• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosiologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sosiologi"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

Pendahuluan

A. Pengantar

Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda, walau telah

mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia mengenal kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian. Awal mulanya , orang-orang yang meninjau masyarakat hanya tertarik pada masalah-masalah yang menarik perhatian umum, seperti kejahatan , perang , kekuasaan golongan yang berkuasa, keagamaan, dan lain sebagainya. Dari pemikiran serta penilaian yang demikian itu, orang kemudian

meningkat pada filsafat kemasyarakatan , di mana orang menguraikan harapan-harapan tentang susunan serta kehidupan masyarakat yang diingini atau yang ideal.

B. Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi

1. Apakah Ilmu Pengetahuan ( Science) ?

Manusia sebenarnya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat

disimpulkan dari kemampuannya untuk berpikir, berkehendak, dan merasa. Dengan pikirannya manusia mendapatkan (ilmu)

pengetahuan; dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya; dan dengan perasaannya manusia dapat mencapai kesenangan. Sarana untuk memelihara dan meningkatkan ilmu pengetahuan dinamakan logika, sedangkan sarana-sarana untuk memelihara serta meningkatkan pola perilaku dan mutu kesenian, disebut etika dan estetika.

Apakah sosiologi benar-benar merupakan suatu ilmu pengetahuan ? Sejak mulakala , para pelopor sosiologi

menganggapnya demikian tetapi apakah anggapan tadi benar ? Persoalan tersebut mungkin dapat diselesaikan terlebih dahulu berusaha merumuskan apakah yang dimaksudkan dengan ilmu pengetahuan (science). Secara pendek dapatlah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan ( knowledge ) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol ) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya.

(2)

kepercayaan , takhayul, dan penerangan-penerangan yang keliru. Secara Umum dan konvensional dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan yaitu masing-masing :

a. Ilmu Matematika;

b. Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam baik yang hayati (life sciences) maupun yang tidak hayati (fisika);

c. Ilmu tentang perilaku (behavioral sciences) yang di satu pihak menyoroti perilaku hewan, dan di lain pihak menyoroti perilaku manusia (human behavior), yang terakhir ini sering kali

dinamakan ilmu-ilmu social yang mencakup berbagai ilmu

pengetahuan yang masing-masing menyoroti sesuatu bidang di dalam kehidupan masyarakat.

d. Ilmu pengetahuan kerohanian, yang merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

2. Ilmu-ilmu Sosial dan Sosiologi

Ilmu-ilmu social dinamakan demikian karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. Ilmu-ilmu social belum mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil yang teratur dan diterima oleh masyarakat, yang juga disebabkan karena objeknya bukan manusia.

Ciri-ciri utama sosiologi adalah sebagai berikut :

a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.

b. Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori. c. Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori

sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.

d. Sosiologi bersifat nonetis, yakni yang dipersoalkan bukanlah baik-buruknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analisis.

(3)

a. Adanya suatu terminologi umum yang menyeragamkan berbagai disiplin perilaku;

b. Suatu tekhnik penelitian terhadap organisasi-organisasi yang besar dan kompleks;

c. Suatu pendekatan sintetis yang meniadakan analis fragmentaris dalam rangka hubungan internal antara bagian-bagian yang tidak dapat diteliti di luar konteks yang menyeluruh;

d. Suatu sudut pandang yang memungkinkan analisis terhadap masalah-masalah sosiologi dasar ;

e. Penelitian yang lebih banyak tertuju pada hubungan dari bagian-bagian; dengan tekanan pada proses dan kemungkinan

terjadinya perubahan.

f. Kemungkinan mengadakan penelitian secara operatif dan

objektif terhadap sistem perilaku yang berorientasi pada tujuan atau didasarkan pada tujuan, proses kognitif-simbolis, kesadaran diri dan social, tahap-tahap keadaan darurat secara

social-budaya, dan seterusnya.

3. Definisi Sosiologi dan Sifat Hakikatnya. Beberapa definisi sosiologi sebagai berikut.

a. Pitirim Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:

1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral,hukum dengan ekonomi,gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya.

2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala social dengan gejala-gejala nonsosial (misalnya gejala

geografis,biologis,dan sebagainya);

3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala social.

Sifat-sifat hakikat sosiologi :

a. Sosiologi merupakan suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.

b. Sosiologi merupakan disiplin yang normative tetapi

merupakan suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi. c. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure

(4)

d. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkret.

e. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.

f. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.

g. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.

4. Objek Sosiologi

Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu social lainnya, objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Agak sukar untuk memberikan suatu batasan tentang masyarakat karena istilah masyarakat terlalu banyak mencakup berbagai factor sehingga kalaupun

diberikan suatu definisi yang berusaha mencakup

keseluruhannya, masih ada juga yang tidak memenuhi unsur-unsurnya.

Gambaran Ringkas tentang Sejarah Teori-teori Sosiologi 1. Apakah Teori ?

Suatu teori pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua factor atau lebih , atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris.

Kegunaan teori sosiologi

a. Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.

b. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi. c. Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih

mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi. d. Suatu teori akan sangat berguna dalam

mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta mempekembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian. e. Pengetahuan teoritis memberikan

(5)

masyarakat akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa yang lampau dan pada dewasa ini.

2. Perhatian terhadap masyarakat sebelum Comte

Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan karena sebagaimana dinyatakn di muka Comte yang pertama kali memakai istilah atau pengertian sosiologi. Sosiologi

dapatlah dikatakan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang relative muda usianya karena baru mengalami perkembangan sejak masanya Comte tersebut. Akan tetapi, di lain pihak, perhatian-perhatian serta pikiran-pikiran terhadap masyarakat manusia telah dimulai jauh sebelum masa Comte.

Seorang filsuf Barat yang untuk pertama kalinya

menelaan masyarakat secara sistematis adalah Plato (429-347 SM), seorang filsuf Romawi. Sebetulnya Plato

bermaksud untuk merumuskan suatu teori tentang bentuk negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan kritis terhadap sistem-sistem social yang ada pada zamannya.

Aristoteles (384-322 SM) mengikuti sistem analisis secara organis dari Plato . Di dalam bukunya Politics, Aristoteles mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.

Pada akhir abad pertengahan muncul ahli filsafat Arab, Ibn Khaldun (1332-1406) yang mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian social dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah.

Pada zaman Renaissance (1200-1600),tercatat nama-nama seperti Thomas More dengan Utopia-nya dan Campanella yang menulis City of The Sun.

Abad ke-17 ditandai dengan munculnya tulisan Hobbes (1588-1679) yang berjudul The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika, dan matematika. Dia beranggapan bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis sehingga manusia selalu saling berkelahi.

3. Sosiologi Auguste Comte (1798-1853)

(6)

antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dia menyusun suatu sistematika dari filsafat sejarah dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda-beda. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan dari tahap

sebelumnya. Tahap pertama dinamakannya tahap teologis atau fiktif, yaitu suatu tahap di mana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan roh dewa-dewa atau Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hal yang menonjol dari sistematika Comte adalah penilaiannya terhadap sosiologi, yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks, dan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang akan berkembang dengan pesat sekali.

4. Teori-teori Sosiologi Sesudah Comte

a. Mazhab Geografi dan Lingkungan

Ajaran-ajaran atau teori-teori yang masuk dalam mazhab ini telah lama berkembang. Dengan kata lain, jarang sekali terjadi bahwa para ahli pemikir

menguraikan masyarakat manusia terlepas dari tanah atau lingkungan di mana masyarakat tadi berada. Masyarakat hanya mungkin timbul dan berkembang apabila ada tempat berpijak dan tempat hidup bagi masyarakat tersebut.

Pentingnya mazhab ini adalah bahwa ajaran-ajaran atau teori-teori mengubungkan factor keadaan alam dengan factor-faktor struktur serta organisasi social. Ajaran dan teorinya mengungkapkan adanya korelasi antara

tempat tinggal dengan adanya aneka ragam

karakteristik antara tempat tinggal dengan adanya aneka ragam karakteristik kehidupan social suatu masyarakat.

b. Mazhab Organis dan Evolusioner

Ajaran-ajaran serta teori-teori bidang biologi, dalam arti luas, banyak memengaruhi teori-teori sosiologi.

(7)

diikuti oleh para sosiologi sesudah dia. Suatu organisme, menurut Spencer, akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan dengan adanya differensiasi antara bagian-bagiannya.

c. Mazhab Formal

Menurut Simmel, elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur

hubungan antara elemen-elemen tersebut.

Menurut Simmel, seseorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Leopold von Wiese (1876-1961) berpendapat bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antarmanusia tanpa mengaitkannya dengan tujuan-tujuan maupun kaidah-kaidah.

Itulah prakondisi suatu masyarakat yang hanya dapat berkembang penuh dalam kehidupan berkelompok atau dalam masyarakat setempat (community).

d. Mazhab Psikologi

Diantara sosiolog-sosiolog yang mendasarkan teorinya pada psikologi adalah Gabriel Tarde (1843-1904) dari Prancis. Dia mulai dengan suatu dugaan atau

pandangan awal bahwa gejala social mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, di mana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan.

e. Mazhab Ekonomi

Marx telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan di mana ada keadilan social.

f. Mazhab Hukum

Di dalam sorotannya terhadap masyarakat. Durkheim menaruh perhatian yang besar terhadap hukum yang dihubungkannya dengan jenis-jenis solidaritas yang terdapat di dalam masyarakat. Hukum menurut Durkheim adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat-ringannya tergantung pada sifat pelannggaran, anggapan-anggapan, serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tindakan.

(8)

Pada dasarnya terdapat dua jenis cara kerja atau metode , yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif

mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata di dalam masyarakat. Di dalam metode kualitatif termasuk metode historis dan metode komparatif, keduanya dikombinasikan menjadi historis-komparatif. Metode historis menggunakan analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

Metode komparatif mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta sebab-sebabnya. Metode studi kasus (case study) bertujuan untuk mempelajari sedalam-dalamnya salah satu gejala nyata dalam kehidupan masyarakat. Metode kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks , table , dan formula-formula yang semuanya mempergunakan ilmu pasti atau matematika.

Di samping metode-metode di atas, metode-metode sosiologi lainnya didasarkan pada penjenisan antara metode induktif yang mempelajari suatu gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lapangan yang lebih luas, dan metode deduktif yang mempergunakan proses sebaliknya, yaitu mulai dengan kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam

keadaan yang khusus.

D. Mazhab-mazhab dan Spesialisasi dalam Sosiologi

Sudah menjadi sifat ilmu pengetahuan bahwa apabila teori-teori dalam ilmu penhetahuan tersebut meningkat semakin dalam dan tinggi, maka akan timbul spesialisasi-spesialisasi ilmu pengetahuan. Di dalam perkembangan ilmu sosiologi tampak kecenderungan bahwa ilmu tersebut di dalam taraf pertama dapat dibeda-bedakan menurut metode yang dipergunakan untuk meneropong masyarakat. Dengan demikian, seolah-olah timbul berbagai mazhab yang berbeda dalam dasar dan metode ilmiahnya, yang telah dijelaskan di muka.

(9)

mempelajari berbagai persoalan sosiologis makin jelas dan bertambah baik, metode-metode itu kemudian dipraktikkan untuk membahs

berbagai masalah khusus dalam masyarakat.

Pitirim Sorokin di dalam bukunya yang berjudul Contemporu Sociological Theories mengklasifikasi mazhab-mazhab sosiologi dengan cabang-cabangnya berikut ini yang agak berbeda dengan penggolongan di muka.

1. Mechanistic school Social mechanics Social physics Social energitics

Mathematical Sociology of Pareto

2. Synthetic and Geographic School of Le Play 3. Geographical School

4. Biological School Bio-organismic branch

Racialist, Hereditarist and Slectionist branch

Sosiological Darwinism and Stuggle for Existence the theories 5. Bio-Social School

Economic interpretation of history 8. Psychological School

Behaviorists Instinctivist

Introspectivists of various types 9. Psycho-Sociologistic School

Various interpretations of social phenomena in terms of

culture,religion,law,public opinion,folkways,and other “psychosocial factors”. Experimental studies, of a correlation between various psychosocial phenomena.

E. Perkembangan Sosiologi di Indonesia

Walau pada hakikatnya para pujangga dan pemimpin Indonesia belum pernah mempelajari teori-teori formal sosiologi sebagai ilmu

(10)

mengandung aspek sosiologi, terutama dalam bidang hubungan antargolongan. Almarhum Ki Hadjar Dewantoro, pelopor utama yang meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan nasional di Indonesia,

memberikan sumbangan yang sangat banyak pada sosiologi dengan konsep-konsepnya mengenai kepemimpinan dan kekeluargaan

Indonesia yang dengan nyata dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.

Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta pada waktu itu merupakan satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang sebelum perang dunia kedua memberikan kuliah-kuliah sosiologi di Indonesia. Di sini pun ilmu

pengetahuan tersebut hanyalah dimaksudkan sebagai pelengkap bagi mata pelajaran ilmu hukum.

Pada tahun-tahun 1934/1935 kuliah-kuliah sosiologi pada Sekolah Tinggi Hukum tersebut justru ditiadakan karena pada waktu itu para guru besar yang memegang tanggung jawab dalam menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Di dalam tingkat perkembangan sosiologi yang demikian itu, di mana teori yang

diutamakan sedangkan ilmunya belum dianggap penting untuk

dipelajari tersendiri, tidak dapat diharapkan berkembangnya penelitian sosiologis yang mencoba menemukan kenyataan-kenyataan sosiologi dalam masyarakat Indonesia.

2. Perkembangan Sosiologi Sesudah Perang Dunia Kedua

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17

Agustus 1945, seorang sarjana Indonesia, yaitu Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya memeberi kuliah sosiologi (1948) pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta (akademi tersebut kemudian dilebur ke

dalam Universitas Negeri Gdjah Mada, yang kemudian menjadi

Fakultas Sosial dan Politik). Beliau memberikan kuliah-kuliah di dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut merupakan suatu kejadian baru karena sebelum Perang Dunia Kedua, semua kuliah pada perguruan-perguruan tinggi diberikan dalam bahasa Belanda. Pada Akadem Ilmu Politik tersebut sosiologi juga dikuliahkan sebagai ilmu pengetahuan tersebut sukar sekali untuk mencetuskan keinginan pada para sarjana, untuk memperdalam, kemudian mengembangkan sosiologi. Dengan

(11)

sosiologi, bahkan ada diantaranya yang mempelajari sosiologi secara khusus.

Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia mulai diterbitkan sejak satu tahun setelah pecahnya revolusi fisik, yaitu Sosiologi Indonesia oleh Djody Gondokusumo yang memuat beberapa pengertian elementer dari sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai filsafat.

Tahun 1950, setelah usai revolusi fisik , menyusullah suatu buku Sosiologi yang diterbitkan oleh Bardosono, yang sebenarnya

merupakan sebuah diktat yang ditulis seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah-kuliah sosiologi dari seorang guru besar yang tak disebutkan namanya dalam buku tersebut.

Selanjutnya dapatlah dikemukakan buku karangan Hasan Shadily dengan judul Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia yang merupakan buku pelajaran pertama di dalam bahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang modern.

Para pengajar yang mengikuti ajaran sosiologi teoretis filosofis lebih banyak mempergunakan terjemahan buku-bukunya P.J. Bouman, yaitu Algmene Maatschappijleer dan Sociologie, bergrippen en problemen serta buku Lysen yang berjudul Individu en Maarschappij. Buku lain yang lebih luas, tetapi uraian mengenai pengertian-pengertian pokonya luring sistematis adalah buku pelajaran sosiologi yang berjudul Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas yang merupakan hasil karya Mayor Polak, seorang warga negara Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda, yang telah mendapat pelajaran sosiologi sebelum Perang Dunia Kedua pada Universitas Leiden di negeri Belanda.

Sesuai dengan taraf permulaan dalam perkembangan ilmu sosiologi dewasa ini di Indonesia, adanya buku-buku berbahasa Indonesia dalam bidang tersebut masih bersifat sebagai buku pelajaran untuk menolong para mahasiswa di dalam pelajarannya tentang asas-asas serta

persoalan-persoalan dari ilmu pengetahuan itu. Sepanjang

pengetahuan, kecuali buku Mayor Polak, pada dewasa ini buku lain dalam bahasa Indonesia mengenai masalah-masalah sosiologi khusus adalah Sosiologi Hukum oleh Satjipto Rahardjo, Soerjono Soekanto, dan lain-lain, serta juga Sosiologi kota oleh N. Daldjoeni, dan seterusnya. Dapat disebutkan pula buku-buku sosiologi lain yang dikarang oleh orang Indonesia, yaitu buku Social Changes in Yogyakarta, yang

(12)

menghimpun bagian-bagian terpenting dari beberapa text-book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia. Buku yang berjudul Setangkai Bunga

Sosiologi itu diterbitkan pada 1964 dan dipakai sebagai bacaan wajib pada beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta.

Pada dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan Politik atau Fakultas Ilmu Sosial di mana sosiologi dikuliahkan sampai tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat persiapan. Namun, belum ada universitas yang mempunyai fakultas tersendiri khusus untuk sosiologi.

BAB II

PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL

A. PENGANTAR

Para sosiologi memandang betapa pentingnya pengetahuan tentang proses social, mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur

masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama manusia. Bahkan Tamotsu

Shibutani menyatakan bahwa sosiologi mempelajari transaksi-transaksi social yang mencakup usaha-usaha bekerja sama antara para pihak karena semua kegiatan manusia didasarkan pada gotong-royong.

B. Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial

(13)

utama terjadinya aktivitas-aktivitas social. Bentuk lain proses social hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi social. Interaksi social merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis yang

menyangkut hubungan antara orang-orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi social dimulai pada saat itu.

C. Syarat-syarat terjadinya interaksi social

Suatu interaksi social tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu :

1. Adanya kontak social 2. Adanya komunikasi

Kontak social dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.

1. Antara orang-perorangan

2. Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya.

3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.

Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang

bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.

Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan-perasaan suatu kelompok manusia atau orang-perseorangan dapat diketahui oleh kelompok-kelompok lain atau orang-orang lainnya.

D. Kehidupan yang Terasing

Kehidupan terasing dapat disebabkan karena secara badaniah

seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnya. Padahal, seperti diketahui, perkembangan jiwa seseorang banyak banyak ditentukan oleh pergaulannya dengan orang-orang lain.

E. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial 1. Proses-proses yang Asosiatif

a. Kerja Sama (Coorperation)

(14)

yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi

kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yang berguna.

b. Akomodasi (Accomodation) 1. Pengertian

Akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untu meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.

2. Bentuk-bentuk Akomodasi

a. Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.

b. Compromise adalah suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

c. Arbitration merupakan suatu cara untuk mencapai

compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.

d. Mediation hampai menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal

perselisihan yang ada.

e. Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

f. Toleration, merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.

g. Stalemate merupakan suatu akomodasi, di mana pihak-pihak yang bertentangan karena mempenyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.

h. Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

3. Hasil-hasil Akomodasi

a. Akomodasi, dan Integrasi Masyarakat b. Menekan oposisi

c. Kordinasi berbagai kepribadian yang berbeda

d. Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah.

(15)

f. Akomodasi membuka jalan kea rah asimilasi 2. Proses Disosiatif

Sering disebut sebagai oppositional processes, yang persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem social masyarakat bersangkutan.

Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.

a. Persaingan (Competition)

Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses social, di mana individu atau kelompok manusia yang bersaingan mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian public atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

b. Kontravensi (Contravention)

Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses social yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses social di mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

BAB 6

Lapisan Masyarakat ( Stratifikasi Sosial )

(16)

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materiil daripada kehormatan, misalnya, mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan materiil akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertical.

B. Terjadinya Lapisan Masyarakat

Adanya sistem lapisan masyarkat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Akan tetapi, ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur,sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat , dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu.

C. Sifat Sistem Lapisan Masyarakat

Sifat sistem lapisan di dalam suatu masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social stratification) dan terbuka (open social stratification). Sistem lapisan yang bersifat tertutup membatasi kemungkinan pindahnya sesorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik yang merupakan gerak ke atas atau ke bawah. Sebaliknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan.

D. Kelas-kelas dalam masyarakat (Social Classes)

(17)

lapisan tanpa membedakan apakah dasar lapisan itu factor uang-tang,kekuasaan,atau dasar lainnya.

E. Dasar Lapisan Masyarakat

Ukuran-ukuran yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan adalah : 1. Ukuran kekayaan (materiil)

Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas.

2. Ukuran kekuasaan

Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atasan.

3. Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan.

4. Ukuran ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

F. Unsur-unsur Lapisan Masyarakat 1. Kedudukan (Status)

Kadang-kadang dibedakan antara pnegertian kedudukan (Status) dengan kedudukan social (social status). Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok social.

2. Peranan (Role)

Peranan (Role) merupakan aspek dinamis kedudukan (Status). Apabila sesorang melaksanankan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan.

