• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAMAN VERTIKAL UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN UDARA PADA RUMAH SUSUN DI PULOGEBANG JAKTIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TAMAN VERTIKAL UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN UDARA PADA RUMAH SUSUN DI PULOGEBANG JAKTIM"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TAMAN VERTIKAL UNTUK

MENGURANGI PENCEMARAN UDARA

PADA RUMAH SUSUN DI PULOGEBANG

JAKTIM

Aditya Veterna W, Riyadi Ismanto, Riva Tomasowa

Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur Universitas Bina Nusantara

Jl. K.H. Syahdan No.9 Jakarta Barat 11480 [email protected]

ABSTRACT

Jakarta is the capital of Indonesia, which is very dense population, buildings and transportation. This is certainly cause some problems that often affects people in the capital, one of which is the problem of air pollution, which is caused by the pollution released by vehicles and industrial plants, as well as the lack of green open space that also be the cause. One of the areas prone to air pollution is East Jakarta, where in the area will be built a lot of flats by the government as a means for the people who live in crowded areas that are not habitable. With the phenomenon that occurred in the capital, namely the existence of green open space decreases continuously, so one way to increase the green area is the application of vertical garden to be applied to the building of flats. The method used in this research is to test the air quality at the site location so known how much air pollution, and air pollution will be reduced by a vertical garden that is applied to the flats in this project, which is expected to create an apartment building healthy, environmentally friendly, and has an attractive visual impression. (AV).

Keyword : Flats, Vertical garden, Air polution

ABSTRAK

Jakarta merupakan ibukota Indonesia yang sangat padat akan penduduk, bangunan dan transportasinya. Hal ini tentunya menyebabkan beberapa permasalahan yang seringkali melanda masyarakat di ibukota, salah satunya adalah masalah pencemaran udara, yang disebabkan oleh banyaknya polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor dan pabrik industri, serta kurangnya ruang terbuka hijau yang juga jadi penyebabnya. Salah satu daerah yang rawan akan pencemaran udaranya adalah Jakarta Timur, dimana pada daerah tersebut akan dibangun banyak rumah susun oleh pemerintah sebagai sarana bagi masyarakat yang tinggal di permukiman padat yang sudah tidak layak huni. Dengan Fenomena yang terjadi di ibukota yaitu keberadaan RTH (Ruang Terbuka Hijau) berkurang terus-menerus, maka salah satu cara untuk menambah area hijau adalah diterapkannya penghijauan secara vertikal yang akan diterapkan pada bangunan rumah susun. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan melakukan uji kualitas udara pada lokasi tapak sehingga diketahui berapa jumlah pencemaran udaranya, kemudian pencemaran udara tersebut akan direduksi oleh taman vertikal yang diterapkan pada rumah susun di proyek ini, sehingga diharapkan dapat tercipta sebuah bangunan rumah susun yang sehat, ramah lingkungan, serta memiliki kesan visual yang menarik. (AV).

(2)

PENDAHULUAN

Jakarta adalah ibu kota Indonesia yang merupakan salah satu dari 10 kota terbesar di dunia. Dengan luas 66.000 hektar, jumlah penduduk di Jakarta cukup padat, yaitu mencapai rata-rata 15.000 jiwa per km2. Pada malam hari memiliki 9,6 juta penduduk, sedangkan disiang hari memiliki 20 juta penduduk. Hal ini terjadi karena banyaknya migrasi para pekerja yang tinggal di luar Jakarta namun bekerja di Jakarta..Dengan kepadatan itu, Jakarta memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi yang berakibat frekuensi tranportasi yang tinggi.Hal ini menimbulkan beberapa masalah umum, salah satunya adalah masalah pencemaran udara.

Pencemaran udara di kota-kota besar disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kendaraan bermotor, limbah industri pabrik, pembangkit lstrik, pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar). Tidak bisa dipungkiri kalau Jakarta adalah kota paling polutif di Indonesia. Menurut Isna Marifat M.Sc., Ketua Penyelenggara Segar Jakartaku, 70 persen pencemaran udara Jakarta disebabkan oleh kendaraan bermotor.Menurut beliau permasalahan polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan terutama dikota-kota besar. Tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di kota-kota besar di Indonesia cukup tinggi yaitu berkisar 8-12% per tahun (Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas (Januari 2000)). Penyebab lain dari meningkatnya laju polusi di Jakarta adalah kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) kota. Dengan semakin padatnya kota yang disebabkan oleh maraknya pembangunan, maka masalah kurangnya RTH kota ini, juga merupakan masalah yang serius.

Berdasarkan permasalahan pencemaran udara di atas, salah satu solusi paling efektif untuk menanggulanginya adalah dengan memperbanyak tanaman di dalam kota. Menurut peneletian (Dahlan, 1992; Irwan, 1997; Nazarudin, 1996; Fakuara dkk., 1996; dan Ramlan, 1997) disebutkan bahwa tanaman di dalam kota mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai penyerap gas/partikel beracun, sebagai peredam kebisingan dan sebagai paru-paru kota.

Dalam penelitian ini, penulis mencoba menyelesaikan permasalahan pencemaran udara pada ibu kota dengan menerapkan tanaman penyerap polusi yang ditempatkan pada rumah susun di Pulogebang Jakarta Timur. Rumah susun dipilih karena memiliki aktifitas manusia yang cukup tinggi di dalamnya, dimana mayoritas penghuninya terdiri dari masyarakat kelas menengah sampai keleas menengah ke bawah dan mereka pun butuh lingkungan hunian yang sehat. Di tahun 2014 ini, salah satu program kerja unggulan Pemerintah DKI adalah mendorong warga pindah ke hunian vertikal, dengan membangun super blok one stop living yang terdiri dari hunian vertikal (rumah susun), yang didukung dengan beberapa fasilitasnya. Salah satu wilayah yang terkena program ini adalah kelurahan Pulogebang, Jakarta Timur.

Berdasarkan penjelasan di atas, memperbanyak tanaman di dalam kota dapat mengurangi tingkat pencemaran udara, namun fakta yang terjadi adalah keberadaan RTH (Ruang Terbuka Hijau) terutama di kota besar seperti Jakarta berkurang terus-menerus, sehingga salah satu cara untuk menambah area hijau adalah diterapkannya penghijauan secara vertikal (vertical garden) yang pada kasus ini akan diterapkan pada bangunan rumah susun dengan tujuan agar menjadi hunian sehat yang terhindar dari pencemaran udara. Hal ini sesuai dengan topik yang penulis ambil pada skripsi dan tugas akhir ini yaitu environmentally sustainable, healthy and liveable human settlement.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian pada proyek ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan melakukan pengukuran polusi dan kualitas udara pada lokasi proyek dilakukan untuk mengetahui seberapa besar jumalah polusi yang terdapat di sana. Berdasarkan pengukuran tersebut kemudian dilakukanlah proses desain bangunan dengan taman vertikal yang mampu menyerap polusi pada lokasi proyek.

Kuantitatif : Eksisting (Pengukuran Polusi)

(3)

Proses perancangan dalam proyek ini dilakukan dengan studi lapangan, studi literatur, studi banding, wawancara dan online research. Studi lapangan dilakukan guna mengetahui informasi-informasi dan kondisi eksisting di lapangan yang dapat langsung dipakukan dengan wawancara kepada narasumber yang bersangkutan dengan proyek. Setelah itu dilakukan studi literatur dan online research dengan mencari data-data pada buku-buku atau jurnal dan beberapa data dari internet. Tahap selanjutnya dilakukanlah studi banding dengan membandingkan proyek-proyek yang sejenis guna mendapatkan data yang diperlukan.

HASIL DAN BAHASAN

TamanVertikal

Taman vertikal adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak. Vertical Garden juga sering disebut dengan vertical Landscape yang merupakan hasil kreasi inovatif untuk menumbuhkan tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media pertumbuhan, dengan keberhasilan menemukan sistem pertumbuhan tersebut menyebabkan berkurangnya beban yang harus ditopang pada sebuah dinding sehingga memudahkan dalam penataan disain taman vertikal dalam skala dinding yang luas serta jalan keluar bagi pembuatan taman pada lokasi yang terbatas ketersedian lahannya.

Gambar 1 Vertical Garden Indoor

Sumber :satriahijau.com/2013/06/definisi-vertical-garden.html, diakses pada 8 Juni 2014

Green Wall

Green Wall adalah sebuah sistim tanam yang menyerupai dinding. Sistim green wall meliputi media

tanam, struktur, dan sistim irigasi. Green wall memakai box planter sebagai media tanam. Sistim

green wall sangat cocok diaplikasikan untuk perencanaan sebuah taman, namun terhalang oleh

keterbatasan lahan.

Gambar 2 Aplikasi Green Wall

(4)

Analisa Pergerakan Matahari dan Perletakan Taman Vertikal

Pemilihan tapak proyek berdasarkan lokasi yang sesuai dengan peruntukan bangunan rumah susun (wsn) sesuai dengan peraturan pada LRK 2014 dan RTRW 2030. Tapak berada di pinggir jalan raya dan jalan tol dalam kota (tol cikunir).

Gambar 4 Lokasi Tapak di Jl. Lingkar Luar Timur, kelurahan Pulogebang Sumber : Dinas tata kota Jakarta

Luasan tapak pada lokasi ini adalah ± 10.006 m2, dengan GSB 10 m dan KDB 40% sehingga luas lantai dasar yang boleh dibangun adalah 4002,4 m2. KLB pada tapak ini adalah 4, dan peraturan ketinggian bangunan mencapai 24 lantai, namun setelah perhitungan total lantai yang boleh dibangun berdasaran KDB adalah 10 lantai. Lokasi tapak ini memliki suhu 33º C dengan kelembapan rata-rata 57% dengan kecepatan angin 4,2-7,9 km/h.

(5)

Berdasarkan gambar analisa di atas, orientasi bangunan rumah susun adalah menghadap ke barat. Sisi bangunan yang mendapat matahari timur dan barat adalah sisi terpendek sehingga cahaya secara merata masuk ke dalam bangunan sementara sinar matahari dan radiasi panasnya tidak masuk ke dalam bangunan. Bentuk bangunan didesain mengikuti bentuk tapak. Area vertical garden (taman vertikal) lebih banyak mengikuti panjangnya masa bangunan agar semua unit pada rumah susun dapat merasakan manfaatnya. Massa bangunan rumah susun terlihat lebih terbuka dan tidak gemuk, karena terdiri dari dua massa bangunan.

Analisa Arah Angin Pada Bangunan

Gambar 6 Analisa Pergerakan Angin Sumber : Olahan pribadi., 2015

Berdasarkan hasil pengukuran langsung oleh Laboratorium Lingkungan Akuakultur IPB, arah angin yang didapatkan pada lokasi proyek ini adalah dari arah barat ke timur, dan dari arah timur ke barat. Perletakkan massa bangunan ini akan menciptakan pemasukan angin yang kecil di dalam bangunan karena angin bergerak diantara celah-celah bangunan. Dengan analisa di atas perletakan massa bangunan sangat efisien, karena bentuk massa bangunan mengikuti bentuk tapak.

Gambar 7 Arah Angin Pada Taman Vertikal Sumber : Olahan pribadi., 2015

Dengan konsep taman vertikal yang dipasang sebagai secondary skin garden pada bagian luar kulit bangunan seperti gambar di atas, maka angin atau udara yang masuk ke unit rumah susun melalui jendela akan terserap polusinya terlebih dahulu oleh tanaman-tamanan yang berada pada panel-panel taman vertikal. Dengan metode tersebut, udara yang masuk ke kamar dan unit rumah susun akan dinetralisir terlebih dahulu kandungan racun dan polusinya sehingga udara tersebut benar-benar bersih

(6)

dan bisa menyehatkan bagi penghuni. Dengan metode secondary skin garden tersebut, maka akan tercipta sebuah hunian yang sehat dari segi udara.

Zonning

Dalam perancangan tapak, diperlukan penzoningan unuk memudahkan perletakan ruang-ruang sesuai dengan jenis dan kebutuhannya. Dengan adanya penzoningan dapat memperjelas batasan daerah yang dapat di akses antara kebutuhan penghuni dan kebutuhan umum

Penzoningan pada tapak dapat dibagi 4 yaitu:

 : Zona hunian

 : Zona Ruang terbuka hijau

 : Zona Penunjang

 : Zona Servis

Gambar 8 Analisa Zonning Sumber : Olahan pribadi., 2015

Berdasarkan gambar analisa di atas, zona hunian diletakkan di bagian utara dan selatan tapak agar mendapat privacy dan menghindari kebisingan. Kemudian zona hijau diletakan di pinggir jalan utama agar meredam kebisingan dan polusi. Zona penunjang diletakkan di bagian tengah tapak antara zona hunian sebagai penghubung antara dua zona hunian Zona servis diletakkan di barat yang berada di belakang tapak agar tidak terlihat. Untuk zona taman vertikal, terletak pada kulit-kulit bangunan rumah susun, sehingga dapat menghemat keterbatasan lahan dan bermanfaat untuk menyaring udara yang kotor sebelum udara tersebut masuk ke ruang-ruang dan unit rumah susun.

(7)

Tumbuhan Sebagai Penyerap Gas Karbondioksida

Pada penelitian ini penanggulangan pencemaran udara akan difokuskan pada satu gas polutan yaitu karbondioksida. Seperti yang telah kita ketahui gas polutan tersebut dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dengan bantuan tanaman. Kemampuan tanaman dalam menyerap gas karbon dioksida bermacam-macam. Menurut Prasetyo et all. (2002) hutan yang mempunyai berbagai macam tipe penutupan vegetasi memilikikemampuan atau daya serap terhadap karbon dioksida yang berbeda. Tipe penutupan vegetasitersebut berupa pohon, semak belukar, padang rumput, sawah. Daya serap berbagai macam tipe vegetasi terhadap karbon dioksida dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1 Daya Serap Gas CO2 dari Berbagai Tipe Penutup Vegetasi

Sumber: Prasetyo et all. (2002) dalam Tinambunan (2006) Jenis Tumbuhan Yang Digunakan

Pada kasus vertical garden pada rumah susun yang dibahas pada penelitian ini, tumbuhan yang bisa digunakan adalah jenis semak belukar, dimana jenis ini bisa ditanam pada lahan vertikal yaitu dinding, yang selanjutnya bisa disebut dengan green wall. Pada tabel di atas, menurut penelitian Prasetyo et all. (2002) dalam Tinambunan (2006) tumbuhan jenis semak belukar, memiliki daya serap CO2 sebesar 55 ton/ha/th, atau 12,56 kg/ha/jam. Berdasarkan dari hasil wawancara narasumber terkait, jenis tumbuhan yang biasanya digunakan pada taman vertikal dan akan dipakai pada rumah susun ini yaitu tanaman puring (Codiaeum

interuptum), Akalipa Merah (Acalypa wilkesiana), Sirih Belanda (Acalypa wilkesiana), Lidah

mertua (Sansevieria)

Tanaman-tanaman yang disebutkan tersebut memiliki daya serap polutan yang cukup tinggi untuk jenis tumbuhan semak, namun karena keterbatasan waktu penelitian, pada penelitian ini tanaman-tanaman semak tersebut akan disetarakan secara global yaitu dengan daya serap CO2 sebesar 55 ton/ha/th, atau 12,56 kg/ha/jam.

Gambar 9 Jenis Tumbuhan untuk Taman Vertikal Sumber : Olahan pribadi., 2015

(8)

Kebutuhan RTH Untuk Mengurangi Gas Karbondioksida

Menurut Mangunsong dan Sihite (1994) 1 ha ruang terbuka hijau mampu menyerap CO2 yang dikeluarkan oleh 2000 orang manusia atau 5 m2 per penduduk. Mengacu pada teori ini akan didapatkan berapa luasan RTH yang dibutuhkan oleh calon penghuni rumah susun. Jumlah unit rumah susun adalah 162 unit, dimana 1 unit bisa dihuni sampai 4 orang, sehingga total penghuni pada rumah susun ini adalah 162 x 4 = 648 orang, dengan asumsi jumlah pengelola dan penyewa retail adalah 5% dari total penghuni, yaitu 32 orang, Sehingga total jumlah manusia pada rusun ini adalah 648 + 32 = 680 orang. Sehingga dengan teori di atas jumlah total penduduk akan dikalikan dengan 5 m2 (680 x 5 m2 = 3400 m2). Jadi total RTH yang dibutuhkan adalah 3400 m2. Namun pada kenyataannya dalam desain rumah susun ini, jumlah RTH yang bisa dibuat secara vertikal pada dinding rumah susun dan pada pada panel yang telah dihitung luasannya sebagai secondary skin hanya sekitar 2388,25 m2. Untuk mengatasi kekurangan RTH tersebut, maka akan ditambahkan penghijauan secara horizontal dengan tanaman-tanaman jenis pohon yang ditanam secara horizontal.

Perhitungan Serapan Emisi Karbon Dioksida dengan Menggunakan Luas Tutupan Vegetasi

Berdasarkan dari penelitian Rati Adiastari, Rahmat Boedisantoso dan Susi Agustina Wilujeg (2012) perhitungan serapan emisi karbon dioksida dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Daya Serap taman/jalur hijau = Laju serapan CO2 x Luas taman/jalur hijau. Pada penelitian ini, luas taman/jalur hijau yang akan dibentuk secara vertikal pada rumah susun adalah seluas 2388,25 m2, dan keseluruhannya merupakan tumbuhan jenis semak. Maka perhitungannya adalah : Daya serap gas CO2 tutupan semak x luas tutupan semak (55 ton/ha/th x 0,235 Ha = 12,925 ton/th).

Jika dikonversi dari tahun ke hari, maka daya serap terhadap CO2 yang dapat dilakukan oleh taman vertikal pada rumah susun ini adalah 19,09 kg/hari. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini penanggulangan pencemaran udara akan difokuskan pada satu gas polutan yaitu karbondioksida (CO2).

Hasil Uji Kualitas Udara Di Kawasan Tapak Proyek, Pulogebang Jakarta Timur Berdasarkan hasil uji kualitas udara yang dilakukan oleh Laboratorium Lingkungan Akuakultur IPB di lokasi tapak proyek ini yaitu Jl lingkar luar timur, Pulogebang,Cakung, dapat diketahui bahwa jumlah polusi udara karbondioksida (CO2) yang ada di area sekitar tapak proyek adalah rata-rata 2700ppm/ jam. Dalam 24 jam akan ada 64800 ppm kandungan CO2 di area ini. Jika dikonversi jumlah satuan tersebut, 64800 ppm sama dengan 0,0648 Kg. Sehingga dalam 1 hari jumlah CO2 di area proyek ini adalah rata-rata 0,0648 Kg.

Dengan memakai metode Berdasarkan dari penelitian Rati Adiastari, Rahmat Boedisantoso dan Susi Agustina Wilujeg (2012), dari total RTH vertikal 2388,2m2, maka didapatkan daya serap CO2 sebesar 19,09 kg/hari. Sedangkan jumlah CO2 yang ada di lokasi proyek adalah sebesar rata-rata 0,0648 Kg/hari. Dengan demikian jumlah CO2 perhari pada lokasi proyek dapat diserap secara efektif dengan daya serap yang dimiliki oleh taman vertikal seluas 2388,2m2. Sehingga kesimpulannya adalah bahwa taman vertikal dengan luasan

(9)

2388,2m2dapat secara efektif menyerap polutan karbondioksida (CO2) yang ada pada area sekitar tapak proyek (Jl lingkar luar timur, Pulogebang).

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian dan proses perancangan pada proyek ini, jumlah total luasan RTH yang akan dibuat secara vertikal pada rumah susun ini adalah 2388,25 m2 jumlah ini mengacu pada aspek manusia akan kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan teori dari penelitian Rati Adiastari, Rahmat Boedisantoso dan Susi Agustina Wilujeg (2012). Tumbuhan yang dipakai pada lahan taman vertikal adalah tumbuhan jenis semak dengan luasan 2388,25 m2 dan didapatkan kemampuan serap 13,135375 ton/th atau 19,09 kg/hari.

Berdasarkan hasil pengukuran oleh Laboratorium Lingkungan Akuakultur IPB, dapat diketahui bahwa jumlah polusi udara karbondioksida (CO2) yang ada di area sekitar tapak proyek adalah rata-rata 2700ppm/ jam. Dalam 24 jam akan ada 64800 ppm kandungan CO2 di area ini. Jika dikonversi jumlah satuan tersebut, 64800 ppm sama dengan 0,0648 Kg. Sehingga dalam 1 hari jumlah CO2 di area proyek ini adalah rata-rata 0,0648 Kg. Maka dari total RTH vertikal 2388,2m2, didapatkan daya serap CO2 sebesar 19,09 kg/hari. Sedangkan jumlah CO2 yang ada di lokasi proyek adalah sebesar rata-rata 0,0648 Kg/hari. Dengan demikian jumlah CO2 perhari pada lokasi proyek dapat diserap secara efektif dengan daya serap yang dimiliki oleh taman vertikal seluas 2388,2 m2.

Berdasarkan proses perancangan bentuk dan aplikasi taman vertikal pada rumah susun ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu yang pertama panel greenwall tipe A yang hanya menempel di tembok bangunan pada bagian barat dan timur, dan yang kedua adalah panel greenwall tipe B dengan konsep

secondary skin garden yang berupa panel-panel tersusun yang menutupi bagian utara dan selatan kulit

bangunan. Pada rumah susun ini akan dibuat area podium sebagai pemisah antara sirkulasi manusia dan kendaraan, kemudia pada area podium tersebut akan dipasang pergola yang di atasnya diberikan tanaman rambat.

Gambar 10 Panel Vertical garden tipe A Sumber : Olahan pribadi., 2015

(10)

Gambar 11 Panel Vertical garden tipe B Sumber : Olahan pribadi., 2015

Gambar 12 Pergola Podium Sumber : Olahan pribadi., 2015

Berdasarkan proses perancangan, Luas total panel greenwall tipe A pada seluruh blok rusun adalah 571,05 m2, kemudian total luas panel greenwall tipe B adalah 1267,2 m2, dan yang terakhir tanaman rambat sebagai tambahan di area podium adalah seluas 550 m2. Sehingga total luasan seluruh taman vertikal pada rumah susun ini adalah 2388,2 m2.

Jumlah total RTH yang dibutuhkan adalah 3400 m2. Namun pada kenyataannya dalam desain rumah susun ini, jumlah RTH yang bisa dibuat secara vertikal pada dinding rumah susun dan pada pada panel yang telah dihitung luasannya sebagai secondary skin hanya sekitar 2388,25 m2. Untuk mengatasi kekurangan RTH tersebut, maka akan ditambahkan penghijauan secara horizontal dengan tanaman-tanaman jenis pohon yang ditanam secara horizontal.

(11)

REFERENSI

Ditjen Cipta Karya. 2010. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun 2010-2014 Jokowi Widodo & Basuki Tjahja. (2012). Visi Misi Program Kerja Jakarta Baru. Jakarta.

Slamet, B. (2013). Inspirasi desain dan cara membuat vertical garden. Jakata : PT Agromedia Pustaka

Kusminingrum, Nanny. (2008). Potensi Tanaman Dalam Menyerap CO dan CO2 untuk mengurangi dampak pemanasan global. Bandung

M. Yonni Sofyan. (2006). Pengadaan rusun sewa sebagai alternatif pemukiman pekerja industri di desa Warugunung Krang Pilang Surabaya. Surabaya.

Normaliani Santoso, Suci. (2012). Penggunaan Tumbuhan Sebagai Pereduksi Pencemaran Udara. Surabaya

Tanoto, Teddy. (2010). Rumah Susun dan Pasar di Jakarta Barat.Skripsi S1. Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Adiastari, Ratri. Budi Santoso, Rahmat. & Agustina Wilujeng, Susi. (2012). Kajian mengenai kemampuan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dalam Menyerap Emisi Karbon Di Kota Surabaya. Surabaya

iyarkreuk. (2013). Tanaman Penyerap Polusi (Online). (Diakses 2014) darihttp://iyarkreuk.blogspot.com/2013/12/9-tanaman-penyerap-polusi.html

FeUnpak. (2013). Pohon Penyerap CO. (Diakses 2014) dari http://www.feunpak.web.id/artikel-fe/111-pohon-penyerap-co2-pencemar-penghasil-oksigen-dan-penyimpan-karbon

Smart Garden Indonesia (2013). Vertical Garden. (Diakses 2014) dari http://smartgardenindonesia.com/layanan/vertical-garden/

RIWAYAT PENULIS

Aditya Veterna Wicaksono lahir di Semarang pada tanggal 8 Agustus 1989. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Arsitektur pada tahun 2014.

Gambar

Gambar  1 Vertical Garden Indoor
Gambar 4  Lokasi Tapak di Jl. Lingkar Luar Timur,  kelurahan Pulogebang  Sumber : Dinas tata kota Jakarta
Gambar 6 Analisa Pergerakan Angin   Sumber : Olahan pribadi., 2015
Gambar 8 Analisa Zonning   Sumber : Olahan pribadi., 2015
+4

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menguji Rasio Likuiditas, Leverage, Profitabilitas dan Struktur Aktiva secara simultan mempunyai pengaruh pada kebijakan dividen di perusahaan manufaktur yang

Kekurangan dan ketidaksempurnaan yang masih ada pada model pembelajaran pada tahun kedua (2020) yang merupakan penyempurnaan dari model tahun pertama penelitian ini (2019),

yang dihasilkan masyarakat yang berasal dari Sumber Daya Genetik dengan menggunakan Pengetahuan Tradisional dapat dikategorikan sebagai Kekayaan Intelektual yang

Belanja jasa transportasi dan akomodasi bagi perangkat upacara HUT Puputan Klungkung, HUT Propinsi Bali dan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Klungkung (Kab.) Klungkung (Kab.)

Oleh karena itu dilakukan perencanaan drainase jalan yang baik pada jalan tersebut, tujuannya untuk mengetahui besar debit hujan rancangan dan merencanakan dimensi saluran

Yang dimaksud dengan besar sudut antara dua garis adalah besar sudut terkecil yang dibentuk oleh kedua.

Evaluasi Pengertian atau Ingatan1. Evaluasi Pemahaman dan

[r]