• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS PENUTUPAN PERMANEN PINTU PERLINTASAN KERETA API DI JALAN ANGKASA EFFECTIVENESS OF PERMANENT CLOSURE OF RAILWAY CROSS TRIP IN ANGKASA ROAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIFITAS PENUTUPAN PERMANEN PINTU PERLINTASAN KERETA API DI JALAN ANGKASA EFFECTIVENESS OF PERMANENT CLOSURE OF RAILWAY CROSS TRIP IN ANGKASA ROAD"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

347

EFEKTIFITAS PENUTUPAN PERMANEN PINTU

PERLINTASAN KERETA API DI JALAN ANGKASA

EFFECTIVENESS OF PERMANENT CLOSURE OF

RAILWAY CROSS TRIP IN ANGKASA ROAD

Michael Hasiholan*

1

, F. Trisbiantara

2

, Christina Sari

3

1,2,3Jurusan Teknik Sipil, Universitas Trisakti, Jakarta *e-mail: 1[email protected]

ABSTRAK

Penutupan permanen perlintasan kereta api di Jalan Angkasa berpengaruh dengan kinerja ruas Jalan Angkasa karena terjadi penumpukan kendaraan di underpass ruas Jalan Angkasa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi penutupan permanen perlintasan sebidang Jalan Angkasa dan juga mencari solusi optimal sehingga kereta dapat melintas dengan aman dan dampak kemacetan lalu lintas yang diakibatkan penutupan seminim mungkin. Pada penelitian ini, penulis menggunakan data durasi kondisi palang pintu perlintasan untuk melihat menganggur selama proses penutupan yang tersedia dan menggunakan MKJI 1997 untuk menganalisis kinerja ruas jalan kondisi eksisting dan kondisi sebelum ditutup permanen. Hasil evaluasi waktu menganggur selama peroses penutupan didapatkan 2105 detik pada peak hour pagi, 2481 pada peak hour sore dan 2001 detik pada peak hour kereta, hasil analisis kinerja ruas jalan kondisi eksisting menggunakan MKJI 1997 didapatkan DS 0,70 pada peak hour pagi, DS 1,22 pada peak hour sore dan DS 1,08 pada peak hour kereta dan hasil analisis kinerja ruas jalan kondisi sebelum penutupan menggunakan MKJI 1997 didapatkan DS 0,52 pada peak hour pagi, DS 1,00 pada peak hour sore dan DS 0,90 pada peak hour kereta Jadi, dapat disimpulkan solusi optimal yang disarankan adalah dengan membuka kembali perlintasan pada Jalan Angkasa dengan syarat mengefektifkan waktu kosong sebelum kereta melewati perlintasan sehingga kereta api dapat tetap melintas dengan aman dan waktu yang bisa dibuka untuk kendaraan dapat melintas menjadi lebih banyak sehingga dapat mengurangi kemacetan pada underpass ruas Jalan Angkasa.

Kata kunci : Derajat Kejenuhan, Penutupan Permanen, Perlintasan Sebidang , Waktu Menganggur.

ABSTRACT

Permanent closure of railroad crossings on the Angkasa Road affects the performance of the Angkasa road section due to a buildup of vehicles at the Angkasa road underpass. The purpose of this study is to evaluate the permanent closure of a level crossing and also to find an optimal solution so that the train can pass safely and the impact of traffic congestion caused by a minimum closing. In this study, the authors used data on the crossing door length conditions to see idle during the closure process available and used MKJI 1997 to analyze the performance of existing road conditions and conditions before being permanently closed. The results of the evaluation of idle time during the closing process were 2105 seconds at morning peak hours, 2481 at afternoon peak hours and 2001 seconds at peak hour trains, the results of the analysis of existing road conditions using MKJI 1997 obtained DS 0.70 at morning peak hours, DS 1 , 22 at the afternoon peak hour and DS 1.08 on the train peak hour and the results of the analysis of the condition of the road conditions before closing using the MKJI 1997 obtained DS 0.52 at the morning peak hour, DS 1.00 at the afternoon peak hour and DS 0.90 at the peak hour of the train So, it can be concluded that the recommended optimal solution is to reopen the crossings on the Space with the requirement to make time effective before the train crosses the crossing so that the train can still cross safely and the time that can be opened for vehicles can cross more so can reduce congestion on the underpass of the Space segment.

(2)

348

.

A. PENDAHULUAN

Perlintasan kereta api adalah persilangan antara jalur kereta api dengan jalan, baik jalan raya ataupun jalan setapak kecil lainnya. Persilangan antara perlintasan kereta api dan ruas jalan mengakibatkan panjang antrian dan tundaan yang besar di sepanjang jalan, sehingga menyebabkan kemacetan. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kemacetan akibat perlintasan kereta. Dari sekian banyak kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasinya, ada satu kebijakan yang dinilai kurang efektif yaitu penutupan pintu perlintasan kereta api secara permanen pada persimpangan antara ruas jalan dengan perlintasan kereta api. Salah satu perlintasan sebidang yang mengalami penutupan pintu perlintasan kereta api secara permanen adalah perlintasan kereta api di Jalan Angkasa. Pada tanggal 3 November 2017 telah dilakukan penutupan pintu perlintasan kereta api secara permanen, sehingga terjadi penumpukan kendaraan di underpass dari arah Jalan Angkasa.

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengevaluasi penutupan permanen perlintasan sebidang antara jalan rel dengan jalan raya di Jalan Angkasa Raya. Serta untuk mendapatkan skenario optimal agar kereta dapat melintas dengan aman dan dampak kemacetan lalu lintas yang diakibatkan penutupan seminim mungkin.

B. STUDI PUSTAKA B.1 Perlintasan Kereta Api

Perlintasan kereta api adalah persilangan antara jalur kereta api dengan

jalan, baik jalan raya ataupun jalan setapak kecil lainnya. Perlintasan terdiri dari perlintasan sebidang dan perlintasan tidak sebidang. Perlintasan tidak sebidang adalah persilangan antara dua ruas jalan atau lebih yang tidak saling bertemu dalam satu bidang tetapi salah satu ruas berada di atas atau di bawah ruas jalan yang lain. Salah satunya adalah persilangan antara jalur kereta api dengan jalan raya yang tidak pada satu bidang, misal dengan flyover atau underpass. Sedangkan perlintasan sebidang adalah persilangan antara jalan raya bergabung atau berpotongan dengan jalan rel kereta api pada ketinggian yang sama.

B.2 Idle Closing Time

Idle closing time adalah jumlah

waktu dari lama waktu perlintasan terbuka dan lama waktu sebelum kereta melewati perlintasan. Data idle closing

time didapat dari hasil survei secara

langsung di lapangan.

B.3 Kinerja Lalu Lintas

Kriteria kinerja lalu lintas dapat ditentukan berdasarkan nilai derajat kejenuhan datau kecepatan tempuh pada suatu kondisi jalan tertentu yang berkaitan dengan geometrik, arus lalu lintas, dan lingkungan jalan untuk kondisi eksisting maupun untuk kondisi desain. Semakin rendah nilai derajat kejenuhan atau semakin tinggi kecepatan tempuh menunjukan semakin baik kinerja lalu lintas.

B.4 Kecepatan Arus Bebas

Kecepatan arus bebas adalah kecepatan pada tingkat arus nol yaitu tidak ada kendaraan yang lewat. Kecepatan arus bebas dapat dihitung

(3)

349

dengan persamaan matematis dalam MKJI 1997.

B.5 Kecepatan Kendaraan Ringan (Vlv)

Kecepatan Kendaraan Ringan (Vlv) didapat nilainya dari grafik kecepatan arus bebas kendaraan ringan.

Gambar 1. Grafik kecepatan arus bebas kendaraan ringan.

B.6 Kecepatan Pada Kondisi Arus Sesungguhnya

Kecepatan perjalanan adalah kecepatan rata-rata yang ditempuh oleh kendaraan selama melalui suatu ruas jalan (Warpani, 1985 : 33). Manual Kapasitas Jalan Indonesia tahun 1997 menggunakan kecepatan tempuh sebagai ukuran utama kinerja segmen jalan. Pada penelitian ini kecepatan sesungguhnya akan diukur secara manual yaitu dengan melakukan survei pada jam-jam sibuk.

B.7 Waktu Tempuh

Waktu tempuh adalah waktu yang diperlukan sebuah kendaraan ringan untuk melewati suatu titik awal ia berangkat menuju titik tujuan. Dalam hal ini dispesifikasikan sepanjang segmen jalan Angkasa (Underpass) yaitu 745 m.

C. METODE

Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam perhitungan analisis kinerja lalu lintas adalah dengan

menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997.

Metode ini di awali dengan pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam proses penelitian dengan melakukan survei yaitu, survei geometrik, survei volume, survei kecepatan, serta wawancara dari dinas-dinas atau instansi terkait. Setelah diperoleh data-data yang dibutuhkan maka dilakukanlah analisis dan perhitungan sesuai yang dibutuhkan berdasarkan tinjauan pustaka yang digunakan untuk menjadi pedoman dasar perhitungan. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan alternatif solusi yang tepat.

D. HASIL STUDI

D.1 Durasi Penutupan Palang Pintu Perlintasan

Durasi kondisi kosong sebelum kereta lewat aktual ternyata lebih lama daripada yang dibutuhkan/dipersyaratkan oleh Peraturan Menteri Perhubungan No PM 94 Tahun 2018 pasal 25 ayat 2 yaitu palang pintu perlintasan sudah harus tertutup 60 detik sebelum kereta melewati perlintasan.

Tabel 1. Data perhitungan durasi aman sebelum kereta melewati perlintasan,

No Jenis Kereta A B C

1 KRL 700 11,11 63,01 2 Kereta Barang 700 8,33 84,03 Ket : A = Jarak (m)

B = Kecepatan kereta

C = Durasi aman pintu perlintasan ditutup sebelum kereta melewati perlintasan (s) (A/B)

(4)

350

D.1.2Durasi Kondisi Kosong Sewaktu

Perlintasan Ditutup Yang Tidak

Efektif

Waktu kosong yang tidak dibutuhkan dapat digunakan untuk kendaraan melewati perlintasan.

Tabel 2. Contoh perhitungan durasi kosong sebelum kereta melewati perlintasan yang tidak efektif,

No Jenis Kereta A B C

1 KRL 136 63 73

2 Kereta Barang 112 84 28 Ket : A = Durasi kondisi kosong sewaktu

perlintasan tertutup (s) B = Durasi aman pintu perlintasan

ditutup sebelum kereta melwati perlintasan (s)

C = Durasi kondisi kosong sebelum kereta melewati perlintasan yang tidak efektif (s)

(A – B)

D.1.3 Idle Closing Time Kondisi

Aktual dan Setelah Diefektifkan

Berdasarkan dari hasil evaluasi

idle

closing

time

pada

durasi

penutupan palang pintu perlintasan.

Tabel 3. Data idle closing time kondisi aktual dan setelah diefektifkan

D.2 Analisis Kinerja Lalu Lintas Jalan Kondisi Eksisting Dan Kondisi Sebelum Menggunakan MKJI 1997

Hasil kinerja lalu lintas jalan kondisi eksisting dan kondisi sebelum penutupan permanen menggunakan MKJI 1997 dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil kinerja lalu lintas jalan kondisi eksisting dan kondisi sebelum penutupan permanen,

D.3 Kecepatan Arus Bebas

Berdasarkan dari hasil perhitungan kecepatan arus bebas pada kondisi eksisting dan kondisi sebelum penutupan permanen.

Tabel 5. Data kecepatan arus bebas kondisi eksisting,

D.4 Penentuan Kecepatan Kendaraan Ringan (Vlv)

Tabel 6. Data kecepatan kendaraan ringan (Vlv),

DS Tingkat Pelayanan DS Tingkat Pelayanan DS Tingkat Pelayanan

1 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 0,70 C 1,22 F 1,08 F 2 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 0,80 D 1,01 F 0,98 E 3 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 0,52 C 1,00 E 0,90 E 4 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 0,61 C 0,79 D 0,81 D

Peak Hour Sore

Peak Hour Pagi Peak Hour Kereta No Arah

Kondisi Eksisting

Kondisi Sebelum

FV (km/jam)

1 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 0 1 1,03 58,71 2 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa -2 1,04 1,03 63,2 3 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 0 1 1,03 58,71 4 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari -2 1,04 1,03 63,2

No Arah FVw FFVsf FFVcs

Pagi Siang Sore 1 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 49,2 33,5 33,5 2 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 45,9 35,9 33,5

3 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 52,9 41,8 33,5 4 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 51 45,8 46 No Arah Kecepatan Kendaraan Ringan (km/jam)

Kondisi Eksisting

(5)

351

D.5 Waktu Tempuh

Berdasarkan dari hasil perhitungan waktu tempuh yang diperlukan sebuah kendaraan ringan untuk melewati suatu titik awal ia berangkat menuju titik tujuan pada kondisi eksisting dan kondisi sebelum penutupan permanen.

Tabel 7. Data perhitungan waktu tempuh,

E. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis pada bab-IV, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan dari hasil evaluasi idle

closing time kondisi aktual dan setelah

diefektifkan, maka dapat disimpulkan bahwa durasi kondisi kosong sebelum kereta lewat aktual ternyata lebih lama daripada yang dibutuhkan/dipersyaratkan oleh Peraturan Menteri Perhubungan No PM 94 Tahun 2018 pasal 25 ayat 2 yaitu palang pintu perlintasan sudah harus tertutup 60 detik sebelum kereta melewati perlintasan sehingga waktu kosong yang tidak dibutuhkan dapat digunakan untuk kendaraan melewati perlintasan. Dan dari hasil perhitungan

idle closing time kondisi aktual

didapatkan hasil sebesar 1328 detik pada

peak hour pagi, 1835 detik pada peak hour sore dan 1174 detik pada peak hour

kereta. Lalu dari hasil perhitungan idle

closing time yang telah diefektifkan

didapatkan hasil sebesar 2105 detik pada

peak hour pagi, 2481 detik pada peak

hour sore dan 2001 detik pada peak hour

kereta.

2. Berdasarkan hasil analisis kinerja lalu lintas kondisi eksisting dan kondisi sebelum ditutup permanen, maka dapat disimpulkan penutupan permanen palang pintu perlintasan menyebabkan kondisi lalu lintas yang sudah berada dalam kondisi macet menjadi semakin macet. Dari hasil perhitungan didapatkan hasil pada kondisi peak hour pagi arah Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Angkasa DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 18 % yaitu dari DS = 0,52 menjadi DS = 0,70, arah Jalan Angkasa menuju Jalan Gunung Sahari DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 19 % yaitu dari DS = 0,61 menjadi DS = 0,80. Lalu pada peak hour sore arah Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Angkasa DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 22 % yaitu dari DS = 1,00 menjadi DS = 1,22, arah Jalan Angkasa menuju Jalan Gunung Sahari DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 22 % yaitu dari DS = 0,79 menjadi DS = 1,01. Dan pada peak hour kereta arah Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Angkasa DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 18 % yaitu dari DS = 0,90 menjadi DS = 1,08, arah Jalan Angkasa menuju Jalan Gunung Sahari DS lalu lintas kendaraan meningkat sebesar 17 % yaitu dari DS = 0,81 menjadi DS = 0,98. 3. Berdasarkan dari hasil evaluasi point 2 dan 3 diatas maka solusi optimal yang disarankan adalah dengan membuka kembali perlintasan pada Jalan Angkasa dengan syarat mengefektifkan waktu kosong sebelum kereta melewati perlintasan sehingga kereta api dapat tetap melintas dengan aman dan waktu

Pagi Siang Sore

1 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 15,14 22,24 22,24 2 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 16,23 20,75 22,24 3 Jl. Gunung Sahari - Jl. Angkasa (U) 14,08 17,82 22,24 4 Jl. Angkasa - Jl. Gunung Sahari (U) 14,61 16,27 16,2

No Arah Waktu Tempuh (s)

Kondisi Eksisting

(6)

352

yang bisa dibuka untuk pelintasan lalu lintas kendaraan menjadi lebih banyak sehingga dapat mengurangi kemacetan pada ruas jalan tersebut, bukannya menambah kemacetan.

REFERENSI

Abubakar.,dkk. 1995. Sistim

Transportasi Kota. Jakarta :

Direktur Jenderal Perhubungan Darat.

Amal, A. S., Pudjianto, B., & Mujihartono, E. (2002). Pengaruh Penutupan Pintu Perlintasan Kereta Api Terhadap Tundaan Dan Panjang Antrian Kendaraan Pada Jalan Raya Malang - Surabaya KM.10. Pilar,

11(2), 88–91.

Direktorat Jenderal Bina Marga. (1997).

Manual Kapasitas Jalan

Indonesia (MKJI). Jakarta:

Departemen Pekerjaan Umum.

Httpwww.Pu.Go.Iduploadsservicesinfopu blik20130926133016.Pdf.Pdf. (n.d.).

Kasus, S., Perlintasan, P., Api, K., Supratman, J. W. R., Klojen, K., Blimbing, K., & Malang, K. (2016).

Khaidar Musaad. (69).

Pemerintah Indonesia. 2018. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang Antara Jalur Rel Kereta Api Dengan Jalan. Lembaran Negara RI Tahun 2018. Jakarta : Sekretariat Negara. Palin, A., Rumayar, A. L. E., Lintong, E.,

Teknik, F., Teknik, J., Universitas, S., & Ratulangi, S. (2013). Analisa

kapasitas dan tingkat pelayanan pada ruas jalan wolter monginsidi kota manado. 1(9), 623–629.

Susilo, B. H. (2010). Rekayasa

Lalulintas. Jakarta: Penerbit

Universitas Trisakti.

Susilo, B. H. (2010). Dasar-Dasar

Rekayasa Transportasi. Jakarta:

Penerbit Universitas Trisakti. Warpani, P. Suwardjoko. (2002).

Pengelolaan Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan. Bandung : Penerbit

ITB.

Widari, L. A., Akbar, S. J., & Fajar, R. (2015). Analisis Tingkat Pelayanan Jalan (Studi Kasus Jalan Medan-Banda Aceh KM 254+800 s.d KM 256+700). Jurnal Teras, 5(2), 89– 98.

Yusyadiputra, M., Hermawanto, R., Pudjianto, B., & Yulipriyono, E. (2014). Pengaruh Penutupan Pintu Perlintasan Jalan Rel Terhadap Kinerja Lalu Lintas Jalan Raya Di Perlintasan Kaligawe Semarang Dan Kaliwungu Kendal. Jurnal Karyua

Gambar

Gambar 1. Grafik kecepatan arus bebas  kendaraan ringan.
Tabel  2.  Contoh  perhitungan  durasi  kosong  sebelum  kereta  melewati  perlintasan  yang  tidak efektif,
Tabel 7. Data perhitungan waktu tempuh,

Referensi

Dokumen terkait

Ketahanan pangan nasional jangka me- nengah dan jangka panjang hanya akan dapat dimantapkan melalui paket kebijaksanaan: (a) Terobosan teknologi baru pada keseluruhan mata

Salah satu upaya perusahaan untuk meyakinkan investor bahwa risiko yang ada dalam perusahaan kecil, adalah dengan melakukan perataan laba, jika perusahaan

Diffah Hanim, M.Si, selaku Penguji dan Kepala Program Studi Ilmu Gizi Universitas Sebelas Maret Surakarta penguji yang telah memberikan ijin penelitian, telah memberikan

Sistem penunjukan kepala negara pada calon penggantinya, meskipun terdapat unsur positifnya, (seperti ketika Abu Bakar menunjuk kepada Umar untuk menjadi

Oleh itu, dari apa yang dihayati disini, kajian penempatan seorang pengurus projek yang memahami amalan terbaik sebagai seorang pengurus projek dengan amalan

Berdasarkan hasil uji lanjut Anova terlihat perbedaan antara nilai rata-rata siswa menggunakan pembelajaran Two Stay Two Stray, Think Pair Share dan kontrol (

Jadi, penerapan maksim pendapat ( option maxim ) di homeschooling Primagama Palembang tersebut telah sesuai dengan teori prinsip kesantunan Leech (2014:93),

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan produksi susu segar dengan kadar laktoferin tinggi di dalam negeri adalah dengan seleksi bibit sapi perah