• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Portal Sistem Informasi Pengelolaan DAS Berbasis Web

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Desain Portal Sistem Informasi Pengelolaan DAS Berbasis Web"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Desain Portal DAS

JI. Raya 16144, INDONESIA

e-mail:

Abstract

Multidimension approaches are required for formulation and implementation of watershed management policy. Along w i t h development of World Wide Web technology, opportunity for w e b based watershed information system increases. Such information system will enable multi stakeholders to share relevant data through w e b and collaboratively participate o n formulation and implementation of watershed management policy. Designated system enables data provider t o register metadata t o the portal and by using search function, user can locate and retrieve database distributed across multiple institutions. In addition, these mechanisms will minimize redundant effort on data collection. Functional requirement determination of the system were based on analysis of as-is system, organizational standard and watershed multiple stakeholder factor. Interaction of t h e system w i t h users was depicted using use case diagram. To support interoperability of distributed access mechanism, open standard of Open Geospatial Consortium web service was implemented. Distinct features of thesystems are: Sharing mechanism of distributed geospatial data using OGC web service, and 2) Overlay multi map

the fly w i t h o u t additional deployment of commercial

Keywords: interoperability, functional requirements, distributed database, w e b

map service

Perumusan implementasi kebijakan pengelolaan DAS yang efektif memerlukan pendekatan

multistakeholder multidisiplin. Dengan World Wide Web maka

terbuka kesempatan untuk rnenerapkan sistem informasi pengelolaan DAS berbasis web. Sistem informasi memungkinkan semua stakeholder secara kolaboratif melakukan perurnusan implementasi kebijakan pengelolaan DAS. Desain sistem memungkinkan provider data melakukan regsitrasi metadata ke portal user bisa search data lokasi tema data melakukan akses data. Disamping itu sistem informasi juga membantu semua stakeholder menemukan distributed database di berbagai instansi terkait, dengan demikian redundant on data collection bisa dibuat minimum. yang digunakan untuk penetapan functional requirement dari sistem adalah dengan melakukan analisa berdasarkan kondisi sistem saat ini (as-is

system), faktor kelembagaan DAS. Sedangkan model interaksi sistern

dengan user dibuat dengan diagram use case dari Unified Modeling Language (UML). Untuk mendukung interoperability pertukaran data spasial instansi digunakan w e b map service yang compliant terhadap open standar dari Open Geospatial Consortium (OCC). kegunaan spasial sederhana (thin client), user tidak membeli paket software desktop cukup dengan w e b

browser. sistem menggunakan berbasis web. Melalui implementasi open

standar klien bisa akses data dari distributed database sources dengan ordinary w e b browser melaluiprotokol HTTP.

(2)

Prosiding DAS: Data" 5 September 2007

Pendahuluan

Jumlah DAS yang berstatus kritis di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini

menunjukkan bahwa penanganan DAS yang lebih

integratif. Penetapan pengelolaan DAS adalah bersifat multi-sektor, multi- stakeholder dan multi-disiplin, sehingga perlu didesain infrastruktur data yang bisa

memfasilitasi perumusan pengelolaan DAS dengan pendekatan dan

multidisiplin tersebut.

Jenis data yang dibutuhkan bagi pengelolaan dapat dibagi data spasial dan data atribut. Data spasial masih bisa dibedakan data dasar dan data tematik. Data dasar misalnya adalah DEM, dan lain-lain, sedangkan data tematik seperti peta RTRW, peta Lindung, Kawasan Air dan lain-lain. Dari segi kuantitas data spasial yang dimiliki berbagai instansi cukup memadai baik data yang masih berbentuk analog maupun digital. Kendala utama yang ada saat ini adalah data dan informasi

sering tidak diketahui (kastodian) dan sulit diakses baik secara sektoral. Akibatnya perencanaan yang melibatkan pendekatan multi-sektoral sering mengalami kesulitan dan terhadap tumpang tindih. Misalnya areal kehutanan yang

sebagai air sering digunakan oleh instansi lain untuk

kegiatan pemukiman. Hal ini akan ber-dampak rusaknya lingkungan dan SDA. Disamping itu, sebagai darnpak dari susahnya melakukan akses terhadap data maka terdapat redundansi dan inkonsistensi dalam pengumpulan data (redundant effort on data

