BAB II TINJAUAN PUSTAKA

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

B. Tanggung Jawab Sosial

1. Pengertian Tanggung Jawab Sosial

Tanggung jawab sosial atau Corporate Sosial Responsibilities merupakan suatu elemen penting dalam kerangka kelanjutan perusahaan yang mencakup aspek ekonomi,lingkungan dan sosial budaya.

Sebuah organisasi dunia World Bisnis council for sustainable Development(WBCSD) yang di publikasikan dalam situs www.wbsd.org.theswitzerland. Mendefenisikan tanggung jawab sosial sebagai berikut :

CSR atau Tanggung Jawab Sosial adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam ekonomi pembangunan berkelanjutan bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluaraga karyawan tersebut, berikut komunitas-komunitas setempat (lokal) dan komunitas secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.

Dari defenisi di atas,dapat di katakan bahwa Tanggung Jawab Sosial adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengiteraksikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan pemangku kepentingan (Stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.Bila kita telah lebih dalam, Tanggung Jawab Sosial dapat di katakan sebagai tabungan masa depan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan yang di

(2)

peroleh bukan sekedar bentuk finansial melainkan rasa kepercayaan dari masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya terhadap perusahaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya menjadi modal dasar agar perusahaan dapat terus melakukan aktivitasnya. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Tanggung Jawab Sosial berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang. Perusahaan yang mengedepankan konsep ini akan lebih menekankan pembangunan sosial dan pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap tenaga kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh rasa percaya dari masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan muncul dari masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa

(3)

kehadiran perusahaan di daerah mereka akan berguna dan bermanfaat. 2. Komponen Utama Tanggung Jawab Sosial (CSR)

Menurut Wibisono (2007;134), terdiri beberapa komponen utama Tanggung Jawab Sosial, yaitu :

a. Perlindungan lingkungan.

Organisasi lingkungan memiliki peranan sebagai wadah control sosial yang fokus terhadap pembangunan berkekelanjutan yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan hidup. Program perlindungan lingkungan ini berfungsi agar perusahaan dapat menjalankan kegitan usahanya dengan berwawasan lingkungan. Contohnya Manejemen daur ulang.

b. Perlindungan dan jaminan karyawan.

Karyawan merupakan faktor penting bagi perusahaan. Apabila perusahaan bersinergi dengan serikat pekerja,maka hampir dapat dipastikan bahwa kinerja karyawan akan positif. Contohnya Pelatihan/kemajuan karir.

c. Interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat.

Masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, dapat mempengaruhi arah dan kebijakan sebuah perusahaan. Peran masyarakat menjadi penting karena masyarakat merupakan salah satu bagian dari komponen stakeholder perusahaan. Contohnya : mempekerjakan tenaga lokal

(4)

Pemegang saham merupakan pihak yang sangat berkuasa dalam perusahaan.Para direksi maupun manajer yang diangkat dalam RUPS harus mengetahui keinginan dari pemegang saham dan memberikan informasi secara transparan mengenai keadaan perusahaan. Contohnya semua informasi tentang semua program atau keinginan yang dijalankan perusahaan dapat melibatkan pemegang saham dalam hal-hal yang bersifat non financial.

e. Penanganan pelanggan/produk

Menciptakan hubungan baik dengan pelanggan akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan. Jika pelanggan mendapatkan kepuasan dari perusahaan, bisnis akan terus bergulir dengan adanya repeat order dari pelanggan. Contohnya: keterlibatan pelanggan dalam pengembangan produk.

f. Pemasok (supplier)

Pemasok merupakan pihak yang menguasai jaringan distribusi. Hubungan yang baik dengan pemasok menguntungkan perusahaan karena pemasok telah mengetahui keinginan perusahaan dan akan memenuhinya sesuai dengan keinginan pelanggan. Contohnya: komunikasi dengan pemasok.

(5)

Komunikasi dan pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi, baik bagi stakeholder maupun shareholder. Sistem informasi ini diperlukan baik dalam proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Contohnya: memasukkan data kontribusi sosial ke dalam laporan tahunan.

3. Faktor yang mempengaruhi CSR

Menurut Chatrine (2008), pada umumnya implementasi Tanggung Jawab Sosial di perusahaan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :

a. Komitmen pimpinan perusahaan.

Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah sosial tidak akan memperdulikan aktivitas sosial. Perusahaan secara keseluruhan sebaiknya meyakini bahwa Tanggung Jawab Sosial (CSR) merupakan investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Dengan kata lain, Tanggung Jawab Sosial (CSR) bukan lagi dilihat dari sentra biaya (cost center) melainkan sentra laba (profit center) di masa mendatang. Dengan demikian, Tanggung Jawab Sosial bukan lagi sekedar aktivitas sampingan atau suatu hal yang dapat dikorbankan demi mencapai efisiensi. Namun, Tanggung Jawab Sosial (CSR) telah menjadi bagian penting dalam perusahaan, dimana CSR jika disikapi secara strategis dapat digunakan untuk memperbaiki konteks kompetitif perusahaan yang berupa kualitas lingkungan bisnis tempat perusahaan beroperasi.

(6)

Perusahaan besar dan mapan memiliki peran yang lebih besar untuk memberikan kontribusi daripada perusahaan kecil dan belum mapan. Tanggung Jawab Sosial (CSR) adalah wujud kesadaran perusahaan yang merupakan bagian dari masyarakat, dimana sebaiknya antara perusahaan dan masyarakat memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme sehingga tercipta harmonisasi hubungan bahkan meningkatkan citra dan performa perusahaan.

c. Regulasi dan sistem perpajakan yang diatur oleh pemerintah

Regulasi dan penataan sistem pajak yang kacau akan memperkecil ketertarikan perusahaan untuk memberikan donasi dan sumbangan sosial kepada masyarakat. Peran aktif pemerintah sangat diperlukan sehingga perusahaan dapat menjadi penolong dalam mengatasi masalah sosial yang ada di negara ini. Bisa dipastikan pemerintah tidak akan sanggup mengatasi berbagai permasalahan sosial secara sepihak. Untuk itu, sekecil apapun kedermawanan yang diberikan oleh perusahaan akan sangat besar artinya bagi pemerintah maupun masyarakat. Jika sistem regulasi kondusif dan insentif pajak semakin besar diberikan akan lebih berpotensi dalam memberikan semangat pada perusahaan untuk berkontribusi pada masyarakat.

(7)

Dalam melaksanakan CSR, perlu dibuat suatu perencanaan matang yang menyeluruh dan dapat dijalankan secara matematis. Menurut Umar (2003:349), Program jangka panjang suatu perusahaan diturunkan dari perencanaan jangka menengah dan jangka pendek. Program CSR merupakan perencanaan jangka panjang perusahaan dengan tujuan agar perusahaan dapat sustainable di dunia usaha. Untuk mendukung perencanaan jangka panjang perusahaan perlu dibuat program-program yang mendukung pencapaian dari tujuan tersebut. Melaksanakan program CSR membutuhkan langkah-langkah pembentukan dan persiapan hingga akhirnya dapat dilaksanakan. Menurut Rahendrawan (2006), ada beberapa langkah persiapan dan penerapan CSR, yaitu : a. Perencanaan CSR, yang terdiri dari :

1) mempersiapkan target dan tujuan dari pelaksanaan CSR untuk perusahaan

2) mempersiapkan alat ukur kinerja dan alat ukur status dari CSR 3) mengidentifikasi inovasi dan/atau intervensi terhadap sistem

yang sedang diterapkan

4) mengidentifikasi masalah CSR yang relevan dengan kegiatan operasional perusahaan

5) mengidentifikasi tingkat kesiapan pelaksanaan CSR, baik dengan unit organisasi dan/atau dari kematangan CSR itu sendiri

(8)

6) menentukan daerah operasi perusahaan yang akan diterapkan CSR di dalamnya

7) mengidentifikasi stakeholders perusahaan, dan melibatkan pihak-pihak yang relevan dalam merancang CSR

8) mempersiapkan program-program dari CSR b. Persiapan aktivitas CSR, yang terdiri dari:

1) proses pengambilan keputusan dan pengesahan program-program CSR

2) memanajemen perubahan dan inovasi-inovasi yang dibutuhkan 3) organisasi program-program CSR, baik internal maupun

eksternal

4) sumber daya internal dari perusahaan (sumber daya manusia, modal, dll)

c. Pengimplementasian CSR, yang terdiri dari:

1) menghubungkan program-program CSR dengan para stakeholders, yang keterlibatannya akan ditentukan berdasarkan kondisi, prioritas, dan anggaran perusahaan.

2) mengimplementasikan program.

3) person(s) in charge, orang yang memimpin pelaksanaan program

(9)

d. Evaluasi, yang terdiri dari :

1) metode pengawasan dan perangkatnya 2) metode evaluasi dan perangkatnya

3) mekanisme pengembangan terus menerus

4) person(s) in charge, orang yang ditugaskan untuk memimpin

jalannya evaluasi

e. Pelaporan, yang terdiri dari:

1) mekanisme dan sistem pelaporan internal dan eksternal 2) komunikasi internal dan sistem koordinasi

3) sistem komunikasi eksternal 4) laporan verifikasi

5. Ukuran Keberhasilan Program CSR

Menurut Wibisono (2007:145), untuk melihat sejauh mana efektivitas program CSR, diperlukan parameter atau indikator untuk mengukurnya. Setidaknya, ada dua indikator keberhasilan yang dapat digunakan, yaitu: a. Indikator Internal

1) Ukuran Primer

a) Minimize, yaitu meminimalkan perselisihan, konflik, atau

potensi konflik antara perusahaan dengan masyarakat dengan harapan terwujudnya hubungan yang harmonis dan kondusif.

(10)

b) Asset, yaitu aset perusahaan yang terdiri dari pemilik, pemimpin perusahaan, karyawan, pabrik, dan fasilitas pendukungnya terjaga dan terpelihara dengan aman.

c) Operational, yaitu seluruh kegiatan perusahaan berjalan

aman dan lancar. 2) Ukuran Sekunder

a) Tingkat penyaluran dan kolektibilitas (umumnya untuk PKBL BUMN).

b) Tingkat complience pada aturan yang berlaku. b. Indikator Eksternal

1) Indikator Ekonomi

a) Tingkat pertambahan kualitas sarana dan prasarana umum. b) Tingkat peningkatan kemandirian masyarakat secara

ekonomis.

c) Tingkat peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan.

2) Indikator Sosial

a) Frekuensi terjadinya gejolak atau konflik sosial

b) Tingkat kualitas hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat.

(11)

6. Jenis-jenis perusahaan berdasarkan karakteristik tanggung jawab perusahaan

Klasifikasi konseptual Tanggung Jawab Sosial (CSR) dikemukakan oleh Carol (1991) dalam Chatrine (2008), memberikan karakteristik tanggung jawab perusahaan yang didasarkan pada empat tipe perusahaan sebagai berikut :

a. tipe perusahaan reaktif (reactive), dengan karakteristik sebagai berikut :

1) tidak adanya dukungan dari manajemen

2) manajemen merasa entitas sosial itu tidak penting

3) tidak adanya laporan tentang lingkungan sosial perusahaan

4) tidak adanya dukunga pelatihan tentang entitas sosial kepada karyawan

b. tipe perusahaan defensif (defensive), dengan karakteristik sebagai berikut :

1) isu lingkungan hanya diperhatikan jika dipandang perlu

2) sikap perusahaan tergantung pada kebijakan pemerintah tentang dampak lingkungan yang harus dilaporkan

3) sebagian kecil karyawan mendapat dukungan untuk mengikuti pelatihan tentang lingkungan sosial perusahaan.

(12)

c. tipe perusahaan akomodatif (accomodative), dengan karakteristik sebagai berikut:

1) terdapatnya beberapa kebijakan top management tentang lingkungan sosial

2) kegiatan akuntansi sosial dilaporkan, baik secara internal maupun eksternal

3) terdapat beberapa karyawan yang mendapat dukungan untuk mengikuti pelatihan tentang lingkungan sosial perusahaan

d. tipe perusahaan proaktif (proactive), dengan karakteristik sebagai berikut :

1) top management mendukung sepenuhnya mengenai isu-isu

lingkungan sosial perusahaan

2) kegiatan akuntansi sosial dilaporkan, baik secara internal maupun eksternal

3) karyawan memperoleh pelatihan secara berkesinambungan tentang akuntansi dan lingkungan sosial perusahaan

7. Manfaat kegiatan CSR

Menurut Rogovsky (2000) dalam Wibisono (2007:131), ada berbagai manfaat yang dapat diperoleh apabila program CSR diterapkan oleh perusahaan, diantaranya adalah sebagai berikut :

(13)

a. manfaat bagi individu karyawan, yaitu : 1) belajar metode alternatif dari berbisnis

2) menghadapi tantangan pengembangan dan bisa berprestasi dalam lingkungan baru

3) mengembangkan keterampilan yang ada dan keterampilan baru 4) memperbaiki pengetahuan perusahaan atas komunitas lokal dan

memberi kontribusi bagi komunitas local 5) mendapatkan persepsi baru atas bisnis b. manfaat bagi penerima program, yaitu :

mendapatkan keahlian dan keterampilan profesional yang tidak dimiliki organisasi atau tidak memiliki dana untuk mengadakannya 1) mendapatkan keterampilan manajemen yang membawa

pendekatan yang segar dan kreatif dalam memecahkan masalah 2) memperoleh pengalaman dari organisasi seperti menjalankan

tugas.

c. manfaat bagi perusahaan, yaitu :

1) memperkaya kapabilitas karyawan yang telah menyelesaikan tugas bekerja sama dengan komunitas

2) peluang untuk menanamkan bantuan praktis pada komunitas 3) meningkatkan pengetahuan tentang komunitas local

4) meningkatkan citra dan profil perusahaan di masa masyarakat karena para karyawan menjadi duta besar bagi masyarakat.

(14)

8. Hambatan/tantangan penerapan program Tanggung Jawab Sosial Menurut Rudito (2007:240), terdapat faktor penghambat/tantangan dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Kualitas sumber daya yang rendah. Dalam konteks ini, sumber daya yang tersedia kurang dapat memenuhi kebutuhan dari perusahaan. Di samping itu, pola hidup komunitas lokal sangat berbeda dengan pola hidup dari industri itu sendiri.

b. Jumlah staf yang kurang memadai. Ini merupakan dampak dari sumber daya lokal yang kurang memadai sedangkan perusahaan dituntut untuk mempekerjakan penduduk lokal sebagai konsekuensi dari keberadaan perusahaan di wilayah tersebut.

c. Kurangnya dukungan pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Hal ini terkait dengan sistem dan keadaan politik di daerah tersebut. d. Perbedaan persepsi di pihak internal dan atau pihak eksternal

perusahaan. Pihak internal tentu saja ingin memaksimalkan keuntungan. Dengan adanya Program CSR, tentu saja akan menambah biaya bagi perusahaan. Namun, program CSR harus tetap dijalankan karena menyangkut kepentingan pihak eksternal, seperti masyarakat sekitar.

(15)

9. Implementasi Tanggung Jawab Sosial pada Badan Usaha Milik Negara

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam perekonomian nasional, disamping usaha swasta dan koperasi. Dalam sistem perekonomian nasional, BUMN ikut berperan menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan dalam rangka mewujudkan kemakmuran masyarakat. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan perintis dalam sektor usaha yang belum diminati oleh swasta. Di samping itu, BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan swasta besar, dan turut membantu pengembangan usaha kecil atau koperasi. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak, deviden, hasil penerimaan lainnya. Pelaksanaan peran BUMN tersebut diwujudkan dalam kegiatan usaha pada hampir seluruh sektor perekonomian, seperti sektor pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, manufaktur, pertambangan, keuangan, pos dan telekomunikasi, transportasi, listrik, industri, perdagangan, dan konstruksi.

B. Tinjauan Penelitian terdahulu 1. Fadle Mustafa (2008)

Penelitian ini dilakukan oleh Fadle Mustafa berjudul “Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Terhadap Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada PT.Pupuk Sriwijaya (Persero)” Metode yang digunakan adalah metode deskriftif. Hasil penelitian menunjukkan

(16)

bahwa biaya-biaya sosial PT Pusri terdiri dari biaya sosial yang terkait dengan karyawan, biaya sosial yang terkait dengan masyarakat, pengusaha kecil dan koperasi, biaya sosial yang terkait dengan konsumen, dan biaya sosial yang terkait dengan lingkungan.

2. Harry Wahyudhy Utama (2007)

Penelitian yang dilakukan oleh Harry Wahyudhy utama

berjudul Penerapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada PT. Pupuk kujang”.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualittif deskriftif .Hasil Penelitian bahwa. Penerapan Tanggung Jawab Sosial di perusahaan menciptakan iklim saling percaya di dalamnya, yang akan menaikkan motivasi dan komitmen karyawan.

Pihak konsumen, investor, pemasok, dan stakeholders serta lingkungan masyarakat sehingga meningkatkan peluang pasar dan keunggulan kompetitifnya.

C. Kerangka Konseptual

Tanggung jawab perusahaan memberikan konsep yang berbeda dimana perusahaan tersebut secara sukarela menyumbangkan sesuatu demi masyarakat yang lebih baik dan lingkungan hidup yang lebih bersih. Tanggung jawab sosial dari perusahaan (Corporate Social Responsibility) didasarkan pada semua hubungan, tidak hanya dengan masyarakat tetapi juga dengan pelanggan, pegawai, komunitas, pemilik, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan mengembangkan isu tanggung

(17)

jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya. Pertama

,

.Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu

cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial. Pada kesempatan kali ini penulis membuat kerangka konseptual dimana

Undang-undang No. 40 tahun 2007 dan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan No. 01 Paragraf 09, sebagai dasar dari penerapan Tanggung Jawab Sosial atau yang lebih dikenal dengan CSR, mewajibkan untuk melaksanakan kegiatan CSR bagi perusahaan dan didalam PSAK juga dianjurkan memebuat laporan kegiatan lingkungan.Hal ini merupakan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar seperti masyarakat, karyawan, pemerintah, yang mempunyai tujuan untuk kemajuan perkonomian nasional. Dalam penelitian ini, peneliti membuat bagan atau gambaran sebagai berikut:

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual Undang-undang No 40 tahun 2007 PSAK No 01Paragraf 9 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Masyarakat,Pemerintah

(18)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :