• Tidak ada hasil yang ditemukan

Glaukoma Uveitic.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Glaukoma Uveitic."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan

Kasus

UJIEITIC

GI'AUCOJIIA

FITRATUL

ILAHI

HARMEN

P-rogram Pendidikan

Dokter

Spesialis

Mata

Fakultas

Kedokteran IJniv.

Andalas

(2)

BAB

I

PENDAHULUA}I

Uveilic

glarcoma

di

diagnosis pada saat dimana

uveitis bersamaan dengan adanya

padnggian Tekanan Infra Okuler (

TIO

)

yang menyebabkan kerusakan saraf

optik

atau kehilangan lapangan pandang. Peninggian TIO menrpakan

komplikasi

yang pating sering

dan

frktor

resiko yang

Fnting

dalam rnenimbulkan kebutaan pada pasie'n uveitis. Adanya uveitis bersamaan dengm glaucoma p€rtilma

kali

dilaporkan oleh Joseph Beer (1813) dan uveitic glaucoma digolongkan dalam klasifikasi glaucorna

sekuder

oleh Priesdey Smith

pada tahun

l89l.r

Komplikasi akibat uveitis muncul disebabkan oleh karena pros€s inflarnasi yang terjadi dan dapat juga kmena pemakaian kortikosteroid yang dipakai unhrk mengatasi

reaksi

inflamasi tersebril

baik

sistemik atau topikal.2Jclaukoma merupakan pnyebab

kebutaan

yngke-Z

setelah katarak dan melanda

sekitar 6,?

juta

pnduduk

Cunia4quigey

dm

Broman (2006) melakukan

$rvey

terhadap beberrya ketampok etnik

di

dmia

dan dipeftirakm pada tahun 2010 nanti sekitm 60,5 juta penduduk akan menderita gtaukom4 4? 7o dimrtaranya adalah penduduk Asia

s-

Prevalensi glaukoma pada uveitis dilapart<an 5

%o-23 Yo pada orang devrasa maupun anak-anak dan sebanyak 35

%

dari kasus tersebut telah mengalami kebutaan.6 The Tajimi St tdy melaporkan prevalensi glaukoma sekunder di Jepang

Q,sVo dail

ditemukan

tneitic

glaucoma sebagai

jenis

glaucwra yang paling

banyak. Pe'nelitian

di negma-nEgma

Asia oleh rhe Andhm Prarlesh Eye Disease srualr melaporkan

prevalensi glaukoma sekurder sebanyak 0,28y6 *,huiderr glaukoma rneningkat sesuai waktu, Papadaki

T

et al (2007) melaporkan bahwa

glatkuna

pada pasien uveitis dapu tmjadi 3-12

bulm setelah serangan

yaitu sebanyakT,fyskasus, setelah

l

tahrm ditunukau 6,5yu , setelah 5 tahun

ll,zyo,

dan setelah

l0

tahun insiden nya merjadi 22,7 yo- Uveitis kronis lebih banyak m enysbabkan komplft asi g! aukoma-3

Untuk

populasi

Asia

panyebab uveitis yang sering adal.ah Fucltr' heterochromic

tmeitis,

infeksi

Hergns,

dn

glmcomatasyclitic eirlvs, sedangkm yang disebabkan oleh

Ltprq Tuberculosis,

Slphilis

sering pada tempat tertentu

di

Asia

.

Idioptthic

uveitis

muupakan penyebab in{larnasi yang terbanyak-r lnflamasi menyebabkan terbentukrya sinekia

anterior

(PAS) yang menyebabkan berkembangnya pemeriksaan gonioskopi pasien

uveitic

glauccrna

peripheral Wechiae anteriot (P1LV .2

(3)

Kasus

nteitic

glatrcoma lebih baryak menyebabkan

k&ilangan

vims

(

31,7 yo

)

dibandingkan dengan fuflamasi non glaucrrna (

ld5

%)Mc Clu*ey

et atmelaparkanbahwa l0p/o pasien uveitis umur 65 tahun telah mengalami kehilangan visus. 3

