PERBANDINGAN PERTUMBUHAN BAYI YANG DIBERI AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF DENGAN PENGGANTI AIR SUSU IBU (PASI)
DI KELURAHAN KEBON JERUK JAKARTA Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
OLEH : Wulan Ambarwati NIM : 108104000012
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
iv
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli Saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang Saya gunakan dalam penulisan ini telah Saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli Saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka Saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Maret 2014
vi Nama : Wulan Ambarwati
Tempat/tgl Lahir : Jakarta, 27 September 1989 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat : Jl. H. Marzuki Rt 004 Rw 003 No. 22B, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530
Telp/email : 083893838180/[email protected]
Riwayat Pendidikan
TK Risanti II, Jakarta (1994-1996)
SDN Percontohan 11 Pagi, Jakarta (1996-2002)
SMPN 127, Jakarta (2002-2005)
SMAN 101, Jakarta (2005-2008)
S-1 Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008-sekarang)
Riwayat Organisasi
Ketua Pramuka SDN Percontohan 11 Pagi, Jakarta (2000-2001) Anggota Dokter Kecil SDN Percontohan 11 Pagi Jakarta (2001-2002) Sekretaris OSIS SMPN 127 Jakarta (2004-2005)
vii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1.
Ibunda tercinta “Usriani” terimakasih sebesar
-
besarnya atas segala do’a
yang tak henti dipanjatkan, curahan kasih sayang, kesabaran,
pengorbanan serta motivasi yang selama ini Ibu berikan sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan penuh semangat.
2.
Ayahanda “Miselan” terimakasih yang sebesar
-besarnya atas doa yang
senantiasa menyertai dalam setiap langkah penulis, dorongan moril dan
materil yang diberikan dan seuntaian kasih sayang.
3.
Bapak/Ibu dosen PSIK FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ,
terimakasih atas segala bekal ilmu dan motivasi serta bimbinganmu
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir perkuliahan dengan
baik.
4.
Kakakku tercinta “Mas Agus Andriantoro” terimakasih atas semua kasih
viii
yang tulus , setia menemani selama menjalani perkuliahan, selalu
memberikan yang terbaik untuk penulis, terimakasih atas perhatian dan
kesetiaannya.
6.
Sahabat-
sahabatku “Dita Puspita, Khaerunissa,
Marina Ulfa, Mayang
Setyo M, Desi Ratna S. terimakasih atas motivasi yang diberikan, berbagi
suka duka, kasih sayang yang tercurahkan dengan tulus sehingga penulis
semangat dalam menjalankan perkuliahan.
7.
Teman-teman PSIK FKIK 2008 yang tak bisa Penulis sebutkan.
Terimakasih untuk saling memotivasi satu sama lain. Semoga selalu
viii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi, Januari 2013
Wulan Ambarwati, NIM: 108104000012
Perbandingan Pertumbuhan Bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dengan Pengganti Air Susu Ibu (PASI) di Kelurahan Kebon Jeruk
X + 86 halaman + 12 tabel + 2 gambar + 2 bagan + 6 lampiran
ABSTRAK
Pertumbuhan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung dalam ASI. Pemberian ASI di Indonesia mengalami penurunan, masyarakat lebih memilih PASI yang digambarkan bahwa PASI dapat menjadikan anak lebih cerdas, montok, lucu dibandingkan anak yang hanya diberikan ASI. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan bayi 6 sampai 7 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan bayi 6 sampai 7 bulan yang diberikan PASI di Kelurahan Kebon Jeruk Jakarta Barat, pertumbuhan yang diukur terdiri dari berat badan, panjang badan dan lingkar kepala. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian Cross-Sectional. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat (Uji T independent). Waktu penelitian pada tanggal 23 Oktober hingga 4 Nopember 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi usia 6 sampai 7 bulan yang tinggal di Kelurahan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Sampel pada penelitian ini adalah keluarga yang memiliki bayi usia 6 sampai 7 bulan di Kelurahan Kebon Jeruk dengan menggunakan uji hipotesis beda dua proporsi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan dari 70 sampel didapatkan hasil selisih rata-rata berat badan bayi yang diberikan ASI 3205,71 gram, PASI 4834,29 gram dengan nilai eta 0,670. Selisih rata-rata panjang badan bayi ASI 15,057 cm, PASI 17,071 cm dengan nilai eta 0,083. Selisih rata-rata lingkar kepala bayi ASI 9,829 cm, PASI 9,657 cm dengan nilai eta 0,0076. Ada perbedaan pertumbuhan bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan bayi yang diberikan PASI di Kelurahan Kebon Jeruk tahun 2012.
ix
ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLLAH JAKARTA
Undergraduates Thesis, January 2013 Wulan Ambarwati , NIM: 108104000012
Comparison of the Growth infants given breast milk exclusively (ASI) with Breast milk substitutes (PASI) in the Kebon Jeruk Village Jakarta
X + 86 pages + 12 tables + 2 images + 2 charts + 6 attachment
ABSTRACT
Infants growth are largely determined by the amount of breastfeeding, including energy and other nutrients contained in milk. Breastfeeding in Indonesia has decreased, people prefer PASI described that may make children more intellegent, buxom, funny compared to infants given only breastfeeding. Aims of research is compare the infants growth 6 to 7 months exclusively breastfed at 6 to 7 months infants given PASI in the Kebon Jeruk Village of West Jakarta, while the measured growth consisting of body weight, body length and head circumference. This research is quantitative analytical research using cross-sectional research design. Analysis of the data used are univariate and bivariate (independent T test). Research time on 23 October to 4 November 2012. The population in this study were infants aged 6 to 7 months of living in Kebon Jeruk Village, West Jakarta. The sample is a family that has a baby aged 6 to 7 months in Kebon Jeruk Village test hypotheses using two different proportions. The data was collected using questionnaires and direct measurement. The results showed 70 samples obtained from the average yield weight infants given breast milk 3205.71 grams, while PASI 4834.29 0.670 grams with a value of eta. The average length of breastfed 15.057 cm and 17.071 cm PASI eta value of 0.083. The average breastfed baby's head circumference 9.829 cm and 9.657 cm PASI eta
value 0.0076. There are differences in the growth of babies exclusively breastfed infants given with PASI in the Kebon Jeruk Village in 2012.
x
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T yang telah memberikan segala nikmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal skripsi yang berjudul “Perbandingan Pertumbuhan Bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dengan Pengganti Air Susu Ibu (PASI) di Kelurahan Kebon Jeruk”.
Proposal penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar sarjana keperawatan (S.Kep), untuk menerapkan dan mengembangkan teori-teori yang penulis peroleh selama kuliah.
Penulis menyadari bahwa penyajian proposal penelitian ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bertujuan untuk perbaikan proposal ini.
Proposal skripsi ini tentunya tidak akan selesai, tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. dr. MK Tajudin, Sp.And selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Ns, Waras Budi Utomo, S.Kep. MKM selaku kepala program studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Ns. Eni Nuraini Agustini, S.Kep, M.Sc selaku sekretaris program studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
xi
6. Bapak dan ibu dosen Program Studi Ilmu Keperawatan yang telah mengajarkan dan membimbing penulis, serta staf akademik (Bapak Azib Rosyidi S. Psi) atas bantuannya yang telah memudahkan dalam proses birokrasi.
