• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Kota Ternate

No. 58/11/82/Th. XVI, 01 November 2017

Pada Oktober 2017, Kota Ternate mengalami inflasi sebesar

0,52 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar

132,55. Sedangkan Nasional mengalami inflasi sebesar 0,01

persen dengan indeks harga konsumen sebesar 130,09. Dari 82

kota IHK, 44 kota mengalami inflasi dan sisanya mengalami

deflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 1,05

persen, Kota Batam sebesar 0,72 persen, dan Kota Bungo

sebesar 0,55 persen.

Inflasi tahun kalender Kota Ternate sebesar 1,75 persen dan

inflasi year on year Kota Ternate sebesar 2,35 persen.

Sedangkan inflasi tahun kalender dan inflasi year on year

Nasional yaitu masing-masing sebesar 2,67 persen dan 3,58

persen.

Pada Oktober 2017, Kota Ternate mengalami inflasi di dua

kelompok pengeluaran, deflasi di dua kelompok pengeluaran

dan stagnan di tiga kelompok lainnya. Adapun inflasi di dua

kelompok pengeluaran tersebut yaitu kelompok bahan

makanan sebesar 2,29 persen; serta kelompok makanan jadi,

minuman, rokok & tembakau sebesar 0,88 persen. Sedangkan

deflasi di dua kelompok pengeluaran yaitu kelompok transpor,

komunikasi & jasa keuangan sebesar 0,47 persen; serta

kelompok sandang sebesar 0,02 persen. Adapun tiga kelompok

pengeluaran yang stagnan yaitu kelompok perumahan, air,

listrik, gas & bahan bakar; kelompok kesehatan; serta kelompok

pendidikan, rekreasi & olahraga.

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU UTARA

Perkembangan

Indeks Harga Konsumen/Inflasi

Kota Ternate

Oktober 2017,

Kota Ternate

mengalami

Inflasi sebesar

0,52 persen

(2)

1. Pendahuluan

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk

mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi

oleh rumah tangga. Tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap

awal bulan (hari kerja pertama) oleh BPS RI termasuk di BPS Provinsi Maluku Utara.

Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi menggunakan IHK tahun dasar 2012 = 100. Ada beberapa

perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012 = 100) dibandingkan IHK lama (2007 = 100),

khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut

didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu

bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan

pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku Utara, pada pasar tradisional dan pasar modern

di Kota Ternate, bulan Oktober 2017 mengalami inflasi 0,52 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga

Konsumen (IHK) dari 131,86 pada September 2017, menjadi 132,55 pada Oktober 2017. Beberapa

komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober 2017 antara lain: beberapa jenis ikan segar

(malalugis/sorihi, selar/tude), bayam, terong panjang, pepaya, anggur, lemon cina, jeruk nipis/limau, rokok

putih, rokok kretek dan rokok kretek filter.

Gambar 1.

Inflasi Kota Ternate Menurut Kelompok Pengeluaran (2012 = 100),

September 2017 – Oktober 2017

-0.51 -2.62 0.20 0.04 0.45 0.02 0.00 -0.30 0.52 2.29 0.88 0.00 -0.02 0.00 0.00 -0.47 -3.00 -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 Umum Bahan Makanan

Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor September Oktober

(3)

Tabel 1.

IHK dan Inflasi Kota Ternate Bulan Oktober 2017, Inflasi Tahun Kalender, dan

Inflasi Year on Year menurut Kelompok Pengeluaran (2012 = 100)

Kelompok Pengeluaran IHK Agustus 2017 IHK September 2017 IHK Oktober 2017 Inflasi Oktober 20171) Inflasi Tahun Kalender 2) Inflasi Year on Year 3) UMUM 132,53 131,86 132,55 0,52 1,75 2,35 1 Bahan Makanan 123,55 120,31 123,07 2,29 -1,60 0,30

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok &

Tembakau 142,56 142,84 144,09 0,88 7,07 7,70

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 132,51 132,56 132,56 0,00 2,67 2,51

4 Sandang 149,62 150,30 150,27 -0,02 1,12 1,55

5 Kesehatan 131,30 131,32 131,32 0,00 0,72 1,34

6 Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 130,68 130,68 130,68 0,00 1,29 1,36

7 Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 131,37 130,98 130,37 -0,47 -0,36 0,39

1) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2017 terhadap IHK bulan sebelumnya. 2) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2017 terhadap IHK bulan Desember 2016 3) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2017 terhadap IHK bulan Oktober 2016

Tabel 2.

Sumbangan/Andil Kelompok Pengeluaran terhadap Inflasi Kota Ternate,

Bulan Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok Pengeluaran Oktober 2017

UMUM 0,52

1 Bahan Makanan 0,46

2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,13

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 0,00

4 Sandang 0,00

5 Kesehatan 0,00

6 Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,00

7 Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan -0,07

Pada Oktober 2017, kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan inflasi masing-masing

sebagai berikut: kelompok bahan makanan 0,46 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan

tembakau 0,13 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,00 persen; kelompok

sandang 0,00 persen; kelompok kesehatan 0,00 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,00

persen; serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan -0,07 persen.

(4)

Gambar 2.

Perkembangan Inflasi Kota Ternate dan Nasional Oktober 2016 – Oktober 2017

2. IHK dan Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran

2.1 Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan pada Oktober 2017 mengalami inflasi 2,29 persen atau terjadi kenaikan

indeks dari 120,31 pada September 2017, menjadi 123,07 pada Oktober 2017. Kelompok ini memberikan

sumbangan/andil inflasi sebesar 0,46 persen pada keseluruhan inflasi Oktober 2017.

Dari 11 subkelompok dalam kelompok bahan makanan, delapan subkelompok mengalami inflasi dan

tiga subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah

bumbu-bumbuan sebesar 6,84 persen; dan ikan segar sebesar 6,26 persen.

Komoditas yang dominan mempengaruhi terjadinya inflasi pada kelompok ini adalah beberapa jenis

ikan segar (malalugis/sorihi, selar/tude), bayam, terong panjang, pepaya, anggur, lemon cina, dan jeruk

nipis/limau

.

Okt-16 Nov-16 Des-16 Jan-17 Feb-17 Mar-17 Apr-17 Mei-17 Jun-17 Jul-17 Aug-17 Sep-17 Oct-17

Ternate -0.21 0.26 0.32 0.63 0.03 -0.31 0.36 0.20 1.55 0.80 -1.51 -0.51 0.52 Nasional 0.14 0.47 0.42 0.97 0.24 -0.01 0.08 0.40 0.69 0.22 -0.07 0.13 0.01 -2.00 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00

(5)

Tabel 3.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Bahan Makanan,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 132,55 0,52 1,75 2,35 I. Bahan Makanan 123,07 2,29 -1,60 0,30

a. Padi-padian, umbi- umbian, dan Hasilnya 120,44 0,39 1,08 1,10 b. Daging dan hasil-hasilnya 137,44 -0,77 -3,73 -3,12 c. Ikan Segar 124,81 6,26 -3,51 0,45 d. Ikan Diawetkan 102,19 -1,71 -8,34 -14,84 e. Telur, Susu, dan hasil-hasilnya 128,43 0,04 -2,25 -2,14 f. Sayur-sayuran 103,34 0,29 -1,49 4,46 g. Kacang-kacangan 117,62 0,01 0,00 -0,57 h. Buah-buahan 155,09 -0,30 1,25 0,47 i. Bumbu-bumbuan 133,95 6,84 -1,93 1,57 j. Lemak dan Minyak 107,33 0,68 -0,47 2,59 k. Bahan Makanan lainnya 137,44 0,39 2,95 4,32

2.2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada Oktober 2017 mengalami inflasi 0,88

persen atau terjadi kenaikan indeks 142,84 pada September 2017, menjadi 144,09 pada Oktober 2017.

Kelompok ini pada Oktober 2017 memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,13 persen pada inflasi

keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu makanan jadi

sebesar 0,00 persen; minuman yang tidak beralkohol sebesar -0,12 persen; serta tembakau dan minuman

beralkohol sebesar 2,13 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh inflasi pada kelompok ini adalah sirop, rokok putih,

rokok kretek dan rokok kretek filter.

(6)

Tabel 4.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on Year (%)

(%) (%)

Umum 132,55 0,52 1,75 2,35

II. Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 144,09 0,88 7,07 7,70

a. Makanan Jadi 136,82 0,00 6,15 7,09 b. Minuman yang Tidak Beralkohol 121,04 -0,12 1,95 1,05 c. Tembakau dan Minuman Beralkohol, 164,02 2,13 10,01 10,97

2.3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada Oktober 2017 mengalami stagnan

dengan indeks yang sama seperti bulan September 2017 yaitu sebesar 132,56 pada Oktober 2017. Kelompok ini memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu : biaya tempat tinggal sebesar 0,00 persen; bahan bakar, penerangan, air sebesar 0,00 persen; perlengkapan rumah tangga sebesar 0,00 persen; serta penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,03 persen.

Tabel 5.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on Year (%)

(%) (%)

Umum 132,55 0,52 1,75 2,35

III. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 132,56 0,00 2,67 2,51

a. Biaya Tempat Tinggal 130,30 0,00 0,35 0,23 b. Bahan Bakar, Penerangan, dan Air 144,42 0,00 18,36 18,41 c. Perlengkapan Rumah Tangga 133,63 0,00 -0,02 -0,36 d. Penyelenggaran Rumah Tangga 137,11 0,03 4,95 4,01

(7)

2.4 Sandang

Kelompok sandang pada Oktober 2017 mengalami deflasi sebesar 0,02 persen atau mengalami

penurunan indeks dari 150,30 pada September 2017 menjadi 150,27 pada Oktober 2017. Kelompok ini

pada Oktober 2017 memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : sandang laki-laki

sebesar 0,00 persen; sandang wanita sebesar 0,00 persen; sandang anak-anak sebesar 0,00 persen; serta

barang pribadi dan sandang lainnya sebesar -0,15 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh deflasi pada kelompok ini emas perhiasan.

Tabel 6.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Sandang,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 132,55 0,52 1,75 2,35 IV. Sandang 150,27 -0,02 1,12 1,55 a. Sandang Laki-laki 149,67 0,00 0,90 0,46 b. Sandang Wanita 153,02 0,00 0,19 0,18 c. Sandang Anak-anak 159,48 0,00 1,73 3,52 d. Barang Pribadi dan Sandang Lain 130,56 -0,15 2,08 2,64

2.5 Kesehatan

Kelompok kesehatan pada Oktober 2017

mengalami stagnan dengan indeks yang sama seperti bulan

September 2017 yaitu sebesar 131,32 pada Oktober 2017. Kelompok ini memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : jasa kesehatan

sebesar 0,00 persen; obat-obatan sebesar 0,00 persen; jasa perawatan jasmani sebesar 0,00 persen; serta

perawatan jasmani dan kosmetik sebesar 0,00 persen.

(8)

Tabel 7.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok pada Kelompok Kesehatan,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun Kalender Year on Year (%) (%) (%) Umum 132,55 0,52 1,75 2,35 V. Kesehatan 131,32 0,00 0,72 1,34 a. Jasa Kesehatan 109,86 0,00 0,00 0,00 b. Obat-obatan 129,60 0,00 2,92 2,99 c. Jasa Perawatan Jasmani 167,74 0,00 0,00 0,00 d. Perawatan Jasmani dan Kosmetik 134,25 0,00 0,21 1,51

2.6 Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada Oktober mengalami stagnan dengan indeks

yang sama seperti bulan September 2017 yaitu sebesar 130,68 pada Oktober 2017. Kelompok ini memberikan sumbangan/andil inflasi sebesar 0,00 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan masing-masing subkelompok yaitu : jasa pendidikan sebesar 0,00 persen; kursus-kursus/pelatihan sebesar 0,00 persen; perlengkapan/peralatan pendidikan 0,00 persen; rekreasi 0,00 persen; serta olahraga sebesar 0,00 persen.

Tabel 8.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK Inflasi

Tahun

Kalender Year on Year (%)

(%) (%)

Umum 132,55 0,52 1,75 2,35

VI. Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 130,68 0,00 1,29 1,36

a. Jasa Pendidikan 137,86 0,00 2,29 2,31 b. Kursus-kursus / Pelatihan 114,65 0,00 0,00 0,68 c. Perlengkapan / Peralatan Pendidikan 102,43 0,00 0,46 0,77 d. Rekreasi 126,61 0,00 -0,40 -0,40 e. Olah Raga 171,88 0,00 0,46 0,79

(9)

2.7 Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada Oktober 2017 mengalami deflasi sebesar

0,47 persen atau terjadi penurunan indeks dari 130,98 pada September 2017, menjadi 130,37 pada Oktober 2017. Kelompok ini pada Oktober 2017 memberikan sumbangan inflasi sebesar -0,07 persen pada inflasi keseluruhan.

Berdasarkan subkelompoknya, perubahan indeks masing-masing subkelompok yaitu transpor sebesar -0,66 persen; komunikasi dan pengiriman sebesar 0,00 persen; sarana dan penunjang transpor sebesar 0,00 persen; serta jasa keuangan sebesar 0,00 persen.

Komoditas yang dominan memberikan pengaruh deflasi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara.

Tabel 9.

IHK dan Inflasi Kota Ternate menurut Subkelompok

pada Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan,

Oktober 2017 (2012 = 100)

Kelompok / Subkelompok IHK

Inflasi Tahun

Kalender Year on Year (%)

(%) (%)

Umum 132,55 0,52 1,75 2,35

VII. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 130,37 -0,47 -0,36 0,39

a. Transpor 146,96 -0,66 -1,70 -0,68

b. Komunikasi dan Pengiriman 96,64 0,00 2,76 2,78

c. Sarana dan Penunjang Transpor 140,75 0,00 6,22 6,18

d. Jasa Keuangan 123,96 0,00 0,09 0,09

3. Perbandingan Antar Kota di Indonesia

Pada bulan Oktober 2017, inflasi terjadi di 44 kota, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual

sebesar 1,05 persen, Kota Batam sebesar 0,72 persen, dan Kota Bungo sebesar 0,55 persen. Sedangkan

inflasi terendah terjadi di Kota Surakarta dan Kota Cilegon masing-masing sebesar 0,01 persen. Sementara

itu kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Kota Palu sebesar 1,31 persen, Kota Ambon sebesar 1,28

persen, dan Kota Bau-Bau sebesar 1,08 persen. Sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Palopo sebesar

0,01 persen.

(10)

Menurut inflasi tahun kalender, 81 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota

Tual sebesar 10,78 persen, Kota Watampone sebesar 4,84 persen dan Kota Singkawang sebesar 4,72

persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Merauke sebesar 0,01 persen. Sementara itu kota yang

mengalami deflasi adalah Kota Kupang sebesar 0,13 persen

Menurut inflasi year on year, semua kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Kota

Tual sebesar 12,36 persen, Kota Cilegon sebesar 5,89 persen, dan Kota Singkawang sebesar 5,63 persen.

Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Bau-Bau sebesar 0,84 persen, Kota Merauke sebesar 1,07 persen,

dan Kota Jambi sebesar 1,17 persen.

3.1 Perbandingan Antar Kota di Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua

Kota-kota IHK di wilayah Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua yang berjumlah 18 kota, pada Oktober 2017 tercatat 15 kota mengalami deflasi, sedangkan sisanya mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Palu sebesar 1,31 persen, Kota Ambon sebesar 1,28 persen, dan Kota Bau-Bau sebesar 1,08 persen.

Sedangkan kota yang mengalami inflasi yaitu Kota Tual sebesar 1,05 persen, Kota Ternate sebesar 0,52

persen, dan Kota Merauke sebesar 0,47 persen.

Tabel 10.

Perbandingan IHK dan Inflasi Oktober 2017

Kota-Kota di Pulau Sulawesi, Maluku dan Papua dengan Nasional (2012 = 100)

KOTA Oktober 2017 Tahun Kalender Year on Year KOTA Oktober 2017 Tahun Kalender Year on Year IHK Inflasi (%) (%) (%) IHK Inflasi (%) (%) (%) 1 TUAL 155,24 1,05 10,78 12,36 11 MAMUJU 128,93 -0,48 2,72 4,20 2 TERNATE 132,55 0,52 1,75 2,35 12 BULUKUMBA 135,64 -0,49 4,15 5,07 3 MERAUKE 132,13 0,47 0,01 1,07 13 WATAMPONE 126,09 -0,51 4,84 5,44 4 PALOPO 127,47 -0,01 2,98 3,82 14 PARE-PARE 124,69 -0,60 2,13 3,24 5 MANADO 128,18 -0,06 2,02 3,35 15 KENDARI 124,87 -0,81 2,62 2,53 6 JAYAPURA 128,92 -0,09 0,21 1,74 16 BAU-BAU 131,22 -1,08 1,82 0,84 7 MAKASSAR 130,24 -0,28 3,01 3,75 17 AMBON 126,11 -1,28 0,21 1,22 8 SORONG 128,54 -0,30 1,34 2,06 18 PALU 130,33 -1,31 2,55 4,23 9 GORONTALO 125,87 -0,36 3,36 4,48 NASIONAL 130,09 0,01 2,67 3,58 10 MANOKWARI 124,22 -0,36 1,53 3,69

(11)

Tabel 11.

Inflasi Oktober 2017, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%)

1 TUAL 1,05 29 DUMAI 0,08 57 SEMARANG -0,15 2 BATAM 0,72 30 PALEMBANG 0,08 58 JEMBER -0,17 3 BUNGO 0,55 31 SUKABUMI 0,08 59 PROBOLINGGO -0,17

4 TERNATE 0,52 32 MATARAM 0,08 60 SAMARINDA -0,17

5 MERAUKE 0,47 33 CIREBON 0,07 61 DEPOK -0,19 6 BUKITTINGGI 0,41 34 BEKASI 0,07 62 BALIKPAPAN -0,22 7 PEKANBARU 0,33 35 LUBUKLINGGAU 0,06 63 MAKASSAR -0,28 8 SIBOLGA 0,31 36 DKI JAKARTA 0,06 64 SORONG -0,30 9 TANJUNG PANDAN 0,29 37 JAMBI 0,05 65 PONTIANAK -0,34 10 MEULABOH 0,28 38 SURABAYA 0,05 66 GORONTALO -0,36 11 BOGOR 0,26 39 SUMENEP 0,03 67 MANOKWARI -0,36 12 MEDAN 0,24 40 CILACAP 0,02 68 SINGARAJA -0,38 13 METRO 0,23 41 MALANG 0,02 69 MAUMERE -0,39 14 TEGAL 0,21 42 BIMA 0,02 70 BANJARMASIN -0,40 15 PADANG 0,19 43 SURAKARTA 0,01 71 TARAKAN -0,40 16 BANDA ACEH 0,17 44 CILEGON 0,01 72 PALANGKARAYA -0,46 17 SINGKAWANG 0,17 45 PALOPO -0,01 73 MAMUJU -0,48 18 PADANGSIDIMPUAN 0,16 46 TANJUNG PINANG -0,02 74 BULUKUMBA -0,49 19 YOGYAKARTA 0,16 47 BANDUNG -0,03 75 KUPANG -0,50 20 PEMATANG SIANTAR 0,15 48 DENPASAR -0,05 76 WATAMPONE -0,51 21 SERANG 0,15 49 TANGERANG -0,06 77 PARE-PARE -0,60 22 MADIUN 0,14 50 MANADO -0,06 78 TANJUNG -0,74 23 SAMPIT 0,13 51 PANGKAL PINANG -0,07 79 KENDARI -0,81 24 BANDAR LAMPUNG 0,11 52 TASIKMALAYA -0,08 80 BAU-BAU -1,08 25 LHOKSEUMAWE 0,10 53 KUDUS -0,09 81 AMBON -1,28 26 TEMBILAHAN 0,09 54 JAYAPURA -0,09 82 PALU -1,31 27 PURWOKERTO 0,09 55 BENGKULU -0,12 28 BANYUWANGI 0,09 56 KEDIRI -0,12

(12)

Tabel 12.

Inflasi Tahun Kalender, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%) No Kota Inflasi (%)

1 TUAL 10,78 29 PALOPO 2,98 57 TARAKAN 2,06 2 WATAMPONE 4,84 30 DKI JAKARTA 2,97 58 MEDAN 2,03 3 SINGKAWANG 4,72 31 MALANG 2,97 59 MANADO 2,02 4 SERANG 4,43 32 PURWOKERTO 2,92 60 DENPASAR 2,01 5 CILEGON 4,40 33 KEDIRI 2,76 61 METRO 2,01 6 MADIUN 4,19 34 MAMUJU 2,72 62 PALEMBANG 1,86 7 BULUKUMBA 4,15 35 BENGKULU 2,67 63 BIMA 1,84 8 BOGOR 3,73 36 SEMARANG 2,64 64 SURAKARTA 1,83 9 DUMAI 3,65 37 MEULABOH 2,63 65 BAU-BAU 1,82 10 CIREBON 3,61 38 KENDARI 2,62 66 TERNATE 1,75

11 PONTIANAK 3,61 39 MATARAM 2,60 67 SIBOLGA 1,56 12 BUNGO 3,49 40 BEKASI 2,56 68 MANOKWARI 1,53 13 BANDA ACEH 3,45 41 PALU 2,55 69 SORONG 1,34 14 CILACAP 3,40 42 JEMBER 2,50 70 BALIKPAPAN 1,24 15 GORONTALO 3,36 43 TANJUNG PINANG 2,48 71 MAUMERE 1,21 16 SUKABUMI 3,31 44 LUBUKLINGGAU 2,47 72 PANGKAL PINANG 1,19 17 SURABAYA 3,30 45 BANDAR LAMPUNG 2,44 73 PADANG 0,91 18 BATAM 3,28 46 SUMENEP 2,37 74 LHOKSEUMAWE 0,85

19 TEGAL 3,24 47 SAMPIT 2,36 75 BUKITTINGGI 0,67 20 PEKANBARU 3,24 48 TANGERANG 2,31 76 SINGARAJA 0,42 21 TASIKMALAYA 3,22 49 PALANGKARAYA 2,31 77 TANJUNG 0,38 22 TEMBILAHAN 3,22 50 BANDUNG 2,31 78 JAMBI 0,31 23 KUDUS 3,19 51 PEMATANG SIANTAR 2,29 79 JAYAPURA 0,21 24 DEPOK 3,18 52 PADANGSIDIMPUAN 2,27 80 AMBON 0,21 25 YOGYAKARTA 3,06 53 BANYUWANGI 2,21 81 MERAUKE 0,01 26 SAMARINDA 3,06 54 PROBOLINGGO 2,20 82 KUPANG -0,13 27 MAKASSAR 3,01 55 TANJUNG PANDAN 2,17 28 BANJARMASIN 2,99 56 PARE-PARE 2,13

(13)

Tabel 13.

Inflasi Year on Year, 82 Kota di Indonesia,

Tertinggi – Terendah

(2012 = 100)

No Kota Inflasi

(%) No Kota Inflasi (%) No Kota

Inflasi (%)

1 TUAL 12,36 29 MAUMERE 3,89 57 PADANGSIDIMPUAN 3,09 2 CILEGON 5,89 30 PALOPO 3,82 58 PROBOLINGGO 3,06 3 SINGKAWANG 5,63 31 PALANGKARAYA 3,81 59 LUBUKLINGGAU 3,05 4 WATAMPONE 5,44 32 TANJUNG PANDAN 3,81 60 TANJUNG PINANG 3,01 5 MADIUN 5,19 33 JEMBER 3,78 61 DENPASAR 3,00 6 BULUKUMBA 5,07 34 DEPOK 3,77 62 MEDAN 2,95 7 SERANG 4,89 35 MAKASSAR 3,75 63 BANYUWANGI 2,95 8 PEKANBARU 4,87 36 YOGYAKARTA 3,75 64 TARAKAN 2,88 9 PONTIANAK 4,65 37 PANGKAL PINANG 3,74 65 BENGKULU 2,87 10 DUMAI 4,58 38 MANOKWARI 3,69 66 SIBOLGA 2,87 11 BATAM 4,54 39 KEDIRI 3,67 67 SURAKARTA 2,75 12 BOGOR 4,52 40 PEMATANG SIANTAR 3,67 68 METRO 2,75 13 GORONTALO 4,48 41 BEKASI 3,65 69 BALIKPAPAN 2,64 14 SAMPIT 4,38 42 BANDAR LAMPUNG 3,61 70 KUPANG 2,60 15 BANDA ACEH 4,34 43 TANGERANG 3,57 71 KENDARI 2,53 16 SAMARINDA 4,25 44 MATARAM 3,57 72 TERNATE 2,35

17 PALU 4,23 45 TEGAL 3,50 73 BIMA 2,30 18 SUKABUMI 4,21 46 BANDUNG 3,50 74 PADANG 2,12

19 MAMUJU 4,20 47 DKI JAKARTA 3,49 75 SORONG 2,06 20 KUDUS 4,19 48 SUMENEP 3,46 76 SINGARAJA 1,85 21 SURABAYA 4,14 49 LHOKSEUMAWE 3,46 77 JAYAPURA 1,74 22 PURWOKERTO 4,10 50 TEMBILAHAN 3,41 78 AMBON 1,22 23 CILACAP 4,05 51 SEMARANG 3,40 79 BUKITTINGGI 1,18 24 BUNGO 4,03 52 MANADO 3,35 80 JAMBI 1,17 25 MALANG 4,03 53 TANJUNG 3,29 81 MERAUKE 1,07 26 TASIKMALAYA 4,01 54 PARE-PARE 3,24 82 BAU-BAU 0,84 27 CIREBON 3,98 55 PALEMBANG 3,13 28 BANJARMASIN 3,96 56 MEULABOH 3,11

Referensi

Dokumen terkait

Uterus tidak akan pernah kembali seperti keadaan sebelum hamil, tetapi terjadi penurunan ukuran, dari berat 1000 gr setelah melahirkan, menjadi 500 gr pada akhir minggu I

Mengklik tombol “Simpan” saat data sudah terisi semua Kode User : MYG Nama user : Mayang Sulistyani Password : cantik Hak Akses : Petugas Sistem akan menampilkan pesan

Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dan observasi mendalam di Rumah Sakit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi Manado Sulawesi Utara pada bulan

 Melaksanakan administrasi aktiva tetap dan penyusutan.  Mereview harga pokok dan proyek-proyek di Galangan maupun Cabang.  Monitoring, menyiapkan dan melaporakan

Sedangkan pada Game Edukasi Siaga Bencana Gempa Bumi terdapat video animasi yang berisikan tentang tindakan yang harus dilakukan ketika pra bencana gempa bumi, saat

Adanya Kebijakan non-tunai ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih transaparan pada Pemerintah, dimana kegiatan ini dilakukan melalui media elektronik

Junaedin Wadu. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Serta Perilaku Petani dan Strategi Menghadapi Risiko produksi Usahatani Padi Sawah di Kecamatan

Pengembangan kurikulum diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sebagai guru kelas Sekolah Dasar yang berkemampuan mengajar dari kelas 1-6 SD, yang mempunyai