• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perawatan Hipomobiliti Sendi Temporomandibula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perawatan Hipomobiliti Sendi Temporomandibula"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PERAWATAN HIPOMOBILITI SENDI

TEMPOROMANDIBULA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi

syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :

FEBBY ROSIDAYANI NIM : 070600033

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi

Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga

bila terjadi trauma pada persendiannya dapat menyebabkan gangguan pergerakan

sendi seperti hipomobiliti.

Hipomobiliti dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana pasien tidak

memiliki rentang gerak normal pada sendi temporomandibula. Pasien yang menderita

kondisi ini akan merasa nyeri ketika melakukan gerakan-gerakan fungsional dari

mandibula. Gerakan fungsional yang dipengaruhi oleh hipomobiliti antara lain,

mengunyah makanan, membuka mulut, berbicara dan menguap. Hipomobiliti dibagi

menjadi 3 yaitu: trismus, postradiation therapy fibrosis, dan ankilosis yang memiliki

etiologi masing-masing. Diagnosa yang pasti dapat dilakukan dengan pemeriksaan

radiografi pada sendi temporomandibula ketika pasien membuka maksimal mulutnya.

Perawatan hipomobiliti dapat meliputi perawatan secara non-bedah maupun

bedah. Yang termasuk ke dalam perawatan secara non-bedah meliputi terapi fisik,

obat-obatan, mekanis dan brisement force, sedangkan perawatan bedah yang dapat

dilakukan antara lain, kondilektomi dan gap arthroplasty. Tujuan perawatan ini yaitu

(3)

Penatalaksanaan hipomobiliti sendi temporomandibula merupakan tanggung jawab

bersama antara dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis bedah mulut dan

maksilofasial, sehingga nantinya dapat memberikan perawatan dental yang

profesional dan dengan pedoman yang jelas.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan

di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 29 Desember 2010

Pembimbing : Tanda tangan

Abdullah, drg. ...

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

pada tanggal 29 Desember 2010

TIM PENGUJI

KETUA : Olivia Avriyanti Hanafiah, drg., Sp.BM

ANGGOTA : 1. Abdullah, drg

2. Suprapti Arnus, drg., Sp.BM

3. Indra Basar Siregar, drg., M.Kes

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk

mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bimbingan dan

pengarahan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis menyampaikan terima kasih yang kepada :

1.Eddy Anwar Ketaren, drg., Sp. BM, selaku Ketua Departemen Bedah Mulut

dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2.Abdullah, drg selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan

dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3.Nurhayati Harahap, drg., Sp.Ort selaku dosen pembimbing akademik yang

telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalani pendidikan di

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

4. Seluruh staf pengajar FKG USU khususnya di Departemen Bedah Mulut

dan Maksilofasial yang telah memberi ilmu dan bimbingan di bidang Kedokteran

gigi.

5. Teristimewa penulis sampaikan kepada ayahanda M.Rasid Ritonga dan

ibunda Sri Yanti dan yang telah memberikan kasih sayang, didikan, do’a dan

(7)

6. Adik-adikku tersayang Exsa Apriansyah Ritonga dan Anggi Merdiansyah

Ritonga yang telah memberikan dukungan kepada penulis dan memotivasi penulis.

7. Seluruh keluarga besar penulis, sahabat-sahabat penulis, Elin, Yaya, Ade,

Rena, Uwi, Emil, Shinta, Evi, Rani, Febri, Adel, Yua, Muchlis, kakak Haqqy dan

seluruh teman-teman angkatan 2007, para senior dan junior, atas bantuan dan

dorongan semangat kepada penulis.

8.Keluarga besar kost 152, mimi, kakak della, kakak devi, kakak sarah, midah

yang selalu memberikan semangat, dukungan dan bantuan kepada penulis.

Penulis menyadari kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki

menjadikan skripsi ini kurang sempurna, tetapi penulis mengharapkan semoga skripsi

ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan

ilmu pengetahuan, dan masyarakat.

Medan, 29 Desember 2010

Penulis,

( Febby Rosidayani)

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... iv

(9)

4.2.2 Bedah... 29

4.2.2.1 Kondilektomi ... 29

4.2.2.2 Gap arthroplasty... 31

4.3 Komplikasi... 34

BAB 5 KESIMPULAN... 35

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Sendi temporomandibula normal... 4

2 Ligamen sendi temporomandibula... 6

3 Pergerakan normal sendi temporomandibula pada saat membuka dan menutup mulut ... 9

4(a) Massa ankilosis tulang dengan deformasi kepala kondilus... 15

(b) Gambaran CT-scan ankilosis tulang ... 15

5(a) Gejala yang diakibatkan ankilosis tampak depan... 19

(b) Gejala yang diakibatkan ankilosis tampak samping... 19

(c) Terbatasnya pembukaan mulut pada ankilosis sendi temporomandibula ... 19

6 Dislokasi unilateral ... 20

6(a) Gambaran ekstraoral menunjukkan ketidakmampuan menutup mulut disertai deviasi mandibula ke sisi yang terkena dislokasi... 20

(b) Gambaran intraoral menunjukkan deviasi mandibula ... 20

7 Pembukaan mulut normal ... 23

8(a) Gambaran CT-scan ankilosis secara aksial ... 24

(b) Gambaran CT-scan ankilosis secara koronal ... 24

9 Foto panoramik anak laki-laki usia 11 tahun mengalami fibrous ankilosis... 25

(11)

11 Cara penggunaan mouth gag ... 26

12 Posisi tongue blade ... 28

13 Prosedur bedah kondilektomi ... 30

14 Insisi preaurikular dan pembukaan subkutan ... 32

15 Pembukaan sendi sehingga terlihat massa ankilosis ... 32

16 Gap arthroplasty ... 33

(12)

Fakultas Kedokteran Gigi

Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga

bila terjadi trauma pada persendiannya dapat menyebabkan gangguan pergerakan

sendi seperti hipomobiliti.

Hipomobiliti dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana pasien tidak

memiliki rentang gerak normal pada sendi temporomandibula. Pasien yang menderita

kondisi ini akan merasa nyeri ketika melakukan gerakan-gerakan fungsional dari

mandibula. Gerakan fungsional yang dipengaruhi oleh hipomobiliti antara lain,

mengunyah makanan, membuka mulut, berbicara dan menguap. Hipomobiliti dibagi

menjadi 3 yaitu: trismus, postradiation therapy fibrosis, dan ankilosis yang memiliki

etiologi masing-masing. Diagnosa yang pasti dapat dilakukan dengan pemeriksaan

radiografi pada sendi temporomandibula ketika pasien membuka maksimal mulutnya.

Perawatan hipomobiliti dapat meliputi perawatan secara non-bedah maupun

bedah. Yang termasuk ke dalam perawatan secara non-bedah meliputi terapi fisik,

obat-obatan, mekanis dan brisement force, sedangkan perawatan bedah yang dapat

dilakukan antara lain, kondilektomi dan gap arthroplasty. Tujuan perawatan ini yaitu

(13)

Penatalaksanaan hipomobiliti sendi temporomandibula merupakan tanggung jawab

bersama antara dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis bedah mulut dan

maksilofasial, sehingga nantinya dapat memberikan perawatan dental yang

profesional dan dengan pedoman yang jelas.

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

Temporomandibula merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap

pergerakan membuka dan menutup rahang, mengunyah dan berbicara yang letaknya

dibawah depan telinga. Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di

kepala, sehingga bila terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang akan

mengalami masalah yang serius. Masalah tersebut berupa nyeri saat membuka,

menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut

terkunci.1 Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka

telah banyak diperoleh kemajuan tentang keadaan anatomi, fisiologi dan penyakit

atau kelainan sendi temporomandibula, sehingga pada umumnya kelainan dan

penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan baik.2,3

Ketika mulut membuka, terdapat dua gerakan pada sendi. Gerakan pertama

adalah rotasi yang mengelilingi sumbu horisontal pada kepala kondilus dan gerakan

kedua adalah translasi yaitu kondilus dan meniskus bergerak ke depan secara

bersamaan di bawah eminensia artikularis.1

Sendi temporomandibula dapat mengalami beberapa gangguan, baik

gangguan pada persendiannya ataupun pada otot-otot pengunyahannya. Gangguan

pada persendiannya dapat berupa hipomobiliti dan hipermobiliti. Hipomobiliti adalah

keterbatasan dalam gerakan-gerakan fungsional mandibula. Gerakan-gerakan

fungsional yang dipengaruhi oleh hipomobiliti termasuk di antaranya, mengunyah

(15)

Penyebab hipomobiliti bervariasi, salah satunya ankilosis (bony atau fibrous)

menyebabkan keterbatasan gerakan yang kompleks. Jika dibutuhkan perawatan yang

disebabkan oleh hipomobiliti pada sendi temporomandibula dapat dilakukan

pembedahan.4 Sedangkan hipermobiliti pada sendi temporomandibula, terjadi jika

ligamen yang menahan sendi menjadi teregang, sehingga rahang bergeser seluruhnya

ke depan, keluar dari tempatnya.5 Diagnosa yang pasti dapat dilakukan dengan

pemeriksaan radiografi pada sendi temporomandibula ketika pasien membuka

maksimal mulutnya.4

Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan hal - hal yang perlu diketahui

oleh seorang dokter gigi tentang gangguan pada pergerakan sendi temporomandibula

beserta perawatannya yang dapat dilakukan secara bedah maupun non bedah.

Manfaat penulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan

dokter gigi dan mahasiswa kedokteran gigi mengenai perawatan secara bedah

maupun non bedah yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami gangguan

pada sendi temporomandibula, sehingga nantinya dapat memberikan perawatan

dental yang profesional dan dengan pedoman yang jelas.

Penulisan ini akan membahas tentang definisi, klasifikasi, etiologi, gejala

klinis serta perawatan baik secara bedah maupun non bedah dari hipomobiliti dan

(16)

BAB 2

SENDI TEMPOROMANDIBULA

Temporomandibula merupakan sendi yang paling kompleks yang dapat

melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi. Sendi ini

dibentuk oleh kondilus mandibula yang terletak masuk ke dalam fosa mandibula pada

tulang temporal di depan telinga. Kedua tulang ini dipisahkan oleh diskus artikularis.6

Sendi temporomandibula bertanggung jawab terhadap pergerakan membuka dan

menutup rahang, mengunyah dan berbicara. Sendi temporomandibula merupakan

satu-satunya sendi di kepala yang terletak pada dua sisi kanan dan kiri, sehingga bila

terjadi sesuatu pada salah satu sisi sendi ini, maka seseorang akan mengalami

masalah yang serius. Masalah tersebut berupa nyeri saat membuka dan menutup

mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci.1

2.1 Anatomi Sendi Temporomandibula

Sendi temporomandibula merupakan artikulasi antara tulang temporal dan

mandibula secara bilateral dan pergerakan ke sisi kanan dan kiri adalah satu kesatuan

dan berfungsi sebagai satu unit. Sendi temporomandibula terdiri dari artikulasi yang

dibentuk oleh tulang yaitu fosa glenoidalis pada tulang temporal dan prosesus

(17)

Gambar 1. Sendi temporomandibula normal. Anonymous. Disorders of TMJ

Komponen - komponen dari artikulasi ( persendian ) yaitu ( Gambar 1 ) :

1. Prosesus kondiloideus

2. Fosa glenoidalis

3. Ligamentum kapsular

4. Selaput sinovial

5. Diskus artikularis

2.1.1 Prosesus Kondiloideus

Prosesus ini berbentuk oval dengan aksis panjang ke arah medialateral. Lebih

konveks pada arah aksis antero – posterior daripada medialateral. Permukaan

artikularis pada kondilus mengarah ke atas dan ke depan sehingga dipandang dari

arah lateral leher kondilus berputar (membengkok) ke anterior.3 Panjang kondilus

dari aksis media lateral kira-kira 20 mm dan tebal yaitu dari aksis anteroposterior

(18)

fibrokartilago ini tetap ada selama hidup dan akan berkurang ketebalannya setelah

pertumbuhan mandibula terhenti. Bentuk, ukuran, dan keadaan dari prosesus

kondiloideus ini berbeda pada setiap individu. Hal ini disebabkan banyaknya

kombinasi termasuk faktor herediter dan adaptasi fungsi dari setiap individu.7,8

2.1.2 Fosa Glenoidalis

Fosa glenoidalis merupakan cekungan pada tulang temporal yang mempunyai

bentuk lonjong. Letaknya di depan meatus auditorius. Batas bagian anterior dari

cekung ini adalah eminensia artikularis, sedang batas cekung bagian posterior adalah

tulang tipis yang merupakan dinding dari tulang temporal. Tulang tipis dari cekung

sendi ini adalah radiks media dari tulang zigomatikus.8,9 Fosa ini dilapisi oleh

jaringan ikat fibrous berwarna putih.8,28

2.1.3 Ligamen

Fungsi dari ligamen yang membentuk sendi temporomandibula adalah sebagai

alat untuk menghubungkan tulang temporal dengan prosesus kondiloideus dari tulang

mandibula serta membatasi gerak mandibula membuka, menutup mulut, pergerakan

ke samping, dan gerakan lain. Ligamen yang menyusun sendi temporomandibula

terdiri dari :

a. Ligamen temporomandibular

b. Ligamen sphenomandibular

c. Ligamen stilomandibular

Ligamen temporomandibula lebih luas di bagian atas dari pada di bagian

(19)

tuberkulum artikularis pada bagian atas. Di bagian bawah melekat ke kolum

mandibula. Ligamen ini berhubungan dengan kelenjar parotis dan kulit di sebelah

lateral.8,11

Ligamen sphenomandibula bentuknya tipis dan pipih, melekat ke spina

angularis os sphenoidalis pada bagian atas, melekat di bagian bawah sebelah lingual

dari foramen mandibula. Ligamen ini berhubungan dengan muskulus pterigoideus

eksternus di bagian atas, di bagian bawah dengan arteri dan vena alveolaris inferior,

lobus kelenjar parotis dan ramus mandibula.8,11

Ligamen stilomandibula bentuknya bulat dan panjang. Ligamen ini melekat

ke prosesus stiloideus os temporalis di bagian atas. Di bagian bawah melekat ke

angulus mandibula dan margo posterior dari ramus mandibula. Ligamen ini

berhubungan dengan muskulus masseter dan kelenjar parotis pada bagian lateral.8,11

Gambar 2. Ligamen sendi temporomandibula (Ballaji SM. Textbook oral

& maxillofacial surgery. New Delhi : Elsevier, 2007 : 428)

(20)

Di bagian dalam dari kapsula artikularis melekat suatu selaput yang tipis yang

disebut selaput sinovial. Selaput ini mengeluarkan cairan sendi yang disebut dengan

sinovia. Selaput ini tidak membungkus meniskus. Cairan sendi ini bekerja sebagai

minyak sendi yang memungkinkan meniskus dan prosesus kondiloideus bergerak

dengan halus.9

2.1.5 Diskus Artikularis (Meniskus)

Rongga sendi terbagi menjadi 2 bagian yaitu rongga sendi bagian atas dan

rongga sendi bagian bawah oleh tulang yang berbentuk gepeng yang disebut dengan

diskus artikularis atau meniskus. Meniskus ini mempunyai permukaan yang cekung

di bagian bawah dan pada bagian atas berbentuk sebagian cekung dan sebagian lagi

cembung (konveks-konkaf). Bentuk meniskus yang demikian ini sesuai dengan

keperluannya yaitu mengisi ruangan sendi yang terdapat antara permukaan prosesus

kondiloideus dan fosa glenoidalis. Permukaan bawah yang cekung sesuai dengan

permukaan prosesus kondiloideus sedang permukaan atas yang cembung-cekung tadi

sesuai dengan permukaan dari fosa glenoidalis.9

Diskus tersusun atas 3 bagian, yaitu pita posterior dengan ketebalan sekitar 3

mm, zona intermedial yang tipis dan pita anterior dengan ketebalan sekitar 2 mm.

Bagian paling tipis terdapat pada tengah dan menebal pada bagian tepi, sementara

tonjolan besar terdapat pada perlekatan posterior, yaitu zona bilaminar. Zona

bilaminar ini sangat menonjol karena terdiri dari 2 lapisan serabut yang dipisahkan

oleh jaringan ikat renggang alveolar, yaitu bagian superior terbentuk terutama dari

(21)

pelekat bagian posterior mendapat banyak persyarafan dari nervus

aurikulotemporalis. Pada bagian anterior diskus bersambung dengan fasial pterigoid

eksternus dan kapsul sendi. Di sebelah posterior-anterior terhadap prosesus

kondiloideus dan anterior dari zona bilaminar. Diskus banyak mengandung pembuluh

darah sehingga disebut tonjolan pembuluh darah (vascular knee).1,2,8

Diskus artikularis terdiri dari sel-sel fibroblast, sel tulang rawan dan

kondrosit. Diskus ini dapat menahan tekanan yang mengenai sendi, tanpa mengurangi

kelenturannya.9

2.2Pergerakan normal sendi temporomandibula

Sendi temporomandibula merupakan sendi yang kompleks. Pergerakan

normal dari sendi ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu gerak rotasi dan gerak translasi

atau meluncur.11

1. Gerak rotasi

Yaitu gerakan mengelilingi rongga inferior ( ruang di antara kondilus dan

diskus artikularis) yang terjadi antara diskus artikularis terhadap permukaan artikulasi

prosesus kondiloideus sehingga diskus bergerak sedikit ke posterior, kondilus ke

anterior, m. pterigoideus lateral inferior dan m. pterigoideus lateral superior

berkontraksi.

2. Gerak Translasi (meluncur)

Yaitu gerakan yang kompleks dari prosesus kondiloideus dan diskus

artikularis terhadap permukaan fosa glenoidalis. Gerak translasi terjadi di dalam

(22)

glenoidalis sehingga diskus beserta kondilus bergerak ke anterior mengikuti guiding

line sampai ke eminensia artikularis. Semua otot dalam keadaan kontraksi. Diskus

artikularis berperan sebagai tulang yang tidak terkalsifikasi pada kedua gerakan ini.

Gerak sendi pada individu dewasa yang normal mempunyai kisaran 20 – 25 mm

antara gigi geligi anterior atas dan bawah. Bila dikombinasikan dengan gerak

meluncur kisaran gerak membuka mulut yang normal akan meningkat menjadi 35 –

55 mm.1,11

Gambar 2

BAB 3

(23)

GANGGUAN PERGERAKAN SENDI TEMPOROMANDIBULA

Gangguan sendi temporomandibula dikenal sebagai penyebab utama nyeri

nondental pada daerah orofasial dan dianggap sebagai subklasifikasi dari kelainan

muskoskeletal. Gejala yang paling sering dijumpai berupa rasa nyeri di daerah depan

telinga atau pada sendi temporomandibula. Rasa nyeri biasanya bertambah hebat pada

saat mengunyah atau gerakan rahang lainnya. Penyakit ini sering dijumpai pada

sebagian besar orang dewasa, mereka melaporkan adanya satu atau lebih tanda-tanda

gangguan pada daerah sendi temporomandibula, keluhan pasien berupa sakit pada

rahang, telinga, kepala dan nyeri wajah.12

Gangguan sendi temporomandibula merupakan gangguan fungsi dari sendi

rahang yang timbul akibat adanya kelainan struktural dalam sistem persendian yaitu

berupa gangguan pertumbuhan atau perkembangan dan trauma. Gangguan pergerakan

sendi temporomandibula dibagi menjadi 2 yaitu, hipomobiliti dan hipermobiliti,

dimana pada hipomobiliti seseorang memiliki keterbatasan dalam membuka

mulutnya sedangkan hipermobiliti seseorang memiliki kemampuan membuka mulut

secara berlebihan sehingga dapat terjadi dislokasi sendi temporomandibula yang

menyebabkan tidak dapat menutup mulutnya.5

(24)

Hipomobiliti adalah suatu kondisi dimana pasien tidak memiliki rentang gerak

normal pada sendi temporomandibula. Pasien yang menderita kondisi ini akan merasa

nyeri ketika melakukan gerakan-gerakan fungsional dari mandibula. Gerakan

fungsional yang dipengaruhi oleh hipomobiliti antara lain, mengunyah makanan,

membuka mulut untuk memasukkan makanan, berbicara dan menguap.4

3.1.2 Klasifikasi, etiologi dan gejala klinis

Klasifikasi yang digunakan untuk menjelaskan hipomobiliti sendi

temporomandibula seperti tercantum dalam guidelines of the American Academy of

Orofacial Pain, Hipomobiliti dibagi menjadi 3 yaitu, Trismus, Postradiation therapy

fibrosis, dan ankilosis.10

a). Trismus

Didefinisikan sebagai suatu kontraksi tonik dari otot mastikasi. Dahulu istilah

trismus digunakan untuk menggambarkan gejala klinis dari tetanus, yaitu lock jaw

atau rahang yang terkunci, yang merupakan suatu gejala klinis yang disebabkan oleh

toksin tetanus terhadap kontraksi otot mastikasi atau pengunyah. Saat ini istilah

trismus digunakan untuk menggambarkan setiap bentuk keterbatasan dalam

membuka mulut secara normal dan disertai rasa sakit dan kliking sebagai salah satu

gejala pada sendi temporomandibula , termasuk di dalamnya akibat dari trauma,

pembedahan dan radiasi. Keterbatasan dalam membuka mulut ini atau trismus dapat

menimbulkan masalah terhadap kesehatan, termasuk di dalamnya kekurangan zat-zat

(25)

pengaruhnya terhadap kesehatan mulut dan gigi. Trismus dapat mempengaruhi

kualitas hidup si penderita dalam berbagai cara. Komunikasi akan sulit dilakukan jika

seseorang mengalami trismus. Tidak hanya gangguan dalam berbicara akibat mulut

tidak bisa terbuka dengan sempurna, tetapi juga terdapat gangguan dalam artikulasi

dan resonansi suara sehingga kualitas suara yang dikeluarkan akan menurun.5,30

Hambatan dari pegerakan rahang tersebut secara garis besar disebabkan oleh

trauma, terapi radiasi, pembedahan dan berbagai gangguan pada sambungan rahang

lainnya. Hal ini terjadi akibat kerusakan pada otot rahang, kerusakan pada sambungan

rahang, pertumbuhan jaringan ikat yang terlalu cepat (pembentukan jaringan parut)

atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Berdasarkan proses diatas maka etiologi

dari trismus dapat dibagi 3 yaitu:13

1. Faktor eksternal : neoplasma pada rahang, infeksi akut, miositis, penyakit sistemik

misalnya skleroderma, pseudoankilosis, luka bakar atau berbagai trauma lainnya yang

mengenai otot-otot rahang.

2. Faktor internal: Ankilosis tulang pada sambungan rahang, ankilosis jaringan ikat

pada sambungan rahang, artristis, infeksi, trauma, mikro trauma (termasuk di

dalamnya bruksism), gangguan susunan saraf pusat (tetanus, lesi pada nervus

trigeminal) dan obat-obatan.

3. Faktor iatrogenik, antara lain : 13

(26)

Molar tiga terpendam merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi

diantara gigi geligi yang lain. Pengambilan gigi molar tiga bawah impaksi biasanya

dilakukan secara pembedahan (odontektomi), yang biasanya dilakukan dengan

anestesi lokal. Pasca pengambilan gigi molar tiga terpendam secara odontektomi

antara lain dapat menimbulkan pembengkakan dan trismus. Trismus yang timbul

dapat bersifat sementara atau permanen. Trismus bersifat sementara hanya

disebabkan oleh peradangan dan gangguan refleks saraf motorik otot-otot pengunyah,

sedangkan trismus yang permanen biasanya karena gangguan pada sendi

temporomandibula.13

b. Injeksi yang dilakukan saat anestesi.

Trismus terjadi sebagai akibat komplikasi anestesi mandibula, pada infiltrasi

dan blok anestesi pada regio posterior rahang atas. Dimana ketiga teknik ini

melibatkan penetrasi jarum ke otot-otot mastikasi dan deposisi larutan anestesi ke

jaringan yang banyak vaskularisasinya. Pada ketiga teknik tersebut, dapat terjadi

perdarahan yang dapat menimbulkan hematom yang luas pada fosa infra temporal,

hal ini terjadi bila jarum melewati pleksus vena pterigoideus. Infeksi hematom pada

tempat tersebut akan menyebabkan bertambahnya rasa sakit dan terjadinya kerusakan

jaringan yang luas, konsekuensinya adalah hipomobiliti dari sendi

temporomandibula.13

Gambaran klinis dari trismus adalah gangguan dalam membuka mulut. Pada

pasien yang menderita kanker hal ini biasanya terjadi akibat radiasi atau pembedahan,

kerusakan pada saraf, atau gabungan dari berbagai faktor. Pada penderita stroke, hal

(27)

sering diiringi dengan gangguan bicara dan menelan dan kombinasi dari gejala

tersebut akan menyulitkan penanganan pada penderita. Pada penderita yang

mengalami trismus akibat terapi radiasi, juga sering mengalami xerostomia,

mukusitis dan nyeri yang timbul dari luka bakar radiasi. Semua hal tersebut sering

dihubungkan dengan gejala klinis lain yang ditemukan, seperti sakit kepala, nyeri

pada rahang, nyeri telinga, ketulian, atau nyeri pada pergerakan rahang. Pada kasus

temporomandibula yang mengalami kekakuan, biasanya sendi tersebut mengalami

proses pembentukan jaringan ikat atau ankilosis.13

b). Postradiation therapy fibrosis

Merupakan efek dari terapi radiasi pada pasien untuk pengobatan kanker

leher dan struktur orofaringeal. Pasien dapat mengalami keterbatasan pergerakan

mandibula. Terapi yang memiliki jangkauan yang luas, misalnya mobilisasi, dalam

upaya untuk meningkatkan fungsi pengunyahan yang belum berhasil dilakukan.

Terapi radiasi pada pasien dengan pengobatan kanker leher dan struktur orofaringeal

dapat menyebabkan fibrosis yang parah dari otot pengunyahan dan leher pada pasien

yang tidak dapat menerima perawatan terapi. Akibat dari pembedahan dapat

menyebabkan kejang otot pasca operasi yang membuat mobilisasi menjadi sulit. Jika

terapi fisik tidak dilakukan setelah pasien pulang dari rumah sakit, seringkali sudah

terlambat untuk memperoleh efek perbaikan apapun.14

(28)

Ankilosis sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan jaringan yang terlibat dan

perluasannya, menyeluruh atau sebagian. Ankilosis sejati atau pseudoankilosis

(ankilosis semu) atau ankilosis tulang, ankilosus fibrous atau ankilosis fibroseus.2,15,16

Berdasarkan jaringan yang terlibat dan perluasannya, ankilosis terbagi atas

ankilosis tulang dan ankilosis fibrous.2,15,16

1. Ankilosis tulang

Adalah penyatuan fusi kepala kondilus dan artikulasi bagian tulang temporal

dengan jembatan oseus. Pertumbuhan tulang yang mempengaruhi ankilosis dapat

berbeda-beda konturnya antara pasien yang satu dengan yang lain. Kadang-kadang

manifestasi ankilosis dapat hanya berupa pertumbuhan berlebih yang ringan pada

kepala kondilus karena bersatu dengan fosa glenoidalis. Pada beberapa kasus, kepala

kondilus dapat mengalami pembesaran dengan tidak terdapatnya kontur normal.15,16

Gambar 4.(a)massa ankilosis tulang dengan deformasi kepala kondilus (b) gambaran CT-scan ankilosis tulang ( Malik NA. Textbook of oral and

maxillofacial surgery. 2nd Ed. 2008:227)

Kondisi ini disebabkan oleh proliferasi sel-sel tulang yang mengakibatkan

penyatuan struktur keras sendi temporomandibula, sehingga terjadi immobilisasi

sendi temporomandibula secara menyeluruh. Kondisi ini dapat berkembang karena

(29)

infeksi, fraktur atau penyakit inflamasi kronis. Terjadinya insidens ankilosis tulang

yang sangat besar disebabkan adanya riwayat penggunaan antibiotik.15,16

2. Ankilosis Fibrous

Adalah ankilosis yang disebabkan oleh restriksi pergerakan mandibula karena

perlekatan fibrous antara kepala kondilus, fosa glenoidalis dan kemungkinan

eminensia artikularis. Kontinuitas meniskus tidak muncul. Ankilosis fibrous dapat

mendahului ankilosis tulang dan kombinasi perlekatan fibrous dan tulang antara

kondilus dan fosa glenoidalis dapat terjadi. 15,16

Jaringan fibrous dapat melekatkan kondilus, diskus atau jaringan retrodiskal

pada dinding posterior kapsul, fosa atau eminensia artikularis. Beberapa kondisi dapat

menyebabkan ankilosis fibrous. Penyebab yang paling umum adalah hematoma

sekunder pada trauma sendi, yang juga bisa terjadi setelah pembedahan atau akibat

dari perluasan sinovitis. Perlekatan dalam sendi dapat juga mengarah pada ankilosis

fibrous.16

Perlekatan dapat disebabkan oleh aktivitas sejumlah sendi sewaktu clenching

yang berkepanjangan dan mengakibatkan kelelahan pada sistem lubrikasi atau

pelumas pada permukaan artikular dan menyebabkan kekakuan diskus pada

eminensia dalam waktu yang cepat. Pada tahap ini perlekatan dapat dengan mudah

dihilangkan dengan gerakan kondilus. Jika perlekatan dibiarkan matur, maka

perlekatan tersebut dapat membentuk pita fibrous yang dapat menyebabkan

permukaan artikular menjadi kaku secara permanen. Meskipun sebagian besar

perlekatan berkembang pada kavitas sendi bagian superior antara diskus dan

(30)

Etiologi atau penyebab ankilosis adalah multifaktor. Trauma waktu lahir,

hematrosis,atrosis supuratif dan fraktur kondilus merupakan beberapa hal yang dapat

menyebabkan ankilosis, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :11,17,18

1. Trauma waktu lahir 2,15,16

Trauma ini dapat menyebabkan terjadinya ankilosis infatil atau disebut juga

ankilosis kongenital. Umumnya terjadi pada kasus proses kelahiran yang sulit,

khususnya bila menggunakan alat bantu lahir atau delivery forcep/ tang lahir. Cedera

pada rahang yang disebabkan alat ini seringkali tidak disadari sampai kemudian jika

diperhatikan anak tersebut hanya dapat membuka rahangnya sedikit saja ketika sudah

memiliki gigi desidui dan mulai mencoba mengunyah makanan. Ankilosis kongenital

ini mengakibatkan tidak berkembangnya rahang karena pertumbuhan mandibula

tergantung pada pusat pertumbuhan kondilus, dimana pada keadaan ini

pertumbuhannya terganggu, sehingga menyebabkan bird face ( wajah seperti burung),

pertumbuhan gigi yang tidak beraturan dan impaksi gigi.

2. Hematrosis 2,15,16

Hematrosis juga merupakan salah satu penyebab ankilosis. Hematrosis

biasanya disebabkan oleh fraktur basis kranium yang meluas sampai fosa mandibula

dan bisa juga terjadi karena fraktur intrakapsular.

(31)

Atrosis supuratif dapat berakhir pada ankilosis. Jika atrosis supuratif tersebut

disebabkan oleh penyebab lokal, biasanya hanya satu sendi yang terlibat. Hal itu bisa

saja karena infeksi telinga atau mastoiditis ataupun bisa terjadi hematogen.

4. Fraktur kondilus2,15

Trauma terlihat sebagai penyebab ankilosis sendi temporomandibula.

Ankilosis dapat terjadi terutama karena adanya fraktur multipel pada kepala kondilus

dimana proses penyembuhan bagian tulang yang fraktur mengalami kehancuran.

Penyebabnya dapat berupa perdarahan intraartikuler ataupun periartikuler. Ankilosis

berbeda dengan sinatrosis yang terjadi karena obstruksi pada fragmen fraktur.

Gejala klinis yang diakibatkan oleh ankilosis sendi temporomandibula dapat

dilihat dari aspek fungsional, estetis dan psikologis yaitu :23

a) Keterbatasan pada pergerakan rahang dan membuka mulut

b) Berkurangnya fungsi pengunyahan

c) Terhambatnya pertumbuhan wajah

d) Gangguan bicara

e) Terjadi hipoplasia mandibula sehingga menyebabkan bird face

f) Jika ankilosis hanya terjadi pada satu sisi menyebabkan asimetri wajah

g) Kesulitan bernafas dan menelan

h) Kesulitan untuk menjaga oral higiene sehingga gigi mudah karies

(32)

a b c

Gambar (5a) Gejala yang diakibatkan ankilosis tampak depan (5b) tampak samping (5c) Terbatasnya pembukaan mulut pada ankilosis sendi temporomandibula (Rishiraj B, McFadden LR. Treatment of

temporomandibular joint ankylosis a case report. J can dent Assoc 2001;67(11):659-63)

3.2 Hipermobiliti

3.2.1 Definisi

Hipermobiliti sendi temporomandibula adalah teregangnya ligamen yang

menahan sendi sehingga rahang bergeser seluruhnya ke depan, keluar dari

tempatnya.26

3.2.2 Klasifikasi, etiologi dan gejala klinis

Klasifikasi yang digunakan untuk menjelaskan hipermobiliti sendi

temporomandibula seperti tercantum dalam guidelines of the American Academy of

Orofacial Pain, Hipermobiliti dibagi menjadi 2 yaitu, subluksasi dan dislokasi.10

Subluksasi dikenal sebagai dislokasi kronis berulang atau dislokasi habitual.

Dikatakan sebagai dislokasi kronis berulang karena kondilus dapat bergerak ke

anterior daripada eminensia artikularis sewaktu gerakan membuka dan meluncur, tapi

pasien mampu memanipulasi kembali ke posisi normal. Subluksasi dapat terjadi

(33)

terlalu besar, pengunyahan dengan objek yang besar (menggigit apel penuh), apabila

rahang dibuka secara paksa selama anestesi umum, selama bronkoskopi atau saat

menggunakan mouth gag dengan cara yang salah dan karena pukulan di dagu ketika

mulut terbuka lebar.19

Dislokasi merupakan suatu keadaaan dimana terjadi keluarnya kaput sendi

dari ruang sendi. Hal ini dapat terjadi bila kapsul dan ligamentum sendi

temporomandibula cukup longgar sehingga kondilus dapat bergerak ke anterior

daripada eminensia artikularis sewaktu gerakan membuka dan meluncur. Kemudian

oleh kontraksi dan spasme otot-otot pembuka dan penutup mulut kondilus terkunci

dalam keadaan demikian, pasien tidak dapat menutup mulutnya. Dislokasi dapat

terjadi unilateral dan bilateral dan dapat timbul dengan spontan pada waktu membuka

mulut terlalu lebar, misalnya pada saat makan atau menguap.2,19

Gambar 6. Dislokasi unilateral (a) gambaran ekstraoral menunjukkan ketidakmampuan menutup mulut disertai deviasi mandibula ke sisi yang terkena dislokasi (b) gambaran intraoral menunjukkan deviasi mandibula (Malik NA. Textbook of oral and maxillofacial

surgery. 2nd Ed. 2008 : 213)

(34)

Beberapa etiologi dislokasi :20

1. Pasien yang mempunyai fosa mandibula yang dangkal serta kondilus yang

tidak berkembang dengan baik.

2. Anatomi yang abnormal serta kerusakan dari stabilisasi ligamen yang

akan mempunyai kecenderungan untuk terjadi kembali (rekuren).

3. Reaksi atau faktor psikogenik pasien, misalnya karena membuka mulut

dan tertawa yang terlalu lebar atau terlalu lama serta faktor stres pasien.

4. Adanya riwayat trauma mandibula, biasanya disertai dengan multiple

trauma.

5. Kelemahan kapsuler yang dihubungkan dengan subluksasi kronis.

6. Diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau gangguan

neurologis.

Dislokasi kronis rekuren berhubungan dengan kelemahan kapsula dan ligamen

yang diakibatkan oleh penyembuhan yang tidak adekuat dari penyakit degeneratif

serta adanya trauma dan disharmoni oklusal, yang akan menyebabkan spasme dari

otot-otot masseter dan pterigoid lateralis. Masalah emosional dan gangguan

(35)

BAB 4

PERAWATAN HIPOMOBILITI SENDI TEMPOROMANDIBULA

Diagnosa hipomobiliti sendi temporomandibula tergantung pada etiologi dan

pemeriksaan yang menyeluruh dari keadaan klinis serta ketepatan interpretasi dari

gambaran radiografi.21 Keluhan utama yang sering dirasakan pasien dengan

hipomobiliti sendi temporomandibula berupa rasa nyeri dan keterbatasan dalam

membuka mulut. Pemeriksaan klinis pada pasien hipomobiliti sendi

temporomandibula penting dilakukan untuk membantu dalam menentukan teknik

interpretasi pemeriksaan radiografi dan perawatan yang nantinya akan di lakukan.

Perawatan hipomobiliti dapat meliputi perawatan secara non-bedah maupun

bedah. Yang termasuk ke dalam perawatan secara non-bedah meliputi terapi fisik,

obat-obatan, mekanis dan brisement force, sedangkan perawatan bedah yang dapat

dilakukan antara lain, kondilektomi dan gap arthroplasty.32,33 Perawatan hipomobiliti

sendi temporomandibula ini bertujuan untuk mengembalikan mobilitas sendi dengan

melakukan tindakan pemisahan sendi, sehingga terjadi pembukaan mulut.15,21-23

4.1 Diagnosa Hipomobiliti

Keluhan yang sering dirasakan oleh penderita hipomobiliti sendi

temporomandibula hampir sama dengan keluhan pada gangguan sendi

temporomandibula lainnya, berupa rasa nyeri maupun tidak disertai rasa nyeri,

kliking atau bunyi pada sendi kekakuan otot serta keterbatasan dalam membuka

(36)

kondiloideus, fosa glenoidalis serta diskus artikularis baik oleh jaringan ikat maupun

tulang. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan

radiografi untuk menegakkan diagnosa hipomobiliti sendi temporomandibula.

