ii ABSTRACT
The Effect of Type of Silo to The Additive Ramie Leaf (Boehmeria nivea, L . Gaud) Silage Quality Dipa Argadyasto, Despal and Ibnu Katsir Amrullah
Ramie leaves are byproduct of Ramie plantation. The plant is grown to produce fiber, raw material for textile industries. Annually, per ha of ramie plantation could produce up to 300 tons forage fresh material or equivalent with 42 tons of dry matter (DM). Currently, the leaves are under utilized. An attempt to increase ramie leaves utilization through fresh forage preservation technique (ensilage) have been done in two different type of silo. Silo portable (plastic bag for small capacity) and trench silo (for a larger scale) were compare of their impact on physical (odor, texture, moisture, color and spoilage), fermentative (pH, DM, VFA, DM degradation, CP, NH3, CP degradation, WSC and fleigh number) and utilities (fermentation and digestion) characteristics of silage produced. In general, silo portable (plastic bag) produced better physical characteristics of ramie silage in compare to trench. However, the different were not significantly shown by silage fermentative and utilities characteristics. In trench silo, up to 58% of the silage was spoiled, while in plastic bag there were no spoilage existed. Although extensive degradation (> 50%) of DM were occurred during ensilage in both silo, but only insignificant degradation (< 3%) of CP were found. The silage produced was categorized as quite good (NF 52% – 53%) silages. Ruminant utilities characteristics of both silages showed that the silages were highly fermentable in rumen with moderately digested (56% and 63%) in digestion tracts.
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak ruminansia secara fisiologis membutuhkan pakan sumber serat yang berasal dari hijauan seperti rumput dan leguminosa agar fungsi normal pencernaanya dapat berlangsung. Kendala yang belakangan ini dihadapi dalam penyediaan pakan hijauan adalah keterbatasan lahan tanam hijauan. Selain itu pada musim kemarau sering selain masalah keterbatasan hijauan, kuantitas dan kualitas nutrien yang terdapat pada hijauan umumnya lebih rendah. Dibutuhkan sumber hijauan alternatif yang dapat dimanfaatkan pada musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak ruminansia yang memiliki kualitas dan kandungan nutrien yang tinggi.
Daun rami merupakan hasil sampingan dari tanaman rami yang batangnya digunakan sebagai bahan baku industri kapas dan tekstil. Daun rami memiliki potensi sebagai pakan ternak karena kandungan nutriennya yang cukup baik. Kandungan protein kasar daun rami mencapai 21%, lemak kasar 4%, serat kasar 20%, bahan ekstrak tanpa nitrogen 46% dan mineral Ca 5,74% (Duarte., et al., 1997). Kandungan protein kasar daun rami yang terdapat di Indonesia lebih rendah yaitu 16,35% (Despal et al., 2007). Hingga saat ini pemanfaatan daun rami sebagai pakan ternak ruminansia belum terlalu optimal. Pemanenan daun rami umumnya dilakukan pada musim hujan, dimana pada saat itu produksi hijauan dan leguminosa cukup tinggi,
sehingga peternak lebih memilih mengoptimalkan penggunaan hijauan dan leguminosa sebagai pakan ternaknya. Daun rami saat setelah dipanen akan cepat mengalami pembusukan sehingga tidak dapat lagi digunakan sebagai pakan. Untuk dapat memanfaatkan daun rami sebagai pakan alternatif pada musim kemarau perlu adanya metode pengawetan hijauan.
Pengawetan hijauan yang umum dilakukan adalah pengawetan kering (hay) dan pengawetan basah (silase). Pengawetan kering dapat dilakukan di Indonesia karena intensitas sinar matahari yang tinggi. Namun pemanenan rami biasanya dilakukan pada musim penghujan dimana intensitas sinar matahari berkurang dan intervensi hujan yang dapat memicu timbulnya jamur.
2 kadar gula terlarut (WSC = water soluble carbohydrate) daun rami sangat rendah, menyebabkan bakteri asam laktat tidak mendapat substrat yang cukup untuk membuat suasana asam dalam proses ensilasi. Oleh karena itu diperlukan penambahan zat-zat yang dapat menyerap air daun rami serta meningkatkan kadar WSC untuk mengoptimalkan pertumbuhan bakteri asam laktat.
Pada penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa gaplek, jagung, dan pollard dapat digunakan sebagai aditif dalam pembuatan silase rami. Semua silase yang dihasilkan tergolong pakan yang mudah difermentasi dalam rumen dan memiliki kecernaan yang tinggi pada ternak (Tatra, 2009).
Tanaman rami dapat menghasilkan produk sampingan berupa hijauan hingga 300 ton bahan segar/ha/tahun (FAO) atau setara dengan 42 ton bahan kering (BK). Jumlah produksi hijauan yang cukup tinggi per luasan lahan, perlu silo yang cukup untuk dapat mengawetkan daun rami tersebut menjadi silase. Silo yang umum dikenal dalam pembuatan silase antara lain trench silo, tower silo, dan portable silo. Masing-masing silo memiliki bentuk yang berbeda dan dapat disesuaikan dengan kondisi lahan untuk membuat silo. Upaya untuk mengoptimalkan pengawetan daun rami ini dapat dilakukan melalui berbagai silo dengan memaksimalkan kapasitas tampungnya. Salah satu silo yang sering digunakan adalah trench silo. Bentuk trench
dinilai lebih ekonomis dalam pembuatan, selain itu dengan kondisi lantai silo miring
dapat menghindarkan terjadinya genangan air pada saat musim hujan (Siregar, 1996).
Tujuan
3 TINJAUAN PUSTAKA
Daun Rami dan Pemanfaatannya Taksonomi Tanaman Rami
Rami adalah tanaman tahunan berumpun yang menghasilkan serat dari kulit kayunya. Tanaman yang diduga berasal dari Cina ini secara botanis dikenal dengan nama Boehmeria nivea (L.). Sistem perakaran (dimorfis) yang dimiliki rami memiliki dua fungsi yakni sebagai akar reproduksi (rhizom) yang menjalar di bawah permukaan tanah dan akar umbi sebagai penyimpan cadangan makanan. Daun rami berbentuk seperti jantung dengan bagian bergerigi halus. Daun rami banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau. Tanaman rami dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah, namun hanya dapat tumbuh ideal pada ketinggian diatas
700 m dpl (dataran tinggi) dengan rata-rata curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun. Suhu ideal yang diinginkan rami berkisar 20o-27o C (Budi et al., 2005). Pada kondisi ideal, tanaman rami dapat dipanen 5-6 kali/tahun (Balai Penelitian Ternak, 2012). Adapun sistematika botani tanaman rami berasal dari divisi magnoliophyta (Angiospermae), kelas magnoliosida, dan termasuk bangsa Urticales (tanaman berbunga) dalam keluarga Urticaceae (Budi, 2005). Tanaman rami satu keluarga dengan tanaman mamaki (Pipturus albidus) dan aljai (Debregeasia caeneb). Beberapa varietas rami yang telah dikembangkan di Indonesia antara lain adalah Pujon10, Florida, dan Lembang. Saat ini rami telah dikembangkan di Malang, Wonosobo, Garut, Sukabumi dan Bogor meskipun dalam luasan yang terbatas.
4 Morfologi Daun Rami
Daun rami berbentuk seperti hati, dengan ukuran yang relatif cukup besar dibandingkan dengan daun tanaman lain yang sejenis dengan panjang daun (lamina) 7,5-20 cm, lebar 5-15 cm, dan cenderung berkerut. Daun berwarna hijau muda sampai hijau tua, tergantung varietas, umur, perawatan, dan sistem budi daya. Secara garis besar, ada dua kelompok tanaman rami, yaitu rami putih yang memiliki lapisan bawah daun berwarna putih keabuan dan mengkilap, serta rami hijau dengan lapisan bawah daun berwarna hijau dengan ukuran daun yang lebih kecil. Daun rami sedikit berbulu pendek sehingga terkesan agak kasar, namun relatif lunak dan tidak berkayu (Balai Penelitian Ternak, 2012).
Pinggir daun bergerigi lancip hingga tumpul berwarna seperti warna laminanya. Tulang daun berwarna hijau muda sampai hijau tua atau merah muda hingga merah tua. Tangkai daun (petiole) berwarna hijau muda hingga hijau tua serta merah muda hingga merah tua. Panjang petiole sekitar 3-12 cm, ada yang lebih pendek dari panjang daun, tetapi ada yang hampir sama dengan panjang daun, tergantung dari macam klonnya. Sudut daun (daun-daun bagian atas) berkisar antara 50°-120° (agak tegak sampai terkulai) (Budi et al., 2005).
Potensi Produksi
Budidaya tanaman rami ini merupakan usaha yang menjanjikan. Menurut
5 per tahun, dan proporsi daun rami dalam ransum ternak ruminansia sekitar 30-40%, maka setiap hektar tanaman rami dapat menunjang 2-4 ekor sapi atau 15-25 ekor domba (Balai Penelitian Ternak, 2012). Tepung daun rami dapat menggantikan tepung daun alfalfa. Substitusi tepung daun alfalfa dengan tepung daun rami sampai 9% dalam pakan tidak menunjukkan perbedaan pengaruh berdasarkan parameter angka kematian, pertumbuhan dan bobot ayam (Mehrhof et al., 1950). Sebagai komponen ransum unggas, pemanfaatan daun rami belum banyak dilaporkan. Namun diyakini, dengan teknik pengolahan yang benar menjadi bentuk tepung dapat dijadikan komponen ransum, dengan tetap memperhatikan kandungan serat kasar sebagai pembatas (Mathius dan Sinurat, 2001).
