• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Lokasi

Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2011 s/d Februari 2012 di habitat bekantan di Kelurahan Kuala Samboja, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah perahu kelotok 5 HP (horse power), GPS

receiver Garmin CSx60, binocular Brunton 10 x 40, laser distance measurement, komputer dengan software ArcView 3.3 dan MapSources, kamera DSLR, lensa 300 mm, kompas, pita meter, roll meter, pengering herbarium, dan stopwatch. Bahan yang digunakan adalah kertas koran, kertas label herbarium, flagging tape, kertas milimeter blok, kertas kalkir, Snowman drawing pen, peta dasar digital

provinsi Kalimantan Timur dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) IV Kalimantan, dan peta Kuala Samboja dari GoogleEarth yang diakses tahun 2010.

Metode Kerja Pemetaan Fisik

Pengambilan data fisik sungai dilakukan dengan GPS-tracking menyusuri sungai termasuk anak sungai sejauh bisa dijangkau menggunakan perahu. Kondisi lingkungan lain di sekitarnya seperti jalan raya, jalan setapak dan jembatan diambil koordinat dan data track-nya. Sungai yang dipetakan adalah areal yang di sekitarnya digunakan sebagai habitat bekantan. Kondisi fisik sungai dan vegetasi secara umum didigitasi dari peta GoogleEarth dan sistem koordinatnya disesuaikan dengan hasil pengambilan data track dan koordinat di lapangan serta data peta dasar dari BPKH Kalimantan.

Berdasarkan hasil pemetaan fisik sungai, selanjutnya dilakukan identifikasi lahan sekitar berdasarkan informasi dari ketua RT setempat dan informasi dari masyarakat sekitar. Selanjutnya dilakukan checking ground untuk mengetahui

penggunaan lahan. Peta kondisi fisik sungai, habitat dan lahan di sekitarnya di- overlay dengan softwareArcView 3.3.

Habitat

Habitat di areal ini dibagi menjadi tiga komunitas yang mewakili tipe habitat bekantan. Deskripsi pembagian komunitas adalah sebagai berikut:

1. Komunitas rambai:

Habitat bekantan yang mewakili daerah bawah paling dekat dengan muara sungai, yaitu berjarak sekitar 1.75 km. Lokasi ini sebagian besar adalah bekas tambak masyarakat yang sudah tidak aktif. Ditumbuhi oleh jenis mangrove, nipah dan tumbuhan bawah. Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan hampir selalu tergenang air. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 180 cm.

2. Komunitas rambai-riparian:

Habitat bekantan yang mewakili daerah tengah yang berjarak sekitar 2.63 km dari muara sungai. Habitatnya berdekatan dengan permukiman penduduk dan jalan raya Balikpapan-Handil Dua. Dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan ditumbuhi jenis mangrove, nipah dan jenis-jenis riparian. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 130 cm.

3. Komunitas riparian:

Habitat bekantan yang mewakili daerah atas yang berjarak sekitar 3.78 km dari muara sungai. Habitatnya berbatasan langsung dengan kebun masyarakat dan areal penggembalaan ternak. Masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan ditumbuhi oleh jenis-jenis riparian. Pada saat air laut pasang atau terjadi banjir ketinggian air mencapai 80 cm.

Struktur dan komposisi vegetasi penyusun habitat diketahui dengan analisis vegetasi menggunakan metode garis berpetak, modifikasi dari Soerianegara dan Indrawan (1998). Masing-masing lokasi dibuat jalur sepanjang 200 m dengan lebar 20 m yang diletakkan secara purposive pada habitat, sehingga total petak

28

yang dibuat sebanyak 30 petak (1.2 ha). Jalur kemudian dibagi menjadi petak- petak berukuran 20 x 20 m untuk pengamatan vegetasi tingkat pohon atau berhabitus pohon (diameter > 10 cm), sub-petak 5 x 5 m untuk vegetasi tingkat pancang (diameter < 10 cm; tinggi > 1,5 m), dan sub-petak 2 x 2 m untuk tingkat semai (semai s/d tinggi < 1.5 m). Data yang diambil adalah jenis tumbuhan, diameter (dbh=diameter breast height), dan tinggi. Jenis liana, rotan, dan jenis merambat lainnya dicatat kehadirannya.

Profil habitat dibuat sebanyak tiga buah masing-masing mewakili tiga tipe komunitas. Profil habitat dibuat pada lokasi yang menjadi home range bekantan, terutama pada sekitar pohon pakan, tempat beraktivitas atau pohon tidurnya. Profil habitat dibuat pada petak berukuran 20 x 100 m, memanjang tegak lurus tepi sungai (Gambar 8). Untuk memudahkan penentuan posisi pohon pada petak digunakan sistem koordinat y (sejajar jalur rintisan) dan x (10 m kekanan positif; 10 m ke kiri negatif). Data yang diambil adalah jenis pohon, dbh, tinggi bebas cabang, tinggi total, dan lebar tajuk (depan, belakang, kiri, kanan). Jenis tumbuhan yang ditemukan diambil spesimen herbariumnya untuk diidentifikasi lebih lanjut dan mendapatkan nama ilmiah di Herbarium Wanariset Samboja (WAN). Ketinggian air dicatat untuk penggambaran pasang tertinggi dan terendah pada profil habitat. Pengukuran dilakukan langsung di lapangan atau berdasarkan tanda-tanda pasang tertinggi pada batang pohon.

Gambar 8 Bentuk dan ukuran petak untuk penggambaran profil habitat.

0 20 40 60 80 100 -10 m 0 10 m ~ S unga i ~ Sumbu y ~ ~ S um bu x Jalur rintisan

Populasi

Perhitungan jumlah individu dilakukan dengan sensus secara langsung menggunakan metode konsentrasi dengan menggunakan perahu (Bennett & Sebastian 1988). Dalam metode ini penghitungan dilakukan pada semua individu dalam kelompok bekantan dari atas perahu di tepi kiri dan kanan sungai. Sensus dilakukan terutama pada pagi hari (06.00-10.00) saat bekantan masih berada di pohon tidur dan pada sore hari (14.00-18.00) saat bekantan menuju dan berada pada pohon tidur di tepi sungai. Perhitungan kelompok dan individu dilakukan bersamaan dengan pengambilan data fisik sungai.

Setiap perjumpaan dengan kelompok bekantan dicatat lokasi, waktu perjumpaan, jumlah individu, struktur umur dan jenis kelaminnya. Jenis kelamin dan kelas umur yang diamati pada penelitian ini didasarkan modifikasi dari Bennett dan Sebastian (1988). Kelas umur dan jenis kelamin yang diamati adalah 6 (enam) tingkat yaitu jantan dewasa, betina dewasa, jantan remaja, betina remaja, anak, dan bayi. Bayi bekantan dalam penelitian ini dikelompokkan dalam satu tingkat saja.

Habituasi dan Pengenalan Kelompok

Habituasi dilakukan untuk membiasakan bekantan dengan kehadiran peneliti, sehingga keberadaan peneliti tidak banyak berpengaruh terhadap perilakunya. Pemilihan kelompok yang diamati adalah kelompok one-male group

yang ada di komunitas rambai, komunitas rambai-riparian dan komunitas riparian. Pengenalan kelompok yang akan dijadikan sampel pengamatan dilakukan dengan mencatat ciri-ciri pada kelompok. Ciri-ciri kelompok yang dijadikan pembeda dengan kelompok lainnya adalah: jumlah individu dalam kelompok, jenis kelamin, struktur umur, dan tanda-tanda fisik individunya.

Pemanfaatan Ruang Habitat

Pengamatan pemanfaatan habitat dilakukan pada aktivitas bekantan secara horizontal dan vertikal (strata ketinggian). Daerah jelajah harian bekantan dilakukan dengan mengikuti kelompok bekantan melalui darat dan sungai, kemudian diambil data koordinat lokasinya setiap terjadi perpindahan.

30

Pengambilan titik koordinat sebisa mungkin pada posisi jantan dewasa, hal itu didasarkan pada asumsi bahwa jantan dewasa adalah pusat kelompok dan mempunyai akses yang lebih luas terhadap sumber daya yang ada dibandingkan dengan anggota kelompok yang lain. Pencatatan posisi dilakukan dengan menggunakan fasilitas sight and go pada GPS. Pada fasilitas tersebut GPS diarahkan pada posisi kelompok bekantan, kemudian dimasukkan data jarak antara GPS dengan lokasi kelompok bekantan. Pengukuran jarak menggunakan

laser distance measurement, namun jika tidak memungkinkan dilakukan dengan estimasi jarak.

Pengamatan pemanfaatan ruang secara vertikal dilakukan berdasarkan strata ketinggian vegetasi. Strata vegetasi dikelompokkan menjadi strata-strata, yaitu: 0- 3 m, 3.1-6 m, 6.1-9 m, 9.1-12 m, dan > 12 m. Pengamatan aktivitas yang dilakukan dalam pemanfaatan strata ketinggian dilakukan dengan metode

instantaneous sampling (Altmann 1974). Pencatatan dilakukan pada jantan dewasa dan betina dewasa yang menjadi target pengamatan setiap 30 menit dengan interval 1 menit mewakili aktivitas 12 jam (06.00-18.00). Pengamatan dilakukan pada tiga kelompok sampel, dengan total satuan pengamatan sebanyak 4.084 satuan waktu pengamatan (2.026 jantan dan 2.058 betina). Pengamatan secara tidak langsung dilakukan dengan mengamati bekas-bekas yang ditinggalkan seperti sisa pakan atau patahan ranting, jejak kaki dan feses. Perilaku bekantan yang diamati adalah pemanfaatan strata pohon dan aktivitasnya. Aktivitas bekantan meliputi aktivitas makan, bergerak, sosial, istirahat, dan tidur.

