MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA READING FOR REFERENCE DALAM TEKS BAHASA INGGRIS SISWA KELAS VII-1
SMP MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2015-2016 MELALUI TEKNIK INFERENCE.
Oleh : Tri Waluyo, M.Pd Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa kemampuan membaca reading for reference siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya berada dikisaran nilai 0-40 dengan rerata 7 pada rentang 0-100 dan tanpa satupun siswa yag mencapai KKM.
Olehkarena itu diupayakan agar kemampuan reading for reference siswa tersebut meningkat dengan menggunakan teknik inference. Dalam penelitian ini inference disebut juga dengan istilah inferensi. Sedangkan prosesnya disebut inferring. Inference atau Inferensi atau inferring dapat berarti sebagai proses yang dilakukan pembaca untuk memahami makna yang tidak diungkapkan secara tersurat.
Implementasi pembelajaran teknik inferensi untuk memahami teks yang baru sebaiknya guru tidak menerangkan kata-kata yang sulit kepada siswa (Suryati 2003 : 28). Siswa harus didorong untuk menemukan arti dari kata yang sulit tersebut. Mereka bisa menemukan makna kata-kata tersebut dalam kamus.
Setelah dilaksanakan selama 2 (dua) siklus, hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukan bahwa teknik inference dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca reading for reference dengan sangat baik.
Peningkatan rerata secara individu dan klasikal menunjukan bahwa peningkatan rerata terendah secara individu terjadi sebesar 1,5 kali dari kemampuan awal dan tertinggi sebesar 8,5 kali lipat. Peningkatan rerata kemampuan secara klasikal juga terjadi. Hasil penelitian menunjukan rerata peningkatan kemampuan siswa setelah dua siklus menjcapai rerata 5 kali lipat.
Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM. Data menunjukan bahwa pada kemampuan awal tidak ada satupun siswa yang mencapai KKM atau 0 %. Pada siklus 1 meningkat menjadi 9,5 % (Sembilan koma lima persen) dan pada akhir siklus 2 jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM sebanyak 60,9 %.(enam puluh koma sembilan persen). Ini menunjukan bahwa teknik inference cukup berhasil meningkatkan jumlah siwa dalam mencapai KKM
Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam reading for reference adalah penguasaan teknik inference dan penguasaan kosa kata yang terdapat dalam wacana/teks bahasa Inggris.
Kata Kunci : Reading For Reference (Teknik Inference)
PENDAHULUAN
Dalam era informasi dan globalisai saat ini, pemerintah menyadari pentingnya peran Bahasa Inggris dan sumber daya manusia yang memiliki keandalan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu kebijakan tentang program pengajaran
bahasa Inggris telah diselenggarakan di SMP sebagai mata pelajaran wajib di Indonesia, termasuk Kailmantan Tengah, meskipun bahasa Inggris di Indonesia merupakan bahasa asing. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, menyatakan bahwa untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Kompetensi yang diharapkan adalah kompetensi berkomunikasi yang direalisasikan melalui empat keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
Tetapi dari hasil pengamatan dan penilaian keterampilan membaca siswa, khususnya siswa di kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya, Kailmantan Tengah tahun pelajaran 2015-2016, mereka masih mengalami kesulitan dan kelemahan untuk mengerti isi bacaan maupun informasi dalam bacaan. Kesulitan terbesar adalah membaca reference atau reading for reference meskipun terdapat siswa telah menerima mata pelajaran Bahasa Inggris sejak mereka berada di Sekolah Dasar, dan mempelajarinya dengan alokasi waktu yang lebih banyak di SMP,
Dari hasil evaluasi diri dan refleksi hasil pembelajaran, terlihat bahwa penguasaan menjawab pertanyaan refence siswa kurang cukup. Dari pre test yang dilaksanakan untuk mengukur ketrampilan membaca reference bagi kelas VII-1, ternyata tidak ada siswa yang mampu menjawab seluruh soal reference dengan benar Penyebabnya antara lain adalah guru kurang mengembangkan model pembelajaran secara maksimal untuk meningkatkan penguasaan siswa dalam menjawab pertanyaan refence khususnya dalam membaca reading for reference yang terkait dengan kata ganti orang atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai personal pronoun
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka sangat diperlukan upaya peningkatan keterampilan membaca siswa dengan pengembangan kemampuan membaca reading for reference mereka melalui model pembelajaran yang menggunakan tekhnik
inferensi atau dalam penelitian ini dikenal juga sebagai inferring atau inference agar memudahkan mereka memahami isi dan berbagai informasi bacaan reading for reference. Dengan menggunakan tekhnik inference/inferensi . diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan refence. Beberapa pertanyaan refence kadang-kadang begitu abstrak bagi siswa dan sesuatu yang abstrak sangat sulit untuk dipelajari apalagi diingat oleh siswa.
Kurangnya kemampuan menjawab pertanyaan refence ini menjadi salah satu factor yang menyebabkan siswa tidak bisa atau sulit mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Inggris. Pencapaian tujuan pembelajaran ini biasanya diukur dengan ketercapaian nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), yang ditentukan pada awal tahun ajaran oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan dan disetujui oleh lembaga pendidikan terkait.
Namun demikian, tidak ada satupun tekhnik yang sempurna. Suatu tekhnik yang cocok untuk sebagian siswa belum tentu cocok dan menarik untuk siswa yang lain. Oleh karena itulah, melalui penelitian ini peneliti akan memaparkan kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya, Kailmantan Tengah dalam menjawab pertanyaan reference dalam membaca reading for refernce. Peneliti juga akan melengkapinya dengan data test awal, hasil ulangan harian pada akhir siklus untuk mengetahui jumlah siswa bisa mencapai nilai KKM dan peningkatan kemampuannya baik individu maupun klasikal.
Identifikasi Masalah
Ada beberapa hal yang menjadi permasalahan penulis identifikasi melalui penelitian ini, antara lain :
1. Kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam menjawab pertanyaan reference masih rendah sehingga kemampuan reading for reference rendah..
2. Bagaimana meningkatkan nilai siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi .
3. Bagaimana peningkatan kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi .
4. Bagaimana peningkatan jumlah siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 yang mencapai KKM dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi .
5. Faktor apakah yang mempengaruhi nilai siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi.
Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan penulis, dalam penelitian ini penulis akan membatasi permasalahan hanya pada kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya Kalimantan Tengah semester 2 tahun pelajaran 2015-2016 dalam membaca reading for reference dengan menggunakan tekhnik inferensi serta berapa siswa yang mencapai atau melampaui KKM setelah mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris menggunakan
tekhnik inferensi khusus pada teks deskriptif dan prosedur.
Rumusan Masalah
1. Apakah tekhnik inferensi dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam menjawab pertanyaan reference.
2. Bagaimana peningkatan nilai hasil belajar siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 secara individu dan klasikal dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi .
3. Bagaimana peningkatan jumlah siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 yang mencapai KKM
4. Faktor apakah yang mempengaruhi nilai siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui : 1. Apakah tekhnik inferensi dapat
meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam menjawab pertanyaan reference.
2. Bagaimana peningkatan nilai hasil belajar siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 secara individu dan klasikal dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi .
3. Bagaimana peningkatan jumlah siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah
Palangka Raya 2015/2016 yang mencapai KKM
4. Faktor apakah yang mempengaruhi nilai siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat berbagai pihak antara lain;
1. Bagi guru
a. Mengetahui Apakah tekhnik inferensi dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam menjawab pertanyaan reference.
b. Mengetahui bagaimana peningkatan nilai siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya 2015/2016 dalam membaca reading for reference setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi
c. Mengetahui sejauh mana pencapaian KKM Bahasa Inggris oleh siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tekhnik inferensi 2. Bagi Siswa:
a. Dapat meningkatkan kemampuan membaca bahasa Inggris yaitu kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris secara tertulis dalam menjawab pertenyaan reference
b. Dapat meningkatan motivasi belajar siswa dan memberi pengalaman belajar yang menyenangkan serta bermakna.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi sekolah mengenai penggunaan tekhnik inferensi untuk meningkatkan kemampuan membaca bahasa Inggris siswa.
