A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa adanya pendidikan, maka mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang dan bahagia. Bahkan masalah pendidikan ini sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Pandangan pengertian pendidikan menurut SA Bratanata sebagaimana yang dikutip oleh Drs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, adalah “usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya”.1 Abu Ahmadi juga menambahkan, bahwa pendidikan merupakan hal yang lebih menekankan dalam hal praktek, yaitu menyangkut kegiatan belajar dan mengajar.2 Oleh karena itu untuk mencapai mutu pendidikan, maka ditanamkan pola pendidikan dasar 9 tahun, di mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
Sejalan dengan sistem pendidikan yang ada di negara kita, peranan strategis pendidikan dalam proses perkembangan anak merupakan suatu yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Hal ini terjadi pada saat anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan yang sangat lemah, tidak mengenal apapun sehingga ia sangat tergantung pada bantuan dan pendidikan orang lain.3
Salah satu masalah yang dihadapi dunia Pendidikan Agama Islam dewasa ini terutama yang terjadi pada pendidikan dasar, adalah bagaimana cara mengajarkan pendidikan agama, terutama pendidikan akhlak kepada anak
1
Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), Cet-2, hlm. 69.
2
Ibid., hlm. 68. 3
Lihat, Q.S. al-Nahl: 78. Artinya: “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rizki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah”.
didik sehingga menghasilkan kepribadian yang utama. Oleh karena itu proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan anak, agar proses pendidikan dapat terarah dengan baik dan benar.
Para ahli psikologi perkembangan dalam menentukan masalah perkembangan manusia masih terjadi perbedaan pendapat, menurut Agus Sujanto, masa kanak-kanak itu dibagi menjadi dua fase, fase awal disebut fase anak-anak, masa ini dimulai sejak lahir sampai umur 5 tahun. Sedangkan fase akhir di sebut fase anak, yaitu umur 6 – 12 tahun.4 Sedangkan menurut Imam Bawani, masa kanak-kanak adalah fase kehidupan saat seorang manusia telah lepas dari sebutan sebagai bayi dan berakhir ketika yang bersangkutan memasuki Sekolah Dasar (SD), atau kira-kira berada dalam rentan usia 2–6 tahun.5 Adapun menurut pendapatnya Elisabeth B Hurlock, membagi masa kanak-kanak menjadi dua fase, yaitu fase awal masa kanak-kanak umur 2–6 tahun dan fase akhir masa kanak-kanak umur 6–12 tahun.6
Dari beberapa pendapat di atas, jelaslah mereka berpendapat bahwa secara umum masa kanak-kanak berlangsung antara umur 2–12 tahun.
Pada masa-masa tersebut, secara fisik maupun psikisnya anak berkembang secara cepat. Pertumbuhan fisiknya sangat mempengaruhi pertumbuhan psikisnya. Bertambahnya fungsi dari otaknya mengakibatkan manusia dapat tersenyum, tertawa, berfikir, mengingat, bergaul, bercakap-cakap dan sebagainya. Sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya tersebut juga menjadikan anak siap untuk menerima masukan yang akan mengembangkan semua kemampuan yang akan dimilikinya.
Dengan melihat perkembangan seperti itu maka penanaman pendidikan bagi seorang anak merupakan suatu kebutuhan yang mutlak agar anak dapat berkembang secara baik dan maksimal. Sedangkan dalam aplikasinya di lapangan, faktor-faktor yang ikut menentukan berhasil atau
4
Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Aksara Baru, 1996), cet. 7, hlm. 1.
5
Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan dalam Konteks Pendidikan Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), Cet. 1, hlm. 67.
6
Elisabet B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan, (Jakarta: Terj; Airlangga, 1996), hlm. 108.
tidaknya tujuan pengajaran agama Islam adalah anak didik, pendidik, tujuan pendidikan, alat-alat pendidikan, dan lingkungan.
Dalam mendidik anak, agar anak dapat berkembang dengan baik dan maksimal maka diperlukan metode yang tepat untuk mengarahkannya supaya anak tidak sampai terperosok pada arah pendidikan yang salah yang pada akhirnya anak tersebut sulit dikendalikan setelah dewasa nanti, atau dengan kata lain anak tersebut dalam bergaul dan bertingkah laku tidak sesuai dengan akhlak yang baik yaitu akhlak yang telah diajarkan oleh Islam sebagai figurnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ia menawarkan lima macam metode dalam mendidik anak. Pertama, pendidikan dalam keteladanan, kedua, pendidikan dengan adat kebiasaan, ketiga, pendidikan dengan nasehat, keempat, pendidikan dengan memberikan perhatian atau pengawasan, kelima, pendidikan dengan memberikan hukuman.7 Sedangkan menurut Heri Noer Ali, ada tujuh macam, yaitu ditambah metode persuasif dan pengetahuan teoritis.8
Dalam hal ini penulis hanya memfokuskan pembahasannya pada metode pembiasaan, karena menurut penulis dengan metode pembiasaan maka akan menjadikan anak berada dalam pembentukan edukatif dan sampai pada hasil-hasil yang memuaskan.
Karena metode pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat penting terutama bagi anak-anak. Mereka belum menginsafi apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila. Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti pada orang dewasa. Ingatan mereka belum kuat, mereka lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Disamping itu, perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru dan disukainya. Apalagi pada anak-anak yang baru lahir, semua itu belum ada sama sekali atau setidaknya, belum sempurna sama sekali. Dalam kondisi ini mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku,
7
Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fi al-Islam, Jilid II (Beirut: Darussalam li al thaba’ah wa al-Nasr wa al-tauzi’i, t.th,), hlm. 632.
8
ketrampilan, kecakapan, dan pola pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan dan tidur secara teratur, serta bermain-main, berbicara, belajar, dan sebagainya.
Seorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu, maka ia akan dan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati. Bahkan segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk diubah dan tetap berlangsung sampai hari tua. Untuk mengubahnya seringkali diperlukan terapi dan pengendalian diri yang serius. Ambillah orang yang mempunyai kebiasaan merokok. Ia sadar bahwa kebiasaannya itu buruk, usaha untuk menghentikannya dengan kompensasi menghisap gula-gula dan sebagainya seringkali mengalami kegagalan. Ia baru bisa menghentikannya di bulan Ramadhan. Itupun hanya di siang hari ketika ia berpuasa, sedangkan di malam hari ia kembali ke kebiasaannya. Atas dasar ini, para ahli pendidikan senantiasa mengingatkan agar anak-anak segera dibiasakan dengan sesuatu yang dibiasakan menjadi kebiasaan sebelum terlanjur mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengannya.
Al-Ghazali berpandangan bahwa sejak kecil anak harus dibiasakan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Sebelum anak sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang salah. Maka pembiasaan-pembiasaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perbuatan pribadi anak, karena masa kanak-kanak adalah masa paling baik untuk menentukan akhlak.9
Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa mencabut kebiasaan buruk mungkin hal yang mungkin dilakukan. Beliau menganjurkan kepada pendidik untuk memberikan pembiasaan secara bertahap dalam menghilangkan kebiasaan perilaku buruk mereka, terutama bagi mereka yang tak dapat meninggalkan, salah satu cara melatih dan membiasakan yang baik adalah secara bertahap yaitu dengan cara mengalihkan murid dari akhlak yang tercela kepada akhlak yang tercela lebih ringan. Dengan demikian guru tidak boleh
9
Ali Al-Jumbulati, Dirosatun Muqoronatun fit Tarbiyah Al-Islamiyah, Terj, H.M. Arifin, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 157.
melatih dengan latihan yang berlawanan dengan sifat dan kebiasaan anak secara drastis.10
Sejalan dengan pendapatnya Al-Ghazali, Usman Nadjati dalam bukunya Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa mengatakan bahwa ide atau pemikiran yang diulang-ulang akan menjadi mapan dan terpancang kuat dalam benak anak.11 Pada mulanya memang seorang anak akan merasa sulit dan keberatan, akan tetapi setelah dilatih berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan, maka perbuatan itu berubah menjadi ringan tanpa menjadi beban bagi anak. Muhammad Quthb mengatakan : “…sehingga jiwa (anak) dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan”.12 Ini berarti bahwa ilmu pengetahuan itu pada dasarnya akan lebih mudah terserap apabila diberikan sedikit demi sedikit melalui kebiasaan-kebiasaan dan pengulangan-pengulangannya.
Menurut para ahli pendidikan modern merasakan betapa pentingnya membiasakan anak-anak pada tingkah laku yang baik sejak kecil. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan misalnya, berpendapat bahwa pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan dan metode yang paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya. Karena masalah ini berlandaskan pada perhatian dan pengikutsertaan. Dan tidak dirasakan lagi bahwa mendidik dan membiasakan anak sejak kecil adalah paling terjamin keberhasilannya. Sedangkan mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk mencapai kesempurnaan.13
Senada dengan pendapatnya Nashih Ulwan, Zakiyah Darajat berpendapat bahwa dalam mendidik anak-anak tidak cukup dengan melalui pemahaman dan penghayatan, tetapi perlu adanya pembiasaan dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya apabila seseorang boleh mempunyai kebiasaan tertentu. Maka seseorang akan dengan mudah
10
Ibid, hlm. 161 – 162.
11
Usman Nadjati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung : Pustaka, 1997), Cet-2, hlm. 192.
12
Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988), hlm. 383.
13
melaksanakannya segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan seringkali terjadi tanpa pikiran seolah-olah semuanya itu terjadi secara otomatis.14
Berkaitan dengan hal tersebut, Ngalim Purwanto berpandangan, bahwa pembiasaan adalah metode paling penting terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Sebagai pangkal dan permulaan pendidikan pembiasaan merupakan satu-satunya alat yang dinilai cukup efektif. Sejak dilahirkan anak harus dibiasakan dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik. Karena pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak anak dan juga akan terus berpengaruh terhadap kepribadian anak itu sampai hari tuanya. Ini berarti segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan sejak kecilnya akan dengan mudah dilaksanakan oleh mereka. Begitu juga apabila kebiasaan itu sudah melekat pada anak-anak akan sulit untuk diubah. Oleh karena itu, lebih baik kita membiasakan anak-anak dengan perbuatan yang baik, dari pada anak-anak nantinya memasuki kebiasaan yang kurang baik yang pada akhirnya orang tua atau pendidik akan mengalami kesulitan untuk mengubah.
Dari beberapa pendapatnya para ahli pendidikan tersebut, mereka berpendapat tentang penggunaan metode pembiasaan dalam pendidikan anak, karena kebiasaan anak pada masa kecil ini akan berpengaruh terhadap kepribadian pada hari tuanya nanti. Pengalaman yang diperoleh anak pada masa kecilnya akan tertanam sampai ia dewasa. Sehingga dapat dikatakan semakin banyak pengalaman yang didapatkan oleh si anak melalui pembiasaan akan semakin banyak pula unsur-unsur positif yang masuk ke dalam kepribadiannya dan semakin mudahlah ia memahami dalam melaksanakan apa yang telah menjadi kebiasaannya pada waktu kecil.
Dari uraian tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Metode Pembiasaan dalam Pendidikan Akhlak bagi Anak” terutama ditinjau dari segi psikologi perkembangan.
14
Zakiyah Darajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV. Ruhana, 1995), hlm. 74.
B. Penegasan Istilah
Untuk memperjelas maksud yang penulis kehendaki dan untuk menghindari berbagai kesalahpahaman yang dimaksud dalam penelitian ini, maka perlu kiranya penulis jelaskan kata-kata yang terdapat dalam judul “Pembiasaan Sebagai Metode Pendidikan Akhlak bagi Anak”, antara lain : 1. Metode
Metode berasal dari bahasa Inggris “Methode” yang berarti cara atau lebih luasnya adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.15
2. Pembiasaan
Pembiasaan adalah proses penanaman kebiasaan. Kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang-ulang untuk hal yang sama.16
3. Pendidikan Akhlak
Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, perbuatan, mendidik.17
Sedangkan kata Akhlak berasal dari kata jamak bahasa arab “Akhlak”. Kata “Akhlak” mufradnya ialah “khulqu” yang berarti: sajiyyah; perangai; muruu’ah; budi pekerti ;thab’u ; tabiat dan adaab ; adab.18
Yang dimaksud pendidikan akhlak disini adalah pendidikan tentang perilaku, budi pekerti, sehingga anak didik dan masyarakat dapat menentukan batas antara yang baik dan yang buruk dan guna melangsungkan kehidupan bermasyarakat secara baik.
15
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet. Ke-10, hlm. 232.
16
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 113.
17
Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), Cet. Ke-3, hlm. 204.
18
4. Anak
Anak adalah keturunan yang kedua.19 Jadi, Pembiasaan sebagai Metode Pendidikan Akhlak bagi Anak adalah proses pengubahan perilaku atau budi pekerti keturunan atau anak melalui cara yang baik dan teratur.
C. Perumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini dimaksudkan untuk membatasi permasalahan yang akan dibahas berkenaan dengan judul “Pembiasaan Sebagai Metode Pendidikan Akhlak Bagi Anak (Telaah Psikologi Perkembangan), sehingga persoalan yang akan dibahas dalam penelitian ini akan menjadi lebih jelas dan terarah. Adapun permasalahannya adalah :
1. Bagaimana penggunaan metode pembiasaan dalam pendidikan anak ? 2. Bagaimana konsep pembiasaan dalam pendidikan akhlak ?
3. Bagaimana proses menerapkan metode pembiasaan dalam perkembangan jiwa anak ?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana penggunaan metode pembiasaan dalam pendidikan anak.
2. Mengetahui konsep pembiasaan dalam pendidikan akhlak.
3. Mengetahui proses penerapan metode pembiasaan dalam perkembangan jiwa anak.
Sedangkan kegunaan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah : 1. Sebagai masukan bagai para pendidik, praktisi dan pengelola pendidikan
dalam usaha memperluas wawasan kependidikan.
2. sebagai bahan masukan bagi orang tua serta para pendidik dalam mendidik anak.
19
E. Telaah Pustaka
Sebenarnya penelitian dan penulisan tentang metode pendidikan akhlak bagi anak telah banyak dilakukan oleh para penulis sebelumnya. Walaupun demikian penulisan yang spesifik tentang metode kebiasaan belum banyak dikaji. Dalam hal ini penulis akan mengkaji tentang pembiasaan sebagai metode pendidikan akhlak bagi anak terutama menggunakan pendekatan psikologi perkembangan. Dengan kajian ini sedikit banyak memberikan kontribusi terhadap penulisan-penulisan yang telah ada.
Dan sebelum penulis memperlebar pembahasan tentang pembiasaan sebagai metode pendidikan akhlak bagi anak, maka penulis mencoba menelaah buku-buku yang sudah ada untuk dijadikan perbandingan dan acuan dalam penulisannya.
Pertama; dalam Buku “Membina Moral dan Akhlak” yang ditulis oleh Drs. H. Kahar Masyhur. Dalam buku ini penulis berusaha membedah permasalahan akhlak dengan sangat jelas dan terang. Kahar Masyhur menyatakan bahwa:
Kriteria moral dan akhlak bagi pribadi yang normal, yaitu:
1. Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat, sehingga mampu mengadakan kontak dengan orang lain dalam bidang kerjanya, lapangan sosial dan lingkungan keluarganya.
2. Mampu menilai diri sendiri (self evaluation dan insight rasional) 3. Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang tepat, seperti:
a. Mampu menciptakan hubungan yang erat dan lama.
b. Mampu mengekspresikan segala perasaannya, tanpa kehilangan kontrol.
c. Mampu merasa perasaan dan pengertian terhadap orang lain. d. Mampu menghayati arti penderitaan dan kebahagiaan, tanpa
lupa diri.
4. Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien tanpa fantasi yang berlebihan, berpandangan hidup yang realistis yang cukup luas tentang dunia manusia.
5. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu jasmaniah yang sehat.
6. Mempunyai pengetahuan diri yang cukup untuk menghayati motif-motif hidup dalam kesadaran, punya cita-cita dan tujuan hidup yang realistis, dapat menanggapi pantangan-pantangan pribadi dan sosial.
7. Mau belajar dari pengalaman hidupnya.
8. Mempunyai emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan kebudayaan, tanpa melupakan keasliannya (origilitasnya) serta individualitas yang khas, bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.
9. Adanya integrasi dalam kepribadiannya, seperti punya moralitas dan kesadaran yang tidak kaku dan fleksibel terhadap masyarakat. 10. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.
Nilai etis agamis, terutama moral dan akhlak tidak dapat dipisahkan dari bidang semuanya dalam rangka mewujudkan manusia yang berpikir maju dan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkepribadian utuh, beriman, dan bertaqwa kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap usaha yang mendorong ke arah tercapainya tujuan dimaksud, yang dilakukan baik kelompok masyarakat maupun perseorangan, tidak bisa terwujud tanpa adanya moral dan akhlak yang terpuji.20
Kedua; dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam terutama pada Juz II, oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan. Beliau mengungkapkan metode pembiasaan sebagai salah satu metode pendidikan dalam Islam. Dengan ungkapan bahwa metode pembiasaan adalah termasuk masalah yang sudah merupakan ketetapan dalam syari’at Islam, hal tersebut dikarenakan bahwa anak-anak sejak lahir telah di ciptakan dengan fitrah tauhid yang murni, agama yang benar, dan Iman kepada Allah. Peranan pembiasaan, pengajaran dan pendidikan bagi perkembangan anak sangat penting dalam menemukan tauhid yang murni, budi pekerti yang mulia, rohani yang luhur dan etika religi yang lurus. Dr. Abdullah Nashih Ulwan juga menegaskan bahwa metode pembiasaan ini adalah termasuk prinsip utama dalam pendidikan dan merupakan metode paling efektif dalam pembentukan akidah dan pelurusan akhlak anak. Sebab pendidikan ini didasarkan pada perhatian dan pengikutsertaan, dan metode ini didirikan atas dasar targhib dan tarhib serta bertolak dari bimbingan serta pengarahan. Dengan demikian jelas, bahwa mendidik dan membiasakan anak sejak kecil adalah upaya yang paling terjamin berhasil dan memperoleh buah yang sempurna. Sedangkan mendidik dan melatih setelah berusia dewasa merupakan hal yang berat.21
20
Kahar Masyhur, op.cit., hlm. 6
21
Ketiga ; buku Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, yang ditulis Dr. Armai Arief, MA. Dalam buku tersebut diungkapkan bahwa dalam teori perkembangan anak didik, dikenal ada teori konvergensi, dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya dengan mengembangkan potensi dasarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Armai dapat menjadi penentu tingkah laku (melalui proses). Oleh karena itu potensi dasar harus selalu diarahkan agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi dasar tersebut adalah melalui kebiasaan yang baik.22
Keempat ; buku Perkembangan Peserta Didik, yang ditulis oleh Endang Poerwanti dan Nur Widodo, buku ini banyak menulis tentang fase perkembangan anak. Dalam buku tersebut diungkapkan bahwa perkembangan anak atau peserta didik merupakan fase penting dari sekian tahapan perkembangan (siklus) kehidupan manusia. Keberhasilan perkembangan pada masa ini memberikan kontribusi yang sangat berharga untuk perkembangan berikutnya, tidak saja aspek intelektual saja yang mengalami perkembangan penting, melainkan juga aspek sosial, emosional, fisik, motorik, rohani dan lain-lainnya. Untuk mencapai perkembangan yang optimal Endang Poerwanti dan Nur Widodo juga berusaha mengupas bagaimana perkembangan itu berjalan secara wajar dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Selain itu buku tersebut juga dilengkapi dengan adanya abnormalitas perkembangan serta upaya penanganannya.23
Dari beberapa buku tersebut diatas, nampak bahwa kajian tentang pembiasaan sebagai metode pendidikan akhlak belum banyak diperhatikan. Dengan ini penulis akan menspesifikkan tentang pembiasaan sebagai metode pendidikan akhlak bagi anak dari segi telaah psikologi perkembangan. Sehingga dapat menjadi suatu masukan dalam metode-metode pendidikan yang telah ada.
22Armai
Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002).
23
Endang Poerwanti dan Nur Widodo, Perkembangan Peserta Didik, (Malang: UMM Prees, 2000).
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Studi ini merupakan penelitian pustaka (library research), yaitu menjadikan bahan pustaka sebagai sumber utama yang dimaksudkan untuk menggali teori-teori dan konsep-konsep yang telah ditentukan oleh para ahli terdahulu, mengikuti perkembangan penelitian dalam bidang yang akan diteliti, memperoleh orientasi yang luas mengenai topik yang dipilih, memanfaatkan data sekunder serta menghindarkan duplikasi penelitian.24
2. Sumber Data
Mengingat bahwa kepustakaan yang berisi buku-buku sebagai bahan bacaan dikaitkan penggunaannya dalam kegiatan penelitian atau penulisan karya ilmiah, maka dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu buku utama dan buku penunjang.25
Untuk mengumpulkan data-data dalam penelitian ini, penulis menggunakan sumber-sumber data yang sifatnya primer dan sekunder. a. Sumber Primer
Yaitu sumber data yang langsung berkaitan dengan obyek riset.26 Dalam penelitian ini sebagai sumber primernya adalah Pendidikan Anak menurut Islam Terutama Juz II (Nashih Ulwan), Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Armai Arief), Perkembangan Peserta didik (Endang Purwanti dan Nur Widodo), Membina moral anak (Kahar Masykur).
b. Sumber Sekunder
Sumber Data sekunder merupakan sumber data yang mendukung dan melengkapi sumber-sumber data primer. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku atau karya ilmiah lain yang isinya dapat melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. Yaitu buku Psikologi Perkembangan (Monk),
24
Masri Singarimbun, Metodologi Penelitian Survey, (Jakarta: LP3ES, 1980), hlm. 70.
25
Talizuduhu Ndraha, Research Teori Metodologi Administrasi, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hlm. 99.
26
Psikologi Pendidikan (Sumadi Suryabrata) dan Psikologi Perkembangan (Agus Sujanto).
3. Metode Analisis Data
Sesuai dengan sumber data yang digunakan dan jenis data yang diperoleh, maka analisis data yang terkumpul akan dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Data yang berasal dari pendapat para pakar akan menggunakan metode induktif, deduktif dan komparatif. Dalam pelaksanaannya akan berlangsung sebagai berikut: setiap informasi yang diperoleh akan dianalisis masalah demi masalah dan kemudian dibandingkan dengan masalah lain yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Mekanisme tersebut akan dijalankan secara terus menerus dari informasi yang satu ke informasi yang lain sampai mendapatkan hasil yang diharapkan. Hasil tersebut kemudian akan dianalisis lebih lanjut sebagai hasil akhir dari penelitian ini.
b. Analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits akan menggunakan metode tekstual dan metode pemaknaan. Metode tekstual maksudnya adalah menjelaskan al-Qur’an dan Hadits menurut teksnya sendiri, sehingga tidak perlu diadakan penafsiran. Sedangkan yang dimaksud dengan metode pemahaman adalah usaha untuk mencari yang tersirat dari apa yang tersurat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits. Langkah tersebut diambil agar dapat menjawab persoalan yang muncul dalam ruang lingkup, situasi dan kondisi sekarang. Walaupun demikian pemaknaan bukan berarti pemaksaan pemahaman, tetapi merupakan upaya memahami ayat al-Qur’an dan Hadits dengan cara lebih mendalam lagi. Sehingga menurut Noeng Muhadjir hasilnya dapat menjelaskan yang tersirat, yang etik, dan yang transendental.27
Dalam pelaksanaan di lapangan, analisisnya akan menggabungkan antara metode tekstual dan pemaknaan. Sedang
27
Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi IV (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2002), Cet-2, hlm. 188.
proses analisisnya akan dilakukan secara langsung, terus menerus dengan pengumpulan data sebagai langkah awalnya. Setelah pengumpulan data analisisnya melalui tiga tahap yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.28
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan kongkrit tentang penelitian ini, penulis akan membagi ke dalam tiga bagian, yaitu :
1. Bagian Muka (Preliminaris)
Pada bagian muka memuat halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
2. Bagian Isi
Adapun yang termuat dalam bagian isi ini adalah Bab I sampai Bab V. adapun lima bab itu sebagaimana berikut:
Bab I : Pendahuluan. Dalam bab ini penulis kemukakan mengenai Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Telaah Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan Skripsi.
Bab II : Landasan Teori. Dalam bab ini, terdiri dari dua sub bab, yang pertama yaitu berisi Teori Pendidikan dalam konteks Psikologi Perkembangan, yang kedua berisi Konsep Pembiasaan dalam Pendidikan Akhlak.
Bab III : Proses Penerapan Metode Pembiasaan dalam
Perkembangan Jiwa Anak. Dalam bab ini meliputi tiga sub bab. Pertama mengenai Penerapan Metode Pembiasaan, kedua berisi Perkembangan Jiwa Anak Ditinjau dari Segi fisik dan Motorik, sedangkan yang ketiga berisi Peranan Pendidik dalam Pendidikan dan Pengajaran Anak.
Bab IV : Implementasi Metode Pembiasaan Dalam Pendidikan Akhlak Bagi Anak Sesuai Dengan Psikologi Perkembangan. Dalam bab ini
28
meliputi tiga sub bab. Pertama mengenai Pembiasaan Pendidikan Akhlak pada Masa Bayi, Kedua berisi Pembiasaan Pendidikan Akhlak pada Masa Kanak-kanak, ketiga Pembiasaan Pendidikan Akhlak pada Masa Anak. Sedangkan yang keempat berisi Pembiasaan sebagai metode pendidikan akhlak bagi anak.
Bab V : Penutup. Merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.