• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN KADAR PROTEIN RANSUM YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA AYAM JANTAN PETELUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGGUNAAN KADAR PROTEIN RANSUM YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA AYAM JANTAN PETELUR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN KADAR PROTEIN RANSUM YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMA AYAM

JANTAN PETELUR

THE EFFECT OF DIFFERENT PROTEIN LEVELS IN RATION ON PERFORMANCES OF LAYER

ROOSTERS

E Setiyono1, D Sudrajat2a, dan Anggraeni2

1 Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720. 2 Dosen Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda Bogor Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720. a Korespondensi: Deden Sudrajat, E‐mail: [email protected] (Diterima: 29‐05‐2015; Ditelaah: 01‐06‐2015; Disetujui: 09‐06‐2015)

ABSTRACT

Farm business is still a relatively more efficient and faster in providing animal protein. Protein is

needed for growth and production of meat and it is a part of antibodi and enzymes in the body. The aim

of study is determine the effect of feeding with different protein levels on growth performance rooster

layer. The research was conducted on March 5, 2015 until May 10, 2015. The study located Kampung

Palasari RT 01 RW 06 Palasari Village, District Cijeruk, Bogor Regency. Chickens used for research was

90 DOC Males Layer of strain Lohman Brown, with an average weight 38 grams. Chicken feed with 21%,

18%, 23% of crude protein content of ration from the production of PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk

namely BR1 with 21% protein, Par S with 18% protein, and BBR with 23% crude protein. The study

used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 5 replications. The collected data was

analyzed with ANOVA and Duncan’s multiple‐range test. Results showed that the ration containing

different levels of proteins which is 18% protein up to 21% protein had no effect on feed intake, FCR,

mortality, and production index. The rations containing 18% protein could replace the ration control

(ration with 21% crude protein).

Key words: layer rooster, performance, protein.

ABSTRAK

Usaha peternakan ayam masih merupakan usaha yang efisien dalam menghasilkan protein. Protein

dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan enzim, dan antibodi dalam tubuh. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian pakan dengan protein berbeda

terhadap performa pertumbuhan ayam jantan petelur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05

Maret 2015 sampai dengan 10 Mei 2015 di kandang yang berlokasi Kampung Palasari RT 01 RW 06

Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Ayam yang digunakan untuk penelitian berjumlah

90 ekor DOC jantan Layer strain Lohman Brown, dengan berat badan rata‐rata 38 gram, pakan ayam

dengan kandungan protein kasar 21%, 18%, dan 23%. Ransum yang digunakan produksi dari PT. Japfa

Comfeed Indonesia Tbk yaitu BR 1 dengan protein kasar 21%, Par S yang protein kasarnya 18%, dan

BBR dengan protein kasar 23%. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)

dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan yang akan dianalisis dengan sidik ragam dan uji lanjut Duncan. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum protein yang berbeda tidak berpengaruh terhadap

konsumsi pakan, FCR, mortalitas, dan indeks produksi. Ransum dengan protein kasar 18% bisa

menggantikan protein kontrol (protein kasar 21%).

Kata kunci: ayam jantan petelur, performa, protein.

Setiyono E, D Sudrajat, dan Anggraeni. 2015. Penggunaan kadar protein ransum yang berbeda terhadap

performa ayam jantan petelur. Jurnal Pertanian 6(2): 68‐74.

(2)

PENDAHULUAN

Saat ini peternakan ayam masih merupakan

usaha relatif efisien dan cepat dalam

menyediakan protein hewani. Selain itu,

peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan

kesejahteraan berdampak langsung terhadap

jumlah konsumsi berbagai jenis bahan pangan

dan bahan sumber protein salah satunya daging

ayam. Hal ini terbukti dengan semakin

meningkatnya konsumsi daging ayam perkapita

pertahun. Pada tahun 1970‐an, daging ayam

berkontribusi hanya 20% dalam memenuhi

kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.

Tahun 2012 daging ayam berkontribusi sebesar

66,8%, dengan 84,4% berasal dari daging ayam.

Berdasarkan data Gabungan Petani Peternak

Unggas (GPPU) pada tahun 2012 diprediksi

konsumsi karkas per kapita akan meningkat

menjadi 8,6 kg/kapita pada tahun 2013 ini, 9,97

kg/kapita pada tahun 2014: 11,45 kg/kapita pada

tahun 2015: 12,97 kg/kapita pada tahun 2016,

dan 14,49 kg/kapita pada tahun 2017 (Sugiyono

2012).

Permintaan daging ayam yang cenderung

meningkat mencerminkan selera masyarakat

yang baik terhadap produk‐produk hewani

tersebut. Kejadian ini tidak aneh karena produk‐

produk

tersebut

relatif

lebih

murah

dibandingkan dengan harga daging sapi. Peluang

masyarakat dengan memanfaatkan ayam jantan

petelur sebagai penghasil daging. Keuntungan

dari ayam ini yaitu harga DOC yang relatif murah,

harga jual masih memenuhi rasio manfaat,

rekayasa pakan masih dapat diusahakan, dan

rasa daging seperti ayam kampung.

Pakan merupakan komponen yang sangat

berpengaruh terhadap keberhasilan suatu

peternakan dan merupakan komponen biaya

yang besar. Oleh karena itu, dilakukan

manajemen pakan yaitu dengan melihat kualitas

dan

kuantitas

pakan

sehingga

dapat

meningkatkan kecernaan pakan penyerapan zat‐

zat makanan dan efisiensi harga. Protein

merupakan

persenyawaan

organik

yang

mengandung unsur‐unsur karbon, hidrogen,

oksigen, dan nitrogen (Anggorodi 1995).

Protein adalah unsur pokok pembentuk alat

tubuh dan jaringan lunak tubuh aneka ternak

unggas. Protein diperlukan untuk pertumbuhan,

pengelolaan, dan produksi daging serta

merupakan bagian enzim dalam tubuh dan

antibodi. Rasyaf (2000) menyatakan bahwa

standar protein untuk stater adalah 20‐22%.

Ayam yang lebih tua membutuhkan protein yang

lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang

muda.

Selama ini peternak masih menggunakan

pakan

ayam

pedaging

(broiler)

dalam

pemeliharaanya dan belum ada standar yang

baku

untuk

penggunaan

protein

dalam

pemeliharan ayam jantan petelur. Oleh karena

itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

sejauh mana pengaruh pemberian pakan dengan

protein

berbeda

terhadap

performa

pertumbuhan ayam jantan petelur.

MATERI DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05

Maret 2015 sampai dengan 10 Mei 2015 di

kandang yang berlokasi di Kampung Palasari RT

01 RW 06 Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk,

Kabupaten Bogor.

Materi Penelitian

Ayam yang digunakan untuk penelitian

berjumlah 90 ekor DOC Jantan Layer strain

Lohman Brown, dengan berat badan rata‐rata +/‐

38 gram, pakan ayam dengan kandungan protein

kasar 21%, 18%, dan 23%. Kandang ayam yang

digunakan dengan ukuran 2,5 m x 2,5 m sejumlah

3 unit, dan setiap kandang dibagi mejadi 5

sekatan, masing‐masing berukuran 0,5 m x 0,5 m.

Peralatan dan perlengkapan kandang meliputi:

chick guard, tempat pakan, tempat minum, plastik

putih (plastik cor), timbangan digital, timbangan

50 kg, dan pemanas lampu bohlam 40 watt.

Ransum yang digunakan diproduksi dari PT.

Japfa Comfeed Indonesia Tbk yaitu BR 1 dengan

protein kasar 21%, Par S yang protein kasarnya

18%, dan BBR dengan protein kasar 23%.

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum perlakuan

Kandungan Nutrisi

Jenis Pakan

P0

P1

P2

Air

11,50

11,55

11,15

Lemak

4,94

4,68

5,26

Serat Kasar

2,34

2,34

2,35

Protein

21,69

17,89

22,94

Abu

4,97

4,98

5,12

EM

2900

2900

3000

Sumber: Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan 3 (tiga)

perlakuan dan 5 (lima) kali ulangan sehingga

(3)

total pengamatan 15 unit satuan pengamatan dan

setiap unit satuan pengamatan berjumlah 6 ekor.

Adapun ransum P0 dengan protein 21%, ransum

P1 dengan protein 18%, dan ransum P2 dengan

protein 23%.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) dengan model matematika yang

digunakan adalah sebagai berikut.

Yij = µ + αi + Eij

Keterangan: Yij = pengamatan pada perlakuan ke‐i ulangan ke‐j; µ = rataan umum; αi = pengaruh

perlakuan; Eij = pengaruh acak pada perlakuan ke‐i ulangan ke‐j.

Analisis selanjutnya digunakan uji Duncan

apabila hasil perhitungan yang didapat berbeda

nyata.

Pelaksanaan Penelitian

Tahap kerja yang dilakukan pada saat penelitian

berlangsung adalah:

1. kandang yang berukuran 2,5 x 0,5 m dengan

jumlah 3 unit kandang, disekat menjadi 5

bagian yang lebih kecil sehingga ukuran per

unit percobaan adalah 0,5 m x 0,5 m;

2. mempersiapkan peralatan dan perlengkapan

kandang (sekam, tempat pakan, tempat

minum, seng, dan plastik cor) setelah

kandang dibersihkan dengan air dan

disucihamakan dengan desinfektan;

3. penimbangan ayam (DOC) saat datang;

4. pemberian pakan sesuai perlakuan dengan

protein 21%, 18%, 23% selama 45 hari;

5. pemeriksaan suhu pada masing‐masing

kandang dilakukan 6 kali dalam sehari yaitu

pada pukul 06.00, 08.00, 12.00, 16.00, 20.00,

dan 24.00 dilaksanakan sampai umur 45 hari;

6. penimbangan berat badan ayam setiap

minggu yaitu pada umur 7, 14, 21, 28, 35, 42,

dan 45 hari. Cara pengambilan sampel adalah

sebanyak 5 ekor setiap unit perlakuan. Data

diambil sampai umur 45 hari;

7. pemberian pakan dan minum ad libitum.

Peubah yang Diamati

Berikut ini adalah peubah‐peubah yang diamati

dalam penelitian.

1. Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang

dimakan per ekor ayam yang diukur setiap

minggu, dengan rumus sebagai berikut.

Konsumsi

pakan

=

Jumlah pakan yang

dikonsumsi (gram)

Populasi ayam (ekor)

2. Bobot badan. Pengukuran laju pertumbuhan

berat badan dilakukan dengan penimbangan

berat badan mingguan yang dilakukan semua.

3. Feed Covertion Ratio (FCR) adalah suatu

konversi atau imbangan sejumlah pakan yang

dikonsumsi

untuk

membentuk

atau

menghasilkan berat badan, semakin rendah

pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan

satu kilogram berat badan diukur setiap

minggunya dengan rumus:

FCR =

Total pakan yang dikonsumsi

(gram)

Total Bobot Badan (ekor)

4. Mortalitas.

Kematian

atau

mortalitas

berpengaruh terhadap indek performance,

sehingga dilakukan evaluasi mortalitas pada

masing masing perlakuan. Perhitungan

mortalitas sebagai berikut.

Mortalitas =

Jumlah Ayam mati

(ekor)

X 100%

Populasi Awal

(ekor)

5. Indek Produksi (IP). Untuk mencari nilai

indek produksi dengan rumus:

IP =

(100 ‐ % Mortalitas) X

Bobot Badan rata‐rata

X 100%

FCR X Umur rata‐rata

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan atau feed intake adalah jumlah

pakan yang dikonsumsi oleh ayam selama

periode

pemeliharaan.