4. Bagi Pembaca
Pembaca dapat mendapatkan masukan bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa khsususnya membaca reading for reference melalui tekhnik inferensi KAJIAN PUSTAKA
a. Pengertian Membaca Reading for Reference
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis ( dengan melisankan atau hanya di hati ). Kamus Webster mendefinisikan membaca: ( Jurnal Pendidikan Penabur –No.01/Th.I/Maret 2002 – 89 Peguasaan Kosa kata dan kemampuan Membaca Bahasa Inggris):To read is to understand and grasp the full sense of (such mental formulation) either with or without vocal reproduction.
The World Book Encyclopedia menyatakan bahwa : Reading is the act of getting meaning from printed or written words. It is basic to learning and one of the most important skill in everyday life.
Secara sederhana pengertian membaca adalah mengenali huruf-huruf dan kumpulan huruf yang memiliki arti tertentu yang mengekspresikan ide secara tertulis dan tercetak.
Definisi membaca menurut Mc Neil (1991) dalam Reading Comprehension: menyatakan bahwa membaca bukanlah megingat pada hafalan tetapi merasakan
isi teks. Dari perspektif interaksi membaca adalah proses memperoleh informasi dari konteks menggabungkan elemen-elemen yang berbeda-beda menjadi satu. Membaca merupakan proses menggunakan pengetahuan yang ada atau schemata untuk memginterpretasikan sebuah teks untuk menafsirkan makna.
Membaca adalah proses membangun makna melalui interaksi dinamis di antara pengetahuan yang ada dari bacaan itu, informasi yang disarankan oleh text, cetakan dan apa yang terbaca, dan konteks situasi bacaan. Ketika pembaca berinteraksi dengan cetakan dan hasil informasi yang terlihat(terlulis) di dalam pesan pemahamannya, ia memahami arti teks penuh.
Membaca adalah kemampuan untuk menarik maksud atau arti wacana tercetak dan memahami informasinya secara tepat. Membaca adalah proses membangun makna dari teks tertulis. Ini adalah keterampilan yang kompleks yang memerlukan koordinasi dari sejumlah sumber yang saling terkait dari informasi.Membaca merupakan proses pemecahan yang aktif sehingga memerlukan koordinasi berbagai ketrampilan (Suryati, 2003 : 4).
Dalam proses pengajaran membaca agar anak dapat menguasai membaca dengan benar, perlu dilakukan beberapa proses kegiatan dalam membaca. Menurut Suryati (2003): ada 5 teknik untuk mengajar keterampilan membaca, yaitu Tekhnik Inference, memahami hubungan atar kalimat, menyambung kalimat dan gagasan, skimming dan Scanning. Inference atau inferring atau inferensi berarti mengunakan petunjuk sintasis, logis dan budaya untuk
menemukan makna dari elemen yang tidak diketahui. Memahami hubungan kalimat merupakan memahami inti kalimat dan memahami kalimat kompleks. Menyambung kalimat dan gagasan adalah aspek dalam mepersiapkan siswa memahami berbagai alat yang digunakan untuk menghasilkan kohesi dan memahami reference. Skimming digunakan untuk mengumpulkan dengan cepat 'inti' yang paling penting. Kita melihat ke seluruh teks dan mencatat informatisi penting. . Tidaklah penting untuk memahami setiap kata ketika membaca sekilas. Scanning digunakan untuk menemukan tempat informasi tertentu. Kita menjalankan mata kita atas teks dan mencari tempat informasi tertentu yang kita butuhkan. Kita menggunakan scanning untuk menemukan rincian tertentu yang kita perlukan. Membaca ekstensif adalah untuk memperoleh pemahaman umum tentang subjek dan termasuk membaca teks yang lebih panjang untuk kesenangan. Pembaca lebih peduli dengan arti teks dari pada arti dari kata perkata. Sedangkan membaca intensif digunakan pada teks pendek untuk menarik informasi tertentu. Kita menggunakan keterampilan membaca intensif untuk memahami rincian atau situasi tertentu.
Jika siswa ingin menjadi pembaca yang terampil mereka harus mampu terlibat dalam membaca serius, kapan saja mereka perlu memahami materi secara menyeluruh dan mengingat persis. Membaca serius membutuhkan energi dan konsentrasi, tetapi upaya untuk itu dapat menggunakan rumus SQ3R singkatan dari Survey, Question, Read, Recite dan Review. SQ3R membutuhkan waktu lebih lama, tapi
sepadan dengan usaha karena semakin kita melakukannya, semakin otomatis menjadi bisa dan semakin cepat memahami. (1) Survei: mendapatkan gambaran umum sebelum kita mulai membaca secara detail dan mengunjungi hal-hal yang utama seperti paragraf terakhir, judul, dan sub judul atau visual. (2) Pertanyaan: mengajukan pertanyaan tentang apa survey pembaca dan mengubah judul dan subjudul, jika ada, menjadi pertanyaan. (3) Membaca: membaca bagian bacaan secara detil dan menyimpan prediksi tersebut dalam pikiran dan mengubanya, jikaperlu. Memperhatikan bagian paragraf yang sangat penting. (4) Ucapkan: Lihat seberapa jauh reders menyelesaikan sebuah halaman atau paragraf panjang. Memperkartakan apa yang dikatakan atau menjelaskan kepada orang lain. (5) Ulasan: Lihatlah keseluruhan materi. Jangan kembali berkonsentrasi membaca tapi memperhatikan hal-hal utama seperti judul, paragraf dan kalimat penting. Jika para pembaca belum melakukannya, soroti kata-kata kunci dengan menghiasi atau menandai dengan pena. Ringkas materi dengan garis besarnya atau mengatakan pada seseorang tentang hal itu.
Terkait dengan memahami teks dengan membaca bagian bacaan secara detil dan menyimpan prediksi tersebut dalam pikiran dan memperhatikan bagian paragraf yang sangat penting, kita mengenal apa yang disebut dengan membaca reference atau reading for reference. Dalam http://www.merriam-webster.com/dictionary/reference
reading for reference diartikan sebagai berikut : the act of mentioning something in speech or in writing (menyebutkan sesuatu dalam bahasa
lisan dan tulis), : the act of referring to something or someone, ( kegiatan menunjukan rujukan sesuatu atau seseorang) : the act of looking at or in something for information (kegiatan memahami secara seksama terhadap suatu informasi).
Menuurut Lattulipe dalam Marsiyah (2009) yang dikutip Kartika Wulandari dalam aspect of reading comprehension yang dimuat dalam http://www. Kuliahbahasainggris .com/5-aspects-of-reading- comprehension-meaning-and-example/ menyatakan sebagai berikut: reference is the words or phrases that is used either before or after the reference in the reading material. They are used to avoid unnecessary repetition of words or phrases. It means that such words are used to be a signal to the reader to find the meaning elsewhere in the text or sometimes is called pronoun.
For example: Once upon a time, there was a beautiful girl called Cinderella. She lived with her stepsister and stepmother. They were very bossy. She had to do all the housework. What does the word ”they” in the sentence refer to? The word “they” refers to her stepsister and stepmother. The word “they” is called reference because it becomes pronoun to “her stepsister and stepmother”.
Berdasarkan pengertian tersebut membaca reference atau reading for reference dapat diartikan sebagai tindakan mencari acuan atau rujukan kepada sesuatu atau seseorang atas kata ganti atau dalam bahasa Inggris disebut pronoun dalam bacaan. Sebagaimana disebutkan dalam penggalan bacaan cinderela di atas, kata “they” disebut reference karena kata tersebut merupakan kata ganti dari kata stepsister dan stepmother.
b. Teknik Inferensi dalam Membaca untuk Mengidentifikasi Referensi dalam Reading for Reference
Tahap membaca merupakan tahap yang paling penting dalam proses pembelajaran membaca. Untuk dapat memahami teks secara utuh, siswa perlu menguasai berbagai tekhnik membaca, mengenali bagaimana tujuan penulisan itu dicapai dan memahami makna teks. Salah satu tekhnik membaca dalam bahasa Inggris adalah tekhnik inference (Suryati, 2003 : 27) atau inferensi.
Inferensi berasal dari bahasa Inggris inference dan dari bahasa latin in (dalam) dan ferre (membawa) (Lorens, 2002:349 dalam
http://wiiepurple-wiiepurple. blogspot.co.id/
2012/01/keterampilan-membaca_09.html ). Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian inferensi sebagai berikut (1) proses logis atau konseptual dalam menarik makna dari satu pernyataan atau lebih; (2) simpulan yang dicapai; (3) deduksi atau menarik suatu simpulan dari premis-premis yang diterima; (4) induksi, menarik suatu kesimpulan dari pernyataan-pernyataan faktual yang diambil sebagai evidensi bagi kesimpulan.
