4. 1. Sejarah Tahura Djuanda
Tahura Djuanda awalnya berstatus sebagai hutan lindung (Komplek Hutan Gunung Pulosari) yang batas-batasnya ditentukan pada tahun 1922. Pada tahun 1963 sebagian kawasan hutan lindung tersebut mulai dipersiapkan sebagai Hutan Wisata dan Kebun Raya serta ditanami dengan tanaman koleksi pohon-pohonan yang berasal dari berbagai daerah. Pada tanggal 23 Agustus 1965 atas gagasan Gubernur Provinsi Jawa Barat, hutan tersebut ditetapkan sebagai Kebun Raya/Hutan Wisata Djuanda. Selanjutnya tahun 1980 Kebun Raya/Hutan Wisata yang merupakan bagian dari komplek Hutan Gunung Pulosari ini ditetapkan sebagai taman wisata, yaitu Taman Wisata Curug Dago seluas 590 ha yang ditetapkan oleh Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 575/Kpts/Um/8/1980 tanggal 6 Agustus 1980. Pada tahun 1985, status Taman Wisata Curug Dago berubah menjadi Taman Hutan Raya yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1995 tertanggal 12 Januari 1985. Peresmian Tahura Djuanda dilakukan pada tanggal 14 Januari 1985 yang bertepatan dengan hari kelahiran Bapak Djuanda. Lahirlah Tahura Djuanda sebagai Tahura pertama di Indonesia.
Tahura Djuanda merupakan salah satu objek wisata alam yang memiliki potensi wisata yang cukup tinggi dan memiliki sejumlah daya tarik wisata seperti goa peninggalan Belanda dan Jepang, sejumlah koleksi vegetasi langka yang sulit ditemui di tempat lain serta atmosfir dan suasana alamiah, yang tidak mungkin ditemui di kota besar, yaitu suasana hutan dengan suhu dan kelembaban udara serta suara satwa yang khas. Kondisi ini merupakan kekayaan alam yang tidak ternilai harganya, di tengah kehidupan kota yang riuh rendah dengan berbagai masalah ekologis seperti polusi udara dan bunyi, temperatur udara dan kelembaban rendah hingga masalah kepadatan bangunan yang menyesakkan.
Dari gambaran di atas tidak mengherankan jika akhir-akhir ini Tahura Djuanda menjadi salah satu primadona rekreasi alam di Kota Bandung. Hal ini terlihat dari kecenderungan peningkatan kunjungan wisatawan untuk berekreasi, baik pasif maupun aktif di Tahura Djuanda.
4.2 Kondisi Biogeofisik 1. Geografis
Secara geografis Tahura Djuanda berada 107° 30’ BT dan 6° 52’ LS, terletak di sebelah Utara kota Bandung berjarak ± 7 km dari pusat kota dengan luas 526,98 ha. Bentuk Kawasan Tahura Djuanda memanjang di sebelah kiri dan kanan Sungai Cikapundung. Tahura Djuanda memiliki tingkat aksesibilitas tinggi yang dapat dicapai dari Barat Daya/Selatan melalui Pakar-Dago dan dari Timur Laut/Utara melalui Maribaya/Lembang.
Secara administratif, sebagian besar Kawasan Tahura Djuanda (Kawasan Pakar – Maribaya) masuk dalam wilayah Kabupaten Bandung yaitu Desa Ciburial dan Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan dan sebagian lagi termasuk wilayah Desa Mekarwangi, Desa Langensari, Desa Wangunharja dan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang sedangkan sebagian kecil (Curug Dago) masuk dalam wilayah Kelurahan Dago Kecamatan Coblong dan Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap Kota Bandung. Batas kawasan Tahura Djuanda dengan daerah sekitarnya adalah:
(1) Sebelah Barat: Berbatasan dengan tanah milik (pertanian dan pemukiman) Desa Mekarwangi.
(2) Sebelah Timur: Berbatasan dengan Hutan Lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten (KPH Bandung Utara) dan tanah milik (pertanian dan pemukiman) Desa Ciburial.
(3) Sebelah Utara: Berbatasan dengan tanah milik penduduk berupa lahan pertanian desa Cibodas, Desa Wangunharja Kecamatan Lembang dan Hutan Lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten (KPH Bandung Utara).
(4) Sebelah Selatan: Berbatasan dengan tanah penduduk berupa lahan pertanian dan pemukiman Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung dan Kelurahan Dago Kecamatan Coblong, Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap Kota Bandung.
2 . Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson lokasi ini beriklim B (9 bulan merupakan Bulan Basah dan 3 bulan merupakan Bulan Kering) dan C (8 bulan merupakan Bulan Basah dan 4 bulan merupakan bulan kering). Bulan basah
menurut definisi dari Schmidt and Ferguson adalah bulan dengan curah hujan bulanan > 100 mm, sedangkan Bulan Kering adalah bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 50 mm.
Wilayah ini memiliki curah hujan yang semakin tinggi dengan semakin naiknya ketinggian dari permukaan laut (fenomena hujan Tipe Orografis), dari Pakar menuju Maribaya, curah hujan cenderung meningkat secara nyata. Sehingga sekitar separuh dari kawasan Tahura Djuanda, yaitu wilayah di bagian utara bertipe iklim B dan wilayah di bagian selatan memiliki tipe iklim C. Curah hujan tahunan di wilayah Tahura Djuanda bagian selatan berkisar dari 2.500 – 3.000 mm, sedangkan di bagian utara berkisar dari 3000 - 4.500 mm.
Kelembaban nisbi udara di dalam Kawasan Tahura Djuanda dan sekitarnya selalu tinggi, kelembaban mutlak memperlihatkan kisaran yang cukup rendah yaitu berkisar antara 70 % (siang hari) – 95 % (malam dan pagi hari). Suhu di bagian lembah berkisar antara 22 – 24 ºC dan di bagian puncak antara 18 – 24 ºC.
3. Sumber Air
Sumber air yang ada di dalam Kawasan Tahura Djuanda adalah Sungai Cikapundung yang membentang sepanjang 15 km dan lebar rata-rata 8 meter dengan debit air sekitar 3.000 m3/detik. Sungai Cikapundung merupakan anak Sungai Citarum yang berhulu di Gunung Bukit Tunggul. Selain itu terdapat juga beberapa mata air yang bersumber dari kelompok Hutan Gunung Pulosari. Sebagian dari aliran sungai Cikapundung di dalam kawasan Tahura Djuanda ditampung pada dua kolam penampungan yang berjarak 2,5 km. Kolam pertama terletak di blok Bantar Awi, seluas ± 200 m2 dengan kedalaman 3,3 m, kolam kedua berada di Pakar dengan luas ± 8.935 m2 dan kedalaman 3,5 m (stilling pond, kolam pengendap sedimen) yang mempunyai kapasitas tampung 31.272 m3. Kedua kolam tersebut diperuntukkan untuk memutar turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dibangun pada tahun 1923 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang dikenal dengan nama PLTA Bengkok, yang merupakan PLTA tertua di Bandung. Selain untuk keperluan PLTA Bengkok, aliran Sungai Cikapundung juga digunakan sebagai sumber air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung.
4 . Topografi
Sebagian besar kawasan Tahura Ir. Djuanda merupakan ekosistem pinggir sungai (riparian ecosystem ) yang berlereng terjal dengan tonjolan-tonjolan batu cadas, yang mempunyai ketinggian antara 770 sampai 1.330 mdpl. Bentang lahannya berbentuk cekungan (basin), pada dasar cekungan mengalir Sungai Cikapundung yang diapit oleh lereng terjal. Lereng Timur dan Barat ditumbuhi oleh hutan Pinus (Pinus merkusii), pada lereng yang terjal, berbatu dan berjeluk tanah tipis kehijauan bentang lahan tetap dipertahankan oleh tanaman jenis Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Kedua lereng terjal setinggi 100 – 150 m dari permukaan Sungai Cikapundung ini telah menciptakan bentang lahan khusus berupa lembah yang sangat indah.
Seluruh Kawasan Tahura Djuanda hanya memiliki satu jenis batuan, yaitu batuan vulkanik yang berkembang dari jaman kwarter tua. Salah satu fenomena geomorphologi yang paling khas di wilayah ini adalah adanya Patahan Lembang (Lembang fault). Letak patahan ini berada di Maribaya yang sekaligus merupakan batas bawah dari Sub DAS Cikapundung Hulu.
5. Geologi
Fenomena Patahan Lembang ini apabila diamati dari foto udara akan nampak berupa lineament, yaitu struktur geologi yang membentuk garis lurus membujur arah Barat Laut-Tenggara. Secara fisik di lapangan patahan ini berupa punggung bukit atau ngarai terjal (escarpment) yang membujur lurus, struktur geologi ini mengontrol aliran sungai, sehingga aliran sungai Sub DAS Cikapundung Hulu berbelok dan mengalir mengikuti arah patahan.
Tanah di wilayah ini berkembang dari batuan vulkanik yang berkembang dari zaman kwarter tua, jenis tanah didominasi oleh Andosol yang merupakan tanah yang sangat dominan di wilayah ini, memiliki kesuburan tinggi, walaupun di wilayah Tahura Djuanda tanah ini memiliki jeluk tanah yang tipis, karena sebagian besar wilayah lahannya (terrain-nya) berbatu. Di wilayah yang agak landai pada lereng bawah (Selatan), tanah didominasi oleh jenis Grumusol.
6. Flora dan Fauna
Tanaman pokok yang berada di Tahura Djuanda merupakan hasil reboisasi yang telah berumur 17 – 40 tahun tanpa dilakukan pemeliharaan, kecuali yang berada di areal pengelola dan kawasan rekreasi Maribaya. Tahura
Djuanda merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman, didominasi oleh jenis Pinus (Pinus Merkusii), Kaliandra (Calliandra callothyrsus), Mahoni (Swietenia sp.) dan Bambu (Bambussa sp.). Tumbuhan bawahnya didominasi jenis Kirinyuh (Euphatorium sp).
Hutan tanaman mulai dikembangkan pada tahun 1950-an, walaupun tegakan Hutan tanaman pinus sudah cukup tua, namun karena tumbuh pada lahan berbatu, diameternya relatif kecil dibandingkan pinus yang tumbuh pada tanah berjeluk dalam. Pada tahun 1963 dimasukkan berbagai jenis tanaman kayu asing yang berasal dari luar daerah dan luar negeri, ditanam pada wilayah seluas ± 30 ha di sekitar plaza dan Gua Jepang. Hutan tanaman ini terdiri dari 40 famili, 112 spesies dengan jumlah diperkirakan 2.500 pohon.
Fauna yang dapat dilihat dan dinikmati di dalam kawasan Tahura Djuanda ini adalah suara beberapa jenis burung seperti kacamata, kutilang (Pycnonotus caferaurigaster), ayam hutan (Galus-galus banriva) dan jenis burung lainnya. Sementara itu musang (Paradoxurus hermaproditus), tupai (Callosciurus notatus) dan kera (Macaca fascularis) sering juga ditemukan.
4.3 Kondisi Sosial Ekonomi Di Sekitar Kawasan Tahura Djuanda
Secara visual penggunaan lahan di sekitar Kawasan Tahura Djuanda sebagian besar saat ini masih merupakan lahan pertanian (48%), selebihnya terdiri dari perkampungan (40%), hutan (2%) dan penggunaan lainnya (2%). Sekitar 48% dari wilayah perkampungan yang ada kini didominasi oleh villa dan rumah-rumah mewah yang sebagian besar lahan yang saat ini digunakan untuk kegiatan pertanian, sebagian besar telah dimiliki oleh orang luar, lahan-lahan tersebut direncanakan untuk pembangunan villa, namun untuk sementara sebelum villa tersebut dibangun, masyarakat setempat masih diperkenankan untuk menggarap.
Kegiatan pertanian yang berkembang di wilayah ini merupakan pertanian intensif berbiaya tinggi, seperti kentang, bawang merah, kembang kol, kubis dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan modal, sebagian besar petani melakukan bagi hasil dengan pemilik lahan maupun pemasok modal dari luar.
Berdasarkan data statistik tahun 2006, jumlah penduduk yang ada di sekitar Tahura Djuanda tercatat sejumlah 21.023 jiwa, terdiri dari 10.597 jiwa (50,41%) laki-laki dan 10.426 jiwa (49,59%) perempuan. Ditinjau dari kelompok
umurnya, sebagian besar merupakan kelompok usia produktif (52,21%), kelompok usia anak-anak (39,21%) dan kelompok usia tua (8,58%). Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Sebaran Jumlah Penduduk di sekitar Tahura Djuanda
Kecamatan/Desa Kelompok Umur Jumlah
jiwa Jumlah Kk % 0-14 15-55 55 Kecamatan Cimenyan Desa : Ciburial 2.606 3.191 408 6.205 1.321 4,4 Kecamatan Lembang Desa : 1. Cibodas 2.245 2.958 621 5.824 1.345 1.5 2. Mekarwangi 2.363 3.151 525 6.039 635 3.8 3. Langensari 1.030 1.676 249 2.955 1.3 4.9 TOTAL 8.244 10.976 1.803 21.023 (39,21%) (52,21%) (8,59%)
Sumber : Kabupaten Bandung dalam Angka, 2006
Tingginya usia produktif dapat dilihat sebagai suatu potensi yang menguntungkan bagi pengembangan Tahura Djuanda, yaitu apabila sumber daya tersebut dapat ditampung dalam sektor informal yang berkaitan dengan kegiatan wisata, misalnya sebagai pedagang, pembuat dan penjaja cindera mata, pemandu wisata, penyewaan kuda, tukang ojek dan sebagainya. Namun apabila tidak terakomodasi dengan baik pada kegiatan Tahura Djuanda, maupun sektor lain di luar Tahura Djuanda, kondisi sebaliknya dapat terjadi, yaitu merupakan ancaman bagi keberadaan Tahura Djuanda.
Gambar 9 menunjukkan bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah bertani (49%) yang memerlukan ketersedian lahan dalam jumlah yang memadai. Berbagai wawancara yang dilakukan dengan petani setempat, mereka mengatakan bahwa lahan yang mereka miliki kini sebagian besar hanya sebatas rumah yang didiami dan pekarangan di sekitarnya. Hampir seluruh lahan pertanian yang ada telah dimiliki oleh orang luar.
Tabel 3. Tata Guna Lahan di Sekitar Tahura Djuanda Jenis Penggunaan Lahan Desa Jumlah (ha) % Ciburial (ha) Cibodas (ha) Mekarwangi (ha) Langensari (ha) 1. Pemukiman 56 63 9,5 60 188,5 0,10 2. Pertanian 3. Sawah 21 43 22 58,6 144.6 0,13 4.Tegalan 114.708 - - 183,5 298,208 84,87 5. Perkebunan - - 190 - 190 0,14 6. Kebun Campuran 19.498 878 - - 897.4982 14,53 7. Hutan 180 - - 0,5 180,5 0,12 8. Lain-lain 12,5 1 - 110 123.5 0,09 Jumlah 2.022.806 100
Sumber : Kabupaten Bandung dalam Angka, 2006
Kebutuhan lahan yang tak dapat terbendung nantinya terjadi pada saat hampir seluruh wilayah pertanian yang ada saat ini telah dikonversi menjadi villa dan perumahan mewah oleh orang luar. Kondisi ini akan berdampak terhadap timbulnya kegiatan perambahan lahan hutan di Kawasan Tahura Djuanda. Saat ini pun sebetulnya telah terjadi perambahan Kawasan Tahura Djuanda seluas ± 11 ha (Garsetiasih, 2001).
Penduduk asli di sekitar Tahura Djuanda adalah suku Sunda. Upacara adat pada umumnya masih dilakukan terutama pada saat pernikahan dan khitanan. Terdapat beberapa grup kesenian, seperti pencak silat, jaipongan, kecapi, suling dan calung. Pada umumnya kesenian ini hanya dipertunjukkan di desa sendiri pada saat tertentu, misalnya pernikahan dan atau perayaan hari kemerdekaan (Sukandi, 2001).
Perlu dijadikan suatu perhatian bahwa saat ini belum terdapat kelompok atau perorangan yang memproduksi kerajinan tangan khusus. Hanya ada beberapa orang yang membuat anyaman dari bambu untuk barang-barang keperluan rumah tangga.
4.4 Sarana dan Prasarana
Ketersediaan sarana dan prasarana fisik yang baik sangat penting dalam mendukung pengelolaan Tahura Djuanda. Kondisi sarana prasarana fisik pengelolaan Tahura Djuanda saat ini merupakan indikator penting dari tingkat kualitas dan intensitas pengelolaan Tahura Djuanda yang telah berjalan selama ini. Secara umum kondisi sarana prasarana yang ada kini cukup lengkap dan dalam kondisi terpelihara dengan baik. Tempat parkir yang dimiliki cukup luas dan pintu gerbang utama yang cukup baik. Antara pintu gerbang utama dengan plaza/patung terdapat jalur jalan aspal selebar 2,5 meter dan panjang 700 meter. Di dalam Kawasan Tahura Djuanda terdapat fasilitas jalan cukup lebar yang menghubungkan ke Goa Jepang dan Goa Belanda.
Kantor Balai Pengelolaan Tahura Djuanda terletak berdampingan dengan Pusat Informasi (Information Center) Tahura Djuanda yang memamerkan berbagai dokumentasi tentang Djuanda dan berbagai informasi dasar tentang Tahura Djuanda (museum). Pada kawasan koleksi tanaman juga telah dilengkapi dengan arena bermain anak. Setiap tempat konsentrasi pengunjung juga dilengkapi bangku wisata, kopel dan shelter serta toilet yang cukup bersih.
4.5. Potensi wisata kawasan Tahura Djuanda
Daya tarik obyek wisata dari Kawasan Tahura Djuanda bersifat khas dan mampu menarik wisatawan lokal maupun wisatawan dari luar Kota Bandung. Adapun obyek wisata yang tedapat di kawasan Tahura Djuanda :
1. Pemandangan Alam: Kondisi lingkungan berhutan di kiri-kanan sungai dengan ketinggian 700 –1300 mdpl yang berhawa segar dengan panorama yang indah.
2. Monumen Djuanda: Sesuai dengan salah satu tujuan dari pembangunan Taman Hutan Raya ialah untuk menghormati perjuangan Djuanda, maka di Tahura Djuanda ini dibangun monumen Djuanda yang berupa patung yang terletak pada suatu pelataran/plaza yang relatif lebih tinggi dari tempat di sekitarnya.
3. Keragaman Flora : Hutan di kawasan ini merupakan vegetasi campuran yang terdiri dari 2.500 pohon termasuk pada 40 famili dari 112 spesies. Pada areal 30 ha ditanami dengan pohon-pohon berasal dari luar negeri seperti sosis (Kegelia aethiopica) yang berasal dari Afrika, Jacaranda
filicifolia yang berasal dari Amerika Selatan, mahoni uganda (Khaya anthotheca) berasal dari Afrika, pinus meksiko (Pinus montecumae), cengal pasir (Hopea odorata) dari Burma, cedar honduras (Cedrela mexicum M. Roem) dari Amerika Tengah. Selain berasal dari luar negeri juga terdapat banyak koleksi flora yang berasal dari dalam negeri seperti cemara sumatra (Casuarina sumatrana), bayur sulawesi (Pterospermum celebicum), ampupu atau kayu putih (Eucalyptus alba), mangga (Mangifera indica) dari Jawa, ki bima (Podocarpus blumei) dan sebagainya.
4. Keragaman Fauna: kacamata, elang (Spizaethus baltesi), kutilang (Pycnonotus caferaurigaster), musang (Paradoxurus hermaproditus), tupai (Callosciurus notatus) dan kera (Macaca fascularis).
5. Kolam Pakar : Merupakan kolam buatan dengan luas 1,15 ha untuk PLTA, berfungsi sebagai tempat penampungan air yang berasal dari Sungai Cikapundung untuk digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik (PLTA Bengkok).
6. Gua Jepang dan Gua Belanda: Gua peninggalan jaman Jepang dan Belanda yang memiliki nilai historis.
7. Jalan Setapak (jogging track) Pakar Dago – Maribaya : Adanya jalan setapak antara Pakar Dago sampai ke Maribaya, menyusuri ekosistem pinggir sungai berhutan sejauh 3 km dengan kondisi yang baik.
8. Patahan Lembang : Di wilayah dekat Obyek Wisata Maribaya dapat diamati adanya fenomena alam yang dikenal dengan Patahan Lembang (Lembang Fault).
9. Curug Omas: Fenomena alam yang terletak disebelah utara Tahura Djuanda dan bersebelahan dengan obyek wisata air panas Maribaya.
10. Curug Dago: Fenomena alam yang terletak disebelah selatan Tahura Djuanda.
11. Prasasti Thailand: batu bertulis berbahasa Thailand.
Kunjungan wisata terutama terjadi pada hari Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur sekolah. Pengunjung sebagian besar berasal dari Bandung dan sekitarnya. Selain wisatawan, juga banyak pengunjung rutin dari berbagai kelompok olah raga yang bertujuan untuk menyusuri jogging track Pakar – Maribaya. Mencermati jumlah kunjungan wisatawan ke Tahura Djuanda nampak ada kecenderungan yang terus menurun. Jumlah puncak kunjungan terjadi pada tahun 1985-1986 pada saat Tahura Djuanda baru diresmikan.
4.6. Kebijakan Pengelolaan Tahura Djuanda
Sesuai dengan UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, maka Tahura Djuanda berfungsi sebagai Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai fungsi untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa baik yang alami maupun buatan, jenis asli atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian dan pendidikan serta menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Untuk menjamin suksesnya pengelolaan Tahura Djuanda, Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan Nomor: 192/Kpts-II/1985 membentuk Badan Pembina Tahura Djuanda yang diketuai oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) serta menunjuk Perum Perhutani sebagai Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pembangunan Tahura Djuanda.
Tugas Badan Pembina Tahura Djuanda adalah: (1) Memberikan pengarahan pembangunan dan pengembangan Tahura Djuanda; (2) Menyusun rencana jangka panjang dan menengah; (3) Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan Tahura Djuanda. Anggota Badan Pembina terdiri atas Wakil Perguruan Tinggi, yaitu : (1) Rektor Institut Teknologi Bandung, (2) Rektor Universitas Padjadjaran Bandung, dan (3) Rektor Institut Pertanian Bogor. Selain wakil perguruan tinggi juga ditunjuk wakil tokoh masyarakat.
Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 192/Kpts-II/1985, juga mengatur persentase peruntukan hasil usaha Tahura Djuanda yang berasal dari penjualan karcis masuk dan pendapatan lainnya, yaitu: (1) untuk perencanaan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam sebesar 15%; (2) untuk pembinaan diserahkan kepada Pemerintah Daerah Jawa Barat sebesar 25%; (3) untuk pembangunan dan pengelolaan, diarahkan kepada Perum Perhutani sebesar 60%.
Direktorat Taman Nasional dan Hutan Wisata, sebagai perencana Tahura Djuanda sesuai SK Nomor : 192/Kpts-II/1985, pada tahun 1987 menyusun Rencana Pengembangan Tahura Djuanda, yang terdiri dari tiga buku, yaitu : (1) Rencana Pengembangan; (2) Rencana Tata Letak; (3) Disain Fisik. Dalam rencana ini belum ditetapkan pembagian zonasi kawasan secara definitif. Mengingat rencana pengelolaan Tahura Djuanda berjangka waktu 25 tahun, maka rencana ini perlu dijabarkan kedalam Rencana Karya Pengusahaan Lima Tahun. Pembagian zonasi kawasan baru ditetapkan pada tahun 1995 melalui Keputusan Direktur Jenderal PHPA Nomor: 49/Kpts/DJ-VI/1995, dalam
penunjukan ini Blok Pemanfaatan ditetapkan seluas 150 Ha. Sedangkan Rencana Karya Lima Tahun Tahap I baru disusun pada tahun 1996 oleh Perum Perhutani.
Dalam era otonomi daerah, sebagaimana diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom, dinyatakan bahwa Pemerintah Provinsi berwenang untuk memberikan pedoman penyelenggaraan pembentukan wilayah dan penyediaan dukungan pengelolaan Taman Hutan Raya. Mengingat lokasi Tahura Djuanda berada pada Lintas Wilayah Kabupaten dan Kota, yaitu terletak di Kabupaten Bandung (Kecamatan Cim enyan dan Kecamatan Lembang) dan Kota Bandung (Kecamatan Coblong, Kecamatan Cidadap), maka sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000, kewenangan pengelolaannya berada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam hal ini adalah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat.
Memperhatikan hal tersebut di atas, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Pada Tabel 4 diperlihatkan ketentuan yang tercantum dalam Perda Nomor 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2002 tentang Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat.
Kebijakan tata ruang wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung terdapat peran/ fungsi penting Tahura Djuanda sebagai berikut: Berdasarkan arahan pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Bandung yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No.1/2001 tentang RTRW Kabupaten Bandung, peranan dan fungsi Tahura Djuanda ditetapkan sebagai kawasan lindung (kawasan hutan pelestarian alam).
Berkaitan dengan fungsinya sebagai kawasan lindung (kawasan hutan pelestarian alam), kebijakan pengelolaan kawasan Tahura dalam RTRW Kabupaten Bandung dilaksanakan melalui: (a) Pelestarian dan penataan fungsi lindung dan ekosistem yang terdiri dari taman hutan raya, taman wisata alam untuk pengembangan pendidikan dan pariwisata, dan (b) Peningkatan kualitas lingkungan sekitar taman hutan raya dan taman wisata alam
Tabel 4. Kronologis Pengelolaan Tahura Djuanda
No. Peraturan
Perundangan/Tahun Uraian
1. SK. Mentan Nomor : 575/Kpts/Um/8/1980
Penetapan Taman Wisata Curug Dago/ Gunung Pulosari seluas 590 Ha.
2. Tahun 1984 Penataan Batas oleh Badan INTAG-Dephut.
3. Kepres Nomor : 3/M/1985 Penetapan Taman Wisata Curug Dago menjadi Tahura Djuanda.
4. SK. Menhut Nomor :
192/Kpts-II/1985 Pengaturan Pengelolaan Tahura Djuanda. 5. SK. Menhut Nomor :
193/Kpts-II/1985 Penunjukkan Anggota Badan Pembina Tahura Djuanda, Wakil PTN dan Tokoh Masyarakat. 6. SK. Menhut Nomor :
107/Kpts-II/1985
Penunjukan Anggota Badan Pembina Tahura Djuanda, Wakil PTN dan Tokoh Masyarakat.
7. SK. Menhut Nomor : 107/Ktps-II/2003 tanggal 24 Maret 2003
Tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan Pengelolaan Tahura Djuanda oleh Gubernur atau Bupati/ Walikota Pengelolaan Tahura Djuanda Lintas Kabupaten dan Kota.
8. Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2002
Perubahan Perda Nomor 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Provinsi Jawa Barat
Terbentuknya Balai Pengelolalaan Taman Hutan Raya
Berdasarkan arahan pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kota Bandung, Tahura Djuanda juga ditetapkan sebagai kawasan lindung. Peranan Tahura Djuanda dalam RTRW Kota Bandung tersebut adalah mendukung kebijakan kawasan lindung di Kota Bandung sebagai berikut:
a. Mengembangkan kawasan lindung minimal 10% dari luas lahan kota, yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan kawasan biru.
b. Melestarikan dan melindungi kawasan lindung dari alih fungsi, termasuk kawasan perlindungan setempat dan kawasan cagar budaya, serta memanfaatkan kawasan budidaya yang dapat berfungsi lindung.
c. Mengembangkan kawasan yang potensial sebagai jalur hijau seperti garis sempadan sungai dan jalur tegangan tinggi.
d. Mempertahankan/preservasi bangunan yang mempunyai nilai sejarah (historical building), serta potensial sosial budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah.
e. Intensifikasi ruang terbuka hijau yang ada, mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan-kawasan yang berfungsi hidrologis untuk
menjamin ketersediaan sumberdaya air dan kesuburan tanah; menyelamatkan keutuhan potensi keanekaragaman hayati, baik potensi fisik wilayahnya (habitat), potensi sumberdaya kehidupan serta keanekaragaman sumber genetiknya; mengembangkan kawasan hijau lindung dilakukan melalui pembinaan kawasan sesuai dengan fungsinya dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam dan buatan pada kawasan lindung.
Dalam Satuan Kawasan Wisata (SKW) Provinsi Jawa Barat, Tahura Djuanda masuk dalam SKW Maribaya dan memiliki interkoneksi yang sangat baik dengan SKW Ciater dan SKW Tangkuban Perahu sehingga memiliki peluang yang sangat tinggi sebagai kawasan wisata andalan Provinsi Jawa Barat.
Dalam RTRW Provinsi Jawa Barat, Kawasan Bandung Utara mempunyai fungsi sebagai:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan hilirnya: kawasan hutan yang berfungsi lindung, kawasan resapan air, kawasan cagar alam (Gunung Tangkuban Perahu);
2. Kawasan pelestarian alam: kawasan taman hutan rakyat (Taman Hutan Raya Ir. H.Djuanda), dan taman wisata Gunung Tangkuban Perahu;
3. Kawasan rawan bencana: Kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Kawasan Rawan Gerakan tanah Gunung Tangkuban Perahu;
4. Kawasan perlindungan setempat, yaitu sempadan sungai dan mata air, dan Kawasan perlindungan plasma nutfah ex-situ (kebun binatang dan sebagainya).
Berdasarkan rencana pola tata ruang Provinsi Jawa Barat, Kawasan Bandung Utara terdiri atas:
1. Budidaya lainnya. Ruang ini umumnya di alokasikan di wilayah administrasi Kota Bandung bagian Utara dan Kabupaten Bandung bagian Selatan berbatasan dengan Kota Bandung.
2. Budidaya sawah, yang di alokasikan sebelah Timur dan Barat Kawasan Bandung Utara.
3. Kawasan lindung di luar kawasan hutan. Kawasan ini menjadi penyangga antara alokasi budidaya lainnya dan budidaya sawah dengan hutan lindung. Kawasan ini terletak di sebelah Utara budidaya lainnya serta budidaya sawah. 4. Hutan lindung, terletak di sebelah Utara kawasan lindung di luar kawasan
5. Hutan Konservasi, terletak di ujung utara Kawasan Bandung Utara dan sebelah Timur-Selatan Kawasan Bandung Utara.
Rencana Pengembangan Kawasan Lindung dalam RTRW Jawa Barat 2010 adalah:
1. Menetapkan kawasan lindung sebesar 45% dari luas seluruh wilayah Jawa Barat yang meliputi kawasan yang berfungsi lindung dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan.
2. Mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis untuk menjamin ketersediaan sumber daya air.
3. Mengendalikan pemanfaatan ruang di luar kawasan hutan sehingga tetap berfungsi lindung.
Sasaran pengembangan kawasan lindung tersebut adalah: tercapainya proporsi luas kawasan lindung Jawa Barat atas dasar kriteria kawasan-kawasan yang berfungsi lindung, tidak adanya alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya, terjaganya kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidrologis, terjaminnya ketersediaan sumber daya air, Berkurangnya lahan kritis, terbentuknya kawasan penyangga di sekitar kawasan hutan lindung dan konservasi, dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya pada kawasan lindung.
Berdasarkan SK Gubernur No 181.1/SK.1624-Bapp/1982 Kawasan Bandung Utara ditetapkan sebagai kawasan lindung. Pada kenyataannya dalam rencana, kawasan ini tidak sepenuhnya lindung. Berdasarkan arahan pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Bandung yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 1 Tahun 2001 tentang RTRW Kabupaten Bandung terdapat peran/ fungsi penting Kawasan Bandung Utara: (1) Kawasan Lindung, non budidaya sebagai kawasan konservasi; dan (2) Bagian dari sistem/ struktur tata ruang Kabupaten Bandung secara keseluruhan.
Dalam konteks ini beberapa kota/ pusat kegiatan ditetapkan sebagai PKL (Pusat Kegiatan Lingkungan) dan DPP. Beberapa kota maupun desa yang masuk dalam Kawasan Bandung Utara adalah sebagai berikut:
a. Lembang sebagai PKL 1 dengan fungsi sebagai tempat wisata, agribisnis, permukiman perkotaan.
b. Padalarang (Tagogapu) sebagai PKL-1 sebagai tempat pengembangan perumahan, industri, perdagangan dan jasa, pariwisata dan ruang terbuka hijau.
c. Cimahi sebagai PKL-1 (sekarang sudah menjadi kota) berfungsi sebagai tempat pengembangan perdagangan dan jasa, industri, permukiman perkotaan.
d. Cikalong Wetan sebagai PKL-2 dengan fungsi sebagai permukiman perkotaan, perdagangan dan jasa.
e. Cisarua (Desa Jambudipa) sebagai DPP-1 dengan fungsi permukiman perdesaan, perdagangan dan jasa.
f. Parongpong (Desa Karyawangi), Lembang (Desa Cibodas) sebagai DPP-II dengan fungsi permukiman perdesaan dan perdagangan.
Rencana pemanfaatan ruang Kawasan Bandung Utara berdasarkan RTRW Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar
10
. Pemanfaatan Ruang Kawa
Berkaitan dengan fungsinya sebagai kawasan lindung, Kebijakan Pengelolaan Kawasan Bandung Utara dalam RTRW Kabupaten Bandung dapat mengacu pada ketentuan sebagai berikut:
1. Pengelolaan kawasan yang memberi perlindungan terhadap kawasan bawahannya (kawasan resapan air Bandung Utara) dilaksanakan melalui upaya:
a. Mempertahankan dan memperluas hutan lindung yang telah ada serta memperluas areal hutan bagi daerah-daerah yang memenuhi kriteria lindung.
b. Daerah-daerah yang memenuhi kriteria sebagai hutan lindung, apabila kesulitan menjadi kawasan hutan lindung, dapat digunakan untuk kegiatan pemanfaatan ruang yang dapat mempertahankan fungsi hidrologissebagaimana hutan lindung.
c. Pengendalian kegiatan budidaya yang terlanjur ada, selama tidak mengganggu fungsi lindung.
d. Pengendalian terhadap pengembangan kegiatan budidaya yang dapat mengganggu fungsi lindung, mengubah bentang alam, penggunaan lahan serta merusak ekosistem alami yang ada.
2. Pengelolaan kawasan perlindungan setempat dilaksanakan melalui upaya: a. Pengendalian dilakukan pada kegiatan budidaya sepanjang sungai,
sekitar sempadan waduk/ danau dan sekitar mata air yang dapat merusak dan menganggu fungsi hidrologis, antara lain kualitas dan kuantitas air, menimbulkan erosi, manghambat aliran air.
b. Pengaturan pembangunan bangunan hunian dan/ atau sarana pelayanan yang didirikan di pinggir sungai dan sumber air harus mempunyai penampang muka atau bagian muka yang menghadap ke sungai dan sumber air.
c. Pengendalian/ pengaturan kegiatan yang terlanjur ada di sekitar sungai, danau/ waduk, dan mata air sepanjang tidak mengganggu fungsi hidrologi, estetika dan kepentingan umum lainnya.
3. Pengelolaan Kawasan hutan suaka alam hayati dan cagar alam dilaksanakan melalui perlindungan keanekaragaman ekosistem, gejala dan keunikan di kawasan suaka alam dan cagar alam untuk kepentingan plasma nutfah, keperluan ilmu pengetahuan dan keperluan pariwisata. Yang termasuk dalam kawasan ini adalah Tangkuban Perahu (221 ha), Kawah Kamojang (500 ha),
Kecamatan Parongpong (1.026 ha), Yunghun Lembang (2 ha), Gunung Simpang/ Pasirjambu (8 ha), Kawah Putih (100 ha).
4. Pengelolaan kawasan hutan pelestarian alam (THR Djuanda 590 ha, Kecamatan Padalarang 31 ha) dilaksanakan melalui upaya:
a. Pelestarian dan penataan fungsi lindung dan ekosistem yang terdiri dari taman hutan raya, taman wisata alam untuk pengembangan pendidikan dan pariwisata;
b. Peningkatan kualitas lingkungan sekitar taman hutan raya dan taman wisata alam.
5. Pengelolaan kawasan rawan bencana dilaksanakan melalui upaya:
a. Pengendalian kegiatan di kawasan rawan, kawasan waspada dan kawasan berpotensi bencana letusan gunung berapi dan pemanfaatan dengan resiko terendah.
b. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan bencana tanah longsor/ kritis, gempa serta penerapan teknologi/rekayasa teknik di kawasan tersebut.
c. Pengurangan luas wilayah banjir.
Tabel 5. Materi Peraturan dan Perundangan yang Berkaitan dengan Kawasan Bandung Utara
Peraturan Garis Besar Materi
Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat No. 2 Tahun 1996 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung di Daerah Tingkat I jawa Barat
Peraturan daerah ini merupakan penjabaran dan perincian KEPPRES No. 32 Tahun 1992, dengan penyesuaian kondisi Jawa Barat. Didalamnya antara lain dirinci sampai ukuran kuantitatif seperti kriteria kawasan resapan. Dalam peraturan daerah ini kriteria kawasan resapan adalah curah hujan rata-rata lebih dari 1000 mm; lapisan tanah berupa pasir halus dengan butir berukuran minimal 1/16 mm; mempunyai kemampuan meluluskan air lebih dari 1m/hari; kedalaman muka air tanah lebih dari 10 m; kelerengan lebih dari 40%; kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari muka air tanah dalam. SK Gubernur No 181.1/SK.1624-Bapp/1982
tentang tentang Pengamanan Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara
Surat Keputusan Gubernur ini diterbitkan sebagai tanggapan atas menguatnya desakan untuk segera mengendalikan Kawasan Bandung Utara. Surat Keputusan Gubernur ini menetapkan batasan Kawasan Bandung Utara dengan luas total sekitar 38548,33 Ha dengan batas -batas sebagai berikut: • Sebelah Utara dan Timur dibatas i oleh garis
punggung topografi yang menghubungkan puncak-puncak Gunung Burangrang, Masigit, Gedogan, Sunda, Tangkuban Parahu dan Manglayang.
• Sebelah Barat dan Selatan dibatasi oleh garis tinggi (kontur) 750 m di atas permukaan laut (dpl). SK Gub ini menggolongkan Wilayah Bandung Utara
menurut kemiringan lereng 0-8%; 8-15%; 15-25%; 25-40%; >40% dalam peta skala 1:50.000. Berdasarkan penggolongan kemiringan lereng tersebut ditetapkan peruntukan lahannya yaitu untuk hutan lindung; pertanian tanaman keras dan pertanian non tanaman keras. Penggolongan penggunaan lahan ini sifatnya tidak mutlak karena masih harus disesuaikan dengan tingkat kepekaan tanah pada erosi.
Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 640/SK.1625-Bapp/1982 tentang Pemberian Ijin Pembangunan di Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara
SK Gubernur ini diterbitkan untuk mengambil langkah-langkah pengamanan, pengawasan serta meningkatkan koordinasi dan seleksi salam
pemberian ijin pembangunan di Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara.
Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 146/SK. 1626-Bapp/1982 tentang
Perpanjangan Tugas serta Penyempurnaan Keanggotaan Kelompok Kerja Penyusunan Rencana Terperinci Pengembangan Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara, 5 November 1982.
Surat keputusan ini merupakan tindak lanjut dari surat keputusan-surat keputusan yang telah dikeluarkan.
Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No. 593/4535-Bapp/1993 tentang Pengendalian Penggunaan Lahan di Kawasan Bandung Utara, 30 November 1993
Surat edaran ini merupakan instruksi gubernur kepada Kakanwil BPN Propinsi Jawa Barat untuk memerintahkan Kantor Pertanahan Kabupaten. Kota Bandung agar untuk sementara tidak melaksanakan pemberian ijin lokasi pembangunan di Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara sebelum dilakukan penelitian rinci/detail oleh Bappeda Propinsi. Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No.
593/1221-Bappeda tentang Pengendalian Penggunaan Lahan di Kawasan Bandung Utara, 22 April 1994
Surat Edaran ini merupakan pemaparan hasil penelitian Bappeda Propinsi Jawa Barat bekerja sama dengan LPM ITB mengenai kajian aspek geologi lingkungan di kawasan Bandung Utara. Surat edaran ini membeberkan penegasan pada hal-hal berikut:
• Kegiatan terbangun dapat dikembangkan secara terbatas pada lahan < 30% dengan BCR 15% atau 10%.
• Pembangunan tersebut harus memperhatikan kelestarian lingkungan (air, erosi, Longsor) • Lahan dengan kemiringan > 40 % sebagai hutan
lindung; 30%-40% sebagai kawasan penyangga. Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No.
593.82/1174-Bapp/1994 tentang Permohonan Ijin Lokasi dan Pembebasan Tanah di Kawasan Bandung Utara.
Surat Edaran ini berisi tentang proses dan prosedur yang harus diikuti dalam:
• Pemberian ijin lokasi. • Pengesahan site plan.
• Penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) SK Gubernur Jabar No.
660/4244/Bappeda/1994 tentang Pengamanan Wilayah Inti Bandung Raya Bagian Utara. 31 Oktober 1994
Surat Keputusan Gubernur ini berisikan perintah untuk bupati/walikota supaya tidak memberikan ijin untuk sementara bagi pembangunan real estate, villa estate atau kegiatan lainnya dalam bentuk apapun serta tidak memberikan persetujuan atas site plan sampai menunggu Tim Tata Ruang Propinsi Jabar melakukan pengkajian daya dukung lingkungan. SK ini juga menginstruksikan untuk melakukan tindakan atas pelanggaran yang dilakukan.
Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No. 912/333-Bappeda/1996 tentang Perihal Penanganan Kegiatan di Kawasan Inti Bandung Utara
Surat edaran ini memerintahkan untuk tidak memberikan ijin baru baik yang bersifat besar (perusahaan) maupun individu kecuali apabila rencana pembangunan tersebut mempunyai kepentingan nasional dan dilaksanakan oleh pemerintah.
maupun yang sedang diproses ijin pembangunannya yang sedang dalam taraf membangun dan sudah terbangun diharuskan memenuhi persyaratan AMDAL dan lokasinya disesuaikan dengan pembangunan ekosistem.
Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No. 650/1704/Bap tentang Pengendalian Pemanfaatan Ruang, 14 Agustus 2004.
Surat edaran ini berisi:
• Melaksanakan pengamatan yang meliputi monitoring dan evaluasi.
• Tindakan penertiban. • Melaksanakan penyesuaian.
• Melaksanakan rehabilitasi dam konservasi lahan. Surat Edaran Gubernur Jawa Barat No.
650/2530/PRLH tentang Penertiban Pemanfaatan Ruang, 18 Agustus 2004.
Surat Edaran ini berisi:
• Tidak memberikan ijin pemanfaatan ruang. • Meninjau kembali ijin pemanfaatan ruang yang
sudah diterbitkan.
• Melaksanakan Surat Edaran No. 650/1704/Bap. Peraturan Daerah No. 14 Tahun 1998 tentang
Bangunan Di Wilayah Kodya DT II Bandung
Peraturan ini memuat ketentuan administrasi, ketentuan arsitektur, ketentuan teknis bangunan, persyaratan keamanan bangunan, infrastruktur bangunan, pelaksanaan membangunan, rumah susun, pembangunan rumah sederhana, pedoman teknik pembangunan rumah sangat sedernaha, garis sempadan jalan, pengairan dan sungai.
Instruksi Bupati Kabupaten Bandung No. 15 Tahun 1994 tentang Penangguhan Pemberian Ijin Lokasi di Wilayah Bandung Raya Bagian Utara.
Tidak menerbitkan advise planning/keterangan lahan.
Surat ijin yang telah diterbitkan harus mendapat persetujuan ANDAL yang diterbitkan oleh Gubernur. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No.
49/1995 tentang Rencana Umum Tata Ruang Lembang 1994-2004
RUTR ini menetapkan Kota Lembang sebagai sub pusat pelayanan wilayah metropolitan sekaligus sebagai pusat pertumbuhan wilayah Kabupaten Bandung Bagian Utara, juga sebagai daerah tujuan wisata serta kawasan konservasi air tanah. Fungsi lainnya adalah sebagai pusat pelayanan pertanian (penyaluran produk dan sarana pertanian), kota wisata, kota budaya dan pusat penelitian dan pendidikan. RUTR ini membagi wilayah Kecamatan Lembang yang meliputi Desa Lembang, Desa Jayagiri, Desa Kayuambon, Desa Gudang Kahuripan, Desa Cibogo dan Desa Langensari dalam empat bagian, yaitu; Pusat kota dan perdagangan; Kawasan yang berkembang karena fasilitas rekreasi; pusat pemerintahan dan perbelanjaan; dan kawasan yang perlu dibatasi perkembangannya.