ABSTRAK
KINERJA DINAS TENAGA KERJA DALAM PELAYANAN PEMBUATAN KARTU PENCARI KERJA (AK/I)
Oleh
Neysa Amallia
Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mempunyai fungsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Salah satu pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Berdasarkan hasil pra riset menunjukan bahwa ketersediaan fasilitas di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) masih kurang memadai. Seperti komputer dan alat pendukung lainnya agar pelaksanaan yang dilakukan dalam pelayanan dapat lebih cepat dan efesien. Selain itu kurangnya sosialisasi aparat Dinas Tenaga Kerja dalam memberikan informasi mengenai prosedur pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Bandar Lampung pada Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja, 2 (dua) orang petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) serta 3 (tiga) orang masyarakat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini Editing dan Interpretasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini Reduksi Data, Penyajian Data, dan penarikan Kesimpulan.
ABSTRACT
LABOR DEPARTMENT PERFORMANCE IN THE SERVICE OF MAKING CARDS JOB APPLICANTS (AK / I)
By Neysa Amallia
Department of Labor has the function of Bandar Lampung in public service. One of the services performed is a job-seeker card manufacturing services (AK / I). Based on the results of pre-research shows that the availability of facilities in the Department of Labor City of Bandar Lampung in the service of making job-seeker cards (AK / I) are still inadequate. As computers and other supporting tools for the implementation performed in the ministry can be more quickly and efficiently.
Interpretation. The data analysis technique in this study Data Reduction, Presentation Data, and Conclusions withdrawal.
KINERJA DINAS TENAGA KERJA DALAM PELAYANAN PEMBUATAN KARTU PENCARI KERJA (AK/I) (Studi Pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung)
(Skripsi)
Oleh
NEYSA AMALLIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
DAFTAR TABEL ... ii
DARTAR GAMBAR ... iii
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Kinerja ... 8
1. Pengertian Kinerja... 8
2. Pengukuran Kinerja... 10
3. Model Pengukuran Kinerja ... 11
B. Tinjauan Tentang Dinas Tenaga Kerja ... 15
1. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Tenaga Kerja ... 15
C. Tinjauan Tentang Pelayanan ... 16
1. Pengertian Pelayanan Publik ... 16
2. Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik ... 17
3. Faktor-Faktor Pendukung Pelayanan ... 19
D. Tinjauan Tentang Kartu Pencari Kerja (AK/I)... 20
E. Kerangka Pikir ... 21
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ... 24
B. Lokasi Penelitian ... 26
E. Jenis Data ... 29
1. Data Primer ... 29
2. Data Sekunder ... 30
F. Teknik Pengumpulan Data ... 30
G. Teknik Pengolahan Data ... 32
H. Teknik Analisis Data ... 32
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung ... 35
B. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung... 36
C. Struktur Organisasi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung ... 36
D. Kondisi Sumber Daya Manusia ... 43
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) ... 45
a. Masukan (Input) ... 45
b. Proses (Process) ... 56
c. Keluaran (Output) ... 62
d. Hasil (Outcomes) ... 65
e. Manfaat (Benefit) ... 68
f. Dampak (Impact) ... 71
VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 73
B. Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I)
berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2008/2009 ... 5 2. Jumlah pegawai Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
berdasarkan jabatan ... 43 3. Jumlah pegawai Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
berdasarkan golongan ... 43 4. Jumlah pegawai Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
berdasarkan jenis kelamin ... 43 5. Pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I)
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Bagan Kerangka Pikir ... 23 2. Struktur Organisasi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung ... 42
DAFTAR PUSTAKA
Keban, T. Yeremias. 2004. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik, Konsep, Teori dan Isu. Gava Media. Yogyakarta
Kusnadi. 2002. Masalah, Kerjasama, Konflik dan Kinerja (Kontemporer dan Islam). Penerbit Taroda. Malang
Mahsun, M. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik Edisi Pertama EPFE Yogyakarta. Yogyakarta
Miles, Mattew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. UI- Press. Jakarta
Moenir, HAS. 1992. Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Bumi Aksara. Jakarta
Moleong, Lexy. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Bandung
Nawawi, Hadari dan Mimi Martini. 1994. Penelitian Terapan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Nazir, Moh. 1998. Metode Penelitian. Tarsito. Bandung
Nurcholis, Hanif. 2005. Teori dan Praktek Pemerintahan Daerah dan Otonomi Daerah. Grasindo. Jakarta
Pasalong, Harbani. 2007. Teori Administrasi Publik. Alphabeta. Bandung
Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta Tangkilisan, 2005. Manajemen Publik. Grasindo. Jakarta
Widodo, Joko. 2001. Good Governance (Akuntabilitas dan kontrol birokrasi pada era desentralisasi dan otda). Insan Cendekia. Surabaya
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No.PER.07/MEN/IV/2008 Tentang Penempatan Tenaga Kerja
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/26/M.PAN/2/2004 Tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik
III. METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang penulis gunakan adalah tipe penelitian deskriptif. Menurut Moh. Nazir (1998) yang dimaksud dengan penelitian deskriptif :
Penelitian deskriptif adalah suatu metode yang digunakan dalam meneliti atau menganalisis status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah mempelajari dan menggambarkan keadaan organisasi. Data-data yang dimiliki organisasi secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta, sikap, pandangan, serta hubungan antara fenomena yang diteliti.
Sedangkan menurut Hadari Nawawi (Soejono dan Abdurrahman,1999:22) metode penelitian deskriptif mempunyai dua ciri pokok yaitu :
1. memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang pada saat penelitian dilakukan atau masalah-masalah yang bersifat aktual
2. menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi rasional.
pengumpulan data dan penyusunan data, akan tetapi meliputi analisa dan interpretasi data yang diteliti. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif.
Bogdan dan Taylor dalam Lexy moleong, (2000:3) menyatakan:
“prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara holistik (utuh). Dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan”.
Hadari Nawawi dan Mimi Martini (1994:174) menyatakan penelitian kualitatif atau penelitian naturalistik adalah penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik, bahwa datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau sebagaimana adanya (natural setting), dengan tidak dirubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan. Sedangkan menurut (Hadari Nawawi dan Mimi Martini,1994:175-176), penelitian kualitatif bermaksud menemukan kebenaran berupa generalisasi yang dapat diterima akal sehat (common sense) manusia, terutama peneliti sendiri.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan wilayah kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung. Alasan dipilihnya lokasi ini dikarenakan Dinas Tenaga Kerja merupakan salah satu instansi pemerintah daerah yang mempunyai fungsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik melalui pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) yang digunakan pencari kerja untuk melamar pekerjaan.
C. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pedoman untuk mengambil data apa saja yang relevan dengan permasalahan penelitian. Fokus harus konsisten dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Fokus penelitian juga berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah didapatkan. Dalam penelitian kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) yang menjadi fokus penelitiannya adalah :
a. Masukan (Input)
Adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator masukan mengukur jumlah sumber daya seperti anggaran (dana), sumber daya manusia, peralatan, material dan masukan lain yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan. Dalam penelitian ini indikatornya adalah :
1. Sumber Dana
a. Sumber dana dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
2. SDM (jumlah dan pendidikan)
a. Jumlah petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
b. Latar belakang pendidikan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
3. Fasilitas
a. Fasilitas yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
b. Proses (Process)
1. Kecepatan petugas terhadap waktu yang digunakan dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
2. Ketepatan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
3. Tingkat akurasi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
c. Keluaran (Output)
Adalah sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan non fisik. Indikator keluaran digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan. Dalam penelitian ini indikatornya adalah :
1. Jumlah pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I) di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
d. Hasil (Outcomes)
Adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). Outcome menggambarkan tingkat pencapaian atau hasil lebih tinggi yang mungkin mencakup kepentingan banyak pihak.
e. Manfaat (Benefit)
f. Dampak (Impact)
Adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif.
D. Sumber Informasi
Berdasarkan permasalahan dan fokus penelitian, maka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah aparat Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung pada Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja yaitu Bapak Drs. Ahmad Suwandi dan 2 (dua) orang petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) yaitu Bapak Suhendi dan Saudari Indri, serta 3 (tiga) orang masyarakat karena masyarakat sebagai pemohon dalam pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknikPurposive Sampling. Informan dipilih secara sengaja dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.
E. Jenis Data
Menurut Lofland dalam Lexy Moleong (2000:112), sumber data utama dari penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Data Primer
peneliti kepada sumber data. Dalam penelitian ini data yang diperoleh hasil wawancara berdasarkan panduan daftar pertanyaan yang dilakukan oleh peneliti terhadap sumber data yakni aparat Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dan masyarakat yang dianggap mampu memberi informasi, menguasai permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan data.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperlukan dalam penelitian untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari sumber data primer. Data sekunder dapat berupa naskah, dokumen resmi, dan sebagainya yang berkenaan dengan penelitian ini. Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data yang diperlukan dalam melengkapi informasi yang didapat dari sumber data primer, berupa dokumen-dokumen yang relevan dengan penelitian ini serta data lain yang diperoleh dari literatur-literatur yang digunakan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
pengamatan, gejala-gejala ataupun gambaran-gambaran yang berkaitan erat dengan masalah yang diteliti.
Kegiatan observasi dalam penelitian ini akan ditunjukan pada kondisi dan aktivitas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) yang dilaksanakan oleh aparat Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung.
2. Wawancara
Bentuk wawancara atau interview terhadap aparat dan masyarakat, digunakan untuk mendapatkan data yang lebih lengkap yang diperoleh secara langsung dari pihak yang terkait. Melalui wawancara dengan pihak yang terkait di dalam penelitian ini yaitu aparat Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung pada seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja serta masyarakat sebagai pemohon dalam pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Informan yang akan diwawancarai ditentukan dengan teknik purposive sampling. Informan dipilih secara sengaja dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Wawancara untuk memperoleh data atau keterangan untuk tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sehingga proses tanya jawab berjalan dengan lancar.
3. Dokumentasi
menafsirkan bahkan untuk meramalkan. Pengumpulan bahan dokumenter seperti peraturan perundang-undangan yang diperoleh dari Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung yang berkaitan dan berhubungan dengan penelitian.
G. Teknik Pengolahan Data
Setelah data yang diperoleh dari lapangan terkumpul, tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengolah data tersebut. Adapun kegiatan dalam pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Editing, ialah kegiatan memeriksa hasil wawancara yang telah dilakukan dengan pihak terkait mengenai kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari keja (AK/I).
2. Interpretasi, yaitu memberikan penafsiran atau penjabaran atas hasil wawancara dengan pihak terkait mengenai kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I).
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang dikembangkan oleh Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman (1992) sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data-data “kasar”
yang muncul dari catatan-catatan yang tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisa yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara yang sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi. Reduksi data ini berlangsung terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun.
2. Penyajian Data
Penyajian dibatasi sebagai kumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan penyajian tersebut akan dapat dipahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Menganalisis ataukah mengambil tindakan berdasarkan pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut.
3. Penarikan Kesimpulan (verifikasi)
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pelaksanaan Otonomi Daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah meletakkan pondasi otonomi secara meluas kepada Daerah Kabupaten maupun Kota dalam mengekspresikan kembali potensi pembangunan yang dimiliki. Sistem sentralistis yang melahirkan pola kesamaan pada berbagai bidang pembangunan yang terjadi selama ini, telah banyak menghambat laju pembangunan pada daerah sehingga menyebabkan daerah mengalami hambatan dalam mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam pembangunan.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Kabupaten/Kota. Hal ini menyebabkan daerah untuk mandiri dalam mengurus rumah tangganya sendiri dengan lebih banyak menyerap aspirasi masyarakat dalam menerapkan kebijakanya.
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah daerah sebagai organisasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan serta kepentingan masyarakat senantiasa meningkatkan kinerjanya sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat.
Salah satu fungsi pemerintah yang utama adalah menyelenggarakan pelayanan umum sebagai wujud dari tugas umum pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Birokrasi merupakan instrumen pemerintah untuk mewujudkan pelayanan publik yang efisien, efektif, berkeadilan, transparan dan akuntabel. Hal ini berarti bahwa untuk mampu melaksanakan fungsi pemerintah dengan baik maka organisasi birokrasi harus profesional, tanggap, aspiratif terhadap berbagai tuntutan masyarakat yang dilayani.
Seiring dengan hal tersebut pembinaan aparatur negara dilakukan secara terus-menerus agar dapat menjadi alat yang efisien dan efektif, bersih dan berwibawa sehingga mampu menjalankan tugas-tugas umum pemerintah maupun untuk menggerakkan pembangunan secara lancar dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian terhadap masyarakat.
birokrasi yang sesuai dengan harapan dari masyarakat. Hal ini yang akan menjadikan negara yang maju dalam hal pelayanan kepada warganya dan melahirkan pada terwujudnya birokrasi yang bersih, akuntabel dan transparan.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah maka Kota Bandar Lampung sebagai daerah otonomi mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Untuk dapat mewujudkan penyelenggaraan otonomi daerah yang benar-benar sehat atau untuk mewujudkan kesesuaian antara prinsip dan praktek penyelenggaraan otonomi daerah, maka Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung menetapkan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung sebagai instansi pemerintah daerah di Kota Bandar Lampung yang menangani masalah ketenagakerjaan melalui pelayanan yang dilakukan oleh birokrasinya.
Berdasarkan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, mempunyai fungsi :
1. Perumusan kebijakan teknis dibidang ketenagakerjaan
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya, dan
Adapun pelayanan yang diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung adalah:
1. Pembuatan kartu angkatan kerja (AK/I) sebagai kartu tanda pencari kerja
2. Pembuatan kartu angkatan kerja (AK/II) sebagai kartu induk pencari kerja
3. Pembuatan kartu angkatan kerja (AK/IV) sebagai kartu panggilan pencari kerja
4. Pembuatan kartu angkatan kerja (AK/V) sebagai surat pengantar untuk mengisi lowongan suatu pekerjaan.
Pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) adalah sebagai tanda pendaftaran, kartu identitas, dapat juga digunakan sebagai lampiran permohonan (berlaku untuk melamar pekerjaan). Khususnya untuk melamar menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Kartu pencari kerja (AK/I) merupakan salah satu syarat utama untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil dan juga untuk pendaftaran lowongan kerja di beberapa perusahaan swasta.
Tabel. 1. Pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I) berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2008/2009.
NO Tingkat Pendidikan
Tahun 2008 Tahun 2009
LK Prm Jml LK Prm Jml
1 SD 57 22 79 8 2 10
2 SLTP 128 35 163 72 16 88
3 SLTA 3.009 2.093 5.102 2.480 1.056 3.536 4 DI, DII, DIII 396 727 1.123 146 259 405 5 SARJANA
(S1+)
1.078 1.338 2.416 464 547 1.011
JUMLAH 4.668 4.215 8.883 3.170 1.880 5.050 Sumber; Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, Tahun 2009
Melihat dari tabel pencari kerja di atas, banyaknya pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I) dari tingkat pendidikan SD sampai dengan Sarjana (S1+), menuntut Dinas Tenaga Kerja untuk bekerja lebih profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Baik buruknya pelayanan yang diberikan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung sangat berpengaruh terhadap hasil yang ingin dicapai. Jika pelayanan yang diberikan tidak baik sebagai pihak yang dilayani maka masyarakat tidak akan merasakan hasil yang memuaskan.
informasi mengenai prosedur pelayanan dalam pembuatan kartu pencari kerja (AK/I).
Sebagai organisasi pemerintah yang menangani masalah ketenagakerjaan, sudah selayaknya Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung senantiasa mengupayakan untuk mengoptimalkan kinerjanya dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) untuk memenuhi kebutuhan serta kepentingan masyarakat. Keberhasilan pemerintah ditandai dengan keberhasilan para penyelenggara negara, termasuk didalamnya adalah aparatur pemerintah dalam pelaksanaan tanggung jawab pemerintah yang esensinya adalah penyelenggara fungsi pelayanan. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengetahui “Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dalam
Pelayanan Pembuatan Kartu Pencari Kerja (AK/I) pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahan “Bagaimana Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelayanan Pembuatan Kartu Pencari Kerja (AK/I) pada Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung?”.
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menambah khasanah Ilmu Pemerintahan khususnya yang berkaitan dengan kinerja aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan publik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Kinerja
1. Pengertian Kinerja
Kinerja yang berarti pelaksanaan kerja merupakan suatu proses untuk pencapaian suatu hasil. Kinerja merupakan hasil kerja atau prestasi kerja. Kinerja mempunyai makna lebih luas, bukan hanya menyatakan sebagai hasil kerja, tetapi juga bagaimana proses kerja berlangsung. Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.
Kinerja dalam arti yang sederhana adalah prestasi kerja L.W Rue dan L.L Byars dalam Yudoyono (2001:158) mendefinisikan kerja (performance) sebagai “the degree of accomplishment” atau tingkat pencapaian hasil. Menurut Mangkunegara (2006:67), pengertian kenerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab yang diberikan padanya.
“kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi atau institusi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi atau institusi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan etika dan moral”.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Kusnadi (2002:267) kinerja adalah setiap gerakan, perbuatan, pelaksanaan, kegiatan, atau tindakan sadar yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan atau target tertentu, dan tanpa adanya kinerja berarti tidak ada upaya untuk mencapai hasil atau target tersebut. Kinerja juga dapat diartikan sebagai hasil dari fungsi suatu pekerjaan, satu kegiatan tertentu selama periode tertentu yang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi atau institusi. Dalam hal ini periode kinerja juga ditentukan oleh kriteria-kriteria tertentu dan kriteria kinerja yang baik menurut Simamora (Moenir,1992:134) adalah :
a. kriteria yang baik haruslah mampu diukur dengan cara yang dapat dipercaya
b. kriteria yang baik haruslah mampu membedakan individu-individu sesuai dengan kinerja mereka
c. kriteria yang baik haruslah sensitif terhadap masukan-masukan dari tindakan pemegang jabatan
d. kriteria yang baik haruslah dapat diterima oleh individu yang mengetahui kinerjanya yang sedang dinilai
2. Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja menurut Harbani Pasolong (2007:182) pada dasarnya digunakan untuk penilaian atas keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan, program, dan/kebijakan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan misi dan visi instansi pemerintah.
Definisi serupa juga dikemukakan Mahsun (2006:25) pengukuran kinerja adalah suatu metode atau alat yang digunakan untuk mencatat dan menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan, sasaran dan strategi sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Sedangkan menurut Lohman dalam (Mahsun,2006:25) pengukuran kinerja merupakan suatu aktifitas penilaian pencapaian target-target tertentu yang diderivasi dari tujuan strategis organisasi.
Sedangkan Mardiasmo dalam Tangkilisan (2005:177) mengemukakan bahwa tolak ukur kinerja organisasi publik berkaitan dengan ukuran keberhasilan yang dapat dicapai oleh organisasi tersebut. Satuan ukur yang relevan yang digunakan adalah efisiensi pengelolaan dan tingkat kualitas pelayanan yang dapat diberikan kepada publik.
3. Model Pengukuran Kinerja
Menurut Johson dan Lewin dalam (Widodo,2001) pengukuran kinerja dapat dibedakan dalam beberapa model, yaitu :
1. Model Tujuan (Goals Model)
Kinerja organisasi dalam model tujuan (Goals Model) disamakan dengan efektifitas yang diukur dari produktifitas dan pencapaian tujuan. Efektifitas model tujuan menyadarkan pada spesifikasi hirarki tujuan, sasaran dan ukuran hasil (effect) yang ditetapkan secara formal. Pendekatan model tujuan menekankan bahwa organisasi yang efektif adalah organisasi yang mengorganisir serangkaian tujuan, menentukan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Efektifitas model tujuan menekankan pada analisis biaya program (program cost) dikaitkan dengan hasil (program effect) program.
2. Model Sistem (System Model)
menjadi konsep efektifitas pada kebanyakan literatur kontemporer. Pendekatan sistem sering juga disebut model sistem atau teori sistem alamiah efektifitas organisasi. Efektifitas organisasi dipandang sebagai konsep yang sulit untuk dioperasionalkan pada suatu model sistem yang menampakkan posisi efektivitas sebagai suatu resultante dari berbagai karekteristik sistem.
3. Model Desain Sistem Keputusan (Decision System Keputusan Model) Ukuran efisiensi dinyatakan secara tidak langsung oleh pendekatan model desain sistem keputusan yaitu konsep kesejahteraan ekonomi mengenai efisiensi dari keseluruhan sistem (total-system efficiency). Total sistem seperti sistem (ekonomi, pemerintahan, dan organisasi) dikatakan efisien jika setiap melakukan reorganisasi menambah atau memperbesar nilai satu variabel akan mengurangi nilai variabel lainnya.
Konsep efisiensi di atas dapat diterapkan pada desain sistem yang berusaha menciptakan kontek pembuatan keputusan dimana pengeluaran pemerintah dapat dikomparasikan dengan tingkat penerimaan. Dengan kata lain, program pemerintah dapat dibuat lebih efisien dengan menaruh perhatian pada ukuran baik pada input program maupun output program dan membuat keputusan alokasi sumber daya diantara alternatif program yang tersedia.
output pendekatan sistem keputusan memiliki limitasi yang signifikan, output tidak diukur pada organisasi secara keseluruhan. Setelah manipulasi semua data program, semua kinerja diartikan dalam konteks proses internal seperti yang ada dalam model sistem.
Menurut Cristopher Pollit dan Geer Bouckaert dalam (Keban,2004:206) mengemukakan model pengukuran kinerja program yang sangat populer yaitu model input/output (the input/output model). Model ini mengasumsikan bahwa institusi/program dibangun untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi tertentu. Berdasarkan tujuan tersebut disusun tujuan organisasi atau program. Organisasi atau program menyediakan input (staf, gedung, sumber daya), menyusun kegiatan-kegiatan (activities) untuk mengolah input tersebut dalam proses tertentu untuk menjadi output. Output yang dihasilkan kemudian berinteraksi dengan lingkungan sehingga memberi hasil tertentu (result) atau disebut intermediate outcomes, dan dalam jangka panjang hasil
tersebut menjelma menjadi dampak atau final outcomes.
Dalam model input/output ini, parameter penilaian kinerja terdiri :
a. Relevansi, yaitu mengukur keterkaitan atau relevansi antara kebutuhan dengan tujuan yang dirumuskan
b. Efisiensi, yaitu perbandingan antara input dengan output
c. Efektifitas, yaitu tingkat kesesuaian antara tujuan dengan intermediate outcomes (result) dan final outcomes (impacts)
Sedangkan pernyataan yang dikemukakan oleh Mahsun (2006:77-78), kinerja dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, yaitu :
a. Masukan (Input)
Adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini mengukur jumlah sumber daya seperti anggaran (dana), sumber daya manusia, peralatan, material dan masukan lain, yang dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan.
b. Proses (Process)
Dalam indikator proses, organisasi merumuskan ukuran kegiatan, baik dari kecepatan, ketepatan, maupun tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
c. Keluaran (Output)
Adalah sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan non fisik. Indikator keluaran digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu kegiatan. d. Hasil (Outcome)
e. Manfaat (Benefit)
Adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan. Indikator manfaat menggambarkan manfaat yang diperoleh dari indikator hasil.
f. Dampak (Impact)
Adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif.
B. Tinjauan Tentang Dinas Tenaga Kerja
Dinas adalah unsur pelaksana pemerintah daerah kota yang dipimpin oleh Kepala Dinas, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Berdasarkan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, Dinas Tenaga Kerja mempunyai :
1. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Tenaga Kerja
Dinas mempunyai tugas pokok yaitu melaksanakan urusan pemerintah daerah dibidang ketenagakerjaan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan serta perundang-undangan yang berlaku.
Fungsi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung antara lain : a. Perumusan kebijakan teknis dibidang ketenagakerjaan
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya, dan d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas
C. Tinjauan Tentang Pelayanan
1. Pengertian Pelayanan Publik
Pelayanan umum menurut Widodo, (2001:269) diartikan sebagai pemberi layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Hanif Nurcholis (2005:175) mengemukakan bahwa pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara dan badan-badan negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Pelayanan umum oleh Lembaga Administrasi Negara diartikan sebagai segala bentuk barang atau jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
2. Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik
Di dalam KEPMENPAN No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 disebutkan bahwa penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi beberapa prinsip pelayanan publik antara lain :
1. Kesederhanaan
Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan
2. Kejelasan
a. persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik
b. unit kerja pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik
c. rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayaran 3. Kepastian Waktu
Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan
4. Akurasi
Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah 5. Keamanan
6. Tanggung Jawab
Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik
7. Kelengkapan Sarana dan Prasarana
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyedia sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika)
8. Kemudahan Akses
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informatika
9. Kedisiplinan, Kesopanan dan Keramahan
Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas
10. Kenyamanan
3. Faktor-Faktor Pendukung Pelayanan
Moenir (1992:27) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mendukung terlaksananya pelayanan yaitu :
1. Kesadaran pejabat dan juga petugas serta kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya, diharapkan akan membawa mereka untuk melaksanakan tugasnya dengan penuh kesungguhan dan disiplin, yang merupakan faktor saling menentukan bagi pelayanan yang baik dan memuaskan
2. Peraturan yang menjadi landasan kerja pelayanan setiap organisasi yang menyangkut jalannya organisasi tersebut. Dengan peraturan yang telah ditetapkan diharapkan setiap kegiatan dan pekerjaan akan berjalan dengan tertib dalam mencapai tujuan yang ditetapkan
3. Faktor organisasi (pengorganisasian). Pengorganisasian yang dimaksud adalah organisasi ini tidak semata-mata mengenai pembentukan organisasi tetapi lebih banyak diarahkan pada peraturan-peraturan dan mekanisme kerjanya yang harus mampu menghasilkan pelayanan yang memadai. Sistem metode dan prosedur yang ditetapkan dalam organisasi harus mendukung pelaksanaan pelayanan
4. Pendapatan pegawai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum. Pendapatan ini dapat menciptakan ketenangan dalam bekerja, sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya
lebih mempercepat, memperlancar, dan meningkatkan mutu pelayanan dengan penempatan petugas yang sesuai dengan bidang kemampuannya. 6. Sarana pelayanan yang memadai. Tersedianya sarana pelayanan yang
memadai sesuai dengan jenis dan bentuk pelayanan akan lebih mendorong terciptanya efisiensi dan efektifitas pelayanan.
D. Tinjauan Tentang Kartu Pencari Kerja (AK/I)
Kartu pencari kerja (AK/I) berukuran 15 x 11,5 Cm dengan warna kuning. Kartu pencari kerja (AK/I) adalah sebagai tanda pendaftaran kartu identitas, dapat juga digunakan sebagai lampiran permohonan (berlaku untuk melamar pekerjaan) khususnya untuk melamar menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil, AK/I merupakan persyaratan utama.
Persyaratan dalam pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) :
a. Pas foto berwarna ukuran 3 x 4 cm sebanyak 2 (dua) lembar; b. Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku
c. Fotokopy ijasah pendidikan terakhir
d. Fotokopy sertifikat keterampilan bagi yang memiliki
e. Fotokopy surat keterangan pengalaman kerja bagi yang memilliki
bersangkutan telah diterima bekerja kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.
E. Kerangka Pikir
Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintah daerah dibidang ketenagakerjaan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan serta perundang-undangan yang berlaku. Dinas Tenaga Kerja merupakan salah satu instansi pemerintah daerah yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam memberikan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I).
Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung setiap harinya melayani pemohon kartu pencari kerja (AK/I) antara 10 sampai 20 orang pemohon. Kantor Dinas Tenaga Kerja biasanya akan padat dikunjungi pencari kerja pada saat pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil, petugas dapat melayani pemohon sampai ratusan pencari kerja yang ingin membuat kartu pencari kerja (AK/I).
Berdasarkan pemaparan di atas, untuk mengukur kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dengan menggunakan pernyataan yang dikemukakan oleh Mahsun (2006:77-78) bahwa kinerja dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, yaitu Masukan (Input), Proses (Process), Keluaran (Output), Hasil (Outcomes), Manfaat
(Benefit), Dampak (Impact).
dapat mencapai hasil kinerja yang memuaskan masyarakat sebagai penerima pelayanan.
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir
Kinerja dapat diukur dengan menggunakan :
1. Masukan (Input) 2. Proses (Process) 3. Keluaran (Output) 4. Hasil (Outcomes) 5. Manfaat (Benefit) 6. Dampak (Impact)
(Sumber:Mahsun,2006:77-78)
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.288 Tahun 1992 (KEP 288/MEN/1992) ditetapkan sebagai “Hari Jadi” Departemen Tenaga Kerja. Berdasarkan Keputusan Presiden No.44 Tahun 1974, Departemen Tenaga Kerja berubah menjadi Depertemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi. Dalam perkembangannya Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi mengalami perubahan dengan dipindahkannya urusan Koperasi ke Departemen Perdagangan, kemudian disempurnakan kembali setelah masalah urusan Transmigrasi dilimpahkan ke Departemen Transmingrasi. Karena adanya otonomi daerah, maka pada bulan Januari 2001 Departemen Tenaga Kerja diubah namanya menjadi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung yang berlokasi di Jl. Pangeran Diponegoro No.52 Lungsir Bandar Lampung.
B. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
Visi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung yaitu : “Terwujudnya tenaga
kerja yang berkualitas, mandiri, profesional berakses global dan sejahtera”.
Sedangkan Misi yang diemban oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung adalah :
1. Menciptakan perluasan kesempatan kerja dan pengurangan pengangguran melalui penempatan tenaga kerja di dalam dan luar negeri
2. Meningkatkan tenaga kerja yang terampil, produktif dan profesional serta mandiri secara menyeluruh konsisten dan berkesinambungan 3. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis berkesinambungan
untuk kemajuan usaha dan kesejahteraan pekerja
4. Mewujudkan kepastian hukum dalam bekerja dan berusaha untuk mencapai kehidupan yang layak
5. Meningkatkan motivasi kerja dan pelayanan administrasi dalam menunjang pelayanan teknis operasional
C. Struktur Organisasi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
Walikota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2008 tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung yang tediri dari :
1. Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung
Kepala Dinas Tenaga Kerja mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasikan dan melaksanakan sebagian urusan pemerintahan daerah dibidang ketenagakerjaan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kebijakan yang diberikan oleh Walikota.
2. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas dibidang kesekretariatan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Sekretariat mempunyai fungsi :
a. Pengelolaan urusan penyusunan program, monitoring dan evaluasi b. Pengelolaan urusan administrasi umum dan kepegawaian
c. Pengelolaan urusan keuangan
Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud, Sekretariat dibantu oleh :
a. Sub Bagian Penyusunan Program, Monitoring dan Evaluasi b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
c. Sub Bagian Keuangan
3. Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja
tenaga kerja serta perluasan tenaga kerja. Untuk melaksanakan tugas tersebut Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan bimbingan antar kerja dan bimbingan perijinan tenaga kerja dan tenaga kerja asing
b. Pembuatan konsep rekomendasi ketenagakerjaan c. Pelaksanaan bimbingan Teknologi Tepat Guna
d. Pelaksanaan bimbingan penyaluran dan perluasan kerja
Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud, Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja dibantu oleh :
a. Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja b. Seksi Penempatan Tenaga Kerja
c. Seksi Pengembangan dan Perluasan Kerja
4. Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja
Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja mempunyai tugas membimbing dan membina Lembaga Latihan Swasta dan Pemerintah di bidang pelatihan dan kursus keterampilan, melaksanakan pelatihan kerja serta membuat konsep surat berkaitan dengan pelatihan dan pemagangan serta produktivitas tenaga kerja. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan pembinaan dan bimbingan lembaga latihan kerja swasta/pemerintah dan kursus-kursus keterampilan
c. Pemberian ijin penyelenggaraan pelatihan bagi lembaga latihan kerja dan kursus keterampilan
d. Pelaksanaan peningkatan SDM tenaga kerja melalui pelatihan e. Pelaksanaan pembinaan terhadap tenaga kerja magang dan
perusahaan
f. Pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga di bidang pelatihan tenaga kerja magang
g. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan terhadap tenaga kerja magang
h. Pelaksanaan bimbingan pelatihan produktivitas tenaga kerja kepada perusahaan
i. Pelaksanaan pembinaan peningkatan produktivitas di perusahaan
Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud, Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja dibantu oleh :
a. Seksi Pelatihan Kerja dan Perizinan Lembaga Pelatihan Kerja b. Seksi Pemagangan Tenaga Kerja
c. Seksi Produktivitas Tenaga Kerja
5. Bidang Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja
melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan. Untuk melaksanakan tugas tersebut Bidang Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan pembinaan syarat-syarat kerja di perusahaan
b. Pelaksanaan pembinaan, pencatatan organisasi pekerja dan pengusaha
c. Pelaksanaan penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
d. Pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan hubungan industrial pancasila
e. Pelaksanaan pembinaan perusahaan tentang pembentukan koperasi karyawan
f. Pelaksanaan pembinaan Lembaga Kerja Swasta (LKS) bipartite dan tripartite
g. Pelaksanaan pembinaan pengusaha tentang program kesejahteraan Pekerja
Dalam meyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud, Bidang Hubungan Industrial dan Persyaratan Kerja dibantu oleh :
a. Seksi Hubungan Industrial b. Seksi Persyaratan Kerja
c. Seksi Pemberdayaan Organisasi dan Kelembagaan Tenaga Kerja
6. Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan
bimbingan, pemantauan dan pengawasan penerapan peraturan ketenagakerjaan serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan Norma Ketenagakerjaan b. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan penerapan Jaminan
Sosial Tenaga Kerja
c. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja
d. Pembinaan dan penyuluhan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
Dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud, Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan dibantu oleh :
a. Seksi Norma Ketenagakerjaan
b. Seksi Kecelakaan Kerja dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja c. Seksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
D. Kondisi Sumber Daya Manusia
Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai jumlah pegawai Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung berdasarkan jabatan, golongan dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel. 2. Jumlah Pegawai Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung berdasarkan jabatan
No Jabatan Jumlah
1 Kepala Dinas 1 orang
2 Sekretaris 1 orang
3 Kepala Bagian 3 orang
4 Kepala Bidang 4 orang
5 Kepala Seksi 12 orang
6 Staf 41 orang
Jumlah 62 orang
[image:54.595.137.420.258.391.2]Sumber; Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, Tahun 2008
Tabel. 3. Jumlah Pegawai berdasarkan golongan
No Golongan Jumlah
1 Golongan IV 10 orang
2 Golongan III 45 orang
3 Golongan II 6 orang
4 Golongan I 1 orang
Jumlah 62 orang
Sumber; Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, Tahun 2008
Tabel. 4. Jumlah Pegawai berdasarkan jenis kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah
1 Laki-Laki 43 orang
2 Perempuan 19 orang
Jumlah 62 orang
[image:54.595.138.421.450.549.2] [image:54.595.136.434.609.678.2]V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelayanan Pembuatan Kartu Pencari Kerja (AK/I)
Pada bab ini akan di uraikan hasil penelitian yang menyajikan data yang telah diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang disertai dengan penjelasan-penjelasan untuk mempermudah dalam melakukan proses pembahasan hasil penelitian. Adapun uraian hasil dan pembahasan didasarkan pada fokus penelitian yang telah ditetapkan.
Untuk mengukur kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dengan menggunakan pernyataan yang dikemukakan oleh Mahsun (2006:77-78), bahwa kinerja dapat diukur dengan menggunakan indikator, yaitu :
A. Masukan (Input)
Pada bagian Masukan (Input) dalam penelitian ini, untuk mengukur kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dengan menggunakan indikator :
1. Sumber Dana
a. Sumber dana dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Ahmad Suwandi Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja mengatakan :
“Pelaksananaan pelayanan publik sangat bergantung pada sumber dana yang
ada. Dinas Tenaga Kerja memberikan pelayanan kepada pencari kerja dan pengguna jasa tenaga kerja. Untuk menjalankan pelayanan tersebut pastinya sangat membutuhkan dana. Sumber dana dalam pelayanan pembuatan kartu pencari ini berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sumber dana yang ada tidak hanya untuk pelaksanaan pelayanan kartu pencari kerja saja tetapi untuk kegiatan ketenagakerjaan lainnya, jadi sumber dana yang dimiliki harus sesuai dengan kegiatan pelayanan yang dilakukan. Jika dilihat dari pelaksanaan pelayanan kartu pencari kerja, sumber dana untuk kegiatan ini masih kurang membantu untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat atau pencari kerja dan pengguna jasa tenaga kerja. Sumber dana pelayanan kartu pencari kerja ini termasuk dalam bidang Penempatan dan Perluasan Kerja”. (Sumber:hasil wawancara 25
Bapak Suhendi dan Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) juga mengatakan hal yang sama :
“Sumber dana merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan kegiatan
untuk mendorong terwujudnya penyelenggaraan pelayanan publik yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan baik bagi pemberi maupun penerima pelayanan. Sumber dana dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja ini masih kurang dalam memenuhi kebutuhan serta kepentingan dalam pelaksanaan pelayanan. Kegiatan pelayanan kartu pencari kerja terdapat dalam bidang Penempatan dan Perluasan Kerja dengan sumber dana berasal dari APBD”. (Sumber:hasil wawancara 25 Oktober 2010).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa sumber dana dalam suatu kegiatan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Pelaksanaan suatu kegiatan akan berjalan jika tersedianya sumber dana.