Kandungan Nutrient Daun Rami
Tanaman rami memenuhi semua unsur-unsur utama atau nutrien makro yang dibutuhkan ternak, antara lain protein kasar 16,35%, lemak kasar 6,36%, serat kasar 13,61% dan abu 20,50% (Despal et al. 2011). Menurut de Toledo et al. (2008) kandungan protein kasar daun rami berkisar 19% sedangkan alfalfa sebesar 20%.
Daun rami merupakan hasil sampingan dari tanaman rami yang batangnya digunakan sebagai bahan baku industri kapas dan tekstil. Daun rami memiliki potensi sebagai pakan ternak karena kandungan nutriennya yang cukup baik. Kandungan protein kasar daun rami mencapai 21%, lemak kasar 4%, serat kasar 20%, bahan
ekstrak tanpa nitrogen 46% dan mineral Ca 5,74% (Duarte et al., 1997).
Tabel 1. Kandungan nutrien daun rami dengan hijauan tropis lain.
Sumber : Veloso et al. (2000)
6 tropis seperti petai cina, kacang hiris dan Glycine. Kadar abu daun rami lebih besar dibandingkan daun singkong, petai cina, kacang iris dan glycine.
Pemanfaatan Daun Rami
Daun rami memiliki potensi yang besar untuk pakan, baik untuk ternak ruminansia (sapi, domba dan kambing) maupun nonruminansia (seperti unggas) dan kelinci. Perontokan daun perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak batang sebagai bahan baku serat. Penelitian awal untuk memanfaatkan daun rami sebagai pakan hijauan telah dilakukan antara lain untuk kelinci, domba, sapi potong, sapi perah, dan ayam. Ternyata pemberian rami dalam jumlah tertentu dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup, produksi susu maupun telur. Untuk ternak ruminansia, pemberian daun rami lebih dari 50% total ransum tidak memberi pengaruh yang negatif. Hal ini berarti daun rami cukup berpotensi sebagai alternatif bahan pakan hijauan dan dapat merupakan bagian dari ransum. Ditinjau dari kandungan protein kasarnya, tidak mustahil daun rami dapat dipakai sebagai substitusi sebagian pakan konsentrat atau bahan pakan lain sumber protein (Balai Penelitian Ternak, 2012).
Daun rami sebagai produk sampingan dalam pertanian rami berpotensi sebagai pakan ternak, dalam penelitian de Toledo et al. (2008) rami dapat menggantikan alfalfa sebanyak 15% dalam pakan kelinci dengan rata-rata
pertambahan bobot badan 26,4 g/hari, dengan rasio konversi pakan 3,30. Bila substitusi dalam pakan mengandung rami dan alfalfa masing-masing 7,5% dapat meningkatkan rata-rata pertambahan bobot badan sebesar 28 g/hari, dengan rasio konversi pakan 3,34. Penelitian Duarte et al. (1997) dengan menggunaan daun rami sampai 20% dalam pakan tidak menunjukkan perubahan yang berarti pada pertumbuhan tikus (Rattus norvegicus), substitusi sampai dengan 40% dapat menyebabkan kematian pada tikus. Substitusi daun rami pada pakan perlu suplementasi metionin, fosfor dan tembaga.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Veloso et al. (2000) kadar protein kasar daun rami lebih tinggi dibandingkan dengan petai cina. Uji kecernaan dengan metode
7 Tabel 2. Kecernaan daun rami dibandingkan dengan hijauan lainnya
Parameter Petai Cina
Kadar nutrien daun rami lebih besar dibandingkan dengan seluruh bagian tanaman rami (Tuyen, 2007). Penelitian secara in vivo yang dilakukan oleh Tuyen et al. (2007) menunjukkan angka kecernaan antara tanaman rami utuh, daun rami segar dan daun rami yang telah dikeringkan pada ternak kambing seperti digambarkan
pada Tabel 3. Daun rami segar secara umum memiliki kecernaan lebih besar dibandingkan tanaman rami utuh dan daun rami yang dikeringkan. Daun rami segar
memiliki kecernaan yang tinggi sehingga penggunaannya sebagai pakan ternak sebaiknya dalam keadaan segar.
Tabel 3. Kecernaan bagian-bagian dari tanaman rami dengan metode in vivo
Bagian Tanaman Kecernaan (%)
Bahan Kering Protein Kasar Bahan Organik Serat Kasar Tanaman rami 55,5 75,9 66,1 44,2 Daun Rami Segar 62,5 80,9 78,5 70,4 Daun Rami Kering 54,4 60,6 63,1 65,8 Sumber : Tuyen et al. (2007)
8 rami juga meningkatkan statistik vital pada dalam dada domba sebesar 1,20 cm, 0,95 cm dan 0,90 cm; panjang tubuh 0,05 cm, 1,00 cm dan 0,75 cm; dalam dada 1,50 cm, 0,15 cm dan 0,3 cm. Sementara itu penambahan limbah rami pada pakan ternak hanya dapat meningkatkan penambahan ukuran statistik vital dalam dada pada pemberian rami 30% sebesar 0,15 cm.
Daun rami juga berpotensi untuk dikonsumsi oleh manusia sebagai sumber antioksidan selain teh hijau. Daun rami mengandung zat antioksidan polyphenol 149 mg/g, nilai ini lebih tinggi dibandingkan pada teh hijau yang mengandung kadar polyphenol 10,98 mg/g. Selain kandungan antioksidan polyphenol yang tinggi, daun rami juga mengandung antioksidan flavonoid 49 mg/g (Lee et al., 2009). Ekstrak tanaman rami dalam bidang medis juga bermanfaat sebagai hepatoprotektif karena dapat mengurangi efek kerusakan dan sirosis hati akibat infeksi virus hepatitis B (Chang et al. 2008).
Teknik Preservasi Hijauan
Dari setiap kali pemotongan atau panen, hampir 44% dari total biomassa yang dihasilkan adalah daun, sehingga setiap tahun dapat dihasilkan daun segar sebanyak 14 ton/ha (Balai Penelitian Ternak). Potensi kuantitas daun rami yang cukup besar ini, perlu adanya teknik pengawetan untuk menjaga kualitas nutrient daun rami dalam kondisi segar. Kadar nutrient daun rami segar lebih baik
dibandingkan daun rami yang sudah dikeringkan (Tuyen et al. 2007).
Pada penelitian Despal et al. (2011), diketahui bahwa proses ensilasi daun rami dengan bahan aditif gaplek menghasilkan silase daun rami berkualitas baik. Ensilasi daun rami dengan bahan aditif berupa pollard, jagung, dedak dan onggok menghasilakn silase daun rami cukup baik. Penelitian Safarina et al. (2009) menyatakan bahwa silase daun rami yang diuji secara in vitro menghasilkan kecernaan bahan organik lebih dari 72%. Angka tersebut mengindikasikan bahwa silase daun rami merupakan pakan yang fermentabel dan tinggi kecernaannya. Dengan demikian daun rami berpotensi digunakan sebagai pakan ternak ruminansia.
9 laktat dimana BAL (Bakteri Asam Laktat) memfermentasi gula atau karbohidrat mudah terlarut menjadi produk utamanya asam laktat secara anaerob. Fermentasi umumnya berlangsung secara anaerobik di dalam wadah yang disebut silo. Pada lingkungan seperti ini, fermentasi asam laktat menyebabkan kondisi lingkungan yang asam (pH sekitar 4) yang akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk sehingga silase dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mengalami pembusukan (McDonald et al. 1995). Jika ensilasi tidak berlangsung dengan benar, maka banyak produk lain yang akan dihasilkan seperti asam butirat dan silase berkualitas rendah serta tidak palatable (Moran, 2005).
Proses pembuatan silase, secara garis besar terdiri dari empat fase : (1) fase aerob, (2) fase fermentasi, (3) fase stabil dan (4) fase pengeluaran untuk diberikan pada ternak. Setiap fase mempunyai ciri khas, sebaiknya diketahui agar kualitas hijauan sejak panen, pengisian ke dalam silo, penyimpanan dan periode pemberian pada ternak dapat terpelihara dengan baik agar tidak terjadi penurunan kualitas hijauan tersebut. Prinsip pembuatan silase menurut Muck (2011), adalah pemeliharaan lingkungan aerobik dan fermentasi gula.
Homo-fermentasi lactobacilli memegang peranan aktif pada kualitas silase. Khususnya Lactobacillus plantarum diketahui sebagai mikroorganisme homo-fermentatif pada silase dan suatu strain khusus yang berasal dari material tanaman.
Beberapa jenis lactococci juga berperan untuk membuat kondisi asam pada silase pada tahap awal fermentasi. Kemudian lactobacilli menjadi mikroorganisme yang dominan untuk menyebabkan suasana asam pada silase. Beberapa hal yang penting untuk menghasilkan silase berkualitas tinggi adalah kandungan bahan kering sekitar 35 – 40%, cukup mengandung gula (lebih dari 2% BS), rapat dan cepat ditutup (kedap udara) suhu penyimpanan untuk homofermentatif LAB (McDonald et al., 1995).
