• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Feminisme Tokoh Utama Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Feminisme Tokoh Utama Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM

NOVEL

PENGAKUAN EKS PARASIT LAJANG

KARYA AYU UTAMI

SKRIPSI

OLEH :

RANDI AYU PRATIWI

090701030

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Lembar Persetujuan

ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PENGAKUAN EKS PARASIT LAJANG KARYA AYU UTAMI

SKRIPSI

OLEH

RANDI AYU PRATIWI 090701030

Skripsi ini diajukan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar sarjana dan telah diseujui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution M.Si Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P NIP 19620925 198903 1 017 NIP 19670523 199203 2 001

Departemen Sastra Indonesia Ketua

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditentukan.

Medan, 01 Maret 2015

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kurnia dan kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Analisis Feminisme Tokoh Utama dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang”.Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana bidang ilmu Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, perhatian, dan bimbingan baik selama penulis mengikuti perkuliahan maupun penyusunan skripsi ini, khususnya kepada Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si sebagai pembimbing I dan Bapak Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P sebagai pembimbing II, yang telah menyediakan waktu dan pikiran serta dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini juga penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

(5)

3. Seluruh dosen di sastra Indonesia yang telah mencurahkan ilmu dan motivasinya untuk penulis.

4. Keluarga tercinta, Ayahanda Afriadi dan Ibunda Rantina, terima kasih untuk semangat, kasih sayang, dan bantuan materi yang diberikan kepada penulis.

5. Terima kasih juga kepada Yohandi Pratama Ginting yang selalu bersedia memberikan bantuan tenaga dan semangat agar saya segera menyelesaikan skripsi ini. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak pada sahabat saya, Hapni Febryanti Hasibuan yang bersedia membantu serta memberi banyak masukan termasuk menjadi teman diskusi saya mengenai skripi ini.

6. Sahabat-sahabat saya : Reyza, Ina, Andi atas kebaikan dan dorongan semangatnya bagi penulis.

7. Teman teman Sasindo, khususnya stambuk 2009 yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu, terima kasih untuk motivasi agar penulis secepatnya menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, kritik dan saran senantiasa penulis harapkan.Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Maret 2015

Randi Ayu Pratiwi

(6)

ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PENGAKUAN EKS PARASTI LAJANG KARYA AYU UTAMI

ABSTRAK

Penulisan karya ilmiah ini dilakukan dengan tujuan untuk menguraikan (1) watak dan (2) sikap feminisme dari tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami.Penelitian ini menggunakan kritik sastra feminisme yang mengungkapkan nilai-nilai yang ada pada tokoh dan stereotypa yang dilekatkan pada kaum wanita yang ditentang oleh tokoh utama novel Pengakuan Eks Parasit Lajang.Untuk mencapai tujuan itu, telah dikumpulkan data dengan menggunakan metode membaca heuristik dan hermeneutik yang menghasilkan sinopsis cerita.Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan mendeskripsikan data-data yang bersumber dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang dan kemudian disusul dengan penganalisisan berdasarkan data yang telah dituliskan dalam kartu data. Hasil penelitian ini mengungkapkan watak tokoh utama yang (1) keras kepala (2) cerdas (3) kritis (4) peduli (5) berani (6) jujur dan (7) bertanggungjawab serta mengungkapkan adanya bentuk-bentuk ketidakadilan yang terjadi pada kaum perempuan, yang ditentang tokoh utama, yaitu (1) marginalisasi (2) subordinasi (3) stereotipe (4) kekerasan dan (5) beban kerja ganda. Tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang menunjukkan bahwa kehidupannya tetap bisa ia jalani tanpa harus menikah atau bergantung pada laki-laki. Dari analisis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap dan tindakan tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang menggambarkan semangat feminisme, yaitu keinginan untuk menunjukkan bahwa perempuan bukan makhluk yang akan selalu bergantung pada laki-laki dan punya hak serta kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan dan kesempatan mengeluarkan pendapat serta menentukan keinginannya sendiri sama seperti laki-laki.

(7)

DAFTAR ISI

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 3

1.4.1 Tujuan Penelitian ... 3

1.4.2 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Konsep ... 5

2.1.1 Watak ... 5

2.1.2 Feminisme ... 8

2.2 Landasan Teori ... 10

2.3 Tinjauan Pustaka ... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... 16

3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 16

3.2 Sumber Data... 18

3.3 Sinopsis ... 18

3.4 Teknik Analisis Data ... 20

BAB IV ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PENGAKUAN EKS PARASIT LAJANG KARYA AYU UTAMI ... 22

4.1 Watak Tokoh A dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang ... 22

4.2 Sikap Feminisme Tokoh A dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang ... 28

(8)

ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PENGAKUAN EKS PARASTI LAJANG KARYA AYU UTAMI

ABSTRAK

Penulisan karya ilmiah ini dilakukan dengan tujuan untuk menguraikan (1) watak dan (2) sikap feminisme dari tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami.Penelitian ini menggunakan kritik sastra feminisme yang mengungkapkan nilai-nilai yang ada pada tokoh dan stereotypa yang dilekatkan pada kaum wanita yang ditentang oleh tokoh utama novel Pengakuan Eks Parasit Lajang.Untuk mencapai tujuan itu, telah dikumpulkan data dengan menggunakan metode membaca heuristik dan hermeneutik yang menghasilkan sinopsis cerita.Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan mendeskripsikan data-data yang bersumber dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang dan kemudian disusul dengan penganalisisan berdasarkan data yang telah dituliskan dalam kartu data. Hasil penelitian ini mengungkapkan watak tokoh utama yang (1) keras kepala (2) cerdas (3) kritis (4) peduli (5) berani (6) jujur dan (7) bertanggungjawab serta mengungkapkan adanya bentuk-bentuk ketidakadilan yang terjadi pada kaum perempuan, yang ditentang tokoh utama, yaitu (1) marginalisasi (2) subordinasi (3) stereotipe (4) kekerasan dan (5) beban kerja ganda. Tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang menunjukkan bahwa kehidupannya tetap bisa ia jalani tanpa harus menikah atau bergantung pada laki-laki. Dari analisis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap dan tindakan tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang menggambarkan semangat feminisme, yaitu keinginan untuk menunjukkan bahwa perempuan bukan makhluk yang akan selalu bergantung pada laki-laki dan punya hak serta kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan dan kesempatan mengeluarkan pendapat serta menentukan keinginannya sendiri sama seperti laki-laki.

(9)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan) ( Esten 1978 : 9 ). Artinya bahwa sastra adalah suatu proses kreatif yang menuangkan imajinasi penulis ke dalam tulisan-tulisan bernilai seni sebagai refleksi atau cerminan dari kehidupan manusia.

Sugihastuti (2005:15-16) mengemukakan bahwa dasar pemikiran dalam penelitian sastra berperspektif feminis adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra

(10)

tumbuh, tokoh A akhirnya memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya, karena ia berpendapat bahwa pernikahan adalah bentuk lain patriarki yang mengharuskan perempuan tunduk terhadap laki-laki dan hal itu ia anggap tidak adil.

Mengapa novel Pengakuan Eks Parasit Lajang akhirnya menjadi objek kajian dalam skripsi ini?Hal ini dikarenakan novel ini mengangkat pemikiran seorang tokoh A, dengan pemikiran-pemikiran feminismenya yang masih banyak bertentangan dengan budaya di Indonesia.Tokoh A, seorang perempuan yang memutuskan untuk melepas keperawanannya di usia dua puluh tahun, untuk sekaligus menghapus konsep keperawanan yang baginya tidak adil. Selama tahun-tahun berikutnya, yang ia lakukan dalam hidup pribadinya adalah melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum negara yang patriarkal. Meskipun, ia berhadapan dengan kenyataan bahwa patriarki adalah fakta sejarah.

Kekontrasan tema novel inidengan budaya serta adat yang berlaku di tengah-tengah masyarakat,tentang perempuan yang menolak menikah dan menjaga keperawanannya hingga malam pertama, bagi peneliti sangat sensitif sekaligus menarik karena berbicara tentang kejujuran yang total, apalagi novel ini diangkat dari kisah nyata hidup penulisnya. Hal inilah yang membuat peneliti semakin tertarik untuk membahas sisi-sisi feminis dari novel ini.

(11)

Peneliti ingin mengkaji bagaimana watak tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang, yakni hal-hal yang membentuk dan mengubah sikap tokoh serta bagaimana tokoh menghadapi persoalan dan benturan-benturan nilai yang berlaku, dan akan sangat menarik bila dikaji dari sudut feminisme. Tinjauan dari sudut feminisme akan membantu kita dalam upaya memahami kehidupan. Hal ini sesuai dengan sifat sastra itu sendiri, di samping dituntut untuk memberi pesona, memberi hiburan, memberi hikmah cerita, juga dituntut adanya sesuatu yang bermanfaat bagi pemahaman terhadap manusia dan kehidupan ini.

1.2Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimanakah watak tokoh A dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang?

1.2.2 Bagaimanakah sikap tokoh A untuk menentang ketidakadilan yang ia anggap menimpa kaum perempuan?

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian ini terarah dan mencapai tujuan dengan baik maka diperlukan batasan masalah. Peneliti membatasi masalah hanya pada bagaimana watak tokoh A, dan sikap tokoh A yangmencerminkan upaya feminisme.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

(12)

2. Mendeskripsikan sikap feminisme tokoh A untuk menentang ketidakadilan yang ia anggap menimpa kaum perempuan

1.4.2 Manfaat Penelitian 1.4.2.1Manfaat Teoritis

1. Dapat memberikan kontribusi positif terhadap ilmu pengetahuan dibidang sastra mengenai unsur feminisme dalam karya sastra.

2. Memperkaya khasanah sastra kepada pembaca mengenai studi sastra Indonesia tepatnya melalui analisis feminisme.

1.4.2.2Manfaat Praktis

1. Menegaskan kepada pembaca bahwa karya sastra tidak luput dari pengajarantentang segala aspek kehidupan, diantaranya mengenai unsur-unsur feminisme.

(13)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Konsep dibutuhkan dalam penelitian sebab di dalamnya akan ditemui aspek-aspek yang menyangkut apa saja yang akan diteliti, sehingga ruang lingkup materi yang akan dikaji menjadi terarah tidak melebar kepada hal-hal yang tidak penting. Adapun konsep yang dipergunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : watak dan feminisme.

2.1.1 Watak

Watak adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku sedangkan perwatakan adalah penggambaran watak atau sifat tokoh cerita.Perwatakan berfungsimenyiapkan atau menyediakan alasan bagi tindakan tertentu dengan cara menggambarkan watak atau sifat tokoh-tokoh cerita.

(14)

mengambarkan watak atau sifat tokoh-tokoh cerita. Watak atau tokoh dalam cerita terbagi atas tiga yaitu protagonis, antagonis, tritagonis.

Sedangkan tokoh dalam KBBI adalah rupa (wujud dan keadaan), macam atau jenis. Dilihat dari segi peranannya, tokoh cerita terbagi atas dua, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakn penceritaannya dalam novel yang bersangkutan.Tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang berperan sebagai pelengkap cerita.

Sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh itu. Penokohan dapat digambarkan melalui dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau pikiran-pikiran tokoh. Melalui penokohan, dapat diketahui bahwa karakter tokoh adalah seorang yang baik, jahat, atau bertanggung jawab.

(15)

dapat dideteksi kelogisannya, atau tokoh yang kompleks.Tokoh dinamis ini dimiliki oleh tokoh utama, sebab tokoh ini menjadi titik pusat pembicaraan yang memegang peranan dalam menghidupkan cerita untuk menjadi penggerak alur cerita.Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingya tokoh dalam sebuah cerita, tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.Tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita.Dapat dikatakan, tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel, tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita, dan itupun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek (Nurgiyantoro, 1995: 176-177).

Boulton (dalam Aminuddin, 1984:85) mengungkapkan bahwa cara sastrawan menggambarkan atau memunculkan tokohnya dapat menempuh berbagai cara. Mungkin sastrawan menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam mempertahankan hidupnya, pelaku yang memiliki cara yang sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya atau pelaku egois, kacau, dan mementingkan diri sendiri. Dalam cerita fiksi, pelaku dapat berupa manusia atau tokoh makhluk lain yang diberi sifat seperti manusia, misalnya kancil, kucing, kaset, dan sepatu.

(16)

2. Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian

3. Menunjukkan bagaimana perilakunya

4. Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri 5. Memahami bagaimana jalan pikirannya

6. Melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya 7. Melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya

8. Melihat bagaimanakah tokoh-tokoh yang lain itu memberi reaksi terhadapnya

9. Melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lain (Aminuddin, 1984:87-88).

2.1.2 Feminisme

Pada dasarnya tujuan dari feminisme adalah menyamakan kedudukan atau derajad perempuan dan laki-laki.Feminisme memperjuangkan kemanusiaan kaum perempuan, memperjuangkan perempuan sebagai manusia merdeka secara utuh.Feminisme berbeda dengan emansipasi, Sofia dan Sugihastuti (2003:24) menjelaskan bahwa emansipasi lebih menekankan pada partisipasi perempuan dalam pembagunan tanpa mempersoalkan hak serta kepentingan mereka yang dinilai tidak adil, sedangkan feminisme memandang perempuan memiliki aktivitas dan inisiatif sendiri untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan.Paham feminisme timbul di kalangan wanita untuk mandirisebagai subjek, baik berdasarkan kodrat maupun berdasarkan kemandirian individu.Kata feminisme sendiri pertama kali dipopulerkan oleh seorang sosialis Prancis bernama Charles Fourier yang pada akhirnya banyak mempengaruhi gerakan emansipasi wanita di seluruh dunia sampai dengan saat ini.

(17)

terinspirasi olehnya dan mulai memunculkan gerakan-gerakan yang mengusung kesetaraan gender. Perjuangan perempuan di Indonesia sendiri telah banyak menghasilkan perundang-undangan yang melindungi mereka, diantaranya, UU No. 1 Tahun 1997 tentang perkawinan, UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, UU No. 10 Tahun 2008 tentang pemilu yang mensyaratkan partai memenuhi 20% caleg dari perempuan, dan lain-lain. Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh seorang presiden wanita yaitu Megawati Soekarno Poetri.

