• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA TUTORIAL PEMBELAJARAN OPTIK DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN MULTIMEDIA TUTORIAL PEMBELAJARAN OPTIK DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA TUTORIAL PEMBELAJARAN OPTIK DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK

(Skripsi)

Oleh: ASTARI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

Astari

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MULTIMEDIA TUTORIAL PEMBELAJARAN OPTIK DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Astari

Perkembangan Teknologi dan Ilmu Komputer (TIK) dalam pendidikan memberikan kemudahan dalam menyediakan media yang dapat mengatasi keterbatasan dalam proses pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang berbasis TIK adalah multimedia tutorial. Media pembelajaran berbasis multimedia tutorial digunakan dalam proses pembelajaran untuk memperkuat penguasaan konsep peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai dan kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien.

(3)

Astari yang meliputi uji ahli materi dan uji ahli desain. Tahapan selanjutnya adalah uji eksternal pada kelompok kecil dan diperoleh hasil bahwa produk yang dikembangkan dikategorikan menarik dengan skor 3,2 , mudah digunakan dengan skor 3,0, dan bermanfaat dengan skor 3,1, serta multimedia yang dikembangkan efektif digunakan dalam pembelajaran dengan presentase hasil belajar siswa sebesar 80% tuntas KKM.

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, pada tanggal 31 Mei 1992, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Buang Suharto dan Ibu Armalia.

Penulis mengawali pendidikan formal pada Tahun 1996 di TK Dharma Wanita Bukit Kemuning dan lulus pada tahun 1997, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Negeri 1 Bukit Kemuning pada Tahun 2004. Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Negeri 3 Bukit Kemuning pada Tahun 2007, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 15 Bandar Lampung pada Tahun 2010. Tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa program studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.

(9)

MOTO

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan kerendahan hati, teriring doa dan puji syukur kepada Allah SWT, penulis mempersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda bakti dan kasih cintaku yang tulus dan mendalam kepada:

1. Bapak Buang Suharto dan ibu Armalia sebagai orang tua yang selalu mendo’akanku serta memberikan semangat demi keberhasilanku. 2. Adik dan kakak-kakakku (Ayuk Dian,Deni, dan Ayu) yang selalu

(11)

SANWACANA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena kasih sayang dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul “Pengembangan Multimedia Tutorial Pembelajaran Optik dengan

Pendekatan Saintifik” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fisika di FKIP Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung. 2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Bapak Drs. Eko Suyanto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika sekaligus selaku Dosen Pembimbing I yang telah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan penulis selama penulisan skripsi. 4. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II atas

kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik selama proses penyelesaian skripsi ini.

(12)

6. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Program Studi Pendidikan Fisika dan Jurusan Pendidikan MIPA.

7. Farada Andyka terima kasih atas semua kerja kerasnya untuk membantu penulis.

8. Sahabat seperjuangan Pendidikan Fisika A 2010 ( Siti Fatimah, Puspa Mitir, Gledys, Rohma Oim, Riski Bebek, Badri, Yudhi, Yusron, Ajo dian, Fitri, Meitri, Tami, Anton, Irfan Hima, Junia, Eva, Ferry, Eni, Ricca, Novi, Rohli, Tama, Hadi,), dan mbak Fathin, serta Pendidikan Fisika B 2010.

9. Sahabat KKN/PPL terima kasih atas kekompakannya hingga saat ini dan selamanya.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Oktober 2014 Penulis,

(13)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Ruang Lingkup Penelitian... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Pengembangan ... 6

B. Media Pembelajaran ... 9

C. Multimedia ... 10

D. Multimedia Tutorial ... 12

E. Pendekatan Saintifik ... 14

F. Alat-Alat Optik ... 17

G. Rancangan Teori Pembelajaran Optik dengan Pendekatan Saintifik. 30 H. Macromedia Flash Pro 8 ... 32

III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 35

B. Prosedur Penelitian Pengembangan ... 36

(14)

vii

2. Identifikasi Sumber Daya ... 39

3. Identifikasi Spesifikasi Produk ... 39

4. Pengembangan Produk ... 40

5. Uji Internal ... 40

6. Uji Eksternal ... 41

7. Produksi ... 42

C. Teknik Pengumpulan Data ... 42

1. Teknik Wawancara ... 43

2. Teknik Observasi... 43

3. Teknik Angket ... 43

4. Teknik Tes Khusus ... 43

D. Teknik Analisis Data ... 44

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pengembangan ... 48

B. Pembahasan ... 57

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 60

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1.Lembar Observasi Inventarisasi Fasilitas Sekolah... 65

2.Angket Analisis Kebutuhan ... 66

3.Hasil Analisis Kebutuhan ... 69

4.Storyboard ... 72

5.Silabus ... 130

6.RPP ... 135

7.Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli Media ... 141

(15)

viii

9.Instrumen Uji Ahli Desain Media ... 150

10.Instrumen Uji Ahli Desain Panduan Guru ... 155

11.Instrumen Uji Ahli Materi Media ... 158

12.Instrumen Uji Ahli Materi Panduan Guru ... 168

13.Hasil Uji Ahli Desain Media ... 171

14.Hasil Uji Ahli Desain Panduan Guru ... 172

15.Hasil Uji Ahli Materi Media ... 174

16.Hasil Uji Ahli Materi Panduan Guru ... 175

17.Kisi-Kisi Instrumen Uji Satu Lawan Satu ... 179

18.Kisi-Kisi Instrumen Uji Kemenarikan ... 182

19.Instrumen Uji Satu Lawan Satu ... 185

20.Instrumen Uji Kemenarikan ... 188

21.Hasil Uji Eksternal Satu Lawan Satu ... 191

22.Hasil Uji Eksternal Kelompok Kecil ... 192

23.Kisi-Kisi Instrumen Uji Keefektifan ... 197

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban ... 46

3.2 Konvensi Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai Kualitas dalam Suyanto (2009: 20) ... 47

4.1 Hasil Penilaian Uji Internal Panduan Guru ... 55

4.2 Hasil Uji Eksternal Satu Lawan Satu ... 56

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Konsep Pendekatan Saintifik ... 16

2.2 Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik ... 16

2.3 Bagian-Bagian Mata ... 18

2.4 Pembentukan Bayangan pada Mata ... 19

2.5 Kondisi Lensa Mata saat Melihat Benda ... 20

2.6 Pembentukan Bayangan pada Cacat Mata Miopi ... 21

2.7 Pembentukan Bayangan pada Cacat Mata Hipermetropi ... 22

2.8 Mengamati Benda dengan Mata Berakomodasi ... 24

2.9 Mengamati Benda dengan Mata Tak Berakomodasi ... 26

2.10 Bagian-Bagian Mikroskop ... 27

2.11 Pembentukan Bayangan pada Mikroskop untuk Mata Berakomodasi Maksimum ... 28

2.12 Pembentukan Bayangan pada Mikroskop untuk Mata Berakomodasi Maksimum ... 29

2.13 Area Kerja Macromedia Flash Pro 8 ... 34

3.1 Model Pengembangan Media Instruksional diadaptasi dari Prosedur Pengembangan Produk dan Uji Produk menurut Suyanto dan Sartinem ... 37

3.2 One-Shot Case Study ... 44

4.1 Tampilan Awal ... 49

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fisika adalah ilmu pengetahuan alam yang mempelajari sifat dan gejala alam secara keseluruhan. Optik merupakan salah satu cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang sifat cahaya dan gejala yang ditimbulkan dari interaksi cahaya. Konsep pada pembelajaran optik bersifat abstrak, terutama mengenai pembentukan bayangan pada alat-alat optik.