Penyiapan silase berkualitas tinggi tidak mudah, tergantung dari keberadaan LAB alami. Penambahan aditif silase perlu dilakukan jika LAB rendah. Aditif silase LAB atau media yang baik untuk pertumbuhan LAB seperti WSC tinggi dan DM yang sesuai dapat meningkatkan kualitas silase (McDonald et al. 1995).
10 bahan kering hingga 30%, 3) penambahan bahan mudah difermentasi pada saat membuat silase, 4) pemotongan hijauan 1 – 3 cm sebelum diensilasi, 5) pemadatan hijauan sebisa mungkin, 6) pemasukan hijauan ke silo secepat mungkin, 7) kedap udara sesegera mungkin, 8) penjagaan kondisi silo kedap selama proses fermentasi, dan 9) pengeluaran silase dari penyimpanan minimum 20 cm setiap hari.
Fase ensilasi menurun Moran (2005) terdiri dari fase aerobik, fase fermentasi, fase stabil dan fase anaerobik. Hijauan di daerah tropis kurang cocok untuk dibuat silase karena kandungan karbohidrat terlarut airnya yang rendah. Namun, pelayuan dan penambahan substrat yang fermentable sebelum ensilasi yang akan menghasilkan silase yang baik dengan menurunkan kapasitas buffer, dan proteolisis (Titterton dan Pareeba, 2000).
Macam-macam Bentuk Silo
Dengan jumlah produksi hijauan yang cukup tinggi per luasan lahan tanaman rami, perlu silo yang besar untuk dapat mengawetkan daun rami tersebut menjadi silase. Jenis silo yang digunakan akan memengaruhi kualitas fisik dan kimia dari silase (Kizilsimsek et al., 2005). Pada umumnya terdapat berbagai jenis silo yang dapat digunakan sesuai kebutuhan seperti trench silo, bunker silo, weenie bags dan
plastic wrapped (Perry et al., 2003).
Trench Silo
11 konstruksi yang paling mudah dibuat. Berikut adalah gambar trench silo pada Gambar 2.
Gambar 2. Trench silo
Sumber : http://www.alsconcreteproducts.com/bunkersilo.htm
Bunker Silo
Silo ini biasanya digunakan pada lahan datar dan berkerikil. Bunker silo digunakan sama seperti trench, perbedaan terdapat pada bagian depan terdapat diatas tanah dan bagian belakang silo terdapat dibawah tanah. Bunker silo merupakan silo tipe semi-underground, sebagian terletak agak kedalam lapisan tanah dan sebagian lainnya muncul kepermukaan tanah.
Weenie Bags
Silo ini merupakan silo bukan permanen, biasanya hanya digunakan satu kali. Penggunaan weenie bags merupakan alternatif pembuatan silase yang cukup mahal. Namun, kualitas silase dapat lebih terjaga karena udara yang berada di dalam weenie bags sangat terbatas. Proses penanganan silase pada weenie bags pun lebih mudah.
Plastic-wrapped Bales
Silo ini hampir sama dengan weenie bags, dimana plastik digunakan untuk membatasi akses oksigen ke dalam silase selama proses ensilasi. Pada proses ini
12 negara, penyimpanan plastic-wrapped bales ini menjadi sangat penting untuk menghindari gangguan dari burung yang akan melubangi plastik.
Tower Silo
Conventional Upright. Pada masa-masa sekarang ini, silo jenis ini dikonstruksi dari beton bertulang. Silo ini berbentuk silinder dan memiliki atap untuk melindungi kelebihan bahan. Silo ini juga dilengkapi dengan rangkaian pintu ukuran 2 x 1, yang terletak setiap 4 kaki antar sisi silo. Untuk pengambilan silase ini menggunakan mesin dan diambil dari bagian atas. Jika silo ini ingin digunakan kembali maka perlu dikosongkan terlebih dahulu bahan sebelumnya.
Airtight Sealed Silo. Silo ini mirip dengan jenis conventional upright. Silo ini dibuat dari bahan metal. Ukuran diameter silo ini biasa 18 – 40 kaki dan tinggi 40 – 100 kaki. Hijauan yang dapat dibuat silase efektif pada silo ini dengan bahan kering 25% - 75%.
Silo tersebut dapat dikelompokkan menjadi silo permanen dan portabel. Pembuatan silase dapat dilakukan di dalam semacam sumur yang disebut ”Pit Silo”; lubang di tanah yang bentuknya memanjang yang disebut ”Trench Silo” atau bangunan yang menjulang diatas tanah yang berbentuk bundar, baik dari beton maupun plat besi yang disebut ”Tower Silo”. Paling murah adalah trench silo atau pit silo. Tetapi perlu diperhatikan bahwa tempat pembuatan trench silo atau pit silo tersebut harus di tanah miring atau tinggi hingga tidak tergenang air waktu hujan, karena genangan air dalam silo tersebut dapat membawa akibat buruk terhadap silase yang dibuat. Lubang silo hendaknya jangan kerembesan air untuk menghindari tergenangnya air di dalam silo dapat dibuatkan lapisan beton dari dinding silo tersebut, atau dibuat silo yang tidak terlalu dalam (trench silo) dan dibuatkan saluran-saluran penyalur air di sekitarnya hingga tidak merembes ke dalam silo (Siregar, 1996).
13 2003). Produksi daun rami yang tinggi tentunya memerlukan silo dengan kapasitas yang besar dan ekonomis.
Kualitas silase pada bag silo lebih mudah dikontrol dibandingkan dengan
trench silo. Pada penelitian Kizilsimsek et al. (2005), membandingkan kualitas silase antara silo skala besar seperti trench dan bunker dengan silo skala kecil seperti bag silo. Hasil menunjukkan bahwa kualitas fisik silase antara kedua jenis silo tidak berbeda nyata. Demikian juga pada parameter kimia menunjukkan bahwa silase dari kedua jenis silo memiliki kualitas yang tidak berbeda. Daun rami dengan produksi yang tinggi sehingga perlu preservasi dalam kondisi segar untuk dapat mempertahankan kualitasnya. Trench silo dapat menjadi pilihan dalam mempertahankan kualitas daun rami dengan proses ensilasi.
Kualitas Silase
Keberhasilan pembuatan silase tergantung pada tiga faktor utama yaitu populasi bakteri asam laktat, sifat-sifat fisik dan kimiawi bahan hijauan yang digunakan dan keadaan lingkungan. Kualitas silase yang dihasilkan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: hijauan yang digunakan, zat aditif dan kadar air di dalam hijauan tersebut. Kadar air yang tinggi mendorong pertumbuhan jamur dan menghasilkan asam butirat, sedangkan kadar air yang rendah menyebabkan suhu di dalam silo lebih tinggi sehingga mempunyai resiko yang tinggi terhadap terjadinya kebakaran.
Keberadaan dan keadaan BAL alami yang cukup baik dalam proses ensilasi atau penambahan aditif silase berupa BAL atau bahan yang mengandung sumber gula dan bahan kering yang sesuai dapat menghasilkan silase berkualitas baik (McDonald et al., 1995). Proses pelayuan dan penambahan bahan lain yang mengandung gula juga dapat menghasilkan silase berkualitas baik. Hal ini terutama perlu dilakukan pada hijauan tropis yang memiliki karbohidrat terlarut air dalam jumlah sedikit (Titterton dan Pareeba, 2000). Selain itu, silase yang dibuat juga harus kedap udara dan suhu penyimpanan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri asam laktat homofermentatif (McDonald et al., 1995).
14 fermentatif silase, yaitu nilai pH, kehilangan BK, perombakan protein, karbohidrat mudah larut air dan profil asam organik yang dihasilkan dari ensilasi; c) karakteristik utilitas silase daun rami secara in vitro ditentukan berdasarkan fermentabilitas bahan organik membentuk volatile fatty acid (VFA), fermentabilitas protein menghasilkan amonia (NH3), kecernaan BK dan bahan organik (BO).
Karakteristik Fisik
Karakteristik fisik silase meliputi perubahan warna, aroma, tekstur dan keberadaan mikroba pembusuk. Menurut Saun & Heinrich (2008), warna silase berkualitas baik adalah berwarna normal seperti kuning kehijauan sampai agak coklat (Tabel 4). Bila silase berwarna kecoklatan menandakan terjadi reaksi karamelisasi sehingga bahan kering dalam silase banyak terdegradasi. Parameter berikutnya yaitu aroma silase. Aroma silase berkualitas baik adalah berbau asam segar. Secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu rasa dan bau asam, tetapi segar dan enak. Bau asam yang timbul disebabkan oleh pembentukan asam-asam organik seperti asam-asam laktat, asetat dan butirat dari degradasi pati pada proses ensilasi (Siregar, 1996).
Tabel 4. Karakteristik Aroma dan Warna Silase
Aroma Warna Sebab
Asam kekuningan asam asetat
Alkohol normal ethanol
Sharp sweet normal asam propionat
Rancid butter kehijauan asam butirat Karamel/tembakau coklat kehitaman temperatur yang tinggi Sumber : Saun & Heinrich (2008).
Tekstur dan kelembaban silase juga menjadi parameter fisik silase. Tekstur
15 Karakteristik Fermentatif
Karakteristik fermentatif silase, yaitu nilai pH, kehilangan BK, perombakan protein, karbohidrat mudah larut air dan profil asam organik seperti kadar volatile fatty acid (VFA) yang dihasilkan dari ensilasi. Nilai pH pada silase berkualitas baik yaitu berkisar antara 3,8 – 4,8. Kadar air bahan akan berkorelasi negatif terhadap nilai pH. Kadar air yang terlalu tinggi akan menyebabkan penurunan pH lebih lambat sehingga terjadi proteolisis oleh bakteri Clostridia (Saun & Heinrich, 2008).
Kehilangan bahan kering dapat terjadi akibat degradasi bahan kering selama proses ensilasi. Pada fase awal ensilase dalam kondisi masih aerobik dan pH normal, mikroba pendegradasi masih dapat merombak bahan kering dan nutrien pada bahan. Perombakan protein merupakan salah satu parameter untuk mengetahui kualitas silase. Protein yang mengalami proteolisis dapat dilihat melalui banyaknya kadar amonia (NH3) pada fase awal ensilasi yaitu fase aerobik. Pada fase ini proses
proteolisis terjadi karena pH normal dan keberadaan bakteri Clostridial. Amonia yang terbentuk akan memengaruhi penurunan pH pada silase sehingga protein dalam hal ini dapat menimbulkan buffering capacity pada proses ensilasi. Kadar NH3 pada
silase diharapkan kurang dari 8 - 10% (Saun & Heinrich, 2008).
Parameter lainnya antara lain kadar VFA, VFA menggambarkan proses fermentasi pada ensilasi. Penting untuk memahami bahwa tingkat VFA akan sangat
bervariasi berdasarkan spesies tanaman, bahan kering saat panen, alami dan menambahkan populasi bakteri, bidang kerugian respirasi, cuaca dan sinar matahari sebelum panen, dan yang paling penting yang gula isi tanaman setelah mencapai struktur penyimpanan. Kadar VFA pada silase hijauan basah berkualitas baik yaitu antara 10 – 14%, sedangkan pada silase bijian yaitu antara 2 – 4% (Saun & Heinrich, 2008).
16 Karakteristik Utilitas
Karakteristik utilitas silase daun rami secara in vitro ditentukan berdasarkan fermentabilitas bahan organik membentuk volatile fatty acid (VFA), fermentabilitas protein menghasilkan amonia (NH3), kecernaan bahan kering (BK) dan bahan
organik (BO). VFA (Volatile Fatty Acid) atau asam lemak terbang merupakan sumber energi utama bagi ruminansia dan merupakan hasil akhir dari fermentasi gula, selain energi buat ternak ruminansia VFA juga merupakan hasil akhir dari fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme pada proses ensilase. Menurut McDonald et al (1995) pakan yang masuk kedalam rumen difermentasi untuk menghasilkan produk utama berupa VFA, sel-sel mikroba, serta gas metan dan CO2. Dalam rumen karbohidrat pakan mengalami tiga tahap pencernaan enzim-enzim yang dihasilkan mikroba rumen. Tahap pertama karbohidrat mengalami hidrolisis menjadi monosakarida seperti glukosa, fruktosa dan pentosa.
Protein yang masuk kedalam rumen akan mengalami proteolisis oleh enzim-enzim protease menjadi peptida, kemudian dihidrolisis menjadi asam amino dan secara cepat akan dideaminasi menjadi amonia. Asam amino dan amonia akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba. Proporsi protein yang didegradasi dalam rumen pada umumnya sekitar 70-80% dan untuk protein yang sulit dicerna sekitar 30-40%. Kandungan protein ransum yang tinggi
dan proteinnya mudah didegradasi akan menghasilkan konsentrasi NH3 yang tinggi
didalam rumen (McDonald et al., 1995).
Produksi amonia (NH3)dipengaruhi oleh waktu setelah makan dan umumnya
17 MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Ternak Kambing Perah, Laboratorium Industri Pakan dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah Fakultas Peternakan IPB. Penelitian dilakukan mulai september 2010 sampai dengan Januari 2011.
Materi
Jagung halus digunakan sebagai aditif untuk meningkatkan WSC dan BK daun rami pada pembuatan silase daun rami. Daun rami didatangkan dari Koppontren Darussalam Garut. Pembuatan silase menggunakan kantong plastik berukuran 28 x 50 cm, dan trench berukuran 1 x 1 x 1 m3.
Metode Pembuatan silase daun rami beraditif
Pembuatan silase rami dilakukan pada 2 jenis silo. Silo plastik menggunakan 2 kg rami ditambah kan 20% jagung halus (98%BK). Silo trench menggunakan 70 kg rami ditambah 20% jagung halus (98%BK). Aditif diupayakan tercampur secara homogen dengan rami. Pemasukkan daun rami dan aditif secara berselang-seling. Silo ditutup dan fermentasi dibiarkan berlangsung selama 32 hari pada suhu ruang secara anaerob.
Parameter yang diukur antara lain: 1) karakter fisik (aroma, warna, texture, dan spoilage), 2) karakter fermentatif yang meliputi pH, kehilangan bahan kering, kadar ammonia sebagai gambaran degradasi atau kerusakan protein diukur dengan teknik micro diffuse Conway dan WSC diukur menggunakan metode Fenol, 3) karakteristik utilitas meliputi fermentabilitas bahan organik dan protein dalam rumen, dan kecernaan bahan kering dan bahan organik.
Rancangan Percobaan
18 T : Menggunakan trench silo
SP : Menggunakan silo portabel
Model matematika dari rancangan tersebut adalah sebagai berikut : Yij= μ + τi + εij
Dimana :
Yij = hasil pengamatan pengaruh jenis silo ke-i ulangan ke-j
μ = Rataan umum
τi =Pengaruh jenis silo ke-i
eij = pengaruh acak pada jenis silo ke-i ulangan ke-j
Peubah
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah:
a. Karakter sifat fisik silase, dilakukan dengan mendeskripsikan warna, aroma, tekstur dan keberadaan jamur (spoilage).
b. Karakteristik fermentasi silase, yang meliputi pH, kadar bahan kering (BK), VFA, kehilangan BK, kadar protein kasar (PK), kadar NH3 silase, kehilangan
PK, Water soluble Carbohydrate (WSC) dengan Metode Fenol, Nilai Fleigh dan perombakan protein dengan metode micro diffuse Conway diukur dari konsentrasi NH3 silase dibandingkan dengan total protein bahan.
c. Karakteristik Utilitas Silase pada ternak ruminansia meliputi Fermentabilitas in vitro, yaitu Produksi VFA total (Steam distillation) dan konsentrasi NH3
(mikrodifusi Conway), dan kecernaan in vitro, yaitu kecernaan bahan kering (KCBK) dan kecernaan bahan organik (KCBO) (Tilley and Terry, 1963).
d. Susut bahan kering dan perubahan komposisi kimiawi.
Prosedur Pengamatan Karakteristik Fisik
19 Pengamatan Karakteristik Fermentatif
Pengukuran BK Silase. Silase yang telah melalui proses ensilasi selama 5 minggu dikeluarkan dari plastik dan ditimbang sebagai berat akhir, kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 60o C selama 3-7 hari kemudian ditimbang sebagai berat kering oven 60o C. Setelah dikeringkan pada suhu 60o C, sampel digiling sampai halus. Sampel tersebut kemudian di timbang kedalam cawan porselen sebanyak 2-3 gram dan dimasukkan kedalam oven 105o C sampai berat konstan. Setelah kering silase ditimbang sebagai berat akhir dan dihitung menggunakan rumus: c : Berat sampel silase beraditif sebelum oven 105o C d : Berat sampel silase beraditif setelah oven 105o C
Pengukuran pH. Silase yang baru dibuka ditimbang sebanyak 10 gram dan dicampur dengan 100 ml aquadest dengan cara diblender pada kecepatan sedang selama 30 detik. pH cairan silase diukur menggunakan pocket pH meter yang telah dikalibrasi. Pembacaan pH dilakukan setelah screen stabil atau setelah 30 detik.
