• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arah Koalisi Pemilihan Presiden.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Arah Koalisi Pemilihan Presiden."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Pikiran

Ra.kyat

.<;.,',

(-

0

Senin

0

Selasa

0

Rabu

0

Kamis

(~)

~LJllJat

.

Sabtu,

C:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 IV

l'7

.18

19

20

21

22

23

24

25

26

2i'

28

29

30

31

Y

~

1

\:::..9Jan

0

Peb

0

Mar

.

Apr

0

Me;

0

Jun

0

Jul

::

Ags

C

Sep

,) O~

t

J

Nov

Arah Koalisi Pemilihan

Presiden

Oleh SUHARIZAL

K

ELUARNYA

Partai Golkar dalam ranah koalisi bers~ma Partai Demokrat menandai ba-bak baru peta koalisi Pe-milu Presiden (Pilpres) 2009. Sikap Partai Gol-kar ini mencairkan tesis yang berkembang sela-ma ini bahwa peta koali-si pilpres makoali-sih didasari atas persamaan ideologi dan platform partai. La..: lu, model koalisi apakah yang akan akan diguna-kan dalam pilpres men-datang?

Pasal9 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presi-den menyebutkan, pasangan calon di-usulkan partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang me-menuhi persyaratan perolehan kursi pa-ling sedikit 20% darijumlah kursi DPR. Atau memperoleh 25% dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR, se-belum pelaksanaan pemilu pre.<>idendan wakil presiden. Bila kita lihat hasil peng-hitungan sementara, tampaknya belum ada satu partai politik pun yang sudah memenuhi syarat standar calon presi-den yang akan bertarung dalam pemi-lihan presiden. Sehingga, secara prose-dural koalisi adalah sebuah keharusan.

Secara praktis, koalisi diperlukan un-tuk menggalang dukungan dalam mem-bentuk pemerintahan oleh partai peme-nang pemilu, di sisi lain dibutuhkan da-lam rangka membangun dan memper-kuat oposisi bagi partai-partai yang du-duk di parlemen namun tidak ikut me-merintah. Kelangsungan kekuasaan pre-siden atau wakil prepre-siden tidak tergan-tung kepada dukungan DPR. Namun pada tataran praksis, koalisi tak terelak-kan karena sistem politik multipartai melahirkan aroma sistem parlementer. Koalisi antarparpol dengan demikian menjadi semacam motor penggerak ba-gi terpilihnya kandidat presiden.

Konstituen parpol diharapkan sekali-gus menjadi'pemilih presiden dari koa~

lisi parpol. Jalannya ro-da parpol diyakini ma-sih efektif bagi peme-nangan calon presiden, meski tak sedikit fakta yang terbalik. Artinya, kemenangan parpol da-lam pemilihan legisJatif tidak sepenuhnya ekui-valen dengan preferensi pemilihan presiden. ltu terbukti dari terpilihnya SBY-JK dalam Pilpres 2004.

"".-

- ~

.---- -_. -"

_.-Teori koalisi Dalam sistem peme-rintaban presidensial yang multipartai, koalisi adalah suatu keniscayaan untuk membentuk pemerintahan yang kuat. Hakikat koalisi sendiri untu,k memben-tuk pemerintahan yang kuat (strong),

mandiri (autonomuos), dan tahan lama

(durable). Pemerintahan yang kuat bisa diartikan pemerintah yang mampu men-ciptakan dan mengimplementasikan ke-bijakannya tanpa khawatir mendapat pe-nolakan atau perlawanan di parlemen.

.Mengacu pada teori Arend Lijphart,

setidaknya terdapat empat teori koalisi yang bisa diterapkan di Indonesia. Per-tama, minimal winning coalition, di mana prinsip dasarnya adalab maksi-malisasi kekuasaan. Dengan cara seba-nyak mungkin memperoleh kursi di ka-binet dan mengabaikan partai yang ti-dak perlu untuk diajak berkoalisi. Ke-dua,minimum size coalition, partai de-ngan suara terbanyak akan mencari par-tai yang lebih kecil.untuk sekadar men-capai suara mayoritas. Ketiga, bargai-ning proposition, yakni koaJisi dengan jumlah partai paling sedikit untuk me-mudahkan proses negosiasi. Keempat,

minimal range coalition,di mana dasar dari koalisi ini adalah kedekatan pada kecenderungan ideologis untuk memu--dahkan partai-partai dalam berkoalisi

dan membentuk kabinet.

Meminjam teori ekonomi politik yang dikembangkan Mancur Olson mengenai "logika tindakan kolektif" (the logic of collective action), tindakan kolektif

un-tuk mencapai tujuan bersama lebih efektif dilakukan dalam kelompok rela-tifkecil dan homogen, daripada kelbm-pok yang besar dan beragam. Begitu pula dalam koalisi partai politik, jarang sekali koalisi luas atau koalisi besar. Da-lam banyak kasus, partai politik lebih suka membentuk koalisi terbatas yang lebih efektif mencapai tujuan bersama, kepentingan partai, dan individunya, dan dalam memberikan pelayanaI). ke-pada masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, Herbert'Fe-ith (The Decline of Constitutional De-mocracy in Indonesia, 1978) melukis-kan dengan tepat karakter partai-pm1ai politik di Indonesia dengan sebutan la-cked of cohesion (kurang terpadu). Pan-dangan ini sebenarnya merupakan kritik terhadap budaya politik elite bangsa In-donesia yang terpecah-pecah pada awal kemerdekaan, setelah Wakil Presiden Moh. Hatta mengeluarkan maklumat No. X November 1945 yang menganjur-kan niasyarakat mendirimenganjur-kan partai seba-gai sarana menyalurkan aspirasi. Pada zaman demokrasi ultraliberal yang di-mulai November 1945, kabinetjatuh ba-ngun, sehingga hampir tidak ada p~lu-ang pemerintah melakukan pemba-ngunan ekonomi. Bayangkan jika ada kabinet berumur empat bulan seperti kabinet Hatta ke-2 dari tanggal4 Agus-tus 1949-20 Desember 1949. Kabinet Amii' Sjarifuddin ke-1, dari tanggal3 Ju': li 1947-11November 1947. Kabinetper-tama ketika pergeseran kekuasaal1 teIja-di dari presidensial ke parl~menter(19 Agustus 1945-14 November 1945-3 bu-Ian). Umur kabinet terpendek ketika di bawah Peinangku Perdana Menteri Su-santo, hanya berumur satu bulan (20 Desember 1949-Januari ~950).

. Empat blok

Bila teori Arend Lijphart tersebut kita dekatkan dengan kondisi kekinian, ba-rangkali, koalisi dengan model minimal winning coalitiondan minimum size

co-alition akan diterapkan. Praktiknya ko-alisi dilakukan dengan prinsip dasarnya adalah maksimalisasi kekuasaan, dan

.

partai politik dengan suara terbaJ;J.ya,k

akan mencari partai yang lebih kecil un-tuk sekadar mencapai suara mayoritas. Bila memang-demikian, kemungkinan

--

-

--. -Kliping Humos Un pod 2009

(2)

_._--akan muneul emp<\t koalisi.

Pertama, Partai Demokrat, PKS, PKB ~an PBB, di sisi lain, akan tereipta blok koalisi antara PDIP dan Golkar, serta gabungan PAN, PPP, Hanura, dan Ge-rindra. Namun harns diakui, koalisi par-tai-partai ini kurang dibangun berdasar-kan platform maupun kekuatan yang re-alistis, tapi bisa saja terjadi bila terdapat banyak figur yang ingin maju.

Kedua, blok koalisi akan memperte-mukan Demokrat dan PPP menjadisatu blok koalisi. Sedangkan PDIP, PKB, PAN, PKS, Gerindra, dan Hanura di blok yang berseberangan. Sementara itu, Golkar akan merangkul semua partai-partai politik dengan suara keeil guna memenuhi syarat pengajuan capres se-bagaimana diatur dalam UU 42/2008.

Ketiga, Demokrat, PKS, PPP, PAN, dan PKB menjadi satu koalisi besar, se-dangkan PDIP, {;olkar, Gerindra, dan Hanura berada di blok lain. Jika koalisi model ketiga yang terjadi, arah koalisi akan menumpuk pada dua blok. Meski-pun tidak mudah membedakan plat-form antarpartai, koalisi model ketiga ini adalah bentuk koaliasi yang lebih menekaQkan padaminimal winning co-alition (memaksimalkan kekuatan un-tuk meraih kekuasaan).

Keempat, model koalisi yang memiliki keberpihakan membangun kesamaan platform dan efektivitas pemerintah. Ba-rangkali bila Golkar berubah pikiran, pada model ini diharapkan blok itu me-ngerucut menjadi dua bangunan koalisi, yakni; Demokrat, Golkar, PKB, dan PPP berada di blok pertama, dan blok ber-ikutnya berisi PDIP, PKS, PAN, Gerin-dra, dan Hanura.

Kita tentu berharap bahwa para kan-didat presiden pun demikian, yakni ti-dak menjadikan pemilu sekadar sebagai momentum sirkulasi kesempatan untuk berkuasa belaka. Oleh karena itu, kalau-pun koalisi elite partai harus dilakukan, konteksnya bukan semata-mata untuk memenangi pemilihan presiden, melain-kan juga dalam rangka membangun pe-merintahan yang efektif dan produktif seusai tujuan pemilu. ***

Penulis, mahasiswa Program

Referensi

Dokumen terkait

Published by the University of Lampung Press ISBN: 978-602-8616-33-l.. Wtbowo' Department of Plalrt Protection, Faculty of. Agriculture, University of Lanpung, Jl. Proi

Pada zaman kekuasaan Kompeni, kabuyutan berada di wilayah kacutakan (wilayah adminstratif setingkat distrik). Beralihnya kekuasaan Belanda di Nusantara, dari Kompeni

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 13 ayat (3) dan Pasal 22 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Dana Bagi Hasil Pajak Daerah dan

Hakim sebagai penegak hukum seharusnya lebih dalam mempelajari masalah kewarisan ini, sebaiknya hakim selalu konsisten menerapkan penggunaan pemotongan (inkorting), karena

Artinya di luar program pelepasliaran orangutan yang dilakukan BOS Foundation selama ini, terdapat pelepasliaran tiga orangutan lintas provinsi pertama dari Nyaru Menteng di

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Dari pre test yang dilaksanakan untuk mengukur ketrampilan membaca reference bagi kelas VII-1, ternyata tidak ada siswa yang mampu menjawab seluruh soal reference

Keadaan hara dalam tanah untuk rekomendasi pupuk fosfat (dalam bentuk SP-36) dan pupuk kalium (dalam bentuk KCl) pada kondisi status P dan K tanah yang dikatagorikan