GAMBARAN LEUKOSIT PADA MENCIT YANG
DIINFEKSI
Plasmodium berghei
DAN DIBERI INFUSA
DAUN PAPAYA (
Carica papaya
Linn
.
)
NANDA AMELIA ANDARINA
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Gambaran Leukosit pada
Mencit yang Diinfeksi Plasmodium berghei dan Diberi Infusa Daun Papaya
(Carica papaya Linn.) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2011
Nanda Amelia Andarina
ABSTRAK
NANDA AMELIA ANDARINA. Gambaran Leukosit pada Mencit yang
Diinfeksi Plasmodium berghei dan Diberi Infusa Daun Papaya (Carica papaya
Linn.). Dibawah bimbingan UMI CAHYANINGSIH.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa
daun Carica papaya Linn. terhadap persentase diferensial leukosit mencit yang
diinfeksi Plasmodium berghei. Pada penelitian ini digunakan sebanyak 30 ekor
mencit putih (Mus musculus albinus) jantan dan betina dengan bobot rata-rata 25
g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Mencit dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu 1) kontrol normal (tidak diinfeksi dan diobati), 2) kontrol negatif (diinfeksi tetapi tidak diobati), 3)
kelompok PA1 (infusa daun C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-2), 4)
kelompok PA2 (infusa daun C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-4) dan 5)
kelompok PA3 (infusa infusa daun C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-6).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase neutrofil pada mencit jantan cenderung lebih tinggi dibandingkan pada mencit betina dan kelompok KN. Persentase monosit dan eosinofil pada mencit jantan dan betina cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Persentase limfosit pada mencit jantan dan mencit betina cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok KN. Persentase basofil tidak berpengaruh pada semua perlakuan.
Kata kunci: infusa daun Carica papaya L., leukosit, malaria, mencit, Plasmodium
ABSTRACT
NANDA AMELIA ANDARINA. Leucocyte Profile of Mice that Infected
Plasmodium berghei and Given Papaya Leaf Infusion (Carica papaya Linn.).
Under direction of UMI CAHYANINGSIH.
This research was conducted to determine the effect of Carica papaya
Linn. leaf infusion to the percentage of differential leucocyte mice that was
infected by Plasmodium berghei. This research used laboratory animals such as
male and female mice (Mus musculus albinus) that had been infected by P.
berghei. Design of this research was completely randomized design with three replication. About 30 mice with an average weight of 25 g were divided into 5 groups that consists of 1) KNO (normal control), 2) KN (negative control group)
was infected P. berghei, 3) PA1 group (C. papaya L. leaf infusion with dilutions
of 1 x 10-2), 4) PA2 (C. papaya L. leaf infusion with dilution 1 x 10-4) and 5) PA3
group (C. papaya L. leaf infusion with 1 x 10-6). The results showed that
neutrophil percentage in male mice was tend to higher than female mice and KN group. Monocyte and eosinophil percentage in male and female mice was tend to lower than KN group. Lymphocyte percentage in male and female mice was tend to higher than KN group. Basophil percentage was not influence in all groups.
Keywords: leucocyte, malaria, mice, Carica papaya L. leaf infusion, Plasmodium
©Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
GAMBARAN LEUKOSIT PADA MENCIT YANG
DIINFEKSI
Plasmodium berghei
DAN DIBERI INFUSA
DAUN PAPAYA (
Carica papaya
Linn
.
)
NANDA AMELIA ANDARINA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Gambaran Leukosit pada Mencit yang Diinfeksi Plasmodium berghei dan Diberi Infusa Daun Papaya (Carica papaya Linn.)
Nama : Nanda Amelia Andarina
NIM : B04061796
Disetujui,
Tanggal Lulus :
Dr. drh. Hj. Umi Cahyaningsih, MS Ketua
Diketahui
Dr. Nastiti Kusumorini
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia yang diberikan sehingga penelitian dan skripsi ini dapat diselesaikan.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada Februari sampai dengan Juli 2010 dan
diberi judul “Gambaran Leukosit pada Mencit yang Diinfeksi Plasmodium
berghei dan Diberi Infusa Daun Papaya (Carica papaya Linn.)”.
Atas selesainya skripsi ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua, adik dan keluarga besar yang tak henti-hentinya
mendoakan, atas segala kasih sayang, pengorbanan dan dukungan yang diberikan.
2. Dr. Drh. Hj. Umi Cahyaningsih, M.S selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah meluangkan waktunya yang berharga untuk mengarahkan, memberikan motivasi, membagi ilmu dan senantiasa sabar dalam membimbing penulis.
3. Drh. Titiek Sunartatie, M.Si, selaku dosen pembimbing akademik (PA)
yang selalu member semangat dan nasehat kepada penulis selama penulis menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
4. Kak Mieke, Reky dan Wenny yang memberikan semangat dan masukan
tentang penelitian ini.
5. Pegawai Laboratorium Protozoologi dan Helmintologi yang telah
membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis selama penelitian berlangsung.
6. Teman-teman sepenelitian (Apriani Sosilawati dan Septi Rubiyani) yang
telah membantu selama penelitian.
7. Sahabatku Arum, Ria, Made Fera, Vivi, dan Fifit atas dukungan dan
doanya.
8. Angkatan 43 (Aesculapius) sebagai teman seperjuangan di FKH IPB.
9. Teman–teman dan semua pihak yang telah membantu, mendukung dan
memberikan kontribusi dalam penulisan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga skripsi ini dapat dimanfaatkan dengan semestinya.
Bogor, Januari 2011
RIWAYAT HIDUP
Penulis dengan nama lengkap Nanda Amelia Andarina lahir di Pontianak pada tanggal 2 Oktober 1988 dari ayah Mustafa Kamal, S.ip dan ibu Wasini, S.pd. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Manfaat Penelitian ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Papaya (Carica papaya L.) ... 3
Klasifikasi ... 3
Deskripsi ... 3
Agroekologi ... 5
Bagian Tanaman yang Digunakan Pada Penelitian ... 5
Malaria ... 6
Plasmodium ... 7
Siklus Hidup Plasmodium sp. ... 8
Induk Semang Antara ... 8
Induk Semang Definitif ... 10
Plasmodium berghei ... 10
Mencit ... 11
Sifat dan Morfologi Mencit ... 12
Darah... 12
Leukosit ... 13
Granulosit ... 13
Neutrofil ... 13
Eosinofil ... 15
` Basofil... 16
Agranulosit ... 16
Limfosit ... 16
Monosit... 17
BAB III BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat ... 19
Alat dan Bahan ... 19
Cara Kerja... 19
Persiapan percobaan ... 19
Preparasi Hewan Coba ... 19
Pengamblian Darah Pada Mencit ... 20
Penyimpanan dan Pembuatan Stok Plasmodium berghei ... 20
Pembuatan Infusa Daun Papaya (Carica papaya L.) ... 21
Percobaan ... 21
Kelompok Perlakuan Penelitian ... 21
Infeksi Plasmodium berghei ... 21
Pemberian Infusa Daun Papaya Pada Mencit ... 22
x
Perhitungan Diferensiasi Leukosit ... 23
Pengolahan Data ... 23
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Neutrofil Mencit Jantan ... 24
Neutrofil Mencit Betina ... 25
Monosit Mencit Jantan ... 27
Monosit Mencit Betina ... 28
Limfosit Mencit Jantan ... 30
Limfosit Mencit Betina ... 31
Eosinofil Mencit Jantan ... 33
Eosinofil Mencit Betina ... 34
Basofil Mencit Jantan ... 36
Basofil Mencit Betina ... 38
Pembahasan ... 40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 42
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Analisis komposisi daun papaya (Carica papaya L.) ... 6
2. Nilai fisiologis mencit ... 12
3. Rata-rata persentase neutrofil mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 26
4. Rata-rata persentase neutrofil mencit betina yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 26
5. Rata-rata persentase monosit mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 29
6. Rata-rata persentase monosit mencit betina yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 29
7. Rata-rata persentase limfosit mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 32
8. Rata-rata persentase limfosit mencit betina yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 32
9. Rata-rata persentase eosinofil mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya dosis bertingkat dengan cara peroral... 35
10. Rata-rata persentase eosinofil mencit betina yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya dosis bertingkat dengan cara peroral... 35
11. Rata-rata persentase basofil mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dengan cara peroral... 37
12. Rata-rata persentase basofil mencit betina yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Pohon, buah, dan daun papaya (Carica papaya L.) ... 4
2. Siklus hidup malaria ... 8
3. Siklus hidup Plasmodium berghei ... 11
4. Neutrofil ... 13
5. Eosinofil ... 15
6. Basofil ... 16
7. Limfosit ... 17
8. Monosit ... 18
9. Rata-rata persentase neutrofil pada mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 24
10.Rata-rata persentase neutrofil pada mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 25
11.Rata-rata persentase monosit pada mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 27
12.Rata-rata persentase monosit pada mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 28
13.Rata-rata persentase limfosit pada mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 30
14.Rata-rata persentase limfosit pada mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 31
15.Rata-rata persentase eosinofil pada mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 33
16.Rata-rata persentase eosinofil pada mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat... 34
xiii
18.Rata-rata persentase basofil pada mencit jantan yang diinfeksi P. berghei
setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa
dengan genus Plasmodium. Pada manusia, malaria ditimbulkan oleh satu dari
empat spesies dari genus Plasmodium yaitu: P. vivax, P. falciparum, P. ovale, dan
P. malariae (Pribadi 2003). Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk
jenis tertentu yaitu nyamuk dari jenis Anopheles.
Malaria adalah penyakit infeksi parasit utama di dunia yang mengenai
hampir 170 juta orang tiap tahunnya (Mursito 2002). Penyakit ini juga berjangkit
di hampir 103 negara, terutama negara-negara di daerah tropik pada ketinggian
antara 400-3.000 m dari permukaan laut (dpl) dengan kelembaban udara tidak
kurang dari 60% (Mursito 2002). Menurut WHO, saat ini sekitar dua milyar
manusia terkena risiko ancaman penyakit malaria dan penyakit ini telah
menyebabkan korban sampai 1-3 juta korban meninggal (Werfette et al. 2008).
Salah satu negara yang memiliki masalah utama terhadap penyakit malaria
adalah Indonesia. Di wilayah tropis seperti Indonesia, malaria merupakan
penyakit yang cukup banyak diderita. Penyakit ini pada umumnya menyerang
penduduk yang tinggal di pedesaan yang merupakan sebagian besar penduduk
Indonesia (Nuchsan 1994). Penyakit malaria masih merupakan masalah di
Indonesia karena sering terjadi wabah yang tidak diduga dan juga ditemukan
resistensi terhadap obat yang sering digunakan. Resistensi adalah kemampuan
strain parasit untuk tetap hidup, berkembangbiak dan menimbulkan gejala
penyakit, walaupun diberi pengobatan terhadap parasit dalam dosis standar atau
dosis yang lebih tinggi yang dapat ditoleransi.
Program pemberantasan malaria di Indonesia sampai saat ini masih
menghadapi berbagai kendala diantaranya akibat meluasnya Plasmodium yang
resisten terhadap obat antimalaria dan nyamuk vektor yang resisten terhadap
berbagai insektisida. Adanya resistensi Plasmodium terhadap obat antimalaria
membutuhkan perlunya mencari obat antimalaria yang lain terutama yang berasal
dari sumber alami yang mampu untuk menanggulangi masalah tersebut
tubuh terhadap infeksi dan komplikasi malaria sampai saat ini belum ditemukan
(Harijanto 2000). Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian atau studi mengenai
aktivitas antimalaria yang berasal dari tanaman obat sebagai sumber baru obat
antimalaria (Mustofa et al. 2007).
Papaya (Carica papaya L.) sebagai satu diantara sekian banyak jenis
tanaman buah tropis yang dapat tumbuh di Indonesia memiliki berbagai manfaat.
Kandungan buah, biji, daun, getah dan akarnya masing-masing memiliki khasiat
yang bernilai bagi makhluk hidup dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi
masyarakat. Papaya digunakan sebagai diuretik, antikoagulan, antihemintik,
disamping itu dapat mengobati luka, luka bakar, gangguan pencernaan dan
mencegah dispepsia (rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman pada perut bagian
atas, lebih dikenal sebagai gastritis) (Oladimeji et al. 2007).
Papaya memiliki aktivitas melawan Plasmodium, namun informasi
mengenai hal ini masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian aktivitas papaya
(Carica papaya L.) terhadap penyakit malaria ini yang nantinya dapat
memberikan tambahan informasi yang berguna dalam pengobatan penyakit ini.
Miliken (1997) mengemukakan bahwa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid yang
terdapat dari banyak tanaman mempunyai aktivitas sebagai antiplasmodial. Daun
papaya merupakan satu diantara tanaman yang memiliki kandungan tersebut, hal
ini merupakan latar belakang dilakukannya penelitian ini.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa
daun Carica papaya Linn. terhadap persentase diferensial leukosit mencit yang
diinfeksi Plasmodium berghei.
Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
mencit yang diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.)
TINJAUAN PUSTAKA
Papaya (Carica papaya L.)
Tanaman papaya diduga berasal dari Amerika Tengah dengan nenek
moyang Carica papaya L. Hook dan Arn yang kemudian menyebar ke seluruh
dunia, termasuk Indonesia (Sunarjono 2006). Di Indonesia, papaya memiliki
berbagai jenis nama seperti kabaelo, peute, pertek, pastel, ralempaya, betik,
embetik, botik, bala, sikaiolo, betis, kates, kepaya, kustela, batiek, kelilih, pisang
katuka, gedang, puntil kayu (Sumatera); gedang, katela gantung, kates (Jawa);
gedang, kates, kempaja, panja, kalu jwa, padu (Nusa Tenggara); bau medung,
pisang malaka, buah dong, mejan (Kalimantan); hango, mauu jawa, kaliki riane
(Sulawesi); tapaya, kapaya, tele, palaki, kapi (Maluku); sempien (Irian) (Mursito
2002).
Klasifikasi
United States Departmen of Agriculture (2010) mengemukakan bahwa
Carica papaya L. diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Dilleniidae
Ordo : Violalaes
Famili : Caricaceae
Genus : Carica L.
Spesies : Carica papaya Linn
Deskripsi
Papaya merupakan tanaman dengan ketinggian mencapai 5-10 m. Bentuk
daun papaya hampir seperti jari tangan melebar, bertulang daun menjari, dan
ujung lancip. Pangkal daun berbentuk jantung dengan garis tengah 25-75 cm.
Tangkai daun panjang menyerupai pipa, tidak berbulu dan berkelompok dekat
pucuk, berlubang, dan melekat pada batang. Tajuk selalu berlekuk menyirip tidak
Batang berstruktur seperti spon dan berongga. Batangnya berongga karena
intinya berupa sel gabus. Berbatang lunak berair. Bekas kedudukan tangkai daun
meninggalkan tanda seperti ruas. Pada musim hujan ruasnya panjang, sedangkan
pada musim kemarau ruasnya pendek sesuai dengan kecepatan pertumbuhan
tanaman (Sunarjono 2006).
Bunga biasanya ditemukan pada sekitar puncuk. Bunga keluar dari ketiak
daun, tunggal atau dalam rangkaian. Bunganya ada yang berkelamin tunggal
(betina/putik atau jantan/benang sari saja) atau berkelamin sempurna
(hermafrodit) yang mempunyai putik dan benang sari yang fertil. Papaya
tergolong penyerbuk silang dengan bantuan perantara angin. Bunganya berbentuk
terompet kecil. Mahkota bunga berwarna kekuningan (Sunarjono 2006).
Buah berbentuk bulat sampai lonjong (Rukmana 1995), berwarna hijau
saat masih muda dan berubah kuning kemerahan setelah menjadi masak (Mursito
2002). Buahnya bergetah dan berbiji banyak dalam rongga buah yang lebar.
Biji-biji tersebut ada yang berwarna hitam (fertil) dan ada yang berwarna putih
(abortus, tidak tumbuh). Buah dari bunga sempurna berbentuk panjang. Buah dari
bunga betina berbentuk bulat hingga oval dengan daging tipis (Sunarjono 2006).
