• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKAWINAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKAWINAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

PERKAWINAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

(Studi Kawi’ Pura Sebagai Perkawinan Passampo Siri’ bagi Masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara)

TESIS

DISUSUN DAN DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN DARI SYARAT-SYARAT MEMPEROLEH GELAR MAGISTER HUKUM

OLEH:

SYAMSUL DARLIS, SH 17203010019

PEMBIMBING:

PROF. DR. H. KHOIRUDDIN NASUTION, MA.

MAGISTER HUKUM ISLAM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

(2)

ii

ABSTRAK

Beragam praktik perkawinan yang dilangsungkan masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan kasus wanita hamil di luar nikah, di antaranya: mengawinkan wanita hamil di luar nikah sesuai dengan ketapan KHI Pasal 53, mengawinkan wanita hamil di luar nikah pasca melahirkan, mengawinkan wanita hamil di luar nikah dengan tujuan menutupi aib/malu. Fokus pengkajian penelitian ini, yaitu mengawinkan wanita hamil di luar nikah dengan tujuan menutupi aib/malu. Masyarakat Bugis dapat mengawinkan wanita hamil di luar nikah dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain melalui tradisi kawi’ pura. Bagi masyarakat Bugis, jika terdapat kasus yang memalukan, seperti kasus wanita hamil di luar nikah, maka tradisi kawi’ pura dijadikan solusi untuk menyelesaikan kasus tersebut. Tradisi kawi’ pura akan dilaksanakan, jika sebelumnya pihak wanita dan laki-laki mengadakan perjanjian untuk bercerai setelah akad nikah dilangsungkan. Berdasarkan hal tersebut, menarik untuk ditelusuri faktor pendorong dan penyebab masyarakat Bugis menjadikan tradisi kawi’ pura sebagai solusi atas perkawinan wanita hamil di luar nikah. Mengingat mayoritas masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur beragama Islam, maka menarik juga untuk diteliti mngenai tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi perkawinan tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan sosiologi hukum Islam, adapun sifat penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan dua metode, yaitu observasi dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong masyarakat Bugis mempraktikkan tradisi kawi’ pura ada empat. Pertama, adanya upaya untuk menutupi aib/malu. Kedua, mengikuti tradisi nenek moyang. Ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat Bugis mengenai ketentuan hukum perkawinan yang berlaku. Keempat, rendahnya tingkat pendidikan. Adapun pnyebabnya ada empat juga. Pertama, pihak laki-laki tidak mau bertanggung jawab atas wanita yang dihamilinya. Kedua, tidak diketahuinya laki-laki yang menyebabkan kehamilan wanita. Ketiga, orang tua tidak merestui jika anaknya dikawinkan dengan laki-laki yang menghamili anaknya. Keempat, pasangan yang berzina menyembunyikan kehamilan wanita. Adapun tinjauan sosiologi terhadap tradisi kawi’ pura ini, yaitu: masyarakat Bugis memadukan hukum perkawinan Islam dengan hukum adat dalam melangsungkan perkawinan, namun pada kasus yang memalukan, mereka menggunakan tradisi kawi’ pura untuk menutupi aib/malu.

Kata Kunci: Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah, Tradisi Kawi’ Pura, Menutupi Malu, Sosiologi Hukum Islam.

(3)
(4)
(5)
(6)

vi MOTTO

“Hukum waktu adalah awal dari segala kejayaan”

تق ولأ

( كعطق هعطقت مل نا فيسل اك

ا

وفحمل

ظ

“Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik maka ia akan memotongmu”

(7)

vii

PERSEMBAHAN PENULIS Karya ilmiah/Tesis ini saya persembahkan kepada:

1. Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis.

2. Para guru penulis di Sekolah dan Pesantren, serta para dosen penulis di kampus IAIN Kendari dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3. Saudara-saudara (i) penulis dari kalangan akademisi dan non akademisi. 4. Secara khusus untuk masyarakat Indonesia dan secara umum untuk

(8)

viii

SISTEM TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Transliterasi kata-kata Arab ke dalam kata-kata latin yang dipakai dalam penyusunan tesis ini berpedoman kepada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1997 dan 0543b/U/1987 tanggal 10 September 1987.

A. Konsonan Tunggal Huruf

Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ا alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب ba’ b be

ت ta’ t te

ث s|a’ s| es (dengan titik di atas)

ج jim j je

ح h{a h{ ha (dengan titik di bawah)

خ kha kh ka dan ha

د dal d de

ذ z|al z| zet (dengan titik di atas)

ر ra’ r er

ز zai z zet

س sin s es

ش syin sy es dan ye

ص s}ad s{ es (dengan titik di bawah)

ض d{ad d{ de (dengan titik di bawah

ط t{a’ t{ te (dengan titik di bawah)

ظ z{a’ z{ zet (dengan titik di bawah)

ع ‘ain ‘ koma terbalik di atas

غ gain g ge ف fa’ f ef ق qaf q qi ك kaf k ka ل lam l el م mim m em ن nun n en ه ha’ h ha ء hamzah ‘ apostrof ي ya’ y ye

B. Konsonan Rangkap karena Syaddah Ditulis Rangkap ةنس ditulis Sunnah

(9)

ix C. Ta’ Marbu>t{ah di Akhir Kata

a. Bila dimatikan ditulis dengan ‘h’

ةدئ املأ ditulis al-Ma>’idah

ةيم لاسا ditulis Isla>miyyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan kata-kata arab yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti zakat, salat, dan sebagainya, kecuali bila dikehendaki lafal aslinya).

b. Bila diikuti dengan kata sandang “al” serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan ‘h’.

بهاذملأ ةنراقم ditulis Muqa>ranah al-Maza>hib. D. Vokal Pendek ِ kasrah Ditulis i ِ fathah Ditulis a ِ dammah Ditulis u E. Vokal Panjang 1. Fath{ah + alif ن اسحتسا ditulis ditulis a> Istih{sa>n 2. Fath{ah + ya’ mati

ىثنأ

ditulis ditulis

a> Uns|a 3. Kasrah + ya’ mati

ناولعلأ ditulis ditulis i> al-A>lwa>ni> 4. D{ammah + wa>wu mati مولع ditulis ditulis u> ‘Ulu>m F. Vokal Rangkap

1. Fath{ah + ya’ mati

مهريغ ditulis ditulis

ai

Gairihim

2. Fath{ah + wa>wu mati لوق

ditulis ditulis

au Qaul

G. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata Dipisahkan dengan Apostrof

متنأأ ditulis a’antum تدعأ ditulis u’iddat

متركش ن ءلا ditulis la’insyakartum H. Kata Sandang Alif + Lam

1. Bila diikuti huruf Qamariyyah

نارقلأ ditulis al-Qur’an

(10)

x

2. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya, serta menghilangkan huruf (el) nya. ةلاسرأ ditulis ar-Risa>lah

ءاسنأ ditulis an-Nisa’

I. Penulisan Kata-kata dalam Rangkaian Kalimat Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya:

يأرلا لهأ ditulis Ahl al-Ra’yi

(11)

xi KATA PENGANTAR

هتاكربو ّاللّ ةمحرو مكيلع م لاّسلأ

ةمعنب انمعنأ ىذلا لله دمحلأ

دمحم انديس مانلأا ريخ ىلع ملسنو يلصنو م لاسلإاو ناميلإا

.نيعمجأ هبحصو هلأ ىلعو

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Swt atas limpahan Rahmat-Nya, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa juga penulis berselawat kepada junjungan Nabi Muhammad Saw, para keluarga dan sahabatnya. Semoga Rahmat Allah Swt selalu dilimpahkan kepadanya dan seluruh umatnya. Amin.

Tesis ini merupakan tugas akhir yang dilaksanakan oleh penulis untuk memenuhi persayaratan memperoleh gelar sarjana Magister Hukum di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tesis ini juga merupakan hasil yang diperoleh penulis selama proses perkuliahan berlangsung, meskipun penulis menyadari bahwa masih banyak lagi yang dapat dipelajari untuk menyempurnakan tesis ini.

Penulis juga menyadari bahwa selama menempuh proses perkuliahan di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak berterima kasih kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Lerang dan Hj. Semmawati yang telah mendoakan dan memberi restu kepada penulis selama perkuliahan berlangsung.

2. Bapak Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta beserta stafnya.

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

HALAMAN PENGESAHAN TESIS ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIARISME... v

MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ... viii

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 6

D. Telaah Pustaka... 7

E. Kerangka Teoretik... 13

F. Metode Penelitian... 18

G. Sistematika Pembahasan ... 23

BAB II TINJAUAN UMUM PERKAWINAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH A. Definisi Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah... 25

B. Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah dalam Tinjauan Ulama Fikih ... 27

C. Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah dalam Tinjauan Undang-undang Indonesia... 30

D. Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah dalam Tinjauan Sosiologi Hukum Islam ... 32

BAB III SISTEM PERKAWINAN MASYARAKAT BUGIS A. Identifikasi Suku dan Agama Masyarakat Bugis ... 42

1. Identifikasi Suku Bugis ... 42

2. Identifikasi Agama Masyarakat Bugis ... 47

3. Identifikasi Masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur... 50

B. Perkawinan Masyarakat Bugis ... 52

1. Standardisasi Perkawinan Masyarakat Bugis ... 53

2. Pelaksanaan Perkawinan Masyarakat Bugis ... 55

C. Tradisi Kawi’Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ bagi Masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur... 58

1. Praktik Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ ... 58 2. Faktor-faktor Pendorong Tradisi Kawi’ Pura

(14)

xiv

sebagai Perkawinan Passampo Siri’ ... 66

3. Penyebab Dijadikannya Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ ... 72

BAB IV ANALISIS TRADISI KAWI’ PURA SEBAGAI PERKAWINAN PASSAMPO SIRI’ BAGI MASYARAKAT BUGIS DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR A. Studi Kritis terhadap Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’bagi Masyarakat Bugis ... 75

B. Tinjauan Hukum Islam terhadap Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ bagi Masyarakat Bugis ... 79

C. Tinjauan Sosiologi Hukum Islam terhadap Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ bagi Masyarakat Bugis ... 84

1. Pola Interaksi Masyarakat Bugis dengan Hukum Perkawinan Islam ... 84

2. Pengadaptasian Hukum Perkawinan Islam dalam Tradisi Kawi’ Pura ... 90

3. Dukungan Masyarakat Bugis terhadap Hukum Perkawinan Islam ... 93

D. Integrasi Teori Structural-Functional dalam Praktik Tradisi Kawi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’ bagi Masyarakat Bugis ... 98 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 101 B. Saran ... 102 DAFTAR PUSTAKA ... 104 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... xvi

1. Terjemahan Teks Alquran ... xvi

2. Terjemahan Teks Hadis ... xviii

3. Instrumen Penelitian ... xix

4. Paraf Informan Penelitian ... xx

5. Surat-surat Rekomendasi Penelitian ... xxi

(15)

xv

DAFTAR TABEL

TABEL 1 : Jumlah Penduduk Kabupaten Kolaka Timur Tahun 2015 ... 51 TABEL II : Latar Belakang Pendidikan Pelaku Tradisi Kawi’ Pura dan Informan Penelitian ... 89 TABEL III : Latar Belakang Pendidikan Pelaku Tradisi Kawi’ Pura dan Informan Penelitian yang ingin mempertahakan tradisi Kawi’ Pura... 95 TABEL IV : latar belakang pendidikan informan penulis yang ingin

mengembalikan penyelesaian kasus wanita hamil di luar nikah pada

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Hakikat perkawinan adalah ikatan yang sangat kuat atau ikatan yang sulit untuk dihilangkan. Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 2 menyebutkan “Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mi>s\a>qan gali>z}a> untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah”.1 Perkawinan dilakukan untuk

menghalalkan kebersamaan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berumah tangga, termasuk di dalamnya pemenuhan hak biologis untuk melahirkan keturunan, menciptakan ketenteraman, serta mengangkat status sosial, yang seterusnya menjadi tujuan perkawinan.

Perkawinan menurut fikih dikatakan sah apabila: mempelai perempuan halal dinikahi oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya, dihadiri dua orang saksi laki-laki, dan ada wali mempelai wanita yang melakukan akad. Ketiga rukun nikah ini dianut muslim di Indonesia dan merupakan pendapat Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Hasan Basri, Ibn Abi Layla dan Ibn Syubrumah.2

Rukun nikah ini dapat dilihat aplikasi teorinya dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 14 bahwa untuk melaksanakan perkawinan harus ada: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi, dan ada ijab kabul.3

1 Tim Penyusun Citra Umbara, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Citra Umbara, 2017), hlm. 2.

2 A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Banda Aceh: Pena, 2010),

hlm. 58.

(17)

2

Aturan perkawinan yang sah dalam hukum Islam dan perundang-undangan telah jelas diatur dan harus dilaksanakan. Namun, melihat realitas praktik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kolaka Timur, banyak yang melanggar aturan hukum tersebut untuk memenuhi nafsu syahwat dan beberapa kepentingan lainnya, seperti perbuatan zina yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah. Konsekuensi dari perbuatan zina tersebut adalah aib dan untuk menutupi aib serta mendapatkan keberlangsungan hidup yang terhormat di kalangan masyarakat sekitar, wanita hamil di luar nikah tersebut harus dinikahkan, baik dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun dengan laki-laki lain yang siap untuk menikahinya.

Beragam tradisi perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menyelesaikan masalah wanita hamil di luar nikah. Secara umum keragaman tradisi perkawinan tersebut terbagi atas tiga bentuk pelaksanaan. Pertama, menikahkan wanita hamil di luar nikah sesuai dengan ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 53 ayat (1), yaitu “Seorang wanita hamil di luar nikah, dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya”.4 Kedua,

menikahkan wanita hamil di luar nikah pasca melahirkan anak yang dikandungnya (ada masa ‘iddah), baik dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain.5 Ketiga, menikahkan wanita hamil

4 Farida Hanum, “Status Anak yang Dilahirkan dari Perkawinan Wanita Hamil karena

Zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,” Premise Law Jurnal, Vol. 8:2 (Juli 2015), hlm. 12.

5 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, alih bahasa Mohmmad Thalib, Jilid 6 (Bandung: PT.

Al-Ma’arif, 2000), hlm. 151.

(18)

3

di luar nikah dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun dengan laki-laki lain dengan tujuan menutupi aib.6

Fokus penelitian penulis adalah bentuk ketiga yaitu menikahkan wanita hamil di luar nikah dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun laki-laki lain dengan tujuan menutupi aib/malu dalam tradisi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur. Tradisi kawi’ pura ini dijadikan sebagai perkawinan passampo siri’ (penutup malu) bagi pihak keluarga wanita. Tradisi ini terjadi umumnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu: Pertama, laki-laki yang menghamili wanita tersebut tidak mau bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya.7 Kedua,

laki-laki yang menghamilinya mau bertanggung jawab, tetapi pihak wanita dan keluarganya tidak menyetujuinya karena pertimbangan adat dan kondisi ekonomi pihak laki-laki.8 Ketiga, tidak dapat dipastikan laki-laki yang menghamili wanita

tersebut, karena sebelum kehamilan wanita ini telah berhubungan badan dengan beberapa laki-laki.9

Berdasarkan alasan-alasan di atas, pihak keluarga wanita merasa malu dan menganggapnya sebagai aib keluarga. Berangkat dari peristiwa inilah, pihak keluarga mencarikan laki-laki lain yang menyatakan diri siap untuk menikahinya, meskipun dalam waktu bersamaan, setelah akad nikah dilaksanakan pasangan tersebut juga langsung bercerai. Ali Hasan menyebutkan bahwa perkawinan

6 Agus Salim, “Menikahi Wanita Hamil karena Zina Ditinjau dari Hukum Islam,” Jurnal

Ushuluddin, Vol. 17:2 (Juli 2011), hlm. 138-142. Lihat juga penelitian H.M Quzwini,

“Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah dan Status Anak,” Jurnal Darussalam, Vol. 9: 2 (Desember 2009), hlm. 131.

7 Abdul Hamid dan Muhammad Akbal, “Kahi’ Pura sebagai Perkawinan Passampo Siri’

di Desa Biji Nangka Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai”, Jurnal Tomalebbi, Universitas Negeri Makassar, Vol. 4: 1, (Januari 2017), hlm. 23-24.

8 Wahyu Wibisana, “Perkawinan Wanita Hamil Diluar Nikah serta Akibat Hukumnya:

Tinjauan Fikih dan Hukum Positif,” Jurnal Ta’lim, Vol. 15:1 (Maret 2017), hlm. 32.

(19)

4

seperti ini termasuk kategori kawin paksa karena perkawinan dilakukan hanya untuk menutupi malu, seperti seorang perempuan berhubungan intim dengan laki-laki dan kemudian laki-laki-laki-laki tersebut tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Sehingga dicarikanlah laki-laki lain yang bersedia secara sukarela atau diberi imbalan tertentu untuk mengawini wanita tersebut.10

Berdasarkan studi pendahuluan penulis, dapat dikatakan bahwa tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bertahan menjadi tradisi sampai saat ini didorong oleh tiga faktor. Pertama, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai hukum perkawinan dalam Islam. Kedua, tradisi ini merupakan cara leluhur mereka menyelesaikan masalah terkait, atau penulis sebut, masyarakat masih mempertahankan ade’ toriolo (adat leluhur). Ketiga, mengenai prinsip hidup yaitu siri’ (aib/malu).11 Malu merupakan hal sakral dan melekat di setiap

pribadi masyarakat Bugis, sehingga jika terjadi sesuatu yang memalukan (aib), maka harus dihilangkan.12 Seperti terjadinya kehamilan wanita di luar nikah,

maka kawi’ pura dijadikan solusi alternatif untuk massampo siri’ (menutupi malu) keluarga.

Menurut Hamid Abdullah, prinsip siri’ bagi masyarakat Bugis adalah hal yang paling mendasar, tidak ada satu pun nilai yang paling berharga dan patut untuk dipertahankan dalam hidup melainkan kehormatan (siri’). Bagi masyarakat Bugis, siri’ adalah jiwa, harga diri, dan martabat. Dengan demikian, untuk

10 M. Ali Hasan, Mas|a>il Fiqiyah al-Hadi>s|ah: Masalah-masalah Kontemporer

Hukum Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 85.

11 Wawancara dengan Abdul Hamid, Tokoh Agama Desa Dangia, Kecamatan Dangia,

Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, tanggal 9 Desember 2018.

12 Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar: Suatu Tinjauan Historis terhadap Pola

Tingkah Laku dan Pandangan Hidup Manusia Bugis-Makassar (Jakarta: Inti Dayu, 1985), hlm.

(20)

5

menegakkan dan menjaga siri’ yang dicemarkan dan dijatuhkan oleh orang lain, maka orang Bugis bersedia mengorbankan apa saja termasuk nyawanya demi tegaknya siri’ dalam kehidupan mereka.13 Demikianlah kesakralan prinsip siri’

bagi masyarakat Bugis dalam menjalani kehidupan termasuk dalam hal perkawinan, mengingat perkawinan merupakan hal yang paling sering bersinggungan dengan masalah siri’.14

Pembahasan di atas, akan sangat menarik jika tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ ditinjau dari perspektif sosiologi hukum Islam, mengingat mayoritas masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur adalah pemeluk agama Islam yang secara otomatis diharuskan tunduk kepada hukum Islam dan perundang-undangan yang berlaku. Peran sosiologi hukum Islam dalam kasus ini mengkaji sejauh mana hukum Islam mempengaruhi tingkah laku umat, baik secara tekstual maupun secara kontekstual, sehingga menjadikan hukum Islam memiliki fungsi ganda yaitu: Pertama, sebagai hukum, ia berusaha mengatur tingkah laku manusia sesuai citra Islam. Kedua, sebagai norma, ia memberikan legitimasi ataupun larangan-larangan tertentu dengan konteks spiritual.15 Berdasarkan hal tersebut, penulis berinisiatif untuk menggali informasi

mengenai alasan dan penyebab terjadinya perkawinan wanita hamil di luar nikah dengan tujuan menutupi aib/malu serta tinjauan sosiologi hukum Islam mengenai praktik perkawinan tersebut.

13 Hamid Abdullah, Manusia Bugis-Makassar: Suatu Tinjauan Historis, hlm. 37.

14 Christian Pelras, Manusia Bugis, alih bahasa Abdul Rahman (Jakarta: Nalar bekerja

sama dengan Forum Jakarta, EFEO, 2005), hlm. 251.

15 Sudirman Tebba, Sosiologi Hukum Islam (Yogyakarta: UII Press Indonesia, 2003),

(21)

6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Mengapa tradisi kawi’ pura dijadikan sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur?

2. Bagaimana tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Melihat latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menggali informasi mengenai alasan dan penyebab dijadikannya kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

2. Mendeskripsikan dan menjelaskan tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

Berangkat dari tujuan penelitian di atas, maka kegunaan penelitian ini ada dua, yaitu:

1. Kegunaan teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pembendaharaan keilmuan di bidang perkawinan, khususnya mengenai

(22)

7

solusi penyelesaian kasus perkawinan wanita hamil di luar nikah bagi Masyarakat Bugis dalam tinjauan sosiologi hukum Islam.

2. Kegunaan praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat umum dan akademis mengenai praktik traidisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis dalam tinjauan sosiologi hukum Islam.

D. Telaah Pustaka

Patut disadari bahwa dalam aplikasi penelitian ilmiah telah banyak penelitian-penelitian yang membahas mengenai perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam tinjaun sosiologi hukum Islam. Telaah pustaka di bidang ini dapat dikelompokkan menjadi empat. Pertama, karya yang mengupas prosesi dan persepsi masyarakat Bugis terhadap tradisi kawi’ pura. Kedua, studi tentang perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam tinjauan Islam. Ketiga, tulisan yang membahas tentang tradisi perkawinan masyarakat Bugis. Keempat, penelitian yang terfokus pada prinsip siri’ masyarakat Bugis.

Gambaran ringkas dari pengelompokan penelitian di atas, penulis uraikan berdasarkan kategori-kategori dan menurut urutan tahun penerbitannya. Karya yang masuk kategori pertama adalah karya Nurul Ilmi yang berjudul Siri’, Gender, and Sexuality Among the Bugis in South Sulawesi.16 Karya ini

mengungkapkan secara ringkas pristiwa-pristiwa yang memalukan (mapakasiri’-siri’) bagi masyarakat Bugis. Wanita hamil di luar nikah termasuk hal yang memalukan, sehingga masyarakat Bugis berupaya untuk menghilangkan hal yang

16 Nurul Ilmi Idrus, “Siri’, Gender, and Sexuality Among the Bugis in South Sulawesi”,

(23)

8

memalukan tersebut melalui tradisi kawi’ pura. Konsep tradisi kawi’ pura dalam jurnal ini tidak dijelaskan secara terperinci, melainkan hanya sebagai contoh kasus yang memalukan bagi masyarakat Bugis.

Karya lain ditulis oleh Abdul Hamid yang mengkhuskan objek penelitiannya pada proses dan persepsi masyarakat Bugis terhadap kahi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’.17 Menurutnya, proses kawi’ pura (kahi’ pura

dalam istilah Bugis Sinjai) dilakukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yang bersangkutan, di mana pihak keluarga perempuan meminta pihak laki-laki untuk bertanggung jawab tetapi pihak laki-laki tidak mau sehingga terjadilah kawi’ pura. Adapun kawi’ pura menurut persepsi masyarakat Bugis Sinjai bahwa perkawinan ini sebenarnya tidak diinginkan karena bertentangan dengan hukum adat yang berlaku maupun hukum agama yang dianut oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena mengikuti tradisi orang tua terdahulu yang mayoritas dari mereka minim pengetahuan mengenai penyelesaian kasus perkawinan hamil di luar nikah.18

Meskipun terdapat persamaan objek kajian mengenai tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan bagi wanita hamil di luar nikah. Namun, terdapat perbedaan mendasar dengan penelitian yang dilaksanakan. Penelitian sebelumnya meneliti tentang kasus wanita hamil di luar nikah merupakan aib dan pristiwa yang memalukan bagi masyarakat Bugis. Selain itu, dibahas juga proses dan persepsi masyarakat terhadap kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ dalam adat Bugis. Adapun penelitian yang penulis laksanakan terfokus pada alasan dan

17 Abdul Hamid dan Muhammad Akbal, “Kahi’ Pura sebagai Perkawinan, hlm. 11.

(24)

9

penyebab dijadikannya tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ serta mengemukakan tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi perkawinan tersebut.

Pengkajian tentang menikahi wanita hamil di luar nikah dalam tinjauan hukum Islam termasuk dalam penelitian kelompok kedua. Penelitian pertama, ditulis oleh Agus Salim yang mengkhuskan pembahasannya pada hukum menikahi wanita hamil karena zina serta akibat yang ditimbulkan. Penelitian ini berksimpulan bahwa wanita hamil di luar nikah dapat dinikahkan dengan laki-laki yang menghamilinya, di sisi lain wanita hamil di luar nikah juga dapat dikawinkan dengan laki-laki lain, akan tetapi tidak menggaulinya sampai ia melahirkan. Adapun akibat yang ditimbulkan adalah hilangnya hak dan tanggung jawab antara anak dan ayah, seperti hak nasab, waris, dan perwalian.19

Penelitian selanjutnya dari kelompok kedua adalah karya Farida Hanum yang menjelaskan tentang tinjaun Kompilasi Hukum Islam dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terhadap status anak yang dilahirkan dari hasil zina. Hanum menyimpulkan bahwa wanita hamil di luar nikah sah dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya, karena sesuai dengan ketentuan Kompilasi Hukum Islam Pasal 53 “Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya”. Dengan demikian, pelaksanaan perkawinan wanita hamil di luar nikah berdasarkan Pasal 53 KHI tersebut, menjadikan status anak yang dilahirkan adalah sah.20

19 Agus Salim, “Menikahi Wanita Hamil karena Zina, hlm. 136-138.

(25)

10

Karya Wahyu Wibisana yang mengkaji perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam perspektif fikih dan hukum positif, juga termasuk kelompok kedua. Wibisana mendeskripsikan bahwa ulama fikih seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berbeda pendapat mengenai kebolehan wanita hamil di luar nikah melangsungkan perkawinan. Sedangkan menurut Undang-undang positif, wanita hamil di luar nikah dapat melangsungkan perkawinan asalkan dengan laki-laki yang menghamilinya.21

Persamaan penelitian-penelitian di atas dengan penelitian yang dilaksanakan terletak pada objek kajiannya, yaitu perkawinan wanita hamil di luar nikah. Adapun perbedaannya, penelitian yang penulis laksanakan mengemukakan tentang alasan dan penyebab masyarakat Bugis menjadikan tradisi kawi’ pura sebagai penyelesaian kasus perkawinan wanita hamil luar nikah bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

Penelitian ketiga adalah mengenai tradisi perkawinan masyarakat Bugis, umumnya mengkaji masalah: doi menre’ (uang seserahan/belanja, dalam istilah Bugis dikenal dengan uang panai), prosesi adat nikah masyarakat Bugis, dan mahar. Penelitian tentang doi menre’ dibahas oleh Muh. Sudirman Sesse dan Rafsanjani. Dalam penelitian ini, dijelaskan bahwa doi menre’ dalam perkawinan masyarakat Bugis merupakan syarat utama, karena tanggapan msyarakat Bugis terhadap doi menre’ tergolong tinggi, sehingga menjadi beban bagi pihak laki-laki yang akan melangsungkan perkawinan.22

21 Wahyu Wibisana, “Perkawinan Wanita Hamil Diluar Nikah, hlm. 29.

22 Menurut Sesse dan Rafsanjani doi menre’ dalam tinjauan Hukum Islam adalah boleh,

hal ini didasarkan bahwa doi menre’ tersebut bukan salah satu rukun dan syarat nikah. Lihat Muh. Sudirman Sesse dan Rafsanjani, “doi menre’ dalam Tradisi Perkawinan Bugis dalam Tinjauan

(26)

11

Selanjutnya penelitian Muh. Rusli yang mengemukakan tentang reinterpretasi adat pernikahan suku Bugis. Penelitian ini bertujuan mempertegas tentang makna filosofis di setiap pelaksanaan perkawinan Bugis, dan juga untuk membendung tudingan miring terhadap tuduhan pernikahan yang terkesan memberatkan, karena banyaknya proses yang harus dilewati sehingga membutuhkan biaya besar. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pernikahan merupakan hal yang suci dan sakral, sebagaimana sakralnya menjaga kehormatan anak hingga ia duduk di pelaminan, sehingga perayaan atas pernikahan tersebut harus dilaksanakan semaksimal mungkin agar dapat meninggalkan kesan manis.23

Terakhir dari penelitian kelompok ketiga adalah karya Rasdiana yang membahas tentang kedudukan mahar tanah sebagai mahar simbolik dalam perkawinan masyarakat Bugis. Penelitian ini menyebutkan bahwa tanah dijadikan sebagai mahar simbolik dalam perkawinan masyarakat Bugis, mengingat mayoritas masyarakat Bugis Bone adalah masyarakat agraris, sehingga simbol yang paling tepat untuk mewakili mahar adalah tanah.24

Persamaan penelitian-penelitian yang disebutkan dengan penelitian yang dilaksanakan yaitu mengenai perkawinan adat Bugis. Namun, perbedaan mendasarnya adalah penelitian sebelumnya menjelaskan tentang mahar, uang belanja, dan prosesi adat perkawinan Bugis, sementara penelitian yang dilaksanakan oleh penulis terfokus pada perkawinan wanita hamil di luar nikah

Hukum Islam; Studi Kasus pada Masyarakat Bugis di Kecamatan Bacukiki Kota Pare-pare,”

Jurnal Hukum Diktum, Vol. 9:1 (Januari 2011), hlm. 53.

23 Muh. Rusli, “Reinterpretasi Adat Pernikahan Suku Bugis Sidrap Sulawesi Selatan”,

Jurnal Karsa, Vol. 20: 2 (Desember 2012), hlm. 254.

24 Rasdiana, “Mahar Simbolik dalam Perkawinan Masyarakat Bugis di Kabupaten Bone

Sulawesi Selatan,” Tesis Magister Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (2017), hlm. 122-123.

(27)

12

yang tujuannya untuk menutupi malu di kalangan masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur.

Studi yang masuk kelompok keempat adalah studi tentang prinsip siri’ masyarakat Bugis. Karya Mattulada “Kebudayaan Bugis-Makassar” yang membahas berbagai macam kebudayaan masyarakat Bugis, seperti budaya membangun rumah, budaya merawat benda pusaka, termasuk budaya mempertahankan prinsip siri’. Di antara prinsip-prinsip siri’ yang disebutkan Mattulada adalah amanat-amanat nenek moyang masyarakat Bugis tentang prinsip siri’. Berikut amanat-amanat tersebut: Pertama, siri’ emmi rionrowang ri-lino (hanya karena harga diri kita hidup di dunia). Amanat siri’ ini sebagai pemberian identitas sosial dan martabat kepada seorang Bugis. Kedua, Mate ri siri’na (mati dalam menjaga harga diri), dalam artian kematian itu terpuji dan terhormat ketika mati dalam menegakkan siri’. Ketiga, Mate siri’ (mati malu/tidak mempunyai harga diri), dalam artian orang yang sudah hilang malunya bagaikan bangkai hidup. Hal inilah yang sering mengakibatkan amukan yang berakhir dengan pembunuhan terhadap orang menginjak harga diri orang Bugis.25

Kelompok keempat selanjutnya adalah karya Christian Pelras dalam “The Bugis” (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Manusia Bugis”). Penelitian ini menuliskan sejarah awal keberadaan masyarakat Bugis, budaya-budaya masyarakat Bugis, dan hubungan perkawinan dengan prinsip siri’ masyarakat Bugis. Pelras menyebutkan bahwa perkawinan merupakan hal yang paling sering bersinggungan dengan masalah siri’. Apabila pinangan seorang laki-laki ditolak,

(28)

13

maka pihak peminang bisa merasa mate siri’ (kehilangan kehormatan) sehingga terpaksa menempuh jalan kawin lari (silariang) untuk menghidupkan kembali kehormatan pihak laki-laki. Namun, bagi pihak keluarga wanita yang “dilarikan” merupakan penghinaan yang sangat besar sehingga semua kerabat laki-laki dari keluarga wanita tersebut berkewajiban membunuh pelaku demi menegakkan siri’ keluarga. Masalah ini dapat diselesaikan jika proses rekonsiliasi formal dilakukan oleh kedua pihak, akan tetapi jika si wanita kawin lari dengan laki-laki bukan atas keinginannya sendiri, tapi karena paksaan, maka jalan damai telah ditutup.26

Persamaan dalam penelitian adalah mengenai prinsip siri’. Namun perbedaannya, penelitian sebelumnya menjelaskan konsep siri’ secara umum, sedangkan penelitian yang dilaksanakan terfokus pada prinsip siri’ yang dijadikan solusi alternatif atas perkara perkawinan wanita hamil di luar nikah di kalangan masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur.

E. Kerangka Teoretik

Fenomena maraknya perkawinan wanita hamil di luar nikah merupakan dampak dari pergaulan bebas dan akselarasi zaman melalui teknologi industri, sehingga memudahkan manusia menuruti hawa nafsunya untuk melakukan berbagai macam keburukan. Manusia membiarkan dirinya terbiasa dengan dosa dan kemaksiatan yang berujung pada kehancuran. Akibat dari perbuatan tersebut adalah hilangnya rasa kemuliaan, adanya kesempitan setelah kemudahan, harta dibelanjakan sia-sia, adanya kehinaan setelah kedudukan dan kemuliaan, adanya

(29)

14

kelemahan setelah kekuatan dan kesehatan yang mumpuni.27 Dan tentu perbuatan

demikian menimbulkan aib, baik bagi individu, keluarga, dan kehidupan sosial lainnya.28

Perkawinan wanita hamil di luar nikah telah menjadi diskursus tersendiri dalam dunia keilmuan fikih. Misalnya Wahbah Zuhaili,29 menjelaskan bahwa

seorang laki-laki boleh menikahi wanita hamil dari zina, sebab kehamilan dari zina tidak berkaitan dengan siapa pun. Jadi, kehamilan tersebut dianggap seperti tidak terjadi apa-apa. Pendapat ini disandarkan pada firman Allah QS. an-Nisa<’ [4] : 24.30

... مكلاذ ءارو ا ّم مكل ّلحأو ...

Hukum bolehnya menikahi wanita hamil di luar nikah (hasil zina) merupakan telaah dari rentetan wanita-wanita yang haram dinikahi dalam nas Alquran. Ketentuan halal-haramnya menikahi wanita hamil di luar nikah tidak terdapat dalam nas Alquran khususnya dalam QS. an-Nisa<’ [4]: 23-24.

27 Ali Yusuf as-Subki, Fikih Keluarga (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 5-6.

28 Memed Humaidillah, Akad Nikah Wanita Hamil dan Anaknya (Jakarta: Gema Insani

Press, 2002), hlm. 33.

29 Wahbah Zuhaili, Fikih Imam Syafi’i 2, alih bahasa Muhammad Afifi dan Abdul Azis,

cet. ke-1, Jilid 2 (Jakarta: Almahira, 2010), hlm. 508.

30 Ayat ini ditafsirkan bahwa dalam QS. an-Nisa<’ [4] :23 menjelaskan perempuan yang

haram dinikahi yaitu, ibu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, dan dalam QS. an-Nisa<’ [4]: 24 diharamkan juga menikahi wanita yang bersuami...., dan dihalalkan bagi kalian selain (perempuan–perempuan) yang demikian itu. Dalam artian haramnya menikahi wanita hamil hasil zina dalam ayat ini tidak didapatkan, sehingga membuat seorang pria boleh menikahi wanita hamil hasil zina. Lihat Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Terjemah dan Asbabun Nuzul (Jakarta: PT. Riels Grafika, 2009), hlm. 82.

(30)

15

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan wanita hamil di luar nikah boleh dinikahi, karena belum ada nas yang mengharamkannya.

Adapun perkawinan wanita hamil dalam diskursus hukum positif Indonesia terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 53 ayat (1) “seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya”.31 Hukum positif ini lebih merincikan lagi tentang laki-laki yang

boleh menikahi wanita hamil di luar nikah tersebut, yaitu laki-laki yang menghamilinya.

Selaras dengan pemaparan konsep di atas, maka teori yang dianggap mendukung mengenai hal tersebut adalah teori structural-functional, yaitu sebuah konsep teoretik dari Talcott Parsons.32 Asumsi-asumsi dasar teori ini berasal dari

pengembangan teori Emile Durkheim, di mana masyarakat dilihat sebagai suatu sistem yang di dalamnya terdapat sub-sub sistem yang masing-masing mempunyai fungsi untuk mencapai keseimbangan dalam masyarakat.33 Mengingat

31 Tim Penyusun Citra Umbara, Undang-undang Republik Indonesia, hlm. 338.

32 Talcott Parsons dilahirkan di Colorado Springs, USA pada tanggal 13 Desember 1902

dan meninggal di Munich, Jerman pada 8 Mei 1979. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang memiliki latar belakang yang saleh dan intelek. Ayahnya adalah seorang pendeta gereja Kongregasional, seorang profesor dan presiden dari sebuah kampus kecil. Karier Parsons dimulai sejak ia menjadi pengajar di Harvard pada tahun 1927, dan pada tahun 1944 diangkat menjadi Ketua Jurusan Sosiologi di Harvard, dua tahun kemudian mendirikan Departemen Hubungan Sosial, yang tidak hanya memasukkan sosiolog, tetapi juga berbagai sarjana ilmu sosial lainnya. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden The American Sociological Association. Tahun 1950-an dengan diterbitkannya buku seperti “The Social System” pada tahun 1951 Parsons menjadi tokoh dominan sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan teori structural-functional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Teori Parsons ini diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto, dan Max Weber. Hal tersebutlah yang menyebabkan teori structural-functional Parsons bersifat kompleks. Lihat Richard Grathoff, Kesesuaian antara

Alfred Schutz dan Talcott Parsons:Teori Aksi Sosial (Jakarta: Kencana, 2000), hlm. 67-87.

33 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, alih bahasa

(31)

16

masyarakat itu sendiri merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.34

Menurut Parsons,35 dalam teori structural-functional ada empat fungsi

yang mutlak dibutuhkan bagi semua sistem sosial, meliputi Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency, atau yang dikenal dengan singkatan AGIL. Empat fungsi tersebut wajib dimiliki oleh semua sistem agar tetap bertahan (survive), penjelasannya sebagai berikut:

1. Adaptation/adaptasi: yaitu sistem harus mampu beradaptasi, agar menanggulangi situasi eksternal yang gawat, sistem juga harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya sebagai kebutuhan pokok. 2. Goal Attainment/pencapaian tujuan: yaitu sistem harus mampu

mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.

3. Integration/integrasi: yaitu sistem harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi (AGL).

4. Latency/laten: yaitu sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola individu dan kultural masyarakat.

Berangkat dari rumusan teori di atas, upaya penulis untuk mengkaji tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ dalam tinjauan sosiologi hukum Islam, maka penulis menggunakan teori perubahan sosial Sudirman Tebba. Teori ini berasumsi bahwa tujuan dibuatnya hukum adalah untuk menciptakan

34 Richard Grathoff, Kesesuaian antara Alfred Schutz dan Talcott Parsons, hlm. 67.

35 Talcott Parsons, "The Present Status of "Structural-Functional" Theory in Sociology,"

dalam Lewis A. Koser Dkk., (ed.), In Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action

(32)

17

ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Oleh karena itu, jika suatu masyarakat telah memiliki norma hukum kebiasaan yang dapat mewujudkan ketertiban dan keadilan sosial, maka hukum kebiasaan tersebut dikukuhkan keberlakuannya oleh hukum Islam. Namun sebaliknya, jika hukum kebiasaan di suatu masyarakat tidak dapat mewujudkan ketertiban dan keadilan sosial, maka hukum itulah yang direvisi ketentuan dan keberlakuannya oleh hukum Islam.36

Diskursus lain pengkajian Sosiologi Hukum Islam, M. Atho’ sebagaimana dikutip oleh M. Rasyid menyebutkan bahwa setidaknya ada lima tema yang dapat diangkat dalam penelitian sosiologi hukum Islam. Pertama, pengaruh hukum Islam terhadap masyarakat dan perubahan masyarakat. Kedua, pengaruh perubahan dan perkembangan masyarakat terhadap pemikiran hukum Islam. Ketiga, tingkat pengamalan hukum agama masyarakat. Keempat, pola interaksi masyarakat di seputar hukum Islam. Kelima, gerakan atau organisasi yang mendukung atau yang kurang mendukung hukum Islam.37

Teori structural-functional dalam penelitian ini, akan mendeskripsikan tentang fungsi tradisi kawi’ pura sebagai solusi atas perkawinan wanita hamil di luar nikah bagi masyarakat Bugis, yang tentunya bertujuan menciptakan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur. Selanjutnya untuk menggali data lebih dalam mengenai tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’, maka penulis menggunakan empat fungsi mutlak dari teori structural-functional Parsons. Pertama, Adaptation, sebagai pisau analisis untuk mengemukakan wanita hamil di luar nikah sebagai suatu kasus penting dan

36 Sudirman Tebba, Sosiologi Hukum Islam, hlm. 4-5.

37 M. Rasyid Ridla, “Sosiologi Hukum Islam: Analisis terhadap Pemikiran M. Atho’

(33)

18

bersentuhan langsung dengan prinsip siri’, yang merupakan sebuah kebutuhan untuk segera dicarikan solusi. Kedua, Goal attainment, poin ini mendeskripsikan tentang definisi kejadian dan tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan tradisi kawi’ pura sebagai solusi atas perkawinan wanita hamil di luar nikah. Ketiga, Integration, yaitu sistem yang menjelaskan mengenai keteraturan dan prosesi tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’. Keempat, Latency, menguraikan tentang bagaimana masyarakat Bugis memelihara siri’ dan hubungannya dengan tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’.

Berkaitan dengan hal di atas, maka untuk menjelaskan tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’, penulis menganalisis pola interaksi dan perubahan masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur terhadap keberlakuan hukum perkawinan Islam. Analisis tersebut berdasar pada pendapat tokoh agama, ijtihad ulama fikih, maupun perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini juga menjelaskan tanggapan masyarakat Bugis mengenai tradisi kawi’ pura dan hubungannya dengan perkembangan hukum perkawinan Islam.

F. Metode Penelitian

Adapun metode yang akan digunakan dalam meneliti perkawinan wanita hamil di luar nikah (studi kasus kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis) adalah sebagai berikut:

(34)

19

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang akan digunakan dalam menulis tesis ini adalah penelitian lapangan,38 yaitu melihat kejadian maupun praktik perkawinan

wanita hamil di luar nikah, dengan studi kasus tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

2. Sifat Penelitian

Penelitian tesis ini bersifat deskriptif-kualitatif, yaitu menguraikan data-data yang diperoleh dari berbagai sumber data,39 kemudian dianalisis

untuk memperoleh kesimpulan tentang perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam tinjauan sosiologi hukum Islam, dengan studi kasus tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

3. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang akan digunakan adalah pendekatan sosiologi hukum Islam.40 Pendekatan ini memfokuskan penelitian pada gejala sosial

budaya masyarakat dan tinjauan hukum Islam mengenai perkawinan wanita hamil di luar nikah, dengan studi kasus tradisi kawi’ pura sebagai

38 Penelitian lapangan mendeskripsikan situasi yang ditemui dalam kehidupan

sehari-hari dan pelestarian alami kebiasaan masyarakat. Meskipun dalam penelitian lapangan mungkin atau tidak tahu bahwa mereka sedang dipelajari. Lihat Hassan A. Aziz, “Comparison Between Field Research and Controlled Laboratory Research,” Arch Clin Biomed Res Journal, Vol. 1:2 (April 2017), hlm. 102.

39 Vickie A. Lambert and Clinton E. Lambert, “Qualitative Descritipve Research: An

Acceptable Design,” Pacific Rim International Journal of Nursing Research, Vol. 16:4 (December 2012), hlm. 255.

(35)

20

perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur.

4. Sumber Data

Sumber data penelitian ini ada dua, yaitu: sumber data primer dan sumber data sekunder.41 Sumber data primer pada penelitian ini adalah

tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta para pelaku kawi’ pura di Kabupaten Kolaka Timur. Sementara sumber data sekunder penelitian ini adalah buku-buku tentang budaya Bugis, sosial, dan hukum Islam (fikih) yang berhubungan dengan penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah observasi dan wawancara.42 Metode observasi dilakukan dengan cara mengamati,

mencatat, dan mendengar kebiasaan masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur dalam menangani kasus wanita hamil di luar nikah dan tidak ada pihak laki-laki yang mau bertanggung atas kehamilan tersebut, sehingga mengakibatkan terjadinya perkawinan passampo siri’ (penutup aib).

Metode wawancara dilakukan dengan mewawancarai tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta para pelaku kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ di Kabupaten Kolaka Timur. Secara umum,

41 Data primer adalah data dari seumber utama, sementara data sekunder adalah data

penunjang penelitian yang dikumpulkan, seperti data yang disebarluaskan dalam bentuk jurnal. Lihat Olivier Mesly, Creating Models in Psychological Research, (Etats-Unis: Springers Press, 2015), hlm. 4.

42 Lynda M. Baker, “Observation: A Complex Research Method,” Library Trend Journal,

(36)

21

wawancara yang akan dilangsungkan terfokus pada dua hal yaitu, faktor penyebab terjadinya tradisi kawi’ pura dan tinjauan sosiologi hukum Islam mengenai tradisi perkawinan tersebut. Namun, frekuensi wawancara yang dilakukan tergantung pada kebutuhan penelitian. Jika data sudah jenuh, maka jumlah sesi wawancara dapat dihentikan. Saunders menjelaskan bahwa kejenuhan data berarti data baru yang didapatkan cenderung menjadi redundan dari data yang sudah dikumpulkan.43

6. Analisis Data

Analisis data merupakan proses penyusunan data dari hasil observasi dan wawancara dengan cara mengorganisasikan data yang perlu dimuat dalam penelitian, yang selanjutnya menjadi dasar pembuatan kesimpulan untuk memudahkan pemahaman.44 Berdasarkan hal tersebut,

analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis-kualitatif (qualitative-analyze), sebagaimana yang diungkapkan Hubberman dan Miles dalam kutipan Sugiyono bahwa langkah-langkah penyusunan data analisis-kualitatif ada tiga yaitu; reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.45 Berikut pengintegrasian langkah-langkah tersebut

dengan penelitian yang dilakukan.

43 Benjamin Saunders, et al., “Saturation in Qualitative Research: Exploring its

Conceptualization and Operationalization,” Quality and Quantity Journal, Vol. 52:4 (July 2018), hlm. 1896.

44 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaf-Kualitatif dan Research & Development

(Bandung: Alfabeta Press, 2007), hlm. 333-334.

(37)

22

a. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses penyederhanaan dan pemfokusan data penelitian lapangan.46 Berdasarkan hal tersebut, peneliti

menyederhanakan dan memfokuskan penelitian pada alasan dan penyebab dijadikannya tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ serta tinjauan sosiologi hukum Islam mengenai tradisi perkawinan tersebut.

b. Penyajian data

Peyajian data merupakan pengorganisasian informasi yang didapatkan untuk mendukung data penelitian di lapangan.47 Oleh sebab itu, penulis

menyajikan data-data mengenai prosesi dan tujuan tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ dalam perspektif masyarakat Bugis c. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan proses analisis reduksi dan penyajian data untuk menemukan kesimpulan dalam penelitian dengan tetap mengacu pada rumusan masalah.48 Berangkat dari hal tersebut, maka

penulis di sini menyimpulkan tentang alasan dan penyebab dijadikannya kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ dan tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi perkawinan tersebut bagi masyarakat Bugis.

46 Ibid., hlm. 205.

47 Ibid.

(38)

23

G. Sistematika Pembahasan

Penelitian tesis ini terdiri dari lima bab. Sebagai gambaran umum kepada pembaca, bab pertama akan membicarakan hal menarik dan masalah yang ditemukan di Kabupaten Kolaka Timur mengenai tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’. Pada bab ini juga, penulis merumuskan pertanyaan serta tujuan dan kegunaan penelitian, kajian relevan dan teori yang digunakan dalam penelitian, terakhir metode penelitian dan sistematika pembahasan penelitian tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’.

Bab kedua akan mendeskripsikan definisi dan status hukum mengawini dan mengawinkan wanita hamil di luar nikah dalam tinjauan ulama Fuqaha dan undang-undang Indonesia, serta tinjauan sosiologi hukum Islam mengenai perkawinan wanita hamil di luar nikah. Tujuan pendeskripsian bab ini adalah untuk menemukan relasi pandangan ulama fuqaha dengan materi perumusan aturan perkawinan wanita hamil luar nikah dalam Undang-undang Indonesia.

Bab ketiga akan dikhususkan pada konsepsi siri’ dan sistem perkawinan masyarakat Bugis. Tujuan pengkhususan bab ini untuk mengetahui kondisi ketaatan beragama (spritual), mengetahui kesakralan prinsip siri’ dan hubungannya dengan kasus wanita hamil di luar nikah, serta pengamatan mengenai penerapan hukum Islam dalam berbagai prosesi perkawinan masyarakat Bugis.

Bab keempat akan memfokuskan penganalisaan pada tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ dalam tinjauan sosiologi hukum Islam. Sebagai sub bahasan inti dari penelitian tesis ini, maka tujuan penguraiannya

(39)

24

adalah memaparkan hasil penelitian tentang alasan dan penyebab dijadikannya kawi’ pura sebagai solusi atas perkawinan wanita hamil di luar nikah dengan tujuan menutupi malu (passampo siri’) bagi masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur dan mengetahui tinjauan sosiologi hukum Islam mengenai tradisi perkawinan tersebut.

Bab kelima, sebagai bab terakhir dalam penulisan tesis ini, maka penulis akan menguraikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan yaitu jawaban dari permasalahan yang diajukan pada penelitian tesis tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ di Kabupaten Kolaka Timur. Sementara saran yaitu, masukan yang dibuat oleh penulis yang berdasarkan hasil penelitian, baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis.

(40)

101

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penulis di lapangan dan studi atas literatur-literatur yang berhubungan dengan tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur, maka penulis dapat merumuskan dua kesimpulan.

Pertama, faktor dan penyebab dijadikannya tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’. Faktor pendorong masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur menjadikan tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ ada empat. Pertama, adanya tekanan untuk menutupi aib. Kedua, mengikuti tradisi nenek moyang. Keitga, kurangnya kesadaran masyarakat Bugis mengenai aturan hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia. Keempat, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

Sementara penyebab dijadikannya tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’ ada empat. Pertama, pihak laki-laki tidak mau bertanggung jawab atas wanita yang dihamilinya. Kedua, tidak diketahuinya laki-laki yang menyebabkan kehamilan wanita. Ketiga, orang tua tidak merestui jika anaknya dikawinkan dengan laki-laki yang menghamili anaknya. Keempat, pasangan yang berzina menyembunyikan kehamilan wanita.

Kedua, tinjauan sosiologi hukum Islam terhadap tradisi kawi’ pura sebagai perkawinan passampo siri’. Masyarakat Bugis memadukan hukum adat dengan hukum perkawinan Islam dalam melangsungkan perkawinan. Namun, penerapan

(41)

102

hukum berbeda ditampilkan, jika mereka dihadapkan pristiwa yang memalukan, seperti perkawinan wanita hamil di luar nikah, maka mereka cenderung menggunakan tradisi kawi’ pura dalam menyelesaikan kasus yang memalukan tersebut. Oleh karena itu, menurut tinjauan hukum Islam, praktik tradisi kawi’ pura tidak dapat dikukuhkan keberlakuannya oleh hukum Islam, sebab tradisi tersebut bertentangan dengan hukum perkawian Islam, baik hukum perkawinan Islam dalam wujud Undang-undang maupun ijtihad ulama fikih, sebab praktik perkawinan tersebut, wanita yang hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan laki-laki lain atau bukan laki-laki yang menghamilinya. Selain itu, mahar dalam tradisi perkawinan tersebut bersumber dari pihak wanita.

Dalam pengkajian sosiologisnya, tradisi kawi’ pura masih dipertahankan masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur, sebab belum terdapat aturan yang secara tegas mengenai solusi atas perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam perundang-undangan di Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat Bugis memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan kasus yang memalukan (wanita hamil di luar nikah) yaitu melalui tradisi kawi’ pura, sebagai sarana yang dianggap mampu menghilangkan aib saat ini.

B. Saran

Berangkat dari kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan sebagai berikut:

1. Praktik tradisi kawi’ bagi masyarakat Bugis di Kabupaten Kolaka Timur membutuhkan bimbingan serius dari tokoh agama dan pihak pemerintah. Bimbingan tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada

(42)

103

masyarakat mengenai ketetapan hukum perkawinan Islam dalam Undang-undang dam ijtihad para ulama fikih. Pemberian pemahaman tersebut dapat berupa kegiatan ceramah dan sosialisasi di tengah-tengah masyarakat Bugis Kabupaten Kolaka Timur.

2. Dalam rangka evaluasi dan peningkatan pengkajian mengenai perkawinan wanita hamil di luar nikah, perlu kiranya dilakukan riset lanjutan mengenai solusi perkawinan wanita hamil di luar nikah. Riset tersebut dapat berupa pengkajian ulang terhadap ketentuan perkawinan wanita hamil di luar nikah dalam aturan perundang-undangan maupun pengkajian wanita hamil di luar nikah dalam pergumulan hukum adat di Indonesia.

(43)

104

DAFTAR PUSTAKA 1. Al-Qur’an/Ilmu al-Qur’an/Tafsir al-Qur’an

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Asbabun Nuzul, Jakarta: PT. Riels Grafika, 2009.

Ish{aq, Abdullah bin Muh{ammad bin Abdurrah{man bin, Tafsir Ibnu Katsir, alih bahasa M. Abdul Ghoffar dan Abu Ih{san al-As|ari, cet. ke-1, Jilid 6, Tabalong: Pustaka Imam Syafi’i, 2004.

Qurt{ubi, Ah{mad al-Ans{ari, al-Jami’ li Ah{kam al-Qur’an, Jilid 6, Juz 12, Beirut: Dar al-Fikr, 1995.

S>{abuni, Muhammad Ali, Rawa>i’ul Baya>n: Tafsi>rul Aya>ti al-Ah}ka>m min Qur’a>n, Juz 2 (Beirut: Maktabah al-Gaz|ali, 1981), hlm. 50.

______, M. Ali, Tafsir Ayat-ayat Hukum dalam Alquran, alih bahasa Saleh Mahfud, Jilid 2, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1997.

Wadi’i, Syaikh al-Muhaddis{ Muqbil bin H{adi, Shahih Asbabun Nuzul, alih bahasa Agung Wahyu, Depok: Meccah, 2006.

2. Hadis/Syarah Hadis/Ulum al-Hadis

Bukhari, Abi ‘Abdillah Muh{ammad Ibn Isma’il, S{ah}ih Bukhari, Juz V, Beirut: Da>r al-Fikr, 2000.

Quz|waini>, Abu> ‘Abdillah Muh{ammad Ibn Yaz|id, Sunan Ibn Majah, Beirut: Da>r al-Fikr, 2004.

3. Fiqh/Usul Fiqh/Hukum

Abu> ‘Abdillah, Muh}ammad bin Abi> Bakar Ayyu>b az-Zar’i>, Za>da al-Ma’ad fi> Hadyi Khair al-‘Iba>d, Juz V (Beirut: Maktabah al-Mana>r, 1986), hlm. 631.

Asnawi, Muhammad, Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan, Yogyakarta: Darussalam, 2004.

Bisri, Hasan, Pilar-pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004.

Duraisy, Yusuf, Nikah Sirih, Mut’ah dan Kontrak, Jakarta: Darul Haq, 2010. Ghazali, Abd. Rahman, Fikih Munakahat, Bogor: Kencana, 2003.

(44)

105

Hasan, Muh. Ali, Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1997.

Humaidillah, Memed, Akad Nikah Wanita Hamil dan Anaknya, Jakarta: Gema Insani Press, 2002.

Khalla>f, Abdul Wahha>b, ‘Ilm al-Us{u>l al-Fiqh, Kairo, Maktabah al-Da’wah al-Islamiyah, 1942.

Khatib, Yahya Abdurrahman, Fikih Wanita Hamil, Jakarta: Qitsi Press, 2005. Maula, Bani Syarif, Sosiologi Hukum Islam di Indonesia: Studi Realita Hukum

Islam dalam Konfigurasi Sosial-Politik, Malang: Aditya Media, 2010. Mudzhar, M. Atho, Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi,

Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998.

Muttaqin., Dkk, Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam, Yogyakarta: UII Press, 1999.

Nasution, Khoiruddin, Pengantar dan Pemikiran: Hukum Keluarga (Perdata) Islam Indonesia, Yogyakarta: ACAdeMIA & TAZZAFA, 2010.

Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Semarang: Citra Aditya Bakti, 2006.

Rasdiana, “Mahar Simbolik dalam Perkawinan Masyarakat Bugis di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan,” Tesis Magister Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, (2017).

Rasyid, Muh. Hamdan, Fikih Indonesia: Himpunan Fatwa-fatwa Aktual, Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003.

Rofiq, Ahmad, Pembaruan Hukum Islam Indonesia, Yogyakarta: Gema Media, 2001.

Rusyd, Ibnu, Bidayah al-Mujtah{i>d wa Nih}a>yah al-Muqtas{id, alih bahasa Mad Ali, Jilid 2, Bandung: Trigenda Karya, 1996.

Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah, alih bahasa Mohmmad Thalib, Jilid 6, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2000.

Sarong, Hamid, Hukum perkawinan Islam di Indonesia, Banda Aceh: Pena, 2010. Shihab, M. Quraish, Perempuan, Jakarta: Lentera Hati, 2005.

(45)

106

Subandi, Bambang., Dkk, Studi Hukum Islam, Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2012.

Subki, Ali Yusuf, Fikih Keluarga, Jakarta: Amzah, 2010.

Syafi’i, Abi Abdullah Muhammad Idris, Al-Umm (Kitab Induk), alih bahasa Ismail Yakub, Jilid 7, Kuala Lumpur, Victory Agencie, 2006.

Syarifuddin, Amir, Pembaruan Pemikiran Hukum Islam, Padang: Angkas Raya, 1993.

Syaukani>, Muh}ammad ‘Ali>, Irsya>dul Fuh{u>l, Beirut: Da>r Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994.

Zuhaili, Wahbah, Fikih Imam Syafi’i 2, alih bahasa Muhammad Afifi dan Abdul Azis, cet. ke-1, Jilid 2, Jakarta: Almahira, 2010.

4. Peraturan Perundang-Undangan

Tim Penyusun Citra Umbara, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, Bandung: Citra Umbara, 2017.

5. Jurnal

Aziz, Hassan, “Comparison Between Field Research and Controlled Laboratory Research,” Arch Clin Biomed Res Journal, Vol. 1, Issue 2, April 2017, pp. 101-104.

Baker, Lynda M., “Observation: A Complex Research Method,” Library Trend Journal, Vol. 55, Isuue 1, Febuary 2006, pp. 171-189.

Evelyn, Michelle, et.al., “Perancangan Visual Novel La Galigo dari Kebudayaan Bugis,” Jurnal DKV Adiwarna, Vol. 1, Issue 2, Juli 2013, pp. 29-39. Hamid, Abdul, dan Akbal, Muhammad, “Kahi’ Pura sebagai Perkawinan

Passampo Siri’ di Desa Biji Nangka Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai,” Jurnal Tomalebbi, Vol. 4, Nomor 1, Januari 2017, pp. 11-28.

Hamjah, Salasiah Hanin and Akhir, Noor, “Islamic Approachin in Counseling,” Journal of Religion and Healt, Vol. 53, Issue 1, January 2014, pp. 279-289.

(46)

107

Hamjah, Salasiah Hanin and Kusrin, Zuliza Mohd, “Methods of Overcoming the Problem of Pregnancy among Unmarriage,” Journal Asian Social Sciences, Vol. 11, Issue 23, April 2015, pp. 107-113.

Hanum, Farida, “Status Anak yang Dilahirkan dari Perkawinan Wanita Hamil karena Zina menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,” Premise Law Jurnal, Vol. 8, Nomor 3, Juli 2015, pp. 1-15.

Hasse J., “Konformitas Islam dan Adat: Potret Fanatisme Keagamaan di Kalangan Muslim Bugis,” Jurnal Jabal Hikmah, Vol. 3, Issue 2, Juli 2014, pp. 198-208.

Idrus, Nurul Ilmi, “Behind the Notion of Siala: Marriage, Culture, and Islam among the Bugis in South Sulawesi,” Jurnal Intersection Gender, History and Culture in the Asian Context, Vol. 1, Nomor 10, August 2004, pp. 1-15.

Koolhof, Sirtjo, “The La Galigo: A Bugis Encyclopedia and its Growth,” Jurnal Encompassing Knowledge, Vol. 155, Issue 3, Juli 1999, pp. 362-387. Kozhimannil, Katy B., et. al, “Behavioral and Community Correlates of

Adolescent Pregnancy and Chlamydia Rates in Rural Counties in Minnesota,” Journal of Community Health, Vol. 40, Issue 3, December 2015, pp. 493-500.

Lambert, Vickie A., and E. Lambert, Clinton, “Qualitative Descriptive Research: An Acceptable Design,” Pacific Rim International Journal of Nursing Research, Vol. 16, Issue 4, December 2012, pp. 255-256.

Layden, John, “On the Languages and Literature of the Indo-Chinesse Nations,” Asiatic Research, Vol. 10, 1811, pp. 158-289.

Millar, Susan Bolyard, “On Interpreting Gender in Bugis Society,” Journal American Ethnologist, Vol. 10, Issue 3, August 1983, pp. 477-493. Quzwini, H.M, “Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah dan Status Anak,”

Jurnal Darussalam, Vol. 9, Nomor 2, Desember 2009, pp. 1-14.

Rahmwati, Dewi., Dkk, “Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seks Pranikah Mahasiswa Kos-kosan di Kelurahan Lalolara Tahun 2016,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo Kendari, Vol. 2, Issue 5, Januari 2017, pp. 1-12.

Referensi

Dokumen terkait

Fenomena semacam ini terjadi di Desa Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal, dengan adanya pasangan yang melakukan perkawinan wanita hamil luar nikah, terutama

Pemberian Sanksi Bagi Wanita Hamil di Luar Nikah Menurut Adat di Desa Menanti Kecamatan Ke;ekar Kabupaten Muara Enim Adapun sanksi yang diberikan masyarakat Desa Menanti hanya

Pada kawin hamil, aturan yang ada dalam KHI yang disebutkan dalam pasal 53 KHI adalah membolehkan wanita yang hamil di luar nikah akibat zina, untuk tetap bisa

UNFPA Resource Kit: World Population Day 2008 mendapati bahawa punca hamil luar nikah dalam kalangan remaja di negara membangun antaranya adalah kurang pendidikan seks,

1.1.2 Faktor-faktor yang penyebab dari terjadinya perkawinan hamil di luar nikah ialah,1 tidak mendapatkan restu orang tua, 2 pergaulan yang tidak dibatasi akan berakibat pergaulan

Analisis Sosiologi Terhadap Dampak Perkawinan Akibat Dispensasi Kawin Karena Hamil Di Luar Nikah, Skripsi Sarjana; Jurusan Ahwal Syakhsyiyah Fakultas Syariah: Ponorogo.. Undang-Undang

Hamil dalam istilah yaitu keadaan seseorang wanita yang mengandung anak atau janin di dalam rahimnya setelah terjadi pembuahan dalam rahim akibat hubungan seksual wati.29 Nikah hamil

bahwa “ perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga rumah tangga yang bahagia dan kekal