• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pemandu Kendaraan Untuk Parkir Paralel Secara Otomatis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sistem Pemandu Kendaraan Untuk Parkir Paralel Secara Otomatis"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan menempuh

pendidikan program Sarjana di Program Studi Teknik Elektro

Oleh:

ARI TRI OVERA 13110007

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

(2)

viii

1.7 Sistematika Penelitian………... 4

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Logika Fuzzy... 5

2.1.1 Himpunan Fuzzy ... 6

2.1.2 Fungsi Keanggotaan ... 7

2.1.3 Operasi Logika Fuzzy ... 9

2.1.4 Tahapan Membangun Logika Fuzzy ... 10

2.1.5 Fuzzy Interface System ... 11

2.2 Sensor Jarak Ultrasonik (SR-04) ... 13

2.3 Optocoupler ... 15

2.4 Pulse Width Modulation (PWM) ... 17

2.4.1 PWM Sebagai Pengatur Kecepatan Motor DC ... 18

2.4.2 PWM Sebagai Pengatur Sudut Motor Servo ... 19

(3)

ix BAB III PERANCANGAN ALAT

3.1 Perancangan Sistem ... 28

3.1.1 Bagian Masukan (input) ... 29

3.1.2 Bagian Process ... 30

3.1.3 Bagian Keluaran (Output) ... 30

3.2 Perancangan Perangkat Keras (Hardware) ... 31

3.2.1 Perancangan Sistem Minumum AVR ATmega 32 ... 32

3.2.2 Rangkaian Sensor Ultrasonik SR-04 ... 34

3.2.3 Rangkaian Optocoupler ... 35

3.2.4 Rangkaian Driver Motor DC (L298) ... 37

3.2.5 Rangkaian Motor Servo ... 38

3.3 Perancangan Perangkat Lunak (Software) ... 39

3.4 Gambaran Sistem ... 41

3.4.1 Mobil Maju Mencari Space Parkir ... 41

3.4.2 Proses Parkir ... 43

3.5 Logika Fuzzy Pada Sistem Pemandu Kendaraan Untuk Parkir Paralel Secara Otomatis ... 45

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS 4.1 Pengujian Dan Analisis Sistem ... 49

4.1.1 Pengujian Logika Fuzzy ... 49

4.1.2 Pengujian Sensor SR-04 ... 54

4.1.3 Pengujian Optocoupler ... 55

4.1.4 Pengujian PWM Sebagai Pengatur Kecepatan Motor DC ... 56

4.1.5 Pengujian PWM Sebagai Pengatur Sudut Motor Servo ... 57

4.1.6 Pengujian Sensor SR-04 ... 54

4.2 Pengujian Sistem Secara Bertahap ... 60

4.2.1 Mobil Maju Mencari Ruang (Space) Parkir ... 60

4.2.2 Proses Parkir ... 63

(4)

x BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 72

(5)

74

Faizun, Mohammad. 2010. “Pemograman Mikrokontroler ATMega Dengan CV

AVR Dan Simulasi Proteus Edisi Kedua”.Yogyakarta : Edumacs Publisher

Yanan Zhao And G.Collins,Jr. 2005. “Robust Automatic Parallel Parking In Tight Spaces Via Fuzzy Logic”.

Yanan Zhao And G.Collins,Jr. 2005. “Fuzzy Logic of Autonomous Vehicle for Parallel Parking Maneuver”.

Young-Woo Ryu, Se-Young Oh, and Sam-Yong Kim 2008. “Robust Automatic Parking without Odometry Using an Evolutionary Fuuzy Logic Controller”.

Monica (2011). “Sejarah Logika Fuzzy.” Terdapat di :

http://intanbrilliant-monica.blogspot.com/2011/09/sejarah-logika-fuzzy.html, diakses tanggal 25

November 2013.

Fahmizal (2010). “Fuzzy Logic.” Terdapat di : http://fahmizaleeits.wordpress.com/category/kuliah-kontrol/fuzzy-logic/, diakses

tanggal 25 November 2013.

Romadhon, Wahyu (2013). “Fuzzy Logic.” Terdapat di : http://wahyu-umiq.blogspot.com/2013/03/fuzzy-logic.html, diakses tanggal 03 Desember 2013.

____(2007). “Logika Fuzzy.” Terdapat di : http://logikafuzzy.blogspot.com/,

diakses tanggal 03 Desember 2013.

____(2011). “Sekilas tentang sejarah logika fuzzy.” Terdapat di :

http://hindriyanto.wordpress.com/2011/04/29/sekilas-tentang-sejarah-logika-fuzzy/, diakses tanggal 03 Desember 2013.

____(2013). “Fungsi Keanggotaan Logika Fuzzy.” Terdapat di :

http://belajaritsaja.com/pemrograman/fuzzy/fungsi-keanggotaan-logika-fuzzy,

(6)

75

____(2013). “Sistem Inferensi Fuzzy (Fuzzy Infernce System/FIS).” Terdapat di :

http://www.metode-algoritma.com/2013/06/sistem-inferensi-fuzzy-fuzzy-inference.html, diakses tanggal 05 Desember 2013.

____(2013). “Tutorial Pemrograman Fuzzy Logic”. Terdapat di :

http://amarnotes.wordpress.com/2013/11/09/tutorial-pemrograman-fuzzy-logic-1/#more-280, diakses tanggal 21 Desember 2013.

____(2012). “DASAR TEORI MIKROKONTROLLER ATMEGA 32.” Terdapat di

:

http://fmpunya.blogspot.com/2012/06/dasar-teori-mikrokontroller-atmega-32.html#chitika_close_button, diakses tanggal 15 Januari 2014.

____(2012). “Pengertian Dan Kelebihan Mikrokontroler.” Terdapat di :

http://elektronika-dasar.web.id/artikel-elektronika/pengertian-dan-kelebihan-mikrokontroler/. diakses tanggal 15 Januari 2014.

____(2009). “OPTOCOUPLER.” Terdapat di :

http://jaenal91.wordpress.com/2009/04/03/optocoupler/, diakses tanggal 23

Januari 2014.

Nizam, Shahrul (2010). “PIC Lesson: PWM Module.” Terdapat di :

http://shahrulnizam.com/pic-lesson-pwm-module/, diakses tanggal 10 Februari

2014.

____(2011). “MENGAKSES MOTOR SERVO.” Terdapat di :

http://electrocontrol.wordpress.com/tag/motor-servo/, diakses tanggal 10 Februari

2014.

____(2012). “HC-SR04 Ultrasonic Sensor Distance Measuring Module

Ultra01+.” Terdapat di

:http://www.elecfreaks.com/store/hcsr04-ultrasonic-sensor-distance-measuring-module-ultra01-p-91.html, diakses tanggal 20 Februari

2014.

____(2009). “Prinsip Kerja Rangkaian Sensor Ultrasonik.” Terdapat di :

(7)

76

Yulias , Zerfani (2011). “Menggunakan Ultrasonic Range Sensor HC-SR04 dan

SDM-IO.” Terdapat di :

(8)

v

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan

nikmat-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehinggap enulis dapat

menyelesaikan perancangan alat dan penyusunan laporan tugas akhir dengan judul

Sistem Pemandu Kendaraan Untuk Parkir Paralel Secara Otomatis. Shalawat

serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW

beserta pengikut setianya hingga akhir zaman.

Penulisan laporan tugas akhir disusun untuk memenuhi persyaratan

mencapai derajat S-1 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik dan Ilmu

Komputer, Universitas Komputer Indonesia, Bandung.

Penulisan laporan tugas akhir ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan

berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu,

dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan

penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya penulis

dapat menyelesaikan laporan tugas akhir ini,

2. Mama, Papa, Nenek, Abang Dani Kurnia, Kakak Kiki Sri Marhalinda dan

seluruh keluarga penulis atas kasih sayang, do’a dan motivasinya yang

senantiasa diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat

(9)

vi

4. Bapak Prof. Dr. H. Denny Kurniadie, Ir., M.Sc selaku Dekan Fakultas

Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia,

5. Bapak Muhammad Aria, MT selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro,

Universitas Komputer Indonesia Bandung dan sekaligus selaku

Pembimbing yang telah memberikan banyak masukan, saran serta ide-ide

kreatif pada penulisan tugas akhir ini,

6. Ibu Tri Rahajoeningroem, MT selaku Koordinator tugas akhir Program

Studi Teknik Elektro Universitas Komputer Indonesia Bandung,

7. Bapak dan Ibu Dosen pada Program Studi Teknik Elektro Universitas

Komputer Indonesia Bandung atas didikan dan saran kepada penulis dalam

menyelesaikan tugas akhir ini,

8. Novelaine Pratiska, atas do’a, kasih sayang, serta motivasi agar penulis

dapat segera menyelesaikan tugas akhir dan penulisan laporan tugas akhir

ini,

9. Nieko Fernandes, Nanda Suryadinata, Aldi Asrul Putra, Willy Rullino,

atas masukan serta motivasi yang diberikan kepada penulis dalam

menyelesaikan tugas akhir ini,

10.Pak Budi, Veri Wardi, Harry Putra, Domes Ferdiwan, Vian Yuliana, Yolin

Ultisia, Anisa Muslim dan Apriyanti Dyas, atas waktu, pertolongan

masukan, inspirasi dan motivasi yang diberikan kepada penulis dalam

(10)

vii

serta berbagai bantuan dan semangat yang senantiasa diberikan kepada

penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dan penulisan

laporan tugas akhir ini, serta

12.Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuan baik materi maupun moril sehingga penulis dapat

menyelesaikan tugas akhir dan penulisan laporan tugas akhir ini.