Penghematan anggaran bernilai rupaih bisa dilakukan

terkait bisa terhadap penggunaan data spasial yang

sudah ada, misalnya sharingdata satellite imagery, aerial photo yang masih relatif mahal harganya. Dengan berkembang-nya internet maka data melalui implementasi web-based bisa dilakukan, dengan persyaratan terdapat infrastruktur yang mendukung interoperability dari sistem yang heterogen

untuk melakukan sharing data geospasial di Indonesia sudah dimulai oleh BAKOSURTANAL dengan mengembangkan Yaitu

merupakan sistem serta dalam perolehan dan penyebarluasan spasial

secara nasional di Indonesia.

masa mendatang infrastruktur data dan informasi DAS bisa peer portal dari ISDN. Dengan demikian stakeholder pengelolaan DAS bisa sharing data dengan instansi lain melalui web secara nasional bahkan internasional. Penelitian ini bertujuan menetapkan functional requirement dan arsitektur portal sistem informasi pengelolaan DAS berbasis web bagi perumusan dan implementasi pengelolaan DAS yang mampu mengakomodasi pendekatan multi-sektorlstakeholder dan multi- disiplin.

Tahapan dan rnetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti tertera pada Gambar

Functional Requirements

(3)

Desain Portal DAS Berbasis Web

pengelolaan DAS adalah yang bersifat multi-sektor, multi-stakeholder dan disiplin. Functional requirements ditetapkan dengan melakukan analisa terhadap kondisi infrastruktur data saat ini (as-is system), organisasi dan faktor

gaan DAS.

Pengolahan data dan informasi spasial merupakan aspek penting dalam pengelolaan DAS yang umumnya dilakukan dengan menggunakan software desktop Berdasarkan kenyataan bahwa tidak semua stakeholder pengelolaan DAS dalam penggunaan maka perlu dibuat suatu sistem informasi client'. Dengan sistem informasi klien cukup akses distributed database dan overlay map on-the fly dengan ordinary web browser. Diperlukan common interface untuk

inter-operability system, untuk itu digunakan interface web map service dari Open Web Service.

Case

I

Gambar Penelitian

2.2. Use Case

lnteraksi sistern inforrnasi pengelolaan DAS dengan user digambarkan dengan rnenggunakan metoda Unified Modeling Language (UML) berupa diagram use case. Use case rnerupakan formal dalam merepresentasikan bagairnana sistem berinteraksi dengan user.

3.

Functional Requirements

Penetapan functional requirement infrastruktur data dan informasi DAS didasarkan

pada as-is system dengan mernpertirnbangan organisasi dan faktor

(4)

Prosiding informasi DAS: pengembangan Data" 5 September 2007

a. System

Penetapan d a n implementasi kebijakan pengelolaan DAS yang bersifat kolaboratif membutuhkan pertukaran data dan informasi institusi yang mewakili

stakeholder. Permasalahan utama yang ada s a a t ini adalah d a t a dan informasi DAS sering tidak diketahui lokasinya d a n diakses secara sektoral. Disamping itu sistem yang ada s a a t ini susah untuk melakukan datasharingmelalui web karena masing-masing institusi f o r m a t file d a n sistem yang heterogen sehingga menyulitkan dalam data transfer. Data transfer biasanya dilakukan secara manual melalui e-mail attachment atau media fisik seperti CD-ROM (bandingkan dengan Gambar 2). Ada kemungkinan data

harus re-format, re-projeksi sebelum bisa digunakan oleh institusi yang lain.

