PENGGUNAAN KADAR PROTEIN RANSUM YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA AYAM
JANTAN PETELUR
THE EFFECT OF DIFFERENT PROTEIN LEVELS IN RATION ON PERFORMANCES OF LAYER
ROOSTERS
E Setiyono1, D Sudrajat2a, dan Anggraeni2
1 Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720. 2 Dosen Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720. a Korespondensi: Deden Sudrajat, E‐mail: [email protected] (Diterima: 29‐05‐2015; Ditelaah: 01‐06‐2015; Disetujui: 09‐06‐2015)
ABSTRACT
Farm business is still a relatively more efficient and faster in providing animal protein. Protein is
needed for growth and production of meat and it is a part of antibodi and enzymes in the body. The aim
of study is determine the effect of feeding with different protein levels on growth performance rooster
layer. The research was conducted on March 5, 2015 until May 10, 2015. The study located Kampung
Palasari RT 01 RW 06 Palasari Village, District Cijeruk, Bogor Regency. Chickens used for research was
90 DOC Males Layer of strain Lohman Brown, with an average weight 38 grams. Chicken feed with 21%,
18%, 23% of crude protein content of ration from the production of PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk
namely BR1 with 21% protein, Par S with 18% protein, and BBR with 23% crude protein. The study
used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 5 replications. The collected data was
analyzed with ANOVA and Duncan’s multiple‐range test. Results showed that the ration containing
different levels of proteins which is 18% protein up to 21% protein had no effect on feed intake, FCR,
mortality, and production index. The rations containing 18% protein could replace the ration control
(ration with 21% crude protein).
Key words: layer rooster, performance, protein.
ABSTRAK
Usaha peternakan ayam masih merupakan usaha yang efisien dalam menghasilkan protein. Protein
dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan enzim, dan antibodi dalam tubuh. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian pakan dengan protein berbeda
terhadap performa pertumbuhan ayam jantan petelur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05
Maret 2015 sampai dengan 10 Mei 2015 di kandang yang berlokasi Kampung Palasari RT 01 RW 06
Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Ayam yang digunakan untuk penelitian berjumlah
90 ekor DOC jantan Layer strain Lohman Brown, dengan berat badan rata‐rata 38 gram, pakan ayam
dengan kandungan protein kasar 21%, 18%, dan 23%. Ransum yang digunakan produksi dari PT. Japfa
Comfeed Indonesia Tbk yaitu BR 1 dengan protein kasar 21%, Par S yang protein kasarnya 18%, dan
BBR dengan protein kasar 23%. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan yang akan dianalisis dengan sidik ragam dan uji lanjut Duncan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum protein yang berbeda tidak berpengaruh terhadap
konsumsi pakan, FCR, mortalitas, dan indeks produksi. Ransum dengan protein kasar 18% bisa
menggantikan protein kontrol (protein kasar 21%).
Kata kunci: ayam jantan petelur, performa, protein.
Setiyono E, D Sudrajat, dan Anggraeni. 2015. Penggunaan kadar protein ransum yang berbeda terhadap
performa ayam jantan petelur. Jurnal Pertanian 6(2): 68‐74.
PENDAHULUAN
Saat ini peternakan ayam masih merupakan
usaha relatif efisien dan cepat dalam
menyediakan protein hewani. Selain itu,
peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan
kesejahteraan berdampak langsung terhadap
jumlah konsumsi berbagai jenis bahan pangan
dan bahan sumber protein salah satunya daging
ayam. Hal ini terbukti dengan semakin
meningkatnya konsumsi daging ayam perkapita
pertahun. Pada tahun 1970‐an, daging ayam
berkontribusi hanya 20% dalam memenuhi
kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.
Tahun 2012 daging ayam berkontribusi sebesar
66,8%, dengan 84,4% berasal dari daging ayam.
Berdasarkan data Gabungan Petani Peternak
Unggas (GPPU) pada tahun 2012 diprediksi
konsumsi karkas per kapita akan meningkat
menjadi 8,6 kg/kapita pada tahun 2013 ini, 9,97
kg/kapita pada tahun 2014: 11,45 kg/kapita pada
tahun 2015: 12,97 kg/kapita pada tahun 2016,
dan 14,49 kg/kapita pada tahun 2017 (Sugiyono
2012).