Penulis menyadari dalam penulisan laporan tugas akhir ini, masih terdapat

berbagai kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat

diharapkan oleh penulis untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi penulisan

laporan tugas akhir ini.

Bandung, Agustus 2014

(11)

1 1.1 Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya kemajuan pada bidang ilmu pengetahuan

dan teknologi banyak inovasi yang diciptakan dalam membantu serta

mempermudah pekerjaan manusia. Dimana setiap pekerjaan yang dilakukan

mempunyai resiko dan bahaya masing-masing. Salah satunya dalam proses

memarkir kendaraan roda empat, dibutuhkan konsentrasi serta kemampuan

mengemudi yang baik agar dapat mencapai posisi parkir yang diinginkan.

Banyaknya produksi dan pengguna mobil saat ini menjadikan sarana

parkir yang tersedia tidak memadai. Salah satu cara atau metoda parkir kendaraan

roda empat adalah parkir secara paralel yaitu, metoda parkir dengan posisi

kendaraan dalam satu garis (sejajar) dengan kendaraan lain. Kemampuan

melakukan manuver parkir secara paralel ini merupakan salah satu bagian tersulit

bagi pengemudi, terutama bagi lansia dan mereka yang baru dalam belajar

mengemudi. Lahan parkir yang sempit, batasan pergerakan mobil, serta jarak

antara mobil menyulitkan pengemudi untuk melakukan proses parkir ini.

Kesulitan tersebut mengakibatkan kerusakan berupa goresan-goresan pada mobil.

Kesulitan-kesulitan tersebut menjadi salah satu alasan menjadikan proses

parkir secara paralel ini dilakukan secara otomatis, guna mengurangi resiko serta

tekanan bagi pengemudi. Berdasarkan dari permasalahan yang dikemukakan di

(12)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka identifikasi

permasalahan dalam tugas akhir ini yaitu, membangun suatu sistem yang

dapat melakukan proses parkir paralel dilakukan secara otomatis untuk

mengurangi resiko serta tekanan bagi pengemudi dalam melakukan proses

parkir,

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah pada

tugas akhir ini yaitu, bagaimana membuat suatu sistem yang dapat melakukan

proses parkir paralel dengan otomatis.

1.4 Tujuan

Tujuan dari tugas akhir ini yaitu, membangun suatu sistem yang dapat

memandu kendaraan untuk melakukan proses parkir paralel secara

otomatis.

1.5 Batasan Masalah

Untuk menghindari pembahasan yang meluas dalam tugas akhir ini, maka

pembahasan dibatasi dalam beberapa hal, diantaranya:

implementasi dilakukan pada mobil Remote Control,

menggunakan metoda Logika Fuzzy,

sistem parkir otomatis ini hanya secara paralel saja,

(13)

adanya space atau ruang parkir di antara mobil yang telah terparkir

sebelumnya, atau sudah adanya mobil yang terparkir secara paralel di

depan dan belakang di ruang parkir,

posisi prototype harus sejajar dengan mobil yang telah terparkir

sebelumnya,

tidak adanya mobil atau benda yang berada di depan dan di belakang

mobil saat proses parkir dilakukan.

1.6 Metoda Penelitian

Metoda yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini terdiri dari

beberapa tahapan, diantaranya:

melakukan studi literatur dengan mengumpulkan dan mempelajari

bahan pustaka yang berhubungan dengan permasalahan baik dari buku

maupun dari internet,

pegumpulan informasi yang berhubungan dengan penelitian yang akan

dilakukan. Pengumpulan informasi dilakukan dengan diskusi dengan

pembimbing tugas akhir serta pihak lain yang berkompeten mengenai

hal-hal yang dipelajari selama pengerjaan tugas akhir,

merancang sistem dengan mengaplikasikan literatur serta data

informasi yang didapatkan untuk merancang hardware serta software

yang digunakan dalam sistem ini,

membuat sistem parkir otomatis secara paralel dari rancangan yang

telah disusun sebelumnya,

(14)

analisa sistem, apakah sudah sesuai dengan sistem yang telah

direncanakan atau tidak. Analisa dilakukan baik secara teoritis

maupun praktek terhadap sistem, baik hardware maupun software.

Jika terdapat kesalahan atau kekurangan maka dapat melakukan

perbaikan dari sistem.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tugas akhir ini terdiri dari 6 bab dan beberapa sub

bab yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Meliputi latar belakang, tujuan, batasan masalah, metoda penelitian, dan

sistematikan penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Berisi tentang teori Logika Fuzzy secara umum dan beberpa teori lain yang

digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini.

BAB III PERANCANGAN ALAT

Menjelaskan tentang perancangan perangkat keras (hardware) dan

perangkat lunak (software) yang akan dibuat.

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

Berisi tentang pengujian kerja alat, baik hardware maupun software.

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan dari alat dan sistem yang dibuat, serta saran-saran agar

(15)

5 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Logika Fuzzy

Logika Fuzzy pertama kali diperkenalakan oleh Prof. Lutfi Zadeh pada

tahun 1965. Logika Fuzzy adalah “Suatu sistem yang digunakan untuk menangani

konsep kebenaran parsial yaitu kebenaran yang berada diantara sepenuhnya benar

dan sepenuhnya salah” (Yan, Jun. 1994;14). Logika Fuzzy berbeda dengan logika

digital biasa, dimana logika digital biasanya hanya mengenal dua keadaan yaitu

“ya”-“tidak” atau “on”-“off” atau “high”-“low” atau “1”-“0”. Logika Fuzzy

menggantikan logika Boolean dalam tingkat kebenaran.

Logika Fuzzy telah banyak digunakan pada bidang-bidang seperti statistik,

teori pengendalian, dan lain sebagainya. Logika Fuzzy merupakan suatu metoda

untuk memindahkan atau meniru pengetahuan manusia ke dalam mesin. Logika

Fuzzy yang memiliki nilai kekaburan atau kesamaran (Fuzzyness) antara benar

atau salah. Dalam teori logika Fuzzy suatu nilai bisa bernilai benar atau salah

secara bersamaan. Nilai kebenaran dan kesalahan tergantung pada bobot

keanggotaan atau derajat keanggotaan (Membership Function) dalam rentang 0

hingga 1. Berbeda dengan logika digital yang hanya memiliki dua nilai 1 atau 0.

Logika Fuzzy digunakan untuk menterjemahkan suatu besaran yang diekspresikan

menggunakan bahasa (linguistic), misalkan besaran kecepatan laju kendaraan

yang diekspresikan dengan pelan, agak cepat, cepat, dan sangat cepat. Logika

(16)

nilai itu salah. Derajat keanggotaan 0 (nol) artinya nilai bukan merupakan anggota

himpunan dan 1 (satu) berarti nilai tersebut adalah anggota himpunan.

Logika Fuzzy adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan suatu ruang

input ke dalam suatu ruang output, mempunyai nilai kontinyu. Fuzzy dinyatakan

dalam derajat dari suatu keanggotaan dan derajat dari kebenaran. Oleh sebab itu

sesuatu dapat dikatakan sebagian benar dan sebagian salah pada waktu yang sama

(Kusumadewi. 2004)

Logika Fuzzy memungkinkan nilai keanggotaan antara 0 dan 1, tingkat

keabuan dan juga hitam dan putih, dan dalam bentuk linguistik, konsep tidak pasti

seperti "sedikit", "lumayan" dan "sangat" (Zadeh 1965).

2.1.1 Himpunan Fuzzy

Himpunan adalah suatu kumpulan atau koleksi objek-objek yang

mempunyai kesamaan sifat tertentu (Frans Susilo, 2006). Himpunan Fuzzy

merupakan suatu pengembangan lebih lanjut tentang konsep himpunan dalam

matematika.

