• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI

KUNYIT DAN PRODUK OLAHAN SEBAGAI DASAR

PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG TEPAT

DI KLASTER BIOFARMAKA KABUPATEN KARANGANYAR

Skripsi

NISA RUKMA TOGA

I 0308110

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

(2)

commit to user

LEMBAR PENGESAHAN

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI

KUNYIT DAN PRODUK OLAHAN SEBAGAI DASAR

PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG TEPAT

DI KLASTER BIOFARMAKA KABUPATEN KARANGANYAR

SKRIPSI

Oleh :

Nisa Rukma Toga I 0308110

Telah disidangkan di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret dan diterima guna memenuhi persyaratan untuk mendapat gelar Sarjana Teknik.

Pada hari : Selasa

(3)

commit to user

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan laporan Skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu selama penyusunan laporan skripsi ini yaitu :

1. Mama, Papa dan Mas Sopi yang selalu memberikan doa, perhatian, dukungan, dan motivasi kepada penulis.

2. Bapak Dr. Cucuk Nur Rosyidi, selaku Ketua Jurusan Teknik Industri UNS. 3. Ibu Fakhrina Fahma STP, MT, selaku pembimbing akademis, pembimbing

kerja praktek, pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan dan nasehat.

4. Bapak Murman Budijanto, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya.

5. Bapak Roni Zakaria, ST, MT selaku penguji yang telah memberikan kritik dan saran terhadap penelitian ini.

6. Bapak Ilham Priadythama, ST, MT selaku penguji yang telah memberikan kritik dan saran terhadap penelitian ini.

7. Bapak Parman, selaku ketua Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar 8. Bapak Sarwoko selaku Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki 1, terima kasih

atas informasi dan data yang telah diberikan.

9. Teman-teman Gapoktan, pungky, acil, cent, rio, sony, yunan, nia, jingga, caca, terima kasih atas kebersamaan mencari data..:D

10. Ani, rina, Ellen, diandra, terimakasih atas semangaattnyaa.

11. Teman-teman TI’08 terimakasih atas persahabatan dan kekompakannya. 12. Teman-teman Kos Fanella, nana, reny, nor, laras, fatim, nestry, vika, meta,

anoe dan ika, terimakasih banyak untuk kebersamaan selama ini.

13. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan yang telah diberikan.

Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna dan banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, masukan dan

(4)

commit to user

saran yang membangun untuk penyempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Surakarta, September 2012

(5)

commit to user

ABSTRAK

Nisa Rukma Toga, NIM : I 0308110. PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI KUNYIT DAN PRODUK OLAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK YANG TEPAT DI KLASTER BIOFARMAKA KABUPATEN KARANGANYAR. Skripsi. Surakarta : Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Agustus 2012.

Salah satu masalah yang dihadapi petani terhadap klaster biofarmaka Karanganyar adalah masih rendahnya harga beli dari klaster. Hal ini disebabkan klaster belum menghitung secara detail biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses budidaya kunyit dan proses produksi.Oleh sebab itu perlu dilakukan pengakajian tentang penentuan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit. Sehingga klaster dapat memberikan harga yang sesuai pada produk yang dihasilkan. Penentuan harga pokok produksi ini perlu dilakukan bagi klaster agar klaster mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan selama budidaya dan proses produksi.

Penelitian ini akan memberikan cara perhitungan harga pokok produksi dengan mengimplementasikan metode full costing. Dari setiap proses akan diidentifikasi biaya-biaya apa yang dikeluarkan. Selanjutnya biaya-biaya tersebut diklasifikasikan pada biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Harga pokok produksi diperoleh dari penjumlahan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan bunga majemuk. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung ke klaster biofarmaka dan wawancara kepada Kelompok Petani Sumber Rejeki I, Ketua dan Pengurus Klaster Biofarmaka Karanganyar.

Hasil perhitungan dengan metode full costing harga pokok produksi untuk rimpang kunyit sebesar Rp. 3.417,54, simplisia kunyit sebesar Rp. 37.642,40 dan serbuk kunyit sebesar Rp. 78.647,45. Dilakukan juga perhitungan harga pokok produksi dengan tidak memperhitungkan biaya sewa, biaya depresiasi, bunga majemuk. Sehingga klaster dapat memilih perhitungan mana yang sesuai dengan kondisi klaster dan kondisi pasar saat ini.

Kata Kunci : harga pokok produksi, full costing, kunyit

(6)

commit to user ABSTRACT

Nisa Rukma Toga, NIM: I 0308110. DETERMINATION OF THE PRODUCTION GOODS COST OF TURMERIC AND REFINED PRODUCTS AS THE BASIS FOR THE DETERMINATION OF THE EXACT SELLING PRICE IN THE BIOFARMAKA CLUSTER KARANGANYAR REGENCY. Thesis. Surakarta: Departement of Industrial Engineering, Faculty of Engineering, Sebelas Maret University, September 2012.

One of problems faced by farmers against the biofarmaka cluster is still having low purchase price from the cluster. This is caused by cluster didn’t count the cost in detail that incurred during the cultivation of turmeric period and production process. Therefore cluster needs to determine the cost of goods production for turmeric Rhizome, turmeric powder and simplicia. So cluster can give appropriate price on products. Determination of production goods cost is needed to be done for cluster in order to know costs incurred during cultivation and production processes.

This research will provide a method of calculating the production goods cost by implementing full costing method. Each processes will be identified what costs are incurred. Next incurred costs are classified as the cost of raw materials, cost of labor, and factory overhead costs. Production goods cost is obtained from the summation of raw material cost, labor cost and factory overhead costs, compound interest. Data are obatained from direct observation in biofarmaka cluster and make interview with Farmer Group Sumber Rejeki 1 , Chief and members of cluster.

Results of calculation by the method of full costing cost of goods production for turmeric Rhizome is Rp. 3.417 0.66, simplisia turmeric is Rp. 37.642 .40 and turmeric powder is Rp. 78.647 .45. Calculation of production goods cost without rent cost, depreciation cost and compound interest is counted too. So, cluster can choose the calculation suits with cluster condition and market condition.

Keywords : production goods cost, full costing, turmeric xv+80 pages, 34 tables, 21 images, 14 references (1994-2012).

(7)

commit to user

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN………. SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ILMIAH……….. SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... KATA PENGANTAR………. ABSTRAK... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii iv v vi viii ix x xiii xv BAB I BAB II PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah………... 1.2 Perumusan Masalah………... 1.3 Tujuan Penelitian…..………... 1.4 Manfaat Penelitian………... 1.5 Batasan Masalah………... 1.6 Asumsi………. 1.7 Sistematika Penulisan... TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar

2.1.1 Profil Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar.. 2.2 Landasan Teori 2.2.1 Kunyit……….. 2.2.2 Karakteristik Kunyit……… 2.2.3 Pembudidayaan Kunyit………... 2.2.4 Panen………... 2.2.5 Pascapanen……….. 2.2.6 Biaya………... I - 1 I - 3 I - 3 I - 4 I - 4 I - 4 I - 5 II - 1 II - 4 II - 4 II - 5 II - 8 II - 8 II - 9

(8)

commit to user

BAB III

BAB IV

2.2.7 Pengertian Harga Pokok Produksi……….. 2.2.8 Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi…… 2.2.9 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi………. 2.2.10 Perbedaan Metode Full Costing dengan Metode

Variable Costing……… 2.2.11 Depresiasi……… 2.2.12 Perhitungan Bunga………..

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian………. 3.2 Penjelasan Tahapan Metodologi Penelitian

3.2.1 Tahap Awal... 3.2.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data……… 3.2.3 Analisis dan Kesimpulan……….………

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data

4.1.1 Proses Budidaya Kunyit... 4.1.2 Proses Pembuatan Simplisia Kunyit... 4.1.3 Proses Pembuatan Serbuk Kunyit……… 4.2 Pengolahan data

4.2.1 Identifikasi Biaya………. 4.2.2 Biaya Bahan Baku untuk Rimpang Kunyit……….. 4.2.3 Biaya Tenaga Kerja untuk Rimpang Kunyit……… 4.2.4 Biaya Overhead Pabrik untuk Rimpang Kunyit…… 4.2.5 Harga Pokok Produksi Untuk Rimpang Kunyit…… 4.2.6 Biaya Bahan Baku untuk Simplisia Kunyit……….. 4.2.7 Biaya Tenaga Kerja untuk Simplisia Kunyit………. 4.2.8 Biaya Overhead Pabrik untuk Simplisia Kunyit…... 4.2.9 Harga Pokok Produksi Untuk Simplisia Kunyit…… 4.2.10 Biaya Bahan Baku untuk Serbuk Kunyit…………. 4.2.11 Biaya Tenaga Kerja untuk Serbuk Kunyit………… 4.2.12 Biaya Overhead Pabrik untuk Serbuk Kunyit…….. 4.2.13 Harga Pokok Produksi Untuk Serbuk Kunyit……...

II - 12 II - 13 II - 14 II - 16 II - 18 II - 23 III- 1 III- 2 III- 3 III- 8 IV- 1 IV- 3 IV- 5 IV- 6 IV- 6 IV- 6 IV- 7 IV- 10 IV- 12 IV- 12 IV- 13 IV- 20 IV- 22 IV- 22 IV- 23 IV- 26

(9)

commit to user

BAB V

BAB VI

ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

5.1 Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Kunyit dan Produk Olahan... 5.2 Analisis Proporsi Biaya………. 5.3 Analisis Sensitivitas……….. 5.4 Analisis Biaya Sewa Lahan Dan Biaya Sewa Gudang……. 5.5 Analisis Biaya Depresiasi………. 5.6 Analisis Bunga Majemuk……….. 5.7 Analisis Harga Klaster………..

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan... 6.2 Saran... V - 1 V - 3 V – 5 V – 7 V – 8 V – 9 V - 11 VI- 1 VI- 1

(10)

commit to user

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13 Tabel 4.14 Tabel 4.15 Tabel 4.16

Komoditas Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar... Perbandingan Metode Full Costing dan Variable Costing terhadap Laba……….………... Biaya Bahan Baku ………...……... Biaya Tenaga Kerja ………. Biaya Overhead Pabrik…………..……….. Perhitungan Harga Pokok Produksi untuk Rimpang Kunyit... Perhitungan Harga Pokok Produksi untuk Simplisia Kunyit... Perhitungan Harga Pokok Produksi untuk Serbuk Kunyit... Total Biaya Bahan Baku untuk Kunyit.…………...…………... Biaya Tenaga Kerja untuk Kunyit…….…………...………….. Biaya Overhead Lahan untuk Budidaya Kunyit…….………… Harga Pokok Produksi untuk Rimpang Kunyit……….. Prosentase Biaya pada Proses Budidaya Kunyit………. Perubahan Biaya pada Budidaya Rimpang………. Total Biaya Bahan Baku untuk Simplisia Kunyit.………. Biaya Tenaga Kerja untuk Simplisia Kunyit…….……… Biaya Overhead Pabrik untuk Simplisia Kunyit…….……….. Harga Pokok Produksi untuk Simplisia Kunyit………. Prosentase Biaya pada Proses Produksi Simplisia Kunyit……… ……… Perubahan Biaya pada Proses Produksi Simplisia Kunyit………. Total Biaya Bahan Baku untuk Serbuk Kunyit.……… Biaya Tenaga Kerja untuk Serbuk Kunyit…….……… Biaya Overhead Pabrik untuk Serbuk Kunyit…….…………. Harga Pokok Produksi untuk Serbuk Kunyit………

II - 2 II - 17 III - 3 III- 4 III - 5 III - 7 III - 8 III - 8 IV - 6 IV- 7 IV- 10 IV - 11 IV - 11 IV - 12 IV - 12 IV - 13 IV - 20 IV - 21 IV - 21 IV - 22 IV- 22 IV - 23 IV - 25 IV - 26

(11)

commit to user Tabel 4.17 Tabel 4.18 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 5.6 Tabel 5.7 Tabel 5.8

Prosentase Biaya pada Proses Produksi Serbuk Kunyit…………. Perubahan Biaya pada Proses Produksi Serbuk Kunyit……… Perbandingan Harga Jual Klaster terhadap Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan metode Full Costing………... Perbandingan Harga Jual Klaster terhadap Harga Jual dengan metode Full Costing………... Harga Pokok Produksi tanpa Biaya Sewa Lahan……….. Harga Pokok Produksi tanpa Biaya Sewa Gudang….……….. Perbandingan Harga Pokok Produksi terhadap Bunga Majemuk………..……….. Harga Pokok Produksi tanpa Bunga Majemuk, Biaya Sewa Lahan dan Biaya Sewa Gudang……….……….. Perubahan Harga Bahan Baku terhadap Harga Pokok Produksi….. Perubahan Harga Pokok Produksi tanpa Bunga Majemuk………...

IV - 26 IV - 27 V - 1 V - 2 V - 7 V - 8 V - 10 V - 10 V - 11 V - 11

(12)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 3.1 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Gambar 4.8 Gambar 4.9 Gambar4.10 Gambar4.11 Gambar 5.1 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Gambar 5.4 Gambar 5.5 Gambar 5.6

Struktur Organisasi Klaster Biofarmaka………...……... Rimpang kunyit…………....………... Rimpang Kunyit……….. ………... Metodologi Penelitian………. Proses Budidaya Kunyit………. Proses Pembuatan Simplisia Kunyit ……….…….... Proses Pembuatan Serbuk Kunyit……….. Keranjang……… Karung……… Ember………. Mesin Perajang……….. Perajang Manual………. Widik……….. Sealer……….. Mesin Penggiling……… Proporsi Biaya untuk Budidaya Rimpang Kunyit………. Proporsi Biaya untuk Produksi Simplisia Kunyit………. Proporsi Biaya untuk Produksi Serbuk Kunyit…………. Grafik Perubahan Biaya terhadap Harga Pokok Produksi Rimpang Kunyit……… Grafik Perubahan Biaya terhadap Harga Pokok Produksi Simplisia Kunyit……… Grafik Perubahan Biaya terhadap Harga Pokok Produksi Serbuk Kunyit……… II - 3 II - 4 II - 6 III - 1 IV - 1 IV - 4 IV - 5 IV - 8 IV - 9 IV - 14 IV - 15 IV - 16 IV - 17 IV - 18 IV - 23 V - 3 V - 4 V - 4 V - 5 V - 6 V - 6

(13)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu sektor usaha pertanian yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Kabupaten Karanganyar adalah tanaman obat-obatan (biofarmaka). Ada banyak jenis tanaman obat di Kabupaten Karanganyar yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan berpotensi untuk meningkatkan nilai perdagangan tanaman biofarmaka. Potensi yang tinggi ini tidak sekedar sebagai jamu, tetapi juga menjadi bahan makanan dan kosmetika.

Pengembangan produk biofarmaka ini dapat meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk primer (rimpang) menjadi produk sekunder (simplisia, ekstrak). Pengolahan rimpang menjadi simplisia mempunyai nilai tambah sebesar 7–15 kali (Departemen Pertanian, 2007). Namun cara meningkatkan nilai tambah ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh petani. Hal ini disebabkan lemahnya sumber daya manusia, ketidakpastian pasar bagi produk tanaman obat yang dihasilkan, lemahnya modal dan daya tawar petani (bargain power) untuk menjual hasil panennya dengan harga yang tinggi. Berdasar pada lemahnya modal dan daya tawar petani, pemerintah melalui dinas terkait dapat memberikan program terpadu dari hulu hingga hilir untuk pengembangan tanaman obat dan adanya koordinasi antara petani, pemerintah, litbang dan swasta, sehingga produk biofarmaka ini bernilai tinggi seiring dengan meningkatnya permintaan produk biofarmaka.

Untuk membantu pengembangan produk biofarmaka, pemerintah Kabupaten Karanganyar membentuk Klaster biofarmaka yang terletak di desa Sambirejo Kecamatan Jumantono. Klaster ini bertujuan untuk menghimpun kelompok-kelompok tani tanaman obat agar bersatu, guyub dan akhirnya mempunyai nilai tawar dan nilai tambah dalam usahanya. Dengan adanya klaster sebagai lembaga usaha yang mewakili para petani untuk memotong rantai birokrasi penyaluran distribusi yang sebelumnya harus melalui beberapa tahapan pedagang perantara (tengkulak) yang dinilai tidak efektif dan berpotensi mengurangi pendapatan

(14)

commit to user

petani. Melalui klaster petani dapat langsung berbisinis dengan industri jamu, dimana klaster telah bekerja sama dengan PT. Sido Muncul.

Dengan adanya kerja sama antara klaster dengan industri jamu, klaster mempunyai potensi yang lebih untuk menjual hasil panen para petani ke industri jamu. Namun untuk saat ini para petani dan kelompok tani belum sepenuhnya menjual hasil panen kepada klaster karena klaster memberikan harga yang lebih murah dari pada harga tengkulak. Saat ini untuk rimpang kunyit harga beli dari tengkulak berkisar antara Rp. 2500,-/Kg - Rp. 3000,-/Kg. Sedangkan harga dari klaster hanya sebesar Rp. 2000/Kg.

Rendahnya harga yang diberikan oleh klaster ini dapat mengurangi pendapatan panen para petani. Dengan kondisi seperti ini baik petani maupun klaster dapat menghitung dengan detail biaya-biaya yang dikeluarkan saat proses budidaya dan proses produksi. Selain itu, petani dan klaster mempunyai dasar perhitungan bagi harga produksinya. Petani dan klaster mengetahui tahapan ataupun komponen biaya produksi yang secara signifikan mempengaruhi harga pokok produksi. Sehingga klaster dan petani dapat mewujudkan tujuan dari klaster agar bersatu, guyub dan akhirnya mempunyai nilai tawar dan nilai tambah dalam usahanya, dan petani mengetahui produk apa yang potensial dalam pasar.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengakajian tentang penentuan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit. Penentuan harga pokok produksi ini perlu dilakukan bagi klaster agar klaster mengetahui biaya-biaya yang dikeluarkan selama budidaya dan proses produksi. Sehingga klaster dapat memberikan harga yang sesuai kepada petani.

Harga pokok produksi merupakan keseluruhan biaya produksi yang terserap ke dalam setiap unit produk yang dihasilkan perusahaan. Secara umum biaya produksi dibagi menjadi tiga elemen yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi lainnya (biaya overhead pabrik). Untuk itu pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi yang dihasilkan perusahaan (Wahyuningsih, 2009).

Metode-metode yang dapat digunakan untuk penetapan harga pokok produksi yaitu Variable costing, Full costing dan Activity Based Costing. Pada penelitian ini penetapan harga pokok produksi ditentukan dengan

(15)

commit to user

mengimplementasikan metode Full Costing. Full cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dan atau dibebankan sejak bahan baku mulai diproses sampai produk jadi siap untuk dijual. Perhitungan harga pokok produksi dengan metode ini memiliki keuntungan pada pengalokasian biaya-biaya yang dikeluarkan yang dapat dijelaskan dengan lebih detail ke setiap produk yang dihasilkan. Pada metode ini titik berat fase penentuan harga pokok hanya pada fase produksi saja (Nafarin, 2007).

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah bagaimana menentukan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit pada Klaster Biofarmaka dengan menggunakan metode Full Costing.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menentukan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit pada Klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan metode Full Costing.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk dapat diimplementasikan dan atau dapat dijadikan pertimbangan bagi klaster dalam menentukan standar harga. Selain itu, penelitian ini juga memberikan pedoman pada klaster biofarmaka dalam menentukan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit.

1.5 Batasan Masalah

Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

1. Penetapan harga pokok produksi pada rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit.

(16)

commit to user

2. Perhitungan harga pokok produksi rimpang kunyit dihitung pada luas tanah 1000 m2.

3. Perhitungan harga pokok produksi simplisia kunyit dihitung berdasarkan penggunaan bahan baku rimpang kunyit sebanyak 100 Kg.

4. Perhitungan harga pokok produksi serbuk kunyit dengan menggunakan simplisia 50 Kg.

5. Penelitian ini dilakukan selama bulan Februari - April 2012.

1.6 Asumsi

Asumsi yang digunakan pada penelitian ini adalah harga pasar yang berlaku saat ini diperoleh berdasarkan wawancara.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang mengenai permasalahan yang akan dibahas, perumusan masalah yang diangkat, tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dan batasan masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisikan landasan teori yang merupakan penjelasan secara terperinci mengenai teori-teori yang digunakan, sebagai landasan pemecahan masalah, serta memberikan penjelasan secara garis besar metode yang digunakan oleh Penulis sebagai kerangka pemecahan masalah. Tinjauan pustaka ini diambil dari berbagai sumber.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini merupakan gambaran terstruktur tahap demi tahap proses pelaksanaan penelitian yang digambarkan dalam bentuk flowchart dan tiap tahapnya diberi penjelasan.

(17)

commit to user

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Bab ini menguraikan data-data yang diperlukan untuk penyelesaian masalah dan cara pengolahan data yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian.

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Bab ini berisi analisis dan interpretasi hasil pengolahan data sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dari permasalahan yang dibahas dan saran-saran yang berkaitan dengan permasalahan yang ada.

(18)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar 2.1.1 Profil Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar

Klaster biofarmaka merupakan merupakan salah satu sentra tanaman

biofarmaka di Jawa Tengah yang menyediakan bahan baku jamu tradisional yang jumlahnya melimpah. Tanaman biofarmaka ini dapat tumbuh baik secara alami maupun dibudidayakan oleh para petani baik perorangan maupun kelompok. Menurut data dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan, Kabupaten Karanganyar memiliki luas lahan tanaman obat-obatan sekitar 200 Ha. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan potensi biofarmaka yang cukup besar Pemerintah Kabupaten Karanganyar membentuk klaster biofarmaka yang didirikan pada bulan Maret 2011. Klaster ini beranggotakan dari gabungan beberapa kelompok tani tanaman obat di Kabupaten Karanganyar antara lain: 1. Kelompok Tani Sumber Rejeki I dari Kecamatan Jumantono.

2. Kelompok Tani Madu Asri II dari Kecamatan Ngargoyoso. 3. Kelompok Tani Kridotani dari Kecamatan Kerjo.

4. Kelompok Tani Aneka Karya Lestari dari Kecamatan Mojogedang. 5. Kelompok Tani Trisno Asih dari Kecamatan Jumapolo.

6. Kelompok Tani Sedyo Tekad dari Kecamatan Jatipuro. 7. Kelompok Tani Ngudi Mulyo dari Kecamatan Kerjo. 8. Kelompok Tani Tani Waras dari Kecamatan Jatipuro

9. Kelompok Tani Ngudi Makmur I dari Kecamatan Jumantono. 10. Kelompok Tani Kismo Mulyo dari Kecamatan Jumapolo.

Jumlah anggota Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar 400 petani dengan luas area ± 270 Ha. Komoditas yang dihasilkan adalah :

(19)

commit to user

Tabel 2.1. Komoditas Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar

No JENIS KOMODITAS LUAS (Ha) JUMLAH PRODUKSI (Kg) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jahe Kunyit Kencur Temulawak Lengkuas Kunyit rasamangga Kunir putih Bengkle Temukunci Temuireng 77,65 94 16,60 39,25 31,30 5 3 5 5 3 544.000 940.000 93.000 365.700 287.000 45.000 38.000 30.000 30.000 18.000

Sumber : Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar, 2012.

Visi dari klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah mewujudkan Kabupaten Karanganyar sebagai sentra biofarmaka di Indonesia.

Misi dari klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan luas lahan, ketrampilan budi daya toga, dan kualitas produksi. 2. Kerjasama dengan pemerintah dan pelaku pasar serta pengembangan usaha

berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat.

Struktur organisasi klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada gambar 2.1. Adapun tugas, wewenang, serta tanggung jawab pada setiap struktur organisasi klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut:

1. Ketua

a. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang ada di klaster. b. Mengkoordinir semua kelompok tani yang menjadi anggota klaster.

c. Menyelesaikan dan mencari solusi atas semua permasalahan yang terjadi dari hulu ke hilir yang meliputi budidaya, panen, pasca panen, pengolahan, pemasaran, permodalan, serta sarana dan prasarana yang dapat menunjang produktivitas klaster.

(20)

commit to user

Ketua

Wakil Sekretaris Sekretaris

Wakil Ketua II

Wakil Ketua I Bendahara

Pengolahan dan Pemasaran Usaha

Produksi Usaha

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Klaster Biofarmaka Sumber: Klaster Biofarmaka, 2012

2. Wakil Ketua I dan II

Membantu kerja ketua untuk mengkoordinir semua kegiatan yang ada di klaster.

3. Sekretaris

Mencatat dan melaporkan semua kegiatan dari hulu ke hilir berdasarkan laporan dari tupoksi (tugas pokok dan fungsi) terkait kegiatan.

4. Wakil Sekretaris

Membantu kerja sekretaris dalam hal kearsipan laporan semua kegiatan yang dilaksanakan di klaster.

5. Bendahara

Mencatat semua pengeluaran yang berkaitan dengan keuangan termasuk permodalan.

6. Produksi Usaha

Menkoordinir semua kegiatan yang terkait dengan budidaya dan pengolahan. 7. Pengolahan dan Pemasaran

Mengkoordinir dan memfasilitasi semua kegiatan yang terkait dengan pemasaran.

8. Usaha

(21)

commit to user

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Kunyit

Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.

Gambar 2.2 Rimpang Kunyit

Sumber: buyadana.wordpress.com, 2012 2.2.2 Karakteristik Kunyit

Tanaman kunyit merupakan tanaman berbentuk rumpun yang tumbuh secara berkelompok. Memiliki batang semu yang tegak berbentuk bulat dan menyimpan banyak air di dalamnya. Batang semu ini berwarna hijau kekuningan dan terdiri dari beberapa pelepah daun. Tinggi batang tanaman kunyit berkisar antara 75-100 cm.

Daun tanaman kunyit berbentuk lanset (bulat telur) dengan panjang 10-40 cm dan lebar 8-13 cm. Tulang daun menyirip, berwarna hijau pucat dengan bagian ujung dan pangkal daun meruncing dan tepi daun rata. Satu tanaman kunyit biasanya terdiri dari 6-10 lembar daun yang tersusun secara berselang-seling.

(22)

commit to user

Rimpang kunyit terdiri dari rimpang utama (ibu kunyit) dan rimpang cabang (tunas). Tunas tumbuh pada rimpang utama ke arah samping, mendatar atau melengkung. Tunas berbuku-buku pendek dan biasanya berjumlah banyak. Tunas berkembang terus menerus membentuk cabang-cabang baru dan batang semu sehingga menjadi rumpun tanaman kunyit. Panjang rimpang bisa mencapai 20 cm dengan ketebalan 1,5 - 4 cm. Kulit rimpang berwarna coklat hitam, daging rimpang berwarna kuning sampai jingga kemerahan.

Rimpang kunyit mengandung banyak senyawa yang berkhasiat sebagai obat. Senyawa-senyawa yang terdapat pada kunyit antara lain adalah kurkumin yang memiliki sifat antioksidan dan antitumor; desmetoksikumin 10% dan bisdesmetoksikurkumin 1-5% yang memberi warna kuning yang khas pada kunyit; dan minyak atsiri yang terdiri dari: keton sequiterpen, turmeron, tumeon 60%, zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol, dan sineil. Minyak atsiri memberikan aroma pedas yang lembut yang khas pada kunyit. Kandungan nutrisi pada kunyit melingkupi lemak 1-3%, karbohidrat 3%, protein 30%, pati 8%, vitamin C 45 – 55%, dan mineral seperti zat besi, fosfor dan kalsium.

2.2.3 Pembudidayaan Kunyit

1. Pembibitan dan Pemilihan Bibit

Untuk mendapatkan tanaman kunyit yang baik dibutuhkan bibit yang baik, berasal dari pemecahan rimpang agar lebih mudah tumbuh. Bibit kunyit yang baik memiliki persyaratan sebagai berikut : berasal dari tanaman kunyit yang sehat, tumbuh subur, berdaun banyak dan hijau; cukup umur (berasal dari rimpang dengan usia lebih dari 7 - 12 bulan); bentuk, ukuran dan warna yang seragam; kadar airnya cukup; telah mengalami masa istirahat (domansi) yang cukup; terhindar dari bahan asing, seperti kerikil dan biji tanaman lain.

Bibit dapat berasal dari rimpang utama dan rimpang cabang. Jika bibit yang akan digunakan berasal dari rimpang cabang, maka yang digunakan adalah yang mempunyai berat 20 – 30 gr, maksimum memiliki 13 mata tunas, dan panjang 3 - 7cm. Rimpang yang digunakan untuk bibit adalah yang telah dipanen minimal 11 - 12 bulan.

(23)

commit to user

Gambar 2.3 Rimpang Kunyit

Sumber: http://tanamanherbal.info, 2012

2. Penyemaian

Penyemaian bertujuan untuk menumbuhkan tunas pada bibit agar pemanenan dapat dilakukan secara serentak. Cara menyemaikan bibit kunyit adalah dengan menebarkan rimpang pada jerami atau alang-alang tipis dan mengangin-anginkannya di tempat yang teduh selama 1 - 1,5 bulan dan menyiramnya setiap hari. Bibit akan bertunas dengan baik jika disimpan dalam suhu 25 – 28oC. Apabila tunas sudah tumbuh dengan tinggi sekitar 2 – 3 cm, berarti benih sudah siap ditanam. Sebelum ditanam, benih direndam dalam larutan bakterisida selama 10 jam untuk mencegah infeksi bakteri dan dikeringkan dulu. 3. Penyiapan media tanam dan lahan

Lokasi penanaman dapat berupa lahan perkebunan, tegalan, maupun pekarangan. Persiapan lahan hendaknya dilakukan 30 hari sebelum penanaman, yaitu dengan menggaru atau mencangkul lahan sedalam 30 cm agar gembur, membersihkannya dari ranting-ranting dan gulma serta sisa-sisa tanaman lain. Setelah itu, untuk mengeluarkan gas-gas beracun dari dalam tanah dan mematikan hama dan penyakit, lahan didiamkan selama 1 - 2 minggu. Untuk mempertahankan kesuburan tanah dan meningkatkan unsur hara dalam tanah, dilakukan pemberian pupuk kandang sebanyak 2,5 – 3 Kg per lubang tanam. Lahan kemudian dibiarkan selama 1 minggu sebelum ditanam.

4. Penanaman

Bibit kunyit ditanam dalam lubang tanam dengan mata tunas menghadap ke atas. Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatic sebanyak 1 ml/L pada media dengan mulsa membantu pertumbuhan dan vegetatif kunyit, penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (Indobutryc Acid) sebanyak 200 mg/L pada media yang sama membantu pembentukan rimpang kunyit.

(24)

commit to user 5. Pemeliharaan

Selama pertumbuhan tanaman kunyit diperlukan pemeliharaan yang mencakup penyulaman (mengganti bibit yang sakit/mati dengan bibit yang sehat), penyiangan (menghilangkan gulma yang mengganggu, pertama kali dilakukan saat tanaman berumur 15 hari dan dilakukan 3 - 5 kali bersama penggemburan tanah), dan pembubunan (menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah, dilakukan setelah penyiangan, rutin 3 - 4 kali seminggu). Tanaman kunyit termasuk tanaman yang tidak tahan air, kecuali saat masih berumur muda. Maka untuk menghindari kerusakan yang diakibatkan oleh air yang terlalu banyak, drainase yang baik untuk melancarkan dan mengatur aliran air perlu diperhatikan.

2.2.4 Panen

1. Masa siap panen

Saat panen yang optimal adalah pada saat tanaman kunyit berumur 11 - 12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun kedua. Ciri-ciri dari kunyit siap panen adalah pada saat berhentinya pertumbuhan vegetatif seperti tanaman tampak layu, terutama pada daun dan batangnya.

2. Cara memanen

Sebelum memanen, batang dan daun tanaman kunyit dibuang terlebih dahulu. Kemudian rimpang dibongkar dari dalam tanah dengan menggunakan cangkul atau garpu dan dibersihkan dari tanah yang melekat. Hasil panen dimasukkan ke dalam karung agar tidak rusak.

2.2.5 Pascapanen

1. Penyortiran dan Pencucian

Rimpang kunyit yang telah dipanen dicuci dengan air bersih untuk memisahkan dari kotoran, jika perlu pencucian dilakukan dengan air bertekanan tinggi. Namun pencucian tidak boleh terlalu lama karena akan menghilangkan senyawa aktif yang ada pada kunyit. Waktu pencucian yang paling efektif adalah antara 5 sampai 10 menit. Setelah dicuci, kunyit kemudian ditiriskan.

(25)

commit to user 2. Perajangan

Perajangan dilakukan bila diperlukan. Perajangan rimpang kunyit dilakukan dengan ketebalan sekitar 3 - 4 mm. Kunyit yang telah dirajang kemudian ditimbang dengan teliti.

3. Pengeringan

Pada pengeringan dengan cara penjemuran, rimpang kunyit disimpan di alas yang bersih dan tidak saling menumpuk. Penjemuran dilakukan selama 3 - 5 hari, setiap 4 jam dibolak-balik agar pengeringan merata. Rimpang harus dijemur dalam lingkungan yang bersih. Pada pengeringan dengan oven, rimpang ditaruh di atas loyang dengan rapi tak menumpuk dan dipanaskan pada suhu 50 - 600C. Kadar air maksimal setelah pengeringan adalah 8% dan setelah dikeringkan rimpang kunyit ditimbang kembali.

4. Penyortiran kering

Sortasi kering dilakukan untuk memisahkan rimpang kunyit dengan kotoran-kotoran. Penyortiran ini juga dilakukan berdasarkan besar rimpang.

5. Pengemasan

Rimpang kunyit yang telah dikeringkan dikemas dalam kemasan plastik yang baru, bersih dan kedap udara. Pada setiap plastik hendaknya disertai data nama bahan, bagian dari tanaman bahan, kode produksi, nama dan alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanan.

6. Penyimpanan

Suhu yang tepat untuk menyimpan rimpang kunyit pascapanen adalah 300C. Gudang penyimpanannya adalah harus memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik, namun tidak terlalu lembab, bersih dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

2.2.6 Biaya A. Pengertian

Menurut Mardiasmo (1994), biaya dalam arti luas adalah penggunaan sumber-sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk obyek atau tujuan tertentu. Biaya dapat diklasifikasikan sesuai dengan tujuan pengguna informasi biaya. Sehingga informasi biaya harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan informasi biaya oleh

(26)

commit to user

pemakainya, yang dikenal dengan konsep “different classification of costs for different purpose”.

Biaya adalah mengukur pengorbanan ekonomis yang dilakukan umtuk mencapai tujuan organisasi. Untuk suatu produk, biaya menunjukkan ukuran moneter sumber daya yang digunakan, seperti bahan, tenaga kerja dan overhead (Rayburn, 1999).

B. Penggolongan biaya

Penggolongan adalah proses mengelompokkan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting. Pada perusahaan penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan atau aktivitas perusahaan. Fungsi pokok dari kegiatan perusahaan-perusahaan dapat digolongkan ke dalam :

1. Fungsi produksi, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual. 2. Fungsi pemasaran, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan

penjualan produk selesai yang siap dijual dengan cara yang memuaskan pembeli dan dapat memperoleh laba sesuai yang diinginkan perusahaan sampai dengan pengumpulan kas dari hasil penjualan.

3. Fungsi administrasi dan umum, adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penentuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien).

4. Fungsi keuangan (financial), yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan atau penyediaan dana yang diperlukan perusahaan. Atas dasar fungsi tersebut, biaya dapat dikelompokkan menjadi :

a. Biaya Produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam :

1) Biaya bahan baku

Bahan baku dapat digolongkan ke dalam bahan baku (direct material) dan bahan penolong atau bahan pembantu (indirect material). Bahan baku

(27)

commit to user

adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai dan pemakaiannya dapat diidentifikasikan. Bahan penolong adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai tetapi pemakainnya tidak dapat diikuti jejak atau manfaatnya pada produk selesai tertentu, atau nilainya relatif kecil sehingga meskipun dapat diikuti jejak pemakaiannya menjadi tidak praktis atau tidak bermanfaat.

Biaya bahan baku adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai di dalam pengolahan produk. Biaya bahan penolong adalah harga perolehan bahan penolong yang dipakai di dalam pengolahan produk. Dalam menghitung harga pokok produk, biaya bahan penolong diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik.

2) Biaya tenaga kerja

Biaya tenaga kerja digolongkan pada biaya tenaga kerja langsung (direct labour) dan biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labour). Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya yang diberikan kepada kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasi pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah biaya yang diberikan kepada kepada karyawan pabrik, akan tetapi manfaatnya tidak dapat diidentifikasi pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan.

Biaya tenaga kerja adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan. Sesuai dengan fungsi dimana karyawan bekerja, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi dan umum.

3) Biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, yang elemennya dapat digolongkan ke dalam biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya penyusutan, biaya reparasi, biaya listrik, biaya air, biaya asuransi, dan biaya overhead lain-lain.

b. Biaya pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan pihutang menjadi kas. Biaya ini meliputi

(28)

commit to user

biaya untuk melaksanakan fungsi penjualan, fungsi pergudangan produk selesai, fungsi pengepakan dan pengiriman, fungsi adpertensi, fungsi pemberian kredit dan pengumpulan pihutang, fungsi pembuatan faktur atau administrasi penjualan.

c. Biaya administrasi dan umum, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum. Biaya ini terjadi dalam rangka penentuan kebijaksanaan, pengarahan dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan.

2.2.7 Pengertian Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi (cost of good manufactured) adalah semua biaya yang digunakan untuk membuat satu unit barang jadi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik.

Manfaat mengetahui harga pokok produksi adalah: 1. Untuk menghitung nilai persediaan barang jadi. 2. Untuk menghitung harga pokok penjualan. 3. Untuk dasar menentukan harga jual.

4. Untuk menentukan penawaran harga jual suatu kontrak penjualan. 5. Untuk memenangkan persaingan di pasar.

Menurut Mulyadi (2000) harga pokok merupakan pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva, selain itu harga pokok juga digunakan untuk menunjukkan pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk. Namun karena pembuatan produk tersebut bertujuan mengubah aktiva (berupa persediaan bahan baku) menjadi aktiva lain (persediaan produk jadi), maka pengorbanan bahan baku tersebut, yang berupa biaya bahan baku, akan membentuk harga pokok produksi.

Setiap perusahaan yang dilakukan penghitungan harga pokok produk mempunyai tujuan yang ingin dicapainya. Adapun tujuan dari penghitungan harga pokok produk adalah:

1. Untuk memberikan bantuan guna mendekati harga yang dapat dicapai. 2. Untuk menilai harga-harga yang dapat dicapai atau ditawarkan dari

pendirian ekonomi perusahaan itu sendiri.

(29)

commit to user 4. Untuk menilai barang yang masih dikerjakan.

5. Untuk penetapan yang terus-menerus dan anlisis dari hasil perusahaan.

2.2.8 Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi

Metode pengumpulan harga pokok dapat dikelompokkan menjadi dua metode yaitu metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok proses. Penerapan metode tersebut pada suatu perusahaan tergantung pada sifat atau karakteristik pengolahan bahan menjadi produk selesai yang mempengaruhi metode pengumpulan harga pokok yang digunakan.

a. Metode harga pokok pesanan (job order cost method)

Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan. Pengolahan produk akan dimulai setelah datangnya pesanan dari langganan/pembeli melalui dokumen pesanan penjualan (sales order), yang memuat jenis dan jumlah produk yang dipesan, spesifikasi pesanan, tanggal pesanan diterima dan harus diserahkan. Atas dasar pesanan penjualan akan dibuat perintah produksi untuk melaksanakan kegiatan produksi sesuai dengan yang dipesan oleh pembeli. Dapat disimpulkan bahwa tujuan produksi untuk melayani pesanan dan sifat produksinya akan terputus-putus, selesai diolah pesanan yang satu dilanjutkan pengolahan pesanan yang lain.

b. Metode harga pokok proses

Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu. Pada metode harga pokok proses perusahaan menghasilkan produk yang homogen, bentuk produk bersifat standar, dan tidak tergantung spesifikasi yang diminta oleh pembeli. Kegiatan produksi perusahaan ditentukan oleh budget produksi atau jadwal produksi untuk satuan waktu tertentu yang sekaligus dipakai dasar oleh bagian produksi untuk melaksanakan produksi. Tujuan produksi untuk mengisi persediaan yang selanjutnya akan dijual kepada pembeli, oleh karena itu sifat produk homogeny dan bentuknya standar maka kegiatan produksi dapat dilaksanakan secara kontinyu. Jumlah total biaya pada harga pokok proses dihitung setiap akhir periode dengan menjumlah semua elemen biaya yang dipakai produk dalam satuan waktu tertentu. Untuk menghitung biaya, jumlah

(30)

commit to user

total biaya produksi pada satuan waktu tertentu dibagi jumlah produk yang dihasilkan pada satuan waktu yang sama.

2.2.9 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

Ada dua pendekatan yang digunakan untuk menentukan harga pokok produksi dengan tujuan untuk melakukan penilaian persediaan dan penentuan harga pokok penjualan. Dua pendekatan itu yaitu absorption costing atau disebut juga full costing dan variable costing atau juga sering disebut direct costing atau marginal costing (Garrison, 2000). Dua pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Absorption Costing (Full Costing)

Absorption costing memperlakukan semua biaya produksi sebagai harga pokok (product cost) tanpa memperhatikan apakah biaya tersebut variabel atau tetap. Harga pokok produksi dengan metode absorption costing terdiri dari bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik tetap dan variabel. Karena absorption costing meliputi seluruh biaya produksi sebagai harga pokok, metode ini juga disebut metode full costing.

Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overhead pabrik sesungguhnya. Metode ini menunda pembebanan biaya overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai saat produk yang bersangkutan dijual. Jadi biaya overhead pabrik yang terjadi, baik yang berperilaku tetap maupun yang variabel, masih dianggap sebagai aktiva (karena melekat pada persedian) sebelum persediaan tersebut dijual.

Absorption costing (full costing)

Biaya bahan baku xxx Biaya tenaga kerja langsung xxx Biaya overhead pabrik variabel xxx + Total biaya produksi variabel xxx Biaya overhead tetap xxx + Harga produk per unit xxx

(31)

commit to user

b. Variable Costing

Dengan menggunakan variable costing, hanya biaya produksi yang berubah-ubah sesuai dengan output yang diperlakukan sebagai harga pokok. Pada umumnya terdiri dari bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik variabel. Variable costing juga sering disebut direct costing atau marginal costing.

Dalam metode variable costing, biaya overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai elemen harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap di dalam metode variable costing tidak melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.

Variable costing

Biaya bahan baku xxx Biaya tenaga kerja langsung xxx Biaya overhead pabrik variabel xxx + Harga produk per unit xxx

2.2.10 Perbedaan metode Full costing dengan metode Variable costing

1. Ditinjau dari Sudut Penyajian Laporan Laba Rugi

Perbedaan pokok antara metode full costing dengan variable costing adalah terletak pada klasifikasi pos-pos yang disajikan dalam laporan laba rugi tersebut. Laporan laba rugi yang disusun dengan metode full costing menitikberatkan pada penyajian elemen-elemen biaya menurut hubungan biaya dengan fungsi-fungsi pokok yang ada dalam perusahaan. Sedangkan metode variable costing lebih menitikberatkan pada penyajian biaya sesuai dengan perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan.

2. Perbandingan dampak metode full costing dan variable costing terhadap laba ( Garrison, 2000 ), dapat dilihat pada tabel 2.2.

(32)

commit to user

Tabel 2.2. Perbandingan metode full costing dan variable costing terhadap laba

Hubungan antara produksi dan penjualan

Dampak terhadap persediaan

Hubungan antara laba dengan metode full costing dan variable costing

Produksi = Penjualan Tidak ada perubahan

persediaan

Laba bersih full costing = laba bersih variable costing

Produksi > Penjualan Persediaan meningkat

Laba bersih full costing > laba bersih variable costing

Produksi < Penjualan Persediaan menurun

Laba bersih full costing < laba bersih variable costing

Dari tabel perbandingan dampak metode full costing dan variable costing terhadap laba dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pada saat produksi dan penjualan sama, laba bersih yang dihasilkan sama tanpa dipengaruhi oleh metode yang digunakan. Dengan menggunakan full costing, seluruh biaya overhead pabrik tetap dibebankan ke unit produk sebagai bagian dari harga pokok penjualan. Oleh karenanya dengan metode manapun, jika produksi sama dengan penjualan (tidak ada perubahan dalam persediaan), seluruh biaya overhead pabrik tetap yang terjadi pada tahun tersebut akan dimasukkan dalam laporan laba rugi sebagai beban, sehingga laba bersih dengan kedua metode tersebut hasilnya sama.

b. Pada saat produksi melebihi penjualan, laba bersih yang dilaporkan dengan menggunakan full costing biasanya lebih tinggi daripada laba bersih yang dilaporkan dengan menggunakan variable costing. Hal ini terjadi karena dengan menggunakan full costing, sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode tersebut ditangguhkan dalam persediaan. Dengan menggunakan variable costing, seluruh biaya overhead pabrik tetap akan dibebankan langsung sebagai pengurang pendapatan pada periode tersebut.

c. Pada saat produksi lebih rendah daripada penjualan, laba bersih yang dilaporkan dengan metode full costing lebih rendah daripada laba bersih yang dilaporkan dengan menggunakan metode variable costing. Hal ini terjadi karena ada persediaan yang diterima dari tahun sebelumnya dan biaya overhead pabrik

(33)

commit to user

tetap yang sebelumnya ditangguhkan dalam persediaan berdasarkan metode full costing dikeluarkan dan ditandingkan dengan pendapatan.

d. Setelah beberapa periode, laba bersih yang dilaporkan dengan menggunakan metode full costing dan variable costing akan cenderung sama. Alasannya adalah bahwa dalam jangka panjang, penjualan tidak mungkin melebihi produksi ataupun produksi melebihi penjualan. Dalam jangka pendek, laba rugi akan cenderung berbeda.

2.2.11 Depresiasi

Depresiasi pada dasarnya adalah penurunan nilai suatu properti atau aset karena waktu dan pemakaian. Depresiasi pada suatu properti atau aset biasanya disebabkan karena satu atau lebih faktor-faktor berikut :

1. Kerusakan fisik akibat pemakaian dari alat atau properti tersebut. 2. Kebutuhan produksi atau jasa yang lebih baru dan lebih besar. 3. Penurunan kebutuhan produksi atau jasa.

4. Properti atau aset tersebut menjadi usang karena adanya perkembangan teknologi.

5. Penemuan fasilitas-fasilitas yang bisa menghasilkan produk yang lebih baik dengan ongkos yang lebih rendah dan tingkat keselamatan yang lebih memadai.

Besarnya depresiasi tahunan yang dikenakan pada suatu properti akan tergantung pada beberapa hal yaitu ongkos investasi dari properti tersebut, tanggal pemakaian awalnya, estimasi masa pakainya, nilai sisa yang ditetapkan, dan metode depresiasi yang digunakan.

Banyak metode yang bisa dipakai untuk menentukan beban depresiasi tahunan dari suatu aset. Diantara metode-metode tersebut, yang sering dipakai adalah :

1. Metode Garis Lurus (Straight Line atau SL)

Metode garis lurus didasarkan atas asumsi bahwa berkurangnya nilai suatu aset secara linier (proporsional) terhadap waktu atau umur dari aset tersebut. Besarnya depresiasi tiap tahun dengan metode SL dihitung berdasarkan :

Dt 愨 ………..2.1

(34)

commit to user Dt = besarnya depresiasi pada tahun ke-t P = ongkos awal dari aset yang bersangkutan S = nilai sisa dari aset tersebut

N = masa pakai (umur) dari aset tersebut dinyatakan dalam tahun.

Karena aset didepresiasi dengan jumlah yang sama tiap tahun maka aset tersebut dikurangi dengan besarnya depresiasi tahunan dikalikan t, atau :

BVt = P – t.Dt

= P - t ……….2.2

Tingkat depresiasi (rate of depreciation), d, adalah bagian dari P – S yang didepresiasi tiap tahun. Untuk metode SL, tingkat depresiasi adalah :

Ƽ 愨 ……….2.3 2. Metode Jumlah Digit Tahun (SOYD)

Metode jumlah digit tahun (SOYD) adalah salah satu metode yang dirancang untuk membebankan depresiasi lebih besar pada tahun-tahun awal dan semakin kecil untuk tahun-tahun berikutnya. Ini berarti metode SOYD membebankan depresiasi yang lebih cepat dari metode SL.

Cara perhitungan depresiasi dengan metode SOYD dimulai dengan jumlah digit tahun dari 1 sampai N. Angka yang diperoleh dinamakan jumlah digit tahun (SOYD). Besarnya depresiasi tiap tahun diperoleh dengan mengalikan ongkos awal dikurangi nilai sisa (P – S) dari aset tersebut dengan rasio antara jumlah tahun sisa umur aset terhadap nilai SOYD. Secara sistematis besarnya depresiasi tiap tahun dapat ditulis :

Dt 愨P P) )Pd 彠4Bl彠t 嶈 嶈h 4bh嶈b tbt嶈

d 9 , e 愨 1,2, … … , ………2.4

dimana :

D = beban depresiasi pada tahun ke-t SOYD = jumlah digit tahun dari 1 sampai N

Besarnya SOYD dari suatu aset yang umurnya N tahun adalah : SOYD = 1+2+3+……..+(N-1)+N

(35)

commit to user

Tingkat depresiasi akan menurun tiap tahun. Tingkat depresiasi yang terjadi pada tahun ke-t, dt, dihitung dari rumus :

dt = d ……….2.5

dimana nilai ini sebenarnya adalah faktor pengali dari (P-S) untuk mendapatkan besarnya depresiasi pada suatu saat. Semakin besar t maka dt akan semakin kecil sehingga beban depresiasi juga semakin menurun dengan bertambahnya umur saat.

3. Metode keseimbangan menurun (DB)

Metode keseimbangan menurun juga menyusutkan nilai suatu aset lebih cepat pada tahun-tahun awal dan secara progresif menurun pada tahun-tahun selanjutnya. Metode ini bisa dipakai bila umur aset lebih dari 3 tahun. Besarnya depresiasi pada tahun tertentu dihitung dengan mengalikan suatu presentase tetap dari nilai buku aset tersebut pada akhir tahun sebelumnya.

Dengan demikian maka besarnya beban depresiasi pada tahun ke-t adalah :

Dt = dBVt-1………...2.6

dimana :

d = tingkat depresiasi yang ditetapkan

dBVt-1= nilai buku aset pada akhir athun sebelumnya (t-1) nilai buku pada akhir tahun ke-t akan menjadi :

BVt = BVt-1 - Dt ………..2.7 4. Metode depresiasi sinking fund (SF)

Asumsi dasar yang digunakan pada metode depresiasi sinking fund adalah bahwa penurunan nilai suatu aset semakin cepat dari suatu saat ke saat berikutnya. Peningkatan ini diakibatkan karena disertakannya konsep nilai waktu dari uang sehingga besarnya depresiasi akan meningkat seirama dengan tingkat bunga yang berlaku. Dengan kata lain, besarnya depresiasi akan lebih kecil pada tahun-tahun awal depresiasi. Dengan sifat yang demikian maka pemakaian metode depresiasi sinking fund tidak akan menguntungkan bila ditinjau dari sudut pajak yang harus ditanggung perusahaan. Alasan inilah yang menyebabkan metode depresiasi ini jarang dipakai.

Besarnya depresiasi dinyatakan dengan selisih nilai buku pada tahun (t) dengan nilai buku pada tahun sebelumnya (t-1). Dengan pernyataan lain :

(36)

commit to user

Dt = BVt-1 - BVt ……….2.8 dimana nilai buku pada periode t adalah nilai awal aset tersebut setelah dikurangi akumulasi nilai patokan depresiasi maupun bunga yang terjadi sampai saat itu. Atau dapat juga dirumuskan :

BVt = P – (P – S)(A/F, i%, N) (F/A, i%, t)………2.9 5. Metode depresiasi unit produksi

Apabila penyusutan suatu aset lebih ditentukan oleh intensitas pemakaiannya dibandingkan dengan lamanya alat tersebut dimiliki maka depresiasinya bisa didasarkan atas unit produksi atau unit output dari aset atau properti tersebut.

Pada prinsipnya, unit produksi bisa dinyatakan dari salah satu ukuran berikut:

a. Output produksi, misalnya volume atau berat dari material yang dipindahkan oleh suatu alat pengangkutan material pada tahun tertentu dibandingkan dengan berat atau volume material yang diperkirakan bisa dipindahkan selama masa pakai dari alat tersebut.

b. Hari operasi, menunjukkan jumlah hari operasi suatu aset selama tahun tertentu dibandingkan dengan ekspektasi total hari operasi dari aset tersebut selama masa pakainya.

c. Proyeksi pendapatan, menunjukkan estimasi pendapatan pada tahun tertentu dari suatu aset yang disewakan dibandingkan dengan estimasi pendapatan dari penyewaan alat tersebut selama masa pakainya.

Pada metode depresiasi unit produksi ini, besarnya depresiasi diperhitungkan sama untuk tiap satuan output produksi dari aset tersebut, tanpa memperhitungkan berapa lama output tersebut dicapai. Unit output atau unit produksi ini bisa dinyatakan dengan salah satu dari 3 ukuran yang telah diuraikan. Misalkan Ut adalah jumlah unit produksi suatu aset selama tahun t dan U adalah total unit produksi dari aset tersebut selama masa pakainya, maka besarnya depresiasi pada tahun t adalah jumlah yang boleh didepresiasi (P-S) dikalikan dengan rasio Ut/U. dengan kata lain :

(37)

commit to user

Dengan demikian maka nilai pada akhir tahun ke-t diberikan oleh :

BVt = 9 … ……….2.11

2.2.12 Perhitungan Bunga

Menurut Pujawan (2008) definisi tingkat bunga adalah rasio dari bunga yang dibayarkan terhadap induk dalam suatu periode waktu dan biasanya dinyatakan dalam persentase dari induk. Secara matematis hal ini dapat dirumuskan :

쭘b4Bl嶈e 㽘২4B嶈 愨 ú )/)ú ú/) ) ú 모)ú ú ﲸ)모 100% ...2.12 Ada 2 jenis bunga yang bisa digunakan untuk melakukan perhitungan nilai uang dari waktu yaitu bunga sederhana dan bunga majemuk. Kedua jenis bunga ini akan menghasilkan nilai nominal uang yang berbeda bila perhitungan dilakukan lebih dari satu peiode. Berikut ini penjelasan tentang bunga sederhana dan bunga majemuk.

1. Bunga sederhana

Bunga sederhana dihitung dari induk tanpa memperhitungkan bunga yang telah diakumulasikan pada periode sebelumnya. Secara matematika hal ini bisa diekspresikan sebagai berikut :

I = P x i x N ………..2.13 dimana :

I = Bunga yang terjadi (rupiah)

P = Induk yang dipinjam atau diinvestasikan i = tingkat bunga per periode

N = jumlah periode yang dilibatkan 2. Bunga majemuk

Bunga majemuk dihitung berdasarkan besarnya induk ditambah dengan besarnya bunga yang telah terakumulasi pada periode sebelumnya. Pemajemukan (Compounding) adalah suatu proses matematis penambahan bunga pada induk sehingga terjadi penambahan jumlah induk secara nominal pada periode mendatang. Dengan demikian proses pemajemukan adalah suatu alat untuk mendapatkan nilai yang ekuivalen pada suatu periode mendatang dari sejumlah uang pada saat ini bila tingkat bunga yang berlaku diketahui. Nilai ekuivalen di suatu saat mendatang ini disebut dengan istilah Future Worth (FW) dari nilai

(38)

commit to user

sekarang. Nilai sekarang dari suatu jumlah uang periode mendatang dinamakan Present Worth (PW).

Notasi-notasi yang digunakan yaitu : r = tingkat bunga nominal per periode i = tingkat bunga efektif per periode N = jumlah periode per majemukan

P = nilai sekarang (Present Worth) atau nilai ekuivalen dari satu atau lebih aliran kas pada suatu titik yang didefinisikan sebagai waktu saat ini

A = aliran khas pada akhir periode yang besarnya sama untuk beberapa periode yang berurutan

G = suatu aliran kas dimana dari satu periode ke periode berikutnya terjadi penambahan atau pengurangan kas sejumlah tertentu yang besarnya sama. Rumus –rumus bunga majemuk diskret :

a. Penurunan rumus pembayaran tunggal

Jika uang sejumlah P diinvestasikan saat ini (t=0) dengan tingkat bunga efektif sebesar i% per periode dan dimajemukkan tiap periode maka jumlah uang tersebut pada waktu akhir periode akan menjadi :

F1 = P + bunga dari P = P + Pi

= P(1+i)

Pada akhir periode 2 akan menjadi : F2 = F1 + bunga dari F1

= P(1+i) + P(1+i) = P(1+i) (1+i) = P(1+i)2

Dengan analogi diatas maka pada akhir periode ke N, jumlah uang tersebut akan menjadi :

F = P(1+i)N ………2.14

b. Faktor nilai sekarang dari pembayaran tunggal

Dari persamaan 2.14, kita juga bisa menulis persamaan P sebagai berikut:

(39)

commit to user

Faktor yang berada dalam kurung dinamakan faktor nilai sekarang pembayaran tunggal ( Single Payment Present Worth Factor), atau sering hanya disebut faktor nilai sekarang. Faktor ini memungkinkan kita menghitung nilai sekarang dari suatu nilai F dan N periode mendatang bila tingkat bunga yang berlaku adalah i%. Secara fungsional faktor SPPWF dapat dinyatakan dengan (P/F, i%, N), artinya kita ingin mendapatkan P dengan mengetahui nilai F, i% dan N. oleh karenanya persamaan f dapat diekspresikan dalam bentuk fungsional sebagai berikut:

P = F(P/F, i%, N)………2.16 c. Faktor pemajemukan deret seragam

Diagram alir kas yang menunjukkan deret seragam sebesar A selama N periode dengan bunga i%. deret seragam yang sperti ini sering disebut dengan annuity. Bila kita meminjam sejumlah yang sama (A) setiap tahun selama N tahun dengan bunga i% maka besarnya pinjaman pada tahun ke N tersebut adalah :

F = A (F/A, i%, N)………2.17 d. Faktor singking fund deret seragam

Faktor ini adalah kebalikan dari faktor pemajemukkan deret seragam, dengan persamaan ini kita akan bisa mencari A bila nilai F, i dan N diketahui sebagai berikut :

A = F(A/F, i%, N)………2.18 e. Faktor nilai sekarang deret seragam

Faktor ini digunakan untuk menghitung nilai ekuivalen pada saat ini bila aliran kas seragam sebesar A terjadi pada tiap akhir periode selama N periode dengan tingkat bunga i%. Faktor ini dinamakan nilai sekarang dari deret seragam, yang mana dapat juga ditulis :

P = A (P/A, i%, N)………2.19 f. Faktor pemulihan modal deret seragam

Faktor ini adalah kebalikan dari faktor nilai sekarang deret seragam, yaitu untuk mengkonversikan suatu nilai sekarang pada nilai seragam pada suatu periode tertentu (N) bila tingkat bunga diketahui sebesar i%. Faktor ini dinamakan faktor pemulihan modal deret seragam atau faktor amortisasi dan bisa juga dinyatakan dengan :

(40)

commit to user

Observasi awal

Identifikasi Masalah

Perumusan Masalah Mulai

Identifikasi proses pembudidayaan kunyit dan proses produksi produk olahan kunyit Tahap Awal

Pengumpulan dan Pengolahan

Data

Pemilihan Produk

Menghitung Biaya Bahan

Menghitung Biaya Overhead Pabrik

Menghitung Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing Menghitung Biaya Tenaga Kerja

Analisis dan Interpretasi hasil

Kesimpulan Selesai Tahap Analisis dan Kesimpulan Identifikasi Biaya

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Penelitian

Tahapan yang dilakukan selama pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1.

(41)

commit to user

3.2 Penjelasan Tahapan Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian pada Gambar 3.1 diuraikan dalam beberapa tahap. Uraian tiap tahapnya akan dijelaskan sebagai berikut :

3.2.1 Tahap Awal

Tahap awal pada penelitian ini meliputi observasi awal, identifikasi masalah, pemilihan produk, perumusan masalah yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Observasi awal

Observasi awal merupakan tahap awal dalam penelitian ini. Observasi dilakukan di Klaster biofarmaka Karanganyar. Observasi ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi yang ada di klaster sehingga dapat dengan mudah mengidentifikasi masalah yang ada.

2. Identifikasi Masalah

Tahap ini digunakan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi, kemudian dapat dicari materi serta literatur yang digunakan, agar dapat menentukan metode yang tepat untuk digunakan dalam memecahkan permasalahan yang ada.

3. Pemilihan Produk

Klaster biofarmaka Kabupaten Karanganyar menghasilkan beberapa produk biofarmaka, sehingga pemilihan produk perlu dilakukan agar penelitian lebih terfokus pada produk tertentu. Produk yang dipilih pada penelitian ini yaitu rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit. Rimpang kunyit merupakan jenis tanaman obat yang telah dipanen dan dalam keadaan bersih. Simplisia kunyit yaitu kunyit yang yang telah diiris tipis dengan ketebalan ± 4 mm dan telah dikeringkan. Serbuk kunyit yaitu simplisia kunyit yang telah dihaluskan dengan cara digiling.

4. Perumusan masalah

Perumusan masalah dilakukan untuk merangkum permasalahan yang terjadi dan bagaimana memecahkan masalah yang ada. Pada penelitian ini dirumuskan masalah tentang penentuan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit pada Klaster biofarmaka Karanganyar dengan menggunakan metode Full Costing.

(42)

commit to user

3.2.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data

Tahap pengumpulan dan pengolahan data pada penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data ini dilakukan secara langsung dengan melakukan pengamatan atau observasi dan wawancara. Pengamatan yang dilakukan terkait dengan proses pembudidayaan kunyit, proses produksi simplisia kunyit dan serbuk kunyit. Selain itu, berdsarkan proses-proses yang telah urut maka dapat diketahui aktivitas-aktivitas yang mempengaruhi biaya. Wawancara dilakukan secara langsung kepada ketua dan pengurus klaster biofarmaka.

2. Identifikasi Biaya Bahan baku

Identifikasi biaya bahan baku meliputi penentuan bahan apa saja yang digunakan dalam budidaya kunyit dan proses produksi kunyit yang mengeluarkan biaya.

Tabel 3.1. Biaya Bahan Baku

3. Menghitung Biaya Bahan Baku

Biaya bahan baku adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai pada pengolahan produk.

Perhitungan biaya bahan baku yaitu sebagai berikut :

a. Biaya bahan baku untuk rimpang yaitu pembelian bibit dan pupuk organik. Biaya bibit kunyit = harga bibit kunyit x bibit yang dibutuhkan

Biaya pupuk organik = harga pupuk organik x pupuk yang dibutuhkan b. Biaya bahan baku simplisia kunyit

Biaya bahan baku simplisia = harga kunyit x jumlah kunyit yang diproduksi c. Biaya bahan baku serbuk kunyit

Biaya bahan baku serbuk = harga simplisia x jumlah simplisia yang akan diproduksi

Produk Biaya Bahan Baku

Bibit Kunyit Pupuk Organik Simplisia Kunyit Rimpang Kunyit Serbuk Kunyit Simplisia Kunyit Rimpang kunyit

(43)

commit to user

Produk Biaya Tenaga Kerja (BTK)

BTK Persiapan lahan BTK Penanaman BTK Pemupukan BTK Pemeliharaan BTK Panen BTK Penyortiran BTK Pencucian BTK Pengirisan BTK Pengeringan BTK Pengemasan BTK Penggilingan BTK Pengemasan Rimpang kunyit Serbuk Kunyit Simplisia Kunyit

4. Identifikasi Biaya Tenaga Kerja

Identifikasi biaya tenaga kerja meliputi penentuan tenaga kerja apa yang dibutuhkan dalam budidaya kunyit dan proses produksi kunyit yang mengeluarkan biaya.

Tabel 3.2. Biaya Tenaga Kerja

5. Menghitung Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja adalah semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan. Sesuai dengan fungsi dimana karyawan bekerja, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dll.

BTK Persiapan lahan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Penanaman = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Pemupukan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Pemeliharaan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Panen = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Penyortiran = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Pencucian = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Pengirisan = hasil pengirisan (Kg) x tarif per Kg

BTK Persiapan lahan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Penggilingan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari) BTK Pengemasan = jumlah hari x (jumlah pekerja x tarif per hari)

Gambar

Grafik  Perubahan  Biaya  terhadap  Harga Pokok  Produksi  Rimpang Kunyit…………………………………………
Tabel 2.1. Komoditas Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar  No  JENIS KOMODITAS  LUAS (Ha)  JUMLAH PRODUKSI (Kg)  1
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Klaster Biofarmaka  Sumber: Klaster Biofarmaka, 2012
Gambar 2.2 Rimpang Kunyit               Sumber: buyadana.wordpress.com, 2012  2.2.2 Karakteristik Kunyit
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

 Keluarga distribusi normal terdiri dari distribusi normal yang jumlahnya tak terhingga, Namun, untuk mencari probabilitas suatu interval dari variabel random kontinyu,

Demikian Pengumuman Peringkat Teknis ini disampaikan untuk diketahui kepada semua pihak yang berkepentingan. KELOMPOK KERJA JASA KONSULTANSI

Klaster 2 mempunyai ciri tingkat Angka Harapan Hidup (AHH), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Harapan Lama Sekolah (HLS) yang “rendah” dan tingkat Pengeluaran Per Kapita

1. Kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup masih rendah. Pengelolaan lingkungan hidup di Kota Palangka Raya

Tujuan dari tahap penerimaan adalah untuk memberikan penyambutan kepada pelanggan, memastikan bahwa kendaraan pelanggan diperbaiki dengan benar pada waktu pertama kali, dengan

Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan

Asam fenolik merupakan senyawa polifenol yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Senyawa ini terdiri dari cincin aromatik yang terhidroksilasi. 30 Komponen asam

Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah hotel pada tahun 2013 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2012 Hal ini juga berdampak pada bertambahnya