Feminisme di Indonesia bukannya tanpa pro dan kontra.Tidak sedikit kalangan yang menganggap bahwa gerakan feminisme tidak cocok di Indonesia yang memiliki budaya timur yang patriarki dan fanatisme agama yang kuat. Mereka menganggap feminisme akan mendoktrin pemikiran para perempuan Indonesia yang pada akhirnya membuat mereka lupa akan tugasnya sebagai seorang wanita.

(18)

agar kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan kaum laki-laki.

2.2Landasan Teori

Teori berfungsi untuk memecahkan masalah. Sebagai dasar untuk menyelesaikan masalah, maka sangat penting apabila teori yang dipakai benar-benar relevan dengan permasalahan yang ada.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis, karena pendekatan ini mempertimbangkan segi-segi permasalahan perempuan dalam upayanya dengan tuntutan persamaan hak.Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastrayang lahir sebagai respon atas berkembangnya feminisme di berbagaipenjuru dunia. Kritik sastra feminis merupakan aliran baru dalamsosiologi sastra. Lahirnya bersamaan dengan kesadaran perempuan akanhaknya. Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajatperempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki.Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan inimencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak danpeluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki.

(19)

struktur yang tidak adil, menuju ke sistem yang adil baik bagi perempuan maupun laki-laki. Lebih lanjut lagi Faqih (2000: 5) menjelaskan, feminisme bukan merupakanpemberontakan kaum wanita kepada laki-laki, upaya melawan

pranatasosial, seperti institusi rumah tangga dan perkawinan atau pandanganupaya

wanita untuk mengingkari kodratnya, melainkan lebih sebagaiupaya untuk

mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan.

Pendekatan feminisme adalah pendekatan terhadap karya sastradengan fokus perhatian pada relasi jender yang timpang danmempromosikan pada tataran yang seimbang antar laki-laki danperempuan (Djajanegara, 2000: 27). Sastra bisa mengandung gagasan yang mungkin dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan mencetuskan peristiwa sosial tertentu (Damono, 1978). Menurut Yoder (Sugihastuti dan Saptiawan, 2007:99), kritik sastra feminisme adalah suatu kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jeanis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan. Jenis kelamin ini membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan dan faktor luar yang mempengaruhi karang-mengarang.

(20)

sastra feminis ideologis merupakan cara menafsirkan suatu teks yang dapat memperkaya wawasan para pembaca perempuan dan membebaskan cara berpikir perempuan.

Yang kedua adalah kritik sastra feminis ginokritik, yang meneliti semua aspek yang berkaitan dengan kepengarangan perempuan yang meliputi sejarah, tema, ragam, struktur psikodinamika, kreativitas, dan telaah penulis perempuan tertentu dengan karyanya yang khusus.Yang ketiga adalah kritik satra feminis sosialis, yang meneliti tokoh-tokoh perempuan dalam sebuah karya sastra dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat.

Yang keempat adalah kritik sastra feminis psikoanalitik, yang menerapkan pada tulisan-tulisan perempuan karena para feminis percaya pembaca perempuan mengidentifikasi atau menempatkan dirinya pada tokoh perempuan dalam sebuah karya sastra, sedangkan tokoh perempuan tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya.Yang kelima adalah kritik sastra lesbian, yang hanya meneliti penulis dan tokoh perempuan.Yang keenam adalah kritik sastra feminis ras, yang mengaitkan masalah perempuan dengan ras.

(21)

2.3Tinjauan Pustaka

Teori kritik sastra feminis telah banyak dipergunakan dalam mengkaji permasalahan yang diangkat pada skripsi, tetapi penelitian yang menjadikan novel Pengakuan Eks Parasit Lajang sebagai objek kajian baru pertama kali dilakukan. Penelitian ini menitikberatkan pada unsur-unsur feminisme yang terkandung dalam novel. Setelah peneliti melakukan pencarian di perpustakaan Departemen Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara (USU) dan juga melalui media internet diantaranya ditemukan beberapa skripsi yang kajiannya relevan dengan penelitian ini. Adapun beberapa skripsi yang pernah mengangkat aspek feminisme sebagai rumusan masalahnya diantaranya:

Tety Warliani (2005) dari Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, dengan skripsinya yang berjudul “Novel Memburu Matahari Karya Wadjib Kartapati: Analisis Feminisme”. Penelitian ini membicarakan mengenai peranan tokoh utama dalam keluarga dan peranan tokoh utama dalam lingkungan masyarakat. Penelitian lainnya adalah Tiur Maida (2003) dengan judul “Eksistensi Perempuan dalam Novel-novel NH.Dini” .Penelitian ini menguraikan sikap-sikap feminis N.H. Dini dalam novel-novelnya.

(22)

ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender yang dialami Ny. Talis dalam bentuk kawin paksa, kekerasan fisik atau non fisik dan beban kerja yang berat.

Suwarti (UMS 2009) melakukan penelitian yang berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Novel Perempuan Jogja Karya Achmad Munif: Kajian Sastra Feminis”, memaparkan bahwa dalam masyarakat Jawa, perempuan harus tetap mempertahankan nilai-nilai kesetiaan, kepatuhan, dan ketaatan terhadap suami.

Penelitian Ernayana Trihandayani (UMS 2003) yang berjudul “Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Novel Arok Dedes Karya Promoedya Ananta Toer” merupakan penelitian tentang perempuan yang tersubordinasi, mengalami kekerasan, dan menjalani berbagai bentuk ketidakadilan, yang berasal dari ideologi patriarki yang terkait dengan berbagai sistem, seperti agama dan budaya.

(23)
(24)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini mempergunakan Library Research atau penelitian kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data. Dalam buku yang berjudul “Metode Penelitian” (Nazir 1988 : 111) mengemukakan bahwa studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.

(25)

Dalam hubungannya dengan kritik sastra yang lain, kritik sastra feminis tidak menerapkan metodologi atau model konseptual tunggal, tetapi sebaliknya menjadi pluralisdalam teori dan prakteknya, dengan kebebasan dalam pelaksanaan kritiknya (Sugihastuti dan Suharto, 2002: 10). Dengan demikian, kritik sastra feminis membutuhkan bantuan dari disiplin ilmu lainnya seperti antropologi, sosiologi, sejarah, etnologi, dan sebagainya.

Peneliti juga menggunakan langkah-langkah memperoleh data sesuai dengan yang dituliskan Endaswara (2011; 105) , yaitu : (1) melalui pembacaan heuristik, artinya hati-hati, tajam terpercaya, menafsirkan sesuai konteks sosial, (2) melalui pembacaan hermeneutik, artinya peneliti mencoba menafsirkan terus-menerus, sesuai bahasa simbol sosial, dikaitkan dengan konteks serta pengaruh historis. Kemudian peneliti akan melanjutkan pada langkah selanjutnya yaitu melakukan pencatatan pada kartu-kartu kecil sesuai dengan data yang ditemukan di dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang, untuk diklasifikasikan berdasarkan pada batasan masalah yang sudah dibuat sebelumya.

3.2 Sumber Data

Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:

Judul : Pengakuan Eks Parasit Lajang

Pengarang : Ayu Utami

(26)

Tebal Buku : 310 halaman

Ukuran : 13,5 x 20 cm

Cetakan : Pertama

Tahun : 2013

Warna Sampul : hijau lumut, merah, ungu, coklat muda, dan putih

Gambar Sampul : seorang gadis berambut panjang yang berdiri tegak, dengan wajah yang tidak terlihat jelas dan ditubuhnya melilit kalimat Pegakuan Ekas Parasit Lajang.