Himpunan Fuzzy adalah rentang nilai-nilai, masing-masing nilai

mempunyai derajat keanggotaan antara 0 sampai dengan 1. Himpunan Fuzzy

memiliki 2 atribut, yaitu:

a. Linguistik, yaitu penamaan suatu grup yang mewakili suatu keadaan atau

kondisi tertentu dengan menggunakan bahasa alami, seperti muda,

parobaya, tua.

b. Numerik, suatu nilai (angka) yang menunjukkan ukuran dari suaru

(17)

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam memahami Fuzzy, yaitu:

a. Variable Fuzzy, merupakan variabel yang hendak dibahas dalam suatu

sistem Fuzzy. Contoh: umur, temperature, permintaan, dan lain

sebagainya.

b. Semesta pembicaraan, merupakan keseluruhan nilai yang diperbolehkan

untuk dioperasikan dalam suatu variabel Fuzzy. Semesta pembicaraan

merupakan himpunan bilangan real yang senantiasa naik (bertambah)

secara monoton dari kiri ke kanan. Nilai semesta pembicaraan dapat

berupa bilangan positif maupun negatif.

c. Domain himpunan Fuzzy, merupakan keseluruhan nilai yang diijinkan

dalam semesta pembicaraan dan boleh dioperasikan dalam suatu himpunan

Fuzzy. Seperti halnya semesta pembicaraan, domain merupakan himpunan

bilangan real yang senantiasa naik (bertambah) secara monoton dari kiri

ke kanan. Nilai domain dapat berupa bilangan positif dan bilangan negatif.

2.1.2 Fungsi Keanggotaan (Membership Function)

Fungsi keanggotaan adalah suatu kurva yang menunjukkan pemetaan

titik-titik input data kedalam nilai keanggotaannya (sering juga disebut dengan derajat

keanggotaan) yang memiliki interval antara 0 sampai 1. Salah satu cara yang

dapat digunakan untuk mendapatkan nilai keanggotaan adalah dengan melalui

pendekatan fungsi. Apabila U menyatakan himpunan universal dan A adalah

himpunan fungsi Fuzzy dalam U, maka A dapat dinyatakan sebagai pasangan

terurut (Wang, 1997 dari Wulandari, F., 2005). Ada 2 fungsi yang digunakan

(18)

a. Representasi Kurva Segitiga

Kurva segitiga pada dasarnya merupakan gabungan antara 2 garis linear.

Gambar 2.1 Representasi Kurva Segitiga Representasi kurva segitiga adalah sebagai berikut:

.…...………….…(2.1)

Atau

…...…...…….…(2.2)

Dimana:

a = nilai domain terkecil yang mempunyai derajat keanggotaan nol

b = nilai domain yang mempunyai derajat keanggotaan satu

c = nilai domain terbesar yang mempunyai derajat keanggotaan nol

x = nilai input yang akan diubah ke dalam bilangan Fuzzy

b. Representasi Kurva Trapesium

Kurva trapesium pada dasarnya seperti bentuk segitiga, hanya saja ada

(19)

Gambar 2.2 Representasi Kurva Trapesium Representasi kurva segitiga adalah sebagai berikut:

………...……..…..(2.3)

Atau

…...……...…(2.4)

Dimana:

a = nilai domain terkecil yang mempunyai derajat keanggotaan nol

b = nilai domain terkecil yang mempunyai derajat keanggotaan satu

c = nilai domain terbesar yang mempunyai derajat keanggotaan satu

d = nilai domain terbesar yang mempunyai derajat keanggotaan nol

x = nilai input yang akan diubah ke dalam bilangan Fuzzy

2.1.3 Operasi Logika Fuzzy

Operasi logika adalah operasi yang mengkombinasikan dan memodifikasi

2 atau lebih himpunan Fuzzy. Nilai keanggotaan baru hasil operasi dua himpunan

disebut firing strength atau α predikat, ada 3 operasi dasar yang diciptakan oleh

(20)

a. Operator AND, berhubungan dengan operasi intersection pada himpunan,

α predikat diperoleh dengan mengambil nilai minimum antar kedua

himpunan.

……….……..….(2.5)

b. Operator OR, berhubungan dengan operasi union pada himpunan, α

predikat diperoleh dengan mengambil nilai maximum antar kedua

himpunan.

………..….(2.6)

c. Operasi NOT, berhubungan dengan operasi komplemen pada himpunan,

α predikat diperoleh dengan mengurangkan nilai keanggotaan elemen pada

himpunan dari 1.

………...………...….(2.7)

2.1.4 Tahapan Membangun Sistem Fuzzy

Tahapan membangun sistem Fuzzy tergantung metoda yang digunakan,

karena banyak metoda untuk membangun sistem Fuzzy. Namun secara garis besar

dapat disimpulkan sebagai berikut :

input output

Gambar 2.3 Proses Sistem Logika Fuzzy a. Fuzzification

Proses Fuzzification yaitu mengubah nilai suatu masukan menjadi suatu

fungsi keanggotaan Fuzzy. Pada proses ini Membership Function

ditentukan.

Fuzzification Fuzzy Logic

Inference

(21)

b. Fuzzy Logic Inference

Ada beberapa proses pada Fuzzy Logic Inference, yaitu :

Mengaplikasikan aturan (Fuzzy Rule) pada masukan Fuzzy yang

dihasilkan dalam proses Fuzzification.

Mengevaluasi tiap aturan dengan masukan yang dihasilkan dari proses

Fuzzyfikasi dengan mengevaluasi hubungan atau derajat

keanggotaannya.

c. Defuzzification

Proses Defuzzification merupakan pengubahan kembali data-data Fuzzy

kembali kebentuk numeric yang dapat dikirimkan ke peralatan

pengendalian. Proses Defuzzification dapat dilakukan dengan beberapa

cara, diantaranya:

Sistem Inferensi Fuzzy (Fuzzy Inference System/FIS) disebut juga Fuzzy

Inference Engine adalah sistem yang dapat melakukan penalaran dengan prinsip

serupa seperti manusia melakukan penalaran dengan nalurinya. Terdapat beberapa

(22)

a. FIS Mamdani

FIS yang paling mudah dimengerti, karena paling sesuai dengan naluri

manusia adalah FIS Mamdani. FIS tersebut bekerja berdasarkan

kaidah-kaidah linguistik dan memiliki algoritma Fuzzy yang menyediakan sebuah

aproksimasi untuk dimasuki analisa matematik.

Gambar 2.4 FIS Mamdani b. FIS Sugeno

Penalaran dengan metode Sugeno hampir sama dengan penalaran

Mamdani, hanya saja output sistem tidak berupa himpunan Fuzzy

melainkan berupa konstanta atau persamaan linier. Metoda ini

diperkenalkan oleh Takagi-Sugeno Kang pada tahun 1985. Sistem Fuzzy

Sugeno memperbaiki kelemahan yang dimiliki oleh sistem Fuzzy murni

untuk menambah suatu perhitungan matematika sederhana sebagai bagian

THEN. Pada perubahan ini, sistem Fuzzy memiliki suatu nilai rata-rata

tertimbang (Weighted Average Values) di dalam bagian aturan Fuzzy

(23)

bagian THEN, yaitu dengan adanya perhitungan matematika sehingga

tidak dapat menyediakan kerangka alami untuk erepresentasikan

pengetahuan manusia dengan sebenarnya.

Gambar 2.5 FIS Sugeno

2.2 Sensor Jarak Ultrasonik (SR-04)

Sensor ultrasonik SR-04 adalah sebuah sensor jarak yang terdiri dari

rangkaian pemancar ultrasonik atau transmitter dan rangkaian penerima ultrasonik

atau receiver. Gelombang ultrasonik adalah gelombang dengan besar frekuensi

diatas frekuensi gelombang suara yaitu 40khz.

(24)

Prinsip kerja dari sensor SR-04 adalah sebagai berikut :

Gelombang ultrasonik akan dibangkitkan dan dipancarkan melalui

transmitter secara menyebar.

Gelombang ultrasonik yang dipancarkan tersebut kemudian akan

merambat sebagai sinyal / gelombang bunyi dengan kecepatan bunyi yang

berkisar 340 m/s. Sinyal tersebut kemudian akan dipantulkan dan akan

diterima kembali oleh bagian receiver ultrasonik.

Setelah sinyal tersebut diterima kembali, kemudian sinyal tersebut akan

diproses untuk menghitung jaraknya. Jarak dihitung berdasarkan rumus :

S = 340.t/2...(2.11)

dimana S adalah jarak antara sensor ultrasonik dengan bidang pantul, dan t

adalah selisih waktu antara pemancaran gelombang ultrasonik sampai

diterima kembali oleh bagian penerima ultrasonik.

Gambar 2.7 Cara Kerja Sensor Ultrasonik

Jadi secara ringkas cara kerja dari sensor ultrasonik ini yaitu memancarkan

gelombang ultrasonik oleh transmitter yang bersifat menyebar dan akan memantul

jika terkena halangan atau benda yang berada di depannya, pantulan tersebut akan

(25)

2.3 Optocoupler

Optocoupler adalah suatu piranti elektronika yang terdiri dari 2 bagian

yaitu transmitter (pengirim) dan receiver (penerima), yaitu antara bagian yang

menghasilkan cahaya dengan bagian deteksi sumber cahaya tersebut terpisah.

a. Transmitter

Merupakan bagian yang terhubung dengan rangkaian input atau rangkaian

kontrol. Pada bagian ini terdapat sebuah LED infra merah (IR LED) yang

berfungsi untuk mengirimkan sinyal kepada receiver. Pada transmitter

dibangun dari sebuah LED infra merah. Jika dibandingkan dengan

menggunakan LED biasa, LED infra merah memiliki ketahanan yang lebih

baik terhadap sinyal tampak. Cahaya yang dipancarkan oleh LED infra

merah tidak terlihat oleh mata telanjang.

b. Receiver

Merupakan bagian yg terhubung dengan rangkaian output atau rangkaian

beban, dan berisi komponen penerima cahaya yang dipancarkan oleh

transmitter. Komponen penerima cahaya ini dapat berupa photodioda

atapun phototransistor. Pada bagian receiver dibangun dengan dasar

komponen phototransistor. Phototransistor merupakan suatu transistor

yang peka terhadap tenaga cahaya. Suatu sumber cahaya menghasilkan

energi panas, begitu pula dengan spektrum infra merah. Karena spekrum

infra mempunyai efek panas yang lebih besar dari cahaya tampak, maka

(26)

Gambar 2.8 Optocoupler

Optocoupler merupakan gabungan dari LED infra merah dengan

photo-transistor yang terbungkus menjadi satu chips. LED infra merah sebagai

transmitter akan menghasilakan cahaya infra merah termasuk dalam gelombang

elektromagnetik yang tidak tampak oleh mata telanjang. Sinar ini tidak tampak

oleh mata karena mempunyai panjang gelombang berkas cahaya yang terlalu

panjang bagi tanggapan mata manusia. Sinar infra merah mempunyai daerah

frekuensi 1 x 1012 Hz sampai dengan 1 x 1014 GHz atau daerah frekuensi dengan

panjang gelombang 1µm – 1mm. Cahaya infra merah ini akan diterima oleh

phototransistor. Photo-transistor merupakan komponen elektronika yang

berfungsi sebagai detektor cahaya infra merah. Detektor cahaya ini mengubah

efek cahaya menjadi sinyal listrik, oleh sebab itu photo-transistor termasuk dalam

(27)

Gambar 2.9 Cara Kerja Optocoupler Prinsip kerja dari optocoupler adalah sebagai berikut:

Jika antara photo-transistor dan LED terhalang maka photo-transistor

tersebut akan off sehingga output dari kolektor akan berlogika high.

Sebaliknya jika antara photo-transistor dan LED tidak terhalang maka

phototransistor dan LED tidak terhalang maka photo-transistor tersebut

akan on sehingga output-nya akan berlogika low.

2.4 Pulse Width Modulation (PWM)

PWM merupakan suatu metoda untuk membangkitkan sinyal keluaran

berupa pulsa dengan frekuensi dan amplitudo tetap dengan lebar pulsa yang dapat

diubah-ubah. Lebar pulsa berupa berupa kondisi high dan low dapat diatur

durasinya sesuai dengan keinginan. PWM bisa dibangkitkan secara software

maupun hardware. Sehingga dapat dibentuk gelombang dengan duty cycle yang

(28)

Gambar 2.10 Sinyal PWM

Duty cycle merupakan perbandingan atau rasio lamanya suatu sistem

bernilai logika high dan low. Variasi duty cycle ini memberikan harga tegangan

rata–rata yang berbeda–beda. Sinyal PWM dengan duty cycle yang besar memiliki

nilai rata-rata tegangan yang lebih besar dibandingkan dengan duty cycle kecil.

Nilai tegangan yang diberikan sebanding dengan nilai duty cycle yang diberikan.

Adapun rumus duty cycle, yaitu:

...(2.12)

Sedangkan untuk menghitung nilai tegangan rata-rata output dapat dihitung

dengan rumus sebagai berikut:

...(2.13)

Dimana Vtotal merupakan tegangan yang diberikan untuk mengaktifkan motor.

2.4.1 PWM Sebagai Pengatur Kecepatan Motor DC

Motor DC adalah piranti elektronik yang mengubah energi listrik menjadi

energi mekanik berupa gerak rotasi. Kecepatan motor DC berbanding lurus

dengan tegangan listrik yang diberikan. Sebagai contoh, jika tegangan motor

dikurangi dari 6 volt menjadi 3 volt, maka kecepatan motor akan turun menjadi

setengahnya. Salah satu cara untuk menurunkan kecepatan motor yaitu dengan

(29)

menghubungkan kembali supply tegangan listrik dengan sangat cepat. Cara kerja

inilah yang diadopsi oleh PWM. Saat tegangan listrik terputus putaran motor akan

melambat, dan dipercepat kembali ketika tegangan listrik tersambung.

Gambar 2.11 Motor DC

Cepat lambatnya motor DC dapat diatur berdasarkan duty cycle yang

diberikan, jika duty cycle pada sinyal PWM besar, maka akan menghasilakan

rata-rata tegangan yang besar pula sehingga motor DC akan berputar cepat, begitu juga

sebaliknya jika duty cycle yang diberikan kecil akan mengahasilkan tegangan

rata-rata yang kecil dan motor DC akan berputar lebih lambat. Pengaturan nilai

tegangan rata-rata tersebut dapat diatur dengan menggunakan persamaan (2.13).

2.4.2 PWM Sebagai Pengatur Sudut Motor Servo

Motor servo adalah sebuah motor DC yang dilengkapi rangkaian kendali

dengan sistem closed feedback yang terintegrasi dalam motor tersebut. Motor

servo disusun dari sebuah motor DC, gearbox, variabel resistor (VR) atau

potensiometer dan rangkaian kontrol. Potensiometer berfungsi untuk menentukan

batas maksimum putaran sumbu (axis) motor servo. Sedangkan sudut dari sumbu

motor servo diatur berdasarkan lebar pulsa yang pada pin kontrol motor servo.

Pemberian pulsa sebagai pengontrolan motor servo dapat dilakukan dengan

(30)

Berbeda dengan motor DC, lebar pulsa yang diberikan pada motor servo

ini diberikan untuk mengatur posisi sudut motor. Motor servo akan bekerja secara

baik jika pada bagian pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50

Hz. Servo motor mempunyai 3 buah pin yang terdiri dari VCC, GND dan pin

SIGNAL. Berikut adalah contoh konfigurasi pin motor servo :

Gambar 2.12 Motor Servo Motor servo ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :

a. Motor servo standard

Motor servo jenis ini hanya mampu bergerak dua arah (CW dan CCW)

dengan defleksi masing-masing sudut mencapai 90° sehingga total defleksi

sudut dari kanan – tengah – kiri adalah 180°.

b. Motor servo continius

Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah (CW dan CCW) tanpa

batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara kontinyu).

Dari kedua jenis motor servo tersebut, metoda PWM dapat digunakan untuk

menentukan posisi sudut motor, hanya saja terdapat perbedaan pada besarnya arah

puataran motor.

Pada motor servo standard hanya dapat bergerak sebesar 180° yaitu dari

(31)

adalah dengan cara memberikan pulsa high selama 1,5 ms dan mengulangnya

setiap 20 ms, maka posisi servo akan berada ditengah atau netral (0°). Untuk pulsa

1 ms maka akan bergerak berkebalikan arah jarum jam dengan sudut -90°. Dan

pulsa high selama 2 ms akan bergerak searah jarum jam sebesar 90° seperti

terlihat pada gambar berikut:

Gambar 2.13 Sinyal Kontrol Motor Servo

Pengaturan pergerakan motor servo continius tidak jauh berbeda dengan

pengaturan pengendalian motor servo standard, secara umum untuk berputar

(rotasi) searah jarum jam harus diberi pulsa high selama 1,3 ms. Sedangkan untuk

berputar berlawanan arah jarum jam harus diberi logika high selama 1,7 ms. Jika

motor servo continous diberi pulsa high selama 1,5 ms maka akan berhenti. Pin

signal pada motor servo dapat dikoneksi ke pin mikrokontroler sebagai pengendali

(32)

2.5 Mikrokontroler

Mikrokontroler adalah sebuah chip yang berfungsi sebagai pengontrol

rangkaian elektronik dan umunya dapat menyimpan program didalamnya.

Mikrokontroler umumnya terdiri dari CPU (Central Processing Unit), memori,

I/O tertentu dan unit pendukung seperti Analog-to-Digital Converter (ADC) yang

sudah terintegrasi di dalamnya.

Gambar 2.14 ATmega 32

Kelebihan utama dari mikrokontroler ialah tersedianya RAM dan peralatan

I/O pendukung sehingga ukuran board mikrokontroler menjadi sangat ringkas.

AVR Atmega32 merupakan sebuah mikrokontroler low power CMOS 8 bit

berdasarkan arsitektur AVR RISC. Karakteristik dari mikrokontroler ini adalah:

Menggunakan arsitektur AVR RISC

- 131 perintah dengan satu clock cycle

- 32 x 8 register umum

Data dan program memori

- 32 Kb In-System Programmable Flash

- 2 Kb SRAM

(33)

8 Channel 10-bit ADC

Two Wire Interface

USART Serial Communication

Master/Slave SPI Serial Interface

On-Chip Oscillator

Watch-dog Timer

32 Bi-directional I/O

Tegangan operasi 2,7 – 5,5 V

Arsitektur AVR ini menggabungkan perintah secara efektif dengan 32

register umum. Semua register tersebut langsung terhubung dengan Arithmetic

Logic Unit (ALU) yang memungkinkan 2 register terpisah diproses dengan satu

perintah tunggal dalam satu clock cycle. Hal ini menghasilkan kode yang efektif

dan kecepatan prosesnya 10 kali lebih cepat dari pada mikrokontroler CISC biasa.

AVR ATMega32 terdiri dari 40 pin yang terbagi menjadi 4 port yaitu

PORTA sebanyak 8 pin, PORTB sebanyak 8 pin, PORTC sebanyak 8 pin, dan

PORTC sebanyak 8 pin. Masing-masing pin dapat digunakan sebagai input-output

(34)

Gambar 2.15 Pin-Pin ATMega32

Secara fungsional konfigurasi pin ATMega32 adalah sebagai berikut:

a. VCC, tegangan sumber

b. GND (Ground)

c. Port A (PA7 – PA0)

Port A adalah 8-bit port I/O yang bersifat bi-directional dan setiap pin

memilki internal pull-up resistor. Output buffer port A dapat mengalirkan

arus sebesar 20 mA. Ketika port A digunakan sebagai input dan di pull-up

secara langsung, maka port A akan mengeluarkan arus jika internal pull-up

resistor diaktifkan. Pin-pin dari port A memiliki fungsi khusus yaitu dapat

berfungsi sebagai channel ADC (Analog to Digital Converter) sebesar 10

bit. Fungsi-fungsi khusus pin-pin port A dapat ditabelkan seperti yang

(35)

Tabel 2.1 Fungsi Khusus Port A

mengandung internal pull-up resistor. Output buffer port B dapat

mengalirkan arus sebesar 20 mA. Ketika port B digunakan sebagai input

dan di pull-down secara external, port B akan mengalirkan arus jika

internal pull-up resistor diaktifkan. Fungsi-fungsi khusus pin-pin port B

dapat ditabelkan seperti pada tabel.

Tabel 2.2 Fungsi Khusus Port B

Port Fungsi

PB7 SCK (SPI Bus Serial Clock)

PB6 MISO (SPI Bus Master Input/Slave Output) PB5 MOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input) PB4 SS (SPI Slave Select Input)

PB3 AIN1 (Analog Comparator Negative Input)

OCO (Timer/Counter0 Output Compare Match

Output)

PB2 AIN0 (Analog Comparator Positive Input) INT2 (External Interrupt 2 Input)

PB1 T1 (Timer/Counter1 External Counter Input) PB0 T0 (Timer/Counter External Counter Input)

(36)

e. Port C (PC7 – PC0)

Port C adalah 8-bit port I/O yang berfungsi bi-directional dan setiap pin

memiliki internal pull-up resistor. Output buffer port C dapat mengalirkan

arus sebesar 20 mA. Ketika port C digunakan sebagai input dan di

pull-down secara langsung, maka port C akan mengeluarkan arus jika internal

pull-up resistor diaktifkan. Fungsi-fungsi khusus pin-pin port C dapat

ditabelkan seperti yang tertera pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.3 Fungsi Khusus Port C

Port Fungsi

PC7 TOSC2 (Timer Oscillator Pin 2) PC6 TOSC1 (Timer Oscillator Pin 1) PC5 TD1 (JTAG Test Data In) PC4 TD0 (JTAG Test Data Out) PC3 TMS (JTAG Test Mode Select) PC2 TCK (JTAG Test Clock)

PC1 SDA (Two-wire Serial Bus Data Input/Output Line) PC0 SCL (Two-wire Serial Bus Clock Line)

f. Port D (PD7 – PD0)

Port D adalah 8-bit port I/O yang berfungsi bi-directional dan setiap pin

memiliki internal pull-up resistor. Output buffer port D dapat mengalirkan

arus sebesar 20 mA. Ketika port D digunakan sebagai input dan di

pull-down secara langsung, maka port D akan mengeluarkan arus jika internal

pull-up resistor diaktifkan. Fungsi-fungsi khusus pin-pin port D dapat

(37)

Tabel 2.4 Fungsi Khusus Port D

Port Fungsi

PD7 OC2 (Timer / Counter2 Output Compare Match

Output)

PD6 ICP1 (Timer/Counter1 Input Capture Pin)

PD5 OCIB (Timer/Counter1 Output Compare B Match) PD4 TD0 (JTAG Test Data Out)

(38)

28

Perancangan yang baik dan dilakukan secara sistematik akan memberikan

kemudahan dalam proses pembuatan alat serta dapat mempermudah dalam proses

analisis dari alat yang dibuat. Pada bab ini akan dijelaskan tentang perancangan

sistem baik hardware maupaun software beserta alasan pemilihan komponen yang

digunakan.

3.1 Perancangan Sistem

Pada perancangan sistem pemandu kendaraan untuk parkir paralel secara

otomatis ini, secara umum terdiri dari tiga bagian utama, yaitu masukan (input),

proses dan keluaran (output). Ketiga proses tersebut akan bekerja jika tombol

untuk parkir otomatis ditekan. Setiap bagian dari sistem mempunyai fungsi

masing-masing yang akan saling berkaitan dalam sistem pemandu parkir otomatis

ini.

(39)

Secara umum cara kerja dari sistem pemandu kendaraan untuk parkir

paralel secara otomatis ini adalah pertama-tama mendeteksi ruang parkir yang

tersedia. Proses deteksi ini menggukan sensor ultrasonik dan optocoupler untuk

menghitung putaran roda kendaraan dengan luas ruang parkir yang tersedia. Jika

ruang (space) parkir yang tersedia sesuai dengan ukuran mobil, maka proses

parkir akan dijalankan secara otomatis dengan menghitung jarak-jarak antara

benda yang ada di sekitar mobil.

Pada blok diagram terdapat tiga bagian utama dari sistem, yaitu pertama

masukan berupa data jarak dari sensor ultrasonik dan counter dari optocoupler,

kedua proses berupa mikrokontroler yang akan memproses data masukan

menggunakan logika Fuzzy, dan ketiga adalah keluaran berupa putaran motor DC

maju atau mundur dan perubahan sudut motor servo (steering).

3.1.1 Bagian Masukan (input)

Masukan (input) dari sistem ini terdiri dari 2 yaitu optocoupler dan sensor

ultrasonik.

a. Optocoupler

Optocoupler hanya digunakan untuk menghitung panjang ruang parkir

yang akan digunakan sebagai tempat parkir nantinya. Optocoupler akan

bekerja jika sensor ultrasonik mendeteksi adanya ruang (space) sewaktu

mobil berjalan. Optocoupler akan terus bekerja hingga ruang parkir yang

terdeteksi bisa digunakan sebagai ruang parkir.

b. Sensor ultrasonik

Selain untuk mendeteksi ruang parkir yang menghubungkan sistem dengan

(40)

penting dalam melakukan proses parkir ini. Selama proses parkir

berlangsung, sensor ultrasonik akan mendeteksi jarak mobil dengan benda

yang berada di depan, di samping maupun di belakang mobil. Masukan

dari ultrasonik ini yang nantinya akan diproses dengan menggunakan

logika Fuzzy pada mikrokontroler. Keputusan-keputusan output berupa

arah putar motor servo (steering) bergantung pada masukan sensor

ultrasonik ini.

3.1.2 Bagian Process

Mikrokontroler AVR ATmega 32 digunakan sebagai perangkat utama

untuk mengontrol sistem pemandu kendaraan untuk parkir paralel secara otomatis

menggunakan logika Fuzzy ini. Mikrokontroler akan memproses masukan baik

dari sensor ultrasonik maupun dari optocoupler dan memberikan keputusan output

berupa arah putaran motor DC maju atau mundur dan arah putaran motor servo.

3.1.3 Bagian Keluaran (output)

kecepatannya telah diatur. Motor DC dan mikrokontroler dihubungkan

(41)

motor DC berupa keputusan mobil untuk maju atau keputusan mobil untuk

mundur.

b. Motor Servo

Motor servo digunakan sebagai steering pada mobil. Input dari sensor

ultrasonik ke mikrokontroler akan menghasilkan output berupa besarnya

sudut motor servo. Perubahan sudutr motor servo akan berganti selama

proses parkir berlangsung.

3.2 Perancangan Perangkat Keras (Hardware)

Dalam perancangan sistem pemandu kendaraan untuk parkir otomatis pada

tugas akhir ini akan dimodelkan pada mobil-mobilan remote control. Model

mobil-mobilan yang dirancang memiliki 4 buah sensor ultrasonik sebagai

pendeteksi jarak, 1 buah optocoupler sebagai penghitung ruang parkir, 1 motor

DC sebagai penggerak mobil, 1 buah motor servo sebagai steering mobil, 1 buah

driver motor, dan 1 buah sistem minumum ATmega 32 sebagai pusat

pengendalian mobil.

(42)

Perancangan sistem kontrol yang meliputi pembuatan rangkaian-rangkaian

elektronik yang saling terintegrasi membentuk sistem kendali dengan tujuan

mengendalikan kerja sistem agar dapat bekerja sesuai dengan keinginan.

Gambar 3.3 Rangkaian Secara Keseluruhan 3.2.1 Rangkaian Sistem Minimum Mikrokontroler AVR ATmega 32

Sistem minimum ATmega 32 adalah rangkaian yang dikhususkan untuk

mengoperasikan IC ATmega 32. Mikrokontroler inilah yang nantinya akan

digunakan sebagai pusat pengendalian parkir otomatis ini. Pemilihan jenis

mikrokontroler ATmega 32 ini karena berdasarkan perbandingan dengan dengan

(43)

diinginkan. Berikut adalah skematik dari rangkaian sistem minimum

mikrokontroler ATmega 32:

Gambar 3.4 Sistem Minimum ATmega 32

Input-an dari sistem yang banyak memerlukan memory flash yang besar

pula, ATmega 32 memiliki memory yang lebih besar dan ATmega 32 memiliki

RAM yang lebih besar sehingga mempengaruhi kecepatan akses data sementara

pada mikrokontroler.

Tabel 3.1 Uraian Perbandingan Jenis Mikrokontroler

Spesifikasi

Pada tabel 3.1 terlihat perbedaan pada masing-masing IC disetiap

spesifikasinya. Dari perbedaan tersebut, IC ATmega 32 lebih cocok digunakan

(44)

3.2.2 Rangkaian Sensor Jarak Ultrasonik SR-04

Sensor ultrasonik digunakan untuk mengetahui jarak mobil dengan

benda-benda yang berada disekitar mobil. Terdapat beberapa jenis sensor ultrasonik yang

dapat digunakan namun pada tugas akhir ini, sensor ultrasonik yang digunakan

adalah SR-04. Uraian mengenai perbandingan sensor SR-04 dengan sensor

ultrasonik yang lain dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Uraian Perbandingan Jenis Sensor Ultrasonik

Spesifikasi Jenis Sensor

dan harga dari masing-masing sensor. Berdasarkan pertimbangan dari

perbandingan sensor tersebut, sensor SR-04 lebih cocok digunakan dalam

perancangan tugas akhir ini. Dilihat dari jarak, sensor SR-04 dapat mengukur dari

5 cm hingga 500cm dirasa cukup untuk perancangan tugas akhir ini dan dilihat

(45)

Gambar 3.5 Sensor Jarak Ultrasonik SR-04

Sensor ultrasonik akan dihubungkan langsung ke mikrokontroler menjadi

input bagi sistem. Sensor ultrasonik yang digunakan pada tugas akhir ini

sebanyak 4 buah yang dipasang pada bagian sisi kiri mobil robot. Setiap sensor

terhubung pada port yang berbeda di mikrokontroler. Masing-masing dari sensor

mempunyai fungsi yang berbeda di dalam sistem ini. Berikut tabel port sensor

ultrasonik yang dihubungkan ke mikrokontroler.

Tabel 3.3 Port Sensor Ultrasonik Pada Mikrokontroler

No Sensor Echo Trigger

1 Sensor Kiri PORTA 0 PORTA 1

2 Sensor Belakang PORTA 2 PORTA 3

3 Sensor Depan PORTA 4 PORTA 5

4 Sensor Kiri-Belakang PORTA 6 PORTA 7

3.2.3 Rangkaian Optocoupler

Pada tugas akhir ini, optocoupler digunakan untuk menghitung panjang

ruang parkir yang digunakan. Optocoupler merupakan rangkaian elektronika yang

terdiri dari LED dan photo-transistor yang akan mengalami perubahan logika bila

terjadi perubahan intensitas cahaya yang dipancarkan oleh pemancar (LED infra

(46)

Gambar 3.6 Rangkaian Optocoupler

Roda cacah yang diletakkan di tengah optocoupler berfungsi untuk

mempengaruhi intensitas cahaya yang diberikan oleh IR-LED pada optocoupler

ke photo-transistor yang akan memberikan perubahan level logika sesuai dengan

putaran roda cacah.

Gambar 3.7 Optocoupler dan Roda Pencacah pada Prototype Mobil

Dengan memodifikasi bentuk bagian dalam ban prototype mobil berbentuk roda

pencacah yang berfungsi untuk memberikan logika high dan low pada

(47)

mobil sebanyak 7 buah yang berarti sama dengan keliling dari ban itu sendiri

yaitu:

Panjang diameter dari ban prototype mobil = 7cm

Keliling =

dari optocoupler sebanyak 7 kali akan sama dengan mobil bergerak sejauh 22 cm.

3.2.4 Rangkaian Driver Motor DC (L298)

Rangkaian driver motor DC L298 merupakan integrasi dari rangkaian

H-Bridge transistor. Driver motor DC H-Bridge adalah sistem kontrol motor DC

dengan metode jembatan (bridge). Rangkaian driver motor DC H-Bridge ini dapat

mengendalikan motor DC dalam 2 arah baik secara PWM maupun kontrol dengan

logika HIGH dan LOW. Dengan metode PWM dapat mengendalikan kecepatan

putaran motor DC sedangkan dengan metode logika kontrol HIGH dan LOW

maka motor selalu start dalam kecepatan maksimal. Berikut contoh rangkaian

H-Bridge:

(48)

Sedangkan contoh rangkaian H-Bridge yang sudah terintegrasi pada rangkaian

driver motor L298 yang digunakan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.9 Rangkaian Driver Motor L298

Pada rangkaian terlihat driver motor L298 dapat mengontrol 2 motor DC, namum

yang dipakai pada tugas akhir ini hanya 1 motor DC.

3.2.5 Rangkaian Motor Servo

Motor servo pada tugas akhir ini digunakan sebagai steering yang berarti

merubah posisi mobil robot. Pada tugas akhir ini, digunakan 1 buah motor servo

standard. Motor servo jenis ini hanya mampu bergerak dua arah (CW dan CCW)

dengan defleksi masing-masing sudut mencapai 90° sehingga total defleksi sudut

(49)

Gambar 3.10 Motor Servo

Servo analog dan digital memiliki tiga kabel. Satu kabel untuk catu positif,

biasanya DC 5-6 Volt. Kabel kedua untuk ground, dan kabel ketiga merupakan

kabel sinyal. Controller berkomunikasi dengan servo melalui kabel ini, melalui

sinyal berupa pulsa. Pada tugas akhir ini kabel ketiga dihubungkan ke

mikrokontroler seperti gambar berikut.

Gambar 3.11 Rangkaian Motor Servo

3.3 Perancangan Perangkat Lunak (Software)

Perancangan perangkat lunak (software) bertujuan untuk menentukan

setiap alur eksekusi dari perangkat sistem pemandu parkir otomatis yang

(50)

(software) yang nantinya akan menentukan keluaran (output) dari sistem. Berikut

alur kerja (flowchart) dari sistem yang dirancang.

Start

(51)

3.4 Gambaran Sistem

Sistem pemandu parkir paralel secara otomatis ini terdiri dari 2 proses

yaitu proses mencari ruang (space) parkir dan proses parkir itu sendiri. Pada

proses parkir ini terdiri dari dari 2 tahapan, yaitu proses mobil mundur melakukan

manuver parkir dan proses maju di dalam ruang parkir.

3.4.1 Mobil Maju Mencari Space Parkir

Tahap pertama yaitu mobil akan maju mencari ruang parkir yang sesuai

dengan ukuran mobil. Pada tahap ini, sensor ultrasonik yang akan berkerja hanya

sensor di sebelah kiri-belakang. Ruang (space) parkir yang bisa digunakan yaitu

sesuai dengan ukuran mobil, seperti pada gambar :

Gambar 3.13 Ruang (Space) Parkir

Jika sensor mendeteksi ruang parkir, maka optocoupler akan aktif

menghitung panjang ruang yang akan digunakan. Jika ruang parkir sesuai dengan

ukuran mobil, maka mobil akan berhenti dan siap melakukan proses parkir.

Asumsi ruang parkir yang akan digunakan berukuran panjang ±70 cm dan

lebar ±40 cm seperti terlihat pada gambar 3.13. Prototype mobil akan menghitung

sendiri panjang ruang parkir yang tersedia dengan menggunakan optocoupler.

Seperti yang dijelaskan pada bagian 3.2.3 tentang rangkaian optocoupler,

(52)

ke mikrokontroler selama sensor kiri-belakang mendeteksi adanya ruang parkir.

Sensor ultrasonik akan menghitung jarak apabila gelombang ultrasonik yang

dipancarkan trasmitter dapat diterima oleh receiver.

Gambar 3.14 Mulai Mendeteksi Space Parkir

Pada gambar di atas terlihat bahwa ultrasonik akan mendeteksi space

setelah 4 cm melewati halangan mobil yang telah terparkir sebelumnya.

Sedangkan optocoupler yang terpasang pada bagian mobil berada 6 cm dari

sensor kiri-belakang ini, jadi counter akan mulai menghitung pada saat 10 cm

setelah melewati halangan atau mobil yang terparkir sebelumnya. Counter akan

berhenti menghitung apabila sensor ultrasonik mendeteksi adanya halangan yang

berada di samping prototype mobil, seperti pada gambar berikut.

(53)

Jadi jika panjang ruang parkir ±70cm maka counter optocoupler akan

menghitung setelah ±10cm melewati halangan mobil yang terparkir sebelumnya

sehingga space yang terdeteksi sepanjang ±60. Counter akan menghitunng

sebanyak 19 kali dengan cara sebagai berikut:

1 kali putaran ban = 7 kali counter optocoupler = 22 cm

7 kali = 22 cm

panjang = 60 cm

counter = 420:22

= 19

Jadi 19 kali counter optocoupler akan sama dengan panjang ±60 cm. Saat

counter telah menghitung sebanyak 19 kali, mobil akan berhenti dan siap

melakukan proses parkir.

Gambar 3.16 Mobil Maju Mencari Ruang (space) Parkir 3.4.2 Proses Parkir

Pada proses kedua ini terdiri dari 2 tahapan, yaitu mundur melakukan

manuver parkir dan maju di dalam ruang parkir itu sendiri, berikut

(54)

a. Mobil Mundur Melakukan Manuver Parkir

Tahap kedua, yaitu mobil akan mundur masuk ke dalam ruang parkir,

melakukan manuver masuk ke dalam ruang (space) parkir. Pada tahap ini

sensor yang aktif adalah sensor kiri-depan dan belakang. Proses Fuzzy

terjadi pada tahap ini. Arah-arah serta besarnya steering dari prototype

mobil pada tahap kedua ini berdasarkan dari input-input dari kedua sensor

tersebut dan akan diolah secara logika Fuzzy menghasilkan besarnya

puataran steering selama proses pada tahap kedua ini berlangsung. Logika

Fuzzy yang digunakan akan dijelaskan pada bagian 3.5.

Gambar 3.17 Mobil Mundur Melakukan Manuver Masuk Ke Dalam Ruang (space) Parkir

b. Mobil Maju Di Dalam Ruang (Space) Parkir

Tahap ketiga, yaitu mobil akan maju jika sensor belakang mendeteksi

jarak terdekat dengan benda atau halangan yang berada di belakang mobil.

Pada tahap ini, sensor yang aktif yaitu sensor depan dan sensor belakang

(55)

Gambar 3.18 Mobil Maju Masuk Ke Dalam Ruang (space) Parkir

3.5 Logika Fuzzy Pada Sistem Pemandu Kendaraan Untuk Parkir Paralel Secara Otomatis

Logika Fuzzy pada sistem ini terdapat pada proses yang kedua, yaitu

proses mobil masuk dalam ruang (space) parkir. Input Fuzzy dari sistem parkir ini

berupa jarak yang didapat dari 2 buah sensor ultrasonik yaitu kiri-depan dan

belakang. Sedangkan output dari Fuzzy ini berupa putaran atau besarnya sudut

putar motor servo sebagai steering dari prototype mobil ini.

Setiap input dari logika Fuzzy ini mempunyai nilai keanggotaan

(membership function) yang direpresenatasikan dalam bentuk kurva segitiga dan

trapesium. Operator “AND” digunakan untuk mengkombinasikan dan

memodifikasi kedua input jarak dari sensor ultrasonik. Berikut membership

function dari setiap input-an dan output Fuzzy:

(56)

Keterangan:

Jarak dekat dari sensor kiri-depan direpresentasikan dengan kurva

trafesium dengan nilai domain diantara 0cm – 15cm.

Jarak sedang dari sensor kiri-depan direpresentasikan dengan kurva segita

dengan nilai domain diantara 10cm – 20cm.

Jarak jauh dari sensor kiri-depan direpresentasikan dengan kurva

trapesium dengan nilai domain dari 15cm hingga lenih dari 30cm.

Gambar 3.20 Membership Function untuk Sensor Belakang

Keterangan:

Jarak belakang dari sensor kiri-depan direpresentasikan dengan kurva

trafesium dengan nilai domain diantara 0cm – 30cm.

Jarak belakang dari sensor kiri-depan direpresentasikan dengan kurva

segita dengan nilai domain diantara 10cm – 50cm.

Jarak jauh dari sensor belakang direpresentasikan dengan kurva trapesium

(57)

Gambar 3.21 Output Berupa Steering Prototype Mobil

Keterangan:

P.Kiri : putar kiri dimana steering pada prototype mobil dapat bergerak

maksimal sejauh -72°.

Tetap : dimana steering dari prototype mobil berapa pada posisi normal

yaitu sebesar 0°.

P.Kanan : putar kanan dimana steering pada prototype mobil dapat

bergerak maksimal sejauh 72°.

Sedangkan untuk rule Fuzzy diperoleh dengan dengan cara mengukur

dan melakukan percobaan pada sistem parkir ini. Rule pada sistem pemandu

untuk parkir paralel secara otomatis ini sebanyak 15 rule dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 3.4 Rule Fuzzy Kiri-depan

Belakang Dekat Sedang Jauh

Dekat Tetap P.kiri P.kanan

Sedang P.kiri P.kanan P.kanan

(58)

Keterangan dari rule di atas:

Rule 1 : jika jarak kiri-depan “dekat” dan belakang “dekat” maka steering

akan “tetap”.

Rule 2 : jika jarak kiri-depan “dekat” dan belakang “sedang” maka

steering akan “putar kiri”.

Rule 3 : jika jarak kiri-depan “dekat” dan belakang “jauh” maka steering

akan “putar kiri”.

Rule 4 : jika jarak kiri-depan “sedang” dan belakang “dekat” maka

steering akan “putar kiri”.

Rule 5 : jika jarak kiri-depan “sedang” dan belakang “sedang” maka

steering akan “putar kiri”.

Rule 6 : jika jarak kiri-depan “sedang” dan belakang “jauh” maka steering

akan “putar kanan”.

Rule 7 : jika jarak kiri-depan “jauh” dan belakang “dekat” maka steering

akan “putar kanan”.

Rule 8 : jika jarak kiri-depan “jauh” dan belakang “sedang” maka steering

akan “putar kanan”.

Rule 9 : jika jarak kiri-depan “jauh” dan belakang “jauh” maka steering

(59)

49

PENGUJIAN DAN ANALISIS

4.1 Pengujian Dan Analisis Sistem

Pada bab ini akan diuraikan tentang proses pengujian sistem yang meliputi

pengukuran terhadap parameter-parameter dari setiap komponen per blok maupun

secara keseluruhan, dan melakukan uji coba terhadap aplikasi alat yang

diharapkan dapat berjalan sesuai perancangan pada bab sebelumnya, selanjutnya

akan dilakukan analisis terhadap aplikasi hasil pengukuran tersebut. Pengujian

dan analisis sistem ini bertujuan untuk mengetahui sistem kerja dari setiap

komponen input, proses, dan output apakah dapat berjalan sesuai target yang

diharapkan.

