• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik Terhadap Tingkat Stres Pada Lansia Di Wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik Terhadap Tingkat Stres Pada Lansia Di Wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung."

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOGENIK TERHADAP

TINGKAT STRES PADA LANSIA DI WILAYAH

PUSKESMAS KUTA UTARA BADUNG

OLEH :

NI PUTU RATIH FEBRIANA DEWI LESTARI NIM. 1102105042

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

(2)

i

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOGENIK TERHADAP

TINGKAT STRES PADA LANSIA DI WILAYAH

PUSKESMAS KUTA UTARA BADUNG

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH :

NI PUTU RATIH FEBRIANA DEWI LESTARI NIM. 1102105042

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)
(4)
(5)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir berjudul Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik Terhadap Tingkat Stres Pada Lansia Di Wilayah Puskesmas Kuta

Utara Badung.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Ucapan terima kasih penulis berikan kepada:

1. Prof. Dr. dr. Putu Astawa, Sp.OT (K), M.Kes., sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menuntut ilmu di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran.

2. Prof. dr. Ketut Tirtayasa, MS.,AIF, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

3. Drs. I Dewa Made Ruspawan,S.Kp,M.Biomed, sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini tepat waktu.

4. Ns. Kadek Eka Swedarma, S.Kep,M.Kes, sebagai pembimbing pendamping yang telah memberikan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini tepat waktu.

5. Bapak Mustikayasa selaku Kepala lingkungan Banjar Canggu Permai serta Bapak Surianto selaku Kepala lingkungan Banjar Tegalgundul yang telah memberi kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian di tempat terkait.

(6)

vi

7. Orang tua tercinta, Bapak I Made Sudana, S.Pd.,M.Pd dan Ibu Dra. Ni Siluh Made Nuriati, M.Pd yang senantiasa memberi dukungan baik moral, material, dan spiritual dalam pengerjaan tugas akhir ini.

8. Sdr. I Putu Indra Pramana selaku sukarelawan yang telah ikut berperan serta terlibat dalam proses penelitian tugas akhir ini.

9. Sdr. Kadek Dian Praptini, S.Kep selaku orang yang selalu membimbing saya dalam pengerjaan tugas akhir ini.

10.Rekan-rekan seperjuangan di PSIK A 2011, dan seluruh pihak yang telah membantu, dan memberi dukungan pada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri untuk menerima segala saran dan masukan yang membangun.

Akhirnya, semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Denpasar, Juni 2015

(7)

vii ABSTRAK

Lestari, Ni Putu Ratih Febriana Dewi. 2015. Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik Terhadap Tingkat Stres Pada Lansia Di Wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung. Tugas Akhir, Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pembimbing (1) Drs. I Dewa Made Ruspawan,S.Kp,M.Biomed., (2) Ns. Kadek Eka Swedarma, S.Kep, M.Kes.

Peningkatan usia harapan hidup penduduk usia lanjut secara tidak langsung memberikan dampak positif dan dampak negatif. Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan secara tahap demi tahap, oleh sebab itu para lansia mudah sekali mengalami stres. Stres bukan suatu penyakit, namun dapat menjadi awal timbulnya penyakit baik secara fisik maupun mental jika diabaikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan stres yaitu melalui penerapan teknik relaksasi otogenik. Relaksasi otogenik merupakan teknik relaksasi untuk mengurangi ketegangan yang dilakukan pada keadaan sadar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh relaksasi otogenik terhadap tingkat stres pada lansia di Wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung. Penelitian ini merupakan quasi eksperiment dengan rancangan pretest and posttest with control group. Pengambilan sampel diambil dari 2 tempat yang berbeda yaitu pada Banjar Canggu Permai sebagai banjar kelompok perlakuan dan Banjar Tegalgundul sebagai banjar kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling dengan jumlah sampel pada kelompok perlakuan sebanyak 18 orang sedangkan pada pada kelompok kontrol sebanyak 16 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner Depression, Anxiety, and Stres Scales (DASS) yang berskala rasio. Dari hasil uji statistik Independent Sample T-test didapatkan hasil p = 0,001 (p < 0,05) yang artinya ada pengaruh relaksasi otogenik terhadap tingkat stres.

(8)
(9)

viii ABSTRACT

Lestari, Ni Putu Ratih Febriana Dewi. 2015. Influence of Autogenic Relaxation Technique on the Stress Levels Of Elderly in the Region Health Center of Northern Kuta Badung. Final Project, Nursing Science Program, Faculty of Medicine, Udayana University, Adviser (1) Drs. I Dewa Made Ruspawan,S.Kp,M.Biomed., (2) Ns. Kadek Eka Swedarma, S.Kep, M.Kes.

Increased life expectancy of elderly population indirectly have a positive impact and negative effects. In general, the physical condition of a person who has entered the elderly decreased step by step, therefore elderly easy to experience stress. Stress isn’t a disease, but it may be early onset of the disease, both physically and mentally if neglected. One effort that can be done to reduce stress is through the application of autogenic relaxation techniques. Autogenic relaxation is a relaxation technique to reduce tension is done in a conscious state. The purpose of this study was to determine the effect of autogenic relaxation on the level of stress on the elderly in the Region Health Center of northern Kuta Badung. This study is a quasi experiment with pretest and posttest with control group. Samples were taken from two different places, namely at Canggu Banjar Permai village as a treatment group and Tegalgundul village as a control group. The sampling technique used purposive sampling by the number of samples in the treatment group as many as 18 people, while in the control group of 16 people. The technique of collecting data using questionnaires Depression, Anxiety, and Stress Scales (DASS) with ratio scale. From the statistical test independent sample T-test showed p = 0.001 (p <0.05), which meaning that there are influence of autogenic relaxation on level of stress.

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL DALAM ………… ……… i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ……...………. ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN ……….. iii

PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN ………. iv

KATA PENGANTAR ………. v

1.3 Tujuan Penelitian ……… 5

1.4 Manfaat Penelitian ……….. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lansia 2.1.1 Pengertian lanjut usia ……… 7

2.1.2 Klasifikasi lansia ……… 8

2.1.3 Perubahan akibat proses menua ………..……….….. 8

2.2 Stres 2.2.1 Pengertian Stres ……… 12

2.2.2 Faktor Presdisposisi Stres ……… 13

2.2.3 Tingkatan Stres ……… 13

2.2.4 Macam - macam Stres ……….……… 14

2.2.5 Faktor yang mempengaruhi ketegangan yang mengakibatkan stres ... 15

(11)

x 2.4 Relaksasi

2.4.1 Pengertian Relaksasi ………...………..………. 19

2.4.2 Jenis - jenis teknik relaksasi ………...……… 21

2.5 Relaksasi Otogenik 2.5.1 Pengertian Relaksasi Otogenik ………...………. 21

2.5.2 Kontraindikasi Relaksasi Otogenik ……….……… 23

2.5.3 Langkah – langkah Relaksasi Otogenik ………..… 23

2.6 Relaksasi Otogenik dan Stres ………...………... 26

BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep ……….. 28

3.2 Variabel dan Definisi Operasional ……… 29

3.3 Hipotesis ………... 31

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ……….. 32

4.2 Kerangka Kerja ………. 34

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ………... 35

4.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling ………... 35

4.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ……… 37

4.6 Instrumen Pengumpulan Data ……… 39

4.7 Etika Penelitian ……….. 40

4.8 Pengolahan dan Analisa Data ……… 41

4.9 Analisa Data ……….. 43

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ……….. 45

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian……… 50 5.3 Keterbatasan Penelitian………...

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Tabel Definisi Operasional Variabel ……….………. 30 Tabel 2 Skema Rancangan Penelitian ………..……….. Tabel 3 Karakteristik Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan………... Tabel 4 Gambaran Tingkat Stres Pre-Test dan Post-Test pada Kelompok Perlakuan…… Tabel 5 Gambaran Tingkat Stres Pre-Test dan Post-Test pada Kelompok Kontrol……… Tabel 6 Frekuensi Stres Pre-test dan Post-test pada Kelompok Perlakuan... Tabel 7 Frekuensi Stres Pre-test dan Post-test pada Kelompok Kontrol……… Tabel 8 Hasil Uji Statistik Selisih Stres pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol…………

32

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ……….. 28

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jadwal Penelitian Lampiran 2 : Pengantar Kuisioner

Lampiran 3 : Surat Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 : SOP Relaksasi Otogenik

Lampiran 5 : Realisasi Biaya Penelitian Lampiran 6 : Kuisioner Stres

Lampiran 7 : Lembar Observasi Pelaksanaan Relaksasi Otogenik Lampiran 8 : Master Tabel

Lampiran 9 : Hasil Uji Statistik

Lampiran 10 : Surat Ijin Studi Pendahuluan Lampiran 11 : Surat Ijin Penelitian

(15)

xiv

DAFTAR SINGKATAN

WHO : World Health Organization BPS : Badan Pusat Statistika IPTEK : Ilmu Pengetahuan Teknologi

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih dalam setiap pendekatannya. Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria meliputi , usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan (Efendi, 2009).

Penduduk lanjut usia di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup. Menurut Data Statistik Indonesia, tahun 2014 jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 14,1 juta jiwa. Pada tahun 2012, jumlah penduduk lanjut usia di Provinsi Bali mencapai 35% dari total penduduk. Jumlah ini meningkat secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia mencapai 37% dari total penduduk di Provinsi Bali (BPS Provinsi Bali, 2014).

(17)

2

stres. Menurut Manuaba 2000 dalam Tarwaka 2010, stres adalah segala rangsangan atau aksi dari tubuh manusia baik yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh itu sendiri yang dapat menimbulkan bermacam-macam dampak yang merugikan mulai dari menurunnya kesehatan sampai kepada dideritanya suatu penyakit. Stres merupakan suatu perasaan tertekan saat menghadapi permasalahan. Stres bukan penyakit, tapi bisa menjadi awal timbulnya penyakit mental atau fisik jika terjadi terlalu lama. Stres menimpa setiap orang, masalah yang sama bisa memberikan stres dan beban yang berbeda. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri kepala, penurunan fungsi sistem imun, kelelahan, kelainan jantung, depresi dan gangguan mental emosional yang lain (Carruthers, 2006).

(18)

3

Salah satu upaya manajemen stres adalah dengan melakukan teknik relaksasi. Teknik relaksasi bertujuan agar individu dapat mengontrol diri dari stres yang membuat individu merasa dalam kondisi yang tidak nyaman. Relaksasi psikologis yang mendalam memiliki manfaat bagi kesehatan yang memungkinkan tubuh menyalurkan energi untuk perbaikan dan pemulihan, serta memberikan kelonggaran bagi ketegangan akibat pola-pola kebiasaan (Goldbert, 2007). Autogenic atau Otogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Otogenik merupakan salah satu contoh dari teknik relaksasi berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri. (Widyastuti, 2004). Salah satu teknik relaksasi yang paling sering digunakan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi otot progresif telah banyak melalui penelitian oleh para profesi perawat dan telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah melalui mekanisme reduksi stres dalam beberapa kali perlakuan, baik pada klien dengan rehabilitasi jantung dan pada kasus lainnya (Sheu et al, 2003). Namun, dari beberapa penelitian tersebut menyebutkan responden penelitian mengatakan keberatan untuk melanjutkan sendiri dirumah secara rutin sesuai jadwal yang dianjurkan yaitu sekali sehari dengan alasan tidak ada waktu karena pekerjaan dan ada pula yang mengatakan kesulitan karena tidak mengingat gerakan- gerakannya yang banyak (Yung et al, 2001).