A

B

Gambar 2. Transfer Data pada Jaringan Heterogen (Proprietary)

Keterangan:

I. Data provider rnelakukan transfer data ke intitusi lain

Data ditransfer melalui physical media atau file transfer protocol (FTP)

3. Penerima data melakukan reformatting, selecting, clipping, updating terhadap atribut dan

rnelakukan penyesuaian spatial geometri.

4. Update yang dilakukan pada satu node kemungkinan tidak synchronous dengan node lain sehingga

terdapat yang bersifat terfragmentasi.

Data yang bersifat dasar (misalnya: DEM, infrastruktur jalan d a n administrasi, citra sateiit, foto udara, peta t a t a ruang) merupakan data yang bisa dimanfaatkan bersama oleh berbagai instansi berbeda, dengan demikian d a t a

di-share oleh berbagai instansi. Sharing data akan m e n g h e m a t

(5)

Portal Pengelolaan DAS W e b

b. Peraturan d a n Organisasi

Aspek yang perlu diperhatikan dalam desain infrastruktur d a t a pengelolaan DAS adalah aturan-aturan d a n standar yang sudah a d a baik dalam lingkup organisasi nasional. Salah satu standar yang perlu diperhatikan dalarn pengembangan infrastruktur data daninforrnasi DAS adalah IDSN.

Pernbangunan infrastruktur data spasial adalah program nasional yang nasikan oleh BAKOSURTANAL dan dilaksanakan oleh semua instansi

data spasial di dibentuknya adalah untuk simalkan penggunaan data spasial, menghindari duplikasi data, efisiensi, kemudahan dan distribusi, untuk pengambilan keputusan dan untuk keperluan penbangunan dibidang ekonomi, budaya, fisik, d a n lain. Adapun yang menjadi visi adalah

nya data dan informasi geospasial yang berkualitas, diakses d a n diintegrasikan untuk pembangunan nasional. Dalam mencapai tujuan, pembangunan IDSN didasarkan pada lima komponen, yaitu Kelembagaan, Peraturan Perundangan, Data Utama,

dan Sumber Daya Manusia.

lnfrastruktur d a t a pada IDSN merupakan sistem jaringan basisdata

(distributed database system) yaitu sistern yang menghubungkan server-server basisdata peer-portal yang independen yang pengelolaan dan pengoperasiannya terintegrasi oleh suatu aturan yangdisepakatioieh semua pelaku IDSN tersebut. Untukmengaturgerak langkah upaya bersama pelaku sehingga kesatuan yangutuh, yang didukung oleh aspek legal maka perlu dikembangkan peraturan perundang-undangan terkait. Kelompok k o m p o n e n Kelernbagaan d a n Peraturan Perundang-undangan

kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

-

Penetapan kastodian.

-

Peningkatan kemitraan institusional.

-

Peningkatan koordinasi penyediaan data

C o n t o h p e r u n d a n g - u n d a n g a n y a n g m e n d o r o n g a s p e k kolaboratif bagi penggunaan data d a n informasi adalah Undang-Undang No. 24 Tahun Pasal 4 Undang-Undang No. 2 4 Tahun menyatakan bahwa setiap o r a n g berhak untuk berperan dalarn penyusunan rencana t a t a ruang, d a n pengendalian pemanfaatan ruang. Hak setiap orang dalam penataan r u a n g dapat dalam bentuk pemberian saran, a t a u keberatan kepada pernerintah dalam rangka penataan ruang.

c. Kelernbagaan

Kelembagaan yang terlibat dalam penetapan dan implementasi pengelolaan suatu DAS Keragarnan akan meningkat jika s u a t u DAS terdiri dari satu atau lebih administrasi kabupaten ataupun provinsi. urnum lembaga yangterlibat dalam pengelolaan suatu DAS adalah sebagai berikut :

Kelembagaan Pemerintah

a) Pemerintah Daerah (PEMKAB, PEMKOT)

b) Kehutanan provinsi d a n Kabupaten, Balai Pengelolaan DAS c) Pertanian

d ) Perencanaan Pernbangunan Daerah (Bappeda) k a b u p a t e n dan provinsi. e ) Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) kabupaten dan

provinsi.

(6)

Prosiding DAS: pengembangan Data" 5 September 2007

f) Pertanahan (BPN) kabupaten dan provinsi.

g) (Binamarga, Pengairan) kabupaten dan provinsi. h) PDAM

2) Kelembagaan Masyarakat a)

b) LKMD c) LSM d) Universitas

e) Lembaga Penelitian

Berdasarkan di maka ditetapkan functional requirement yang

harus disediakan DAS sebagaimana I

.

Functional Requirement Portal DAS

Provider bisa melakukan update t e r h a d a p m e t a d a t a yang sudah

3. Pembagian Stakeholder kedalam Aktor pengembangan lnfrastruktur

BAKOSURTANAL, PU, dan lain sebagainya

(7)

Desain Portal Web

3.2. Use Case

Terkait dengan pengembangan infrastruktur data dan informasi DAS maka keberadaan lembaga di bisa dibagi dalam 2 kategori, yaitu: I) User, dan 2) Provider 2 dan Table 3). Sesuai dengan functional requirement pada Table I, maka dibuat use case berdasarkan Unified Modeling Language (UML). Diagram use case menggambarkan interaksi diantara portal informasi DAS dengan user. Use case diagram (Gambar 3) mengambarkan interaksi antara user dengan functional requirement portal DAS.

Dalam kaitan dengan perannya, user masih dapat dibagi lebih ianjut sebagai berikut: Eksplorasi datalinformasi, 2 ) Explorasi datalinformasi dan memberikan rekomendasi

berdasarkan informasi yang diterima, 3) Menggunakan datalinformasi dalam perumusan dan implementasi pengelolaan DAS. User kategori dan membutuhkan 'thin client' arsitektur, sedangkan user kategori 3 membutuhkan 'thickclient').

Sistem DAS

Map

Gambar 3. Use Case Diagram

3.3. Desain Portal Berbasis Web

Terdapat dua desain infrastrukturdata dan informasi DAS, yaitu: Database terpusat (centralized database) dan, 2) Database terdistribusi (distributed database). Mengingat instansi provider data DAS yang dan volume data yang besar (misalnya DEM) maka infrastruktur data dengan database terdistribusi akan lebih efisien. Dengan infrastruktur data ini maka database ada pada masing-masing instansi provider. akses dengan melalui interface OGC web service.

Dalam rangka memudahkan update data oleh masing-masing provider maka arsitektur portal didesain dengan 3-tier-client-server architecture berbasis web, yang secara

terdiri dari komponen sebagai berikut (Gambar 4):

(8)

Prosiding

Data" 2007

(Thin) klien berupa web browser

Portal yang mempunyai direktori metadata yang sudah di-registrasi oleh semua provider ke portal

Search server data pada provider data server pada provider data

Search server menghubungkan Portal dan provider database. Search server merupakan sebuah program pada sebuah komputer yang terkoneksi dengan internet. melakukan koneksi dengan search server, portal perlu mengetahui address dari search server dan, tergantung dari search protocol, juga perlu nama dari database dan port dari database server. Semua informasi ini tersimpan pada direktori metada pada Portal. Deployment diagram network portal pada

Gambar 4. Deployment Diagram Network Portal DAS

lnteraksi yang terjadi di antara komponen Portal lnformasi Pengelolaan DAS Berbasis Web ditunjukkan pada Gambar Provider data melakukan registrasi data ke portal. retrieve data, user mengirim search query ke search server, maka Portal akan menerima respon berupa: record database yang query criteria 2) ID dari masing-masing data dan web map service; dan 3)

Kemudian Portal mengirimkan informasi ini ke user dalam format internet ke klien. itu, usermelakukan retrieve data.

Agar provider data bisa membuat database-nya searchable maka ada dua yang harus dilakukan: Registrasi sebagai user dan; 2) Registrasi produk data.

(9)

Web

Data provider

akses Portal

metadata ke

5. lnteraksi K o m p o n e n Portal Data dan lnformasi Pengelolaan

Infrastruktur data dan informasi yang ada saat ini tidak mendukung perumusan dan

irnplementasi kebijakan pengelolaan DAS yang multi-stakeholder dan multi-

disiplin. Kemungkinan, ini adalah merupakan penyebab kenapa DAS kritis semakin meningkat

setiap tahun.

Dengan berkembangnya teknologi web maka terbuka kesempatan untuk mengembangkan

portal inforrnasi pengelolaan DAS berbasis web. Melalui portal stakeholder bisa melakukan

data sharing dengan dan secara kolaboratif rnelakukan perumusan dan irnplementasi

pengelolaan suatu DAS. Penetapan functional requirements infrastruktur data dan

informasi DAS dilakukan dengan melakukan as-is system,

organisasi dan faktor DAS. Berdasar-kan rnaka ditetapkan main

functional requirements yang harus disediakan: Search Data: User dapat menemukan distributed

database pada berbagai instansi melalui search metadata pada portal dengan list baik

berdasarkan lokasi rnaupun tema data; 2 ) Publish Metadata: Provider bisa registrasi rnetadata ke

sistem. Metadata berisi deskripsi singkat data geospasial dan berisi informasi rnengenai

online linkage untuk retrieve data geospasial yang distributed pada kantor-kantor cabang di setiap kabupaten dan 3) Akses Data: Klien bisa akses data rnelalui online linkage yang disediakan oleh provider.

utama dalam petukaran data sektoral adalah heterogenitassistem yang

Untuk mengatasi ini maka dipakai common interface dari dari Open Geospatial Consortium (OCC) Web Service. Disamping itu melalui desain sistem yang interoperable, publik bisa rnelakukan overlay multi layer data on the fly dari multi-sources. Dengan dernikian publik

tidak perlu melakukan deployment software CIS komersial untuk bisa melakukan keruangan

(10)

DAS: pengembangan Data" 5 September 2007

Daryaka Sekilas lnfrastruktur Data Spasial Nasional. Buletin Triwulan

Data Spasial Nasional. No. Mei Koordinasi Survei dan Pemetaan

Nasional.

Lemmens RLG. Semantic interoperability of distributed geo-services. Publications on Geodesy

Gambar

Gambar I. Metode Penelitian
Gambar 2. Transfer Data GIS pada Jaringan Heterogen (Proprietary)
Tabel 3. Pembagian Stakeholder kedalam Aktor
Gambar 3. Use Case Diagram
+3

Referensi

Dokumen terkait

the cause and effect oftl1e unfaithfulness ofthe major character is as well as expected. to ;give insight for

PADI (KG) JAGUNG (KG) CABE (KG) KEDELE (KG) UBI (KG) BENIH LAINNYA JUMLAH (TON) 1 Borong 2 Rana Mese 3 Kota Komba 4 Elar 5 Elar Selatan 6 Sambi Rampas 7 Poco Ranaka 8 Poco

Jika dalam waktu dua bulan setelah pemberhentian sementara dijatuhkan belum ada keputusan mengenai pemberhentian anggota Direksi berdasarkan ayat (3) maka

Unsur budaya yang dapat dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran matematika adalah ragam hias melayu.. Ragam hias melayu merupakan unsur budaya yang berasal

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kelancaran ASI lebih banyak yang lancar pada ibu menyusui yang emosinya rendah sebanyak 78,6% dibandingkan dengan ibu yang

GA7193 and is suitable for the submission for the award of the Degree of Doctor of Philosophy in Sunni Theology. EHS^NULLAH FAHAD

Aplikasi Pemesanan Barang pada Unit Produksi Percetakan SMK Grafika Berbasis Android Halaman menu cetak data pesanan gambar 11 merupakan halaman yang berisi data pesanan

bahwa selain pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, pengaturan juga dilakukan terhadap retribusi pengujian kendaraan bermotor yang disesuaikan dengan