• Tidak ada hasil yang ditemukan

Preferensi Oviposisi Bactrocera Papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) Pada Lima Jenis Buah Inang Dan Peran Suplemen Protein Terhadap Keperidiannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Preferensi Oviposisi Bactrocera Papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) Pada Lima Jenis Buah Inang Dan Peran Suplemen Protein Terhadap Keperidiannya"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

PREFERENSI OVIPOSISI Bactrocera papayae DREW &

HANCOCK (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA LIMA JENIS

BUAH INANG DAN PERAN SUPLEMEN PROTEIN

TERHADAP KEPERIDIANNYA

SEPTIAN RISKI

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Preferensi Oviposisi

Bactrocera papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) pada Lima Jenis Buah Inang dan Peran Suplemen Protein terhadap Keperidiannya adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2015

Septian Riski

(3)

ABSTRAK

SEPTIAN RISKI. Preferensi Oviposisi Bactrocera papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) pada Lima Jenis Buah Inang dan Peran Suplemen Protein terhadap Keperidiannya. Dibimbing oleh ENDANG SRI RATNA.

Serangan hama lalat buah berpotensi sebagai perusak berbagai jenis buah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan preferensi peneluran lalat

Bactrocera papayae terhadap lima jenis buah dan menentukan keperidian betina pada inang jambu biji dengan pemberian suplemen protein pada pakan imago. Berdasarkan metode pemaparan bebas, setiap 15 ekor imago lalat buah dilepas dalam satu kurungan yang berisi lima jenis inang buah anggur, belimbing, jambu biji, jambu kristal, dan pepaya. Jumlah telur yang disisipkan pada setiap irisan buah dihitung setelah 5 hari pemaparan. Pada pengamatan keperidian lalat, modifikasi suplemen mengandung gula pasir, air, dan protein hidrolisat diaplikasikan pada pakan lalat. Jumlah telur yang diletakkan serta jumlah telur yang menetas diamati setiap hari hingga imago lalat tersebut mati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa B. papayae menyukai seluruh buah uji untuk meletakan telur, kecuali belimbing. Jumlah telur yang diletakkan antara 22.6-32.8% berturut-turut ditemukan pada anggur, jambu biji, jambu kristal, dan pepaya yang nyata lebih tinggi dibandingkan belimbing yang hanya mencapai 12%. Pemberian suplemen protein hidrolisat pada pakan imago sangat meningkatkan keperidian dan lama hidup imago, yaitu menghasilkan 1093 telur/betina dalam waktu 83 hari. Telur yang berhasil menetas pada imago yang diberi perlakuan protein hidrolisat mencapai 74-79%.

(4)

ABSTRACT

SEPTIAN RISKI. Oviposition preference of Bactrocera papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) on Five Host of Fruits and the Role of Protein Supplement on its Fecundity. Supervised by ENDANG SRI RATNA.

Agression of fruit fly could caused destruction of all sorts of fruits. The purposed of this research were to compare the oviposition preference of

Bactrocera papayae on five kind of fruits and find out its fequndity on guava host by providing a protein suplement on its diet. Based on a choice exposure method, each 15 adult females was allowed to oviposite within an adult cage contained hanged slices of five type of fruits such as grapes, star fruit, pink guava, seedless guava, and papaya. The number of inserted eggs were counted after 5 days of exposure. To observe the fequndity of flies, modified food suplement contained sugar, water, and protein hydrolyzate were applied on adult diets. The number of laid and hatched eggs were observed everyday until the adult die. The results of the experiments showed that B. papayae almost preferred to insert their eggs on all tested fruits, except star fruit. The number of eggs between 22.6-32.8% was found on grapes, pink guava, seedless guava, and papaya, respectively, that were significantly higher than starfruit was only reached 12%. The implementation of food suplement protein hydrolyzate on flies diets was highly increased the fecundity and longevity of adult at about 1093 eggs/female within 83 days. The hatched eggs treated with protein hydrolyzate could reached 74-79%.

(5)

©

Hak Cipta milik IPB, tahun 2015 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(6)

PREFERENSI OVIPOSISI Bactrocera papayae DREW &

HANCOCK (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA LIMA JENIS

BUAH INANG DAN PERAN SUPLEMEN PROTEIN

TERHADAP KEPERIDIANNYA

SEPTIAN RISKI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(7)
(8)

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Preferensi Oviposisi Bactrocera papayae Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) pada Lima Jenis Buah Inang dan Peran Suplemen Protein terhadap Keperidiannya”. Penulisan tugas akhir penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Endang Sri Ratna selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan bimbingan, ilmu pengetahuan, saran, arahan, dan masukan kepada penulis. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ir. Djoko Prijono, M.Agr.Sc selaku dosen pembimbing akademik dan Dr. Ir. Bonny Poernomo Wahyu Sukarno, MS selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penulisan tugas akhir ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda Syamsul Bahri, Ibunda Marwati, adik penulis Sardi Junanda dan Zil’afifah serta keluarga besar yang telah memberikan semangat, dukungan, dan motivasi serta mendoakan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Terima kasih juga diucapkan kepada Nurul Nisa A Amin, Fatku Shirot P, Ulfah Hafidzah, Dian Haryati, Johana Mendes SP, Ridwan Isnaini Mahfud SP, Dra. Murni Indawatmi, MSi, Agus Sudrajat, Kemas Usman, SP, Msi, Emilia Sasmita A.Md.A.Farm, Nasriati A.Md, serta teman-teman lainnya di Departemen Proteksi Tanaman angkatan 48 yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam penelitian dan penulisan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Namun semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Bogor, September 2015

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR viii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

BAHAN DAN METODE 3

Tempat dan Waktu 3

Bahan dan Alat 3

Metode Penelitian 3

Pemeliharaan dan Perbanyakan Serangga Uji 3

Uji Preferensi Peneluran B. papayae pada Lima Jenis Inang 4 Uji Kemampua Lama Hidup Imago dan Keperidian

B. papayae 5

Kemampuan Tetas Telur B. papayae 5

Analisis Data 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Pemeliharaan B. papayae 7

Preferensi Peneluran B. papayae pada Lima Jenis Inang 7 Lama Hidup Imago, Keperidian serta Kemampuan Tetas Telur 9

SIMPULAN DAN SARAN 12

DAFTAR PUSTAKA 13

LAMPIRAN 15

(10)

DAFTAR TABEL

1 Komposisi pakan buatan lalat buah Bactrocera papayae 3

2 Lama stadium perkembangan B. papayae pada pakan buatan 7

3 Preferensi peneluran lalat buah B. papayae pada lima jenis buah inang 8

4 Kandungan nutrisi buah inang lalat B. papayae 9

5 Pengaruh suplemen protein hidrolisat terhadap umur imago B. papayae 9 6 Pengaruh suplemen protein hidrolisat terhadap keperidian B. papayae 10

DAFTAR GAMBAR

1 Kurungan pemeliharaan B. papayae (a), bahan pakan imago (b) 4 2 Irisan buah uji (a), kurungan (b), alat pengukuran kekerasan buah (c) 5 3 Fluktuasi produksi telur selama fase reproduktif B. papayae 11

DAFTAR LAMPIRAN

1 Total telur preferensi inang Bactrocera papayae pada lima macam

buah 18

2 3

Lama hidup imago lalat buah B. papayae

Keperidian imago betina lalat buah B. papayae

18 19

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Buah merupakan salah satu sumber pendapatan dari sektor pertanian karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sebagian besar dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sumber vitamin, mineral, dan anti oksidan (Setyadjit 2009). Oleh karena itu, dengan mengkonsumsi buah-buahan secara teratur dapat menghambat proses penuaan kulit. Bagi orang yang sedang menjalani diet, mengkonsumsi buah merupakan salah satu cara yang efektif untuk mempertahankan berat badan guna menuju hidup yang lebih sehat (Ashari 2006).

Indonesia merupakan negara yang menghasilkan berbagai macam produk bebuahan. Jambu biji merupakan salah satu komoditas buah tropika yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Produksi jambu biji termasuk kategori 10 besar di dalam urutan penghasil buah-buahan nasional. Produktivitas buah jambu biji di Indonesia dilaporkan mencapai 208 151 ton pada tahun 2012 dan menurun menjadi 181 644 ton pada tahun 2013 (BPS 2015).

Beberapa kendala seringkali ditemukan saat proses budi daya tanaman dalam upaya peningkatan produksi buah, diantaranya adalah serangan hama maupun patogen tanaman. Serangan lalat buah dapat dikatakan sebagai hama potensial perusak aneka buah (Setyabudi 2009). Menurut Kalshoven (1981), lalat famili Tephritidae merupakan hama utama yang umumnya menyebabkan penurunan kualitas pada berbagai komoditas buah. Akibat adanya aktivitas lalat buah dan pembusukan buah menyebabkan buah jatuh sebelum waktunya sehingga terjadi kegagalan panen. Infestasi lalat buah juga membatasi pasar bebas dan ekspor komoditas hortikultura, sehingga industri komoditas hortikultura di daerah tropis untuk kepentingan pasar domestik maupun pasar ekspor sangat bergantung pada pengendalian hama lalat buah.

Menurut Vijaysegaran (1996), lalat buah yang berperan sebagai hama penting tanaman buah di daerah tropis adalah Bactrocera dorsalis kompleks (Oriental fruit fly). Salah satu spesies dari lalat buah tersebut adalah B. papayae

yang dikenal sebagai Asian Papaya Fruit Fly. Populasi hama B. papayae saat ini dikenal sebagai lalat buah paling merusak di antara spesies lalat lain yang termasuk dalam spesies B. dorsalis kompleks. Saat ini diketahui B. papayae

menyerang sekitar 209 jenis buah di Asia Tenggara, serta menjadi hama endemik di daerah selatan Thailand, Malaysia (Semenanjung dan Timur), Singapura, dan Indonesia. Lalat buah B. papayae merupakan hama penting pada buah pepaya dan mangga, namun lalat buah ini diketahui sering menyerang buah jambu biji di Indonesia (Drew dan Romig 1996).

(12)

2

bebuahan. Fluktuasi populasi serangga seringkali menjadi tolok ukur dalam melakukan tindakan pengendalian serangga yang berpotensi sebagai hama. Parameter tersebut sangat ditentukan oleh faktor pembatas pakan inang yang dapat mempengaruhi kebugaran tubuh larva, yang berpengaruh lanjut terhadap keperidian serta lama hidup imago. Kemampuan oviposisi B. papayae pada tanaman inang yang disukai dan pengaruh penambahan pakan imago terhadap kelangsungan hidup serta keperidian lalat spesies B. papayae secara spesifik pada buah jambu biji belum pernah dilaporkan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengetahui preferensi oviposisi terhadap lima jenis inang, keperidian serta mengamati lama hidup lalat buah spesies B. papayae.

Manfaat Penelitian

(13)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai dari bulan Januari hingga Agustus 2015.

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah lalat buah spesies

B. papayae, yang diperoleh dari hasil pembiakan massal di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Jakarta (Tabel 1). Buah yang digunakan sebagai inang adalah anggur, belimbing, jambu biji, jambu kristal, dan pepaya yang telah matang diperoleh dari pasar buah di sekitar Bogor.

Tabel 1 Komposisi pakan buatan larva buah B. papayae (Kuswadi et al.1999)

Bahan- bahan Jumlah

Lalat buah dipelihara di dalam kurungan berukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm dengan disertakan pakan campuran gula pasir dan protein hidrolisat (4:1) dan sebagai sumber minuman diletakkan spons jenuh air di permukaan atas kurungan kain kasa (Gambar 1). Pemberian pakan dan minuman diberikan setiap 2-3 hari. Setelah lalat memasuki tahap matang seksual (sekitar 10-14 hari). Media peletakan telur buatan disisipkan pada salah satu dinding kurungan, yaitu berupa tabung plastik film silindris yang seluruh permukaan dindingnya diberi lubang dan di dalamnya diisi spons jenuh air. Telur dipanen dengan cara mengalirkan air pada permukaan tabung, yang ditampung melalui saringan kain kassa berwarna hitam. Telur yang menempel pada kain kassa dipindahkan ke dalam wadah yang telah berisi pakan semi sintetis yang juga sebagai media pemeliharaan larva.

(14)

4

imago. Setiap periode pergantian metamorfosis diamati dan lama fase setiap instar dicatat. Selanjutnya, imago yang muncul pada waktu yang relatif seragam digunakan sebagai serangga uji.

Gambar 1 Kurungan pemeliharaan B. papayae (a), bahan pakan imago (b).

Uji Preferensi Peneluran B. papayae pada Lima Jenis Inang

Lalat buah B. papayae yang digunakan dalam penelitian ini adalah imago betina berumur 13-14 hari yang telah memasuki umur matang seksual atau telah melakukan kopulasi dan melalui tahap pra-oviposisi. Setiap 15 imago betina dipasangkan dengan 15 imago jantan dan dimasukkan ke dalam kurungan silinder bertutupkan kain kassa berkerangka kawat besi, berdiameter 16 cm dengan tinggi 20 cm. Di dalam setiap kurungan dipaparkan masing-masing lima jenis buah, yaitu anggur, belimbing, jambu biji, jambu kristal, dan pepaya. Buah yang digunakan adalah buah yang sudah matang tanpa adanya kerusakan yang disebabkan oleh hama maupun patogen.

Buah tersebut dibuat irisan dengan ukuran 2 cm x 2 cm x 1 cm (Gambar 2a), kemudian digantung dengan benang yang ujungnya diikatkan pada permukaan atas kerangka kurungan. Posisi buah dilakukan pengacakan pada setiap harinya. Di dalam kurungan tersebut dilengkapi juga dengan pakan seperti diuraikan pada pemeliharaan massal lalat (Gambar 2b). Setiap buah matang yang digunakan pada perlakuan tersebut diukur tingkat kekerasannya menggunakan alat penetrometer controller digital PRECISION 2000 (Gambar 2c). Di dalam kurungan tersebut disertakan juga tabung plastik film silindris untuk media peneluran seperti telah diuraikan sebelumnya. Kurungan yang telah berisi serangga diletakkan di dalam ruang pemeliharaan pada suhu 25 ºC – 26 oC dengan kelembapan nisbi 80-85%. Perlakuan pemaparan ini diulang sebanyak lima kali. Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan preferensi peneluran B. papayae terhadap lima jenis inang yang disukai, serta mengamati pengaruh warna, kekerasan dan aroma buah dalam pemilihan inang B. papayae, sehingga dapat menjadi parameter dalam melakukan tindakan pemgendalian lalat buah spesies B. papayae.

(15)

5

Gambar 2 Irisan buah uji (a), kurungan (b), alat pengukuran kekerasan buah (c)

Setelah 24 jam pemaparan, buah dikeluarkan dari dalam kurungan. Jumlah telur pada masing-masing perlakuan diamati dan dihitung dengan membelah buah terinfestasi telur lalat buah menggunakan jarum bertangkai di bawah mikroskop stereo. Persentase preferensi peneluran pada setiap buah uji dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Preferensi peneluran % = ∑telur B. papayae pada tiap jenis buah

∑total telur x100%

Uji Kemampuan Lama Hidup Imago dan Keperidian B. papayae

Lalat B. papayae yang digunakan pada pengujian ini adalah imago jantan dan betina berumur 10 hari setelah keluar dari pupa. Sepasang imago lalat dimasukkan ke dalam setiap kurungan plastik berbentuk silindris, bertutupkan kain kasa, berdiameter 8 cm, dan tinggi 10 cm. Setiap kurungan dilengkapi dengan potongan buah untuk media peneluran seperti diuraikan di atas serta diberikan variasi suplemen pakan tambahan pada enam perlakuan.

Modifikasi enam perlakuan media peneluran dan pakan tambahan diuraikan sebagai berikut: jambu biji (J), jambu biji dan spons berisi serapan air (J+A), jambu biji dan gula pasir (J+G), jambu biji dan protein hidrolisat (J+PH), jambu biji, spons berisi serapan air, serta campuran gula dan protein hidrolisat dengan perbandingan 4:1 (J+A+G+PH), dan perlakuan kontrol yaitu media peneluran tanpa jambu biji yang disubstitusi menggunakan tabung film seperti pada perlakuan pemeliharaan serangga stok, ditambah dengan spons berisi serapan air, serta campuran gula dan protein hidrolisat (K+A+G+PH). Seluruh pengujian pemaparan tersebut dilakukan di laboratorium dengan kondisi suhu ruangan berkisar antara 25 ºC – 26 oC dan kelembapan nisbi 80-85%. Setiap perlakuan pemaparan diulang sepuluh kali.

Setelah 24 jam waktu pemaparan, media peneluran jambu dan tabung diganti dengan yang baru. Jumlah telur yang disisipkan pada kedua media tersebut dihitung dengan cara yang sama seperti di atas. Pemaparan dilakukan setiap hari hingga pasangan imago uji mati. Lama hidup lalat jantan dan betina pada setiap perlakuan dihitung dan dicatat untuk mengamati pengaruh perlakuan terhadap umur imago B. papayae.

Kemampuan Tetas Telur B. papayae

Telur lalat buah B. papayae yang diperoleh dari masing-masing hasil pengujian keperidian imago lalat buah di atas. Selanjutnya diinkubasikan pada

(16)

6

suhu ruang laboratorium yang sama selama dua hari. Telur yang berasal dari tabung film dipindahkan terlebih dahulu pada media pakan buatan untuk pemeliharaan larva. Jumlah larva yang berhasil keluar dari telur fertil hasil perlakuan imago dan telur steril yang tidak menetas dihitung dan dicatat. Persentase fertilitas telur dihitung dengan menggunakan rumus:

Fertilitas telur % = ∑telur fertil

∑total telur fertil+telur steril

Analisis Data

(17)

HASIL DAN PEMBAHASAN

terdiri atas tiga instar. Larva hidup dan berkembang dalam daging buah selama 6-9 hari. Keberadaan larva di dalam buah dapat memicu pertumbuhan dan kehidupan organisme pembusuk lainnya yang dapat mempercepat terjadinya pembusukan buah. Larva instar III biasanya menjatuhkan diri ke tanah sebelum berubah menjadi pupa. Masa pupa berlangsung 4-10 hari dan setelah itu pupa menjadi imago. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan lalat buah tersebut relatif sama dengan stadium masing-masing fase yang dilaporkan Soeroto et al. (1995) dan Siwi (2005). Sehingga dari hasil pemeliharaan ini diperoleh umur imago yang seragam untuk digunakan dalam pengujian preferensi peneluran, keperidian serta lama hidup imago B. papayae.

Tabel 2 Lama stadium perkembangan B. papayae pada pakan buatan

Fase Jumlah individu (n) Stadium (hari)

Telur 1 422 2-3

Larva 836 6-8

Pupa 628 7-9

Preferensi Peneluran B. papayae pada Lima Jenis Inang

Pemaparan lalat B. papayae pada lima jenis buah inang di dalam satu kurungan berpengaruh nyata terhadap perilaku pemilihan peletakkan telur pada setiap jenis dan kekerasan buah tertentu (Tabel 3). Hasil percobaan menunjukkan bahwa imago lalat paling menyukai buah anggur sebagai media peletakkan telur tidak berbeda nyata dengan buah jambu biji, jambu kristal dan pepaya dengan tingkat preferensi berkisar antara 17.42 - 25.10% yang berjumlah 22.6-32.8 butir/imago/5 hari, yang kemudian diikuti buah belimbing 12.97% dengan jumlah 17 butir/imago/5 hari yang nyata berbeda terhadap buah anggur, namun tidak berbeda nyata terhadap ketiga buah lainnya. Peletakkan telur paling sedikit nyata dijumpai pada media tabung plastik, yaitu hanya sebesar 4.47% dengan jumlah 6 butir/imago/5 hari dibandingkan dengan peletakkan telur pada media buah.

(18)

8

bahwa aroma buah belimbing relatif kurang menarik dipilih oleh lalat buah dibandingkan anggur, jambu biji, jambu kristal, dan pepaya. Menurut Allwood (1996) lalat buah mencari makan dan tempat untuk beroviposisi dimulai dengan penempatan sebuah habitat dengan menggunakan isyarat penciuman dan penglihatan. Komponen volatil pada buah yang matang merupakan rangsangan yang mengundang imago lalat buah untuk mendekat ke tanaman inang. Lalat buah berhenti dekat sumber aroma buah, kemudian hinggap lebih lama pada buah tersebut dan melakukan kopulasi dan juga beroviposisi. Peletakan telur dipengaruhi oleh bentuk, warna, dan tekstur buah (Siwi 2005). Menurut Rahayu (2011), lalat buah Bactrocera lebih tertarik terhadap warna kuning dan merah yang dilakukan pengujian pada bola berwarna dengan tiga jenis atraktan. Oleh karena itu, buah anggur yang memiliki tekstur kematangan buah yang lunak serta kulit buah yang berwarna merah dapat menjadi penyebab imago betina tertarik untuk hinggap dan meletakkan telur di dalam buah.

Keadaan yang berbeda saat lalat meletakkan telur pada media buatan berbahan plastik berlubang, yang diduga bahwa peletakkan telur terjadi karena adanya kesempatan penusukan ovipositor secara acak pada lubang atau lekukan tersebut dalam kondisi di dalam ruangan atau kurungan yang terbatas. Allwood (1996) juga menyatakan bahwa lalat buah tropis cenderung memilih buah yang matang atau lunak dan meletakkan telur pada permukaan buah yang berlekuk, seperti pada retakan atau pada bagian permukaan buah yang rusak akibat aktivitas makan oleh organisme lain seperti burung, kelelawar buah, tikus, atau serangga lain. Buah anggur memiliki nilai preferensi oviposisi yang lebih tinggi dari buah belimbing, sehingga dapat berpotensi sebagai inang sumber infestasi B. papayae

yang tinggi.

Tabel 3 Preferensi peneluran lalat buah B. papayae pada lima jenis buah inang

Jenis buah TKB*

*TKB = Tingkat kekerasan buah dinyatakan dengan kemampuan jangkauan penetrasi jarum uji (mm) pada setiap ketebalan buah (mm) dalam waktu tertentu (detik).

** Angka rerata pada kolom yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf 5%.

(19)

9

makan pada produk buah seperti pada buah yang busuk, buah yang rusak, cairan buah, nektar, feses hewan, dan embun madu. Sumber utama protein lalat buah diperoleh dari bakteri golongan Enterobacteriaceae. Kelima macam buah yang digunakan pada percobaan ini memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan yang menarik pemilihan inang oleh imago lalat buah, walaupun memiliki komposisi jumlah yang berbeda (Tabel 4). Oleh karena itu, kelima jenis buah tersebut dapat digunakan sebagai inang lalat buah di alam (CAB International 2007).

Tabel 4 Kandungan nutrisi buah inang lalat B. papayae*

Jenis buah Komposisi komponen kimia buah per 100 g berat buah Protein (g) Karbohidrat (g) Gula (g) Vitamin C (mg)

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pemberian nutrisi protein pada pakan imago jantan maupun betina lalat B. papayae dapat memperpanjang lama hidup imago (Tabel 5). Lama hidup imago betina rata-rata 43.80-74.10 hari relatif lebih panjang dibandingkan dengan imago jantan rata-rata 41.10-64.70 hari. Umur

B. papayae pada perlakuan tanpa protein hidrolisat, yaitu J, J+A, J+G relatif lebih pendek dari perlakuan protein hidrolisat seperti pada J+PH, J+A+G+PH dan kontrol. Menurut Siwi (2005), siklus hidup lalat buah mulai dari telur sampai imago di daerah tropis berlangsung lebih kurang 27 hari. Lama hidup imago betina berkisar antara 23-27 hari dan imago jantan antara 13-15 hari. Sebaliknya, Noor et al. (2011) melaporkan bahwa lama hidup imago jantan B. papayae

(20)

10

Selain itu, pengaruh suhu dan kelembaban ruangan selama perlakuan dapat mempengaruhi lama hidup imago dan tingginya produktivitas telur. Selama pengujian berlangsung, kondisi suhu dan kelembapan ruangan relatif stabil, yaitu pada suhu ruangan 25 ºC – 26 °C dan kelembapan udara 80-85%. Kondisi tersebut dianggap optimal bagi lalat buah untuk hidup, berkembang, bereproduksi, dan bertahan hidup. Menurut Allwood (1996), suhu ideal untuk perkembangan lalat buah berkisar antara 25 oC dan 30 oC. Suhu di bawah 21 oC dapat menghambat perkembangan lalat buah pada tahap pra dewasa. Maksimum produksi telur lalat buah terjadi pada suhu antara 25 oC dan 30 oC. Kisaran suhu tersebut berhubungan dengan suhu di daerah Pasifik bagian selatan, yang umumnya lalat buah memproduksi banyak generasi per tahun dan memiliki kemampuan berkembangbiak sepanjang waktu dalam satu tahun selama tanaman inang tersedia. Menurut Siwi (2005), jenis pakan yang banyak mengandung asam amino, vitamin, mineral, air, dan karbohidrat dapat memperpanjang umur serta meningkatkan keperidian lalat buah. Oleh karena itu, panjangnya umur lalat

B. papayae pada penelitian ini diduga dipengaruhi oleh kondisi suhu dan kelembapan ruangan optimal serta ketersediaan pakan yang cukup selama perlakuan. berbeda nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf 5%.

.

Protein hidrolisat meningkatkan produksi telur lalat B. papayae (Tabel 6). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peran protein hidrolisat yang diberikan pada perlakuan J+PH menghasilkan jumlah telur yang nyata sangat tinggi selama hidupnya, yaitu mencapai 1 092 butir/betina, diikuti J+A+G+PH, dan paling rendah kontrol K+A+G+PH, berturut-turut 750.4 dan 552.6 butir/betina. Sebaliknya, perlakuan pakan tanpa protein hidrolisat mengakibatkan lalat tidak memproduksi telur sama sekali. Perlakuan pemberian protein hidrolisat relatif tidak menunjukkan perbedaan pada kemampuan penetasan telur lalat B. papayae

(21)

11

Perlakuan protein hidrolisat tunggal dapat mempercepat peletakkan telur lalat buah dan memiliki jumlah telur paling tinggi dibandingkan perlakuan campuran air dan gula (Gambar 1). Jumlah telur yang diletakkan B. papayae

setiap hari mengalami fluktuasi, perlakuan J+PH pada hari ke-20 dan 26 mencapai puncak produksi tertinggi yang kemudian berangsur-angsur menurun mulai hari ke-59 hingga puncak peletakan telur terendah pada hari ke-83. Pada perlakuan papayae tersebut. Menurut Allwood (1996), lalat buah dewasa membutuhkan sumber karbohidrat, air, dan protein untuk mencapai kematangan seksual.

(22)

SIMPULAN DAN SARAN

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Allwood AJ. 1996. Biology and ecology: prerequisites for understanding and managing fruit flies (Diptera: Tephritidae). Di dalam: Allwood AJ, editor.

Proceeding of Management of Fruit Flies in the Pacific No.76; 1996 Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian Centre for International Agricultural Research. hlm 95-101.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi tanaman buah-buahan [Internet]. [diunduh 2015 Agust 18]. Tersedia pada: http//www.bps.go.id.

[CABI] Commonwealth Agricultural Bureaux International. 2007. Crop protection compendium. Wallingford (UK): CAB International.

Drew RAI, Romig MC. 1996. Tephritidae in the Pacific and Southeast Asia. Di dalam: Allwood Aj, editor. Proceeding of Management of Fruit Flies in the Pacific No.76; 1996 Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian Centre for International Agricultural Research. hlm 46-53.

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Lan PA van der, penerjemah. Jakarta (ID): Ichtiar Baru-van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.

Kuswadi AN. 2011. Kerusakan morfologis dan histologis organ reproduksi lalat buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) (Diptera: Tephritidae) jantan yang dimandulkan dengan iradiasi gamma. J Batam. 7(1):1-9.

Lloyd A, Drew RAI 1997, Modification and testing of brewery waste yeast as a protein source for fruit fly bait. Di dalam: Allwood AJ, editor.

Proceeding of Management of Fruit Flies in the Pacific No.76; 1996 Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian Centre for International Agricultural Research. hlm 192-198.

Noor M, Azura AN, Muhamad R. 2011. Growth and development of Bactrocera papayae (Drew & Hancock) feeding on guava fruits. J Basic and Applied Sciences. 5(8): 111-117.

Rahayu GA. 2011. Keefektifan tiga atraktan menggunakan bola berwarna dalam menangkap imago lalat buah pada jambu biji di kecamatan tanah sareal kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Setyadjit. 2009. Pengembangan agribisnis buah. Di dalam: Broto W, editor.

Teknologi Penanganan Pascapanen Buah Untuk Pasar. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. hlm 87-101. Setyabudi DA. 2009. Bangsal penanganan pascapanen buah. Di dalam: Broto W,

editor. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah Untuk Pasar. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. hlm 47-6-8.

Siwi SS. 2005. Eko-biologi Hama Lalat Buah. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik.

Soeroto, Wasiati, Chalid NI, Henrawati T, Hikmat A. 1995. Petunjuk Praktis Pengendalian Lalat Buah. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Tanaman Pangandan Hortikultura.

Tsatsia F, Hollingsworth RG. 1996. Rearing Techniques for Dacus solomonensis

(24)

14

Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian Centre for International Agricultural Research. Hlm 157-160.

[USDA] United States Department of Agriculture. 2014. National Nutrient Database for Standard Reference Release 27 [Internet]. [diunduh 2015 agus 6]. Hlm 1. Tersedia pada: http://www.ars.usda.gov.

(25)
(26)

Lampiran 1 Total telur preferensi inang B. papayae pada lima jenis buah

Ulangan

Jumlah telur pada inang (butir/15 betina)

Anggur Belimbing Jambu biji Jambu kristal Pepaya Kontrol

1 302 190 397 375 439 69

2 562 201 376 407 205 93

3 460 371 297 377 169 104

4 732 316 449 585 584 88

5 400 191 460 191 308 84

Total telur 2 456 1 179 1 979 1 935 1 705 438

Lampiran 2 Lama hidup imago lalat buah B. papayae

Ulangan

Umur imago pada tiap perlakuan (hari)

Ja J+A J+G J+PH J+A+G+PH Kontrol

Jb B J B J B J B J B J B

1 52 53 45 45 47 50 73 85 72 85 67 55

2 27 55 54 54 35 59 45 55 48 74 67 58

3 51 51 32 27 57 52 28 78 66 53 58 65

4 50 50 58 44 50 55 70 64 66 54 57 59

5 57 59 28 43 56 54 77 83 76 87 63 44

6 53 47 44 54 59 31 54 61 60 58 68 56

7 58 54 39 56 55 43 53 79 67 69 48 45

8 36 36 33 33 28 31 70 85 66 61 47 45

9 59 54 40 40 58 48 58 81 68 83 62 57

10 32 32 38 42 40 57 66 70 58 59 68 68

Rata-rata 47 49 41 44 49 48 59 74 65 68 61 55

a

J = jambu biji, A = air, G = gula, PH = protein hidrolisat. b

J= jantan, B = betina.

(27)

17

Lampiran 3 Keperidian imago betina lalat buah B. papayae

Ulangan Jumlah telur B. papayae (butir/betina)

Ja J+A J+G J+PH J+A+G+PH Kontrol+PH

1 0 0 0 1 059 755 693

2 0 0 0 1 097 1 242 776

3 0 0 0 936 492 644

4 0 0 0 940 830 1 036

5 0 0 0 1 121 712 203

6 0 0 0 837 1 135 636

7 0 0 0 1 590 922 109

8 0 0 0 1 090 180 376

9 0 0 0 1 145 174 659

10 0 0 0 1 110 1 062 394

Total 0 0 0 10 925 7 504 5 526

a

(28)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banda Aceh, 14 September 1993. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Syamsul Bahri dan Ibu Marwati. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh. Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa program studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN Undangan.

Gambar

Tabel 1 Komposisi pakan buatan larva buah B. papayae (Kuswadi et al.1999)
Gambar 1  Kurungan pemeliharaan  B. papayae (a), bahan pakan imago (b).
Gambar 2  Irisan buah uji (a), kurungan (b), alat pengukuran kekerasan buah (c)
Tabel 2 Lama stadium perkembangan B. papayae pada pakan buatan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak daun tembakau efektif menekan mortalitas lalat buah imago betina 100% pada 48 jam setelah aplikasi dan 72 jam setelah aplikasi

dorsalis (Diptera : Tephritidae) Pada Beberapa Fase Warna Kematangan Buah Jeruk Tanah Karo di Laboratorium” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di

dorsalis (Diptera : Tephritidae) Pada Beberapa Fase Warna Kematangan Buah Jeruk Tanah Karo di Laboratorium” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di

Lalat buah betina akan meletakkan telur lebih cepat dalam kondisi yang terang,.. sebaliknya pupa lalat tidak akan menetas apabila terkena cahaya

Hasil tertinggi pada rataan durasi waktu ketertarikan imago lalat buah betina pada beberapa limbah terdapat pada perlakuan A3 (limbah kakao) sebesar 60.48 menit dan terendah

Senyawa atraktan yang mengandung protein dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk pengendalian lalat buah, sehingga lalat buah jantan dan betina bisa tertarik dan