• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALASAN INDONESIA DALAM MELAKUKAN KERJA SAMA DENGAN MELANESIAN SPEARHEAD GROUP (MSG)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ALASAN INDONESIA DALAM MELAKUKAN KERJA SAMA DENGAN MELANESIAN SPEARHEAD GROUP (MSG)"

Copied!
188
0
0

Teks penuh

(1)

1 ABSTRACT

This study explains why Indonesia in cooperation with the Melanesian Spearhead

Group. Members of the Melanesian Spearhead Group are the countries in the South

Pacific region which has a Melanesian race. The vision of the Melanesian Spearhead

Group is decolonization and freedom for all countries of Melanesia with the efforts to

develop cultural identity and association, political, social and economic of

Melanesians. United Liberation Movement of West Papua is listed as an observer in the

Melanesian Spearhead Group. As an associate member, Indonesia tried to prevent the

movement of groups of Papuan independence as part of the Melanesian Spearhead

Group. Indonesia's involvement in the Melanesian Spearhead Group becomes a threat

to the Papuan independence groups to secede from the Unitary Republic of Indonesia.

Through the concept of foreign policy with Rational Actor model by Graham T. Allison,

that there are alternatives to policy guidelines that could be taken by the government in

the calculation of gains and losses over each of these alternatives. The decision-makers

must always be ready to make changes or adjustments in its discretion. This concept is

used by researchers to determine the involvement of Indonesia in the Melanesian

Spearhead Group. The main reason why Indonesia in cooperation with the Melanesian

Spearhead Group is to gain the support of the member countries of the Melanesian

Spearhead Group to prevent group of Papuan independence became a permanent

member to inhibit movement in liberating Papua.

(2)

2 ABSTRAKSI

Penelitian ini menjelaskan mengapa Indonesia melakukan kerjasama dengan Melanesian Spearhead Group. Anggota dari Melanesian Spearhead Group adalah negara-negara di wilayah Pasifik Selatan yang memiliki ras Melanesia. Visi dari Melanesian Spearhead Group adalah dekolonisasi dan kebebasan seluruh negara Melanesia dengan upaya mengembangkan identitas dan keterkaitan budaya, politik, sosial dan ekonomi masyarakat Melanesia. United Liberation Movement of West Papua terdaftar sebagai observer di Melanesian Spearhead Group. Dengan status associate member, Indonesia mencoba untuk mencegah meningkatnya pergerakan kelompok Papua merdeka sebagai bagian dari Melanesian Spearhead Group. Keterlibatan Indonesia di dalam Melanesian Spearhead Group menjadi ancaman bagi kelompok Papua merdeka untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui konsep Politik Luar Negeri dengan model Aktoor Rasional oleh Graham T. Allison bahwa terdapat alternatif-alternatif haluan kebijaksanaan yang bisa di ambil oleh pemerintah dalam memperhitungkan untung dan rugi atas masing-masing alternatif tersebut. Para pembuat keputusan harus selalu siap untuk melakukan perubahan atau penyesuaian dalam kebijaksanaannya. Konsep ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui keterlibatan Indonesia di dalam Melanesian Spearhead Group. Alasan utama mengapa Indonesia melakukan kerjasama dengan Melanesian Spearhead Group karena Indonesia mau mendapatkan dukungan dari negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group untuk mencegah kelompok Papua merdeka menjadi anggota tetap untuk menghambat pergerakan dalam memerdekakan Papua.

(3)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Tesis ini bertujuan untuk mengetahui alasan Indonesia bergabung ke dalam forum sub-regional di wilayah Pasifik Selatan yaitu Melanesian Spearhead Group (MSG) dengan mengkaji kebijkan politik luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan presiden Joko Widodo dengan melihat Indonesia sebagai aktor utama yang mengambil keputusan secara rasional. Hal tersebut dilandaskan oleh beberapa argument pokok yang akan penulis jabarkan di bab-bab selanjutnya, serta penulis juga akan membicarakan kedekatan Indonesia dengan negara-negara di Pasifik Selatan.

(4)

semakin penting artinya.1 Terdapat beberapa karakteristik yang menjadikannya negara-negara Pasifik Selatan berbeda dengan kawasan lain. Pertama, negara di kawasan Pasifik Selatan disebut dengan

„microstate’ karena memiliki jumlah populasi yang sedikit, serta

areanya yang sempit. Kedua adalah letaknya yang berada di pulau, jauh dengan pusat dunia. Ketiga adalah negara yang berada di kawasan ini merupakan negara berkembang. Karena karakateristik ini, diperlukanlah kerjasama antar kawasan untuk menjaga eksistensinya dalam hubungan internasional.2 Kestabilan politik Luar Negeri di wilayah Pasifik Selatan penting bagi Indonesia untuk menunjukkan eksistensi dan konsistensinya di kawasan Pasifik Selatan dalam menangani masalah-masalah regional.

Wilayah Pasifik Selatan merupakan wilayah yang cukup strategis dalam kaitannya dengan politik luar negeri Indonesia. Salah satu kepentingan utama Indonesia dalam menjaga hubungan dengan negara-negara Pasifik Selatan adalah untuk menjaga stabilitas nasional dan regional Pasifik. Asia Pasifik dalam keterkaitannya dengan politik luar negeri Indonesia, merupakan bagian dari lingkaran konsentris. Dibuatnya lingkaran konsentris salah satunya didasari oleh kepentingan antarnegara, sehingga hubungan baik antarnegara pun selalu diupayakan demi kerjasama dan pencapaian kepentingan. Indonesia telah memupuk hubungan yang baik dengan negara-negara ASEAN sejak awal. Selain itu, Indonesia dan negara-negara di Asia Pasifik pun

1

Adil, Hilman. 1993. Dinamika Perkembangan Pasifik Selatan Dan Implikasinya Terhadap Indonesia. Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan PDII-LIPI.

2

(5)

memiliki dinamika tersendiri dalam hubungan antarnegara, seperti hubungannya dengan Australia, Timor Timur, dan Papua Nugini.

Kondisi dan posisi geografis Indonesia yang sangat prospektif di Kawasan Asia Pasifik. Indonesia merupakan negara yang berada diantara dua samudera yaitu samudera Pasifik dan Hindia. Semua jalan pengubung antara kedua samudra melewati Kepulauan Indonesia. Secara geografis 1/3 jalur perdagangan dunia melewati selat Lombok, selat Malaka, dan selat Sunda. Selain itu dari sisi politik Indonesia memiliki peranan penting di Asia Pasifik, mengingat lingkaran konsentris pertama Politik Luar Negeri Indonesia adalah ASEAN. Kontribusi Indonesia di Asia Pasifik adalah sebagai motor penggerak terciptanya stabilitas perdamaian dan keamanan yang tertera dalam pasal 1 UU No. 37 tahun 1999 tentang hubungan luar negeri. Keterlibatan aktif Indonesia di Asia Pasifik dapat dilihat dari terciptanya berbagai forum-forum multilateral seperti ASEAN Regional Forum (ARF), East Asian Summit (EAS) dan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) lainnya. Strategi Indonesia yang lain untuk berperan dalam pengembangan kawasan Pasifik Selatan adalah melalui bantuan kapasitas.

(6)

semangat solidaritas etnis yang tinggi dari beberap negara ras Melanesia, kemudian terbentuklah sebuah organisasi antar pemerintah (intergovernmental organization) yaitu Melanesian Spearhead Group

(MSG).

Terlihat menarik mengingat sudah lama ASEAN menjadi prioritas Indonesia dalam hal politik luar negeri, dan saat ini Indonesia mulai masuk secara perlahan di wilayah Pasifik Selatan. Kawasan kepulauan pasifik memilki peranan penting bagi kedaulatan Indonesia terutama mengenai permasalahan Papua Barat. Rasa solidaritas sebagai sesama bangsa Melanesia membuat gerakan-gerakan yang menginginkan Papua Barat untuk merdeka mendapat sambutan hangat di negara-negara Melanesia. Negara-negara tersebut tergabung kedalam

Melanesian Spearhead Group. Keberadaan negara-negara tersebut penting bagi Indonesia mengingat kasus kemerdekaan Papua Barat merupakan hal yang sensitif terutama dari dunia internasional karena menyangkut Hak Asasi Manusia.

(7)

NKRI,3 namun kenyataannya Melanesian Spearhead Group melakukan bentuk-bentuk intervensi terhadap gerakan separatisme di Papua.

Perjuangan kemerdekaan Papua untuk mendapatkan kemerdekaan tidaklah terlepas dari hubungan Indonesia dengan kawasan Pasifik Selatan. Terdapat beberapa negara yang bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Papua. Sejatinya terdapat dua kubu di dalam Melanesian Spearhead Group yang pro terhadap gerakan Papua Merdeka dan sebaliknya. Intervensi itu sendiri di suarakan oleh anggota Melanesian Spearhead Group yang pro terhadap kemerdekaan Papua. Isu-isu domestik Indonesia di Papua Barat seperti Pepera, Hak Asasi Manusia dan genosida di jadikan sebagai isu internasional yang kemudian menjadi senjata utama untuk menghentikan pergerakan Indonesia di forum Melanesian Spearhead Group. Selain itu, banyak dilakukan provokasi melalui media masa yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Dukungan yang kuat kepada kelompok separatis Papua Merdeka ini di dasari oleh adanya persamaan ras dan juga budaya.

Pada KTT Melanesian Spearhead Group ke-18 di Fiji, Indonesia diterima dan diberikan status sebagai observer. Pada forum ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan mengenai kondisi Papua serta mempersilakan perwakilan Melanesian Spearhead Group

melakukan kunjungan ke Papua untuk mendengar langsung terkait kebijakan pembangunan ekonomi serta aspek keamanan di Papua dan melihat kondisi di Papua secara langsung.4 Hal tersebut dilakukan

3 Bhakti, Ikrar Nusa. 2006. Merajut Jaring-Jaring Kerja Sama Keamanan Indonesia-Australia:

Suatu Upaya Menstabilkan Hubungan Bilateral Kedua Negara. Jakarta: LIPI

4

SBY Kunjungi Fiji Untuk Jelaskan Kondisi Papua.

(8)

terkait isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang diduga dilakukan oleh pemerintah Indonesia di Papua. Keterlibatan Indonesia dalam Melanesian Spearhead Group, berdampak pada munculnya perlawanan dari gerakan separatis di Papua yang terancam dipersulit untuk memerdekakan Papua. Gerakan separatisme yang tergabung dalam United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) berkembang di kawasan Pasifik Selatan menggalang dukungan dari negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group (MSG).

Pada organisasi regional Melanesian Spearhead Group ini, ULMWP juga diterima sebagai observer sebagai wakil penduduk Indonesia yang tinggal di luar wilayah Indonesia dan bukan sebagai entitas negara tersendiri. ULMWP sendiri merupakan organisasi politik yang sama dengan FLNKS dalam hal sebagai gerakan pro-kemerdekaan dari negara asal. Bergabungnya ULMWP ke dalam

Melanesian Spearhead Group menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Indonesia yang saat ini berstatus associate member. Dengan demikian, fokus politik luar negeri Indonesia dewasa ini mengindikasikan adanya kesadaran bahwa Indonesia merasa perlu untuk membangun kedekatan dengan negara-negara di kawasan Melanesia terkait usaha gerakan separatisme ini terhadap kemerdekaan Papua.

B. RUMUSAN MASALAH

Berkaitan dengan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:

- Mengapa Indonesia memutuskan untuk bergabung ke dalam

(9)

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun yang akan menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan dan srategi Indonesia tergabung ke dalam

Melanesian Spearhead Group (MSG). D. KONTRIBUSI PENELITIAN

1. Kontribusi Akademis

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangsi akademis bagi mahasiswa khususnya jurusan Ilmu Hubungan Internasional terkait kerjasama yang dilakukan Indonesia dan Melanesian Spearhead Group. Penelitian tesis melakukan pengkajian lebih mendalam tentang studi kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia. Pengembangan ini dilakukan melalui pengkajian terhadap proses pengambilan keputusan Poltik Luar Negeri Indonesia terkait hubungan kerjasama dengan

Melanesian Spearhead Group. 2. Kontribusi Praktis

Penelitian ini diharapakan bisa memberikan informasi tentang kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo terkait kerjasama yang dilakukan dengan

Melanesian Spearhead Group. Penelitian ini berfokus mencari dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan Indonesia dalam Politik Luar Negeri.

E. STUDI PUSTAKA

(10)

yang sebelumnya telah dilakukan dapat dijadikan acuan dengan tujuan mengembangkan pengetahuan yang dihasilkan dalam penelitian ini. Sejauh ini, telah terdapat beberapa publikasi yang membahas mengenai keterlibatan Indonesia sebagai anggota Melanesian Spearhead Group. Beberapa studi yang membahas mengenai rasionalitas kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia terpapar dalam uraian berikut.

Menurut Dame Meg Taylor dalam tulisannya “Pacific Regiolism:

Understanding the Pacific’s regional architecture” menguraikan

tentang beberapa forum regional di wilayah Pasifik. Salah satunya adalah Melanesian Sperahead Group (MSG), terdiri dari Fiji, Papua New Guinea, Solomon Islands, Vanuatu dan New Caledonia, yang telah menjadi pemecah politik yang efektif bagi permasalahan regional.

Melanesian Sperahead Group telah menerapkan perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif bagi barang dan jasa, termasuk peningkatan keterampilan para tenaga kerja dan mencapai tingkat integrasi ekonomi yang belum ditemukan di wilayah pasifik secara menyeluruh. Tahun 2003 Pacific Plan Review menemukan bahwa sebagian besar pemimpin mengartikan kemunculan Melanesian Sperahead Group lebih bersifat melengkapi dari pada bersaing.

Melanesian Sperahead Group diartikan sebagai cerminan keistimewaan dari ras Melanesia, Polinesia, dan Micronesia, serta sebagai perwujudan nyata dari Melanesia Way. Melanesian Sperahead Group menghadapi beberapa tantangan terkait keaadan buruk West Papua, di bawah kekuasaan Indonesia, dengan memberikan status sebagai observer.

Gregory Poling melalui tulisannya yang berjudul “The Upside of

Melanesian Leaders’ West Papua Compromise” menguraikan tentang

(11)

West Papua yang masi diperdebatkan. Keinginan Indonesia menjalin hubungan dengan Melanesian Sperahead Group terlihat sebagai suatu cara untuk menghentikan aspirasi Papua tergabung dalam forum yang sama. Dengan diberikannya status observer kepada West Papua

menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia jika status tersebut adalah langkah awal bagi West Papua untuk menjadi anggota tetap walaupun pemimpin Melanesian Sperahead Group menyatakan bahwa West Papua hanya akan mewakili masyarakat Papua yang berada di luar wilayah Papua. Indonesia telah mengajukan petisi keras untuk mencegah kelompok separatis Papua diterima sebagai anggota penuh

Melanesian Spearhead Group.

Ronald May dalam “The Melanesian Spearhead Group: testing

Pacific island solidarity” menguraikan tentang hubungan kerjasama

yang dilakukan antara anggota-anggota wilayah Pasifik yang tergabung ke dalam forum Melanesian Spearhead Group. Dikatakan bahwa awal pembentukan Melanesian Spearhead Group adalah untuk melakukan kerjasama perekonomian antara negara-negara anggota sehingga dapat membentuk wilayah sub-regional perdagangan bebas di Pasifik, akan tetapi pada kenyataannya Melanesian Spearhead Group dibentuk bukan dengan tujuan perekonomian tetapi lebih kepada politik.

Melanesian Spearhead Group memiliki solidaritas dan tekat yang kuat untuk menyuarakan ras Melanesia di wilayah Pasifik, baik kepada

(12)

Solomon Deli dalam “The influencing factors of Melanesian

Sperahead Group’s stand of West Papua Political Freedom”,

menguraikan tentang motif pengaruh Indonesia di dalam Melanesian Spearhead Group serta kepentingan dan dukungan Melanesian Spearhead Group untuk kebebasan politik Papua Barat. Dengan dberikannya bantuan finansial dan teknis secara langsung yang selama ini menjadi incaran anggota-anggota Melanesian Spearhead Group, menjadi sambutan hangat bagi Indonesia. Salah satu alasan bagi Kepulauan Solomon, Fiji, dan Papua New Guinea membentuk hubungan lebih dekat dengan Indonesia adalah untuk fokus dan berdiskusi mengenai Papua Barat.

Indonesia melihat hal tersebut sebagai jawaban atas kepentingan bersama dengan memberikan bantuan finansial untuk membungkam dukungan mereka kepada Papua Meredeka. Melanesian Spearhead Group memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan bahwa selama mengakui aspirasi Vanuatu untuk mendukung kasus Papua Barat, Melanesian Spearhead Group juga bisa mencari strategi baru untuk melakukan perdebatan dengan Indonesia tanpa harus mempersulit keadaan. Selama Indonesia mempertahankan pengaruh yang kuat terhadap politik regional, maka kesempatan untuk menerima WPNCL perihal status keanggotaan Melanesian Spearhead Group

(13)
[image:13.516.108.468.109.668.2]

Tabel 1.1 Literature Review

No Penelitian Temuan Catatan

1 Dame Meg Taylor “Pacific

Regiolism:

Understanding the Pacific’s regional architecture”

Tahun 2003 Pacific Plan Review menemukan bahwa sebagian besar pemimpin mengartikan kemunculan Melanesian Sperahead Group lebih bersifat

melengkapi dari pada bersaing. Melanesian Sperahead Group diartikan sebagai cerminan keistimewaan dari ras Melanesia, Polinesia, dan Micronesia, serta sebagai perwujudan nyata dari

Melanesia Way.