4.1.1 Pemeriksaan klinis

Mula-mula harus dilakukan inspeksi secara umum untuk melihat keadaan gigi

pasien (susunan gigi, oklusi, pola menggigit yang abnormal), sendi

temporomandibula, serta otot-otot daerah wajah dan kepala, apakah dijumpai adanya

deformitas ataupun kekakuan otot.24 Selanjutnya harus diamati pola gerakan depresi

mandibula, protrusi dan gerakan ke lateral yang merupakan gerakan osteokinematik

untuk mendiagnosa hipomobiliti. Hipomobiliti terjadi ketika adanya keterbatasan

pada salah satu atau gabungan pada gerakan osteokinematik yaitu :4

Pada gerakan depresi mandibula pasien tidak dapat mencapai jarak 35 mm

untuk pembukaan mulut (interincisal opening). Secara fungsional jarak normalnya

berkisar antara 35-55 mm.4

(37)

Pada gerakan protrusi mandibula, yaitu pasien tidak dapat mencapai posisi

edge to edge pada gigi insisivus sentralis ( tidak berlaku pada pasien kelas III Angle).

Secara fungsional protrusi mandibula terjadi ketika insisivus sentralis mandibula

dapat bergerak melewati insisivus sentralis maksila.4

Pada gerakan lateral mandibula, yaitu selama pergerakan mandibula ke kanan,

pasien tidak bisa mencapai posisi edge to edge dari gigi kaninus kanan mandibula ke

gigi kaninus kanan maksila, ini juga berlaku pada gigi kaninus kiri sewaktu

mandibula bergerak ke kiri. Secara fungsional gerakan lateral mandibula ke kanan

terjadi ketika gigi kaninus kanan mandibula dapat bergerak melewati gigi kaninus

kanan maksila, ini juga berlaku pada gigi kaninus kiri selama pergerakan lateral

mandibula ke kiri.4

4.1.2 Pemeriksaan radiografi

Sebagai pemeriksaan tambahan, dapat dilakukan dental panoramic X-rays

untuk memeriksa keadaan dan susunan gigi. Untuk mengukur lebar anteroposterior

dan relasi sendi terhadap fosa kranio media dapat dilakukan pemeriksaan CT-scan,

sementara MRI lebih sesuai untuk menilai keadaan jaringan lunak dari sendi

temporomandibula, seperti piringan sendi atau ligamennya.24

(38)

Pada pemeriksaan radiografi, sendi temporomandibula yang terkena ankilosis

akan menunjukkan gambaran adanya kehilangan bentuk sendi yang normal dengan

penyatuan prosesus kondiloideus dengan fosa glenoidalis. Dimana luasnya bervariasi

dan tergantung pada keparahan ankilosis tersebut.

Gambar 9. Foto panoramik anak laki-laki usia 11 tahun mengalami fibrous ankilosis ( tanda panah) (Bumann A, Lotzmann U, Mah J. Color atlas of

dental medicine TMJ disorders and orofacial pain. 2002 : 282)

Gambar 10. Bony ankilosis bilateral (Bumann A, Lotzmann U, Mah J. Color atlas of

(39)

4.2 Perawatan hipomobiliti 4.2.1 Non-bedah

Perawatan hipomobiliti dapat dilakukan secara non-bedah dengan brisement

force, terapi fisik, obat-obatan dan mekanis. Perawatan hipomobiliti secara non-bedah

diindikasikan pada kasus trismus, postradiation therapy fibrosis, dan ankilosis

fibrous.

Dengan brisement force, yaitu dimana rahang dibuka dengan paksa, setelah

pasien terlebih dahulu di anestesi umum. Pembukaan rahang dengan paksa tersebut

dengan memakai mouth gag. Setelah rahang dapat digerakkan, pasien selanjutnya

harus berlatih setiap hari membuka dan menutup mulut dengan mempergunakan

bantalan karet di antara giginya. Metode perawatan seperti ini memakan waktu lama

dan hanya berhasil bagi penderita dengan ankilosis fibrous atau trismus ( kekakuan

otot-otot).2

Gambar11.Cara penggunaan mouth ga

Perawatan dengan terapi fisik antara lain:4,15,21

Tongue up and open/close. Pasien yang memiliki keterbatasan membuka

(40)

mulut dengan lidah diletakkan ke palatum. Membuka dan menutup mulut dengan

lidah, sampai batas kondilus melakukan gerakan rotasi dan mencegah translasi.

Latihan ini menciptakan gerakan yang bisa dikontrol sekaligus meningkatkan

kepercayaan pasien bahwa gerakan ini tidak menimbulkan rasa nyeri. Latihan ini

dapat dilakukan beberapa kali sepanjang hari. Setelah inflamasi menurun, membuka

dan menutup mulut dapat dilakukan dengan lidah ke bawah atau posisi normal untuk

memungkinkan pembukaan lebih dari 25 mm.4

Horizontal tongue blade exercise. Pasien menempatkan tujuh buah tongue

blade tetapi bertahap satu persatu sampai pembukaan mulut kira-kira 11 mm secara

horizontal di antara gigi insisivus sentralis maksila dan mandibula dengan posisi

memegang ujung tongue blade. Tujuh buah tongue blade kira-kira sama dengan 11

mm bila diletakkan di antara gigi insisivus sentralis. Gerak translasi normal biasanya

dimulai dengan interincisal opening sekitar 11 mm. Dengan tongue blade di letakkan

di antara gigi insisivus sentralis maksila dan mandibula, pasien menggerakkan

mandibula ke depan dan ke belakang berulang-ulang 30 kali per sesi, diulang 1

sampai 3 kali per hari. Gerak ke depan dan belakang mandibula dapat memperbaiki

gerak translasi kondilus. Gerakan translasi yang berulang-ulang dengan interincisal

(41)

Gambar 12. Posisi tongue blade (Rao A.Principles

and practice of pedodontics. 2nd. India : Jaypee,

2008 : 123)

Terapi panas juga dapat mengurangi rasa nyeri dan kekakuan otot. Caranya

adalah meletakkan handuk basah hangat selama 10-15 menit pada daerah yang

terserang (biasanya pada daerah masseter). Penggunaan sinar infra red juga bias

dilakukan selama 30 menit.15,21

Terapi obat-obatan seperti aspirin, ibuprofen sangat efektif digunakan untuk

mengurangi rasa sakit. Apabila terjadi spasme otot pada hipomobiliti sendi

temporomandibula misalnya trismus dapat diberikan relaksan otot, obat yang biasa

dipakai adalah Chlorzoxazone, Metaxalone dan Diazepam.15,21

Perawatan hipomobiliti sendi temporomandibula secara mekanis meliputi

penggunaan splin, penyesuaian oklusal, restorasi prostetik dan perawatan ortodontik.

Perawatan ini dilakukan pada pasien dengan trismus yang bersifat sementara, dimana

apabila faktor penyebabnya dihilangkan maka trismus tersebut juga akan hilang.

Splin oklusal digunakan untuk mengoreksi gangguan nyeri miofasial, pergeseran

(42)

dilakukan untuk mengoreksi gangguan oklusi dan gangguan perkembangan sendi

temporomandibula.15,21

4.2.2 Bedah

Terapi bedah pada hipomobiliti sendi temporomandibula diindikasikan pada

kasus trismus permanen dan ankilosis tulang yang betujuan untuk menciptakan sendi

yang fungsional sehingga memperbaiki fungsi pengunyahan pasien, merekonstruksi

sendi, dan mengembalikan pertumbuhan wajah yang normal pada pasien, adapun

terapi bedah yang dapat dilakukan antara lain kondilektomi dan gap arthroplasty.