Inferensi adalah membuat makna atau proposisi berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Inferensi dapat berarti sebagai proses yang dilakukan pembaca untuk memahami makna yang tidak diungkapkan secara tersurat.
Untuk menyusun inferensi, dapat diterapkan dua prinsip, yaitu prinsip analogi dan prinsip penafsiran lokal. Prinsip analogi adalah cara menafsirkan makna wacana yang didasarkan pada akal atau pengetahuan dan pengalaman umumnya. Prinsip penafsiran lokal menganjurkan kepada pembaca untuk memahami wacana berdasarkan “konteks lokal” yang melingkupi wacana itu sendiri. Contoh
1. a. Adi membersihkan lidah buaya untuk bahan produksi dodol lidah buaya.
b. Tanaman itu berdaun tebal dan berlendir.
c. Lidah buaya itu merupakan tanaman.
2. a. Adi merasa bahwa bahan-bahan baku dodol makin turun.
b. Lidah buaya sulit dia dapatkan. c. Karena salah satu bahan-bahan baku itu adalah lidah buaya.
Oleh karena kalimat (c) pada contoh (1) di atas merupakan hubungan otomatis, maka proposisi-proposisi itu tidak dapat dikatakan inferensi. Hubungan otomatis itu disebabkan oleh ‘pengetahuan yang telah ada’, karena merupakan bagian dari ‘isi’ kerangka atau skema mental tadi. Akan tetapi jika hubungan itu tidak bersifat otomatis, maka mungkin dapat diperlakukan sebagai inferensi. Membentuk asumsi yang menghubungkan (a) dan (b) pada contoh (2) tersebut memerlukan waktu. Hubungan antara bahan-bahan baku dengan lidah buaya tidak otomatis, sebab hubungan itu tidak berada dalam ‘pengetahuan yang telah ada’ yang dimiliki pendengar. Kita tahu bahan-bahan baku dalam dodol tidak mesti harus ada lidah buaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan
otomatis antara unsur-unsur dalam teks melalui representasi pengetahuan yang telah ada dapat dipakai sebagai dasar untuk menentukan hubungan yang hilang, dan yang bukan, mungkin merupakan inferensi. Hubungan otomatis tidak dimasukkan sebagai inferensi, karena perbedaannya ialah waktu yang tersangkut bagi pengambilan kesimpulan, sedangkan hubungan otomatis tidak memerlukan waktu dalam penafsirannya (Samsuri, dalam Wiwik dalam http://wiiepurple-wiiepurple.blogspot.co.id/2012/01/keter ampilan-membaca_09.html). Jika pembaca mengadakan inference atau inferring atau inference atau inferensi maka pembaca menggunakan petunjuk-petunjuk untuk menemukan makna dari elemen yang tidak diketahui. Bila elemen yang tidk diketahui adalah kata, maka formasi kata dan derivasi akan memainkan peranan yang penting.
Lebih jauh Beech (2005) dalam Kartika Wulandari yang dimuat dalam http://www. Kuliahbahasainggris .com/5-aspects-of-reading-
comprehension-meaning-and-example/ menyatakan sebagai berikut . When a reader adds information that he or she already knows to what is stated, the reader is making an inference. In other words, the readers can make conclusion after reading the text. For example: One day Aladdin and Mustafa walked in the desert and came to a cave. Mustafa was afraid to go inside the cave, so Aladdin went inside and found more riches alone. Did Aladdin enter the cave with Mustafa? No, he did not. Aladdin entered the cave alone (inference).
Kata kunci dari penjelasan Beech di atas tampakanya adalah bahwa
inference menarik kesimpulan atas infromasi yang terdapat dalam teks.
Implementasi pembelajaran teknik inferensi untuk memahami teks yang baru sebaiknya guru tidak menerangkan kata-kata yang sulit kepada siswa (Suryati 2003 : 28). Siswa harus didorong untuk menemukan arti dari kata yang sulit tersebut. Mereka bisa menemukan makna kata-kata tersebut dalam kamus.
Berdasarkan pejelasan di atas, teknik inferensi tampaknya merupakan tekhnik menemukan makna dalam teks. Untuk memahaminya siswa perlu menemukan makna yang hendak dicari atau dalam bahasa Inggris dengan cara menerjemahkannya terlebih dahulu kemudian menemukan makna sesuai dengan kontek kalimatnya karena inferensi dapat berarti sebagai proses yang dilakukan pembaca untuk memahami makna yang tidak diungkapkan secara tersurat. Setelah memahami makna sesuai dengan konteks kalimatnya maka siswa dapat mengubah kalimat yang kata atau ungkapannya akan dicarikan rujukannya dengan kata tanya siapa atau apa.
Berikut ini contoh inferensi pada teks/wacana bahasa Indonesia:
2. a. Adi merasa bahwa bahan-bahan baku dodol makin turun.
b. Lidah buaya sulit dia dapatkan. c. Karena salah satu bahan-bahan baku itu adalah lidah buaya.
Pada kalimat a tidak secara tersurat dinyatakan bahan baku apa yang digunakan untuk membuat dodol yang makin menurun begitu juga pada kalimat b tidak secara tersurat siapa yang sulit mendapatkan lidah buaya. Tetapi dengan mengubah
kalimat-kalimat tersebut menjadi kalimat-kalimat tanya seperti berikut :
a. Pernyataan : Adi merasa bahwa bahan-bahan baku dodol makin turun Pertanyaan : Apa bahan baku dodol yang makin turun ?
b. Pernyataan : Lidah buaya sulit dia dapatkan.
Pertanyaan : Siapa yang sulit mendapatkan lidah buaya ?
Berdasarkan teks di atas maka akan didapat kesimpulan bahwa bahan baku dodol yang makin turun adalah lidah buaya dan yang sulit mendapatkan lidah buaya adalah Adi. Dalam bahasa Inggris SMP, reading for reference memiliki ciri menggunakan kata kunci ”refer”. Contoh kalimat tanya yang menggunakan tersebut adalah sebagai berikut :
a. he word them in line 9 refers to … b. What does the word “they” refer to ?
Berikut ini adalah contoh soal reading for reference berdasarkan teks prosedur. Ingredients
4 red potatoes
1 tablespoon olive oil 1 onion, chopped
1 green bell pepper, seeded and chopped 2 tablespoons olive oil
1 teaspoon salt 3/4 teaspoon paprika
1/4 teaspoon ground black pepper 1/4 cup chopped fresh parsley Equipment
Large skillet Plate
Pot Steps
1. Bring a large pot of salted water to a boil. Add potatoes and cook until
tender but still firm, about 15 minutes.
2. Drain the potatoes and cut them into 1/2 inch cubes when they are already cool.
3. In a large skillet, heat 1 tablespoon olive oil over medium high heat. Add onion and green pepper. Cook about 5 minutes stirring often, until soft. Transfer to a plate and set aside.
4. Pour remaining 2 tablespoons of oil into the skillet and turn heat to medium-high.
5. Add potato cubes, salt, paprika and black pepper. Cook, stirring occasionally, until potatoes are browned about 10 minutes.
6. Stir in the onions, green peppers and parsley and cook for another minute. Serve hot.
PREP TIME: 20 Min COOK TIME: 25 Min
Contoh soal reading for reference berdasarkan teks di atas adalah berikut : Drain the potatoes and cut them into 1/2 inch cubes when they are already cool.”
The word "they" refers to …. METODE PENELITIAN a. Seting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama, (SMP) Muhammadiyah Palangka Raya, salah satu sekolah swasta di kota Palangka Raya . SMP Muhammadiyah Palangka Raya di bawah naungan Yayasan Sekolah Muhammadiyah Palangka Raya yang berlokasi di Jalan RTA Milono KM I Palangka Raya.
SMP Muhammadiyah Palangka Raya memiliki 18 rombongan belajar dengan jumlah siswa sebanyak 423 orang siswa. Kelas IX sebanyak 71 laki-laki, 88 perempuan sehingga kelas IX terdiri dari 159 siswa terbagi menjadi 7 rombel; Kelas VIII terdiri dari 61 laki-laki dan 65 perempuan seluruhnya 126 siswa terbagi dalam 5 rombel; dan kelas VII-1 75 laki-laki dan 62 perempuan
atau sebanyak 138 siswa terbagi dalam 6 rombel. Sebagian besar siswa berasal dari kota Palangka Raya dan sebagian kecil dari luar kota Palangka Raya b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan, pada semester genap, mulai dari bulan Januari s/d Mei 2016. Jadwal lengkapnya adalah sebagai berikut : Bulan
Kegiatan
Januari Februari Maret April Mei Penulisan Proposal X X Pengumpulan Data X X Pengolahan Data X X X Penulisan Laporan X c. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah Palangka Raya yang berjumlah 23 siswa, terdiri dari 9 putra dan 14 putri. Dilihat dari latar belakang ekonominya, sebagian besar siswa di kelas ini termasuk di kelas menengah ke bawah. Mereka juga berasal dari keluarga berbagai strata sosial dengan tingkat pendidikan orang tua yang berpendidikan rendah, menengah maupun tinggi, dengan sebagian besar orang tua pekerja swasta. Sehingga motivasi belajar yang diberikan orang tua kepada anak mereka juga kurang memadai.
d. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif
naturalistik. Subyek penelitian akan diamati secara langsung ketika sedang mengikuti proses pembelajaran di kelas. Kemudian akan diikuti dengan interview terhadap beberapa subyek yang dianggap layak datanya. Kedua langkah ini akan menghasilkan data kualitatif. Selanjutnya peneliti juga akan melihat hasil ulangan harian siswa untuk mengetahui sejauh mana pencapaian KKM mata pelajaran Bahasa Inggris oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran membaca yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan tekhnik inference. Data kualitatif akan menjadi data tambahan atas data kuantitatif tentang siswa yang mendapatkan nilai tuntas dan siswa mana yang mendapatkan nilai tidak tuntas.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap. Karena materi pembelajaran pada semester genap adalah jenis teks deskriptif dan prosedur, penelitian dilakukan pada saat proses pembelajaran kedua jenis teks ini baik pada siklus lisan maupun tulis. Peneliti akan mengamati atau mengobservasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selanjutnya peneliti akan melakukan in interview terhadap siswa, utamanya baik yang tidak aktif atau kelihatan kurang tertarik ketika proses pembelajaran berlangsung. Di samping itu, peneliti juga akan
mengambil data hasil evaluasi pembelajaran berupa nilai ulangan formatif siswa pada akhir siklus. Kemudian data dianalisa sesuai dengan tujuan penelitian.
f. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Kegiatan observasi merupakan kegiatan mengamati keaktifan, ketertarikan dan keterlibatan siswa selama mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris. Berikut ini adalah format observasi yang akan
digunakan :
Aktif dalam proses PembeLajaran
NO NAMA SISWA memper hatikan teks ditunjuk kan oleh guru memp erhatik an ketera ngan guru menja wab pertan yaan guru meniru kan kalimat guru aktif belajar dalam kelomp ok
2. Wawancara (in-depth interview) Dilakukan dengan mewawancarai beberapa siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran setelah proses pembelajaran
berlangsung. Sedangkan format wawancara menyesuaikan kebutuhan peneliti, yaitu yang ada hubungannya dengan minat, persepsi serta ketertarikan siswa terhadap proses pembelajaran. Lama interview menyesuaikan dengan situasi kelas dan jawaban siswa yang yang diwawancarai.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif
yang akan dipaparkan dalam sebuah tabulasi data.
3. Tehnik Test
Tehnik ini akan dilakukan untuk mendapatkan nilai ulangan harian. Data ini dikumpulkan dengan tehnik test. Selanjutnya nilai akan digabung dan menjadi data pelengkap pada tabulasi data.
g. Tehnik Analisis Data
Data kualitatif ini akan dianalisis dengan prosedur sebagai berikut :
1. Reduksi Data
Menurunkan data dari hasil observasi, in-depth interview, dan
hasil ulangan formatif, kemudian memilah-milah data berdasar kategorisasi yang diambil dari observasi, interview dan hasil ulangan formatif.
2. Display data dengan melakukan tabulasi data
Kategori yang akan digunakan untuk tabulasi data sesuai dengan hasil observasi, interview dan ketuntasan nilai siswa (tuntas/tidak tuntas). Karena hanya 23 siswa yang diteliti, tabulasi data diharapkan mencermin individu dan kalsikal.
3. Pengambilan keputusan/drawing decision
Pengambilan simpulan dari tabulasi data yang menggambarkan berapa siswa yang aktif, dan berapa siswa yang tidak aktif. Berapa siswa yang nilainya tuntas dan berapa yang tidak tuntas, dan seterusnya.
h. Indikator Keberhasilan
Arifin ( 2009 : 298) menyatakan bahwa untuk memperoleh informasi mengenai keberhasilan proses belajar peserta didik, guru dapat menggunakan berbagai teknik, seperti mengamati keaktifan siswa dalam belajar baik secara perseoarngan maupun dalam kelompok, melakukan wawancara tentang kesulitan yang dihadapi peserta didik, memberikan tes formatif dan
lainnya. Guru juga harus menetapkan criteria apa yang akan digunakan untuk menentukan keberhasilan peserta didik. Keberhasilan siswa dapat disusun berdasarkan tingkatan tertentu seperti sangat kurang, kurang, cukup, baik dan sangat baik atau juga sangat aktif, aktif, cukup aktif dan kurang aktif.
Berdasarkan penjelasan Arifin diatas, tampaknya keberhasilan pembelajaran dapat dilihat pada partisipasi aktif siswa dan hasil belajar peserta didik. Olehkarena itu penelitian ini menggunakan dua indikator yang digunakan untuk menyatakan keberhasilan meningkatkan kemampuan siswa SMP Muhammadiyah Palangka Raya kelas VII-1 A yaitu jika :
1. Data kuantitaif menunjukan bahwa lebih dari 50 % siswa yang secara aktif mengikuti pembelajaran memperoleh nilai hasil belajar sebesar 70 atau lebih.
2. Data kuantitatif menunjukan perbaikan nilai siswa pada akhir siklus jika dibandingkan dengan kemampuan awal mengikuti pembelajaran dengan menggunakan criteria yang dikembangkan berdasarkan panduan penilaian Sekolah Menengah Pertama yang disebagai beterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMP tahun 2015 sebagai berikut:
NO Persentase Perkembangan Kemampuan
dibanding sebelumnya Predikat 1 2 3 4 86 – ≥100 % 71 – 85 % 56 – 70 % ≤ 55 %
Berhasil dengan Sangat Baik Berhasil dengan Baik
Cukup Berhasil Kurang Berhasil
HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pre Test Pra Penelitian
Pada permulaan atau pra penelitian, peneliti perlu memastikan mengapa perlu diadakan perbaikan kemampuan siswa dalam membaca reference, olehkarena itu diperlukan data awal yang menggambarkan kemampuan awal siswa. Untuk itu peneliti mengadakan test awal dengan materi dan hasil sebagai berikut :
1. Materi Pre Test. (Pra Penelitian) Assalamu’alaikum and Morning everybody, I would like to tell us about one of my family. Do you know who she is ? Of course you do not know. Well everybody listen to me, I would like to tell us about my mother. Her name is Anna. You know, my mother is a beautiful person. She is not tall but not short. She has long-curly-black hair. Her eyes are like honey. Her skin is like brown. She has beautiful smile.
My mother is a very kind person. She is very lovely, friendly and patient. She loves to help people. I love my mother because she is hospitality. She kisses me when I will go anywhere. She helps her children to solve her problems.
She is a good wife and also a good mother. She always takes care of her family. She likes our house clean
and organized. She is puts everything in the right place. She does not like messes.
