GAMBARAN OPTIMISME SUAMI
YANG MENGALAMI CACAT
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh
MARGARETHA NOVITASARI
091301076
FAKULTAS PSIKOLOGI
Gambaran Optimisme Suami yang Mengalami Cacat
Margaretha Novitasari dan Rahma Fauzia
ABSTRAK
Optimisme merupakan keyakinan bahwa akan lebih banyak hal baik yang terjadi daripada hal yang buruk (Carr, 2004). Individu yang optimis akan berusaha untuk mencapai tujuan meskipun mengalami kesulitan (Carver & Scheier, 2001). Pada suami yang mengalami cacat, mereka harus menghadapi perubahan fisik yang diakibatkan karena kecelakaan ataupun penyakit. Optimisme dapat mempengaruhi bagaimana individu memandang keterbatasannya saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran optimisme suami yang mengalami cacat.
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 15 orang dengan teknik pengambilan sampel insidental. Penelitian ini menggunakan skala LOT-R (Life Orientation Test-Revised) dikembangkan oleh Carver dan Scheier berdasarkan pandangan mereka tentang optimisme. Skala ini terdiri dari 10 aitem yang terdiri dari 6 aitem yang diukur dan 4 aitem filler. Skala yang digunakan memiliki reabilitas 0,675. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa suami yang mengalami cacat lebih banyak
yang optimis dibandingkan dengan yang tidak terkategori (ambivalen). Dari 15 orang, 13 orang optimis dan 2 orang tidak terkategori. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun memiliki kecacatan mereka tetap bisa memiliki keyakinan untuk menghadapi kondisi tersebut.
Optimism of Disabled Husbands
Margaretha Novitasari and Rahma Fauzia
ABSTRACT
Optimism are expectation that more good thing than bad thing happen (Carr, 2004). Optimists try to achieve their goal although in the face of difficulties (Carver & Scheier, 2001). Disabled husband must have adaptation with their physical condition because accident or illness. Optimism can effect to their opinion in disability This research aim to know optimism of disabled husband.
Subject in this research consist of 15 person by incidental sampling. This research used LOT-R (Life Orientation Test-Revised) by Carver dan Scheier about optimism. Reability of this scale is 0,675. Result of this research, most husband who have disability optimist compared with those not categorized (ambivalen). From 15 person, 13 person optimis and 2 person ambivalen. This indicates that despite having a disability they can still have the confidence to deal with these conditions.
SKRIPSI
GAMBARAN OPTIMISME SUAMI
YANG MENGALAMI CACAT
Dipersiapkan dan disusun oleh:
MARGARETHA NOVITASARI
091301076
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 01 Juli 2015
Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi
Prof. Dr. Irmawati, psikolog NIP. 195301311980032001
Tim Penguji
1. Rahma Fauzia, M.Psi., psikolog Penguji I/ Pembimbing
NIP. 197905152010122002 ___________
2. Arliza J. Lubis, M. Si., psikolog Penguji II
NIP. 197803252003122002 ___________
3. Hasnida, M. Si., psikolog Penguji III
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan
sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:
Gambaran Optimis Suami yang Mengalami Cacat
merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Juni 2015
Margaretha Novitasari
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus
Kristus atas berkat dan segala kebaikan-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “Gambaran Optimisme Suami Yang
Menggalami Cacat” guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan
pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara serta meraih gelar
Strata 1 (S1).
Keberhasilan penulisan skripsi ini dapat terwujud tidak hanya hasil kerja
keras penulis sendiri namun juga berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih setulus-tulusnya
kepada berbagai pihak yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini dan
juga selama menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara, yaitu kepada:
1. Kedua orang tua penulis, Ir. Melvi Marthin dan Ir. Marsini Ambawani yang
telah memberikan dukungan moril dan material selama penulis menjalani
kuliah di psikologi dan menyelesaikan skripsi ini.
2. Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara.
3. Rahma Fauzia, M.Psi., psikolog selaku dosen pembimbing dan penguji
skripsi yang telah membimbing, memberikan kritik dan saran untuk
4. Arliza J. Lubis, M. Si., psikolog dan Hasnida, M.Si,, psikolog selaku dosen
penguji yang telah membimbing penulis selama revisi skripsi.
5. Rodiatul Hasanah Siregar M. Si., psikolog selaku dosen pembimbing
akademik penulis.
6. Kedua saudari penulis, Mbak Fani dan Dik Tia dan telah memberikan doa,
semangat, serta motivasi yang tiada henti kepada penulis.
7. Eyang Putri terima kasih untuk doanya selama ini. Keluarga besar dan
teman-teman dari mama dan papa yang selama ini telah banyak memberikan
motivasi dan dukungan serta membantu mencarikan responden untuk
penelitian ini.
8. Sahabat dan keluarga ku di kampus. Terima kasih Susi Trisnawaty, Desy,
Antony, Florence dan Ni Putu Defi yang telah menjadi sahabat penlis selama
ini, memberikan banyak masukan, bantuan dan motivasi selama mengerjakan
skripsi ini. Serefhy yang selalu bersedia diganggu kapan pun, terimakasih
untuk diskusinya selama ini.
9. Responden awal penulis, Pak Hutapea dan Alm. Pak Simarmata terimakasih
sudah bersedia berbagi cerita dengan penulis.
10. Responden yang terlibat dalam skripsi ini, terima kasih telah meluangkan waktu
mengisi skala penulis.
11. Terima kasih untuk seluruh keluarga besar Fakultas Psikologi USU. Dosen,
pegawai dan teman-teman mahasiswa terutama angkatan 2009.
Akhir kata penulis mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam
penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang membacanya.
Medan, Juni 2015
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR LAMPIRAN... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah... 6
C. Tujuan Penulisan ... 6
D. Manfaat Penulisan... 6
E. Sistematika Penulisan... 7
BAB II LANDASAN TEORI A.Optimisme... 9
1. Definisi Optimis, Optimistis dan Optimisme... 9
2. Optimisme dan Ekspextancy value Model... 10
3. Dampak Optimisme... 11
B. Suami yang Mengalami Cacat... 13
2. Cacat ... ... 15
3. Suami yang Mengalami Cacat... 16
C.Dinamika Antar Variabel... 17
D.Paradigma... 19
BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian... 20
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 20
C. Populasi, Sampel Penulisan dan Teknik Pengambilan Sampel... 21
1. Populasi dan Sampel... 21
2. Jumlah dan Teknik Pengambilan Sampel... 21
D. Metode Pengumpulan Data ... 22
E. Uji Coba Alat Ukur ... 23
1. Validitas Alat Ukur... 23
2. Reliabilitas Alat Ukur ... 23
3. Hasil Pengujian Alat Ukur... 23
F. Prosedur Penelitian... 24
1. Persiapan Penelitian... 24
2. Pelaksanaan Penelitian... 24
3. Pengolahan Data... 24
G. Metode Analisis Data ... 25
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisa Data... ... 27
2. Gambaran Optimisme Suami Cacat... 31
B. Pembahasan... 39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 45
B. Saran ... 45
1. Saran Metodologis... 45
2. Saran Praktis... 46
DAFTAR PUSTAKA……….... 47
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Skoring Aitem LOT-R... 22
Tabel 4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Faktor
Sosiodemografis... 27
Tabel 4.2. Kategorisaasi Optimisme... 31
Tabel 4.3. Gambaran Optimisme Suami Cacat Berdasarkan Faktor
DAFTAR LAMPIRAN
Gambaran Optimisme Suami yang Mengalami Cacat
Margaretha Novitasari dan Rahma Fauzia
ABSTRAK
Optimisme merupakan keyakinan bahwa akan lebih banyak hal baik yang terjadi daripada hal yang buruk (Carr, 2004). Individu yang optimis akan berusaha untuk mencapai tujuan meskipun mengalami kesulitan (Carver & Scheier, 2001). Pada suami yang mengalami cacat, mereka harus menghadapi perubahan fisik yang diakibatkan karena kecelakaan ataupun penyakit. Optimisme dapat mempengaruhi bagaimana individu memandang keterbatasannya saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran optimisme suami yang mengalami cacat.
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 15 orang dengan teknik pengambilan sampel insidental. Penelitian ini menggunakan skala LOT-R (Life Orientation Test-Revised) dikembangkan oleh Carver dan Scheier berdasarkan pandangan mereka tentang optimisme. Skala ini terdiri dari 10 aitem yang terdiri dari 6 aitem yang diukur dan 4 aitem filler. Skala yang digunakan memiliki reabilitas 0,675. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa suami yang mengalami cacat lebih banyak
yang optimis dibandingkan dengan yang tidak terkategori (ambivalen). Dari 15 orang, 13 orang optimis dan 2 orang tidak terkategori. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun memiliki kecacatan mereka tetap bisa memiliki keyakinan untuk menghadapi kondisi tersebut.
