67
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Subjek penelitian berjumlah 54 siswa yang ter-bagi dalam 2 kelas yaitu kelas 5 SDN Duren 01 dengan jumlah 27 siswa sebagai kelas eksperimen, dan kelas 5 SDN Mlilir 01 dengan 27 siswa sebagai kelas kontrol. Masing-masing kelas telah diupayakan mewakili dari berbagai tingkat kemampuan akademik yaitu siswa dengan tingkat kemampuan akademik tinggi, sedang dan rendah, yang dapat dilihat dari acuan nilai akhir smester tahun lalu. Selain itu perbedaan gender juga komposisinya seimbang, antara siswa perempuan dan laki-laki jumlah wanitanya lebih banyak dari pada laki-laki. Usia subjek berkisar antara 9-10 tahun dan berdasarkan data nilai US I, UTS II dan US II tahun lalu siswa kelas 5 SDN Duren 01 pada pelajaran mate-matika hanya mampu mencapai tingkat ketuntasan antara 50% - 60% saja.
68
4.2 Pelaksanaan Eksperimen
4.2.1 Tahap Persiapan
Peneliti mengikuti kegiatan persiapan dalam penelitian ini sesuai dengan teori Slavin (1995) seba-gai berikut: (1) Memberi pre test pada kelas ekspe-rimen dan kelas kontrol sebagai nilai awal, hasil ter-lampir; (2) Hasil pre test kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis.
4.2.2
Analisis Pre-test antara Kelas
Ekspe-rimen dan Kelas Kontrol
Pengolahan data dengan SPSS 16, digunakan uji T-Test (independent sample T-Test).
Tabel 4.1 Group Statistics
Kelompok yang diamati N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Nilai Pre Test Kelas
Eksperim en 27 43.8296 17.08629 3.28826 Kelas Kontrol 27 43.8259 16.25271 3.12783
Group statistics merupakan statistics descrip-tive. Nilia-nilai ini menggambarkan kondisi awal kedua kelompok. Nilai pre-test untuk kelas eksperimen
seba-69 nyak 27 pengamatan, memperoleh rata-rata 43,8296; standard deviasi 17,08629; standar kesalahan rata-rata 3,28826. Sedangkan nilai pre-test untuk kelas kontrol sebanyak 27 pengamatan, diperoleh rata-rata 43,8259; standard deviasi 16,25271; standar kesalah-an rata-rata 3,12783.
Tabel 4.2
Independent Samples Pre Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference Nilai Pre Test Equal
variances assumed .000 .991 .001 52 .999 .00370 4.53828 Equal variances not assumed .001 51.870 .999 .00370 4.53828
Pada tabel independent samples test, diketahui hasil uji homogenitas kedua kelompok memperoleh nilai F hitung sebesar 0,000 dengan signifikansi sebe-sar 0,991. Hal ini berarti kedua kelompok tergolong homogen. Berdasar hasil uji homogenitas, maka uji beda rata-rata dilakukan dengan dasar asumsi kedua kelompok homogen (Equal variances assumed ). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa antara kedua
ke-70 lompok memiliki selisih yang relatif kecil yaitu sebesar 0,003. Berdasar asumsi varian kedua kelompok sama, maka diperoleh nilai t hitung sebesar 0,001 dengan signifikansi sebesar 0,999 > 0,05. Oleh karena nilai signifikansi hasil uji lebih besar dari 0,05 (standar yang digunakan adalah alpha 0,05 atau 5%) maka hal ini berarti H1 ditolak dan Ho diterima. Berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan kondisi awal (prestasi matematika) antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, sehingga kegiatan eksperimen dapat dilakukan.