Proses belajar mengajar seringkali dihadapkan dengan konsep materi yang bersifat abstrak dan diluar pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sulit dipahami oleh siswa dan guru sulit membelajarkannya. Tetapi dengan

berkembangnya teknologi dalam dunia pendidikan memberikan kemudahan dalam menyediakan media yang dapat mengatasi keterbatasan dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia akan membantu siswa dalam menggambarkan konsep fisika yang bersifat abstrak ke yang lebih konkret, sehingga penguasaan konsep jauh lebih baik.

(19)

2

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan berupa angket yang diberikan kepada guru bahwa kebanyakan guru belum menggunakan media pembelajaran yang memuat scientific approach. Guru hanya menggunakan metode ceramah, penyampaian materi hanya bersifat informatif. Sehingga banyak siswa yang masih kesulitan untuk memahami isi materi dan menyebabkan proses pembelajaran tidak maksimal. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.74 tahun 2008 tentang guru pasal 3 ayat (4) menyatakan bahwa kompetensi pedagogik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

(20)

3

Salah satu software yang dapat digunakan untuk membuat multimedia tutorial adalah Macromedia Flash Professional 8. Macromedia Flash Professional 8 mempunyai banyak kelebihan dalam penggunaannya, khususnya dalam penyampaian materi pelajaran. Kelebihan tersebut diantaranya adalah gambar, animasi, dan suara yang mempunyai daya tarik tersendiri dan lebih memudahkan dalam mempelajari materi terutama pada pembelajaran fisika.

Sesuai dengan paparan diatas, maka perlu dikembangkan multimedia tutorial pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik untuk menambah variasi media pembelajaran dan membantu siswa dalam proses pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah diperlukan multimedia tutorial pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik untuk SMA/MA yang berisi materi ajar,

praktikum virtual, latihan soal beserta kunci jawabannya, dan uji kompetensi yang dilengkapi dengan perekaman nilai untuk setiap jawaban benar, disertai buku panduan guru.

C. Tujuan Penelitian

(21)

4

D. Manfaat Penelitian

Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Memberikan alternatif pemecahan masalah dalam keterbatasan praktikum fisika khususnya pada pembelajaran alat-alat optik.

2. Tersedianya sumber belajar yang bervariasi bagi siswa yang dapat digunakan secara mandiri atau bersama kelompok belajarnya dalam proses pembelajaran untuk mencapai penguasaan kompetensi.

3. Membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematis dengan metode ilmiah.

4. Memberikan motivasi bagi guru untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran dan memanfaatkan teknologi khususnya teknologi berbasis elektronik dalam kegiatan pembelajaran.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari berbagai macam perbedaan penafsiran tentang penelitian ini, maka diberikan batasan sebagai berikut:

1. Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia tutorial.

2. Pengembangan media pembelajaran dilengkapi dengan buku panduan guru. 3. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan media

pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik.

(22)

5

5. Pengembangan multimedia tutorial dilakukan untuk pembelajaran fisika SMA/MA materi optik.

6. Metode pengembangan yang digunakan diadaptasi dari Suyanto dan Sartinem (2009).

(23)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan sering dikenal dengan Research and Development (R&D). Menurut Setyosari (2010: 214) penelitian pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangan dan memvalidasi produk pendidikan.

Menurut Gay dalam Farida (2012: 3) penelitian pengembangan adalah suatu usaha untuk mengembangkan suatu produk yang efektif untuk digunakan sekolah, dan bukan untuk menguji teori. Sedangkan Borg and Gall (1983) mendefinisikan penelitian pengembangan sebagai berikut:

Educational Research and development (R & D) is a process used to develop and validate educational products. The steps of this process are usually referred to as the R & D cycle, which consists of studying research findings pertinent to the product to be developed, developing the products based on these findings, field testing it in the setting where it will be used eventually, and revising it to correct the deficiencies found in the filed-testing stage. In more rigorous programs of R&D, this cycle is repeated until the field-test data indicate that the product meets its behaviorally defined objectives.

Terjemahan:

(24)

7

peninjauan ulang dan mengoreksi produk tersebut berdasarkan hasil uji coba. Hal itu sebagai indikasi bahwa produk temuan dari kegiatan pengembangan yang dilakukan mempunyai obyektivitas.

Berdasarkan penjabaran diatas dapat disimpulkan, penelitian pengembangan merupakan proses untuk mengembangkan suatu produk baru atau

menyempurnakan produk yang telah ada dan memvalidasi produk tersebut untuk mengetahui layak atau tidak untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

Sedangkan Badarudin (2011: 1) mengemukakan bahwa:

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada.

Adapun prosedur penelitian pengembangan menurut beberapa pendapat antara lain:

Menurut Suyanto dan Sartinem (2009: 16) terdapat tujuh prosedur pengembangan produk dan uji produk, yaitu:

(1)Analisis kebutuhan ,(2) Identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, (3) Identifikasi spesifikasi produk yang dinginkan pengguna, (4) Pengembangan produk, (5) Uji internal: Uji spesifikasi dan Uji

operasionalisasi produk, (6) Uji eksternal : Uji kemanfaatan produk oleh pengguna, (7) Produksi.

Sedangkan menurut Asyhar (2011: 95) adalah sebagai berikut:

(1)Analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) Merumuskan tujuan pembelajaran, (3) Merumuskan butir-butir materi, (4) Menyusun instrument evaluasi, (5) Menyusun naskah/draft media, (6) Melakukan validasi ahli dan (7) Melakukan uji coba / tes dan revisi.

(25)

8

(1) Research and information collecting; termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian;

(2) Planning; termasuk dalam langkah ini merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika mungkin/diperlukan

melaksanakan studi kelayakan secara terbatas;

(3) Develop preliminary form of product, yaitu mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan. Termasuk dalam langkah ini adalah persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung; (4) Preliminary field testing, yaitu melakukan ujicoba lapangan awal dalam skala terbatas. dengan melibatkan subjek sebanyak 6 – 12 subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket;

(5) Main product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba awal. Perbaikan ini sangat

mungkin dilakukan lebih dari satu kali, sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam ujicoba terbatas, sehingga diperoleh draft produk (model) utama yang siap diujicoba lebih luas;

(6) Main field testing,

uji coba utama yang melibatkan seluruh mahasiswa;

(7) Operational product revision, yaitu melakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi; (8) Operational field testing, yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan;

(9) Final product revision, yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final);

(10) Dissemination and implementation, yaitu langkah menyebar -luaskan produk/model yang dikembangkan.