G. Lapisan yang Sengaja Disusun

Di muka telah diterangkan bahwa ada lapisan yang sengaja disusun, dalam suatu organisasi formal oleh mereka yang berwenang untuk itu. Menurut Chester I. Barnard, membahas sistem lapisan yang sengaja disusun dalam organisasi-organisasi formal untuk mengejar suatu tujuan tertentu. Sistem kedudukan dalam organisasi-organisasi formal timbul karena perbedaan-perbedaan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan individu. Sistem pembagian kekuasaan dan wewenang dalam organisasi-organisasi tersebut dibedakan ke dalam :

(18)

harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat; dan

2. Sistem skalar yang merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga kedudukan dari bawah ke atas.

H. Mobilitas Sosial

1. Pengertian Umum dan Jenis-jenis Gerak Sosial

Gerak social atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur social (Social structure) yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

2. Tujuan Penelitian Gerak Sosial

Para sosiolog meneliti gerak social untuk mendapat keterangan-keterangan perihal keteraturan dan keluwesan struktur social. Para sosiolog mempunyai perhatian yang khusus terhadap kesulitan-kesulitan yang secara relative dialami oleh individu-individu dan kelompok-kelompok social dalam mendapatkan kedudukan yang terpandang oleh masyarkat dan yang merupakan objek dari suatu persaingan.

3. Beberapan prinsip umum gerak social yang vertical Gerak social vertical adalah sebagai berikut :

1. Hampir tak ada masyarakat yang sifat sistem lapisannya mutlak tertutup, di mana sama sekali tak ada gerak social yang vertical.

2. Betapapun terbuknya sistem lapisan dalam suatu masyarkat, tak mungkin gerak social yang vertical dilakukan dengan sebebas-bebasnya.

3. Gerak social vertical yang umum berlaku bagi semua masyarakat tak ada.

4. Laju gerak social vertical yang disebabkan oleh factor-faktor ekonomi, politik serta pekerjaan berbeda.

5. Berdasarkan bahan-bahan sejarah, khususnya dalam gerak social vertical yang disebabkan factor-faktor ekonomis, politik dan pekerjaan, tak ada kecendrungan yang kontinu perihal bertambah atau berkurangnya laju gerak social.

4. Saluran Gerak Sosial Vertikal

(19)

kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok itu dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Tipe-tipe gerak social yang prinsipil ada dua macam, yaitu sebagai berikut.

1. Horizontal, yaitu bila individu atau objek social lainnya berpindah dari satu kelompok social yang satu ke kelompok social lainnya yang sederajat.

2. Vertical, yaitu bila individu atau objek social lainnya berpindah dari suatu kedudukan social ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak social yang vertical, yaitu yang naik dan yang turun.

I. Perlunya Sistem Lapisan Masyarakat

(20)

BAB 7

Kekuasaan , Wewenang, dan Kepemimpinan

A. Pengantar

Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia. Oleh karena itu, kekuasaan sangat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan. Perbedaan antara kekuasaan dengan wewenang (authority atau legalized power) ialah bahwa setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak lain dapat dinamakan kekuasaan. Sementara itu, wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat.

B. Hakikat Kekuasaan dan Sumbernya

Dalam setiap hubungan antar manusia maupun antar kelompok social selalu tersimpul pengertian-pengertian kekuasaan dan wewenang. Untuk sementara pembahasan akan dibatasi pada kekuasaan, yang diartikan sebagai kemampuan untuk memengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.

Kekuasaan mempunyai aneka macam bentuk dan bermacam-macam sumber. Hak milik kebendaan dan kedudukan merupakan sumber kekuasaan.

C. Unsur-unsur Saluran Kekuasaan dan Dimensinya 1. Rasa Takut

Perasaan takut pada seseorang (yang merupakan penguasa,

misalnya) menimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti tadi.

2. Rasa Cinta

Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif. Orang-orang lain bertindak sesuai dengan

kehendak pihak yang berkuasa untuk menyenangkan semua pihak. 3. Kepercayaan

Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung anatara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif.

4. Pemujaan

(21)

D. Cara-cara mempertahankan kekuasaan

1. Dengan jalan meninggalkan segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan kedudukan

penguasa

2. Mengadakan sistem-sistem kepercayaan

3. Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik 4. Mengadakan konsolidasi secara horizontal dan vertical

Cara Memperkuat Kedudukan

1. Menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu

2. Penguasaan bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat yang dilakukan dengan paksa dan kekerasan.

E. Beberapa bentuk lapisan kekuasaan

a. Tipe pertama (tipe kasta) adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku.

b. Tipe yang kedua (tipe oligarkis) masih mempunyai garis pemisah yang tegas. Akan tetapi, dasar pembedaan kelas-kelas social

ditentukan oleh kebudayaan masyarkat, terutama pada kesempatan yang diberikan kepada para warga untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu.

c. Tipe yang ketiga (tipe demokratis) menunjukkan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang sifatnya mobil sekali. F. Wewenang

Wewenang ada beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut. 1. Wewenang Kharismatis, Tradisional, dan Rasional (Legal)

Wewenang Kharismatid tidak diatur oleh kaidah-kaidah, baik yang tradisional maupun rasional. Sifatnya cenderung irasional.

Wewenang tradisional dapat dipunyai oleh seseorang maupun sekelompok orang. Dengan kata lain, wewenang tersebut dimiliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok.

Wewenang rasional atau legal adalah wewenang yang disandarkan pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat.

2. Wewenang Resmi dan Tidak Resmi

Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan, dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada

kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap. Walau demikian, dalam

kelompok-kelompok besar dengan wewenang resmi tersebut, mungkin saja ada wewenang yang tidak resmi.

(22)

Wewenang pribadi sangat tergantung pada solidaritas antara

anggota-anggota kelompok, dan disini unsure kebersamaan sangat memegang peranan. Pada wewenang territorial, wilayah tempat tinggal memegang peranan yang sangat penting.

4. Wewenang terbatas dan menyeluruh

Suatu dimensi lain dari wewenang adalah pembedaan antara wewenang terbatas dengan wewenang menyeluruh. Apabila dibicarakan tentang wewenang terbatas, maksudnya adalah wewenang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan, tetapi hanya terbatas pada salah satu sector atau bidang saja. G. Kepemimpinan (Leadership)

1. Umum

Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut.

2. Perkembangan Kepemimpinan dan Sifat-sifat Seorang pemimpin. Kepemimpinan merupakan hasil organisasi social yang telah

terbentuk atau sebagai hasil dinamika interaksi social. Sejak mula terbentuknya suatu kelompok social, seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol dari lain-lainnya.

3. Kepemimpinan menurut ajaran tradisional

Seorang pemimpin di muka harus memiliki idealism kuat, serta kedudukan. Akan tetapi, menurut watak dan kecakapannya,

seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin di muka, di tengah, dan di belakang.

4. Sandaran-sandaran Kepemimpinan dan Kepimpinan yang Dianggap Efektif

Kepemimpian seseorang harus mempunyai sandaran-sandaran kemasyarakatan atau social basis. Pertama-tama kepemimpinan erat hubungannya dengan susunan masyarakat. Masyarakat-masyarakat yang agraris di mana belum ada spesialisasi biasanya kepemimpinan meliputi seluruh bidang kehidupan masyarakat. 5. Tugas dan Metode

Secara sosiologis, tugas-tugas pokok seorang pemimpin adalah sebagai berikut.

a. Memberikan suatu kerangka pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan bagi pengikut-pengikutnya.

(23)

c. Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia di luar kelompok yang dipimpin

BAB 8

Perubahan Sosial Dan Kebudayaan

A. Pengantar

Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami

perubahan-perubahan, yang dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula

perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat. B. Pembatasan Pengertian

1. Definisi

Para sosiolog maupun antropolog telah banyak mempersoalkan mengenai pembatasan pengertian perubahan-perubahan social dan kebudayaan. Supaya tidak timbul kekaburan, pembicaraan akan dibatasi lebih dahulu pada perubahan-perubahan social. 2. Teori-teori Perubahan Sosial

Para ahli filsafat,sejarah, ekonomi, dan sosiologi telah mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsip atau hukum-hukum

perubahan-perubahan social.

Teori-teori yang berkaitan dengan arah perubahan social telah diringkas Moore dalam bentuk diagram-diagram sederhana sebagai berikut.

1. Evolusi rektilinier yang sederhana 2. Evolusi melalui tahap-tahap

3. Evolusi yang terjadi dengan tahap kelanjutan yang tidak sesuai

4. Evolusi menurut siklus-siklus tertentu dengan kemunduran-kemunduran jangka pendek.

5. Evolusi bercabang yang mewujudkan pertumbuhan dan kebinekaan

6. Siklus-siklus yang tidak mempunyai kecendrungan-kecendrungan

(24)

8. Pertumbuhan logistic terbaik yang terbaik dari angka kematian

9. Pertumbuhan eksponensial yang tergambar penemuan-penemuan baru

10. Primitivisme

C. Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan Teori-teori mengenai perubahan-perubahan masyarakat sering mempersoalkan perbedaan antara perubahan-perubahan social dengan perubahan-perubahan kebudayaan. Sebagai contoh dikemukakannya perubahan pada logat bahasa Aria setelah terpidah dari induknya.

D. Beberapa Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Perubahan social dan kebudayaan dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.

1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat

Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan

rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi

dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. 2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

Agak sulit untuk merumuskan masing-masing pengertian tersebut di atas karena batas-batas pembedaannya sangat relative. Sebagai pegangan dapatlah dikatakan bahwa

perubahan-perubahan kecil merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur social yang tidak

membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. 3. Perubahan yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan

yang Direncanakan (Planned-Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan.

Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahalu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan

perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga

kemasyarakatan.

E. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial dan Kebudayaan 1. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

(25)

4. Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi

Suatu perubahan social dan kebudayaan dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut.

a. Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia

b. Peperangan

c. Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

F. Faktor-faktor yang Memengaruhi Jalannya Proses Perubahan a. Faktor-faktor yang mendorong jalannya proses perubahan :

1) Kontak dengan kebudayaan lain 2) Sistem pendidikan yang maju

3) Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju

4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang 5) Sistem lapisan masyarakat yang terbuka

6) Penduduk yang heterogen

7) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

8) Orientasi ke muka

9) Nilai meningkatkan taraf hidup

b. Faktor-faktor yang menghambat terjadinya perubahan.

1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain 2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat

3. Sikap masyarakat yang tradisionalistis

4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interest

5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

6. Prasangka terhadap hal-hal yang baru/asing 7. Hambatan ideologis

8. Kebiasaan 9. Nilai pasrah

G. Proses-proses Perubahan Sosial dan Kebudayaan 1. Penyesuaian Masyarakat terhadap Perubahan

Keserasian atau harmoni dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidam-idamkan setiap masyarakat.

2. Saluran-saluran Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Saluran-saluran perubahan social dan kebudayaan merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. 3. Disorganisasi dan Reorganisasi

(26)

Organisasi merupakan artikulasi dari bagian-bagian yang merupakan suatu kesatu fungsional.

Reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga dalam diri warga masyarakat. b. Suatu Gambaran Mengenai Disorganisasi dan Reorganisasi Gambaran mengenai disorganisasi dan reorganisasi dalam masyarakat pernah dilukiskan oleh William.I.Thomas dan Florian Znaniecki dalam karya klasiknya yang berjudul The Polish Peasant in Europe and Amerika.

c. Ketidakserasian Perubahan-perubahan dan Ketertinggalan Budaya

Pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan tidak selalu perubahan-perubahan pada unsure-unsur masyarakat dan kebudayaan mengalami kelainan yang seimbang.

Apabila terjadi ketidakserasian, kemungkinan akan terjadi kegoyahan dalam hubungan antara unsure-unsur tersebut di atas sehingga keserasian masyarakat terganggu.

H. Arah Perubahan

Perubahan bergerak meninggalkan factor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan factor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, atau mungkin pula bergerak kea rah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau.

I. Modernisasi

Di dalam proses modernisasi tercakup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam artian teknologis serta organisasi social ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi cirri negara-negara Barat yang stabil.

Syarat-syarat modernisasi: 1. Cara berpikir yang ilmiah

2. Sistem administrasi negara yang baik

3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur 4. Penciptaan iklim yang favorable dari masyarakat

5. Tingkat organisasi yang tinggi

6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan social planning J. Diskusi Studi Kasus: Desa Transisi di Daerah Puncak

(27)

diakses , kerana hanya dihubungkan dengan jembatan bamboo yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

BAB 9

Masalah Sosial Dan Manfaat Sosiologi

A. Pengantar

Sebagaimana telah diuraikan , sosiologi teutama menelaah gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat seperti norma-norma, kelompok social, lapisan masyarakat,lembaga-lembaga kemasyarakatan,proses social,perubahan social dan kebudayaan, serta perwujudannya. Tidak semua gejala tersebut berlangsung secara normal sebagaimana dikehendaki masyarakat bersangkutan. Gejala-gejala yang tidak dikehendaki merupakan gejala abnormal atau gejala-gejala patologis. Hal itu disebabkan karena unsur-unsur masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan. Gejala-gejala abnormal tersebut dinamakan masalah-masalah social.

B. Masalah Sosial, Batasan, dan Pengertian

Masalah social menyangkut nilai-nilai social dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh sebab itu, masalah-masalah social tak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang diangga buruk. Sosiologi menyangkut teori yang hanya dalam batas tertentu menyangkut nilai-nilai social dan moral, yang terporok adalah aspek ilmiahnya.

C. Klasifikasi Masalah Sosial dan Sebab-sebabnya

(28)

factor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan. Klasifikasi masalah social berdasarkan sumber-sumbernya, yaitu :

1. Ekonomis 2. Biologis 3. Biopsikologis 4. Kebudayaan

Klasifikasi yang berbeda mengadakan penggolongan atas dasar kepincangan-kepincangan dalam warisan fisik, warisan biologis,warisan social , dan kebijaksanaan social. Klasifikasi ini lebih luas ruang lingkupnya daripada klasifikasi yang terdahulu.

D. Ukuran-ukuran Sosiologis terhadap Masalah Sosial

Sosiologi menggunakan beberapa pokok persoalan sebagai ukuran, yaitu sebagai berikut.

1. Kriteria Utama

Suatu masalah social, yaitu tidak adanya persesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai social dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan social. Unsur-unsur yang pertama dan pokok masalah social adalah adanya perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya, adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup.