7. Orang tua tercinta (Ibu dan Bapak) atas kasih sayang, doa dan dukungannya baik secara material dan spiritual yang telah diberikan kepada penulis selama ini. Semoga kebaikan dan pengorbanan kalian tidak akan sia-sia dan akan dibalas oleh Allah SWT. Semoga penulis dapat menjadi seperti apa yang kalian harapkan. Amin. 8. Kakak yang tersayang (Mas Agus Andriantoro) yang selalu memberikan dukungan
dan doa serta yang menjadi inspirasi penulis.
9. M. Ridwan Darmawan yang telah memberikan motivasi agar segera menyelesaikan skripsi, memanjatkan doa serta menjadi inspirasi bagi penulis.
10. Teman-temanku Marina Ulfa, Mayang Setyo Magnawiyah, Dita Puspita dan Khaerunissa serta teman-teman PSIK angkatan 2008 yang telah memberikan masukan dan semangat kepada peneliti.
Peneliti menyadari dalam pembuatan proposal skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dari berbagai pihak. Semoga proposal skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan penyusun khususnya.
Wassalamu’alaikum wr.wb
Ciputat, Januari 2013
xii
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR BAGAN ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Ruang Lingkup Penelitian... 11
xiii
3. Indikator Pertumbuhan... 22
4. Antropometri ... 23
5. Kurva Pertumbuhan ... 28
B. Air Susu Ibu (ASI) ... 30
1. Pengertian ASI ... 30
2. Pengertian ASI Ekslusif ... 31
3. Manfaat ASI ... 33
4. Jenis-jenis ASI ... 36
5. Komposisi ASI ... 38
C. Pengganti Air Susu Ibu (PASI) ... 41
1. Pengertian Pengganti Air Susu Ibu ...41
2. Jenis Pengganti Air Susu Ibu ... 42
3. Manfaat Susu Formula ... 44
4. Komposisi Susu Formula ... 46
D. Kerangka Teori ... 48
BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep ... 50
B. Hipotesis ... 51
C. Definisi Operasional ... 53
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 58
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 58
xiv
D. Metode Pengumpulan Data ... 62
E. Pengolahan Data ... 64
F. Etika Penelitian ... 67
BAB V HASIL PENELITIAN A. Gambaran Tempat Penelitian ... 69
B. Gambaran Sampel Penelitian ... 70
C. Analisis Univariat ... 71
D. Analisis Bivariat... 72
BAB VI PEMBAHASAN A. Pembahasan variabel Penelitian Analisis Bivariat ... 77
B. Keterbatasan Penelitian ... 82
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 84
xv No. Tabel
Tabel 2.1 Pertumbuhan Rata-rata Bayi Usia 0 sampai 6 Bulan 23 Tabel 2.2 Perbandingan Komposisi ASI dan PASI (Susu Sapi) untuk tiap 100 ml 38
Tabel 2.3 Porsi Pemberian Susu Formula 43
Tabel 3.1 Definisi Operasional 53
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Bayi Usia 6-7 Bulan Berdasarkan Nutrisi 70 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Bayi Usia 6-7 Bulan Berdasarkan Jenis Kelamin 71 Tabel 5.3 Rata – rata Selisih Berat Badan Bayi Berdasarkan Nutrisi 71 Tabel 5.4 Rata – rata Selisih Panjang Badan Bayi Berdasarkan Nutrisi 72 Tabel 5.5 Rata – rata Selisih Lingkar Kepala Bayi Berdasarkan Nutrisi 72 Tabel 5.6 Perbandingan Pertumbuhan Berat Badan Bayi yang diberi ASI Eksklusif dengan
Bayi yang diberikan PASI Usia 6-7 bulan 73
Tabel 5.7 Perbandingan Pertumbuhan Panjang Badan Bayi yang diberi ASI Eksklusif dengan
Bayi yang diberikan PASI Usia 6-7 bulan 74
Tabel 5.8 Perbandingan Pertumbuhan Lingkar Kepala Bayi yang diberi ASI Eksklusif dengan
xvi
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Hal
Gambar 2.1 Perubahan proporsi tubuh dari sebelum lahir sampai masa dewasa 15 Gambar 2.2 Cara pengukuran lingkar kepala, dada, abdomen dan panjang badan
xvii No Bagan
Bagan 2.1 Kerangka Teori 49
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran
1. Lampiran Permohonan Izin Penelitian
2. Lampiran Permohonan Kesediaan Menjadi Responden 3. Lampiran Persetujuan Bersedia Menjadi Responden 4. Lampiran Kuesioner I (Identitas Responden)
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal untuk meningkatkan mutu kehidupan bangsa. Kekurangan gizi, terutama pada anak-anak akan menghambat proses tumbuh kembang. Pertumbuhan yang terjadi pada seseorang meliputi perubahan fisik seperti panjang badan, berat badan, lingkar kepala, dan lain-lain. Perkembangan yang dialami seorang anak merupakan rangkaian perubahan secara teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dan berlaku secara umum, misal: anak berdiri dengan satu kaki, berjinjit, berjalan, menaiki tangga, berlari dan seterusnya. Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap faktor tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Berhman, 2000).
2
berhentinya pertumbuhan tulang. Faktor lingkungan merupakan lingkungan bio–psiko–sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang (Berhman, 2000).
Pemberian nutrisi secara mencukupi pada bayi harus sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai anak berumur 4 sampai 6 bulan (Nursalam, 2005).
Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan usia sekitar enam bulan. Pemberian ASI tanpa pemberian makanan lain selama enam bulan tersebut melalui menyusui secara eksklusif. WHO (2006), ASI eksklusif adalah bayi hanya menerima ASI dari ibu atau pengasuh yang diminta memberikan ASI dari ibu, tanpa penambahan cairan atau makanan padat lain, kecuali sirup yang berisi vitamin, suplemen mineral atau obat.
beranggapan bahwa kualitas susu formula dapat menggantikan ASI, bahkan mutunya lebih baik daripada ASI (Chomaria, 2011).
Menurut King (1993 dalam Chomaria 2011), sindrom “bayi botolan” melanda negara berkembang karena banyak ibu bahkan yang miskin dan berpendidikan rendah sekalipun, termakan rayuan dan janji susu formula. Bayi montok, lucu, dan berkulit putih menjadi harapan banyak ibu, hal ini menyebabkan para ibu lebih suka memberikan bayi mereka susu formula, walau penyajiannya tidak sesuai dengan petunjuk takaran (sangat encer) sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang bayinya. Data menunjukkan bahwa jumlah ibu yang menyusui bayinya semakin berkurang sedangkan jumlah ibu yang menggunakan susu formula untuk bayinya semakin meningkat.
Penggunaan susu formula menjadikan anak-anak tidak mendapatkan apa yang telah menjadi hak dasarnya. Anak akan terjauhkan dari interaksi hangat yang berupa penyatuan ragawi, dekapan dan belaian ibu sejak dini, karena anak merupakan amanah dan menyusui anak merupakan naluri alamiah seorang ibu. Di masyarakat sekitar, perilaku tidak memberikan ASI eksklusif telah diterima dengan wajar dan ibu yang melakukannya tidak merasa terbebani, padahal secara moral tindakan mereka salah. Betapa ibu telah kehilangan sisi naluriah keibuannya dengan tega tidak memberikan apa yang telah menjadi hak anak (Chomaria, 2011).