(26)

9

B. Media Pembelajaran

Media pembelajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan dan berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran dari penyampai pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa). Susilana dan Riyana (2007: 5) menjelaskan bahwa kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau penghantar.

Susilana dan Riyana (2007: 6) mengemukakan bahwa:

Media pembelajaran selalu terdiri atas dua unsur penting, yaitu unsur peralatan atau perangkat atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software). Dengan begitu, media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikan, namun yang terpenting bukanlah peralatan itu, tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut.

Sedangkan menurut Asyhar (2011: 7) mengemukakan bahwa:

Media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber secara terencana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

Gerlach dan Ely dalam Asyhar (2011: 7) mengemukakan bahwa:

Media pembelajaran memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Ia juga mengatakan media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dalam pembelajaran, sehingga bentuknya bisa berbentuk perangkat keras (hardware), seperti komputer, televisi, proyektor, dan perangkat lunak (software) yang digunakan dalam perangkat keras.

(27)

10

yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dalam pembelajaran sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.

C. Multimedia

Multimedia terdiri dari dua kata “multi” dan “media”. Multi yang berarti banyak sedangkan media berarti medium. Sehingga multimedia dapat diartikan sebagai media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks, gambar, grafis, foto, audio, video, dan animasi.

Beberapa definisi multimedia menurut para ahli adalah sebagai berikut (Asyhar, 2011: 75):

1. Najjar mendefinisikan bahwa”Multimedia is the use of text, graphics, animations, pictures, videos, and sound to present information. Since these media can now be integrated using a computer, there has been a virtual explosion of computer based multimedia instructional

applications”.

2. Vaughun menjelaskan bahwa multimedia adalah sembarang kombinasi yang terdiri atas teks, seni grafik, bunyi, animasi, dan video yang diterima oleh penggu melalui hardware komputer.

3. Heinich at al menyatakan bahwa multimedia merupakan penggabungan atau pengintegrasian dua atau lebih format media yang berpadu seperti teks, grafik, animasi, dan video untuk membentuk aturan informasi ke dalam suatu komputer.

Menurut Asyhar (2011: 75-76) multimedia dapat didefinisikan menjadi dua kategori yaitu:

(1) Multimedia content production

Multimedia adalah penggunaan dan pemrosesan media (text, audio, graphics, animation, video, dan interactivity) yang berbeda untuk menyampaikan informasi atau menghasilkan produk multimedia (musik, video, film, game, entertainment, dll), atau penggunaan sejumlah

(28)

11

media (text, audio, graphics, animation, video, animasi, graph/image, interactivity dan special effect.

(2) Multimedia Communication

Multimedia adalah menggunakan media (massa), seperti televisi, radio, cetak, dan internet, untuk mempublikasikan, menyiarkan, atau

mengkomunikasikan material advertising, publicity, entertainment, news, education, dll.. Dalam kategori ini media yang digunakan adalah TV, radio, film, cetak, musik, game, entertainment, tutorial, ICT (internet) dan gambar.

Sedangkan menurut Daryanto (2010: 49) multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

(1)Multimedia linier yaitu suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya: TV dan film.

(2)Multimedia interaktif yaitu suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah pembelajaran interaktif dan aplikasi game.

Multimedia dikatakan interaktif jika pengguna tidak hanya memperhatikan multi media yang dibuat, melainkan berinteraksi langsung dengan media tersebut yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna .

Menurut Rahayu (2013: 39) keuntungan multimedia interaktif dalam

pembelajaran adalah terintegrasinya komponen-komponen seperti suara, teks, grafik, interaktivitas, animasi, dan video yang dapat mengoptimalkan peran indera dalam menerima informasi ke dalam sistem memori, sehingga dapat relatif lebih cepat membangun struktur pemahaman siswa.

Menurut Rahayu (2013: 43) terdapat beberapa prinsip dalam mengembangkan aplikasi multimedia pembelajaran, yaitu:

(29)

12

aplikasi harus menarik minat siswa, sistematika, mengikuti teori-teori belajar, menggunakan bahasa yang tepat, dan memperhatikan tingkat kematangan siswa, (3) Aplikasi harus di lengkapi navigasi dan petunjuk penggunaannya, (4) Kualitas fisik aplikasi harus baik.

Dalam mengembangkan multimedia pembelajaran ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sajian materi harus sesuai dengan kompetensi dasar, menarik minat peserta didik, sistematika sesuai teori belajar, dan dilengkapi navigasi dan petunjuk penggunaan yang jelas.

D. Multimedia Tutorial

Tutorial adalah bantuan atau bimbingan belajar oleh tutor kepada tutee untuk membantu kelancaran proses belajar mandiri secara perorangan atau kelompok. Tutor adalah seseorang yang memiliki peran sebagai instruktur, moderator, fasilitator, konselor, komentator, dan pengamat.

Rusyana (2012: 14) menyatakan bahwa:

peran tutor bukan sebagai penyampai materi belajar, tetapi sebagai animator (yang menggerakkan). Ia memotivasi pembelajaran untuk belajar,

mempermudah proses belajar; mendukung dan memperluas materi pembelajaran; menilai tingkat kompetensi yang dicapai, dan membantu memecahkan masalah-masalah belajar.

Tutorial menurut Rusyana (2012: 15) menyatakan “Train students for a particular examination, often at great speed and in a limited time”.

(30)

13

pengetahuan, misalnya topik yang harus diajarkan, tanggapan-tanggapan khusus, dan kekeliruan yang dilakukan siswa.

Mayoka (2011: 6) menyatakan bahwa:

Konsep belajar mandiri dalam tutorial mengandung pengertian, bahwa tutorial merupakan bantuan belajar dalam upaya memicu dan memacu kemandirian, disiplin, dan inisiatif diri dalam belajar dengan minimalisasi intervensi dari pihak pembelajar yang dikenal sebagai Tutor. Prinsip pokok tutorial adalah “kemandirian siswa”.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tutorial adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh tutor untuk membimbing, bantuan, dan motivasi belajar agar siswa mengembangkan kemampuannya dengan belajar mandiri, sehingga mampu menguasai materi pembelajaran.

Menurut Sudatha (2009):

Multimedia tutorial memiliki ciri, yaitu: mencakup informasi pelajaran, memusatkan perhatian, mengandung informasi terbaru, menyajikan konsep sedikit demi sedikit, pemberian umpan balik, penggunaan strategi yang berbeda dalam proses pembelajaran siswa.

Jadi, multimedia tutorial adalah produk pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi teks, grafik, animasi, suara, dan video yang

(31)

14

E. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik (scientific) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Menurut Suhendi (2013: 1), pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Pendekatan saintifik berarti konsep dasar yang melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah.

Menurut majalah Forum Kebijakan Ilmiah dalam Suhendi (2013: 1) yang terbit di Amerika pada tahun 2007 menyatakan bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran harus memenuhi tiga prinsip utama, yaitu:

a. Belajar siswa aktif, dalam hal ini termasuk inquiry-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar kelompok, dan belajar berpusat pada siswa.

b. Assessment berarti pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.

c. Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman. Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.

Sedangkan menurut Sudrajat (2013: 1) terdapat beberapa metode pembelajaran yang di pandang sejalan dengan pinsip-prinsip pendekatan saintifik, yaitu:

1) Problem based learning, 2) Project based learning, 3) Inkuiri, dan 4) Group investigation

(32)

15

based learning, project based learning, inkuiri, group investigation, dan cooperative learning.

Dalam Kemendikbud (2013: 191), menyatakan bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

2) Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

3) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengindentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. 4) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik

dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran.

5) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.

6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung-jawabkan.

7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya.

(33)
[image:33.595.193.435.80.237.2]

16

Gambar 2.1 Konsep Pendekatan Saintifik Sumber: Kemendikbud (2013)

Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik yaitu:

Gambar 2.2 Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik Sumber: Kemendikbud (2013)

Berikut ini penjelasan (Kemedikbud 2013: 194-216) dari gambar 2.2 adalah sebagai berikut:

a. Mengamati

Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menentukan objek apa yang akan diobservasi, membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi, menentukan data-data apa yang perlu diobservasi, menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi, menentukan bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data, dan melakukan pencatatan atas hasil observasi. b. Menanya

Pertanyaan yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami tingkatan kognitif dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini.

[image:33.595.117.515.295.408.2]
(34)

17

Menalar adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.

d. Mencoba

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.

e. Jejaring Pembelajaran

Kerjasama peserta didik dalam mencapai tujuan bersama.

Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian

mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta.

F. Alat-alat Optik

Penerapan cermin dan lensa dalam kehidupan sehari- hari adalah pada peralatan optik, seperti mata, lup, mikroskop, teropong, periskop, dan sebagainya. Bagian utama dari alat optik adalah cermin atau lensa, karena prinsip kerjanya mengacu pada konsep pembiasan dan pemantulan cahaya.

a. Mata

(35)
[image:35.595.183.447.116.261.2]

18

Gambar 2.3 Bagian-Bagian Mata

1. Kornea

Berfungsi menerima dan meneruskan cahaya yang masuk pada mata, serta melindungi bagian mata yang sensitif di bawahnya.

2. Pupil

Merupakan celah sempit berbentuk lingkaran dan berfungsi agar cahaya dapat masuk ke dalam mata dan mengatur intesintas sinar yang masuk ke lensa mata.

3. Iris

Merupakan selaput berwarna hitam, biru, atau coklat yang berfungsi untuk mengatur besar kecilnya pupil.

4. Aquaeus Humour

(36)

19

5. Lensa mata

Berfungsi untuk membiaskan cahaya dari benda agar terbentuk bayangan pada retina.

6. Retina

Merupakan bagian yang berfungsi sebagai layar untuk menangkap bayangan yang dihasilkan oleh lensa.

7. Bintik kuning

Merupakan bagian dari retina yang berfungsi sebagai tempat terbentuknya bayangan yang jelas.

8. Saraf Optik

Berfungsi untuk meneruskan rangsangan bayangan dari retina menuju ke otak.

[image:36.595.158.471.458.571.2]

Diagram pembentukan bayangan pada mata adalah sebagai berikut:

Gambar 2.4 Pembentukan Bayangan pada Mata

(37)

20

mengubah kecembungan lensa mata. Hal inilah yang menyebabkan mata bisa melihat benda yang memiliki jarak berbeda tanpa mengalami kesulitan.

1. Daya Akomodasi

Kemampuan lensa mata untuk mengubah jarak fokusnya disebut daya akomodasi. Pada saat mata melihat benda yang dekat, otot-otot siliar menegang sehingga lensa mata lebih cembung. Sebaliknya, pada saat melihat benda yang jauh otot-otot siliar mengendur (rileks) sehingga lensa mata lebih pipih.

[image:37.595.135.484.308.408.2]

(a)Mata memandang benda berjarak dekat (b) Mata memandang benda berjarak jauh

Gambar 2.5 Kondisi Lensa Mata saat Melihat Benda

(38)

21

2. Cacat Mata

Pada kenyataannya, mata manusia tidak semuanya normal. Ketidaknormalan mata manusia sering disebut cacat mata atau aberasi. Pada umumnya, masalah cacat mata terjadi karena bayangan benda tidak tepat jatuh di retina. Ada yang mengalami cacat mata karena bayangan benda jatuh di depan retina dan ada pula yang jatuh di belakang retina.

a. Miopi (Rabun Jauh)

[image:38.595.197.476.534.709.2]

Miopi adalah kondisi mata yang tidak dapat melihat dengan jelas benda-benda yang letaknya jauh. Penderita miopi titik jauhnya lebih dekat daripada tak terhingga (titik jauh < ~) dan titik dekatnya kurang dari 25 cm. Hal ini terjadi karena lensa mata tidak dapat dipipihkan sebagaimana mestinya sehingga bayangan dari benda yang letaknya jauh akan jatuh di depan retina. Untuk dapat melihat benda-benda yang letaknya jauh agar nampak jelas, penderita miopi ditolong dengan kaca mata berlensa cekung (negatif).

(39)

22

b. Hipermetropi

[image:39.595.195.466.292.508.2]

Hipermetropi adalah cacat mata dimana mata tidak dapat melihat dengan jelas benda-benda yang letaknya dekat. Titik dekatnya lebih jauh daripada titik dekat mata normal (titik dekat > 25 cm). Disebabkan lensa mata terlalu pipih atau bola mata terlalu kecil, sehingga bayangan dari benda yang dekat terbentuk di belakang retina. Cacat mata ini dapat ditolong dengan kacamata berlensa cembung (positif).

Gambar 2.7 Pembentukan Bayangan pada Cacat Mata Hipermetropi

c. Presbiopi ( Mata Tua)

Presbiopi atau mata tua, tidak jelas melihat benda yang terlalu jauh maupun terlalu dekat. Hal ini disebabkan daya akomodasi mata sudah berkurang karena lanjut usia. Mata tua memiliki otot siliar yang tidak lagi baik seperti pada mata normal. Akibatnya, kemampuan otot untuk

(40)

23

pada mata normal. Penderita cacat presbiopi memiliki titik dekat lebih besar daripada 25 cm dan titik jauh pada jarak tertentu sehingga penderita presbiopi tidak dapat melihat atau membaca pada jarak normal dan tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas. Penderita ini dapat ditolong dengan kacamata berlensa rangkap (bifokal). Kacamata ini terdiri atas lensa

cembung dan cekung. Untuk melihat benda jauh, penderita presbiopi dapat menggunakan lensa cekung. Adapun untuk melihat benda pada jarak normal, penderita presbiopi dapat menggunakan lensa cembung.

d. Astigmatisma

Astigmatisma adalah cacat mata dimana kelengkungan selaput bening atau lensa mata tidak merata sehingga berkas sinar yang mengenai mata tidak dapat terpusat dengan sempurna. Cacat mata astigmatisma tidak dapat membedakan garis-garis tegak dengan garis-garis mendatar secara bersama-sama. Cacat mata ini dapat ditolong dengan kaca mata berlensa silinder.

b. Lup

(41)

24

[image:41.595.132.506.115.207.2]

(a)Mengamati Langsung (b) Memakai Lup

Gambar 2.8 Mengamati Benda dengan Mata Berakomodasi

Pada saat mata belum menggunakan lup, benda tampak jelas bila diletakkan pada titik dekat pengamat (s = sn) sehingga mata melihat benda dengan sudut pandang

α. Pada Gambar 2.8 (b), seorang pengamat menggunakan lup dimana benda diletakkan antara titik O dan f (di ruang I) dan diperoleh bayangan yang terletak pada titik dekat mata pengamat (s' = sn). Karena sudut pandang mata menjadi

lebih besar, yaitu β, maka mata pengamat berakomodasi maksimum.