Optimism of Disabled Husbands
Margaretha Novitasari and Rahma Fauzia
ABSTRACT
Optimism are expectation that more good thing than bad thing happen (Carr, 2004). Optimists try to achieve their goal although in the face of difficulties (Carver & Scheier, 2001). Disabled husband must have adaptation with their physical condition because accident or illness. Optimism can effect to their opinion in disability This research aim to know optimism of disabled husband.
Subject in this research consist of 15 person by incidental sampling. This research used LOT-R (Life Orientation Test-Revised) by Carver dan Scheier about optimism. Reability of this scale is 0,675. Result of this research, most husband who have disability optimist compared with those not categorized (ambivalen). From 15 person, 13 person optimis and 2 person ambivalen. This indicates that despite having a disability they can still have the confidence to deal with these conditions.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia dihadapkan dengan tugas-tugas perkembangan dalam kehidupan
sehari-hari. Ketika memasuki masa dewasa salah satu tugas perkembangan yang
akan dilalui seorang individu adalah membentuk hubungan intim melalui
pernikahan (Papalia, et. la., 2007). Setelah menikah laki-laki dan perempuan akan
memiliki peran baru sebagai suami dan istri.
Menurut pandangan tradisional, peran utama laki-laki adalah sebagai
penguasa utama rumah tangga yang memiliki hak-hak istimewa dan otoritas
terbesar dalam keluarga dan anggota keluarga yang lain harus tunduk kepadanya.
Laki-laki dalam posisinya sebagai suami dan ayah merupakan figur sentral dalam
keluarga (Kusujiarti dalam Supriyantini, 2002). Sedangkan perempuan hidup di
lingkungan rumah tangga, melahirkan dan membesarkan anak, memasak dan
memberi perhatian kepada suaminya supaya tercipta rumah tangga yang tenteram
dan sejahtera (Budiman dalam Supriyantini, 2002).
Lebih lanjut dalam Undang-Undang Pernikahan No. 1 Tahun 1974 pasal
31 ayat 3, suami adalah kepala keluarga yang menuntut suami memiliki tanggung
jawab untuk melindungi istri dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup
berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Selain melindungi istri dan
memberikan keperluan hidup (nafkah), suami juga bertanggung jawab melindungi
tangga (Widyarini, 2009). Agama juga memiliki pandangan tertentu akan peran
suami. menurut tafsiran Al-Qur’an, 4:34, suami juga berperan untuk
membimbing, mendidik, serta mengayomi keluarganya (Chusniatun, 2011) dan
menurut agama Kristen suami memiliki tanggung jawab untuk mengasihi,
melindungi, mencukupi kebutuhan, dan memimpin keluarganya sebagai kepala
keluarga. Peran sebagai kepala keluarga ini menuntut laki-laki untuk memiliki
kondisi fisik dan psikologis yang baik, namun tidak semua kepala keluarga
memiliki kondisi fisik dan psikologis yang baik. Pada beberapa keluarga, kepala
keluarga mengalami cacat yang menyebabkan keterbatasan dalam menjalankan
perannya sebagai kepala keluarga.
Kondisi cacat ini ada yang telah dimiliki sejak lahir dan ada yang dialami
selama rentang kehidupan sebelum ataupun sesudah pernikahan. Cacat sejak lahir
umumnya dialami sejak masih dalam kandungan. Cacat selain bawaan sejak lahir,
biasanya disebabkan oleh bencana alam, kecelakaan ataupun cedera dalam
melakukan aktivitas sehari-hari (Tentama dalam Kasmayati, 2013). Menurut
WHO, cacat juga disebabkan karena penyakit, trauma atau kondisi kesehatan lain
(McLean, 2007). Salah satu contohnya seperti penyakit stroke yang penderitanya
akan mengalami gangguan motorik, sensorik, kognitif ataupun berbicara sebagai
akibat dari kerusakan otak yang dialami (Sarafino & Smith, 2011).
Cacat yang dialami membuat individu cenderung merasa dirinya tidak
berdaya, kurang percaya diri, rendah diri, sensitif, cemas, dan sering kali merasa
takut dirinya akan menjadi beban bagi orang lain (Carolina dalam Suparni, 2009).
umumnya menganggap orang yang cacat sebagai orang yang tidak mampu dalam
kehidupan sosial. Penolakan masyarakat terhadap individu cacat ini menyebabkan
munculnya perasaan rendah diri, perasaan sedih dan penyesalan akan kondisinya.
Mereka akhirnya cenderung menutup diri terhadap pergaulan, kurang dapat
menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan (Somantri, 2007).
Selain harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang dialami, suami
juga umumnya akan mengalami beberapa perubahan berkaitan dengan perannya
sebagai kepala keluarga. Kurangnya lapangan pekerjaan bagi penyandang cacat
menyebabkan mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan penghasilan
sendiri. Hal ini didukung dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun
2002, dari 20 juta penyandang cacat di Indonesia, sekitar 80 persennya tidak
memiliki pekerjaan.
Ketika cacat dialami oleh seorang suami maka tanggung jawabnya untuk
mencari nafkah akan mengalami hambatan. Hal ini di dapat peneliti dari
komunikasi personal dengan seorang bapak yang keluar dari pekerjaannya setelah
mengalami kecelakaan, yakni:
“Ya cemana lah ya. Pertamanya itu perasaan tersiksa lah sebenarnya, tapi misalnya ingatan sudah normal perasaan ku, ngomong pun sudah kata orang, tapi kok perasaan itu seperti tertekan kali lah, kayak yang saya bilang hari itu, gara-gara ini saya diberhentikan kerja, ya dalam istilah dipensiunkan, pensiun muda lah, karena dianggap tidak mampu lagi, sementara kebutuhan kan ada, tanggungan ada, disitu sedihnya”
(H, komunikasi Personal, 3 Desember 2013)
Selain mengganggu perannya sebagai pencari nafkah dalam keluarga
peran suami lainnya seperti sebagai pelindung keluarga, pengayom dan
melakukan aktivitas sehari-hari. Peran sebagai pencari nafkah bisa saja digantikan
oleh istri. Seperti yang dituturkan Ibu Sonti dalam sebuah artikel.
“Sejak tahun 1980 suami saya sakit dan tidak bisa bekerja, padahal anak-anak masih usia 8 tahun dan baru sekolah SD.. Selanjutnya dia menceritakan, sebelum sakit, suaminya bekerja layaknya sebagai kepala keluarga. Walaupun harus kerja keras di proyek-proyek bangunan. Tetapi semenjak sakit, tanggung jawab rumah tangga dan segala kebutuhan anak-anak termasuk biaya sekolah dia pikul sepenuhnya seorang diri.”
(http://m.merdeka.com/peristiwa/perjuangan-guru-sd-dengan-suami-stres-besarkan-dua-anak.html).
Istri yang pasangannya mengalami keterbatasan sejak sebelum menikah
lebih siap dengan kondisi rumah tangga yang akan sedikit berbeda dengan
keluarga lain. Sedangkan pada istri yang awalnya memiliki pasangan dengan fisik
sempurna namun sekarang memiliki suami dengan keterbatasan, hal ini bisa
menjadi sumber konflik dalam keluarga. Masalah keuangan contohnya, dimana
istri yang awalnya tidak bekerja terkadang harus menggantikan peran suami
sebagai tulang punggung keluarga. Ketika istri memang sudah bekerja
sebelumnya (dual-earn family) (DeGenova, 2008), masalah keuangan mungkin
tidak akan terlalu berpengaruh. Akan tetapi ketika peran lainnya tidak dapat
dijalankan maka hal ini tentu saja mempengaruhi pandangan keluarga serta
pandangan laki-laki tersebut terhadap perannya sebagai kepala keluarga.
Perubahan yang dialami ini akan menjadi sumber stres bagi individu. Stres
merupakan kondisi ketika interaksi individu dengan lingkungan mengarahkan
individu berpandangan bahwa ada ketidaksesuaian antara tuntutan fisik dan
psikologis terhadap situasi dan sumber biologis, psikologis dan sistem sosial
sosial (Sarafino & Smith , 2011). Stres akan mempengaruhi sistem dalam tubuh
ini penting bagi individu untuk dapat melakukan coping. Carr (2004) individu
yang optimis akan melakukan coping yang untuk dapat mencapai tujuan yang
diinginkan.
Carver dan Scheier (2001) mengembangkan teoriexpectancy-value model.