4.2.2.1 Kondilektomi

Hipomobiliti sendi temporomandibula dapat juga dilakukan perawatan bedah

dengan kondilektomi, yaitu pengambilan sebagian kondilus atau membentuk kondilus

kembali sesuai dengan fosa artikularis.2 Indikasi dari perawatan kondilektomi yaitu

pada kasus ankilosis fibrous, dimana ruang sendi diisi oleh jaringan ikat fibrous,

tetapi deformitas pada kepala kondilus tidak terlalu banyak.32

Teknik pembedahan :2,15

1.Dilakukan di bawah anestesi umum.

2.Sebuah tampon dimasukkan ke dalam rongga telinga.

3.Untuk mencegah darah masuk ke dalam liang telinga, dibuat insisi di depan

telinga, vertikal bersudut, flep kutan dilepaskan dari jaringan submukus.

4.Pendarahan diatasi dengan: pemakaian vasokonstriksi secara lokal, deppen,

suction, klemp, sedangkan pembuluh darah yang besar dengan arteriklem atau

(43)

5.Dicari arkus zigomatikus dan tepat di bawah pangkalnya terletak sendi

temporomandibula.

6.Untuk tepat dapat melokalisir kondilus, maka mandibula digerakkan ke

depan, maka kondilus akan menonjol. Setelah ini kapsul artikularis di insisi

horizontal sehingga kondilus akan kelihatan jelas.

7.Kemudian dilakukan pemotongan kondilus atau “shaving” (dilicinkan)

dengan membatasi pengambilan tulang sekitar 3-4 mm. Hal ini dilakukan agar

vertikal dimensi pasien tidak berubah dari normalnya.

8.Setelah itu daerah operasi dibersihkan

9.Lakukan penjahitan pada kapsul artikularis, beri drainase karet, jahit

subkutan dan kutan, lalu dressing.

Gambar 13. Prosedur bedah kondilektomi ( Malik NA.Textbook of oral and maxillofacial

(44)

4.2.2.2Gap arthroplasty

Perawatan hipomobiliti sendi temporomandibula yang berupa ankilosis dapat

dilakukan perawatan dengan gap arthroplasty. Gap arthroplasty adalah metode

perawatan ankilosis pada sendi temporomandibula dengan cara membuat celah

minimal 1 cm antara fosa glenoidalis dengan ramus mandibula dengan tujuan

mencegah kambuhnya ankilosis tanpa menempatkan substansi di antara celah

tersebut. Indikasi perawatan gap arthroplasty yaitu pada kasus ankilosis tulang yang

meluas dimana seluruh persendian digantikan oleh massa tulang.11 Perawatan

ankilosis pada sendi temporomandibula dengan gap arthroplasty adalah sebagai

berikut :5,22-30

1) Prosedur pembedahan dilakukan di bawah anestesi umum dengan

menggunakan intubasi melalui trakeostomi karena sulitnya intubasi secara naso dan

endotracheal. Trakeostomi dilakukan untuk menghindari terjadinya sumbatan pada

jalan nafas.

2) Dilanjutkan dengan pembuatan insisi preaurikular. Insisi dilakukan melalu

fasia temporal superfisialis yang diretraksi di bagian anterior untuk menghindari

(45)

Gambar 14. Insisi preaurikular dan pembukaan subkutan (Toledo GL, et all.

Temporomandibular joint ankylosis surgical treatment with arthroplasty in gap literatur

review and clinical case presentation)

3) Insisi pada daerah preaurikular dilakukan sehingga periosteum pada daerah

arkus zigomatikum terlihat.

4) Setelah daerah sendi terlihat dan diidentifikasi, daerah yang mengalami

ankilosis dilakukan osteotomi pada massa tulang dengan menggunakan bur dan

pahat.

Gambar 15.Pembukaan sendi sehingga terlihat massa ankilosis (Toledo GL, et all.

Temporomandibular joint ankylosis surgical treatment with arthroplasty in gap literatur

review and clinical case presentation)

(46)

5) Kemudian dilakukan osteotomi pada prosesus kondiloideus dan fosa

glenoidalis sehingga terbentuk celah 10-15 mm antara bagian atas fosa dengan

mandibula, celah yang dibentuk ini berguna agar pertemuan kepala kondilus dengan

fosa glenoidalis tidak longgar dan sesuai dengan vertikal dimensi pasien, kemudian

bagian tulang yang tajam dihaluskan dengan bone file.

6) Irigasi dengan larutan povidon iodine dan drainase dengan larutan saline

untuk mencegah terjadinya edema dan infeksi.

7) Flap dikembalikan dan dijahit, kemudian dilakukan dressing pada luka

bedah.

Gambar 16. Gap arthroplasty (Toledo GL,et all. Temporomandibular joint ankylosis

surgical treatment with arthroplasty in gap literatur review and clinical case presentation)

(47)

4.3 Komplikasi

4.3 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada perawatan bedah hipomobiliti sendi

temporomandibula yaitu :26

a. Inflamasi

b. Perdarahan karena terjadinya kerusakan pada pembuluh darah temporalis

superfisialis, pleksus pterigoideus dan maksila internal

c. Kerusakan pada meatus auditorius eksternus

d. Kerusakan pada fosa glenoidalis yang dapat menyebabkan perforasi ke

dalam fosa cranial media

e. Kerusakan saraf aurikulotemporalis dan saraf fasialis

f. Menyebabkan kerusakan pada kelenjar parotis

g. Open bite

h. Rekurensi yang dapat terjadi karena tidak adekuatnya celah yang telah

dibuat dan fisioterapi yang tidak adekuat.

Gambar 17. Flap dikembalikan dan dijahit (Toledo GL, et all.

Temporomandibular joint ankylosis surgical treatment with arthroplasty in gap literatur review and clinical case presentation)

(48)

BAB 5 KESIMPULAN

Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala yang

terletak pada dua sisi kanan dan kiri, sehingga bila terjadi sesuatu pada salah satu sisi

sendi ini, maka seseorang akan mengalami masalah yang serius. Masalah tersebut

berupa nyeri saat membuka dan menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara,

bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci.

Sendi temporomandibula terdiri dari artikulasi yang dibentuk oleh tulang

yaitu fosa glenoidalis pada tulang temporal dan prosesus kondiloideus pada

mandibula. Sendi temporomandibula merupakan sendi yang kompleks. Pergerakan

normal dari sendi ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu gerak rotasi dan gerak translasi

atau meluncur.

Hipomobiliti adalah keterbatasan dalam gerakan-gerakan fungsional dari

mandibula. Gerakan fungsional yang dipengaruhi oleh hipomobiliti antara lain,

mengunyah makanan, membuka mulut, berbicara dan menguap. Klasifikasi yang

digunakan untuk menjelaskan hipomobiliti sendi temporomandibula dibagi menjadi 3

yaitu, Trismus, Postradiation therapy fibrosis, dan ankilosis, seperti tercantum dalam

guidelines of the American Academy of Orofacial Pain.

Etiologi dari hipomobiliti dapat diakibatkan oleh faktor eksternal, faktor

internal serta faktor iatrogenik misalnya kaku otot pasca pengambilan molar tiga,

komplikasi dari anastesi sewaktu pencabutan gigi posterior rahang atas dan efek dari

(49)

Keluhan utama yang sering dirasakan pasien dengan hipomobiliti sendi

temporomandibula berupa rasa nyeri dan keterbatasan dalam membuka mulut.

Pemeriksaan klinis pada pasien hipomobiliti sendi temporomandibula penting

dilakukan untuk membantu dalam menentukan teknik interpretasi pemeriksaan

radiografi dan perawatan yang nantinya akan di lakukan.

Perawatan hipomobiliti dapat meliputi perawatan secara non-bedah maupun

bedah. Yang termasuk ke dalam perawatan secara non-bedah meliputi terapi fisik,

obat-obatan, mekanis dan brisement force, sedangkan perawatan bedah yang dapat

(50)

DAFTAR PUSTAKA

1. Suryonegoro H. Pencitraan temporomandibula discorder : clicking.

2. Tjiptono TR, dkk. Ilmu bedah mulut. Edisi 4. Medan : Percetakan Cahaya

Sukma, 1989 : 213-6, 221-29.

3. Henny FA. The temporomandibular joint. In : Kruger GO. Textbook of Oral

Surgery. 3th ed. Saint Louis : The C. V. Mosby Company, 1968 : 369- 85.

4. Fonseca RJ. Oral and maxillofacial surgery.1st ed. USA : W. B. Saunders

Company, 2000 : 168-170.

5. George A. Temporomandibular joint (TMJ).

<http://members.rediff.com/dental/tmj.html

6. Ikatan dokter Indonesia. Temporomandibular disorders.

7. Rishiraj B, McFadden LR. Treatment of temporomandibular joint ankylosis a

case report. J can dent Assoc 2001; 67(11):659-63.

8. Coulthard P, Horner K, Sloan P, Theaker ED. Oral and maxillofacial surgery,

radiology, pathology and oral medicine. St.Louis : Churchill Livingstone,

2003 : 229-35.

9. Mokhtar M. Dasar-dasar ortodonti pertumbuhan dan perkembangan

(51)

10.Scrivani SJ, Keith DA, Kaban LB. Temporomandibular disorders. N Engl J

2008; 359:2693-705.

11.Ballaji SM. Textbook Oral & Maxillofacial surgery. New Delhi : Elsevier,

2007 : 427-63.

12.Neill CM. Kelainan kraniomandibula. Alih Bahasa. Gunadi Haryanto. Jakarta

: Widya Medika, 1993 : 57-83.

13.Hetti. Trismus.

Oktober 2010).

14.Parfitt M, Gadotti IC, Armijo SL. Pathology and intervention in muscoskletal.

USA. Saunders Elsevier, 2009 : 90.

15.Pederson GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa. Purwanto,

Basoeseno. Jakarta : EGC, 1996: 293-324.

16.Purbawanto BA, Kasim A, Mangunjaya S. Kondilektomi pada penderita

dewasa dengan ankilosis sendi temporomandibula. JKGUI 2003;10 :711-17.

17.Goddard G. Temporomandibular disorders. In : Lalwani AK. Current

diagnosis & treatment in otolaryngology-head & neck surgery. USA : The

McGraw-Hill Companies,Inc. 2008 : 393-394.

18.Shafer W.G, Hine M.K, Levy B.M. A textbook of oral pathology. 4th ed. USA :

W. B. Saunders Company, 1983 : 702-07.

19.Anonymous. Disorders of TMJ

20.Gazali M, Kasim A. Dislokasi mandibula kea rah anterior. J Kedokteran Gigi

(52)

21.Ogus H.D, Toller P.A. Gangguan sendi temporomandibula. Alih Bahasa.

Yuwono Lilian. Jakarta : Hipokrates, 1990 : 5-11, 111-120.

22.Vasconcelos BCE, Bessa-nogueira RV, Cyproano RV. Treatment of

temporomandibular joint ankylosis by gap arthroplasty. Med Oral Patol Oral

Cir Bucal 2006; 11:66-9.

23.George A. Ankylosis of (TMJ) temporomandibular joint.

24.Saputra K. Akupuntur untuk maxillofacial

25.Toledo GL, et all. Temporomandibular joint ankylosis surgical treatment with

arthroplasty in gap literatur review and clinical case presentation

26.August M, Troulis MJ, Kaban LB. Hypomobility and hypermobility disorders

of the temporomandibular joint. In : Miloro M. 2nd Ed. Peterson’s principle of

oral and maxillofacial surgery. London: BC Decker Inc, 2004 : 1033-48.

27.Srinivasan B. Textbook of oral and maxillofacial surgery. 2nd ed. India :

Elsevier, 2005 : 322-41.

28.Laudenbach JM, Stoopler ET. Temporomandibular Disorders: A Guide For

The Primary Care Physician . The Internet Journal of Family Practice 2003 ; 2

(53)

29.Abbas I, Jamil M, Jehanzeb M, Ghaus SM. Temporomandibula

ankylosis:experience with interpositional gap arthroplasty at ayub medical

college abbottabad. J Ayub Med Coll abbottabad 2005;17(4).

30.Moore JR. Principles of oral surgery.2nd Ed. Portsmouth: Manchester

University Press, 1976: 227-37.

31.Kulkarni GS.Ed. Textbook of orthopedics and trauma. 2nd Ed. New Delhi:

Jaypee Brothers Medical Publishers Ltd, 2008: 1351-55.

32.Malik NA. Textbook of oral and maxillofacial surgery. 2nd Ed. New Delhi:

Jaypee Brothers Medical Publishers Ltd, 2008 : 213- 32.

33.Bumann A, Lotzmann U, Mah J. Color atlas of dental medicine TMJ disorders

and orofacial pain. Germany: Thieme, 2002 : 282.

34.Morrone L, Makofsky. TMJ home exercise program.

35.Anonymous. Trismus. <http:

(54)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Febby Rosidayani

Tempat/ Tanggal Lahir : Sipirok / 17 Februari 1990

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jln. Tridarma No. 152 Medan

Orangtua

Ayah : M. Rasid Ritonga

Ibu : Sri Yanti

Alamat : Jln. Proklamasi No.12 Muara Enim, Sum-Sel

Riwayat Pendidikan

1. 1994-1995 : TK Pembina, Muara Enim, Sum-Sel

2. 1995-2001 : SD Negeri 3, Muara Enim, Sum-Sel

3. 2001-2004 : SLTP Negeri 1, Muara Enim, Sum-Sel

4. 2004-2007 : SMA Negeri 1, Muara Enim, Sum-Sel

Gambar

Gambar
Gambar 3. Pergerakan normal sendi temporomandibula pada saat membuka dan menutup mulut .<http://iris.nyit.edu/~hmakofsk/hep.pdf>  (13 Agustus 2010) Gambar 2
Gambar 4.(a)massa ankilosis tulang dengan  deformasi  kepala kondilus  (b)                   gambaran   CT-scan   ankilosis   tulang  ( Malik  NA
Gambar (5a) Gejala yang diakibatkan ankilosis tampak depan (5b) tampak samping (5c) Terbatasnya a                                     b                                          c pembukaan mulut pada ankilosis sendi temporomandibula (Rishiraj B, McFadden L
+7

Referensi

Dokumen terkait

otot masseter (Gambar 5).. Sartika Aryanti : Penanggulangan Gangguan Sendi Temporomandibula Akibat Kelainan Oklusi Secara Konservatif, 2007. Splin oklusal pada maksila. Management

5.4 Prevalensi Gangguan Sendi Temporomandibula pada Lansia Berdasarkan Kebiasaan Buruk di Panti Jompo Karya Kasih Medan. Dalam penelitian ini, peneliti mendapatkan

9 Distribusi frekuensi gangguan sendi temporomandibula pada lansia berdasarkan kebiasaan buruk di Panti Jompo Karya Kasih

gangguan sendi temporomandibula pada lansia berdasarkan jenis kelamin, kebiasaan. buruk, dan dukungan oklusal di Panti Jompo Karya Kasih

Berdasarkan klasifikasi Di, tanda gangguan sendi temporomandibula yang paling banyak terdapat pada lansia adalah disfungsi sendi tempromandibula ringan (DiI) sebesar 36,7% dimana

Ligamen-ligamen yang berhubungan dengan sendi Temporomandibula juga akan mengalami kekakuan sebagai akibat penekanan-penekanan dari kontraksi otot yang

Fungsi splin oklusal adalah sebagai berikut: 1 Menghilangkan gangguan oklusi; Menstabilkan hubungan gigi dan sendi; Merelaksasi otot; Menghilangkan kebiasaan

Pengaruh stres terhadap terjadinya gangguan sendi temporomandibula pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut, stres psikologis yang terjadi pada individu