3.3 Sinopsis

Pengakuan Eks Parasit Lajang

Pengakuan Eks Parasit Lajang novel terbaru dari penulis Ayu Utami, sarat akan problem-problem eksistensial1

1

aliran filsafat yangg pahamnya berpusat pada manusia individu yangg bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar.

(27)

Novel ini mengisahkan bagaimana seorang A menjalani kehidupannya, mulai dari seorang gadis remaja usia 20 yang mulai menikmati dirinya sebagai seorang perempuan, dan dihadapkan pada kenyataan bahwa perempuan selalu dijadikan objek laki-laki, hingga ia mulai melakukan beragam cara untuk melepaskan dirinya dari mitos masyarakat tetang konsep keperawanan. A memutuskan melepas keperawanan di usia 20, mulai saat itu ia bertekad tidak akan menikah, karena menganggap hukum pernikahan adalah hukum patriaki, di mana perempuan adalah makhluk nomor dua yang harus patuh terhadap perintah kepala rumah tangga yaitu laki-laki.

A dibesarkan oleh keluarga yang sangat religius.A memiliki Ayah yang sangat galak, maklum dia memiliki wibawa seorang jaksa yang berduit, kontras dengan Ibunya yang lemah lembut seperti bidadari. Ayah A memiliki dua orang kakak yang hidup bersama mereka tetapi berbeda atap.Dinamakannya Bibi kurus dan Bibi gendut.A manganggap kedua bibinya adalah orang-orang yang baik, sampai suatu saat kakak A mengatakan kalau kedua bibi mereka itu telah mengadu domba Ayah dan Ibunya. Mereka mengatakan kepada Ayahnya bahwa Ibunya selingkuh ketika ayahnya tugas keluar kota, sehingga Ayahnya menjadi murka dan Ibunya menangis. Si A melihat ada yang salah dengan kedua Bibinya yang baik itu.Kedua Bibinya jahat kepada wanita yang sudah menikah saja karena mereka belum juga menikah.

(28)

perempuan dari tulang rusuk Adam?Kenapa Hawa memakan buah pengetahuan hingga mereka tahu betapa nikmat buah pengetahuan itu? Beribu pertanyaan berputar di kepala A dari kecil hingga ia memutuskan melepas keperawanannya tanpa ikatan perkawinan, petualangannya dengan para pria, dan akhirnya memutuskan mengakhiri menjadi parasit lajang. Keputusannya ini bermula dari kejadian-kejadian di kitabnya, tradisi yang beredar di budayanya yang ingin ia lawan. Keputusannya ini pula yang membuatnya melepas ritual agamanya karena pendosa (zina adalah dosa di agama apapun) tak layak memasuki areal suci gedung peribadatannya. Dia meninggalkan semuanya kecuali doa-doa pribadi dan pengakuan dosa pribadi yang tidak jarang ia sampaikan secara langsung pada orang yang telah ia lukai.

Banyak hal yang telah dialami A sehingga pada akhirnya ia menemukan titik balik dari dirinya, dan menerima kenyataan bahwa patriarki adalah fakta sejarah. Pada akhirnya A memutuskan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, setelah pencariannya yang panjang, pencarian tentang kebenaran mengenai hukum patriarki dalam pernikahan.

3.4 Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dalam mengkaji data. Metode analisis deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan data-data yang kemudian disusul dengan penganalisisan berdasarkan data yang telah dituliskan dalam kartu data. Analisis data dilakukan dengan langkah-lankah sebagai berikut :

(29)

2) Melakukan pembacaan berulang-ulang terhadap data yang sudah diidentifikasi.

3) Melakukan pencatatan ulang data-data yang sudah diidentifikasi tersebut.

4) Menafsirkan seluruh data untuk menemukan kepaduan dan hubungan antardata sehingga diperoleh pemahaman terhadap masalah yang diteliti.

5) Menyimpulkan hasil analisis data.

(30)

BAB IV

ANALISIS FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL

PENGAKUAN EKS PARASIT LAJANG

4.1 Watak Tokoh A dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang

Dalam pembahasan ini akan digambarkan mengenai watak dari tokoh utama dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang. Namun, pembahasan hanya pada tokoh utama yang akan dianalisis.

A adalah tokoh utama sekaligus tokoh protagonis dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang. A adalah inisial nama dari pengarang novel Pengakuan Eks Pasrasit lajang Ayu Utami, karena novel ini merupakan autobiographi-nya. A sebagai tokoh utama karena novel Pengakuan Eks Parasit Lajang menceritakan tentang perjalanan hidup A dan segala konflik yang ia lalui dalam perjalanan hidupnya mencari kebenaran sistem patriarki dan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan.

Tokoh A adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang memiliki watak keras kepala, hal ini terlihat pada kutipan berikut :

“Aku sendiri adalah anak bungsu keras kepala yang dahulu selalu menuntut perhatian ibuku. Bagaimana mungkin kini aku malah menjadi ibu bagi pacarku?” (hal. 22)

(31)

“Nik bangga sekali ketika wajahku muncul di sampul Femina. Ia sedang naik bis kota dan melihat yayangnya ada di setiap halte. Katanya, rasanya ia ingin bilang kepada orang-orang yang duduk di sebelahnya bahwa itu adalah pacarnya”. (hal. 57)

“Memang aku sedang menikmati penampilanku yang baru.Aku sedang senang menyadari bahwa aku perempuan dan aku lumayan menarik”. (hal. 61)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa A adalah seorang perempuan yang cantik. Selain cantik A juga digambarkan sebagai tokoh yang cerdas. Dalam novelPengakuan Eks Parasit Lajang kecerdasan A ditunjukan dengan keberhasilannya kuliah di jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia. Selain cerdas A juga digambarkan sebagai tokoh yang kritis dan selalu ingin tahu, hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut :

“ Aku tidak mau menerima nilai-nilai yang menurutku tidak adil. Tak ada yang bisa menjawabku dimana letak keadilan dalam hal memuliakan dan menuntut keperawanan wanita. (hal. 35)

“ Bagaimana mungkin dia yakin dirinya lebih utama daripada aku karena dia adalah lelaki dan aku perempuan? Darimana datangnya pandangan itu? (hal. 42)

“ Aku mencari kerja sebab aku mulai tahu kalau mutu pengetahuan yang kudapat di jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Indonesia masa itu. Bagaimana mungkin aku kuliah dengan materi yang sama dengan yang dipelajari oleh generasi ayah ibuku setengah abad silam?...

“ Aku hanya akan jadi sarjana dengan pengetahuan nol”. (hal. 50)

(32)

menggambarkan sifat kritis A yang selalu mempertanyakan tentang keadilan dalam konsep keperawananan yang ia anggap mendiskriminasikan perempuan.

A juga digambarkan sebagai tokoh yang memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, ia selalu memperhatikan kehidupan di sekitarnya. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut :

“Lalu aku jadi agak sedih karena khawatir tidak bisa menghargai manusia sebagai manusia yang telanjang, tanpa perangkat prestise atau prestasi.Aku sedih bahwa ada kelas-kelas dalam masyarakat dan aku tidak terbebas darinya. (hal. 18)

“Dalam hati kecilku aku tahu bahwa manusia tidak pantas diterapkan dalam skala nilai. Manusia tidak akan bahagia dibegitukan. Skala penilaian akan menghasilkan manusia super dan manusia pecundang. Dan itu sangat menyedihkan. (hal. 21)

“Betapa tak adil dunia.Dan, betapa mengerikan bahwa manusia masih membikin kompetisi untuk merayakan ketidakadilan itu.Hirarki kesempurnaan itu”. (hal. 60)

Kutipan di atas menggambarkan sosok tokoh A yang sangat peduli pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Tokoh A digambarkan sebagai sosok yang tidak menyukai adanya kelas-kelas dalam masyarakat, di mana manusia dinilai lewat harta ataupun prestasi yang ia punya, bukan melalui nilai ketulusan dalam diri manusia itu sendiri.

Lebih lanjut A juga digambarkan sebagai tokoh yang berani mengambil keputusan dan resiko, hal ini dapat ditemukan dalam kutipan berikut :

(33)

“Begitulah sekali lagi aku telah memutuskan untuk menutup masa perawanku.Tapi siapa lelakiitu?”(hal. 11)

“Maka tibalah masa itu, umurku memasuki tahun kedua puluh.Aku telah memutuskan untuk menutup masa perawanku.Aku telah berani untuk mengalami persetubuhan yang sesungguhnya”. (hal. 21)

Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa tokoh A adalah sosok yang berani mengambil keputusan. Tokoh A adalah sosok perempuan yang mandiri dan tidak ragu dalam menentukan apa yang ia kehendaki. Ia tidak mau orang lain yang menentukan jalan hidupnya, ia sosok yang menyusun sistemnya sendiri, menentukan kemauannya dan kemudian melakukannya. Tapi tokoh A juga digambarkan sebagai sosok yang siap menanggung resiko dari keputusan yang ia ambil. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Aku mulai tahu bahwa aku harus bisa membereskan perbuatanku sediri. Ini bukan soal perempuan atau lelaki ini soal dewasa atau tidak” (hal. 26)

“Maka pada usia dua puluh itu aku telah melepas kalung salibku. Aku telah mengambil jarak dari agama segala agama (hal. 31)

“Aku tidak bisa tenang dengan menjadi pezinah sekaligus Katolik.Aku harus memilih salah satu saja. (hal. 44)

Kutipan-kutipan di atas menggambarkan sosok A yang siap menghadapi resiko, dan bertangung jawab pada pilihannya. Ia memilih melepas keperawanan, dan lantas memilih untuk menjauhkan dirinya dari agama, karena baginya tidak mungkin ia menjadi dua orang sekaligus, menjadi si Katolik dan si pezinah.

(34)

pendapat orang lain. Tokoh A digambarkan sebagai tokoh yang mau didebat dan menerima pendapat oranglain, juga siap mengubah pandangannya jika memang ia salah, hal ini terlihat dalam kutipan berikut:

“Aku senang membangun teori dan mitosku sendiri. Tapi aku selalu boleh dibantah. Kupikir selama ini lelaki membangun mitos dan teori mereka dan tidak memberi kesempatan perempuan untuk membantahnya. Dan banyak perempuan juga cukup tolol untuk mempercayai mitos dan teori lelaki tanpa pertahanan apapun”…

“Aku punya pendapatku sendiri. Aku punya teori dan mitosku sendiri. Tapi aku juga selalu bersedia didebat. Aku bersedia mengubah pendapatku jika kuyakin pendapat itu salah”. (hal. 81)

Selain berpikiran terbuka A juga merupakan tokoh yang sadar diri. A bukan orang yang munafik yang tidak mau mengakui kesalahannya. Yang salah tetap salah sekalipun dia sendiri yang melakukannya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut :

“Aku tahu aku bukan orang baik-baik dalam ukuran moralku. Maka aku menyusun etika-ku dalam menjalani permainan level 2 ini. Ketika aku tak punya moral, setidaknya aku punya kode etik. Pertama, aku menjaga kerahasiaan hubungan gelapku. Aku tak akan omong apapun perihal dengan siapa aku menjalin hubungan”…

Kedua, aku bersumpah tidak akan merebut suami orang kedalam hubungan yang sah. Aku sudah mencuri; aku berjanji pada diri sendiri untuk selalu mengembalikan. Aku tidak akan meminta lelaki itu bercerai. Aku tidak akan minta dikawini persetan manapun. Aku mencukupkan diriku sebagai maling waktu”…

“Sebagai pencuri momen, kubiarkan diriku berada ditempat gelap. Itulah satu-satunya caraku menghormatiperempuan yang lebih dulu”…

(35)

Dari kutipan diatas, dapat dilihat bahwa sosok A sadar kalau dia melakukan kesalahan yaitu berselingkuh dengan Dan, suami orang yang tak lain adalah rekan kerjanya di tempat yang baru. Dan adalah seorang editor untuk tulisan-tulisan A yang saat itu sedang bekerja disebuah redaksi majalah. Tapi A adalah sosok yang jujur, ia mengakui kesalahannya sebagai sebuah kesalahan, dan ia menyadarinya. Seperti yang terlihat dalam kutipan berikut :

“Aku harus tetap bisa bilang hitam sebagai hitam. Aku yakin bahwa aku tidak boleh mencari pembenaran. (hal. 78)

“aku tahu aku bukan orang baik-baik. Tapi aku tidak akan menawar nilai-nilai dan rasa keadilanku untuk membuatku merasa jadi orang baik. Jika aku berada disuatu jurang hitam, setidaknya aku tahu bahwa itu jurang hitam, dan aku tidak mengatakan bahwa tempat itu luhur dan terang. Apa yang gelap harus diterima sebagai gelap”. (hal.79)

Dari kutipan diatas, terlihat sosok A memiliki watak yang jujur, dan mau mengakui kesalahannya sendiri dan tidak mau mencari pembenaran dari tindakannya yang memang salah.

Salah satu watak yang terdapat dalam diri A adalah sosok yang percaya diri dan selalu berusaha mencari pengalaman baru. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Aku telah pernah jadi sekretaris, jadi model, jadi petugas guest relation disebuah hotel bintang lima (semuanya kacau dan sama sekali tidak sukses), dan kini aku jadi wartawan. Aku bekerja freelance di sebuah majalah di bawah pengelolaan mingguan Tempo”…

(36)

Sosok A adalah tokoh yang percaya diri pada kemampuanya, ia tidak pernah takut untuk masuk ke sebuah lingkungan baru, mencoba mencari pengalaman dari pekerjaan baru hingga ia menemukan bakatnya di dunia tulis menulis.

Dari uraian-uraian di atas dapat dilihat bahwa tokoh A adalah sosok yang berani, cerdas, jujur, kritis, percaya diri, punya kemauan yang keras, mandiri, tahu apa yang ia mau, punya rasa ingin tau yang tinggi dan juga menjunjung nilai-nilai keadilan. Watak tokoh A tersebut sesuai dengan semangat feminisme, yaitu semangat memperjuangkan hak dan keadilan bagi perempuan. Watak seperti tokoh A lah yang dibutuhkan perempuan untuk bisa memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini terdiskriminasi.

4.2 Sikap feminisme Tokoh A dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang

(37)

sistem patriarki yang menjadikan perempuan sebagai manusia nomor dua yang hak dan pendapatnya tidak terlalu diperhitungkan.

Tokoh A digambarkan sebagai perempuan yang mencoba menentang bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang sering menimpa kaum perempuan seperti subordinasi, marginaliasi, stereotipe perempuan, kekerasan dan beban ganda

4.2.1 Subordinasi

Pada dasarnya subordinasi adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin diangggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya.Subordinasi banyak menimpa kaum perempuan karena faktor-faktor yang dikonstruksikan secara sosial.

Menurut Handayani dan Sugiarti (2008 : 15-16), subordinasi adalah anggapan bahwa perempuan tidak penting terlibat dalam pengambilan keputusan politik. Hal ini juga dapat diartikan bahwa kaum perempuan tidak mempunyai peluang untuk mengeluarkan pendapat atau mengambil keputusan walaupun hal tersebut menyangkut tentang kehidupannya. Hal ini juga berhubungan dengan perampasan kebebasan perempuan untuk menentukan apa yang dinginkannya baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan. Bentuk subordinasi tersebut muncul salah satunya adalah karena perempuan dianggap irasional dan emosional (Fakih, 2004:15)

(38)

hal mencari pasangan karena dianggap kurang rasional dan emosional, maka dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang, tokoh A justru menunjukan sikapnya sebagai perempuan modern yang bisa menentukan sendiri apa atau siapa yang ia mau sebagai pasangannya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut :

“Aku kini punya dua pacar, Mat yang mengapeli aku naik mobil, yang tidak tahu bahwa ia punya saingan, Nik, yang mengapeli aku naik motor, yang tahu bahwa ia punya saingan dan yakin bahwa ia akan menang”. (hal. 20)

“Aku punya pacar dua dan aku harus memutuskan salah satu.Siapa yang harus kupilih?Jawabannya sebenarnya sudah jelas”. (hal. 21)

Dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa tokoh A adalah sosok perempuan yang menentang subordinasi dalam hal menentukan pasangan. Tokoh A justru adalah perempuan yang memiliki dua pacar untuk kemudian ia pilih mana yang paling tepat baginya. Bahkan A menentukan sendiri siapa kelak yang akan hidup bersamanya, A bahkan berani mengambil resiko berselingkuh dengan suami orang bernama Dan, bahkan A membulatkan keputusanya bahwa ia tidak akan lagi bersama Nik akhirnya, karena menurutnya Nik tidak lagi dapat menjadi teman bicara yang baik baginya. Dia merasa Nik tertinggal dibelakangnya, meskipun dia masih menyayangi Nik. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“Tapi...semenjak aku jadi wartawan, Nik tertinggal dibelakangku dalam pegetahuan umumdan pemikiran.”…

(39)

Hal ini jelas menunjukkan sikap A yang menentang subordinasi perempuan yang mana biasanya perempuan hanya bisa menunggu untuk dipilih laki-laki untuk kemudian dinikahi atau ditinggalkan. Tapi A berbeda, dialah yang memilih akan terus bersama seseorang atau meninggalkannya jika ia anggap sudah tidak sesuai lagi dengan kemauannya.

Lebih lanjut tokoh A juga merupakan sosok perempuan yang mampu mengambil keputusannya sendiri, ia punya keyakinan yang tinggi pada dirinya. Jika perempuan lain tersubordinasi, tidak mampu mengeluarkan pendapatnya ataupun menentukan keputusannya sendiri, tokoh A justru menunjukkan bahwa perempuan juga bisa mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“begitulah sekali lagi aku telah memutuskan untuk menutup masa perawanku”. (hal. 11)

“Jadi menjelang duapuluh tahun aku sudah menghapus kata “selaput dara” dari sistem nilaiku.Kalau suamiku kelak menolak aku karena itu, maka sudah layak dan sepantasnya aku juga menolak manusia seperti itu untuk hidup bersamaku. (hal. 35)

(40)

memenuhi kebutuhan seksual suami dan tidak terpikirkan apakah perempuan juga perlu memuaskan dirinya. Hal ini pula yang tampak ditentang oleh tokoh A dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang, tokoh A digambarkan sebagai sosok perempuan yang menguasai tubuhnya, yang tidak mau bergantung pada laki-laki untuk mencapai kepuasannya dalam berhubungan intim seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:

“Disitulah aku berpikir: jika perempuan tidak menguasai dirinya sendiri, jangan-jangan ia tak akan pernah mengalami klimaks. Di situ juga aku menyimpulkan: bukan lelaki yang memberikan kenikmatan pada perempuan, tapi perempuanlah yang harus mengambilnya sendiri. Perempuan tidak boleh ragu untuk mengunakan atau tidak menggunakan tubuh si lelakinya.” (hal. 66)

Dalam kutipan diatas dapat dilihat bahwa tokoh A adalah sosok perempuan mandiri yang tidak mau bergantung pada lelaki sekalipun untuk urusan seksual. Tokoh A adalah sosok yang percaya bahwa perempuan punya kebebasan untuk mengontrol raga dan memahami tubuhnya sendiri untuk mencapai kepuasan dalam sebuah hubungan intim.

4.2.2 Marginalisasi

(41)

gender.Dalam dunia kerja, terkadang perempuan juga mengalami marginalisasi.Pada umumnya perempuan tidak dipercaya untuk menjadi pemimpin.Hal tersebut juga dapat memiskinkan kaum perempuan. Tidak hanya didunia kerja, bahkan disekolah-sekolah pun, dalam pemilihan ketua organisasi, biasanya akan lebih diutamakan kandidat laki-laki dibanding perempuan.

Hal ini juga dialami tokoh A dimana ia sempat berdebat dengan Nik tentang posisi perempuan dalam dunia kerja. Tokoh A merasa pacarnya Nik adalah orang yang berpikiran konservatif yang menganggap bahwa perempuan tidak pantas memimpin, bahkan ia berkata bahwa ia tidak mau dipimpin oleh perempuan seperti yang terlihat dalam kutipan berikut :

“Nanti, kalau kita sudah menikah, kamu harus panggil aku ‘Mas’.” “Mana mungkin?Kamu kan lebih muda?” kataku.

“Tapi aku kan suamimu.”

“Tapi kamu kan memang nyata-nyata, objektif, faktual, lebih muda dari aku?” “iya. Tapi suami kan kepala keluarga. Suami akan memimpin istrinya.” (hal. 43)

“Tidak bisa.Aku tidak bisa dipimpin perempuan.Aku tidak bisa jadi bawahannya cewek. Tidak bisa saja...” (hal. 51)

Dari kutipan diatas terlihat bahwa sosok Nik adalah termasuk laki-laki yang memarginalkan perempuan, yang tentu saja sangat bertenangan dengan watak tokoh A dalah novel Pengakuan Eks Parasit lajang, seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:

(42)

menikah, bukan dinikahi.Memangnya aku ini objek. Istri dan suami kan harusnya sama-sama menikahkan diri satu sama lain”. (hal. 40)

“Tapi profil keluarga kami mirip. Ibu sesungguhnya adalah Imam religiusitas dalam keluarga. Ibulah yang memimpin, bukan lelaki.Ayahku masuk Katolik karena ibu. Ayahnya masuk islam karena ibunya. (Seharusnya agama menyadari ini dan mengakui bahwa perempian bisa menjadi Imam).” (hal. 30)

Dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa tokoh A tidak setuju dengan pendapat Nik tentang perempuan. Tokoh A tidak setuju jika perempuan yang kelak menjadi istri harus dipimpin dan tunduk sepenuhnya pada suami.Tokoh A juga berpendapat bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin rumah tangga, karena tidak jarang justru perempuan, sosok ibu yang lebih banyak mengajari dan mengajak seluruh keluarganya untuk beriman pada agama.

“Aku tidak suka prosesi itu. Terutama pada bagian di mana pengantin perempuan membasuh kaki calon suaminya. Itu tanda bakti dan melayani. Tak ada yang salah dengan berbakti dan melayani. Tapi jika itu tidak dilakukan secara setara, buatku itu tidak benar. Ada yang slah disana. Jika hanya perempuan yang membasuh kaki lelaki, dan tidak sebaliknya juga, maka aku tidak bisa menerimanya. Jadi, aku suka masygul membaynagkan harus mencuci kaki Nik. Kenapa pula aku harus mencuci kakinya di depan umum dengan wajah cemong?” (hal.75)

“Aku tak suka jawabannya. Aku merasa ada yang tidak adil dalam pikirannya. Kubilang padanya, “Tuhan kan sangat kuat. Sakit hatinya tak akan seberapa. Tapi kalau kamu menikah lagi, istri kamu yang kamu sakiti secara sah”…

“Kalau aku, aku lebih memilih menyakiti hati pihak yang kuat daripada menyakit pihak yang lemah. Jika aku melukai yang lemah itu berarti aku sewenang-wenang”…

(43)

penghianatannyaitu punya kekuatan moral dan hukum.tapi, disitulah masalahnya: kau mau melegalkan dan membenarkan penghianatan?” …

“Disitulah aku merasa, orang yang berpoligami dengan alasan agar tidak berdosa – ya, agar perbuatannya sah – justru menunjukan derajat keserakahan. Ia mau kenikmatan, mau menyakiti istri pertamanya, sekaligus mau lepas dari beban moral dan dosa”. (hal.77)

Kutipan-kutipan diatas menunjukkan bahwa banyak sekali hal yang sering terjadi di masyarakat yang merugikan perempuan. Mungkin upacara adat adalah bagian dari budaya Indonesia, tapi poligami jelas bukan. Dan masa sekarang ini banyak sekali para istri yang menjadi korban poligami, karena adanya asumsi gender bahwa istri harus tunduk kepada suami sekalipun diperlakukan tidak adil. Hal ini lah yang sangat bertentangan dengan konsep hidup A. Baginya orang-orang yang berpoligai saat ini bukan lagi orang-orang-orang-orang suciyang melakukannya untuk tujuan baik membantu orang, melainkan semata-mata demi sebuah kepuasan dan melegalkan sebuah penghianatan.

4.2.3 Stereotipe

(44)

Salah satu stereotipe itu adalah pelabelan bahwa perempuan hanya sebagai obyek seksual. Stereotipe tersebut telah menyebabkan terjadinya kekerasan fisik, psikis, dan sesksual kepada perempuan karena perempuan tidak dianggap sebagai manusia yang memiliki hak atas tubuh mereka. Adakalanya perempuan juga dianggap godaan, dan dihargai hanya berdasarkan utuh tidaknya selaput darah mereka saat menikah nanti.Pelabelan tentang keperawanan membuat perempuan terdiskriminasi. Hali ini terlihat dalam kutipan novel Pengakuan Eks Parasit Lajang berikut ini:

“Pada masa itu perempuan masih hidup dengan ditakut-takuti. Perempuan harus menjaga selaput daranya sampai malam pertama pernikahan. Seorang gadis yang tidak perawan layaklah dicampakkan oleh suaminya.Dan peristiwa semacam itu memang masih ada terjadi.ditelevisi kulihat berita tentang penyanyi gendut FH yang menceraikan istrinya dengan alasan sudah tidak perawan lagi.” (hal.33)

“ibuku pernah berkata bahwa perempuan itu seperti porselen. Jika sudah pecah, jadi tidak berharga.Ia bilang begitu bukan dengan nada menggurui, tapi lebih dengan nada muram dan tak berdaya.”…

“Kulihat di televisi ia berkhotbah di hadapan para remaja putri.Ia berkata, selaput dara ibarat segel dari Allah. Kita saja tidak mau menerima botol air mineral atau softdrink yanng segelnya sudah rusak, padahal itu hanya segel dari pabrik.” (hal.34)

(45)

melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya. Jadi layaklah jika dikatakan masih banyak stereotipe terhadap perempuan terjadi ditengah masyarakat.

“Aku tidak mau menerima nilai-nilai yang menurutku tidak adil.Tak ada yang bisa menjawabku dimana letak keadilan dalam hal memuliakan dan menuntut keperawanan wanita.Karena itu pelan-pelan aku mencoret ayat ini dalam tata moralitasku sendiri.Untunglah agama tidak pernah menjadikan keperawanan sebagai syarat perkawinan pertama.” (hal. 35)

“Pada masa itu perempuan masih hidup dengan ditakut-takuti.Tapi aku sedang menyusun sistem nilaiku sendiri.” (hal. 36)

Kutipan diatas menunjukkan sikap feminisme tokoh A, yang menolak sistem nilai yang menurutnya mendiskriminasikan perempuan. A menyusun nilai-nilai moralitasnya sendiri,A tidak bisa menerima sistem yang menurutnya tidak adil dan merugikan perempuan.

“Tahu tidak, Bibi, kenapa aku sampai memutuskan untuk idak mau menikah? Itu karena Bibi! Betul-betul karena Bibi. Bibi terlalu mengagung-agaungkan perkawinan. Seolah-olah kalau tidak kawin, perempuan itu tidak sempurna. Seolah-olah tanpa suami, hidup perempuan itu hampa. Padahal bekerja dan mandiri, tapi bibi tidak menghargai itu. Karena pandanan seperti itulah banyak perempuan jadi perawan tuayang dengki. Gara-gara Bibi, aku memutuskan untuk menunjukan bahwa tidak sebegitunya perempuan butuh suami. Ya, sejujurnya , Bibilah yang membikin aku tidak mau kawin!” (hal.268)

(46)

yang hidupnya pasti tidak bahagia,itulah salah satu misi A ia ingin membuka mata masyarakat bahwa perempuan punya pilihan sendiri, dan tidak ada yang salah dari tidak menikah.

4.2.4 Kekerasan

Kekerasan menurut Fakih (2004:17), adalah serangan atau invansi terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun ada salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan. Kekerasan ini disebut dengan gender related violence.

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang melangar, menghambat, meniadakan kenikmatan, dan pengabaian hak asasi peempuan atas dasar gender. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminin dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki diangap kuat, gagah, berani an sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut da sebagainya.

(47)

dengan laki-laki dihadapan masyarakat baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

Menurut Subhan (2004:12), kekerasan pada perempuan pada dasarnya dapat dibagi dua kategori, yaitu kekerasan yang bersifat fisik maupun nonfisik/psiologis.