Untuk mata normal dan berakomodasi maksimum, bayangan yang terbentuk berada pada jarak baca normal (sn) yaitu 25 cm. Oleh karena itu, perbesaran

bayangan pada lup dapat dituliskan , karena s' = 25 cm, maka perbesarannya menjadi .

Lup terbuat dari sebuah lensa cembung, sehingga persamaan lup sama dengan persamaan lensa cembung.

atau

Perbesaran bayangan (M):

(42)

25

Untuk mata berakomodasi maksimum s' = -25 cm (tanda negatif (-) menunjukkan bayangan di depan lensa) sehingga diperoleh:

atau

Keterangan:

M : perbesaran bayangan f : jarak fokus lup

Sifat bayangan yang dihasilkan lup adalah maya, tegak, dan diperbesar.

Menggunakan lup untuk mengamati benda dengan mata berakomodasi maksimum cepat menimbulkan lelah. Oleh karena itu, pengamatan dengan menggunakan lup sebaiknya dilakukan dengan mata tak berakomodasi (mata dalam keadaan rileks). Menggunakan lup dengan mata tak berakomodasi dapat diperoleh bila benda diletakkan pada titik fokus lup (s = f).

(43)
[image:43.595.202.423.86.236.2]

26

Gambar 2.9 Mengamati Benda dengan Mata Tak Berakomodasi

Sehingga perbesaran bayangan yang dibentuk lup untuk mata tak berakomodasi adalah sebagai berikut.

karena , maka

Pada kehidupan sehari-hari, lup biasanya digunakan oleh tukang arloji, pedagang kain, pedagang intan, polisi, dan sebagainya.

c. Mikroskop

(44)

27

[image:44.595.212.437.153.328.2]

dimaksudkan agar benda yang diamati kelihatan sangat besar dan mikroskop dapat dibuat lebih praktis (lebih pendek).

Gambar 2.10 Bagian-Bagian Mikroskop

Benda yang akan amati diletakkan pada sebuah kaca preparat di depan lensa objektif dan berada di ruang II lensa objektif (fobj < s < 2 fobj). Hal ini

menyebabkan bayangan yang terbentuk bersifat nyata, terbalik dan diperbesar. Bayangan yang dibentuk lensa objektif merupakan benda bagi lensa okuler.

Untuk memperoleh bayangan yang jelas, dapat menggeser lensa okuler dengan memutar tombol pengatur. Supaya bayangan terlihat terang, di bawah objek diletakkan sebuah cermin cekung yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya dan diarahkan pada objek. Ada dua cara dalam menggunakan mikroskop, yaitu dengan mata berakomodasi maksimum dan dengan mata tak berakomodasi.

1. Penggunaan Mikroskop dengan Mata Berakomodasi Maksimum

(45)

28

[image:45.595.200.467.207.385.2]

oleh lensa objektif harus terletak di ruang I lensa okuler (di antara Ook dan fok ). Hal ini bertujuan agar bayangan akhir yang dibentuk lensa okuler tepat pada titik dekat mata pengamat. Lukisan bayangan untuk mata berakomodasi maksimum dapat dilihat pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Pembentukan Bayangan pada Mikroskop untuk Mata Berakomodasi Maksimum

Secara matematis perbesaran bayangan untuk mata berakomodasi maksimum dapat ditulis sebagai berikut.

karena , maka

atau

Panjang mikroskop (tubus) dapat dinyatakan:

2. Penggunaan Mikroskop pada Mata Tak Berakomodasi

(46)

29

[image:46.595.183.480.142.329.2]

oleh lensa objektif tepat jatuh pada fokus lensa okuler. Lukisan bayangan untuk mata tak berakomodasi dapat dilihat pada gambar 2.12.

Gambar 2.12 Pembentukan Bayangan pada Mikroskop untuk Mata Tak Berakomodasi Maksimum

Perbesaran bayangan pada mata tak berakomodasi dapat ditulis sebagai berikut.

karena , maka

atau

Panjang mikroskop (jarak tubus) dapat dinyatakan:

Keterangan:

s'obj : jarak bayangan objektif

s'ok : jarak bayangan okuler

sobj : jarak objektif

sok : jarak benda okuler

(47)

30

fok : jarak fokus lensa okuler

Mobj : perbesaran bayangan lensa objektif

Mok : perbesaran bayangan lensa okuler

M : perbesaran total mikroskop L : panjang mikroskop (jarak tubus)

G. Rancangan Teori Pembelajaran Optik dengan Pendekatan Saintifik

Langkah-langkah rancangan teori pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik dan penerapannya untuk membuat multimedia tutorial.

1. Observing (mengamati)

Multimedia tutorial yang dirancang untuk menerapkan langkah observing

(mengamati) yaitu dilakukan dengan penyajian beberapa fenomena alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari sehingga memacu siswa untuk mengamati fenomena tersebut.

2. Questioning (menanya)

Berdasarkan fenomena yang disajikan pada multimedia tutorial, siswa terdorong untuk mengajukan pertanyaan mengenai fenomena tersebut. Guru perlu

(48)

31

3. Associating (menalar)

Memproses informasi yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan mengamati fenomena alat-alat optik.

4. Experimenting (mencoba)

Berdasarkan fakta, konsep, dan prinsip mengenai fenomena optik, siswa melakukan percobaan sebagai jawaban dari hipotesis yang diajukan siswa terhadap fenomena yang disajikan. Pada multimedia tutorial yang dirancang terdapat 3 praktikum virtual yaitu mata, lup, dan miskroskop.

Pada praktikum virtual mata yang dirancang, siswa melakukan percobaan dengan mengubah jarak benda terhadap mata untuk mengamati mekanisme pembentukan bayangan pada mata normal, mata berakomodasi, dan mata tidak berakomodasi. Kemudian siswa melakukan percobaan dengan mengubah jarak benda terhadap cacat mata rabun dekat dan cacat mata rabun jauh serta cara mengatasinya dengan lensa yang tepat.

Pada praktikum virtual lup yang dirancang, siswa melakukan percobaan dengan mengubah jarak lup dan dan titik fokus untuk mengamati mekanisme

(49)

32

5. Networking (membentuk jejaring)

Pada langkah ini, siswa menyampaikan hasil kerjanya melalui diskusi. Kemudian menyimpulkan hasil analisis yang telah dilakukan bahwa lup atau kaca pembesar adalah alat optik yang terdiri atas lensa cembung (konvergen) dan ukuran angular menggunakan lup lebih besar daripada ukuran angular jika melihatnya langsung dengan mata sehingga lup digunakan untuk melihat benda yang berukuran kecil.