Menurut teori ini individu yang optimis akan memiliki harapan lebih banyak hal
baik (positif) yang terjadi di masa depan. Ada dua aspek yang membuat individu
bertindak yaitu tujuan dan ekspektasi. Semakin penting tujuan yang akan maka
individu akan semakin termotivasi untuk mencapainya. Sedangkan ekspektasi
akan mempengaruhi individu untuk memberikan respon ketika menghadapi
kesulitan atau masalah. Individu yang optimis akan tetap percaya diri dan gigih
dapat menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya. Optimisme merupakan
expectancy (ekspektasi) bahwa akan lebih banyak hal baik yang terjadi daripada
hal buruk di masa depan (Carr, 2004).
Keuntungan optimis menurut Ginnis (dalam Kasmayati, 2013) antara lain
hidup lebih bertahan lama, kesehatan lebih baik, menggunakan waktu lebih
bersemangat dan berenergi, berusaha keras mencapai tujuan, lebih berprestasi
dalam potensinya, mengerjakan sesuatu jadi lebih baik seperti dalam hubungan
sosial, pendidikan, pekerjaan dan olahraga. Jika dikaitkan pada suami yang
mengalami cacat maka diharapkan suami optimis akan lebih mampu
menyesuaikan diri dengan kondisinya.
Di bidang kesehatan selain mampu meningkatkan kesehatan tubuh dan
lain stres seperti rasa takut, kecemasan dan marah (Sarafino & Smith, 2011) juga
lebih sedikit dibandingkan individu pesimis.
Melihat adanya peran penting optimis membuat peneliti tertarik untuk
melihat bagaimana gambaran optimisme suami yang mengalami cacat.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkah latar belakang yang telah dijelaskan diatas, dapat disusun
permasalahan, yaitu: “apakah suami yang mengalami cacat memiliki optimisme”
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
optimisme suami yang mengalami cacat.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yaitu:
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan
pemikiran untuk mengembangkan ilmu Psikologi, terutama Psikologi Klinis.
2. Manfaat praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi
pada istri dan keluarga yang memiliki suami atau anggota keluarga
yang cacat.
E. SISTEMATIKA PENELITIAN
Sistematika penulisan penelitian ini sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan Teori
Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang
menjadi objek penelitian. Memuat landasan teori tentang optimisme
dan cacat fisik.
Bab III : Metode Penelitian
Berisikan mengenai metode-metode dalam penelitian yaitu
identifikasi variabel, definisi operasional variabel penelitian, subjek
penelitian, lokasi penelitian, instrumen dan alat ukur yang
digunakan, metode pengambilan sampel, prosedur pelaksanaan
penelitian dan metode analisis data.
Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan
Memuat hasil pengolahan data, gambaran umum subjek penelitian,
Bab V : Kesimpulan dan Saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A. OPTIMISME
1. Defenisi Optimis, Optimistis dan Optimisme
Optimis dalam KBBI diartikan sebagai orang yang selalu berpengharapan
(berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal sedangkan optimistis
didefenisikan sebagai bersifat optimis atau penuh harapan. Menurut Carver dan
Scheier (2001) optimis merupakan individu yang memperkirakan hal baik yang
terjadi pada dirinya, sedangkan pesimis adalah individu yang memperkirakan
dirinya akan mengalami hal buruk.
Optimisme menurut KBBI adalah paham (keyakinan) atas segala sesuatu
dari segi yang baik dan menyenangkan atau sikap selalu mempunyai harapan baik
di segala hal. Optimisme merupakan expectancy (ekspektasi) bahwa akan lebih
banyak hal baik yang terjadi daripada hal buruk di masa depan (Carr, 2004).
Individu optimis saat menghadapi kesulitan akan terus berusaha mencapai tujuan
dan akan menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi dengan menggunakan
strategi coping yang efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Individu yang optimis dan pesimis, berbeda caranya dalam mengatasi
masalah dan menghadapi tantangan, cara dan hasil yang diperoleh dalam
menyelesaikan kesulitan yang dihadapi (Carver & Scheier, 2004). Optimis ketika
menghadapi tantangan akan menghadapinya dengan percaya diri dan gigih,
mereka percaya kesulitan dapat ditangani. Berbeda dengan optimis, pesimis
cenderung akan menyerah ketika menghadapi kondisi yang sulit dan menantang,
selain itu mereka juga cenderung memiliki perasaan negatif dan membayangkan
kalau suatu kejadian yang buruk akan terjadi (Carver & Scheier, 2001).
2. Optimisme danExpectancy Value Model
Konsep optimisme berkaitan dengan teori motivasi atau yang lebih dikenal
dengan teoriexpectancy-value (Carver & Scheier, 2001). Teori ini berpandangan
bahwa perilaku individu disusun oleh dua aspek:
a. Goal (Tujuan)
Tujuan adalah state atau tindakan yang dianggap diinginkan atau tidak
diinginkan. Individu mencoba untuk menyesuaikan perilaku sesuai dengan
yang dia inginkan dan menjauhkan diri dari apa yang tidak diinginkan.
Semakin penting tujuan tersebut bagi seseorang, semakin besar nilainya dalam
memberi motivasi pada individu. Tanpa memiliki tujuan, seseorang tidak
memiliki alasan untuk bertindak.
b. Expectancy(Ekspektasi)
Ekspektasi merupakan confidence (kepercayaan) ataupun doubt
(keragu-raguan) dalam pencapaian tujuan. Jika individu ragu-ragu, tidak akan ada
tindakan. Keraguan dapat mengganggu usaha untuk mencapai tujuan baik
sebelum tindakan dimulai atau saat sedang berlangsung. Hanya individu
3. Dampak Optimisme
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan terhadap optimisme,
disimpulkan bahwa optimisme sangat membantu individu dalam berbagai bidang.
Optimis akan lebih cepat menerima kenyataan akan kondisi yang dihadapinya
sekarang dibandingkan dengan individu yang pesimis (Carver & Scheier, 2004)
Optimisme berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik. Individu dengan
optimis yang rendah lebih membutuhkan psikoterapi dibandingkan dengan
individu dengan optimisme yang tinggi (Karlsson, 2011).
Ketika individu memiliki ekspektasi, maka individu akan mampu
mengatasi kesulitan yang dihadapinya dan mencari penyelesaian dari masalah
tersebut meskipun sulit (Carver & Scheier, 2001). Individu yang memiliki
kepercayaan tentang masa depan akan terus mengeluarkan usaha walaupun
menghadapi masa sulit, sedangkan individu yang ragu akan berhenti
mengeluarkan usahanya.
Ketika menghadapi kondisi yang sulit, akan muncul perasaan sedih, cemas
dan stres (Sarafino & Smith, 2011), kondisi ini menuntut individu untuk
melakukan coping. Coping diartikan sebagai upaya kognitif dan perilaku yang
berubah secara konstan untuk mengelola tuntutan eksternal dan/atau internal yang
dinilai berat atau melebihi batas kemampuan individu
(Lazarus & Folkman, 1984). Copingdilihat dari fungsinya dibagi menjadi 2:
1. Emotion-focused coping
Berfokus pada cara mengontrol respons emosional saat kondisi stres.
dan perilaku. Pendekatan kognitif berkaitan dengan cara individu berpikir
terhadap situasi stres yang dihadapi. Individu dapat mendefenisikan kembali
situasi sehingga dapat menghadapinya dengan lebih baik. Proses kognitif dari
emotion-focused coping yang lain adalah dengan strategi defense mechanism.
Individu cenderung menggunakan pendekatan emotion-focused ketika tidak ada
lagi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi yang penuh stres tersebut.
2. Problem-focused coping
Coping ini berfokus pada masalah bertujuan untuk mengurangi
tuntutan-tuntutan dari keadaan stres atau mengembangkan sumber daya untuk
menghadapinya. Coping ini akan digunakan saat kondisi masih mungkin untuk
berubah. Pendekatan yang berfokus pada masalah cenderung digunakan ketika
adanya perubahan dari sumber daya atau tuntutan situasi.
Optimisme mempengaruhi strategicopingyang lebih adaptif, Individu bisa
melakukan pencegahan ataupun meminimalisasikan stress. Usaha-usaha yang
dilakukan untuk mencegah ataupun meminimalkan stres disebutproactive coping.
Individu yang optimis yang biasanya menggunakan metode yang berfokus pada
masalah. Terdapat beberapa bentuk proactive coping, seperti: meningkatkan
dukungan sosial, meningkatkan kontrol personal, mengorganisir lingkungan
sendiri, melakukan olahraga, dan menyiapkan diri untuk situasi yang
B. Suami yang Mengalami Cacat
1. Suami
Laki-laki menurut KBBI adalah orang (manusia) yang mempunyai zakar,
kalau dewasa mempunyai jakun dan adakalanya berkumis. Sebagai laki-laki, ada
beberapa hal yang dituntut pada peran gender laki-laki yaitu (Weiten, 2012):
1. Achievement
Untuk membuktikan kejantanan mereka, laki-laki perlu untuk mengalahkan
orang lain di tempat kerja dan dalam olahraga serta memiliki jabatan yang
lebih tinggi.
2. Agression
Laki-laki harus tanggguh dan berjuang untuk apa yang mereka yakini benar.
Mereka harus mampu membela diri mereka sendiri dan orang yang mereka
cintai dari ancaman atau bahaya.
3. Autonomy
Laki-laki harus mampu mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
4. Seksualitas
Laki-laki sejati harus heteroseksual dan sangat termotivasi untuk mengejar
kegiatan seksual dan penaklukan.
5. Stoicism
Laki-laki tidak harus berbagi rasa sakit mereka atau menunjukkan kelemahan
yang dimiliki.
Laki-laki ketika telah dewasa dan menikah akan memiliki peran baru
laki-laki yang menjadi pasangan hidup resmi seorang perempuan (istri) yang telah
menikah. Dalam undang-undang pernikahan No. 1 Tahun 1974 ada beberapa hak
dan kewajiban suami dan ayah dalam keluarga:
1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan
hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya (pasal 34 ayat 1).
2. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka
sebaik-baiknya (pasal 45 ayat 1).
Menurut pandangan tradisional, suami merupakan penguasa utama rumah
tangga yang memiliki hak-hak istimewa dan otoritas terbesar dalam keluarga
(Kusujiarti dalam Supriyantini, 2002). Selain itu berdasarkan tafsiran Al-Qur’an,
4:34, suami juga berperan untuk membimbing, mendidik, serta mengayomi
keluarganya (Chusniatun, 2011).
Menurut Dr. Phil, peran suami sebagai kepala keluarga ada 4, yaitu:
1. Provider(penyedia)
Selain mendukung keluarga dalam hal finansial, suami juga harus dapat
mensejahterakan keluarganya secara emosional, spiritual, fisik dan mental.
2. Protector(pelindung)
Suami harus dapat menjaga harga diri dan martabat dirinya serta keluarga.
3. Leader(pemimpin)
Suami yang bertanggung jawab untuk mengambil keputusan penting dalam
keluarga ketika menghadapi suatu masalah.
Menjadi contoh untuk keluarga dan masyarakat, baik melalui kata-kata maupun
perbuatan.
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa suami merupakan laki-laki yang menjadi pasangan hidup resmi seorang
perempuan (istri) yang telah menikah yang memiliki peran untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, memelihara, melindungi, mendidik, membimbing serta
mengayomi keluarganya.
2. Cacat
Cacat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kekurangan
yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang baik atau kurang sempurna.
Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997, penyandang cacat adalah setiap
orang yang mempunyai kelainan fisik atau mental, yang dapat mengganggu atau
merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya,
yang terdiri dari (a) penyandang cacat fisik; (b) penyandang cacat mental; dan (c)
penyandang cacat fisik dan mental.
Hawlet (2001) menyatakan kalau cacat secara umum dapat dibagi menjadi
4 yaitu:
1. Cacat Fisik
Cacat fisik disebabkan oleh kondisi fisik yang cacat. Individu yang
dikategorikan cacat fisik adalah individu yang tidak memiliki kemampuan
2. Cacat Pendengaran
Cacat pendengaran merupakan kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan
atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara.
3. Cacat Penglihatan
Cacat penglihatan adalah gangguan atau hambatan dalam indera penglihatan.
Cacat penglihatan terbagi 2, yaitu buta total dan buta sebagian.
4. Cacat mental
Cacat mental adalah ketika fungsi intelektual berada di bawah rata-rata.
Cacat umumnya disebabkan oleh hal-hal berikut:
1. Cacat sejak lahir, terjadi karena serangan penyakit dalam kandungan, penyakit
tersebut dapat langsung menyerang janin sehingga pertumbuhan anggota badan
menjadi terganggu.
2. Cacat karena penyakit.
3. Cacat karena infeksi, disebabkan karena suatu penyakit tetapi menyebabkan
serangan langsung.
4. Cacat karena kecelakaan, terjadi karena lalu lintas, perang, kecelakaan pabrik,
bencana alam dan sebagainya.
3. Suami yang Mengalami Cacat
Suami yang mengalami cacat adalah laki-laki yang menjadi pasangan
hidup resmi perempuan yang mengalami kondisi cacat fisik, penglihatan,
pendengaran dan mental yang disebabkan karena bawaan dari lahir, penyakit,
cacat subjek penelitian tetapi jenis cacat yang dialami hanya cacat fisik,
penglihatan dan pendengaran.
C. DINAMIKA ANTAR VARIABEL
Setiap individu mengharapkan memiliki kondisi fisik dan psikologis yang
baik, namun pada kenyataannya tidak semua orang dapat memiliki kondisi fisik
dan psikologis yang baik. Keterbatasan ini bisa dialami siapa saja, termasuk suami
yang berperan sebagai kepala keluarga. Perubahan kondisi fisik ini tentu menuntut
suami untuk dapat menyesuaikan diri akan kondisinya.
Kondisi lingkungan sangat penting dalam penyesuaian diri. Begitu juga
pada suami yang mengalami cacat, suami yang mendapat dukungan dari
orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan teman-temannya akan mampu
menyesuaikan diri dengan baik. Dukungan sosial ternyata mempengaruhi kondisi
kesehatan (Brennan & Spencer, 2012).
Ketika suami tidak mampu menghadapi dalam hal ini menyesuaikan diri
dengan perubahan fisik dan perubahan lain yang dialaminya, suami bisa
mengalami kemarahan, kecemasan bahkan depresi. Sehingga penting bagi suami
untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisinya yang sekarang. Penyesuaian
diri terhadap kondisi stres yang dihadapi akan berkaitan dengan strategi coping
yang digunakan. Optimisme berkaitan positif dengan dengan penggunaan strategi
coping yang lebih adaptif (Carr, 2004). Coping pada individu yang optimis
berbeda dengan individu yang pesimis (Carver & Scheier, 2002). Optimisme
Jadi suami cacat yang optimis akan lebih mampu untuk beradaptasi dengan
kondisi baru yang dihadapinya dibandingkan dengan suami yang pesimis.
Optimisme diharapkan dapat membantu suami menyesuaikan diri dengan kondisi
yang dialaminya dan perubahan-perubahan lain yang terjadi akibat cacat yang
D. PARADIGMA
Pernikahan
Suami Istri
Kepala Keluarga
Cacat
Stres
Adaptasi danCoping Optimis??
BAB III
METODE PENELITIAN
Berdasarkan yang telah dijabarkan di bab pertama, jenis penelitian yang
digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Penelitian deskriptif menganalisis dan
menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami
dan disimpulkan (Azwar, 2014). Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk
menggambarkan optimis pada suami yang mengalami cacat. Berikut disajikan
identifikasi masalah, definisi operasional penelitian, populasi, sampel, dan metode
pengambilan sampel penelitian, dan alat ukur serta metode analisis data.
A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah optimis.
B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN
Optimis pada penelitian ini adalah individu yang yang memiliki keyakinan
dapat mencapai tujuan walaupun mengalami kesulitan. Alat ukur LOT-R
(Life Orientation Test-Revised) dikembangkan oleh Carver dan Scheier untuk
mengukur optimisme. Alat ukur ini merupakan hasil revisi dari alat ukur
sebelumnya LOT yang terdiri dari 8 aitem yang diukur (4 aitem favourabledan 4
aitemunfavourable) dan 4 aitem filler. LOT-R terdiri dari 10 aitem, 6 aitem yang
diukur (3 favorable dan 3 unfavourable) dan 4 aitem filler. Dua aitem LOT
mengukur optimisme melainkan cara coping. Skala LOT-R ini berbentuk likert
dan memiliki 5 pilihan respon dari 0 (sangat tidak setuju) sampai 4 (sangat
setuju). Optimisme dapat dilihat berdasarkan total skor skala LOT-R, individu
dikatakan optimis ketika total skor semakin mendekati 24 dan dikatakan pesimis
ketika total skor semakin mendekati angka 0 (nol).
C. POPULASI , SAMPEL, DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
1. Populasi dan Sampel
Populasi didefenisikan sebagai kelompok subjek yang akan dikenai
generalisasi hasil penelitian dan memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya
dengan kelompok subjek yang lain. Sedangkan sampel adalah bagian dari
populasi yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan populasi (Azwar, 2014).
Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah suami dengan cacat yang berada
di kota Medan.
2. Jumlah dan Teknik Pengambilan Sampel
Penelitian ini melibatkan 15 orang suami dengan cacat sebagai sampel
penelitian. Diambil dengan teknik pengambilan sampel insidental, yaitu teknik
pengambilan sampel berdasarkan pada ketersediaan subjek yang tersedia di
D. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah quisionaire, yaitu
LOT-R (Life Orientation Test-Revised). LOT-R dikembangkan oleh Carver dan
Scheier berdasarkan pandangan mereka tentang optimisme. LOT-R berbentuk
Likert (Scheier dkk, 1994 dalam Carver) dan merupakan quisionaire dengan
10 aitem, dengan 5 pilihan respon dari 0 (sangat tidak setuju) sampai 4 (sangat
[image:37.595.113.513.334.495.2]setuju). LOT-R terdiri dari 4 aitem filler dan 6 aitem yang diukur.
Tabel 3.1. Skoring Aitem LOT-R
Nomor Aitem Pilihan Jawaban Nilai Skor
1, 4, 10
Sangat setuju (SS) 4 Setuju (S) 3 Netral (N) 2 Tidak setuju (TS) 1 Sangat tidak setuju (STS) 0
3, 7, 9
Sangat setuju (SS) 0 Setuju (S) 1 Netral (N) 2 Tidak setuju (TS) 3 Sangat tidak setuju (STS) 4
Penelitian ini menggunakan translasi LOT-R yang sudah pernah
dipergunakan pada penelitian skripsi yang berjudul Hubungan antara Social
Supportdengan Optimisme pada Orang dengan HIV/Aids (ODHA), yang disusun
oleh Erni Julianti Simanjuntak untuk memenuhi persyaratan ujian Sarjana
Psikologi pada tahun 2011. Simanjuntak mentranslasikan LOT-R untuk
HIV/AIDS (ODHA). Simanjuntak menggunakan validitas konten berupa
professional judgement dari penerjemah di Pusat Bahasa di Universitas Sumatera
E. UJI COBA ALAT UKUR
Pengujian alat ukur dilakukan dengan menguji validitas dan reliabilitas
alat ukur. Pengujian ini diperlukan agar hasil peneliti dapat dipercaya
(Azwar, 2014).
1. Validitas Alat Ukur
Uji validitas dilakukan agar dapat mengetahui ketepatan dan kecermatan
fungsi alat ukur sesuai dengan tujuan pengukuran yang dikehendaki (Azwar,
2014). Peneliti menggunakan alat ukur yang telah digunakan dalam penelitian
skripsi Simanjuntak. Pada penelitian Simanjuntak, telah dilakukan validasi isi
dengan professional judgement, baik dari penerjemah dari sebuah lembaga
bahasa, yaitu pusat bahasa Universitas Sumatera Utara dan dari dosen
pembimbing skripsi tersebut di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
2. Reliabilitas Alat Ukur
Estimasi reliabilitas hasil pengukuran pada penelitian ini menggunakan
pendekatan uji konsistensi internal dengan formula alpha Cornbach. Reliabilitas
hasil pengukuran yang sempurna ditunjukkan dengan nilai koefisien yang positif
dan mendekati angka 1 (Azwar, 2014).
3. Hasil Pengujian Alat Ukur
Pengambilan data penelitian menggunakan LOT-R yang telah ditranslasi
koefisien reliabilitas LOT-R yang telah ditranslasi adalah 0,675, dengan rentang
indeks daya diskriminasi aitem sebesar 0,345 sampai 0,839. Harga indeks
diskriminasi minus (-) menunjukkan bahwa aitem yang bersangkutan tidak ada
gunanya. Berdasarkan uji reabilitas, LOT-R memiliki reliabilitas yang rendah.
Validasi konten pada LOT-R tidak dilakukan kembali pada penelitian ini.
F. PROSEDUR PENELITIAN
1. Persiapan penelitian
Peneliti menggunakan LOT-R yang telah digunakan dalam penelitian
skripsi Simanjuntak, yang telah ditranslasi ke dalam bahasa Indonesia. Peneliti
juga memasukkan beberapa kondisi demografis pada lembar identitas kuisioner
yang akan disebarkan, seperti usia, cacat yang dialami, penyebab cacat, durasi
cacat (lamanya subjek mengalami cacat), subjek mengalami cacat sebelum atau
sesudah menikah, pekerjaan subjek sebelum cacat dan sekarang, pekerjaan istri
subjek sebelum dan sesudah menikah, peran utama kepala keluarga, ekspektasi
diawal mengalami cacat dan sekarang, dan pengobatan yang diikuti. Peneliti
mempersiapkan skala dalam bentuk booklet.
2. Pelaksanaan Penelitian
Pengambilan data dilakukakan dengan melakukan analisis dengan
melibatkan 15 orang suami cacat yang berbeda dengan suami cacat yang
dilibatkan dalam pengujian alat ukur. Pengambilan data dilakukan dengan
memilih membacakan langsung setiap aitem supaya subjek bisa tidak mengalami
kesulitan dalam menjawab skala.
3. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah peneliti selesai melakukan pengambilan
data. Dalam proses ini, peneliti dibantu dengan perangkat lunak SPSS for
Windows ver. 22.0.
G. METODE ANALISIS DATA
Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dimana
hasil pengolahan data bertujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran
terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi (Wiratna, 2014).
Statistik deskriptif hanya dapat digunakan untuk peneltian dengan satu variabel
saja. Statistik deskriptif menghasilkan tabel, grafik atau diagram.
Kategorisasi tingkat optimisme dilakukan terhadap skor optimisme subjek
berdasarkan pertimbangan eror standar dalam pengukuran karena hasil pengujian
menunjukkan data tidak terdistribusi secara normal dan reliabilitas yang rendah.
Semakin besar eror standar dalam pengukuran berarti hasil pengukuran semakin
tidak dapat dipercaya.
Keterangan:
= Eror standar dalam pengukuran
= Koefisien reliabilitas
Besarnya ini akan memperlihatkan kisaran estimasi skor sebenarnya
pada taraf kepercayaan tertentu. Dengan kata lain, mengetahui besarnya akan
memberikan gambaran kecermatan fungsi ukur skala, estimasi fluktuasi skor
adalah (Azwar, 2014):
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. ANALISA DATA
Bab ini akan menguraikan analisis data dan pembahasan, mulai dari
gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian dan pembahasan.
1. Gambaran Umum Subjek Penelitian
[image:42.595.128.513.384.755.2]Penelitian ini melibatkan 15 suami yang cacat yang tinggal di kota Medan.
Tabel 4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian berdasarkan Faktor Sosiodemografis
Faktor Sosiodemografis Frekuensi Persentase (%)
1. Usia:
a. Dewasa awal (17-40 tahun) 4 26,67 b. Dewasa madya (41-64 tahun) 11 73,33 2. Cacat yang Dialami:
a. Fisik 13 86,67 b. Penglihatan 2 13,33 3. Penyebab cacat:
a. Penyakit 9 60 b. Kecelakaan 6 40 4. Durasi Cacat:
a. 4-32 bulan 7 46,67 b. 33-61 bulan 1 6,67 c. 62-90 bulan 2 13,33 d. 91-119 bulan 1 6,67 e. 120-148 bulan 4 26,67 5. Subjek Mengalami Cacat:
a. Sebelum Menikah 2 13,33 b. Sesudah Menikah 13 86,67 6. Subjek Sebelum Cacat:
a. Bekerja 15 100 b. Tidak Bekerja 0 0 7. Subjek sesudah Cacat:
a. Bekerja 6 40 b. Tidak Bekerja 9 60 8. Istri Subjek Sebelum Cacat:
a. Bekerja 11 73,33 b. Tidak Bekerja 4 26,67 10. Peran Kepala Keluarga:
a. Menafkahi Keluarga 12 80 b. Membahagiakan Keluarga 1 6,67 c. Melindungi Keluarga 1 6,67 d. Mendidik Anak 1 6,67 11. Ekspektasi Diawal Mengalami Cacat:
a. Cepat Sembuh 10 66,67 b. Masih bisa bekerja 4 26,67 c. Tidak ada 1 6,67 12. Ekspektasi Sekarang:
a. Cepat Sembuh 10 66,67 b. Bisa kembali normal 3 20 c. Ada mukjizat yang bisa Menyembuhkan 1 6,67 d. Tidak berharap apa-apa 1 6,67 13. Pengobatan yang Diikuti:
a. Medis 1 6,67 b. Non Medis 6 40 c. Medis dan Non Medis 7 46,67 d. Tidak ada 1 6,67
Pada tabel 4.1. dapat dilihat subjek yang terlibat dalam penelitian ini
dikelompokkan berdasarkan dua kelompok usia, yaitu dewasa awal yang berada
di rentang usia 17 sampai 40 tahun dan dewasa madya usia 41-64 tahun. Subjek
yang berada pada kelompok usia dewasa awal ada sebanyak 4 orang atau 26.67%
sedangkan subjek pada kelompok dewasa madya ada 11 orang (73,33%).
