Gagap adalah ketidaknormalan verbalisasi kata yaitu tingginya penghentian bicara, suku kata atau salah satu huruf dalam suku kata, penahanan dan

Teks penuh

(1)

Gagap adalah ketidaknormalan verbalisasi kata yaitu tingginya penghentian bicara, suku kata atau salah satu huruf dalam suku kata, penahanan dan pengulangan bunyi, serta penggantian kata untuk menghindari kata yang menimbulkan masalah (Bogue, 2009; Guitar, 2006; Halgin & Whitbourne, 2010; Parker & Parker, 2002; Walden, dkk., 2012). Orang dengan gangguan gagap berbicara dengan penekanan fisik yang berlebihan seperti sulit bernafas, mata berkedip cepat, mulut bergetar dan ekspresi wajah seperti berjuang keras untuk bicara (Mahr & Torosian, 1991).

American Psychiatric Association (2000) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV TR) kode 307.0 memuat kriteria gagap yaitu :

1. Gangguan pola dan ketidaklancaran bicara di usia yang tidak seharusnya, karakteristik diikuti oleh satu atau lebih tanda :

a. Pengulangan bunyi dan suku kata b. Perpanjangan bunyi kata

c. Interjeksi atau penyisipan dalam kalimat

d. Kata-kata yang rusak (ada penghentian pada kata atau kata-kata yang terputus-putus)

e. Menahan suara atau diam (berisi jeda selama berbicara)

f. Memakai kata yang banyak (mengganti kata untuk menghindari kata-kata yang bermasalah)

g. Mengatakan sesuatu dengan penekanan fisik yang berlebihan

h. Mengulang kata atau suku kata keseluruhan (“Dari,dari mana kamu?”) 2. Gagap dapat mengganggu prestasi akademik atau kerja, dan komunikasi sosial 3. Jika kondisi neurologis untuk berbicara tidak berfungsi normal, maka tanda

gangguan medis pada axis III ditegakkan.

Yairi dan Ambrose (2013) menyatakan gangguan gagap pada populasi di dunia mencapai 5% pada dekade terakhir ini. Penelitian itu terbatas pada negara-negara di Amerika, Eropa dan Australia. Pada beberapa negara-negara lainnya, dilaporkan lebih besar hingga mencapai 8%.Prevalensi terjadinya gangguan gagap sepanjang rentang kehidupan adalah sekitar 1,99% pada usia 3 - 10 tahun dan menurun 1,15% pada usia 11 – 17 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 (Drayna & Kang, 2011).

(2)

Gagap disebabkan oleh multi faktor (Blomgren, Roy, Callister, & Merrill, 2005) yaitu faktor keturunan, perkembangan bahasa, perilaku yang dipelajari, faktor orangtua, faktor kejadian dalam kehidupan (Klompas & Ross, 2004; Lavid, 2003; Millard, Nicholas, Cook, 2008; Sa’diah, 2012; Walter, 2010) dan faktor emosi seperti kecemasan (Alm, 2004; Iverach, dkk, 2010). Faktor utama sebagai penyebab gagap adalah kritikan yang terus diterima oleh seseorang sejak masa kecil sehingga menimbulkan kecemasan dalam berbicara (Bogue, 2009; Guitar, 2006). Ketika anak mengalami peningkatan rangsangan emosi seperti kecemasan maka, kegagapan akan muncul (Sa’diah, 2012), oleh karena itu kecemasan menjadi awal mula terjadinya kegagapan pada anak akibat perlakuan lingkungan yang negatif.

Orang dengan gangguan gagap cemas pada pembicaraan dengan kata dan/atau situasi seperti bicara di sekelompok orang atau pada orang asing atau atasan (Menzies, dkk., 2008; Menzies, Messenger, Onslow, & Packman, 2004; Miller & Watson, 1992; Mulcahy, Neville, Beilby, & Byrnes, 2008). Menzies, Messenger, Onslow dan Packman menemukan orang dengan gangguan gagap memiliki kecemasan dan penilaian yang negatif terhadap interaksi sosial. Hal itu menunjukkan bahwa mereka menganggap orang lain cenderung kritis dan mengevaluasi mereka secara negatif. Ketakutan pada evaluasi negatif merupakan faktor risiko kognitif dalam kecemasan interaksi sosial (Levinson dkk, 2013).

Kegagapan sering diasosiasikan dengan konsekuensi negatif sepanjang kehidupan (Iverach, dkk., 2009; Yaruss & Quesal, 2004) yang terkait dengan rasa cemas atas reaksi orang lain terhadap kegagapan (Snyder, 2001) dan penolakannya (Corcoran & Stewart, 1998). Hal itu terjadi karena ketika orang dengan gangguan gagap menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, ia lebih mudah mengingat keadaan di masa lalunya yang menyakitkan, traumatis dan tidak berdaya (Bogue, 2009). Akibatnya berpengaruh pada perasaan, perilaku, dan pemikiran yang negatif antara dirinya, kegagapan maupun lingkungannya. Menurut Starkweather dan Givens-Ackerman (1997) penolakan dan celaan menjadi sebuah krisis pada relasi sosialnya karena adanya perbedaan diri dengan orang pada umumnya. Widyaningsih (2014) dan Yana (2013) menemukan orang dengan

(3)

gangguan gagap semakin gagap ketika ia takut dicela karena kondisinya yang lebih rendah dari orang lain.