H. MacromediaFlash Professional 8

Pengembangan multimedia pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak (software) Macromedia Flash Professional 8 dalam

penggarapannya. Pada tahun 2005 Macromedia mengeluarkan Flash Professional 8. Macromedia Flash Professional 8 ditujukan untuk desainer pembuat animasi serta pengguna yang memerlukan fasilitas lanjutan baik untuk para pengembang dan pembuat aplikasi interaktif.

Yudhiantoro (2006: 1) menyatakan:

Macromedia Flash adalah sebuah program yang ditujukan kepada para desainer maupun programer yang bermaksud merancang animasi untuk pembuatan halaman web, presentasi untuk tujuan bisnis maupun proses pembelajaran hingga pembuatan game interaktif serta tujuan-tujuan lain yang lebih spesifik.

Sedangkan Menurut Asyhar (2011: 187) :

(50)

33

Menurut Dwi ( 2012: 6) yaitu:

Macromedia Flash Professional 8 merupakan sebuah program aplikasi standar (authoring tool prefesional) yang dikeluarkan oleh perusahaan internasional Macromedia yang merupakan aplikasi yang dipakai dan digunakan untuk merancang grafis animasi ( rangkaian tulisan dan gambar yang digerakkan secara mekanik elektronis). Macromedia Flash

Professional 8 digunakan untuk mengolah gambar, animasi, gambar bitmap yang di-import, objek suara (sound), dapat menampilkan teks, gambar dan animasi yang menarik secara bersamaan.

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa macromedia flash adalah suatu aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat berbagai macam animasi,

presentasi, dan perangkat pembelajaran untuk mengembangkan suatu media pembelajaran.

Menurut Dwi (2012: 7), ada beberapa keuntungan pembuatan media pembelajaran menggunakan Macromedia Flash Professional 8. Keuntungan pembuatan media pembelajaran menggunakan Macromedia Flash Professional 8 antara lain:

(1)Ukuran file yang cukup kecil, sehingga pendistribusian media belajar lebih mudah,

(2)Mempunyai kemudahan dalam melakukan import file dalam banyak pilihan sehingga lebih hidup,

(3)File disimpan dalam tipe file. Exe tanpa harus menginstal flash, sehingga akan berjalan secara otomatis setelah dimasukkan dalam CD Ram di komputer.

(4)Gambar tidak akan pecah ketika di zoom,

(5)Font tidak akan berubah meski tidak ada font dalam komputer, (6)Dapat membuat tombol interaktif.

(51)

34

[image:51.595.118.514.138.282.2]

Berikut ini tampilan file atau dokumen baru dari area kerja Macromedia Flash Pro 8.

(52)

III. METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R & D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk.

Pengembangan yang dilakukan yaitu pembuatan multimedia tutorial

pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik. Multimedia yang dikembangkan berisi materi ajar, animasi interaktif, latihan soal beserta kunci jawaban, dan uji kompetensi yang dilengkapi dengan perekeman nilai setiap jawaban benar, serta buku panduan guru.

Sasaran dari pengembangan multimedia tutorial ini ditujukan untuk siswa SMA/MA kelas X. Proses pengembangan dilakukan dengan uji ahli dan uji coba produk. Uji ahli dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk yang dihasilkan berdasarkan kesesuaian produk dilihat dari segi isi/ materi

(53)

36

dilakukan untuk mengetahui tingkat kemudahan, kemenarikan, kemanfaatan, dan efektivitas produk yang telah dihasilkan dari penelitian pengembangan ini.

B. Prosedur Penelitian Pengembangan

Prosedur penelitian pengembangan ini menggunakan metode penelitian yang mengacu pada model pengembangan media instruksional yang diadaptasi dari Suyanto dan Sartinem (2009), yang memuat langkah-langkah pokok penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi guru untuk membelajarkan siswa dalam memahami materi pelajaran. Model

pengembangan tersebut meliputi tujuh tahapan prosedur pengembangan produk dan uji produk, yaitu:

(1) Analisis kebutuhan,

(2) Identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, (3) Identifikasi spesifikasi produk yang diinginkan pengguna, (4) Pengembangan produk,

(5) Uji internal: Uji kelayakan produk,

(6) Uji eksternal: Uji kemanfaatan produk oleh pengguna, (7) Produksi.

(54)
[image:54.595.115.525.79.630.2]

37

Gambar 3.1 Model Pengembangan Media Instruksional diadaptasi dari Prosedur Pengembangan Produk dan Uji Produk.

Sumber: Suyanto dan Sartinem (2009) Tahap VII

Produksi (Prototipe IV)

Revisi

Tahap VI

Uji Kemanfaatan Produk (Prototipe III)

Revisi

Tahap V

Uji Internal/kelayakan produk (Prototipe II)

Tahap IV

Pengembangan Produk (Prototipe I)

Tahap III

Identifikasi Spesifikasi Produk

Tahap II

Identifikasi Sumber Daya

Tahap I Analisis Kebutuhan

Uji Ahli Materi Uji Ahli Desain

(55)

38

1. Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan dilakukan untuk mengumpulkan informasi bahwa diperlukan adanya multimedia pembelajaran di sekolah. Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan cara observasi langsung, angket, dan wawancara. Wawancara adalah suatu teknik untuk mendapatkan data dengan mengadakan komunikasi verbal dengan nara sumber. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada guru mata pelajaran fisika kelas X. Wawancara terhadap guru mata pelajaran dilakukan bertujuan untuk menggali informasi tentang ketersediaan sumber, media dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran serta laboratorium fisika khususnya untuk pembelajaran pada materi alat-alat optik.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru mata pelajaran fisika kelas X sarana dan prasarana sudah termanfaatkan. Laboratorium fisika

khususnya untuk pembelajaran optik, alat-alat sudah tersedia. Namun guru belum memahami mengenai pendekatan saintifik dan guru kesulitan menjelaskan materi optik kepada siswa secara real sehingga dibutuhkan media pembelajaran yang dapat membantu proses pembelajaran.

Observasi langsung dilakukan untuk mengetahui ketersediaan buku fisika diperpustakaan, ketersediaan laboratorium fisika, KIT praktikum,

(56)

39

dan observasi inilah yang menjadi acuan penulisan latar belakang masalah penelitian pengembangan ini.

2. Identifikasi Sumber Daya

Identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dilakukan dengan menginventarisir segala sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya guru maupun sumber daya sekolah seperti perpustakaan, laboratorium, ketersediaan IT yang mendukung dan ketersedian media pembelajaran fisika. Atas dasar potensi sumber daya yang dimiliki maka peneliti melakukan pengembangan multimedia tutorial. Hasil identifikasi tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan spesifikasi produk yang akan diwujudkan.