It’s about my mother. Thank you. Bye
Answer the following questions: I. Non Reference
1. Who is my mother ?
2. What does my mother’s hair look like ?
3. What color is my mother’s skin ?
4. What does my mother do when I will go anywhere?
5. How is our house my mother likes ?
II. Reference
1. “Her” in the 3rd line refers to …. 2. “She” in 4th line refers to …. 3. “She” in the 6th line refers to …. 4. “Her” in the 9th line refers to …. 5. “She “ in line 12 th refers to …. 2. Hasil Pre Test
Soal tes di atas dapat dibedakan menjadi dua yaitu membaca comprehension non reference mulai nomor 1-5 dan membaca reference (reading for reference) untuk nomor 6-10. Berdasarkan hasil tes para siswa, kemampuan membaca siswa dalam reading for reference dapat digambarkan sebagai berikut ;
Tabel 1
Kemampuan awal siswa Nilai
No Nama
Non Reference Reference
1 AR 20 0 2 AP 80 0 3 DI 100 20 4 DP 40 0 5 EK 60 0 6 FA 20 0 7 GV 80 20 8 HJ 100 0 9 IT 60 0 10 IH 80 0 11 IS 80 20 12 LT 80 0 13 MH 40 20 14 MM 90 0 15 MQ 70 0 16 MF 80 0 17 MF 50 0 18 MR 80 20 19 NA 80 0 20 SD 80 20 21 SD 20 0 22 SY 100 0 23 ZA 80 40 Rata-Rata 68 7
Dari Data di atas nilai siswa dapat distribusikan sesuai dengan jumlah siswa berdasarkan perolehan nilai sebagaimana table berikut.
Tabel 2
Jumlah siswa berdasarkan perolehan nilai reading for reference No Nilai Jumlah Siswa
1 0-≤9 15
3 20 6 4 30 0 5. 40 2 6. 50 0 7 60 0 8 70 0 9 80 0 10 90 0 11 100 0 Jumlah Siswa 23 b. Siklus 1 1. Skenario Pembelajaran a. Pertemuan Pertama
Pada awal pembelajaran, Guru memberi salam (greeting); Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa; menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran untuk memberi motivasi belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh. Guru mengajukan mengaitkan antara pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; Guru menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan sesuai silabus.
Pada kegiatan inti guru membagikan teks deskriptif ragam lisan kepada siswa. Kemudian secara berpasangan, para siswa menggarisbawahi dan membahas kata sulit yang digunakan dalam teks. Dalam
membahas kosa kata siswa menggunakan pendukung berupa kamus dan sumber lain yang relevan. Membahas dan mengembangkan kosakata tata bahasa, noun, verb, pronoun .. Membahas struktur atau ciri-ciri teks ragam lisan.
Pada tahap berikutnya, siswa, secara berpasangan, berlatih mengungkapkan makna dalam teks deskriptif dengan teknik inferensi atau dengan mengadakan inferring atau inference atau inferensi kata ganti yang terdapat dalam teks. Dalam tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan sumber belajar karena pada saat ini guru menjelaskan dan melatih siswa menggunakan tekhnik inferensi untuk mengungkapkan makna sebagaimana dalam kajian teoritis dilanjutkan tahapan para siswa menjawab pertanyaan terkait dengan reference dan diakhiri dengan bersama guru dan siswa memeriksa jawaban hasil inferring atau inference atau inferensi.
Pada kegiatan Penutup, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan kesulitan siswa selama PBM, menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi penugasan untuk siswa berupa PR yang terkait dengan reading for reference dan reading comprehension lainnya.
b. Pertemuan Kedua
Pada pertemuan ke dua ini menggunakan langkah yang relative sama dengan pada pertemuan pertama tetapi sudah tidak membahas struktur teks kembali. Lebih detail , skenario pembelajaran pada pertemuan ke dua adalah sebagai berikut :
Pada awal pembelajaran, Guru memberi salam (greeting); Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa; menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran untuk memberi motivasi belajar bercerita yang inspiratif tentang keadaan diakhirat bagi orang yang ketika hidup yang suka mengerompi. Guru mengajukan pertanyaan tentang kaitan antara pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; Guru dan siswa membahas jawaban PR; Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai
Pada kegiatan inti guru membagikan teks deskriptif ragam tulis kepada siswa. Kemudian secara berkelompok, para siswa menggarisbawahi dan
membahas kata sulit yang digunakan dalam teks. Dalam membahas kosa kata siswa menggunakan pendukung berupa kamus dan sumber lain yang relevan.
Pada tahap berikutnya siswa secara berkelompok berlatih mengungkapkan makna dalam teks deskriptif dengan teknik inferensi atau dengan mengadakan inferring atau inference atau inferensi kata ganti yang terdapat dalam teks. Dalam tahap ini guru berperan sebagai fasiliatair dan sumber belajar karena pada saat ini guru menjelaskan dan melatih siswa menggunakan tekhnik inferensi untuk mengungkapkan makna sebagaimana dalam kajian teoritis dilanjutkan tahapan para siswa menjawab pertanyaan terkait dengan reference. Guru memonitor dan member bantuan yang diperlukan oleh siswa. Kegiatan inti diakhiri dengan kegiatan guru dan siswa membahasa jawaban secara bersama.
Pada kegiatan Penutup, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan kesulitan siswa selama PBM, menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi penugasan untuk siswa berupa PR yang terkait dengan reading for reference.
c. Pertemuan Ke tiga
Pada awal pembelajaran, Guru memberi salam (greeting); Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa; menyiapkan
peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Kemudian guru memberi motivasi belajar bercerita yang inspiratif islami. Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; Guru menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan sesuai silabus. . Guru mengajukan pertanyaan tentang kaitan antara pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; Selanjutnya guru dan siswa membahas jawaban PR yang diberikan pada pertemua sebelumnya.
Pada tahap inti pada siswa di tes secara individu untuk mengungkapkan makna dalam teks deskriptif dengan teknik inferensi atau dengan mengadakan inferring atau inference atau inferensi kata
ganti yang terdapat dalam teks. Dalam tahap ini guru tidak berperan sebagai fasiliatator dan sumber belajar karena pada saat ini guru tidak menjelaskan dan tidak juga melatih siswa menggunakan tekhnik inferensi untuk mengungkapkan makna terkait dengan reference tetapi hanya memonitor kegiatan siswa.
Pada kegiatan Penutup, guru Guru menginterview siswa tentang pembelajaran dengan teknik inference dan menyampaikan
menginformasikan materi pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya
2. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran berupa hasil test siswa dapat tergambar sebagai
berikut :
Tabel 3
Nilai Kemampuan Membaca reading for reference Siswa Siklus 1.
No Nama Nilai 1 AR 60 2 AP 50 3 DI 40 4 DP 30 5 EK 40 6 FA 30 7 GV 40 8 HJ 40 9 IT 30 10 IH 90 11 IS 40 12 LT 40
13 MH 40 14 MM 40 15 MQ 40 16 MF 40 17 MF 50 18 MR 40 19 NA 60 20 SD 40 21 SD 40 22 SY 90 23 ZA 40 Rata-Rata 45,7 Nilai Terendah 30 Nilai Tertinggi 90
Jumlah Siswa Mencapai KKM 2 % Jmlh Siswa Mencapai KKM 9,5 %
Berdasarkan data di atas, nilai siswa dapat distribusikan sesuai dengan jumlah siswa berdasarkan perolehan nilai sebagaimana table berikut.
Tabel 4
Jumlah siswa berdasarkan perolehan nilai reading for reference No Nilai Jumlah Siswa
1 0-≤9 0 2 10 0 3 20 0 4 30 3 5. 40 14 6. 50 2 7 60 60 8 70 0 9 80 0 10 90 2 11 100 0 Jumlah Siswa 23
3. Pembahasan dan Refleksi Siklus 1 Berdasarkan data observasi selama kegiatan belajar mengajar pada siklus 1, para siswa pada umumnya mengikuti pembelajaran dengan baik dengan indicator memperhatikan teks ditunjukkan oleh guru, memperhatikan keterangan guru, menjawab pertanyaan guru, menirukan kalimat guru, dan aktif belajar dalam kelompok dengan baik meskipun masih ada yang berbicara nyaring ketika berdiskusi dalam kelompok.
Hasil wawancara dengan beberapa orang siswa yang belum tuntas tentang penyebab ketidaktuntasan nilai mereka karena mereka merasa masih belum terbiasa dengan teknik tersebut. Mereka masih memerlukan latihan dan penerjemahan yang lebih banyak.
Berdasarkan nilai hasil belajar pada akhir siklus I, data menunjukan bahwa teknik inferring atau inference atau inferensi masih belum mampu menyebabkan lebih dari 50 % siswa mencapai atau melebihi KKM. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang memperoleh nilai sama dengan atau lebih dari 70 sebanyak 2 orang atau hanya 9,5 %. Ditinjau dari prosentase ketercapaian KKM maka teknik ini
masih belum sukses menyebabkan mayoritas siswa tuntas dalam belajarnya.
Jika dilihat dari perkembangan perbaikan kemampuan siswa atau progress report kemampuan siswa klasikal mengalami perbaikan yang sangat baik karena dari kemampuan dengan nilai rerata siswa dalam rentang 0-100, dari 7 pada pra penelitian menjadi 45,7 (empat puluh lima koma 7) pada akhir siklus 1. Ini berarti terjadi perkembangan atau peningkatan lebih dari 6 (enam) kali lipat atau lebih dari 600 %.
Berdasarkan indicator keberhasilan yang ditetapkan, maka perkembangan yang mencapai antara 81-≥100% dikategorikan sangat baik. Berarti bahwa teknik ini mampu meningkatkan kemampuan siswa secara klasikal dalam menjawab pertanyaan reference. Secara individu seluruh siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini tampak dari data nilai siswa yang berada di atas nilai siklus 1.
Lebih detail perkembangan peningkatan kemampuan siswa dalam menjawab reference berdasarkan nilai siswa dari silius 1 ke siklus 2 dapat terlihat sebagaimana grafik dibawah ini.
Grafik 1. Progess Report Peningkatan Hasil Belajar Individu Siklus 1
Grafik.1. di atas menunjukan bahwa teknik inference atau inferensi mampu menyebabkan seluruh siswa mengalami perbaikan kemampuan individu. Namun demikian sebagian besar yakni 91,3 % (Sembilan puluh satu koma tiga persen) masih dibawah KKM. Penyebabnya adalah kosa kata siswa yang tidak memadai untuk memahami teks. Oleh karena itu perlu diterapkan teknik untuk meningkatkan kosakata mereka dengan translation.
Berdasarkan data-data di atas maka harus terdapat perbaikan pada siklus 2 yaitu teknik inference atau inferensi harus memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami arti kosa kata secara intensif yang terdapat dalam wacana yang dijadikan sebgaai sumber belajar. c. Siklus 2
1. Skenario Pembelajaran
a. Pertemuan Pertama
Pada awal pembelajaran, Guru memberi salam (greeting); Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa; menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran untuk memberi motivasi belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh Guru mengajukan tentang kaitan antara pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; Guru menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan sesuai silabus.
Pada kegiatan inti guru membagikan teks prosedur ragam lisan kepada siswa. Kemudian secara berpasangan, para siswa menggarisbawahi dan membahas kata sulit yang digunakan dalam teks. Dalam membahas kosa kata siswa menggunakan pendukung berupa kamus dan sumber lain yang relevan. Membahas dan mengembangkan kosakata tata bahasa, noun, verb, pronoun .. Membahas struktur atau ciri-ciri teks ragam lisan.
Pada tahap berikutnya siswa berlatih mengungkapkan makna dalam teks prosedur dengan teknik inferensi atau dengan mengadakan inferring atau inference atau inferensi kata ganti yang terdapat dalam teks. Dalam tahap ini guru berperan sebagai fasiliatair dan sumber belajar karena pada saat ini guru menjelaskan dan melatih siswa menggunakan tekhnik inferensi untuk mengungkapkan makna sebagaimana dalam kajian teoritis dilanjutkan tahapan para siswa menjawab pertanyaan terkait dengan reference dan diakhiri dengan bersama guru dan siswa memeriksa jawaban hasil inferring atau inference atau inferensi.
Pada kegiatan Penutup, guru member kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan kesulitan siswa selama PBM, menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi penugasan untuk siswa berupa PR yang terkait dengan reading
for reference dan reading comprehension lainnya.
b. Pertemuan Kedua
Pada pertemuan ke dua ini menggunakan langkah yang relative sama dengan pada pertemuan pertama tetapi sudah tidak membahas struktur teks kembali. Lebih detail , skenario pembelajaran pada pertemuan ke dua adalah sebagai berikut :
Pada awal pembelajaran, Guru memberi salam (greeting); Kemudian guru memeriksa kehadiran siswa; menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran untuk memberi motivasi belajar bercerita yang inspiratif tentang keadaan diakhirat bagi orang yang ketika hidup yang suka mengerompi dan meyebarkan isu. Guru mengajukan pertanyaan tentang kaitan antara pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; Guru menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan sesuai silabus.
Pada kegiatan inti guru membagikan teks prosedur ragam lisan kepada siswa. Kemudian secara berpasangan, para siswa menggarisbawahi dan membahas kata sulit yang digunakan dalam teks. Dalam membahas kosa kata siswa menggunakan pendukung berupa kamus dan sumber lain yang
relevan. Membahas kosakata dnegna mengartikan kosa kata yang tidak diketahui siswa. Ini merupakan hasil refleksi dari kegiatan pembelajaran pada siklus 1.
Pada tahap berikutnya siswa berlatih mengungkapkan makna dalam teks prosedur dengan teknik inferensi atau dengan mengadakan inferring atau inference atau inferensi kata ganti yang terdapat dalam teks. Dalam tahap ini guru berperan sebagai fasiliatair dan sumber belajar karena pada saat ini guru menjelaskan dan melatih siswa menggunakan tekhnik inferensi untuk mengungkapkan makna sebagaimana dalam kajian teoritis dilanjutkan tahapan para siswa menjawab pertanyaan terkait dengan reference dan diakhiri dengan bersama guru dan siswa memeriksa jawaban hasil inferring atau inference atau inferensi atau inferensi atau inference.
Pada kegiatan Penutup, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk menanyakan kesulitan siswa selama PBM, menyimpulkan materi pembelajaran dan memberi penugasan untuk siswa berupa PR yang terkait dengan reading for reference dan reading comprehension lainnya.
c. Pertemuan Ke tiga
Pada pertemuan ke tiga ini hanya diadakan test tulis. Guru menjelaskan bahwa test dikerjakan secara individu. Guru membagikan test. Guru mempersilahkan siswa mengerjakan test dan selama siswa mengerjakan test tulis tentang reference, guru memonitor kelas. Guru meminta siswa mengumpulkan pekerjaannya kepada guru. 2. Hasil Pembelajaran
Hasil pembelajaran berupa hasil test siswa dapat tergambar sebagai
berikut :
Tabel 5
Nilai Kemampuan Membaca Reading for Reference Siswa Siklus 2
No Nama Nilai 1 AR 60 2 AP 60 3 DI 60 4 DP 80 5 EK 40 6 FA 70 7 GV 80 8 HJ 80 9 IT 80
10 IH 80 11 IS 80 12 LT 80 13 MH 60 14 MM 80 15 MQ 80 16 MF 90 17 MF 80 18 MR 80 19 NA 80 20 SD 60 21 SD 60 22 SY 60 23 ZA 60 Rata-Rata 71,3 Nilai Terendah 40 Nilai Tertinggi 90
Jumlah Siswa Mencapai KKM 14 % Jmlh Siswa Mencapai KKM 60,9 Berdasarkan data di atas, nilai siswa
dapat distribusikan sesuai dengan
jumlah siswa berdasarkan perolehan nilai sebagaimana table berikut. Tabel 6
Jumlah Siswa Berdasarkan Perolehan Nilai Reading for Reference Siklus 2. No Nilai Jumlah Siswa
1 0-≤9 0 2 10 0 3 20 0 4 30 0 5. 40 1 6. 50 0 7 60 8 8 70 1 9 80 12 10 90 1 11 100 0 Jumlah Siswa 23
3. Pembahasan dan Refleksi Siklus 2 Berdasarkan data observasi selama kegiatan belajar mengajar pada siklus 2, tampaknya para siswa pada umumnya mengikuti pembelajaran dengan baik dengan indicator memperhatikan teks ditunjukkan oleh guru, memperhatikan keterangan guru, menjawab pertanyaan guru, menirukan kalimat guru, dan aktif belajar dalam kelompok dengan baik meskipun masih tetap ada yang berbicara nyaring ketika berdiskusi dalam kelompok.
Hasil wawancara dengan beberapa orang siswa yang belum tuntas tentang penyebab ketidaktuntasan dan atau tidak mengalami peningkatan karena mereka merasa masih memerlukan latihan dan penerjemahan yang lebih banyak artinya bahwa mereka masih belum memiliki kosa kata yang cukup untuk memahami wacana. Kelemahan ini karena memang mereka tidak memiliki kamus dan masih perlu ditingkatkan latihan menerjemahkan.
Berdasarkan nilai hasil belajar pada akhir siklus ke 2 (dua), data yang bersumber pada nilai siswa menunjukan bahwa teknik inferring atau inference atau inferensi sudah mampu menyebabkan peningkatan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan reference. Ditinjau dari perkembangan perbaikan kemampuan siswa atau progress report kemampuan siswa secara
individu maupun klasikal mengalami perbaikan rena rerata 45, 7 (empat puluh lima koma 7) menjadi 71,3 (tujuh puluh satu koma tiga) dalam rentang 0-100. Ini berarti terjadi perkembangan atau peningkatan 25,6 atau 56 % dibanding dari siklus 1 atau 64,3 poin dari kemampuan awal.
Berdasarkan indicator keberhasilan yang ditetapkan, perkembangan peningkatan yang mencapai antara 56% dikategorikan cukup meningkat. Tetapi jika ditinjau dari kemampuan awal terjadi peningkatan 640 %. Berarti bahwa teknik ini sangat mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan reference.
Ditinjau dari kemampuan individu dalam mencapai KKM, data menunjukan baghwa lebih dari 50 % siswa mencapai atau melebihi KKM. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang memperoleh nilai sama dengan atau lebih dari 70 sebanyak 14 (empat belas) orang atau 60,9 %. (enam puluh koma sembilan persen). Berdasarkan indicator keberhasilan maka teknik ini mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan reference.
Secara individu seluruh siswa juga mengalami peningkatan sebagaimana grafik dibawah ini. Grafik 2. Progess Report
Peningkatan Hasil Belajar Individu Siklus 2
Grafik nilai pada siklus 2 di atas menunjukan bahwa teknik inference atau inferensi mampu menyebabkan sebagian besar siswa mengalami perbaikan kemampuan individu. Dari 23 (dua puluh tiga) siswa 19 (Sembilan belas siswa) atau 82,6 (delapan puluh dua koma enam persen) mengalami peningkatan, 2 (dua) siswa atau 8,6 % (delapan koma enam persen) dari jumlah siswa tidak mengalami perubahan dan 2 (dua) atau atau 8,6 % (delapan koma enam persen) siswa mengalami penurunan. Penyebab tidak meningkatnya kemampuan atau bahkan penurunan kemampuan siswa jika dibandingkan pada siklus 1 adalah kosa kata siswa yang tidak memadai untuk memahami teks. Oleh karena itu perliu diterapkan
teknik untuk meningkatkan kosakata mereka.
d. Persepsi Siswa terhadap
Pembelajaran & Peningkatan Kemampuan Siswa
1. Persepsi Siswa terhadap Proses Pemebelajaran
Pada akhir pembelajaran dari setiap pertemuan ke dua siklus 1 dan 2, guru peneliti mengadakan tanya jawab dengan para siswa terkait dengan pembelajaran dengan menggunakan format yang ditetapkan untuk mengetahui persepsi para siswa mengenai proses pembelajaran yang dilakukan. Adapaun format dan hasil tanya jawab dengan para siswa dapat terlihat sebagai berikut ;
Tabel 7
Persepsi Siswa terhadap Proses Pembelajaran dengan menggunakan teknik Inference Akhir Siklus 1.
Pilihan jawaban
No Pernyataan SS S KS TS
1. Proses belajar mengajar dengan menggunakan model pemebelajaran tekhnik inference / inferensi menyenangkan
9 14 0 0
2. Belajar dengan menggunakan tekhnik inference/ inferensi memotivasi saya untuk belajar Bahasa Inggris lebih baik lagi
15 8 0 0
3. Dengan menggunakan tekhnik inference pembelajaran, saya merasa belajar lebih terarah
23 0 0 0
4. Model pembelajaran tekhnik inference/inferensi membantu saya mengembangkan cara berfikir untuk menbangun/menemukan konsep
7 15 1 0
5. Belajar menggunakan tekhnik inference/inferensi memberikan kesempatan kepada saya untuk bertukar pikiran dengan teman
23 0 0 0
6. Belajar seperti ini memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya, menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide dan pendapat saya.
23 0 0 0
7. Belajar dengan menggunakan tekhnik inference/inferensi memudahkan saya memahami materi pelajaran
16 5 1 0
8. Cara belajar seperti ini sebaiknya digunakan juga pada pokok bahasan yang lain
0 3 20 0
9. Guru menyajikan materi dengan menerapkan model pembelajaran tekhnik inference/inferensi mudah dipahami
15 8 0 0
Jumlah 131 53 22 0
Tabel 8
Persepsi Siswa terhadap Proses Pembelajaran dengan menggunakan teknik Inference Akhir Siklus 2.
Pilihan jawaban
No Pernyataan SS S KS TS
1. Proses belajar mengajar dengan menggunakan model pemebelajaran tekhnik inference / inferensi menyenangkan
14 9 0 0
2. Belajar dengan menggunakan tekhnik inference/ inferensi memotivasi saya untuk belajar Bahasa Inggris lebih baik lagi
16 7 0 0
3. Dengan menggunakan tekhnik inference pembelajaran, saya merasa belajar lebih terarah
23 0 0 0
4. Model pembelajaran tekhnik inference/inferensi membantu saya mengembangkan cara berfikir untuk menbangun/menemukan konsep
8 15 0 0
5. Belajar menggunakan tekhnik inference/inferensi memberikan kesempatan kepada saya untuk bertukar pikiran dengan teman
23 0 0 0
6. Belajar seperti ini memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya, menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide dan pendapat saya.
23 0 0 0
7. Belajar dengan menggunakan tekhnik inference/inferensi memudahkan saya memahami materi pelajaran
16 5 1 0
8. Cara belajar seperti ini sebaiknya digunakan juga pada pokok bahasan yang lain
0 13 10 0
9. Guru menyajikan materi dengan menerapkan model pembelajaran tekhnik inference/inferensi mudah dipahami
15 8 0 0
Jumlah 138 57 11 0
Persentase (%) (Jumlah/(9x23) x 100 % 67 % 28 % 5^ 0% Mencermati table 7 dan table 8
diatas, tampaknya bahwa ebagian besar para siswa VII-1 merasa cocok dengan teknik inferensi/inference untuk belajar reading for reference. Data tersebut menunjukan bahwa selama siklus 1 dan 2 persentase siswa yang sangat
setuju dengan penerapan teknik tersebut rata-rata sekitar 65 persen.
Persentase siswa yang sangat menyeujui penerapan teknik inference dalam pembelajaran ternyata berkorelasi postif dengan presentase siswa yang mencapai atau melampaui KKM. Ini
menunjukan bahwa tekhnik pembelajaran yang tidak sesuai dengan cara belajar siswa tidak dapat meningkatkan kemampuan siswa secara maksimal.
2. Peningkatan Hasil Belajar Siswa. Berdasar hasil penelitian, peningkatan kemampuan siswa dalam membaca reading for reference secara individu dan kalsikal dapat digambarkan dalam grafik-grafik berikut :
Grafik 3. Progress Report Peningkatan Hasil Belajar Siswa dari Siklus ke Siklus
Grafik 4. Progress Report Peningkatan Rerata dari siklus ke siklus
0 20 40 60 80
Grafik 5. Progress Report Jumlah Siswa Berdasarkan Perolehan Nilai dari Siklus ke Siklus
Grafik. 6. Progress Report Rerata Peningkatan Kemampuan Membaca Reading for Reference selama dua siklus
(1:100%)
Grafik 7. Progress Report Peningkatan Persentase Siswa Yang Mencapai/Melampaui KKM
Data pada grafik.3. di atas menunjukan bahwa nilai kemampuan awal siswa sebagian besar berada pada nilai 0 dengan nilai tertinggi 40. Pada siklus satu kemampuan siswa seluruhnya meningkat dengan sebagian besar berada di kisaran pada nilai 40 dengan nilai tertinggi 90. Kemudian pada siklus ke 2 nilai siswa juga meningkat dimana sebagian besar berada pada nilai 80 dengan tertinggi pada nilai 90.
Grafik.4 di atas menunjukan nilai siswa dalam membaca reading for reference siklus 1 secara umum berada di atas kemampuan awal pada pra penelitian dan begitu juga nilai siswa dalam membaca reading for reference siklus 2 juga meningkat. Hal itu tampak bahwa nilai siswa pada siklus tersebut berada di atas nilai siklus 1. Grafik.4. di atas juga menunjukan
bahwa trend kemampuan siswa selalu meningkat dari siklus ke siklus
Grafik 5. menunjukan bahwa nilai kemampuan yang dimiliki oleh sebagian besar siswa dalam membaca reading for reference pada awal atau pada saat pra penelitian dalam rentang 0-100 adalah dibawah sepuluh dimana menempati grafik tertinggi dengan jumlah 12 siswa. Tertinggi ke dua dengan jumlah siswa 6 adalah nilai 20 dan yang ketiga adalah nilai 40 dengan jumlah siswa yang memperolehnya sebanyak 2 orang siswa. Artinya adalah sebagian besar siswa memperoleh nilai dibawah 10.
Pada siklus 1 grafik tertinggi ditempati nilai 40. Ini berarti bahwa jumlah siswa terbanyak memperoleh nilai 40, disusul nilai enam puluh dengan jumlah siswa 6, ketiga nilai 30 dengan jumlah siswa 3, ke empat
Persentase Siswa Mencapai atau Melampaui KKM
adalah nilai 50 dengan jumlah siswa 2 dan begitu juga nilai 90. Grafik 5 juga menunjukan bahwa pada siklus ke 2, jumlah siswa terbanyak adalah siswa yang memperoleh nilai 80 dimana ditunjukan dengan grafik tertinggi dengan jumlah 12 orang, disusul jumlah siswa yang memperoleh nilai 60 yaitu sebanyak 8 orang dan yang terakhir adalah jumlah siswa yang memperoleh nilai 40 dan 90 dengan jumlah siswa masing-masing 1 orang.
Peningkatan rerata secara individu dan klasikal juga tampak pada grafik 6. Grafik 6 tersebut menunjukan bahwa peningkatan rerata terendah secara individu terjadi pada ZA yaitu 1,5 kali dari kemampuan awal dan tertinggi pada siswa berrinisial IH dengan peningkatan sebesar 8,5 kali lipat. Peningkatan rerata kemampuan secara klasikal juga terjadi. Grafik 6 menunjukan rerata peningkatan kemampuan siswa stelah dua siklus menjcapai rerata 5 kali lipat.
Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM. Grafik 7. Memperlihatkan bahwa pada kemampuan awal tidak ada satupun siswa yang mencapai KKM karena pada 0 %. Pada siklus 1 meningkat menjadi 9,5 % dan pada akhir siklus 2 jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM sebanyak 60,9 %.
SIMPULAN DAN SARAN a. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil penelitian pada bab IV di atas dapat disimpulkan bahwa setelah
penerapan teknik inferensi atau dalam penelitian ini dengan nama lain inferring atau inference selama 2 (dua) siklus memperlihatkan bahwa teknik tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca reading for reference.
Peningkatan kemampuan secara individu dalam rentang 1,5-8,5 kali lipat. Peningkatan kemampuan terendah terjadi pada ZA yaitu 1,5 kali dari kemampuan awal dan tertinggi pada siswa berrinisial IH dengan peningkatan sebesar 8,5 kali lipat.
Secara klasikal peningkatan siklus per siklus dapat diihat berdasar pada nilai kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan reference, dalam rentang 0-100, sebagai berikut :
1. Dari rerata 7 (tujuh) pada saat sebelum penerapan teknik inference atau inferring atau inferensi menjadi 45,7 (empat puluh lima koma tujuh) pada akhir siklus 1. Peningkatan ini sebesar kurang lebih enam kali lipat atau 600 % (enam ratus persen) dari kemampuan awal.
2. Peningkatan ini juga berlanjut pada siklus ke 2 (dua) menjadi rerata nilai kemampuan siswa dalam membaca reading for reference menjadi 71,3 (tujuh puluh satu koma tiga). Hal ini berarti terjadi peningkatan 10 (sepuluh) kali lipat atau 1000 % (seribu persen) dari kemampuan awal.
3. Peningkatan rerata kemampuan secara klasikal siklus 1 da 2 menjcapai rerata 5 kali lipat atau 500 %.
Hal tersebut diatas menunjukan bahwa teknik inference dapat meningkatkan kemampuan siswa secara kalsikal dalam reading for reference dengan sangat berhasil.
Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM. Data menunjukan bahwa pada kemampuan awal tidak ada satupun siswa yang mencapai KKM atau 0 %. Pada siklus 1 meningkat menjadi 9,5 % (Sembilan koma lima persen) dan pada akhir siklus 2 jumlah siswa yang mencapai atau melampaui KKM sebanyak 60,9 %.(enam puluh koma sembilan persen). Ini menunjukan bahwa teknik inference cukup berhasil meningkatkan jumlah siwa dalam mencapai KKM
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa ternyata tidak seluruh siswa cocok dengan teknik inference. Hal ini tampak dari masih terdapat siswa yang tidak mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 atau di bawah KKM. Hal ini tampaknya disebabkan karena masih kurangnya kosa kata yang dikuasai oleh para siswa tersebut. Jadi factor utama agar siswa memiliki kemampuan reading for reference yang baik jika diajar dengan menggunakan teknik inference/inferensi/infering adalah
pemahaman terhadap isi wacana/teks dengan kata lain adalah penguasaan kosa kata yang digunakan dalam teks/wacana bahasa Inggris tersebut dan kemampuan menggunakan teknik menginferensi kata atau phrase atau kalimat.
b. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, direkomendasikan kepada peneliti yang akan mengadakan penelitian yang sama disarankan agar menggabungkannya dengan translation method atau penulis sebut dengan inference-translation method mengingat ternyata penguasaan kosa kata yang baik berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan reference.
Bagi institusi pendidikan yang terdapat siswa yang memiliki profil yang relative sama dengan siswa yang menjadi subjek penelitian ini dan ingin meningkatkan kemampuannya disarankan agar melatih tenaga pendidiknya menerapkan inference dan translation dalam kegiatan belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Agustien, dkk, 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi. Bahasa Inggris. Jakarta: Depdiknas Arifin, Zanial. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rodakarya
Brown, Douglas H. 2000. Teaching by Principles : An Interactive Approach to Language Pedagogy. Second Edition. California:Longman
Depdiknas. 2004. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk SMP/MTs
Handayani, Dwi Suci Nur. 2010. The Effectiveness of Nursery Rhymes in Teaching Speaking to the Eighth Grade Students of SMP Muhamadiyah 1 Alternatif Kota Magelang in the School year 2010/2011 (A Paper). Magelang:Tidar University Magelang
McNeil. John D. 1991. Reading Comprehensiitonon -3rd E. New York : Harper Collins Publisher
Raymond S, Pastore, Ph.D. 2003. Principles of Teaching. Associate Professor of Education Bloomsburg University. Bloomsburg. HTML Document (14/03/2012 . 11:53)
Suryati, N. 2003. Pembelajaran Membaca Bahasa Inggris. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Susilowati, Yulia. 2007. Upaya Peningkatan Ketrampilan Berbahasa Produktif Siswa pada Teks Recount Melalui Biografi Card Trading (Laporan Penelitian). Ungaran
Thornbury, Scott. 2004. How to Teach Vocabulary. Malysia, Longman
Trimo, S.Pd,M.Pd. 2007. Artikel PTK : Sebuah Refleksi Pembangkitan Profesionalisme Guru. Dimuat tanggal 22 Desember 2007
http://sites.google.com/site/mkpeunj2 (09/03/2012. 14:20)
Sahrurin & Sri Ariani dalam www.sriudin. com/2011/03/model pembelajaran:25 Maret 2012, 22.15
Wiwik Dwi Rahayu M. dalam http://wiiepurple-wiiepurple.blogspot.
co.id/2012/01/keterampilan-membaca_09.html Ketrampilan Membaca 14 maret 2016 09.30 wib.
http://www.merriam-webster.com/dictionary/reference
http://www. Kuliahbahasainggris .com/5-aspects-of-reading- comprehension-meaning- and-example/