1. Istri Siri Ajukan Banding, Tuding Pemecatan Tak Adil
SIDOARJO | SURYA Online – Indah, staf PNS di lingkungan DPRD Sidoarjo, mengajukan keberatan atas pemecatan dirinya ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (Bapek) pusat. Ia menganggap tidak adil dirinya dipecat gara-gara dimadu Mashuri, anggota DPRD Sidoarjo dari Partai Demokrat.
Surat keberatan itu telah dikirimkannya, Jymat (30/9/2011). “Ya menurut saya tidak adil saja,” tutur Indah, Senin (3/10/2011).
Sayang, Indah enggan membeberkan asalan yang membuatnya melayangkan surat keberatan tersebut. “Nanti kalau saya menjawab salah,” ujarnya kalem.
Dijelaskan Indah, persoalan itu mencuat setelah istri Mashuri lapor ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Apa alasannya, Indah mengaku tidak tahu. Bahkan Indah sendiri mengakui kalau dirinya menikah secara siri dengan Sekretaris Komisi D itu. “Nikah siri kan tidak tercatat,” ungkapnya.
Dari laporan itu, Indah dimintai keterangan hingga berbuntut pemecatan. Mashuri sendiri waktu itu mengakui jika dirinya menikahi Indah. Bahkan Mashuri menganggap poligami yang
dilakukan tidak melanggar norma agama.
Analisis :
Perkawinan adalah suatu hak asasi yang dijamin dalam Pasal 28B ayat (1) Perubahan II UUD 1945 dan kemudian dalam tataran praktisnya diatur dalam UU No 1 Tahun 1974.Tetapi perkawinan sendiri dinilai sah apabila :
1) Dilakukan berdasarkan hukum agamanya dan kepercayaannya
2) Perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua mempelai
3) Yang laki laki min berumur 19 tahun sedang yang perempuan min berumur 16 tahun
4) Bagi yang berumur kurang dari 21 tahun harus memiliki izin dari kedua orang tua/wali
tidak sah karena proses pencatatan itu sendiri adalah proses administratif. Namun dalam hukum nasional kita, proses pencatatan ini telah menjadi bagian dari hukum positif, karena hanya dengan proses ini maka masing-masing pihak diakui segala hak dan kewajibannya di depan hukum.
UU Perkawinan juga mengatur tentang poligami, akan tetapi sepanjang hukum agama membolehkan tentang poligami dan harus berdasarkan ijin dari pengadilan dengan syarat bahwa :
1) istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri
2) istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
3) istri tidak dapat melahirkan keturunan
Dan untuk itu diperlukan
1) adanya persetujuan dari istri/istri-istri;
2) adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri – istri dan anak-anak mereka.
3) adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.