• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Kandungan Karbohidrat dan Nitrogen 4 Varietas Rambutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perubahan Kandungan Karbohidrat dan Nitrogen 4 Varietas Rambutan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Perubahan Kandungan Karbohidrat dan

Nitrogen 4 Varietas Rambutan

Liferdi1), R. Poerwanto2)), dan L.K. Darusman3)

1)Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jl.Raya Solok-Aripan Km 8, Solok 27301 2) Guru Besar Ilmu Hortikultura IPB Jl. Maranti Darmaga Bogor 16680

3)Guru Besar Ilmu Biokimia IPB Jl. Maranti Darmaga Bogor 16680

Naskah diterima tanggal 31 Maret 2003 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 5 Oktober 2005 ABSTRAK. Tujuan Penelitian adalah mengetahui perubahan kandungan karbohidrat dan nitrogen rambutan pada fase pertumbuhan. Penelitian dilakukan di kebun koleksi PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi dari Mei 2001 sampai Februari 2002. Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah rambutan varietas Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus. Setiap varietas terdiri 5 tanaman dan setiap tanaman diamati 10 ranting. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa semua varietas mempunyai kemiripan pola kandungan karbohidrat, nitrogen, dan nisbah C/N daun, walaupun tidak berbeda antarvarietas tetapi berbeda antarfase pertumbuhan dari masing-masing varietas. Konsentrasi karbohidrat dan nitrogen daun meningkat dari fase trubus I ke trubus II dan menurun dari fase pembentukan buah ke buah maksimum. Konsentrasi karbohidrat pada kulit dan kayu ranting juga menurun dari fase pembentukan buah ke buah maksimum. Nisbah C/N batang dan ranting meningkat tajam dari fase vegetatif (trubus I dan II) menuju fase generatif (fruitset).

Kata kunci: Nephelium lappaceum; Karbohidrat; Nitrogen; Fase pertumbuhan

ABSTRACT. Liferdi, R. Poerwanto, and L.K. Darusman. 2006. Carbohydrate and nitrogen changes of 4 rambutan varieties. The aim of the study was to determine carbohydrate and nitrogen changes during the growth phase. This study was conducted at collection garden of PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi from May 2001 to Feb-ruary 2002. Four varieties of Binjai, Rapiah, Garuda, and Lebak Bulus were observed. Each variety consisted of 5 plants and samples were taken from 10 branches per plant. The results showed that all varieties had similar pattern on the carbohydrate and nitrogen contents and C/N ratio on the leaf, but had differences on the growth period.

Car-bohydrate and nitrogen contents on the leaf increased from the flush I to flush II period and decreased from fruit set

to maximum fruit development. Carbohydrate concentration on the bark and wood of the trunk also decreased from fruit set to maximum fruit development.

Keywords: Nephelium lappaceum; Carbohydrate; Nitrogen; Growth phase

Salah satu kendala dalam perkebunan rambut-an adalah adanya sifat biannual bearing, yaitu sifat berbunga dan berbuah yang tidak stabil atau

berbuah banyak pada suatu tahun (on year) dan berbuah sedikit pada tahun berikutnya (off year).

Biannual bearing dipengaruhi oleh faktor ling-kungan terutama iklim mikro dan faktor endogen tanaman (Goldschmidt dan Golomb 1982). Untuk mengatasi masalah di atas pada tanaman rambutan

diperlukan pemahaman mengenai fenofisiologi

tanaman yang berguna untuk menyusun kalender manajemen kebun dan informasi dasar untuk merekayasa tanaman (Liferdi et al. 2000).

Faktor lingkungan tanaman akan

mempen-garuhi aktivitas fisiologi pada tanaman yang

berdampak terhadap fase-fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur-unsur iklim yang diperkirakan dapat mempengaruhi proses

fisiologi adalah suhu udara, kelembaban udara,

curah hujan, panjang hari, dan intensitas cahaya.

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ram-butan dapat dilihat dari ritme pertumbuhan tajuk, pertumbuhan akar, pembungaan, dan pembuahan.

Aktivitas fisiologi yang diperkirakan mempen -garuhi perubahan fenologi antara lain adalah kandungan nitrogen, karbohidrat, dan nisbah C/N, yang terdapat dalam tanaman (Vemmos 1995).

Proses-proses fisiologi yang terjadi pada ba -gian tanaman akan mempengaruhi ba-gian tana-man lainnya yang sedang tumbuh sampai batas tertentu. Pertumbuhan vegetatif terhenti pada saat pembungaan atau pembuahan karena perkemban-gan buah memerlukan banyak zat hara, terutama hara N dan karbohidrat (Darmawan dan Baharsjah 1983). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan pati dan nisbah C/N pada daun yang tinggi sesuai untuk pembungaan, dan peningkatan sedikit karbohidrat pada pucuk

(2)

sudah dapat menstimulasi inisiasi tunas bunga (Chandha dan Pal 1993). Pengaturan nisbah C/N ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Kraus dan Kraybill (1918), yaitu jika tanaman dalam keadaan nisbah C/N yang tinggi, meru-pakan keadaan yang memungkinkan terjadinya pembungaan, sedangkan apabila nisbah C/N rendah pertumbuhan akan mengarah ke vegetatif. Selanjutnya Young (1970 dalam Menzel dan Simpson 1992) menjelaskan bahwa pada tana-man leci varietas Brewster status nitrogen kurang berpengaruh terhadap flushing dan pembungaan, tetapi faktor lain, seperti suhu dan kelembaban tanah lebih berpengaruh.

Upaya meningkatkan karbohidrat atau nisbah C/N pada tunas pucuk untuk mendorong tanaman masuk ke fase generatif telah dilakukan dengan salah satu manipulasi budidaya yaitu strangulasi (pangkal pohon diikai kuat dengan kawat) pada jeruk pummelo telah berhasil dilakukan (Ya-manshi et al. 1993; Yamanshi 1995; Yamanshi dan Hasegawa 1995). Melalui strangulasi aliran fotosintat dari daun ke akar untuk sementara ter-hambat sehingga terjadi penumpukan fotosintat di bagian tajuk tanaman. Penumpukan fotosintat tersebut berakibat terstimulasinya pembungaan. Karbohidrat merupakan salah satu hasil fotosintesis yang mempunyai peranan penting dalam metabolisme. Selain sebagai hasil utama fotosintesis, karbohidrat merupakan substrat dalam proses respirasi. Karbohidrat dapat diubah menjadi gliserol dan asam lemak yang bereaksi membentuk lemak atau membentuk protein melalui asam amino (Darmawan dan Baharsjah 1983 ).

Selain itu, tanaman membutuhkan nitrogen dan hara lain yang cukup untuk pertumbuhan. Unsur nitrogen merupakan unsur terpenting dalam tanaman. Peranan utama nitrogen bagi tanaman ialah membentuk sel-sel baru sehingga pertumbuhan vegetatif tanaman seperti batang, cabang, dan daun terangsang. Nitrogen berperan

juga pada pembentukan klorofil, protein, lemak,

dan berbagai senyawa organik lainnya.

Protein disusun dari asam amino, suatu molekul asam amino terdiri atas suatu gugusan karboksil (-COOH) dan gugusan amino (-NH2) dengan komposisi atom C dan H lebih banyak

daripada atom O dan N; atom C, H, dan O meru-pakan 85% dari bobot suatu asam amino (Taiz dan Zeiger 1991). Oleh karena itu penyusunan asam amino tidak akan berlangsung jika tidak ada karbohidrat. Dengan kata lain, sintesis protein hanya dapat berlangsung jika tersedia cukup hasil fotosintesis. Protein berperan dalam per-tum-buhan, maka bila terjadi kekurangan N yang banyak akan menghentikan proses pertumbuhan dan reproduksi .

Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi perubahan kandungan karbohidrat dan nitrogen pada 4 varietas rambutan (Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus).

BAHAN DAN METODE

Pengambilan sampel dilakukan di Kebun Koleksi PT Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor dari bulan Mei 2001 sampai Februari 2002. Sam-pel dianalisis di Laboratorium Enzimatik, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor.

Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok , dengan perlakuan yaitu 4 varietas rambutan (Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus) umur 6 tahun. Setiap varietas terdiri 5 tana-man sebagai ulangan dan setiap tanatana-man diamati 10 contoh ranting per pohon. Dalam penelitian ini selain melihat perbedaan antar-varietas, juga antarfase pertumbuhan masing-masing varietas. Pengumpulan data iklim mikro yaitu suhu udara (diukur menggunakan termometer maksi-mum-minimum), kelembaban udara (diukur menggunakan higrometer), dilakukan setiap hari. Sedangkan data curah hujan diperoleh dari stasium meteorologi Jakarta.

Pengambilan sampel daun untuk analisis kar-bohidrat dan nitrogen dilakukan secara periodik setiap fase pertumbuhan (trubus, dorman, fruitset,

dan buah ukuran maksimum). Sampel untuk analisis karbohidrat pada kayu dan kulit kayu diambil saat fase fruitset dan buah maksimum. Pengambilan sampel organ tanaman dilakukan pada pagi hari dan segera dimasukan ke dalam

cool box yang berisi dry ice. Setelah sampai di laboratorium, sampel dimasukan dalam freezer

(3)

dikering-kan dengan freeze dryer. Sesudah kering sampel disimpan kembali dalam freezer.

Analisis kandungan karbohidrat dalam bentuk gula total pada daun, kulit, dan kayu ran-ting menggunakan metode Somogyi Nelson. Khusus pada daun (daun tua dan daun muda) dilakukan analisis gula terlarut, yaitu sukrosa, glukosa, dan fruktosa mempergunakan HPLC. Analisis kand-ungan nitrogen menggunakan metode semi-mikro Kjedahl (Yoshida et al. 1972).

Data dianalisis ragam dengan menggunakan uji F pada taraf 5%, jika terdapat perbedaan yang nyata maka analisis dilanjutkan dengan DMRT 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan kandungan karbohidrat

Persentase kandungan karbohidrat daun dalam bentuk gula total 4 varietas rambutan (Binjai, Ra-piah, Garuda, dan Lebak Bulus) relatif seragam, begitu juga antarfase pertumbuhan dari masing-masing varietas yaitu trubus I, dorman, trubus II,

fruitset, dan buah maksimum. Perbedaan nyata kandungan gula total hanya ditemukan pada daun muda dengan daun tua saat trubus I (Gambar 1) dan pada kulit ranting serta kayunya saat fruitset

dengan buah maksimum (Tabel 2).

Kandungan gula total daun muda pada saat trubus I (4,12- 4,50%) lebih tinggi dari daun tua pada setiap fase pertumbuhan lainnya (2,29-3,14%) (Gambar 1). Tingginya gula total pada daun muda tersebut diduga merupakan hasil translokasi gula total dari daun tua sebagai sumber dan ran-ting sebagai penyimpan sementara

me-lalui floem. Hal ini terlihat dari kandungan gula

total daun tua pada saat bersamaan mengalami penurunan dari sebelumnya. Analisis lebih lanjut dengan HPLC diketahui bahwa kandungan gula total pada daun muda tersebut dalam bentuk fruktosa dan glukosa sedangkan sukrosa tidak ditemukan, sementara pada daun tua sukrosa lebih dominan (Tabel 1).

Sukrosa merupakan gula bergerak yang dapat ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman ter-masuk ke daun muda. Menurut Taiz dan Zeiger

(1991) bahwa sukrosa yang dikirim dari floem

ke sink yaitu melalui apoplast atau simplast. Sukrosa yang memasuki apoplast dipecah

men-jadi glukosa dan fruktosa oleh enzim invertase sebelum memasuki sel penerima. Sukrosa dapat juga langsung memasuki sel penerima secara simplastik lewat plasmodesmata. Untuk sukrosa yang langsung masuk ke sel penerima, sukrosa dihidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa oleh enzim invertase di dalam sitoplasma atau masuk ke vakuola (Marchner 1995). Sejalan dengan itu, Hansen (1970) melaporkan pelabelan yang mempergunakan 14CO

2 pada daun apel, ternyata 14CO

2 dikirim ke pucuk (daun muda) pada apel yang tidak berbuah, sedangkan pada pohon yang berbuah 14CO

2 dikirim ke buah.

Persentase gula total daun tua pada setiap fase pertumbuhan walaupun tidak berbeda, tetapi terlihat adanya peningkatan dari trubus I ke tru-bus II hingga fase fruitset dan menurun kembali pada fase buah ukuran maksimum (Gambar 1). Tingginya kandungan gula total pada trubus II (2,48-2,92%) dan fruitset (3,00-3,27%) dari trubus I (2,44-2,63%) disebabkan fase trubus II dan fruitset berlangsung saat intensitas cahaya tinggi (10.294 dan 25.827 kal./cm2/hari) yaitu pada bulan Agustus-September sedangkan pada fase trubus I (bulan Juni dan Juli) hanya 8.811 dan 8.900 kal./cm2/hari. Intensitas cahaya merupakan sumber energi bagi proses anabolisme dalam

tana-man, terutama proses fisiologi seperti fotosintesis.

Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan fo-tosintesis menjadi lebih aktif sehingga gula total yang dihasilkan juga tinggi. Trubus I berlangsung pada saat intensitas cahaya rendah karena pada bulan Juni-Juli musim hujan, maka laju fotosin-tesis juga rendah. Intensitas cahaya merupakan salah satu unsur iklim yang memegang peranan penting dalam menentukan pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Berbagai proses fisiologi

tanaman seperti fotosintesis, perpanjangan batang, pembentukan bunga, dan buah dipengaruhi oleh radiasi surya (Gardner et al. 1985).

Penurunan kandungan gula total daun dari fase fruitset ke buah maksimum disebabkan selama pengisian buah terjadi pengurasan gula total dari daun ke buah sebagai sink terkuat. Ran-ting merupakan tempat penumpukan karbohidrat terbanyak seperti halnya juga ditemukan pada alpukat (Liu et al. 1999a; 1999b). Kulit dan kayu ranting yang mengalami penurunan persentase gula total dari fruitset (5,61–6,43% dan 2,11-3,21%) ke buah maksimum (2,71-3,17% dan

(4)

Gambar 1. Perubahan kandungan karbohidrat dan nitrogen daun pada berbagai fase pertumbuhan pada 4 varietas rambutan (Changes in carbohydrate and nitrogen content in leaves at each growth phase)

1,90-2,81%) (Tabel 2). Tingginya penurunan gula total pada kulit dengan kisaran 45-56% karena kulit merupakan sumber terdekat sedangkan buah merupakan sink terkuat.

Selain dari kulit ranting, gula total juga di-pasok dari kayu dan daun untuk perkembangan

buah. Kandungan karbohidrat pada kulit me-nentukan hasil buah rambutan, hal ini juga dapat dilihat dari varietas Garuda yang mempunyai diameter tunas terbesar yaitu 0,68 cm menghasil-kan buah secara individu terbesar juga, yaitu 40 g (Tabel 3). Kemudian diikuti oleh Binjai, Lebak

Tabel 1. Kandungan sukrosa, fruktosa, dan glukosa daun dari 4 varietas rambutan pada fase trubus I

(The leaf sucrose, fructose, and glucose content of 4 varieties rambutan at flash I period)

(5)

Bulus, dan Rapiah dengan diameter tunas secara berurutan 0,66; 0,54; dan 0,51 cm dan berat buah 24,43; 23,95; dan 23,79 g. Hal ini sejalan den-gan hasil penelitian Suharto dan Sudarso (1999) bahwa panjang dan diameter ranting mempunyai efek langsung terhadap hasil buah sedangkan luas daun tidak berpengaruh. Sehubungan dengan itu, dalam rangka upaya mempersiapkan tanaman rambutan agar dapat berproduksi dengan kuali-tas tinggi maka pemeliharaan tanaman dengan pemangkasan perlu memelihara ranting yang berdiameter besar dan panjang serta berdaun banyak.

Perubahan kandungan nitrogen

Perubahan persentase kandungan nitrogen daun antar varietas (Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus) mempunyai kemiripan pola pada setiap fase pertumbuhan, yaitu trubus I, dorman, trubus II, fruitset dan buah maksimum (Gambar 1). Perbedaan secara nyata antarvarietas hanya terdapat pada fase fruitset saja, yaitu 2,78 dan 2,75% pada Rapiah dan Binjai nyata lebih tinggi dibandingkan dengan Garuda (2,45%) tetapi tidak dengan Lebak Bulus (2,71%).

Persentase kandungan nitrogen daun antar- fase pertumbuhan menunjukkan perbedaan nyata. Kandungan nitrogen dari trubus I ke trubus II mengalami peningkatan dan menurun pada fruit-set dan buah maksimum. Peningkatan kandungan nitrogen pada trubus II sejalan dengan perubahan morfologi daun hingga mencapai daun dewasa. Meningkatnya persentase kandungan nitrogen daun pada trubus II yaitu berkisar 3,09-3,62%, sejalan dengan perkembangan morfologi daun tersebut, yaitu daun yang telah mencapai perkem-bangan maksimum pada saat berwarna hijau tua hingga muncul tunas baru kandungan nitrogen masih tinggi, kemudian kandungan nitrogen mulai menurun dengan semakin tuanya umur dan berkembangnya daun yang muncul di atas-nya. Hal serupa juga terlihat pada trubus I yang mengalami penurunan setelah berkembangnya tunas baru di atas daun tersebut. Kemiripan ini ditemukan juga pada daun alpukat, jambu biji, dan leci, di mana semakin tua umur daun semakin sedikit pula kadar nitrogennya (Singh dan Rajput 1987; Menzel et al. 1992).

Nitrogen yang diserap akar terbawa ke daun

melalui aliran transpirasi dan kemudian diubah jadi asam amino dan akhirnya menjadi protein (Gardner et al. 1985). Trubus II berlangsung saat intensitas cahaya tinggi (Agustus-Septem-ber) yang mempengaruhi laju transpirasi. Laju transpirasi tinggi memungkinkan nitrogen diserap akar menuju daun juga tinggi.

Kandungan nitrogen daun menurun secara drastis saat tanaman memasuki fase generatif. Hal ini dapat dilihat pada trubus II berkisar 3,09-3,64% menjadi 2,45-2,78% pada fruitset dan 2,37-2,71% pada buah berukuran maksimum. Adanya penurunan kandungan nitrogen ini diduga nitro-gen dipakai untuk pembentukan protein pada biji. Sedangkan terjadinya penurunan di akhir trubus I disebabkan penggunaan nitrogen dalam pemben-tukan sel-sel baru pada pertumbuhan vegetatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury dan Ross (1992) bahwa peranan utama nitrogen bagi tanaman ialah membentuk sel-sel baru sehingga pertumbuhan vegetatif tanaman seperti batang, cabang, dan daun terangsang. Nitrogen berperan

juga pada pembentukan klorofil, protein, lemak,

dan berbagai senyawa organik lainnya.

Nisbah C/N

Hasil pengukuran persentase gula total dan persentase nitrogen dapat digunakan untuk men-duga nisbah C/N. Keempat varietas rambutan yang diamati nisbah C/N nya ada perbedaan yang nyata antarfase pertumbuhan tapi tidak antar- varietas (Tabel 4). Nisbah C/N meningkat drastis setelah trubus II menuju fase generatif. Rendahnya nisbah C/N pada trubus I disebabkan tingginya kandungan nitrogen sehingga tanaman lebih terpacu untuk pertumbuhan vegetatif. Se-mentara peningkatan nisbah C/N pada fase gen-eratif lebih disebabkan karena terjadi penurunan nitrogen yang cukup drastis.

Tingginya nisbah C/N pada saat fruitset

(berkisar 1,03-1,27) telah mendorong tanaman ke arah perkembangan generatif. Hal ini sejalan dengan teori Kraus dan Kraybill (1918) yaitu, jika tanaman dalam keadaan nisbah C/N tinggi, merupakan keadaan yang memungkinkan ter-jadinya pembungaan, sedangkan apabila nisbah C/N rendah pertumbuhan akan mengarah ke vegetatif. Nisbah C/N daun yang rendah pada

(6)

menyebabkan pemanjangan tunas terhambat, sehingga hanya sebagian kecil saja karbohidrat terpakai (Liferdi et al. 2000). Selain itu tingginya intensitas cahaya pada bulan Agustus dan Sep-tember akan meningkatkan proses fotosintesis, sehingga terjadi penumpukan fotosintat.

Dengan diketahuinya perubahan nisbah C/N dari setiap fase pertumbuhan, membuka peluang untuk dilakukan pengaturan pembungaan di luar musim (off season) melalui manipulasi budidaya (Pidkowich et al. 1999). Ketersediaan cadangan karbohidrat yang cukup pada tanaman yang mem-punyai sifat biannual bearing sangat menentukan untuk berhasil tidaknya tanaman memasuki fase berbunga dan berbuah seperti telah dikemukakan oleh Goldschmidt dan Golomb (1982).

KESIMPULAN

1. Kandungan karbohidrat keempat varietas

Tabel 3. Diameter ranting dan berat per buah 4 varietas rambutan (Trunk’s diameter and weight per fruit on 4 varieties rambutan)

Tabel 2. Perubahan kandungan karbohidrat pada daun (A), kulit (B), dan kayu (C) selama pengisian buah 4 varietas rambutan (Fluctuation of carbohydrate contents in the (A) leaves, (B) bark (C) stems during fruits development)

tanaman rambutan terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif yaitu pada trubus I (0,85-0,90) dan 0,69-0,80 pada trubus II.

Selain itu peningkatan nisbah C/N pada fase

fruitset yang berlangsung secara alami nampak-nya juga berhubungan dengan fase trubus II dan fase dorman sebelumnya. Fase trubus II period-enya lebih pendek dari trubus I (Tabel 4), hal ini nampaknya terkait dengan suplai air. Trubus II berlangsung pada saat curah hujan bulanan teren-dah sepanjang tahun. Renteren-dahnya suplai air akan

Tabel 4. Perubahan nisbah C/N 4 varietas rambutan pada fase trubus, dorman fruitset dan buah maksi-mum (Fluctuations of 4 varieties rambutan C/N ratio on flush, dormance, fruitset, and maximal

(7)

rambutan yaitu Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus memiliki kemiripan pola antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan hanya terlihat antarfase pertumbuhan (tru-bus I, tru(tru-bus II, dorman, fruitset, dan buah berukuran maksimum) dari masing-masing varietas. Kandungan karbohidrat pada trubus II berkisar 2,48-2,92% lebih tinggi dari trubus I yang berkisar 2,44-2,63%.

2. Kandungan nitrogen daun antarvarietas (Bin-jai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus) juga mempunyai kemiripan pola pada setiap fase pertumbuhan, yaitu trubus I, dorman, trubus II, fruitset, dan buah maksimum. Perbedaan secara nyata antarvarietas hanya terdapat pada fase fruitset saja yaitu 2,78 dan 2,75% pada Rapiah dan Binjai nyata lebih tinggi diband-ingkan dengan Garuda (2,45%) tetapi tidak dengan Lebak Bulus (2,71%). Kandungan nitrogen dari trubus I ke trubus II mengalami peningkatan, dan menurun pada fruitset dan buah maksimum.

3. Nisbah C/N keempat varietas rambutan yaitu Binjai, Rapiah, Garuda, dan Lebak Bulus meningkat tajam dari fase vegetatif (trubus I dan II) yang berkisar 0,85-0,90 dan 0,69-0,80 menuju fase generatif (fruitset) yang berkisar 1,03-1,27. Tingginya nisbah C/N ini telah mendorong tanaman ke arah perkembangan generatif.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penelitian ini dibiayai dengan dana Penelitian Hibah bersaing, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Direktur Pembinaan Pene-litian dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Dikti, Depdiknas. Ucapan terimakasih disampaikan juga pada Direktur dan Karyawan PT Mekar Ung-gul Sari yang telah bersedia menyediakan fasili-tas dalam pelaksanaan penelitan. Serta Kepala laboratorium biokimia dan enzimatik BB Biogen berserta staf atas fasilitas dan bantuannya.

PUSTAKA

1. Chandha, K. L. and Pal, R.N. 1993. The current status

of the mango industry in Asia. Acta Hort. 341: 42-54 2. Darmawan, J. dan J. Baharsjah. 1983. Dasar-dasar ilmu

fisiologi tanaman. PT. Suryandaru Utama. Semarang 3. Gardner, F.P., R.B. Pearce, and R.L. Mitchell. 1985.

Physiology of crop plant. The Iowa State University Press.

4. Goldschmidt EE and A Golomb. 1982. The carbohydrate

balance of alternate-bearing citrus trees and the signifi

-cance of reserves for flowering and fruiting J. Amer. Soc. Hort. Sci. 107:206-208.

5. Kraus E.J. and H.R. Kraybill. 1918. Vegetation and reproduction with special reference to the tomato. Or-egon Agriculture Experiment Station Bulletin 149:5 In Salisbury, F. B. and C. W. Ross. 1992. Plant physiology, Second Edition. Wadsworth publishing Co. Inc. Belmont, California. 422 p.

6. Liferdi, R. Poerwanto dan L. K. Darusman. 2000. Studi

Fenofisiologi rambutan (Nephelium lappaceum L.). J. Comm. Agric. 5(2):44-52.

7. Liu X., P.W.Robinson, M.A.Modore, G.W.Witney and

M.L. Arpaia. 1999. ‘Hass’ avocado carbohydrate fluc -tuation I growth and phenology. J.Amer.Soc.Hort.Sci. 124(6):671-675.

8. Liu X., P.W.Robinson, M.A.Modore, G.W.Witney and

M.L. Arpaia. 1999. ‘Hass’ avocado carbohydrate fluctua -tion II fruit growth and ripening. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 124(6):676-681.

9. Marschner H. 1995. Mineral nutrition of higher plants, second edition. Academic press inc. San Diego.680 p. 10. Menzel, C.M. and Simpson, D.R. 1992. Effect of

temperature on growth and flowering of litchi (Litchi chinensis Sonn.) cultivars J. Hort. Sci. 83:347-358. 11. Pidkowich MS, Klenz JE, and Haughn GW. 1999. The

making of a flower: Control of floral meristem identity

in Arabidopsis. Trends in Plant Sci. 4(2):64-70. 12. Salisbury, F. B. and C. W. Ross. 1992. Plant physio-logy.

Second Edition. Wadsworth publishing Co. Inc. Belmont, California. 422 p.

13. Singh, N.P. and C.B.S. Rajput. 1987. Effects of leaf age and position and fruiting status on guava leaf mineral composition. J. Hort. Sci. (53):73-74.

14. Suharto dan D. Sudarso. 1999. Evaluasi hubungan luas daun, panjang dan diameter ranting dengan hasil buah rambutan. J. Hort. 8(4):1247-1252.

15. Taiz, L. and E. Zeiger. 1991. Plant physiology. The Benyamin Cummings Publishing Company. Inc. California.559p.

16. Vemmos N. 1995. Carbohidrate changes in flowers,

leaves, shootis and spurs of “Cox’s orange pippin”

Apple during flowering and fruit setting periods. J. Hort. Sci.70(60):889-900.

17. Yamanishi OK, Nakajima Y, and Haasegawa K. 1993. Ef-fect of branch strangulation in late season on reproductive

(8)

phase of young pummelo trees grown in a plastic house. Japan J. Trop. Agr. 37(4):290-297.

18. ____________ Hasegawa K. 1995. Trunk strangulation responses to the detrimental effects of heavy shade on fruit size and quality of ‘Tosa Buntan’ pummelo. J. Hort. Sci. 70(6):875-887.

19. ____________ . 1995. Trunk strangulation and winter heating effects on carbohydrate levels and its relation with

flowering, fruiting and yield of ‘Tosa Buntan’ pummelo

grown in a plastic house. J. Hort. Sci.70(1):85-95. 20. Yoshida S, Forno DA, Cock JH, and Gomez KA. 1972.

Laboratory manual for physiological studies of rice. Second Edition. IRRI, Los Bonos, Philippines 70p.

Gambar

Gambar 1.  Perubahan kandungan karbohidrat dan nitrogen daun pada berbagai fase pertumbuhan  pada 4 varietas rambutan (Changes in carbohydrate and nitrogen content in leaves at each  growth phase)
Tabel 4.  Perubahan nisbah C/N 4 varietas rambutan  pada fase trubus,  dorman fruitset dan buah maksi- maksi-mum (Fluctuations of 4 varieties  rambutan C/N  ratio on  flush, dormance, fruitset, and maximal  fruit fase)

Referensi

Dokumen terkait

Melihat permasalahan mitra metode pelaksanaan yang ditawarkan dalam pengabdian untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok guru SDN Patemon IX

Terjadi kekosongan hukum terkait dengan sanksi secara administratif maupun ketiadaan ketentuan pidana yang dapat dikenakan dan diterapkan bagi subjek hukum pemilik alat angkutan yang

Pemberian kredit dapat diberikan oleh lembaga keuangan perbankan maupun lembaga keuangan non-perbankan, namun demikian untuk lembaga perbankan pemberian kredit dilakukan

TCS menyebabkan kehilangan fungsi progresif pada atau dibawah level medula spinalis yang mengalami gangguan disertai atau tanpa nyeri pada lumbal bagian bawah.. Kelainan ini

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya di SDIT Fithrah

Sebaliknya, siswa yang beranggapan bahwa kimia adalah mata pelajaran yang menyenangkan dan bermanfaat, maka siswa cenderung ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai

Menurut penelitian yang terdahulu yang berkaitan dengan alang-alang menyatakan bahwa Hasil analisis sampel film sebagai adsorben logam kadmium menunjukkan bahwa film

Dengan undang-undang yang baru tentang Bank Indonesia (UU No.23 Tahun 1999, yang berlaku sejak 17 Mei 1999), Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia yang mempunyai