Pengukuran NH3 silase. Kira-kira 1 ml sampel yang sama dengan sampel
pengukuran pH ditempatkan pada salah satu ujung jalur cawan Conway yang telah diolesi vaselin kemudian 1 ml larutan Na2CO3 ditempatkan pada sisi yang
bersebelahan dengan sampel. Asam borat berindikator sebanyak 1 ml ditempatkan didalam cawan kecil yang ada di bagian tengah cawan Conway kemudian tutup rapat cawan Conway. Supernatan dan larutan Na2CO3 dicampur hingga rata dengan cara
cawan Conway dimiringkan. Diamkan selama 24 jam pada suhu kamar dan setelah 24 jam asam borat berindikator dititrasi menggunakan H2SO4 sampai terjadi
perubahan warna dari biru menjadi merah. Kemudian kadar NH3 dihitung dengan
20
Pengukuran VFA. Supernatan yang telah disiapkan menggunakan prosedur yang sama dengan penggukuran NH3 silase sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung
destilasi, lalu segera ditambahkan dengan 1 mL H2SO4 15 % ditambahkan ke tabung
destilasi yang sudah ada larutan sampel, kemudian ditutup penutup kacanya. Tabung destilasi dimasukkan ke dalam labu penyulingan yang berisi air mendidih (dipanaskan terus selama destilasi). Uap air panas akan mendesak campuran supernatan dan H2SO4 dan akan terkondensasi dalam labu pendingin. Air yang
terbentuk ditampung dalam labu erlenmeyer yang berisi 5 mL NaOH 0,5 N hingga terbentuk sampel menjadi 300 ml, kemudian ditambahkan dengan indikator PP
(Phenol Phtaline) sebanyak 2 - 3 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah muda menjadi merah muda seulas. Produksi VFA total dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
a = volume titran blanko (ml) b = volume titran contoh (ml)
Pengukuran Kehilangan Bahan Kering. Kehilangan bahan kering dihitung dari selisih berat kering bahan awal dengan berat kering bahan yang telah menjadi silase. Pengukuran Protein Kasar (PK). Pengukuran Kadar protein silase menggunakan metode Kjehldal (Kjeldahl, 1883) dan untuk perhitungan protein kasar menggunakan rumus :
mL HCl x N HCl x 14 x 24 x 100 %N =
Mg sampel
21 Pengukuran Kehilangan Protein Kasar. Pengukuran kehilangan PK dihitung dengan membandingkan antara kehilangan PK yang menjadi ammonia dengan kadar PK bahan awal.
Pengukuran WSC (Water Soluble Carbohydrat) (Metode Fenol). Silase sebanyak dua gram yang ditambahkan aquadest yang telah dipanaskan sebanyak 20 ml, kemudian digerus menggunakan mortal selama ± 10 menit. Setelah itu disaring untuk memisahkan cairan dan padatan sampel. Sampel yang berbentuk cairan dipipet sebanyak 2 ml dan dimasukan kedalam tabung reaksi 10 ml, kemudian tambahkan 0,5 ml larutan fenol, dihomogenkan dengan menggunakan vortex. Larutan asam sulfat ditambahkan dengan cepat sebanyak 2,5 ml dan divortex, dibiarkan larutan sampai dingin dan diukur absorbannya menggunakan spektrofotmeter pada 490 nm. Perhitungan Nilai Fleigh. Nilai Fleigh merupakan indeks karakteristik fermentasi silase berdasarkan nilai BK dan pH dari silase (Idikut et al., 2009). Nilai Fleigh (NF) 85 – 100 menyatakan bahwa silase berkualitas baik sekali, 60 – 80 baik, 40 – 60 cukup baik, 20 – 40 sedang dan kurang baik jika NF <20 (Idikut et al., 2009). Nilai fleigh dihitung dengan rumus sebagai berikut :
NF = 220 + (2 x BK (%) – 15) – (40 x pH)
Pengamatan Utilitas Pengukuran VFA rumen
Pakan difermentasi menggunakan cairan rumen. Sebanyak 0,5 gram silase daun rami yang sudah dikeringkan, digiling dan disaring menggunakan saringan berukuran 0,5 mm. Sampel itu dimasukkan ke dalam tabung fermentor bervolume 50 ml, kemudian ditambahkan 40 ml larutan buffer McDougall dan 10 ml cairan rumen lalu diaduk dengan gas CO2 selama 30 detik dan ditutup rapat dengan prop karet
yang berventilasi, kemudian diinkubasi selama 6 jam di dalam shaker water bath
bersuhu 39 ºC. Setelah inkubasi, ditambahkan 2 - 3 tetes HgCl2 jenuh ke dalam
22 Supernatan yang telah disiapkan menggunakan prosedur tersebut sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung destilasi, lalu segera ditambahkan dengan 1 ml H2SO4 15 % ditambahkan ke tabung destilasi yang sudah ada larutan sampel,
kemudian ditutup penutup kacanya. Tabung destilasi dimasukkan ke dalam labu penyulingan yang berisi air mendidih (dipanaskan terus selama destilasi). Uap air panas akan mendesak campuran supernatan dan H2SO4 dan akan terkondensasi
dalam labu pendingin. Air yang terbentuk ditampung dalam labu erlenmeyer yang berisi 5 ml NaOH 0,5 N hingga terbentuk sampel menjadi 300 ml, kemudian ditambahkan dengan indikator PP (Phenol pthaline) sebanyak 2 - 3 tetes dan dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna titrat berubah dari merah muda menjadi merah muda seulas.Produksi VFA total dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
a = volume titran blanko (ml) b = volume titran contoh (ml)
Pengukuran NH3 rumen
Cawan Conway diolesi dengan vaselin kemudian 1 ml supernatan seperti pada pengukuran VFA rumen, ditempatkan pada salah satu ujung alur cawan Conway kemudian 1 ml larutan Na2CO3 ditempatkan pada sisi yang bersebelahan
dengan sampel. Asam borat berindikator sebanyak 1 ml ditempatkan didalam cawan
kecil yang ada dibagian tengah cawan Conway kemudian tutup rapat cawan Conway. Supernatan dan larutan Na2CO3 dicampur hingga rata dengan cara cawan Conway
dimiringkan. Inkubasi selama 24 jam pada suhu kamar dan setelah 24 jam asam borat berindikator dititrasi menggunakan H2SO4 sampai terjadi perubahan warna dari biru
menjadi merah. Kemudian kadar NH3 dihitung dengan rumus:
23 Pengukuran KCBK dan KCBO
Pengukuran KCBK dan KCBO mengikuti metode Tilley and Terry (1963) sebagai berikut:
1. Pencernaan Fermentatif
Sebanyak 0,5 gram sampel pakan dimasukkan kedalam tabung fermentor, ditambahkan 10 ml larutan buffer McDougall dan 40 ml cairan rumen lalu diaduk dengan gas CO2 selama 30 detik dan ditutup rapat. Tabung fermentor ditempatkan
pada suhu 39o dan fermentasi dibiarkan berlangsung selama 48 jam. Setiap 6 jam, tabung diaduk dengan gas CO2.
2. Pencernaan Hidrolisis
Setelah diinkubasi selama 48 jam, tambahkan 2-3 tetes HgCl2 jenuh ke dalam
tabung fermentor untuk menghentikan aktivitas mikroba. Campuran tersebut disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit dan supernatannya dibuang, kedalam tabung ditambahkan 50 ml larutan pepsin HCl 0,2%. Pencernaan enzimatis berlangsung aerob selama 48 jam. Hasil pencernaan hidrolisis (residu) disaring menggunakan kertas Whatman no 41 yang dibantu dengan pompa vakum. Kemudian residu tersebut dimasukkan kedalam cawan porselen dan dipanaskan di dalam oven suhu 1050 C selama 24 jam untuk menentukan BK residu. Selanjutnya residu BK dimasukan dalam tanur 600o C selama 6 jam untuk mendapatkan residu
bahan organik. Kemudian KCBK dihitung berdasarkan rumus:
Keterangan:
24 Sedangkan KCBO dihitung dengan rumus:
Keterangan:
25 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan Nutrien Daun Rami dan Jagung
Menurut Moran (2005) hijauan di daerah tropis umumnya rendah nilai WSC (water soluble carbohydrate) sehingga sulit untuk difermentasi. Perlu tambahan bahan lain yang tinggi WSC untuk dapat terjadi proses ensilasi dengan baik, salah satu bahan yang mengandung WSC yaitu jagung. Berikut adalah kandungan nutrien daun rami dan jagung pada Tabel 5. Pada Gambar 3. merupakan perlakuan pada
trench silo.
Tabel 5. Kandungan nutrien daun rami dan jagung
Komponen Kandungan Nutrien (%)
Daun Rami Jagung
Bahan Kering 19,26 98,5
Protein Kasar 16,7 10,8
Abu 17,37 1,68
WSC 3,08 3,4
Gambar 3. Trench silo
Karakteristik Fisik
Indikator untuk mengetahui kualitas silase berkualitas baik adalah pada
26 dan biomassa. Seperti dipaparkan pada Tabel 6 memperlihatkan karakteristik fisik silase daun rami saat dibuka.
Tabel 6. Karakteristik fisik silase daun rami beraditif
Parameter Perlakuan
T SP
Aroma ++++ ++++
Tekstur +++ ++++
Kelembaban +++ ++++
Warna +++ ++++
Jamur 0% <10%
% Busuk 58% 0%
Keterangan : +++ : baik; ++++ : sangat baik; T : silase daun dari pada trench; SP : silase daun rami pada silo portabel.
Aroma Silase
Pada pengamatan perlakuan T dan SP secara umum didapat bau asam segar. Pada perlakuan T aroma asam yang terbentuk tergolong sangat baik, dengan skor 4. Demikian halnya pada perlakuan SP, aroma asam yang terbentuk tergolong sangat baik sehingga diberikan skor 4. Perlakuan T dan SP berdasarkan pengamatan bau yang dihasilkan dapat dikatakan silase tersebut berkualitas baik. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Siregar (1996) bahwa, secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu rasa dan bau asam, tetapi segar dan enak. Bau asam yang
timbul disebabkan oleh pembentukan asam-asam organik oleh bakteri asam laktat (BAL) seperti asam laktat, asetat dan butirat dari degradasi pati pada proses ensilasi. Namun pada perlakuan T, pada bagian atas silase terjadi pembusukan dan beraroma amonia. Aroma amonia ini disebabkan oleh adanya aktivitas proteolisis bakteri
27 Tekstur dan Kelembaban
Salah satu karakteristik fisik silase berkualitas baik yaitu tekstur dan kelembaban. Silase berkualitas baik memiliki tekstur utuh (lepas). Pada pengamatan parameter tekstur dan kelembaban silase didapatkan perlakuan SP lebih baik dari perlakuan T. Pada perlakuan T tergolong kualitas baik dengan skor 3. Sedangkan perlakuan SP memiliki kualitas sangat baik dengan skor 4. Kedua perlakuan menghasilkan kelembaban dan tekstur silase yang baik, namun SP lebih baik dibandingkan T.
Saun & Heinrichs (2008) melaporkan bahwa kelembaban akan bervariasi di seluruh bagian silo. Keadaan ini disebabkan adanya udara yang masuk ke dalam silo sehingga aktivitas metabolisme organisme berjalan lagi. Selain dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme selama proses fermentasi, tekstur dan kelembaban juga dipengaruhi oleh bentuk permukaan silo yang menentukan besarnya peluang terjadinya kontak antara silase dengan oksigen selama ensilasi. Permukaan silo yang luas memungkinkan terjadinya kontak lebih besar antara oksigen dengan silase lebih besar, sehingga kesempatan lebih besar pada peningkatan aktivitas mikroba.
Perlakuan T memiliki hasil pengamatan skor 3 karena kelembaban yang cukup tinggi dengan tekstur yang agak menggumpal. Bentuk permukaan silo menentukan terjadinya kontak antara silase dengan oksigen selama proses ensilasi.
Bunker silo dengan permukaan yang tidak teratur memiliki peluang lebih besar untuk terjadinya kontak antara silase dengan udara (oksigen) , sehingga dapat terjadi peningkatan aktivitas mikroba pembusuk. Permukaan trench silo memiliki permukaan lebih luas dibandingkan perlakuan SP. Pada perlakuan T, luas permukaan yang kontak dengan udara bebas cukup luas. Dengan kontak terhadap oksigen maka aktivitas mikroorganisme pembusuk cukup tinggi. Pada perlakuan SP memiliki skor 4 karena permukaan kontak dengan oksigen lebih kecil dan lebih mudah ditangani, sehingga pada perlakuan SP tekstur dan kelembaban tergolong sangat baik.
Warna Silase
28 yaitu warna masih hijau atau kecoklatan. Pada perlakuan T warna silase hijau kecoklatan cenderung agak gelap sehingga perlakuan T diberi skor 3. Sedangkan pada perlakuan SP warna silase hijau kecoklaan cerah sehingga diberi skor 4. Menurut Saun dan Heinrichs (2008) menyatakan bahwa silase yang berkualitas baik akan memiliki warna seperti bahan asalnya.
Warna silase seperti bahan asalnya mengindikasikan tidak terjadi reaksi pembusukan atau pun karamelisasi yang dapat menurunkan kualitas silase(Saun & Heinrich, 2008). Reaksi pembusukan terjadi pada bagian permukaan pada perlakuan T. Warna pada bagian yang busuk ini cenderung coklat kehitaman. Warna coklat kehitaman ini diduga akibat reaksi pembusukan oleh aktivitas mikroba pembusuk.
Jamur dan Tingkat Kerusakan Silase
Parameter dalam karakteristik fisik lainnya yaitu keberadaan jamur dan tingkat kerusakan silase. Pada perlakuan T tidak terdapat jamur pada permukaan silase. Permukaan silase pada perlakuan T mengalami pembusukan karena aktivitas mikroba pembusuk. Keberadaan jamur yang berwarna putih dan merah dengan luasan kurang dari 10% luasan permukaan luar silase terdapat pada perlakuan SP. Jamur dapat tumbuh pada silase perlakuan SP dikarenakan kadar air yang cukup tinggi saat pembuatan silase yaitu lebih dari 60%.
Pengamatan komposisi biomassa pada perlakuan T didapatkan hasil kuantitas
silase yang mengalami pembusukan sebesar 58,51%, sedangkan yang tidak membusuk 41,48%. Pada perlakuan SP tidak ada pembusukan. Pada proses ensilasi toleransi kerusakan akibat pembusukan yaitu antara 4-12% dari total silase (Church, 1988). Dilihat dari kuantitas pada perlakuan T banyak terjadi pembusukan, hal ini berdampak kurang baik secara ekonomis biaya produksi pembuatan silase.
29 pemampatan yang baik dan memastikan silase dalam keadaan udara yang minimal, untuk mencegah aktivitas mikroba pembusuk.
Karakteristik Fermentatif Silase
Perubahan karakteristik fermentasi selama ensilasi yang diamati berupa perubahan pH, bahan kering (%), kehilangan bahan kering (%), kadar VFA(Volatile Fatty Acid), kadar protein kasar (%), kadar NH3, perombakan protein kasar (%),
WSC(Water soluable carbohydrate), dan Nilai fleigh. Hasil pengamatan karakteristik fermentatif silase daun rami beraditif pada silo berbeda diperlihatkan pada Tabel 7. Bagian silase yang digunakan pada pengamatan karakteristik fermentatif merupakan bagian yang terfermentasi baik sedangkan bagian busuk dibuang.
Perubahan pH
Nilai pH dapat mengindikasikan kualitas silase, makin kecil nilai pH yang dimiliki silase berarti silase tersebut mempunyai kualitas yang semakin baik. Secara uji statistik, tidak terdapat perbedaan antara perlakuan T dengan SP. Selama proses ensilasi akan terjadi penurunan pH seperti yang terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Karakteristik fermentatif silase daun rami beraditif
Parameter Perlakuan
T SP
pH 4,49 ± 0,20 4,54 ± 0,09
BK (%) 13,63 ± 0,99 14,91 ± 0,82
VFA (mM) 60 ± 18,97 44 ± 25,10
Kehilangan BK (%BK) 58,1 54,16
PK (%BK) 20,36 ± 1,02 23,91 ± 7,69 NH3 (mM) 0,59 ± 0,25 0,59 ± 0,20
Perombakan PK (%) 2,9 ± 0,24 2,45 ± 0,02 WSC (%BK) 0,96 ± 0,68 0,87 ± 0,53
NF 52,46 ± 8,16 53,03 ± 4,33
30 pH perlakuan SP yaitu 4,54 ± 0,09, sedangkan pada T yaitu 4,49 ± 0,20. Kadar pH yang rendah pada penelitian ini mengindikasikan kualitas silase yang baik, bahkan kadar pH pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan diderah tropis yaitu 4,84 – 6,30. Tingginya pH silase di daerah tropis disebabkan oleh tingginya kelembaban udara (Dellacollete, 2005).
Menurut Saun & Heinrich (2008) pH silase yang berkualitas baik berkisar antara 3,8 – 4,8. Penurunan nilai pH yang cukup besar ini dapat dipengaruhi oleh penambahan jagung sebagai karbohidrat mudah larut yang digunakan oleh bakteri asam laktat untuk membentuk asam-asam organik (Despal et al, 2011). Pelayuan dan penambahan substrat yang fermentable sebelum ensilasi yang akan menghasilkan silase yang baik dengan menurunkan kapasitas buffer dan proteolisis (Titterton dan Pareeba, 2000).
Kadar Bahan kering, Kadar VFA silase dan Kehilangan Bahan Kering
Kehilangan bahan kering menjadi indikator degradasi nutrien pada bahan (Nussio, 2005). Pada Tabel 7 dapat dilihat hasil pengamatan kadar BK, VFA dan kehilangan BK dari silase rami beraditif jagung. Secara uji statistik, tidak terdapat perbedaan antara perlakuan T dengan SP.
Bahan kering silase pada perlakuan T sebesar 13,63 ± 0,99%, dan pada perlakuan SP sebesar 14,91 ± 0,82%. Kadar bahan kering ini lebih rendah
dibandingkan pada penelitian Despal et al. (2011) silase daun rami beraditif jagung memiliki bahan kering (BK) 19,63%. Menurut Muck (2011), kehilangan bahan kering silase setelah proses ensilase masih dapat ditoleransi yaitu pada kisaran 1 – 10%. Rendahnya kadar BK silase pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh degradasi bahan organik yang tinggi membentuk VFA. Kadar VFA (mM) pada penelitian ini yaitu untuk perlakuan T sebesar 60 ± 18,97 mM, sedangkan pada perlakuan SP yaitu 44 ± 25,10 mM serta tingginya perombakan bahan kering pada perlakuan T sebesar 58,1% sedangkan pada SP sebesar 54,16%.
31 merupakan salah satu penyebab tingginya perombakan bahan kering. Kadar air yang tinggi akan meningkatkan buffering capacity dalam proses ensilasi. Kadar air yang tinggi menyebabkan pH lama untuk turun (Saun & Heinrich, 2008). Untuk mendapatkan kualitas silase yang baik sebaiknya bahan dikeringkan terlebih dahulu hingga kandungan air berkurang menjadi 70-60% (Moran, 2005). Pada penelitian ini daun rami yang digunakan mengandung air lebih dari 70%. Kandungan air yang tinggi tersebut menyebabkan peningkatan kapasitas buffer bahan untuk dapat mencapai pH yang rendah sedangkan proses degradasi bahan kering terus berlangsung.
Tingginya perombakan bahan kering (BK) dapat juga disebabkan under estimate pengukuran BK menggunakan oven heat dimana banyak asam organik menguap. Pengukuran BK silase sebaiknya menggunakan metode freeze dryer, namun karena keterbatasan alat, metode tersebut masih sulit dilakukan. Menurut Ensminger (1977) pembuatan silase menggunakan silo trench dapat terjadi kerusakan yang lebih besar dibandingkan silo tower, karena luasnya bidang permukaan silase yang dapat kontak dengan udara sehingga mengalami pembusukan maupun pertumbuhan jamur. Untuk meminimalisasi proses pembusukan yang terjadi dapat dilakukan (1) mengurangi kerenggangan plastik penutup dengan memberikan pemberat pada plastik penutup sehingga udara yang masuk kedalam silase
diminimalisasi, (2) lakukan pemotongan hijauan sebelum dibuat silase dan (3) menggunakan material penutup tambahan yang kedap air.
Menurut Morisson (1959) silase kehilangan bahan kering dapat terjadi 5 – 10% bahkan lebih besar lagi bila terjadi reaksi oksidasi yang membuat bahan kering silase menjadi karbon dioksida dan air. Kerusakan ini dapat terjadi karena kerenggangan saat membuat silase sehingga udara dapat masuk ke dalam silase pada silo skala besar. Kehilangan bahan kering silase juga dapat terjadi akibat spoilage
yang terjadi selama proses ensilasi.
Kadar Protein Kasar (PK), Kadar NH3 dan Perombakan PK
32 yaitu fase aerobik. Pada fase ini proses proteolisis terjadi karena pH normal dan keberadaan bakteri Clostridial. Amonia yang terbentuk akan memengaruhi penurunan pH pada silase sehingga protein dalam hal ini dapat menimbulkan buffering capacity pada proses ensilasi. Amonia (NH3) menyebabkan keadaan
penurunan pH menjadi tidak stabil. Kadar NH3 pada silase diharapkan kurang dari 8
- 10% (Saun & Heinrich, 2008).
Tidak terdapat perbedaan kandungan NH3 silase antara perlakuan T dengan
SP. Pada penelitian ini didapatkan nilai NH3 pada perlakuan T yaitu 0,59 ± 0,25 mM,
sedangkan SP yaitu 0,59 ± 0,20 mM. Perombakan bahan kering yang intensif menghasilkan nilai pH yang rendah, sehingga perombakan protein hanya sedikit. Degradasi protein yang terjadi pada perlakuan T sebesar 2,9 ± 0,24%, sedangkan pada perlakuan SP sebesar 2,45 ± 0,02%. Hal tersebut menyebabkan nilai protein silase yang tinggi yaitu 20,36 ± 1,02% pada perlakuan T, dan 23,91 ± 7,69% pada perlakuan SP.
Silase pada penelitian ini tergolong kualitas yang cukup baik bila dilihat dari aspek perombakan PK yang rendah. Perombakan PK yang rendah ini disebabkan proteolisis oleh mikroba pembusuk tidak banyak terjadi. Proses pelayuan dan penambahan substrat yang fermentable sebelum ensilasi yang akan menghasilkan silase yang baik dengan menurunkan kapasitas buffer dan proteolisis (Titterton dan
Pareeba, 2000). Gambar 3. merupakan gambar metode Conway untuk menganalisa NH3 silase.
33 Kadar Water Soluble Carbohydrate (WSC)
Parameter pengamatan lainnya yaitu kadar WSC (water soluble carbohydrate), yang merupakan indikator aktivitas mikroba pendegradasi gula mudah larut untuk menghasilkan asam-asam organik pada proses ensilasi. Kadar WSC dalam pra-ensilase merupakan prekursor bagi mikroorganisme membentuk asam-asam organik untuk menurunkan pH silase, sehingga proses degradasi nutrien pada bahan utama tidak banyak terjadi. Untuk menghasilkan silase berkualitas baik dibutuhkan kadar WSC 6 - 8% berdasarkan BK silase (Church, 1988). Penambahan bahan aditif pada pembuatan silase dapat meningkatkan keberhasilan pembuatan silase 70 – 100% dengan kualitas baik (Sawen et al., 2003). Pada penelitian ini, berdasarkan uji statistik, tidak terdapat perbedaan antara perlakuan T dengan SP. Pada Tabel 7 dapat dilihat kadar WSC untuk perlakuan T yaitu 0,96 ± 0,68 dan perlakuan SP 0,87 ± 0,53. Hasil penelitian ini jauh lebih rendah dari hasil penelitian Despal et al. (2011) yaitu berkisar pada 3,4%.
Kadar WSC normal pada silase yaitu 1 – 3% (Seglar et al., 2003). Pada penelitian ini kadar WSC kurang dari 1%. Rendahnya kadar WSC dalam silase menunjukkan bahwa WSC yang ada dalam bahan tersebut banyak digunakan untuk menurunkan pH. Hal tersebut didukung dengan nilai pH silase pada penelitian ini yang cukup rendah yaitu berkisar 4,5. Rendahnya kadar WSC pada penelitian ini
diduga karena WSC banyak digunakan oleh mikroba unutuk membentuk asam-asam organik dalam jumlah relatif banyak pada kondisi bahan yang menganduk BK kurang dari 30 – 40%. Menurut Moran (2005) fermentasi anaerobik dapat berlangsung dengan baik pada pembuatan silase bila kadar BK bahan pada kisaran 30 – 40%.
Nilai Fleigh
34 kurang baik bila mempunyai NF < 20 (Idikut et al., 2009). Nilai fleigh (NF) silase dengan dua perlakuan silo seperti pada Tabel 7.
Pada penelitian ini secara uji statistik, tidak terdapat perbedaan antara perlakuan T dengan SP. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan NF untuk perlakuan SP yaitu 53,03 ± 4,33, sedangkan perlakuan T yaitu 52,46 ± 8,16. Dapat diketahui bahwa kedua perlakuan menghasilkan silase berkualitas cukup baik yaitu nilai NF pada kisaran 40 – 60 (Idikut et al., 2009). Rendahnya nilai pH tidak mampu menghasilkan silase berkualitas baik atau sangat baik karena rendahnya BK silase.
Karakteristik Utilitas Silase
Pengamatan utilitas silase meliputi parameter fermentabilitas rumen antara lain nilai VFA dan NH3 cairan rumen, dan kecernaan yang meliputi kecernaan bahan
kering dan kecernaan bahan organik secara in vitro seperti pada Tabel 8. Pengamatan karakteristik utilitas silase daun rami ini hanya menggunakan bagian silase yang terfermentasi baik. Tidak terdapat pengaruh nyata dari jenis silo yang berbeda terhadap parameter karakteristik utilitas.
Karakteristik Fermentabilitas Rumen
Pengamatan karakteristik fermentabilitas rumen antara lain nilai VFA (Volatile Fatty Acid) dan ammonia (NH3). VFA (Volatile Fatty Acid) atau asam lemak terbang merupakan sumber energi utama bagi ruminansia dan merupakan hasil
35 Tabel 8. Karakteristik utilitas silase daun rami beraditif
Peubah Perlakuan
T SP
Fermentabilitas Rumen
VFA (mM) 159,50 ± 40,79 145,65 ± 39,52 NH3 (mM) 7,05 ± 0,7 6,58 ± 0,65
Kecernaan
Bahan Kering (%) 63,04 ± 6,89 56,39 ± 24,34 Bahan Organik (%) 61,19 ± 6,74 53,31 ± 27,59
Pada penelitian ini secara uji statistik, tidak terdapat perbedaan antara perlakuan T dengan SP. Konsentrasi VFA pada cairan rumen dari perlakuan T yaitu 159,50 ± 40,79 mM, sedangkan SP yaitu 145,65 ± 39,52 mM. Sejalan dengan pernyataan yang mengatakan bahwa konsentrasi VFA cairan rumen yang mendukung dengan pertumbuhan mikroba yaitu lebih dari 60 mM (Saun &Heinrich, 2008), maka dapat dikatakan bahwa silase daun rami beraditif dari kedua silo tersebut tergolong pada pakan yang cukup fermentabel bahan organiknya dimana nilai yang dihasilkan diatas batas minimal yang mendukung untuk fermentasi mikroba rumen. Berdasarkan pengamatan utilitas NH3 rumen pada perlakuan T yaitu
7,05 ± 0,71mM, sedangkan SP yaitu 6,58 ± 0,65mM. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas silase pada kedua perlakuan tersebut cukup baik, nilai NH3 yang terbentuk
merupakan hasil perombakan protein oleh mikroorganisme rumen sebagai precursor protein mikroba. Kadar NH3 yang dihasilkan berada dalam kisaran optimal (6 – 21
mM) untuk pertumbuhan mikroba (McDonald, 1995)
Kecernaan
Kecernaan yang tinggi mencerminkan besarnya sumbangan nutrien tertentu pada ternak, sementara itu pakan yang mempunyai kecernaan rendah menunjukan
36 beraditif jagung yang dibuat menggunakan perlakuan silo yang berbeda dapat dilihat pada pada Tabel 8.