Tokoh A adalah tokoh sentral dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang, yang memiliki semangat feminisme dlam dirinya. Dalam novel ini tokoh A memang tidak mengalami kekerasan fisik maupun psikis, justru sebaliknya, A menunjukkan bahwa kekerasan bisa saja terjadi tidak haya pada perempuan tapi juga laki-laki, seprti yang terlihat dalam kutipan berikut:

“Kini Nik menemukan A menghianati dia untuk kedua kali. Ia mendapati sketsa-sketsa A tentang lelaki itu. A biasa membuat sketsa intim dengan dirinya, dna sekarang perempuan itu juga membuat sketsa sosok lelaki itu.” (hal. 95)

“”Nik, sungguh aku minta maaf karena telah membuatmu menderita, tapi hubungan kita tidak mungkin menjadi perkawinan,” kali ini A berhasil mengaskan niatnya”. (hal.195)

“Nik dan A kembali ke rumah A. Di sana Nik segera membenamkan kepalanya yang berasap ke dalam bak mandi. A memandangi kekasihnya ( ia tak tahu lagi harus menyebut lelaki itu apa ) dengan sedih”. (hal: 196)

“Menyakiti lelaki adalah menyakiti hak-haknya, wewenangnya, kekuasaannya”. (hal. 257)

(48)

kalanya perempuan mampu mengendalikan perasaannya dan perasaan lelaki yang menjadi pasangannya. A menunjukkan bentuk kesetaraan, bahwa tidak selamanya perempuan menjadi korban kekerasan baik fisik maupun psikis, mengalami penderitan batin, adakalanya perempuan juga bisa menyakiti.

4.2.5 Beban Ganda

(49)

Dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang, tidak ditemukan penimpangan gender yang dialami tokoh utama maupun orang sekitarnya. Tokoh A memilih untuk tidak menikah, ia tidak terbebani dengan pekerjaan domestik. A memilih tidak menikah dan tidak mau memiliki anak, hinga ia terbebas dari beban pekerjaan ganda. Seperti yang tergambar dalam kutipan berikut :

“Aku tidak akan meikah dengan siapapun diantara kalian. Aku tidak mau menikah”…

“Aku bukan objek, Nik.Aku bukan barang milik lelaki, kamu atau dia. Aku bukan sesuatu yang bisa diserahkan.Aku berhak memutuskan sendiri.Dan aku tidak mau kawin.” (hal. 195)

(50)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut:

1. Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang merupakan otobiografi dari sang penulis Ayu Utami. Dimana ia menceritakan tentang kehidupannya dan pilihannya untuk menjadi si Parasit Lajang untuk tidak menikah dan tidak mengagungkan keperawanan. Novel ini bercerita tentang alasan tokoh utama yang secara sadar memilih untuk tidak menikah dan menceritakan pemikirannya tentang ketidakadilan yang menurutnya kerap menimpa kaum peremuan baik dari segi agama, hukum dan budaya di masyarakat.Dalam novel ini watak tokoh A si pemeran utama digambarkan sebagai seorang perempuan yang berani, cerdas, jujur, kritis, percaya diri, punya kemauan yang keras, mandiri, tahu apa yang ia inginkan, punya rasa ingin tau yang tinggidan juga menjunjung nilai-nilai keadilan. Watak tokoh A ini sesuai dengan semangat feminisme, yaitu semangat memperjuangkan hak dan keadilan bagi perempuan.

(51)

ketidakadilan, bahkan penindasan kepada perempuan. Betapa perempuan telah menjadi objek oleh rezim patriarkal yang menempatkan perempuan sebagai subordinat, rendah, lemah, dan rapuh. A berupaya untuk menetang beberapa bentuk ketidakadilan yang sering menimpa kaum perempuan seperti marginalisasi, subordinasi dan stereotipe dengan menetukan apa yang ia mau dan memilih sendiri seperti apa jalan hidupnya. A menunjukkan bahwa perempuan juga punya kemampuan untuk menentukan kehidupan yang ia inginkan, menentukan segala keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri tanpa harus selalu bergantung kepda laki-laki.

5.2 Saran

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Adriana, dkk. 1999. Analisis Struktur Cerita Pendek : Majalah Horison 1966-1970 Tema dan Penokohan. Medan : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Aminudin. 1984.Pengantar Memahami Unsur Unsur dalam Karya Sastra Bagian 1. Malang: FPBS IKIP

Ali, Mohammad. 2014. Memahami Riset Perilaku dan Sosial.Jakarta : Bumi Aksara.

Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Endaswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Cetakan Keempat. Yogyakarta:Media Presindo.

Fakih, Mansour. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Handayani Sri Ade. 2010. Skripsi Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy: Ketidakadilan Gender. Medan : Universitas Sumatera Utara. Handayani, Trisakti dan Sugiarti. 2008. Konsep dan Penelitian Gender. Cetakan

Ketiga. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiti Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik penelitian sastra: Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Perspektif wacana naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminismedan Sastra. Bandung: Katarsis Sugihastuti. 2002. Teori dan Resepsi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastar Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugihastuti, 2005.Rona Bahasa dan Sastra Indonesia.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sugihastuti dan Saptiawan. 2007. Gender dan Inferioritas Perempuan: Praktik Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tantawi, Isma. 2013. Terampil Berbahasa Indonesia. Bandung: Citapustaka Media Perintis.

Teuww, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra : Pengantar Teori sastra. Jakarta: Pustaka Pelajar.

(53)

HALAMAN WEB

Rossa.2011. “Perwatakan dan Penokohan”. Blog

Andriew.2011.”Aspek Psikologis Perwatakan Tokoh Novel”. Blog: Diakses11 Desember 2013.

Sartika,Itha.2011. “Kajian Feminisme Sastra”. Blog

Referensi

Dokumen terkait

• Metodologi dan metode penelitian tidak perlu ditulis/dimuat secara khusus di paper journal...

Stoga, kreatori politika nisu imali kao racionalnu mogućnost zabranu upotrebe, kao što je to bio slučaj sa nekim drugim adiktivnim supstancama, već se mere kontrole

Masyarakat berharap sistem penjaminan mutu pada produk hasil perairan ini tidak hanya dilakukan sosialisasi, tetapi dilakukan pelatihan dan pendampingan pada unit pengolahan

Sebelum adanya kegiatan pelatihan ini masyarakat Desa Sumberjaya belum mengetahui macam olahan bahan baku terutama dari hasil perikanan, namun setelah dilakukan

Data primer didapatkan melalui pengumpulan tally sheet hasil pembongkaran kapal tuna longline dengan teknik sam- pling dan observasi terhadap proses pembongkaran tuna

jika dibandingkan dengan anak-anak dari ibu yang tidak depresi. Mereka akan mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah. 3) Sulit bersosialisasi. Anak-anak dari ibu

Perlakuan benih secara fisiologis untuk memperbaiki perkecambahan benih melalui imbibisi air telah menjadi dasar dalam invigorasi benih.Saat ini perlakuan invigorasi merupakan

Warga sekitar dibawah naungan pemerintahan desa Jambangan telah membuat strategi agar obyek wisata air sumber bantal dapat dikenal, sebagai tempat tujuan wisata