Faktor Bayi

1) Umur

Penelitian Jumah, dkk tahun 2007 menyebutkan bahwa secara statistik

angka kematian akibat sepsis lebih tinggi secara signifikan pada bayi

berumur < 7 hari dibandingkan pada bayi berumur 7-28 hari (p<0,001).

Hasil penelitian Nugrahani, dkk tahun 2005 dengan menggunakan

rancangan penelitian uji diagnostik potong lintang di RS Dr. Sardjito

Yogyakarta, proporsi penderita sepsis neonatorum berumur < 7 hari

77,2% dan > 7 hari 22,8%.

2) Jenis Kelamin

Laki-laki empat kali lebih beresiko terkena sepsis dibandingkan

perempuan, dan kemungkinan ini berhubungan dengan kerentanan host

berdasarkan jenis kelamin. Dalam penelitian Simbolon tahun 2008 dengan

menggunakan desain penelitian kasus kontrol di RSUD Curup Kabupaten

Rejang Lebong Bengkulu menyebutkan bahwa menurut faktor bayi,

kejadian sepsis neonatorum banyak terjadi pada bayi laki-laki (61,2%).

Hasil penelitian Patel, dkk (1995) di University of Mississippi Medical

Center (UMMC), proporsi penderita sepsis neonatorum tertinggi pada

(41)

and Children Hospital, penderita sepsis neonatorum lebih banyak pada

bayi laki-laki, diantaranya 56,75% yang hidup dan 43,25% yang

meninggal.

3) Prematuritas

Prematur adalah satu-satunya faktor paling signifikan berkorelasi dengan

sepsis. Risiko meningkat sebanding dengan penurunan berat lahir. Bayi

prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 37

minggu. Bayi yang lahir prematur mempunyai berat badan lahir rendah,

namun bayi yang mempunyai berat badan lahir rendah belum tentu

mengalami kelahiran prematur. Bayi prematur rentan mengalami infeksi

atau septikemia. Infeksi atau septikemia empat kali beresiko menyebabkan

kematian bayi prematur. Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih

rendah dari pada bayi cukup bulan. Transpor imunuglobulin melalui

plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga. Setelah

lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan

hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan

kulit. Incidence rate, sepsis neonatorum yang dilaporkan bervariasi, antara

1-8 per 1.000 kelahiran hidup, dengan kejadian terbanyak pada bayi

kurang bulan dengan berat badan lahir rendah.

4) Berat Lahir Rendah

Bayi berat lahir rendah adalah bayi yang kurang atau sama dengan 2500

(42)

ini. Kebanyakan persoalan terjadi pada bayi yang beratnya kurang dari

1500 gram dengan angka kematian yang tinggi dan membutuhkan

perawatan dan tindakan medik khusus.

Dalam penelitian Stoll, dari 7.861 bayi dengan berat badan lahir sangat

rendah (berat lahir <1500g) dari National Institute of Child Health and

Human Development (NICHD) pada tahun 1991 - 1993, 1,9% bayi

terbukti mengalami sepsis dalam 72 jam pertama kehidupan, meskipun

hampir 50% bayi di kelompok ini dianggap memiliki sepsis klinis dan

diobati dengan antibiotik selama lebih dari lima hari. Dua puluh enam

persen dari bayi tersebut meninggal.

5) Status Kembar

Bayi kembar berisiko tinggi untuk infeksi streptococcus grup B dan

infeksi lain walaupun sudah dikendalikan untuk prematuritasnya selain itu

bayi lahir dengan status kembar kemungkinan akan lahir dengan BBLR,

sehingga akan berisiko mengalami sepsis karena organ tubuhnya belum

sempurna sehingga sistem imunnya kurang yang menyebabkan mudah

terkena infeksi. Menurut Mochtar (1998), berat badan satu janin kembar

rata-rata 1.000 gram lebih ringan dari janin tunggal. Berat badan

masing-masing janin kembar tidak sama, umumnya berselisih antara 50 sampai

1.000 gram, dan karena pembagian sirkulasi darah tidak sama, maka yang

satu kurang bertumbuh dari yang lainnya. Pengaruh kehamilan kembar

(43)

jumlah janin dalam kehamilan kembar, sehingga kemungkinan terjadinya

bayi prematur sangat tinggi.

Perubahan perilaku pada bayi mungkin dapat merupakan tanda

awal bayi sakit. Bayi yang stabil tetap terjaga dan aktif bila sedang

bangun, minum bayi dan dapat diam pada saat sedang menangis, ini akan

memberi sedikit peredaan pada keadaan yang dianggap normal. Beberapa

perubahan perilaku petunjuk bayi sakit adalah bayi tampak lesu, tidak

bertenaga, dan mengantuk, masalah malas minum meliputi dari kesulitan

mengisap. Bayi membutuhkan perawatan akan menujukan perilaku yang

sangat berbeda dengan bayi yang sehat memiliki berbagai macam refleks

alamiah yang membantu untuk melindungi dirinya dari sinar yang

berlebihan.

Menurut T. Berry Brazelton dan kawan-kawan dalam buku

Neonatalogi, Neonatal Behavioral Assessment Scale (NBAS) atau skala

Penilaian Perilaku Bayi Baru Lahir (SPPB) perilaku bayi yang

menjelaskan tentang kekuatan bayi, respon adaptasi dan hal yang rentan

yang mungkin terjadi pada bayi (IDAI, 2012)

Menurut Ai Yeyeh dalam buku Asuhan Neonatus Bayi dan Anak

Balita, yang dimaksud dengan bayi stabil atau normal jika memiliki tanda

antara lain, warna kulit yang kemerahan, frekuensi jantung lebih 100

kali/menit, ada reaksi terhadap rangsangan, menangis, otot dengan

(44)

Pada usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat badan

lahir 2500- 4000 gram dengan nilai Afgar lebih dari 7 tanpa cacat bawaan

(Ai Yeyeh, dkk, 2010).

b. Faktor Ibu

1) Umur Ibu

Umur ibu melahirkan dibagi dalam 3 kelompok usia remaja dengan

umur < 20 tahun, kelompok usia reproduksi sehat dengan umur 20 - 35 tahun

dan kelompok usia risiko tua dengan umur > 35 tahun, ibu hamil dengan umur

lebih muda sering mengalami komplikasi kehamilan dengan hasil kehamilan

tidak baik. Pada kelompok umur risiko tua kejadian berat badan lahir rendah

juga meningkat. Menurut penelitian Nyoman Nuada di RS Denpasar pada

tahun 1999 ditemukan 84% ibu yang melahirkan bayi prematur berusia

kurang dari 20 tahun dan usia lebih dari 35 tahun (umur risiko tinggi).

Dalam penelitian Suwiyoga (2007) dengan menggunakan rancangan

penelitian studi kohort di Indonesia menemukan bahwa insiden sepsis

neonatorum di kelompok umur ibu kurang dari 20 tahun adalah 14,2%, lebih

tinggi dari insidens sepsis di kelompok umur 20 tahun atau lebih. Usia ibu

kurang dari 20 tahun diketahui berhubungan dengan kolonisasi kuman

Streptococcus Grup Beta di jalan lahir.

2) Pendidikan Ibu

Tingkat pendidikan ibu dapat menjadi salah satu faktor yang

(45)

seorang ibu dinilai lebih banyak memperoleh infromasi yang dibutuhkan.

Selain itu, ibu dengan tingkat pendidikan relatif tinggi lebih mudah menyerap

informasi atau himbauan yang diberikan. Dengan demikian mereka dapat

memilih serta menentukan alternatif terbaik dalam melakukan perawatan dan

pemeriksaan kehamilan sehingga dapat melahirkan bayi sehat.

Menurut Bachroen, tingkat pendidikan mempunyai pengaruh besar

terhadap derajat kesehatan. Penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa

pendidikan paling berpengaruh adalah pendidikan ibu.

3) Pekerjaan Ibu

Variabel pekerjaan akan mencerminkan keadaan sosial ekonomi

keluarga. Penelitian Yahya K, dkk menyebutkan bahwa presentase terbanyak

adalah pada golongan berpenghasilan rendah. Di mana suami bekerja sebagai

burah, kemudian diikuti pedagang kecil, pegawai negeri golongan I dan II.

Sedangkan istrinya (ibu hamil) pada umumnya tidak bekerja. Rendahnya

kedudukan tingkat dan macam pekerjaan ini adalah akibat dari tingkat

pendidikan yang juga rendah. Di negara berkembang, banyak ibu bekerja

keras untuk membantu menopang kehidupan keluarganya di samping tugas

utama mengelola rumah tangga, menyiapkan makanan, mengasuh dan

merawat anak.

Salah satu studi menunjukkan bahwa 25% dari rumah tangga sangat

bergantung pada pendapatan kaum perempuan. Jika ibu hamil bekerja terlalu

(46)

bayi dengan berat lahir rendah yang merupakan faktor risiko terjadinya

infeksi.

4) Umur Kehamilan

Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 minggu, dihitung dari hari

pertama haid yang terakhir. Lama kehamilan dapat dibedakan atas:

i. Partus prematurus, adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan

28 -36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur. Berat janin antara 1.000

- 2.500 gram,

ii. Partus matures atau aterm (cukup bulan), adalah partus pada kehamilan

37- 40 minggu, janin matur, berat badan di atas 2.500 gram,

iii. Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu

atau lebih dari waktu partus cukup bulan.

5) Ketuban Pecah Dini (KPD)

Ketuban Pecah Dini (KPD) yaitu bocornya cairan amnion sebelum

mulainya persalinan, terjadi pada kira-kira 7 sampai 12 persen kehamilan.

Paling sering ketuban pecah pada atau mendekati saat persalinan; persalinan

terjadi secara spontan dalam beberapa jam. Bila ketuban pecah dini

dihubungkan dengan kehamilan preterm, ada risiko peningkatan morbiditas

dan mortalitas perinatal akibat imaturitas janin.

Sepsis neonatarum dini sering dihubungkan dengan KPD karena

infeksi dengan KPD saling mempengaruhi. Infeksi genital bawah dapat

(47)

asendens. Infeksi asendens ini dapat berupa amnionitis dan korionitis,

gabungan keduanya disebut korioamnionitis. Bila ketuban pecah lebih dari 24

jam, kejadian sepsis pada bayi meningkat sekitar 1% dan bila disertai

korioamnionitis, kejadian sepsis akan meningkat menjadi 4 kalinya.

Dalam penelitian Suwiyoga, dkk (2007) dengan menggunakan

rancangan penelitian studi kohort di Indonesia menemukan bahwa resiko

Sepsis Awitan Dini (SAD), pada ketuban pecah kurang 12 jam adalah 1,5

kali, sesudah 12 -18 jam adalah 7 kali dan pada 18-24 jam adalah 9 kali.

Selain itu, KPD merupakan faktor risiko utama prematuritas yang merupakan

penyumbang utama SAD dan kematian perinatal.

i. Infeksi dan Demam (>38°C) pada Masa Peripartum

Infeksi dapat merupakan akibat korioamnionitis, infeksi saluran

kemih, kolonisasi vagina oleh Streptococcus Grup B (SGB), kolonisasi

permeal oleh E. coli, dan komplikasi obstetrik lainnya. Ibu yang menderita

infeksi ketika hamil dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap ibu

maupun janin dan bayi neonatal seperti infeksi neonatal.

ii. Cairan Ketuban Hijau Keruh dan Berbau

Dalam penelitian Nugrahani, dkk tahun 2005 dengan menggunakan

rancangan penelitian uji diagnostik potong 1 in tang di RS Dr. Sardjito

Yogyakarta terdapat proporsi ibu dengan keadaan air ketuban keruh

melahirkan bayi yang mengalami sepsis neonatorum sebanyak 33,1%.

(48)

Pusat Sardjito Yogyakarta dari bulan Januari 2001 ditemukan 72% faktor

risiko sepsis neonatorum adalah BBLR dengan keadaan air ketuban bau

busuk.

iii. Riwayat Persalinan Ibu

Bayi yang lahir dengan tindakan (ekstraksi cunam/vakum dan seksio

sesaria) beresiko mengalami sepsis neonatorum. Infeksi dapat diperoleh

bayi dari lingkungannya di luar rahim ibu, seperti alat-alat penolong

persalinan yang terkontaminasi. Dalam penelitian Simbolon tahun 2008

dengan menggunakan desain penelitian kasus kontrol di Kabupaten

Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, kejadian sepsis neonatorum menurut

riwayat persalinan menunjukkan bahwa kejadian sepsis neonatorum

sedikit lebih banyak pada bayi dengan riwayat persalinan dengan tindakan

(ekstraksi cunam/vakum dan seksio sesaria). Bayi yang lahir dengan

tindakan beresiko 2,142 kali mengalami sepsis neonatorum dibandingkan

dengan bayi yang lahir secara normal.

iv. Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan (Antenatal Care)

Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) yang teratur berfungsi sebagai

kontrol untuk mendeteksi terjadinya tanda-tanda komplikasi kehamilan,

sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan bahaya kehamilan dan

persalinan. Pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan oleh ibu semasa

hamil, mulai dari trimester pertama sampai saat berlangsungnya

(49)

hamil yang mempunyai risiko tinggi sehingga risiko kematian ibu atau

bayi dapat dikurangi. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan dapat

mengurangi kejadian kelahiran prematur pada bayi yang sangat rentan

terkena sepsis. Selain itu dengan melakukan pemeriksaan selama hamil

dapat dideteksi secara dini penyakit infeksi yang diderita oleh ibu yang

nantinya akan mengakibatkan infeksi pada bayinya.

Menurut Ulina (2004) dalam penelitiannya di Kelurahan Tanjung

Jati Kecamatan Binjai, hasil cakupan kegiatan yang berhubungan dengan

pelayanan antenatal yaitu Kl (81%) dan K4 (66,7%). Dari hasil cakupan

tersebut terlihat relatif tinggi drop out antara Kl dan K4 yaitu sebesar

14,3%. Rendahnya pencapaian cakupan K4 ini disebabkan oleh beberapa

faktor, seperti ibu hamil merasa kurang membutuhkan pelayanan antenatal

karena beranggapan dirinya sehat, pendidikan ibu rendah, kurangnya

pengetahuan ibu hamil akan pentingnya perawatan pada masa kehamilan

secara berkala, bagi ibu hamil yang bekerja kurang memiliki waktu untuk

memeriksakan kehamilannya, tingkat pendapatan keluarga sehubungan

dengan kondisi ibu hamil.

c. Agen

Agent atau organisme tersering sebagai penyebab penyakit adalah

Escherichia coli dan Streptococcus group B (yang bersama-sama bertanggung

jawab atas 50 - 75% kasus pada kebanyakan pusat pelayanan kesehatan),

(50)

sistem pun yang mampu untuk mengklasifikasikannya. Ada dua puluh jenis,

termasuk streptococcus pyogenes (group A), streptococcus agalactiae (group B)

dan jenis enterococcus (group D), dapat dicirikan dengan berbagai tampilannya

yang bervariasi: dan" karakteristik koloni pertumbuhan, pola hemolisis pada

media agar darah (hemolisis a, hemolisft, atau tanpa hemolisis), komposisi

antigen pada substansi dinding sel dan reaksi biokimia. Jenis Streptococcus

pneumonia (pneumococcus) lebih lanjut diklasifikasikan berdasarkan komposisi

antigen polisakarida pada kapsul.

Selain itu penyebab lain dari sepsis neonatorum adalah Staphylococcus

aureus, Klebsiella, Enterobacter sp, Pseudomonas aeruginosa, Proteus sp,

Listeria manocytogenes dan bakteri anaerob, Sepsis awitan dini akan terlihat

sebagai proses nyata, yang mengenai banyak organ pada minggu pertama

kehidupan, sedangkan sepsis awitan lambat, sering dimanifestasikan sebagai

meningitis setelah minggu pertama kehidupan.

Pertama-tama biasanya dihubungkan dengan faktor-faktor ibu dan organisme

yang berasal dari cairan ketuban yang terinfeksi atau ketika janin melewati jalan lahir,

dan setelah itu bayi mungkin terinfeksi dari lingkungannya atau dari sejumlah sumber

di rumah sakit. E. coli dan streptococcus B mungkin bertanggung jawab atas

terjadinya sepsis awitan dini atau lambat, sedangkan S. aureus, Klebsiella,

Enterobacter sp, P. aemginosa dan Serratila sp, lebih lazim menyebabkan sepsis

(51)

d. Environment

Beberapa faktor lingkungan yang menjadi determinan sepsis neonatorum

terutama berasal dari keadaan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) yaitu jumlah

pasien yang terlalu banyak, kurangnya tempat dan sabun untuk mencuci tangan,

kurangnya handuk atau tissue, tempat penyimpanan sarana kesehatan yang tidak

nyaman, buruknya kebersihan, buruknya ventilasi aliran udara dan fasilitas

ruangan isolasi, dapat meningkatkan angka kejadian sepsis neonatorum.

a) Perubahan perilaku yang dapat terjadi pada Bayi

Perubahan pada bayi mungkin dapat merupakan tanda awal bayi sakit,

meskipun tingkat aktivitas, nafsu makan dan tangis bayi secara normal

bervariasi dari hari kehari bahkan dari jam ke jam, perubahan mencolok dapat

menjadi petujuk bayi sakit.Biasanya bayi tetap terjaga dan aktif bila sedang

bangun, minum baik dan dapat didiamkan bila sedang menangis.

b) Bayi malas Minum

Masalah malas minum meliputi bayi kesulitan menghisap payudara atau

botol, bayi tidak lapar, bayi dengan kehilangan berat badan atau berat bayi

tidak naik, kesulitan bayi minum karena masalah bayi kesulitan menghisap,

c) Bayi sakit

Bayi yang dirawat biasanya menunjukan perilaku yang berbeda dengan bayi

sehat, BKB, kurang dapat mengontrol dan mengkoordinasikan gerakannya

dibanding BCB. Dokter yang merawat harus memberitahu orangtuanya

(52)

Semua faktor-faklor di atas sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan

masih menjadi masalah sampai saat ini. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab

tidak adanya perubahan pada angka kejadian sepsis neonatal dalam dekade terakhir

ini. Faktor-faktor risiko ini walaupun tidak selalu berakhir dengan infeksi, harus tetap

mendapatkan perhatian khusus terutama bila disertai gambaran klinis.

2.4.3. Pencegahan Primer

Pencegahan primer meliputi segala bentuk kegiatan yang dapat menghentikan

kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Pencegahan primer

juga diartikan sebagai bentuk pencegahan terhadap terjadinya suatu penyakit pada

seseorang dengan faktor resiko. Upaya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan

primer terhadap kejadian sepsis neonatorum adalah:

A. Mewujudkan Pelayanan Kebidanan yang Baik dan Bermutu

Bidan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kesehatan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan pelayanan kebidanan

yang baik dan bermutu antara lain:

a) Pelayanan yang diberikan bermutu.

b) Walaupun tidak semua persalinan berlangsung di rumah sakit namun ada

kemungkinan untuk mendapat perawatan segera di rumah sakit jika terjadi

komplikasi.

c) Diwajibkan bersalin di rumah sakit

d) Pengawasan ibu dan bayi pada saat intranatal dan postnatal

(53)

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama masa

kehamilan

a. Mencuci tangan

Dalam lingkungan perawatan kesehatan, tangan merupakan salah satu

syarat penularan yang paling efisien untuk infeksi nosokomial. Oleh

karena itu, mencuci tangan menjadi metode pencegahan dan pengendalian

yang paling penting. Tujuan mencuci tangan adalah untuk menurunkan

bioburden (jumlah mikroorganisme) pada tangan dan untuk mencegah

penyebarannya ke area yang tidak terkontaminasi, seperti pasien, tenaga

perawatan kesehatan (TPK) dan peralatan. Tenaga perawatan diharuskan

mencuci tangan sebelum dan setelah memegang bayi untuk menghindari

terjadinya infeksi pada bayi tersebut.

Mencuci tangan yang kurang tepat menempatkan baik pasien dan

tenaga perawatan kesehatan pada risiko terhadap infeksi atau penyakit.

Tenaga perawatan kesehatan yang mencuci tangan kurang adekuat

memindahkan organisme-organisme seperti Staphylococcus, Echeriscia

coli, Pseudomonas, dan Klebsiella secara langsung kepada hospes yang

rentan, yang menyebabkan infeksi nosokomial dan epidemik di semua

jenis lingkungan pasien. Kepatuhan mencuci tangan sangat penting dalam

(54)
[image:54.612.135.510.136.379.2]

Di bawah ini tujuh langkah mencuci tangan yang baik dan benar:

Gambar 2.4. Tujuh Langkah Mencuci Tangan

b. Pemberian ASI secepatnya

Upaya pencegahan terhadap penyakit infeksi dapat dilakukan dengan

keadaan gizi bayi yang baik. Pemeliharaan gizi bayi dan balita yang baik

memerlukan pengaturan makanan yang tepat yaitu salah satunya dengan

pemberian ASI secara benar dan tepat. Air susu ibu memegang peranan

yang penting untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup bayi.

Awal menyusui yang baik adalah 30 menit setelah bayi lahir karena dapat

merangsang pengeluaran ASI selanjutnya, di samping itu akan terjadi

Gambar

Gambar 2.1. Infeksi Akibat Chorioamnionitis
Gambar 2.2. Lintas Infeksi pada Neonatus di dalam Kandungan
Gambar 2.3. Sepsis pada Kulit Bayi karena Infeksi Bakteri dan Jamur dari Jalan Lahir
Gambar 2.4. Tujuh Langkah Mencuci Tangan
+7

Referensi

Dokumen terkait

PERBEDAAN NILAI CA125, BUN DAN SERUM KREATININ PADA PASIEN KANKER OVARIUM SEL EPITEL STADIUM IC-IIIC SEBELUM DAN SESUDAH.. KEMOTERAPI PAKLITAKSEL KARBOPLATIN DI RUMAH SAKIT

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kinerja nonkeuangan dan kinerja keuangan UPT Rumah Sakit Paru Jember sebelum dan sesudah Badan Layanan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan tingkat kecemasaan sebelum dan sesudah pemberian terapi psikoreligius pada klien skizofrenia di rumah sakit jiwa

ANALISIS KINERJA KEUANGAN SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM PADA RUMAH SAKIT ORTOPEDI PROF1.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai perbedaan denyut nadi dan tekanan darah sebelum dan sesudah gilir jaga malam pada mahasiswa kepaniteraan klinik di Rumah Sakit

Perbedaan Supervisi Kepala Ruangan Sebelum dan Setelah Pelatihan Supervisi Berdasarkan Persepsi Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja. Indonesia (IPI) Medan (n =

Hasil – Ada Perbedaan Upaya Pencegahan ISPA oleh Ibu Balita Sebelum dan Sesudah Dilakukan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Puskesmas Purwodadi I dengan

Hasil: Terdapat perbedaan kadar CD4 sebelum dan enam bulan sesudah terapi ARV pada pasien HIV-AIDS di Rumah Sakit Sele be solu dan Puskesmas Sorong dengan nilai p &lt;