37 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Karakteristik fisik silase daun rami yang dibuat menggunakan silo portabel (plastic bag) lebih baik dibandingkan dengan trench silo. Namun karakteristik fermentatif dan utilitas tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Pada trench silo terjadi pembusukan bahan silase yang mencapai 58% sedangkan pada SP tidak terdapat pembusukan. Perombakan bahan kering pada kedua silo cukup intensif (>50%) namun perombakan protein hanya sedikit (<3%). Silase yang dihasilkan pada kedua silo tergolong pada silase cukup baik (NF 52%–53%). Secara utilitas, kedua silase merupakan pakan yang cukup fermentabel bahan organik dan proteinnya dalam rumen serta memiliki kecernaan yang cukup tinggi (56% dan 63%).
Saran
Perlu dipelajari teknik untuk menurunkan kerusakan bahan pada trench
i
PENGARUH JENIS SILO TERHADAP KUALITAS SILASE
DAUN RAMI (
Boehmeria nivea
, L. Gaud) BERADITIF
SKRIPSI
DIPA ARGADYASTO
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
i
PENGARUH JENIS SILO TERHADAP KUALITAS SILASE
DAUN RAMI (
Boehmeria nivea
, L. Gaud) BERADITIF
SKRIPSI
DIPA ARGADYASTO
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
i RINGKASAN
Dipa Argadyasto. D24070245. 2012. Pengaruh Jenis Silo terhadap Kualitas Silase Daun Rami (Boehmeria nivea, L. Gaud) Beraditif. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Despal, S. Pt., M. Sc. Agr. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Ibnu Katsir Amrullah, MS.
Daun rami merupakan hasil sampingan dari tanaman rami yang batangnya digunakan sebagai bahan baku industri serat dan tekstil. Daun rami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Tanaman rami dapat menghasilkan hijauan hingga 300 ton bahan segar/ha/tahun (FAO, 2012) atau setara dengan 42 ton bahan kering (BK). Dengan jumlah produksi hijauan yang cukup tinggi per luasan lahan tersebut, perlu silo yang besar untuk dapat mengawetkan daun rami tersebut menjadi silase. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kualitas silase daun rami beraditif jagung halus yang menggunakan silo berbeda terhadap karakter fisik, karakter fermentatif dan utilitas pada ternak ruminansia secara in vitro. Daun rami didatangkan dari Koppontren Darussalam Garut. Jagung halus digunakan sebagai aditif untuk meningkatkan WSC dan BK daun rami pada pembuatan silase daun rami. Fermentasi berlangsung selama 32 hari pada suhu ruang secara anaerob. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 2 taraf perlakuan yaitu silo plastik (SP) dan silo trench (T), masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Peubah yang diamati antara lain (1) karakteristik fisik silase (aroma, tekstur, kelembaban, warna, jamur dan %busuk), (2) karakteristik fermentasi silase (pH, BK, VFA, kehilangan BK, PK, NH3, perombakan PK, WSC (water soluble
carbohydrate) dan NF) dan (3) karakteristik utilitas silase pada ruminansia (VFA silase, NH3 silase, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik).
Hasil penelitian memeperlihatkan bahwa karakter fisik silase yang dibuat menggunakan silo SP lebih baik dibandngkan dengan T. Pada silo SP tidak terjadi pembusukan. Sedangkan pada silo T terdapat pembuskan yang sangat besar yaitu mencapai 58%. Kelembaban dan tekstur silase dari kedua silo tersebut tergolong baik. Karakter fermentatif kedua silase dari kedua silo tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kadar VFA, NH3 dan pH pada perlakuan T adalah 60 ± 18,97
mM, 0,59 ± 0,25 mM dan 4,49 ± 0,20 berturut-turut. Sedangkan pada perlakuan SP adalah 44 ± 25,1 mm, 0,59 ± 0,20 mM dan 4,54 ± 0,09 berturut-turut. Nilai NF silase pada perlakuan T sebesar 52,46 ± 8,16 juga tidak berbeda dengan perlakuan SP yaitu 53,03 ± 4,33.
Karakteristik utilitas juga tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Kadar VFA, NH3 cairan rumen, KCBK dan KCBO pada perlakuan T
sebesar 159,50 ± 40,79 mM, 7,05 ± 0,7 mM, 63,04 ± 6,89% dan 61,19 ± 6,74% berturut-turut dan pada perlakuan SP sebesar 145,65 ± 39,52 mM, 6,58 ± 0,65 mM, 56,39 ± 24,34% dan 53,31 ± 7,59% berturut-turut. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa meskipun tidak terdapat perbedaan pada karakteristik fermentatif dan utilitas silase yang dihasilkan pada kedua jenis silo, namun kerusakan silase pada silo trench
sangat tinggi. Silo SP menghasilkan silase lebih baik dibandingkan trench.
ii ABSTRACT
The Effect of Type of Silo to The Additive Ramie Leaf (Boehmeria nivea, L . Gaud) Silage Quality Dipa Argadyasto, Despal and Ibnu Katsir Amrullah
Ramie leaves are byproduct of Ramie plantation. The plant is grown to produce fiber, raw material for textile industries. Annually, per ha of ramie plantation could produce up to 300 tons forage fresh material or equivalent with 42 tons of dry matter (DM). Currently, the leaves are under utilized. An attempt to increase ramie leaves utilization through fresh forage preservation technique (ensilage) have been done in two different type of silo. Silo portable (plastic bag for small capacity) and trench silo (for a larger scale) were compare of their impact on physical (odor, texture, moisture, color and spoilage), fermentative (pH, DM, VFA, DM degradation, CP, NH3, CP degradation, WSC and fleigh number) and utilities (fermentation and digestion) characteristics of silage produced. In general, silo portable (plastic bag) produced better physical characteristics of ramie silage in compare to trench. However, the different were not significantly shown by silage fermentative and utilities characteristics. In trench silo, up to 58% of the silage was spoiled, while in plastic bag there were no spoilage existed. Although extensive degradation (> 50%) of DM were occurred during ensilage in both silo, but only insignificant degradation (< 3%) of CP were found. The silage produced was categorized as quite good (NF 52% – 53%) silages. Ruminant utilities characteristics of both silages showed that the silages were highly fermentable in rumen with moderately digested (56% and 63%) in digestion tracts.
iii
PENGARUH JENIS SILO TERHADAP KUALITAS SILASE
DAUN RAMI (
Boehmeria nivea
, L. Gaud) BERADITIF
DIPA ARGADYASTO D24070245
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
iv Judul : Pengaruh Jenis Silo Terhadap Kualitas Silase Daun Rami (Boehmeria
nivea, L. Gaud) Beraditif Nama : Dipa Argadyasto
NIM : D24070245
Menyetujui,
Pembimbing Utama
(Dr. Despal, S.Pt., M.Sc.Agr.) NIP. 19701217 199601 2 001
Pembimbing Anggota
(Dr. Ir. Ibnu Katsir Amrullah, MS.) NIP. 19521110 198003 1 004
Mengetahui: Ketua Departemen
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr. ) NIP. 19670506 199103 1 001
v RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 11 September 1988 dari pasangan Bapak Dwi Suswanto dan Ibu Lies Setianingsih. Penulis adalah anak pertama dari lima bersaudara. Penulis mengawali pendidikan pada tahun 1992 di Taman Kanak-kanak Taman Anggrek Jakarta Timur. Pada tahun 1994 hingga tahun 2000, penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Negeri 03 Palmeriam, Jakarta Timur. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2000 hingga tahun 2003. Pada tahun 2003 hingga tahun 2006, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 31 Jakarta.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan diterima di Departemen Ilmu
Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan. Selama di IPB, penulis aktif dalam berorganisasi dan pengembangan softskill. Penulis pernah menjadi Staf Divisi Syiar, Ikatan Keluarga Mahasiswa Muslim TPB (IKMT IPB) periode 2007-2008. Kemudian pada tingkat fakultas, penulis aktif dalam organisasi FAMM Al An’aam Fakiltas Peternakan pada tahun 2008-2010.
vi KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan kasih sayangNya yang melimpah serta shalawat serta salam tercurah kepada nabi besar Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan umatnya hingga akhir zaman sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Pengaruh Jenis Silo Terhadap Kualitas Silase Daun Rami (Boehmeria nivea, L. Gaud) Beraditif”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini. Penulis sampaikan terimakasi kepada orang tua yang telah banyak memberikan motivasi kepada penulis. Penulis juga ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing skripsi dan pembimbing akademik yang telah banyak memberikan banyak masukan kepada penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada para sahabat dan teman-teman yang telah memberi motivasi. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak lain yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Skripsi ini memuat tentang karakteristik fisik, fermentatif dan utilitas silase daun rami dengan penambahan tepung jagung pada silo yang berbeda. Pengamatan karakteristik fermentatif dan utilitas dilakukan secara in vitro. Lama ensilasi pada penelitian ini yaitu 32 hari. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, namun demikian penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca.
Bogor, April 2012