Batang, daun, dan buahnya mengandung getah yang memiliki daya enzimatis,
yaitu dapat memecah protein.
Mempunyai akar tunggang dan akar samping yang lunak dan agak
dangkal. Akar papaya tumbuh panjang, cenderung mendatar. Jumlahnya tidak
banyak dan lemah (Sunarjono 2006). Adapun gambar morfologi pohon papaya
sebagai berikut:
Agroekologi
Tanaman papaya dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian
1000m dpl (diatas permukaan laut), tumbuh subur di tanah yang kaya bahan
organik, dan tidak suka menyukai tempat tergenang (Muhlisah 1999). Tanah yang
subur dengan porositas baik, mengandung kapur, dan ber-pH 6-7 paling disenangi
oleh tanaman papaya.
Tanaman ini lebih senang tumbuh di lokasi yang banyak hujan (cukup
tersedia air), curah hujan 1000-2000 mm per tahun dan merata sepanjang tahun.
Di daerah yang beriklim kering, musim hujannya 2-5 bulan, dan musim
kemaraunya 6-8 bulan, tanaman papaya masih mampu berbuah, asalkan ke
dalaman air tanahnya 50-150 cm (Sunarjono 2006).
Perbanyakan papaya sering dilakukan secara generatif dengan biji,
sedangkan cara vegetatif tidak memberikan hasil yang baik. Pertumbuhan
tanaman papaya termasuk cepat karena antara 10-12 bulan setelah ditanam
buahnya telah dapat dipanen (Kalie 1999).
Bagian Tananam yang Digunakan Pada Penelitian
Daun papaya (C. papaya L.) adalah bahan yang digunakan dalam
penelitian ini. Daun papaya muda sering digunakan sebagai bahan berbagai jenis
sayuran dan pelunak daging. Perasan daun papaya dapat digunakan untuk obat
penambah nafsu makan (Kalie 1999).
Daun C. papaya L. memiliki kandungan antara lain enzim papain,
alkaloid, pseudo karpaina, glikosid, karposid, dan saponin (Muhlisah 1999).
Alkaloid karpaina mempunyai efek seperti digitalis. Papain akan tetap ada dalam
daun papaya (C. papaya L.) yang telah dikeringkan dengan pemanasan yang
rendah, tetapi akan rusak jika daun papaya (C. papaya L.) tersebut di keringkan
dengan pemanasan yang tinggi.
United States Departmen of Agriculture (2010) mengemukakan bahwa
kandungan zat kimia yang dapat ditemukan di dalam daun papaya (C. papaya L.)
antara lain alkaloids (1.300-4000ppm), dehydrocarpain (1.000ppm),
pseudocarpaines (100ppm), flavonoid (0-2.000ppm), benzylglucosinolate, dan
Tabel 1 Analisis komposisi daun papaya (C. papaya L.).
Sumber : Direktorat Gizi, Depkes RI, 1967 diacu dalam Reky (2009)
Robertson (2009) mengemukakan bahwa daun papaya mengandung
glycosida, carposida, alkaloid, carpaine. Papain sebagai kandungan utamanya,
papain merupakan enzim proteolitik. Selain itu, terdapat terpenoid, terpenoid ini
memiliki kandungan antimikrobial (Cowan 1999).
Miliken (1997) mengemukakan bahwa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid
yang terdapat dari banyak tanaman mempunyai aktivitas sebagai antiplasmodial.
Kehadiran dari flavonoid dan tanin dari C. papaya L. bertanggung jawab dalam
memakan radikal bebas. Flavonoid dan tanin adalah kandungan phenol dari
tanaman merupakan kelompok besar dari komponen yang bertindak sebagai
antioxidan utama. Studi tentang fitokimia dan aktivitas antioxidan dari daun C.
papaya L.salah satu tanaman dari tiga tanaman terapi obat antimalaria di Nigeria
menunjukkan bahwa daun papaya (C. papaya L.) mempunyai aktivitas antioxidan
sebesar IC50 0.58 mg/ml. Aktivitas antioxidan tersebut dapat menghalangi
kerusakan oksidatif akibat parasit malaria. Hal ini dimungkinkan sebagai salah
satu mekanisme terapi untuk malaria (Ayoola et al.2008).
Malaria
Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani. Meskipun penyakit
ini telah diketahui sejak lama, namun penyebabnya belum diketahui. Dahulu,
penyakit ini diduga disebabkan oleh hukuman dari dewa-dewa karena waktu itu
ada wabah di sekitar kota Roma.Penyakit ini banyak ditemui di daerah rawa-rawa
Unsur Komposisi Jumlah
yang mengeluarkan bau busuk, sehingga penyakit ini disebut dengan “malaria”
yang berasal dari kata “mal area” yang berarti udara busuk (Pribadi 2003).
Baru pada abad ke-19, Laveran melihat “bentuk pisang” dalam darah
seorang penderita malaria, kemudian diketahui bahwa malaria ditularkan oleh
nyamuk yang banyak terdapat di rawa-rawa (Pribadi 2003).
Gejala klinik penyakit malaria adalah khas, mudah dikenal, karena demam
yang naik turun dan teratur disertai menggigil. Di samping itu terdapat kelainan
pada limpa, yaitu splemomegali: limpa membesar dan menjadi keras, sehingga
dahulu penyakit malaria disebut demam kura (Pribadi 2003). Malaria merupakan
penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dengan genus Plasmodium.
Plasmodium
Plasmodium merupakan protozoa penyebab penyakit malaria. Protozoa ini
mempunyai induk semang definitif nyamuk Anopheles. Infeksi Plasmodium sp.
pada manusia dimulai ketika nyamuk Anopheles sp. pembawa sporozoit
Plasmodium sp. menggigit manusia. Sporozoit yang masuk melalui gigitan
nyamuk, selanjutnya melalui sistem sirkulasi menuju hati dan memasuki stadium
intrasel hati. Di dalam hepatosit, sporozoit mengalami replikasi aseksual
membentuk merozoit. Merozoit selanjutnya menyerbu dan masuk ke sel-sel
eritrosit, dan dimulailah periode intrasel eritrosit. Di dalam eritrosit, merozoit
melakukan metabolisme aktif termasuk mengingesti sitoplasma eritrosit hospes
dan menghancurkan hemoglobin menjadi asam amino. Akibatnya, penderita
mengalami gejala anemia (Hyde 1990).
Stadium intraseluler (dalam sel hepatosit dan eritrosit) merupakan
mekanisme parasit untuk menghindar dari sistem imunitas hospes. Dengan berada
di dalam sel hospes, komponen-komponen pertahanan tubuh hospes tidak
mengenalnya sebagai bahan asing. Stadium intrasel eritrosit, merupakan stadium
paling toksik dari merozoit bagi hospes. Stadium ini diawali dengan proses invasi
merozoit ke dalam eritrosit, diikuti pertumbuhan dan replikasi merozoit di dalam
eritrosit. Keberhasilan mekanisme invasi dan pertumbuhan merozoit sangat
Siklus Hidup Plasmodium sp.
Siklus hidup Plasmodium sp. melibatkan insekta sebagai induk semang
definitif (yaitu nyamuk) dan induk semang antara yaitu vertebrata (termasuk
manusia) (Wakelin 1988). Dalam induk semang definitif, Plasmodium mengalami
stadium seksual dan sporogoni, sedangkan dalam induk semang antara mengalami
stadium aseksual yaitu intrasel hati dan eritrosit. Dalam siklus hidupnya,
Plasmodium sp. melalui 2 daur aseksual, yaitu daur eritosit dalam darah
(skizogoni eritosit) dan daur dalam sel parenkim hati (skizogoni eksoeritosit) atau
stadium jaringan dengan skigoni praeritrosit (skizogoni eksoeritrosit primer)
setelah sporozoit masuk dalam sel hati dan skizogoni eksoeritrosit sekunder yang
berlangsung dalam hati (Pribadi 2003). Secara keseluruhan, siklus hidup
Plasmodium sp. terdiri dari 4 stadium yaitu stadium intrasel hati, stadium intrasel
eritrosit, stadium seksual dan sporogoni. Stadium intrasel merupakan salah satu
strategi parasit ini menghindar dari sistem pertahanan tubuh induk semang.
Gambaran siklus hidup Plasmodium adalah sebagai berikut :
Gambar 2. Siklus hidup Malaria (Dept. biol 2002)
Induk Semang Antara
Bila nyamuk Anopheles betina yang mengandung Plasmodium sp. dalam
kelenjar liurnya menusuk hospes, sporozoit yang berada dalam air liurnya masuk
melalui probosis yang ditusukkan ke dalam kulit. Sporozoit segera masuk dalam
peredaran darah dan setelah ½ jam sampai 1 jam masuk dalam sel hati (Pribadi
2003). Sporozoit menetap di hati dan menginfeksi hepatosit. Pemasukan sporozoit
ke dalam hepatosit diperantarai oleh ikatan antara circumsporozoit protein (CSP)
proteoglikan (Sinnis & Sim 1997). Di dalam hepatosit sporozoit berkembang
dalam 47-52 jam melewati fase trophozoit menjadi skizon dewasa yang dapat
berisi 1500-8000 merozoit (jumlah total dari merozoit tiap skizon dewasa dapat
bervariasi tiap spesies yang berbeda) (Jense et al 2009). Proses ini disebut
skizogoni praeritrosit.
Pada akhir fase praeritrosit, skizon pecah, merozoit keluar dan masuk di
peredaran darah. Selama stadium intrasel hati, ada beberapa jenis Plasmodium
yang mengalami stadium dorman dengan membentuk hipnozoit. Hipnozoit
tersebut akan reaktif setelah beberapa minggu, bulan atau tahun dan akan
mengalami replikasi aseksual.
Merozoit selanjutnya menyerbu dan masuk ke sel-sel eritrosit, dan
dimulailah periode intrasel eritrosit (Wakelin 1988). Stadium intraseluler eritrosit
melibatkan interaksi seluler antara eritrosit-merozoit. Sisi anterior merozoit
melekat pada membran plasma eritrosit, lalu melakukan invaginasi, membentuk
vakuol dengan parasit berada di dalamnya (Pribadi 2003). Merozoit dalam
eritrosit mengalami pertumbuhan dan pembelahan. Pada awalnya merozoit dalam
eritrosit berbentuk cincin (ring form) dan diikuti dengan pertambahan volume
merozoit (membentuk tropozoit). Pertambahan volume merozoit terjadi karena
merozoit melakukan metabolisme aktif termasuk mengingesti sitoplasma eritrosit
hospes dan menghancurkan hemoglobin menjadi asam amino. Selanjutnya
tropozoit melakukan skizogoni membentuk skizon (disebut skizon eritrositik),
yang kurang lebih mengandung 32 merozoit (Wakelin 1988).
Merozoit-merozoit dalam skizon selanjutnya dilepaskan dari eritrosit
dengan merusak dinding eritrosit, dan menginfeksi eritrosit lain.Ketika pelepasan
merozoit, pigmen dan semua produk metabolitnya juga dilepaskan ke sirkulasi
sehingga menginduksi perubahan-perubahan patologis induk semang (Wakelin
1988).
Setelah 2 atau 3 generasi (3-15 hari) merozoit dibentuk, sebagian tumbuh
menjadi bentuk seksual. Proses ini disebut gametogoni (gametositogenesis)
(Pribadi 2003). Makrogametosit (betina) dan mikrogametosit (jantan) haploid
(mikrogamet dan makrogamet) adalah merozoit yang besar dan hampir memenuhi
eritrosit, dan setiap eritrosit hanya mengandung 1 merozoit.
Induk Semang Definitif
Pada saat nyamuk Anopheles sp. betina menggigit manusia yang
eritrositnya mengandung Plasmodium sp., parasit aseksual dicernakan bersama
eritrosit, sedangkan gametosit tumbuh terus (Pribadi 2003). Gametosit terhisap
oleh nyamuk, menginduksi gametogenesis dan keluar dari eritrosit.
Inti pada mikrogametosit membelah menjadi 4 sampai 8 yang
masing-masing menjadi bentuk panjang seperti benang (flagel) dengan ukuran 20-25 µ,
menonjol keluar dari sel induk, bergerak-gerak sebentar dan kemudian
melepaskan diri (Pribadi 2003). Proses ini berlangsung beberapa menit pada suhu
yang sesuai. Flagel atau gamet jantan disebut mikrogamet. Makrogamet
mengalami proses pematangan (maturasi) dan menjadi gamet betina atau
makrogamet.
Mikrogamet dan makrogamet selanjutnya mengalami fertilisasi di dalam
saluran pencernaan nyamuk membentuk zigot. Zigot selanjutnya berkembang
menjadi bentuk motil (disebut ookinet) dan masuk ke dinding usus. Ookinet
berkembang menjadi ookista. Ookista mengalami stadium aseksual (sporogoni)
sehingga membentuk sporozoit. Sporozoit selanjutnya migrasi ke glandula saliva.
Jika nyamuk ini kemudian menggigit manusia, siklus akan kembali berulang
seperti semula.
Plasmodium berghei
Plasmodium berghei merupakan salah satu dari spesies Plasmodium yang
menginfeksi rodensia (Thomas 1983). Penelitian berbagai aspek imunologis
malaria banyak menggunakan P. berghei dan mencit sebagai induk
semangnya, karena P. berghei mempunyai siklus hidup maupun morfologi sama
Levine (1990) mengemukakan bahwa klasifikasi P. berghei adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Protozoa
Subfilum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoasida
Subkelas : Coccidiasina
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Haemospororina
Famili : Plasmodiidae
Genus : Plasmodium
Spesies : Plasmodium berghei
Siklus hidup P. berghei sama seperti genus Plasmodium pada umumnya.
Adapun gambaran sikluh hidup P. berghei sebagai berikut :
Gambar 3 Siklus Hidup Plasmodium berghei.(CDC 2010)
Mencit
Mencit merupakan hewan coba yang sering digunakan dalam penelitian.
Mencit memiliki sifat-sifat reproduksi yang mirip dengan mamalia besar serta
siklus estrus yang pendek (Malole & Pramono 1989). Hewan ini digunakan
karena cukup efisien, mudah dipelihara, tidak memerlukkan tempat yang luas
untuk pemeliharaanya, waktu kebuntingan yang singkat, dan banyak memiliki
Malole dan Pramono (1989) mengemukakan taksonomi mencit adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Subfamili : Murinae
Genus : Mus
Spesies : Mus Musculus
Sifat dan Morfologi Mencit
Mencit merupakan hewan yang jinak, lemah, mudah ditangani, takut
cahaya dan aktif pada malam hari, mencit yang dipelihara sendiri makannya lebih
sedikit dan bobotnya lebih ringan dibanding yang dipelihara bersama-sama dalam
satu kandang, kadang-kadang mempunyai sifat kanibal (Yuwono et al. 2004).
Malole dan Pramono (1980) mengemukakan bahwa nilai fisiologis mencit
adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Nilai fisiologis mencit.
Kriteria Nilai
Hemoglobin Sel darah putih Neutropil Lymphosit Eosinophil Monosit Basophil
10,2 – 16,6 mg/dl
6 – 15 X 10 3 /mm3
10 – 40%
55 – 95%
0 – 4% 0,1 - 3,5%
0 – 0,3%
Darah
Darah merupakan cairan pembawa berbagai zat penting tubuh,
dipompakan oleh jantung melalui suatu sistem pembuluh darah tertutup. Unsur
seluler dari darah terdiri dari sel darah putih, sel darah merah dan trombosit yang
tersuspensi di dalam plasma. Volume darah total yang beredar pada keadaan
normal sekitar 8% dari berat badan. Sekitar 55% dari volume tersebut adalah
Leukosit
Leukosit adalah sistem pertahanan tubuh yang dibentuk sebagian dalam
sumsum tulang dan sebagian lagi dalam organ limfoid seperti timus, bursa
fabrisius dan limpa pada unggas (Guyton 1996). Pada keadaan normal terdapat 6
– 15 X 10 3 /mm3 leukosit per mikroliter darah mencit. Dari jumlah tersebut, jenis
terbanyak adalah granulosit. Sel granulosit muda memiliki inti berbentuk sepatu
kuda, yang akan berubah menjadi multilobular dengan meningkatnya umur sel.
Sebagian besar sel tersebut mengandung granula netrofilik (neutrofil), sedangkan
sebagian kecil mengandung granula yang dapat diwarnai dengan zat pewarna
asam (eosonofil), dan sebagian lagi mengadung granula basofilik (basofil). Dua
jenis sel lain yang lazim ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yang
memiliki inti bulat besar dan sitoplasma sedikit, serta monosit, yang mengandung
banyak sitoplasma tidak bergranula dan mempunyai inti berbentuk menyerupai
ginjal. Kerja sama sel-sel tersebut menyebabkan tubuh memilki sistem pertahanan
yang kuat terhadap berbagai tumor dan infeksi virus, bakteri serta parasit
(Ganong 2002).
Granulosit
Semua sel granulosit memilki granula sitoplasmik mengandung substansi
biologik aktif, yang berperan dalam reaksi peradangan dan alergi (Ganong 2002).
Neutrofil
Neutrofil dewasa berdiameter 10-12 µm dengan sitoplasma beraspek
kelabu pucat dan terdapat butir-butir halus berwarna ungu serta inti bergelambir
(Dellman & Brown 1992). Gambaranmikroskopisneutrofil sebagai berikut :
Waktu paruh rata-rata sel neutrofil di dalam sirkulasi adalah 6 jam. Untuk
dapat mempertahankan kadar normal di dalam peredaran darah, diperlukan
pembentukan lebih dari 100 milyar sel neutrofil per hari. Sebagian besar sel ini
akan memasuki jaringan. Sel-sel ini ditarik dan bergulir di permukaan
endothelium oleh kerja selektin. Selanjutnya sel-sel tersebut akan berikatan
dengan kuat pada molekul perekat netrofil dari golongan integrin. Tahap
berikutnya, sel-sel ini menyusup di antara sel endothelium, menembus dinding
kapiler, melalui proses yang disebut diapedesis (Ganong 2002). Sejumlah besar
sel yang meninggalkan sirkulasi dan masuk ke dalam saluran pencernaan akan
hilang dari tubuh.
Invasi bakteri ke dalam tubuh akan mencetuskan respon peradangan.
Sumsum tulang dirangsang untuk menghasilkan dan melepas sejumlah besar
netrofil. Interaksi produk bakteri dengan faktor-faktor plasma dan sel
menghasilkan zat yang menarik neutrofil ke daerah peradangan (kemotaksis)
(Ganong 2002). Zat kemotaksis ini, yang merupakan bagian dari kelompok besar
kemokin, mencakup komponen dalam sistem komplemen (C5a), lekotrein dan
polipeptida dari sel limfosit, sel mast dan basofil. Pengaruh perasangan C5a pada
aktivitas kemotaksis diperkuat oleh G-globulin. Membran neutrofil mengandung
protein tersebut, yang juga berfungsi mengikat dan mengangkut vitamin D di
dalam plasma (Ganong 2002). Faktor plasma lainnya bekerja pada bakteri untuk
menjadikannya difagositosis (opsonisasi). Opsonin utama yang menyelubungi
bakteri adalah immunoglobulin-G (IgG) dan protein komplemen. Bakteri yang
telah diselubungi akan berikatan dengan reseptor pada membran sel neutrofil.
Melalui respon yang diperantai oleh protein G heterotrimerik, tercetus
peningkatan aktivitas motorik dalam sel, eksositosis, dan peristiwa yang
dinamakan letupan respiratorik (Ganong 2002). Peningkatan aktivitas motorik
menyebabkan segera dicernanya bakteri melalui endositosis (fagositosis).
Melalui eksositosis, granula neutrofil menuangkan kandungannya ke
dalam vakuola fagosit yang berisi bakteri, dan sampai taraf tertentu, juga ke dalam
ruang interstisial (degranulasi). Granula yang mengandung beragam protease,
serta protein antimikroba yang disebut defensin (Ganong 2002). Enzim lisosom
ribonuklease, dan fosfolipase secara bersama bersifat letal bagi agen penyakit
(Tizard 1982).
Eosinofil
Eosinofil merupakan leukosit bergranulosit, berukuran 10- 15 µm yang
bersifat polimorfonukleus-eosinofilik. Eosinofil berglambir 2 (seperti kacamata)
yang memilki granul asidofil yang berukuran besar 3-4 µm, sitoplasma berwarna
merah cerah dengan perwarnaan wright’s (Sturkie & Grimminger 1976).
Gambaran mikroskopis Eosinofil sebagai berikut :
Gambar 5 Eosinosil. (Laboratorium Kesehatan 2009)
Eosinofil mengandung suatu komponen enzim yang sama dengan neutrofil
tetapi tidak memiliki lisosim dan phagotisin namun mengandung kadar
peroksidase yang tinggi dan histaminase ( Rumawas 1989). Eosinofil memiliki
waktu paruh yang singkat dalam sirkulasi. Eosinofil akan ditarik ke permukaan sel
endotel oleh selektin, dapat berikatan dengan integrin yang akan merekatnya pada
dinding pembuluh, dan masuk ke dalam jaringan melalui cara diapedesis, seperti
halnya dengan neutrofil. Eosinofil melepaskan protein, sitokin, dan kemokin yang
mengakibatkan reaksi peradangan. Selain itu, eosinofil mampu membunuh
organisme yang menyusup ke dalam tubuh (Frandson 1986). Namun respon
eosinofil terhadap selektin dan integrin bersifat selektif, demikian pula
molekul-molekul pembunuh yang di sekresikannya.
Keberadaan eosinofil banyak terutama di mukosa saluran gastrointestinal,
untuk mempertahankan terhadap serangan berbagai parasit, serta di mukosa
saluran pernafasan dan saluran kemih (Ganong 2002). Jumlah eosinofil yang
beredar di dalam sirkulasi akan meningkat pada penyakit alergi, seperti asma
Basofil
Basofil merupakan leukosit bergranulosit yang bersifat
polimofonuklear-basofil. Basofil berdiameter 10-12 µm dengan inti dua gelambir, bentuk inti yang
tidak teratur. Granul berukuran 0,5-1,5 µm berwarna biru tua sampai dengan ungu
(basofilik), sering menutup inti yang berwarna agak lemah (Dellman & Brown
[image:30.595.229.395.211.374.2]1992). Gambaran mikroskopis basofil sebagai berikut :
Gambar 6 Basofil. (Anonim 2010)
Basofil akan masuk ke jaringan dan melepaskan berbagai protein serta
sitokin. Basofil meyerupai tetapi tidak identik dengan sel mast. Seperti halnya
dengan sel mast, basofi mengandung histamin dan heparin. Basofil melepaskan
histamin dan mediator radang lain apabila diaktifkan oleh limfosit T, dan penting
pada reaksi hipersensitifitas (Ganong 2002). Basofil mempunyai fungsi
meningkatkan permebialitas dan vasodilatasi pembuluh darah dalam reaksi
hipersensitifitas kulit seperti pada gigitan serangga (Dellman & Brown 1992).
Agrunolosit
Limfosit
Limfosit adalah leukosit agranulosit yang mempunyai ukuran dan bentuk
yang bervariasi (Sturkie & Grimminger 1976). Variasi ukuran besarnya terdiri
dari limfosit besar, sedang dan kecil. Limfosit kecil berukuran 9 µm, inti besar
dan kuat mengambil warna, sitoplasma berwarna biru pucat, inti memiliki sedikit
lekuk di satu sisi. Sedangkan limfosit sedang dan besar berukuran 12-15 µm, lebih
banyak sitoplasma, inti lebih besar dan pucat dibandingkan limfosit kecil.
Limfosit besar berdiameter 12-16 µm dan limfosit kecil 9-12 µm. Gambaran
Gambar 7 Limfosit. (BioMIM 2006)
Limfosit merupakan unsur kunci pada proses kekebalan. Fungsi utama
limfosit adalah memproduksi antibodi atau sebagai sel efektor khusus dalam
menaggapi antigen yang melekat pada makrofag. Limfosit tertentu mengikat
dirinya pada agen-agen asing dan merusaknya (Guyton 1996).
Beberapa limfosit dibentuk di sumsum tulang, tetapi bagian terbesar
dibentuk di dalam kelenjar limfe, timus dan limpa dari sel prekusor yang berasal
dari sumsum tulang, setelah mengalami proses di dalam timus atau bursa ekivalen
menjadi prekusor sel T atau sel B (Ganong 2002). Limfosit T berperan dalam
membantu dalam proses tanggap kebal berperantara sel. Sedangkan limfosit B
berperan dalam respon humoral dengan produksi sekresi utama adalah
immunoglobulin (antibodi). Pada umumnya limfosit memasuki sistem peredaran
darah melalui pembuluh limfe. Hanya sekitar 2% dari seluruh limfosit dalam
tubuh terdapat di darah perifer, sebagian besar sisanya terdapat di organ limfoid.
Monosit
Monosit adalah leukosit agranulosit, memilki butir azurofil yang tidak
spesifik dan merupakan sel leukosit terbesar dengan diameter 15-20 µm (Dellman
& Brown 1987). Sitoplasmanya bersifat warna basofil dengan sitoplasma lebih
banyak dibandingkan dengan limfosit besar. Inti monosit berbentuk seperti tapal
Gambar 8 Monosit. (Fakhrizal 2009)
Monosit diproduksi di sumsum tulang. Monosit dari sumsum tulang masuk
ke dalam darah dan beredar selama kurang lebih 72 jam (Ganong 2002). Sel-sel
ini kemudian masuk ke jaringan dan menjadi makrofag jaringan. Pada saat ini
monosit telah mempunyai fungsi sebagai makrofag dan mampu melawan
agen-agen asing (Guyton 1996). Makrofag jaringan, termasuk sel Kupffer di hati,
makrofag alveolar paru, dan mikrogilia di otak, seluruhnya berasal dari sirkulasi
(Ganong 2002).
Sel makrofag akan diaktifkan oleh limfokin dari limfosit T. Makrofag
yang aktif akan bermigrasi sebagai respon terhadap rangsangan kemotaksis,
selanjutnya menelan dan membunuh bakteri melalui proses yang umumnya serupa
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan dari Februari sampai dengan Juli 2010 di
Laboratorium Protozoologi, dan Laboratorium Helmintologi bagian Parasitologi
dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Panyakit Hewan dan Kesehatan
Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah hewan coba berupa
mencit putih, P. berghei, infusa C. papaya L., pakan mencit (pelet ikan), kertas
saring, heparin, NaCl fisiologis, gliserol, metanol, pewarna Giemsa, phosphate
buffer saline (PBS), xylol, minyak emersi, dan tissue.
Alat yang digunakan adalah mikrohematokrit (tabung kapiler), syringe 1 ml,
syringe 10 ml, gelas objek, microtube, cawan penguap, gelas ukur, mortar, sonde
lambung, kandang mencit, timbangan listrik, mikroskop cahaya, dan lemari
pendingin.
Cara Kerja
Persiapan percobaan
Preparasi Hewan Coba
Penelitian ini menggunakan mencit strain Swiss Albino jantan dan betina
sebanyak 36 ekor yang memiliki berat 25 g berumur 1.5-2.5 bulan. Hewan
tersebut diperoleh dari kandang mencit taman syifa Bogor. Mencit dipelihara
dalam kandang yang cukup untuk 3-5 mencit.
Pada penelitian ini mencit yang digunakan ditempatkan di dalam kotak
kandang yang terbuat dari polipropilen atau polikarbonat dan diberi alas kandang
sekam padi secukupnya. Kandang tersebut diberi penutup kawat serta tempat
makan dan botol minum. Dalam satu kandang dipelihara mencit sebanyak 3-5
ekor disesuaikan dengan ukuran kandanganya..
Pakan yang diberikan untuk mencit secara tanpa batasan (ad libitum). Air
(Smith & Mangkoewidjojo 1988). Tingkat konsumsi makanan dan air minum
bervariasi menurut temperatur kandang, kelembaban, kualitas makanan, kesehatan
dan kadar air dalam makanan (Malole & Pramono 1989). Pakan yang digunakan
untuk hewan coba ini yaitu berupa pellet ikan yang sudah diatur komposisinya
sehingga memenuhi nilai nutrisi.
Pengambilan Darah Pada Mencit
Darah diperoleh dari medial canthus sinus orbitalis dengan menggunakan
mikrohematokrit atau tabung kapiler dengan posisi yang tepat. Dengan cara ini
dapat diperoleh sampel darah sampai 0.5 ml tiap dua atau tiga minggu, tetapi
perlu hati-hati karena hewan dapat mati kehabisan darah (Smith &
Mangkoewidjojo 1988). Darah tersebut digunakan untuk stok P. berghei.
Penyimpanan dan Pembuatan Stok Plasmodium berghei
Stok P. berghei diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang sudah diinfeksi
selama lima hari pada mencit albino dan diambil dengan menggunakan pipa
kapiler yang sudah berisi antikoagulan melalui intraorbital mata dan kemudian
disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu -70oC (Jekti et al 1996). Stok
P. berghei dimasukan ke dalam microtube yang diberi heparin kemudian
ditambahkan gliserol dengan tujuan agar darah tidak lisis dan rusak.
Darah yang terdapat pada pipa kapiler dialirkan ke microtube yang sudah
diberikan heparin, kemudian ditambahkan gliserol kedalam microtube dengan
tujuan supaya darah tidak lisis dan rusak ketika disimpan dalam lemari pendingin
dengan suhu -70ºC sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Sediaan ini digunakan selama penelitian berlangsung. P. Berghei diinokulasi,
sediaan darah yang disimpan diambil dengan syringe 1 ml kemudian diencerkan
dengan NaCl fisiologis, dengan perbandingan 1 bagian sediaan darah dengan 7
bagian NaCl fisiologis untuk 4 ekor mencit yang diinfeksikan, kemudian
Pembuatan Infusa Daun Papaya (C. papaya L.)
Infusa papaya diperoleh dengan mengeringkan daun papaya kemudian
direbus dalam air dengan perbandingan (25:100) sampai mendidih (900C) selama
10-15 menit (Wintarsih et al 2009) setelah itu disaring. Kadar sambiloto dalam
infusa diukur dalam rotarioevaporator dan didapat kandungan papaya dalam
cairan yaitu 0.98 g/ml.
Penelitian ini menggunakan beberapa kali pengenceran yaitu 1x10-2,
1x10-4, dan 1x10-6. Pengenceran didapat dengan cara 1 ml infusa ditambah dengan
99 ml akuades kemudian dilakukan pengocokkan manual dengan menggunakan
tangan sebanyak 170 kali dalam satu menit. Adapun tujuan dari pengocokan dan
pengenceran ini adalah untuk memecah partikel- partikel ekstrak menjadi
berukuran nanometer (nm) sehingga akan mempercepat dan mengefektifkan
perjalanan obat menuju targetnya.
Percobaan
Kelompok Perlakuan Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
pengulangan 3 kali dengan 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol normal (tidak
diinfeksi dan tidak diobati), kontrol negatif (diinfeksi tetapi tidak diobati), PA1
(infusa C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-2), PA2 (infusa C. papaya L.
dengan pengenceran 1x10-4), dan PA3 (infusa C. papaya L. dengan pengenceran
1x10-6). Penelitian ini menggunakan mencit sebanyak 30 ekor, kontrol normal
sebanyak 6 ekor mencit, kontrol negatif 6 ekor, dan masing-masing kelompok
perlakuan menggunakan infusa C. papaya L. dengan berbagai pengenceran
sebanyak 6 ekor. Masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 3 ekor mencit
jantan dan 3 ekor mencit betina.