Permintaan daging ayam yang cenderung
meningkat mencerminkan selera masyarakat
yang baik terhadap produk‐produk hewani
tersebut. Kejadian ini tidak aneh karena produk‐
produk
tersebut
relatif
lebih
murah
dibandingkan dengan harga daging sapi. Peluang
masyarakat dengan memanfaatkan ayam jantan
petelur sebagai penghasil daging. Keuntungan
dari ayam ini yaitu harga DOC yang relatif murah,
harga jual masih memenuhi rasio manfaat,
rekayasa pakan masih dapat diusahakan, dan
rasa daging seperti ayam kampung.
Pakan merupakan komponen yang sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan suatu
peternakan dan merupakan komponen biaya
yang besar. Oleh karena itu, dilakukan
manajemen pakan yaitu dengan melihat kualitas
dan
kuantitas
pakan
sehingga
dapat
meningkatkan kecernaan pakan penyerapan zat‐
zat makanan dan efisiensi harga. Protein
merupakan
persenyawaan
organik
yang
mengandung unsur‐unsur karbon, hidrogen,
oksigen, dan nitrogen (Anggorodi 1995).
Protein adalah unsur pokok pembentuk alat
tubuh dan jaringan lunak tubuh aneka ternak
unggas. Protein diperlukan untuk pertumbuhan,
pengelolaan, dan produksi daging serta
merupakan bagian enzim dalam tubuh dan
antibodi. Rasyaf (2000) menyatakan bahwa
standar protein untuk stater adalah 20‐22%.
Ayam yang lebih tua membutuhkan protein yang
lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang
muda.
Selama ini peternak masih menggunakan
pakan
ayam
pedaging
(broiler)
dalam
pemeliharaanya dan belum ada standar yang
baku
untuk
penggunaan
protein
dalam
pemeliharan ayam jantan petelur. Oleh karena
itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
sejauh mana pengaruh pemberian pakan dengan
protein
berbeda
terhadap
performa
pertumbuhan ayam jantan petelur.
MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05
Maret 2015 sampai dengan 10 Mei 2015 di
kandang yang berlokasi di Kampung Palasari RT
01 RW 06 Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk,
Kabupaten Bogor.
Materi Penelitian
Ayam yang digunakan untuk penelitian
berjumlah 90 ekor DOC Jantan Layer strain
Lohman Brown, dengan berat badan rata‐rata +/‐
38 gram, pakan ayam dengan kandungan protein
kasar 21%, 18%, dan 23%. Kandang ayam yang
digunakan dengan ukuran 2,5 m x 2,5 m sejumlah
3 unit, dan setiap kandang dibagi mejadi 5
sekatan, masing‐masing berukuran 0,5 m x 0,5 m.
Peralatan dan perlengkapan kandang meliputi:
chick guard, tempat pakan, tempat minum, plastik
putih (plastik cor), timbangan digital, timbangan
50 kg, dan pemanas lampu bohlam 40 watt.
Ransum yang digunakan diproduksi dari PT.
Japfa Comfeed Indonesia Tbk yaitu BR 1 dengan
protein kasar 21%, Par S yang protein kasarnya
18%, dan BBR dengan protein kasar 23%.
Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum perlakuan
Kandungan Nutrisi
Jenis Pakan
P0
P1
P2
Air
11,50
11,55
11,15
Lemak
4,94
4,68
5,26
Serat Kasar
2,34
2,34
2,35
Protein
21,69
17,89
22,94
Abu
4,97
4,98
5,12
EM
2900
2900
3000
Sumber: Japfa Comfeed Indonesia Tbk.Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan 3 (tiga)
perlakuan dan 5 (lima) kali ulangan sehingga
total pengamatan 15 unit satuan pengamatan dan
setiap unit satuan pengamatan berjumlah 6 ekor.
Adapun ransum P0 dengan protein 21%, ransum
P1 dengan protein 18%, dan ransum P2 dengan
protein 23%.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan model matematika yang
digunakan adalah sebagai berikut.
Yij = µ + αi + Eij
Keterangan: Yij = pengamatan pada perlakuan ke‐i ulangan ke‐j; µ = rataan umum; αi = pengaruh
perlakuan; Eij = pengaruh acak pada perlakuan ke‐i ulangan ke‐j.
Analisis selanjutnya digunakan uji Duncan
apabila hasil perhitungan yang didapat berbeda
nyata.
Pelaksanaan Penelitian
Tahap kerja yang dilakukan pada saat penelitian
berlangsung adalah:
1. kandang yang berukuran 2,5 x 0,5 m dengan
jumlah 3 unit kandang, disekat menjadi 5
bagian yang lebih kecil sehingga ukuran per
unit percobaan adalah 0,5 m x 0,5 m;
2. mempersiapkan peralatan dan perlengkapan
kandang (sekam, tempat pakan, tempat
minum, seng, dan plastik cor) setelah
kandang dibersihkan dengan air dan
disucihamakan dengan desinfektan;
3. penimbangan ayam (DOC) saat datang;
4. pemberian pakan sesuai perlakuan dengan
protein 21%, 18%, 23% selama 45 hari;
5. pemeriksaan suhu pada masing‐masing
kandang dilakukan 6 kali dalam sehari yaitu
pada pukul 06.00, 08.00, 12.00, 16.00, 20.00,
dan 24.00 dilaksanakan sampai umur 45 hari;
6. penimbangan berat badan ayam setiap
minggu yaitu pada umur 7, 14, 21, 28, 35, 42,
dan 45 hari. Cara pengambilan sampel adalah
sebanyak 5 ekor setiap unit perlakuan. Data
diambil sampai umur 45 hari;
7. pemberian pakan dan minum ad libitum.
Peubah yang Diamati
Berikut ini adalah peubah‐peubah yang diamati
dalam penelitian.
1. Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang
dimakan per ekor ayam yang diukur setiap
minggu, dengan rumus sebagai berikut.
Konsumsi
pakan
=
Jumlah pakan yang
dikonsumsi (gram)
Populasi ayam (ekor)
2. Bobot badan. Pengukuran laju pertumbuhan
berat badan dilakukan dengan penimbangan
berat badan mingguan yang dilakukan semua.
3. Feed Covertion Ratio (FCR) adalah suatu
konversi atau imbangan sejumlah pakan yang
dikonsumsi
untuk
membentuk
atau
menghasilkan berat badan, semakin rendah
pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan
satu kilogram berat badan diukur setiap
minggunya dengan rumus:
FCR =
Total pakan yang dikonsumsi
(gram)
Total Bobot Badan (ekor)
4. Mortalitas.
Kematian
atau
mortalitas
berpengaruh terhadap indek performance,
sehingga dilakukan evaluasi mortalitas pada
masing masing perlakuan. Perhitungan
mortalitas sebagai berikut.
Mortalitas =
Jumlah Ayam mati
(ekor)
X 100%
Populasi Awal
(ekor)
5. Indek Produksi (IP). Untuk mencari nilai
indek produksi dengan rumus:
IP =
(100 ‐ % Mortalitas) X
Bobot Badan rata‐rata
X 100%
FCR X Umur rata‐rata
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan atau feed intake adalah jumlah
pakan yang dikonsumsi oleh ayam selama
periode
pemeliharaan.
Faktor
yang
mempengaruhi konsumsi pakan adalah bobot
badan, galur, tingkat produksi, tingkat cekaman,
aktifitas ternak, mortalitas, kandungan energi
dalam pakan dan suhu lingkungan (North dan
Bell 1990). Hasil penelitian tentang konsumsi
pakan disajikan pada Tabel 2. Perbedaan jumlah
konsumsi pakan yang tercapai pada masing‐
masing
perlakuan
menunjukkan
bahwa
perbedaan pemberian ransum protein berbeda
pengaruh pada konsumsi pakan.
Hasil analisis ragam menunjukkan antara
perlakuan P0, P1, dan P2 tidak berbeda nyata
pada minggu 1, 3, 5, dan 6. Hal ini menunjukan
bahwa pemakain ransum protein berbeda tidak
berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Faktor
yang dapat meningkatkan konsumsi pakan
adalah bentuk dan aroma ransum yang sehingga
ayam akan merasa nyaman dan sesuai dengan
ideal yang dibutuhkan. Kondisi ini selaras dengan
pendapat (Tillman et al. 1991) yang mengatakan
bahwa pembentukan berat tubuh berhubungan
dengan konsumsi ransum, semakin tinggi
konsumsi ransum maka berat tubuhnya akan
semakin berat, dan sebaliknya, semakin rendah
konsumsi ransum maka berat tubuhnya semakin
kecil pemenuhan kebutuhan zat‐zat makanan
dalam proses pertumbuhan.
Tabel 2. Konsumsi pakan pada masing‐masing perlakuan (gram/ekor)
Minggu
P0
P1
P2
1
61,67±0,00
61,67±0,00
61,67±0,00
2
123,33±1,17
a125,00±2,35
a120,00±0,91
b3
189,00±0,3,24
176,67±8,66
187,67±3,61
4
287,00±66,09
a310,8±70,41
b333,4±57,96
b5
293,67±28,85
301,00±35,73
336,46±26,58
6
526,00±49,84
461,80±119,26
513,67±37,20
Keterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P<0,05).Menurut Kartasudjana dan Suprijatna (2006),
ayam mengkonsumsi makanan untuk memenuhi
kebutuhan energi, sebelum kebutuhan energinya
terpenuhi ayam akan terus makan. Hasil
penelitian Ardiansyah (2012) menunjukkan
bahwa rata‐rata konsumsi ransum ayam jantan
tipe medium strain Lohman selama 7 minggu
yaitu 231,26 dan 229,73 g/ekor/minggu, lebih
tinggi bila dibandingkan dengan rata‐rata
konsumsi ransum ayam jantan petelur penelitian
ini yaitu P0 526,00 g/ekor/minggu, P1 461,80
g/ekor/minggu, dan P2 513,67 g/ekor/minggu.
Pertambahan Bobot Badan
Pencapaian berat badan dijadikan indikator
utama dalam pengukuran pertumbuhan sebagai
landasan bagi ukuran kecepatan relatif dalam
pertambahan berat per satuan waktu atau
ukuran mutlak setelah mencapai jangka waktu
tertentu. Rataan pencapaian berat badan rata
rata untuk masing masing perlakuan disajikan
pada Tabel 3.
Tabel 3. Pertambahan bobot badan ayam pejantan percobaan
Minggu
P0
P1
P2
1
67,00±5,90
61,84±6,72
68,00±2,55
2
126,42±7,20
121,47±10,35
131,60±3,67
3
197,84±17,95
a194,50±12,25
ab217,22±12,11
b4
275,00±17,91
a268,80±21,83
a300,00±10,88
b5
320,60±10,04
b295,80±9,80
a334,20±7,66
b6
468,60±18,50
a450,60±20,29
a515,60±25,62
bKeterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05).
Gambar 1. Kurva pertambahan bobot badan
ayam jantan petelur
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
pemakaian tidak berpengaruh nyata (P<0,05)
terhadap pencapaian bobot badan badan. Minggu
1 dan 2 namun pada minggu 3, 4, 5, dan 6
berbeda nyata, pada minggu 6 bobot badan pada
ransum 18% sama dengan bobot badan ayam
ransum 21%, namun lebih rendah dari ransum
23%. Pertambahan bobot badan bisa dilihat pada
Gambar 1 bahwa selama penelitian terdapat
kenaikan bobot badan per minggunya.
Konsumsi pakan berbanding lurus dengan
berat badan, apabila konsumsi pakan naik maka
pencapaian berat badan juga naik sehingga
adanya perubahan pada konsumsi pakan
menyebabkan perubahan pada berat badan
ayam. Konsumsi pakan meningkat menyebabkan
asupan kebutuhan nutrisi terpenuhi untuk
pembentukan jaringan tubuh. Rasyaf (2008)
menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat
adakalanya didukung dengan konsumsi ransum
yang banyak pula. Bila ransum diberikan tidak
terbatas atau ad libitum, ayam akan makan
sepuasnya hingga kenyang.
Pertambahan berat badan menunjukkan
kemampuan ayam untuk mengubah pakan
menjadi otot, jaringan tubuh, dan tulang. Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu strain
ayam, jenis kelamin, dan faktor lingkungan yang
mendukung. Laju pertambahan bobot badan
dapat diketahui dengan melakukan penimbangan
berat badan setiap minggunya. Menurut Rasyaf
(2000), kecepatan pertumbuhan merupakan hasil
interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik merupakan bawaan dari induk,
sedangkan
faktor
lingkungan
merupakan
penyempurnaan dan pencapaian maksimal
potensi faktor genetik. Rata‐rata Bobot badan
pada minggu ke‐6 yang diperoleh dari hasil
penelitian ini sebesar P0 468,60, P1 450,60, lebih
rendah dan P2 515,60 lebih tinggi dari hasil
penelitian Aryanti et al. (2014) yang memperoleh
rata‐rata bobot badan sebesar 244,0 pada ayam
kampung pedaging yang dipelihara selama enam
minggu.
Feed Conversion Ratio (FCR)
Menurut Card dan Nasheim (1972), menyatakan
bahwa semakin tinggi nilai konversi pakan
berarti
pakan
yang
dibutuhkan
untuk
meningkatkan bobot badan semakin banyak atau
efisiensi penggunaan pakan semakin menurun.
Menurut James et al. (2002), faktor yang
mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi
dalam pakan, genetik, temperatur, zat aditif yang
digunakan dalam ransum dan manjemen. Rataan
pencapaian FCR masing masing perlakuan
disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan FCR pada masing‐masing perlakuan
Minggu
P0
P1
P2
1
0,94±0,07
0,97±0,07
0,92±0,03
2
1,49±0,79
a1,55±0,14
a1,39±0,34
b3
1,88±0,15
a1,88±0,08
a1,70±0,10
b4
2,45±0,35
2,51±0,25
2,34±0,12
5
3,08±0,19
3,19±0,20
3,00±0,08
6
3,17±0,27
3,20±0,56
3,02±0,21
Rata‐rata
2,17
2,19
2,06
Keterangan: nilai dengan superskrip sama pada baris yang berbeda menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05).Berkaitan dengan bertambahnya konsumsi
pakan dan bertambahnya berat badan. Umur
pemeliharaan lebih lama menyebabkan naiknya
konsumsi pakan dan berat badan sehingga nilai
konversi pakan juga naik. Kenaikan nilai konversi
pakan secara grafik tingkat kenaikannnya lebih
rendah dibandingkan dengan pertambahan berat
badan. Konversi pakan diperlukan untuk
menggambarkan sejauh mana efektivitas biologis
pemanfaatan zat dalam pakan.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa
adanya perbedaan nyata (P>0,05) pada
perlakuan. Perbedaan nyata FCR pada minggu ke‐
2 yaitu antara P2 dengan P1 dan pada minggu ke‐
3 P2, dan P1 tidak berbeda nyata dengan P0
dengan pemakaian protein yang berbeda tidak
berpengaruh terhadap FCR. Nilai konversi
ransum ayam jantan petelur dipengaruhi oleh
konsumsi ransum dan bobot badan akhir jantan
petelur. Apabila memperhatikan dari sudut
konversi, sebaiknya dipilih angka konversi yang
terendah, namun angka itu berbeda dari masa
awal ke masa akhir karena konsumsi pakan akan
terus bertambah (Rasyaf 2008). Rata‐rata
konversi ransum yang diperoleh dari hasil
penelitian ini sebesar P0 2,17, P1 2,19, lebih
tinggi dan P2 2,06 lebih rendah dengan hasil
penelitian Ardiansyah (2012) yang memperoleh
rata‐rata konversi ransum sebesar 2,07‐2,09
pada ayam jantan tipe medium yang dipelihara
selama tujuh minggu.
Mortalitas
Kematian ternak merupakan hal yang perlu
mendapatkan perhatian khusus karena angka
kematian (mortalitas) merupakan salah satu
petunjuk menilai keberhasilan suatu usaha
peternakan. Angka kematian dapat ditekan
dengan manajemen yang baik, di antaranya
dengan tatalaksana pemeliharaan, kualitas
ransum, air minum, dan sumber daya manusia
yang baik. Menurut Rasyaf (2000), faktor yang
mempengaruhi mortalitas yaitu lingkungan,
perubahan musim, kebersihan kandang, dan
kualitas DOC. Mortalitas masing masing
perlakuan ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Mortalitas pada masing masing
perlakuan (%)
Minggu
P0
P1
P2
1
0
0,17
0
2
0,17
0
0
3
0,17
0
0,17
4
0
0
0
5
0
0,17
0
6
0
0
0
Keterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05)