4.1.1 Pengujian Logika Fuzzy

Tujuan dari pengujian logika Fuzzy ini adalah untuk mengetahui proses

logika Fuzzy ini sebagai inti dari sistem pemandu kendaraan untuk parkir paralel

secara otomatis ini. Logika Fuzzy yang digunakan ini diprogram ke dalam

mikrokontroler sebagai pusat pengendalian sistem. Input-an logika Fuzzy pada

tugas akhir ini berupa jarak samping kiri yang didapat dari sensor SR-04

kiri-belakang dan jarak kiri-belakang dari prototype mobil remote yang didapat dari

sensor SR-04 bagian belakang. Kedua input-an ini akan diproses di dalam

mikrokontroler menggunakan logika Fuzzy yang akan menghasilkan output

(60)

Pengujian dari logika Fuzzy ini dilakukan dengan membandingkan hasil

output yang didapat menggunakan simulasi Matlab, pengujian program yang

dibuat menggunakan Codevison AVR dan pengujian perhitungan manual. Seperti

yang dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa tahapan membangun sebuah logika

Fuzzy terdiri dari 3 tahapan yaitu Fuzzification, Fuzzy Logic Inference dan

Defuzzification. Setiap input-an akan diproses secara bertahap mulai dari

menentukan membership function hingga menghasilkan output.

a. Hasil pengujian logika menggunakan simulasi Matlab :

Jika input kiri-depan = 10cm dan belakang = 27cm

(61)

Jika input kiri-depan = 15cm dan belakang = 30cm

Gambar 4.2 Hasil Simulasi Matlab Pada Pengujian Kedua

Jika input kiri-depan = 12cm dan belakang = 45cm

(62)

b. Hasil pengujian logika Fuzzy yang dibuat menggunakan software

CodeVision AVR dan ditampilkan ke LCD:

Jika input kiri-depan = 10cm dan belakang = 27cm

Jika input kiri-depan = 15cm dan belakang = 30cm

Jika input kiri-depan = 12cm dan belakang = 45cm

c. Hasil pengujian dengan perhitungan manual:

Jika input kiri-depan = 10cm dan belakang = 27cm

Rule Fuzzy

Kiri-depan

Belakang Dekat Sedang Jauh

Dekat 0,15 0 0

Sedang 0,85 0 0

(63)

Defuzzification

Jika input kiri-depan = 15cm dan belakang = 30cm

Kiri-depan Belakang

Jika input kiri-depan = 12cm dan belakang = 45cm

(64)

Defuzzification

Dari ketiga pengujian tersebut, dapat lihat perbandingan dari setiap output

yang dihasilkan. Tabel berikut menguraikan perbandingan hasil pengujian dari

ketiga cara yang telah dilakukan :

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Logika Fuzzy

No Input Output

Dari tabel hasil pengujian logika Fuzzy terlihat bahwa output dari program

yang dibuat menggunakan Codevision AVR bernilai sama dengan simulasi

Matlab maupun perhitungan manual. Dengan begitu, program yang telah dibuat

menggunakan software Codevision AVR tersebut, dapat digunakan dalam tugas

akhir ini.

4.1.2 Pengujian Sensor SR-04

Tujuan pengujian untuk sensor SR-04 ini agar mengetahui kemampuan

sensor ini dalam mendeteksi jarak halangan yang berada di depan sensor.

Pengujian dilakukan sebanyak 25 kali dengan jarak halangan yang berbeda. Jarak

yang terukur oleh sensor akan ditampilkan ke LCD dibandingkan dengan jarak

(65)

Tabel 4.2 Hasil Pengujian Sensor SR-04

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan sensor

SR-04 dalam mendeteksi halangan hingga sejauh 60 cm menghasilkan nilai yang

hampir sama dengan pengukuran sebenarnya, meskipun dalam pengujian sensor

ini sering terjadi error atau selisih pada jarak-jarak tertentu.

4.1.3 Pengujian Optocoupler

Pengujian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui parameter output

berupa logika high dan low pada optocoupler. Pengujian dilakukan dengan

memberikan tegangan sebesar 5V pada rangkaian, kemudian memutar roda cacah

(66)

dihasilkan saat roda cacah diputar berupa tegangan yang berlogika high dan low.

Pada tabel berikut diuraikan hasil pengujian optocoupler:

Tabel 4.3 Hasil Pengujian Optocoupler Tegangan input Posisi roda cacah Tegangan

output

Logika biner

5Volt

Menghalangi cahaya IR LED 4,9Volt 1

Meloloskan cahaya IR LED 0,85Volt 0

Dari tabel pengujian diatas terlihat bahwa optocoupler yang digunakan

menghasilkan tegangan output sebesar 4,9Volt berlogika high dan 0,85Volt

berlogika low. Logika high dan low ini akan menjadi input mikrokontroler,

sehingga dapat digunakan untuk menghitung panjang ruang parkir yang dilewati

oleh prototype mobil.

4.1.4 Pengujian PWM Sebagai Pengatur Kecepatan Motor DC

Pengujian PWM ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sinyal PWM

terhadap perubahan kecepatan motor DC. Seperti yang dijelaskan pada bab

sebelumnya, bahwa pengaturan kecepatan motor DC menggunakan PWM

dipengaruhi oleh lebar pulsa high dan low pada satu periode gelombang yang

diberikan, sehingga menghasilkan duty cycle. Duty cycle ini akan mempengaruhi

tegangan yang diberikan ke motor DC sehingga mempengaruhi kecepatan motor.

Pada pengujian dilakukan dengan memberikan variasi lebar pulsa high dan low

untuk menghasilakan duty cycle yang berbeda. Berikut tabel hasil pengujian motor

(67)

Tabel 4.4 Hasil Pengujian Motor DC

VFull Thigh Tlow Ttotal DutyCycle V=DutyCycle×Vfull V rata-rata

5 V

Dari tabel diatas terlihat bahwa semakin besar duty cycle yang diberikan,

maka tegangan rata-rata motor DC juga semakin besar sehingga kecepatan motor

DC juga akan semakin cepat. Duty cycle yang diberikan dapat diaatur dengan

mengganti nilai T high atau T low dari lebar pulsa PWM sesuai dengan keinginan.

4.1.5 Pengujian PWM Sebagai Pengatur Sudut Motor Servo

Pengujian PWM ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sinyal PWM

terhadap perubahan perubahan sudut motor servo. PWM sebagai pengaturan sudut

motor servo tidak jauh berbeda dengan pengaturan kecepatan motor DC yaitu

mengatur lebar pulsa high dan low pada satu periode gelombang yang diberikan.

Pada pengujian motor servo ini dilakukan dengan membandingkan lebar pulsa

referensi dengan hasil simulasi. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali dengan

menggunakan software Proteus untuk mensimulasikan hasil dari program yang

telah dibuat mengunakan software CodeVision AVR untuk mengatur sudut motor

(68)

Gambar 4.4 Sinyal Kontrol Motor Servo Sebagai Acuan Dalam Pengujian

Gambar di atas merupakan sinyal kontrol yang digunakan untuk mengubah sudut

motor servo. Sinyal di ataslah yang dijadikan acuan untuk menentukan T high dan

T low untuk pengontrolan motor servo ini.

Gambar 4.5 Hasil Pengujian Motor Servo Pertama

Pada gambar terlihat lebar pulsa sebesar 20ms dengan T high sebesar 1ms

(69)

Gambar 4.6 Hasil Pengujian Motor Servo Kedua

Pada gambar terlihat lebar pulsa sebesar 20ms dengan T high sebesar 1,5ms

menghasilkan pergerakan motor servo dengan sudut 0.

Gambar 4.7 Hasil Pengujian Motor Servo Ketiga

Pada gambar terlihat lebar pulsa sebesar 20ms dengan T high sebesar 2ms

menghasilkan pergerakan motor servo dengan sudut +90.

Dari ketiga hasil simulasi diatas terlihat bahwa program yang dibuat untuk

Gambar

Gambar 2.13 Sinyal Kontrol Motor Servo
Gambar 2.14 ATmega 32
Gambar 2.15 Pin-Pin ATMega32
Gambar 3.2 Perancangan prototype mobil
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem parkir otomatis ini mempunyai enam bagian umum yaitu sensor warna yang akan menyeleksi warna koin,sensor halangan yang akan mengetahui mobil masuk,mobil keluar,motor

Salah satu aplikasi teknologi robotika yang berhubungan dengan sistem kontrol adalah prototype dari sistem kendali otomatis robot mobil untuk parkir pintar menggunakan

Untuk dapat memonitor kondisi lahan parkir secara otomatis perlu dirancang suatu sistem monitoring ketersediaan ruang parkir secara otomatis dengan menggunakan

Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa sistem lampu kendaraan otomatis dapat bekerja sesuai yang ditetapkan pada permasalahan, yaitu menyalakan lampu secara otomatis saat

Dari sistem kendali suhu otomatis menggunakan metode logika fuzzy yang telah dibuat, dengan menggunakan 5 himpunan fuzzy pada variabel E (Error) yang berupa

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain eksperimen untuk perancangan dan analisis prototipe sistem parkir otomatis yang berbasis mikrokontroler

Untuk menstimulasikan alat sistem parkir otomatis aktifkan rangkaian dengan cara memberikan tegangan 5volt pada arduino dari adaptor, kemudian saat kendaraan ingin

Program kedua adalah program dalam bahasa SQL yang ditanamkan pada subsistem 2 yang berfungsi sebagai media penyimpanan informasi dalam database sistem parkir otomatis yang dapat