• Tidak ada hasil yang ditemukan

Use of space by proboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb) on to Isolated Habitat in Kuala Samboja, East Kalimantan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Use of space by proboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb) on to Isolated Habitat in Kuala Samboja, East Kalimantan"

Copied!
246
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN RUANG OLEH BEKANTAN

(

Nasalis larvatus

Wurmb)

PADA HABITAT TERISOLASI

DI KUALA SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR

TRI ATMOKO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Pemanfaatan Ruang oleh Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) pada Habitat Terisolasi di Kuala Samboja, Kalimantan Timur” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2012

Tri Atmoko

(4)
(5)

Wurmb) on to Isolated Habitat in Kuala Samboja, East Kalimantan. Under direction of ANI MARDIASTUTI and ENTANG ISKANDAR

Proboscis monkeys (Nasalis larvatus Wurmb) is an endemic primate species to the island of Borneo and has been classified as endangered species by IUCN. Fourty percent of this habitat has been lost and only 4.1% of this habitat occurs within designated conservation areas. Kuala Samboja River is an unprotected habitat of proboscis monkey. This area was narrow, isolated, and fragmented. The objectives of the research were to obtain habitat conditions, population, food source, and space use. Data were collected through vegetation analysis by line-plot sampling method, activity budget and use of space by instantaneous sampling method, whereas food sources by individual activity records of feeding (IARF) method. The groups were observed were Stan, Zacky, and Raja. The results of this study showed that the community of habitat are dominated by Sonneratia caseolaris, Cerbera manghas, Vitex pinnata, and

Elaeocarpus stipularis. Twenty one of plant species were found as food sources, five of those were preferred i.e. S. caseolaris, V. pinnata, Deris sp., Hevea braziliensis, and Avicenia cf. officinalis. The population of proboscis monkey more than 143 monkeys, 98 monkeys divided to 9 groups (6 one-male groups, 3 all-male groups), whereas 45 monkeys unidentified. Generally, the monkeys spent more time for feeding in the morning and afternoon and resting in noonday. Feeding and moving activity of female greater than male but resting was lesser, whereas social activity was done by female only. Each mean daily range groups were 289 m (Stan), 260 m (Zacky), and 449 m (Raja), while home range size were 4.92, 4.52, and 6.92 ha, respectively. The groups of Stan, Zacky and Raja spent most of their time at heights of 9-12 m, 0-6 m, and 3-9 m, respectively. Use of canopy stratum influence by habitat conditions, temperature, blown of wind, and predators.

(6)

yang masuk kategori endengered species berdasarkan IUCN dan masuk dalam

Appendix I CITES. Habitat dan populasi bekantan banyak mengalami kerusakan dan penurunan. Seluas 40% habitat sudah berubah fungsi dan hanya 4.1% yang berada di kawasan konservasi. Habitat bekantan di Kuala Samboja berada di luar kawasan konservasi, kondisinya terisolasi, dan terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kondisi habitat, populasi, dan aktivitas pemanfaatan ruang habitat secara vertikal dan horizontal. Kondisi habitat dianalisis vegetasi metode jalur berpetak, proporsi aktivitas menggunakan metode instantaneous sampling, sedangkan sumber pakan menggunakan metode IARF (individual activity records of feeding). Kelompok sampel pengamatan adalah kelompok Stan, Zacky, dan Raja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat terisolasi dan terfragmentasi oleh berbagai infrastruktur, lahan masyarakat, dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Luas areal yang masih viable sebagai habitat sekitar 67.6 ha. Tumbuhan penyusun habitat meliputi 79 jenis (71 marga, 45 suku). Habitat dibagi menjadi tiga komunitas, yaitu komunitas rambai, komunitas rambai-riparian dan komunitas rambai-riparian. Komunitas rambai dominansi rambai laut (Sonneratia caseolaris) pada tingkat pohon (INP = 287.97%), pancang (INP = 160.50%) dan semai (INP = 83.33%). Komunitas rambai-riparian didominansi S. caseolaris pada tingkat pohon (INP = 77.76%), Ardisia elliptica mendominasi tingkat pancang dan semai (INP = 132.28% dan 38.47%). Komunitas riparian tingkat pohon didominansi Vitex pinnata (INP = 108.98%), tingkat pancang dan semai didominansi Elaeocarpus stipularis (INP = 73.03% dan 36.54%). Indeks kesamaan antar komunitas berkisar antara 0.06-0.28. Komunitas riparian tajuk pohon kontinyu dan lebih rapat (400 pohon/ha) dibandingkan komunitas rambai dan rambai-riparian (155 dan 165 pohon/ha) dengan tajuk diskontinyu.

Populasi bekantan sekitar 143 ekor, 98 ekor yang terbagi dalam 9 kelompok, sedangkan 45 ekor tidak dapat diidentifikasi kelompoknya. Sembilan kelompok terdiri dari enam kelompok one male group (masing-masing satu di komunitas rambai dan riaparian, empat di komunitas rambai-riparian) dan tiga kelompok all male group (dua di komunitas rambai, satu di komunitas riparian), sedangkan

Acanthus ilicifolius, Raphidophora sp., Flagelaria sp.,dan Oxyceros longiflora.

(7)

mulai pukul 06.00-08.00, kemudian cenderung menurun pada siang hari sekitar pukul 10.00 - 13.00, seiring dengan tingginya aktivitas istirahat. Pukul 16.00 - 17.00 aktivitas makan meningkat mencapai 69%. Aktivitas bergerak banyak dilakukan pukul 14.00 - 15.00. Jarak pergerakan harian kelompok Stan rata-rata 289.2 m (96.6 - 537.5 m) dengan home range 4.92 ha. Kelompok Stan banyak beraktivitas pada ketinggian 9-12 m (makan dan bergerak 0-3 m, istirahat dan tidur 9-12 m). Terdapat preferensi penggunaan strata pohon pada aktivitas Stan

(χ2= 229.8).

Kelompok Zacky mempunyai preferensi waktu tertentu untuk aktivitas makan (χ2= 67.1), bergerak (χ2= 44.6), sosial (χ2= 60.8), dan istirahat (χ2= 76.9). Aktivitas makan mulai pukul 06.00, pukul 10.00 - 12.00 aktivitas makannya menurun seiring meningkatnya aktivitas istirahat dan tidur. Pukul 14.00 aktivitas makan dan bergerak meningkat kembali sampai pukul 17.00. Jarak pergerakan harian kelompok Zacky rata-rata 260.7 m (25.7 – 482.8 m) dengan home range

4.52 ha. Jarak pergerakan harian kelompok Stan dan Zacky berbeda secara signifikan (U = 39). Kelompok Zacky banyak beraktivitas pada ketinggian 0-6 m dan berangsur-angsur menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian. Terdapat preferensi pemilihan ketinggian strata pohon terhadap aktivitas (χ2 = 532.6).

Kelompok Raja mempunyai preferensi waktu tertentu untuk aktivitas makan (χ2= 130), bergerak (χ2 = 338.8), dan istirahat (χ2 = 168.9), sedangkan aktivitas sosial tidak ada preferensi waktu tertentu (χ2= 16.6). Aktivitas makan kelompok

Raja dilakukan pada pagi hari dan mulai menurun pukul 10.00 - 12.00, kemudian cenderung meningkat lagi pada siang sampai sore pukul 17.00, sedangkan aktivitas bergerak tidak beraturan. Jarak pergerakan harian kelompok Raja rata-rata 449 m (109.9 – 749.9 m) dengan home range 6.92 ha. Jarak pergerakan harian antar kelompok berbeda, baik kelompok Stan dengan Raja (U = 14) maupun Zacky dengan Raja (U = 15). Kelompok Raja banyak beraktivitas pada ketinggian 3-9 m (makan dan bergerak 3-9 m, istirahat 6-12 m, tidur diatas 6 m). Terdapat preferensi penggunaan strata pohon terhadap aktivitas (χ2 = 435.8). Aktivitas penggunaan strata tajuk dipengaruhi oleh kondisi habitat (pakan, kerapatan, kondisi pohon, dan struktur tajuk), selain itu juga dipengaruhi suhu, tiupan angin, dan keberadaan pemangsa.

(8)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(9)
(10)

PEMANFAATAN RUANG OLEH BEKANTAN

(

Nasalis larvatus

Wurmb)

PADA HABITAT TERISOLASI

DI KUALA SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR

TRI ATMOKO

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Primatologi

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)

Karya ini kupersembahkan

dengan penuh hormat dan selalu kumuliakan, untuk: Kedua Orangtuaku

dengan penuh rasa cinta dan kasih untuk Istriku: Eka Purnamawati

dan Putri-putriku: Reina Aqila Shafika Khairunisa Latifah Tatyana

serta untuk:

Primatologis dan Konservasionis Satwaliar

(17)
(18)

xv

dan pertolongan-Nya, selama penulis menempuh pendidikan S2 hingga selesainya tesis ini dengan judul “Pemanfaatan Ruang oleh Bekantan (Nasalis larvatus

Wurmb) pada Habitat Terisolasi di Kuala Samboja, Kalimantan Timur”. Penulis pada kesempatan ini menyampaikan terima kasih kepada:

1) Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc. selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Entang Iskandar, M.Si selaku anggota yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan tesis. Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, M.S. sebagai penguji luar komisi, yang telah memberikan masukan dan saran, sehingga lebih memperkaya isi tesis ini.

2) Prof. drh. Dondin Sajuthi, MST., Ph.D selaku ketua Program Studi Primatologi, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menuntut ilmu di Program Studi Primatologi.

3) Prof. Riset. Dr. M. Bismark atas diskusi, saran dan masukannya selama penyusunan proposal penelitian. Prof. Dr. Ir. Sri Suprapti Mansjoer, yang telah memberikan masukan mengenai analisis, alur pikir, dan metodologi penelitian. Prof. Randall Keys, Ph.D yang telah memberikan pendalaman dalam hal metode dan teknis pengamatan primata di Pulau Tinjil.

4) Dr. Nur Sumedi, selaku Kepala Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA), institusi dimana penulis bekerja, atas dukungan semangat dan fasilitas penelitian yang telah diberikan

5) PT. Wanara Satwaloka, yang telah memberikan beasiswa pendidikan melalui Program Studi Primatologi, Balitek KSDA atas bantuan biaya hidup selama pendidikan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Yayasan Alas Swaka atas bantuan biaya penelitian.

(19)

xvi

berbagai informasinya. Ishak Yassir, S.Hut., M.Si. dan drh. Amir Ma’ruf, M.Hum. atas bantuan, akses literatur, saran dan masukannya, serta seluruh pegawai Balitek KSDA.

8) Mudzakir, motoris yang telah menemani dan membantu selama di lapangan, Mardi T. Rengku yang telah membantu dalam pengambilan data analisis vegetasi dan profil habitat, Iman Suharja dan Zainal Arifin yang telah membantu memproses dan identifikasi spesimen tumbuhan.

9) Agnes Ferisa, S. Hut., Walberto Sinaga, S.Hut., dan Uus Saepuloh, M.Biomed. atas kebersamaannya di PRM 2010, dan rekan di Primatologi, drh. RP. Agus Lelana, Sp.MP., M.Si. Staf PRM, Ibu Yanti, Yana, dan Alvian yang telah membantu kelancaran administrasi akademik, serta seluruh staf Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM-IPB yang telah mendukung dan menfasilitasi selama kegiatan perkuliahan.

10)Berbagai pihak, Sahabat, dan semua yang telah membantu dan memberikan semangat hingga selesainya tesis ini, mudah-mudahan Allah yang Maha Kuasa membalas dengan balasan yang setimpal. Amin.

Akhir kata penulis berharap karya ini bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan upaya pelestarian bekantan dan habitatnya.

Bogor, Juni 2012

(20)

xvii

TRI ATMOKO, lahir di Trenggalek tanggal 22 April 1981, adalah putra ketiga dari empat bersaudara keluarga Bapak MISNAN dan Ibu SUMARMI. Pendidikan sarjana S1 penulis selesaikan di Fakultas Kehutanan, jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Institut Pertanian Malang (IPM) tahun 2003. Pada tahun 2010 penulis mendapatkan beasiswa dari Program Studi Primatologi-Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melanjutkan studi pada Program Studi Primatologi IPB. Selama mengikuti program S2 penulis bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Primatologi (HIMAPRIMA) IPB, pernah mengikuti Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Internasional (Direktorat Riset dan Kajian Strategis IPB) tahun 2010 dan The Field Course Primate Conservation Biology and Global Health (Pusat Studi Satwa Primata LPPM-IPB dan Washington National Primate Research Center) tahun 2011.

Karir bekerja penulis dimulai tahun 2003 saat diterima sebagai calon peneliti di Departemen Kehutanan, kemudian mengikuti magang kerja selama enam bulan di Taman Nasional Gunung Palung. Akhir tahun 2004 mulai melaksanakan tugas di Loka Penelitian dan Pengembangan Satwa Primata (LP2SP) Samboja yang kemudian berubah menjadi Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja (BPTP Samboja) (2007-2010) dan berubah lagi menjadi Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) (2010-sekarang).

Jabatan fungsional penulis saat ini adalah peneliti muda dengan bidang kepakaran ekologi hutan. Sepanjang karirnya penulis telah menghasilkan 16 karya tulis ilmiah yang diterbitkan di jurnal ilmiah terakreditasi, prosiding, dan dipresentasikan dalam forum ilmiah. Sebagian besar tulisan berkaitan dengan satwaliar dan ekologi hutan. Penulis tergabung dalam organisasi profesi Masyarakat Biodiversitas Indonesia (Indonesian Biodiversity Society) sejak tahun 2010 sampai sekarang.

(21)

xviii

Pemanfaatan Strata Tajuk ... 18

Home Range ... 19

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 22

(22)

xix

(23)

xx

Halaman

1 Proporsi aktivitas harian bekantan pada beberapa lokasi habitat ... 16 2 Perbandingan luas home range bekantan pada beberapa lokasi habitat . 21 3 Isolasi dan fragmentasi habitat bekantan di sekitar Sungai Kuala

Samboja ... 34 4 Kerapatan dan INP jenis pada habitat bekantan di komunitas rambai ... 36 5 Kerapatan dan INP lima jenis tertinggi pada habitat bekantan di

komunitas rambai-riparian ... 38 6 Kerapatan dan INP lima jenis tertinggi pada habitat bekantan di

(24)

xxi

Halaman

1 Alur kerangka pemikiran dalam penelitian ... 4 2 Bekantan jantan dewasa (a) dan betina dewasa (b) ... 7 3 Penyebaran bekantan di Borneo dan 16 areal prioritas

perlindungannya (Meijaard & Nijman 2000)... 11 4 Diagram pola pergerakan harian bekantan. (––>) Arah pergerakan

dalan satu hari dan (– –>) kemungkinan pengulangan lokasi pada hari berikutnya (Bismark 1986) ... 17 5 Porsi waktu perilaku harian bekantan di hutan karet Kabupaten

Tabalong, Kalimantan Selatan (Soendjoto 2005) ... 18 6 Peta lokasi penelitian di Kuala Samboja ... 22 7 Rata-rata curah hujan tahun 2001 s/d Februari 2012 yang tercatat di

stasiun penakar curah hujan UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kecamatan Samboja ... 24 8 Bentuk dan ukuran petak untuk penggambaran profil habitat ... 28 9. Peta isolasi habitat bekantan di sekitar Sungai Kuala Samboja ... 35 10. Kondisi habitat bekantan di komunitas rambai ... 37 11. Kondisi habitat bekantan di komunitas rambai-riparian ... 37 12. Kondisi habitat bekantan di komunitas riparian ... 40 13. Profil habitat bekantan pada komunitas rambai di Kuala Samboja ... 41 14. Profil habitat bekantan pada komunitas rambai-riparian di Kuala

Samboja ... 42 15. Profil habitat bekantan pada komunitas riparian di Kuala Samboja ... 43 16. Penyebaran bekantan di Kuala Samboja ... 45 17. Perbandingan aktivitas tiga kelompok bekantan Stan (a), Zacky (b)

(25)

xxii

23. Pergerakan kelompok Zacky pada tanggal 30 September s/d 10 Oktober 2011 ... 52 24. Pergerakan kelompok Raja pada tanggal 31 Januari s/d 6 Februari

2012 ... 52 25. Persentase penggunaan strata tajuk oleh kelompok Stan ... 53 26 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas

kelompok Stan ... 54 27. Persentase penggunaan strata tajuk oleh kelompok Zacky ... 55 28 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas

kelompok Zacky ... 55 29. Persentase penggunaan strata tajuk oleh kelompok Raja ... 56 30 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas

kelompok Raja ... 56 31 Skematik pengelolaan habitat bekantan di Kuala Samboja ... 74 32 Habitat bekantan yang berada di tepi jalan raya Balikpapan-Handil

(26)

xxiii

Halaman

1 Data curah hujan dan hari hujan di lokasi penelitian tahun 2001 sampai dengan Februari 2012 ... 89 2 Kondisi suhu udara yang tercatat di BMKG Balikpapan (38 km dari

lokasi penelitian) tahun 2011 ... 90 3 Kondisi isolasi habitat bekantan di Kuala Samboja ... 91 4 Daftar jenis tumbuhan di Sungai Kuala Samboja ... 96 5 Data INP tumbuhan penyusun habitat bekantan di komunitas

rambai-riparian ... 98 6 Data INP tumbuhan penyusun habitat bekantan pada komunitas

(27)

Latar Belakang

Bekantan (Nasalis larvatus) adalah salah satu satwa primata endemik Borneo, termasuk ke dalam subfamili Colobinae. Bekantan dilindungi baik secara nasional maupun internasional. Secara nasional dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 (Pemerintah RI 1999a), sedangkan secara internasional bekantan termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) (Gron 2009) dan sejak tahun 2000 masuk dalam kategori endengered species

berdasarkan Red Book IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) (Meijaard et al. 2008). Selain itu, sejak tahun 1990 bekantan ditetapkan menjadi maskot fauna Provinsi Kalimantan Selatan (Saidah

et al. 2002).

Habitat dan populasi bekantan banyak mengalami kerusakan dan penurunan. Kerusakan habitat lebih cepat terjadi pada habitat bekantan yang berada di tepi sungai. Hal itu dikarenakan kawasan hutan di tepi sungai mudah dijangkau dan dialihfungsikan menjadi areal permukiman, tambak maupun areal pertanian. Luas kawasan yang menjadi habitat bekantan pada awalnya diperkirakan 29.500 km2, namun, 40% diantaranya sudah berubah fungsi dan hanya 4.1% saja yang berada di kawasan konservasi (McNeely et al. 1990). Penyempitan dan penurunan kualitas habitat tersebut diikuti oleh penurunan populasi bekantan. Tahun 1987 populasi bekantan diperkirakan 260.950 ekor dan sekitar 25.625 ekor diantaranya berada di kawasan konservasi (MacKinnon 1987). Tahun 1995 populasi bekantan menurun menjadi sekitar 114.000 ekor dan hanya sekitar 7.500 ekor yang berada di dalam kawasan konservasi (Bismark 1995), sehingga dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terjadi penurunan populasi sebesar 50%. Laporan terakhir menurut Meijaard et al. (2008) dan Gron (2009) menyatakan bahwa penurunan populasi bekantan berkisar antara 50-80% selama kurun waktu 36-40 tahun terakhir.

(28)

sangat tidak menguntungkan karena sangat rentan terhadap kerusakan. Kerusakan dan pengurangan habitat bekantan diantaranya akibat dari penebangan hutan illegal/legal, kebakaran hutan, pertambangan, pertambakan, pertanian, permukiman (Meijaard & Nijman 2000), dan pencemaran (Bismark 1995, 2004). Ancaman lain adalah adanya perburuan liar untuk dimakan dagingnya, sebagai umpan berburu biawak (Varanus salvator) (Meijaard & Nijman 2000) dan ular atau dijual sebagai pakan buaya peliharaan (Soendjoto 2004).

Habitat bekantan di Kuala Samboja adalah salah satu habitat bekantan yang berada di luar kawasan konservasi. Lokasi ini adalah salah satu habitat yang tersisa dari beberapa habitat yang ada di Samboja dan sekitarnya yang pernah dilaporkan Yasuma (1994). Habitat terisolasi oleh permukiman, lahan pertanian, jalan raya, tambak, dan peternakan (Alikodra 1997; Adinugroho & Ma’ruf 2005). Selain itu kondisi regenerasi pohon pakan pada tingkat pancang dan semai sudah mengalami gangguan (Sidiyasa et al. 2005).

Alikodra (1997) menyatakan bahwa bekantan dan habitatnya di Kuala Samboja membentuk unit ekosistem yang unik, dimana bekantan mampu bertahan hidup berdampingan dengan berbagai aktivitas masyarakat dan belum banyak diketahui strategi bekantan menghadapi kondisi habitat yang tertekan.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang:

1) Habitat bekantan, meliputi kondisi isolasi habitat dan komunitas vegetasi penyusun habitat.

2) Populasi bekantan, meliputi jumlah individu, jumlah, struktur, komposisi, dan penyebaran kelompok.

(29)

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah dan pusat dalam pengelolaan dan pelestarian bekantan dan habitatnya di areal terisolasi tidak dilindungi, khususnya di Kuala Samboja berdasarkan pada pemanfaatan ruang habitat oleh bekantan.

Kerangka Pemikiran

Habitat bekantan banyak mengalami kerusakan dan sebagian besar berada di luar kawasan konservasi. Habitat bekantan yang berada di tepi sungai memiliki aksesibilitas yang tinggi, sehingga lebih mudah untuk diubah fungsinya menjadi areal permukiman, ladang, tambak dan untuk pemanfaatan lainnya. Habitat yang berada di luar kawasan konservasi sangat rentan mengalami gangguan, lebih cepat mengalami kerusakan, kurang mendapat perhatian, dan ancaman perburuan lebih tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan laju penurunan kualitas habitat menjadi tinggi, habitat terfragmentasi, terisolasi, dan terpisah antara populasi yang satu dengan lainnya.

Primata mempunyai strategi tertentu dalam beradaptasi dengan habitatnya untuk bisa bertahan hidup. Bekantan di Kuala Samboja juga mampu beradaptasi terhadap habitat yang terisolasi, terfragmentasi dan tekanan dari lingkungan sekitarnya. Hal itu ditunjukkan dengan laporan terdahulu yang menyatakan bahwa dalam populasinya menunjukkan struktur umur lengkap, masih terdapat kelahiran bayi dan populasinya meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bekantan telah beradaptasi dalam memanfaatkan habitat untuk menunjang kehidupannya. Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti bagaimana strategi bekantan memanfaatkan ruang habitat, untuk bertahan hidup pada areal yang terisolasi dan mengalami tekanan tersebut.

(30)

Gambar 1 Alur kerangka pemikiran dalam penelitian.

Populasi, kondisi habitat, perilaku pemanfaatan ruang, dan jenis pakan

Pengelolaan populasi bekantan dan habitatnya BEKANTAN

DI KUALA SAMBOJA

Isolasi Habitat

Penurunan kualitas habitat

Kondisi:

- Fisik habitat dan lahan sekitar - Analisis vegetasi

- Profil habitat

Perilaku pemanfaatan habitat: - Horizontal

- Vertikal (strata tajuk) - Sumber pakan

Over populasi

Jumlah individu, kelompok, sebaran, struktur dan komposisi ANCAMAN

PERMASALAHAN

PEMECAHAN MASALAH

HASIL

(31)

Taksonomi

Bekantan secara taksonomi termasuk dalam marga Nasalis dari Subfamily Colobinae. Marga Nasalis hanya terdiri dari satu jenis yaitu Nasalis larvatus van Wurmb 1781, namun beberapa ahli menyatakan bahwa simakobu (Simias concolor) adalah anggota dari marga Nasalis. Hal itu didasarkan beberapa laporan yang menyatakan bahwa N. larvatus mempunyai kedekatan dengan S. concolor, berdasarkan kemiripan dan analisis morfologi (Nowak 1999) dan didukung dengan analisis DNA mitokondria (Whittaker 2006). Perbedaan tingkat genetik antara Simias dan Nasalis berdasarkan analisis DNA hanya 6% dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi marga tersendiri (perbedaan genetik antar marga 10-25%) (Whittaker et al. 2006). Oleh karena itu beberapa ahli mengusulkan menggabungkannya ke dalam marga Nasalis atau menjadi sub-marganya (Nowak 1999; Brandon-Jones et al. 2004; Whittaker et al. 2006).

Bekantan dibagi menjadi dua subspesies, yaitu N. larvatus larvatus Wurmb 1784 dan N. larvatus orientalis Chasen 1940, namun nama kedua secara umum tidak diakui oleh para ahli (Brandon-Jones et al. 2004; Meijaard et al. 2008). Nama ilmiahnya sinonim dengan Cercopithecus larvatus vanWurmb 1781, Simia capistratus Kerr 1792, Cercopithecus nasica Lacépéde 1799, dan Nasalis recurvus Vigors & Horsfield 1828 (Groves 2001). Masyarakat beberapa daerah di Kalimantan banyak memberikan nama untuk bekantan. Nama daerah tersebut diantaranya adalah kahau (Kalimantan), bakara (Bakumpai), bekagen, bekareng, bengkara, bengkada (Dayak Ngaju, Kutai, Pasir, Tidung), paikah (Dayak Manyan), pika, raseng (Dayak Laut), dan batangan (Pontianak), sedangkan dalam bahasa asing disebut proboscis monkey (Inggris) (Soendjoto 2005), Nasique (French), Nasenaffe (German), Mono narigudo (Spanish) (Hutchins et al. 2003).

Morfologi

(32)

betina. Ukuran tubuh, bentuk hidung dan ukuran gigi taring bekantan jantan secara signifikan lebih besar dari betina (Hutchins et al. 2003). Panjang badan-kepala bekantan jantan adalah 66.0-76.2 cm dengan bobot 16.0–22.5 kg sedangkan betina memiliki panjang 53.3-60.9 cm dengan bobot 7.0-11.0 kg dan panjang ekor 55.9-76.2 cm (Nowak 1999). Bekantan memiliki morfologi khusus pada hidungnya, seperti halnya jenis leaf-monkeys lainnya di Asia (marga

Pygathrix, Rhinopithecus dan Simias), sehingga kelompok ini disebut juga

odd-nosed leaf-monkeys (Hutchins et al. 2003). Morfologi hidung yang khas pada bekantan yaitu pada jantan dewasa memiliki hidung yang panjang, menonjol dan menggantung melewati mulut, sedangkan pada betina lebih mancung dan kurang berkembang. Fungsi bentuk hidung pada jantan ini salah satunya adalah untuk mengeraskan suaranya saat mengeluarkan suara ”honk” (Bloom 1999). Menurut Srivathsan dan Meier (2011) suara yang dihasilkan oleh bekantan frekuensinya sangat tinggi, yaitu antara 1.4 - 6.8 kHz. Suara ini keluar saat melakukan agresi atau digunakan sebagai alarm calls saat terjadi bahaya.

Warna rambut didominansi warna merah bata dengan kaki dan tangan warna abu-abu muda, dahi merah kecoklatan gelap, tengkuk dan pundak berbeda dengan bagian pipi dan leher, sedangkan wajahnya tak berambut berwarna coklat kemerah-merahan (Napier & Napier 1985). Bekantan yang masih bayi memiliki wajah berwarna biru gelap, kemudian pada umur tiga bulan memudar menjadi abu-abu dan berangsur-angsur berwarna seperti bekantan dewasa (Napier & Napier 1967). Foto bekantan tersaji pada Gambar 2.

Diantara jari-jari kaki bekantan memiliki selaput yang berguna pada saat berenang atau mungkin untuk berjalan pada tanah berlumpur di areal mangrove (Napier & Napier 1967, 1985; Nowak 1999) dan juga memiliki ischial callosities

(33)

Gambar 2 Bekantan jantan dewasa (a) dan betina dewasa (b).

Berdasarkan ciri organ genitalnya, bekantan jantan memiliki kelamin berwarna merah dengan scrotum berwarna hitam (Gron 2009; Hutchins et al.

2003), sedangkan pada betina, terjadi sexual swelling berwarna merah muda (Murai 2006). Sexual swelling adalah pembengkakan pada sekitar organ genital betina selama terjadi estrus dimana pembengkakan maksimal terjadi pada saat terjadi ovulasi (Napier & Napier 1985).

Biologi

Perilaku kawin bekantan selain untuk tujuan bereproduksi juga untuk membangun hubungan sosial antara jantan dan betina dalam kelompok (Murai 2006), sehingga pada bekantan tidak menunjukkan adanya musim kawin (Napier & Napier 1967; Nowak 1999). Kematangan seksual pada betina terjadi setelah pertumbuhan gigi permanennya lengkap (Napier & Napier 1967), yaitu pada umur 5 tahun (Murai 2004). Rata-rata kelahiran adalah 0.68 kali/tahun atau dengan interval 1.48 tahun, setiap kali kelahiran sebanyak 1 ekor dengan bobot sekitar 525 g (Lindenfors 2002). Periode lama kebuntingan pada bekantan tidak

(34)

diketahui dengan pasti (Boonratana 1993; Hutchins et al. 2003) tapi diperkirakan berkisar antara 166-200 hari (Napier & Napier 1967; Gron 2009).

Bekantan melahirkan anak seperti pola kelahiran primata diurnal lainnya yaitu pada malam hari atau pagi hari (Gorzitze 1996). Induk bekantan akan menjilati anaknya dan memakan placenta sesaat setelah melahirkan, selanjutnya anggota kelompok lain juga ikut mengasuh anak yang baru dilahirkan tersebut (Gorzitze 1996). Masa hidup bekantan di penangkaran bisa mencapai lebih dari 25 tahun (Gron 2009), sedangkan di alam belum diketahui dengan pasti.

Struktur Umur

Bekantan termasuk primata dengan sexually dimorphic nyata, sehingga memiliki perbedaan ukuran dan morfologi yang jelas antara jantan dan betina sempurna dengan atau rambut tengkuk mengurai ke belakang. coklat tapi dengan sedikit gelap pada kulit wajah. - Bayi-1 = satwa dengan rambut kepala dan/atau badan coklat

(35)

Kelompok Sosial

Satwa primata secara umum hidup dalam kelompok. Menurut Napier dan Napier (1985) terdapat tiga tipe kelompok pada satwa primata, yaitu: (1) multi-male group, yang terdiri dari beberapa jantan dewasa, beberapa betina dewasa, dan anak-anaknya, (2) one-male group, terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya, dan (3) family group, terdiri dari sepasang jantan dewasa dan betina dewasa beserta anak-anaknya.

Laporan dan penelitian terdahulu menyatakan bahwa struktur kelompok bekantan adalah multi-male group (Kawabe & Mano 1972; Napier & Napier 1985; Bismark 1986). Beberapa penelitian terbaru yang dilakukan dalam jangka waktu lama menunjukkan bahwa struktur kelompok bekantan pada dasarnya adalah one-male group yang terdiri dari satu jantan dengan banyak betina dan anak, namun ada juga kelompok yang semuanya jantan (all-male group) (Yeager 1991, 1992, 1993, 1995; Boonratana 2000a; Murai 2004, 2006; Murai et al. 2007; Matsuda et al. 2010; Bernard et al. 2011), non-breeding group (Boonratana 1999), dan soliter (Bennett & Sebastian 1988; Boonratana 1999; Muarai et al.

2007). Jumlah individu dalam kelompok bekantan bervariasi, yaitu antara 5-16 ekor (Bennett & Sebastian 1988), 3-23 ekor (Yeager 1989), 8–34 ekor (Murai et al. 2007) atau 17-25 ekor (Bismark 2009), sedangkan kelompok all-male bisa mencapai sekitar 30 ekor (Murai et al. 2007). Ukuran kelompok bekantan tidak tetap dan selalu berubah-ubah. Jumlah individu dalam kelompok selain dipengaruhi oleh kematian dan kelahiran, juga dipengaruhi oleh adanya imigrasi dan emigrasi individu antar kelompok.

(36)

terjadi terutama untuk menghindari terjadinya inbreeding, karena masa kematangan seksual betina sekitar 5 tahun sedangkan posisi jantan dewasa pada kelompok one-male lebih lama, yaitu sekitar 8 tahun (Murai2004).

Jantan dewasa pada kelompok one-male pada saat tertentu akan digantikan oleh jantan dewasa yang berasal dari kelompok all-male. Proses pengambilalihan (take-over) umumnya terjadi secara damai tanpa banyak memerlukan perkelahian (Murai 2004), namun pernah dilaporkan take-over terjadi melalui perkelahian sampai mengakibatkan kematian salah satu jantan dewasa (Agoramoorthy & Hsu 2005). Sesaat setelah terjadi pengambil alihan posisi jantan dewasainilah rentan terjadinya infanticide atau pembunuhan bayi oleh jantan dewasa. Infanticide

dilakukan oleh jantan dewasa yang baru dengan alasan agar segera bisa mengawini betina dewasa yang sedang menyusui, karena betina dewasa yang sedang menyusui bayinya cenderung menghindar dan menjaga jarak dengan jantan yang baru (Agoramoorthy & Hsu 2005).

Sebaran

Satwa primata umumnya hidup di daerah hutan hujan tropis, yaitu 23o5’ sebelah utara dan selatan garis khatulistiwa, namun di Amerika Selatan lebih jauh sampai 30o ke selatan sedangkan di Asia Tenggara 30o ke utara (Nowak 1999). Habitat alami bekantan hanya dijumpai di Borneo yang secara langsung dilalui oleh garis khatulistiwa. Habitat bekantan meliputi tiga negara yaitu Malaysia, Brunai Darusalam dan Indonesia. Penyebaran di Kalimantan (Indonesia) meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Meijaard dan Nijman (2000) melaporkan sebanyak 153 titik penyebaran bekantan di Borneo dengan 16 areal diantaranya menjadi prioritas perlindungan bekantan, yaitu Gunung Palung, Kendawangan, Danau Sentarum, Sambas Paloh, Tanjung Puting, Sungai di Kalimantan Tengah, Muara Barito, Pulau Laut, Teluk Balikpapan, Sungai (S) Mahakam, S. Kendang Kepala, Kutai, S. Kayan, Sangkulirang, S. Sesayap-Sebuku-Sebakung, dan Delta Mahakam (Gambar 3).

(37)

Mariam, Delta Mahakam, dan S. Kuala Samboja (Yasuma 1994; Bismark 1995; Alikodra 1997; Meijaard & Nijman 2000).

Gambar 3 Penyebaran bekantan di Borneo dan 16 areal prioritas perlindungannya (Meijaard & Nijman 2000).

Habitat

Menurut Alikodra (2002) habitat satwaliar adalah kawasan yang terdiri dari beberapa kawasan baik fisik maupun biotik yang merupakan suatu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang biak satwaliar. Faktor fisik meliputi air, iklim, topografi dan tanah, sedangkan faktor biotik meliputi vegetasi, satwaliar lain dan manusia.

(38)

dijumpai hidup jauh di daratan yang berjarak 250-300 km dari laut, seperti di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Soendjoto 2005).

Pohon Tidur

Bekantan umumnya memilih pohon yang berada di tepi sungai sebagai pohon tidurnya. Alasan utama pemilihan lokasi tidur di tepi sungai adalah untuk menghindari dari serangan predator darat (Matsuda et al. 2008b), sedangkan alasan lainnya adalah untuk pengaturan suhu, pola makan (Bismark 1981), komunikasi sosial antar kelompok (Yeager 1993), dan efesiensi dalam pergerakan (Bernard et al. 2011).

Upaya bekantan menghindari predator adalah dengan memilih pohon tidur yang mempunyai cabang paling dekat dengan tepi sungai di seberangnya, sehingga dapat dengan mudah menyeberang jika ada ancaman predator dari darat (Matsuda et al. 2008b). Bekantan berupaya meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman predator dengan saling berhubungan antar kelompok pada saat berada di pohon tidur di tepi sungai, bahkan kadangkala dua kelompok bekantan menggunakan satu pohon tidur secara bersama-sama (Yeager 1991; Matsuda et al.

2010). Bekantan lebih memilih lokasi pohon tidur berdasarkan kondisi fenotipe pohon dan tidak berdasarkan jenis pohon. Menurut Bernard et al. (2011) bekantan memilih pohon tidur berdasarkan jarak dari tepi sungai (5-35 m), kondisi fisik pohon (tinggi, diameter setinggi dada, diameter cabang terbawah, banyaknya cabang utama), hubungan dengan pohon di sekitarnya dan kerapatan vegetasi bawah di sekitarnya.

(39)

Sumber Pakan

Pakan adalah hal yang paling mendasar mengenai hubungan antara satwa dengan lingkungannya (Ortmann et al. 2006). Satwaliar membutuhkan pakan untuk menghasilkan energi untuk metabolisme tubuh dan untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari (Alikodra 2002). Banyak jenis primata harus memilih pakan lebih dari satu kategori pakan setiap hari untuk memenuhi keseimbangan nutrisi penting dan energinya (Boonratana 1993). Kebutuhan pakan satwa secara kualitas dan kuantitas berbeda-beda tergantung pada jenis, perbedaan jenis kelamin, kelas umur, fungsi fisiologis, musim, cuaca, dan kondisi geografis (Alikodra 2002).

Secara umum primata adalah pemakan segala (omnivorous) (Napier & Napier 1985). Monyet Colobus Afrika dan leaf monkey Asia sebagian besar memakan daun dan pucuk-pucuk, serangga dan satwa mangsa yang hidup (Napier & Napier 1985). Ullrey et al. (2003) mengelompokkan sumber pakan subfamili Colobinae menjadi empat, yaitu: 1) sangat folivorous (Colobus guereza, C. vellerosus), 2) folivorous, tapi > 30% makan biji (C. angolensis, C. polykomos,

dan C. satanas), 3) sangat folivorous dengan makan sedikit biji (Procolobus sp), 4) folivorous/frugivorous (>50% daun, <50% buah) (Nasalis larvatus, Simias concolor, Presbytis sp., Pygathrix sp., Rhinopithecus sp., Semnopithecus entellus,

dan Trachypithecus sp.)

Colobine adalah primata yang memiliki sistem pencernaan mirip ruminansia. Selain pencernaannya besar dan berkantong-kantong, juga dilengkap kelenjar ludah, parotid dan sub-mandibular yang besar untuk memudahkan pencernaan dan proses fermentasi pakan yang sebagian besar terdiri dari daun-daunan (Napier & Napier 1985). Menurut Matsuda et al. (2011) bekantan termasuk foregut-fermenting dari jenis non-ruminansia, yaitu berperilaku memuntahkan kembali makanannya (regurgitation) kemudian mengunyahnya lagi (remastication) sebelum makanan tersebut benar-benar ditelan. Hal tersebut merupakan salah satu strategi penyesuaian terhadap jenis pakannya berupa daun dan buah yang kaya serat dan sulit dicerna.

(40)

Nasional (TN) Tanjung Puting termasuk folivore/frugivores karena proporsi pakan antara daunan dan buah hampir sama, yaitu sekitar 52% berasal dari daun-daunan, sekitar 40% dari buah-buahan dengan lebih memilih daun muda dan buah yang belum masak. Demikian juga hasil penelitian Bennett dan Sebastian (1988) di Serawak yang melaporkan bahwa proporsi antara sumber pakan daun muda dan buah sebesar 38% dan 35% sedangkan sisanya berasal dari daun tua, bunga, biji dan tangkai buah. Hal berbeda terjadi pada bekantan di TN Kutai yang menggunakan daun-daunan sebagai sumber pakan dengan porsi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buahan, yaitu sekitar 81% dan 8% (Bismark 1994). Demikian juga hasil penelitian Matsuda et al. (2009b) yang melaporkan bahwa berdasarkan waktu makan, bekantan menggunakan sekitar 66% waktunya untuk memakan daun muda dan 26% makan buah. Bekantan juga memakan kulit kayu (Matsuda 2008), binatang kecil dalam jumlah sedikit (Hutchins et al. 2003), dan serangga (Salter et al. 1985).

Jenis Tumbuhan Pakan

Jenis tumbuhan sumber pakan bekantan berbeda-beda tergantung pada kondisi habitatnya. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Matsuda (2008) yang menyatakan bahwa perbedaan tipe habitat berpengaruh terhadap perbedaan ketersediaan sumber pakan, sehingga hal itu akan menyebabkan perbedaan pemilihan jenis pakan bekantan. Keragaman sumber pakan juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan bekantan untuk menjaga keseimbangan dan kebutuhan nutrisi. Nutrisi yang tidak diperoleh dari jenis tumbuhan tertentu dapat dipenuhi dari jenis tumbuhan yang lain (Bismark 2009).

Salter et al. (1985) melaporkan bahwa sumber pakan bekantan di daerah pasang surut Serawak, Malaysia terdiri dari sedikitnya 90 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 39 suku. Dari jenis tersebut jenis-jenis mangrove seperti

(41)

Delta Mahakam Kalimantan Timur adalah Sonneratia caseolaris (Alikodra & Mustari 1994; Atmoko et al. 2007).

Bekantan yang hidup pada daerah rawa gambut di TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah dilaporkan memakan sedikitnya 47 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 19 famili dengan jenis yang lebih disukai adalah jenis Eugenia

sp., Ganua motleyana, dan Lophopetalum javanicum (Yeager 1989). Soendjoto et al. (2006) melaporkan bahwa bekantan di Hutan Karet Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan menggunakan pakan dari jenis Syzygium stapfiana, S. pyrifolium, Hevea brasiliensis, Vitex pubescens, dan Elaeocarpus stipularis. Jenis pakan utama bekantan di Kuala Samboja adalah S. caseolaris (Sidiyasa et al.

2005), dan jenis pakan lainnya Mangifera caesia, Illex cymosa, Syzygium lineatum, Durio zibethinus, Inocarpus fragiferus, Garcinia mangostana,

Pythecollobium labatum, Ardisia humilis, Nipa fruticans, Oncosperma

tigillarium, Nephelium lappaceum, dan Schima sp.(Alikodra 1997).

Pemangsa

Pemangsa mempunyai peranan yang penting dalam mengendalikan populasi satwa, sehingga pada suatu saat akan terjadi keseimbangan yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya (Alikodra 2002). Pemangsa bekantan yang telah dilaporkan adalah buaya (Tomistoma schlegeli) (Galdikas 1985; Yeager 1991) dan macan dahan (Neofelis diardi) (Matsuda et al. 2008a). Pemangsa yang potensial sebagai pemangsa bekantan diantaranya adalah buaya muara (Crocodylus porosus), biawak (Varanus salvator), beberapa jenis elang (Ictinaetus malayensis, Spilornis cheela, Macheiramphus alcinus, Spizaetus sp.), dan jenis ular (Pyton curtus, Ophiophagus hannah, Boiga dendrophila) (Bismark 1986, 1994; Yeager 1991; Matsuda et al. 2008a; Fam & Nijman 2011).

Proporsi Aktivitas Harian

(42)

cadangan dalam aktivitas pada malam harinya (tidur dan kewaspadaan terhadap pemangsa) (Soendjoto 2005). Proporsi aktivitas harian bekantan pada beberapa lokasi habitat tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1 Proporsi aktivitas harian bekantan pada beberapa lokasi habitat

Lokasi Proporsi Aktivitas harian (%) Sumber

Makan Bergerak Istirahat Bermain Grooming Sosial Lainnya

TN Bakoa,b, c, d

Tipe habitat: a. Mangrove; b. Nipah; c. Riparian; d. Kerangas/Dipterocarp; e. Nibung; f. Karet

Pergerakan

(43)

Gambar 4 Diagram pola pergerakan harian bekantan. (––>) Arah pergerakan dalan satu hari dan (– –>) kemungkinan pengulangan lokasi pada hari berikutnya (Bismark 1986).

Menurut Bismark (2009) jarak perjalanan harian bekantan di daerah mangrove berkisar antara 200-1.100 m dengan jarak dari tepi sungai berkisar antara 50-400 m. Pada habitat lainnya pergerakan bisa sejauh 1.810 m (Boonratana 2000a) dengan jarak dari tepi sungai mencapai 750 m (Salter et al.

1985). Selama pergerakan harian, kelompok bekantan dapat terbagi menjadi sub-kelompok, yang merupakan strategi dalam menggunakan waktu dan sumber pakan secara efisien (Salter et al. 1985; Alikodra 1997; Bismark 2009). Pergerakan bekantan relatif lambat, yaitu sekitar 85 km/jam dan hanya 14% pergerakannya mencapai 200 km/jam, kecepatan tersebut biasanya terjadi sore hari pukul 16.00-18.00 saat perjalanan menuju pohon tidur (Salter et al. 1985).

(44)

Pemanfaatan Strata Tajuk

Secara umum penggunaan ruang oleh mamalia dibagi menjadi tiga, yaitu: hidup di atas (arboreal), di permukaan tanah (terrestrial) dan di dalam tanah (fossorial), namun untuk primata tidak ada yang hidup di dalam tanah (Napier & Napier 1985). Primata dalam menggunakan ruang habitat lebih memilih strata tertentu di dalam hutan. Rowe (1996) membagi strata pada hutan hujan tropis primer menjadi tiga, yaitu understory (0-10 m), strata tengah (10-25 m) dan tajuk/emergent (25-50 m). Beberapa jenis primata sering dijumpai di atas tanah, jenis lainnya di strata tengah dan ada yang memilih di tajuk dan puncak pohon yang muncul di atas tajuk (emergent trees) (Rowe 1996). Pemilihan strata ketinggian dalam habitat berkaitan dengan tipe pergerakannya. Secara umum terdapat empat tipe pergerakan pada primata, yaitu quadropedal, bipedal, vertical clinging dan leaping, dan brachiation (Napier & Napier 1985).

Bekantan termasuk primata yang aktivitasnya dilakukan secara arboreal

namun kadangkala juga terestrial (Kawabe & Mano 1972). Soendjoto (2005) melaporkan bahwa bekantan yang hidup di hutan karet sebagian besar porsi waktu aktivitasnya (84%) dilakukan pada strata ketinggian 0-15 meter, yaitu untuk aktivitas menyelisik, bermain, istirahat dan makan, sedangkan penggunaan strata di atas 15 meter kurang dari 10% (Gambar 5).

(45)

Berdasarkan penelitian Bismark (1986) di areal mangrove TN Kutai menunjukan bahwa aktivitas bekantan dalam memanfaatkan strata tajuk dipengaruhi oleh lingkungan (suhu) dan kondisi pohon penyusun habitat. Bekantan di lokasi tersebut banyak melakukan aktivitas makan dan istirahat pada ketinggian 10-15 m karena suhu udara yang tidak terlalu panas, sedangkan aktivitas bergerak banyak dilakukan di strata bawah, karena bobot badan bekantan yang relatif berat.

Penelitian Boonratana (2000a) di Sabah, Malaysia menunjukkan bahwa aktivitas bekantan maksimum dilakukan pada ketinggian 20 m pada habitat dengan ketinggian tajuk maksimun 25 m dan rata-rata 15 m. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa aktivitas makan rata-rata dilakukan pada ketinggian 9 m (1 - 20 m) dan lebih dari 70% pada ketinggian 6 - 15 m. Aktivitas bergerak rata-rata pada ketinggian 6.91 m (1 - 20 m), sebanyak 80% dilakukan pada ketinggian 1 – 11 m dan lebih dari 13% pada ketinggian 1 m. Istirahat rata-rata pada ketinggian 9.1 m (1 – 20 m) dan lebih dari 80% pada ketinggian antara 4 – 12 m.

Penggunaan strata tajuk oleh jenis primata dari kelompok monyet dunia baru, seperti monyet howler merah (Alouatta seniculus) dan saki wajah-putih (Pithecia pithecia) dipengaruhi oleh musim dan ancaman pemangsa (Youlato 1998; Vié et al. 2001). Monyet howler merah pada musim kering frekuensi penggunaan strata atas (>30 m) untuk bergerak dan makan lebih tinggi dibandingkan pada musim basah. Saki wajah-putih yang hidup dalam kelompok aktivitasnya banyak dilakukan pada strata bawah (15-20 m), namun pada saat hidup soliter lebih memilih strata tengah (20-25 m). Hal ini adalah salah satu upaya untuk menghindari pemangsa, karena pada saat hidup secara soliter kewaspadaan terhadap pemangsa akan menurun.

Home Range

(46)

menemukan semua kebutuhannya di dalam home range, jika tidak, maka satwa

tersebut akan memperluas home range-nya. Beberapa jenis satwa biasanya memiliki

beberapa home range yang digunakan secara musiman (Bailey 1984).

Luas home range satwa bervariasi, diantaranya tergantung pada kondisi sumber daya lingkungan, aktivitas hubungan dengan pasangan dan ukuran tubuh satwa (Alikodra 2002). Perilaku menjelajah satwa primata di dalam home range -nya sangat terkait dengan kebutuhan pakan-nya (Oates 1986). Menurut Bailey

(1984) home range di habitat yang baik akan lebih kecil daripada di habitat yang

jelek, demikian juga pada habitat dengan kepadatan satwa tinggi maka home range

akan lebih kecil. Hal itu dikarenakan adanya interaksi sosial yang lebih tinggi,

sehingga mereka mungkin membatasi pergerakan. Menurut Fleagle (1988) jenis

folivorous cenderung mempunyai daerah jelajah yang lebih sempit dibandingkan dengan jenis frugivorous karena ketersediaan dedaunan lebih umum dan merata dibandingkan ketersediaan buah. Selain itu jenis dengan ukuran tubuh besar cenderung membutuhkan daerah jelajah yang lebih luas untuk mendukung kebutuhan hidupnya, dibandingkan dengan yang tubuhnya kecil (Fleagle 1988).

Home range bekantan sangat bervariasi antar lokasi tergantung pada tipe habitat, hal itu berkaitan dengan penyebaran, kelimpahan dan ketersediaan sumber pakan (Boonratana 2000a). Home range antar kelompok bekantan overlap satu dengan lainnya (Boonratana 2000a), bahkan overlap rata-rata lebih dari 95% (Yeager 1989) dan tidak memiliki territory yang dipertahankan (Napier & Napier 1967; Boonratana 2000a; Hutchins et al. 2003; Matsuda 2008). Territory adalah bagian dari home range yang dipertahankan secara ketat dan bersifat eksklusif oleh satwa (Bolen & Robinson 2003). Territory mungkin dipertahanakan secara individual, pasangan yang sedang berkembang biak, atau kelompok sosial sepanjang

tahun atau secara musiman (Bailey 1984). Perbandingan luas home range pada

(47)

Tabel 2 Perbandingan luas home range bekantan pada beberapa lokasi habitat

100 - 150 Observasi dari perahu, kadang-kadang berjalan

Riparian 220.5 Sistem grid (observasi dari

perahu dan berjalan kaki,

Mangrove 13.4 - 38 Metode minimum convex

polygon, berbasis GPS

(48)

Kuala Samboja

Kelurahan Kuala Samboja adalah satu dari 21 Desa/Kelurahan yang ada di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Luas wilayah Kelurahan Kuala Samboja adalah 81.42 km2. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Senipah, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Harapan/Kelurahan Sungai Merdeka, sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Sungai Seluang, dan sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar. Secara geografis habitat bekantan di Kuala Samboja terletak pada koordinat 01o00’40” s/d 01o02’10” LS dan 117o09’12” s/d 117o12’42” BT. Peta lokasi penelitian tersaji pada Gambar 6.

Peta dasar: BPKH IV Kalimantan

(49)

Habitat bekantan di Kelurahan Kuala Samboja berada di sekitar Sungai Kuala Samboja. Sungai ini adalah bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Seluang yang bermuara di Selat Makassar. Masyarakat lebih mengenal sungai ini dengan sebutan Sungai Hitam, padahal Sungai Hitam sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai yang bermuara di Sungai Kuala Samboja. Disebut Sungai Hitam karena pada waktu tertentu aliran airnya berwarna hitam saat bertemu dengan aliran air dari Sungai Kuala Samboja. Warna air yang hitam tersebut berasal dari seresah dedaunan yang membusuk di tepi sungai dan terbawa oleh aliran sungai.

Kondisi Masyarakat

Jumlah penduduk Kelurahan Kuala Samboja pada tahun 2011 adalah 7.179 jiwa yang terdiri dari 3.827 laki-laki dan 3.352 perempuan dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1.45% dari tahun sebelumnya (Pemkab Kukar 2011). Habitat bekantan sebagian besar berada di wilayah tiga Rukun Tetangga (RT), yaitu RT 02, RT 16 dan RT 01. Jumlah kepala keluarga (KK) di RT 02 adalah sebanyak 82 KK, dengan jumlah penduduk 279 jiwa yang terdiri dari 145 laki-laki dan 134 perempuan. Wilayah RT 16 terdapat sebanyak 105 KK dengan jumlah penduduk 229 jiwa, sedangkan di RT 01 terdapat sebanyak 80 KK, dengan jumlah penduduk 300 jiwa yang terdiri dari 156 laki-laki dan 144 perempuan. Pekerjaan masyarakat di ketiga RT tersebut sebagian besar adalah buruh lepas dan wirausaha, sedangkan lainnya adalah guru, pegawai negeri, nelayan, tukang kayu, tukang bangunan, dan karyawan swasta.

Berdasarkan informasi pihak kelurahan Kuala Samboja, rencana ke depan akan dilakukan pemekaran kelurahan Kuala Samboja menjadi dua kelurahan, yaitu kelurahan Kuala Samboja dan kelurahan Kampung Lama. Jika terjadi pemekaran, maka seluruh habitat bekantan akan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kampung Lama.

(50)

berkembangbiak berbagai jenis ikan komersial serta sebagai indikator banjir. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan Sungai Kuala Samboja sebagai sumber air untuk mandi, mencuci, dan sarana transportasi mengangkut hasil pertanian (Atmoko 2010). Pada musim kemarau sumur milik warga yang berada di tepi pantai airnya menjadi asin, sehingga mereka menggunakan air dari Sungai Kuala Samboja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Iklim, Tanah, dan Topografi

Rata-rata curah hujan selama 10 tahun terakhir adalah 2.363 mm/tahun, dengan rata-rata hari hujan 150 hari/tahun. Curah hujan tercatat pada stasiun penakar curah hujan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kecamatan Samboja yang berjarak sekitar 0.5 km dari lokasi penelitian. Curah hujan cenderung turun pada bulan Juli-Oktober (Gambar 7). Data curah hujan tersaji pada Lampiran 1.

Gambar 7 Rata-rata curah hujan tahun 2001 s/d Februari 2012 yang tercatat di stasiun penakar curah hujan UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kecamatan Samboja.

(51)

bulanan berkisar antara 82-93%. Lokasi stasiun berjarak sekitar 38 km dari lokasi penelitian. Data suhu dan kelembaban udara tersaji pada Lampiran 2.

Topografi wilayah Kelurahan Kuala Samboja meliputi dataran rendah yang landai dan berhadapan langsung dengan Selat Makassar. Dataran rendah di tepi pantai dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sungai Kuala adalah muara sungai yang mengalirkan air dari sungai-sungai yang ada di daerah hulu seperti Sungai Merdeka, Sungai Saka Kanan, dan Sungai Muara Wali. Kondisi tanah di Kecamatan Samboja sebagian besar terdiri dari tanah podsolik merah kuning, tanah liat dan berpasir (UPT DPTP Kecamatan Samboja 2011).

Flora dan Fauna

Vegetasi pada habitat bekantan di Sungai Kuala Samboja dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Kondisi tersebut menyebabkan terdapat perubahan formasi vegetasi mulai dari muara sungai menuju ke arah hulu. Jenis floranya dicirikan oleh jenis-jenis yang umum dijumpai di daerah mangrove dan daerah tepi sungai atau riparian.

(52)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Lokasi

Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2011 s/d Februari 2012 di habitat bekantan di Kelurahan Kuala Samboja, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah perahu kelotok 5 HP (horse power), GPS

receiver Garmin CSx60, binocular Brunton 10 x 40, laser distance measurement, komputer dengan software ArcView 3.3 dan MapSources, kamera DSLR, lensa 300 mm, kompas, pita meter, roll meter, pengering herbarium, dan stopwatch. Bahan yang digunakan adalah kertas koran, kertas label herbarium, flagging tape, kertas milimeter blok, kertas kalkir, Snowman drawing pen, peta dasar digital

provinsi Kalimantan Timur dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) IV Kalimantan, dan peta Kuala Samboja dari GoogleEarth yang diakses tahun 2010.

Metode Kerja

Pemetaan Fisik

Pengambilan data fisik sungai dilakukan dengan GPS-tracking menyusuri sungai termasuk anak sungai sejauh bisa dijangkau menggunakan perahu. Kondisi lingkungan lain di sekitarnya seperti jalan raya, jalan setapak dan jembatan diambil koordinat dan data track-nya. Sungai yang dipetakan adalah areal yang di sekitarnya digunakan sebagai habitat bekantan. Kondisi fisik sungai dan vegetasi secara umum didigitasi dari peta GoogleEarth dan sistem koordinatnya disesuaikan dengan hasil pengambilan data track dan koordinat di lapangan serta data peta dasar dari BPKH Kalimantan.

(53)

penggunaan lahan. Peta kondisi fisik sungai, habitat dan lahan di sekitarnya di -overlay dengan softwareArcView 3.3.

Habitat

Habitat di areal ini dibagi menjadi tiga komunitas yang mewakili tipe habitat bekantan. Deskripsi pembagian komunitas adalah sebagai berikut:

1. Komunitas rambai:

Habitat bekantan yang mewakili daerah bawah paling dekat dengan muara sungai, yaitu berjarak sekitar 1.75 km. Lokasi ini sebagian besar adalah bekas tambak masyarakat yang sudah tidak aktif. Ditumbuhi oleh jenis mangrove, nipah dan tumbuhan bawah. Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan hampir selalu tergenang air. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 180 cm.

2. Komunitas rambai-riparian:

Habitat bekantan yang mewakili daerah tengah yang berjarak sekitar 2.63 km dari muara sungai. Habitatnya berdekatan dengan permukiman penduduk dan jalan raya Balikpapan-Handil Dua. Dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan ditumbuhi jenis mangrove, nipah dan jenis-jenis riparian. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 130 cm.

3. Komunitas riparian:

Habitat bekantan yang mewakili daerah atas yang berjarak sekitar 3.78 km dari muara sungai. Habitatnya berbatasan langsung dengan kebun masyarakat dan areal penggembalaan ternak. Masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan ditumbuhi oleh jenis-jenis riparian. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 80 cm.

(54)

yang dibuat sebanyak 30 petak (1.2 ha). Jalur kemudian dibagi menjadi petak-petak berukuran 20 x 20 m untuk pengamatan vegetasi tingkat pohon atau berhabitus pohon (diameter > 10 cm), sub-petak 5 x 5 m untuk vegetasi tingkat pancang (diameter < 10 cm; tinggi > 1,5 m), dan sub-petak 2 x 2 m untuk tingkat semai (semai s/d tinggi < 1.5 m). Data yang diambil adalah jenis tumbuhan, diameter (dbh=diameter breast height), dan tinggi. Jenis liana, rotan, dan jenis merambat lainnya dicatat kehadirannya.

Profil habitat dibuat sebanyak tiga buah masing-masing mewakili tiga tipe komunitas. Profil habitat dibuat pada lokasi yang menjadi home range bekantan, terutama pada sekitar pohon pakan, tempat beraktivitas atau pohon tidurnya. Profil habitat dibuat pada petak berukuran 20 x 100 m, memanjang tegak lurus tepi sungai (Gambar 8). Untuk memudahkan penentuan posisi pohon pada petak digunakan sistem koordinat y (sejajar jalur rintisan) dan x (10 m kekanan positif; 10 m ke kiri negatif). Data yang diambil adalah jenis pohon, dbh, tinggi bebas cabang, tinggi total, dan lebar tajuk (depan, belakang, kiri, kanan). Jenis tumbuhan yang ditemukan diambil spesimen herbariumnya untuk diidentifikasi lebih lanjut dan mendapatkan nama ilmiah di Herbarium Wanariset Samboja (WAN). Ketinggian air dicatat untuk penggambaran pasang tertinggi dan terendah pada profil habitat. Pengukuran dilakukan langsung di lapangan atau berdasarkan tanda-tanda pasang tertinggi pada batang pohon.

Gambar 8 Bentuk dan ukuran petak untuk penggambaran profil habitat.

(55)

Populasi

Perhitungan jumlah individu dilakukan dengan sensus secara langsung menggunakan metode konsentrasi dengan menggunakan perahu (Bennett & Sebastian 1988). Dalam metode ini penghitungan dilakukan pada semua individu dalam kelompok bekantan dari atas perahu di tepi kiri dan kanan sungai. Sensus dilakukan terutama pada pagi hari (06.00-10.00) saat bekantan masih berada di pohon tidur dan pada sore hari (14.00-18.00) saat bekantan menuju dan berada pada pohon tidur di tepi sungai. Perhitungan kelompok dan individu dilakukan bersamaan dengan pengambilan data fisik sungai.

Setiap perjumpaan dengan kelompok bekantan dicatat lokasi, waktu perjumpaan, jumlah individu, struktur umur dan jenis kelaminnya. Jenis kelamin dan kelas umur yang diamati pada penelitian ini didasarkan modifikasi dari Bennett dan Sebastian (1988). Kelas umur dan jenis kelamin yang diamati adalah 6 (enam) tingkat yaitu jantan dewasa, betina dewasa, jantan remaja, betina remaja, anak, dan bayi. Bayi bekantan dalam penelitian ini dikelompokkan dalam satu tingkat saja.

Habituasi dan Pengenalan Kelompok

Habituasi dilakukan untuk membiasakan bekantan dengan kehadiran peneliti, sehingga keberadaan peneliti tidak banyak berpengaruh terhadap perilakunya. Pemilihan kelompok yang diamati adalah kelompok one-male group

yang ada di komunitas rambai, komunitas rambai-riparian dan komunitas riparian. Pengenalan kelompok yang akan dijadikan sampel pengamatan dilakukan dengan mencatat ciri-ciri pada kelompok. Ciri-ciri kelompok yang dijadikan pembeda dengan kelompok lainnya adalah: jumlah individu dalam kelompok, jenis kelamin, struktur umur, dan tanda-tanda fisik individunya.

Pemanfaatan Ruang Habitat

(56)

Pengambilan titik koordinat sebisa mungkin pada posisi jantan dewasa, hal itu didasarkan pada asumsi bahwa jantan dewasa adalah pusat kelompok dan mempunyai akses yang lebih luas terhadap sumber daya yang ada dibandingkan dengan anggota kelompok yang lain. Pencatatan posisi dilakukan dengan menggunakan fasilitas sight and go pada GPS. Pada fasilitas tersebut GPS diarahkan pada posisi kelompok bekantan, kemudian dimasukkan data jarak antara GPS dengan lokasi kelompok bekantan. Pengukuran jarak menggunakan

laser distance measurement, namun jika tidak memungkinkan dilakukan dengan estimasi jarak.

Pengamatan pemanfaatan ruang secara vertikal dilakukan berdasarkan strata ketinggian vegetasi. Strata vegetasi dikelompokkan menjadi strata-strata, yaitu: 0-3 m, 0-3.1-6 m, 6.1-9 m, 9.1-12 m, dan > 12 m. Pengamatan aktivitas yang dilakukan dalam pemanfaatan strata ketinggian dilakukan dengan metode

instantaneous sampling (Altmann 1974). Pencatatan dilakukan pada jantan dewasa dan betina dewasa yang menjadi target pengamatan setiap 30 menit dengan interval 1 menit mewakili aktivitas 12 jam (06.00-18.00). Pengamatan dilakukan pada tiga kelompok sampel, dengan total satuan pengamatan sebanyak 4.084 satuan waktu pengamatan (2.026 jantan dan 2.058 betina). Pengamatan secara tidak langsung dilakukan dengan mengamati bekas-bekas yang ditinggalkan seperti sisa pakan atau patahan ranting, jejak kaki dan feses. Perilaku bekantan yang diamati adalah pemanfaatan strata pohon dan aktivitasnya. Aktivitas bekantan meliputi aktivitas makan, bergerak, sosial, istirahat, dan tidur.

Informasi pendukung, seperti kejadian-kejadian lain atau jenis satwaliar lainnya pada saat pengamatan atau di luar waktu pengamatan dicatat dengan metode ad libitum. Pengamatan satwaliar, terutama jenis primata lainnya dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya interaksi atau tumpang tindih penggunaan habitat dengan bekantan.

Jenis Pakan

(57)

feeding) (Yeager 1989). Pada metode ini, satu jenis tumbuhan yang dimakan oleh satu individu bekantan yang teramati diberi nilai 1 (satu). Dicatat juga bagian dari tumbuhan yang dimakan, meliputi daun, pucuk daun, buah, bunga, batang, dan tangkai daun.

Analisis Data

Habitat

Untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis flora diketahui dari Indeks Nilai Penting, yaitu jumlah dari frekuensi relatif, kerapatan relatif dan dominansi relatif (Mueller-Dombois & Ellenberg 1974). Khusus untuk vegetasi pada tingkat semai indeks nilai penting dihitung dengan cara menjumlahkan nilai kerapatan relatif dengan frekuensi relatif. Profil habitat disajikan dalam bentuk digambar profil dua dimensi pada kertas milimeter blok dengan proyeksi dari samping dan dari atas (penutupan tajuk), kemudian dianalisis secara deskriptif.

Untuk melihat seberapa besar persamaan antar habitat dilakukan dengan menghitung indeks kesamaan komunitas Jaccard (Ludwig & Reynolds 1988) dengan rumus:

JI

dimana:

JI : Indeks Jaccard

a : jumlah jenis pada lokasi A b : jumlah jenis pada lokasi B c : jumlah jenis pada lokasi A dan B

Populasi

Data kelompok, jumlah individu bekantan ditabulasi berdasarkan struktur umur, jenis kelamin dan dianalisis secara deskriptif.

Pemanfaatan Ruang Habitat

(58)

kelompok bekantan dihitung dengan menjumlahkan grid yang dilalui oleh kelompok bekantan kemudian dikalikan luas grid.

Pergerakan secara vertikal, dihitung persentase penggunaan strata tajuk pada aktivitas makan, bergerak, sosial, istirahat, dan tidur. Data ditampilkan dalam bentuk grafik dan dianalisis secara deskriptif. Signifikansi proporsi aktivitas dengan lokasi lain, preferensi pemanfaatan strata tajuk dan preferensi jam aktivitas bekantan dianalisis menggunakan uji Chi-square (χ2), dengan formula (Siegel 1990):

dimana:

Oi = banyak kasus diamati dalam kategori ke-i

Ei = banyak yang diharapkan dalam kategori ke-i di bawah Ho

∑ = penjumlahan semua kategori (k)

Hipotesis null (Ho) yang akan diuji adalah: 1) proporsi aktivitas bekantan dengan lokasi lainnya tidak berbeda, 2) tidak ada preferensi aktivitas harian bekantan pada jam-jam tertentu, 3) tidak ada preferensi ketinggian tajuk untuk aktivitas bekantan. Kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai χ2 hitung lebih besar daripada χ2 tabel pada p = 0.01.

Perbedaan pergerakan harian (daily range) antar kelompok bekantan dianalisis dengan uji U Mann-Whitney (Siegel 1990):

2

atau

2

dimana:

n1 = banyaknya kasus dalam kelompok yang lebih kecil

n2 = banyaknya kasus dalam kelompok yang lebih besar

R1/R2 = jumlah ranking pada kelompok n1/n2

(59)
(60)

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Isolasi Habitat

Habitat bekantan di Kuala Samboja berada di sekitar aliran sungai Kuala Samboja sepanjang sekitar lima kilometer. Habitatnya tersisa hanya pada sisi kanan dan kiri sungai dengan lebar antara 0-200 m. Habitat terisolasi dan terfragmentasi oleh berbagai infrastruktur, lahan masyarakat, dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Isolasi dan fragmentasi habitat bekantan seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Isolasi dan fragmentasi habitat bekantan di sekitar Sungai Kuala Samboja

Lokasi Isolasi/Aktivitas

Sebelah utara Areal penggembalaan ternak, pagar-pagar pembatas lahan masyarakat yang terbuat dari kawat atau kayu, kanal normalisasi air (Handil Jamur, Sungai Lempahung), kolam ikan, badan jalan baru, jalan tanah, dan jembatan.

Sebelah selatan Jalan raya, permukiman penduduk, kebun masyarakat, bekas tambak, penambangan pasir, perusahaan pengolah limbah, dan jembatan.

Sebelah timur Permukiman penduduk, tambak, jembatan, dan Selat Makassar.

Sebelah barat Kanal normalisasi air Sungai Jerangin, kebun masyarakat dan areal penggembalaan ternak

Aktivitas masyarakat lainnya di lokasi ini diantaranya adalah penggunaan sungai sebagai sarana transportasi, menjaring dan memancing ikan atau udang, pengambilan daun nipah, aktivitas penggembalaan ternak, jasa pencucian mobil, dan digunakan sebagai sarana MCK (mandi, cuci, kakus).

(61)

Gambar

Gambar 1  Alur kerangka pemikiran dalam penelitian.
Gambar 2  Bekantan jantan dewasa (a) dan betina dewasa (b).
Gambar 3   Penyebaran bekantan di Borneo dan 16 areal prioritas
Tabel 1  Proporsi aktivitas harian bekantan pada beberapa lokasi habitat
+7

Referensi

Dokumen terkait