• Tidak ada hasil yang ditemukan

VITAMIN LARUT LEMAK. Dr. Inge Permadhi MS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VITAMIN LARUT LEMAK. Dr. Inge Permadhi MS"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

VITAMIN LARUT LEMAK

(2)

Sifat umum vitamin larut lemak

 Berhubungan dengan absorpsi dan transport dari

lipid

 Absorpsi vitamin  terlarut dengan misel (untuk

pembentukan misel dibutuhkan garam empedu dan getah dari pankreas)

 Transportasi ke hati oleh kilomikron melalui

pembuluh darah limfe

 Penyimpanan vitamin A,D, dan K terutama di hati

dan vitamin E pada jaringan adiposa

(3)

VITAMIN A

(RETINOL)

(4)

Sifat kimia vitamin A

 Rusak oleh sinar ultraviolet dan oksidasi  Tahan oleh pemanasan

(5)
(6)

STRUKTUR KIMIA

Cyclohexenyl / ß-ionone

cis Trans

(7)

Ada 2 golongan vitamin A

Preform vitamin A  3 bentuk aktif

Alkohol  Retinol

Aldehid  Retinal / Retinaldehid

Asam  Asam retinoat

(8)

Vitamin A (

preform

vitamin A)

 Vitamin A atau retinol adalah nama generik yang

diberikan untuk semua retinoid yang mempunyai aktivitas biologi all-trans retinol

 Disebut retinol karena mempunyai fungsi spesifik di

retina

 Vitamin A natural atau dalam bahan makanan

umumnya terdapat dalam bentuk rantai panjang

retinil ester (retinil palmitat)

 Vitamin A berasal dari prekursor / provitamin A yang

dikonsumsi hewan / manusia akan menjadi preform vitamin A

(9)

Karotenoid (provitamin A)

Beberapa karotenoid yang mempunyai

aktivitas vitamin A  disebut sebagai

provitamin A

Provitamin A dapat diubah menjadi vitamin A

(retinol) dalam tubuh

Ada > 600 macam karotenoid, tetapi yang

mempunyai aktivitas pro vitamin A hanya +

10% (β-karoten, α-karoten, γ-karoten)

(10)

Absorpsi

Preformed vitamin A dan karotenoid akan

dibebaskan dari protein makanan dalam

gaster.

Di usus halus :

 Retinil ester akan dihidrolisis menjadi retinol yang

lebih efisien untuk diabsorpsi

(11)
(12)
(13)

Absorpsi dan transportasi ke hati

Absorpsi dalam bentuk retinol

80-90%

Vitamin A sebagai bagian dari kilomikron

akan ditransport melalui jalur limfatik intestin

pembuluh darah  hati

Ada sebagian vitamin A, yang diabsorpsi

kembali ke hati melalui mekanisme

enterohepatik

Untuk absorpsi berperan vitamin / zat

pereduksi lain seperti vitamin E untuk

(14)

Storage vitamin A

Bentuk retinol yang tidak di metabolisme atau

ditranspor dari hati, akan diesterifikasi

kembali untuk kemudian disimpan (

storage

)

di parenkhim sel hati atau 80 – 95% disimpan

sebagai cadangan (

reserve

) pada sel stelat

peri-sinusoidal

Vitamin A di deposit di hati (50 – 80%), juga

di jaringan adiposa, paru-paru, ginjal dalam

bentuk retinil ester, khususnya retinil palmitat

Cadangan Vitamin A di hati terikat pada

(15)

Storage vitamin A

Cadangan vitamin A dibutuhkan untuk

mencegah defisiensi, terutama pada

saat asupan vitamin A rendah

Kadar

vitamin A plasma 

menggambarkan asupan sehari-hari

dan cadangan vitamin A di hati.

(16)

Transportasi vitamin A ke perifer

Distribusi vitamin A dari hati ke jaringan

perifer melalui

 proses de-esterifikasi retinil ester

 kemudian diangkut berikatan dengan kompleks

retinol binding protein (RBP) – transthyretin (RBP – TTR)

RPB – retinol akan di tangkap oleh reseptor

jaringan lain yang akan memperantarai

transfer retinol dari RBP ke CRBP.

(17)

Metabolisme vitamin A

 Sebagian dari retinol yang akan disimpan, diubah

menjadi 

Retinol Retinal Asam Retinoat atau terkonyugasi sebagai retinil glukoronat atau retinil fosfat

 Setelah asam retinoat terbentuk, maka akan

berkonversi menjadi bentuk yang siap untuk dikeluarkan melalui urine atau melalui empedu

Oksidasi reversible

Oksidasi irreversible

(18)

Absorpsi dan penyimpanan

KAROTENOID

 Absorpsi dalam bentuk karotenoid 40 – 60%

 Kadar karoten serum  menggambarkan asupan

baru

 Akumulasi karotenoid terutama di jaringan adiposa

dan hati

 Likopen ditemukan tinggi kadarnya di testis, glandula

adrenal dan prostat

 Lutein dan zeaxanthin terkonsentrasi di jaringan

(19)

Metabolisme karotenoid

Karotenoid pada jaringan umumnya

akan teroksidasi dan terdegradasi 

sehingga komponen tersebut

(20)

Ekskresi vitamin A dan karotenoid

 Vitamin A dapat diekskresikan malalui

 asam empedu  feses (70%)  Urine (30%)

 Karotenoid tidak ditemukan dalam urine dan ekskresi

(21)

Hal-hal yang dapat mempengaruhi

bioavailability

karotenoid dari bahan

makanan

Bioavailability = kemampuan molekul

retinoid / karotenoid untuk melalui

mukosa intestinal dan masuk kedalam

tubuh untuk disimpan dan digunakan

oleh jaringan tubuh dipengaruhi oleh :

Factors influencing uptake from lumen to

intestinal cells

Factors influencing the efficiency of

(22)

Biokonversi karotenoid

Biokonversi = produksi retinoid aktif

dari prekursor provitamin A

Dipengaruhi oleh :

Asupan vitamin A

Cadangan vitamin A

(23)

Hal-hal yang dapat mempengaruhi

bioavailabilitas karotenoid dari bahan

makanan

1.

Factors influencing uptake from lumen to

intestinal cells :

1. Inhibition by intrinsic matrix

2. Inhibition by dietary fiber sources

3. Differential crowding by streoisomeric forms 4. Intraluminal oxidative destruction

5. Enhancement by presence of fat and oil 6. Enhancement by cooking and processing

(24)

Hal-hal yang dapat mempengaruhi

bioavailabilitas karotenoid dari bahan

makanan

2. Factors influencing the efficiency of

bioconversion :

1.

Amount of provitamin A presented to the

cell

2.

Differential conversion by stereoisomeric

form

(25)

Fungsi vitamin A

Fungsi esensial vitamin A yaitu : untuk penglihatan, diferensiasi seluler dan sistem imunitas

A. Penglihatan

Komponen dari pigmen penglihatan  menjaga integritas fotoreseptor pada rod dan cone di retina

 11-cis isomer dari retinaldehide yang dikombinasi

dengan protein opsin akan menhasilkan

 rhodopsin pada rod (batang) untuk cahaya lemah

 iodopsin pada cone (kerucut) untuk cahaya kuat dan warna

 Sinar akan merubah konfigurasi 11-cis retinal

menjadi bentuk all-trans retinal yang akan menyebabkan perangsangan penglihatan

(26)

Fungsi vitamin A

B. Diferensiasi seluler

 Regulasi ekspresi gen via nuclear retinoic acid receptor  pengaturan proliferasi dan maturasi sel khususnya pada

reproductive tissue dan mammalian embryogenesis

 Pembentukan struktur normal sel yaitu diferensiasi dari sel basal menjadi sel mukosa

 Vitamin A diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan skeletal dan jaringan lunak melalui sintesis protein dan

diferensiasi sel-sel tulang termasuk gigi C. Sistem imunitas

 Pembentukan mucosal mucin secretion

(27)
(28)

Interaksi vitamin A dengan nutrien

lain

 Suplementasi vitamin A akan meningkatkan

hematopoiesis pada penderita anemia defisiensi besi.  Vitamin A dapat meningkatkan bioavailabilitas besi inorganik, diduga melalui peranannya mencegah

terjadinya inhibisi absorpsi besi inorganik oleh asam fitat

(29)

Aktivitas karotenoid

 Karotenoid bukan merupakan nutrien esensial maka efeknya dinyatakan sebagai aktivitas bukan fungsi

 β-karoten dan beberapa karotenoid dapat bertindak sebagai antioksidan dengan menangkap (quenching) singlet oksigen atau memodifikasi radikal bebas  karena karotenoid

mempunyai rantai panjang dengan beberapa ikatan jamak yang dapat bereaksi dengan radikal bebas.

 Antioksidan diduga berperan pada pencegahan penyakit

degeneratif ( kanker, aterosklerotik, diabetes melitus, katarak, penuaan dini) dan juga berperan mencegah terjadinya

kerusakan genetik

(30)

1 Retinol Equivalents (RE) =

1 µg retinol

12 µg β–karoten dari makanan  24 µg provitamin A karotenoid lain  3,33 IU vitamin aktif dari retinol

 10 IU vitamin A aktif dari β -karoten

1 mg retinol = 3300 IU retinol

1 mg β -karoten = 1500 IU β -karoten

 Catatan : macam-macam equivalen : 1 : 2 : 4 atau 1 : 6 : 12 ( FAO/WHO) atau 1 : 12 : 24 (US National Academy of Science)

(31)

Kebutuhan vitamin A dan karotenoid

 Tergantung dari : ukuran tubuh, rate of growth, jenis kelamin dan umur, kondisi khusus (kehamilan, laktasi, penyakit akut / kronik) dll

 RDA 1988 dewasa  pria 1000 µg RE ; wanita 700-800 µg RE  AKG dewasa  pria 600 µg RE ; wanita 500 µg RE

 Untuk mencegah defisiensi vitamin A pada dewasa minimum dapat diberikan 600 µg retinol atau 2x dosis tersebut dalam bentuk β -karoten  akan membuat cadangan di hati dan retinol plasma  konsentrasinya optimal

 Fixed save upper limits vitamin A : 3000 µg (10.000 IU)

 Dosis tunggal suplementasi di Posyandu untuk anak-anak  1000 IU dan 2000 IU per 6 bulan

(32)

Bahan makanan sumber vitamin A

dan karotenoid

 Preformed vitamin A hanya terdapat dari BMS hewan seperti : hati, lemak dari susu, cod liver oil, bagian organ dari hewan  Provitamin A dapat diperoleh dari daun berwarna hijau tua,

sayuran/buah berwarna kuning oranye. Makin gelap warnanya makin tinggi kandungan karotenoidnya (pigmen sayuran / buah tersebut tidak terlihat karena tertutup oleh klorofil)

ASI  sumber β -karoten

Tomat dan produk yang terbuat dari tomat  sumber likopen  Di farmasi  retinil asetat

(33)

Etiologi defisiensi

 Penyakit hati  sintesis RBP  PEM

 Abetalipoproteinemia

 Malabsorpsi lemak akibat insufisiensi asam empedu  Infeksi akut : defisiensi protein akut, measles

 Infeksi kronik : parasit intestinal

(34)

Gejala Defisiensi

 Morbiditas dan mortalitas  pada anak-anak (penyakit infeksi seperti infeksi mata, saluran pernapasan, diare)

 Night blindness, xerophtalmia  Infeksi

 Selera makan  Pengecap

 Keratinisasi epitelial mukosa sel

(35)

Defisiensi vitamin A dan derajat

gangguannya pada mata

XN = buta senja

X1A = xerosis konjungtiva

X1B = bercak bitot

X2 = xerosis kornea

X3A = keratomalasia

X3B = ulserasi kornea

(36)

Pencegahan vitamin A bagi

gangguan mata

6 – 12 bulan  vitamin A biru

(100.000) SI

12 – 59 bulan  vitamin A merah

(37)

Terapi vitamin A bagi gangguan

mata

Terapi gangguan mata  Buta senja sampai

xerosis kornea

Hari 1

 < 5 bulan : 50.000SI

 6 – 11 bulan : 100.000 SI  12 – 59 bulan : 200.000 SI

Hari 2 : berikan vitamin A sesuai umur

Hari 3 : berikan vitamin A sesuai umur

(38)

Terapi vitamin A

 Dosis tinggi hanya digunakan sebagai terapi

pencegahan mortalitas akibat komplikasi measles (pada infeksi saluran napas bagian bawah yang bukan disebabkan measles, intervensi vitamin A bukan merupakan indikasi)

 Vitamin A analog dapat digunakan sebagai obat

topikal atau oral : seperti all-trans asam retinoat dan 9 – cis asam retinoat dapat digunakan untuk

(39)

Terapi karotenoid

 Yang umum digunakan sekarang adalah β-karoten  β-karoten sekarang digunakan untuk pengobatan

acute erythropoetic porphyria yaitu gangguan

fotosensitivitas yang dapat disupresi dengan dosis 180 mg/hari.

 β-karoten juga banyak diberikan sebagai

suplementasi bagi penderita kanker, penyakit kardiovaskuler, katarak, perokok dll

 Pada critical ill dosis β-karoten yang dianjurkan

(40)

Toksisitas (hipervitaminosis A)

 Preform vitamin A adalah salah satu nutrien esensial yang sangat berpotensi menimbulkan efek toksik.

 Dapat terjadi bila sel stelat sudah tidak mampu lagi menyimpan retinol

 Hipervitaminosis akut

Dewasa : Retinol > 200 mg (660.000 IU/single dose) Anak-anak : Retinol > 100 mg (330.000 IU/single dose) Atau 10X dosis RDA

 Gejala : nausea, muntah, lemah, mulut kering, lelah, sakit

kepala, anoreksia, gatal, deskuamasi kulit, sakit pada tulang dan otot

(41)

Toksisitas (hipervitaminosis A)

 Hipervitaminosis A kronik berhubungan dengan :

skeletal bone loss dan risiko osteoporotic bone

fracture  akibat peningkatan resorpsi tulang dan inhibisi pembentukan tulang (menghambat osteoclast stimulation dan collagen formation)

 Efek teratogenik akibat 13 – cis retinoic acid sebagai

obat akne yang digunakan pada umur muda kehamilan

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “SISTEM INFORMASI PEMINJAMAN BUKU PADA PERPUSTAKAAN SMA KRISTA MITRA SEMARANG “ diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana

Untuk mengidentifikasi para aktor dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit di Riau diperlukan upaya mengelompokkan para pihak yang bersaing yaitu, para elit yang bersifat

Penulis bersyukur dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ” Upaya Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Dengan Kegiatan Bermain Dalam Kelompok Pada Anak Kelompok B TK

Dengan demikian, tugas para pemain adalah menentukan proporsi waktu (probabilitas) yang diperlukan untuk memainkan strategi pada baris bagi pemain P1 dan strategi kolom

Artikel ini merupakan pengembangan dari penelitian terdahulu terkhusus yang disebutkan di atas dan merupakan penelitian baru dalam mengungkap praktik Pembiayaan Pemilikan

[r]

Temuan penelitian ini dapat disimpulkan menjadi: (1) Interaksi kepenasihatan akademik sejatinya mengarahkan pada nilai kemandirian, yaitu bahwa mahasiswa merupakan pemegang

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi