BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Mekanisme Gempa.
Kerak bumi terdiri dari beberapa lapisan tektonik keras yang disebut
litosfir (lithosphere) yang mengapung diatas medium fluida yang lebih lunak yang
disebut mantel, sehingga kerak bumi ini dapat bergerak. Teori yang dipakai untuk
menerangkan terjadinya pergerakan pergerakan gerak bumi tersebut adalah Teori
Perekahan Dasar Laut (Sea Floor Spreading Theory) yang dikembangkan oleh F.
V. Vine dan D. H. Mathew pada tahun 1963 (Irsyam, 2005).
Bersatunya massa batu atau plat satu sama lain dicegah oleh gaya gaya
friksional, apabila tahanan ultimit friksional tercapai karna adanya gerakan
kontiniu dari fluida di bawahnya dua plat yang akan bertubrukan satu sama lain
akan menimbulkan gerakan tiba tiba yang bersifat transient yang menyebarkan
dari satu titik ke segala arah yang disebut gempa bumi (M. T. Zein). Gempa bumi
yang menimbulkan kerusakan yang paling luas adalah gempa tektonik. Gempa
bumi tektonik disebabkan oleh terjadinya pergeseran kulit bumi ( lithosphere )
yang umumnya terjadi di daerah patahan kulit bumi.
Gerakan batuan dasar yang disebabkan oleh getaran gempa bumi meliputi
percepatan, kecepatan, dan perpindahan. Ketiganya pada umumnya teramplifikasi
ke permukaan tanah sehingga menimbulkan gaya dan perpindahan yang dapat
gerakan tanah, yaitu kecepatan tanah puncak, percepatan tanah puncak, dan
perpindahan tanah puncak menjadi parameter parameter utama dalam disain
struktur tahan gempa.
Beberapa parameter dasar gempa bumi yang perlu kita ketahui, yaitu :
1. Hypocenter, yaitu tempat terjadinya gempa atau pergeseran tanah di
dalam bumi.
2. Epicenter, yaitu titik yang diproyeksikan tepat berada di atas hypocenter
pada permukaan bumi.
3. Bedrock, yaitu tanah keras tempat mulai bekerjanya gaya gempa.
4. Ground acceleration, yaitu percepatan pada permukaan bumi akibat
gempa bumi.
5. Amplification factor, yaitu factor pembesaran percepatan gempa yang
terjadi pada permukaan tanah akibat jenis tanah tertentu.
6. Skala gempa, yaitu suatu ukuran kekuatan gempa yang dapat diukur
dengan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran kekuatan gempa
secara kuantitatif dilakukan pengukuran dengan skala Richter yang
umumnya dikenal sebagai pengukuran mangnitudo gempa bumi.
Magnitudo gempa bumi adalah ukuran mutlak yang dikeluarkan oleh
pusat gempa. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Richter
dengan besar antara 0 sampai 9. Selama ini gempa terbesar tercatat
sebesar 8,9 skala Richter terjadi di Colombia tahun 1960. Pengukuran
kekuatan gempa secara kualitatif yaitu dengan melihat besarnya
dikatakan sebagai intensitas gempa bumi. Di Indonesia digunakan skala
intensitas MMI (Modified Mercarlli Intensity) versi tahun 1931.
Perbandingan intensitas skala MMI dari nilai I sampai XII dapat dilihat
pada table 2.1.
Tabel 2.1. Skala intensitas gempa MMI
Skala
MMI Deskripsi
I Getaran gempa tidak terasa, hanya dapat dideteksi oleh alat.
II Dapat dirasakan oleh beberapa orang. Benda benda yang ada digantung dapat bergerak
III Dirasakan lebih keras. Kendaraan atau benda lain yang berhenti dapat bergerak.
IV Dirasakan lebih keras baik didalam bangunan atau diluar. Jendela dan pintu mulai bergetar
V Dirasakan hamper oleh semua orang. Piguran di dinding mulai
berjatuhan, jendela kaca pecah.
VI Dirasakan oleh semua orang. Orang mulai ketakutan. Kerusakan mulai Nampak.
VII Setiap orang mulai lari keluar. Bisa dirasakan didalam kendaraan yang bergerak.
VIII Sudah membahayakan bagi setiap orang.Bangunan lunak mulai runtuh. IX Mulai dengan kepanikan. Sudah ada kerusakan yang berarti bagi semua
bangunan.
X Kepanikan lebih hebat, hanya gedung gedung kuat dapat bertahan.
Terjadi longsor dan rekahan.
XI Hampir semua bangunan runtuh. Jembatan rusak. Retakan yang lebar di tanah.
XII Kerusakan total. Gelombang terlihat di tanah. Benda Benda
beterbangan.
2.2 Konsep Perencanaan Struktur Bangunan Tahan Gempa.
Jika terjadi suatu gempa, maka struktur di atasnya akan mengalami
pergerakan secara vertikal maupun secara lateral. Pergerakan Vertikal relative
perhatian khusus dalam proses disain, sedangkan pergerakan lateral akan
memberikan beban lateral kepada struktur yang dapat menyebabkan struktur
runtuh.
Berdasarkan UBC 1997, tujuan desain bangunan tahan gempa adalah
untuk mencegah terjadinya kegagalan struktur dan kehilangan korban jiwa,
dengan tiga faktor standar, sebagai berikut :
1. Tidak terjadi kerusakan sama sekali pada gempa kecil.
2. Ketika terjadi gempa sedang, diperbolehkan terjadi kerusakan arsitektural
tetapi bukan merupakan kerusakan struktural.
3. Diperbolehkan terjadinya kerusakan stuktural dan non-struktural pada
gempa kuat, namun kerusakan yang terjadi tidak sampai menyebabkan
bangunan runtuh.
Maka perencanaan bangunan struktur tahan gempa harus dapat memperhitungkan
dampak dari gaya lateral yang bersifat siklus (bolak-balik) yang dialami oleh
struktur selama terjadinya gempa bumi. Untuk memikul gaya lateral yang dialami
oleh bangunan, struktur harus dapat memiliki daktilitas yang memadai di daerah
joint atau elemen struktur tahan gempa seperti tube.
Berdasarkan hal di atas, perencanaan struktur dapat direncanakan dengan
mengetahui skenario keruntuhan dari struktur tersebut dalam menahan beban
maksimum yang bekerja. Pelaksanaan konsep desain kapasitas struktur adalah
memperkirakan urutan kejadian dari kegagalan suatu struktur berdasarkan beban
maksimum yang di alami struktur. Sehingga kita merencanakan bangunan dengan
tetapi ada elemen elemen struktur atau titik pada struktur yang dibuat lebih lemah
dibandingkan dengan yang lain dengan harapan di elemen atau titik itulah
kegagalan struktur terjadi pada saat beban maksimum bekerja. Dalam hal ini kita
merancang supaya sendi - sendi plastis yang terjadi pada daerah daerah yang
dapat menunjang tujuan desain bangunan tahan gempa. Konsep desain kapasitas
ini dikenal dengan konsep “strong column weak beam”, yaitu merancang supaya
sendi-sendi plastis terjadi pada balok balok dan kaki kolom bawah.
Dengan konsep mekanisme keruntuhan ini, sendi plastis akan terjadi pada
balok terlebih dahulu baru pada tahap tahap akhir plastis terjadi pada ujung ujung
bawah kolom. Hal ini dilakukan supaya sejumlah besar sendi plastis terbentuk
pada struktur secara daktail yang dapat memencarkan energi melalui proses
pelelehan struktur dan diharapkan dapat menyerap beban gempa. Secara
matematis konsep “strong column weak beam” dapat ditulis dalam bentuk
persamaan sebagai berikut :
∑
∑
M
nkolom>
M
nbalok5
6
( 2 – 1 )
Bangunan tahan gempa didesain berdasarkan zona gempa, karakter lokasi,
jenis tanah, okupansi bangunan, faktor kegunaan bangunan, periode natural
struktur, dan lain- lain. UBC 1997 mensyaratkan seluruh elemen struktur didesain
akibat ground motion dengan memperhatikan respon faktor struktur, faktor
redudan, kuat lebih, dan daktilitas struktur.