Salah satu kegiatan yang dilakukan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung di bidang ketenagakerjaan adalah memberikan pelayanan kepada pencari kerja yakni pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I), dengan pelayanan tersebut dapat membantu mengatasi permasalahan dibidang ketenagakerjaan. Data-data yang tersaji pada kegiatan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dapat dipergunakan dalam perumusan kebijakan dibidang ketenagakerjaan yang selanjutnya disusun suatu perencanaan untuk membentuk suatu program/kegiatan dalam mengatasi masalah dibidang ketenagakerjaan. Berdasarkan uraian di atas dengan demikian dana APBD yang digunakan untuk pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) harus benar-benar dapat termanfaatkan untuk pembangunan sarana fisik maupun peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan melakukan inovasi, kreatif, serta efisiensi.
2. Sumber Daya Manusia
a. Jumlah petugas pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Sumber daya manusia merupakan salah satu aset penting yang dimiliki oleh suatu lembaga atau organisasi, karena sumber daya manusia merupakan subyek dalam setiap aktivitas organisasi publik dan juga merupakan penggerak dalam sebuah organisasi publik. Kemampuan yang dimiliki pegawai dapat menunjang keberhasilan pencapaian tujuan dan kinerja organisasi yang salah satunya adalah untuk melayani masyarakat.
“Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mempunyai 3 orang petugas
yang bertugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja. Diantaranya Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja, Bapak Suhendi dan Saudari Indri. Jumlah petugas dalam pelayanan (AK/I) sudah cukup memadai, kami tidak mengalami kesulitan karena semua petugas sudah memahami tugasnya”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Menurut Bapak Suhendi selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Jumlah petugas dalam pelayanan kartu pencari kerja ada 3 orang.
Seharusnya ada petugas resepsionist tetapi dengan jumlah tersebut sudah cukup memadai. Setiap harinya kami melayani 10-20 orang yang membuat AK/I. Mungkin hanya waktu tertentu saja saat pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil sebagian pegawai di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dilibatkan untuk membantu dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja, karena pada saat pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil pencari kerja memadati kantor Dinas Tenaga Kerja untuk membuat kartu pencari kerja”.
(Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Sedangkan menurut Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Jumlah petugas pelayanan kartu pencari kerja ada 3 orang, dengan jumlah
Pendapat yang berbeda diutarakan oleh Wahyu pencari kerja yang sedang membuat kartu pencari kerja (AK/I) di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mengatakan :
“Jumlah petugas yang memberikan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja
di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung sepertinya masih kurang. Proses pelayanan terkadang tidak teratur karena tidak ada pembagian tugas yang jelas dalam memberikan pelayanan. Apalagi jika banyak pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja”. (Sumber:hasil wawancara 1 September
2010).
Hal yang sama juga diutarakan Ida pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I) di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mengatakan : “Sebaiknya jumlah petugas ditambah lagi supaya proses pelayanannya dapat
lebih cepat”. (Sumber:hasil wawancara 1 September 2010).
Sumber daya manusia menurut Sulistiyani (2003:9) dalam konteks organisasi publik dipahami sebagai potensi manusiawi yang melekat keberadaannya pada seorang pegawai yang terdiri dari potensi fisik dan potensi non fisik. Potensi fisik adalah kemampuan yang terakumulasi pada seorang pegawai, sedangkan potensi non fisik adalah kemampuan seorang pegawai yang terakumulasi baik dari latar belakang pengetahuan, intelegensia, keterampilan, dan human relations.
Berdasarkan uraian di atas apabila dilihat dari ketersediaan sumber daya manusia Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dalam memberikan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) perlu adanya penambahan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Petugas yang memiliki kemampuan, keahlian dan kecakapan yang sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Saling bekerjasama memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat kepada pencari kerja, apalagi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dilakukan secara manual akan membutuhkan ketelitian dalam pembuatannya. Disamping itu dibutuhkan tanggung jawab petugas dalam melaksanakan tugasnya. Tanggung jawab petugas yang tinggi terhadap kinerjanya secara langsung dapat meningkatkan kemampuan petugas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
b. Latar belakang pendidikan petugas pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
setiap program atau kegiatan. Kualitas sumber daya manusia akan sangat mendukung dalam menunjang suatu pekerjaan.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Ahmad Suwandi selaku Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja mengatakan :
“Latar belakang pendidikan petugas sebagain besar sarjana. Petugas
pelayanan ini tidak harus mempunyai pendidikan khusus. Petugas ditunjuk oleh pejabat yang berwenang yang memiliki pengetahuan tentang antar kerja. Dalam menjalankan pelayanan ini petugas juga mempunyai pedoman kerja bagi setiap petugas tehnis antar kerja”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Antar Kerja adalah suatu mekanisme pelayanan kepada pencari kerja untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya baik untuk sementara waktu maupun tetap dan baik dalam hubungan kerja maupun usaha mandiri serta pelayanan kepada pemberi kerja untuk memperoleh tenaga kerja sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut Bapak Suhendi dan Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan hal yang sama :
“Latar belakang pendidikan petugas tidak harus ada pendidikan khusus.
Petugas sudah menguasai tehnis dalam melakukan pelayanan kepada pencari kerja berdasarkan pedoman kerja. Tugas pelayanan pembuatan kartu pencari kerja juga tidak terlalu sulit”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
mengembangkan metode berpikir secara sistematik agar dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi dikemudian hari.
Latar belakang pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menjalankan tugas yang dijalankan untuk mencapai hasil yang baik dan maksimal. Pendidikan merupakan faktor yang perlu diperhatikan, dengan pendidikan dapat diperoleh gambaran tentang pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tenaga kerja.
3. Fasilitas
a. Fasilitas yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Selain kuantitas dan kualitas sumber daya manusia fasilitas juga merupakan aspek penunjang yang berfungsi sebagai wadah atau tempat bagi terselenggaranya suatu kegiatan, dengan adanya fasilitas yang baik maka akan mendukung pelaksanaan suatu kegiatan sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Ahmad Suwandi Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja mengatakan :
“Fasilitas yang dimiliki dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja
adalah komputer 1 (satu) unit, mesin ketik dan 2 lemari untuk menyimpan data. Fasilitas dalam pelayanan ini masih kurang memadai. Seperti komputer yang hanya 1 (satu) unit dan peralatan seperti mesin fotokopy”.
(Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Menurut Bapak Suhendi selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Fasilitas pelayanan kartu pencari kerja terdapat ruang khusus pelayanan,
tempat parkir, kantin serta toilet. Fasilitas dalam pelayanan ini masih ada keterbatasan seperti penyediaan teknologi kami masih kurang”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
“Fasilitas di Dinas ini masih kurang. Ruang tunggu pelayanan juga masih terbatas apalagi jika banyak pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja”.
(Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Rori pencari kerja yang sedang membuat kartu pencari kerja (AK/I) di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mengatakan :
“Fasilitas pelayanan di Dinas ini menurut saya masih kurang, seperti kursi
ruang tunggu pelayanan banyak pencari kerja yang berdiri menunggu pelayanan selesai. Dinas ini juga tidak menyediakan mesin fotokopy. Sehingga terjadi pungutan-pungutan liar untuk biaya fotokopy kartu pencari kerja”.(Sumber:hasil wawancara 1 September 2010).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung masih kurang memadai. Kurangnya ketersediaan fasilitas dalam pelayananan dapat menghambat kerja dari petugas untuk memberikan pelayanan yang berkualitas.
Melihat dari fasilitas yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung dalam praktek penyelenggaraan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) kurang memiliki fasilitas yang menunjang, seperti penyediaan sarana teknologi komputer, peralatan mesin fotokopy dan ruang tunggu pelayanan. Fasilitas juga merupakan hal yang penting, jika fasilitas kurang mendukung dapat menghambat kerja pegawai untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan melakukan tugasnya dengan cepat. Fasilitas tersebut diharapkan mampu memunculkan kinerja pegawai dalam melakukan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) melalui penggunaan dan penerapan teknologi mampu mempermudah dan memperlancar proses pelayanan. Di samping itu kelengkapan fasilitas pelayanan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan masyarakat serta penyelenggara pelayanan sendiri.
B. Proses (Process)
Dalam indikator proses, organisasi merumuskan ukuran kegiatan, baik dari kecepatan, ketepatan maupun tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pada bagian Proses (Process) dalam penelitian ini, untuk mengukur kinerja Dinas Tenaga Kerja dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dengan menggunakan indikator :
1. Kecepatan petugas dalam pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
“Penyelesaian pelayanan pembuatan kartu pencari kerja menurut saya tidak
memakan waktu yang lama. Mulai dari penyerahkan persyaratannya hingga penyelesaian pembuatan kartu pencari kerja petugas hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit. Karena semua petugas juga sudah paham dengan tugasnya jadi tidak memerlukan waktu yang lama untuk penyelesaiannya”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Menurut Bapak Suhendi selaku petugas pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Proses pembuatan kartu pencari kerja cepat, sekitar 10 menit sudah jadi.
Tidak lama prosesnya asal syarat-syaratnya lengkap kami bisa layani dengan cepat”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Sedangkan menurut Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Pelayanan kartu pencari kerja ini hanya sebentar antara 10-15 menit saja
pencari kerja sudah bisa mendapatkan kartu pencari kerja (AK/I)”. (Sumber:hasil wawancara 26 Agustus 2010).
Menurut Wahyu pencari kerja yang membuat kartu pencari kerja (AK/I) di Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung mengatakan :
“Waktu pelayanan pembuatan kartu pencari kerja jika tidak ramai prosesnya sekitar 15 menit sudah selesai”. (Sumber:hasil wawancara 1 September
2010).
“Pembuatannya sekitar 15 menit sudah selesai”. (Sumber:hasil wawancara 1
September 2010).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) kecepatan petugas dalam pelaksanaan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) tidak adanya ketetapan waktu yang diinformasikan dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I).
Kecepatan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) dapat dilihat dari waktu yang digunakan petugas dalam melakukan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Waktu yang digunakan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Pelaksanaan pelayanan yang dilakukan dengan waktu yang telah ditentukan maka kinerja dari sebuah pelayanan dapat dinyatakan baik. Seperti yang diungkapkan oleh Kusnadi (2002:267) kinerja yang baik memiliki karakteristik selalu dikaitkan dengan waktu yang telah diukur.
(AK/I) dapat dipastikan dengan adanya standar waktu yang ditetapkan oleh unit pelaksana pelayanan dengan menginformasikan waktu pelayanan secara jelas kepada pencari kerja, sehingga pencari kerja dapat mengetahui waktu penyelesaian pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Seperti yang terdapat pada Keputusan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/26/M.PAN/2/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik bahwa kepastian dan kurun waktu penyelesaian pelayanan publik harus diinformasikan secara jelas dan diletakkan di depan loket pelayanan.
2. Ketepatan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Ahmad Suwandi Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja mengatakan :
“Petugas dalam memberikan pelayanan kepada pencari kerja sesuai dengan
ketentuan yang ada. Selama ini belum ada pencari kerja yang mengeluh atas pelayanan yang petugas berikan kepada pencari kerja”. (Sumber:hasilwawancara 25 Oktober 2010).
Menurut Bapak Suhendi dan Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Ketepatan petugas sudah sesuai dengan fungsinya memberikan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja kepada pencari kerja”. (Sumber:hasil
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa ketepatan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Bedasarkan Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung sebagai Instansi Pemerintah yang mempunyai fungsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik melalui pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I). Pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) diberikan kepada pencari kerja yang mendaftar untuk mencari pekerjaan. Berdasarkan hal tersebut apabila dilihat dari ketepatan petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) sesuai dengan fungsi dan perannya yakni sebagai pemberi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) kepada pencari kerja.
3. Tingkat akurasi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Drs. Ahmad Suwandi Kepala Seksi Pendayagunaan Tenaga Kerja mengatakan :
“Kartu pencari kerja (AK/I) yang diterbitkan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota
Menurut Bapak Suhendi selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Akurasi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja sudah pasti. Dinas Tenaga
Kerja Kota Bandar Lampung adalah Instansi Pemerintah yang mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I)”. (Sumber:hasil wawancara 25 Oktober 2010).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Indri selaku petugas dalam pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) mengatakan :
“Kepastian pelayanan pembuatan kartu pencari kerja sudah jelas dan tidak
perlu diragukan lagi”. (Sumber:hasil wawamcara 25 Oktober 2010).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat akurasi pelayanan pembuatan kartu pencari kerja (AK/I) adalah pelayanan yang dapat diterima dengan benar.
C. Keluaran (Output)
Adalah sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan non fisik. Indikator kelua