3. Identifikasi Spesifikasi Produk

Identifikasi produk dilakukan untuk mengetahui ketersediaan sumber daya yang mendukung pengembangan produk dengan memperhatikan hasil analisis kebutuhan dan identifikasi sumber daya yang dimiliki oleh sekolah. Pada tahap ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan materi pembelajaran yang akan dikembangkan. b. Menganalisis konstruksi materi pembelajaran yang akan

dikembangkan.

(57)

40

d. Menentukan format pengembangan media pembelajaran berupa multimedia tutorial dan panduan guru.

4. Pengembangan Produk

Pengembangan pada tahap ini dilakukan pembuatan multimedia tutorial pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik. Spesifikasi produk yang dikembangkan menggunakan program tutorial yang memuat virtual laboratorium. Pengembangan produk yang dihasilkan diberi nama prototipe I.

Software yang digunakan untuk mengembangkan multimedia ini adalah Macromedia Flash Professional 8. Macromedia Flash Professional 8 digunakan untuk membuat animasi interaktif , membuat tombol-tombol interaktif, dan membuat praktikum virtual. Sehingga media yang dibuat menarik, mudah dioperasikan, dan dimengerti oleh pengguna. Hal

tersebut merupakan bagian dari penilaian yang menentukan baik tidaknya media sehingga layak digunakan.

5. Uji Internal

(58)

41

internal diberi nama prototipe II. Uji kelayakan produk ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1) Menentukan indikator penilaian yang digunakan untuk menilai prototipe I yang telah dibuat.

2) Menyusun instrumen uji kelayakan produk berdasarkan indikator penilaian yang telah ditentukan.

3) Melaksanakan uji kelayakan produk yang dilakukan oleh ahli desain dan ahli isi/materi pembelajaran.

4) Melakukan analisis terhadap hasil uji kelayakan produk dan melakukan perbaikan.

5) Mengkonsultasikan hasil yang telah diperbaiki kepada ahli desain dan ahli isi/materi pembelajaran.

6. Uji Eksternal

Setelah dilakukan uji internal dan diperoleh hasil prototipe II, langkah selanjutnya dilakukan uji eksternal yang diberikan kepada siswa untuk digunakan sebagai sumber sekaligus media pembelajaran. Uji eksternal merupakan uji coba kemanfaatan produk oleh pengguna, yaitu:

(59)

42

pembelajaran sebelum tahap uji coba media. Pada tahap ini, siswa menggunakan multimedia tutorial secara individu lalu diberikan angket untuk menyatakan apakah media sudah menarik, mudah digunakan dan membantu siswa dalam pembelajaran dengan pilihan jawaban “ya” dan

“tidak”, media akan diperbaiki pada pilihan jawaban tidak.

Sedangkan untuk uji lapangan dikenakan kepada satu kelas sampel yang dipilih secara acak pada siswa yang belum pernah mendapatkan materi optik untuk mengetahui tingkat kemudahan, kemenarikan dan keefektifan media. Siswa melakukan pembelajaran dengan menggunakan multimedia tutorial dan setelah pembelajaran diberikan post test untuk mengetahui tingkat keefektifan media lalu diberikan angket untuk mengetahui tingkat kemudahan dan kemenarikan dalam penggunaan multimedia tutorial pembelajaran. Produk yang telah di uji eksternal di beri nama prototipe III.

7. Produksi

Setelah dilakukan perbaikan dari hasil uji eksternal maka dihasilkan prototipe IV kemudian dilaksanakan tahap ketujuh, yaitu produksi. Tahap ini merupakan tahap akhir dari penelitian pengembangan.

C. Teknik Pengumpulan Data

(60)

43

1. Teknik wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui dan menganalisis kebutuhan media pembelajaran.

2. Teknik observasi

Teknik observasi dilakukan untuk mengetahui sarana dan prasarana sekolah yang menunjang proses pembelajaran.

3. Teknik Angket

Teknik angket digunakan untuk mengukur indikator program yang berkenaan dengan kriteria pendidikan, tampilan program, dan kualitas teknis. Angket (kuesioner) digunakan untuk menganalisis kebutuhan dengan mengetahui ketersediaan sumber, media, dan fasilitas pembelajaran serta laboratorium fisika. Instrumen meliputi dua tahap, yaitu angket uji ahli dan angket respon pengguna. Instrumen angket uji ahli digunakan untuk menilai dan

mengumpulkan data tentang kelayakan produk yang dihasilkan sebagai multimedia tutorial. Sedangkan instrumen angket respon pengguna digunakan untuk mengumpulkan data tingkat kemenarikan, kemudahan, dan

kemanfaatan produk. 4. Teknik Tes Khusus

Teknik tes khusus digunakan untuk mengetahui tingkat efektifitas

(61)

44

X O

desain penelitian One-Shot Case Study. Gambar dari desain yang digunakan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.2 One Shot Case Study

Keterangan: X = Treatment, penggunaan multimedia tutorial O = Hasil belajar siswa

Tes khusus ini dilakukan oleh satu kelas sampel siswa kelas X MAN 1 Bandar Lampung, pada tahap ini siswa menggunakan multimedia tutorial sebagai media pembelajaran, kemudian siswa tersebut diberi soal post test. Hasil post test dianalisis ketercapaian tujuan pembelajaran sesuai dengan nilai KKM yang harus terpenuhi.

D. Teknik Analisis Data

Setelah data diperoleh, selanjutnya adalah menganalisis data tersebut. Data hasil observasi, angket (kuesioner), dan wawancara digunakan untuk menyusun latar belakang dilakukannya penelitian ini dan mengetahui tingkat keterbutuhan program pengembangan. Data hasil identifikasi kebutuhan ini kemudian dilengkapi dengan hasil identifikasi sumber daya digunakan untuk menentukan spesifikasi produk yang mungkin dikembangkan.

Data kesesuaian desain dan materi pembelajaran pada produk diperoleh dari ahli desain dan ahli materi melalui uji/validasi ahli. Data kesesuaian tersebut

(62)

45

penggunaan dan kemanfaatan produk diperoleh melalui hasil uji lapangan kepada pengguna secara langsung. Sedangkan data hasil belajar yang diperoleh melalui tes setelah penggunaan produk digunakan untuk menentukan tingkat efektifitas produk sebagai media pembelajaran.

Analisis data berdasarkan instrumen uji ahli dan lapangan dilakukan untuk menilai sesuai atau tidaknya produk yang dihasilkan sebagai sumber belajar dan media pembelajaran. Instrumen penilaian uji ahli baik uji spesifikasi maupun uji kualitas produk oleh ahli desain dan ahli isi/materi, memiliki 2 pilihan jawaban sesuai konten pertanyaan, yaitu: “Ya” dan “Tidak”. Revisi dilakukan pada konten pertanyaan yang diberi pilihan jawaban “Tidak”, atau para ahli memberikan masukan khusus terhadap media/prototipe yang sudah dibuat.

Analisis data berdasarkan instrumen uji satu lawan satu dilakukan untuk mengetahui respon dari siswa terhadap media yang sudah dibuat. Instrumen penilaian uji satu lawan satu memiliki 2 pilihan jawaban sesuai konten

pertanyaan, yaitu: “Ya” dan “Tidak”. Revisi dilakukan pada konten pertanyaan yang diberi pilihan jawaban “Tidak”.

(63)

46

[image:63.595.182.443.261.351.2]

Masing-masing pilihan jawaban memiliki skor berbeda yang mengartikan tingkat kesesuaian produk bagi pengguna. Penilaian instrumen total dilakukan dari jumlah skor yang diperoleh kemudian dibagi dengan jumlah total skor kemudian hasilnya dikalikan dengan banyaknya pilihan jawaban. Skor penilaian dari tiap pilihan jawaban ini dapat dilihat dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Skor

Sangat menarik Sangat baik 4

Menarik Baik 3

Kurang menarik Kurang baik 2

Tidak menarik Tidak baik 1

Instrumen yang digunakan memiliki 4 pilihan jawaban, sehingga skor penilaian total dapat dicari dengan menggunakan rumus: Skor penilaian =

x 4

(64)
[image:64.595.167.437.125.237.2]

47

Tabel 3.2 Konversi Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai Kualitas

Skor Penilaian Rerata Skor Klasifikasi 4 3,26 - 4,00 Sangat baik

3 2,51 - 3,25 Baik

2 1,76 - 2,50 Kurang Baik 1 1,01 - 1,75 Tidak Baik Sumber : Suyanto (2009: 20)

(65)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Telah dihasilkan produk media pembelajaran berupa multimedia tutorial

pembelajaran optik dengan pendekatan saintifik yang berisi materi ajar, praktikum virtual, latihan soal beserta kunci jawabannya, dan uji kompetensi yang dilengkapi dengan perekaman nilai untuk setiap jawaban benar, serta dilengkapi dengan buku panduan guru. Multimedia yang dikembangkan tervalidasi dengan kualitas

kemenarikan dengan skor 3,2 ,yaitu menarik, kualitas kemudahan dengan skor 3,0 yaitu mudah digunakan, dan kualitas kebermanfaatan dengan skor 3,1 yaitu bermanfaat. Multimedia yang dikembangkan memiliki nilai efektifitas dalam pembelajaran dengan presentase hasil belajar siswa sebesar 80% tuntas KKM. Dengan demikian, produk dinyatakan efektif digunakan sebagai media

pembelajaran.

B. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, saran yang diajukan sebagai berikut:

(66)

61

2) Dilakukannya kegiatan penelitian lanjutan berupa pengembangan multimedia tutorial menggunakan pendekatan saintifik untuk pokok bahasan yang lain.

(67)

DAFTAR PUSTAKA

Asyhar, Rayandra. 2011. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada Badarudin. 2011. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran.

http:// ayahalby.wordpress.com /2011/02/23/model-pengembangan-perangkat-pembelajaran/. Diakses 5 November 2013

Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Bandung: Satu Nusa

Dwi, Kukuh. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Tembang Macapat Mijil Menggunakan Aplikasi Macromedia Flash Propessional 8 untuk Siswa. http://eprints.uny.ac.id/8338/3/BAB%202-08205244064.pdf. Diakses 14 November 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.2013. Materi Pelatihan Guru

Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan

Mayoka.2011.Landasan Teori Tutorial. http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 12345678/27980/3/Chapter%20II.pdf. Diakses 11 November 2013

Nursyahidah, Farida.2012. Penelitian Pengembangan (Development Research) .

http://faridanursyahidah.files.wordpress.com/2012/06/research-and-development-vs-development-research.pdf. Diakses 5 November 2013 Rahayu, Sri.2013. Meningkatkan Kemampuan Anak Dalam Berhitung Melalui

Penggunaan Media Permainan. Repository.upi.edu/3943/ .../S_PAUD_0701540_Title.p/. Diakses 11 November 2013

Rarahilwa. 2011. Multimedia dan Pemanfaatannya dalam Proses Pendidikan.

http://rarahilwa.weebly.com/5/post/2011/12/multimedia-dan-pemanfatannya-dalam-proses-pendidikan.htmlv. Di akses 17 Juni 2014 Rusyana, enang.2012. Penerapan Tutorial Antarteman dalam Tutorial Bahasa

(68)

Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Prenada Media Group

Sudatha, I Gede Wawan. (2009). Pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran di kelas.

http://www.undiksha.ac.id/tp/files/PEMANFAATAN%20-MULTIMEDIA%20DLM%20PEMBELAJARAN% 20%DI%20KELAS.rtf. Diakses 12 Oktober 2014

Sudrajat, Akhmad. 2008. Media Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress. com/2008/01/12/konsep-media-pembelajaran/. Diakses 20 November 2013 Suhendi. 2012. Pendekatan Pembelajaran scientific. http : // hendisuhendi2012-

.wordpress.com/2013/07/18/pendekatan-pembelajaran-scientific-di-kurikulum-2013/. Diakses 19 November 2013

Sukamto, Ismu.2012. Pengembangan Media Pembelajaran Alat-Alat Optik Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Lampung: Universitas Lampung

Sumarsono, Joko. 2009. Fisika untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Susilana, Rudi, & Cepi Riyana. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima

Suyanto, Eko dan Sartinem. 2009. Pengembangan Contoh Lembar Kerja Fisika Siswa dengan Latar Penuntasan Bekal Awal Ajar Tugas Studi Pustaka dan Keterampilan Proses untuk SMA Negeri 3 Bandar Lampung. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2009. Bandar Lampung: Unila.

Wahyudi,Adip.2011. Model penelitian pengembangan Borg and Gall (1983). http://adipwahyudi.blogspot.com/2011/01/model-penelitian-pengembangan-borg-and.html. Diakses 5 November 2013

Gambar

Gambar
Gambar 2.2  Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik Sumber: Kemendikbud (2013)
Gambar 2.3 Bagian-Bagian Mata
Gambar 2.4 Pembentukan Bayangan pada Mata
+7

Referensi

Dokumen terkait

proses kooperatif, angket untuk menilai respons mahasiswa, tes untuk menilai hasil belajar sedangkan catatan lapangan untuk melihat kendala dan proses

Sementara itu, hasil analisis uji t tes hasil belajar Berdasarkan uji t hasil belajar p re test diperoleh t hitung = 0,850 maka Ha (2) ditolak atau H0 diterima yang

Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran matematika berbasis learning cycle 7E dengan pendekatan saintifik diperoleh persentase

Produk hasil pengembangan yang dilakukan berupa media pembelajaran fisika untuk SMA dengan memakai multimedia swishmax 4 berdasarkan pendekatan saintifik pada materi alat-alat

Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang

Aspek keefektifan telah tercapai dari perolehan hasil instrumen penilaian siswa pada sekolah yang dijadikan subjek uji coba menunjukkan lebih dari 75% siswa telah

Hasil Penyempurnaan produk uji lapangan Berdasarkan hasil penilaian pada uji coba lapangan utama, diperoleh data bahwa multimedia pembelajaran interaktif struktur dan fungsi organ

Pembahasan Hasil Uji Coba Lapangan Aspek Pembelajaran Dari responden sebanyak 36 siswa yang memberikan penilaian terhadap pro- duk multimedia pembelajaran matematika hasil