Berdasarkan pengelompokkan yang dilakukan Hawlet, cacat secara umum
dibagi menjadi 4 yaitu fisik, penglihatan, pendengaran dan mental. Berdasarkan
tabel diatas, sampel dalam penelitian ini paling banyak mengalami cacat fisik
yaitu sebanyak 13 orang (86,67%). Sisanya 2 orang (13,33%) mengalami cacat
penglihatan. Sedangkan untuk untuk dua kategori yang lain yaitu cacat
pendengaran dan cacat mental tidak ada subjek yang mengalami cacat tersebut
[image:43.595.127.514.112.368.2]Menurut Soeharso ada 4 penyebab cacat yaitu sejak lahir, penyakit, infeksi
dan kecelakaan. Subjek dalam penelitian ini lebih banyak mengalami keterbatasan
fisik karena penyakit 60% (9 orang) dibandingkan dengan yang cacat karena
kecelakaan 40% (6 orang) namun subjek yang cacat sejak lahir dan cacat karena
infeksi tidak ada yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Subjek dalam penelitian ini paling banyak mengalami cacat antara 4
sampai 32 bulan yaitu sebanyak 7 orang (46,67%). Empat orang subjek (26,67%)
mengalami cacat yang paling lama antara 120 sampai 148 bulan. Dua orang
subjek mengalami cacat sejak 62 sampai 90 bulan dan masing-masing seorang
subjek (6,67%) mengalami cacat sejak 33 sampai 61 bulan dan 91 sampai 119
bulan.
Subjek dalam penelitian ini kebanyakan mengalami cacat sesudah
pernikahan yaitu ada 13 orang (86,67%) sedangkan yang mengalami cacat
sebelum menikah hanya ada dua orang (13,33%).
Sebelum mengalami cacat, keseluruhan subjek atau 15 orang subjek
bekerja (100%) dan tidak ada subjek yang tidak bekerja sebelum mengalami cacat
(0%). Sesudah mengalami kondisi cacat, dari 15 orang subjek yang awalnya
bekerja tinggal 6 orang (40%) yang masih bekerja. Sesudah cacat dialami, subjek
yang tidak bekerja menjadi 9 orang (60%).
Sebelum mengalami cacat, istri subjek yang bekerja ada 9 orang (60%)
sedangkan yang tidak bekerja ada 6 orang (40%). Sesudah mengalami cacat istri
subjek yang bekerja menjadi lebih banyak yaitu 11 orang (73,33%) sedangkan
Pada tabel 4.1. dapat dilihat bahwa ada beberapa peran kepala keluarga
menurut pendapat subjek, dari 15 subjek sebanyak sebanyak 11 orang atau 80%
menganggap peran utama kepala keluarga adalah untuk menafkahi keluarga,
sedangkan yang 3 orang (20%) menganggap kalau peran utama kepala keluarga
bukan menafkahi keluarga. Masing-masing dari 3 orang subjek tersebut
menganggap peran utama kepala keluarga adalah untuk membahagiakan keluarga,
melindungi keluarga dan mendidik anak (6,67%).
Pada tabel 4.1. dapat dilihat kalau jumlah subjek yang memiliki ekspektasi
untuk cepat sembuh di awal mengalami cacat yang paling banyak yaitu 10 orang
(66,67%), sedangkan yang berharap masih bisa bekerja 4 orang (26,67%) dan
yang satu orang lagi (6,67%) tidak memiliki ekspektasi apapun.
Kebanyakan subjek saat ini memiliki ekspektasi untuk sembuh yaitu
sebanyak 10 orang (66,67%). Tiga orang subjek (20%) berharap bisa kembali
normal karena kondisinya saat ini sudah lebih baik jika dibandingkan dengan
kondisinya diawal mengalami cacat. Satu orang (6,67%) hanya berharap ada
keajaiban yang bisa menyembuhkan penyakitnya dan 1 orang subjek (6,67%)
tidak memiliki harapan apapun terhadap kondisi fisiknya saat ini.
Selama mengalami cacat, 1 orang subjek (6,67%) tidak pernah mengikuti
pengobatan apapun. Satu orang subjek (6,67%) hanya mengikuti pengobatan
medis dan 6 orang subjek (40%) hanya mengikuti pengobatan non medis saja.
Sebanyak 7 orang subjek (46,67%) mencoba dua pengobatan baik medis maupun
2. Gambaran Optimis Suami cacat
a. Kategorisasi Tingkat Optimisme Suami cacat
Kategorisasi tingkat optimisme berdasarkan pertimbangan eror standar
dalam pengukuran, kategorisasi ini digunakan apabila jumlah individu dalam
kelompok yang ingin didiagnosis tidak terlalu besar (Azwar, 2014).
Pertimbangan eror standar dalam pengukuran menggunakan deviasi standar
skor empirik dan koefisien reliabilitas, dengan mean =16,9, diperoleh deviasi
standar ( )= 2,4. Dengan koefisien reabilitas ( ) = 0,675, maka didapatkan
eror standar dalam pengukuran ( ) = 1,37 . Taraf kepercayaan yang digunakan
sebesar 90%, maka = 0,10. Nilai = 0,05, memiliki nilai z = 1,65.
[image:46.595.125.497.451.527.2]Dengan mean hipotetik=12 didapat fluktuasi skor 12 ± (z x ) = 12 ± 2,26.
Tabel 4.2. Kategorisasi Optimisme
Komponen Rentang Skor Kategori Frekuensi (n)
Persentase (%)
Optimisme
x<9,74 Pesimis - -9,74≤x≤14,26 Tidak terkategori 2 13,33
x>14,26 Optimis 13 86.67 Total 15 100
Tabel 4.2. menunjukkan subjek dikategorikan ke dalam 3 kelompok
berdasarkan total skor LOT-R yang diperoleh. Subjek dikatakan pesimis ketika
total skor subjek lebih kecil dari 9,24. Subjek dikatakan tidak terkategori ketika
memiliki total skor antara 9,74 sampai 14,26. Subjek dikatakan optimis ketika
total skor yang diperolehnya melebihi 14,26.
Subjek didominasi oleh kategori optimis yaitu sebanyak 13 orang atau
yang berada dalam kategori pesimis. Subjek yang berada dalam kategori
optimis diidentifikasi sebagai suami cacat yang memiliki keyakinan akan
tercapainya tujuannya meskipun mengalami kesulitan, sebaliknya suami cacat
yang berada dalam kategori pesimis diidentifikasi sebagai suami cacat yang
b. Gambaran Optimisme Suami Cacat Berdasarkan Faktor Sosiodemografis
Tabel 4.3. Gambaran Optimisme Suami Cacat Berdasarkan Faktor Sosiodemografis
No Subjek Usia Cacat yang Dialami Penyebab Cacat Durasi Cacat (bulan) Subjek Mengalami Cacat Subjek Sebelum Cacat Subjek Sesudah Cacat Istri Subjek Sebelum Cacat Istri Subjek Sesudah Cacat Peran Kepala Keluarga Ekspektasi Diawal Mengalami Cacat Ekspektasi Sekarang Pengobatan yang Diikuti Total Skor Kategori Optimisme 1 Dewasa
Madya Fisik Penyakit 33-61
Sesudah
Menikah Bekerja
Tidak
Bekerja Bekerja Bekerja
Melindungi
Keluarga Cepat Sembuh
Bisa Kembali Normal
Medis dan
Non Medis 17 Optimis
2 Dewasa
Awal Penglihatan
Penyakit
120-148 Sebelum
Menikah Bekerja Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi
Keluarga Tidak Ada
Ada Mukiizat yang bisa Menyembuhkan
Medis dan
Non Medis 17 Optimis
3 DewasaMadya Fisik Penyakit 120-148 MenikahSesudah Bekerja BekerjaTidak BekerjaTidak Bekerja MenafkahiKeluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh Non MedisMedis dan 12 TerkategoriTidak
4 Dewasa
Awal Penglihat-an
Penyakit
120-148 Sebelum
Menikah Bekerja Bekerja
Tidak Bekerja
Tidak
Bekerja Mendidik Anak Cepat Sembuh
Tidak Berharap
apa-apa Tidak Ada 15 Optimis 5 Dewasa
Madya Fisik Kecelakaan 120-148
Sesudah
Menikah Bekerja
Tidak
Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh
Medis dan Non Medis 13
Tidak Terkategori 6 Dewasa
Madya Fisik Kecelakaan 4-32
Sesudah Menikah Bekerja Tidak Bekerja Tidak bekerja Bekerja Membahagiakan Keluarga Masih bisa Bekerja Bisa Kembali
Normal Non Medis 21 Optimis 7 Dewasa
Madya Fisik Keceakaan 4-32
Sesudah
Menikah Bekerja Bekerja Bekerja Bekerja
Manafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh Medis 16 Optimis 8 Dewasa Madya Fisik Penyakit 91-119 Sesudah Menikah Bekerja Tidak
Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh
Medis dan
Non Medis 15 Optimis 9 DewasaMadya Fisik Penyakit 62-90 MenikahSesudah Bekerja BekerjaTidak BekerjaTidak BekerjaTidak MenafkahiKeluarga Masih bisaBekerja Cepat Sembuh Non Medis 19 Optimis
10 Dewasa Awal
Fisik
Kecelakaan 4-32 Sesudah
Menikah Bekerja Tidak Bekerja Tidak Bekerja Tidak Bekerja Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh Non Medis 17 Optimis 11 Dewasa
Madya
Fisik
Penyakit 4-32 Sesudah
Menikah Bekerja Bekerja
Tidak Bekerja
Tidak Bekerja
Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh
Bisa Kembali Normal
Medis dan
Non Medis 20 Optimis 12 Dewasa
Madya
Fisik
Penyakit 62-90 Sesudah
Menikah Bekerja Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh
Medis dan
Non Medis 18 Optimis 13 Dewasa
Madya
Fisik
Penyakit 4-32 Sesudah
Menikah Bekerja Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi
Keluarga Cepat Sembuh Cepat Sembuh Non Medis 18 Optimis 14 Dewasa
Awal
Fisik
Kecelaka-an 4-32 Sesudah
Menikah Bekerja
Tidak
Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi Keluarga
Masih bisa
Bekerja Cepat Sembuh Non Medis 19 Optimis 15 Dewasa
Madya
Fisik
Kecelaka-an 4-32 Sesudah
Menikah Bekerja
Tidak
Bekerja Bekerja Bekerja
Menafkahi Keluarga
Masih bisa
Tabel 4.3. menunjukkan bahwa subjek pertama berada di usia dewasa
madya, mengalami cacat fisik, cacat disebabkan karena penyakit, mengalami
cacat selama 33 - 61 bulan, cacat sesudah menikah, sebelum cacat bekerja tetapi
sesudah cacat tidak lagi bekerja, istri subjek sudah bekerja sebelum subjek cacat
dan sekarang masih tetap bekerja, subjek berpendapat kalau peran kepala keluarga
adalah untuk melindungi keluarga, diawal mengalami cacat berekspektasi bisa
cepat sembuh, sekarang memiliki ekspektasi untuk bisa kembali normal,
mengikuti pengobatan medis dan non medis untuk mencari kesembuhan, total
skor skala LOT-R 17 dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek kedua masuk di usia dewasa awal, mengalami cacat penglihatan,
cacat disebabkan karena penyakit, mengalami cacat selama 120-148 bulan, cacat
dialami sebelum menikah, subjek bekerja sebelum cacat dan masih tetap bekerja
setelah cacat, istri subjek bekerja sebelum dan sesudah subjek mengalami cacat,
memandang peran utama kepala keluarga adalah untuk menafkahi keluarga,
diawal mengalami cacat memiliki tidak memiliki ekspektasi apapun, sekarang
hanya berharap ada mukjizat yang bisa menyembuhkan, mengikuti pengobatan
medis dan non medis, memiliki total skor skala LOT-R 17 dan masuk dalam
kategori optimis.
Subjek ketiga masuk dalam kelompok usia dewasa madya, mengalami
cacat pada fisiknya, cacat disebabkan karena penyakit, telah mengalami cacat fisik
antara 120 sampai 148 bulan, mengalami cacat sesudah menikah, subjek awalnya
bekerja tetapi sesudah mengalami cacat subjek tidak bekerja lagi, istri subjek
sebelum subjek cacat tidak bekerja namun sekarang bekerja, subjek memandang
sekarang sama yaitu cepat sembuh, mengikuti pengobatan medis dan medis untuk
mencari kesembuhan, total skor skala LOT-R 12 dan masuk ke dalam kelompok
tidak terkategori.
Subjek keempat masuk dalam kelompok usia dewasa awal, mengalami
cacat penglihatan yang disebabkan karena penyakit, telah mengalami cacat
sebanyak 120 sampai 148 bulan, cacat terjadi sebelum subjek menikah, subjek
sebelum dan sesudah cacat tetap bekerja, istri subjek sebelum dan sesudah subjek
tetap tidak bekerja, subjek berpendapat kalau peran utama kepala keluarga adalah
untuk mendidik anak, diawal mengalami cacat subjek memiliki ekspektasi untuk
cepat sembuh namun sekarang subjek tidak berharap apa-apa lagi akan
kondisinya, sejak cacat sampai sekarang subjek tidak mengikuti pengobatan
apapun, memiliki total skor skala LOTR 15, dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek kelima masuk dalam kelompok usia dewasa madya, mengalami
cacat fisik yang diakibatkan karena kecelakaan, mengalami cacat antara 120
sampai 148 bulan, subjek mengalami cacat setelah menikah, subjek yang awalnya
bekerja jadi tidak bekerja lagi setelah mengalami cacat, istri subjek sebelum dan
sesudah subjek mengalami cacat tetap bekerja, menganggap peran utama kepala
keluarga adalah untuk menafkahi keluarga, diawal mengalami cacat dan sekarang
subjek memiliki ekspektasi untuk cepat sembuh, subjek mengikuti pengobatan
medis dan non medis, memiliki total skor skala LOTR 13, dan masuk dalam
kelompok tidak terkategori.
Subjek keenam masuk dalam kategori usia dewasa madya, mengalami
cacat fisik yang disebabkan karena kecelakaan, cacat dialami subjek sejak 4
bekerja namun sekarang tidak bekerja lagi, istri subjek yang awalnya tidak bekerja
jadi bekerja setelah subjek mengalami cacat, subjek memandang peran utama
kepala keluarga adalah untuk membahagiakan keluarganya, diawal mengalami
cacat subjek memiliki ekspektasi masih bisa bekerja, ekspektasi subjek sekarang
bisa kembali normal, subjek hanya mengikuti pengobatan non medis selama
mengalami cacat, memiliki total skor skala LOT-R sebanyak 21 dan masuk dalam
kategori optimis.
Subjek ketujuh berada di kelompok usia dewasa madya, mengalami cacat
fisik yang disebabkan karena kecelakaan, cacat fisik antara 4 sampai 32 bulan,
subjek mengalami cacat fisik setelah menikah, subjek sebelum dan sesudah cacat
tetap bekerja, istri subjek bekerja sebelum dan sesudah cacat tetap bekerja, peran
utama kepala keluarga menurut subjek adalah untuk menafkahi keluarganya,
diawal mengalami cacat dan sekarang subjek memiliki ekspektasi untuk cepat
sembuh, subjek hanya mengikuti pengobatan medis, memiliki total skor skala
LOT-R 16 dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek kedelapan berada di usia dewasa madya, cacat fisik dialami karena
sakit,telah dialami selama 91 sampai 119 bulan, cacat terjadi setelah pernikahan,
karena cacat subjek yang awalnya bekerja sekarang tidak dapat lagi bekerja, istri
subjek sebelum dan sesudah suami cacat tetap bekerja, menganggap peran utama
kepala keluarga adalah untuk menafkahi keluarga, ekspektasi subjek diawal cacat
dan sekarang sama yaitu cepat sembuh, mengikuti pengobatan medis dan non
medis, memiliki total skor skala LOT-R 15 dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek kesembilan berada di usia dewasa madya, cacat fisik terjadi karena
subjek yang awalnya bekerja jadi tidak bekerja, istri subjek yang sebelumnya
tidak bekerja tetap tidak bekerja, peran utama kepala keluarga adalah menafkahi
keluarga, diawal mengalami cacat subjek berharap masih bisa bekerja namun
sekarang subjek hanya berharap untuk bisa sembuh, subjek hanya mengikuti
pengobatan non medis, total skor skala LOT-R 19, dan masuk dalam kategori
optimis.
Subjek kesepuluh berada di usia dewasa awal, cacat dialami pada fisiknya
yang disebabkan karena kecelakaan, subjek telah mengalami kondisi ini selama 4
sampai 32 bulan, terjadi sesudah subjek menikah, karena keterbatasannya subjek
yang awalnya bekerja jadi tidak bekerja lagi, istri subjek sebelum dan sesudah
subjek cacat tidak bekerja, peran utama keluarga menurut subjek adalah untuk
menafkahi keluarga, diawal cacat dan sekarang subjek memiliki ekspektasi untuk
cepat sembuh, subjek hanya mengikuti pengobatan non medis, total skor skala
LOT-R 17 dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek kesebelas berada di usia dewasa madya, cacat terjadi pada fisik
subjek yang disebabkan karena penyakit, cacat dialami antara 4 sampai 32 bulan,
terjadi setelah menikah, subjek sebelum dan sesudah cacat fisik tetap bekerja, istri
subjek sebelum dan sesudah subjek cacat tetap tidak bekerja, peran utama kepala
keluarga adalah untuk menafkahi keluarga, subjek diawal cacat mengalami
keinginan untuk cepat sembuh dan sekarang ingin bisa kembali normal, subjek
mengikuti dua jenis pengobatan baik medis maupun non medis, total skor skala
LOT-R 20, dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek keduabelas berada di usia dewasa madya, mengalami cacat fisik
bulan, cacat setelah menikah, sebelum dan sesudah cacat subjek tetap bekerja,
sebelum dan sesudah cacat istri subjek tetap bekerja, peran utama kepala keluarga
menurut subjek adalah untuk menafkahi keluarga, diawal mengalami cacat dan
sekarang subjek berharap untuk cepat sembuh, mengikuti pengobatan medis dan
non medis, total skor skala LOT-R 18, dan masuk dalam kategori optimis.
Subjek ketigabelas masuk dalam kelompok usia dewasa madya,
mengalami cacat fisik yang disebabkan karena penyaki, cacat telah terjadi selama
4 sampai 32 bulan, cacat terjadi sesudah menikah, baik sebelum maupun sesudah
cacat subjek tetap bekerja, sebelum dan sesudah cacat istri subjek tetap bekerja,
peran utama kepala keluarga menurut subjek adalah untuk menafkahi keluarga,
subjek berharap untuk cepat sembuh sekarang dan diawal mengalami cacat, hanya
mengikuti pengobatan non medis, total skor skala LOT-R 18 dan masuk dalam
kategori optimis.
Subjek keempat belas masuk dalam kategori usia dewasa awal, mengalami
cacat fisik yang disebabkan karena kecelakaan, telah terjadi selama 4 sampai 32
bulan, cacat terjadi sesudah pernikahan, subjek yang awalnya bekerja jadi tidak
bekerja, istri subjek sebelum dan sesudah subjek cacat tetap bekerja, peran utama
kepala keluarga untuk menafkahi keluarga, ekspektasi subjek diawal cacat adalah
dapat kembali bekerja namun sekarang subjek hanya berharap untuk bisa sembuh,
hanya mengikuti pengobatan non medis, total skor skala LOT-R 19 dan masuk
kategori optimis.
Subjek kelimabelas berada di usia dewasa madya, mengalami cacat fisik
akibat kecelakaan, cacat telah dialami selama 4 sampai 32 bulan, mengalami cacat
subjek sebelum dan sesudah subjek cacat tetap bekerja, peran kepala keluarga
menurut subjek adalah untuk menafkahi keluarga, diawal cacat subjek ingin bisa
kembali bekerja namun sekarang subjek berharap cepat sembuh, hanya mengikuti
pengobatan non medis, total skor skala LOT-R 17 dan masuk dalam kategori
optimis.
B. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar suami tergolong optimis
yaitu 86,67% (13 orang), 13,33% tidak terkategori (2 orang) dan tidak ada subjek
yang pesimis. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas suami yang cacat dalam
penelitian ini memiliki keyakinan dapat mencapai tujuan walaupun mengalami
kesulitan. Sehingga meskipun mengalami cacat, mereka yakin bisa menghadapi
kondisinya tersebut. Mereka juga diasumsikan memiliki tingkat penggunaan
copingyang lebih adaptif (Carr, 2004) dibanding dengan yang tidak terkategori.
Berdasarkan pengelompokannya subjek yang berada pada usia dewasa
awal (4 orang) semuanya optimis sedangkan subjek pada usia dewasa madya (11
orang), 9 orang optimis dan 2 orang tidak terkategori. Hal ini menunjukkan kalau
usia subjek ternyata tidak mempengaruhi optimisme subjek.
Dari 15 orang subjek yang terlibat dalam penelitian, 2 subjek mengalami
cacat penglihatan dan 13 subjek mengalami cacat fisik. Kedua orang subjek yang
cacat penglihatan masuk dalam kategori optimis. Sedangkan 13 subjek yang cacat
fisik, tidak semuanya optimis, hanya 11 orang yang masuk kategori optimis dan
sisanya 2 orang masuk dalam kelompok tidak terkategori. Cacat penglihatan dan
dihadapinya tersebut. Subjek yang cacat penglihatan dan fisik yang masuk dalam
kategori optimis dianggap telah dapat menyesuaikan diri dengan kondisinya,
sedangkan subjek masuk dalam kelompok tidak terkategori dapat disebabkan
karena subjek masih belum dapat menerima kondisinya yang dahulu normal
sekarang harus bergantung pada orang lain dalam hal ini kepada istri.
Subjek yang cacat karena penyakit ada 9 orang sedangkan yang cacat
karena kecelakaan ada 6 orang. Dari 9 orang yang cacat karena penyakit 8 orang
masuk dalam kategori optimis sedangkan 1 orang lainnya tidak terkategori. Dari 6
orang yang cacat karena kecelakaan, 5 orang optimis dan 1 orang tidak
terkategori. Optimis atau tidaknya subjek ternyata tidak dipengaruhi oleh
penyebab cacat.
Dari 15 orang subjek, 7 orang mengalami cacat antara 4 sampai 32 bulan,
1 orang mengalami cacat antara 33 sampai 61 bulan, 2 orang mengalami cacat
antara 62 sampai 90 bulan, 1 orang subjek mengalami cacat selama 91 sampai 119
bulan dan 4 orang mengalami cacat 120 sampai 148 bulan. Total subjek yang
mengalami cacat selama 4 sampai 119 bulan ada 11 orang dan mereka semua
tergolong dalam kategori optimis. Empat orang lainnya mengalami cacat antara
120 sampai 148 bulan, dua orang masuk kategori optimis dan dua orang masuk
dalam kelompok tidak terkategori. Lamanya subjek mengalami cacat fisik
ternyata tidak menjadi patokan individu akan optimis atau tidak. Mereka yang
telah lama cacat pun ketika tidak memiliki keyakinan dapat menjalankan
hidupnya dengan baik dengan keterbatasannya ternyata masih masuk dalam
cacat tetapi mampu menyesuaikan diri terhadap keterbatasan yang dimiliki malah
lebih optimis.
Subjek yang mengalami cacat sebelum menikah ada 2 orang sedangkan
subjek yang mengalami cacat sesudah menikah ada 13 orang. Dua orang subjek
yang cacat sebelum menikah, keduanya optimis. Dari 13 subjek yang mengalami
cacat sesudah menikah, 11 orang optimis dan 2 orang tidak terkategori. Subjek
yang mengalami cacat sebelum menikah optimis karena menganggap pasangan
sudah tahu kekurangan yang subjek miliki sebelum memutuskan untuk menikah
(dapat menerima kekurangan) sedangkan pada subjek yang mengalami cacat
sesudah menikah, kondisi subjek yang berbeda dari sebelumnya, belum tentu
dapat diterima oleh pasangan.
Hanya 6 orang subjek yang masih bekerja setelah mengalami cacat
sedangkan 9 subjek lainnya jadi tidak bekerja setelah mengalami cacat. Keenam
subjek yang tetap bekerja masuk dalam kategori optimis. Sembilan subjek yang
tidak bekerja, 7 orang optimis sedangkan 2 orang lainnya tidak terkategori.
Individu yang mengalami cacat akan mengalami kesulitan untuk bekerja sehingga
cacat sering menjadi faktor yang menyebabkan individu di keluarkan dari
pekerjaannya. Enam orang subjek yang masih bekerja setelah cacat ternyata sejak
awal telah menjalankan usahanya sendiri bukan bekerja dengan orang lain
sehingga kondisi cacat tidak menyebabkan subjek kehilangan pekerjaannya.
Sedangkan 9 orang subjek tidak bekerja lagi karena diberhentikan dari