• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Pasien Dengan Bell’s Palsy Sinistra Di RSUD Sukoharjo.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDAHULUAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Pasien Dengan Bell’s Palsy Sinistra Di RSUD Sukoharjo."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1   

BAB I PENDAHULUAN  

A. Latar Belakang

Memiliki wajah yang terlihat sehat dan terawat merupakan idaman setiap

manusia. Dalam interaksi sehari-hari manusia seringkali mengungkapkan

berbagai ekspresi mengenai perasaan yang dirasakannya melalui wajah.

Permasalahan yang muncul pada wajah tentunya membuat kepercayaan diri

seseorang menjadi menurun atau bahkan hilang. “Kesehatan merupakan salah

satu hak bagi tubuh manusia” demikian sabda Nabi Muhammad SAW.

Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan

fitrah manusia, maka Islam menegaskkan perlunya istoqomah memantapkan

diri dengan menegakkan agama islam. Salah satu gangguan kesehatan yang

sering muncul pada wajah adalah Bell’s Palsy. Gangguan ini dapat muncul

baik pada remaja maupun orang tua.

Bell’s Palsy merupakan kelemahan wajah dengan tipe Lower Motor

Neuron yang disebabkan oleh keterlibatan saraf facialis idiopatic di luar

sistem saraf pusat, tanpa adanya neurologik lainnya. Terdapat lima teori yang

menyebabkan terjadinya Bell’s Palsy yaitu iskemik, vaskular, virus, bakteri,

herediter, dan imunologi (Lowis dan Gaharu, 2012).

Insiden sindroma ini sekitar 20-30 kasus per 100.000 orang setiap tahun

dan 60-70% kasus adalah unilateral facial paralysis (Adel dkk., 2014). Di

(2)

2   

bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10%

mengalami asimetri muskulus fasialis persisten (Lowis dan Gaharu, 2012).

Gejala Bell’s Palsy dapat berupa kelumpuhan otot-otot wajah pada satu

sisi yang terjadi secara tiba-tiba beberapa jam sampai beberapa hari. Pasien

juga mengeluh nyeri disekitar telingan, rasa bengkak atau kaku pada wajah,

kadang di ikuti hiperakusis, berkurangnya produksi air mata, hipersalivalis

dan berubahnya pengecapan (Munilson dkk., 2011). Tanda khas dari lesi

N.VII tipe perifer adalah adanya Lagoptalmus (kelopak mata tidak dapat

menutup ketika pasien memejamkan mata) dan Bell’s Phenomen (bola mata

bergulir ke atas ketika pasien memejamkan mata). Kondisi umum yang sering

dijumpai pada penderita Bell’s Palsy yaitu terdapat kelumpuhan pada salah

satu sisi wajahnya, ekspresi pada wajah akan menghilang, garis-garis pada

dahi menghilang, mata tidak dapat tertutup rapat, sudut mulut letaknya lebih

rendah dan lipatan nasolabialis lebih datar (Bahrudin, 2011).

Salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang muncul

pada kondisi Bell’s Palsy yaitu dengan menggunakan intervensi fisioterapi.

Menurut Wiley dan Sons (2008) tipe intervensi fisioterapi secara umum yang

dapat digunakan pada kasus facial paralysis yaitu facial exercise seperti

facial mimic expresion, therapeutic, manual terapi, elektroterapi, terapi panas

dan massage dapat di pilih salah satu atau mengkombinasikan dengan

intervensi lain. Intervensi Fisioterapi yang dipilih untuk menangani

permasalahan-permasalahan yang muncul pada kondisi Bell’s Palsy yaitu ES

(3)

3   

otot wajah, Mirror exercise untuk melatihan gerakkan otot wajah secara aktif

maupun pasif dan meningkatkan kemampuan fungsional otot wajah.

Berdasarkan kajian yang telah diuraikan diatas, maka penting untuk

membahas kasus Bell’s Palsy serta penanganannya berdasarkan konsep

keilmuan fisioterapi. Oleh karena itu penulis mengambil judul

Penatalaksanaan Fisioterapi pada kasus Bell’s Palsy Sinistra di RSUD

Sukoharjo.

B. Rumusan Masalah

Pemasalahan yang terjadi pada kondisi Bell’s Palsy sangat kompleks,

maka penulis dalam hal ini mengambil pembatasan masalah dengan rumusan

masalah sebagai berikut:

Apakah Electrical Stimulation (ES) dan Mirror Exercise dapat meningkatkan

kekuatan otot wajah dan kemampuan fungsional otot-otot wajah?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah:

1. Tujuan Umum:

Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi dengan Electrical

Stimulation (ES) dan, terapi latihan Mirror Exercise terhadap pasien

(4)

4   

2. Tujuan Khusus:

Mengetahui pengaruh pemberian Electrical Stimulation (ES) dan Mirror

Exercise terhadap peningkatan kekuatan otot wajah dan peningkatan

kemampuan fungsional otot-otot wajah.

D. Manfaat

1. Bagi penulis:

Untuk mengetahui pengaruh pemberian Electrical Stimulation (ES) dan

terapi latihan Mirror Exercise terhadap pasien dengan kondisi Bell’s

Palsy.

2. Bagi pembaca:

Dengan membaca Karya Tulis Ilmiah yang dibuat oleh penulis ini semoga

Referensi

Dokumen terkait

Menurut asal katanya yaitu “ Bell” diambil dari nama belakang Sir Charles Bell ( 1833 ) yang telah membuktikan bahwa otot wajah disarafi oleh1. nervus facialis, bukannya

Telah disetujui oleh pembimbing untuk dipertahankan didepan Tim Penguji karya Tulis Ilmiah dengan judul ”PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI BELL’S PALSY DEXTRA DI

Diharapkan dengan adalanya karya tulis ini dapat memberikan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat tentang kondisi B ell’s Palsy sehingga masyarakat dapat

Modalitas fisioterapi yang dapat digunakan dalam penanganan bell’s palsy berupa infra red ( IR ), massage, electrical stimulation?.

Setelah mendapat aplikasi beberapa modalitas sebanyak 6 kali terapi Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), massage, dan mirror exercise serta edukasi dapat

Kesimpulan: Pada kondisi Bell’s Palsy Dextra dengan manifestasi kelemahan otot-otot wajah dan penurunan kemampuan fungsional wajah bagian kanan, setelah diberikan

Fisioterapi berperan banyak dalam rehabilitasi pasien bell’s palsy dengan melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan fisioterapi dengan menggunakan modalitas infra red

Berdasarkan permasalahan yang muncul pada kondisi bell’s palsy dextra, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1) Apakah pemberian infra red, electrical