ABSTRAK
Ruas jalan Krian-Gempol adalah salah satu ruas jalan terpadat di Jawa Timur, penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang terus meningkat. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka ada wacana untuk membangun jalan tol Krian-Gempol. Oleh karena itu Penulis berinisiatif untuk melakukan studi kelayakan pembangunan jalan bebas hambatan Krian-Gempol
Dalam tugas akhir ini, parameter yang ditinjau untuk menilai kelayakan jalan bebashambatan Krian-Gempol adalah BCR, NPV, dan IRR Nilai manfaat yang diharapan akibat pembangunan jalan bebas hambatan Krian-Gempol adalah penghematan BOK dan nilai waktu. Untuk perhitungan BOK menggunakan metode Jasa Marga dan perhitungan nilai waktu menggunakan metode Jasa Marga.
Untuk perhitungan analisa kelayakan ekonomi diperoleh nilai BCR>1 dan NPV>0, dan perhitungan analisa kelayakan finansial diperoleh nilai BCR<1, NPV<0, dan IRR<7,25%. Dari hasil analisis BCR, NPV, dan IRR ditarik kesimpulan bahwa untuk pembangunan jalan bebas hambatan Krian-Gempol tidak layak secara finansial.
Kata Kunci : Analisa Kelayakan Ekonomi, Analisa Kelayakan FinansiaL
I. PENDAHULUAN
Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan kondisi perekonomian yang cukup stabil dan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini ditunjukan
pada bulan September 2012 Jawa Timur mengalami inflasi
sebesar 0,02 persen, secara kumulatif semester I tahun 2012
PDRB Jawa Timur mencapai Rp. 483,90 triliun (BPS Jawa Timur) dan diprediksi perekonomian beberapa triwulan kedepan akan terus mengalami inflasi yang positif.
Ketersediaan jasa transportasi berkorelasi positif dengan
kegiatan ekonomi dan pembangunan dalam masyarakat,
dalam kerangka makro-ekonomi, transportasi merupakan
tulang punggung perekonomian nasional, regional, dan lokal, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mengacu pada hal tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa proses pergerakan barang dan jasa di Jawa Timur akan meningkat setiap tahunnya dimana kondisi tersebut berakibat pada meningkatnya kebutuhan akan prasarana transpotasi yang memadai.
Ruas eksisting dari Krian menuju Gempol merupakan salah satu ruas terpadat di Jawa Timur, hal ini
dikarenakan meningkatnya pertumbuhan lahan terutama kawasan industri di daerah Krian. Jalur ini menjadi salah satu alternatif bagi Road User yang ingin menuju mojokerto dari pasuruan, maupun sebaliknya. Beberapa titik pada ruas eksisting yang dimaksud kerap mengalami kejenuhan pada jam padat. Hal ini dikarenakan ruas eksisting (Gempol) merupakan pertemuan dari beberapa arus lalu lintas. Baru kemudian setelah melewati Gempol arus lalu lintas terpecah menuju arah Malang dan menuju arah Pasuruan. Melihat kondisi tersebut maka munculah gagasan untuk memecahkan masalah ini dengan cara mencari jalur alternatif yang terpisah dari ruas eksisting sebagai alternatif arus lalu lintas.
Berkaitan dengan adanya wacana dari Jasa Marga selaku pihak pembangun jalan tol yang akan membangun jalan tol Krian – Gempol maka jalur bebas hambatan dianggap paling ideal untuk mengatasi masalah yang ada, dikarenakan spesifikasinya yang baik sebagai pemecah kemacetan. Selain bisa menguntungkan secara ekonomi pembangunan jalan tol juga bisa menguntungkan secara finansial, artinya investor juga akan mendapat keuntungan dari investasi ini.
Sebagai tahapan awal untuk merealisasikan hal tersebut maka dilakukanlah studi yang bisa menunjukkan layak atau tidaknya investasi pembangunan “TOL KRIAN - GEMPOL” jika dilihat dari sudut pandang ekonomi dan sudut pandang finansial.
Gambar 1.1 Lokasi studi
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN
JALAN TOL KRIAN - GEMPOL
Wisnu Arif Hergayasa, Cahya Buana, ST., MT., Istiar, ST., MT.
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
II. METODOLOGI
Metodologi Tugas Akhir ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1.2 Metodologi Tugas Akhir
III. HASILDANPEMBAHASAN A. Pemilihan Trase
Pada pemilihan trase ini Penulis menyebarkan kuisioner kepada Stakeholder terkait yang berkaitan dengan penyelenggaraan jalan tol. Berikut adalah stakeholder yang terkait yaitu :
1. PT. Jasa Marga cabang Surabaya-Gempol 2. PT. Marga Bumi Adhikaraya
3. PT. Transmarga Jatim Pasuruan
4. PT. Jasa Marga proyek relokasi Porong-Gempol
Gambar 1.3 Alternatif Trase
Ket :
Trase 1 Trase 2 Trase 3
Untuk menghitung pembobotan pada hasil kuisioner Penulis menggunakan metode AHP, maka dari hasil perhitungan tersebut terpilihlah trase kedua yang berjarak 22,9 km.
B. Analisa Volume Lalu Lintas(Without Project)
Pada Tugas Akhir ini pertumbuhan volume kendaraan dipengaruhi oleh pertumbuhan PDRB berdasarkan harga
konstan.
Tabel 3.1 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten dan Kota Tahun 2007-2011
No Kabupaten / Kota PDRB Perkapita
2007 2008 2009 2010 2011 1 Kota Surabaya 76423703.23 81653244.64 85871325.6 92286517.29 99348800.53 2 Kab. Sidoarjo 24203751.99 25401852.1 26522029.72 28091359.9 30044307.65 3 Kab. Mojokerto 7039455.88 7452547.87 7827075.68 8364886.6 8969736.72 4 Kota Mokokerto 1095560.47 1158169.29 1216456.33 1297515.03 1385362.13 5 Kab. Pasuruan 5846029.81 6190800.4 6501853.05 6907124.3 7404064.65 6 Kota Pasuruan 980601 1038573,02 1090671,69 1156043,03 1229395,68 Total 109743072.6 116704386.9 122527559 131196321.9 140977602.7
Sumber : BPS Jawa Timur Tabel 3.2 Faktor Pertumbuhan
KABUPATEN
/KOTA Faktor Pertumbuhan Rata-Rata (%)
Kota Surabaya 6.78 Kab. Sidoarjo 5.56 Kab. Mojokerto 6.25 Kota Mojokerto 6.05 Kab. Pasuruan 6.09 Kota Pasuruan 5.82 Rata-rata 6.09
Sumber : Hasil Perhitungan dan Analisa
Maka didapatkan hasil analisa besarnya rata-rata PDRB sebesar 6,09% yang dapat dilihat pada tabel diatas. Setelah mendapatkan besarnya rata-rata PDRB maka dilakukan peramalan volume kendaraan yang dihitung dari tahun 2013 sampai 2048 dengan menggunakan rumus :
dimana, F = volume pada tahun yang diinginkan P = volume pada tahun 2012
i = faktor pertumbuhan kendaraan n = rentang waktu pertumbuhan (tahun)
C. Kapasitas Jalan
Untuk menghitung kapasitas jalan luar kota menggunakan rumus berdasarkan MKJI 1997 yaitu :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf (smp/jam) Dimana :
C = kapasitas
Co = kapasitas dasar = 3100 smp/jam
FCw = faktor penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas= 1,08 karena total kedua lajur 8m
FCsp = faktor penyesuaian akibat pemisahan arah =1 karena tipe jalan 2/2UD dengan pembagian arah 50-50
FCsf = faktor penyesuaian akibat hambatan samping= 0,87 karena jalan tipe 2/2UD dengan hambatan samping tinggi dan lebar bahu efektif 1 m
Maka kapasitas jalan eksisting per jalur (C) = 3100 x 1,08 x 1 x 0,87 = 2913 smp/jam
Sedangkan persamaan untuk menentukan kapasitas jalan tol berdasarkan MKJI 1997 adalah :
C = Co x FCw Dimana :
C = kapasitas jalan tol (smp/jam)
Co = kapasitasdasar jalan tol = 2 lajur x 2300 smp/jam/lajur = 4600 smp/jam/arah
FCw = faktor penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas =1 karena lebar lajur 3.5 m
Maka kapasitas jalan Tol Krian-Gempol per jalur (C) = 4300 x 1 = 4600 smp/jam/arah
D. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan adalah nilai perbandingan rasio jalan terhadap kapasitas jalan, yang digunakan untuk mengetahui seberapa padatnya suatu simpang ataupun segmen jalan. Derajat kejenuhan ini nantiny digunakan untuk menentukan faktor koreksi lalu lintas (kl) untuk perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK). Untuk menghitung derajat kejenuhan menggunakan rumus :
DS = Q/C Dimana :
DS = derajat kejenuhan
Q = arus total lalu lintas (smp/jam) C = kapasitas jalan (smp/jam)
E. Analisa Trip Assignment
Perhitungan trip assignment digunakan untuk mencari besarnya prosentase kendaraan yang nantinya akan memasuki jalan tol rencana maupun jalan eksisting. Adapaun rumus perhitungan trip assignment menggunakan metode smock dengan rumus :
Dimana :
t0 = travel time per satuan jarak saat free flow Qs = kapasitas pada kondisi jenuh
Maka didapatkan hasil trip assignment sebesar 60% dari ruas Wonoayu maupun Mojosari yang akan beralih ke jalan tol tersebut.
F. Biaya Operasional Kendaraan
Biaya operasional kendaraan adalah biaya yang dikeluarkan oleh pengguna jalan dalam menggunakan kendaraan untuk melakukan suatu perjalanan dari suatu tempat menuju ke tempat yang lain. Metode yang digunakan untuk menghitung BOK dalam Tugas Akhir ini menggunakan metode Jasa Marga.
Berikut ini adalah beberapa parameter yang digunakan untuk menghitung BOK berdasarkan metode Jasa Marga beserta asumsi yang digunakan untuk tiap-tiap golongan kendaraan :
a. Mobil Penumpang (4 ban)
Tipe kendaraan Avanxa : Rp 161.000.000,- Ban Bridgestone Turanza : Rp 771.000,- /ban Bahan bakar bensin : Rp 6.500,- / liter
Oli mesin Prima XP 20w-50 : Rp 29500,- / liter Upah mekanik, diasumsikan: Rp 10.000,- /jam b. Truk Kecil
Gol II
Tipe kendaraan Hino Dutro 110 LD : Rp 206.150.000,-
Ban Bridgestone Turanza AR 10 (195/60) VR 15 : Rp 1.031.000,- /ban
Bahan bakar solar : Rp 5.500,- / liter Oli mesin Meditran : Rp 30.000,- / liter Upah mekanik, diasumsikan: Rp 10.000,- /jam Gol III
Tipe kendaraan Hino FL 235 JN : Rp 583.000.000,- Ban Bridgestone Turanza AR 10 (195/60) VR 15 : Rp 1.031.000,- /ban
Bahan bakar solar : Rp 5.500,- / liter Oli mesin Meditran : Rp 30.000,- / liter Upah mekanik, diasumsikan: Rp 10.000,- /jam c. Truk Besar
Gol IV
Tipe kendaraan Hino SG260J : Rp 680.000.000,-
Ban Bridgestone Turanza AR 10 (225/60) VR 16 : Rp 1.300.000,- /ban
Bahan bakar solar : Rp 5.500,- / liter Oli mesin Meditran : Rp 30.000,- / liter Upah mekanik, diasumsikan: Rp 10.000,- /jam Gol V
Tipe kendaraan Hino FM320P, harga : Rp 876.000.000,- Ban Bridgestone Turanza AR 10 (225/60) VR 16 : Rp 1.300.000,- /ban
Bahan bakar solar : Rp 5.500,- / liter Oli mesin Meditran: Rp 30.000,- / liter Upah mekanik, diasumsikan: Rp 10.000,- /jam G. Perhitungan BOK Perkendaraan
Contoh perhitungan BOK perkendaraan untuk jalan eksisting pada ruas jalan Wonoayu tanpa dibangun jalan tol pada tahun 2013, yaitu :
a. Konsumsi Bahan Bakar
Formula yang digunakan adalah :
Konsumsi BBM = Konsumsi BBM dasar [1+(kk+kl+kr)] Konsumsi BBM dasar dalam liter/1000km :
• Gol I = 0.0284V2-3.0644V+141.68 = 66,36 lt/1000 Km
• Gol IIa = 2.26533*Konsumsi bahan bakar dasar Gol I = 150,329 lt/1000 Km
• Gol IIb = 2.90805*Konsumsi bahan bakar dasar Gol I = 192,98 lt/1000 Km Konsumsi BBM : • Gol I = Rp 720.345,- /1000Km • Gol II = Rp 1.380.770,- /1000Km • Gol III = Rp 1.380.770,- /1000Km • Gol IV = Rp 1.772.522,- /1000Km • Gol V = Rp 1.772.522,- /1000Km b. Konsumsi oli mesin
Konsumsi pelumas = konsumsi pelumas dasar * faktor koreksi
Konsumsi pelumas :
- Gol I = 0.0028 * 1.50 x harga oli x 1000Km =
Rp123.900
,- /1000Km- Gol II = 0.0055 * 1.50 x harga oli x 1000Km =
Rp247.500
,- /1000Km- Gol III = 0.0055 * 1.50 x harga oli x 1000Km = Rp
Rp247.500
,- /1000Km- Gol IV = 0.0044 * 1.50 x harga oli x 1000Km =
Rp198.000
,- /1000Km- Gol V = 0.0044 * 1.50 x harga oli x 1000Km =
Rp198.000
,- /1000Km c. Konsumsi Ban - Gol I : Y = 0.0008848V – 0.0045333 x harga ban x 4 = Rp89.356,05 /1000Km - Gol II : Y = 0.0012356V – 0.0064667 x harga ban x 6 = Rp219.185,42 /1000Km - Gol III : Y = 0.0012356V – 0.0064667 x harga ban x 10 = Rp365.309,034 /1000Km - Gol IV : Y = 0.0015553V – 0.0059333 x harga ban x 14 =Rp877.770,24
/1000Km - Gol V : Y = 0.0015553V – 0.0059333 x harga ban x 18 =Rp1.128.561,744
/1000Km d. Pemeliharaan Suku cadang :Y’ = Y * harga kendaraan (Rp /1000 Km) Y = pemeliharaan suku cadang per 1000 Km - Gol I : Y = 0.0000064V + 0.0005567 = 0,000799/1000Km Y’ = Rp 128.649,95 /1000Km - Gol II : Y = 0.0000332V + 0.0020891 = 0,003215/1000Km Y’ = Rp 662.754,11 /1000Km - Gol III : Y = 0.0000332V + 0.0020891 = 0,003215/1000Km Y’ = Rp 1.874.293,7 /1000Km - Gol IV : Y = 0.0000191V + 0.0015400 = 0,002175/1000Km Y’ = Rp 1.478.921,12 /1000Km - Gol V : Y = 0.0000191V + 0.0015400 = 0,002175/1000Km Y’ = Rp 1.905.198,38 /1000Km Jam kerja mekanik :
Y’ = Y * upah kerja per jam (Rp /1000 Km) Y = jam montir per 1000 Km
- Gol I (LV) : Y = 0.00362V + 0.36267 = 0,499759 /1000Km Y’ = Rp 4.997,59 /1000Km - Gol II : Y = 0.02311V + 1.97733 = 2,76099 /1000Km Y’ = Rp 27.609,90 /1000Km - Gol III : Y = 0.02311V + 1.97733 = 2,76099 /1000Km Y’ = Rp 27.609,90 /1000Km - Gol IV : Y = 0.01511V + 1.21200 = 1,714256 /1000Km Y’ = Rp17.142,56 /1000Km - Gol V : Y = 0.01511V + 1.21200 = 1,714256 /1000Km Y’= Rp 17.142,56 /1000Km e. Depresiasi
Y’ = Y * setengah nilai kendaraan (Rp./1000 Km) Y = depresiasi per 1000 Km - Gol I (LV) : Y = = 0,004552 /1000Km Y’ = Rp 366.450,- /1000Km - Gol II : Y = = 0,001324 /1000Km Y’ = Rp 136.489,- /1000Km - Gol III : Y = = 0,001324 /1000Km Y’ = Rp 385.996,- /1000Km - Gol IV : Y = = 0,002002 /1000Km Y’= Rp 680.762,- /1000Km - Gol V : Y = = 0,002002 /1000Km Y’ = Rp 876.982,- /1000Km f. Bunga Modal
INT = 0.22% x harga kendaraan baru (Rp /1000Km) - Gol I = Rp 354.200,- /1000Km - Gol II = Rp 453.530,- /1000Km - Gol III = Rp 1.282.600,- /1000Km - Gol IV = Rp 1.496.000,- /1000Km - Gol V = Rp 1.927.200,- /1000Km g. Asuransi
Y’ = Y x nilai kendaraan (Rp /1000Km) Y = Asuransi per 1000Km - Gol I (LV) : Y = = 0,00200687 /1000Km Y’ = Rp 323.105,- /1000Km - Gol II : Y = = 0,0006881 /1000Km Y’ = Rp 141.851,- / 1000Km - Gol III : Y = = 0,0006881 /1000Km Y’ = Rp 401.160,- / 1000Km - Gol IV : Y = = 0,0010705 Y’ = Rp 727.938,- /1000Km - Gol V : Y = = 0,0010705 Y’ = Rp 937.756,- /1000Km BOK Gol I
Total biaya = Biaya gerak (konsumsi bahan bakar + konsumsi oli mesin + pemakaian ban +
depresiasi kendaraan) + Biaya tetap (biaya bunga modal + biayaasuransi)
= Rp 2.111.004,- /1000Km BOK Gol I per tahun untuk Tahun 2013 :
= BOK Gol I x 365 hari x panjang jalan /1000Km x vol. Kendaraan (Kend/Hari)
= Rp 233.102.842.793,-
Untuk perhitungan BOK total golongan II, III, IV dan V digunakan langkah yang sama dengan BOK golongan I dan juga untuk ruas jalan Mojosari. Perhitungan dilakukan dari tahun 2013 hingga 2048 untuk masing-masing ruas jalan, baik dalam kondisi with project maupun without project. H. Penghemetan BOK
Setelah menghitung nilai BOK perkendaraan tiap ruas jalan pada kondisi without project maupun with project, maka untuk menghitung penghematan BOK dengan cara mencari selisih antara BOK without project dengan BOK with project pada ruas jalan eksisting dan jalan tol.
