• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENELUSURI MAUT DAN CINTA KARYA MOCHTAR LUBIS: NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENELUSURI MAUT DAN CINTA KARYA MOCHTAR LUBIS: NASIONALISME DAN KARAKTER BANGSA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TRACING MAUT AND CINTA BY MOCHTAR LUBIS: NATIONALISM AND NATIONAL CHARACTER

Nurweni Saptawuryandari

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur

Telp. 08161341439

Pos-el: [email protected]

(Makalah diterima tanggal 28 April 2020 — Disetujui tanggal 03 Mei 2021)

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gagasan nasionalisme diungkapkan dalam karya sastra, khususnya novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis. Penelitian ini menggunakan perspektif nasionalisme menurut Ben Anderson dengan pendekatan strukturalisme menurut Luxemburg. Upaya yang dilakukan untuk mengetahui gagasan nasionalisme melalui struktur naratif, antara lain, (a) cerita yang bertokoh dan berlatar masa revolusi Indonesia, (b) sikap, perilaku, dan gagasan tokoh, dan (c) deskripsi narator tokoh-tokoh yang ditampilkan. Melalui ketiga hal tersebut, terutama sikap dan perilaku yang ditampilkan akan mengasah empati, sekaligus mengasah budi pekerti sehingga akan tumbuh rasa nasionalisme dan karakter bangsa. Pengambilan data dilakukan melalui kepustakaan, yaitu dengan teknik simak dan catat isi novel yang menggambarkan masalah tersebut. Analisis data diawali dengan interpretasi nasionalisme dalam teks novel tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa Maut dan Cinta mengungkapkan nasionalisme, yang secara tidak langsung dapat menumbuhkan karakter bangsa. Kata kunci: nasionalisme, budi pekerti, dan karakter bangsa

Abstract: The purpose of this research is to see how the idea of Idea nationalism in literary works, especially the novel Maut dan Cinta by Mochtar Lubis. This research uses the perspective of nationalism according to Ben Anderson with the structuralism approach according to Luxemburg. Efforts were made to see the idea of nationalism through a narrative structure, among others, a story with a character and a background during the Indonesian revolution, (b) attitudes, behavior, ideas of figures, and (c) descriptions of narrators of said characters. Through these three things, especially bad attitudes and behavior will hone empathy, as well as hone character so that a sense of nationalism and national character will grow. Data was collected through literature, namely by using the technique of observing and recording the contents of the novel that described the problem. The data analysis begins with the interpretation of nationalism in the text of the novel. From the research results, it is obtained an illustration that Maut dan Cinta express nationalism, which cannot directly develop the character of the nation.

(2)

PENDAHULUAN

Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kesadaran dari seluruh komponen bangsa tanpa mempersoalkan latar belakang agama, ras, suku, dan bahasa. Kesadaran itu lahir dari kehendak bersama untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Perjuangan masyarakat untuk menyatukan berbagai bentuk kepentingan yang ada pada masa penjajahan sangatlah tidak mudah. Hal itu karena pikiran dan cita-cita masyarakat yang berbeda karena faktor agama, ras, dan budaya masyarakatnya. Namun, semua itu telah berubah menjadi sebuah rasa Nasionalisme Indonesia yang tidak memandang perbedaan. Hal itu terjadi setelah diproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nasionalisme merupakan kata yang sering muncul ketika sedang membicarakan sejarah kemerdekaan Indonesia. Pengembangan nasionalisme sangat erat hubungannya dengan sejarah perjuangan merebut kemerdekaan yang dimulai sejak zaman kerajaan (Alfian, 2010, hlm. 123) Oleh sebab itu, semangat nasionalisme di Indonesia pada dasarnya memang lahir dari bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Namun, nasionalisme yang tertanam pada

masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Pada era sekarang ini, terutama setelah reformasi, kebebasan orang berpendapat terlihat sangat leluasa. Perbedaan pendapat antargolongan atau ketidaksetujuan dengan kebijakan pemerintah adalah suatu hal yang wajar dalam suatu sistem politik yang demokratis. Namun, berbagai tindakan anarkis, konflik SARA, dan separatisme

yang sering terjadi dengan

mengatasnamakan demokrasi

menimbulkan kesan bahwa tidak ada lagi semangat kebersamaan sebagai suatu bangsa; seolah ke-bhinneka-an kita telah kehilangan tunggal eka-nya. Kepentingan kelompok, bahkan kepentingan pribadi, telah menjadi tujuan utama untuk mengemukakan pendapat sehingga secara tidak langsung ada dampak negatif dari reformasi, yaitu memudarnya semangat nasionalisme dan kecintaan pada negara. Setakat ini pula, secara tidak langsung dapat mengarah pada fenomena disintegrasi bangsa. Munculnya organisasi yang perilakunya terkesan radikal juga diprediksikan dapat memecah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan contoh nyata adanya kecenderungan yang kurang baik. Akibatnya, dengan adanya kondisi tersebut, nilai-nilai nasionalisme mulai mengikis sehingga konflik sosial menjadi

(3)

mendominasi permasalahan bangsa. Oleh karena itu, perlu ditelusuri dan diketahui sejauh mana perkembangan penanaman nilai-nilai nasionalisme dan upaya yang harus dilakukan untuk menata bangsa yang berpondasi pada semangat nasionalisme Indonesia.

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia pada Era Globalisasi sekarang ini adalah menurunnya nasionalisme pada generasi muda. Generasi muda memiliki pandangan yang cenderung negatif, terutama ketika memandang hal, seperti korupsi dan masalah sosial. Karena itulah, tidak dapat dipungkiri ada sebagian generasi muda yang memilih atau berkiblat dengan hal-hal yang mengasosiasikan diri dengan kebudayaan asing seperti Barat dan bahkan Korea.

Di sinilah perlunya rasa nasionalisme dimiliki oleh generasi muda. Rasa nasionalisme itu perlu terus digelorakan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencermati fenomena yang terjadi, perlu kiranya ada suatu upaya untuk menggali kembali rasa nasionalisme.

Salah satu upaya untuk menggali rasa nasionalisme dapat dilakukan dengan memahami gagasan, konsep, dan pandangan yang dapat ditelusuri melalui karya-karya budaya yang monumental.

Hal itu karena karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah, juga merupakan penciptaan kembali peristiwa sejarah dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang. Karena itulah, kesusastraan dianggap memegang peranan penting dalam memajukan ekspresi kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan suatu peristiwa. Melalui karya sastra juga kita dapat menemukan cerminan wajah masa lalu.

Karya sastra, baik prosa maupun puisi, mengasah kepekaan rasa dan membuat kita mengenal berbagai ekspresi, sikap, dan tingkah laku. Pengenalan pada ketiga hal, seperti ekspresi, sikap, dan tingkah laku secara tidak langsung membentuk pendewasaan mental pembaca. Berbagai sosok ditampilkan dalam karya sastra dengan perwatakan yang beragam dan khas sehingga dapat mengasah empati pembaca. Dengan membaca karya sastra, seperti novel atau cerpen, misalnya, kita diajak untuk berempati pada nasib tokoh-tokohnya dan dengan begitu tertanamlah semangat solidaritas sosial kita sebagai pembaca. Selain itu, karya sastra juga berperan penting karena dapat mengasah

(4)

budi pekerti sehingga dapat mendorong kepribadian dan sikap hidup yang baik.

Pada awal kebangkitan nasional, karya sastra menjadi sarana untuk membangkitkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan rasa nasionalisme. Para pejuang kemerdekaan dan tokoh-tokoh pergerakan secara sadar menggunakan karya sastra sebagai media perjuangan untuk menggerakkan

masyarakat agar menyadari

ketertindasannya. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Natsir adalah tokoh-tokoh pejuang yang akrab dengan kesusastraan. Para sastrawan juga terlibat dalam berbagai pergerakan pemuda pada masanya, seperti Amir Hamzah dan Moh. Yamin (Latif, 2009). Karya sastra angkatan Pujangga Baru yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisyahbana membawa semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang mengarah pada cita-cita kemerdekaan baik dalam puisi, prosa maupun drama (Jassin, 1987, hlm. 5—6). Dengan begitu, persoalan nasionalisme sudah menjadi perhatian sastrawan Indonesia, bahkan semenjak masa-masa awal kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Selain karya sastra yang telah disebutkan, ada juga karya sastra lainnya yang bernuansa nasionalisme yang berkaitan dengan kemerdekaan, seperti

Bertanya Kerbau pada Pedati karya AA. Navis, Merdeka karya Putu Wijaya, Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer, dan Surabaya karya Idrus. Hal itu dapat dilihat melalui tokoh, sikap, perilaku, kondisi, dan situasi yang diungkapkan dalam karya sastra tersebut.

Selain itu, kita juga mengenal Angkatan Pujangga Baru yang memiliki karakter yang kental dengan nasionalisme dan dapat dilihat pada karya-karya Muh.Yamin, Syahrir, Sanusi Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana yang menawarkan pembebasan diri sebagai bangsa atau manusia yang mandiri. Namun, meskipun karya-karya tersebut diwarnai nasionalisme, bukan berarti kekuatan kolonial sama sekali tidak bisa ditemukan. Terkadang justru melalui nasionalisme tersebut, kekuatan kolonial terbukti masih melekat dalam alam bawah sadar pemikiran bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dari karya-karya sastrawan Indonesia, tidak hanya karya-karya pascapenjajahan Belanda, tetapi juga karya-karya yang dibuat jauh setelah Indonesia merdeka. Oleh karena itu, membicarakan nasionalisme tidak dapat

dipisahkan dengan masa-masa

perjuangan kemerdekaan dari penjajah. Nasionalisme dan kemerdekaan menjadi tema yang tidak bisa dipisahkan.

(5)

Ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian nasionalisme, antara lain, Wildan (2009) dalam

disertasinya yang berjudul

“Nasionalisme: Kajian Novel A. Hasjmy” mengungkapkan nasionalisme yang digambarkan dalam tujuh novel yang ditulis oleh A. Hasjmy, seorang penulis Aceh. Novel tersebut adalah Melalui

Jalan Raya Dunia (1938), Bermandi Cahaya Bulan (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Nona Press-room (1951), Elly Gadis Nica (1951), Meurah Djohan: Sultan Aceh Pertama

(1976), dan Tanah Merah: Digul Bumi

Pahlawan Kemerdekaan Indonesia

(1976). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis nasionalisme dan kecocokannya dalam konteks politik Indonesia. Penelitian ini mengkaji unsur-unsur nasionalisme, seperti doktrin dan teknik penulisan yang digunakan oleh penulis.

