• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL Isolasi Habitat

Habitat bekantan di Kuala Samboja berada di sekitar aliran sungai Kuala Samboja sepanjang sekitar lima kilometer. Habitatnya tersisa hanya pada sisi kanan dan kiri sungai dengan lebar antara 0-200 m. Habitat terisolasi dan terfragmentasi oleh berbagai infrastruktur, lahan masyarakat, dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Isolasi dan fragmentasi habitat bekantan seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Isolasi dan fragmentasi habitat bekantan di sekitar Sungai Kuala Samboja

Lokasi Isolasi/Aktivitas

Sebelah utara Areal penggembalaan ternak, pagar-pagar pembatas lahan masyarakat yang terbuat dari kawat atau kayu, kanal normalisasi air (Handil Jamur, Sungai Lempahung), kolam ikan, badan jalan baru, jalan tanah, dan jembatan.

Sebelah selatan Jalan raya, permukiman penduduk, kebun masyarakat, bekas tambak, penambangan pasir, perusahaan pengolah limbah, dan jembatan.

Sebelah timur Permukiman penduduk, tambak, jembatan, dan Selat Makassar.

Sebelah barat Kanal normalisasi air Sungai Jerangin, kebun masyarakat dan areal penggembalaan ternak

Aktivitas masyarakat lainnya di lokasi ini diantaranya adalah penggunaan sungai sebagai sarana transportasi, menjaring dan memancing ikan atau udang, pengambilan daun nipah, aktivitas penggembalaan ternak, jasa pencucian mobil, dan digunakan sebagai sarana MCK (mandi, cuci, kakus).

Luas areal yang masih viable menjadi habitat bekantan adalah sekitar 67.6 ha. Seluas 35.16 ha diantaranya di komunitas rambai, 19.64 ha di komunitas rambai-riparian, dan 12.8 ha di komunitas riparian. Peta isolasi habitat bekantan di Kuala Samboja tersaji pada Gambar 9, sedangkan kondisi isolasi habitat dijelaskan pada Lampiran 3.

36

Vegetasi Penyusun Habitat

Jumlah jenis

Jenis tumbuhan yang menyusun habitat bekantan meliputi 79 jenis yang termasuk dalam 71 marga dan 45 suku, dari jumlah tersebut sebanyak 18 jenis dari 17 marga dan 15 suku adalah jenis liana dan herba. Sebanyak 58 jenis 51 marga dan 33 suku diantaranya dijumpai pada petak analisis vegetasi. Daftar jenis tumbuhan tersaji pada Lampiran 4.

Struktur dan Komposisi Jenis

Jenis yang dijumpai pada petak pengamatan di komunitas rambai hanya 4 jenis dengan dominansi rambai laut (Sonneratia caseolaris) baik pada tingkat pohon (INP = 287.97%; kerapatan 158 individu/ha), pancang (INP = 160.50%; kerapatan 3.520 individu/ha) dan semai (INP = 83.33%; kerapatan 1.500 individu/ha). Kerapatan dan INP jenis pada habitat bekantan di komunitas rambai tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4. Kerapatan dan INP jenis pada habitat bekantan di komunitas rambai

No Jenis K (ind/ha) FR (%) KR (%) DR (%) INP (%)

Pohon 1 Sonneratia caseolaris 158 90.91 98.44 98.62 287.97 2 Aglaia sp. 3 9.09 1.56 1.38 12.03 160 100.00 100.00 100.00 300.00 Pancang 1 Sonneratia caseolaris 3 520 46.15 46.56 67.79 160.50 2 Glochidion rubrum 1 400 38.46 18.52 7.51 64.49 3 Ardisia elliptica 2 640 15.38 34.92 24.70 75.00 7 560 100.00 100.00 100.00 300.00 Semai 1 Sonneratia caseolaris 1 500 33.33 50.00 - 83.33 2 Glochidion rubrum 1 250 33.33 41.67 - 75.00 3 Ardisia elliptica 250 33.33 8.33 - 41.67 3 000 100.00 100.00 - 200.00

Keterangan: K = Kerapatan; FR = Frekuensi Relatif; KR = Kerapatan Relatif; DR = Dominansi Relatif; INP = Indeks Nilai Penting

Jenis liana, herba, dan tumbuhan lainnya di dalam dan di luar petak pengamatan diantaranya adalah Acanthus ilicifolius, Acrostichum aureum, Deris

fruticans. Kondisi habitat bekantan di komunitas rambai seperti tersaji pada Gambar 10.

Gambar 10. Kondisi habitat bekantan di komunitas rambai

38

Jenis yang dijumpai pada petak pengamatan di komunitas rambai-riparian terdapat 27 jenis. Vegetasi tingkat pohon didominansi oleh jenis S. caseolaris

(INP = 77.76%; kerapatan 60 individu/ha), tingkat pancang dan semai didominansi oleh jenis Ardisia elliptica (INP = 132.28%; kerapatan 4.560 individu/ha dan INP = 38.47%; kerapatan 5.000 individu/ha). Kerapatan dan INP jenis pada komunitas rambai-riparian tersaji pada Tabel 5 dan Lampiran 5, sedangkan kondisi habitat seperti pada Gambar 11.

Tabel 5. Kerapatan dan INP lima jenis tertinggi pada habitat bekantan di komunitas rambai-riparian

No Jenis K (ind/ha) FR (%) KR (%) DR (%) INP (%)

Pohon 1 Sonneratia caseolaris 60 11.76 24.00 42.00 77.76 2 Cerbera manghas 53 8.82 21.00 14.98 44.80 3 Ardisia elliptica 40 14.71 16.00 6.44 37.15 4 Syzygium polyanthum 18 8.82 7.00 9.17 25.00 5 Elaeocarpus stipularis 23 8.82 9.00 4.26 22.08 Pancang 1 Ardisia elliptica 4 560 23.33 55.07 53.87 132.28 2 Sonneratia caseolaris 800 3.33 9.66 14.67 27.67 3 Guioa diplopetala 640 6.67 7.73 11.18 25.58 4 Glochidion rubrum 320 13.33 3.86 1.24 18.43 5 Cerbera manghas 560 3.33 6.76 6.96 17.06 Semai 1 Ardisia elliptica 5 000 16.00 22.47 - 38.47 2 Teijsmanniodendron coriaceum 4 500 8.00 20.22 - 28.22 3 Ficus sp. 2 2 250 16.00 10.11 - 26.11 4 Elaeocarpus stipularis 2 500 12.00 11.24 - 23.24 5 Melastoma malabathricum 3 000 8.00 13.48 - 21.48

Keterangan: K = Kerapatan; FR = Frekuensi Relatif; KR = Kerapatan Relatif; DR = Dominansi Relatif; INP = Indeks Nilai Penting

Jenis palem, liana dan herba lainnya yang berada di dalam dan di luar petak pengamatan pada komunitas rambai-riparian diantaranya adalah Nipa fruticans,

Acanthus ilicifolius, Acrostichum aureum, Bauhinia sp., Calamus sp., Deris sp.,

Derris trifoliata, Flagellaria sp., Mikania scandens, Rhaphidophora sp., Scleria

sp., Uncaria sp., dan Famili Zingiberaceae.

Jumlah jenis tumbuhan yang dijumpai pada petak pengamatan di komunitas riparian adalah 47 jenis. Vegetasi tingkat pohon didominansi oleh jenis Vitex pinnata (INP = 108.98%; kerapatan 242.5 individu/ha), tingkat pancang dan

semai didominansi oleh jenis Elaeocarpus stipularis (INP = 73.03%; kerapatan 400 individu/ha dan INP = 36.54%; kerapatan 2250 individu/ha). Kerapatan dan INP jenis pada komunitas riparian tersaji pada Tabel 6 dan Lampiran 6, sedangkan kondisi habitat seperti pada Gambar 12.

Tabel 6. Kerapatan dan INP lima jenis tertinggi pada habitat bekantan di komunitas riparian

No Jenis K (ind/ha) FR (%) KR (%) DR (%) INP (%)

Pohon 1 Vitex pinnata 243 18.75 44.50 45.74 108.98 2 Elaeocarpus stipularis 135 18.75 24.77 13.13 56.65 3 Heynea trijuga 98 14.58 17.89 11.47 43.94 4 Hevea brasiliensis 3 2.08 0.46 12.36 14.90 5 Artocarpus elasticus 10 6.25 1.83 1.86 9.94 Pancang 1 Elaeocarpus stipularis 400 17.16 12.66 43.21 73.03 2 Leea indica 200 27.61 6.33 6.12 40.06 3 Heynea trijuga 240 6.72 7.59 8.11 22.42 4 Baccaurea motleyana 280 4.10 8.86 2.79 15.75 5 Garcinia parvifolia 80 2.61 2.53 6.63 11.77 Semai 1 Elaeocarpus stipularis 2 250 17.39 19.15 - 36.54 2 Leea indica 1 500 13.04 12.77 - 25.81 3 Ficus sp. 1 1 000 8.70 8.51 - 17.21 4 Urophyllum sp. 750 6.52 6.38 - 12.90 5 Baccaurea motleyana 500 4.35 4.26 - 8.60

Keterangan: K = Kerapatan; FR = Frekuensi Relatif; KR = Kerapatan Relatif; DR = Dominansi Relatif; INP = Indeks Nilai Penting

Jenis liana dan herba lainnya yang berada di dalam dan di luar petak pengamatan pada komunitas riparian diantaranya adalah Bauhinia sp., Calamus

sp., Embelia sp., Flagellaria sp., Imperata cylindrica, Meremia sp., Mikania scandens, Rhaphidophora sp., dan Stenochlaena palustris.

40

Gambar 12. Kondisi habitat bekantan di komunitas riparian Profil Habitat

Berdasarkan profil habitat yang dibuat pada komunitas riparian, menunjukkan kondisi pohon (dbh > 10 cm) rapat (400 pohon/ha), tajuk saling tumpang tindih satu dengan lainnya, dan hanya 1.2% pohon yang ketinggiannya lebih dari 15 m. Pada jarak sekitar 75 m dari tepi sungai sudah tidak dijumpai vegetasi tingkat pohon, yang ada hanya padang rumput dan semak belukar. Kerapatan pohon di komunitas rambai dan komunitas rambai-riparian hampir sama yaitu 155 pohon/ha dan 165 pohon/ha. Pada habitat komunitas rambai masih terdapat pohon S. caseolaris yang tinggi dan berdiameter besar, demikian juga di habitat rambai-riparian, namun jumlahnya lebih sedikit, sedangkan daerah tepi sungai didominansi oleh nipah (Nipa fruticans). Kondisi tajuk yang diskontinyu pada komunitas rambai dan rambai-riparian menyebabkan seluruh permukaan tanah tertutup oleh tumbuhan bawah. Profil habitat pada komunitas rambai, komunitas rambai-riparian dan komunitas riparian tersaji pada Gambar 13, 14 dan 15, sedangkan data pohon dalam profil tersaji pada Lampiran 7, 8, dan 9.

42

44

Kesamaan Komunitas

Komunitas tumbuhan pada tiga lokasi habitat bekantan berbeda antara satu dengan lainnya. Hal itu dapat dilihat berdasarkan indeks kesamaan komunitas Jaccard yang menunjukkan bahwa komunitas rambai-riparian dengan komunitas riparian memiliki kesamaan komunitas sebesar 0.28, komunitas rambai dengan komunitas rambai-riparian sebesar 0.13, sedangkan komunitas rambai dengan komunitas riparian hanya 0.06 (Tabel 7).

Tabel 7 Matrik indeks kesamaan komunitas Jaccard antar tiga lokasi habitat. Komunitas rambai Komunitas rambai-riparian Komunitas riparian Komunitas rambai 1.00 0.13 0.06 Komunitas rambai-riparian 1.00 0.28 Komunitas riparian 1.00

Populasi dan Penyebaran

Populasi bekantan yang teramati secara langsung adalah sekitar 143 ekor. Populasi bekantan tersebut sebanyak 98 ekor yang terbagi dalam 9 kelompok dapat diidentifikasi dan dikenali oleh peneliti, sedangkan 45 ekor lainnya tidak dapat dipastikan jumlah kelompoknya. Hal itu dikarenakan keterbatasan peneliti untuk dapat mengidentifikasi seluruh kelompok, setiap kelompok memiliki daerah jelajahnya masing-masing dan antar kelompok saling tumpang tindih. Sembilan kelompok bekantan yang dapat diidentifikasi, 6 kelompok diantaranya adalah one male group (OMG), yang berada di komunitas rambai sebanyak satu kelompok, di komunitas rambai-riparian empat kelompok dan di komunitas riparian satu kelompok. Tiga kelompok lainnya adalah all male group (AMG), yang tersebar di komunitas rambai sebanyak dua kelompok dan satu kelompok di komunitas riparian. Bekantan yang tidak dapat diidentifikasi seluruhnya berada di komunitas rambai. Sex ratio yang dihitung berdasarkan jumlah individu dewasa dan remaja pada pada kelompok OMG adalah 1: 3.9. Komposisi kelompok tersaji pada Tabel 8. Penyebaran bekantan pada habitat berdasarkan indikasi titik perjumpaan dan informasi masyarakat tersaji pada Gambar 16.

Tabel 8 Komposisi kelompok bekantan di Kuala Samboja

Lokasi/Komunitas Kelompok Jumlah JD JR BD BR An By

Riparian AMG 1 6 2 4 Riparian Raja 10 1 1 3 1 3 1 Rambai-Riparian Zacky 12 1 6 4 1 Rambai-Riparian Becky 12 1 5 1 3 2 Rambai-Riparian J-Bond 15 1 6 2 3 3 Rambai-Riparian Baha 5 1 3 1 Rambai AMG 2 15 4 8 3 Rambai AMG 3 13 3 8 2 Rambai Stan 10 1 1 4 4 Rambai Unidentified 45 Total 143 15 22 27 4 23 7

Keterangan: JD=jantan dewasa; JR=jantan remaja; BD=betina dewasa; BR=betina remaja; An=anak; By=bayi

Gambar 16 Indikasi titik penyebaran bekantan di Kuala Samboja.

Pengenalan Kelompok

Kelompok yang dipilih menjadi sampel dalam pengamatan perilaku sebanyak tiga kelompok. Alasan pemilihan kelompok sampel diantaranya adalah: mewakili tiga komunitas habitat, mudah mengenali kelompok, bisa dibedakan dengan kelompok yang lain, dan bisa diikuti pergerakan hariannya. Selanjutnya dilakukan pengenalan kelompok sampel dan habituasi. Bekantan di lokasi ini berdekatan dengan aktivitas masyarakat, sehingga sudah terbiasa dengan

46

kehadiran manusia dalam jarak yang relatif dekat. Hal tersebut sangat membantu dalam proses habituasi. Deskripsi tiga kelompok sampel tersebut adalah sebagai berikut:

Kelompok Stan : Kelompok yang mewakili komunitas habitat rambai. Jumlah individu 10 ekor, yang terdiri dari 1 ekor jantan dewasa, 1 ekor jantan remaja, 4 ekor betina dewasa dan 4 ekor anak. Kelompok ini lebih dicirikan dengan masih adanya keberadaan jantan remaja dalam kelompok.

Kelompok Zacky : Kelompok yang mewakili komunitas habitat rambai- riparian. Jumlah individu 12 ekor, yang terdiri dari 1 ekor jantan dewasa, 6 ekor betina dewasa, 4 ekor anak dan 1 ekor bayi. Aktivitas kelompok ini simpatrik dengan kelompok

Becky yang jumlahnya juga 12 ekor, namun berbeda dalam struktur umurnya. Selain itu jantan dewasa pada kelompok

Becky dicirikan dengan postur tubuh yang lebih besar. Kelompok Raja : Kelompok yang mewakili komunitas habitat riparian.

Jumlah individu sebanyak 9 ekor, yang terdiri dari 1 ekor jantan dewasa, 1 ekor jantan remaja, 3 ekor betina dewasa, 1 ekor betina remaja dan 3 ekor anak. Kelompok ini mudah dikenali, karena hanya ada dua kelompok yang menggunakan habitat ini. Kelompok yang hidup simpatrik dengan kelompok ini adalah kelompok all-male group. Proporsi Aktivitas

Secara umum pola proporsi aktivitas (time budget) harian kelompok Stan

dan Zacky hampir sama. Aktivitas makan tertinggi pada kelompok Stan (33.4%), aktivitas bergerak dan tidur paling banyak pada kelompok Raja (20.5% dan 28.1%), istirahat dan sosial tertinggi pada kelompok Zacky (37% dan 2.1%) (Gambar 17).

tidur makan bergerak sosial istirahat

Gambar 17 Perbandingan proporsi aktivitas tiga kelompok bekantan Stan (a),

Zacky (b) dan Raja (c) di Kuala Samboja.

Berdasarkan analisis Chi square dengan didasarkan nilai frekuensi harapan menurut Bismark (1986) menunjukkan kesamaan proporsi aktivitas bekantan di TN Kutai dengan kelompok Zacky (χ2 = 8.55; db = 2; p < 0.01) dan Raja (χ2 = 0.04; db = 2; p < 0.01), sedangkan kelompok Stan proporsi aktivitasnya berbeda (χ2 = 15.48; db = 2; p < 0.01).

(a) (b)

istirahat makan bergerak sosial tidur Gambar 18 Proporsi aktivitas bekantan jantan (a) dan betina (b) di Kuala

Samboja.

Berdasarkan jenis kelamin, betina memiliki aktivitas makan dan bergerak lebih tinggi (32.6% dan 11.5%) dibandingkan jantan (28.4% dan 10.6%), namun aktivitas istirahat (termasuk tidur) jantan lebih tinggi (61.0%) dari betina (53.3%). Proporsi aktivitas jantan dan betina tersaji pada Gambar 18. Aktivitas sosial

48

hanya dilakukan oleh betina saja, yaitu sebesar 2.5%, meliputi aktivitas

allogrooming dan menyusui. Allogrooming dilakukan oleh betina dewasa terhadap betina dewasa lain atau betina dewasa terhadap anaknya.

Aktivitas Harian

Aktivitas makan kelompok Stan meningkat mulai pagi hari pukul 06.00 sampai dengan 08.00, kemudian cenderung menurun pada siang hari sekitar pukul 10.00 - 13.00. Pada sore hari pukul 16.00 - 17.00 aktivitas makan meningkat mencapai 69%. Aktivitas istirahat banyak dilakukan pada siang hari pukul 10.00 - 13.00 berkisar antara 71 - 90%. Aktivitas istirahat pada siang hari banyak dilakukan oleh bekantan untuk tidur, yaitu berkisar 34 - 78%. Aktivitas bergerak banyak dilakukan pada pukul 14.00 - 15.00, yaitu sebesar 20% (Gambar 19). Berdasarkan analisis statistik aktivitas kelompok Stan mempunyai preferensi waktu tertentu untuk beraktivitas makan (χ2= 100.7; p < 0.01; n = 479), bergerak (χ2= 104.8; p < 0.01; n = 60) dan istirahat (χ2= 70.8; p < 0.01; n = 873). Aktivitas sosial tidak ada preferensi waktu tertentu untuk beraktivitasnya (χ2= 13.6; p < 0.01; n = 20).

makan tidur istirahat bergerak sosial Gambar 19 Aktivitas harian kelompok Stan.

Aktivitas makan kelompok Zacky mulai pagi hari sampai pukul 14.00 tidak banyak mengalami perubahan hanya pada pukul 10.00 - 12.00 aktivitas makannya menurun seiring dengan aktivitas istirahat dan tidur yang tinggi. Pukul 14.00 aktivitas makan dan bergerak mulai meningkat kembali sampai pukul 17.00 menjelang istirahat di pohon tidur, dengan ditandai aktivitas istirahat diam yang meningkat. Grafik aktivitas harian kelompok Zacky tersaji pada Gambar 20. Aktivitas istirahat pada pagi hari banyak digunakan untuk tidur, sedangkan pada sore hari cenderung digunakan untuk istirahat diam. Aktivitas istirahat tidur mulai teramati sejak pagi hari sampai pukul 15.00, dan aktivitas tidur tertinggi terjadi pada tengah hari pukul 11.00 - 12.00, sebesar 24% saat kondisi matahari panas terik. Berdasarkan analisis statistik aktivitas kelompok Zacky menunjukkan adanya preferensi waktu tertentu untuk beraktivitas makan (χ2= 67.1; p < 0.01; n = 403), bergerak (χ2= 44.6; p < 0.01; n = 114), sosial (χ2= 60.8; p < 0.01; n = 26), dan istirahat (χ2= 76.9; p < 0.01; n = 757).

makan tidur istirahat bergerak sosial Gambar 20 Aktivitas harian kelompok Zacky.

50

Aktivitas makan kelompok Raja dilakukan mulai pagi hari dan menurun pada pukul 10.00 - 12.00, kemudian cenderung meningkat lagi sampai sore pukul 17.00. Aktivitas bergerak kelompok Raja dibandingkan dua kelompok lainnya terlihat tidak beraturan pada waktu tertentu aktivitasnya sangat tinggi mencapai lebih dari 70%, namun pada jam tertentu sama sekali tidak melakukan pergerakan. Grafik aktivitas harian kelompok Raja tersaji pada Gambar 21. Berdasarkan analisis statistik aktivitas kelompok Raja menunjukkan adanya preferensi waktu tertentu untuk melakukan aktivitas makan (χ2= 130; p < 0.01; n = 392), bergerak (χ2 = 338.8; p < 0.01; n = 286), dan istirahat (χ2 = 168.9; p < 0.01; n = 709), sedangkan aktivitas sosial tidak ada preferensi waktu tertentu (χ2= 16.6; p < 0.01; n = 5).

makan tidur istirahat bergerak sosial Gambar 21 Aktivitas harian kelompok Raja.

Pergerakan horizontal

Rata-rata jarak pergerakan harian ketiga kelompok bekantan adalah 320.4 m dengan kisaran 25.7-749.9 m. Pergerakan harian kelompok Stan meliputi daerah di sekitar kanal Handil Jamur dan bekas tambak masyarakat. Koordinat pergerakannya berkisar antara 01o01’45” s/d 01o02’05” LS dan 117o10’50” s/d

117o11’25” BT. Pergerakan harian kelompok Stan rata-rata 289.2 m (96.6 - 537.5 m). Pergerakan harian kelompok Stan tersaji pada Gambar 22. Core area yang digunakan adalah pada pohon S. caseolaris, yaitu sebagai sumber pakan, pohon tidur dan tempat untuk beraktivitas. Pohon lain yang sering digunakan untuk beristirahat pada siang hari adalah pohon Aglaia sp.

Pergerakan kelompok Zacky adalah di sekitar jembatan Kumala yang berdekatan dengan jalan raya dan permukiman penduduk. Kelompok ini sering menggunakan pohon S. caseolaris yang berada sekitar 15 - 20 m dari jalan raya. Koordinat pergerakannya berkisar antara 01o01’40” s/d 01o01’50” LS dan 117o09’12” s/d 117o12’42” BT. Jarak jelajah harian kelompok Zacky rata-rata adalah 260.7 m (25.7 – 482.8 m). Pergerakan harian kelompok Zacky tersaji pada Gambar 23. Pohon yang sering digunakan untuk istirahat pada siang hari selain S. caseolaris adalah Syzygium polyanthum, sedangkan pohon tidurnya adalah S. caseolaris dan Aglaia sp.

Gambar 22 Pergerakan kelompok Stan tanggal 25-26 Nopember dan 18-25 Desember 2011.

52

Gambar 23 Pergerakan kelompok Zacky pada tanggal 30 September s/d 10 Oktober 2011.

Pergerakan kelompok Raja adalah di sekitar kebun buah dan karet masyarakat, dibelakang perusahaan pengolah limbah sampai di sekitar kanal Sungai Jerangin. Koordinat pergerakan harian berkisar antara 01o01’15” s/d 01o00’30” LS dan 117o09’05” s/d 117o09’40” BT. Jarak pergerakan harian kelompok Raja rata-rata adalah 449 m (109.9 – 749.9 m). Pergerakan harian tersaji pada Gambar 24. Kelompok Raja menggunakan pohon V. pinnata, H. braziliensis, dan Artocarpus elasticus sebagai pohon tidurnya.

Jarak pergerakan harian tiga kelompok yang diamati secara statistik berbeda antara yang satu dengan yang lain. Antara kelompok Stan dengan Zacky berbeda secara signifikan (U = 39; n1 = 9; n2 = 9; α = 0.01), demikian pula kelompok Stan

dengan Raja (U = 14; n1 = 5; n2 = 9; α = 0.01), dan Zacky dengan Raja (U = 15; n1 = 5; n2 = 9; α = 0.01).

Luas home range kelompok Stan adalah 4.92 ha, sedangkan kelompok

Zacky seluas 4.52 ha. Home range kelompok Zacky sebagian besar tumpang tindih dengan kelompok Becky dan sedikit bersinggungan dengan kelompok J- Bond. Home range kelompok Raja adalah seluas 6.92 ha. Peta home range

kelompok Stan, Becky dan Raja masing tersaji pada Lampiran 10, 11 dan 12. Pemanfaatan Strata Tajuk

Aktivitas makan dan bergerak kelompok Stan dan Zacky banyak dilakukan pada ketinggian 0 - 3 m (36.9% dan 76.8%). Kedua kelompok tersebut berbeda dalam aktivitas sosial dan istirahatnya, dimana lebih dari 60% aktivitas sosial dan istirahat kelompok Stan pada ketinggian > 6 m, sedangkan kelompok Zacky pada ketinggian < 6 m. Hal yang berbeda ada pada kelompok Raja yang aktivitasnya sebagian besar dilakukan pada strata tengah dan atas.

T in g g i (m )

Makan (N=733) Bergerak (N=95) Istirahat (N=669) Tidur (N=497) Total (N=2021)

Aktivitas (%)

54

Kelompok Stan secara umum menggunakan seluruh strata pada habitat untuk beraktivias. Aktivitas makan dan bergerak banyak dilakukan pada ketinggian 0-3 m, bahkan aktivitas bergerak lebih dari 55% dilakukan pada ketinggian ini. Penggunaan strata untuk aktivitas istirahat dan tidur memiliki pola yang hampir sama yaitu lebih banyak dilakukan di ketinggian 9-12 m (Gambar 25). Perhitungan statistik menunjukkan bahwa terdapat preferensi penggunaan strata pohon pada aktivitas secara umum (χ2= 229.8; p < 0.01; db = 4; N = 2021), aktivitas makan (χ2= 207.5; p < 0.01; db = 4; N = 733), bergerak (χ2=192.1; p < 0.01; db = 4; N = 95), istirahat (χ2= 120.1; p < 0.01; db = 4; N = 696), dan tidur (χ2= 124.1; p < 0.01; db = 4; N = 497).

Kelompok Stan menggunakan strata atas (lebih dari 12 m) masih cukup tinggi, yaitu sebanyak 16.8%. Hal tersebut dikarenakan pada habitatnya di komunitas rambai masih banyak dijumpai pohon dengan ketinggian lebih dari 12 m. Jika dilihat di dalam petak analisis vegetasi yang dibuat, terdapat sebanyak 20 pohon (7.9%) memiliki ketinggian berkisar antara 12-19 m (Gambar 26).

T

ingg

i (

m

)

Diameter pohon (cm) Aktivitas bekantan (%)

Gambar 26 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas kelompok Stan.

Kelompok Zacky secara umum menggunakan strata ketinggian paling banyak pada ketinggian 0-6 m dan berangsur-angsur menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian, kecuali pada aktivitas tidur yang lebih dari 40% dilakukan pada ketinggian 3-6 m dan tidak menggunakan strata lebih dari 12 m

(Gambar 27). Perhitungan statistik menunjukkan terdapat preferensi pemilihan ketinggian strata pohon terhadap aktivitas secara umum (χ2= 532.6; p < 0.01; db = 4; N = 1809), aktivitas makan (χ2= 120.6; p < 0.01; db = 4; N = 495), bergerak (χ2 =234.8; p < 0.01; db = 4; 156), istirahat (χ2= 170.5; p < 0.01; db = 4; N = 664), dan tidur (χ2= 265.0; p < 0.01; db = 4; N = 494).

Kelompok Zacky menggunakan strata atas (lebih dari 12 m) hanya sebanyak 5.6%. Hal tersebut dikarenakan pada habitatnya di komunitas rambai-riparian, pohon dengan tinggi lebih dari 12 m jumlahnya lebih sedikit dibandingkan di komunitas rambai. Jika dilihat di dalam petak analisis vegetasi yang dibuat, hanya 4.6% pohon yang tingginya berkisar 12-18 m (Gambar 28).

T in g g i (m )

Makan (N=495) Bergerak (N=156) Istirahat (N=664) Tidur (N=494) Total (N=1809)

Aktivitas (%)

Gambar 27 Persentase penggunaan strata tajuk oleh kelompok Zacky.

T

inggi

(

m

)

Diameter pohon (cm) Aktivitas bekantan (%) Gambar 28 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas

56

Aktivitas kelompok Raja dalam menggunakan strata ketinggian banyak dilakukan pada ketinggian 3-9 m. Aktivitas makan dan bergerak banyak dilakukan pada ketinggian 3-9 m, istirahat banyak dilakukan pada ketinggian 6-12 m, sedangkan tidur rata-rata dilakuka pada ketinggian diatas 6 m dan tidak pernah di lakukan di bawah (Gambar 29). Perhitungan statistik menunjukkan bahwa terdapat preferensi penggunaan strata pohon terhadap aktivitas secara umum (χ2= 435.8; p < 0.01; db = 4; N = 1695), aktivitas makan (χ2= 167.8; p < 0.01; db = 4; N = 536), bergerak (χ2= 209.1; p < 0.01; db = 4; 264), istirahat (χ2= 149.1; p < 0.01; db = 4; N = 394), dan tidur (χ2= 205.1; p < 0.01; db = 4; N = 501). T in g g i (m )

Makan (N=536) Bergerak (N=264) Istirahat (N=394) Tidur (N=501) Total (N=1695)

Aktivitas (%)

Gambar 29 Persentase penggunaan strata tajuk oleh kelompok Raja.

K et inggi an ( m )

Diameter pohon (cm) Aktivitas bekantan (%) Gambar 30 Grafik rata-rata tinggi pohon dengan persentase ketinggian aktivitas

Komunitas riparian banyak dijumpai pohon dengan tinggi 12 m ke atas namun pohon-pohon tersebut sebagian besar berdiameter kecil. Jika dilihat di dalam petak analisis vegetasi yang dibuat, sebanyak 59 pohon dengan tinggi > 12 m, 56% diantaranya berdiameter kurang dari 20 cm, sehingga bekantan banyak melakukan aktivitas di strata tengah (Gambar 30).

Jenis Pakan

Sekurang-kurangnya terdapat 21 jenis tumbuhan sumber pakan bekantan di Kuala Samboja. Sebanyak 12 jenis berhabitus pohon, 2 jenis pohon kecil, 5 jenis liana, 1 jenis paku-pakuan dan 1 jenis semak. Berdasarkan perhitungan IARF menunjukkan bahwa lima jenis tumbuhan paling disukai bekantan. Jenis tersebut adalah rambai laut (Sonneratia caseolaris), laban (Vitex pinnata), Deris sp., karet (Hevea braziliensis) dan api-api (Avicenia cf. officinalis). Jenis tumbuhan sumber pakan bekantan dan bagian yang makan tersaji pada Tabel 9.

58 Tabel 9 Jenis tumbuhan sumber pakan bekantan di Kuala Samboja

No Suku Jenis Habitus Bagian dimakan IARF Relatif

(%)

Kelompok teramati

Habitat Daun Buah Bunga Pucuk Tangkai batang

1 Sonneratiaceae Sonneratia caseolaris Pohon 82 34.5 3-10 A, B

2 Verbenaceae Vitex pinnata Pohon √b a

46 19.3 1-6 B, C

3 Leguminosae-pap. Deris sp. Liana 18 7.6 3, 9 A, B

4 Euphorbiaceae Hevea brasiliensis Pohon √b

17 7.1 1-2 C

5 Avicenniaceae Avicenia cf. officinalis Pohon 13 5.5 7-8 A

6 Acanthaceae Acanthus ilicifolius Semak 9 3.8 9 A

7 Araceae Raphidophora sp. Liana 9 3.8 3, 9 A, B

8 Leguminosae-caes. Bauhinia sp. Liana 6 2.5 2 C

9 Leguminosae-pap. Derris trifoliata Liana 6 2.5 3 B

10 Elaeocarpaceae Elaeocarpus stipularis Pohon √a b

5 2.1 1-2 C

11 Flagellariaceae Flagelaria sp. Liana 4 1.7 3-5, 9 A, B

12 Malvaceae Hibiscus tiliaceus Pohon 4 1.7 1-2 C

13 Dipterocarpaceae Vatica pauciflora Pohon 4 1.7 1-2 C

14 Anacardiaceae Buchanania arborescens Pohon 3 1.3 2 C

15 Rubiaceae Oxyceros longiflora Pohon kecil 3 1.3 5 B

16 Euphorbiaceae Baccaurea motleyana Pohon 2 0.8 2 C

17 Verbenaceae Teijsmanniodendron

coriaceum

Pohon kecil 2 0.8 5 B

18 Myrtaceae Syzygium sp Pohon 2 0.8 10 A

19 Dilleniaceae Dillenia suffruticosa Pohon 1 0.4 2 C

20 Meliaceae Sandoricum koetjape Pohon 1 0.4 1 C

21 Blechnaceae Stenochlaena palustris Paku-pakuan 1 0.4 2 C

238 100

Keterangan: Kelompok : 1. AMG1; 2. Raja; 3. Zacky; 4. Becky; 5. J-Bond; 6. Baha; 7. AMG2; 8. AMG3; 9. Stan; 10. Unidentified. Habitat : A = Komunitas rambai; B = Komunitas rambai-riparian; C = Komunitas riparian

PEMBAHASAN

Tekanan Terhadap Habitat

Tekanan isolasi dan fragmentasi habitat bekantan di Kuala Samboja diperkirakan akan semakin besar dimasa yang akan datang. Hal itu dikarenakan semakin berkembangnya daerah, jumlah penduduk semakin meningkat, dan banyaknya perusahaan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit. Perkembangan daerah diantaranya adalah dengan adanya rencana pemekaran wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi Kabupaten Kutai Pesisir, yang meliputi kecamatan yang ada di tepi pantai seperti Kecamatan Samboja, Anggana, dan Muara Jawa. Pemekaran wilayah di tingkat kelurahan juga direncanakan pada kelurahan Kuala Samboja yang akan dibagi menjadi Kelurahan Kuala Samboja dan Kelurahan Kampung Lama. Berdasarkan Monografi kecamatan Samboja menunjukkan pertambahan penduduk di Kecamatan Samboja pada tahun 2011 adalah sebesar 3.16%, sedangkan pertambahan penduduk di Kelurahan Kuala Samboja adalah sebesar 1.45%. Pembukaan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit di daerah Samboja dan sekitarnya juga sangat berperan

Dokumen terkait