I. Nilai Waktu (Time Value)
Mengingat tidak adanya angka nilai waktu yang mewakili di Krian ini, maka untuk nilai waktu dasar digunakan Formula Herbert Mohring, yaitu Golongan I sebesar Rp 12.287, golongan IIa sebesar Rp 18.534 dan golongan IIb sebesar Rp 13.768. Namun nilai-nilai tersebut merupakan nilai pada tahun 1996, sehingga harus digunakan rumus future worth untuk mendapat nilai waktu pada tahun 2014 sampai 2048. Adapun rumus future worth yaitu :
dimana, F = nilai pada tahun yang diinginkan P = nilai pada tahun 1996
i = 11.75% (inflasi rata-rata dari tahun 1996-2013)
n = rentang waktu pertumbuhan (tahun) contoh perhitungan nilai waktu minimum golongan I pada tahun 2013 :
F = 9092(1+11,75%)17 = Rp 60.096,-
Perhitungan yang sama dilakukan untuk nilai waktu minimum dan nilai waktu dasar semua jenis kendaraan sampai dengan tahun 2034.
Untuk mendapatkan nilai waktu per tahun, nilai waktu dasar harus dikalikan dengan K (0.74) untuk Jawa Timur), waktu tempuh kendaraan dan jumlah kendaraan per hari selama 1 tahun.
Setelah didapatkan nilai waktu perkendaraan, dapat dicari nilai waktu saat kondisi without project maupun kondisi with project.
J. Analisa Ekonomi
1. Analisa Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR)
Untuk perhitungan NPV dan BCR diperlukan data biaya investasi pembangunan jalan tol, maka penulis menghitung RAB untuk pembangunan jalan tol Krian-Gempol tersebut, sehingga didapatkan data sebagai berikut :
-
Biaya investasi =Rp1.488.150.296.704,--
Biaya operasional dan maintenance = Rp 2.500.000.000,- dan mengalami inflasi sebesar11,75% per tahun
- Umur rencana = 35 tahun
- Tingkat suku bunga (BI rate) = 7,25%
Dari data tersebut dapat dihitung nilai present worth benefit dan present worth cost, sehingga dapat diketahui nilai NPV dan BCR sebagai berikut : - NPV total = Rp 80.056.044.630.503 – Rp
1.666.720.321.719 = Rp 78.389.324.308.783,- - BCR = = 48,0321
Karena nilai NPV>0 dan BCR>1, maka untuk pembangunan jalan tol Krian-Gempol dinyatakan layak secara analisa ekonomi
K. Analisa Finansial
Untuk mengetahui kelayakan secara analisa finansial maka menggunakan indikator berupa NPV, BCR, dan IRR. Perhitungan NPV dan BCR analisa kelayakan sama dengan perhitungan pada analisa ekonomi, namun yang membedakan adalah asal income dari perhitungan tersebut. Untuk analisa finansial berasal dari pendapatan berdasarkan dari tarif tol.
Tarif tol yang digunakan mengikuti tarif tol jalan tol Gempol-Pandaan sebesar Rp700/km untuk kendaraan Gol I. Sehingga didapatkan tarif per golongan sebesar :
Gol I = Rp 16.500, Gol II = Rp 24.500, Gol III = Rp 32.500, Gol IV = Rp 40.500, Gol V = Rp 48.500
Untuk besarnya nilai tarif tol mengalami kenaikan sekitar 10% tiap 2 tahun. Untuk hasil analisa finansial didapatkan nilai NPV dan BCR sebagai berikut :
- NPV = Rp 1.672.554.433.111 – Rp 1.725.782.001.665 = -Rp53.227.568.554
- BCR = = 0,969
Dari hasil tersebut didapatkan NPV<0, dan BCR<1. Maka dapat disimpulkan bahwa proyek jalan tol Krian-Gempol dinyatakan layak secara finansial. Dan nilai IRR didapatkan dengan cara trial and error maka didapatkan IRR = 7,0798106089%.
IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
1. Dari ketiga alternatif trase jalan tol yang ada, maka terpilih alternatif trase kedua yang berjarak 22,9 km berdasarkan dari hasil perhitungan yang dilakukan berdasarkan hasil rekapan kuisioner yang telah disebarkan kepada stakeholder yang terkait dengan penyelenggaraan jalan tol. Untuk perhitungannya menggunakan metode AHP.
2. Dari hasil analisa volume lalu lintas without project maka didapatkan hasil derajat kejenuhan untuk ruas jalan Wonoayu sebesar 0,888 untuk tahun 2013, sedangkan untuk ruas jalan Mojosari sebesar 0,867. Untuk beberapa tahun kedepan derajat kejenuhan pada ruas jalan tersebut mengalami kenaikan, dimana derajat kejenuhan tersebut menunjukkan semakin padatnya volume lalu lintas pada ruas jalan eksisting.
3. Dari hasil perhitungan trip assignment didapatkan hasil sebesar 35% dari ruas jalan Wonoayu dan sebesar 40% dari ruas jalan Mojosari yang akan beralih melewati jalan tol Krian-Gempol, perhitungan tersebut berdasarkan
metode smock.dari hasil tersebut sehingga didapatkan hasil analisa volume lalu lintas with project setelah adanya jalan tol Krian-Gempol maka didapatkan hasil derajat kejenuhan untuk ruas jalan Wonoayu sebesar 0,806 untuk tahun 2013, untuk ruas jalan Mojosari sebesar 0,764, sedangkan untuk jalan tol Krian-Gempol sebesar 0,1157. 4. Dari hasil perhitungan BOK dan time value didapatkan
hasil berupa saving BOK untuk tahun 2014 sebesar Rp50.349.364.754, sedangkan untuk saving time value sebesar Rp222.928.799.604. Untuk perhitungan lebih jelas dapat dilihat pada Tugas Akhir.
5. Dari hasil perhitungan RAB yang diproyeksikan berdasarkan proyek jalan tol Gempol-Pandaan didapatkan hasil investasi sebesar Rp1.547.211.976.650,-
. Hasil
tersebut total dari nilai biaya konstruksi ditambah
dengan biaya pengadaan lahan.
6.
Secara analisa ekonomi didapatkan jumlah penghematan NPV sebesarRp78.217.895.141.733,-
dan nilai BCR sebesar46,32316
(BCR>0). Sehingga dari segi ekonomi pembangunan jalan tol Krian – Gempol dinyatakan layak dari segi ekonomi karena manfaat yang diterima lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.7. Secara finansial jumlah NPV (-Rp53.227.568.554,-) (NPV(-)) dan nilai BCR sebesar 0,969 (BCR<0) dan nilai IRR= 7,079810608591% < 7,25% (tingkat suku bunga). Sehingga dari segi finansial pembangunan jalan tol Krian - Gempol dinyatakan layak dari segi finansial karena pendapatan yang didapat dari tarif tol lebih besar dari biaya investasi yang dikeluarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Jakarta : Bina Marga.
Bina Marga. 2004. Peraturan Bina Marga No. 38 Undang-Undang Tentang Jalan. Jakarta : Bina Marga. Kurniawati, D. 2008. Analisa Kelayakan Jalan Tol Bunder –
Krian. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS, Surabaya.
Tamin, O.Z. 2000. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. ITB, Bandung.
URL:http://www.bps.go.id URL:http:/www.bi.go.id
Widyastuti, H. 2010. Ekonomi Jalan Raya. Diktat Kuliah, Program S-1 Jurusan Teknik Sipil FTSP, ITS, Surabaya.