Kurva pertumbuhan yang diterbitkan oleh National Center for Health
4
dari berat lahir saat usia 6 bulan, berat badan bayi yang mendapat ASI lebih
ringan dibanding bayi yang mendapat susu formula sampai usia 6 bulan.
Hal ini tidak berarti bahwa berat badan bayi yang mendapat susu formula
lebih baik dibanding bayi yang mendapat ASI. Berat berlebih pada bayi
yang mendapat susu formula justru menandakan terjadi kegemukan.
Kegemukan ini dapat berlangsung hingga beranjak dewasa nanti. Adapun
bayi yang diberi ASI tidak perlu khawatir akan kegemukan, karena ASI
menyesuaikan kebutuhan energi tubuh bayi itu sendiri. Kurva pertumbuhan
yang normal adalah kurva bayi yang mendapat ASI, yaitu membandingkan
Berat Badan anak saat ini dengan Berat Badan Ideal berdasarkan Growth Chart dari CDC atau WHO (Putriani, 2010)
ASI eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan bayi, maka
Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat keputusan Menteri
Kesehatan nomor: 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI
eksklusif. ASI eksklusif diberikan sejak bayi lahir sampai bayi berumur 6
bulan dan dilanjutkan sampai umur 2 tahun dan pemberian makanan
tambahan yang sesuai. Tenaga kesehatan yang bekerja di sarana pelayanan
kesehatan agar menginformasikan kepada ibu hamil yang baru melahirkan
untuk memberi ASI eksklusif dan tenaga kesehatan harus
menginformasikan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui
(LMKM), (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
kondisi yang menyebabkan ibu hanya dapat memberikan Pengganti Air Susu Ibu (PASI). Sulistijani (2001) mengungkapkan pemberian PASI dapat dimengerti jika alasan bayi sakit seperti kekurangan cairan, radang mulut atau infeksi paru-paru, bayi lahir dengan berat badan rendah, bayi lahir sumbing (bawaan). Pemberian PASI juga dapat disebabkan oleh masalah pada pihak ibu seperti jumlah dan mutu ASI kurang memadai sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi, ibu menderita sakit, seperti ginjal atau penyakit menular, ibu menderita infeksi, luka puting, mastitis, ibu mengalami gangguan jiwa atau epilepsi dan ibu sedang menjalani terapi obat yang tidak aman bagi bayi.
Makanan PASI berupa susu formula dapat diberikan dengan alasan-alasan tersebut di atas. Umumnya susu formula untuk bayi terbuat dari susu sapi yang susunan zat gizinya diubah sedemikian rupa sehingga dapat diberikan kepada bayi tanpa menimbulkan efek samping. ASI merupakan nutrisi yang paling ideal untuk bayi maka perubahan yang dilakukan pada komponen gizi susu sapi harus mendekati susunan zat gizi ASI. Meskipun para ahli teknologi pangan telah berusaha untuk memperbaiki susunan zat gizi susu sapi agar komposisinya mendekati susunan zat gizi ASI, sampai saat ini usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang baik (Krisnatuti, 2004).
organisme-6
organisme patogen atau terjadinya kontaminasi yang dapat menyebabkan diare. Pengaturan makanan bayi dengan PASI sama dengan pengaturan makanan dengan ASI. Pemberian PASI dilakukan berdasarkan kebutuhan gizi bayi terutama dalam hal kebutuhan air, energi dan protein.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia
berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan menurun selama 3 tahun
terakhir. Berdasarkan data survey Kesehatan Nasional menunjukkan
bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0–6 bulan turun dari
62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, sedangkan cakupan
pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada
tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 (Susenas 2004-2009 dalam
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011).
Berdasarkan data di atas tampak bahwa pemberian ASI eksklusif di
Indonesia mengalami penurunan yang sesungguhnya ASI eksklusif sangat
dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini
disebabkan oleh gencarnya pemasaran susu formula diberbagai media
khususnya media audio visual (televisi). Media sangat berperan dalam
mengubah satu paradigma berpikir, yang terbukti dengan adanya
pergeseran nilai dan penghargaan antara wanita karir dengan ibu rumah
tangga. Media banyak mengangkat tema perempuan modern sebagai
perempuan yang cerdas dan sukses serta berkiprah di luar rumah. Pada
sebuah iklan susu formula digambarkan seorang ibu dengan memakai
susu untuk buah hatinya. Image masyarakat mulai membenarkan bahwa
ibu dalam iklan tersebut merupakan ibu yang jempolan, karena sebelum
bekerja, ia telah memberikan susu formula dengan kualitas terbaik untuk
anaknya. Pada iklan tersebut, dua pesan telah tersampaikan, yaitu peran
sebagai wanita karir yang sukses serta susu formula untuk kesuksesan
tumbuh kembang anak.
Gencarnya media massa mengangkat pentingnya susu formula yang
dilengkapi dengan berbagai nutrisi menyebabkan kaum ibu merasa
membutuhkan susu tersebut demi tumbuh kembang anaknya. Bayangan
seorang anak yang cerdas, montok, lucu, membuat ibu ingin membentuk
anak-anaknya seperti sosok dalam iklan tersebut. Alhasil, mereka mulai
menciptakan kebutuhan untuk bayinya, bahwa sang bayi memerlukan susu
formula, karena kandungan susu formula lebih unggul daripada ASI.
8
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami obesitas di kemudian hari. Penelitian pada 15.000 anak yang menjadi peserta Nurses’Health Study II di Harvard menemukan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI secara eksklusif atau hampir eksklusif dalam 6 bulan pertama kehidupannya memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami obesitas dibandingkan anak yang mendapatkan susu formula. Risiko berat badan berlebih juga lebih rendah diantara anak-anak yang mendapatkan ASI lebih lama. Hal ini disebabkan karena seorang bayi yang diberikan ASI cenderung mengambil sesuai yang diperlukannya dan kemudian berhenti, sedangkan bayi yang diberi susu formula cenderung mengambil lebih banyak kalori (Walker, 2005).
Studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Juli 2012, di Kelurahan Kebon Jeruk, didapatkan hasil dari 10 responden, 6 bayi mendapatkan PASI, 2 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, dan 2 bayi yang mendapatkan ASI dengan PASI. Berat badan bayi yang mendapatkan PASI terlihat lebih berat dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Rendahnya data bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan tingginya data bayi yang mendapatkan PASI.
bagaimana perbandingan pertumbuhan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan bayi yang sudah diberikan PASI pada usia tersebut. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbandingan pertumbuhan bayi yang diberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dengan Pengganti Air Susu Ibu (PASI) di Kelurahan Kebon Jeruk.
B. Rumusan Masalah
10
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan PASI.
2. Tujuan Khusus
a Mengetahui berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif.
b Mengetahui berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi yang diberikan PASI.
c Mengetahui perbandingan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan yang diberikan PASI.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna baik bagi masyarakat, dan institusi, yaitu :
1. Bagi Kelurahan Kebon Jeruk
2. Institusi Pendidikan Keperawatan
Menambah informasi dan wawasan mahasiswa tentang pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap pertumbuhan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi usia 6 bulan serta sebagai bahan penambahan karya ilmiah pada bagian ilmu keperawatan.
3. Institusi Pelayanan Kesehatan
Memberikan informasi mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif terhadap pertumbuhan bayi usia 6 bulan serta diharapkan pelayanan kesehatan mampu menerapkan program ASI eksklusif selama 6 bulan untuk meningkatkan kesehatan bayi khususnya di wilayah Kebon Jeruk.
E. Ruang Lingkup Penelitian
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pertumbuhan 1. Pengertian
Pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur (Wong, 2008). Pertumbuhan juga dapat diartikan sebagai bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel. Adanya multiplikasi dan pertambahan ukuran sel berarti ada pertambahan secara kuantitatif dan hal tersebut terjadi sejak terjadiya konsepsi, yaitu bertemunya sel telur dan sperma hingga dewasa (UNICEF, 2005). Jadi, pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang, yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran berat badan dan tinggi badan (Nursalam, dkk, 2008).
lahir, yaitu 50% dari total panjang badan. Selanjutnya, pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nursalam, dkk, 2008).
Pola pertumbuhan merupakan peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan pada anak yang dapat mengalami percepatan maupun perlambatan yang saling berhubungan antara satu organ dengan organ yang lain (Hidayat, 2009). Pada peristiwa tersebut akan mengalami perubahan pola pertumbuhan menurut Hidayat (2009), seperti berikut:
a. Pola pertumbuhan fisik yang terarah
Pola ini memiliki dua prinsip atau hukum perkembangan, yaitu prinsip cephalocaudal dan prinsip proximodistal. Pola Cephalocaudal
atau head to tail direction (dari arah kepala kemudian ke kaki) dimulai dari kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan, tangan, dan kaki. Hal tersebut merupakan pola searah dalam pertumbuhan.
14
Ciri-ciri pertumbuhan (Hidayat, 2008):
1) Perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tingggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
2) Perubahan proporsi yang dapat terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
3) Ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan akan hilang, seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks-refleks tertentu.
4) Terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis, atau dada.
Soetjiningsih (2002 dalam Nursalam 2005) menjelaskan bahwa pada umumnya pertumbuhan mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu:
1) Perubahan proporsi tubuh yang dapat diamati pada masa bayi dan dewasa.
3) Kecepatan pertumbuhan tidak teratur yang ditandai dengan adanya masa-masa tertentu, yaitu masa pranatal, bayi, dan remaja, dimana terjadi pertumbuhan cepat dan masa prasekolah dan masa sekolah, di mana pertumbuhan berlangsung lambat.
Gambar 2.1
Perubahan proporsi tubuh dari sebelum lahir sampai masa dewasa
Sumber: Wong (2008).
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
16
a Faktor Herediter
Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak disamping faktor-faktor lain. Faktor herediter meliputi bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas, kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, dan pertumbuhan tulang.
Pertumbuhan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa pubertas.
Ras atau suku bangsa juga memiliki peran dalam pertumbuhan, hal ini dapat dilihat pada suku bangsa tertentu yang memiliki kecenderungan lebih besar atau tinggi, seperti orang Asia yang lebih pendek dan kecil dibandingkan dengan orang Eropa atau lainnya.
1) Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesia atau bangsa lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan.
2) Keluarga
Ada keluarga yang cenderung memiliki tubuh gemuk atau perawakan pendek.
3) Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang mengalami pertumbuhan cepat dibanding dengan masa lainya.
4) Jenis kelamin
Wanita akan mengalami masa prapubertas lebih dahulu dibanding dengan laki-laki.
5) Kelainan kromosom
Penyebab kegagalan pertumbuhan, misalnya sindroma down.
b. Faktor Lingkungan
18
(lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).
1) Lingkungan Prenatal
Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu hamil, lingkungan mekanis, zat kimia atau toksin, dan hormonal.
a) Lingkungan mekanis
Lingkungan mekanis adalah segala hal yang mempengaruhi janin atau posisi janin dalam uterus.
(1) Radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada organ otak janin.
(2) Infeksi dalam kandungan mempengaruhi pertumbuhan janin.
(3) Kekurangan oksigen pada janin mengakibatkan gangguan dalam plasenta sehingga kemungkinan bayi lahir dengan berat badan yang kurang.
(4) Faktor imunitas dapat mempengaruhi pertumbuhan janin karena menyebabkan terjadinya abortus.
(5) Stres dapat mempengaruhi kegagalan tumbuh kembang janin.
b) Zat kimia atau toksin
c) Hormonal
Hormon-hormon ini mencakup hormon somatotropin, plasenta, tiroid, dan insulin. Peran hormon somatotropin (growth hormon), yaitu disekresi kelenjar hipofisis janin sekitar minggu ke-9 dan produksinya meningkat pada minggu ke-20. Hormon plasenta (human placental lactogen) berperan dalam nutrisi plasenta.
2) Lingkungan Postnatal
Selain faktor lingkungan intrauteri terdapat lingkungan setelah lahir yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, seperti budaya lingkungan, sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim atau cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan.
a) Budaya lingkungan
20
tersebut dIbutuhkan untuk perbaikan gizi, maka tentu akan mengganggu atau menghambat masa pertumbuhan.
b) Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Anak dengan keluarga yang memiliki sosial ekonomi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak sosial ekonomi rendah. Demikian juga dengan anak berpendidikan rendah, tentu akan sulit untuk menerima arahan dalam pemenuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan lain yang menunjang dalam membantu pertumbuhan anak.
c) Nutrisi
yang baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang mulai meningkat pada masa bayi dan prasekolah, karena pada masa ini pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat pesat, terutama pertumbuhan otak (Nursalam, 2005).
d) Iklim dan cuaca
Iklim dan cuaca dapat berperan dalam pertumbuhan. Misalnya pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh, namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya. Sebagai contoh, saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit diperoleh.
e) Status Kesehatan
Seperti halnya anak yang sehat dengan yang sakit akan berbeda proses pertumbuhannya. Anak yang sakit akan mengalami perlambatan pertumbuhan. Seperti anak yang mengalami penyakit kronis, pencapaian kemampuan untuk memaksimalkan pertumbuhan akan terlambat karena anak memiliki masa kritis, asupan nutrisi yang didapat berbeda dengan anak yang sehat.
c. Faktor Hormonal
22
somatotropin (Growth Hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilago dan sistem skeletal (Wong, 2000 dalam Hidayat, 2008).
3. Indikator Pertumbuhan
a Pertumbuhan Bayi 0 sampai 6 bulan
Pertumbuhan pada anak dapat dilihat dari pertumbuhan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala (Hidayat, 2008).
1) Berat Badan
Pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjadi dua, yaitu usia 0-6 bulan dan usia 0-6-12 bulan. Untuk usia 0-0-6 bulan pertumbuhan berat badan akan mengalami penambahan setiap minggu sekitar 140-200 gram dan berat badannya akan menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke 6, sedangkan pada usia 6-12 bulan terjadi penambahan setiap minggu sekitar 25-40 gram dan pada akhir bulan ke 12 akan terjadi penambahan tiga kali berat badan lahir.
2) Panjang Badan
3) Lingkar Kepala
Ukuran lingkar kepala bayi ketika lahir normalnya 34-35 cm. Pada usia 6 bulan, lingkar kepala bertambah kurang lebih 8,5 cm, menjadi 43,5 cm.
Tabel 2.1
Pertumbuhan rata-rata bayi usia 0 sampai 6 Bulan Usia Berat Badan
(gram) standar
Panjang Badan (cm) standar Lahir 2.700-3.400 40,5-50,5 1 Bulan 3.400-4.300 43,5-55,0 2 Bulan 4.000-5.000 46,0-58,0 3 Bulan 4.500-5.700 48,0-60,0 4 Bulan 5.000-6.300 49,5-62,5 5 Bulan 5.500-6.900 51,0-64,5 6 Bulan 5.900-7.400 52,5-66,0
Sumber : Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI, 1973 dalam Sutomo, 2010
4. Antropometri
Pengukuran antropometri ini dimaksudkan untuk mengetahui ukuran-ukuran fisik seorang anak dengan menggunakan alat ukur tertentu, seperti timbangan dan pita pengukur (meteran) (Nursalam, 2005).
Ukuran antropometri ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: a. Tergantung umur, yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan umur,
24
pengukuran tersebut, dapat diketahui apakah ukuran yang dimaksud tersebut tergolong normal untuk anak seusianya.
b. Tidak tergantung umur, yaitu hasil pengukuran dibandingkan dengan pengukuran lainnya tanpa memperhatikan umur anak yang diukur, misalnya BB terhadap TB. Ukuran ini digunakan untuk mengetahui apakah proporsi anak tergolong normal (Nursalam, 2005).
Pada penentuan keadaan pertumbuhan fisik anak, perlu dilakukan pengukuran antropometri dan pemeriksaan fisik. Pengukuran antropometri untuk memantau tumbuh kembang anak adalah berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, lipatan kulit, lingkar dada (Nursalam, dkk, 2008).
a. Berat badan (BB)
Menentukan berat badan anak, hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
1) Pengukuran dilakukan dengan memakai alat timbangan yang telah di tera (distandardisasi/dikalibarasi) secara berkala. Timbangan yang digunakan adalah timbangan tidur untuk bayi.
2) Untuk menimbang bayi yang berusia kurang dari 1 tahun, maka hal tersebut dilakukan dengan posisi berbaring.
Cara pengukuran berat badan anak adalah:
2) Tidurkan bayi pada meja timbangan. Apabila menggunakan timbangan dacin, masukkan anak dalam gendongan, lalu kaitkan gendongan pada timbangan. Apabila anak sudah berdiri, ajak anak untuk berdiri di atas timbangan injak tanpa di pegang.
3) Ketika menimbang berat badan bayi, tempatkan tangan petugas di atas tubuh bayi (tidak menempel) untuk mencegah bayi jatuh saat di timbang.
4) Apabila anak tidak mau ditimbang, Ibu disarankan untuk menimbang berat badannya lebih dulu, kemudian anak digendong oleh Ibu dan ditimbang. Selisih antara berat badan Ibu bersama anak dan berat badan Ibu sendiri menjadi berat badan anak. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat rumus berikut
5) Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum petunjuk pada timbangan
b. Panjang Badan (PB)
Penentuan panjang badan, pengukuran dikelompokkan menjadi, usia kurang dari 2 tahun atau lebih. Pengukuran tinggi badan untuk anak usia kurang dari 2 tahun adalah sebagai berikut.
1) Siapkan papan atau meja pengukur. Apabila tidak ada, dapat digunakan pita pengukur (meteran).
26
2) Baringkan anak terlentang tanpa bantal (supinasi), luruskan lutut sampai menempel pada meja (posisi ekstensi).
3) Luruskan bagian puncak kepala dan bagian bawah kaki (telapak kaki tegak lurus dengan meja pengukur), lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.
4) Apabila tidak ada papan pengukur, hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi tanda pada tempat tidur (tempat tidur harus rata/datar) berupa garis atau titik pada bagian puncak kepala dan bagian tumit kaki bayi.
Gambar 2.2
Cara pengukuran lingkar kepala, dada, abdomen dan panjang badan (pada posisi berbaring) dari kepala sampai tumit
Sumber: Wong (2008).
c. Lingkar Kepala (LK)
(makrocephali), sedangkan apabila ukuran kepala di bawah kurva normal, berarti kepala berukuran kecil (mikrocephali). Kurva lingkar kepala ini dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Adapun cara pengukuran lingkar kepala adalah sebagai berikut:
1) Siapkan pita pengukur (meteran).
2) Lingkarkan pita pengukur pada daerah glabela (frontalis) atau supra orbita bagian anterior menuju oksiput pada bagian posterior. Kemudian tentukan hasilnya.
3) Cantumkan hasil pengukuran pada kurva lingkar kepala.
d. Lingkar Lengan Atas (LILA atau LLA)
28
Praktiknya, pengukuran ini jarang digunakan kecuali ada gangguan pertumbuhan atau gangguan gizi yang berat, sehingga pengukuran ini hanya efektif pada usia di bawah 3 tahun (usia prasekolah) (Nursalam, 2005).
e. Lipatan Kulit
Tebalnya lipatan kulit meruupakan refleksi pertumbuhan jaringan lemakk di bawah kulit yang mencerminkan kecukupan energi. Apabila anak mengalami defisiensi kalori, maka lipatan kulit menipis, lipatan tersebut akan menebal bila anak kelebihan energi (Nursalam, 2005).
f. Lingkar Dada
Pengukuran lingkar dada jarang dilakukan, pengukurannya dilakukan pada saat bernapas biasa. Pengukuran lingkar dada ini dilakukan dengan posisi berbaring (Nursalam, 2005).
5. Kurva Pertumbuhan
Pengukuran pertumbuhan dilakukan dengan menggunakan kurva pertumbuhan, salah satu alat atau kurva pertumbuhan adalah Kartu Menuju Sehat (KMS).
a Pengertian Kartu Menuju Sehat (KMS)
yaitu kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulannya, dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (Depkes RI,1996). KMS dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi (catatan riwayat kesehatan dan gizi) balita (Nursalam, 2008). Secara umum, KMS berisi gambar kurva berat badan terhadap umur untuk anak berusia 0- 5 tahun, atribut penyuluhan dan catatan yang penting untuk di perhatikan oleh petugas dan orang tua, seperti riwayat kelahiran anak, pemberian ASI dan makanan tambahan, pemberian imunisasi dan vitamin A, penatalaksanaan diare di rumah, serta patokan sederhana tentang perkembangan psikomotorik anak (Nursalam, 2008).
b Tujuan Penggunaan KMS
Menurut Nursalam (2008), tujuan umum penggunaan KMS adalah mewujudkan tingkat tumbuh kembang dan status kesehatan anak balita secara optimal. Adapun tujuan khususnya meliputi:
1) Alat bantu Ibu atau orang tua untuk memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
2) Alat bantu dalam membantu dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mewujudkan tumbuh kembang yang optimal. 3) Mengatasi malnutrisi di masyarakat serta efektif dengan
30
c. Fungsi KMS Balita
Menurut Nursalam (2008), ada beberapa fungsi KMS. Secara umum, fungsi–fungsi tersebut dapat dikelompokan menjadi:
1) Media untuk mencatat/memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap.
2) Media penyuluhan bagi orang tua mengenai kesehatan balita. 3) Sarana pemantauan yang dapat digunakan oleh petugas untuk
menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik untuk balita.
4) Analisa tumbuh kembang balita.
B. Air Susu Ibu (ASI) 1. Pengertian ASI
ASI adalah makanan cair yang secara khusus diciptakan untuk memenuhi kebutuhan bayi akan berbagai zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan disamping memenuhi kebutuhan bayi akan energi. Hanya dengan diberi ASI saja tanpa makanan lain, bayi mampu tumbuh dan berkembang dengan baik sampai usia 6 bulan (Moehji, 2008).
sumber nutrisi dapat memberi perlindungan kepada bayi melalui berbagai zat kekebalan yang dikandungnya. Walaupun Ibu dalam kondisi kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit dan immunoglobulin (Munasir dan Kurniati, 2008). Sementara menurut Roesli (2005) ASI akan merangsang pembentukan daya tahan tubuh bayi sehingga ASI berfungsi pula sebagai imunisasi aktif.
Pemberian ASI yang dianjurkan adalah ASI eksklusif selama 6 bulan yang diartikan bahwa bayi hanya mendapatkan ASI saja tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih (Matondang, dkk, 2008). Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan (Roesli, 2005).
2. Pengertian ASI eksklusif
32
pisang, dan lain-lain. Jadi, bayi hanya mendapatkan ASI dari Ibunya, dan jika dalam kondisi terpaksa (sakit), bayi boleh diberikan obat sirup dari dokter.
ASI merupakan satu-satunya intake yang dIbutuhkan bayi. ASI juga merupakan makanan terbaik karena dirancang sesuai dengan cara kerja tahap perkembangan pencernaan bayi, sehingga mudah diserap kedalam tubuh. Pemberian ASI eksklusif, dapat membuat bayi akan lebih sehat dan cerdas.
ASI merupakan makanan utama bayi yang sangat baik dan tidak ada tandingannya, meskipun susu formula termahal yang ada dipasaran. The AAP Section on Breastfeeding, American College of Obstetricians and
Gynecologists, American Academy of Family Physicians, Academy of
Breastfeeding Medicine, World Health Organization, United Nations
Children’s Fund, serta Departemen Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
“Para Ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para Ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang Ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun be
menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).
a. Manfaat bagi Bayi
Adapun manfaat ASI Eksklusif bagi bayi (Roesli, 2005), yaitu : 1) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan
34
2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena mengandung berbagai zat anti kekebalan sehingga akan lebih jarang sakit. ASI juga mengurangi terjadinya diare, sakit telinga dan infeksi saluran pernafasan serta terjadinya serangan alergi.
3) ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan karena mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak sehingga bayi ASI eksklusif potensial lebih pandai.
4) ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang sehingga dapat menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan emosional, kematangan spiritual dan hubungan sosial yang baik.
b. Manfaat bagi Ibu
Adapun manfaat bagi Ibu bila memberikan ASI eksklusif (Roesli, 2005), yaitu :
1) Mengurangi perdarahan setelah melahirkan karena pada Ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.
2) Mengurangi terjadinya anemia akibat kekurangan zat besi karena menyusui mengurangi perdarahan.
3) Menjarangkan kehamilan karena menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah dan cukup berhasil.
5) Lebih cepat langsing kembali karena menyusui membutuhkan energi maka tubuh akan mengambilnya dari lemak yang tertimbun selama hamil.
6) Mengurangi kemungkinan penderita kanker.
7) Lebih ekonomis dan murah karena dapat menghemat pengeluaran untuk susu formula, perlengkapan menyusui dan persiapan pembuatan susu formula.
8) Tidak merepotkan dan hemat waktu karena ASI dapat diberikan segera tanpa harus menyiapkan atau memasak air.
9) Portabel dan praktis karena mudah dibawa kemana-mana sehingga saat bepergian tidak perlu membawa berbagai alat untuk menyusui. 10) Memberi Ibu kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang
mendalam karena telah berhasil memberikan ASI eksklusif. c. Manfaat bagi Negara
Pemberian ASI eksklusif akan menghemat pengeluaran negara karena hal-hal berikut ini (Roesli, 2005):
1. Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan menyusui, serta biaya menyiapkan susu.
2. Penghematan biaya rumah sakit terutama sakit muntah-mencret dan penyakit saluran pernafasan.
3. Penghematan obat-obatan, tenaga dan sarana kesehatan.
4. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas untuk membangun negara.
36
Berdasarkan waktu produksinya, ASI dibedakan menjadi 3 yaitu: kolostrum, susu matang, serta susu awal dan akhir.
a. Kolostrum
Kolostrum diproduksi dalam beberapa hari setelah bayi dilahirkan. Kolostrum banyak mengandung protein dan antibodi. Wujudnya sangat kental dan jumlahnya hanya sedikit. Pada awal menyusui, kolostrum yang keluar mungkin hanya satu sendok teh. Meskipun demikian, khasiatnya sangat luar biasa. Kolostrum mampu melapisi usus bayi dan melindunginya dari bakteri, serta sanggup mencukupi kebutuhan nutrisi bayi pada hari pertama kelahirannya. Selanjutnya secara berangsur-angsur, produksi kolostrum berkurang saat air susu matang keluar pada hari ketiga sampai kelima.
Menurut Baskoro (2008), beberapa ciri penting yang menyertai produksi kolostrum adalah:
1) Komposisi kolostrum mengalami perubahan secara berangsur-angsur setelah bayi lahir.
2) Kolostrum adalah cairan kental berwarna keekuningan dan lebih kuning daripada ASI matang.
3) Kolostrum bertindak sebagai laksatif yang berfungsi membersihkan dan melapisi mekonium usus bayi yang baru lahir, serta mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
protein). Lain halnya dengan ASI matang yang mengandung protein berupa kasein, yang mudah dicerna dan diserap oleh usus bayi.
5) Pada kolostrum terdapat beberapa protein yang sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi terhadap serangan infeksi.
6) Kolostrum lebih banyak mengandung vitamin A, mineral natrium (Na), dan seng (Zn).
7) Lemak dalam kolostrum lebih banyak mengandung kolesterol dan lecithin dibandingkan dengan ASI matang.
8) Volume kolostrum sekitar 150-300ml/24 jam. b. Susu Matang
Selama satu atau dua minggu berikutnya, air susu meningkat jumlahnya, serta penampakannya berubah. Susu mulai terlihat biru dan cair. Inilah yang disebut sebagai susu matur/susu matang, yang berisi semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi supaya tumbuh dengan baik. ASI matang terlihat lebih encer daripada susu sapi, sehingga sebagian Ibu merasa susunya sangatlah encer. Tetapi penampilan yang demikian sangatlah wajar, karena ASI memasok cukup air bahkan dalam cuaca yang teramat panas sekalipun.
c. Susu awal dan susu akhir 1) Susu awal
38
sedikit lemak (hanya 1-2 %). Air susu ini sangat membantu untuk menghilangkan rasa haus pada bayi.
2) Susu akhir
Susu yang keluar setelah susu awal habis atau saat waktu menyusui hampir selesai. Susu ini terlihat lebih putih daripada susu awal, karena mengandung lebih banyak lemak. Lemak inilah yang memasok lebih dari 50% energi dalam ASI.
5. Komposisi ASI
ASI mengandung sebagian besar air sebanyak 87,5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas (Hendarto dan Pringgadini, 2008).
Tabel 2.2
Perbandingan komposisi ASI dan PASI (susu sapi) untuk tiap 100 ml
Seng (Zn) Ug 295 361
Keterangan: PASI ( susu sapi) yang belum diolah, 100 mL = 103 g ; 100 g = 97 ml. Dikutip dari Dr. Ir. Deddy Muchtadi, MS “Gizi untuk Bayi”, 1993 hal.33 (Sunartyo, 2008).
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa susu sapi mengandung protein sekitar 3 kali lebih banyak daripada protein yang dikandung ASI. Sebagian besar protein tersebut adalah kasein dan sisanya adalah berupa protein “whey” yang larut. Bila bayi diberi susu sapi dimana kandungan
kasein lebih tinggi, maka dalam lambung akan membentuk gumpalan yang keras dan sulit dicerna serta diserap usus. Meskipun ASI tidak banyak mengandung protein, namun bagian protein “whey” –nya lebih banyak dan bisa dicerna serta diserap oleh usus bayi karena gumpalan yang dibentuknya relatif lunak.
Sedikitnya setengah dari energi yang terdapat dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi ketimbang lemak susu sapi, sebab ASI lebih banyak mengandung enzim pemecah lemak (lipase). Air susu yang pertama kali disebut susu awal ini hanya sedikit mengandung lemak sekitar 1-2 % dan terlihat encer, ini akan membantu bayi memuaskan rasa haus saat menyusu. Air susu berikutnya mengandung lebih banyak lemak, ini dibutuhkan untuk memberikan energi bagi bayi, sehingga penting bagi para Ibu menyusui memperhatikan agar bayi memperoleh ASI.
40
sebagai sumber energi. Laktosa di dalam usus sebagian akan diubah menjadi asam laktat, yang membantu mencegah pertumbuhan bakteri dan membantu penyerapan kalsium dan mineral-mineral lain.
Meskipun ASI lebih sedikit mengandung kalsium daripada susu sapi, tetapi karena mudah diserap maka jumlah ini sudah memenuhi kebutuhan bayi. Demikian pula dengan zat besi yang dikandung oleh ASI dan susu sapi yang sedikit, tetapi sekitar 75 % dari zat ini yang terdapat dalam ASI dapat diserap oleh usus dibandingkan zat besi yang terdapat dalam makanan-makanan lain hanya mampu diserap sekitar 5 – 10 % saja. Apabila Ibu memperhatikan makanan yang dikonsumsi cukup memadai, maka semua vitamin yang dIbutuhkan bayi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya dapat diperolehnya melalui ASI, hanya sedikit vitamin D dalam lemak susu, tetapi anak yang diberikan lebih banyak ASI cenderung terhindar dari penyakit polio. Jumlah vitamin A, tiamin dan vitamin C sangat bergantung pada makanan yang dikonsumsi oleh Ibu. Semakin banyak Ibu mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, semakin tinggi kadar kandungan zat-zat gizi dalam ASI.
C. Pengganti Air Susu Ibu (PASI)
1. Pengertian
Susu formula merupakan pengganti ASI atau dapat juga sebagai pelengkap ASI. Tetapi harus diingat, tak satupun susu yang komposisi zat gizinya bisa menyamai ASI. Untuk memilih susu formula, harap diperhatikan kandungan gizi yang tertera pada kemasan. Penting untuk selalu membaca label zat gizi pada makanan atau minuman kemasan sebelum membelinya, terutama produk bayi dan anak. Susu formula yang beredar di pasaran bermacam-macam. Ada yang mengandung Omega 3, DHA, AA/ARA, prebiotik FOS, laktoferin, laktulosa, dan lain-lain. Semuanya ini memberikan manfaat lebih bagi kesehatan bayi dan anak. Untuk bayi dengan kondisi tertentu sebaiknya pemilihan susu formula dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi (Bulan, 2007).
Disamping itu berbagai keadaan tidak memungkinkan Ibu untuk memberi ASI pada bayinya walaupun produksinya cukup, seperti Pudjiadi (2003) :
1. Penyakit yang dilarang oleh dokter untuk menyusui, baik untuk kepentingan Ibu (seperti penyakit: gagal jantung) maupun untuk bayinya (seperti penyakit menular yang diderita Ibu).
2. Bayi dilahirkan dengan kelainan metabolik bawaan yang akan bereaksi jelek jika bayi tersebut mendapat ASI.
3. Ibu dirawat di rumah sakit dan dipisahkan dari bayinya.
4. Ibu bekerja atau berdagang, sedangkan tempat kerja atau tokonya terletak jauh dari tempat tinggalnya
42
Jenis-jenis Susu Formula menurut Bulan (2007).
a. Starting formula (complete infant formula), yaitu formula awal (0-6 bulan) yang terdiri dari:
1) Complete starting formula
Untuk bayi lahir normal tanpa ada syarat khusus. 2) Adapted starting formula
Untuk bayi yang lahir dengan pertimbangan khusus untuk fisiologisnya dengan syarat rendah mineral, digunakan lemak tumbuhan sebagai sumber energy, dan susunan zat gizi yang mendekati ASI. Susu jenis ini merupakan jenis yang paling banyak mengalami penyesuaian dan banyak beredar di pasaran.
b. Follow up formula (6-12 bulan) c. Special formula (formula diet)
1) Susu bebas laktosa
Susu ini untuk bayi yang mengalami intoleransi laktosa, dimana kondisi pencernaan bayi tidak tahan terhadap laktosa.
2) Susu dengan protein hidrolisate dan lemak sederhana. Susu ini ditujukan untuk bayi dengan diare akut/kronis.
3) Susu formula bayi premature dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah <2500).
4) Susu penambah energi
gizinya cukup komplet. Biasanya diberikan pada anak yang sulit makan dan nafsu makannya kurang.
Tabel 2.3
Porsi Pemberian Susu Formula
Usia Bayi Porsi Pemberian
0-3 bulan Sekitar 60-90 ml, diberikan kapan saja setiap kali bayi lapar.
Di atas 3 bulan Sekitar 180 ml, diberikan setiap 2-3 jam.
Di atas 6 bulan Sekitar 200 ml diberikan 2 kali sehari karena bayi telah mendapat MP ASI/makanan padat. Sumber: Bulan (2007)
Hal yang perlu diingat dalam memberikan susu formula yakni botol susu harus dalam keadaan steril (untuk mencegah diare) dan susu diberikan dalam keadaan hangat agar bayi tidak mudah kembung. Oleh karena itu, jangan pernah memberikan sisa susu formula kepada bayi jika lebih dari 2,5 jam karena akan menyebabkan bayi terkena diare, sisa susu sebaiknya dIbuang dan berikan susu yang baru dIbuat jika bayi lapar (Bulan, 2007).
3. Manfaat Susu Formula
Menurut Eissenberg (2002) ada 2 manfaat susu formula, yaitu manfaat bagi bayi dan manfaat susu formula bagi Ibu, dalam bukunya mengenai “Susu Formula”, Manfaat Pemberian Susu Formula adalah sebagai berikut:
44
Bagi bayi, susu formula bermanfaat untuk memberikan kepuasan yang lebih lama karena formula susu sapi yang di buat dari susu sapi lebih sulit dicerna dari pada ASI, dan endapan besar sehingga meningalkan rasa kenyang pada bayi yang lebih lama. Ada 2 fungsi susu formula, yaitu
1) Sebagai Nutrisi
Susu Formula dengan jumlah kalori, vitamin dan mineral yang sesuai, dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak dan membantu pencapaian tumbuh kembang yang optimal. Penggunaan merek susu formula yang sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh dalam hal ini saluran cerna adalah susu yang terbaik.
2) Meningkatkan Kecerdasan
Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Terdapat dua faktor penentu kecerdasan anak, yaitu faktor genetika dan faktor lingkungan.
Faktor genetika atau faktor bawaan menentukan apakah potensi genetika atau bawaan yang diturunkan oleh orang tua. Faktor ini tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa.
b) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor yang menentukan apakah faktor genetik akan dapat tercapai secara optimal. Faktor ini mempunyai banyak aspek dan dapat dimanipulasi atau direkayasa.
b. Manfaat Pemberian Susu Formula Pada Bayi Untuk Ibu
Pemberian susu formula pada bayi ditahun pertama biasanya dilakukan karena keadaan – keadaan yang terjadi pada Ibu yaitu puting rata, puting lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, infeksi payudara, abses payudara, dan pekerjaan (Prawirohardjo, 2005).
Manfaat pemberian susu formula pada bayi untuk Ibu antara lain memudahkan pemantauan jumlah susu yang di berikan pada bayi, lebih sedikitnya tuntutan pada Ibu, tidak menganggu model baju, lebih sedikit pembatasan dalam metode keluarga berencana, lebih sedikit tuntutan batasan diet, tidak merasa tertekan bila memberi susu di depan umum, dan tidak menganggu kegiatan bercinta (Eissenberg, 2002).
46
Komposisi zat gizi susu formula selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai), hanya sedikit mengandung imunoglobulin yang sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak diperlukan oleh
tubuh). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup. (Handayani,2002).
a) Lemak
Kadar lemak disarankan antara 2.7 – 4.1 g tiap 100 ml. Komposisi asam lemaknya harus sedemikian hingga bayi umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 85%.
b) Protein
kekurangan relatif sistein. Penambahan protein whey akan memperbaiki susunan asam aminonya hingga mendekati kandungan sistein yang terdapat dalam ASI. Beberapa produsen susu menambahkan taurin pada produk formula susu bayinya.
c) Karbohidrat
Kandungan karbohidrat yang disarankan pada susu formula antara 5.4 dan 8.2 g bagi tiap 100 ml. Sehingga, dianjurkan supaya karbohidrat hanya atau hampir seluruhnya memakai laktosa, selebihnya glukosa atau destrin-maltosa, tidak dibenarkan pada pembuatan formula ini untuk memakai tepung atau madu, maupun diasamkan (acidified) karena belum diketahui efek sampingnya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
d) Mineral
Mineral dalam susu sapi seperti natrium, kalium, kalsium, fosfor, magnesium, khlorida, lebih tinggi 3 sampai 4 kali dibandingkan dengan mineral yang terdapat dalam ASI. Pada pembuatan susu formula adaptasi kandungan berbagai mineral harus diturunkan hingga jumlahnya berkisar antara 0.25 dan 0.34 g bagi tiap 100 ml. Kandungan mineral dalam susu formula adaptasi memang rendah dan mendekati yang terdapat pada ASI Penurunan kadar mineral sangat diperlukan oleh karena bayi baru lahir belum dapat mengekresi dengan sempurna kelebihannya.
48
Banyaknya energi dalam formula demikian biasanya disesuaikan dengan jumlah energi yang terdapat pada ASI.
D. Kerangka Teori
Kerangka konseptual adalah suatu hubungan/ kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan teori perjalanan pertumbuhan pada bayi 0-6 bulan, ASI dan PASI berikut adalah kerangka teori dari penelitian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi (0-6 bulan):
1. Herediter
a Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
b Keluarga
c Umur
d Jenis kelamin
e Kelainan kromosom
Keterangan:
: Tidak diteliti
: Diteliti
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Nursalam (2005), Hidayat (2008), Wong (2008), Sutomo (2010) Pertumbuhan bayi 0-6 bulan
- Berat Badan
- Panjang Badan
- Lingkar Kepala
- Lingkar Lengan Atas
- Lipatan Kulit
50
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak: kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian, sehingga melalui konsep, peneliti diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikirannya dengan menggunakan suatu istilah untuk beberapa kejadian yang berkaitan satu dengan lainnya (Sumantri, 2011)
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan, pertumbuhan bayi dapat dilihat dari berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. Baik atau tidaknya pertumbuhan bayi dapat dipengaruhi oleh asupan nutrisi bayi (0-6 bulan) baik yang diberikan ASI Eksklusif maupun PASI atau susu formula. Pada penelitian ini, variabel yang akan diteliti terdiri dari :
1. Variabel bebas (independen) : Bayi yang diberikan ASI eksklusif dan bayi yang diberikan PASI.
2. Variabel terikat (dependen) : Pertumbuhan bayi, antara lain berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.
Variabel Independen Variabel Dependen
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Peneliti hanya mengambil tiga indikator pertumbuhan bayi 0 sampai 6 bulan dari enam indikator yang ada dikarenakan pengukuran lingkar lengan atas jarang dilakukan kecuali adanya gangguan pertumbuhan atau gangguan gizi yang berat, sedangkan pengukuran lipatan kulit dan lingkar dada juga jarang dilakukan pada bayi usia 0 sampai 6 bulan, karena jarang atau bahkan tidak ada pencatatan dokumentasi yang tertulis dalam KMS. Sehingga peneliti hanya mengambil tiga indikator yaitu berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala yang umumnya dilakukan oleh pelayanan kesehatan dan terdapat pencatatan dokumentasi pada KMS balita.
B. Hipotesis
Ho: Tidak ada perbandingan pertumbuhan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan PASI di Kelurahan Kebon Jeruk Jakarta.
Pertumbuhan Bayi - Berat Badan
- Panjang Badan - Lingkar Kepala Jenis Nutrisi:
- ASI Eksklusif
52
53 C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional AlatUkur Cara Ukur Skala
1 Pertumbuhan bayi (0-6 bulan)
Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur (Wong, 2008). untuk mengambil data berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi
Melakukan observasi dengan menganalisa pertumbuhan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi melalui KMS atau dokumentasi panjang badan dan lingkar kepala untuk usia 0 dan 6 bulan.