Faktor

yang

mempengaruhi konsumsi pakan adalah bobot

badan, galur, tingkat produksi, tingkat cekaman,

aktifitas ternak, mortalitas, kandungan energi

dalam pakan dan suhu lingkungan (North dan

Bell 1990). Hasil penelitian tentang konsumsi

pakan disajikan pada Tabel 2. Perbedaan jumlah

konsumsi pakan yang tercapai pada masing‐

masing

perlakuan

menunjukkan

bahwa

perbedaan pemberian ransum protein berbeda

pengaruh pada konsumsi pakan.

Hasil analisis ragam menunjukkan antara

perlakuan P0, P1, dan P2 tidak berbeda nyata

pada minggu 1, 3, 5, dan 6. Hal ini menunjukan

bahwa pemakain ransum protein berbeda tidak

berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Faktor

yang dapat meningkatkan konsumsi pakan

adalah bentuk dan aroma ransum yang sehingga

ayam akan merasa nyaman dan sesuai dengan

ideal yang dibutuhkan. Kondisi ini selaras dengan

(4)

pendapat (Tillman et al. 1991) yang mengatakan

bahwa pembentukan berat tubuh berhubungan

dengan konsumsi ransum, semakin tinggi

konsumsi ransum maka berat tubuhnya akan

semakin berat, dan sebaliknya, semakin rendah

konsumsi ransum maka berat tubuhnya semakin

kecil pemenuhan kebutuhan zat‐zat makanan

dalam proses pertumbuhan.

Tabel 2. Konsumsi pakan pada masing‐masing perlakuan (gram/ekor)

Minggu

P0

P1

P2

1

61,67±0,00

61,67±0,00

61,67±0,00

2

123,33±1,17

a

125,00±2,35

a

120,00±0,91

b

3

189,00±0,3,24

176,67±8,66

187,67±3,61

4

287,00±66,09

a

310,8±70,41

b

333,4±57,96

b

5

293,67±28,85

301,00±35,73

336,46±26,58

6

526,00±49,84

461,80±119,26

513,67±37,20

Keterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P<0,05).

Menurut Kartasudjana dan Suprijatna (2006),

ayam mengkonsumsi makanan untuk memenuhi

kebutuhan energi, sebelum kebutuhan energinya

terpenuhi ayam akan terus makan. Hasil

penelitian Ardiansyah (2012) menunjukkan

bahwa rata‐rata konsumsi ransum ayam jantan

tipe medium strain Lohman selama 7 minggu

yaitu 231,26 dan 229,73 g/ekor/minggu, lebih

tinggi bila dibandingkan dengan rata‐rata

konsumsi ransum ayam jantan petelur penelitian

ini yaitu P0 526,00 g/ekor/minggu, P1 461,80

g/ekor/minggu, dan P2 513,67 g/ekor/minggu.

Pertambahan Bobot Badan

Pencapaian berat badan dijadikan indikator

utama dalam pengukuran pertumbuhan sebagai

landasan bagi ukuran kecepatan relatif dalam

pertambahan berat per satuan waktu atau

ukuran mutlak setelah mencapai jangka waktu

tertentu. Rataan pencapaian berat badan rata

rata untuk masing masing perlakuan disajikan

pada Tabel 3.

Tabel 3. Pertambahan bobot badan ayam pejantan percobaan

Minggu

P0

P1

P2

1

67,00±5,90

61,84±6,72

68,00±2,55

2

126,42±7,20

121,47±10,35

131,60±3,67

3

197,84±17,95

a

194,50±12,25

ab

217,22±12,11

b

4

275,00±17,91

a

268,80±21,83

a

300,00±10,88

b

5

320,60±10,04

b

295,80±9,80

a

334,20±7,66

b

6

468,60±18,50

a

450,60±20,29

a

515,60±25,62

b

Keterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05).

Gambar 1. Kurva pertambahan bobot badan

ayam jantan petelur

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa

pemakaian tidak berpengaruh nyata (P<0,05)

terhadap pencapaian bobot badan badan. Minggu

1 dan 2 namun pada minggu 3, 4, 5, dan 6

berbeda nyata, pada minggu 6 bobot badan pada

ransum 18% sama dengan bobot badan ayam

ransum 21%, namun lebih rendah dari ransum

23%. Pertambahan bobot badan bisa dilihat pada

Gambar 1 bahwa selama penelitian terdapat

kenaikan bobot badan per minggunya.

Konsumsi pakan berbanding lurus dengan

berat badan, apabila konsumsi pakan naik maka

pencapaian berat badan juga naik sehingga

adanya perubahan pada konsumsi pakan

menyebabkan perubahan pada berat badan

ayam. Konsumsi pakan meningkat menyebabkan

asupan kebutuhan nutrisi terpenuhi untuk

pembentukan jaringan tubuh. Rasyaf (2008)

menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat

(5)

adakalanya didukung dengan konsumsi ransum

yang banyak pula. Bila ransum diberikan tidak

terbatas atau ad libitum, ayam akan makan

sepuasnya hingga kenyang.

Pertambahan berat badan menunjukkan

kemampuan ayam untuk mengubah pakan

menjadi otot, jaringan tubuh, dan tulang. Faktor

yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu strain

ayam, jenis kelamin, dan faktor lingkungan yang

mendukung. Laju pertambahan bobot badan

dapat diketahui dengan melakukan penimbangan

berat badan setiap minggunya. Menurut Rasyaf

(2000), kecepatan pertumbuhan merupakan hasil

interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.

Faktor genetik merupakan bawaan dari induk,

sedangkan

faktor

lingkungan

merupakan

penyempurnaan dan pencapaian maksimal

potensi faktor genetik. Rata‐rata Bobot badan

pada minggu ke‐6 yang diperoleh dari hasil

penelitian ini sebesar P0 468,60, P1 450,60, lebih

rendah dan P2 515,60 lebih tinggi dari hasil

penelitian Aryanti et al. (2014) yang memperoleh

rata‐rata bobot badan sebesar 244,0 pada ayam

kampung pedaging yang dipelihara selama enam

minggu.

Feed Conversion Ratio (FCR)

Menurut Card dan Nasheim (1972), menyatakan

bahwa semakin tinggi nilai konversi pakan

berarti

pakan

yang

dibutuhkan

untuk

meningkatkan bobot badan semakin banyak atau

efisiensi penggunaan pakan semakin menurun.

Menurut James et al. (2002), faktor yang

mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi

dalam pakan, genetik, temperatur, zat aditif yang

digunakan dalam ransum dan manjemen. Rataan

pencapaian FCR masing masing perlakuan

disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan FCR pada masing‐masing perlakuan

Minggu

P0

P1

P2

1

0,94±0,07

0,97±0,07

0,92±0,03

2

1,49±0,79

a

1,55±0,14

a

1,39±0,34

b

3

1,88±0,15

a

1,88±0,08

a

1,70±0,10

b

4

2,45±0,35

2,51±0,25

2,34±0,12

5

3,08±0,19

3,19±0,20

3,00±0,08

6

3,17±0,27

3,20±0,56

3,02±0,21

Rata‐rata

2,17

2,19

2,06

Keterangan: nilai dengan superskrip sama pada baris yang berbeda menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05).

Berkaitan dengan bertambahnya konsumsi

pakan dan bertambahnya berat badan. Umur

pemeliharaan lebih lama menyebabkan naiknya

konsumsi pakan dan berat badan sehingga nilai

konversi pakan juga naik. Kenaikan nilai konversi

pakan secara grafik tingkat kenaikannnya lebih

rendah dibandingkan dengan pertambahan berat

badan. Konversi pakan diperlukan untuk

menggambarkan sejauh mana efektivitas biologis

pemanfaatan zat dalam pakan.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa

adanya perbedaan nyata (P>0,05) pada

perlakuan. Perbedaan nyata FCR pada minggu ke‐

2 yaitu antara P2 dengan P1 dan pada minggu ke‐

3 P2, dan P1 tidak berbeda nyata dengan P0

dengan pemakaian protein yang berbeda tidak

berpengaruh terhadap FCR. Nilai konversi

ransum ayam jantan petelur dipengaruhi oleh

konsumsi ransum dan bobot badan akhir jantan

petelur. Apabila memperhatikan dari sudut

konversi, sebaiknya dipilih angka konversi yang

terendah, namun angka itu berbeda dari masa

awal ke masa akhir karena konsumsi pakan akan

terus bertambah (Rasyaf 2008). Rata‐rata

konversi ransum yang diperoleh dari hasil

penelitian ini sebesar P0 2,17, P1 2,19, lebih

tinggi dan P2 2,06 lebih rendah dengan hasil

penelitian Ardiansyah (2012) yang memperoleh

rata‐rata konversi ransum sebesar 2,07‐2,09

pada ayam jantan tipe medium yang dipelihara

selama tujuh minggu.

Mortalitas

Kematian ternak merupakan hal yang perlu

mendapatkan perhatian khusus karena angka

kematian (mortalitas) merupakan salah satu

petunjuk menilai keberhasilan suatu usaha

peternakan. Angka kematian dapat ditekan

dengan manajemen yang baik, di antaranya

dengan tatalaksana pemeliharaan, kualitas

ransum, air minum, dan sumber daya manusia

yang baik. Menurut Rasyaf (2000), faktor yang

mempengaruhi mortalitas yaitu lingkungan,

perubahan musim, kebersihan kandang, dan

kualitas DOC. Mortalitas masing masing

perlakuan ditunjukkan pada Tabel 5.

(6)

Tabel 5. Mortalitas pada masing masing

perlakuan (%)

Minggu

P0

P1

P2

1

0

0,17

0

2

0,17

0

0

3

0,17

0

0,17

4

0

0

0

5

0

0,17

0

6

0

0

0

Keterangan: nilai dengan superskrip berbeda pada baris yang berbeda menunjukan berbeda nyata pada taraf 5% (P 0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa

pemakaian

protein

yang

berbeda

tidak

berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap mortalitas

ayam jantan petelur. Faktor yang mempengaruhi

tingkat mortalitas pada waktu penelitian karena

cuaca pada siang panas dan pada sore dan malam

dingin karena hujan.

Indeks Produksi (IP)

Nilai indeks produksi (IP) ayam jantan petelur

selama penelitian pada perlakuan P0 70,41±5,98,

P1 71,15±12,10, dan P2 73,97±5,18. Berdasarkan

nilai indek produksi (IP) tertingi diperoleh pada

perlakuan P2. Hal ini berarti penggunaan protein

berbeda P2 menghasilkan hasil yang terbaik

dibanding perlakuan P0 dan P1.

Faktor yang mempengaruhi nilai indek

performa yang maksimal adalah: rata‐rata berat

ayam saat panen, persentase kematian, rata‐rata

umur panen, dan Feed Conversion Ratio (FCR).

Penghitungan Indek Produksi (IP) berfungsi

sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan dalam

beternak dan rapor bagi peternak jantan petelur

sehingga faktor‐faktor yang mempengaruhi nilai

IP harus senantiasa diperhatikan secara seksama

agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Nilai indek produksi menunjukkan tingkat

efisiensi dalam pemeliharaan jantan petelur

(Pokphand 2005). Indek Produksi (IP) diartikan

baik apabila didukung kematian yang rendah,

berat badan yang tinggi, dan efisien dalam

penggunaan pakan. Nilai indek produksi akan

tinggi apabila didukung dengan faktor genetik

yang baik dan kualitas pakan yang baik. Faktor

lain yang mempunyai peran penting adalah

manajemen pemeliharaan yang baik. Manajemen

pemeliharaan diartikan baik apabila dapat

meminimalkan

kesalahan

pada

fase

pemeliharaan, yaitu fase brooding sampai panen.

Pengaruh dari faktor genetik, pakan, dan

manajemen

yang

baik.

Tujuan

akhir

memaksimalkan faktor di atas adalah tercapainya

indek produksi (IP) yang tinggi sehingga

berpengaruh terhadap biaya pemeliharaan ayam

Jantan petelur. Hal ini sesuai dengan pernyataan

Fadilah (2004) yang menyatakan bahwa nilai IP

yang tinggi juga dapat diartikan semakin efisien

biaya yang dipakai untuk usaha tersebut.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan

bahwa pemakaian ransum dengan protein yang

berbeda yaitu protein kasar 18%, protein kasar

21%, dan protein kasar 23% tidak berpengaruh

terhadap konsumsi pakan, FCR, mortalitas,

indeks produksi. Ransum dengan protein kasar

18% bisa mengantikan ransum dengan protein

kontrol (protein kasar 21%) untuk pemberian

pakan ayam jantan petelur.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi R. 1985. Kemajuan mutakhir dalam

ilmu makanan ternak unggas. Gramedia,

Jakarta.

Ardiansyah F. 2012. Perbandingan performa dua

strain ayam jantan tipe medium ynag di beri

ransum

komersial

broiler.

Universitas

Lampung, Lampung.

Aryanti F, MB Aji, dan N Budiono. 2014.

Penggaruh pemberian gula merah terhadap

performa ayam kampung pedaging. Balai

Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, Bogor.

Card LE dan MC Nasheim. 1972. Poultry

production. Lea and Febiger, Philadephia.

Fadilah R. 2004. Ayam broiler komersil. Cetakan

ke‐2. Agromedia Pustaka, Jakarta.

James BW, JM DeRouchey, MD Tokach, JL Nelssen,

RD Goodband, SS Dritz, dan JC Woodworth.

2002. Comparison of spray‐dried blood meal

and blood cells in diets for nursery

pigs. Department of Animal Sciences and

Industry Kansas State University, Manhattan.

Kartasudjana A dan EU Suprijatna. 2006. Ilmu

dasar ternak unggas. Penebar Swadaya,

Jakarta.

Lohman. 2004. Manual guide lohmann layer.

Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Jakarta.

North MO dan DD Bell. 1990. Commercial chicken

production manual. 4th Edition.Van Northland

Reinhold, NewYork.

Pokphand C. 2005. Charoen Pokphand broiler

breeder guide principles. Tidak diterbitkan.

Charoen Pokphand.

Rasyaf M. 2000. Manjemen peternakan ayam

broiler. Penebar Swadaya, Jakarta.

(7)

Rasyaf M. 2008. Panduan beternak ayam

pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sugiyono. 2012. Seminar nasional peruggasan.

Bisnis, Jakarta. Diunduh pada 10 Juli 2014 dari

http//www. Livestockreview.com.

Tillman

ADS,

Reksohadiprodjo,

S

Prawirokusumo, dan S Lebdosoekoso. 1998.

Ilmu makanan ternak dasar. Gadjah Mada

University Press, Yogyakarta.

Gambar

Gambar	 1.	 Kurva	 pertambahan	 bobot	 badan		 ayam	jantan	petelur

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemikiran di atas, dengan penambahan konsentrat dalam ransum basal dengan kandungan level protein kasar berbeda secara berturut-turut yaitu 13%, 16%, dan 19%

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum dengan kadar protein kasar berbeda terhadap pertumbuhan itik betina mojosari dan mengetahui perlakuan yang

Ransum dengan energi metabolis yang relatif sama dalam penelitian, pada pemberian protein kasar 8,38% dan 11,30% ayam KUB akan berusaha memenuhi kebutuhan protein

Hal ini disebabkan tidak seim- bangnya kandungan protein kasar dan energi metabolism dalam ransum, dan jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0), maka konsumsi

Hasil penelitan menunjukkan bahwa pemberian level protein-energi ransum yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (P &gt; 0.05) terhadap berat telur, tebal

Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa performa ayam dara ras petelur yang diberikan sumber kalsium fosfor berbeda dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak

Berdasarkan hasil data konsumsi protein kasar (Lampiran 2) dan protein kasar ekskreta (Lampiran 12) dapat diperoleh bahwa rataan retensi protein kasar ransum ayam broiler yang

(1) ransum perlakuan yang diberikan dengan kadar protein kasar yang berbeda yaitu 16, 18, 20, dan 22% tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi pernapasan, frekuensi denyut