• Tidak ada hasil yang ditemukan

FIQIH KONFLIK DALAM BERORGANISASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "FIQIH KONFLIK DALAM BERORGANISASI"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

48 6 - 21 RAMADLAN 1431 H

WAWASAN ISLAM

FIQIH KONFLIK

DALAM BERORGANISASI

MAHMUD HAMZAWI FAHIM USMAN

akan bersatu sementara yang berbeda akan berselisih” (HR. Bukhari, No. 3336 dan Muslim No. 2638). Dengan demikian, Islam tidak mencela perbedaan atau perse-lisihan selama itu masih dalam batas yang wajar dan tidak membawa konsekuensi negatif.

Rahasia di balik keberhasilan Muhammadiyah yang

survive dan kukuh selama satu abad sebenarnya terletak pada bagaimana Muhammadiyah mengelola atau mena-ngani perselisihan atau perbedaan dan bahkan konflik internal sesuai etika yang ada dalam Fiqhul Khilaaf, yakni fiqih manajemen perbedaan dan perselisihan pendapat dan kecenderungan antar-umat Islam. Boleh dikatakan bahwa selama Muhammadiyah berpegang teguh pada etika perselisihan internal; selama kepentingan organisasi selalu diutamakan di atas kepentingan pribadi dan juga selama berpegang teguh pada ajaran Islam, maka Mu-hammadiyah akan jaya dan bermanfaat bagi seluruh bang-sa Indonesia dan seluruh umat Islam selama-lamanya.

Sebagaimana tadi dinyatakan bahwa adanya perse-lisihan atau perbedaan dalam pandangan, kepentingan atau kecenderungan adalah hal yang lazim dan tidak selalu dicela dalam Islam. Namun ada juga sebagian kaum Mus-limin yang mencela semua perbedaan karena mereka mengharapkan sesuatu yang mustahil, yakni keseragam-an mutlak keseragam-antarumat Islam dalam segala hal. Oleh karena itu, yang dibahas dalam fiqul khilaaf ini adalah bagaimana mengantisipasi, mencegah, meminimalkan, merespons, menangani atau mengontrol dengan baik masalah perseli-sihan, pertikaian dan konflik, terutama konflik internal. Banyak tulisan dan karya sudah ditulis tentang Fiqih Konflik (Fiqul Ikhtilaaf/Khilaaf), sehingga boleh di-katakan ini sudah menjadi suatu disiplin ilmu agama Islam yang metodologinya sudah matang. Karya yang paling populer dalam fiqih konflik ini adalah karya DR. Yusuf Al-Qaradhawi, Ash-Shahwah Islamiyah Baina al-Ikhtilaf al-Masyru‘ wa at-Tafarruq al-Madzmum (Ke-bangkitan Semangat Keislaman antara Perselisihan yang Dibolehkan dan Perpecahan yang Dicela); dan karya A.M. Al-Qarni Fiqh al-Khilaf (Fiqih Perselisihan/Konflik).

Pokok-pokok Etika Perselisihan

Berikut ini rangkuman ringkas berupa pokok-pokok etika perselisihan seperti yang terdapat dalam kedua karya yang disebut tadi: 1. Moderatisme (al-I’tidaal); 2.

Tole-M

uhammadiyah layak diusulkan untuk dimasukkan ke dalam Guinness Book of Record sebagai organisasi Islam yang pertama kali sepanjang sejarah Islam modern dan juga sejarah Islam klasik yang berhasil hidup tanpa perpecahan atau konflik internal dan eksternal yang signifikan. Dalam seja-rah modern Indonesia, misalnya, kita melihat beberapa gerakan, ormas, dan partai Islam yang tidak bertahan lama persatuannya. Amal usaha Muhammadiyah selama ini fokus pada aspek-aspek yang sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa Indonesia seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain. Bahkan dalam aspek agama dan politik pun, Muhammadiyah memainkan peranan sebagai reformer atau pembaharu atau inovator agar agama dan politik tidak disalahgunakan atau gagal membawa kemudahan bagi rakyat Indonesia terutama umat Islam. Konflik adalah pertentangan interes atau kepentingan antarpihak, entah pihak internal atapun eksternal. Konflik merupakan suatu kepastian dalam kehidupan manusia di mana pun mereka berada dan dalam lingkup apa pun: keluarga, masyarakat, komunitas, organisasi, partai atau negara. Tidak mungkin semua orang selalu memiliki pan-dangan atau kepentingan yang sama, pasti mereka ber-beda-beda walaupun di bawah payung yang sama, mi-salnya agama, suku, ras, keluarga, organisasi, pekerjaan, profesi atapun negara. Persis, ibarat jemari satu tangan yang berbeda-beda panjangnya, padahal pangkalnya satu — kata sebuah pepatah Mesir.

Fiqih Konflik

Sebenarnya perbedaan dalam pandangan, kepenting-an, kecenderungan ataupun nama tidak salah dan bahkan tidak dicela dalam agama Islam, selama perbedaan atau perselisihan itu sesuai dengan etika dan tidak menye-babkan permusuhan, perpecahan atau malapetaka lainnya. Firman Allah SwT dan sabda Rasulullah saw menegas-kan bahwa manusia amenegas-kan selalu berbeda-beda dalam se-gala hal. “Mereka (umat manusia) akan terus-menerus berselisihan kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu….” (Q.s. Hud [11]: 118-119).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Manusia itu beraneka ragam macam sebagai-mana halnya logam… Dan jiwa-jiwa (manusia) ibarat pasukan-pasukan yang punya target, maka yang seragam

De

m

o (Vi

si

t ht

tp:

//www.pdfspl

itm

erge

r.c

om

(2)

49 SUARA MUHAMMADIYAH 16 / 95 | 16 - 31 AGUSTUS 2010

WAWASAN ISLAM

ransi (at-tasamuh); 3. Berpedoman pada dalil dan logika syar’i saja; 4. Berdebat dengan cara yang halus; 5. Kerja sama dalam hal yang sudah disepakati bersama; 6. Tidak berlandaskan nash ambigu/mutasyabih yang tafsirnya belum pernah disepakati; 7. Tidak memastikan kebenaran tunggal/mutlak suatu tafsir pada teks-teks yang jelas te-tapi multi-interpretabel atau ada lebih dari satu tafsir; 8. Tidak menyalahkan pihak lain berdasarkan fanatisme; 9. Berbaik-sangka kepada yang lain; 10. Mengutamakan kepentingan yang bersifat umum atau kepentingan bersama (seperti persaudaraan) di atas kepentingan khu-sus apalagi pribadi; 11. Memahami betul inti masalah atau maksud atau bahkan istilah yang diangkat oleh yang lain sebelum berdebat ataupun menyalahkan; 12. Tidak mencari kemenangan semata-mata, yakni jangan sampai bertindak bukan demi membela kebenaran atau kemas-lahatan umum tetapi asal mencari nama atau kepemim-pinan atau asal mengalahkan yang lain saja; 13. Memiliki metodologi ilmiah yang matang (ontologi, epistemologi dan aksiologi) dalam bertindak sebelum berselisih dengan yang lain; 14. Tidak membesar-besarkan titik-titik per-selisihan yang kecil hanya untuk mencari identitas yang berbeda.

Pokok-pokok tersebut dengan sengaja penulis tidak menguraikannya karena cukup jelas dan bahkan contoh-contoh yang dapat disebut sebagai keterangannya oleh pembaca dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari dan sejarah modern gerakan Islam, baik di Indonesia maupun di dunia Islam lainnya. Yang pasti adalah bahwa

Muham-madiyah dapat bertahan hidup selama ini tanpa perpe-cahan internal atau pertikaian eksternal karena berpegang teguh pada poin-poin yang disebut di atas, sehingga boleh dikatakan Muhammadiyah memberi contoh ideal yang nyata bagi seluruh umat Islam, terutama ormas Islam mengenai etika perselisihan dalam berorganisasi

Rahasia sukses abadi ormas Islam ini adalah berpe-gang teguh pada etika penanganan konflik internal dan eksternal sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Se-lama interes atau kepentingan pribadi tidak dibawa ke dalam tubuh organisasi apalagi sampai bertentangan de-ngan visi dan misi organisasi, maka organisasi atau gerakan yang bergerak di bawah nama Islam akan hidup jaya maju dan sejahtera selama-lamanya, bukan sebatas satu-dua abad saja.

Akhirnya, sebagai penutup penulis ingin menyusun rangkuman pesan-pesan yang ada dalam tulisan ini dalam bentuk pantun, seperti berikut:

Burung Garuda terbang setinggi-tingginya/ Sungguh tak jenuhlah mata memandangnya/ Bhinneka Tunggal Ika itulah yang dipegangnya/ Rakyat Indonesia aman sentosa jika menjiwainya/ Sinar Sang Surya menerang-kan jalan ceria baginya/ Hangatnya sinar Sang Surya adalah satu untuk semua/ Kiai Haji Ahmad Dahlan dulu pernah wasiatkan sebelum wafatnya/ Bersatu itu wajib hukumnya; bercerai jangan selama-lamanya.

Hiduplah Muhammadiyah! Bersetia jaya, bercerai ma-rabahaya. Bhinneka Tunggal Ika.l

Penulis adalah Mahasiswa S3 Politik Islam UMY.

Foto: DIDIK SUJARWO

De

m

o (Vi

si

t ht

tp:

//www.pdfspl

itm

erge

r.c

om

Referensi

Dokumen terkait

Perkawinan tidak akan langgeng dan tentram karena tidak bisa menyatukan pandangan tentang segala sesuatu. Jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya atau tingkat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivis organisasi pergerakan memiliki strategi yang berbeda-beda dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi konflik. Aspek

sebagai suatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok. atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau

Kecenderungan mahasiswa untuk tidak ikut terlibat berorganisasi tersebut memiliki self efficacy rendah, ditandai dengan yakni : (1) kurang percaya diri pada situasi

Dari penjelasan diatas dapat menarik kesimpulan bahwa konflik adalah perselisihan anatara dua belah pihak dikarenakan perbedaan pendapat, selain itu juga konflik dapat diartikan

yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti.. terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar

Pada realitanya suatu pemilihan umum di suatu Negara tidak luput dari peran agama, entah itu agama sebagai dasar dari suatu partai atau bahkan suatu partai lain yang berkoalisi

Bahkan kami bersebelahan/tetangga dengan orang itu (Nasrani). Kalau masalah agama, dia dengan agamanya, tidak ada masalah bagi saya.saya juga beribadah sesuai