Nasionalisme dalam karya sastra juga dibahas dalam penelitian Sari (2017) yang berjudul “Gagasan Nasionalisme Pramoedya Ananta Toer dalam Karya Tetralogi Buru”. Penelitian tersebut membahas nasionalisme dalam Tetralogi

Buru yang terdiri atas Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dari hasil penelitian ini

diperoleh gambaran tentang perjuangan

kaum pribumi melawan ketidakadilan yang dilakukan kolonialisme terhadap bangsa Indonesia.

Selain beberapa karya sastra yang telah dibahas dalam penelitian tersebut, karya Mochtar Lubis, seperti Senja di

Jakarta, Maut dan Cinta, Senja di Jakarta, dan Tak Ada Esok juga

mengungkapkan nasionalisme dengan segala pernik-pernik perjuangan di awal kemerdekaan. Salah satu novelnya yang

berjudul Maut dan Cinta

mengungkapkan situasi dan kondisi pada masa awal pemerintahan Sukarno. Sebuah kisah perjuangan dan petualangan besar yang penuh ketabahan, keberanian, kasih dan cinta, yang diperankan oleh para tokohnya. Mochtar Lubis menampilkan dengan maksud untuk mengingatkan kembali para pembaca kepada dasar-dasar perjuangan di awal revolusi agar tidak menghkianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa ini dan terus berjuang pada cita-cita bangsa. Berdasarkan paparan di atas, tulisan ini akan mengungkapkan bagaimana kisah atau cerita yang dikemas bernuansa perjuangan pada awal kemerdekaan mengungkapkan nasionalisme dan menumbuhkan karakter bangsa.

(6)

Wacana nasionalisme telah banyak dikaji kehadirannya dalam sastra Indonesia, antara lain dilakukan oleh Keith Foulcher (1991), Faruk (1994), Hilmar Farid (1994), Ahmad Sahal (1994), Aprinus Salam (2003), dan Dad Murniah (2017) (Sungkowati: 2019).

Untuk membahas masalah nasionalisme, peneliti menggunakan konsep nasionalisme Smith (2003, hlm.

5—9) yang memaparkan bahwa

nasionalisme sebagai suatu pergerakan ideologi untuk mencapai dan memelihara otonomi, kesatuan, dan identitas suatu populasi yang sebagian anggotanya mempertimbangkan untuk membuat satu “bangsa” yang nyata. Nasionalisme merupakan pandangan, perasaan, wawasan, sikap, sekaligus perilaku suatu bangsa yang terjadi karena persamaan sejarah, nasib, dan tanggung jawab untuk hidup bersama secara merdeka dan mandiri.

Selanjutnya, untuk menganalisis menggunakan pendekatan nasionalisme yang dikembangkan oleh Benedict

Anderson. Dalam pandangan

Benedict Anderson (2008, hlm. 56), nasionalisme adalah bangsa atau nation yang memiliki nilai-nilai sebab adanya individu-individu yang menganggap dirinya suatu komunitas. Bangsa atau nasion adalah komunitas politis dan

dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berdaulat. Benedict Anderson juga mengatakan bahwa faktor-faktor signifikan pendorong nasionalisme adalah menguatnya kepitalisme, yang ditandai dengan adanya komunikasi massa dan migrasi sosial. (2008, hlm. 44).

Menurut Anderson,

nasionalisme hadir dalam pelbagai aspek seperti taman makam pahlawan, makam prajurit yang tidak dikenal dan cenotaph (tugu peringatan bagi para tentara yang gugur dan dikuburkan di tempat lain), lagu kebangsaan, bendera nasional, kesamaan bahasa ibu, kesepahaman bahasa agama, pandangan-dunia tentang agama, gambar-gambar (ukiran, lukisan, atau sketsa), dan seterusnya. Hal-hal seperti itulah yang disebut sebagai akar-akar budaya nasionalisme. Dengan akar-akar budaya itulah direkabayangkan hal-hal yang bersifat imaginatif sehingga menjadi sangat nyata karena sifat audio-visualnya.

Anderson menunjukkan dua bentuk pembayangan itu, yaitu novel dan surat kabar. Kedua wahana itu secara teknikal dapat menampilkan ’keterwakilan’ atau ‘mengkinikan

(7)

kembali’ komunitas imaginatif yang disebut sebagai bangsa. Dengan itu, Anderson membuat kesimpulan bahwa nasionalisme merupakan sesuatu yang diciptakan dan ia memberi tinjauan terhadap masa silam sekaligus memberi bayangan terhadap masa depan. Teori Anderson yang abstrak tersebut dijelaskan melalui tinjauan yang ringkas terhadap empat buah novel,

yang kesemuanya menekankan

keserempakan (simultanitas) waktu bagi kelahiran komunitas imajinasi yang disebut bangsa itu.

Selain itu, Anderson

mengungkapkan bahwa nasionalisme juga dapat disampaikan melalui karya kreatif, seperti novel. Nasionalisme dan sastra sangat berhubungan. Oleh karena itu, sastra dapat memberikan sumbangan yang besar dan memainkan peranan dalam usaha pembangunan suatu bangsa. Pengarang dan karya sastra berperan dalam menyampaikan nasionalisme untuk kepentingan pengarang, bangsa, dan negaranya, atau untuk umat manusia pada umumnya. Setiap pengarang mempunyai cara penyampaian yang berbeda karena mereka memiliki cara yang khas dan teknik bersastra dengan gaya sendiri.

Luxemburg (1992, hlm. 36) menyatakan bahwa istilah "struktur"

merupakan kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti. Lebih lanjut, Luxemburg (1992, hlm. 38) menyebut pengertian struktur pada pokoknya berarti sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena ada relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dan keseluruhan.

Pada dasarnya, sebuah karya sastra dibangun oleh unsur yang membentuknya. Analisis struktural memiliki tujuan memahami secara teliti, menyuguhkan, membongkar secara tepat, detail, dan sekuat mungkin melalui unsur-unsurnya dengan tujuan mendapatkan hasil dan makna dari karya sastra itu. Struktural memiliki tiga sifat yaitu total, transformasi, dan pengaturan diri. Total yang dimaksud adalah struktur terbentuk secara menyeluruh (totalitas) dengan rangkaian unsur yang tetap memiliki kaidah.

Efendi (2008) dalam artikelnya yang berjudul “Gagasan Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan dalam Novel Indonesia Modern” menggali gagasan nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang dapat dilakukan dengan cara memahami gagasan, konsep, dan pandangan yang disampaikan oleh para

(8)

pemikir pada masa lalu. Di samping melalui dokumen kesejarahan, gagasan, konsep, dan pandangan tersebut juga dapat ditelusuri melalui karya-karya budaya. Salah satu wujud hasil kebudayaan tersebut adalah karya sastra.

Karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah. Pikiran, gagasan, dan pandangan pengarang tersebut dapat berkaitan dengan rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang dituangkan dalam karya sastra. Gagasan nasionalisme dapat diekspresikan oleh pengarang melalui struktur naratif, seperti pada (a) cerita yang bertokoh dan berlatar masa revolusi Indonesia, (b) sikap, perilaku, dan gagasan tokoh, dan (c) deskripsi narator.

Berdasarkan paparan tersebut, penelitian ini memadukan pespektif nasionalisme yang dikemukakan oleh Benedict Anderson dan pendekatan struktural Luxemburg. Dengan cara seperti itu, nantinya dapat dilihat sekaligus diketahui gagasan nasionalime. Gagasan itu diungkapkan melalui unsur-unsur naratif yang terdapat dalam karya sastra. Unsur-unsur tersebut saling berkaitan sehingga tampak kepaduann dan keterkaitannya.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desktiptif kualitatif. Metode deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran berdasarkan kenyataan-kenyataan secara objektif sesuai data yang diperoleh dari novel tersebut. Moleong (2007, hlm. 6—7) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, serta secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik baca simak dan teknik catat. Teknik baca simak dilakukan dengan cara pembacaan secara saksama terhadap novel yang menjadi bahan kajian. Teknik catat dilakukan dengan pencatatan terhadap data-data yang terdapat di dalam novel tersebut, terutama yang berkaitan dengan gagasan nasionalisme. Sumber data penelitian ini adalah novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis, terbitan Pustaka Jaya tahun 1989.

Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan

(9)

(library research) Sumber data penelitian ini adalah buku novel Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis. Langkah-langkah yang dilakukan untuk keperluan itu adalah sebagai berikut. Pertama, mengadakan studi pustaka. Langkah ini dilakukan untuk memilih dan membaca novel itu dengan ancangan literasi kritis dan dipahami isinya. Kedua, menginventarisasi data dari novel tersebut sebagai media untuk mendapatkan gagasan nasionalisme dengan menggunakan unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti unsur instrisik. Ketiga, mengindetifikasi data yang diperoleh dari pemahaman instrinsik. Dari data itu dapat diketahui makna terhadap hasil analisis. Keempat, merumuskan simpulan.

PEMBAHASAAN

Sebagaimana dipahami bahwa pengarang dalam menulis karya sastra (novel) pada prinsipnya ingin menyampaikan “sesuatu”. Salah satu bentuk “sesuatu” yang disampaikan itu adalah pemikiran tentang nasionalisme. Dengan kata lain, fenomena nasionalisme dapat dijadikan sebagai salah satu bahan dalam penciptaan karya sastra. Dengan begitu, fenomena itu pada akhirnya dapat menjadi bagian dari bentuk pencerdasan baru bagi masyarakat pembaca,

khususnya berkaitan dengan pemahaman nasionalisme.

Novel Maut dan Cinta mulai ditulis ketika Mochtar Lubis dipenjara pada zaman rezim Soekarno dan baru diselesaikan di Amerika Serikat pada tahun 1973. Saat itu, ia diundang sebagai

artist in residence di Aspen Institute.

Novel tersebut terpilih sebagai novel terbaik dalam penilaian yang diadakan oleh Yayasan Buku Utama sehingga Mochtar Lubis berhak menerima hadiah sebesar satu juta rupiah. Maut dan Cinta berisi kisah perjuangan yang terjadi sekitar tahun 1947 hingga 1949. Novel ini merupakan karyanya yang paling tebal, yakni 306 halaman. Tebalnya novel ini lebih banyak ditentukan oleh adanya perenungan-perenungan tentang segala macam ide dan revolusi itu sendiri yang berjalan lewat dialog tokoh-tokohnya di samping ketelitian pengarangnya untuk menggambarkan semua kejadian secara cermat.

Dalam kata pengantar novel tersebut, Mochtar Lubis menuliskan bahwa “Penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh rezim Sukarno dan demikian banyak orang Indonesia di kala itu yang mengkhianati cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa kita, mendorong saya menulis buku ini, untuk tidak saja menjelaskan kembali pada diri

(10)

saya sendiri untuk apa bangsa kita berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk menyatakan kembali pengabdian pada cita-cita kemerdekaan bangsa kita” (1989, hlm. 6)

Pernyataan Mochtar Lubis mengisyaratkan bahwa apa yang ditulisnya adalah ungkapan tentang cita-cita perjuangan bangsa. Rasa nasionalisme yang didengung-dengungkan bukan sekedar ucapan belaka, tetapi juga dilaksanakan dengan sikap dan perilaku tanpa korupsi atau penyelewengan. Karena itulah, sebagai bangsa bukan hanya dapat merebut kemerdekaan saja, tetapi juga manusianya harus dapat bermartabat dengan perilaku dan sikap yang baik. Melalui sikap dan perilaku “Sadeli”, Mochtar Lubis mengungkapkan bagaimana sebaiknya manusia Indonesia. Manusia Indonesia sebaiknya menguasai ilmu dan dapat membina persaudaraan dengan manusia lainnya dalam kemerdekaan, perdamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Nasionalisme Melalui Cerita yang Bertokoh dan Berlatar Revolusi

Cita-cita Sadeli adalah untuk membebaskan rakyat Indonesia dari penindasan penjajah. Bahkan, ia sering memimpikan dirinya sebagai seorang

ksatria yang agung dan

membandingkankannya dengan pahlawan yang telah berhasil. Sadeli adalah seorang pemuda yang gagah berani, berwibawa serta punya pengetahuan yang luas. Sikap dan perilaku Sadeli sebagai seorang anggota dinas rahasia TNI berpangkat mayor yang menyamar sebagai penjual hasil bumi ke luar negeri dimaksudkan untuk mengumpulkan dana, mencari senjata, alat-alat komunikasi, dan membuka hubungan udara bagi

perjuangan mempertahankan

kemerdekaan dari Belanda. Sadeli menyadari sepenuhnya mengapa dia harus melibatkan diri dalam kancah revolusi. Perilaku tokoh Sadeli dalam usahanya melawan penjajahan, bukan saja dilakukan dengan sikap dan perilaku, tetapi juga dengan niat yang harus diwujudkan agar sisi kemanusian yang ingin merdeka dapat dicapai. Ketika itu, revolusi yang berlangsung memang digaungkan dengan tujuan untuk mengusir penjajah.

“Revolusi kita, pikirnya dalam hati, adalah revolusi untuk kemerdekaan dan kemuliaan manusia. Kita bukan binatang-binatang buas yang mengamuk secara mata gelap. Dalam peperangan pun kemanusian kita tak boleh kita tinggalkan.”

“Engkau tahu revolusi kemerdekaan kita adalah untuk melepaskan bangsa kita dari kekuasaan asing yang sekian lama telah menghisap darah dan tulang sumsum rakyat kita”. (1989, hlm. 16)

(11)

“Revolusimu adalah revolusi kami. Kemerdekaanmu adalah kemerdekaan kami. Kaum serikat selama perang memproklamasikan hak kemerdekaan setiap bangsa! Tapi kini kami melihat negeri kami seakan lupa sudah pada janji-janji ini.” (1989, hlm. 185)

Nasionalisme yang diungkapkan berupa keterlibatan dalam kancah revolusi dengan menggambarkan secara tersirat keinginan untuk merdeka. Keinginan itu bersifat logis. Keinginan yang dinarasikan melalui sikap dan perilaku dilakukan dengan kesadaran agar maksud dan tujuan untuk kemerdekaan yang sesungguhmya dapat tercapai. Meskipun ucapan-ucapan yang dilontarkan tanpa disadari menggelorakan kekuatan yang sulit untuk diungkapkan. Namun, ungkapan itu pada intinya merupakan gaung nasionalisme untuk merdeka secara mandiri dan bermartabat.

Nasionalisme Melalui Sikap, Perilaku, dan Gagasan Tokoh

Untuk menggelorakan

nasionalisme diungkapkan juga melalui paparan berupa narasi yang tanpa disadari “mungkin” akan menjadi “maut”, tetapi karena “cinta” maka “pengorbanan” itu harus dilakukan. Secara tidak langsung, dengan

pengorbanan yang dilakukan

menunjukkan nasionalisme.

“Begitu hebat tekadnya hingga dia berjanji pada diri sendiri tidak akan menikah selama bangsanya belum merdeka. Dan, dia melatih dirinya supaya badannya segar dan kuat, selalu siap sedia untuk menjalankan segala tugas berat yang diperlukan dalam perjuangan kemerdekaan.” (1989, hlm. 9)

“Menyerang Jepang atau bertempur melawan Belanda di rawa-rawa pantai Sumatra adalah perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan dingin antara melakukan kewajiban yang membawa maut atau melarikan diri. Apalagi dalam kedua kejadian itu tak ada keharusan memilih demikian.” (1989, hlm 26)

“Yang maha penting adalah revolusi kemerdekaan. Semuanya mesti tunduk

pada perjuangan kemerdekaan.

Kepentingan diri sendiri, cinta, bahagia sendiri harus mengalah. Bagaimana kemerdekaan dapat direbut tanpa pengabdian total kepada perjuangan kemerdekaan? Tak ampun bagi Umar Yunus, yang telah berdosa pada revolusi. Yang telah mendahulukan kebahagian pribadinya dari keselamatan revolusi.” (1989, hlm. 141)

Pengorbanan dalam rangka pencapaian tujuan perjuangan seringkali harus berbenturan dengan kepentingan yang sifatnya pribadi. Dalam logika revolusi, seringkali kepentingan-kepentingan tersebut harus dikalahkan. Karena itulah, melalui tokoh Sadeli, Mochtar Lubis menampilkan seorang pejuang yang harus rela mengorbankan segala kepentingan pribadinya untuk keberhasilan perjuangan revolusi kemerdekaan dan untuk mengubah nasib bangsa. Semangat dan kebangkitan untuk merdeka terus digelorakan. Semangat

(12)

yang bergelora dalam diri mereka, tanpa disadari adalah pengorbanan agar perjuangan untuk kemerdekaan dengan landasan nasionalisme terhadap bangsanya dapat tercapai. Paparan berikut menggambarkan gagasan tokoh Sadeli tentang keinginan dan pendiriannya agar cita-cita yang diinginkan tercapai. Gagasan lain yng diungkapkan oleh Mochtar Lubis melalui tokoh Sadeli juga tergambar dalam paparan berikut ini.

“Karena semua ini, maka Sadeli berpendirian bahwa manusia harus

dihormati sebagai perorangan.

Kebahagian dan kemerdekaan manusia perorangan adalah nilai dan martabat manusia dan ini tak boleh ditundukkan di bawah telapak negara atau penguasa, atau di bawah telapak seorang ditaktor seperti Hilter. Manusia yang berkebudayaan dan beradab tinggi menggelakkan pemakaian kekerasaan untuk memecahkan persoalan antara mereka, malahan juga antara bangsa. Perbudakan manusia harus dilawan. Perbudakan atas bangsa lain harus dilawan.” (hlm. 13)

Nasionalisme yang diungkapkan menunjukkan prinsip dan pendirian yang kuat sehingga sebagai manusia dan bangsa harus dapat menjaga marwah dan harga dirinya agar tidak dengan mudah disepelekan atau ditundukkan oleh manusia lainnya atau bangsa lain.

Hal lain yang diungkap oleh Mochtar Lubis adalah nasionalisme dapat dilakukan secara bersama-sama.

Kebersamaan untuk melakukan

pengorbanan dengan tidak melihat perbedaan kesukuan dan keagamaan. Pengorbanan yang dilakukan

bersama-sama dapat mengatasi dan

mengendalikan semangat yang timbul baik karena kesukuan maupun keagamaan. Mengatasi dalam hal ini bukan dalam kerangka penindasan atau pemaksaan, tetapi dalam kerangka tujuan yang lebih besar. Dalam hal inilah perlu adanya kesadaran dan kerelaan di antara warga bangsa untuk menanggalkan kebanggaan-kebanggaan yang bersifat lokal atau kedaerahan. Kerelaan tersebut juga merupakan salah satu wujud realisasi nasionalisme. Kenyataan membuktikan bangsa Indonesia dapat melakukan dan mengendalikan hal-hal yang bersifat lokal. Meskipun keberagaman sangat dominan, melalui bahasa dapat juga dijadikan pemersatu untuk kepentingan nasionalisme.

“Tapi saya rasa tak sehebat kalian di India. Kami beruntung telah punya satu bahasa bahasa persatuan, bahasa Indonesia hingga keragaman bahasa daerah tidak menjadi soal lagi. Suku bangsa Sunda dan Jawa di Pulau Jawa telah berjasa besar bagi persatuan nasional karena menerima bahasa ini sebagai bahasa nasional.” (1989, hlm 92—93)

Ketika itu, bahasa juga menjadi alat pemersatu untuk membangkitkan nasionalisme. Bukan saja bahasa, suku

(13)

bangsa yang bersifat kedaerahan pun dapat dipersatukan demi terwujudnya bangsa dan negara yang berdaulat dan bermartabat.

“Saya bukan orang yang hendak menerima segala apa saja dari Barat. Banyak juga nilai-nilai kebudayaan asli kita yang harus kita pertahankan. Banyak juga nilai-nilai gairah manusia yang membuat hidup menarik dan berbahagia, seperti hubungan keluarga yang mesra dan erat, hormat dan cinta pada orang tua. Nilai-nilai moral yang baik, kerukunan kemasyarakatan, dan gotong royong. … “ (1989, hlm 256)

Kesadaran diri sebagai bangsa yang menginginkan kebebasan untuk menentukan nasib bangsanya harus dijadikan motivasi dalam menanamkan rasa nasionalisme. Perjuangan agar dapat tercapai nasionalisme perlu didukung oleh motivasi, kesungguhan, dan kerja sama yang kuat. Dengan kesungguhan dan motivasi maka perjuangan yang dilakukan akan tercapai Apa yang diperjuangkan, bagaimana setelah apa yang diperjuangkan itu tercapai? Lalu, apa yang akan dilakukan? Semua itu menjadi bagian yang harus terus diperjuangkan. Karena itulah, untuk menanamkan nasionalisme harus ada niat, kesungguhan, harapan, dan janji.

“Bangsa kita pada masa revolusi ini amat berbahagia punya pemimpin yang amat mengabdi pada kemerdekaan, pada demokrasi, pada keadilan, pada kebenaran, pada Tuhan. Ingatlah isi

pidato Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahril, semuanya bertegug hati membela demokasi dan kemerdekaan. Tak masuk akal di antara mereka berniat akan menyeleweng, akan mabuk kuasa, akan melakukan korupsi, akan bergila-gila hidup mewah, mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Lihatlah betapa sederhananya hidup mereka. Tak ada bedanya dengan kita. Aku sering ke istana presiden, ke rumah Bung Hatta, Bung Syahril, Bung Natsir, Amir Syarifuddin, Jendral Sudirman, dan lain-lain. Tidak, aku yakin kita sungguh beruntung punya pemimpin seperti

mereka.” (1989, hlm. 43) Kenyataan menunjukkan bahwa

harapan dan janji yang didengungkan para pemimpin adalah modal utama dalam perjuangan selain pengorbanan, kebersamaan dan yang tak kalah penting adalah adanya keyakinan dalam diri setiap pejuang agar nasionalisme terus bergelora. Janji untuk selalu mengutamakan bangsa dan rakyat, serta berperilaku jujur, sederhana, dan tidak bersikap arogan. Keyakinan tersebut harus dilakukan dengan kesadaran sehingga membuat bangsa Indonesia bermartabat. Di samping itu juga dilandasi oleh adanya kesadaran bahwa perjuangan Indonesia pasti mendapat perlindungan dari Tuhan. Kemerdekaan dan nasionalisme pada intinya menyangkut aspek dasar dari manusia dan kemanusiaan. Oleh karena itu,

perjuangan kemerdekaan dan

nasionalisme harus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

(14)

Nasionalisme Melalui Deskripsi Narator

Kecintaan pada kedamaian juga merupakan salah satu perwujudan dari nasionalisme. Hal itu sesuai dengan konsep nasionalisme yang humanis dan berperikemanusiaan. Dalam pandangan humanisme, manusia pada hakikatnya sama. Perbedaan-perbedaan yang ada hanya sebatas pada aspek lahiriah seperti warna kulit bentuk muka, rambut, bahasa, dan sebagainya. Gagasan tentang cinta kedamaian dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Sadeli.

“Manusia yang berkebudayaan dan beradab tinggi mengelakkan pemakaian kekerasan untuk memecahkan persoalan antara mereka, juga antarbangsa.” “Kita harus mengajarkan bahwa paksaan atau kekerasan adalah cara-cara yang paling primitif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan antara manusia. Kita harus meneguhkan tradisi musyawarah untuk menyelesaikan pertikaian antara kita.”

“Sadeli juga merasa kesatuan bumi, satunya dunia, dan satunya umat manusia. Jika seluruh umat manusia benar-benar menyadarinya, tidaklah lagi perlu ada peperangan. Dan damai akan turun ke bumi dan manusia akan bahagia dalam persaudaraan.” (1989, hlm. 185) Kesejajaran dengan bangsa lain merupakan salah satu butir nasionalisme. Hal ini karena nasionalisme Indonesia mewajibkan warganya untuk melakukan

kerja sama antarbangsa. Kerja sama tersebut dalam kerangka penciptaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat harus mampu menun¬jukkan kemampuannya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, manusia Indonesia harus tetap berusaha mengejar kemakmuran yang dicapai pihak lain, seperti yang tergambar dalam Maut dan

Cinta.

Nasionalisme juga berarti merebut tempat, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa lain yang maju. Seluruh komponen bangsa harus berjuang bersama-sama dalam rangka kemajuan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah melalui penguasaan ilmu dan teknologi.

“Sadeli yakin bahwa nilai-nilai manusia Indonesia, martabat manusia Indonesia, dan kemuliaan manusia Indonesia yang hendak direbutnya adalah manusia Indonesia baru– manusia Indonesia yang menguasai ilmu, yang berani karena benar, yang cakap menghadapi manusia lain di dunia. Manusia Indonesia yang hendak membina persaudaraan dengan manusia lain di alam kemerdekaan,

perdamaian, kemakmuran dan

kebahagiaan.”

“Kita harus pandai mengurus diri kita sendiri. Coba pikir bangsa kita begitu banyak ketinggalan dalam segala lapangan. Pendidikan adalah salah satu

hal penting dalam menggapai

kemajuan.”

“Selain itu penting pula pendidikan. Tidak saja pendidikan resmi di sekolah, tetapi juga pendidikan yang dapat

(15)

diberikan pada para pemimpin secara pribadi, agar hidupnya sehari-hari bersih, sederhana, dan jujur.

Kesederhanaanya hatinya,

kedermawanannya, kebesaran jiwanya merupakan teladan yang baik bagi rakyat.” (1989, hlm. 167)

Keinginan untuk maju dalam bidang pendidikan adalah wujud nyata nasionalisme yang bersifat terbuka dan menerima kerja sama dengan bangsa lain. Kenyataan membuktikan bahwa sebagai bangsa, bangsa Indonesia tidak mungkin hidup sendiri. Bangsa Indonesia harus menjadi bagian integral dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Kemandirian bukan berarti harus menutup diri dengan bangsa lain, tetapi sebaliknya sikap kemandirian yang memungkinkan pengembangan jati diri sebagai bangsa yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Kita tetap harus menjalin hubungan dengan bangsa lain. Akan tetapi ketika menentukan sikap, memutuskan pilihan yang menyangkut kepentingan bangsa sendiri haruslah berdasarkan idealisme kemandirian.

SIMPULAN

Berbagai uraian yang telah dikemukakan memberikan gambaran yang mendasar bahwa nasionalisme merupakan konsep yang luas. Pengertiannya tidak dapat hanya dibatasi dengan batasan kewilayahan atau ideologi kelompok.

Nasionalisme adalah roh yang menggerakkan seluruh sepak terjang semua elemen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nasionalisme terbentuk dari interaksi antarelemen di dalam suatu bangsa dan tanggapan bangsa itu terhadap lingkungan, sejarah, dan cita-citanya. Gagasan itulah yang dipahami oleh sejumlah pengarang Indonesia yang kemudian diekspresikan dalam novel-novel yang ditulisnya.

Dari paparan analisis novel Maut

dan Cinta, tampak bahwa nasionalisme

diekspresikan oleh pengarang melalui tokoh, latar, baik latar tempat dan latar waktu penceritaan, serta alur yang dideskripsikan melalui struktur naratif seperti tampak pada cerita yang bertokoh dan berlatar masa revolusi Indonesia. Di samping itu, tampak juga pada sikap, perilaku, dan gagasan tokoh serta deskripsi narator. Nasionalisme yang diungkapkan melalui struktur naratif tampak melalui cerita yang bertokoh dan berlatar revolusi, antara lain, berupa paparan yang menunjukkan jiwa patriotisme, rela berkorban, dan kebersamaan dalam perjuangan.

Nasionalisme juga diungkapkan melalui sikap, perilaku, dan gagasan tokoh tampak melalui paparan berupa motivasi dan makna per¬juangan, nilai kemanusiaan dalam perjuangan, makna

(16)

hakiki kemerdekaan, pengorbanan, kebersamaan, dan persatuan. Selanjutnya, nasionalisme melalui deskripsi narator diungkapkan berupa paparan yang menunjukkan menghapuskan penindasan, kecintaan pada kedamaian, sejajar dengan bangsa lain, penguasaan Ipteks, sikap dan semangat kemandirian.

Dengan begitu. secara tidak langsung menunjukkan bahwa novel Indonesia modern yang berjudul “Maut dan Cinta”, dapat dijadikan sebagai salah satu sarana atau bahan dalam upaya mengembangkan pemahaman tentang nasionalisme dan menumbuhkan karakter bangsa. Selain itu, novel dapat juga dijadikan sebagai bahan atau sarana untuk menanamkan nasionalisme pada generasi muda yang harus disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi. Nasionalisme yang terdapat di dalam novel juga masih memerlukan pema¬haman dan pemaknaan yang komprehensif agar dapat tetap dinamis dan sesuai dengan situasi kekinian. .

DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Alfan. (2010). Refleksi

Nasionalisme di Era Pragmatisme Global. Jurnal Sekretariat Negara

RI No. 17, Agustus 2010.

Anderson, Benedict. (2008). Imagined Communities:

Komunitas-komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist Press & Pustaka Pelajar. Efendi, Anwar. (2008). “Gagasan

Nasionalisme dan Wawasan

Kebangsaan dalam Novel Indonesia Modern”. Dimuat dalam http:// staffnew.uny.ac.id/upload/ 132086367/ lain-lainWawasan Kebangsaan.doc.

Jassin, H. B. (1987). Pujangga Baru

Prosa dan Puisi. Jakarta: CV Haji

Masagung.

Latif, Y. (2009). Menyemai Karakter

Bangsa Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan. Jakarta:

Kompas.

Luxemburg, dkk. (1992). Pengantar Ilmu

Sastra. Jakarta: Gramedia

Sari, Permata Angie. (2017). “Gagasan Nasionalisme Pramoedya Ananta Toer dalam Karya Te- tralogi Buru”. Skripsi. Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Sungkowati, Yulitin.(2019).

“Nasionalisme dalam Cerpen-Cerpen Majalah Panjebar

Semangat Sebelum Kemerdekana. Jurnal Aksara. Vol 31 , No. 2, Desember 2019

Anthony Smith, Nationalism, (2003). Theory, Ideology, History, Terj. Frans Kowa, Nasionalisme: Teori, Ideologi, Sejarah. Jakarta:

Erlangga,

Teeuw, A. (1988). Sastra dan Ilmu

Sastra: Pengantar Teori Sastra.

(17)

Welleck, Renne dan Austin Warren. (1989). Teori Kesusastraan (di-Indonesiakan oleh Melani Budianta) Jakarta: Gramedia Wildan. (2009). “Nasionalisme: Kajian

Novel A. Hasjmy”. Disertasi. Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universitas Kebangsaan Malaysia.

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan konseling sangat bergantung pada hal ini. Karena proses konseling sifatnya tidak boleh dipaksakan. Dalam 8 kali sesi konseling, sesi kedua dan ketiga

Judul Tesis : PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN MELALUI KEPUASAN KERJA KARYAWAN AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA KOMPUTER MEDAN

Hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku nasabah perbankan konvensional beralih ke perbankan

Namun, secara universal al-Quran menampilkan ayat-ayatnya yang mengakomodir peran serta perempuan tidak hanya dalam masalah ibadah dan ketaatan kepada Allah dan

Pengamatan dilakukan selama sembilan minggu dengan destruktif bibit cendana dilakukan tiga kali, yaitu pada umur 3, 6, dan 9 minggu setelah tanam bibit cendana bersama

Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik dari responden jika dilihat dari pendidikan sebagian besar responden yang berpendidikan (70,8%) hal ini akan membantu dalam

Tugas dan fungsi Kecamatan Jejangkit secara umum telah dijabarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pembentukan Perangkat daerah Kabupaten

Hubungan karakteristik dosen di Perguruan Tinggi dengan kontrak psikologis pada jenis kelamin dengan keuangan dosen dan keseimbangan dengan pribadi dosen baik pada