• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri dg pembatik yg bekerja di Rumah Majikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbedaan kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri dg pembatik yg bekerja di Rumah Majikan"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBATIK YANG BEKERJA DI RUMAH SENDIRI

DENGAN PEMBATIK YANG BEKERJA DI RUMAH

MAJ I KAN

Oleh:

FATIMAH

NIM: 0071020107

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

JAKARTA

▸ Baca selengkapnya: jarak antara rumah koko dan rumah nenek 20 km

(2)

Diajukun kcpada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

M.Psi

OLEH FATIMAH NIM: 0071020107

Di bawah Bimbingan

Pembimbing II GゥMG_セ@

°"1-Drn. A<

セL[L@

p,;

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SY ARIF HIDAY ATULLAH JAKARTA

(3)

Skripsi yang berjudul PERBEDAAN KEPUASAN KERJA PEMBATIK YANG

BEKERJA DI RUMAH SENDIRI DAN PEMBATIK YANG BEKERJA DI

RUMAH MAJIKAN telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi

UIN Syarif Hldayatullah Jakarta tanggal 30 Agustus 2004. Skripsi ini telah diterima

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata I (SI) pada

Fakultas Psikologi.

Drs. Abdurrahman NIP. I 50 293 224

Jakarta, 30 Agustus 2004

Sidang Munaqasyah

Anggota

Sekretaris Merangkap Anggota

Dra. Zahra! N1 yah, M.Psi

NIP. 150 238 77

Penguji II

Dra. Hj1 N tty Hartati, M.Psi

(4)

mendapat sik§a ( dari k,ejafiatan) yang cfik§ryalignnya. (:Merelig 6erdoaJ

'Ya <Iufian /igmi janganfafi CEngligu fiuk,um /igmi ji/ig /igmi {upa atau

/igmi tersafafi. 'Ya <Iufian /igmi, Janganfafi P,ng/igu 6e6ank,an k,epada

k,ami 6e6an yang 6erat se6agaimana P,ngk,au 6e6anlign k,epada

orang-orang se6e{um /igmi. 'Ya tufian /igmi janganfafi CEng!igu pik.,u{Rgn f{.epada

/igmi apa yang tak,sanggup /igmi memik,u{nya. <Beri maaffafi k,ami

ampunifafi /igmi, dan rafimatifafi /igmi. P,ng/igufafi <Penofong ligmi, ma/ig

toCongfafi k,ami terfiadap k.,aum yang ligfir."

(5)

jangan berputus asa.

(6)

(D). Perbedaan Kepuasan Kerja Pembatik yang Bekerja di Rumah Sendiri dengan Pembatik yang Bekerja di Rumah Majikan

(E). (xv) +14halaman

(F).

Kepuasan kerja merupakan topik yang masih sering diteliti oleh para ahli dalam dunia Psikologi Industri dan Organisasi. Kepuasan kerja didapat pekerja melalui aspek-aspek yang ada dalam pekerjaan baik berasal dari dalam pekerja sendiri ataupun dari luar peke1ja (lingkungan kerja). Kepuasan kerja seseorang mempengaruhi unjuk kerja seseorang dan produktivitas yang akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas perusahaan sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaannya dan berdampak pada kelangsungan dari perusahaan itu sendiri. Sedangkan ketidakpuasan kerja dapat menyebabkan timbulnya aksi para pekerja berupa: ketidakhadiran, perpindahan pekerja, pemogokan, sabotase atau pengrusakan, peningkatan biaya perusahaan dalam ha! kesehatan, produksi dan efek-efek yang diakibatkan dari aksi kerja tersebut yang mengakibatkan turunnya produktivitas dan kerugian yang akan mengancam

kelangsungan dari perusahaan itu sendiri.

Pembatik juga mengalami kepuasan kerja dan ha! ini diperoleh dari aspek-aspek yang ada dalam peke1:jaan mereka juga. Pembatik ada yang mengerjakan semua tahap pembatikan dan adapula yang hanya melakukan satu tahap sesuai keterampilan yang mereka kuasai. Mereka pun mengerjakannya ada yang sendiri dan ada juga yang bersama rekan kerjanya. Pembatik yang bekerja di rumah sendiri berkesempatan mengerjakan semua proses atau tahap pembatikan dan pembatik yang bekerja di rumah majikan hanya melakukan satu tahap atau proses pembatikan dan biasanya bersama kawan-kawannya.

(7)

Dengan menggunakan uji-t tersebut diperoleh hasil:

1. Ada perbedaan kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri

dengan pembatik yang bekerja di rumah majikan. (t = 4.887; p

<

0,000)

2. Kepuasan kerja pembatik yang bekerja di rumah sendiri lebih tinggi daripada pembatik yang bekerja di rumah majikan.

3. Aspek kepuasan kerja yang membedakan mereka adalah aspek kebebasan kerja, pengetahuan, pengembangan kreativitas, kemajuan atau peningkatan keahlian, keselamatan dan kenyamanan kerja.

Hasil dari penelitian ini mendukung penjelasan dari Robbin (2001: 150) yang menyatakan bahwa orang lebib menyukai bekerja di dekat rumah mereka dan lebib

mengalami kepuasan kerja dan two factor Theory dari Hezberg.

0

!eh karena itu

pembatik yang bekerja di rumah sendiri lebib mengalami kepuasan kerja daripada pembatik yang bekerja di rumah majikan.

(8)

junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, Amin YaaRabbal alamin.

Akhirnya, pe1juangan menyelesaikan skripsi ini dapat penulis lalui setelah banyak ha! yang harus dihadapi. Akhir pencapaian perjuangan ini merupakan satu langkah penulis menuju gerbang dan perjuangan selanjutnya yang diharapkan penulis tetap

survive dan dapat melalui pe1jua11gan-perjuangan berikutnya, Amin.

Salam dan terimakasih yang mendalam penulis sampaikan:

Kepada lbu Hj. Netty Hartati, M.Psi selaku Dekan fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah dan sekaligus Pembimbing I yang telah membantu memberikan pelajaran berharga, kritik, saran, waktu dan bimbingan yang penulis rasakan sebagai kesejukan kasih seorang ibu yang dibutuhkan anaknya.

Untuk Bapak Drs. Asep Haerul Gani, Psi. selaku Pembimbing II, yang sempat membuat penasaran penulis dan telah memberikan masukan dan saran atas judul yang dipilih. Penulis sangat bersyukur dapat bertemu, belajar dan dibimbing oleh Bapak yang tak henti-hentinya memberi berbagai macam pelajaran dan ilmu yang sangat berharga bagi penulis selama perkuliahan ataupun bimbingan skripsi.

"Khusus, untuk kedua pembimbing penulis, penulis ucapkan terimakasih yang besar atas ilmu, waktu, yang diberikan dan berkat dorongan, dukungan serta nasehat !bu Bapak, penulis tetap survive dan dapat melanjutkan serta melalui perjuangan menyelesaikan skripsi"

Kepada Ibu Zahratun Nihayah, M.Si selaku Pudek I, Bapak Drs. Ahmad Baidun M.Si

selaku Pembimbing Akademik penulis: "Terimakasih atas masukan tiap konsultasi

semesteran, dan tak lupa untuk kiriman ikan bakarnya di acara 15 agustus 04 plus doa waktu penulis sakit ". Untuk seluruh Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah melimpahkan ilmunya pada penulis, khusus untuk Bapak Drs. Ahmad Shodiq, M.Ag yang turut membuka cakrawala penulis terhadap sisi lain dalam hidup. Staff Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah; Mbak Us

(yang ternyata sahib kakak penulis, terimakasih atas bantuan dan sharing Mba

selama penulis kuliah), lbu Fauzah, lbu Syariah, Pak Karnelis, dan semua yang telah membantu keperluan akademis penulis.

Teruntuk Mama Mimi -ayah ibu- penulis; H. Abdullah Hasan dan Hj. Syarifah Rakilah yang dengan usaha kerasnya menyekolahkan dan selalu mengantarkan penulis dan saudara-saudara penulis ke gerbang ilmu dan ilmu serta tak

(9)

Untuk kakak penulis: Khadijah, Aliyah (yang ikutan pusing dan jadi tumpahan tangis penulis dalam penyelesaian skripsi), Miskiyah, Aisyah, Hasanah dan para suan1inya yang telah membantu dan mendorong penulis untuk terns meniti ilmu sejak kecil. Ang Agus, kakak cowok satu-satunya yang menjadi pengganti Mama Mimi selama penulis kuliah di Jakarta dan yang selalu memberikan dorongan, bimbingan, semangat, nasehat, dan dongengan lahir batin kepada penulis baik secara Jangsung, telepon ataupun sms-smsnya. "Terimakasih Brother, tanpa dorongan dan bimbingan Ang, fat takkan begini dan takkan pernah mengalami ini semua". Adikku Ahmad Rifa'i dan Sholihah untuk senda gurau, semangat, dan sharingnya (walau sekali dalam setahun berkumpul, kita tetap semangat untuk meneruskan dan melanjutkan titian ilmu yang kita cari, ok?. Semua keponakanku yang selau menjadi hiburan dan obat bagi penulis saat Jiburan (Nafi', Salma, Nanda, Lu'lu', Jaichan, Zaidan, dan Najwa "Tata' sayang kalian

''.!

dan Febi, kerabatku, yang telah yang telah ikut repot dan membantu masukin data penelitian serta senda guraunya, Keluarga Besar Mide Aemah dan Mayai Rakilah, Mayai Hasan dan Mide Hanifah (kakek nenek penulis) yang selalu menyemangati penulis. Thanks.

Kepada kawan, Ibu dan Bapak pembatik yang telah berpartisipasi dalam penelitian yang penulis Jakukan, pada pengusaha batik; Mang Lud, dan Ibu Hj. Ninik, Karnija, Rani, Jupri dan keluarga besar Bi Jera: "terimakasih banyak",. Kepala Desa dan Aparat desa Trnsmi Kulon yang telah membantu kelancaran penelitian ini. Terimakasih.

Untuk Perpustakaan Utama UIN Syarif I-Iidayatullah Jakarta yang selalu membantu pemenuhan Jiteratur yang penulis butuhkan dari awal sampai akhir perkuliahan -walau talc jarang mendapat 'cap' tidak lengkap oleh kawan-kawan penulis (menurut penulis tidak. Terimakasih perpus .. ) dan Perpustakaan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, dengan buku-buku terbarunya sangat membantu penulis dalam penambahan literarnr yang dibutuhkan dan semangat baru dalam menambah ilmu. Perpus Psikologi UI, Perpus LIPI, Perpus Depnaker dan Bapak-bapak yang ada di Depnaker: "Terimakasih atas bantuan dan masukan yang turut membuka jendela wawasan penulis.

(10)

sekolah lebih tinggi masih terngiang di telinga penulis dan terns berkobar:

"terimakasih !bu"

Buat Kang Ahmad (Mas Udin) yang selalu sabar menanti dan menghadapi penulis, dukungan dan semangat jauhnya selama perkuliahan, bantuan selama penulis kuliah dan penelitian, serta semua yang telah diberikan, juga pada keluarga besar Akang,

Terimakasih. Juga buat Efa (Fajar) atas persahabatan dan sharingnya serta bantuan

operasi komputemya, Fitri di Yogya (blue jacket) yang selalu perang sms saling

semangat, tetap semangat!

Buat kawan-kawan 'Gank Bacang' yang bareng-bareng konsultasi, kru PKL RSIJ Bunga Rampai, Rena untuk kebersamaan, semangat, dan bantuannya, Nunung

(Nunqi) dan David (yang perhatiannya bikin haru penulis) terimakasih untuk

dukungan dan doanya, Aci, Ozy, Away, Yans atas pertemanan yang telah terjalin. Teman-teman kelas Adan B di Psikologi UIN Syarif Hidayatullah angkatan 2000. Untuk Kak Bowo atas bimbingannya, Adi dan Emi yang telah membantu program

SPSS-nya: Terimakasih atas bantuan, dan kebersamaannya. Ka Fitrah yang turut

memberikan masukan pada penulis. Buat Zeezee kawan pertama yang penulis kenal dan selalu membuat kagum penulis. Kawan-kawan ASPI UIN (Ela, Ika, Yuli, Moen, dll) yang dengan keisengannya bersama-sama mengerjakan skripsi, Diana, K'Ut, kawan-kawan di kosan GBHN (Guru Besar Harun Nasution), di Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD) Jakarta, di IMM Ciputat yang selalu memberi semangat. Untuk Oom dan Kang Kami! atas pinjaman buku dan skripsinya, Furqon

untuk buku SPSSnya, penulis ucapkan: Terimakasih dan kalau boleh mengutip

perkataan Pak Asep: Nikmati prosesnya, Kawan!

Pada Ibu Harun Nasution, Dewan Pengurus Asrama UIN SyarifHidayatullah Jakarta

yang memberikan tumpangan tempat penulis ngekos selama penulis kuliah di Jakarta.

Bapak satpam Asrama putrid UIN yang selalu membukakan pintu bagi penulis saat

pulang malam dan keluarga besar nungki yang membolehkan penulis tinggal: "Umi,

Abi, terimakasih". Sesepuh KMSGD, IMM yang telah memberikan wejangan dan

membakar semangat penulis untuk terns mengembangkan diri: Terimakasih. Untuk

Kru Sahid Computer atas tumpangan simpanan file-file batiknya, mang Olil, Mitha,

Ka Roni, Ka Zen, Afits, dan Agus: "Makasih ya ... atas bantuannya dan jangan

bosan melihatfile-file batikpunyafal .. "

(11)

Semoga semua bantuan, dukungan, bimbingan dan doa yang diberikan oleh semua pihak mendapat balasan dari Allah Ta'ala. Dengan usaha sekeras apapun skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis terbuka menerima kritik dan saran yang menyempurnakannya serta tetap berharap semoga apa yang penulis lakukan dapat bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berarti bagi pihak-pihak yang memerlukannya.

(12)

ABSTRAKSI ... ix

DAFT AR ISi ... xi

DAFT AR TABEL ... xiii

DAFT AR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 4

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

E. Sistematika dan Teknik Penulisan ... 7

BAB II KAJIAN TEO RI ... 9

A. Bekerja I . Pengertian bekerja ... 9

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja ... 11

B. Kepuasan Kerja ... 12

I. Pengertian Kepuasan Kerja ... 12

2. Teori Kepuasan Kerja ... 15

3. Sumber dan Bentuk Kepuasan Kerja ... 19

4. Faktor Penentu Kepuasan Kerja ... 21

5. Akibat Kepuasan Kerja dan Ketidakpuasan Kerja ... 27

6. Penelitian Kepuasan Kerja ... 33

. C. Pembatik di Trusmi ... 36

1. Pengertian Pembatik ... 36

2. Proses Pembatikan ... 37

3. Pola Kerja Pembatik ... 39

D. Perbedaan Kepuasan Kerja antara Pembatik yang Bekerja di Rumah Sendiri dengan Pembatik yang Bekerja di Rumah Majikan ... 41

E. Hipotesa Penelitian ... 44

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 45

A. Subjek Penelitian ... 45

1. Populasi, Kategori, dan Jumlah Subjek Penelitian ... 45

2. Teknik Sampling ... 45

3. V ariabel Penelitian ... 46

B. Alat Pengumpul Data Penelitian ... 46

1. Kuesioner Pembatik ... 46

(13)

D. Analisa Statisik ... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 53

A. Gambaran Subjek Penelitian ...

53

B. Hasil Utama Penelitian ... 60

BAB V PENUTUP ... 68

A. Kesimpulan ... 68

B. Diskusi ... : ... 70

C. Saran ... 73

[image:13.521.32.440.96.513.2]
(14)

dan di nunah majikau ... 43

3.1 Skor Skala Kepuasan Kerja ... 47

3.2 Cetak Biru Skala Kepuasan Kerja (try out) ... .47

3.3 Analisa Diskriminasi Item Skala Kepuasan Keija ... 49

3.4 Cetak Biru Skala Kepuasan Kerja (responden asli) ... 50

4.1 Gambaran Umum Usia Subyek ... 54

4.2 Gambaran Unmm Jenis Kelamin Subyek ... 54

4.3 Gambaran Umum Status Pernikahan Subyek ... 55

4.4 Gambaran Umum Pendidikan ... 55

4.5 Gambaran Umum Jumlah Tanggungan Subyek ... 56

4.6 Gambaran Um um Perolehan Keterampilan Membatik ... 57

4.7 Gambaran Umum Lamanya Subyek Membatik ... 57

4.8 Gambaran Umum Proses Pembatikan yang dilakukan Subyek ... 58

4.9 Gambaran Umum Motif Batik yang dikerjakan ... 59

4.10 Gambaran Umum Alasan Subyek Membatik ... 60

4.11 Gambaran Umum Sistem Upah yang diterima Subyek ... 60

4.12 Hasil Uji-t Keseluruhan ... 61

4.13 Hasil Uji-t Aspek Kebebasan Kerja ... 62

4.14 Hasil Uji-t Aspek Pengetahuan ... 62

(15)

4.18 Hasil Uji-t Aspek Peningkatan Keahlian ... 64

4.19 Hasil Uji-t Aspek Upah ... 65

4.20 Hasil Uji-t Aspek Keselamatan Kerja ... 65

4.21 Hasil Uji-t Aspek Kenyamanan Kerja ... 66

4.22 Hasil Uji-t Aspek Pengawasan ... 66

(16)
[image:16.522.60.429.164.496.2]

Gambar 2.2: Rumus Skor Potensi Motivasi ... 23

(17)
(18)

A. Latar Belakang

Alasan orang yang bekerja adalah karena ada sesuatu yang hendak dicapainya dan

berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawa kepada suatu

keadaan yang memuaskan daripada keadaan sebelumnya. Dalam menyelesaikan

pekerjaannya, setiap individu memiliki persepsi dan mencari kepuasan dari pekerjaan

yang dilakukannya dengan cara yang berbeda-beda. Kepuasan kerja seseorang

berkaitan dengan motivasi kerja yang ada dalam dirinya dan pada umumnya motivasi

tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Jika kebutuhan tersebut terpenuhi

maka ia merasa puas dan sebaliknya, jika tidak terpenuhi maka menimbulkan rasa

tidak puas.

Strauss dan Sayle dalam Ano raga dan Suyati ( 1995: 78) menyatakan bahwa kepuasan

kerja penting untuk aktualisasi diri. Pekerjaan merupakan salah satu kegiatan penting

dalam kehidupan seseorang dan bagi yang tidak memiliki pekerjaan memuaskan

jarang memiliki kehidupan yang sepenuhnya memuaskan dan pekerjaan yang tidak

memuaskan dalam banyak keadaan (tapi tidak semua) dapat mengakibatkan produksi

yang lebih rendah serta perselisihan di tempat kerja. Dengan demikian, perusahaan

hendaklah memperhatikan kepuasan kerja para pekerjanya karena ha! ini berpengaruh

terhadap motivasi dan produktivitas mereka. Jika pekerja mendapatkan kepuasan

kerja dari pekerjaannya maka produktivitas dan komitmen mereka meningkat. Hal ini

(19)

kemangkiran dan peralihan kerja, aksi dari serikat kerja dan pengurangan biaya

produksi ataupun kesehatan. Sedangkan ketidakpuasan diduga berhubunganjuga

dengan kelambanan, kemangkiran dan ketidakhadiran di tempat kerja, dan

peningkatan biaya kesehatan, biaya produksi, dan penurunan jumlah dan mutu

produksi.

Kepuasan kerja seseorang antara lain diperoleh dari kondisi kerja. Jika ha! ini

didapatkan pekerja secara positif dan sesuai dengan harapan individu serta

mendukung pekerjaan, maka tercapai kepuasan kerja. Mengacu pada penjelasan

Munandar (200 I: 363) bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kepuasan kerja

adalah kondisi kerja yang menunjang, yang dirasa nyaman dan mendukung pr6ses

pekerjaan yang dilakukan. Jika tenaga kerja merasa kurang nyaman dalam melakukan

kerja ia cenderung enggan bekerja dan sering mencari alasan untuk sering keluar dari

pekerjaannya. Kepuasan kerja diperoleh pekerja melalui hubungan dengan teman

sekerja, tindakan supervisor atau atasan, penghargaan yang diterirna, keamanan, dan

iklim dari lingkungan kerja itu sendiri yang mendukung proses pekerjaan.

Para pembatik, seperti pekerja lainnya juga mengalami kepuasan kerja dan

ketidakpuasan atas pekerjaan yang dilakukannya. Pembatik dalam menyelesaikan

(20)

Sentra Batik Trusmi Cirebon diketahui ada keragaman proses penyelesaian batik

tempat mengerjakannya. Pembatik dapat membatik di rumah sendiri, atau membatik

di tempat majikan/ di satu perusahaan. Pembatik yang bekerja di rumah sendiri adalah

pembatik yang mengambil bahan baku pembatikan dari pengusaha dan

menyelesaikan pekerjaannya di rumah sendiri dengan waktu dan cara tersendiri dan

memperoleh upah yang telah ditentukan sesuai perjanjian, seperti Rp.30.000 sampai

Rp. 50.000 per lembar kain batik. Pada umumnya pembatik yang beke1ja di rumah

sendiri memiliki keterampilan yang mencakup semua proses pembatikan dan jika

tugas mereka telah selesai-menghasilkan kain batik- mereka menyerahkan hasilnya

yang kemudian mendapat upah hasil kerjanya.

Sedangkan pembatik yang bekerja di rumah majikan, bekerja selama tujuh jam dalam

sehari, mereka bebas memulai pekerjaannya dan melakukan tugas bersama

teman-temannya sesuai keterampilan dan jenis pekerjaan yang mereka kuasai dan

mendapatkan upah sebesar Rp.7000 - Rp.15.000 perhari. Besar upah yang mereka

terima sesuai dengan pengalaman atau lama kerja di majikan mereka, tugas

pembatikan, dan keterampilan yang mereka miliki atau kerjakan. Tentunya keadaan

ini mempengaruhi kondisi, proses pekerjaan membatik yang pada akhirnya

mempengaruhi sikap kerja pekerja terutama puas atau tidaknya pekerja terhadap

(21)

Dengan melihat fenomena tersebut, penulis ingin meneliti tentang: Bagaimana

Kepuasan Kerja Pembatik dengan Kondisi Kerja di Rumah Sendiri dan di Rumah

Majikan?

B. Idcntifikasi Masalah

Identifikasi masalah dari masalah penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai

berikut:

a. Bagaimana cara kerja atau proses pembuatan batik yang ada?

b. Bagaiman usaha yang dilakukan pengusaha dalam menciptakan kondisi kerja

yang mendukung proses pembuatan batik?

c. Hal apa saja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja para pembatik?

d. Bagaimana pembatik memperoleh kepuasan kerja di tempatnya?

e. Bagaimana perbedaan kepuasan kerja yang didapat dari pembatik yang bekerja di

rumah sendiri dengan yang bekerja di rumah majikan?

t:

Aspek-aspek pekerjaan yang membedakan kepuasan kerja antara pembatik yang

bekerja di rumah sendiri dengan yang bekerja di rumah majikan?

C. Pcmbatasan dan Pcrumusan Masalah

Agar penelitian ini lebih terfokus, maka dalam penelitian ini dilakukan pembatasan

masalah sebagai berikut:

1. Kepuasan kerja dalam penelitian ini adalah kepuasan yang diperoleh pekerja

(22)

penghargaan, pengembangan kreativitas, kemajuan atau peningkatan keahlian,

keselamatan kerja, kenyamanan kerja, pengawasan, dan hubungan dengan ternan

berupa: dorongan atau kerjasama dengan teman kerja selama bekerja.

2. Kondisi Kerja: di rumah sendiri dan di rumah majikan.

Perumusan masalah dipusatkan pada:

1. Perbedaan kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri dengan

yang bekerja di rumah majikan

2. Perbedaan kepuasan kerja dalam ha! kebebasan kerja yang dialami pembatik yang

bekerja di rumah sendiri dengan pembatik yang bekerja dirumah majikan

3. Perbedaan kepuasan kerja yang dilihat dari aspek upah antara pembatik yang

bekerja di rumah sendiri dengan pembatik yang bekerja di rumah majikan

4. Perbedaan kepuasan kerja dalam hal pengetahuan antara pembatik yang bekerja di

rumah sendiri dengan pembatik yang di rumah majikan

5. Perbedaan kepuasan kerja dalam aspek pekerjaan yang menarik dari pembatik

yang beketja di rumah sendiri dengan pembatik yang bekerja di rumah majikan

6. Perbedaan kepuasan kerja yang dilihat dari penghargaan yang diterima pembatik

yang bekerja di rumah sendiri dan pembatik yang bekerja di rumah rnajikan.

7. Perbedaan kepuasan kerja dari aspek pengembangan kreativitas yang dialami

pembatik yang bekerja di rumah sendiri dengan pembatik yang bekerja di rumah

(23)

8. Perbedaan kepuasan kerja dari aspek peningkatan keahlian dari pembatik yang

bekerja di rumah sendiri clengan pembatik yang bekerja di rumah majikan.

9. Perbeclaan kepuasan kerja clari aspek keselamatan kerja yang clialami pembatik

yang bekerja di rumah sencliri clengan pembatik yang bekerja di rumah majikan.

10. Perbedaan kepuasan kerja yang clilihat dari aspek kenyamanan kerja dari

pembatik yang bekerja di rumah sendiri clan pembatik yang bekerja di rumah

majikan.

11. Perbeclaan kepuasan kerja yang dilihat dari pengawasan yang cliterima pembatik

yang bekerja di rumah sendiri dan di rumah majikan dari atasananya.

12. Perbeclaan kepuasan kerja yang dilihat dari hubungan pembatik dengan temannya

selama mereka bekerja.

D. Tujuan dan Manfaat Pcnclitian

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang perbeclaan

kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri dengan pembatik yang

bekerja di rumah majikan dan aspek apa saja yang membedakan kepuasan kerja

dalam kelompok pembatik tersebut.

Adapun manfaat yang diharapkan clari penelitian ini adalah:

a. Memberikan sumbangsih berarti bagi perkembangan Ilmu Psikologi khususnya

(24)

b. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengusaha atau usaha kecil menengah

(UKM) dalam memberikan perhatian pada pekerjanya terutama dalam

menciptakan kondisi yang yang berdampak pada produktivitas dan mutu kerja

dari para pekerjanya.

E. Sistematika dan Tcknik Pcnulisan

Penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab dan kemudian dibagi lagi menjadi

beberapa bagian bab sebagai penjabarannya. Rincian dari penulisan tersebut sebagai

berikut:

I. BAB I Pendahuluan yang menjelaskan: latar belakang penelitian, identifikasi

masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian

sistematika dan teknik penulisan yang digunakan dalam skripsi ini.

2. BAB II Kajian teori yang membahas:

a. Kepuasan ke1ja yang terdiri dari: pengertian kepuasan kerja, teori kepuasan

kerja, sumber dan bentuk kepuasan kerja, dampak kepuasan kerja dan

ketidakpuasan kerja, dan penelitian kepuasan kerja

b. Bekerja yang terdiri dari: pengertian kerja dan faktor-faktor yang

mempengaruhi kerja.

c. Pembatik di Trusmi yang meliputi pengertian pembatik, proses pembatikan,

pola kerja pembatik.

d. Perbedaan kepuasan kerja antara pembatik yang bekerja di rumah sendiri

(25)

e. Hipotesa Penelitian

3. BAB III membahas metodologi penelitian meliputi:

a. Subyek Penelitian terdiri dari: populasi subyek, teknik sampling, jumlah

subjek dan Variabel penelitian yang diambil

f. Alat Pengumpul Data Penelitian berupa kuesioner pembatik dan skala

Kepuasan Kerja

g. Pengujian Validitas Alat Ukur

h. Prosedur Penelitian yang terdiri dari tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.

1. Analisa Statisik yang digunakan yang termasuk dalam tahap pengolahan dari

penelitian skripsi ini.

4. BAB IV menjelaskan hasil penelitian yang berisi: gambaran subjek dan hasil

utama penelitian

5. Terakhir, BAB V berisi PENUTUP yang menjelaskan: Kesimpulan, Diskusi, dan

Saran

Teknik penulisan skripsi ini menggunakan teknik APA Style (Degelman, Douglas., &

(26)
(27)

A. Bekerja

1. Pengertian Kcrja

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Kerja berarti kegiatan melaksanakan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan

untuk mencari nafkah (KBBJ, 2001 ). Auerbach (1996: 12) menyebutkan bahwa para

ahli masih sulit untuk mendefinisikan pengertian kerja, hal ini dapat dilihat dari

perbedaan arti yang diungkapkan:

a. Ahli fisika menyebut kerja sebagai kekuatan dan jarak

b. Peneliti binatang mendefinisikan kerja sebagai tingkah laku binatang

c. Dunia industri menyebutkan kerja sebagai perubahan industri, dalam hal ini

mendominasi pikiran manusia. Disebutkan bahwa pekerja Amerika Utara

mempunyai !control yang mempengaruhi kondisi kerja mereka.

Se lain itu, Auerbach ( 1996: 12-13) juga menjelaskan bahwa kerja dalam dunia

Psikologi Industri dan Organisasi menunjukkan tingkah laku manusia:

a. Yang bertujuan atau mempunyai tujuan langsung

b. Dimotivasi dan berketerampilan

c. Disiplin, tuntutan, dan berjangka panjang

d. Tugas yang dibentuk oleh waktu

e. Sosial atau kerjasama.

(28)

f. Perbaikan kombinasi kemampuan fisik dan mental

g. Upah yang diberikan pada orang lain

h. Kerja mempunyai aspek sosial.

Dengan mengutip Webster, Bittel dan Newstroom (1996: 36-37) menyebutkan lima

pengertian kerja:

a. Kegiatan seseorang yang menggunakan kekuatan atau kepandaian untuk

me lakukan sesuatu

b. Upaya fisik dan mental berkelanjutan untuk mengatasi kendala dan mencapai

tujuan atau hasil

c. Tugas dan kewajiban yang menjadi mata pencaharian seseorang

d. Kegiatan penuh semangat berupa kesulitan, perjuangan, dan tidak ada waktu

untuk bersantai atau senang-senang.

e. Tugas, kewajiban, dan fungsi tertentu yang merupakan bagian atau fase kegiatan

yang lebih besar.

Masih dikutip Bittel dan Newstroom ( 1996: 37-38), menyatakan Max Weber di tahun

1890 menjelaskan kerja merupakan aktivitas unik yang ditandai oleb:

a. Persesuaian karyawan dengan peraturan dan ketetapan, kebijakan dan prosedur

perusahaan.

b. Pelaksanaan wewenag oleh manajer terhadap orang lain

(29)

d. Adanya dokumen tertulis sebagai perencanaan dan pengendalian perusahaan.

Dari pengertian-pengertian kerja tersebut, dapat disimpulkan bahwa kerja merupakan

aktivitas yang didasarkan adanya motivasi, keterampilan, kemampuan fisik, mental,

dan sosial yang bertujuan untuk mencapai suatu tujuan pekerja itu sendiri ataupun

perusahaan.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja

Menurut Kolb, et al (1984: 501) kerja terbentuk dan meliputi beberapa ha! seperti:

norma kelompok kerja yang terpusat pada produktivitas, tingkah laku anggota

kelompok, kualitas hubungan antara pekerja, manajemen, cara kerja yang

direncanakan dan kualitas alat dan bahan dalam pekerjaan.

Survey Research Center di Universitas Michigan (Mitchell, 1978: 138)

menggambarkan aspek yang mempengaruhi pekerjaan, diantaranya;

a. Pekerjaan yang menarik

b. Alat yang cukup untuk melakukan kerja

c. Adanya informasi tentang kerja yang dilakukan

d. Upah yang baik

e. Kesempatan mengembangkan kemampuan diri

f. Keamanan kerja

(30)

Akhirnya penulis menyimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kerja seseorang

terbagi menjadi dua, yaitu:

a Internal yaitu dari dalam individu sendiri berupa: minat dan motivasi, tingkah

laku, sikap, dan kesehatan pekerja.

b Eksternal, dari luar individu seperti: pekerjaan itu sendiri, kebijakan dan

peraturan manajemen, gaji, hubungan pekerja dengan teman ataupun atasan,

lingkungan kerjanya, kesempatan, dan peralatan yang digunakan selama bekerja.

Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi sikap kerja seseorang, puas atau tidak

puas terhadap kerja dan pekerjaannya.

B. Kepuasan Kcrja

I. Pengcrtian Kepuasan Kerja

Satu pekerjaan memberikan pengalaman, rasa, dan sikap yang berbeda bagi

masing-masing pekerja, ada yang merasa senang, bangga, puas, bahkan terpaksa dalam

menjalankannya. Dalam kaitannya dengan ha! tersebut dunia Psikologi Industri sering

menyebut istilah kepuasan kerja dalam pekerjaan dan ha! ini banyak diteliti oleh para

ahli. Sebelum lebih jauh membahas kepuasan kerja ada baiknya bila dibahas terlebih

dahulu pengertian kepuasan kerja dari beberapa tokoh yang ada.

Gibson, et al (1985: 010) menyebutkan kepuasan ke1ja adalah sikap pekerja terhadap

(31)

lakukan. Auerbach ( 1996: 193) mengatakan kepuasan kerja tidak selalu hadir dalam

tingkah laku dan istilah yang digunakan untuk mengukumya meliputi: produktivitas,

turnover, absentisme, tardiness atau kelambanan para pekerja. Sedangkan Hasibuan

(2000: 199) menjelaskan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang

menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Menurutnya, kepuasan kerja seorang

pekerja diperoleh dari:

a. dalam pekerjaan berasal dari hasil kerja, penempatan, perlakuan, alat dan suasana

I ingkungan kerja yang baik

b. luar pekerjaan berupa besarnya imbalan yang diterima sebagai basil unjuk kerja

c. kombinasi keduanya, dari dalam dan luar pekerjaan yang berupa keseimbangan

emosional antara balas jasa dan pelaksanaan pekerjaannya.

Miner ( 1992: 116) mengemukakan bahwa kepuasan kerja bersesuaian dengan sikap

kerja dan pengukurannya melalui kepuasan dari kuatnya kebutuhan yang ada dalam

tempat kerja. Kepuasan kerja secara luas dikatakan sebagai segala sesuatu yang

betul-betul mempertimbangkan suatu kondisi yang sejahtera berupa respon emosional.

Locke yang dikutip Munandar (200 I: 350) dari Lane dan Siegel menyebutkan: Job's

satisfaction is appraisal <!f one 'sjob as altainning or allowing the atlainmenl of one's

important job values providing these values are congruent with or help fulfill one's

basic needs. Pengertian tersebut menunjukkan orang merasa senang dengan

pekerjaannya dan rasa puas tidak puas mencerminkan penaksiran dari tenaga kerja

(32)

masa yang akan datang. Locke juga menekankan dua ha! penting dalam kepuasan

kerja yaitu: value atau nilai pekerjaan bagi seorang pekerja dan need atau kebutuhan

hidup sehari-hari. Howell dan Dip boy pada tahun 1986 dalam Munandar (2001: 350)

menyebutkan kepuasan kerja sebagai keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak

sukanya seseorang terhadap berbagai aspek pekerjaan ( sikap tenaga kerja terhadap

peke1jaan).

Wagner III dan Hallenbeck (I 998: 107) mengungkapkan kepuasan kerja berarti

perasaan senang yang dihasilkan dari persepsi yang menunjukkan satu pemenuhan

kerja atau memperhitungkan pemenuhan dari satu nilai penting pekerjaan. Selain itu

Robin (2001: 24) mengatakan kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum terhadap

pekerjaan seseorang, selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja

dan banyaknya yang mereka yakini seharusnya mereka terima.

Vroom seperti yang dilrnti As'ad (I 989: I 05) mengatakan kepuasan kerja merupakan

refleksi dari sikap kerja yang bernilai positif. Hoppeck yang dikutip As'ad (1989:

I 05) menjelaskan kepuasan kerja dinilai dari seberapa jauh pekerjaan secara

keseluruhan memuaskan atau tidak dan Tiffin seperti yang dikutip As'ad (1989: 105)

mengatakan kepuasan kerja berkaitan erat dengan sikap pekerja terhadap

pekerjaannya sendiri, situasi kerja, dan kerjasama antara pemimpin dengan pekerja.

(33)

merupakan sikap umum yang dihasilkan dari beberapa sikap khusus terhadap faktor

pekerjaan, penyesuaian diri, dan hubungan sosial individu di luar lingkungan kerja.

Dari pengertian-pengertian tersebut penulis menyimpulkan kepuasan kerja adalah

sikap dan hal yang berkaitan dengan perasaan senang (keadaan emosional) seseorang

terhadap pekerjaan berupa aspek yang ada dalam pekerjaan dan pekerja itu sendiri.

2. Tcori Kcpuasan Kcrja

Telah banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kepuasan kerja dan dari

penelitian tersebut akhirnya ditemukan teori-teori yang kemudian mengembangkan

teori-teori yang telah ada.

As'ad (1989: I 06) yang mengutip Wekley dan Yuki (1977) menyebutkan ada tiga

teori tentang kepuasan kerja:

a. Discrepancy Theory (teori ketidaksesuaian) yang dicetuskan oleh Porter (1961)

dan Locke mengatakan kepuasan kerja diukur dari menemukan selisih antara

yang seharusnya diterima pekerja dengan kenyataan yang diterima. Jika seorang

peke1ja mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan ia akan merasa puas

dan jika ia menerima lebih dari yang diharapkan ia akan merasa !ebih puas lagi

tetapi terjadi discrepancy (discrepency yang positif) dan bila ia mendapatkan

(34)

b. Equity The01y (Adams, 1963) menyebutkan seorang pekerja membandingkan

usaha dan reward yang diterimanya dengan orang yang kerjanya sama dengan

dirinya melalui: (I) Keadilan antara diri pekerja dengan orang lain, (2) Input atau

yang diterima pekerja atas kontribusi yang diberikan karyawan pada, (3)

perusahaannya berupa keterampilan, pengalaman, dan pelatihan, ( 4) Outcome

atau nilai yang didapat dari pekerjaan seperti: gaji, benefit, pengakuan, dan

kesempatan berprestasi atau perluasan diri, dan ( 5) Perbandingan dengan yang

lain (Comparison) dengan menggunakan orang lain sebagai rujukan dari ratio

input dan outcome yang ada.

Dapat disimpulkan teori ini mengungkapkan persepsi atau kepercayaan subjek

seperti orang dengan pendapatan lebih tinggi maka ia merasa dihargai.

c. Two Factor Theory yang dipelopori oleh Federick Hezberg. Kepuasan kerja

disebut sebagai satisfier atau motivator yang didapat seseorang dari prestasi,

pengakuan, pekerjaan, tugas, dan kemajuan yang dialami pekerja. Sedangkan

ketidakpuasan disebut sebagai disatisfier atau hiegine yang berasal dari kebijakan

dan administrasi perusahaan, teknik operasional, gaji, hubungan ゥョエ・イー・イウッセ@

kondisi kerja, keamanan, dan status ke1ja. Jika aspek motivator didapatkan

dilingkungan kerja maka pekerja merasa puas dan jika tidak didapatkan pekerja

merasa tidak puas. Selain itu, jika aspek-aspek hygiene didapatkan dalam

lingkungan kerja pekerja merasa tidak senang atau tidak puas dan adanya ha! ini

tidak membuat kepuasan tapi tidak lagi tidak puas dan tidak mendorong motivasi

(35)

Sedru1g Munandar (200 I: 355 - 357) menyebutkM bahwa selain discrepancy theory

ada dua teori yang menjelaskan kepuasan kerja, yaitu:

a. Facet Satfafaction Themy (Lawler). Teori ini berkaitM erat denga teori Adams.

OrMg puas dengan bidang-bidang tertentu dari pekerjaan yang digelutinya

seperti: rekan kerja, atasan, ataupun gaji. Pekerja merasa puas jika yang ia terima

berdasar atau sesuai dengan unjuk kerja yangn ia lakukM. Jika berlebihan ia

merasa tidak adil dan bersalah tapi jika kurMg sesuai pekerja merasa tidak puas.

Bidang ini tergantung pada cara pekerja mempersepsi pekerjaan dan jumlah

bidangnya dengan yang ia terima dan dikeluarkan serta perbMdingan yang

dilakukan.

b. Teori Proses Bertentangan (Landy) menyebutkan bahwa orMg ingin

mempertahankan suatu keseimbangan emosional (emosional equilibrium). Teori

ini menunjukkan kondisi emosional yang ekstrim tidak memberi manfaat.

Kepuasan dan ketidakpuasan kerja memacu mekMisme fisiologis dan

menimbulkan emosi yang berlawanan. Pekerja yang mendapat ganjaran dari apa

yang ia usahakan ia senang dan tidak senang (dengM kekuatrul yang lemah),

setelah beberapa saat rasa senang itu turun dan sedemikian rupa sebelum kembali

normal. Kepuasan kerja dalam teori ini bervariasi dari waktu ke waktu oleh

(36)

Selain itu Victor Vroom seperti yang dijelaskan Mitchell (1978: 161) mengungkap

satu teori Expectancy yang menjelaskan sejumlah valences dan hasil dalam pilihan

tingkah laku. Proses ini menyediakan sejumlah expectansy dan valences dari

beberapa alternatif yang ada (I:EV) yang secara kasar menggambarkan nilai yang

diharapkan atau hasil yang diharapkan. Teori ini memprediksi dan menempatkan

individu pada pilihan atau alternative, seperti: datang ditempat kerja atau tidak dan

memilih alternatif terse but yang mereka percaya dapat mengarahkan pada pendapatan

reward yang diinginkan sehingga meningkatkan hasil yang diharapkan. Vroomjuga

mengatakan bahwa perkiraan pasti terhadap pilihan seperti pekerjaan yang dipilih

individu dilihat dari seberapa banyak usaha yang digunakan pada pekerjaannya dan

memperkirakan sikap kerja individu terhadap pekerjaannya. Ada beberapa ha!

penting dalam teori ini:

a. Harapan (expectancy) dari kejadian yang mempengaruhi pilihan; pentingnya

perkiraan kita di masa yang akan datang.

b. Pertama, ekspektansi berasal dari outcome yang akan terjadi (expectancy). Kedua,

nilai (antisipasi kepuasan) dari outcome tersebut atau disebutjuga sebagai

valences

Setelah mempelajari teori yang ada, penulis beranggapan bahwa teori-teori tersebut

digunakar. sesuai dengan aspek yang dikajinya. Karena dalam penelitian ini meneliti

(37)

kepuasan kerja yang diambil oleh penulis adalah teori kepuasan kerja dari Hezberg

(Two Factor Theory).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, two factor theo1y adalah teori yang

menjelsakan ada dua factor yang berkaitan dengan kepuasan kerja seorang pekerja.

Pertama, motivator atau factor pendorong kepuasan kerja yang berasal dari prestasi,

pengakuan, karakteristik pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kesempatan untuk

maju dan peningkatan keahlian. Faktor ini berhungan kuat dan bagusnya kinerja

seorang pekerja dengan adanya factor ini pekerja yang tidak puas menjadi puas.

Kedua, hiegine atau factor ketidakpuasan yang berasal dari lingkungan kerja seperti:

kebijakan perusahaan, administrasi, teknik supervisi, gaji, hubungan interpersonal,

dan kondisi kerja yang ada. Hiegine dapat mengarahkan pada hilangnya

ketidakpuasan dan perbaikan kinerja tapi disamping itu perbaikan kinerja mereka

tidak menimbulkan motivasi kerja seorang pekerja (Minner, 1992) dan adanya factor

ini membuat pekerja berada pada keadaan tidak lagi tidak puas (Munandar, 2001 ).

3. Sumber dan Bentuk Kcpuasan Kerja

Strauss dan Sayle ( 1996: 8) menyebutkan kebutuhan hidup yang dapat terpenuhi

dalam bekerja yang disebut sebagai sumber kepuasan kerja. Kemudian hal ini disebut

sebagai bentuk dari kepuasan kerja. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagai

(38)

a. Kebutuhan fisik dan keamanan berupa pemuasan jasmaniah yang berasal dari

kebutuhan hidup sehari-hari seperti: rasa lapar, haus, tempat bernaung, dan hal

aman lain yang dinikmati pekerja. Pada umumnya kebutuhan ini didapatkan dari

uang, keamanan dan ingin maju.

b. Kebutuhan sosial meliputi rasa saling tergantung yang ditunjukkan dengan

bantuan atau pengakuan dari orang lain dari rasa bersatu dan saling mendukung.

c. Kebutuhan Egoistik adalah kebutuhan untuk berdiri sendiri, melakukan sesuatu

sendiri dan untuk merasa berprestasi. Kebutuhan ini berupa: (!) Prestasi yang

terdiri dari: arti tugas (tanggung jawab terhadap keselamatan, jasa pada orang

lain, dan kepuasan produk), keterampilan, dan produktivitas, (2) Autonomi, dan

(3) Pengetahuan.

Bittel dan Newstroom (1996: 281) menyebutkan kepuasan kerja berasal dari beberapa

faktor yang benar-benar memotivasi individu dalam bekerja, seperti: pekerjaan yang

menarik dan menantang, pemanfaatan kemampuan individual, peluang untuk

melakukan suatu ha! yang bermanfaat, pengakuan terhadap prestasi, dan tanggung

jawab terhadap pekerjaannya. Sedangkan Hezberg (dikutip Bittel &Newstroom,

1996: 282) dari teori dua faktornya menyebutkan kepuasan kerja seseorang didapat

dari:

a. golongan tingkat rendah yaitu yang bersifat hewani dan cara bertahan hidup

(39)

b. golongan tingkat tinggi yang bersifat manusiawi, unik, dan diarahkan pada

penyesuaian diri.

Masih menurut Strauss dan Sayle ( 1996: 8) dari kebutuhan tersebut maka kepuasan

kerja digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu:

a. Kepuasan Kei:ja yang dinikmati Jauh dari Pekerjaan, kepuasan ini didapatkan

melalui gaji atau upah . .lika pekerja ditekankan dalam ha! ini maka pekerjaan

yang dilakukan dirasa sebagai hukuman yang dipikul sebagai imbalan untuk

upaha yang didapat dan dinikmati sesudah bekerja.

b. Kepuasan Ke1ja yang dinikmati di sekitar Pekerjaan; kepuasan kerja bentuk ini

didapat pekerja melalui lingkungan kerja yang menyenangkan tapi tidak memberi

motivasi positifuntuk lebih giat bekerja secara langsung dan diperoleh melalui

terpenuhinya kebutuhan sosial berupa kontak pribadi.

c. Kepuasan Kerja yang dinikmati melalui Pekerjaan yang mendorong pekerja

melakukan pekerjaan dengan giat dan semakin giat ia semakin puas. Kepuasan ini

diperoleh bila kebutuhan egoistik pekerja terpenuhi.

4. Faktor Penentu Kepuasan Kerja

Munandar (2001: 357-363) menyebutkan ada beberapa faktor penentu kepuasan kerja

seseorang, diantaranya:

a. Ciri Jntrinsik Kerja. Dengan mengutip Locke, Munandar menjelaskan ciri

(40)

aktivitas yang meliputi keterampilan dan bakat. Makin banyak keterampilan yang

digunakan pekerjaan yang dilakukan makin kurang membosankan, (2) Jati diri

Tugas (task identify) yaitu sejauh mana tugas merupakan suatu kegiatan yang

berarti, (3) Tugas yang penting (task significance) adalah rasa penting suatu tugas

bagi seseorang. Jika tugas yang ia lakukan dirasa penting maka ia cenderung

mempunyai kepuasan kerja, ( 4) Oto no mi berupa kebebasan dan peluang

pengambilan keputusan yang lebih cepat menimbulkan kepuasan, dan (5) Reward

atau feedback yaitu pemberian informasi tentang prestasi atau unjuk kerja seorang

pekerja. Pemberian umpan balik ini membantu meningkatkan tingkat kepuasan

kerja seseorang.

Hackman dan Oldman yang disebutkan dalam Munandar (2001) mengembangkan

[image:40.522.42.446.158.722.2]

ciri-ciri intrinsik ini ke dalam model karakteristik kerja dari motivasi kerja, seperti:

Gambar 2.1 Kcluaran Pribadi dan Kerja Munandar (2001: 359)

Dimensi kerja Keadaan kritis Outcome pribadi &

Psikologis kerja

-Macam keahlian ' c-- Motivasi kerja

-Identitas tugas Pengalaman tinggi

Signifikansi kerja yang

tu gas berarti Kualitas kerja

>

tinggi

otonomi ,. '· Tanggung javvab Kepuasan kerja

tinggi

Umpan Balik '• Pengetahuan nyata dari

v

Rendahnya

aktivitasa ke1ja ketidakhadiran

&perpindahan

t

Perkembangan karyawan membutuhkan kekuatan

(41)

I-Iackmand dan Oldman (Munandar, 2001: 358) mengasumsikan bahwa ciri pekerjaan

(keragaman keterampilan, jati diri tugas, tugas yang penting, otonomi dan umpan

balik) menimbulkan tiga kondisi psikologis seperti: pengalaman kerja yang berarti,

tanggung jawab dari hasil kerja, dan pengetahuan nyata akibat kerja. Hal ini

menghasilkan empat macam keluaran pribadi dan kerja yaitu: motivasi kerja internal

yang tinggi, unjuk kerja yang tinggi, kepuasan kerja yang tinggi, dan angka

kemangkiran dan keluar pegawai yang rendah. Berdasarkan ciri-ciri intrinsik

pekerjaan tersebut mereka membuat satu rumus untuk mengetahui skor potensi

motivasi (Motivation Potensial Score) sebagai berikut:

Garn bar 2.2 Rumus Skor Potensi Motivasi Munandar (2001: 358)

Jfoth•ation Potensial ,)'core=

<ken1ga1nnn Ketera1npilan + Jati diri tugas + signifikansi tu gas) x otono1ni x balikan

h. Gaji atau penghasilan berupa Imbalan yang dirasa adil (equitable reward).

Theriault sepe1ti yang dikutip munandar (2001: 360) menjelaskan bahwa

kepuasan kerja merupakan ftmgsi dari jumlah absolut dari gaji yang diterima,

sejauh mana gaji memenuhi harapan tenaga kerja dan bagaimana gaji diberikan.

Jika gaji dipersepsikan adil berdasar tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan

individu, dan standar gaji yang berlaku untuk kelompok tertentu maka ada

(42)

c. Penyeliaan, menurut Locke yang dikuti Munandar (2001: 361), ada duajenis

hubungan yang ia temui. Pertama, hubungan fungsional yang mencerminkan

sejauh mapa penyelia membantu tenaga kerja unutk memuaskan nilai-nilai

penting dari sebuah pekerjaan bagi tenaga kerja. Kedua, hubungan keseluruhan

yang didasarkan pada ketertarikan antarpribadi yang mencerminkan sikap dasar

dan nilai-nilai sernpa. Tingkat kepuasan yang paling besar dengan seorang atasan

adalah jika kedua jenis hubungan itu adalah positif.

d. Rekan seke1ja yang menunjang. Dalam menjalankan tugasnya pekerja

memperoleh masukan dari tenaga lain. Hubungan yang ada bersifat hubungan

ketergantungan sepihak yang bercorak fungsional. Corak kepuasan kerja disini

bersifat kepuasan kerja yang tidak menyebabkan peningkatan motivasi kerja.

e. Kondisi kerja yaitu keadaan yang memberi kenyamanan pada pekerja dalam

menyelesaikan pekerjaannya, seperti: rnang kerja yang terang, sejuk, dengan

peralatan yang enak digunakan dan hal-hal lain yang memperhatikan prisip

ergonomi. Dalam kondisi ini kebutuhan fisik yang dipenuhi memuaskan tenaga

ke1ja.

Robbin (200 I: 150) menjelaskan bahwa kepuasan kerja ditentukan oleh beberapa ha!,

se bagai berikut:

a. Kerja yang secara mental menantang, yaitu pekerjaan yang memberi kesempatan

untuk menggunakan ketermapilan dan kemampuan pekerja dan menawarkan

(43)

b. Ganjaran yang pantas, yang memberikan rasa adil dan tidak meragukan serta

sesuai dengan harapan pekerja ( tuntutan individu, tingkat keterampilan individu,

standar pengupahan) sehingga menimbulkan kepuasan bagi pekerja.

c. Kondisi kerja yang mendukung bcrupa lingkungan kerja yang nyaman dan

memudahkan pekerja dalam mengerjakan tugas dengan baik. Ditemukan bahwa

pekerja lebih menyukai keadaan fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan, dan

berada di dekat rumah dengan fasilitas yang ada.

d. Rekan sekerja yang mendukung, sebagian orang berpendapat bahwa dari faktor

ini mereka dapat memenuhi kebutuhan interaksi social mereka.

e. Kepribadian. Holland yang dikutip Robbin (1998: 150) menyatakan bahwa

kecocokan yang tinggi antarA kepribadian pekerja dengan pekerjaan membuat

individu terpuaskan.

J: Gen ditemukan kepuasan kerja beberapa orang ditentukan secara genetis.

Strauss dan Sayle (1996: 24-25) mengemukakan bahwa kepuasan kerja seorang

karyawan tergantung pada:

a. Peng:1arapan yang sesuai atau tidak

b. Penilaian diri. Jika seorang tenaga kerja merasa puas dan dapat menyesuaikan diri

dengan pekerjaannya maka ia merasa puas dan ha! ini tercermin dalam sikap kerja

yang ditampilkannya.

c. Nonna sosial atau anggapan yang ada. Hal ini berkaitan dengan anggapan orang

(44)

d. Hubungan antara input dan output yang ada dan tergantung pada penilaian pekerja

itu sendiri. Antara yang diberi dan diterima pekerja. Jika seorang pekerja telah

bekerja keras dan hasil yang diterima tidak seperti usahanya maka ia tidak puas,

begitu pula sebaliknya.

e. Perbandingan sosial dengan teman sekerja, apakah yang dialami pekerja itu sama

atau tidak dengan kawannya. Jika tidak sama maka ia tidak puas dan jika sama ia

akan puas.

f. Keikatan, hubungan dengan kawan sekerja ataupun atasannya. Jika baik maka ia

puas dan jika tidak pekerja merasa tidak puas.

g. Dasar pemikiran pekerja, banyak orang membicarakan gaji adalah penting dan

peningkatan kerja juga penting. Jika terjadi ketidakjelasan dan ketidaksesuaian

dengan janji atau kontrak sebelumnya maka pekerja bingung dan memungkinkan

terjadinya ketidakpuasan.

h. Ada tidaknya tantangan dalam pekerjaan yang dijalani.

Sedangkan Blum (As'ad, 1989: 115-116) menyebutkan faktor-faktor yang

menimbulkan kepuasan kerja adalah sebagai berikut:

a. Dari individu yang terdiri dari usia, kesehatan, watak, dan harapan individu.

b. Dari lingkungan sosial berupa hubungan kekeluargaan, pandangan masyarakat,

kesempatan berekreasi, kegiatan serikat kerja, kebebasan berpolitik, dan

(45)

c. Faktor utama dalam pekerjaan berupa upah, pengawasan, ketentuan kerja, kondisi

kerja, kesempatan untuk maju, dan juga meliputi: penghargaan, hubungan sosial

dalam pekerjaan, ketepatan menyelesaikan konflik, perasaan adil terhadap pribadi

ataupun tugas.

Dari faktor-faktor yang telah disebutkan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu

konsep yang berkaitan dengan arti pekerjaan dan arti hidup pekerja sendiri. Kepuasan

kerja diperoleh pekerja dari kesesuaian pekerja terhadap yang diterirna dan yang

dilakukannya, harapan tentang kerja, persepsi keadilan diterirna pekerja terhadap

kinerja dan hasil yang mereka peroleh.

5. Akibat Kepuasan Kerja dan Ketidakpuasan Kerja

Seorang yang bekerja bereaksi terhadap kepuasan dan ketidakpuasan yang ia alami

dengan berbagai cara dan reaksi yang berakibat terhadap hasil kerjanya. Ada

beberapa tokoh yang menyebutkan akibat dari kepuasan dan ketidakpuasan kerja.

Munandar (200 I: 364) menjelaskan akibat kepuasan kerja sebagai berikut:

a. Akibat terhadap produktivitas, mengutip Lawler dan Porter, Munandar (2001:

364) menjelaskan bahwa produktivitas yang tinggi dapat menyebabkan tingginya

kepuasan kerja jika tenaga kerja mempersepsikan ganjaran intrinsik dan ekstrinsik

yang diterima adalah adil dan wajar yang diasosiasikan dengan unjuk kerja yang

(46)

dengan unjuk kerja maka kenaikan unjuk kerja tidak berkorelasi dengan

peningkatan kepuasan kerja.

b. Ketidakhadiran dan keluarnya tenaga kerja (Absentisme dan Turnover). Porter dan

Steerss di tahun 1975 dalam Munandar (2001: 366) menjelaskan ketidakhadiran

dan keluarnya tenaga kerja merupakan jenis jawaban-jawaban yang secara

kualitatifberbeda karena: (1) Kemangkiran (absentisme) bersifat spontan dan

kurang mencerminkan ketidakpuasan kerja, (2) Berhenti dari pekerjaan (turnover)

menunjukkan akibat ekonomi yang lebih besar dan berkaitan dengan kepuasan

kerja.

c. Kesehatan Munandar (2001: 367) menjelaskan bahwa ada hubungan antara

kepuasan kerja dengan kesehatan fisik dan mental. Juga seperti dijelaskan

Konseur dalam Munandar, untuk semua tingkatan jabatan (persepsi dari tenaga

kerja) menunjukkan bahwa pekerjaan mereka menuntut penggunaan efektif dari

kecakapan-kecakapan mereka yang berkait dengan skor kesehatan mental yang

tinggi. Diduga kepuasan kerja menunjang peningkatan dari fungsi fisik dan

mental serta merupakan tanda kesehatan.

Robin (200 I: 154) menjelaskan ketidakpuasan kerja pada tenaga kerja dapat

diungkap dalam berbagai cara seperti: selain meninggalkan pekerjaan, pekerja

mengeluh, membangkang, mencuri barang milik organisasi atau perusahaan, dan

menghindari sebagian tanggung jawab mereka. Berikut empat respon yang berbeda

(47)

a. Eksit adalah prilaku yang mengarah untuk meninggalkan organisasi mencakup

pencarian suatu proses baru maupun meminta berhenti

b. Suara (voice) yaitu dengan aktifdan konstruktifmencoba memperbaiki kondisi,

mencakup saran perbaikan, membahas perolehan dengan atasan dan beberapa

bentuk kegiatan serikat kerja.

c. Kesetiaan (loyalty) pasiftetapi optimistis menunggu membaiknya kondisi

mencakup berbicara membela organisasi menghadapi kritik luar dan

mempercayai organisasi dan manajemennya untuk melakukan hal yang tepat.

d. Pengabaian (neglect) secar pasif membiarkan kondisi memburuk, termasuk

kemangkiran atau datang terlambat secara kronis, upaya yang dikurangi, dan

tingkat kekeliruan yanng meningkat.

[image:47.528.30.430.185.624.2]

Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.3 Respon terhadap ketidakpuasan Robin (2001: 154)

eksit AKTIF Suara

DESTRUKT1F KONSTRUKTIF

pengabaian kesetiaan

PASIF

Eksit dan pengabaian menurut Robin (2001, 154-155) meliputi variabel-variabel

(48)

model ini mengembangkan respon pekerja yang melibatkan suara dan kesetiaan.

Perilaku konstruktifyang memungkinkan individu mentolelir situasi yang tidak

menyenangkan atau menghidupkan kembali kondisi kerja yang memuaskan.

Miner ( 1992: 119-124) mengemukakan bahwa ketidakpuasan kerja berakibat pada:

a. Tingginya aksi serikat kerja berupa: penyerangan, unjuk rasa pekerja terhadap

perusahaan tempat mereka bekerja.

b. Penurunan output; di tahun 1950 kepuasan kerja membuat pekerja lebih produktif

sehingga membantu perusahaan dengan baik dan output ini juga dipengaruhi oleh

lingkungan kerja.

c. Absensi pekerja, dan

d. Perpindahan pekerja

Tidak ketinggalan juga Auerbach (1996: 199-200) menyebutkan bahwa

ketidakpuasan kerja menyebabkan;

a. Turnover (perpindahan kerja) dalam Psikologi Industri dan Organisasi dibagi

menjadi dua: (I) Turnover berfungsi bila memperbaiki keadaan dan kekuatan

kerja yaitu jika orang-orang yang pindah tersebut merupakan orang-orang yang

tidak dibutuhkan perusahaan dan tidak berdampak pada produktivitas, kerugian

dan keberlangsungan perusahaan, (2) Turnover yang tidak berfimgsi bila

(49)

yang ada dan tinggal dalam perusahaan. Hal inilah yang sering menjadi penyebab

dari kerugian perusahaan.

b. Absensi, untuk masalah ketidak hadiran ini Auerbach menyebutkan tidak

berhubungan dengan kepuasan kerja secara umum.

Auerbach ( 1996: 199) juga menyebutkan kepuasan kerja diusahakan sebagai

tanggung jawab profesional untuk memperbaiki kondisi manusia dan kepuasan kerja

yang tinggi menyebabkan produktivitas yang tinggi pula dan menurunnya tingkah

laku penarikan diri pekerja berupa ketidakhadiran ataupun perpindahan kerja.

Selain itu, Bateman dan Snell (1999: 458) juga menyebutkan bahwa ketidakpuasan

kerja memberikan dampak seperti: tingginya turnover atau perpindahan karyawan,

kemangkiran kerja, penurunan komitmen terhadap organisasi, pemogokan,

banyaknya keluhan dan tuntutan, pencurian, sabotase, dan pengrusakan, serta

kesehatan. Sedangkan kepuasan kerja memberikan beberapa keuntungan bagi

perusahaan ataupun organisasi diantaranya: turunnya tingkat kemangkiran dan

perpindahan kerja, berkurangnya keluhan, tuntutan karyawan, pemogokan dan biaya

kesehatan serta peningkatan kualitas produksi. Ada satu pendekatan umum yang

dikatakan Bateman dan Snell untuk digunakan perusahaan dalam usahanya

menimbulkan kepuasan kerja para pekerjanya yaitu dengan program kualitas hidup

pekerja melalui:

(50)

b. Lingkungan yang nyaman dan sehat

c. Pekerjaan yang mengembangkan kapasitas manusia

d. Kesempatan pengcmbangan dan keamanan seseorang

e. Lingkungan sosial yang memelihara identitas perorangan, kebebasan prasangka,

pengertian masyarakat dan kecenderungan motivasi

f. Undang-undang tentang hak kebebasan berpendapat dan perlindungan

g. Peran kerja yang meminimalkan pelanggaran waktu luang dan hubungan keluarga

pekerja.

Wagner Ill dan Hallonbeck ( 1998: 110-112) menyebutkan ketidakpuasan kerja dapat

menimbulkan kerugian dari organisasi atau perusahan yang ada, seperti:

a. Peningkatan biaya kesehatan berupa asuransi yang diberikan pada karyawan yang

dapat mencapai tiga kali upah dan hal ini menyebabkan kerugian secara tidak

langsung.

b. Kemangkiran dan perpindahan karyawan. Ketidakpuasan merupakan satu dari

alasan terbanyak untuk kemangkiran dan perpindahan organisasi yang sangat

merugikan organisasi atau perusahaan. Kerugian tersebut dapat berupa

penempatan karyawan kembali di posisi kerja yang ditinggalkan, produktivitas

yang turun jika pekerja yang pindah merupakan pekerja yang memiliki unjuk

kerja yang baik, dan akibat yang terburuk adalah jika pekerja yang pindah

memilih kerja di perusahaan yang menjadi saingan.

(51)

d. Kekerasan di tempat kerja berupa pengrusakan, sabotase, dan pembangkangan

para pekerja.

Apapun bentuk akibat ketidakpuasan yang terjadi pada pekerja tentulah dapat

berakibat buruk bagi suatu organisasi atau perusahaan yaitu berupa kerugian yang

jika dibiarkan saja tanpa penanggulangan yang tepat dan cepat akan mempengaruhi

keberlangsungan dari organisasi atau perusahaan itu sendiri.

6. Penelitian Kepuasan Kerja

Dalam dunia Psikologi lndustri telah banyak ahli yang meneliti tentang kepuasan

kc1ja dengan aspek-aspek yang berkaitan dengannya. Untuk dijadikan sebagai

perbandingan atau tolak ukur dalam penelitian ini penulis juga menyertakan

penelitian-penelitian yang telah ada dalam sub bab penulisan skripsi ini. Adapun

penelitian-penelitian tersebut adalah: pertama, As'ad (l 989: 124-126) menjelaskan

penelitian-penelitian kepuasan kerja oleh beberapa peneliti, sebagai berikut:

a. Glen Taylor dan Walrer (l 977) mengungkapkan kepuasan kerja wanita lebih

rendah daripada pria.

b. Bambang Haryo Wicaksono ( 1982) menemukan bahwa: ( l) Tidak ada perbedaan

keupasan kerja antara wanita dan pria, (2) Adanya hubungan positifyang

signifikan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja, dan (3) Hubungan

(52)

c. Gilmer (1966) menemukan: ( 1) Pekei:ja usia 20 - 30 tahun memiliki kepuasan

kerja yang minim dan usia 40 - 50 kurang mengalami kepuasan kerja, (2) Pria

usia 20 tahun mementingkan kepuasan kerja dari teman kerja, jam kerja, upah,

dan supervisi, dan (3) Peke1ja dengan pendidikan lanjut sangat puas dengan

pekerjaan mereka.

d. Melyari Rus Purnomo (1983) menjelaskan: (1) Adanya korelasi positifantara usia

dengan kepuasan kerja di pabrik tambang, (2) Korelasi positif masa kerja dengan

kepuasan kerja.

e. Adib Farchan ( 1984) menemukan bahwa tidak ada hubungan yang positif antara

pendidikan dengan kepuasan kerja di perusahaan timah.

C Agus Edi T ( 1982) menjelaskan kepuasan kerja berkaitan denagn semangat kerja

di perusahaan kontraktor.

g. David Padmiyati Soemardjo ( 1981) menemukan adanya hubungan Human

Relation dengan kepuasan kerja yang dikendalikan oleh pengaruh variable usia

dan masa kerja.

h. Nugaan Yulia Wardhani Siregar (1982) menemukan: (I) Tidak ada perbedaan

kepuasan kerja pada wanita dan pria, (2) Tidak ada perbedaan kepuasan kerja

guru dengan pegawai administrasi, dan (3) Tidak ada hubungan kepuasan kerja

dengan motivasi kerja.

1. Muhaimin ( 1985) menemukan: (I) Hubungan positif self esteem dengan kepuasan

(53)

yang didapat, (2) Tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan kepuasan

kerja dan ketidakpuasan internal.

Kedua, Auerbach ( 1996: 195-197) menyebutkan:

a. Staw (1986) menjelaskan: ( 1) kepuasan kerja tidak dihasilkan karena factor luar

(tugas dan lingkungan) daripasa waktu, (2) Korelasi usia muda dengan kepuasan

kerja.

b. Hezberg menjelaskan adanya korelasi antara motivasi kerja dengan kepuasan

ke1ja.

c. Abdul Halim ( 1983) menemukan: ( 1) korelasi antara kepuasan kerja dengan

partisipasi pengambilan keputusan, (2) korelasi kepuasan kerja dengan tugas yang

berulang yang diharapkan.

d. Ro ides ( 1983) menemukan bahwa karyawan dengan usia tua lebih mengalami

kepuasan kerja karena dapat mengelola posisi kerjanya.

e. Arvey, Bonchard, Segal, dan Abraham (1989) menemukan bahwa pasangan

kembar identik memiliki tingkat kepuasan kerja yang sama.

f. Trait, Padget, dan Budwil ( 1989) menemukan korelasi yang kuat anatara

kepuasan kerja dengan kepuasan hidup secara umum.

g. Brush, Moch, dan Pooyan (1987) menemukan tidak ada perbedaan kepuasan kerja

(54)

h. Witt dan Nyo (1991) menemukan kepuasan kerja wanita sama dengan kepuasan

kerja laki-laki selama mereka menghadapi keadaan yang sama (berupa bayaran

atau kesempatan promosi)

i. Motazz (1986) menemukan: (I) Kepuasan kerja pada wanita didapatkan melalui

tempat kerja, pentingnya pekerjaan, dan hubungan yang baik, (2) Kepuasan kerja

pada pria didapatkan melalui upah dan kekuatan peke1jaan itu sendiri.

Ketiga, Situmorang (2000) dalam tesis program Pasca Sarjana UT menemukan bahwa

lklim organisasi berhubungan secara signifikan dengan kepuasan kerja dosen.

Dari penelitian-penelitian tersebut, menurut penulis kepuasan kerja dipengaruhi oleh

berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia, seperti: usia, jenis kelamin,

pendidikan, self esteem, supervisi, upah, tempat kerja, teman kerja, semangat kerja,

motivasi kerja, partisipasi, dan sifat dari pekerjaan itu sendiri.

C. Pcmbatik di Trusmi

I. Pengertian Pembatik

Pembatik atau penf!.obeng adalah orang yang pekerjaannya membatik dan hasil

kerjanya adalah sebuah kain batik atau kain bergambar yang pembuatannya secara

khusus dengan menuliskan atau menerakan ma/am atau lilin pada suatu kain yang

(55)

Pembatik di Trnsmi adalah orang-orang yang bekerja sebagai pembatik di daerah

Trnsmi yaitu satu daerah di Kabupaten Cirebon yang terletak kurang lebih 7 Km dari

kota Cirehon kearah Bandung, tepatnya di daerah Plered dengan batasan wilayah

sebelah Selatan desa Wern Lor, sebelah Utara dan Barat desa Wotgali, dan sebelah

Timur berbatasan dengan desa Wern Kidul dan Kalitengah. Penduduk desa Trnsmi

sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai pembatik (wawancara penulis

dengan Jurn Tulis desa Trnsmi, 7 Juni 2004).

2. Proses Pembatikan

Penyelesaian satu kain batik ada beberapa tahap atau proses yang dilalui para

pembatik. Dan tahap atau proses tersebut adalah sebagai berikut

(http//www.freshwell.com, Mei, 2004):

a. Penggambaran atau pembuatan po la dasar atau motif gambar yang dikehendaki

dengan pensil di atas kain putih yang akan diproses menjadi kain bermotif dan

dilanjutkan dengan membatik po la tersebut dengan Jilin (atau disebut juga malam)

sesuai garis pensil dengan menggunakan alat yang disebut canting ..

b. Pengisian yaitu mengisi pola dengan titik-titik, garis dan gurat-gurat dengan Jilin.

c. Penembokan yaitu menutup bagian-bagian kain yang akan tetap bewarna putih

atau tidak diberi warna dengan Jilin.

d. Pewarnaan yaitu mencelub kain batik yang sudah ditutup dengan Jilin ke dalam

air campuran pewarna dan proses ini dilakukan bernlang sampai didapatkan

(56)

menggodog (merebus) kain dengan air mendidih untuk menghilangkan semua

lilin dan diakhiri dengan penjemuran untuk mengeringkan kain batik.

Mulyani dan Supriatna (http//www.liputan6.com) tentang proses pembuatan batik

sebagai berikut:

a. Membakar Jilin atau malam di atas kompor dengan wajan kecil melalui perebusan

sampai meleleh dan dimasukkan dalam canting untuk menulis kerangka batik

b. Membuat pola batik yang telah dirancang (molani)

c. Pola yang sudah jadi diberi bingkai (ngolowong)

d. Setelah memberi bingkai pembatik mesti membuat oranamen pelengkap dalam

bingkai seperti titik, garis, dan bulatan.

e. Kemudian pembatik memberikan motif di bagian belakang kain (nerusi)

f. Memberikan warna melalui proses pencelupan.

g. Terakhir, dilanjutkan dengan proses ngelorod yaitu dengan menggunakan air

mendidih yang diberi campuran paraffin dan kemudian dijemur di panas matahari.

[image:56.521.23.431.171.481.2]

Jadi untuk sebuah batilc diperlukan beberapa proses yang secara ringkas penulis

gambarkan sebagai berikut: setelah alat disiapkan, pembuatan batik dimulai dari

pembuatan poal dasar dengan pensil dan dengan menggunakan canting yang diberi

lilin kain batik mulai digambar (bingkai, motif, iseni dengan titik, garis atau bulatan).

Kemudian dilakukan pencelupan untuk memberi warna pada kain batik dan terakhir

(57)

(peluruhan Jilin yang menempel pada kain dengan air yang mendidih). Setelah itu,

kain dijemur.

3. Pola Kerja Pembatik

Seperti yang dikutip Kami! ( 1995: 9) dari Koperasi Pusat Gabungan Koperasi Batik

Indonesia (GKBI) pengusaha atau pengrajin batik di Trusmi pertama kali menjadikan

usaha batik menjadi wahana pengembangan kreasi seni dan sebagai pengisi waktu

luang bukan menjadikannya sebagai pekerjaan pokok. Tetapi sesudah dikenalnya

bahan-bahan batik yang didatangkan dari luar negeri yaitu (kain cambrice dan

obat-obat batik dan dikenalnya proses batik cap) maka membatik menjadi usaha komersil.

Tradisi membatik yang ada di daerah Trusmi terjadi secara turun temurun dan

dilakukan di rumah masing-masing penduduk atau pun berkumpul dengan

teman-temannya di rumah majikan atau perusahaan.

Pada umumnya pembatik yang ada di Trusmi mendapatkan keterampilan membatik

sejak mereka lama! SD dengan belajar ke orang tua atau teman mereka Setelah lulus

sekolah, kebanyakan dari mereka meneruskan dan menjadikan kegiatan atau

keterampilan membatik sebagai mata pencahariannya. Membatik juga dijadikan

sebagai sebagai satu mata pelajaran di sekolah lanjutan pertanm di dese Trusmi

(58)

pembatik. Tak jarang para pembatik tersebut menggeluti kegiatannya sampai sampai

berusia lanjut. (wawancara penulis dengan Juru Tulis desa Trusmi, 7 Juni 2004).

Dalam mengerjakan satu kain batik terjadi suatu pembagian kerja yang bertujuan

untuk menghasilkan jumlah yang lebih banyak dan tehnik kerja yang sistematis

(seperti pencelupan atau pewarnaan termasuk pekerjaan yang berat dilakukan oleh

pria sedangkan wanita kebanyakan melukis). Sistem kerja yang dilakukan oleh

pembatik terbagi menjadi dua yaitu pembatik yang bekerja di rumah sendiri dengan

pembatik yang bekerja di rumah majikan. Pembatik yang bekerja di rumah sendiri

menganut sistem ngesub atau pembatik mengambil bahan baku dari majikan atau

pengusaha dan dibawa ke rumah masing-masing dengan sistem borongan dan

bayaran upah ditentukan dengan perjanjian bukan sebagai harian (Kami!, 1995, hasil

wawancaranya dengan Kepala Desa Trusmi 24 Januari 1995). Selain itu, para

pengusaha batik juga membuka dan menyediakan perusahaannya (UKM) dengan

mempekerjakan antara 10 - 15 orang dan ada yang 40 - 50 orang dan menerima upah

harian.

Upah yang diterima pembatik cukup beragam, untuk pembatik yang bekerja di rumah

sendiri

Gambar

Gambaran Subjek Penelitian ....................................................................
Gambar 2.2: Rumus Skor Potensi Motivasi .....................................................
Gambar 2.1 Kcluaran Pribadi dan Kerja Munandar (2001: 359)
Gambar 2.3 Respon terhadap ketidakpuasan Robin (2001: 154)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa penelitian yang ada, penelusuran yang penulis lakukan belum berjumpa dengan sebuah karya yang membahas tentang gagasan pemikiran tentang upaya NU dalam mewujudkan

Berdasarkan nilai tegangan geser pada Tabel V.24 dapat diketahui bahwa pada girder tidak memenuhi kriteria CSR, sedangkan untuk pelat geladak, pelat hopper, pelat sisi dan

Menguji Analisis Pengaruh Kualitas Aset, Likuiditas, Rentabilitas, dan Efisiensi Terhadap Rasio Kecukupan Modal Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

berpengaruh secara signifikan dan secara simultan pada PT Bank Persero di Indonesia , dan Secara parsial , Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh positif

Angkasa Pura II (Persero) pada tahun 2012 dan 2013 semester 1, (2) mengklasifikasikan skor masing-masing indikator pada aspek keuangan, aspek operasional, dan

Hasil penaksiran ini menunjukkan bahwa variabel upah sektor pertanian, variabel PDRB sektor pertanian, dan variabel pengeluaran untuk belanja pegawai mempunyai

Tässä tutkielmassa sovelletaan Biological Sciences Curriculum Studyn, BSCS:n, kehittämää 5E oppimissykliä (Bybee, Taylor, Gardner, Van Scotter, Carlson, Westbrook &amp;

penelitian ini adalah para pegawai atau penatausahaan keuangan pada SKPD di Kabupaten Buleleng yang berjumlah 332 orang. Penyampelan atas responden dilakukan secara