4.2.3 Pelaksanaan Ekperimen
Pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Team Accelerated Instruction (Slavin, 1995) dimulai dari class presentation yang dipresentasikan oleh guru meliputi:
1. Pembukaan (Opening) yaitu tahapan membuka kegiatan dengan: 1) Menjelaskan apa yang akan dipelajari dan pentingnya Kompetensi Dasar operasi hitung bilangan bulat; 2) Menimbulkan keingintahuan siswa dengan mendemonstrasikan suatu penampilan yang penuh teka-teki atau per-masalahan; 3) mengulang topik yang pernah dia-jarkan sehingga dapat digunakan sebagai prasya-rat untuk landasan berpikir topik baru;
71 2. Development (pengembangan) yaitu suatu tahapan pengembangan kegiatan dengan: 1) Menetapkan tujuan agar siswa belajar dengan bekerjasama; 2) Memfokuskan pada konsep bukan pada ingatan; 3) Menyampaikan apersepsi dengan contoh-contoh soal operasi hitung; 4) Mengecek secara berkala dengan menanyai siswa secara acak; 5) Memba-has mengapa jawaban itu benar dan mengapa jawaban itu salah;
3. Petunjuk praktis yaitu arahan pelaksanaan dengan: 1) Memastikan semua siswa belajar untuk menguasai materi; 2) Menentukan secara acak siswa yang bertugas untuk menjawab pertanyaan sehingga semua siap;
4. Tes individu yaitu tes yang diberikan kepada seti-ap siswa dikerjakan secara individual yang kemu-dian dinilai untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. Hasil dari tes individu tersebut dibawa dalam kelompok untuk didiskusikan bersama; 5. Kerja kelompok yaitu kegiatan kelompok belajar
dengan kegiatan: 1) Semua anggota kelompok membahas dan mendiskusikan hasil tes individu agar dapat menguasai materi; 2) Menolong teman yang belum menguasai materi dengan menjelas-kannya sampai semua anggota menguasai materi; 3) Menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan;
72 6. Kuis, yaitu kegiatan test individu yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang diberikan setelah kerja kelompok, dengan kegiatan: 1) Membagikan lembar test dan membe-rikan waktu yang cukup untuk mengerjakannya; 2) Menyuruh siswa untuk duduk tidak terlalu dekat satu dengan yang lainnya; 3) Pastikan siswa untuk mengerjakan sendiri-sendiri. Kemudian hasil kerja siswa dinilai;
7. Team Recognition (penghargaan tim) yaitu kegiatan yang memberikan penghargaan pada kelompok. Tujuan utama memantau kemajuan individu mau-pun kelompok dengan cara: 1) memberi penilaian sesegera mungkin sehingga dapat diketahui tingkat kemajuan setiap siswa maupun kelompok, yang dapat digunakan sebagai umpan balik bagi siswa; 2) Mengumpulkan skor tim yang mencapai ranking tertinggi dan memberikan penghargaan berupa tepuk tangan. Pemberikan penghargaan dengan menentukan skor awal siswa dan kemaju-an skor individu dimaksudkkemaju-an untuk melihat tingkat kemajuan individu. Kemajuan skor indivi-du dihitung dengan memakai patokan sebagai berikut: (a) Lebih dari 10 poin di bawah skor awal memperoleh 5 poin; (b) Lebih dari 1 – 10 poin di bawah skor awal memperoleh 10 poin; (c) Bila 1-10 poin di atas skor awal memperoleh 20 poin; (d) Bila lebih dari 10 poin di atas skor awal
memper-73 oleh 30 poin; (e) Bila memperoleh nilai mutlak, memperoleh 30 poin.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.3
Kriteria Nilai peningkatan
Nilai tes terkini turun lebih dari 10 poin di
bawah nilai awal 5
Nilai tes terkini turun 1 sampai dengan 10
poin di bawah nilai awal 10
Nilai tes terkini sama dengan nilai awal
sampai dengan 10 di atas nilai awal 20 Nilai tes terkini lebih dari 10 di atas nilai
awal atau mendapat nilai mutlak 30 Slavin 1995 (Isjoni,2009)
Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok sebagai berikut: (a) Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasar-kan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa; (b) Menentukan nilai kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang kita sebut nilai kuis terkini; (c) Menen-tukan nilai peningkatan hasil belajar yang besar-nya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis ter-kini dan nilai dasar (awal) untuk kelompok.
Tabel 4.4 Pertemuan 1 Anggota tim Tes individu pert 1
74 N A 40 30 -10 10 D W 60 50 -10 10 I P P 80 100 20 30 S A 50 40 -10 10 Tabel 4.5 Pertemuan 2 Anggota tim Tes individu pert 1
Kuis 1 Selisih Nilai peningkatan
N A 60 70 10 20 D W 70 90 20 30 I P P 90 100 10 30 S A 60 70 10 20 Tabel 4.6 Pertemuan 3 Anggota tim Tes individu pert 1
Kuis 1 Selisih Nilai peningkatan
N A 70 80 10 20 D W 80 90 10 20 I P P 80 90 10 20 S A 70 60 -10 10 Tabel 4.7
Penilaian Penghargaan Kelompok
Anggota tim Quis 1 Quis 2 Quis 3
N A 10 20 20
D W 10 30 20
I P P 30 30 20
S A 10 20 10
Total skor tim 60 10 70
Rata-rata nilai tim 15 25 17,5
75 8. Post-test yaitu kegiatan tes yang dilakukan secara
individu untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara nilai pre-test dengan post-test.
4.3 Hasil Analisis
4.3.1 Analisis Post-test antara Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Pengolahan data dengan SPSS 16, digunakan uji T-Test (independent sample T-T-Test).
Tabel 4.8 Group Statistics
Kelompok yang
diamati N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Nilai Post Test Kelas
Eksperimen 27 71.2259 17.15602 3.30168 Kelas Kontrol 27 61.7296 13.53741 2.60528
Nilai post-test untuk kelas eksperimen sebanyak 27 pengamatan memperoleh rata-rata 71,2259; standar deviasi 17,15602; standard kesalahan rata-rata 3,30168. Sedangkan nilai post-test untuk kelas kontrol sebanyak 27 pengamatan, rata-rata 61,7296; standar deviasi 13,53741; standard kesalahan rata-rata 2,60528. Data-data tersebut menggambarkan bahwa setelah dilakukan pembelajaran kooperatif
76 model Team Accelerated Instruction, nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi.
Tabel 4.9
Independent Samples Post Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t Df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Differenc e Nilai Post Test Equal variances assumed 1.249 .269 2.258 52 .028 9.49630 4.20577 Equal variances not assumed 2.258 49.332 .028 9.49630 4.20577
Pada tabel independent samples post test, dike-tahui hasil uji homogenitas kedua kelompok memper-oleh nilai F hitung sebesar 1,249 dengan signifikansi sebesar 0,269 . Oleh karena nilai signifikansi 0,269 > 0,05; berarti kedua kelompok tergolong homogen. Berdasar hasil uji homogenitas, maka uji beda rata-rata dilakukan dengan dasar asumsi kedua kelompok homogen (Equal variances assumed). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa antara kedua kelompok memiliki selisih atau beda rata-rata sebesar
77 9,49630. Berdasar asumsi varian kedua kelompok sama, maka diperoleh nilai t hitung sebesar 2,258 dengan signifikansi sebesar 0,028 < 0,05. Oleh karena nilai signifikansi hasil uji lebih kecil dari 0,05 (standar yang digunakan adalah alpha 0,05 atau 5%) maka hal ini berarti H1 diterima dan Ho ditolak. Berarti terdapat perbedaan yang signifikan nilai post test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4.4 Uji Hipotesis
Dalam penelitian ini akan diuji hipotesis yang digunakan sebagai berikut: Ada perbedaan signifikan hasil belajar matematika post-test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan rumusan hipotesis empirik maka hipotesis statistik yang akan di uji berturut-turut sebagai berikut: post-test kelas eksperimen dengan post test kelas kontrol.
H1 : µc ≠ µnc :Ada perbedaan yang signifikan pada prestasi belajar matematika di antara siswa yang diajar dengan kooperatif model Team Accelerated Instruction dengan siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran tradisio- nal.
H o : µo = µnc :Tidak ada perbedaan yang signifikan pada prestasi belajar matematika di
78 antara siswa yang diajar dengan kooperatif model Team Accelerated Instruction dengan siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran tradisional.
Dari uji hipotesis statistik, diperoleh data sebagai berikut: pada kelas eksperimen rata-rata post-test 71,2259; standard deviasi 17,15602; dan standard kesalahan rata-rata 3,30168; sedangkan kelas kontrol rata-rata post-test 61,7296; standart deviasi 13,53741; dan standar kesalahan rata-rata 2,60528. Kedua kelompok memiliki perbedaan rata-rata sebesar 9,4963. Pada tabel independent samples, didapat t hitung 2,258 dengan signifikansi 0,028 < 0,05. Kesimpulannya: oleh karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05, Maka Ho ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara nilai post test pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Dalam konteks ini nilai tes post-test kelas yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif model Team Accelerated Instruction hasilnya lebih tinggi dari pada kelas yang diajarkan dengan pengajaran tradisional.
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
4.5.1 Pembahasan perbedaan hasil yang positif signifikan pada post test antara kelas ekspe-rimen dengan kelas kontrol
79 Pada Tabel 4.8 diperoleh nilai rata-rata post-test kelas eksperimen 71,2259 dan kelas kontrol 61,7296. Rata-rata pre-test kelas eksperimen 43,8296 dan kelas kontrol 43,8259 sehingga ada peningkatan, kelas eksperimen ada peningkatan 27,3963 dan kelas kontrol ada peningkatan 17,9037, dan t hitung 0,028 dengan signifikansi 0,028 < 0,05 berarti ada perbedaan signifikan antara prestasi belajar matematika siswa kelas 5 yang diajar dengan menggunakan kooperatif model Team Accelerated Instruction dengan pembelajaran tradisional. Dengan demikian ada peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan kooperatif model Team Accelerated Instruction sebesar 27,3963 dari pada pembelajaran tradisional.
Hasil temuan dalam penelitian ini mendukung teori Slavin (1995), namun bertentangan dengan pene-litian yang dilakukan Messier (2003) yang meneliti tentang strategi pengajaran tradisional yang diban-dingkan dengan cooperative learning yang dilakukan pada sekolah-sekolah di Cina yang hasilnya didapat bahwa pengajaran tradisional diperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan cooperative learning.
Hasil penelitian ini menunjukkan taraf signifi-kansi 0,028 yang lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model Team Accelerated Instruction berpengaruh untuk
80 meningkatkan prestasi belajar siswa serta sekaligus meningkatkan tingkat ketuntasan penguasaan materi pembelajaran yang di syaratkan dalam program bela-jar tuntas.
Di dalam penelitian ini ditemukan aspek ke-terampilan antar pribadi yang merupakan unsur pendukung dan kekuatan utama untuk tercapainya peningkatan hasil prestasi siswa, seperti yang dikata-kan Slavin dalam Ibrahim. Siswa yang dilakudikata-kan pembelajaran dengan pengajaran cooperative learning memungkinkan terjadinya interaksi/kerjasama antar siswa. Dalam kajiannya terlihat siswa aktif menemu-kan sendiri cara menyelesaimenemu-kan masalah sehingga siswa lebih menguasai konsep dari pada menghafal. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif meru-pakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pem-belajaran.
Melalui pembelajaran kooperatif, siswa terdorong untuk aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui proses belajar dalam kelompok yang kemam-puannya heterogen. Siswa saling bekerja sama menye-lesaikan tugas kelompok, saling membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selain itu pembelajaran kooperatif dapat menjadikan siswa berani mengemu-kakan gagasannya, dan menumbuhkan harga diri siswa yaitu keyakinan bahwa mereka sebagai individu yang cukup berharga dan penting dan mempunyai
81 rasa percaya diri dalam mengambil keputusan serta menjadi individu yang produktif.
Meskipun pembelajaran kooperatif mampu me-ningkatkan prestasi belajar siswa, namun dalam pelaksanaannya peneliti mengalami berbagai kendala antara lain: (1) Memerlukan waktu yang lama dalam setiap tatap muka, sebab harus mempersiapkan siswa menjadi kelompok-kelompok, maka waktu yang di-sediakan 2 jam pelajaran untuk pembelajaran tidak cukup; (2) Mengubah kondisi tatanan ruangan yang biasa menghadap ke papan tulis menjadi kelompok perlu tenaga dan waktu ekstra; (3) Suasana kelas ramai karena siswa cenderung berbicara keras dalam berdikusi, hal ini akan menggangu kelas lain yang berdekatan, maka perlu penanganan dan perhatian ekstra; (4) Siswa yang kemampuan akademisnya tinggi dan cepat perlu mendapat penanganan tersendiri supaya tidak menggangu temannya tetapi diarahkan untuk menjadi tutor sebaya.
Pembelajaran kooperatif model Team Accelerated Instruction mampu meningkatkan prestasi belajar siswa, namun ada beberapa kelemahan, maka janganlah terpaku pada satu strategi pengajaran saja. Perlu menggunakan strategi pengajaran yang lain yang dapat mengatasi kelemahan dan masalah-masalah yang timbul, sebab tidak ada satu strategi pembela-jaran yang sangat sempurna, maka perlu kombinasi dalam menggunakan strategi pembelajaran.
82 4.4.2 Hasil Temuan Penelitian Sampingan
Dalam pembelajaran kooperatif model Team Accelerated Instruction, diberikan team recognition yang menilai setiap kemajuan kelompok dengan memberi-kan penghargaan seperti: super team (tim super), great team (tim sangat baik), good team (tim baik). Pembe-rian penghargaan ini terbukti mampu memotivasi sis wa untuk memperoleh hasil prestasi yang lebih baik. Meskipun eksperimen ini berorientasi pada peningkat an hasil belajar siswa, namun pada proses pelaksanaan eksperimen peneliti sangat tertarik pada aspek sikap yang diperlihatkan siswa dalam berinterak si. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk sedikit mengulasnya.
Aspek keterampilan hubungan antar pribadi atau interaksi yang terlihat menonjol adalah memberi-kan kesempatan kepada teman lain untuk saling ber gantian berbicara, bersedia dengan senang hati saling berbagi untuk menjelaskan hal-hal yang belum di ketahui oleh temannya, selalu memotifasi teman supa ya berhasil, memberikan pendapat untuk memecah kan masalah, merupakan sikap yang mendominasi da lam kegiatan kerja kelompok, hal ini didukung dengan adanya pemberian penghargaan tim yang secara tidak langsung mendorong terbentuknya sikap-sikap ter sebut. Sedangkan aspek berani bertanya tanpa rasa malu, mengalah untuk menerima perbedaan pendapat, percaya akan kemampuan setiap siswa, sikap-sikap
83 tersebut baru dapat ditampilkan oleh seba gian siswa saja, hal ini disebabkan masih adanya kera guan pada diri siswa untuk bersikap lebih terbuka. Pada aspek mengontrol kemarahan bila ada perbedaan pendapat dan berbicara dengan berteriak-teriak, merupakan sikap yang masih banyak dilakukan siswa dalam kerja kelompok, sehingga masih perlu waktu dan proses untuk melatihnya supaya aspek tersebut tertanam dalam diri siswa.