2. Sumber-sumber Sosial Masalah Sosial

(29)

3. Pihak-pihak yang Menetapkan Apakah Suatu Kepincangan Merupakan Masalah Sosial atau Tidak

Ukuran di atas bersifat relative sekali. Mungkin dikatakan bahwa orang banyaklah yang harus menentukannya, atau segolongan orang yang berkuasa saja atau lain-lainnya. Dalam masyarakat, merupakan gejala yang wajar jika sekelompok warga masyarakat menjadi pimpinan masyarakat tersebut. Golongan kecil tersebut mempunyai kekuasaan dan wewenang yang lebih besar dari orang-orang lain untuk membuat serta menentukan kebijaksanaan social.

4. Manifestasi Social Problems dan Latent Social Problems

Manifestasi social problems merupakan masalah social yang timbul sebagai akibat terjadinya kepincangan-kepincangan dalam masyarakat, yang dikarenakan tidak sesuainya tindakan dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Masyarakat pada umumnya tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang.

Latent social problems juga menyangkut hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat, tetapi tidak diakui demikian halnya. Sehubungan dengan masalah social tersebut di atas, sosiologi tidaklah bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang bijaksana dan selalu baik dalam tindakan-tindakannya, tetapi untuk membuka mata agar mereka memperhitungkan akibat segala tindakannya.

5. Perhatian Masyarakat dan Masalah Sosial

Suatu kejadian yang merupakan masalah social belum tentu mendapat perhatian yang sepenuhnya dari masyarakat. Sebaliknya, suatu kejadian yang mendapat sorotan masyarakat belum tentu merupakan masalah social. Suatu masalah yang merupakan manifest social problem adalah kepincangan-kepincangan yang menurut keyakinan masyarakat dapat diperbaiki, dibatasi, atau bahkan dihilangkan.

(30)

Kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai masalah social oleh masyarakat tergantung dari sistem nilai social masyarakat tersebut. Akan tetapi, ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat-masyarakat yang pada umumnya sama, yaitu misalnya sebagai berikut.

Berdasarkan sosiologi, kejahatan disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses social yang sama, yang menghasilkan perilaku-perilakunya social lainnya.

3. Disorganisasi Keluarga

Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya.

4. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern

Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua cirri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme,delinkuensi, dan sebagainya) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang. Sementara itu, sikap apatis biasanya disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat. Generasi muda biasanya menghadapi masalah social dan biologis.

5. Peperangan

Peperangan mungkin merupakan masalah social paling sulit dipecahkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Peperangn merupakan satu bentuk pertentangan dan juga suatu lembaga kemasyarakatan. Peperangan merupakan bentuk pertentangan yang setiap kali diakhiri dengan suatu akomodasi.

(31)

Dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah. b. Delinkuensi Anak-anak

Sorotan terhadap delinkuensi anak-anak di Indonesia terutama tertuju pada perbuatan-perbuatan pelanggaran yang dilakukan oleh anak-anak muda dari kelas-kelas social tertentu.

c. Alkoholisme

Masalah alkoholisme dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak berkisar pada apakah alcohol boleh atau dilarang dipergunakan. Persoalan pokoknya adalah siapa yang boleh menggunakannya, di mana, kapan, dan dalam kondisi yang bagaimana.

d. Homoseksualitas

Secara sosiologis, homoseksual adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Homoseksualitas merupakan sikap-tindak atau pola perilaku para homoseksual. Pria yang melakukan sikap-tindak demikian disebut homoseksual, sedangkan lesbian merupakan sebutan bagi wanita yang berbuat demikian.

7. Masalah Kependudukan

Republik Indonesia terdiri dari bberapa ribu pulau besar dan kecil. Menurut sensus 1961, jumlah penduduk Indonesia adalah 97.018.829 orang. Pada akhir 1971, jumlah tersebut meningkat menjadi 119 juta. Jadi pada tahun 1961-1971 terlihat pertambahan penduduk sebesar 2,1 %. Menurut sensus 1980, penduduk Indonesia berjumlah 147 juta lebih.

8. Masalah Lingkungan Hidup

Apabila seseorang membicarakan lingkuhan hidup biasanya yang dipikirkan adalah hal-hal atau segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik sebagai individu maupun dalam pergaulan hidup.

(32)

1. Lingkungan fisik, yakni semua benda mati yang ada di sekeliling manusia.

2. Lingkungan biologis, yaitu segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organism yang hidup (di samping manusia itu sendiri).

3. Lingkungan social, yang terdiri dari orang-orang baik individual maupun kelompok yang berada di sekitar manusia.

9. Birokrasi

Pengertian birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mengerahkan tenaga dengan teratur dan terus-menerus untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

F. Pemecahan Masalah Sosial

Ada hasil yang memuaskan. Dewasa ini ditemukan cara-cara analisis yang lebih efektif walaupun metode-metode lama yang terbukti tidak efektif belum dapat dihilangkan begitu saja. Ada metode-metode yang bersifat preventif an represif. Metode yang preventif jelas lebih sulit dilaksanakan karena harus didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya masalah social.

G. Perencanaan Sosial (Social Planning)

Perencanaan social (social planning) pada dewasa ini menjadi ciri umum bagi masyarakat yang sedang mengalami perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan social yang bertujuan untuk melihat jauh ke muka telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog. Menurut Ogburn dan Nimkoff, prasyarat suatu perencanaan social yang efektif adalah :

1. Adanya unsur modern dalam masyarakat yang mencakup suatu sistem ekonomi di mana telah dipergunakan uang, urbanisasi yang teratur, intelegensia di bidang teknik dan ilmu pengetahuan, dan suatu sistem administrasi yang baik. 2. Adanya sistem pengumpulan keterangan dan analisis yang

baik.

3. Terdapatnya sikap public yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan social tersebut.

4. Adanya pimpinan ekonomis yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan social tersebut;

(33)

H. Tokoh-tokoh yang Memengaruhi Perkembangan Ilmu Sosiologi 1. Auguste Comte (1798-1857)

Auguste Comte, seorang Prancis, merupakan bapak sosiologi yang pertama-tama memberi nama pada ilmu tersebut (yaitu dari kata-kata socius dan logos).

2. Herbert Spencer (1820-1903)

Dalam bukunya yang berjudul The Priciple of Sociology ( 3 jilid, 1877), Herbert Spencer menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis.

3. Emile Durkheim (1858-1917)

Menurut Emile Durkheim, sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses social. Dalam sebuah majalah sosiologi yang pertama, yaitu L’annee Sociologique, dia mengklasifikasi pembagian sosiologi atas tujuh seksi, yaitu :

a. Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia;

b. Sosiologi agama

c. Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi social, perkawinan dan keluarga;

d. Sosiologi tentang kejahatan;

e. Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja;

f. Demografi yang mencakup masyarakt perkotaan dan pedesaan;

g. Dan sosiologi estetika.

I. Manfaat Penelitian Sosiologis bagi Pembangunan

1. Pengantar

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Proses pembangunan terutama bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik secara spiritual, maupun material.

2. Cara melangsungkan pembangunan

Dimuka telah dijelaskan secara ringkas tujuan yang dicapai oleh pembangunan. Pembangunan untuk mencapai tujuan tertentu itu, dapat dilakukan melalui cara-cara tertentu.

(34)

a. Struktural, yang mencakup perencanaan, pembentukan, dan evaluasi terhadap lembaga-lembaga social, prosedurnya serta pembangunan secara material;

b. Spiritual, yang mencakup watak dan pendidikan dalam penggunaan cara-cara berpikir secara ilmiah;

c. Struktural dan spiritual. 3. Syarat yang Diperlukan

Dengan demikian, untuk berlangsungnya suatu pembangunan diperlukan syarat kemauan yang keras, serta kemampuan untuk dpat memanfaatkan setiap kesempatan bagi keperluan pembangunan.

4. Tahap-tahap Pembangunan

Apabila pembangunan dikaitkan dengan tahap-tahapnya, dikenal adanya tahap perencanaan, penerapan, atau pelaksanaan, dan evaluasi.

5. Penelitian Sosiologis

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang dilandaskan pada analisis dan konstruksi. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan kebenaran sebagai salah satu manifestasi hasrat manusia untuk mengetahui apa yang dihadapinya dalam kehidupan.

6. Manfaat Penlitian Sosiologis bagi Pembangunan

Apabila pembicaraan mengenai manfaat penelitian sosiologis dibatasi pada kaitannya dengan tahap-tahap pembangunan, pada tahap perencanaan pembangunan diperlukan data yang relative lengkap mengenai masyarakat yang akan dibangun. Pada tahap penerapan atau pelaksanaan, perlu diadakan identifikasi terhadap kekuatan social yang ada dalam masyarakat.

Dalam tahap penerapan atau pelaksanaan, penelitian mengenai perubahan social juga penting. Dengan pengetahuan mengenai perubahan social yang telah terjadi, akan dapat diketahui apakah pembangunan berhasil atau kurang berhasil sebab ada perubahan negative dan positif yang akibatnya positif perlu dilembagakan sehingga nantinya membudaya.

7. Penutup

(35)

Masyarakat desa ini sebagian besar adalah nelayan, termasuk sebagian dari petani, tukang batu, dan sebagian karyawan perusahaan. Kecendrungan warga masyarakat memiliki lebih dari satu sumber mata pencaharian merupakan bentuk adaptasi yang mereka lakukan, karena umumnya mata pemcaharian sebagai nelayan maupun yang lain tergantung musim atau kondisi.

Topik Diskusi Untuk Studi Kasus :

1. Permasalahan social apa sajakah yang ada pada kasus di atas ?

2. Bagaimana mengoptimalkan peran dari sistem pelapisan dan struktur social yang ada di masyarakat tersebut untuk mengatasi berbagai permasalahan social ?

3. Apa gunanya kita memiliki pengetahuan mengenai karakteristik masyarakat di atas sebelum membuat program untuk memcahkan permasalahan social yang ada ?

4. Apa yang sering kali menjadi penyebab kegagalan pembangunan di negara kita ?

BAB 10

PENUTUP

A. Pengantar

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan masyarakat , sosiologi ikut berkembang serta mengalami peristiwa-peristiwa tertentu maupun pelbagai masa krisis. Perkembangan sosiologi di Amerika Serikat pada masa lalu menunjukkan kecendrungan untuk membentuk pendapat umum. Selain itu, terdapat pula suatu perhatian terhadap masalah kemiskinan. Akan tetapi, hasil-hasil penelitian lebih banyak diarahkan pada kemiskinan yang disebabkan karena seorang warga masyarakat kehilangan atau terganggu peranan sosialnya.

B. Keterkaitan “ Public Speaking” denagn Sosiologi Komunikasi 1. Pengantar

(36)

memengaruhi antara para individu, antara individu dengan kelompok, maupun antar kelompok.

2. Khalayak yang Dihadapi

Seorang public speaker akan menghadapi khalayak tertentu, yang terdiri dari satu orang dengan jumlah maksimal yang kadang-kadang tidak dapat ditemukan batas-batasnya.

3. Usaha Agar Khalayak Menjadi Pendengar yang Aktif

Seorang pembicara pertama-tama harus mengusahakan agar khalayak menjadi pendengar yang baik. Akan tetapi, kadang-kadang pembicara perlu menempatkan dirinya pada posisi yang lebih tinggi. Langkah kedua yang perlu dilakukan agar khalayak mendengarkan hal-hal yang dibicarakan adalah menciptakan kewibawaan. Mungkin hal ini yang paling sulit dilakukan karena berkaitan hal-hal yang lebih dititikberatkan pada aspek spiritual. Langkah yang ketiga adalah menciptakan landasan pengetahuan yang sama. Disini terasa benar pentingnya data awal yang dapat diperoleh pembicara sebelum public speaking.

4. Usaha untuk Memengaruhi Khalayak

Pembicara tentunya harus berusaha untuk memengaruhi khalayak agar tujuan-tujuan tertentu dapat dicapai. Cara-cara dan tahap-tahap yang harus dilaksanakan dan dilalui sangat tergantung pada tujuan dan isi pesan yang ingin disampaikan.

5. Kemampuan-kempuan yang Diperlukan

Seorang pembicara seyogyanya mempunyai pelbagai kemampuan agar dapat melakukan public speaking dengan baik dan benar, diantaranya :

a. Menyajikan dengan bahasa yang sederhana, tetapi benar sehingga mudah dimengerti khalayak;

b. Menyajikan bahan secara sistematis;

c. Menguasai bahan yang disajikan dengan baik;

d. Memberikan contoh-contoh sederhana tapi penting yang berasal dari kehidupan sehari-hari, dll.

6. Penutup

Keterkaitan antara public speaking dengan sosiologi komunikasi tampaknya terletak pada kenyataan bahwa public speaking pada hakikatnya merupakan penerapan konsep-konsep sosiologi

(37)

C. Dampak pada Sistem Sosial-Budaya 1. Pengantar

Secara etimologis, dampak berarti pelanggaran, tubrukan , atau benturan. Oleh karena itu, dampak pada sistem social budaya dapat diartikan sebagai pelanggaran terhadapnya ataupun benturan. Hal itu berarti bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu terjadi masalah-masalah yang mengganggu berfungsinya sistem social budaya tersebut. Hal itu akan dibahas dalam sub bab ini dengan

menggunakan pendekatan sosiologis.

2. Sistem Kemasyarakatan dan Sistem Sosial-Budaya

Sistem kemasyarakatan mencakup pelbagai bidang kehidupan yang merupakan subsistem karena menjadi bagian dari suatu kesatuan yang menyeluruh. Biasanya sebsistem-subsistem tersebut adalah: a.Subsistem politik;

Masing-masing subsistem saling berkaitan secara fungsional karena menjadi wadah dan proses yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.

3. Indikator Perubahan

a. Tema Pokok Analisis Sosiologis terhadap Perubahan Sosial Masalah perubahan social telah menjadi sorotan penting para sosiolog, semenjak timbulnya sosiologi modern. Sosiologi

modern dilahirkan dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan pada unsure-unsur tradisional sehingga para sosiolog waktu itu menaruh perhatian besar pada proses-proses

perubahan tersebut.

b. Masalah-masalah Pokok Studi terhadap Perubahan

Ada kecenderungan mempertentangkan perubahan dengan stabilitas, yang sebenarnya kurang tepat. Kalau berdasarkan pengamatan tertentu dikatakan bahwa suatu lembaga social tertentu bersifat stabil selama jangka waktu tertentu, hal itu tidak harus berarti bahwa lembaga social tersebut sama sekali tidak mengalami perubahan.

c. Faktor Penyebab dan Indikator

(38)

social budayanya, mungkin berasal dari dalam masyarakat itu sendiri atau berasal dari luar.

4. Dampak Pembangunan

Pembangunan sebenarnya merupakan suatu proses perubahan yang direncanakan dan dikehendaki. Setidak-tidaknya

pembangunan pada umumnya merupakan kehendak masyarakat yang terwujud dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh para pemimpinnya, yang kemudian disusun dalam suatu perencanaan yang selanjutnya dilaksanakan.

5. Penanggulangan Dampak

Penanggulangan terhdap dampak pembangunan sangat penting karena para pelopor pembangunan maupun masyarakat yang

sedang membangun, menginginkan akibat-akibat yang posited dari pembangunan tersebut. Pembangunan untuk masyarakat mungkin merupakan suatu pembaharuan yang memerlukan difusi, yakni penyebaran unsure-unsur pembangunan tersebut sampai warga masyarakat memutuskan untuk menerimanya (Adoption).

D. Tinjauan Sosiologis mengenai Lingkungan Anak dan Remaja yang Menunjang Tumbuhnya Motivasi dan Keberhasilan Studi Anak 1. Pengantar

Suatu tinjauan sosiologis berarti sorotan yang didasarkan pada hubungan antar kelompok serta hubungan antara manusia dengan kelompok, di dalam proses kehidupan bermasyarakat. Di dalam pola hubungan-hubungan tersebut yang lazim disebut interaksi social anak dan remaja merupakan salah satu pihak, disamping adanya pihak-pihak lain. Pihak-pihak tersebut saling memengaruhi,

sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian tertentu sebagai akibatnya.

2. Orang Tua, Saudara-saudara, dan Kerabat Dekat

Di dalam keadaan yang normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua (kalau ada), serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah.Melalui lingkungan itulah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari.

3. Kelompok Sepermainan

(39)

seorang anak sudah mempunyai sahabat-sahabat yang terasa dekat sekali dengannya.

4. Kelompok Pendidik (Sekolah)

Kelompok pendidik sebenarnya tidak hanya mencakup sekolah saja karena sekolah pembicaraan hanya akan dibatasi pada kelompok pendidik atau guru yang mengajar di sekolah, yang diharapkan menciptakan suatu suasana yang sangat mendorong motivasi dan keberhasilan studi anak didiknya.

5. Penutup

Hal-hal yang diceritakan di atas merupakan sebagian kecil dari masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan anak dan

remaja, yang berasal dari rumah, lingkungan sepermainan anak dan remaja itu, maupun sekolahnya. Di dalam menelaah

masalah-masalah tersebut seyoganya diadakan pemisahan yang tegas antara pengaruh yang negative dan positif terhadap motivasi dan keberhasilan studi, walaupun hal itu mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut orang tua.

BAB 1

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

- Supaya mahasiswa mengerti ilmu pengetahuan dan sosiologi - Mahasiswa mampu menggambarkan ringkasan tentang

sejarah teori-teori sosiologi.

- Mahasiswa mampu memahami metode-metode dalam sosiologi

- Mahasiswa mampu mengetahui mazhab-mazhab dan spesialisasi dalam sosiologi

- Mahasiswa mengerti perkembangan sosiologi di Indonesia

2. Tujuan Instuksional Khusus (TIK)

-Menjelaskan apa itu ilmu pengetahuan

(40)

Mengetahui objek sosiologi -Apakah itu teori ?

-Memahami perhatian terhadap masyarakat sebelum Comte - Menjelaskan apa itu sosiologi Auguste Comte

- Memahami teori-teori sosiologi sesudah Comte - Mengetahui permulaan sosiologi di Indonesia

- Menjelaskan perkembangan sosiologi sesudah perang dunia kedua

3. Latihan 1 :

- Dalam dunia sosiologi terdapat beberapa meto yang dasarnya ada dua jenis metode yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif dan apa perbedaan dari kedua jenis tersebut, uraikan ?

- Jawaban Latihan 1 :

-perbedaan kualitatif yaitu mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata di dalam masyarakat. Sedangkan kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala , indeks , tabel dan formula-formula yang semuanya mempergunakan ilmu pasti atau matematika.

4. Tes Formatif :

(41)

2. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkret.

3. Sosiologi merupakan dasar ilmu social atau bahwa sosiologi merupakan ilmu social yang umum, tetapi bahwa sosiologi menyelidiki factor-faktor social dalam bidang kehidupan apapun juga.

4. Sosiologi merupakan suatu ilmu social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan

kerohanian.

5. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang utuh dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.

BAB II

1. Tujuan Instruksional Umum ( TIU )

a. Memahami interaksi social sebagai factor utama dalam kehidupan social

b. Menjelaskan syarat-syarat terjadinya interkasi social c. Mampu memahami kehidupan yang terasing

d. Menyebutkan bentuk-bentuk interaksi social

2. Tujuan Insturksional Khusus ( TIK )

(42)

Latihan 2

Sebutkan tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya ?

Jawab Latihan 2

1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat

perbedaan paham. Akomodasi di sini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa antara kedua pendeta tersebut, agar menghasilkan suatu pola yang baru. 2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk

sementara waktu atau secara temporer.

Tes Formatif

1. Interaksi Sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial.

(43)

BAB 6

1. Materi Pokok 6

Lapisan Masyarakat (Stratifikasi Sosial) 2. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

A. Bagaimana terjadinya lapisan masyarakat B. Jelaskan sifat lapisan masyarakat

C. Sebutkan kelas-kelas dalam masyarakat (social classes) D. Pengertian dasar lapisan masyarakat

E. Sebutkan unsure-unsur lapisan masyarakat F. Jelaskan lapisan yang sengaja disusun G. Pengertian mobilitas sosial (social mobility) H. Bagaimana perlu sistem lapisan masyarakat 3. Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

A. Penjelasan Kedudukan (Status) B. Penjelasan Peranan ( role )

C. Pengertian umum dan jenis-jenis gerak sosial D. Tujuan penelitian gerak sosial

(44)

Latihan 6

Bagaimana terjadinya lapisan masyarakat ? Jawab :

Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Akan tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama.

Tes Formatif 6

1. Pelepasan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bersingkat.

2. Lapisan masyarakat tertutup yaitu membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari suatu lapisan ke lapisan lain.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan

Peneliti menggunakan paradigma social constructivism, di mana menurut Cresswell (2018), Social Constructivist mempercayai bahwa individu mencari pemahaman tentang dunia di

Di dalam kehidupan sehari – hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok

membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal

Persaingan adalah proses sosial yang ditandai dengan adanya saling berlomba atau bersaing antar individu atau antar kelompok tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan untuk

Persaingan, merupakan suatu proses sosial yang ditandai dengan adanya persaingan antar individu maupun kelompok dalam mencari keuntungan

Merupakan proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok dalam mencapai keuntungan melalui bidang kehidupan yang pada suatu saat tertentu menjadi pusat

 Sebuah proses sosial dimana antar orang perorangan atau antar kelompok saling bersaing untuk mencari keuntungan dalam bidang kehidupan tertentu (ekonomi, kebudayaan, kedudukan