11 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori Stakeholder
Teori stakeholder menyatakan bahwa manajemen atau pihak perusahaan haruslah memberikan informasi mengenai aktivitas perusahaan yang bisa berdampak terhadap stakeholder. Stakeholder perusahaan terdiri dari pemegang saham, kreditur, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain. Setiap stakeholder memiliki hak untuk memperoleh informasi, terutama jika mereka adalah pemegang saham minoritas yang tidak bisa mengakses informasi melalui rapat privat (Holland, 2001).
Dalam teori stakeholder, akuntabilitas organisasi di mata stakeholder jauh lebih penting melebihi kinerja keuangan (Rafinda dkk, 2011). Perusahaan akan memilih secara sukarela melakukan pengungkapan informasi mengenai kinerja lingkungan, sosial dan intelektual, meskipun informasi tersebut tidak mereka gunakan, atau tidak memainkan peranan yang signifikan dalam perusahaan.
Stakeholder berperan penting bagi reputasi perusahaan, sehingga perusahaan akan menjaga hubungan baik dengan stakeholder melalui penyediaan informasi. Penyediaan informasi dalam bentuk pelaporan modal intelektual dapat dijadikan alat bagi perusahaan untuk mengelola hubungan baik dengan stakeholder. Selain itu, melalui pengungkapan modal intelektual diharapkan dapat memberikan image positif
12
perusahaan, sehingga dapat mempertahankan keseimbangan dan keberlanjutan pengkreasian nilai bagi semua stakeholder (Mari Wardhani, 2009).
2.1.2 Teori Legitimasi
Teori legitimasi menjelaskan bahwa perusahaan berusaha memastikan aktivitas-aktivitasnya masih dalam batasan ikatan dan norma masyarakat untuk menjamin kelangsungan usaha mereka. Teori ini didasarkan atas adanya kontrak sosial antara perusahaan dengan lingkungan tempat menjalankan usaha. Kontrak sosial adalah cara-cara bagaimana seharusnya perusahaan melaksanakan operasinya untuk menjawab harapan masyarakat (Widarjo, 2011).
Perusahaan akan berusaha memastikan bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan dengan sukarela akan melaporkan aktivitas yang dilakukan manajemen jika aktivitas tersebut mendapat perhatian masyarakat sekitar (Purnomosidhi, 2006).
Gutrie, dkk (2004) mengatakan bahwa perusahaan melakukan pengungkapan untuk memperlihatkan perhatian perusahaan terhadap nilai kemasyarakatan dan mengalihkan perhatian masyarakat dari dampak buruk yang ditimbulkan perusahaan dari aktivitas operasinya. Pengungkapan ini dapat tertuang dalam laporan tahunan perusahaan. Teori legitimasi menempatkan persepsi dan pengakuan masyarakat umum sebagai dasar dalam melakukan pengungkapan dalam laporan tahunan (Rafinda dkk, 2011).
Salah satu informasi yang tertuang dalam laporan tahunan adalah informasi mengenai modal intelektual. Teori legitimasi memiliki hubungan erat dengan
13
pelaporan modal intelektual (Purnomosidhi, 2006). Perusahaan akan melakukan pengungkapan modal intelektual yang mana adalah salah satu dari aktiva tidak berwujud, untuk dapat melegitimasi statusnya melalui aktiva berwujud yang dikenal sebagai simbol kesuksesan perusahaan (Purnomosidhi, 2006).
2.1.3 Definisi Modal Intelektual
Modal intelektual pertama kali disebutkan dalam sebuah surat yang ditulis oleh ekonom John Kenneth Galbraith yang ditujukan kepada rekannya Michal Kalecki pada tahun 1969 (Purnomosidhi, 2006). Dalam tulisannya, Galbraith menyebutkan banyaknya modal intelektual yang dimiliki oleh perusahaan di dunia yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Melalui surat inilah istilah modal intelektual mulai berkembang di seluruh dunia.
Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) mendefinisikan modal intelektual sebagai nilai ekonomik dari dua kategori intangibles asset perusahaan yaitu organizational/structural capital dan human capital. Organizational/structural capital meliputi proprietary software system, distribution networks dan supply chains. Sedangkan, human capital meliputi human resources baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan, seperti customer dan supplier.
Williams (2001) menyebutkan modal intelektual adalah informasi pengetahuan yang dapat diaplikasikan dalam aktivitas-aktivitas perusahaan untuk menciptakan nilai tambah perusahaan. Definisi ini memperlihatkan kemampuan modal intelektual dalam membangun nilai perusahaan. Modal intelektual mengarah
14
kepada aset tidak berwujud yang terkait dengan pengetahuan, kompetensi karyawan, teknologi yang digunakan, struktur manajemen, strategi manajemen, brands, dan konsumen (Sveiby, 1998). Menurut Sawarjuwono dan Kadir (2003), modal intelektual adalah hasil dari tiga elemen utama organisasi (human capital, structural capital, customer capital) yang memanfaatkan pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan nilai perusahaan dan keunggulan bersaing.
Terdapat banyak definisi modal intelektual menurut ahli ekonomi dan pakar dari kalangan bisnis. Dapat disimpulkan modal intelektual didefinisikan sebagai suatu konsep mengenai sumber daya berbasis pengetahuan dalam bentuk aset tidak berwujud yang memungkinkan perusahaan menciptakan nilai, keunggulan bersaing dan kelangsungan hidup perusahaan (going concern).
2.1.4 Komponen Modal Intelektual
Penentuan strategi perusahaan dapat memanfaatkan komponen-komponen dalam modal intelektual. Melalui pemahaman atas komponen-komponen modal intelektual dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Terdapat banyak versi dari para ahli mengenai komponen dalam modal intelektual.
Secara umum, terdapat 3 komponen yang sering dikutip dari berbagai penelitian, yaitu komponen yang diusulkan Sveiby (1997), Stewart (1997), Edvisson dan Sullivan (1996), Bontis, dkk (2000), Demediuk (2002), Sawarjuwono dan Kadir (2003), dan Purnomosidhi (2006). Ketiga komponen tersebut memiliki unsur yang sama yaitu modal intelektual yang terkait dengan diri manusia (human capital),
15
modal intelektual yang terkait dengan perusahaan (structural capital), dan modal intelektual yang terkait dengan pihak eksternal (customer capital).
Human capital merupakan komponen utama dalam modal intelektual dan sumber inovasi dan pengembangan yang sulit diukur (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Menurut Bontis, dkk (2000), human capital mendeskripsikan mengenai kompetensi dan pengetahuan individual perusahaan yang tercermin melalui karyawannya. Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan melalui pengetahuan dan kompetensi karyawannya.
Karyawan yang memiliki tingkat kompetensi dan intelektual yang tinggi tidak dapat menjamin perusahaan akan mencapai kinerja optimal tanpa adanya sistem dan prosedur operasional yang baik. Sistem operasional, strategi perusahaan, teknologi informasi yang digunakan, budaya organisasi, struktur organisasi, dan prosedur operasional merupakan bagian dari structural capital (Bontis et al, 2000). Structural capital dapat dikatakan sebagai kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung aktivitas karyawan dalam menghasilkan kinerja bisnis yang optimal secara keseluruhan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003)
Hubungan dengan konsumen merupakan hal yang penting bagi perusahaan, selain hubungan antara perusahaan dan karyawan maupun struktur bisnisnya, karena merupakan sumber utama untuk mendapatkan penghasilan bagi perusahaan. Customer capital merupakan komponen modal intelektual yang membangun hubungan baik dengan konsumen dalam rangka pelaksanaan bisnis. Elemen ketiga ini dapat dikatakan sebagai kemampuan perusahaan yang diperoleh dari hubungan
16
dengan pihak eksternal melalui koneksi, kesepahaman, loyalitas dan aktivitas bisnis (Demediuk, 2002).
2.1.5 Pengungkapan Informasi Modal Intelektual
Pengungkapan adalah penyediaan sejumlah informasi yang tertuang dalam laporan keuangan maupun laporan tahunan serta informasi tambahan lainya yang terdiri dari catatan kaki, informasi kejadian setelah tanggal neraca, analisis manajemen serta informasi lainnya yang dibutuhkan untuk aktivitas perusahaan secara optimal dan efisien. Informasi tambahan ini dapat berupa informasi mengenai modal intelektual yang tertuang dalam laporan tahunan yang dipublikasikan.
Pengungkapan modal intelektual dapat menjadi informasi yang bernilai bagi investor dan membantu mereka dalam menghadapi ketidakpastian masa depan dan bisa menjadi dasar dalam pengambilan keputusan serta penilaian terhadap investasi mereka di perusahaan. Pengungkapan modal intelektual juga dapat memberi rasa aman dan kepercayaan bagi stakeholder. Bruggen, dkk (2009) menyatakan pentingnya kepercayaan dari stakeholder dapat menjadi suatu strategi jangka panjang dalam menciptakan komitmen stakeholder yang lebih tinggi demi masa depan perusahaan.
Pengungkapan modal intelektual juga dapat digunakan sebagai alat pemasaran, karena dalam pengungkapan ini tertuang nilai-nilai serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan kekayaan jangka panjang dan dapat meningkatkan reputasi perusahaan. Pengungkapan modal intelektual juga dapat meningkatkan
17
relevansi laporan keuangan dan meningkatkan kepercayaan dan loyalitas stakeholder (Bruggen, dkk, 2009)
Terdapat standar akuntansi di Indonesia yang mengatur mengenai aset tidak berwujud yaitu PSAK No. 19 revisi 2009. Dalam standar tersebut tidak mengatur secara eksplisit tentang modal intelektual. Aset tidak berwujud didefinisikan sebagai aset non moneter yang dapat diidentifikasikan tanpa wujud fisik.
Pengungkapan modal intelektual di Indonesia masih bersifat sukarela (voluntary). Belum terdapat pengelompokkan komponen modal intelektual yang baku dan diterima oleh seluruh entitas. Selain itu belum ada pola khusus pengungkapan modal intelektual.
Penelitian ini menggunakan framework atau indeks pengungkapan modal intelektual dari penelitian Singh dan Van der Zahn (2007). Indeks ini dipakai karena merupakan perpaduan dari indeks pengungkapan modal intelektual yang terdapat dalam penelitian Williams (2001) dan Bukh, dkk (2005). Indeks pengungkapan modal intelektual dalam penelitian ini terdiri dari 81 item. Menurut indeks ini, pengungkapan modal intelektual diukur ke dalam enam kategori, yaitu karyawan, pelanggan, pernyataan strategi, proses, teknologi informasi, dan penelitian dan pengembangan.
2.1.6 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah ukuran menilai besar kecil perusahaan berdasarkan total aset, nilai saham, jumlah karyawan dan lain sebagainya. Ukuran perusahaan dapat dinilai dengan total aset, nilai penjualan dan nilai kapitalisasi pasar (Sudarmadji dan Sularto, 2013). Ukuran tersebut dapat digunakan untuk menilai
18
ukuran perusahaan karena dapat menggambarkan seberapa besar ukuran perusahaan. Misalnya, semakin besar aset maka semakin besar modal yang ditanam. Besaran modal ditanam menggambarkan besar kecil perusahaan.
Semakin besar ukuran perusahaan, tuntutan terhadap keterbukaan informasi akan semakin tinggi dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Melalui pengungkapan informasi yang lebih banyak, perusahaan telah menerapkan prinsip-prinsip manajemen perusahaan yang baik.
Perusahaan besar melakukan aktivitas lebih banyak dan memiliki potensi penciptaan nilai jangka panjang (Purnomosidhi, 2006). Banyaknya unit usaha sebagai akibat banyaknya aktivitas-aktivitas yang dimiliki perusahaan besar, menyebabkan perusahaan sering diawasi oleh stakeholder yang ingin mengetahui pengelolaan manajemen terhadap modal intelektual yang dimilikinya.
Sumber daya relatif besar juga dimiliki perusahaan besar untuk mengumpulkan dan menyediakan informasi dibandingkan perusahaan kecil (Wahyu, 2009). Perusahaan dengan sumber daya relatif kecil seringkali tidak memiliki informasi siap saji sebanyak yang dimiliki perusahaan besar, sehingga ketika perusahaan tersebut ingin melakukan pengungkapan lebih luas perlu tambahan biaya yang besar.
2.1.7 Tipe Industri
Menurut Woodcock dan Whiting (2011), dan Putra, dkk (2013), industri dengan intensif modal intelektual, akan mengungkapkan lebih banyak mengenai modal intelektual dibandingkan industri yang mengandalkan aset berwujud untuk
19
memperoleh laba. Berdasarkan intellectual capital intensity, Global Industry Classification Standard (GICS) mengelompokkan industri menjadi 2 yaitu high IC intensive industry dan low IC intensive industry. GICS adalah sebuah standar pengelompokan industri yang dikembangkan oleh Stanley Capital Internasional dan S&P untuk kepentingan komunitas keuangan global.
Menurut GICS, high IC intensive industry adalah kelompok industri yang telah mampu mengembangkan dan memanfaatkan modal intelektualnya dengan baik sehingga bisa menciptakan nilai tambah dan keunggulan kompetitif perusahaan. Perusahaan dengan klasifikasi high IC intensive industry akan melakukan pengungkapan modal intelektual lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan low IC intensive industry.
Perusahaan dengan kategori high IC intensive industry, seperti otomotif, konstruksi, industri pembuat perangkat lunak, dan perusahaan teknologi akan lebih banyak mendapat perhatian intensif dari shareholders daripada perusahaan lainnya. Perusahaan yang memiliki teknologi tinggi dalam pengembangan produk dan aktivitas perusahaannya dipandang melakukan investasi yang tinggi dalam modal intelektual (Purnomosidhi, 2006).
Investasi dalam modal intelektual tersebut terutama dilakukan dalam sumber daya manusia, pengetahuan, keterampilan, brand, program untuk menambah loyalitas pelanggan dan sebagainya. Oleh karena itu, perusahaan dengan intensif modal intelektual akan cenderung mengungkapkan informasi tersebut kepada para stakeholder.
20
Williams (2001) menyatakan bahwa perusahaan yang tergolong perusahaan dengan pengetahuan tinggi (highly knowledge based industry) melakukan pengungkapan modal intelektual lebih banyak dibandingkan perusahaan dengan pengetahuan rendah. Hal ini dilakukan perusahaan untuk membangun dan mempertahankan citra, kepentingan pribadi dan mengurangi tekanan dari stakeholders.
2.1.8 Research and Development
Berdasarkan PSAK No 20 tentang biaya riset dan pengembangan, yang dimaksud riset (research) adalah penelitian orisinal dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan memperoleh pengetahuan baru, pemahaman teknis dan ilmiah yang baru. Sedangkan pengembangan (development) adalah penerapan temuan riset atau pengetahuan baru ke dalam suatu rencana atau rancangan produksi untuk menghasilkan bahan baku, alat, produk, proses, sistem, atau jasa sebelum dimulainya produksi komersial atau pemakaian.
Menurut Financial Accounting Standard no. 2, research (penelitian) adalah perencanaan kritis untuk menemukan pengetahuan baru yang dapat bermanfaat dalam mengembangkan produk, metode, alat serta dapat memperbaiki secara signifikan proses dan produk yang sudah ada. Sedangkan, development (pengembangan) merupakan hasil penelitian dan pengetahuan yang tertuang dalam rencana dan rancangan produk atau proses baru dengan tujuan peningkatan signifikan pada produk atau proses yang sudah ada. Dengan demikian, research and development dapat diartikan sebagai suatu penelitian atau studi dalam menciptakan pengetahuan baru
21
atau metode baru untuk diterapkan dalam suatu rencana atau desain produksi yang dapat memberi manfaat ekonomi di masa datang.
Penciptaan produk dan proses baru dalam kegiatan research and development perusahaan, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain penciptaan produk dan proses baru serta pengetahuan baru, research and development juga dilakukan pada sektor yang bermanfaat dalam peningkatan efektivitas dan inovasi seperti riset pemasaran dan pengembangan SDM. Kemampuan inovasi menjadi signifikan bagi perusahaan dengan melakukan investasi research and development yang akan berdampak dalam jangka panjang.
Research and development bisa dijadikan sebagai suatu strategi dalam memperoleh keunggulan kompetitif dan penciptaan nilai jangka panjang. Penciptaan nilai jangka panjang ini tercermin dalam keunggulan kompetitif perusahaan yang digunakan sebagai strategi diferensiasi dalam menciptakan produk atau metode yang sulit ditiru pesaing. Oleh sebab itu, dengan diuangkapkannya research and development dalam laporan tahunan diharapkan mampu memberikan image baik bagi perusahaan sekaligus memberikan informasi mengenai penciptaan nilai jangka panjang perusahaan.
2.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah dugaan sementara pada suatu penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
22
2.2.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Pengungkapan Modal Intelektual
Ukuran perusahaan adalah variabel independen yang potensial dalam hubungannya pada pengungkapan modal intelektual. Telah banyak penelitian yang meneliti hubungan antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual, seperti penelitian Williams (2001), Bukh, dkk (2004), Purnomosidhi (2006), Bruggen, dkk (2009), White, dkk (2010), Suhardjanto (2010), Ferreira, dkk (2012), Putra, dkk (2013) dan Ines Kateb (2014). Dalam beberapa penelitian tersebut menunjukkan hubungan positif ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual.
Teori stakeholder dapat menjelaskan hubungan positif antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual. Perusahaan besar akan memperoleh perhatian besar dari stakeholder, sehingga perusahaan perlu mengungkapkan informasi yang lebih luas, termasuk informasi mengenai modal intelektual (Putra, dkk, 2013).
Perusahaan besar melakukan pengungkapan modal intektual lebih banyak berdasarkan 2 alasan (Ousama, dkk, 2012). Pertama, perusahaan besar memiliki sumber daya untuk mengungkapkan lebih banyak informasi. Kedua, perusahaan besar memiliki sistem informasi manajemen yang lebih baik untuk mengumpulkan informasi, sehingga menyebabkan perusahaan bisa mengungkapkan lebih banyak informasi.
Penjelasan di atas juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Purnomosidhi (2006), Bruggen, dkk (2009), dan Ferreira, dkk (2012) yang menemukan bahwa terdapat pengaruh ukuran perusahaan pada pengungkapan modal
23
intelektual. Penelitian White, dkk (2007) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual pada perusahaan bioteknologi di Inggris dan Australia.
Hasil penelitian yang sama juga terdapat pada penelitian Singh, dkk (2007) yang meneliti adanya pengaruh ukuran perusahaan pada pengungkapan modal intelektual di perusahaan gas dan minyak Australia. Penelitian Wahyu (2009) juga menyebutkan adanya hubungan yang signifikan antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ukuran perusahaan dalam berbagai penelitian terbukti merupakan faktor yang signifikan dalam menjelaskan tingkat pengungkapan informasi di sejumlah negara. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan untuk penelitian ini adalah:
H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh positif pada pengungkapan modal intelektual
2.2.2 Pengaruh Tipe Industri pada Pengungkapan Modal Intelektual
Menurut Bukh, dkk (2004), nilai market-to-book value pada perusahaan teknologi informasi dan bioteknologi pada umumnya tinggi, sehingga pengungkapan sukarela di luar pengungkapan akuntansi tradisional menjadi penting untuk mengungkapkan hidden value perusahaan. Menurut Bruggen, dkk (2009), perusahaan yang mengandalkan modal intelektual akan melakukan pengungkapan modal intelektual lebih luas.
Menurut Woodcock dan Whiting (2011), dan Putra, dkk (2013), teori stakeholder dan legitimasi dapat menjelaskan hubungan antara tipe industri dengan
24
pengungkapan modal intelektual. Menurut teori stakeholder, stakeholder berhak mengetahui informasi atas aktivitas perusahaan yang mempengaruhi mereka (Vergauwen & Van Alem 2005), terutama jika mereka adalah pemegang saham minoritas yang tidak bisa mengakses informasi melalui rapat private (Holland, 2001). Perusahaan tidak diwajibkan untuk mengungkapkan informasi mengenai modal intelektual dalam laporan tahunan, sehingga untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan stakeholder, perusahaan intensif modal intelektual secara sukarela akan mengungkapkan mengenai modal intelektual.
Legitimasi teori menyatakan bahwa organisasi secara terus-menerus memastikan bahwa aktivitas mereka berada dalam batas dan norma masyarakat. Dari sudut pandang teori legitimasi, pengungkapan informasi digunakan sebagai alat bagi perusahaan agar operasi serasi dengan nilai-nilai sosial, untuk menunjukkan image tanggung jawab sosial dan meningkatkan legitimasi sosial (Oliveira, dkk, 2006).
Penelitian mengenai hubungan positif antara tipe industri dengan pengungkapan modal intelektual terlihat dalam penelitian Woodcock dan Whiting (2011) dan Bruggen, dkk (2009). Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan yang tergolong high IC intensive industry cenderung melakukan pengungkapan mengenai modal intelektual lebih luas dibandingkan perusahaan yang tergolong low IC intensive industry. Selain itu penelitian yang dilakukan Putra, dkk (2013) pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memperlihatkan hubungan yang positif antara tipe industri dengan pengungkapan modal intelektual. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan untuk penelitian ini adalah:
25
H2: High IC intensive industry berpengaruh positif pada pengungkapan modal intelektual
2.2.3 Pengaruh Intensitas Research and Development pada Pengungkapan Modal Intelektual
Pada era ekonomi baru berbasis pengetahuan, strategi research and development menjadi kunci penting kesuksesan perusahaan dalam penciptaan modal intelektual (Purnomosidhi, 2005). Research and development mengarahkan terjadinya inovasi, yang kemudian menjadikan perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif dalam industrinya. Research and development dianggap sebagai bentuk investasi yang menghasilkan peningkatan ilmu pengetahuan. Investasi dalam research and development akan melibatkan inovasi yang berhubungan dengan proses dan produk yang menarik bagi konsumen.
Investasi dalam research and development bisa menjadi suatu informasi penting bagi stakeholder mengenai strategi penciptaan nilai jangka panjang perusahaan dan pengelolaan modal intelektualnya. Dengan adanya research and development maka memungkinkan perusahaan untuk melakukan pengungkapan yang lebih luas terutama berkaitan dengan penelitian dan pengembangan.
Penelitian ini mengambil saran dari penelitian yang dilakukan Ousama, dkk (2012) yang meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan modal intelektual pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Malaysia, yaitu mengenai pemakaian variabel research and development. Pada penelitiannya, Ousama, dkk (2012) memberikan saran untuk menggunakan variabel research and development sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengungkapan
26
modal intelektual. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan kegiatan research and development di Indonesia, semakin meningkatkan investasi perusahaan dalam kegiatan research and development.
Intensitas research and development dalam perusahaan merupakan salah satu jenis informasi mengenai pengelolaan modal intelektual. Menurut penelitian Aisyah dan Sudarno (2014) menunjukkan research and development berpengaruh signifikan pada luas pengungkapan modal intelektual. Penelitian tersebut menguji hubungan antara research and development dengan luas pengungkapan modal intelektual pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012. Penelitian tersebut memberikan hasil bahwa perusahaan yang melakukan dan berinvestasi dalam research and development melakukan pengungkapan sukarela lebih luas berkaitan dengan kegiatan research and development yang merupakan unsur dari internal/structural capital. Perusahaan yang berinvestasi dalam research and development dapat dikatakan memiliki sumberdaya dan teknologi yang unggul sehingga akan melakukan pengungkapan modal intelektual lebih luas dibandingkan dengan perusahaan yang tidak berinvestasi dalam research and development. Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan untuk penelitian ini adalah:
H3: Intensitas research and development berpengaruh positif pada pengungkapan modal intelektual