Infeksi Plasmodium berghei
P. bergehi diinfeksikan pada mencit yang memiliki berat rata-rata 25 g
berumur 1.5-2.5 bulan secara intraperitoneal dengan dosis sebanyak 0.25x106 per
ekor. Dosis parasit ditentukan mula-mula dengan menghitung presentasi parasit
jumlah eritrosit. Tahap selanjutnya yaitu perhitungan jumlah eritrosit dengan cara
darah diencerkan dengan menggunakan larutan Hayem dalam pipet kapiler
eritrosit kemudian dilakukan perhitungan eritrosit menggunakan Improved
Neubauer Counting Chamber. Jumlah eroitrosit didapat dengan membandingkan
jumlah eritrosit dengan volume counted (0.02) lalu dikalikan dengan pengenceran
(200) per µl. Jumlah dosis parasit diperoleh dengan mengkalikan presentasi
parasit dengan jumlah eritrosit yang telah dihitung dan dikonversikan menjadi per
ml.
Pemberian Infusa Daun Papaya Pada Mencit
Infusa daun (C. Papaya L.) diberikan pada mencit sebanyak 0.5 ml/hari
dengan cara peroral menggunakan sonde lambung dimulai dari pengenceran
terendah (1x10-2, 1x10-4 dan 1x10-6). Pemberian infusa daun papaya
(C. papaya L.) dilakukan selama 4 hari secara berturut- turut, dimulai pada hari
pertama setelah infeksi sampai hari ke-4 setelah infeksi. Kandungan daun papaya
dalam infusa adalah 0.93 g/ml. Untuk kandungan daun papaya setiap perlakuan
PA1, Pa2 dan PA3 adalah 4.65 mg/0.5 ml; 0.0465 mg /0.5 ml;
0.000465 mg/0.5 ml.
Preparasi Ulas Darah
Pembuatan ulas darah dilakukan dengan cara pengambilan darah dari ekor
mencit kemudian diteteskan pada gelas objek pertama dengan posisi mendatar.
Gelas objek lain ditempatkan pada bagian darah tadi dengan posisi membentuk
sudut 45o sehingga darah menyebar sepanjang garis kontak antar kedua gelas
obyek. Selanjutnya gelas objek didorong kearah depan dengan cepat hingga
terbentuk usapan darah tipis di atas gelas objek. Ulas darah tersebut dikeringkan
diudara kemudian difiksasi dengan mengunakan metanol selama 5 menit lalu
dimasukkan ke dalam pewarnaan Giemsa selama 30 menit (Sastradipradja et al
1989), selanjutnya dicuci dengan air mengalir pada posisi miring dan dikeringkan
Perhitungan Diferensiasi Leukosit
Perhitungan diferensiasi leukosit dilakukan di bawah mikroskop dengan
menggunakan minyak emersi denagn pembesaran 1000x. Setiap 100 leukosit yang
ditemukan dihitung dan dikelompokkan ke dalam masing-masing jenis leukosit,
yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Perhitungan leukosit
menggunakan beberapa lapang pandang sepanjang ulasan yang digeser kearah
tengah kemudian bergeser sejajar denagn tepi ulasan dan bergerak ke tepi kembali
dan seterusnya sampai mencapai jumlah leukosit sebanyak 100. Nilai relatif
leukosit yang ditemukkan dinyatakan dalam satuan persen.
Pengolaahan Data
Data hasil pengamatan diolah dengan menggunakan uji ANOVA (Analysis
of Varian) –SPS System 17.0 lalu dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range
Test dengan taraf 5% untuk mengetahui perbedaan perlakuan yang diberikan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan terhadap diferensial leukosit mencit (Mus musculus)
yang diinfeksi Plasmodium berghei, setelah diberi infusa daun papaya
(Carica papaya L.), sebagai berikut :
Neutrofil Mencit Jantan
Hasil pengamatan persentase rata-rata neutrofil pada mencit jantan yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 9 Rata-rata persentase neutrofil pada mencit jantan yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis
bertingkat.
Berdasarkan tabel 3, hari ke-2 sampai hari ke-8 setelah infeksi persentase
neutrofil menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kelompok KN.
Persentase neutrofil pada kelompok PA1 hari ke-6 dan PA3 hari ke-9
menunjukkan persentase yang rendah sebesar 27.33% dan 29%. Hari ke-11
setelah infeksi persentase rata-rata neutrofil cenderung lebih tinggi pada
kelompok perlakuan PA2 dan PA3 dibandingkan dengan kelompok KN. 0
10 20 30 40 50
0 2 4 6 8 9 10 11
Perse
ntase
Hari
[image:38.595.120.511.306.493.2]Neutrofil Mencit Betina
Hasil pengamatan persentase rata-rata neutrofil pada mencit betina yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 10 Rata-rata persentase neutrofil pada mencit betina yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Berdasarkan tabel 4, persentase neutrofil kelompok PA1 dan PA2 hari
ke-2 setelah infeksi cenderung lebih rendah dibandingkan keompok KN, sedangkan
PA3 lebih tinggi. Hari ke-4 setelah infeksi persentase neutrofil PA1, PA2, dan
PA3 cenderung tinggi dibandingkan kelompok KN. Hari ke-6 sampai dengan hari
ke-10 setelah infeksi kelompok perlakuan PA1, PA2, dan PA3 cenderung lebih
rendah persentase neutrofilnya dibandingkan kelompok KN. 0
10 20 30 40 50
0 2 4 6 8 9 10 11
Perse
ntase
Hari
[image:39.595.123.501.204.387.2]Tabel 3 Rata-rata persentase neutrofil mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok
Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 30.33±10.41ab 39.00±0 ab 39.67±8.96 ab 37.33±3.79 ab 38.67±12.5ab 39.00±14 ab 33.33±19.01ab 28.00±5 ab KN 30.00±8.54 ab 28.67±1.53ab 32.67±5.03 ab 21.00±2.65 a 31.00±8.72ab 39.33±16.2ab 35.33±3.06 ab 37.00±10.82ab
PA1 30.67±5.13 ab 34.67±8.08ab 39.00±2 ab 27.33±1.53 ab 34.00±8.19ab 40.33±3.51b 33.33±8.02 ab Mati
PA2 33.67±7.51 ab 36.00±6.26ab 36.33±1.53ab 35.00±10.58ab 35.67±11.93ab 32.67±5.13ab 36.67±7.51 ab 43.33±7.02 ab PA3 31.67±12.34ab 36.33±6.11ab 35.00±13.53ab 35.33±18.15ab 35.67±12.7 ab 29.00±3 ab 35.67±12.34ab 44.67±8.39 ab
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-4; PA3= infusa C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-6)
Tabel 4 Rata-rata persentase neutrofil mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok
Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 26.33±3.21 ab 29.67±15.86abc 31.00±6.56abc 33.00±5.29abc 41.67±4.5bc 30.67±3.21abc 27.33±6.03abc 41.67±13.58bc
KN 25.67±1.53 ab 38.67±2.08 abc 21.33±9.07 a 39.00±9.54bc 39.67±3.21bc 41.50±1.5bc 40.00±1bc 42.00±0bc
PA1 25.67±3.21 ab 36.67±10.2abc 32.00±19.97abc 37.33±13.58abc 36.33±4.73abc 35.67±9.61abc 32.00±3abc 44.33±16.86c
PA2 33.33±9.07abc 35.00±5.57abc 30.00±3.46abc 33.33±5.03abc 26.00±12 ab 40.00±8bc Mati Mati
PA3 31.33±3.06abc 41.00±6.08bc 35.00±17.69abc 33.33±11.06abc 34.67±8.39abc 36.33±6.66abc 34.00±6.25abc 42.00±1bc
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L.
Monosit Mencit Jantan
Hasil pengamatan persentase rata-rata monosit pada mencit jantan yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 11 Rata-rata persentase monosit pada mencit jantan yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Berdasarkan tabel 5, hari ke-2 sampai hari ke-6 setelah infeksi persentase
monosit kelompok perlakuan PA1, PA2 dan PA3 cenderung lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok KN kecuali PA2 pada hari ke-4 setelah infeksi.
Hari ke-8 sampai hari ke-10 setelah infeksi persentase monosit cenderung lebih
tinggi kelompok perlakuan PA1, PA2, dan PA3 dibandingkan kelompok KN.
Persentase monosit pada kelompok PA2 hari ke-11 setelah infeksi menunjukkan
persentase monosit yang rendah sebesar 1.67% dibandingkan perlakuan lainnya. 0
10 20
0 2 4 6 8 9 10 11
Perse
ntase
Hari
[image:41.595.125.504.198.371.2]Monosit Mencit Betina
Hasil pengamatan persentase rata-rata monosit pada mencit betina yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 12 Rata-rata persentase monosit pada mencit betina yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Berdasarkan tabel 6, persentase monosit hari ke-2 setelah infeksi terjadi
peningkatan untuk kelompok perlakuan PA1 dan PA2 dibandingkan kelompok
KN. Hari ke-4 dan hari ke-6 setelah infeksi persentase monosit PA1, PA2, dan
PA3 cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Kelompok perlakuan
PA2 hari ke-8 setelah infeksi, PA2 dan PA3 hari ke-9 setelah infeksi, dan
perlakuan PA3 hari ke-10 setelah infeksi cenderung menunjukkan persentase
monosit yang tinggi dibandingkan kelompok KN. 0
10 20
0 2 4 6 8 9 10 11
Perse
ntase
Hari
[image:42.595.122.501.192.364.2]Tabel 5 Rata-rata persentase monosit mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 4.00±2.65abcdef 11.33±4.51fghi 8.33±2.08abcdefghi 4.67±4.62abcdefg 12.67±7.57hi 11.67±3.21 ghi 10.00±5cdefghi 13.00±2i KN 2.33±0.58abc 10.67±2.5efghi 7.67±4.51abcdefghi 5.73±1.42abcdefghi 3.67±1.15abcdef 6.33±8.39abcdefghi 5.00±6.25abcdefgh 3.33±1.53abcde PA1 7.00±2.65abcdefghi 3.67±1.53abcdef 2.33±2.08abc 5.00±1.73abcdefg 10.00±5.57cdefghi 7.33±2.08abcdefghi 10.33±8.08defghi Mati PA2 4.33±4.51abcdefg 3.00±1.73abcde 2.67±1.15abcd 5.33±3.21abcdefgh 9.33±3.06bcdefghi 7.33±5.69abcdefghi 6.33±3.79abcdefghi 1.67±0.58ab PA3 0.67±0.58a 5.00±2abcdefg 9.00±3.46bcdefghi 4.00±1.73abcdef 4.00±3.46abcdef 5.33±2.08abcdefgh 6.33±3.51abcdefghi 6.00±2.65abcdefghi
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L.
dengan pengenceran 1x10-4; PA3= infusa C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-6)
Tabel 6 Rata-rata persentase monosit mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 3.00±1.73abc 6.33±1.53abcde 9.00±8.54bcde 12.33±1.53de 8.33±2.3abcde 9.33±3.06cde 9.67±4.16cde 6.00±2abcd KN 1.67±0.58a 3.33±2.31abc 6.00±4.36abcd 8.67±3.06bcde 5.67±5.69abcd 3.00±1abc 8.00±2abcde 9.50±0.5cde PA1 6.33±2.51abcde 7.67±1.53abcde 1.67±2.08a 4.67±2.51abc 3.00±3.6abc 3.33±3.06abc 5.33±0.58abc 6.67±7.23abcde
PA2 7.00±1.73abcde 6.33±3.51abcde 4.00±1.73abc 3.67±1.15abc 13.00±1e 8.00±2abcde Mati Mati
PA3 4.33±2.08abc 2.33±1.15ab 4.33±2.08abc 3.00±3.6abc 4.33±5.77abc 8.00±2.65abcde 9.33±7.02cde 5.50±4.5abc
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L.
Limfosit Mencit Jantan
Hasil pengamatan persentase rata-rata limfosit pada mencit jantan yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 13 Rata-rata persentase limfosit pada mencit jantan yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Berdasarkan tabel 7, persentase limfosit pada hari ke-2 sampai hari ke-4
setelah infeksi kelompok perlakuan PA1, PA2 dan PA3 cenderung tinggi
dibandingkan kelompok KN, kecuali PA3 hari ke-4 setelah infeksi. Hari ke-6
smapai dengan hari ke-8 setelah infeksi kelompok perlakuan PA1, PA2, dan PA3
cenderung rendah dibandingkan kelompok KN. Kelompok perlakuan PA1 hari
ke-8 setelah infeksi menunjukkan persentase yang paling rendah dibandingkan
dengan kelompok perlakuan PA2 dan PA3. 0
10 20 30 40 50 60 70 80
0 2 4 6 8 9 10 11
Pe
rs
en
tas
e
Hari
Limfosit Mencit Betina
Hasil pengamatan persentase rata-rata limfosit pada mencit betina yang
diinfeksi P. berghei dan diberi infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat
dapat dilihat tabel dan gambar berikut.
Gambar 14 Rata-rata persentase limfosit pada mencit betina yang diinfeksi
P. berghei setelah pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Berdasarkan tabel 8, persentase rata-rata limfosit mencit betina hari ke-2
sampai hari ke-4 setelah infeksi kelompok perlakuan PA1, PA2, dan PA3
cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Hari ke-6 sampai hari ke-8
setelah infeksi, persentase limfosit perlakuan PA1, PA2, dan PA3 cenderung
tinggi dibandingkan kelompok KN. Persentase limfosit kelompok perlakuan PA2
hari ke-9 setelah infeksi menunjukkan persentase yang rendah yaitu sebesar 48%. 0
10 20 30 40 50 60 70 80
0 2 4 6 8 9 10 11
Perse
ntase
Hari
Tabel 7 Rata-rata persentase limfosit mencit jantan yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok
Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 60.00±16.37a 47.67±4.16a 47.33±10.50a 55.00±3a 46.67±17.5a 45.33±15.04a 54.00±20.3a 58.00±3a KN 66.33±9.5a 52.33±6.8a 56.33±9.81a 68.67±7.02a 62.00±9.54a 52.33±27.21a 55.00±12.49a 55.33±13.65a
PA1 59.00±2.65a 60.33±9.45a 57.33±5.51a 65.67±0.58a 55.00±6.08a 50.33±2.89a 56.33±13.65a Mati
PA2 59.33±11.02a 58.33±4.73a 58.00±3a 57.67±11.93a 52.33±8.5a 59.00±9.54a 56.00±10.15a 54.00±3.61a PA3 65.00±14.42a 56.33±3.06a 53.00±16.37a 59.00±16.64a 59.33±11.15a 65.33±1.53a 57.00±8.54a 58.67±19.76a
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L.
dengan pengenceran 1x10-4; PA3= infusa C. papaya L. dengan pengenceran 1x10-6)
Tabel 8 Rata-rata persentase limfosit mencit betina yang diinfeksi P. berghei setelah
pemberian infusa daun papaya (C. papaya L.) dosis bertingkat.
Kelompok
Pengamatan pada Hari Ke-……(Setelah Infeksi)
0 2 4 6 8 9 10 11
KNO 67.33±2.89cde 62.33±14.15abcde 58.00±12.17abcde 50.00±2ab 47.00±4.36a 56.00±1.73abcde 61.67±5.51abcde 48.33±13.8ab
KN 71.33±1.15e 57.00±3.46abcde 69.33±15.01de 46.00±15.71a 53.67±4.04abcd 54.00±3abcd 48.50±2.5ab 46.00±1a PA1 61.00±7.55abcde 50.33±6.51ab 61.00a±17.78bcde 54.67±13.32abcde 56.67±1.53abcde 59.33±11.5abcde 61.00±4abcde 50.00±15.13ab PA2 55.33±12.06abcde 55.33±2.08abcde 65.00±2bcde 60.67±4.04abcde 59.50±11.5abcde 48.00±2a Mati Mati PA3 58.33±3.06abcde 54.67±5.51abcde 56.00±14.42abcde 62.67±11.24abcde 59.67±1.15abcde 54.67±9.29abcde 55.67±1.53abcde 51.00±2abc
Keterangan : Huruf superscrip yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf p>0.05 (KNO= kontrol normal; KN= kontrol negatif; PA1= infusa C. papaya L.dengan pengenceran 1x10-2; PA2= infusa C. papaya L.
Eosinofil Mencit Jantan
Hasil pengamatan persentase rata-rata eosinofil pada mencit jantan ya