2 Gregory Poling “The Upside of Melanesian Leaders’ West Papua Compromise” Keinginan Indonesia menjalin hubungan dengan Melanesian Sperahead Group

terlihat sebagai suatu cara untuk

menghentikan aspirasi kelompok Papua Merdeka yang tergabung dalam forum yang sama.

Indonesia telah mengajukan petisi keras untuk mencegah kelompok separatis Papua diterima sebagai anggota penuh Melanesian Spearhead Group.

3 Ronald May “The Melanesian Spearhead Group: testing Pacific island solidarity” Awal pembentukan Melanesian Spearhead Group adalah untuk kerjasama perekonomian antara negara-negara anggota, akan tetapi kenyataannya Melanesian Spearhead Group Melanesian Spearhead Group memiliki solidaritas dan tekat yang kuat untuk menyuarakan ras Melanesia di wilayah Pasifik, baik kepada

member countries

(14)

lebih kepada tujuan politik.

4 Solomon Deli “The influencing factors of

Melanesian Sperahead Group’s stand of West Papua Political Freedom”

Salah satu alasan bagi Kepulauan Solomon, Fiji, dan Papua New Guinea membentuk hubungan lebih dekat dengan Indonesia adalah untuk fokus dan berdiskusi mengenai Papua Barat.

Selama Indonesia mempertahankan pengaruh yang kuat terhadap politik regional, maka kesempatan untuk menerima WPNCL perihal status keanggotaan Melanesian Spearhead Group

masih belum bisa dipastikan.

(15)

Kedua, tesis ini bertujuan menggunakan karakter kebijakan baru Joko Widodo yaitu dalam peningkatan partisipasi di level Internasional/regional. Pembahasan dalam tesis ini bertujuan mendiskusikan hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan dan penerapan kebijakan di masa depan. Dalam hal ini penulis melihat dari sisi Indonesia yang melibatkan diri di dalam forum Pasifik Selatan dengan melihat pertimbangan-pertimbangan kebijakan politik luarv negeri Indonesia dalam masa perintahan Joko Widodo. Penelitian ini bertujuan meyoroti keterkaitan antara Indonesia, Melanesian Spearhead Group, dan kelompok separatis yang ingin memerdekakan Papua. Peneliti menggunakan Aktor Rasional untuk melihat proses pengambilan kebijakan politik luar negeri Indonesia yang hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung kke dalam forum sub-regional

Melanesian Spearhead Group. Dalam konteks ini tentunya kebijakan politik luar negeri Indonesia sangat berpengaruh terhadap strategi Indonesia untuk mempertahankan Papua Barat sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

F. KERANGKA PEMIKIRAN

a. Konsep Politik Luar Negeri

Kepentingan nasional merupakan landasan terpenting dalam Politik Luar Negeri suatu negara. Dalam hal ini kepentingan nasional adalah hal vital dalam perumusan kebijakan luar negeri suatu negara. Pada umumnya kepentingan nasional selalu berkaitan dengan kemanan, kesejahteraan, dan kekuasaan.5 Politik luar negeri secara umum merupakan suatu perangkat formula nilai, sikap, arah serta sasaran

5

(16)

untuk mempertahankan, mengamankan dan memajukan kepentingan nasional di dalam pencaturan dunia internasional.6 Sehingga bisa dikatakan Politik Luar Negeri juga sebagai penentu arah bahkan menentukan posisi suatu negara dalam dalam dunia internasional.

Politik luar negeri merupakan refleksi dari realitas yang terjadi di dalam negeri serta juga dipengaruhi oleh situasi internasional. Hal ini diperkuat oleh Rosenau yang menjelaskan pengkajian kebijakan luar negeri suatu negara akan menghadapi situasi yang kompleks meliputi kebutuhan eksternal dan kehidupan internal.7 Berarti kedua kebutuhan tersebut sangat mempengaruhi perumusan kebijakan luar negeri. Adanya faktor internal merupakan tempat pertautan kepentingan nasional, sedangkan eksternal merupakan tempat dimana negara dapat mengartikulasikan kepentingan nasional sehingga kepentingan tersebut dapat tercapai. Politik luar negeri Indonesia memiliki landasan idiil yaitu dasar negara RI yang berpedoman pada Pancasila, sedangkan landasan konstitusional Politik Luar Negeri RI adalah UUD 1945 alinea pertama dan alinea keempat. Sebagai Landasan operasional Politik luar negeri Indonesia adalah prinsip bebas aktif.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja penjelasan corak bebas dan

aktif dari politik luar negeri, sebagai berikut:8

“Bebas: dalam pengertian bahwa Indonesia tidak memihak pada

kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya tidak sesuai dengan

kepribadian bangsa sebagaimana dicerminkan dalam Pancasila.

Aktif: berarti bahwa di dalam menjalankan kebijaksanaan luar

negerinya, Indonesia tidak bersikap pasip-reaktip atas kejadian-kejadian internasionalnya, melainkan bersikap aktip”

6

Yani, A.A. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya

7

Ibid

8

(17)

Sehingga pendapat Rosenau akan kebijakan luar negeri yang diliputi kebutuhan eksternal dan internal dapat tergambar melalui Politik Luar Negeri Indonesia Bebas-Aktif, bahwa untuk merumuskan prinsip tersebut juga diwarnai akan dinamika politik internasional.

Selanjutnya, agar prinsip bebas aktif dapat dioperasionalkan, maka setiap periode pemerintahan menetapkan landasan operasional yang senantiasa berubah disesuaikan dengan kepentingan nasional. Pada masa pemerintahannya Joko Widodo mengungkapkan prinsip

“bebas-aktif” dalam politik luar negeri Indonesia, namun landasan operasionalnya adalah menganut pada prinsip Trisakti. Prinsip Trisakti ini merupakan arah Politik Luar Negeri Presiden Soekarno. Makna dari prinsip Triskati yang diterapkan oleh Presiden Joko Widodo di masa pemerintahannya adalah sebagai berikut:9

1. Berdaulat di bidang politik, hakikat terpenting dari negara yang berdaulat. kemampuan untuk menjaga kemandirian dan mengaktualisasikan kemerdekaannya dalam seluruh aspek kehidupan bernegara

2. Berdikari di bidang ekonomi, diwujudkan dalam pembangunan demokrasi ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan di dalam pengelolaan keuangan negara dan pelaku utama pembentukan produksi 3. Berkepribadian dalam kebudayaan, diwujudkan melalui

pembangunan karakter dan kegotong-royongan berdasar pada realitas kebhinekaan dan kemaritiman sebagai kekuatan potensi bangsa dalam mewujudkan implementasi demokrasi politik dan demokrasi ekonomi Indonesia masa depan.

9

(18)

Presiden Joko Widodo dalam menerapkan Politik Luar Negeri

Bebas dan Aktif adalah menginterpretasikan makna “Bebas”

didasarkan pada kemandirian, dan kedaulatan dari Indonesia dalam menentukan kebijakan dan arah politik itu sendiri.10 Pemaknaan

“Aktif” dalam Politik Luar Negeri Presiden Joko Widodo adalah

dimaknai dengan mewujudkan misi yaitu terselip makna gotong royong

yang dalam hal ini dimaknai dengan menciptakan kemndirian kedaulatan tidak bisa dilakukan sendiri namun dapat merangkul berbagai kekuatan dan terlibat aktif dalam berbagai momentum-momentum kerjasama. Kebijakan pengambilan keputusan Politik Luar Negeri mengacu pada pilihan individu, kelompok, dan koalisi yang mempengaruhi tindakan suatu bangsa di kancah internasional. Keputusan kebijakan Luar Negeri biasanya memiliki resiko yang tinggi dan ketidakpastian yang sangat besar.11

Politik luar negeri adalah seperangkat maksud, tatacara, dan tujuan, yang diformulasikan oleh orang-orang dalam posisi resmi atau otoritatif, yang ditujukan terhadap sejumlah aktor ataupun kondisi di lingkungan luar wilayah kekuasaan suatu negara, yang bertujuan mempengaruhi target tertentu dengan cara yang diinginkan oleh para pembuat keputusan. Agar lebih jelas, berikut adalah skema pembuatan kebijakan luar negeri:

10

ibid

11

(19)

Terdapat dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan politik luar negari: faktor internasional dan faktor domestik. Kedua faktor ini digunakan sebagai basis pertimbangan oleh para pembuat kebijakan politik luar negeri, yang melakukan proses pembuatan keputusan. Keputusan yang dihasilkan dapat berupa penyesuaian, program, masalah/tujuan, dan orientasi internasional.

Dalam memaparkan analisa terhadap kebijakan luar negeri, terdapat tiga teori dasar mengenai studi analisis kebijakan luar negeri yakni realism, liberalism, dan constructivism. Realisme melihat setiap kebijakan luar negeri suatu negara didasari pada konsep groupism, egoism dan power centrism. Pada konsep groupism yang berarti bahwa negara membutuhkan warga masyarakat satu sama lain guna memenuhi kebutuhan bersama sehingga negara merupakan kumpulan kesatuan warga masyarakat itu sendiri. Kemudian, yang kedua yaitu Egoism

yang berarti persaingan antar negara akan dikejar oleh masing-masing pihak tanpa mempedulikan pihak lain karena kondisi anarki dan perang merupakan hal yang tidak dapat terelakkan. Dan power centrism yang berarti adanya penggunaan kekuatan negara yang krusial kaitannya

(20)

denga kepentingan negara.12 Dalam teori realisme hanya sekolompok negara yang berperan didalamnya yaitu negara yang memiliki power terbesar yang memanfaatkan power terkait adanya konflik.

Selain itu, David Singer menggunakan pendekatan berdasarkan tingkatan ruang lingkup dalam analisa yang disebut sebagai Level of Analysis (LoA), mengatakan bahwa ruang lingkup dibagi menjadi dua yakni tingkat domestik dan internasional. Tingkatan internasional atau disebut sebagai level sistemik berfokus kepada konsep tingkah laku dan sifat dari aktor negara itu sendiri yang mana dipengaruhi oleh kondisi sistem internasional yang ada pada masa tersebut.13 Tingkatan kedua adalah tingkat domestik atau sub-sistem. Tindakan negara ketika dihadapi oleh sebuah fenomena pada domestik dalam negerinya mempengaruhi politik luar negeri negaranya.14 Nilai historis negara, tradisi agama atau sosial, atau sifat ekonomi dan geografis negara menjadi panduan negara dalam menerapkan dan menciptakan kebijakan luar negerinya. Pada dasarnya Level of Analysis mencoba menjelaskan faktor yang dapat mempengaruhi aktor negara dalam bertindak menggunakan kebijakan luar negerinya dalam menghadapi sebuah fenomena berasal dari faktor-faktor yang ada.

Salah satu perspektif dalam ilmu Hubungan Internasional yang mengalami banyak perkembangan adalah Realisme. Perspektif realis banyak membahas tentang perang dan keamanan yang berkaitan dengan militer dan power. Realisme berkembang dan mendasar pada

pemikiran bahwa “man is evil”. Aktor dalam perspektif realisme adalah negara, sebagai satu individual yang tidak akan bekerjasama dengan

12 Wohlforth, William C., 2012. Realism and Foreign policy” dalam Steve Smith, Amelia Hadfield & Tim Dunne, Foreign Policy, Theories, Actors, Cases. Oxford 13 Singer, J. David, 1961. “The Level-of-Analysis Problem in International Relations”, World Politics, 14(1), the International System: Theoretical Essays 14

(21)

aktor lain tanpa ada maksud tertentu (self-interested) dan akan selalu berusaha untuk memperkuat dirinya sendiri. Strategi pendekatan yang digunakan oleh aktor negara dinamakan kebijakan luar negeri yang mana menentukan arah interaksi antar aktor.

Sebagai aktor utama, negara berkewajiban mempertahankan kepentingan nasionalnya dalam kancah politik internasional. Negara dalam konteks ini diasumsikan sebagai entitas yang bersifat tunggal dan rasional. Maksudnya adalah dalam tataran negara, perbedaan pandangan politis telah diselesaikan hingga menghasilkan satu suara. Sedangkan negara dianggap rasional karena mampu mengkalkulasikan bagaimana cara mencapai kepentingan agar mendapat hasil maksimal. Seorang realis juga biasanya memusatkan perhatian pada potensi konflik yang ada di antara aktor negara, dalam rangka memperhatikan atau menjaga stabilitas internasional, mengantisipasi kemungkinan kegagalan upaya penjagaan stabilitas, memperhitungkan manfaat dari tindakan paksaan sebagai salah satu cara pemecahan terhadap perselisihan, dan memberikan perlindungan terhadap tindakan pelanggaran wilayah perbatasan. Oleh karena itu, power adalah konsep kunci dalam hal ini. Dasar Normatif realisme adalah keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara: ini merupakan nilai-nilai yang menggerakkan doktrin kaum realis dan kebijakan luar negeri kaum realis.

(22)

dibatasi dengan mempersempit analisa yang ada melalui fenomena-fenomena hubungan internasional yang berkembang, yang kemudian dapat menggambarkan perilaku negara dengan menganalisa kebijakan luar negeri yang ada.

Power pada dasarnya berarti kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain untuk melakukan apa yang kita inginkan. Dalam pencapaian ini, dapat dilakukan dengan hard power atau soft power. Hard power

lebih bersifat memaksa dan keras, contohnya dengan menggunakan kekuatan militer. Soft power bukan berarti tanpa kekuatan, namun soft power menggunakan pendekatan yang berbeda. Soft power lebih ditujukan pada pengubahan cara pandang, ideologi, dan sebagainya. Dalam tesis ini, penulis memilih untuk menggunakan soft power untuk melihat pengaruh yang diberikan Indonesia di wilayah Pasifik Selatan, khususnya di dalam Melanesian Spearhead Group.

b. Aktor Rasional (Rational Actor)

Menurut Graham T. Alisson, untuk menganalisis suatu proses kebijakan luar negeri antara lain dapat digunakan rational policy model. Proses kebijakan itu sendiri secara teoritik sangat dipengaruhi oleh adanya faktor politik domestik dan eksternal internasional. Allison membuat kajian politik luar negeri yang revolusioner karena dianggap menantang asumsi rasionalisme dalam politik luar negeri yang mengikuti prinsip-prinsip ekonomi dan sedikit banyak dianut juga oleh realisme dalam menjelaskan politik luar negeri suatu negara.15 Dalam asumsi rasionalisme, tindakan suatu negara dianalisis dengan asumsi bahwa negara mempertimbangkan semua pilihan dan bertindak secara rasional untuk memaksimalkan keuntungan. Politik luar negeri dilihat

15

(23)

sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional. Bagi Allison,

analisis rasional yang disebut „Model Aktor Rasional’ mendasarkan diri

pada imajinasi karena tidak mendasarkan analisis pada fakta empirik yang sering di sebut melanggar prinsip hukum falsifiablility.

Dalam perspektif “Decision Making Process”, Graham T Allison dalam bukunya Essence of Decision: Explaining The Cuban Missile Crisis, yang diterbitkan Boston: Little, Brown and Company tahun 1971, mengajukan tiga paradigma yang dapat digunakan untuk menganalisis kebijakan luar negeri negara-negara di dunia, yaitu Model Aktor Rasional (MAR), Model Proses Organisasi (MPO), dan Model Politik Birokratik (MPB), yang akan diuraikan secara singkat berikut ini:

1. Model Aktor Rasional (Rational Actor)

Model ini menekankan bahwa suatu proses pengambilan keputusan akan melewati tahapan penentuan tujuan, alternatif/opsi, konsekuensi, dan pilihan keputusan. Model ini menyatakan bahwa keputusan yang dibuat merupakan suatu pilihan rasional yang telah didasarkan pada pertimbangan rasional/intelektual dan kalkulasi untung rugi sehingga diyakini menghasilkan keputusan yang matang, tepat, dan prudent.

2. Model Proses Organisasi (the Organizational Process)

Model ini menekankan bahwa suatu proses pengambilan keputusan merupakan suatu proses mekanistis yang melewati tahapan, prosedur, dan mekanisme organisasi dengan prosedur kerja baku

(24)

Model ini menekankan bahwa suatu proses pengambilan keputusan dirumuskan oleh berbagai aktor, kelompok, dan pihak yang berkepentingan melalui proses tarik menarik, tawar menawar, saling mempengaruhi dan kompromi antar stakeholders terkait. Keputusan yang ditetapkan merupakan proses resultan politik yang melewati deliberasi yang panjang dan komplek

Setiap negara digambarkan sebagai aktor rasional yang selalu bertindak didasarkan atas kepentingan dirinya sendiri. Dan yang paling mendasar adalah menjaga kedaulatan dan mencapai kepentingan nasional. Dalam model ini digambarkan bahwa para pembuat keputusan melakukan alternatif alternatif kebijakan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Asumsi dasar perspektif model aktor rasional yaitu bahwa negara-negara dapat dianggap sebagai aktor yang berupaya untuk memaksimalkan pencapaian tujuan mereka berdasarkan kalkulasi rasional di dalam kancah politik global.16 Dalam model aktor rasional, negara digambarkan sebagai sebuah aktor individu rasional, memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap situasi dan mencoba memaksimalkan nilai dan tujuan berdasarkan situasi yang ada. Berbagai tindakan negara-negara dianalisis dengan asumsi bahwa negara-negara mempertimbangkan semua pilihan dan bertindak rasional untuk memaksimalkan keuntungan. Dalam proses pembuatan kebijakan, pemerintah dihadapkan dengan berbagai pilihan kebijakan dimana masing-masing pilihan kebijakan tersebut memiliki konsekuensi. Negara sebagai aktor rasional akan memilih alternatif

16

(25)

kebijakan yang memiliki konsekuensi paling tinggi (menguntungkan) dalam memenuhi tujuan yang ingin dicapai (goals and objectives).17

Dalam penulisan tesis ini, penulis akan menjabarkan keuntungan dan kerugian mengenai keterlibatan Indonesia di dalam

Melanesian Spearhead Group. Ada beberapa hal yang penulis liat adalah sebagai keuntungan Indonesia bergabung ke dalam forum sub-regional Melanesian Spearhead Group, yaitu: Indonesia merupakan negara dengan jumlah ras Melanesia terbanyak di bandingkan dengan negara-negara yang terletak di wilayah Pasifik Selatan; secara geografis Indonesia merupakan tertangga dekat dengan negara-negara Melanesia, sehingga sangat mungkin bagi Indonesia untuk menjalin hubungan yang lebih dekat lagi; dan tingkat ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di Pasifik Selatan sangat jauh di bawah Indonesia, sehingga merupakan salah satu peluang bagi Indonesia untuk memberikan bantuan kepada mereka. Kemudian kerugian timbul dengan bergabungnya Indonesia ke dalam Melanesian Spearhead Group adalah munculnya perlawanan dari kelompok separatis Papua Merdeka dengan mengangkat isu-isu yang terjadi di wilayah Papua.

Berdasarkan keuntungan dan kerugian yang telah di jabarkan di atas, penulis melihat lebih banyak keuntungan yang akan di peroleh oleh Indonesia dengan bergabung ke dalam Melanesian Spearhead Group. Hal ini lah yang menjadi dasar pertimbangan Indonesia dalam mengambil keputusan untuk bergabung kedalam forum tersebut. Aktor utama yaitu negara harus dapat mengambil keputusan secara rasional dengan menimbang untung dan rugi yang akan di peroleh setelah keputusan di ambil.

17

(26)

Keamanan nasional dan kepentingan nasional merupakan prinsip utama dan tujuan strategis dalam menyusun kebijakan luar negeri. Proses pembuatan kebijakan luar negeri dilakukan oleh aktor yang mana masing-masing berperan sebagai pemain. Hubungan antar aktor secara umum digambarkan dalam proses tarik ulur satu sama lain

(pulling and hauling). Kebijakan luar negeri dipahami sebagai political outcomes. Menurut Allison outcomes bukanlah penyelesaian yang dipilih oleh para aktor tetapi merupakan hasil dari kompromi, koalisi dan kompetisi antar aktor.18

Menganalisa foreign policy sebagai bentuk proses rasionalitas atau disebut foreign policy making as rational process menurut Allison bahwa Rational decision making model terbentuk dari aktor kesatuan

(unitary actor) yang menjalankan peran sebagai rasional aktor dalam pengambilan sebuah keputusan. Kebijakan luar negeri tersebut menjadi sebuah langkah dalam menangani konflik maupun permasalahan yang dihadapi negara. Seperti dikatakan dalam kaitannya mengenai Rational Decision-Making Model adalah bahwasanya sebagai “foreign policy as

results from an intellectual process where the actors choose what is the

best for the country and select”. Maka dalam rasionalitas pengambilan

kebijakan sebagai tujuan menjalankan kebijakan yang terbaik bagi negara.

Politik Luar Negeri sebagai akibat tindakan-tindakan yang di pilih oleh aktor rasional untuk mencapai target dari tujuan-tujuan yang di tetapkan oleh suatu negara. Pembuatan Keputusan Politik Luar Negeri dari model ini disebut sebagai suatu proses intelektual. Aktor-aktor rasional berusaha untuk membuat kebijakan luar negeri yang dapat memaksimalkan pencapaian kepentingan nasional. Dalam hal ini

(27)

negara dilihat sebagai entitas monolitik. Allison menekankan bahwa kelemahan dari pandangan tersebut adalah negara satu dengan negara lainnya tidak memiliki sifat yang homogen sehingga aktor-aktor rasional tersebut tidak dapat menjelaskan politik luar negeri maupun mekanisme internal dalam perumusannya dengan baik. Keterkaitan antara model Aktor Rasional dan teori realis dapat dilihat dengan sangat jelas, dimana aktor utamanya adalah negara. Dalam proses pembuatan keputusan, aktor memiliki peran penting untuk mempengaruhi aktor lainnya dalam mencapai tujuan.

G. HIPOTESA

Dengan demikian, Indonesia memutuskan untuk bergabung ke dalam Melanesian Spearhead Group karena adanya peningkatan kapasitas diplomasi Indonesia melalui soft power sebagai motor penggerak di Kawasan Pasifik Selatan. Sehingga mempermudah Indonesia untuk merubah dukungan negara-negara di kawasan tersebut, khusunya anggota Melanesian Spearhead Group, mengenai kedaulatan Indonesia terhadap Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

H. METODOLOGI PENELITIAN 1. Tipe Penelitian

(28)

memperlihatkan alasan Indonesia tergabung ke dalam Melanesian Spearhead Group.

2. Sumber Data

Penelitian ini akan menggunakan dua sumber data untuk menyempurnakan analisis, yakni sumber data primer dan data sekunder. Data primer akan didapatkan dengan melakukan observasi lapangan dengan melakukan wawancara langsung kepada aktor-aktor yang relevan dengan penelitian ini. Kemudian data sekunder akan lebih berfokus pada telaah pustaka yang akan diperoleh dari berbagai buku, dokumen, jurnal, Koran, majalah, website dan literature lainnya yang relevan dengan penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data

(29)

a. Dokumen

Dokumen-dokumen dalam hal ini digunakan untuk menelusuri berbagai dokumen baik itu tertulis maupun dalam bentuk gambar/foto yang berkaitan dengan fokus penelitian, utamanya menyangkut dokumen mengenai pasifik selatan. Disamping itu, teknik dokumentasi yang digunakan dalam peneltian ini menitikberatkan pada catatan-catatan atau arsip-arsip berupa jurnal, buku, laporan tertulis dan dokumen-dokumen berkaitan dengan objek yang diteliti dari instansi terkait.

b. Wawancara

Penentuan informan dilakukan dengan sebuah kriteria yakni dengan mempertimbangkan dan memilih informan yang dipilih dan dipandang mengetahui secara jelas terhadap permasalahan yang akan diteliti dalam hal ini, yaitu sebagai berikut:

1. Djauhari Oratmangun

Staf Khusus Menteri Luar Negeri untuk Isu-Isu Strategis, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

2. Rizal Wirakara

(30)

3. Rezha Fernando Wanggai

Pejabat Fungsional Diplomat, Direktorat Kerja Sama Intra Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

4. Mohamad Heri Sarifuddin

Ketua Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia-Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

5. Laode Muhammad Fathun, S.IP, M.H.I

Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Bidang Kajian Keamanan Internasional. 6. Adirio Arianto, S.IP, MA

Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Bidang Kajian Keamanan Internasional. 4. Teknik Analisis Data

Penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif dalam pelakukan penelitian ini, dimana permasalahan digambarkan berdasarkan fakta-fakta yang ada kemudian dihubungkan antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya dan kemudian ditarik sebuah kesimpulan.

5. Teknik Pengambilan Kesimpulan

(31)

I. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penulisan tesis ini akan dilakukan secara terstruktur dan tersistematis dengan bagian-bagian yang merupakan suatu kesatuan yang utuh dalam memahami, mendeskripsikan, dan menganalisis terhadap permasalahan yang menjadi pokok penelitian. Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I: Pada bab pertama akan disampaikan pendahuluan yang mencakup: (a) latar belakang; (b) tujuan penelitian; (c) kontribusi penelitian; (d) rumusan masalah; (e) studi pustaka; (f) kerangka konseptual; (g) hipotesis; (h) metode penelitian; dan (i) sistematika penulisan.

BAB II: Pada bab kedua ini akan dijelaskan mengenai kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia dalam pemrintahan Jowo Widodo terkait landasan politik luar negeri, prinsip, strategi, hingga politik luar negeri Indonesia di wilayah Asia Pasifik dan Pasifik Selatan.

BAB III: Pada bab ketiga akan dijelaskan gambaran umum mengenai Melanesian Spearhead Group. Mulai dari terbentuknya

Melanesian Spearhead Group, tujuan, implementasi dan keperluan

Melanesian Spearhead Group terhadap Indonesia dan kelompok pendukung Papua Merdeka.

BAB IV: Pada bab keempat dalam tesis ini akan disampaikan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Indonesia melakukan kerja sama dengan Melanesian Spearhead Group. Analisis yang dimaksud merupakan elaborasi dari data dan informasi yang telah disampaikan pada bab-bab sebelumnya menggunakan kerangka konseptual yang tepat sehingga rumusan masalah dapat terjawab dengan baik.

(32)
(33)

BAB II

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA DI WILAYAH PASIFIK SELATAN

Pada bab ini penulis akan menjelaskan mengenai kebijakan politik luar negeri Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Jowo Widodo terkait landasan politik luar negeri, prinsip, strategi, hingga politik luar negeri Indonesia di wilayah Asia Pasifik dan Pasifik Selatan. Selain menjabarkan mengenai politik luar negeri Indonesis di wilayah Asia Pasifik, penulis juga menitik beratkan kepada peran Indonesia di wilayah Pasifik Selatan dalam mengimplementasikan politik luar negerinya serta kepentingannya Indonesia di wilayah tersebut.

Prinsip dasar kebijakan politik luar negeri sebuah negara boleh saja berakar pada sejarah, ideologi, dan konstitusi nasional. Namun pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan, kepemimpinan, dan dinamika politik internal dan internasional tertentu. Kebijakan politik luar negeri Indonesia dalam Melanesian Spearhead Group

(34)

yang sama di kawasan pasifik. Dimana kawasan pasifik yang stabil, akan mempengaruhi kawasan nusantara menjadi stabil pula.

A. Landasan, Prinsip dan Karakteristik Politik Luar Negeri Indonesia dalam Pemerintahan Joko Widodo

Setiap negara yang berdaulat memiliki kebijakan yang mengatur hubungannya dengan dunia internasional, baik berupa negara maupun komunitas internasional lainnya. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan politik luar negeri yang dijalankan negara dan merupakan pencerminan dari kepentingan nasionalnya. Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat juga menjalankan politik luar negeri yang senantiasa berkembang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri dan perubahan situasi internasional. Politik luar negeri Indonesia telah berlangsung selama puluhan tahun sejalan dengan usia negara Republik Indonesia. Pergantian kepemimpinan mulai dari Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo menandakan telah berlangsungnya proses demokrasi di Indonesia, meski dengan berbagai persoalan yang mengiringnya.

(35)

dasar untuk mencapai suatu tujuan baik dalam konteks dalam negeri dan luar negeri, serta sekaligus menentukan keterlibatan suatu Negara di dalam isu-isu internasional atau lingkungan di sekitarnya.1 Dalam setiap periode pemerintahan terdapat pemaknaan yang bervariasi terhadap prinsip-prinsip yang menjadi landasan dalam perumusan dan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia. Perbedaan interpretasi tersebut diantaranya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri.

1. Landasan Politik Luar Negeri Indonesia

Didalam sebuah negara tentunya memiliki hukum, asas, ideologi, dan juga landasan. Sebagai sebuah negara, Indonesia mempunyai landasan-landasan yang dipegang teguh sebagai panutan bangsa yang berfungsi sebagai pedoman bangsa dalam berinteraksi dengan negara lain. Jalan perubahan adalah jalan ideologis yang bersumber pada Proklamasi, Pancasila 1 Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945. Proklamasi dan Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan jati diri dan identitas kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Pembukaan UUD 1945 dengan jelas mengamanatkan arah tujuan nasional dari pembentakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Politik luar negeri Indonesia memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keselamatan

1

(36)

bangsa, memperoleh dari luar negeri barang-barang yang diperlukan untuk memperbesar kemakmuran rakyat, perdamaian internasional, dan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksanaan cita-cita yang tersimpul dalam Pancasila.2 Dalam perumusannya, politik luar negeri Indonesia memiliki tiga landasan yang menjadi pilar utamanya berdiri, ketiga landasan tersebut ialah landasan idiil, konstitusional, dan operasional.

Landasan konstitusional dari politik luar negeri Indonesia berupa Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, dimana kehidupan berbangsa dan bernegara telah diatur di dalamnya dan berkaitan dalam penentuan kebijakan luar negeri Indonesia, yang berarti bahwa politik luar negeri yang dijalankan oleh Indonesia tidak lain merupakan salah satu cara mencapai kepentingan nasional. Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, bahwa Indonesia akan tetap menjalankan politik luar negeri berdasarkan kepentingannya sendiri dan tidak ditentukan oleh arus politik negara lain.3 Hal ini berarti pasal-pasal UUD 1945 yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara memberikan garis-garis besar dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Dengan demikian, semakin jelas bahwa politik luar negeri Indonesia merupakan salah satu upaya untuk mencapai kepentingan nasional Indonesia, yang termuat dalam UUD 1945.

Sementara itu, Pancasila sebagai dasar negara Republik Indoneesia diposisikan sebagai landasan idiil dalam politik luar negeri Indonesia. Mohammad Hatta menyebutnya sebagai salah satu faktor yang membentuk politik luar negeri Indonesia. Kelima sila yang

2

Hatta, Mohammad, 1953. Dasar Politik Luar Negeri Republik Indonesia. Jakarta, Tintamas, hlm. 1-31.

(37)

termuat dalam Pancasila, berisi pedoman dasar bagi pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ideal dan mencakup seluruh sendi kehidupan manusia. Hatta lebih lanjut menyatakan, bahwa Pancasila merupakan salah satu faktor objektif yang berpengaruh atas politik luar negeri Indonesia. Hal ini karena Pancasila sebagai falsafah negara mengikat seluruh bangsa Indonesia, sehingga golongan atau partai politik mana pun yang berkuasa di Indonesia tidak dapat menjalankan suatu politik negara yang menyimpang dari Pancasila.4

Selanjutnya agar prinsip bebas aktif dapat dioperasionalisasikan dalam politik luar negeri Indonesia, maka setiap periode pemerintahan menetapkan landasan operasional politik luar negeri Indonesia yang senantiasa berubah sesuai dengan kepentingan nasional. Semasa Orde lama, landasan operasional dari politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif sebagian besar dinyatakan melalui maklumat dan pidato-pidato Presiden Soekarno. Beberapa saat setelah kemerdekaan, dikeluarkanlah Maklumat Politik Pemerintah tanggal 1 November 1945, yang diantaranya memuat hal-hal sebagai berikut: (1) Politik damai dan hidup berdampingan secara damai; (2) Politik tidak campur tangan dalam urusan negeri lain; (3) Politik bertetangga baik dan kerjasama dengan semua negara di bidang ekonomi, politik dan lain-lain; (4) Politik berdasarkan piagam PBB.5 Berdasarkan Maklumat tersebut, sesungguhnya telah tampak jelas prinsip yang diigunakan Indonesia dalam pelaksanaan politik luar negerinya, yaitu kebijakan hidup bertetangga baik dengan negara-negara di kawasan, kebijakan tidak turut campur tangan urusan domestik negara lain dan selalu

4

Ibid 5

(38)

mengacu pada Piagam PBB dalam melakukan hubungan dengan negara lain

Pada dasawarsa 1950-an landasan operasional dari prinsip bebas aktif mengalami perluasan makna. Hal tersebut diantaranya dinyatakan

oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya berjudul “Jalannya Revolusi Kita (Jarek)” pada 17 Agustus 1960, bahwa “Pendirian kita yang bebas

aktif itu, secara aktif pula harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, agar supaya tidak berat sebelah ke Barat atau ke

Timur”.6

Kemudian inti dari politik luar negeri Indonesia kembali

dinyatakan oleh Presiden Soekarno dalam “Perincian Pedoman Pelaksanaan Manifesto Politk Republik Indonesia” sekaligus

merupakan garis-garis besar politk luar negeri Indonesia dengan Keputusan Dewan Pertimbangan Agung No. 2/ Kpts/ Sd/ I/ 61. Inti kebijakan tersebut, antara lain berisi tentang sifat politik luar negeri Republik Indonesia yang bebas aktif, anti-imperialisme dan kolonialisme dan memiliki tujuan sebagai berikut:7 (1) Mengabdi pada perjuangan untuk kemerdekaan nasional Indonesia; (2) Mengabdi pada perjuangan untuk kemerdekaan nasional dari seluruh bangsa dunia; (3) Mengabdi pada perjuangan untuk membela perdamaian dunia. Ketiga tujuan politik luar negeri tersebut pada kenyataannya tidak bisa dipisah-pisah satu dari yang lain, khususnya dalam perjuangannya untuk membangun dunia kembali yang aman, adil dan sejahtera.

Pada masa Orde Baru, landasan operasional politik luar negeri Indonesia kemudian semakin dipertegas dengan beberapa peraturan

6

Habib, A Hasnan. 1990. Kapita Selekta; Strategi dan Hubungan Internasional. Jakarta: CSIS. Hal. 395.

7

(39)

formal. Diantaranta adalah:8 (a) Ketetapan MPRS No. XII/ MPRS/ 1966 tanggal 5 Juli 1966 tentang Penegasan Kembali Landasan kebijaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia; (b) Ketetapan MPR tanggal 22 Maret 1973; (c) Petunjuk Presiden 11 April 1973 mengenai penjabaran usaha yang perlu dilakukan untuk melaksanakan prinsip bebas aktif; (d) Petunjuk bulanan Presiden sebagai ketua Dewan Stabilisasi Politik dan Keamanan; (e) Keputusan-keputusan Menteri Luar Negeri.

Politik luar negeri Republik Indonesia dirumuskan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi domestik. Sehingga pada era Soeharto, tujuan-tujuan politik luar negeri Indonesia dapat dirangkum menjadi 4 yaitu adanya hubungan baik dengan negara asing, rehabilitasi dan pembangunan ekonomi dengan bantuan asing, serta penciptaan stabilitas politik dan keamanan dengan menggunkan militer. Indonesia tergabung dalam ASEAN, PBB, dan GNB, dimana Indonesia menjalin kerjasama dengan negara negara lain untuk turut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Terjadi transisi politik luar negeri dari masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto yang menyebabkan perubahan yang signifikan. Jika pada era Soekarno lebih menekankan pada politik luar negerinya untuk kepentingan politik dalam negeri, pada era Soeharto lebih berorientasi pada keamanan dan perekonomian untuk kepentingan pembangunan dalam negeri. Dari langkah politik luar negeri yang dilakukan Soeharto, terdapat beberapa kegagalan seperti banyaknya pergolakan yang terjadi akibat tidak adanya kesetaraan dan keadilan, terjadinya krisis moneter dan semakin

8

Balitbang Deplu RI, “Intisari Masalah Luar Negeri” November 1977, dikutip dalam 8

(40)

jatuhnya Indonesia akibat penandatanganan Soeharto dengan IMF. Kegagalan tersebut mungkin terjadi akibat kurang diperhatikannya infrastruktur yang masih lemah serta banyaknya investor-investor nakal.

2. Prinsip Politik Luar Negeri Indonesia

Komitmen Indonesia untuk menentang kolonialisme dan imperialisme telah ditegaskan oleh para pemimpin bangsa sejak diraihnya kemerdekaan negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pengalaman masa penjajahan kurang lebih 350 tahun telah mengajarkan kepada bangsa Indonesia akan pahitnya hidup dibawah kolonisasi bangsa lain. Kemerdekaan yang telah diperoleh Indonesia, tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. Hal ini dikarenakan salah satu syarat terbentuknya negara yaitu pengakuan internasional, belum diterima Indonesia saat itu. Untuk mengatasi persoalan ini, upaya diplomasi keberbagain negara menjadi salah satu perjuangan yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada saat itu. Selain melalui jalur diplomasi, Indonesia juga melakukan upaya lain, yaitu melalui perjuangan fisik bersenjata. Ini dilakukan terutama setelah Belanda melancarkan serangan Agresi I dan II sebagai bagian dari keinginan negara tersebut untuk menanamkan pengaruhnya dan kembali bercokol di tanah air.9 Namun perlu dicatat bahwa, upaya Indonesia untuk mencari pengakuan internasional tampaknya tidak didukung oleh perkembangan politik internasional yang tengah terjadi pada saat itu.

9

(41)

Perang Dunia II telah menciptakan situasi perrsaingan yang tajam antara Blok Barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang diwakili oleh Uni Soviet. Indonesia sebagai sebuah negara baru yang sedang mencari jati diri, tidak lepas dari sasaran kedua blok tersebut untuk menancapkan pengaruhnya. Menurut A.H. Nasution, pada saat itu posisi Indonesia seakan terjepit. Di satu pihak, Indonesia merupakan negara baru yang sedang menghadapi persoalan untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun di pihak lain, di dalam negeri Indonesia sedang mengalami tekanan-tekanan berat yang dilancarkan oleh Front Demokrasi Rakyat / Partai Komunis Indonesia (FDR / PKI) pimpinan Amir Sjarifuddin yang menentang kebijaksanaan pemerintah Indobesia. Menurut pandangan FDR / PKI, “pertentangan yang ada antara Blok Amerika Serikat dan Blok Uni Soviet, jadi revolusi Indonesia adalah bagian dari revolusi dunia, maka Indonesia haruslah

berada di pihak Rusia, barulah benar”.10

Selain itu, memang harus diakui bahwa pada saat itu politik luar negeri belum menjadi perhatian utama para pemimpin bangsa. Kondisi ini bisa dimengerti, karena Indonesia pada masa revolusi masih didera oleh berbagai persoalan domestik dan bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih dari tekanan Belanda. Berbagai persoalan domestic yang dihadapi, antara lain berkaitan dengan persoalan keadaan ekonomi yang buruk dan terjadinya berbagai pemberontakan di daerah-daerah. Namun, dalam situasi berat dan terjepit di antara persaingan ketat dua blok kekuatan adidaya dunia yang telah disebutkan sebelumnya, pemimpin bangsa Indonesia saat itu berani untuk menunjukan sikap dan orientasi politik luar negerinya

10

(42)

yang independen. Indonesia berpendapat bahwa timbulnya blok-blok raksasa di dunia ini dengan persekutuan-persekutuan militernya tidak akan menciptakan perdamaian, malah sebaliknya akan merupakan benih-benih ancaman terhadap perdamaian.11 Sikap tersebut dibuktikan oleh Mohammad Hatta dalam pidatonya yang merupakan penjelasan pertama kali tentang politik bebas aktif dan dinyatakan didepan Badan Pekerja KNPI pada 2 September 1948, yaitu:

Apakah bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan harus memilih saja antara pro-Rusia dan pro-Amerika? Apakah tidak ada pendirian lain yang harus diambil dalam mengejar cita-cita bangsa? Pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus diambil ialah supaya Indonesia jangan menjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan ia

harus tetap menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri… Politik

Republik Indonesia harus ditentukan oleh kepentingannya sendiri dan

dijalankan menurut keadaan dan kenyataan yang kita hadapi… Garis politik

Indonesia tidak dapat ditentukan oleh haluan politik negara lain yang berdasarkan kepentingan negara itu sendiri.12

Di dalam pernyataan di atas, sesungguhnya telah termuat dasar dari prinsipbebas aktif dalam politik luar negeri Indonesia, meskipun

Hatta tidak secara definitif menyebut istilah „bebas Aktif’. Politik luar

negeri yang bebas aktif mengandung dua unsur fundamental yaitu

“Bebas” dan “Aktif”, Hatta berpendapat bahwa dalam konteks kondisi

pertentangan antara dua blok, politik “Bebas” berarti Indonesia tidak

berada dalam kedua blok dan mempunyai jalannya sendiri untuk

mengatasi persoalan internasional. Sedangkan istilah “Aktif” berarti

11

Abdulgani, Roeslan. 1966. Mendayung dalam Taufan. Jakarata: Endang & Api Islam, dalam Wuryandari, Ganewati, dkk. 2016. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politk Domestik. Jakarta: P2P LIPI. Hal 42

12

(43)

upaya untuk bekerja lebih giat guna menjaga perdamaian dan meredakan ketegangan kedua blok.13 Dalam arti yang lebih luas, bebas berarti menunjukkan tingginya nasionalisme dan menolah keterlibatan atau ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi kedaulatan Indonesia.

Dikarenakan sikap Indonesia tersebut di atas, politik luar negeri Indonesia kerap disebut sebagai netral. Namun, Hatta menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia bukanlah politik netral karena tidak dihadapkan pada suatu pilihan dalam hubungan negara-negara yang sedang berperang. Sikap Indonesia tersebut lebih didasarkan atas pertimbangan untuk memperkukuh dan memperjuangkan perdamaian. Hal ini perlu ditegaskan, karena politik luar negeri Indonesia selain tidak memihak pada Blok Amerika Serikat atau Blok Uni Soviet, tetapi juga tidak bermaksud untuk berpartisipasi di blok ketiga yang dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan atas dua blok besar tersebut. Hal ini juga berarti bahwa Indonesia tidak memiliki keinginan untuk membentuk blok ketiga dengan membangun kemitraan bersama negara-negara Asia dan Afrika.14

Prinsip bebas aktif telah dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat bagian-bagian antara lain:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesua dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesiadan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan

13

Hatta, Mohammad. 1953. Indonesian Foreign Policy, Foreign Affairs (pre-1986), hal 444

14

(44)

kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Undang-Undang

Dasar Negara Indonesia….15

Kutipan diatas dengan jelas menuntut Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan dan ikut memajukan perdamaian dunia. Politik luar negeri suatu negara, yang merupakan perpaduan antara kepentingan nasional, tujuan nasional bangsa, kedudukan ato konfigurasi geopolitik dan sejarah nasionalnya, dipengaruhi oleh faktor domestik (internal) dan faktor internasional (eksternal). Dengan kata lain, politik luar negeri merupakan suatu upaya untuk mempertemukan kepentingan nasional, khususnya rencana pembangunan dengan perkembangan dan perubahan lingkungan internasional.

Politik luar negeri setiap masa tentu saja memiliki tujuan yang berbeda-beda. Semasa kepemimpinan Presiden Soekarno, Mohammad Hatta merumuskan enam tujuan politik luar negeri Indonesia, yaitu: (1) Untuk mempertahankan kemerdekaan rakyat dan menjaga keamanan negara; (2) Untuk memperoleh barang-barang kebutuhan pokok yang berasal dari luar negeri guna meningkatkan standard hidup masyarakat, seperti nasi, obat-obatan, dan sebagainya; (3) Untuk memperoleh modal guna membaangun kembali apa yang telah hancur atau rusak, dan modal untuk industrialisasi, konstruksi baru dan mekanisasi pertanian; (4) Untuk memperkuat prinsip hukum internasional dan untuk membantu meraih keadilan sosial pada lingkungan internasional, yang sejalan dengan piagam PBB khususnya artikel satu, dua dan lima puluh lima; (5) Untuk memberikan penekanan khusus pada upaya membangun hubungan baik dengan negara tetangga yang pada masa

15

(45)

lalu juga mengalami penjajahan; (6) Untuk membangunan persaudaraan antar-negara melalui realisasi idealita dalam Pancasila, sebagai filosofi dasar bangsa Indonesia.

Berbagai prinsip diatas, dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang secara geopolitik terletak di antara dua samudra (Indonesia dan Pasifik) dan dua benua (Asia dan Australia), menjadikan Indonesia istimewa dibandingkan negara lain. Namun wilayah Indonesia berada di posisi silang tersebut, mengandung berbagai kekuatan sekaligus kelemahan. Pada satu sisi, kekuatan Indonesia terletak pada posisi kekuasaan yang kuat dalam hubungan internasional terhadap negara-negara di sekiatarnya, karena dapat memengaruhi life line mereka. Ditambah dengan potensi sumber daya alam yang besar, baik dalam bentuk penyediaan pangan, bahan baku dan energi. Sementara pada sisi yang lain, kepulauan Indonesia dengan perairan seluas 5 juta Km² mengandung kelemahan. Wilayah kepulauan yang sangat luas tersebut secara potensialrentan terhadap kemungkinan adanya ancaman keamanan dari pihak luar, terutama yang datang melalui laut.

3. Karakteristik Politik Luar Negeri Indonesia

(46)

menghindari kesalahan tafsir pembuat kebijakan yang dapat mengakibatkan melencengnya kebijakan luar negeri dari kepentingan nasional.

Karakter Politik Luar Negeri Indonesia adalah memperdalam penetrasi kerjasama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.16 Dalam merumuskan kebijakan luar negerinya, Joko Widodo berpegang pada prinsip Trisakti. Prinsip ini memiliki tiga pilar, yaitu; kedaulatan dalam politik, berdikari ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Pilar kedaulatan politik berkaitan dengna kemandirian menghadapi intervensi pihak asing dalam perumusan dan implentasi kebijakan. Sementara itu, pilar berdikari ekonomi dijadikan landasan bagi kebijakan luar negeri Joko Widodo yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dalam bidang budaya, Joko Widodo mengutamakan kepentingan budaya strategis, yakni promosi nilai budaya dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kebijakan luar negeri Joko Widodo ini mempengaruhi sikap Indonesia terhadap isu-isu global. Isu-isu yang tidak secara langsung dan nyata berdampak pada Indonesia tidak lagi berada pada prioritas utama. Dengan mengutamakan kebutuhan dalam negeri, kebijakan luar negeri akan dirumuskan sesuai kebutuhan sehingga lebih tepat sasaran.

Terkait dengan politik internasional dan ketahanan nasional, dalam masa kepemimpinannya, Joko Widodo akan menjalankan tiga strategi diplomasi, yakni, yang pertama, diplomasi pemerintah dengan pemerintah atau antara pemerintah. Yang kedua, diplomasi antara pelaku bisnis dan pelaku bisnis atau antara pelaku bisnis, dan strategi

16

(47)

diplomasi yang ketiga adalah diplomasi antara masyarakat dan masyarakat atau antara masyarakat.17 Ketiga strategi itulah yang akan digunakan oleh Joko Widodo dalam politik Internasional, hubungan Internasional, mengadakan bisnis internasional dan membangun ketahanan nasional. Joko Widodo menggunakan tiga strategi tersebut untuk memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan terjadinya benturan kepentingan antara negara asing dan Indonesia, seperti penetapan batas wilayah, klaim tumpang tindih atau penanganan masalah pencari suaka.

Para pembuat keputusan harus mengantisipasi faktor-faktor eksternal, namun faktor internal atau dalam negeri yang merupakan analisis tingkat individu dan juga negara mempengaruhi kebijkana Politik Luar Negeri. Para kaum realis menganggap kebijakan politik luar negeri lahir karena faktor-faktor eksternal, umumnya tindakan negara-negara lain atau karakteristik struktur sistem global. Para kaum realis beranggapan bahwa kebijakan luar negeri berbeda dari jenis-jenis kebijakan publik lainnya dalam arti bahwa ada pembagian yang jelas antara bidang internasional dan dalam negeri.18 Kebijakan luar negeri secara eksplisit dibuat untuk mempengaruhi negera-negara lain dan aktor global, sedangkan kebijakan dalam negeri dibuat untuk mempengaruhi atau mengatur aktor-aktor dalam negeri.

Karakter dan pola pemikiran yang terbentuk terhadap kebijakan politik luar negeri berbeda dari satu masa kepemimpinan ke masa kepemimpinan lainnya. Melihat sekilas pada masa kepemimpinan

17Yuwono, Ismantoro Dwi. 2014. “

Jani-janji Jokowi-JK (Jika) Rakyat Tidak

Sejahtera, Turunkan Saja Mereka!”. Yogyakarta: Media Pressindo.

18 Richard W Mansbach & Kristen L. Rafferty. 2012. “Pengantar Politik Global

(48)

Susilo Bambang Yudhoyono, banyak pihak memberikan penilaian pelaksanaan politik luar negeri Indonesia pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) mengalami peningkatan dan perkembangan cukup signifikan. Hal ini antara lain ditandai dengan

berbagai “prestasi” yang dicapai dalam forum regional maupun global.

Dalam sepuluh tahun masa pemerintahannya, secara umum Susilo Bambang Yudhoyono menjalankan kebijakan luar negeri dalam tiga program utama. Pertama, pemanfaatan politik luar negeri dalam konteks optimalisasi diplomasi. Kedua, peningkatan kerjasama multilateral dalam rangka meraih beragam peluang internasional. Ketiga, penegasan komitmen perdamaian dunia dalam rangka turut serta menjaga ketertiban dunia dalam berbagai persoalan keamanan internasional. Nilai-nilai dan capaian positif kebijakan luar negeri yang sudah dijalankan

Gambar

Tabel 1.1 Literature Review

Referensi

Dokumen terkait

Diantara beberapa perjanjian perdagangan regional yang telah diimplementasikan oleh Indonesia yang paling baru adalah perjanjian perdagangan barang dalam rangka

Keanggotaan Indonesia di G-20 mencerminkan pengaruh Indonesia yang semakin meningkat di dunia internasional.Dalam beberapa forum internasional, Indonesia tidak hanya

Permasalahan yang timbul adalah bagaimanakah keanggotaan Indonesia di organisasi perikanan internasional, bagaimana tinjauan hukum internasional tentang pengelolaan ikan regional

Menurut penulis, dengan Taiwan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi industrinya akan sangat menguntungkan Indonesia yang mana akan mengangkat perindustrian

Sejak tahun 2011, OPM berusaha menjadi anggota dari MSG agar Papua Barat bisa lepas dari Indonesia.1 Pemerintah Indonesia berupaya untuk menjaga keutuhan wilayah kedaulatan NKRI

Skripsi tentang kerja sama pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam penanganan peredaran

Forum Pengada Layanan, KOMNAS Perempuan, BaKTI Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia Mengurangi Kekerasan terhadap Perempuan Sumber: Website Resmi Program MAMPU – BAPPENAS

We have a mutual and abiding interest in the security and stability of the maritime domains that we share ...”14 Sementara itu, Defence White Paper Indonesia juga tidak ada