Keberhasilan p€nangruran uveitic glaucoma tergantwrg kepada

etiolory

glaukoma, mekanisme timtulnya

glaukma

dmberamya glwomatous

opic

wuropatlry- Ptinsip

toapi

adalah me,ngatasi

inflmasi ymg

terjadi' menunmkan

tekanm

intra

okuler

&rgm

obat-obffin,

dan bila tidak

teresi

maka

ter4i

pembodahan

dip€rtimbanglon.Tin&hn b€dah

ymg

sekarang

ini

paling

sering alilakrrkm dan cukup

tingg

angka keberhasilannya pada

pasien uveitic glaucoma adalah habekulektomi dengan mrifibrotic agents

.w

Glaucoma dminage devicejuga me.rupakan tindakan bedah yang dilalrukan pada glzucorra sekunder
(4)

BAB

II

I-APORANI

KASUS

Seorangpasien wanita umur 60 tahun di rawat di bangal mata dengan keluhan utama

: kedua mata merah sejak 6 bulan yang IaIu, 1 bulan terakhir disermisakit kepala, mual, rtan

bupelangi

bila

melihat

lampu

Berobat

ke

SpM diberikan obat betes mata dan keluhan

hilang. Riwayat operasi mafa tidak ada Riwayat keluarga yang sakit seperti

i1i

tidak ada.

Status General:

Keadaan Enurn: Baik

Keadaran: CMC

Status Opthalmologi

Dagnosis kerja : Glaukoma Setrnder e c Uveitis ODS

KaarakImmahrODS

DD

: Glaukoma

SubALttODS

OD os

Visus sl20 5/15

Palpebra Edema (-) Edema(-)

Konjrmgtiva Hiperemis (+)injeksi silier (+) tfiperemis (+), injeksi silier (+)

Kornea Kps (+) edona(+) Kps (+) ed€ma(+)

coA

Dugkal VH grade2, flae (+) Deqkal VHgrade 2,

flre

(+;

Pupil Sekhsiq reflex (-) S*Iusio, reflex (-)

rns Arropi (+) bombe Atropi(+) bombe

Lensa Reluifbeoing R€lnlif b€ning

Vitelrs Bening Bufng

Fudrskopi

Media Bening Besing

Paprl Bulal, bts tgs c/d 0,.1{,5 Buld,

trts lgs c/d q3- 0,4

P duall

Ar Vv:2:3

Aa Vv:2:3

Retim Perdaalm & eksudat G) Perdratran&

eksudd (-) Makula Reflek Fovea (+) ReflekFovea(+)

Tlo

015,5 -?n,5 -4719=aS,2 mmHg U55-417,*30,4

mmrf

(5)

Terapi:

Timolol

0,5YoZ

Xl

tts ODS

Glaucon

4Xl tab

KCI2XI

tab

Konsul Sub Bagian

Inf-lmmunologi

:

Kesan : Uveitis

Anterior

ODS

-bjuran

:

USG

Kesan : Vitreus relatif bersih

Work-up etiologi

ll-erapi

:

Posop 6x ODS

SA 2x ODS

krime'td

: OD : Artefak, skotoma parasenfial

OS : Pelebaran

bintik

buh,

Scotoma paracentral

4

Followup

OD OS

Kmjungtiva Hiperernis (+), injeksi silier (+1 Hiperemis (+) injeksi silier (+)

Kmnea Kps

(+;

Kps (+;

coA

Dangkal VH grade 2 flare (+1, Dangkal VH grade 2, flar€ (+),

Ptrpil Seklusiq rf (-) Seklusiq

rf(-)

]EtS Atropi (+) bornbe Atropi (+) bombe

(6)

Gonioskopi:

OD

Kesan: PAS di 3 kuadran OD

PAS di 2 kuadran OS

Rencana : Laser Perifer lridotomy

bila

segment anterior telah tenang

Laboratorium:

GDR:

88 mgolo

IIb

:

llB gflo

l.eukosit:

6400

/mm

LED :39/

- mm

Trombsit

:294.000/ml

DC:0/4D156/37/l

Urine : Protein (+), Ieukosit +3 Ro Thorak : Jantung dan paru

DBN

ASTO :( +

)

RheumaticFc:(-)

CRP:(-)

I/DRL;(-)

Konsul PenyakitDalam : kesan

UTI

Konsul

grg dan

mulut

:

Gangren Radiks,

dilakukan ekstraksi-OS

2+

E

CO

-:--:-lns

347

:

3-07:

S

Sup

lnf

Nasal temp sup Inf Nasal t€ffip

SL + + + + + + +

TtvI + + +

SS + +

PI

l5-3-47

OD

OS

COA Flare

(-)

Flare

(-)

lris

Atropi (+)

Atropi, kidotomi

1+1
(7)

Tlo

OD OS

26-3-W 0 /

5,54

n,5-5

I 10=37,2 mmHg 0l 5,5^An,5^4110=43,4 mmHg

27-347

I I 5,5-3,5 17,5:33,4 mmHg 0 I 5,5

4

/7,5^4,5/I

H0,2

mmHg

2447

l/5,5-417,5:30,4 mmHg 0

1 5,5

4

17,5-5 / 1 Cr37

3

mmHg

34-07

015.54/7,5:30,4 mmHg 015,5-417,5:30,4mmHg

3447 :

dilakukan Trabekulektomi OS

Terapi Post Operasi : Kemicetin,l

X

250 mg

Polydexed

4X

OS

54'07

:

oD :

2/5,5415,5:30A

mmHg

oS

: BIeb (+), Flare G).

Tro:

I l/5"5

.

14447

:

Dilalokan

trabekulektomi

OD

OD;

3/5,5

-717,5:

18,5 mmHg

OS

:8/5,5:

l0,2mmHg (post trabskulektorni hr

kel3

)

17447

OD OS

Visus 5175 cc

s-0,75: 5/6:ph

5/10 cc

s-0,50:5/6:ph

conlunctla

Hiperemis (+), bleb

(+)

Hiperemis

Gl

bleb 1+;

Komea Bening Bening

lns

Atropi,iridelcorni

(+)

Atropi,iridektomi (+)

UUA Flare

(-)

Flare

(-)

ltu

4,5/5,5:18,9

mmHg

515,5:17,3

mmHg
(8)

Tgl konfrol

OD

os

20-t0-07

4,5/5,5:18,9

mmHg 2/5,5-

4,5n,5:28mmHg

5-l-08

4,515,5: l8,9mmHg

215,54n,5:30,4

mmHg

lG2-08

5/5,5:17,3

mmHg 315,5-

5n,y25,8

mmHg

Terapi : Masase OS

Timolol

0,5o/o2

X

I

tetes OS
(9)

BAB III

DISKUSI

Dilaporkan

seorang pasien

wanita

umur 60

th,

telah menjalani pengobatan

di

bagian

mata RS

Dr

M

Djamil

Padang dengan

diagnosis

glaucoma sekunder ODS

e

c

uveitis. Pasien

datang dengan

kondisi

akut, dan telah

diberikan

terapi medikamentosa berupa antiinflamasi

topikal

dan

antiglaukoma sistemik dan topicat. Inflamasi

dapt

teratasi

tehpi

tekanan boia mata

tidak turun. Pada pasien

ini

dilakukan laser perifer iridotomi pada mata

kin, dan

setelah s€gmen

errterior tenang

dilakukan

trabekulektomi

pda

mata

kiri

karena

TIO

tetap

tidak

terkantrol

,

sedangkan

pada mata

kanan langsung

dilakukan trabekulektomi

Setelah

bulan

ke

l0

post

trabekulektomi tekanan intra okuler masih

terkontol

pada mata kanan

tatpa

obat antiglaukoma ,

sedang kan mata

kiri

masih mendapatkan terapi

Timolol

.

Dagnosis ditegakan dari anamnesa : adanya riwayat mata rnerah yang

berulang

sudah 6

bulan pada ke

2 mata,

dan sejak

I

bulan terakhir mata

merah

disertai sakit

kspal4 mual,

dan

melihat pelangi

saat

melihat Iampu.

Ketuhan

hilang

setelah datang

ke

spesialis

mata

untuk

mendapatkan pengobatan.Pada pemeriksaan ophtalmologi ditemukan

konjungtiva

hipe.remis ,

flnjeksi

silier, COA

dangkal,

flare

+1, atropi

iris,

seklusio

pupil

dan iris bombe ODS.

TIO

pada

rnata kanan 40,2 mmHg dan mata

kiri

30,4 mmHg dan dari pemeriksaan gonioskopi didapatkan

kesan peripheral synechiae anterior (PAS) pada ke

2

mata, pada

OD

terdapat PAS 3

ku&an

dan

mata

kiri

terdapat

2

kuadran

.

Hasil

pemeriksaan lapangan pandang

OD

terdapat skotoma

poacenhal dan

artefak,

sedangkan

pada

OS

terdapat pelebaran

bintik

buta dan

skotoma

pasentral

. Kesan yang didapatkan adalah pasien menderita uveitis bilar€ral yang krcnris dan

rclah mengalami serangan akut dan menimbulkan komplikasi peningkatan

TIO

pada ke 2 mata.

Te4adinya peninggian

TIO

disebabkan

oleh

adanya

blok pupil

akibat

terbentuknya sinekia pmterior yang mengakibatkan

iris

bombe ,sehingga aliran akuos dal/. C.amera

Oculi Pasterior

muju

Camera Ocali

Anterior

terhalang. Diduga mata

kamn

lebih sering mengalami serangan rerulang karena PAS yang terbentuk lebih banyak.

Mekanisme

terjadi nya

glaukoma sekunder pada uveitis

dapt

hupa

sudut terbuka ,

Mut

tertufup atau

gabungan

keduanya

Mekanisme

yang terjadi

adalah

penyrnnbatan
(10)

anterior

'rynechiq

blok

pupil

oleh karena terbenfuknya sinekia posterior, neovaskuler

iris,

efek prostaglandin

yang

mempengaruhi

strukur

trabekula

sehingga menyebabkan berkurangnya

o*flow

facility,

dan penggunaan steroid yang dipakai

untnk

mengatasi proses

inllamasi

pada

weitis

juga dapat menyebabkan peninggian

TIo

baik topikal maupun sistemikr, 3,a

Fendto-l*fte,bralir {'e14

i,il r,;.',:'.'ji.;ili,jr.i:lli;1rti;:,'.:,!il;,-];],:'1i,.'r,;..' .;,.i,;,;1..;,:ii] *fiI

i.i :'."jlla'.ir::,,;r:lriilr.i:-:llr:;';ii:,r,,i:r,.9r.,,,r'::;i::1 f:'i...;1-0'.1:,1

lsi4r 2 53

,.': -':.:i;r.iil:ir' :ri',...rl.-:'::::'':;i1.:t'lt'!:,{t" ',fi"51ti1;11 71/pa of uwflh

11I'i, I,i.,,-

':'t,i. l;';1r'r,B4i':'r',.: :.''. '.:.4Ff:; .. 27 ,$'

.i. t:'r:l;'.1.,l:,,'r.: ,l:.iii::,:r'.i..,,:, 'r ": '. :,:;,':';t;

Anbr|or 36 flt

t' l.r',.::ri:i,,'l,.rr |'i;ri,.r,li''!i-li': f i::3i:i : :

PostEriff t 1

"i. Cajss of t*idlb.i:,i:it.';,;,-.a.:l';'lii,.;..,;::.;rrir#,,,rj:r:..r.,. .6.,,.

hfffts&ilocFftk

3

5

!,::

!,i'.,,r;,;,:'i.';;t;' :;';,13, ,ii:,;1i:t.1,;:i'",.l,..Siii.:t.

FADs6

Es

dtrAtu

2

3

;:. ..:: ir r" .:' . . : .\ ':2, i. t 3. .

PAI'{1g[.E 2 3

't' , ;....,, 1 ,, t',it; i'.. r..ti,.::i;,';','..'t..1,,.:r.r:,..,1,,;,r.i":1,,,

MCP I, 1

@ar.* l5 25

nlo'ttd 4a 8ll

Fradol.eodhsrgF }'

'-ir: ;: .i l.l'-'

riir.i li ;:;: ;.;1..i,

' Yes

+t

5S

9

(11)

Selain

disebabkan

oleh infeksi

penyebab sebagian

besar inflamasi pada

mata

sulit

dimenge,lti, dan sering muncul sebagai sebuah reaksi imunologi. T,e lnflarnasi pada

fiaktus uvea

dapat menyebabkan peninggian

TIO

yang disebabkan karena mediator inflamasi mempengaruhi

struktu

trabekula sehingga

mengurangi

otd/Iow, dan

sebaliknya

dapat

pula

menyebabkan

hipotoni karena berkurangnya produksi akuos akibat

afopi

dau fibrosisnya corpus siliaris.l

Insiden

glaukoma sekunder berhubungan dengan

jenis

uveitis, usia

saat

mendapat serangan, luonisitas dan beratnya uveitis. Insiden glaukoma pada uveitis sering dikaitkan dengan bertambahnya umur, dilaporkan insiden uveitic glaucoma pada oralrg dewasa sekitar 5,2

-

lg

yo dan jenis uveitis yang paling signifikan menimbulkan peninggian TIO adalah posner Schlossman syndrome dan Fuchs'

Uveitis

Syndrome. Pada pasien dengan uveitis bilateral seperti pada kasus

ini

proses inflamasi

difikirkan sebagai

penyebab utama. r0

Elgtn et al (2004) menegakan diagnosis glaukoma sekunder dengan criteria :

r'

Peninggian tekanan inlra okuler lebih dari 21 mmHg selama

>

3 bulan, tanpa ada

riwayat glaukoma sebelumnya.

r'

Ratio cup : disk Iebih besar dari 0,3

r'

Defek lapangan pandang glaucomatous.

Kriteria

yang dipakai oleh Papadaki

N

(2004) dalarn penelitiannya untuk mendiagnosa glaukoma

sekunder

e c uveitis adalah :

Tanda

serangan

akut

ditemukan pada pasien

ini

yaitu

sinekia posterior, atropi iris.

Serangan

inflamasi yang bemlang

merupakan

factor

penyebab

untuk

terbentuknya sinekia

posterior dan

juga

pembentulon

PAS.

4 Terbentuknya

sinskia

posterior

360 dan

iris

bombe meiryebabkan sulihrya

mengonfiol

peninggian TIO,9 Peninggian

TIO

lebih

sering ditemukan

pda

mata dengan uveitis

laonis

(

46,1

%)

dibandingkan dengan uveitis alnrt

(

23

Vr). Kasus

weitis

diklasifikasikan akut bila kurang dari 3 bulan

dan

ul'eitis yang berulang termasuk kepada

kategori

weitis

kronic. lo t t
(12)

lnflamasi

iris

dan badan

siliar

biasanya

be$ifat

non

spesifik dan sering respon dengan kortikosteroid

topikal

yang intensife, seperti terapi yang diberikan pada kasus ini .Pemeriksaan

gonioskopi memperlihatkan adaya

PAS

pada

ke

2

mata yang merupakan

faktor resiko

pada

pasien untuk munculnya serangan.

Pada kasus

ini ditemukan saraf

optik

pada

mata kanan rdio

cup :disk lebih

besar dibandingkan mata

kiri

.Sesuai dengan kriteriayang digunakan

Elgin

bahwa ratio cup :disk > 0,3 sedangkan pada mata

kiri

masih dalam batas normal,

juga

didukung oleh criteria yang dipakai

oleh Papadaki

Hd

ini

dapat

terjadi

karena kerusakan

saraf

optik

dan kehilangan lapangan pandang juga dipengaruhi oleh lamanya terjadi peninggian

TIO,

dan kerusakan saraf optic dapat

ditemukan pada2}

- 40 % kasus tmeitie glaucoma. Kerusakan saraf optik pada glaukoma terjadi

karena degenerasi sel

-

sel ganglion retina yang ditandai dengan adanya

atropi

optik

disk

dan kerusakan lapangan pandang yang dapat terjadi

pogresifl t2

Padz pasien

ini

belwn

ditemukan adanya glaucomatous

optic

dish

dan

kerusakan lapangan pandang

yang

timbul

skotoma parasentral dan pelebaran

binfik

buta- D€fek lapangan pandang pada kasus

ini

tidak menunjukan

defek yang khas untuk sebuah glaucoma karena hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh kekeruhan

lensa sehtngga

muncul

afiefak

pda perimetri

mala kanan, dan

juga

kemunpl<inan

di*Mbkan

larena peninggian

TIO

behnn lama-

Bello

C,l

(2000) manyatakan bahwa 90% pasien dengan

Fringkatan

nO

tidak

mengalami

kerusakan

optic disk

setelah

periode

5-10

tahrm

dan

daliknya l/3

sampai % pasien yang mengalami kerusakan saraf optic

justru

tidak

memiliki

ntanan

intra okuler yang tinggi. Penwunan tekanan intra okuler 3A%

-

59%

dffi

TIO dibawah 17

mmHg dapat menurunkan progresifitas kerusakan lapangan pandang. Penelitian Lain melaporkan

hhwa

TIO

dibawah 24 mmHg telah dapat menurunkan kerusakan Iapangan pandang.I3

\Aekanisme yang men)ebabkan

peningglanTlo

akan mempengaruhi rencanaterapi pada

psien

uveitic

glaucoma.

Pada kasus

ini

telah

dib€rikan

anti

inflamasi topikal

golongan

Fluorometolon yang efek nya

kurang

dalam menaikan TIO

ny4

antiglaukoma oral dan topikal.

Kmdisi

akut

dan inflamasi dapat teratasi, akan tetapi tekanan intraokuler

tidak

tuun

sehingga

filahkan

laser peripheral

iridotomy

(tPD

pada mata

kiri.

Setelah tindakan

LPI ini

tetap

tidak

menurunkan

T1O,

dan selanjutnya

pasien untuk

dilakukan trabekulektomi.

Setelah
(13)

mata kanan tindakan tabekulektomi langsung dilakukan

dan

diharapkan segera

dapat

mengontrol tekanan intra okuler.

Managemen

pfu,weitic

glaucama bertujuan rrrtuk mengatasi inflamasi serta mencegah

timbulnya komplikasi

akibat reaksi

influnasi

dan menurumkan tekanan

infia

okuler

sehingga kerusakan saraf

opic

dan

visual

loss dapat dikurangi, tetapi

jika

terapi medikamentosa gagal mengatasi peninggian tekanan intra okuler maka tindakan operasi menjadi

pertimhngan

I{

Managemen glaucoma sekunder sangat tergantung pada mekanisme yang mendasarinya ,

secara umriln terapi untuk uveitic glaucoma meliputi : la

.t

Medikamentosa

l.

Mengatasi inflcmasi merupakam tujuan utama pada

weitis,

kortikwteroid

adalah anti inflamasi yang

penting

pertama

kali

digunakan oleh Gordon tahun 4950 an sebagai terapr utarna mengatasi influnasi okuler, dan perlu

hati-hati komplikasi yang

timbul

akibat pemakaian korkosteroid tenrtama katarak dan peninggian

TIO yang dapat terjadi setelah 3-4 minggu setelah

pemakalan

topical

steroid pada

sekibr

20-30Yo pasien. Reaksi inllamasi

pada segment anterior dapat terkontrol dengan dexametasone O,IYotopical atau

Prednisolon

l%

to,pical

yang dapat

diberilan

setiap

l-2jam

pada keadaan akutdan setelah

itu

dilanjutkan

34){

sehari. Fluorometolan0,lYo

anuA25%;o

memiliki

efek kurang meninggikan

TIO

lebih

cept

Apabila infamasi

tidal

respon dengan topical

dapt

diberikan sukonjungtiva atau

subtenon,

preprat

yang biasa

digunakan

dexametason phosphate,

prednisolon succinale,

triamcinolone

acetamide

den

methylprednisolon

acetate - Untuk systernic dia4iurkan prednisone doses

dimulai

80''100mg sampai tertilrat remisi dan dapat diturudkan 10'20 mg setlap 2 -3 harinya

2.

Sikloplegik dan simpatomimetik

Dberikan

rmtuk

melepaskan

dan

mencegah

terburtuknya

sinekia

posterior, mengurangi

nyeri

akibat spasme m.siliaris

dan

spingter iris.

Preparat yang digunakan scopolaminen homatroping

atopine,

tropicamide dan cyclopentolate.

3. Antiglaukoma

(14)

Obat

antiglaukoma

yang

sering

dipilih

adalah golongan ftafrenerglc

antagonist

seperti

timololl

atau

bshxolol.

Selain

itu

ju5

dipakai

dorzolamide

dan

brimonidin,

tebpl

golongan

prostaglandiil

dapat

memicu uveitis.

4-

NSAID

Efektif

mengontnol anterior dan posterior uveitis

,

Mpat dipakai sebagai

pengganti kortikosteroid atau menguralrgi dosis

kortikosteroid-5. lmmunosuppresive ag€nt

Dipakai pada kasus yang tidak toleran dengan

kortikosteroid

pada uveitis

kronis, sekitar 60:10%pasien teratasi inflamasinya dan efek samping yang

paling sering adalah

disfunpi gimbal

Surgery

Laser

iridotomy

merupakan prosedur

pilihan

pada

blok pupil, lebih

aman dan

simple

dibandingkan operasi

filtrasi. hidomi

pada pasien

uveitis

sering cepat

menutup Iagi karena dipengaruhi oleh proses inflamasi. Pada kasus

ini

iridotomi

tidak efektif

karena

tampak

mulai

menutup

2

hari setelah

Laser iridotomy

sehingga TIO tetap tidak terkontrol.

Bila

laser

iridotomy

sudah 2

kali

gagal dapat

dilakukan

surgical

iridectomy.

Tetapi

jike- 75% atau

Iebih

sudut tertuhrp oleh PAS

iridotomy

ataupun iridettomy

tidak

akanberhasil mengontrol

TIO

danyang

palingbaik

dilakukan fabekulektomi, karcnanya pada kasus

ini

padamata kanan

langsung

dilahrkan fiabekuletlomi.

Operasi

filtasi

padapasien rweitic

gltucoma

daValmengontrol

TIO

sarnpai 90 o/o padatahun pertama, tetapi menunm sampai

30%

setelah

5

tahun.

Penggmaan

mitomycin

C

(

MMC)

02

mg/mf

dan

antimetabolit S-Fluorouracil

pada

trabekuletSomi

cukup

sukses

dalam

mengontrol tekanan intra okuler sampai 62,5 o/o setelah 5 tahun operasi.xlT Smith

JR

melaporkan

hasil

follow

up 24

pasien

uveitis

yang

telah

menjalani

trabekulektomi

dengan memakai

tluortruracil

,

sebanyak

70%

kasus

tetap

terkontrol

TIO

nya

setelah

3

tahun

hatr

et

al

melaporkan kesuksesan sampai

gl,7\o mengontol TIO

pengg,nraan

MMC

trabekulektomi pada pasien

uveitic

(15)

glaucoma

Glaucoma

thainage

device seperti

Molteno, Baervelt

,

Ahrned dan

Krupin

juga

menrmjukan kebertrasilan

dalam mengontrol

TIO

pada

uveitio glaucoma.

Tindalan

surgery sebaiknya dilakukan setelah infamasi tenang sekitar

3

bulan

dan

diberikan kortikosteroid

oral

sebelum operasi.Goniosurgery pada

psien

glaucoma dengan uveitis laonis

jugs

memperlihatkan keberhasilan 73%

dapat mengontrol TIO.7'I8 Yalvac et al dalam penelilian melaporkan bahwa

kriteria keberhasilan trabekulektomi adalah

TIO

dibawah 22 mmHg.re
(16)

1.

2.

3.

4.

DAF'TAR

PUSTAKA

Elgtn

U,

Becker

N,

Batman

A

Incidence

of

Secondary Glaucoma

in

Behcet Disease, J

Glaucoma: 200P';13',441

443.

Smith JR.

ManagingUveitic

Glaucoma. Asian Journal of Gphttralmology.

1999;l:8-

ll

.

Neri P, Azuara-Blanco

d

forresterW.

Incidence of Glaucoma inPafients

withUveitis.

J Glaucoma. 2004 ;13 :4 61

4

65 .

Rahman lr4lvl, Rahman

\

Foster pJ, et at. The prernalence

of

Glaucoma

in

Bangladesh: a Population Based Survey In Dhaka division- British Journal of Ophtlralmolog6 2004;889

1493-97.

5.

Quigley

HA

Number

of

People

With

Glaucoma

Worldwide

in

2010

and 2020

British

Journal

f

Ophthalmology, 1996;90;

262467.

6'

Aliza

IIE,

Chee SP- Managenrent

of

cataract and glaucoma

in

uveitis Patientgclinicat

opthalmology-

An

Asian Perspective, Elsevier,20 0S; 623

-62t.

7.

Papadaki

T

et at. Long-term Results

of

Ahmed glaucoma Valve implantation

for Uveitic

Glaucom4

Am

J Opthalmol ogr, 2W7

;6248.

8'

Yamamato T, Iwase

A,

Araie

M,

et al The

Tajimi

Study Report 2 : Prevalence of Primary

Angle

Closure and Secondary Glaucoma

in

a Japnese

-2005,

American

Academy

of

Ophtalmolog5r,2005; 1 1 2:1661-1G69.

9-

Morrison PC, Rosenbaum JT. Ocular imflammation and Glaucoma

In

Glaucoma Science

and Practice.Thieme Medical Publisher: 200G27 4

10-

Herbert

HM et

ar-

Risk

Factors

for

Elevated

Inhaocular

Pressure

in

weitis,

J

Glaucoma" 200 4;13 ;9 6 -99 .

11. Whitcup SlvI, Development

of

a differential Dagnosis, Uveitis fundamentat and

clinical

practice, mosbSq

200

;66-75.

12.

American

Academy

of

Ophthalmology, Introduction

to

Glaucoma:Clinical Evaluation,

Basic and

clinical

science course 2005-2006;san

Francisco;3r-8r-13.

Bello

CIvI, Chauchan

BC,

et

af

Intraocular Pressure and Progression

of

glaucomatous

Visual Field Loss. Elsevier Science.2000; 129;302-307.

14'

Krupin

T,

Feifl

M,

Glaucoma Associated

with

Uveitis,

TIre

Secondary

Glaucomas/Glaucomas Associated

with

Inflammation and Traum4, Mosby,USA;1998;

1205- 1209.

15. Goldstein

DA

Tessler

HH-

Complications of Uveitis and Their Managemen( In Duane's

Clinical Ophthalmolog5r

Vol

4. Philadelphia: Lippincof- Raven, 60:l-7.

16. Nusseriblatt

TB.

Philosophy, goals, approaches

to

medical Therapy, Uvetis firndamental and clinical practice.

Mosby;20M;95-

17.

17.

Noble

J,

Dzulynsky

LD,

Rabinovitch

T,

Bid C.

Outcome

of

trabeculectomy

with

inhaoperative mitomycin C

for

uveitic glaucoma; Can J Opthalmolo gy;2h07;42;8994.

18. Ho

CL,

Walton DS. Goniosurgeryl

for

Glaucoma Seondery

to

Chronic Anterior

Uveitis

kognosic

Factors and Surgical techniqueJ Glaucom4

20M;13;445449.

19. Yalvac

IS et al.

Trabeculectomy

with

Mitomycin-

C

in

Uveitic

Glaucoma Associated

with Behcet Diseasq J

GlaucomU2}}4;

13;450453.
(17)

lr*

{i*

i

,t

3r!

'1.

I

iFli' I

-iitit

I lrerBr

I

tti

ril

;il

;il

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

• Glaukoma adalah penyakit yg ditandai dgn kerusakan saraf pangkal mata yang berhubungan dengan.. hilangnya lapang

Glaukoma sudut terbuka primer tidak dapat di+egah# namun kerusakan optik,saraf dan hilangnya  penglihatan akibat glaukoma dapat di+egah dengan diagnosis dini# pengobatan yang

 Normotension glaucoma adalah neuropati optik kronik yang terjadi pada orang dewasa dengan gambaran karakteristik  cupping optic disc dan kehilangan lapang pandang yang

Impuls dari sel batang dan kerucut di transmisikan pertama ke sel-sel bipolar dan kemudian ke sel-sel ganglion yang aksonnya melewati retina dan meningalkan mata pada diskus

Nilai yang diubah yaitu nilai kernel disk yang akan digunakan pada tahap filtering, nilai treshold untuk menentukan batas region optik disk, serta mengujicoba

mencapai tajam penglihatan yang baik, menurunkan tekanan intraokuler, mencegah kerusakan saraf optik dan menghindarkan pasien dari keluhan sakit pada mata dan kepala.. Akan tetapi

Grafik rata-rata Degenerasi Hidropis DH, Degenerasi Lemak DL, dan Apoptosis Ap sel hati mencit yang diberi ekstrak lamtoro PEMBAHASAN Kerusakan yang ditemukan pada sel hati hepatosit

Lapisan luar cawan optik akan menjadi epitel pigmen retina, sedangkan lapisan dalam cawan optik akan membentuk sel neurosensori retina.2-4 Gambar 2.2 Tahap awal pembentukan mata