Informasi pendukung, seperti kejadian-kejadian lain atau jenis satwaliar lainnya pada saat pengamatan atau di luar waktu pengamatan dicatat dengan metode ad libitum. Pengamatan satwaliar, terutama jenis primata lainnya dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya interaksi atau tumpang tindih penggunaan habitat dengan bekantan.

Jenis Pakan

Pengamatan aktivitas makan dilakukan bersama dengan pengamatan pemanfaatan ruang. Untuk mengetahui jenis tumbuhan dan bagian yang disukai oleh bekantan dilakukan dengan metode IARF (individual activity records of

feeding) (Yeager 1989). Pada metode ini, satu jenis tumbuhan yang dimakan oleh satu individu bekantan yang teramati diberi nilai 1 (satu). Dicatat juga bagian dari tumbuhan yang dimakan, meliputi daun, pucuk daun, buah, bunga, batang, dan tangkai daun.

Analisis Data Habitat

Untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis flora diketahui dari Indeks Nilai Penting, yaitu jumlah dari frekuensi relatif, kerapatan relatif dan dominansi relatif (Mueller-Dombois & Ellenberg 1974). Khusus untuk vegetasi pada tingkat semai indeks nilai penting dihitung dengan cara menjumlahkan nilai kerapatan relatif dengan frekuensi relatif. Profil habitat disajikan dalam bentuk digambar profil dua dimensi pada kertas milimeter blok dengan proyeksi dari samping dan dari atas (penutupan tajuk), kemudian dianalisis secara deskriptif.

Untuk melihat seberapa besar persamaan antar habitat dilakukan dengan menghitung indeks kesamaan komunitas Jaccard (Ludwig & Reynolds 1988) dengan rumus:

JI

dimana:

JI : Indeks Jaccard

a : jumlah jenis pada lokasi A b : jumlah jenis pada lokasi B c : jumlah jenis pada lokasi A dan B

Populasi

Data kelompok, jumlah individu bekantan ditabulasi berdasarkan struktur umur, jenis kelamin dan dianalisis secara deskriptif.

Pemanfaatan Ruang Habitat

Titik koordinat pergerakan kelompok bekantan di-overlay dengan peta habitat dan grid 20 x 20 m (0.04 ha). Grid yang dilalui pergerakan bekantan di arsir dengan arsiran berbeda antara home range dan core area-nya. Home range

32

kelompok bekantan dihitung dengan menjumlahkan grid yang dilalui oleh kelompok bekantan kemudian dikalikan luas grid.

Pergerakan secara vertikal, dihitung persentase penggunaan strata tajuk pada aktivitas makan, bergerak, sosial, istirahat, dan tidur. Data ditampilkan dalam bentuk grafik dan dianalisis secara deskriptif. Signifikansi proporsi aktivitas dengan lokasi lain, preferensi pemanfaatan strata tajuk dan preferensi jam aktivitas bekantan dianalisis menggunakan uji Chi-square2

), dengan formula (Siegel 1990):

dimana:

Oi = banyak kasus diamati dalam kategori ke-i

Ei = banyak yang diharapkan dalam kategori ke-i di bawah Ho

∑ = penjumlahan semua kategori (k)

Hipotesis null (Ho) yang akan diuji adalah: 1) proporsi aktivitas bekantan dengan lokasi lainnya tidak berbeda, 2) tidak ada preferensi aktivitas harian bekantan pada jam-jam tertentu, 3) tidak ada preferensi ketinggian tajuk untuk aktivitas bekantan. Kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai χ2 hitung lebih besar daripada χ2 tabel pada p = 0.01.

Perbedaan pergerakan harian (daily range) antar kelompok bekantan dianalisis dengan uji U Mann-Whitney (Siegel 1990):

2

atau

2

dimana:

n1 = banyaknya kasus dalam kelompok yang lebih kecil

n2 = banyaknya kasus dalam kelompok yang lebih besar

R1/R2 = jumlah ranking pada kelompok n1/n2

Hipotesis null (Ho) yang akan diuji adalah jarak pergerakan harian antar kelompok bekantan tidak berbeda. Kaidah keputusannya adalah menolak Ho jika nilai U lebih besar daripada U tabel pada p = 0.01.

Jenis pakan yang digunakan oleh bekantan dijumlah skor masing-masing jenis tumbuhan dan bagian yang dimakan kemudian di ranking untuk mendapatkan jenis-jenis yang disukai. Data tampilkan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif.

Dokumen terkait