(19)

4

sedangkan pada tahun 2013 sekitar 15,8% dari total penduduk di Provinsi Bali (BPS Provinsi Bali 2013). Kecamatan Kuta Utara merupakan kecamatan yang memiliki jumlah penduduk yang padat. Jumlah penduduk Kuta Utara mencapai sekitar 2,1% dari total penduduk kabupaten Badung. Desa Tibubeneng merupakan desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Kuta Utara dengan luas wilayah 6,50 km yang mencakup 13 banjar didalamnya. Salah satu banjar yang terdapat di desa Tibubeneng adalah banjar Canggu Permai yang merupakan salah satu banjar dengan penduduk lansia yang cukup banyak.

Berdasarkan data yang tercatat di Banjar Canggu Permai, didapatkan 39 orang lansia yang aktif mengikuti kegiatan posyandu lansia. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan terhadap 10 lanjut usia untuk diwawancarai mengenai tingkat stres yang dialami, 70% dikategorikan stres sedang dan 30% dikategorikan stres ringan. Selain itu juga, tidak ada kegiatan posyandu yang dibentuk sebagai penanganan khusus mengurangi gejala stres yang dialami oleh lansia.

Berdasarkan paparan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik terhadap Tingkat Stres pada Lansia di wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian

yaitu “Apakah ada Pengaruh Teknik Relaksasi Otogenik terhadap Tingkat Stres

(20)

5

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otogenik terhadap tingkat stres pada lansia di wilayah Puskesmas Kuta Utara Badung.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat stres pada lansia sebelum diberikan (pretest) dan setelah diberikan (posttest) relaksasi otogenik pada kelompok perlakuan. 1.3.2.2 Mengidentifikasi tingkat stres pada lansia pretest dan posttest pada

kelompok kontrol

1.3.2.3 Menganalisis pengaruh teknik relaksasi otogenik terhadap tingkat stres pada lansia di wilayah Puskesmas Kecamatan Kuta Utara Badung.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1.4.1 Manfaat Teoritis

(21)

6

1.4.2 Manfaat Praktis

(22)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lanjut Usia

2.1.1 Pengertian Lanjut usia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle age) adalah 45 – 59 tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60 –74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun (Nugroho, 2008). Menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4), UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).

Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas baik pria maupun wanita, yang masih aktif beraktivitas dan bekerja ataupun mereka yang tidak berdaya untuk mencari nafkah sendiri sehingga bergantung kepada orang lain untuk menghidupi dirinya. Lansia adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti,mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan ( Darmojo, 2006 ).

(23)

8

8 keterbatasan karena penurunan secara perlahan-lahan dari sistem fungsional tubuh.

2.1.2 Klasifikasi lansia

Lansia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan. Menurut Depkes RI (2003), ada lima klasifikasi pada lansia yang terdiri dari :

a. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun, b. Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih,

c. Lansia resiko tinggi adalah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan,

d. Lansia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.

e. Lansia tidak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

2.1.3 Perubahan akibat proses menua

(24)

9

9 sehingga ada istilah penuaan kronologis dan penuaan biologis

.

Adapun perubahan - perubahan yang terjadi pada lansia yaitu : a. Perubahan bentuk fisik, meliputi :

1) Sistem persarafan

Saraf panca indera mengecil dan menyebabkan fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik dan reflek. 2) Sistem pendengaran

Gangguan pendengaran, membran timpani atrofi sehingga menyebabkan otosklerosis, terjadi penumpukan serumen akibat peningkatan keratin. 3) Sistem penglihatan

Spingter pupil timbul sklerosis dan respon terhadap sinar menghilang, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa mata keruh, meningkatnya ambang penglihatan sinar (adaptasi terhadap kegelapan melambat).

4) Sistem kardiovaskuler

Katup jantung menebal dan menipis (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.

5) Sistem pernapasan

(25)

10

10 6) Sistem genitourinaria

Aliran darah ke ginjal menurun, ginjal mengecil, filtrasi di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuam mengkonsentrasi urin ikut menurun.

7) Sistem integumen

Kulit mengkerut dan keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kepala dan rambut menipis. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih, kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk.

b. Faktor - faktor yang mempengaruhi perubahan mental, meliputi : 1) