• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN: Jurnal Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. Vol. 13, No. 01, Maret 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN: Jurnal Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan. Vol. 13, No. 01, Maret 2020"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

S O S I O A K A D E M I K A

Vol. 13, No. 01, Maret 2020 Kinerja Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Zarkoni, Muhamad Toyib, dan Suhairi

Budaya Hidup Anak Jalanan dan Dampaknya pada Pendidikan (Survei Anak Jalanan di Provinsi Jambi)

Norainun dan Zarkoni

Membangun Kelayakan Stratejik Pendidikan Tinggi melalui Penjaminan Mutu Syarifuddin. K

Efektivitas Proses Pembelajaran serta Pengaruh Positif Terhadap Siswa Sekolah Dasar Negeri 298/VI Bukit Beringin III pada Masa Pandemi Covid-19

Suharno

Penerapan Pembelajaran Daring Class serta Pengaruh Terhadap Evaluasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 264/VI Bukit Bungkul II pada Masa Pandemi Covid-19

Sutiyana

Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah dalam Maqhasid Syariah di Pengadilan Agama Bangko

Afrizal

Eksistens Pos Bantuan Hukum di Pengadilan Agama Bangko Ainul Mardhiah

Pengembangan Media Film Dokumenter sebagai Pendukung Pembelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang bagi Siswa SMK Kelas x Akuntansi

Hartini

PemanfaatanE-LearningMoodlePadaMataPelajaranMatematikadiSMKNegeri1KotaJambi AR. Nefrida

Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service Bawah Bolavoli untuk Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi

Sujono

ImplementasiEmployabilitySkillspadaSMKProgramKeahlianTeknikKomputerJaringan Sepriadi Erman

Persepsi Siswa Kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran dan XII Multimedia Terhadap Seleksi Minat dan Bakat Siswa pada Kelas X di SMK Negeri 1 Kota Jambi

Atika Syam Diterbitkan oleh:

STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO-JAMBI

(2)

S O S I O A K A D E M I K A

Penanggung Jawab

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Syekh Maulana Qori Bangko M. Thoiyibi, S.Sos., M.H. (Ketua STAI Syekh Maulana Qori Bangko)

Dr. H. M. Joni, Lc., M.A (Wakil Ketua I STAI SMQ Bangko) Dr. H. Firdaus, M.A. (Wakil Ketua II STAI SMQ Bangko) Drs. Hamdan, M.Pd.I (Wakil Ketua III STAI SMQ Bangko)

Pimpinan Redaksi

Masruri, S.Pd.I., M.Pd.I Abdul Kholik, M.Fil.

Penyunting Pelaksana

Ibrahim, S.Pd., M.Pd.I. Salahuddin, S.E., M.M. Habibah, S.Pd.I., M.Pd.I.

Pelaksana Tata Usaha

Muhammad Nuzli, S.Pd.I., M.Pd. Ahmadi, S.Pd.I., M.M.

Alamat Redaksi

STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO

Jln. Prof. Muhammad Yamin SH, Pasar Atas Bangko-Jambi Telp. 0746- 3260012

(3)

secara eksplisit tercermin dalam Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 488 Tahun 2002 tentang status STAI Syekh Maulana Qori adalah untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan ini lebih lanjut di atur dalam Permendiknas nomor: 22 Tahun 2011 tentang Terbitan Berkala.

Dengan demikian, STAI Syekh Maulana Qori tidak hanya dituntut agar mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu keislaman dan kemasyarakatan melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, dan menyebarluaskannya. Berdasarkan amanat tersebut, pimpinan STAI Syekh Maulana Qori telah mengambil kebijakan yang mengarah kepada peningkatan mutu intelektual akademik dosen STAI Syekh Maulana Qori melalui penerbitan jurnal berkala ilmiah, dan untuk pengelolaannya diberikan pada Pusat Penelitian.

Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan adalah salah satu jurnal ilmiah berkala, yang bertujuan pertama, untuk meningkatkan kemampuan akademik para dosen, karyawan, guru, ilmuan maupun cendekiawan dalam menulis karya ilmiah yang lebih baik sesuai dengan kaidah sistematika jurnal terakreditasi. Kedua, dapat menjadi wadah pembelajaran menulis bagi dosen-dosen pemula dan karyawan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam aspek keterampilan menulis ilmiah. Ketiga, menambah khazanah jurnal yang ada di lingkungan STAI Syekh Maulana Qori untuk pengembangan citra diri sebagai lembaga perguruan tinggi Islam yang ada di Provinsi Jambi.

Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan ini diperuntukkan bagi “mahasiswa baru dan lama”, dosen, karyawan dan peminat informasi-informasi terapan maupun filosofis tentang pendidikan, sosial, bahasa serta budaya yang mengakar pada ilmu keislaman. Oleh karena itu fokus tulisannya lebih banyak menyentuh pada “Pendidikan Islam dalam arti luas dan persoalan sosial kemasyarakatan serta terdapat pula beberapa tulisan yang membahas tentang syari’ah sebagai salah satu keilmuan dalam Islam”.

Pada kesempatan ini tim redaksi mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin yang mana jurnal Sosio Akademika STAI SMQ Bangko telah berjalan pada tahun ke-13, seiring dengan ini diterbitkan pula jurnal Vol. 13, No. 01, Maret 2020. Yang merupakan semangat ke arah pengembangan yang lebih baik.

Saran dan masukan dari semua pihak sangat kami harapkan demi terwujudnya tujuan dan cita-cita mulia kita bersama. Semoga kita dapat berkarya lebih baik lagi di masa mendatang. Demi kemajuan civitas akademika STAI Syekh Maulana Qori.

(4)

Daftar isi... v

Kinerja Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Zarkoni, Muhamad Toyib, dan Suhairi... 1-10

Budaya Hidup Anak Jalanan dan Dampaknya pada Pendidikan (Survei Anak Jalanan di Provinsi Jambi)

Norainun dan Zarkoni... 11-26

Membangun Kelayakan Stratejik Pendidikan Tinggi melalui Penjaminan Mutu

Syarifuddin. K... 27-52

Efektivitas Proses Pembelajaran serta Pengaruh Positif Terhadap Siswa Sekolah Dasar Negeri 298/VI Bukit Beringin III pada Masa Pandemi Covid-19

Suharno... 53-72

Penerapan Pembelajaran Daring Class serta Pengaruh Terhadap Evaluasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 264/VI Bukit Bungkul II pada Masa Pandemi Covid-19

Sutiyana... 73-84

Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah dalam Maqhasid Syariah di Pengadilan Agama Bangko

Afrizal... 85-104

Eksistens Pos Bantuan Hukum di Pengadilan Agama Bangko

Ainul Mardhiah... 105-116

Pengembangan Media Film Dokumenter sebagai Pendukung

Pembelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang bagi Siswa SMK Kelas x Akuntansi

Hartini... 117-126

Pemanfaatan E-Learning Moodle Pada Mata Pelajaran Matematika di SMK Negeri 1 Kota Jambi

AR. Nefrida... 127-136

Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service Bawah Bolavoli untuk Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi

Sujono... 137-146

Implementasi Employability Skills pada SMK Program Keahlian Teknik Komputer Jaringan

Sepriadi Erman... 147-158

Persepsi Siswa Kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran dan XII

Multimedia Terhadap Seleksi Minat dan Bakat Siswa pada Kelas X di SMK Negeri 1 Kota Jambi

(5)

SUHARNO

Guru Sekolah Dasar Negeri 298/VI Merangin ABSTRAK

Efektivitas Proses Pembelajaran serta Pengaruh Positif terhadap Siswa Sekolah Dasar Negeri 298/VI Bukit Beringin III Pada Masa Pandemi Covid-19. Dalam mewujudkan tujuan pendidikan dibutuhkan sosok yang mampu menjadi tumpuan proses pendidikan itu berlangsung. Guru merupakan sosok yang dibutuhkan dalam mewujudkan tujuan tersebut. Sebagai tenaga profesional yang bertugas dalam mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi para peserta didik. Guru merupakan salah satu profesi yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah profesi menuntut orang untuk memiliki profesi tersebut. Sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami perubahan ketika terpapar Covid-19. Terkhususnya di Indonesia sendiri, pemerintah indonesia mengambil sebuah keputusan yang cukup baru di dalam dunia pendidikan. Yang biasanya siswa/i atau pun mahasiswa/i belajar tatap muka di kelas dengan guru, menjadi belajar di rumah secara online atau disebut sistem belajar di dalam jaringan (Daring) di rumah masing-masing. Perubahan itu tampak dalam penggunaan sistem belajar daring. Namun, sistem ini tidak sepenuhnya berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif. Dalam tulisan ini, penulis secara khusus ingin membahas efektivitas proses pembelajaran semasa daring yang diterapkan oleh menteri pendidikan Indonesia dalam situasi Pandemi Covid-19.

Kata Kunci :Efektivitas Proses Pembelajaran PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan wadah yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam mewujudkan tujuan pendidikan dibutuhkan sosok yang mampu menjadi tumpuan proses pendidikan itu berlangsung. Guru merupakan sosok yang dibutuhkan dalam mewujudkan tujuan tersebut. Sebagai tenaga profesional yang bertugas dalam mengajar, mendidik, membimbing, mengarahkan,

(6)

melatih, menilai, dan mengevaluasi para peserta didik sehingga sosok guru dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

Guru merupakan salah satu profesi yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah profesi menuntut orang untuk memiliki profesi tersebut. Begitu juga guru, profesi tersebut dituntut memiliki kriteria dan syarat-syarat menjadi seorang guru. Selain syarat, profesi guru juga dituntut untuk memiliki peran sertanya dalam dunia pendidikan. Beberapa peran guru adalah: 1) sebagai pengajar; 2) sebagai pendidik; 3) sebagai pembimbing; 4) sebagai tenaga profesional; dan 5) sebagai pemberharu. Untuk melaksanakan peran guru tersebut, guru harus memperhatikan bagaimana dia mengimplementasikan perannya dalam proses pembelajaran.

Belajar dan mengajar selalu berkaitan karena seseorang yang belajar pasti ada yang mengajar sehingga terjadi interaksi antara keduanya yang disebut proses belajar mengajar. Adapun Istilah pembelajaran menjadi istilah yang makin populer dan banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Pembelajaran merupakan terjemahan dari Instruction di mana sebelumnya dipandang dengan istilah pengajaran. Dalam hal ini yang dapat membantu seseorang untuk dapat mengajar bukanlah penguasaan metode-metode, melainkan petunjuk tentang bagaimana merancang “jalan pengajaran” atau proses mengajar. (Sardiman,2008,hal 20).

Dengan majunya perkembangan teknologi, negara Indonesia juga mengalami perubahan yang begitu besar, salah satunya pada dunia pendidikan. Misalnya, perubahan yang terjadi pada penggunaan alat tulis untuk para guru. Dahulu para guru lebih akrab dengan penggunaan grave atau batu tulis dalam memberikan materi kepada siswa, kemudian menggunakan kapur tulis dan black board, tetapi sekarang para guru lebih mengakrabkan diri pada white board dan snowman serta proyektor. Bila ditelusuri lebih jauh mengenai dunia pendidikan hingga dengan saat ini, maka terdapat empat peralihan alat teknis yang terjadi mulai dari penggunaan batu tulis hingga penggunaan proyektor. Perubahan ini juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak didik dalam proses pembelajaran. Jika pada zaman dahulu orang lebih serius dan berjuang keras dalam proses pembelajaran sehingga dapat melahirkan generasi yang sungguh-sungguh berkualitas.

Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa penyakit dari virus Corona dinamakan COVID-19 mempunyai kependekan dari Corona Virus Disease yang muncul di tahun 2019, virus korona ini adalah tipe baru yang awalnya ditemukan di Wuhan, provinsi Hubei, China.

Sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami perubahan ketika terpapar Covid-19. Perubahan itu tampak dalam penggunaan sistem belajar

(7)

daring. Namun, sistem ini tidak sepenuhnya berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif. Dalam tulisan ini, penulis secara khusus ingin membahas proses pembelajaran daring yang diterapkan oleh menteri pendidikan Indonesia dalam situasi Pandemi Covid-19.

Karena hal tersebut, banyak orang-orang di dunia yang menggaungkan "Social Distancing, Phisycal Distancing, Stay Home" di media-media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dll. Guna untuk mengajak orang-orang agar bersama-sama memutuskan rantai penyebaran virus corona. Sama hal nya dengan pemerintah di Indonesia, memberikan keputusan dan arahan seperti "Tetap di rumah, Bekerja dari rumah, Belajar dari rumah, dan Ibadah di rumah" terus digaungkan.

Dikarenakan dengan cepat merebaknya virus corona ini, membuat terganggunya aktivitas atau kegiatan sehari-hari setiap orang di dunia, baik itu dalam hal Pekerjaan, Pendidikan, dll. Di tengah Pandemi virus corona saat ini, sistem pendidikan di dunia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dikarenakan untuk menjaga para pelajar atau pun pengajar di dunia pendidikan agar tidak terjangkit wabah virus corona dengan cara Study From Home (Belajar Dari Rumah).

Terkhususnya di Indonesia sendiri, pemerintah indonesia mengambil sebuah keputusan yang cukup baru di dalam dunia pendidikan. Yang biasanya siswa/i atau pun mahasiswa/I belajar tatap muka di kelas dengan guru, menjadi belajar di rumah secara online atau disebut sistem belajar di dalam jaringan (Daring) di rumah masing-masing.

PEMBAHASAN

1. Pengertian Belajar, mengajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar

Para ahli mendefinisikan belajar dengan berbagai rumusan, sehingga terdapat keseragaman tentang makna belajar diantaranya:

1) Geoch, mengatakan : learning is a change in performance as a result of practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).

2) Cronbach memberikan defenisi : learning is show by a change in behavior as a result of experience(:belajar adalah pertunjukan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.[1]

3) Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat Learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. jadi, dalam pandangan Hintzman, perubahan yang

(8)

ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dikatakan belajar apabila memengaruhi organisme.(Muhibbin Syah,2010,hal.88).

4) Arthur J. Gates, menurutnya yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan (leraning is the modification of behavior through experience and training).(Purwa Atmaja Prawira, 2012, hal. 226).

Dari berbagai definisi belajar yang telah dikemukakan para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar adalah proses penguasaan sesuatu yang dipelajari, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Selanjutnya dalam perspektif agama pun (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surah Mujadalah: ayat 11 yang artinya: “niscaya Allah akan meningkatkan beberapa derajat kepada orang-orang dan “berilmu”. Ilmu dalam hal ini tentu saja harus berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. (Muhibbin Syah,2010,hal.90).

b. Pengertian Mengajar

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru. Di samping itu ada beberapa definisi lain yakni:

1) Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada siswa. Menurut pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan.

2) Dalam pengertian yang luas, mengajar diartikan sebagai suatau aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkunagn sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental. (Sardiman,2008, hal 47). c. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses yang kompleks, di dalamnya mencakup proses/kegiatan belajar dan kegiatan mengajar. Kegiatan belajar terutama terjadi pada siswa dengan segala aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sedangkan kegiatan mengajar diperankan oleh guru atau dosen dalam perannya sebagai fasilitator dan desainer proses pembelajaran. Oleh karena itu kualitas proses pembelajaran termasuk juga hasil-hasilnya sangat ditentukan oleh kualitas interaksi dalam proses tersebut, meskipun

(9)

dikarenakan kewenangannya peran guru/dosen akan lebih menonjol bila dilihat dari sudut manajemen pembelajaran.

Pelajar adalah pihak yang harus memanfaatkan proses tersebut untuk mencapai tujuan belajarnya dan guru/dosen merupakan pihak yang harus membantu terciptanya proses yang kondusif bagi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan belajar siswa sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dengan mengacu pada kurikulum dan bahan ajar tertentu untuk kemudian dipilih metode dan media yang tepat. (Sardiman,2008, hal 53).

2. Pengertian Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan interaksi dan saling memengaruhi antara pendidik dan peserta didik, dengan fungsi utama pendidikan memberikan materi pelajaran atau sesuatu yang memengaruhi peserta didik, sedangkan peserta didik menerima pelajaran, pengaruh atau sesuatu yang diberikan oleh pendidik. Pengertian proses belajar mengajar dalam arti sederhana ini dapat dipahami dari beberapa firman Allah Swt, yaitu: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. al-Alaq (96): 1-5).

Dan Dia Mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:” Sebutkan-lah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS. al-Baqarah (2): 31).

Dan Sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia member pelajaran kepadanya:“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman (31): 12-13).(Abuddin, 2010, hal 139).

Dan ayat-ayat al Qur’an tersebut dapat diperoleh isyarat tentang kegiatan belajar mengajar dengan berbagai komponen. Dalam pengertian yang lebih luas dan sistematik, proses belajar mengajar adalah kegiatan yang melibatkan sejumlah komponen yang antara satu dan lainnya. Komponen tersebut antara lain meliputi visi dan tujuan yang ingin dicapai, guru yang professional dan siap mengajar, murid yang siap menerima pelajaran, pendekatan yang akan digunakan, strategi yang akan diterapkan, metode yang akan dipilih, teknik dan taktik yang akan digunakan. (Muhibbin Syah,2010,hal.96).

(10)

Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah proses belajar mengajar itu dapat dilihat pada sejauh mana proses tersebut mampu menumbuhkan, membina, membentuk, dan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki manusia, atau pada sejauh mana ia mampu memberikan perubahan secara signifikan pada kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik.

Proses belajar mengajar secara singkat ialah proses memanusiakan manusia, yakni mengaktualisasikan berbagai potensi manusia, sehingga potensi-potensi tersebut dapat menolong dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebuah proses belajar mengajar dapat di katakan gagal, jika antara sebelum dan sesudah mengikuti sebuah kegiatan belajar mengajar, namun tidak ada perubahan apa-apa pada diri siswa. (Abuddin Nata, 2010,hal 139).

Mungkin sebagian pihak sekolah sudah memberlakukan sistem pembelajaran seperti ini sebelum meluasnya penyebaran virus corona. Namun, Sebagian lagi mungkin belum menerapkan sistem ini di lingkungan sekolah, terutama lingkungan sekolah yang ada di kota-kota kecil di Indonesia, baik itu di tingkatan SD, SMP, SMA atau pun sejenisnya. Dikarenakan merupakan hal yang baru, maka banyak problematika atau pun serba-serbi yang terjadi di dalam sistem pembelajaran ini.

Hal yang saya sering tanyakan adalah apakah model pembelajaran daring ini cocok digunakan oleh para peserta didik di Indonesia, saat ini pembelajaran daring (dalam jaringan) dilakukan serentak di Indonesia tanpa adanya persiapan yang benar-benar matang oleh para pendidik, Walaupun ada sifat pro dan kontra yang mulai timbul oleh orangtua, peserta didik dan para pendidik.

Dengan model pembelajaran daring saat ini, ada beberapa peserta didik yang menerima pembelajaran daring alasannya karena model pembelajaran daring lebih santai, menyenangkan, fleksibel, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat waktu, hemat tenaga. Cara itu juga bisa dilakukan jarak jauh tanpa berkumpul di tempat yang sama.

Selain itu manfaat lain dari model pembelajaran dalam jaringan adalah orang tua bisa mengawasi anak-anaknya belajar, membuat siswa atau guru menjadi melek teknologi, mempercepat era 4.0, meningkatkan kemampuan di bidang ilmu teknologi. Siswa juga menjadi lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas mereka, dapat mengkondisikan diri senyaman mungkin untuk belajar tanpa aturan yang formal.

Mereka memanfaatkan teknologi yang ada untuk kebermanfaatan mungkin merupakan salah satu inovasi yang bagus dan perlu untuk ditingkatkan dalam proses digital mengingat perlu dikuasainya sistem informasi teknologi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan pada era 4.0 yang serba canggih ini.

(11)

Banyak sekali masalah-masalah yang terjadi di dalam sistem belajar semasa Pandemi covid-19 ini , Namun, Beberapa faktor utama masalah tersebut telah dapat teratasi dengan menerapkan pembelajaran daring class pada siswa saat masa Pandemi saat ini.

Seorang guru yang biasanya hampir setiap hari pergi ke sekolah untuk mengajar muridnya di kelas, mengalami perubahan yaitu mengajar dari rumah secara online atau di dalam jaringan (Daring). Hal ini seharusnya menjadi perhatian, sebab seorang guru yang biasa mengajar dengan cukup efektif di kelas, apakah juga tetap bisa mengajar dengan cukup efektif dari rumah. Bukan dalam hal mengajar saja, dikarenakan Pandemi virus corona ini, juga menyebabkan sistem penilaian yang diberikan guru untuk murid menjadi berbeda. Yang biasanya seorang guru memberikan penilaian untuk murid dari kedisiplinan, pemahaman dalam belajar, ketaatan pada aturan, dan kelakuan murid selama berada di sekolah, berubah menjadi penilaian dari tugas-tugas yang diberikan oleh guru untuk murid selama di rumah.

Sama hal nya dengan seorang murid, yang biasanya hampir setiap hari pergi ke sekolah untuk menerima pelajaran di dalam kelas, juga menerima perubahan yaitu belajar dari rumah secara online atau di dalam jaringan (Daring). Hal ini tentu juga menjadi perhatian, apakah seorang murid juga bisa menerima pelajaran dengan baik selama di rumah saat masa Pandemi virus corona ini. Karena saat di rumah, murid harus lebih extra memahami dan menerima pelajaran yang telah diberikan guru tanpa diperhatikan langsung oleh guru.

Bukan hanya itu saja, guru dan juga murid harus bisa memahami teknologi informasi yang digunakan selama sistem pembelajaran dalam jaringan (Daring). Hal ini juga merupakan suatu wawasan baru, dikarenakan teknologi informasi yang akan terus berkembang di masa depan, agar membuat murid menjadi lebih memahami betapa pentingnya teknologi informasi di zaman modern saat ini.

Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online learning model (OLM) antar sekolah atau perguruan tinggi.

3. Pengertian Efektivitas Pembelajaran

Jika dilihat dari istilah tersebut, maka terdapat dua suku kata yang berbeda, yakni efektivitas dan pembelajaran. Makna dari efektivitas itu sendiri adalah ketepatan guna, hasil guna, menunjang tujuan. Sedangkan Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, di mana kegiatan guru sebagai pendidik harus mengajar dan murid sebagai terdidik yang belajar. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan sisi guru sebagai pembelajar, dapat

(12)

ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan fungsional, dalam arti pelaku pendidik dan pelaku terdidik. Dari segi tujuan akan dicapai baik guru maupun siswa sama-sama mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, tujuan guru dan siswa tersebut dapat dipersatukan dalam tujuan instruksional.

Dari segi proses, belajar dan perkembangan merupakan proses internal siswa. Pada belajar dan perkembangan, siswa sendiri yang mengalami, melakukan, dan menghayatinya. Inilah yang dimaksud dengan pembelajaran, di mana proses interaksi terjadi antara guru dengan siswa, yang bertujuan untuk meningkatkan perkembangan mental, sehingga menjadi mandiri dan utuh, di samping itu pula proses belajar tersebut terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Dalam Proses belajar tersebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi suku rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, penguatan, evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar akan kemampuan dirinya.

Dari kegiatan interaksi belajar-mengajar tersebut, guru membelajarkan siswa dengan harapan bahwa siswa belajar. Maka, ranah-ranah tersebut semakin berfungsi. Sebagai ilustrasi, pada ranah kognitif siswa dapat memiliki pengetahuan, pemahaman, dapat menerapkan, menganalisis, sintesis dan mengevaluasi. Pada ranah afektif siswa dapat melakukan penerimaan, partisipasi, menentukan sikap, mengorganisasi dan membentuk pola hidup. Sedangkan pada ranah psikomotorik siswa dapat mempersepsi, bersiap diri, membuat gerakan-gerakan sederhana dan kompleks, membuat penyesuaian pola gerak dan menciptakan gerak-gerak baru.

Walaupun kita tahu bahwa belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran atau dilakukan secara insidental, namun demikian dampak pembelajaran tersebut terhadap belajar sangat bermanfaat dan biasanya mudah diamati. Apabila pembelajaran dirancang untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu (a specific learning objective), maka pembelajaran itu mungkin akan lebih berhasil atau lebih efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran mencakup peristiwa-peristiwa yang dihasilkan atau ditimbulkan oleh sesuatu yang bisa berupa bahan cetakan (buku teks, surat kabar, majalah, dan sebagainya), gambar, program televisi, atau kombinasi dari obyek-obyek fisik, dan sebagainya. Peristiwa ini mencakup semua ranah atau domain hasil belajar (learning outcomes). Secara singkat, dapat kita katakan bahwa pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mempengaruhi si belajar sedemikian rupa, sehingga akan mempermudah ia dalam belajar, atau belajar yang dilakukan oleh si belajar dapat dipermudah/ difasilitasi.

(13)

Maka pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila dapat memfasilitasi pemerolehan pengetahuan dan keterampilan si belajar melalui penyajian informasi dan aktivitas yang dirancang untuk membantu memudahkan siswa dalam rangka mencapai tujuan khusus belajar yang diharapkan. Selain itu diketahui bahwa belajar akan lebih berhasil, bila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. Diketahui pula bahwa setiap anak itu berbeda secara individual, bahwa perbedaan individual ini perlu mendapat perhatian yang lebih banyak.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran, antara lain:

1) Faktor raw input (yakni faktor murid itu sendiri), di mana tiap anak memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam:

2) Kondisi fisiologis 3) Kondisi psikologis

4) Faktor environmental input (yakni faktor lingkungan), baik itu lingkungan alami maupun lingkungan sosial.

b. Faktor instrumental input, yang di dalamnya antara lain terdiri dari: 1) Kurikulum

2) program/bahan pengajaran 3) sarana dan fasilitas

4) guru (tenaga pengajar)

Faktor pertama disebut sebagai “faktor dari dalam“, sedangkan faktor kedua dan ketiga sebagai “faktor dari luar“. Adapun uraian mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1) Faktor dari luar (Eksternal)

a) Faktor Environmental Input (Lingkungan)

Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/ alam dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik/ alami termasuk di dalamnya adalah seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dan sebagainya. Belajar pada keadaan udara yang segar, akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap.

Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi, akan terganggu jika ada orang lain keluar-masuk, bercakap-cakap didekatnya dengan suara keras,dan sebagainya.

Lingkungan sosial yang lain, seperti suara mesin pabrik, hiruk pikuk lalu lintas, ramainya pasar, dan sebagainya juga berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Karena itulah, disarankan agar lingkungan sekolah berada di tempat yang jauh dari keramaian pabrik, lalu-lintas dan pasar.

(14)

b) Faktor-faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan belajar yang telah dicanangkan.

Faktor-faktor instrumental dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware), seperti gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan, dan sebagainya dan juga faktor-faktor lunak (software), seperti kurikulum, bahan/ program yang harus dipelajari, pedoman belajar, dan sebagainya.

2) Faktor dari dalam (Internal)

Diantara faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah faktor individu siswa, baik kondisi fisiologis maupun psikologis anak.

Kondisi Fisiologis Anak

Secara umum, kondisi fisiologis ini seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar. Di samping kondisi yang umum tersebut, yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa adalah kondisi pancaindera, terutama indera penglihatan dan pendengaran.

Karena pentingnya penglihatan dan pendengaran inilah, maka dalam lingkungan pendidikan formal, orang melakukan berbagai penelitian untuk menemukan bentuk dan cara menggunakan alat peraga yang dapat dilihat sekaligus didengar (audio-visual aids). Guru yang baik, tentu akan memperhatikan bagaimana keadaan pancaindera, khususnya penglihatan dan pendengaran anak didiknya.

Kondisi Psikologis Anak

Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor psikologis, yang dianggap utama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar :

a) Minat

Minat sangat mempengaruhi dalam proses dan hasil belajar. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat, maka hasil yang diharapkan akan lebih baik. Maka, tugas guru adalah untuk dapat menarik minat belajar siswa, dengan menggunakan berbagai cara dan usaha mereka. b) Kecerdasan

Telah menjadi pengertian relatif umum, bahwa kecerdasan memegang peran besar dalam menentukan berhasil-tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas,

(15)

pada umumnya akan lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. Kecerdasan seseorang biasanya dapat diukur dengan menggunakan alat tertentu. Hasil dari pengukuran kecerdasan, biasanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan perbandingan kecerdasan yang terkenal dengan sebutan Intelligence Quetient (IQ).

c) Bakat

Di samping intelegensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Secara definitif, anak berbakat adalah anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi, karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang tinggi. Anak tersebut adalah anak yang membutuhkan program pendidikan berdiferensiasi dan pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa, untuk merealisasikan sumbangannya terhadap masyarakat maupun terhadap dirinya.

d) Motivasi

Motivasi merupakan dorongan yang ada di dalam individu, tetapi munculnya motivasi yang kuat atau lemah, dapat ditimbulkan oleh rangsangan dari luar. Oleh karena itu, dapat dibedakan menjadi dua motif, yaitu : motif intrinsik dan motif ekstrinsik.

Motif Intrinsik adalah motif yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan, tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. Sedangkan motif ekstrinsik adalah motif yang timbul akibat rangsangan dari luar. Pada umumnya, motif intrinsik lebih efektif dalam mendorong seseorang untuk lebih giat belajar daripada motif ekstrinsik.

e) Kemampuan-kemampuan Kognitif

Walaupun diakui bahwa tujuan pendidikan yang berarti juga tujuan belajar itu meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Namun tidak dapat diingkari, bahwa sampai sekarang pengukuran kognitif masih diutamakan untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. Sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik lebih bersifat pelengkap dalam menentukan derajat keberhasilan belajar anak di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan kognitif akan tetap merupakan faktor penting dalam belajar siswa / peserta didik. Kemampuan kognitif yang paling utama adalah kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, mengingat, dan berpikir. Setelah diketahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar seperti diuraikan di atas, maka hal penting yang harus dilakukan bagi para pendidik, guru, orangtua, dan sebagainya adalah mengatur faktor-faktor tersebut agar dapat berjalan seoptimal mungkin.

5. Cara belajar mengajar yang efektif a. Cara Belajar Yang Efektif

(16)

Untuk mempertinggi produksi, maka Miunsterberg dan Taylor mengadakan penyelidikan ilmiah tentang cara-cara bekerja efisien. Efisien dalam industri telah banyak menjadi kenyataan, sehingga pemborosan bahan dan waktu diperkecil sampai minimal.

Seperti diketahui, belajar itu sangat kompleks dan belum diketahui segala seluk-beluknya. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik kecakapan dan ketangkasan belajar berbeda secara individual. Walaupun demikian, kita dapat membantu siswa dengan memberikan petunjuk-petunjuk umum tentang cara-cara belajar yang efisien. Ini tidak berarti, bahwa mengenal petunjuk tersebut dengan sendirinya akan menjamin sukses siswa. Kesuksesan hanya tercapai berkat usaha keras, tanpa diiringi dengan usaha tidak akan tercapai suatu apa pun.

Di samping memberikan petunjuk tentang cara-cara belajar, baiknya siswa juga diawasi dan dibimbing sewaktu mereka belajar. Dengan begitu, maka hasilnya akan jauh lebih baik lagi sesuai dengan apa yang kita harapkan. 2). Kondisi dan Strategi Belajar

Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif, perlu diperhatikan beberapa hal, sebagai berikut :

a). Kondisi Internal

Yang dimaksud dengan kondisi internal, yaitu kondisi/situasi yang ada di dalam diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanan, ketenteramannya, dan sebagainya. Siswa dapat belajar dengan baik, jika kebutuhan internalnya dapat terpenuhi. Menurut Maslow, ada tujuh jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, antara lain :

(1) Kebutuhan Fisiologis

Merupakan kebutuhan jasmani manusia, misalnya kebutuhan akan makan, minum, tidur, istirahat, dan kesehatan. Untuk dapat belajar secara efektif dan efisien, siswa harus sehat, dan jangan sampai sakit sehingga dapat mengganggu kerja otak yang mengakibatkan terganggunya kondisi dan konsentrasi belajar seseorang.

(2) Kebutuhan akan Keamanan

Manusia membutuhkan ketenteraman dan keamanan jiwa yang jauh dari rasa kecewa, takut, kegagalan, dan sebagainya. Oleh karena itu, agar cara belajar siswa dapat ditingkatkan ke arah yang efektif, maka siswa harus dapat menjaga keseimbangan emosi, sehingga perasaan aman dapat tercapai dan konsentrasi pikiran dapat dipusatkan pada materi pelajaran yang ingin dipelajari.

(3) Kebutuhan akan Kebersamaan dan Cinta

Manusia dalam hidup membutuhkan kasih-sayang dari orang tua, saudara dan teman-teman yang lain. Di samping itu, ia akan merasa bahagia jika dapat membantu dan memberikan cinta-kasih kepada orang lain. Oleh

(17)

karena itu, belajar bersama dengan kawan-kawan lain dapat meningkatkan pengetahuan dan ketajaman berpikir siswa. Untuk itu, diperlukan cara berpikir yang terbuka (open-minded), kerja sama, memilih materi yang tepat, dan ditunjang dengan visualisasi (contoh nyata atau gambar-gambar, dan sebagainya).

(4) Kebutuhan akan Status

Setiap orang akan berusaha semaksimal mungkin, agar keinginannya dapat berhasil. Untuk kelancaran belajar, diperlukan sifat optimis, percaya akan kemampuan diri, dan yakin bahwa ia dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

(5) Kebutuhan Self-Actualisation

Belajar yang efektif dapat diciptakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang. Oleh karena itu, siswa harus yakin bahwa dengan belajar yang baik, akan dapat membantu tercapainya cita-cita yang diinginkan. (6) Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti

Yaitu kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, mendapatkan pengetahuan, informasi, dan untuk mengerti sesuatu. Hanya dengan belajarlah upaya pemenuhan kebutuhan ini dapat terwujud.

(7) Kebutuhan Estetik

Yaitu kebutuhan yang dimanifestasikan sebagai kebutuhan akan keteraturan, keseimbangan dan kelengkapan dari suatu tindakan. Hal ini hanya mungkin terpenuhi, jika siswa belajar tanpa henti dan tidak hanya selama di pendidikan formal saja, melainkan juga setelah selesai, setelah bekerja, berkeluarga serta berperan dalam masyarakat.

b). Kondisi Eksternal

Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia. Misalnya kebersihan rumah, penerangan, serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk dapat belajar yang efektif, diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, seperti :

− Ruang belajar harus bersih, tidak terdapat bau yang dapat mengganggu konsentrasi pikiran.

− Ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat mengganggu pandangan mata. − Sarana yang diperlukan tercukupi untuk belajar, misalnya alat pelajaran,

buku-buku, dan sebagainya. 3) Strategi Belajar

Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar diperlukan untuk dapat mencapai hasil semaksimal mungkin. Adapun cara belajar yang baik dengan petunjuk sebagai berikut:

(18)

Belajar merupakan tenaga yang harus dijaga, karena itu untuk mencapai hasil yang baik diperlukan keadaan jasmani yang sehat agar tidak mudah sakit, dan sebagainya.

b) Keadaan Emosional dan Sosial

Siswa yang merasa jiwanya tertekan, selalu dalam keadaan takut akan kegagalan, mengalami kegoncangan karena emosi yang tidak kuat, tidak mungkin dapat belajar secara efektif. Maka, keadaan tersebut harus dijaga dengan baik.

c) Keadaan Lingkungan

Tempat belajar hendaknya tenang, tanpa gangguan dari luar. Begitu juga sebelum pelajaran dimulai, hendaknya apa-apa yang dibutuhkan dipersiapkan terlebih dahulu.

d) Memulai Belajar

Dalam hal ini, sering menunda dan enggan untuk memulai belajar. Maka, kita harus mengatasinya dengan suatu “perintah“ pada diri sendiri untuk memulai pekerjaan tersebut tepat pada waktunya.

e) Membagi Pekerjaan

Dengan semboyan “Devide et Impera“ kita dapat menyelesaikan pekerjaan yang banyak sekaligus. Dengan pintar-pintar memilih mana yang lebih penting dan harus dikerjakan terlebih dahulu, daripada hal-hal yang dianggap kurang menguntungkan.

f) Adakan Kontrol

Selidiki kembali pada akhir belajar, sampai sejauh manakah bahan tersebut dapat dikuasai. Jika hasilnya kurang memuaskan kiranya memerlukan latihan khusus, sebaliknya jika hasilnya sudah bagus perlu ditingkatkan dan dipertahankan lagi.

g) Pupuk sikap optimistis

Adakan persaingan dengan diri sendiri, niscaya prestasi akan meningkat dan karena itu memupuk sikap optimistis sangat penting.

h) Waktu bekerja

Waktu yang tepat kita jadikan alat untuk memerintah diri kita sendiri. Karena, jika kita menyimpang dari waktu yang telah direncanakan maka akan mengalami kegagalan.

i) Buatlah suatu rencana kerja

Dengan adanya suatu rencana kerja dengan pembagian waktu, tampaklah bahwa selalu cukup waktu untuk belajar. Hanya dengan rencana kerja yang teliti kita dapat menggunakan waktu dengan efisien.

(19)

Menggunakan waktu tidak berarti bekerja lama sampai habis tenaga, melainkan bekerja sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga dan perhatian untuk menyelesaikan suatu tugas yang khusus.

k) Belajar keras tidak merusak

Belajar dengan penuh konsentrasi itu tidak merusak. Yang merusak ialah menggunakan waktu tidur untuk belajar, karena dapat mengurangi waktu istirahat.

l) Cara mempelajari buku

Sebelum kita mulai membaca buku, terlebih dahulu kita coba memperoleh gambaran tentang buku melalui garis besarnya dengan menyelidiki daftar isi buku tersebut.

m)Mempertinggi kecepatan membaca

Seorang pelajar harus sanggup menghadapi isi yang sebanyak-banyaknya dari bacaan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Seorang pelajar harus mencapai kecepatan membaca sekurang-kurangnya 200 perkataan dalam satu menit. Ini hanya mungkin jika kita membaca dengan “lompatan mata“ tanpa mengucapkannya dengan menggerakkan bibir atau dalam hati, karena pengucapan itu dapat memperlambat kecepatan.

n) Jangan membaca belaka

Membaca bukan sekedar mengetahui kata-katanya, melainkan juga mengikuti jalan pikiran si pengarang, reading may be regarded as reasoning. Setelah kita membaca satu bagian, kita harus mengatakannya kembali dengan kata-kata sendiri sambil merenungkan isinya secara kritis dan membandingkannya dengan apa yang telah kita ketahui. Jadi, kita harus mengadakan reaksi terhadap apa yang kita baca, dengan mengajak orang lain untuk berdiskusi.

4) Metode Belajar

Metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Belajar bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan, dan keterampilan, cara-cara yang dipakai tersebut akan menjadi kebiasaan yang dapat mempengaruhi belajar itu sendiri.

a) Pembuatan Jadwal dan Pelaksanaannya

Jadwal adalah pembagian waktu untuk sejumlah kegiatan yang akan dilakukan seseorang setiap harinya, agar dapat berjalan dengan baik dan berhasil. Maka, cara membuat jadwal yang baik adalah sebagai berikut :

− Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan keperluan seperti tidur, makan-minum, mandi, olah raga, belajar, dan sebagainya.

− Menyelidiki dan menentukan waktu yang tersedia setiap hari.

− Merencanakan penggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis mata pelajarannya dan urut-urutan yang harus dipelajari.

(20)

− Menyelidiki waktu mana yang dapat digunakan untuk belajar dengan hasil terbaik. Setelah diketahui, kemudian dipergunakan untuk mempelajari pelajaran yang dianggap sulit, sedangkan pelajaran yang dianggap ringan dapat dipelajari pada jam belajar yang lain.

− Berhematlah dengan waktu, dan jangan ragu untuk belajar dan memulai suatu pekerjaan.

b) Membaca dan Membuat Catatan

Agar dapat belajar dengan baik, salah satu metode membaca yang baik dan banyak dipakai untuk belajar adalah metode SQR4, yaitu Survey (meninjau), Question (mengajukan pertanyaan), Read (membaca), Recite (mengahafal), Write (menulis), dan Review (mengingat kembali).

Membuat catatan juga sangat berpengaruh dalam membaca. Catatan yang baik, rapi, lengkap, teratur, akan menambah semangat dalam belajar, karena tidak terjadi rasa bosan untuk membaca dalam jangka waktu yang lama. Dalam membuat catatan sebaiknya diambil intisarinya saja dengan tulisan yang jelas dan teratur, agar mudah dibaca dan dipelajari. Bahkan perlu ditulis juga tanggal dan hari mencatatnya, pelajaran apa, siapa gurunya, bab/pokok yang dibahas dan buku pegangan wajib/pelengkap. Karena, buku pegangan wajib/pelengkap ini perlu untuk memperkaya dalam mempelajari suatu mata pelajaran/bidang studi.

c) Mengulangi Bahan Pelajaran

Dengan adanya pengulangan (review),bahan yang belum dikuasai serta mudah terlupakan akan tetap tertanam dalam otak seseorang. Mengulang dapat dilakukan secara langsung setelah membaca, atau mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari. Cara ini dapat ditempuh dengan cara membuat ringkasan, maupun mempelajari soal-soal yang sudah pernah dibuatnya. Agar dapat mengulang dengan baik, maka perlulah kiranya disediakan waktu untuk mengulang dan menggunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya melalui menghafal dengan bermakna dan memahami bahan yang diulang secara sungguh-sungguh.

Menghafal dapat dengan cara diam, tetapi otaknya berusaha mengingat dan juga dapat dengan membaca keras/ mendengarkan dan juga dengan menulisnya.

d) Konsentrasi

Konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan. Dalam belajar, konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran.

Seseorang yang dapat belajar dengan baik adalah orang yang dapat berkonsentrasi dengan baik, dengan kata lain ia harus memiliki kebiasaan untuk memusatkan pikiran.

(21)

Agar dapat berkonsentrasi dengan baik, perlu adanya usaha sebagai berikut : siswa memiliki minat dan motivasi yang tinggi, ada tempat belajar tertentu dengan meja belajar yang bersih dan rapi, mencegah timbulnya kejemuan/kebosanan, menjaga kesehatan dan memperhatikan kelelahan, menyelesaikan masalah yang mengganggu dan bertekad untuk mencapai tujuan/ hasil yang terbaik setiap kali belajar.

e) Mengerjakan Tugas

Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan-latihan. Mengerjakan tugas dapat berupa mengerjakan tes/ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat/mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku maupun soal-soal buatan sendiri.

Agar siswa berhasil dalam belajarnya, perlunya diberikan tugas untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Tugas tersebut, mencakup mengerjakan PR, menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, tes/ ulangan harian, ulangan umum dan ujian.

b. Cara Mengajar Yang Efektif

Mengajar adalah membimbing siswa, agar mengalami proses belajar. Dalam belajar, siswa menghendaki hasil belajar yang efektif bagi dirinya. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus membantu dengan cara mengajar yang efektif. Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula. Maka, untuk mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut :

1) Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Didalam belajar, siswa harus mengalami aktivitas mental, dan juga aktivitas jasmani.

2) Guru harus menggunakan banyak metode pada waktu mengajar. Dengan variasi metode, mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan suasana kelas menjadi hidup. 3) Motivasi. Hal ini sangat berperan pada kemajuan, perkembangan anak

selanjutnya melalui Proses Belajar Mengajar. Bila motivasi guru tepat mengenai sasaran akan meningkatkan kegiatan anak dalam belajar.

4) Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah ini juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian anak, disamping kebutuhan anak sebagai anggota masyarakat.

5) Guru perlu mempertimbangkan pada perbedaan individual. Guru tidak cukup hanya merencanakan pengajaran klasikal, karena masing-masing anak mempunyai perbedaan dalam beberapa segi, misalnya intellegensi, bakat, tingkah laku, sikap, dll.

6) Guru akan mengajar dengan efektif, bila selalu membuat perencanaan dahulu sebelum mengajar. Dengan persiapan mengajar, guru akan merasa mantap dan lebih percaya diri berdiri didepan kelas untuk melakukan interaksi dengan siswa-siswinya.

(22)

7) Pengaruh guru yang sugestif perlu diberikan pula kepada anak. Sugesti yang kuat, akan merangsang anak untuk lebih giat lagi dalam belajar.

8) Seorang guru harus memiliki keberanian menghadapi murid-muridnya, berkenaan dengan permasalahan yang timbul pada saat Proses Belajar Mengajar berlangsung.

9) Guru harus mampu menciptakan suasana yang demokratis di sekolah. Lingkungan yang saling menghormati, dapat memahami kebutuhan anak, bertenggang-rasa, dll.

10) Pada penyajian bahan pelajaran pada anak, guru perlu memberikan persoalan yang dapat merangsang anak untuk berpikir dan memunculkan reaksinya. 11) Semua pelajaran yang diberikan anak perlu diintegrasikan, sehingga anak

memiliki pengetahuan yang terintegrasi, tidak terpisah-pisah pada sistem pengajaran lama, yang memberikan pelajaran terpisah satu sama lainnya. 12) Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata di

masyarakat.

13) Dalam interaksi belajar-mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan pada anak untuk dapat menyelidiki sendiri, belajar sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri, dan sebagainya.

14) Pengajaran remedial, yang diadakan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan sebagainya.

SIMPULAN

Pada hakikatnya belajar adalah proses penguasaan sesuatu yang dipelajari, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat kehidupannya meningkat. Belajar dan mengajar selalu berkaitan karena seseorang yang belajar pasti ada yang mengajar sehingga terjadi interaksi antara keduanya yang disebut proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran merupakan proses yang kompleks,di dalamnya mencakup proses/kegiatan belajar dan kegiatan mengajar.

Komponen-komponen proses belajar mengajar dalam pendidikan Islam di antaranya harus menentukan tujuan belajar mengajar, menentukan pendekatan dalam proses belajar mengajar, menentukan metode pengajaran, menentukan teknik mengajar, dan menentukan taktik.

Dalam hal belajar mengajar yang dapat membantu seseorang untuk dapat mengajar bukanlah penguasaan metode-metode, melainkan petunjuk tentang bagaimana merancang “jalan pengajaran” atau proses mengajar. Untuk itu dibutuhkanlah cara melaksanakan pengajaran dalam pendidikan islam.

(23)

Model pembelajaran daring saat ini, ada beberapa peserta didik yang menerima pembelajaran daring alasannya karena model pembelajaran daring lebih santai, menyenangkan, fleksibel, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat waktu, hemat tenaga. Cara itu juga bisa dilakukan jarak jauh tanpa berkumpul di tempat yang sama.

Selain itu manfaat lain dari model pembelajaran dalam jaringan adalah orang tua bisa mengawasi anak-anaknya belajar, membuat siswa atau guru menjadi melek teknologi, mempercepat era 4.0, meningkatkan kemampuan dibidang ilmu teknologi. Siswa juga menjadi lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas mereka.

Mereka memanfaatkan teknologi yang ada untuk kebermanfaatan mungkin merupakan salah satu inovasi yang bagus dan perlu untuk ditingkatkan dalam proses digital mengingat perlu dikuasainya sistem informasi teknologi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan pada era 4.0 yang serba canggih ini.

DAFTAR RUJUKAN

Sardiman, a.m, Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo persada 2008

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010

Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2012

]Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo persada 2008

http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/keguruan/belajar-mengajar-dan-pembelajaran

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010

(24)

dipublikasikan di media dan terbitan manapun,

2. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia baku (atau bahasa asing) dengan ragam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, tetapi bukan ragam komunikasi lisan,

3. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kwarto atau A4 dengan satu spasi, 4. Artikel dikirimkan melalui akun penulis yang dapat didaftarkan di

http://ejurnal.staismqbangko.ac.id/pendaftaran.mu

Hak penulis yang diterbitkan Jurnal Sosio Akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Maulana Qori Bangko adalah:

1. Mendapat rekomendasi untuk penerbitan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Maulana Qori Bangko,

2. Penulis artikel mendapatkan hard copy sebanyak 2 (dua) eksemplar. Petunjuk Teknis

1. Judul:

a. Informatif mencerminkan isi artikel

b. Maksimum 12 kata (Bahasa Indonesia) atau 10 kata (Bahasa Inggris) c. Memuat variabel atau konsep yang dicakup dalam artikel

d. Tidak ada singkatan

e. Tidak menggunakan kata-kata klise

2. Penulis, yaitu: nama penulis diketik tanpa mencantumkan gelar kesarjanaan dan gelar lainnya, dan ditambah dengan pekerjaan dengan jelas

3. Abstrak:

a. Abstrak ringkas dan padat (dalam 1 alinea) tentang ide-ide yang paling penting

b. Abstrak memuat:

1) Masalah dan/atau tujuan penelitian 2) Prosedur penelitian

3) Ringkasan hasil penelitian 4) Simpulan

c. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris untuk bisa diakses sehingga memperoleh peluang untuk disitasi

d. Menurut Undang-undang tentang Bahasa, abstrak juga harus ditulis dalam bahasa Indonesia

e. Abstrak memuat 50-250 kata 4. Kata Kunci:

a. Kata kunci memuat kata-kata konseptual, b. Jumlah kata kunci sekitar maksimal 5 kata, c. Dapat berbentuk kata maupun prase. 5. Pendahuluan

a. Biasanya tidak diberi judul b. Memuat:

(25)

4) Wawasan rencana pemecahan masalah dan potensi kontribusinya bagi perkembangan bidang ilmu,

5) Rumusan tujuan penelitian.

6. Metode (khusus tulisan ilmiah hasil penelitian) a. Desain/prosedur penelitian

b. Populasi & sampel/sumber data

c. Alat/Instrumen & bahan yang digunakan d. Bagaimana data dikumpulkan

e. Bagaimana data dianalisis

7. Hasil (khusus tulisan ilmiah hasil penelitian) 8. Pembahasan

a. Pemaknaan/penafsiran hasil analisis data

b. Membandingkan dengan hasil-hasil temuan penelitian sebelumnya untuk menunjukkan adanya temuan baru yang memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu

c. Pengintegrasian hasil-hasil penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan

d. Penyusunan teori baru atau modifikasi teori yang ada 9. Simpulan dengan pendekatan:

a. Menjawab masalah penelitian yang diajukan pada bagian pendahuluan b. Merupakan inti sari hasil pembahasan yang dianggap paling penting/yang

mengandung sesuatu yang baru 10. Biodata Singkat tentang penulis

Alamat Redaksi

STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO

Jln. Prof. Muhammad Yamin SH, Pasar Atas Bangko-Jambi Telp. 0746-3260012/ 0812-7380-416/082185911720 e-mail: [email protected]

Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, merupakan

jurnal ilmiah populer membahas masalah Pendidikan, Sosial dan Keagamaan yang aktual, terbit berdasarkan Surat Keputusan Ketua STAI Syekh Maulana Qori (SMQ) Bangko sebagai wahana komunikasi dan informasi antar Peneliti,

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Hermawan (2012 : 126) promosi penjualan adalah sebuah kegiatan pemasaran yang akan menambah nilai dari sebuah produk dengan jangka waktu yang ditentukan guna

Kemudian pada jam ke-11 mengalami penurunan kemampuan adsorpsi yang mana adsorben tidak bisa menyerap limbah mangan lebih lanjut atau adsorben telah mencapai titik

Sumbangan Debora sebagai perempuan dalam kepemimpinan di tengah-tengah budaya patriarkhi yang patut diteladani ialah bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin dengan tetap

Menurut asal-usul katanya (etimologis), administrasi mengandung pengertian pelayanan, pengaturan, atau pengarahan. Dalam percakapan sehari-hari, administrasi diberi arti

Oleh sebab itu, BSM sebagai salah satu bank syariah terbesar di Indonesia yang menerapkan hukum syariah dalam setiap kegiatannya harus membuat Laporan CSR sebagai

Dimana analisa yang dilakukan dapat dilakukan dengan cara menganalisis/mengolah data yang diperoleh dalam penelitian ini, dimana data yang diperoleh dari

Konsep zero runoff system (ZROS) dikaji untuk diterapkan melalui penentuan arah aliran berdasarkan peta topografi, penentuan curah hujan harian maksimum, perancangan saluran

Berfungsi untuk mengisi, menutup dan memotong kemasan susu yang berbentuk cup plastik. Terdiri atas 3 unit, dengan prinsip kerja berdasarkan tekanan piston yang diatur agar susu