2.3 Rekayasa Kegempaan secara Umum.
Pada umumnya struktur didesain berperilaku plastis pada saat gempa kuat
terjadi dengan tingkat daktilitas tertentu. Desain struktur tahan gempa yang
berperilaku elastis pada saat gempa kuat terjadi sangatlah tidak ekonomis. Hal ini
karena gempa kuat jarang terjadi. Untuk memperoleh hasil desain yang lebih
efisien dan ekonomis, sistem struktur dapat didesain dalam kondisi tidak elastik
penuh, sehingga tingkat tahanan dapat direduksi ( R ) pada rentang 1,6 hingga 8,5
pada batas daktail penuh.
Terkait dengan risiko kegempaan, peraturan kegempaan dapat dibagi
menjadi 3 golongan besar yaitu struktur rangka pemikul momen biasa ( SRPMB )
untuk wilayah dengan zona gempa 1 atau 2, struktur rangka pemikul momen
menengah ( SRPMM ) untuk wilayah dengan zona gempa 3 dan 4, serta struktur
rangka pemikul momen khusus ( SRPMK ) untuk wilayah dengan zona gempa 5
Tabel 2.2 Faktor daktalitas maksimum, factor reduksi gempa maksimum, factor tahanan lebih struktur dan factor tahanan lebih total beberapa jenis sistem dan subsistem struktur gedung.
Sistem dan subsistem struktur
gedung Uraian sistem pemikul beban gempa Mm Rm Pers. (6) f Pers. (39)
1. Sistem dinding penumpu (Sistem struktur yang tidak memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Dinding penumpu atau sistem bresing memikul hampir semua beban gravitasi. Beban lateral dipikul dinding
1. Dinding geser beton bertulang 2,7 4,5 2,8
2. Dinding penumpu dengan rangka baja ringan dan
bresing tarik 1,8 2,8 2,2
3. Rangka bresing di mana bresingnya memikul beban gravitasi
a.Baja 2,8 4,4 2,2
b.Beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 1,8 2,8 2,2 2. Sistem rangka gedung (Sistem
struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap.
Beban lateral dipikul dinding geser atau rangka bresing).
1. Rangka bresing eksentris baja (RBE) 4,3 7,0 2,8
2. Dinding geser beton bertulang 3,3 5,5 2,8
3. Rangka bresing biasa
a.Baja 3,6 5,6 2,2
b.Beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 3,6 5,6 2,2 4. Rangka bresing konsentrik khusus
a.Baja 4,1 6,4 2,2
5. Dinding geser beton bertulang berangkai daktail 4,0 6,5 2,8 6. Dinding geser beton bertulang kantilever
daktail penuh 3,6 6,0 2,8
7. Dinding geser beton bertulang kantilever
daktail parsial 3,3 5,5 2,8
3. Sistem rangka pemikul momen (Sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap.
Beban lateral dipikul rangka pemikul momen terutama melalui mekanisme lentur)
1. Rangka pemikul momen khusus (SRPMK)
a.Baja 5,2 8,5 2,8
b.Beton bertulang 5,2 8,5 2,8
2. Rangka pemikul momen menengah beton 3,3 5,5 2,8 3. Rangka pemikul momen biasa (SRPMB)
a.Baja 2,7 4,5 2,8
b.Beton bertulang 2,1 3,5 2,8
4. Rangka batang baja pemikul momen
khusus (SRBPMK) 4,0 6,5 2,8
4. Sistem ganda (Terdiri dari: 1) rangka ruang yang memikul seluruh beban gravitasi; 2) pemikul beban lateral berupa dinding geser atau rangka bresing dengan rangka pemikul momen. Rangka pemikul momen harus direncanakan secara terpisah mampu memikul sekurang-kurangnya 25% dari seluruh beban lateral; 3) kedua sistem harus direncanakan untuk memikul secara bersama-sama seluruh beban lateral dengan memperhatikan interaksi /sistem ganda)
1. Dinding geser
a.Beton bertulang dengan SRPMK beton bertulang 5,2 8,5 2,8
b.Beton bertulang dengan SRPMB baja 2,6 4,2 2,8
c. Beton bertulang dengan SRPMM beton bertulang 4,0 6,5 2,8 2. RBE baja
a.Dengan SRPMK baja 5,2 8,5 2,8
b.Dengan SRPMB baja 2,6 4,2 2,8
3. Rangka bresing biasa
a.Baja dengan SRPMK baja 4,0 6,5 2,8
b.Baja dengan SRPMB baja 2,6 4,2 2,8
c.Beton bertulang dengan SRPMK beton
bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 4,0 6,5 2,8
d.Beton bertulang dengan SRPMM beton
bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 2,6 4,2 2,8
4. Rangka bresing konsentrik khusus
a.Baja dengan SRPMK baja 4,6 7,5 2,8
b.Baja dengan SRPMB baja 2,6 4,2 2,8
5. Sistem struktur gedung kolom kantilever: (Sistem struktur yang memanfaatkan kolom kantilever untuk
Sistem struktur kolom kantilever 1,4 2,2 2
6. Sistem interaksi dinding
geser dengan rangka Beton bertulang biasa (tidak untuk Wilayah 3, 4, 5 & 6) 3,4 5,5 2,8 7. Subsistem tunggal
(Subsistem struktur bidang yang membentuk struktur
1. Rangka terbuka baja 5,2 8,5 2,8
2. Rangka terbuka beton bertulang 5,2 8,5 2,8
3. Rangka terbuka beton bertulang dengan balok
gedung secara keseluruhan) 4. Dinding geser beton bertulang berangkai
daktail penuh. 4,0 6,5 2,8
Uraian sistem pemlkul beban gempa Mm Rm Pers.
(6)
f Pers. (39) 5. Dinding geser beton bertulang kantilever
daktail parsial 3,3 5,5 2,8
Tabel 2.3 Klasifikasi peraturan Gempa berdasarkan resiko Kegempaan.
Resiko Gempa
Jenis Struktur yang dapat digunakan
Factor Modifikasi Respons
Rendah
Sistem rangka Pemikul Momen • SRPMB (Bab 3-20) • SRPMM (Pasal 23.10) • SRPMK (Pasal 23.3-23.5) 3 – 3,5 5 – 5,5 8 – 8,5 Sistem Dinding Struktural
• SDSB (Bab 3 – 20 ) • SDSK (Pasal 23.6)
4 - 4,5 5,5 – 6,5
Menengah
Sistem Rangka Pemikul Momen
• SRPMM
• SRPMK
Sistem rangka Pemikul Momen • SDSB • SDSK 5 – 5,5 8 – 8,5 4 - 4,5 5,5 – 6,5 Tinggi
Sistem rangka Pemikul momen • SRPMK
Sistem Rangka Pemikul Momen • SDSK
8 - 8,5
2.3.1 Sesmic Respon Spektra.
Dalam respon spektra, efek dari ukuran dan tipe gelombang getar yang
terjadi saat gempa disimplifikasi dari garis-garis yang bergelombang menjadi
suatu garis tertentu. Respon spektra yang digunakan dalam perencanaan adalah
respon percepatan ( Sa,g ) dengan periode (T).
Respon spektra adalah plot dari respons maksimum struktur yang
diperoleh dari analisa riwayat waktu suatu gempa. Secara umum ada tiga jenis
respon spektrum tergantung pada jenis respon yang digunakan, yaitu :
• Spektrum respons perpindahan (deformation response spectrum)
Spekturm respon perpindahan μo adalah plot perpindahan terhadap waktu
getar alami Tnuntuk ξn tertentu.
• Spektrum respons kecepatan semu (pseudo – velocity response spectrum) Spektrum respons kecepatan semu úo adalah plot kecepatan terhadap waktu
getar alami Tnuntuk ξn tertentu.
• Spektrum respons percepatan semu (pseudo – acceleration response
spectrum).
Spektrum respons percepatan semu üo adalah plot kecepatan terhadap waktu
getar alami Tnuntuk ξn tertentu.
Absis dari spektrum adalah waktu getar alami dari sistem dan ordinat adalah
Gambar 2.1 Ground acceleration
a. b. c.
Gambar 2.2 .(a) spectrum respons percepatan semu ; (b) spectrum response
kecepatan semu ; (c) spectrum response perpindahan.
Ketiga respon spektra tersebut ( percepatan, kecepatan dan perpindahan )
dapat secara simultan diplot kedalam sebuah grafik skala log dengan 3 sumbu
yang disebut tripartite ( dikembangkan oleh Newmark ). Dimana sumbu
kecepatan dan dua buah sumbu diagonal yang merupakan respon percepatan dan
perpindahan. Contoh tripartite dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.3 Spektrum respons gabungan perpindahan, kecepatan semu, dan
percepatan semu untuk pergerakan tanah akibat gempa EI Centro; ξ =
0,2,5,10, dan 20%.
Respon spektra yang sering digunakan untuk perencanaan dan terdapat di
peraturan peraturan bangunan adalah respon spektra percepatan terhadap periode.
Respon spektra ini lebih mudah digunakan untuk perencanaan karena beban atau
gaya gempa berbanding lurus dengan percepatan sehingga nilainya dapat langsung
Salah satu contoh respons spektra yang digunakan dalam peraturan Uniform Building
Code 1995 ( UBC 1995 ) dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.4 Respons spektra desain pada peraturan
Peraturan di Indonesia, menyarankan untuk menggunakan respon spektra menurut SNI
03 -1726 - 2003 yang telah diklasifikasikan terhadap zona atau wilayah gempa
Indonesia. Respon spectra menurut SNI 03 – 1726 - 2003 untuk 6 wilayah gempa di
Gambar 2.5 Wilayah gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar
2.3.2 Gaya Geser Desain
Nilai dari gaya geser desain ditentukan oleh respon spektra desain dari
struktur tersebut berdasarkan peraturan yang digunakan, keutamaan bangunan (I),
periode bangunan dan berat bangunan (W). Untuk beban gempa statik ekivalen,
menurut SNI 1726 - 2003, gaya geser dasar dapat dihitung dengan persamaan :
t
W
R
I
C
V
b=
1 ( 2 – 2 ) Dimana:C1 = Faktor respon gempa yang dapat ditentukan dari response spektra gempa
rencana dan jenis tanah dibawah bangunan untuk waktu getar alami
fundamental T.
I = Factor keutamaan bangunan yang nilainya bervariasi tergantung dari jenis
bangunan, dapat dilihat pada table 2.4
W = Berat bangunan efektif saat terjadi gempa, nilai W dapat ditentukan
sebagai jumlah dari bebab beban berikut : beban mati total dari struktur
bangunan gedung dan beban hidup efektif yang mungkin ada pada saat
terjadi gempa, dapat diambil sebesar 30% dari beban hidup.
R = Faktor reduksi beban gempa yang bergantung dari system struktur yang
Tabel 2.4 Factor keutamaan bangunan
Kategori Gedung atau Bangunan
Faktor Keutamaan
I Gedung Umun Seperti untuk penghunian,perniagaan dan
perkantoran
1
Monumen dan bangunan monumental 1
Gedung penting pasca gempa seperti rumah sakit,instalasi air bersih,pembangkit tenaga listrik,pusat penyelamatan dalam keadaan arurat,fasilitas radio dan televise.
1.5
Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas,produk
minyak bumi,asam,bahan beracun. 1.5
Cerobong,tangki diatas menara. 1.25
2.3.3 Penentuan Daktalitas bangunan dan Faktor Reduksi Beban Gempa.
Gambar berikut ini menjelaskan hubungan antara beberapa parameter yang
menjadi acuan untuk menentukan besarnya beban gempa nominal pada suatu
struktur.
Keterangan :
Vn = gaya geser nominal (desain)
Vy = gaya gesr pada leleh pertama
Vm = gaya geser maksimum
Ve = gaya geser elastic
δn = perpindahan pada V = Vn
δy = perpindahan pada leleh pertama
δm = perpindahan maksimum
f1 = kuat lebih disain
f2 = kuat cabang bahan
f = kuat cabang struktur
R = factor reduksi beban gempa
µ = factor daktalitas struktur gedung
Menurut UBC 1997, daktalitas adalah kemampuan suatu struktur untuk
mengalami simpangan dalam kondisi paska elastik sehingga terjadi keruntuhan.
Perilaku ini sangat penting, karna selama proses pelelehan elemen struktur
tersebut terjadi proses desipasi energi gempa. Selama terjadi gempa, daktilitas
gedung tersebut tetap berdiri walaupun sudah berada dalam kondisi diambang
keruntuhan.
Struktur dengan tingkat daktalitas tertentu akan memungkinkan terjadinya
sendi plastis secara bertahap pada elemen elemen struktur yang telah ditentukan.
Dengan terbentuknya sendi plastis pada elemen struktur, maka struktur akan
mampu menahan beban gempa maksimum tanpa memberikan kekuatan yang
berlebihan pada elemen struktur karena energi kinetik akibat gerakan tanah dasar
yang akan diterima akan dipencarkan pada sendi plastis tersebut. Semakin banyak
terbentuk sendi plastis pada elemen struktur, semakin besar pula energi gempa
yang dipencarkan. Setelah terjadi sendi plastis pada suatu elemen, defleksi
struktur serta rotasi plastis masih terus bertambah.
Daktilitas struktur direncanakan dengan terdapat faktor modifikasi respon
mewakili faktor kuat lebih dan kapasitas komponen struktur secara keseluruhan
dalam kondisi daktail, dan selanjutnya dikenal dengan lambang µ. Daktilitas
bangunan yang didesain dengan faktor modifikasi respon juga harus dibatasi
berdasarkan kriteria perencanaan berikut :
1. Kekuatan dan kekakuan struktur yang direncanakan untuk memenuhi
kondisi diatas direncanakan juga supaya cukup untuk memberikan
kemampuan kepada struktur bangunan untuk melakukan deformasi
(simpangan) yang bersifat elastoplastik tanpa runtuh, bila mengalami gempa
2. Agar struktur gedung tinggi memiliki daktilitas yang tinggi, harus
diupayakan supaya sendi sendi plastis yang terjadi akibat beban gempa
maksimum ada di dalam balok balok dan tidak terjadi dalam kolom kolom,
kecuali pada kaki kolom yang paling bawah dan pada bagian atas kolom
penyangga atap. Hal ini dapat tercapai bila kapasitas ( momen leleh ) kolom
lebih tinggi daripada kapasitas ( momen leleh ) balok yang bertemu pada
kolom tersebut ( konsep strong column weak beam ).
3. Besarnya displacement yang terjadi harus dibatasi untuk menjaga integritas
bangunan dan menghindari jatuhnya korban jiwa.
Daktilitas didefenisikan sebagai perbandingan antara deformasi maksimum
yang terjadi dengan deformasi pada saat terjadi leleh pertama.
µ = ( 2 – 3 )
dimana faktor daktilitas maksimum yang digunakan untuk bangunan beton
bertulang adalah 5,3.
Karna kekuatan bahan yang terpasang pada pelaksanaan umumnya berlebih, maka
kekuatan material aktual lebih besar dari kekuatan material yang direncanakan.
Faktor tersebut disebut faktor kuat lebih bahan atau beban.
n y v v f1= ( 2 – 4 )
Akibat adanya kehiperstatikan struktur gedung, terjadi redistribusi gaya
gaya oleh proses pembentukan sendi plastis yang tidak bersamaan ( dimana
mekanisme jumlah sendi plastis yang direncanakan pada bangunan lebih besar
dari satu ), maka akan ada kenaikan base shear sebesar Vm. Kuat lebih struktur
didefinisikan sebagai berikut :
y m v v f2 = ( 2 – 5 )
Faktor amplifikasi gaya gempa menyatakan faktor kuat lebih total yang
selanjutnya disebut sebagai overstrength factor dengan lambing f. Perkalian
antara faktor kuat lebih beban atau bahan dengan faktor kuat lebih struktur akan
menghasilkan faktor kuat lebih total:
n m v v f f f = 1. 2 = ( 2 – 6 )
Sedangkan ratio antara beban gempa maksimum akibat pengaruh gempa
rencana pada struktur elastik penuh dan beban gempa nominal akibat pengaruh
gempa rencana pada struktur daktail disebut faktor reduksi gempa.
n e v v f R=µ. 1 = ( 2 – 7 )
2.3.4 Penentuan Periode Struktur.
Periode struktur merupakan representasi dari fleksibilitas struktur yang
merupakan fungsi dari kekakuan dan massa. Periode struktur pada kondisi elastik
dihitung berdasarkan SNI 03-1726-2002 dapat didekati dengan berikut:
To = 0,0731(h)3/4 ( 2 – 8 )
dimana h adalah tinggi total stuktur dalam satuan meter.
2.3.5 Efek Peredam ( damping ) terhadap Stuktur.
Damping pada struktur menyebabkan terjadinya kehilangan energi pada
saat struktur dibebani. Energi yang hilang berubah bentuk menjadi retak, friksi,
leleh pada tulangan, dan lain lain. Nilai damping pada struktur berpengaruh
terhadap respon spektra, dimana semakin besar nilai damping struktur, maka
akselerasi spektral dari respon spektra yang bersangkutan akan semakin kecil.
Besarnya damping dinyatakan dalam critical damping. Sebelum terjadi
gempa, struktur beton bertulang pada umumnya memiliki 1 atau 2 persen critical
damping, pada saat gempa terjadi, nilai damping bertambah menjadi sekitar 5
persen. Semakin besar beban gempa yang bekerja pada struktur, semakin banyak
2.3.6 Kinerja Batas Layan.
Kinerja batas layan struktur gedung ditentukan oleh simpangan antar
tingkat akibat pengaruh gempa rencana, hal ini untuk membatasi terjadinya
pelelehan baja dan peretakan beton yang berlebihan, selain itu untuk mencegah
kerusakan nonstruktur dan ketidaknyamanan penghuni. Untuk memenuhi
persyaratan kinerja batas layan struktur gedung, simpangan antar tingkat struktur
gedung tidak boleh melampaui 0,03 / R kali tinggi tingkat yang bersangkutan atau
30 mm, bergantung yang mana yang nilainya terkecil.
2.3.7 Kinerja Batas Ultimit.
Kinerja batas ultimit struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan
simpangan antar tingkat maksimum struktur gedung akibat pengaruh gempa
rencana dalam kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan, yaitu untuk
membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang dapat
menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya antar
gedung. Simpangan dan simpangan antar tingkat ini harus dihitung dari
simpangan struktur gedung akibat pembebanan gempa nominal, dikalikan dengan
suatu faktor pengali ξ, sebagai berikut : - untuk struktur gedung beraturan :
- untuk struktur gedung tidak beraturan :
ξ = 0.7 R / Faktor Skala ( 2 – 10 )
di mana R adalah faktor reduksi gempa struktur gedung tersebut.
Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas ultimit struktur gedung, dalam segala
hal simpangan antar tingkat yang dihitung dari persamaan di atas tidak boleh
melampaui 0,02 kali tinggi tingkat yang bersangkutan.
2.4 Sistem Struktur.
Bertambahnya tinggi suatu bangunan maka aksi gaya lateral semakin
berarti. Pada ketinggian tertinggi ayunan lateral bangunan semakin besar sehingga
dengan pertimbangan kekuatan, kekakuan ( stiffness ), mutu bahan akan
mempengaruhi rancangan suatu gedung bertingkat tinggi. Derajad kekakuan
tergantung pada jenis sistem yang dipilih. Efisiensi suatu sistem tertentu berkaitan
langsung dengan jumlah bahan yang digunakan. Dengan demikian, optimasi suatu
struktur untuk kebutuhan ruang tertentu haruslah menghasilkan kekakuan
maksimum, tetapi dengan berat sekecil mungkin.
Berdasarkan pertimbangan diatas, penulis membandingkan penggunaan
bahan pada sistem stuktur tube dengan sistem struktur tube in tube untuk
memperoleh sistem manakah yang paling efisien untuk di terapkan pada ambang
2.4.1 Sistem Struktur Tube
Sistem struktur tube dapat didefenisikan sebagai suatu sistem struktur
bahwa gedung itu berprilaku sebagai suatu tabung kosong. Untuk memhami
perilaku dari sistem struktur tube terlebih dahulu lihat gambar 2.8. Dinding tabung
terbuat dari kolom kolom berjarak sangat rapat di sekeliling bangunan yang diikat
dengan balok pengikat yang tinggi. Diasumsikan bahwa kolom bagian dalam
hanya berfungsi untuk menahan beban akibat berat sendiri, kemampuan untuk
menahan gaya lateral diabaikan. Lantai dianggap sebagai rigid diafragma dan
diasumsikan untuk mendistribusikan gaya gaya lateral ke komponen penahan gaya
gaya lateral sesuai dengan kekakuannya.
Perancangan sistem tabung rangka sangat ideal apabila dinding eksterior
merupakan suatu kesatuan yang reaksinya terhadap beban lateral mengikuti lentur
kantilever murni. Apabila demikian, maka semua kolom yang merupakan bagian
dari tabung akan mengalami tarikan aksial atau tekan. Kolom interior yang
berfunsi untuk menahan beban gravitasi saja membuatnya bias didisain lebih
ramping, sehingga ruang lantai yang ada lebih luas. Adapun karakteristik umum
system tube antara lain :
1. Transfer gaya gempa melalui mekanisme lentur sehingga diperlukan
banyak kolom di daerah parimeter (sehingga meyerupai shearwall di
sekeliling bangunan)
Gambar 2.8 Skematik Bangunan Struktur Tube
Akan tetapi, perilaku tabung sebenarnya adalah diantara kantilever murni dengan
rangka murni. Sisi sisi tabung yang sejajar dengan arah angin akan cenderung
berprilaku sebagai rangka yang multitrave yang independen dengan adanya
fleksibilitas dari balok pengikat. Fleksibilitas ini menghasilkan tekuk pada rangka
karna gaya geser. Maka lentur terjadi pada kolom dan balok.
Pengaruh gaya geser pada aksi tabung mengakibatkan penyebaran tekanan
nonlinear sepanjang kolom sisi luar, kolom kolom di sudut sudut bangunan
dipaksa untuk memikiul beban yang lebih besar dari pada kolom kolom diantara
sudut. Selanjutnya defleksi total dari bangunan tidak lagi berupa suatu balok
2.4.2 Sistem Struktur tube in tube.
Pada sistem struktur ini mekanisme transfer beban lateral sama dengan
sistem struktur tube, namun kekakuan sistem tabung yang kosong ditingkatkan
dengan inti yang tidak hanya untuk menahan beban gravitasi, tetapi juga untuk
menahan beban lateral. Struktur lantai mengikat tabung interior bersama eksterior
dan berlaku sebagai satu kesatuan terhadap gaya gaya lateral. Reaksi suatu sistem
tabung dalam tabung terhadap angin menyerupai struktur rangka dengan dinding
geser. Struktur akan lebih daktail dari struktur tube dan displacement yang terjadi
lebih besar.
Tabung eksterior menahan hampir semua angin di bagian atas bangunan,
sedangkan inti memikul sebagian besar beban di bagian bawah bangunan.(lihat
gambar 2.9 )
Gambar 2.9 Struktur tube mampu menahan hampir semua beban angin di bagian