Kecemasan adalah kondisi psikologis paling dominan dalam kehidupan orang dengan gangguan gagap. Craig & Tan (2014) dan Davis, Shisca, & Howell (2007) menemukan bahwa Trait Anxiety orang dengan gangguan gagap berada pada level yang lebih tinggi daripada yang normal. Trait Anxiety adalah kecemasan yang bersifat menetap dan mempengaruhi persepsi individu terhadap situasi yang mengancam eksistensinya (Gupta, Shveta, Vempati, Sharma, & Bijlani, 2006; Vitasari, Wahab, Herawan, Othman, & Sinnadurai, 2011). Hal itu menunjukkan bahwa orang dengan gangguan gagap memiliki kecemasan menetap yang tinggi dalam hidupnya (Daniels, Gabel, & Hagstrom, 2006; Blood, Blood, Maloney, Meyer, & Qualls, 2007; Iverach & Rapee, 2014; Mulcahy, dkk., 2008).

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan gangguan gagap memunculkan perilaku berhenti atau menahan bicara sebagai bentuk penghindaran atas situasi negatif atau evaluasi dari orang lain (Harrison, 2008). Menurut Blood, Blood, Bennett, Simpson, & Susman, (1994) dan Sheehan (1975) orang dengan gangguan gagap berada dalam double approach-avoidance conflict. Mereka ingin berbicara tetapi cemas dengan reaksi orang lain atas gagapnya sehingga mereka tidak berbicara. Akan tetap mereka juga tidak nyaman dengan diamnya sehingga merasa sangat ingin berbicara

Penelitian terapi pada orang dengan gangguan gagap telah dilakukan yaitu :

Behaviour Therapy (BT) dan Cognitive Behaviour Therapy (CBT) (Botterill, 2011).

BT membantu orang dengan gangguan gagap melalui latihan kemampuan motorik dan kontrol bicara serta pernapasan dan artikulasi. Kritik terapi ini adalah tidak mampu mereduksi sikap negatif atas kegagapannya yang menimbulkan kecemasan akan penolakan (Botterill, 2011). Model terapi CBT membantu orang dengan gangguan gagap memahami hubungan antara pikiran, reaksi fisik, dan akibatnya pada perilaku mereka (Botterill, 2011). Model-model terapi tersebut memiliki efektivitas yang baik dalam memodifikasi perilaku orang dengan gangguan gagap, namun ada pandangan lain yang menekankan pentingnya penerimaan kondisi kegagapan dan pemahaman munculnya pemikiran-pemikiran negatif untuk

(4)

mengatasi kecemasan (Yaruss, Coleman, & Quesal, 2012). Oleh karena itu, model integrasi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Psikoterapi transpersonal adalah psikoterapi yang eklektik dan integratif, meliputi penggunaan teknik-teknik dari variasi psikologi yaitu modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitif, praktek humanistik, psikodinamika, terapi musik dan seni (Davis, 2003).

Psikologi transpersonal memandang pengalaman kecemasan yang terjadi pada orang dengan gangguan gagap adalah akibat hubungan antara I dan Self yang tidak utuh dikarenakan I mengalami luka atau yang disebut Primal wounding (Firman & Gila, 2002; Firman & Russell, 1994). Menurut Firman, Gila & Russell,

I luka akibat pusat pemersatu eksternal yaitu pengasuh (orangtua) dan lingkungan

yang tidak empati seperti melakukan penolakan, pengingkaran, kritik, dan pemaksaan prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan diri individu. Primal wounding menyebabkan individu mengalami nonbeing yaitu disintegrasi dan penolakan diri, kehilangan aku yang utuh, terisolasi, kekosongan serta kecemasan (Firman & Gila, 2002; Firman & Russell, 1994).

Dalam kehidupan sehari-hari, untuk tetap mampu bertahan hidup, orang dengan gangguan gagap bereaksi menjadi pribadi berbeda yaitu I atau survival

personality yang menahan diri, menghindari luka dan menarik diri dari lingkungan

(Firman & Gila, 2002, 2007) agar mereka tidak lagi mengalami luka dan ketidakberdayaan dari lingkungan yang tidak empati. Hal tersebut menjelaskan bagaimana orang dengan gangguan gagap memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya yang ia percaya dapat mengancam dirinya seperti tidak mau berbicara dan mengungkapkan pendapatnya.

Menurut Firman dan Gila (2002) kondisi kecemasan primordial tidak terlalu mengancam jika individu dapat mengembangkan cinta yang penuh empati pada dirinya. Psikosintesis menggunakan kekuatan dari cinta yang penuh empati untuk mengharmoniskan seluruh aspek psikologis manusia (Firman & Gila, 2007; Ruefller, 1995). Psikosintesis adalah pionir utama psikologi transpersonal yang merupakan studi ekspresi jiwa, melampaui topeng manusia untuk memasuki penemuan diri dalam spiritualitas, fokus pada potensi, pemahaman, realisasi dan

(5)

pengakuan seluruh aspek diri hingga pencapaian transendensi dan diri yang otentik (Caplan, Hartelius, & Rardin, 2003; Lajoie & Shapiro, 1992; Romeu, 2010)

Berdasarkan penjabaran di atas, maka disusun Empathic Love Therapy yang merupakan terapi dalam psikosintesis berdasarkan tujuh konsep utama Assagioli (Firman, 2011; Firman & Gila, 2002, 2007) yaitu : 1) Disidentification, 2) Personal

Self or I, 3) Will – Good, Strong, Skillful, 4) The Ideal Model, 5) Synthesis, 6) The Superconscious or Higher Unconscious, dan 7) Transpersonal Self or Self.

Empathic Love Therapy disusun untuk menurunkan kecemasan pada orang

dengan gangguan gagap melalui penyembuhan pada primal wounding di masa anak-anak yang merupakan akar munculnya kecemasan dan kegagapan. Komponen

Empathic Love yang menyembuhkan adalah cinta yang penuh empati. Cinta

tumbuh, berkembang dan kuat melalui eksplorasi aspek-aspek psikologis dalam diri, mengambil jarak terhadap luka, memunculkan I yang sadar dan berkehendak, serta menemukan aspirasi/esensi hidup yang selaras dengan diri transpersonal.

Kemampuan mengambil jarak terhadap luka akan membantu orang dengan gangguan gagap melepaskan diri dari identifikasi yang selama ini diletakkan pada dirinya seperti tidak kompeten dalam berkomunikasi, akan selalu tertolak dan kehilangan aku yang utuh. Hal ini adalah suatu restrukturisasi kognitif tentang persepsi orang dengan gangguan gagap atas kegagapannya. Kemunculan I yang sadar dan berkehendak akan membuat orang dengan gangguan gagap menerima berbagai aspek psikologis dengan penuh cinta dalam dirinya hingga mampu menyadari bahwa I Have This Part, and I’m More Than This Part. Hal ini merupakan suatu bentuk penerimaan pada kondisi diri dan meningkatkan penilaian dirinya. Katz (1993) menyatakan terapi psikosintesis mampu meningkatkan

self-esteem pada orang dengan gangguan citra tubuh dengan mengubah mengubah

persepsi negatif terhadap gambaran diri dan meningkatkan penerimaan diri.

I yang sadar termanifestasi dalam manajemen diri yang baik untuk

mengatasi kecemasan yang meliputi observasi diri, penilaian diri dan reaksi diri terhadap lingkungan sosialnya (Prins & Ingham, 2009). Dari sini, cinta mulai tumbuh dan berkembang untuk menjadi diri yang otentik, yang tidak terbatas pada kondisi ketidakberhargaan. Mereka akan menyadari seluruh potensi diri untuk

(6)

menemukan gambaran tentang hidup hingga membentuk identitas dan transendensi diri. Johnson dan Naidoo (2013) menemukan bahwa terapi transpersonal mampu meningkatkan self-awareness yang berimplikasi pada penurunan kecemasan dan kemampuan bertindak sesuai dengan kata hatinya.

Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah memahami proses terapeutik

Empathic Love Therapy dalam menurunkan kecemasan orang dengan gangguan

gagap sehingga tidak lagi mengalami double approach-avoidance conflict. Terapi ini dapat menjadi alternatif terapi bagi orang dengan gangguan gagap yang mengalami kecemasan mengenai kegagapan dan komunikasinya. Kerangka pikir penelitian ini tertuang dalam diagram berikut :

Aspek Intervensi

Hasil Intervensi

INTERVENSI : Empathic Love :

- Energi pemersatu dari pusat diri untuk menemukan diri sebagai “I” yang penuh kasih, empati, pribadi yang utuh karena cinta

- Komponen Empathic Love yang menyembuhkan kecemasan dan pertumbuhan pribadi :

 Eksplorasi aspek-aspek psikologis

 Mampu mengambil jarak terhadap luka

 Eksplorasi aspek-aspek psikologis

 Mampu mengambil jarak terhadap luka

Bertumbuhnya Empathic Love dalam Diri : Penerimaan & Mencintai Diri, Menyadari

Potensi diri

Orang dengan gangguan gagap : Pengalam kehidupan yang diasosiasikan

dengan berbagai reaksi negatif dari lingkungan yang tidak empati (penolakan, kritik, celaan, over protektif)

Terjadi Kecemasan dalam interaksi dan komunikasi Diri menjadi “I” yang survival untuk menghindari luka, menahan

diri, dan menarik diri dari lingkungan Konflik ingin bicara tetapi takut, menjadi tidak mau bicara juga tidak

enak sehingga merasa tertekan

I menjadi luka (Primal Wounding) Tidak kompeten dalam berkomunikasi

dan akan merasa selalu tertolak

Kehilangan aku yang utuh (identitas diri) dan potensi diri

Menurunnya Kecemasan orang dengan gangguan gagap

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :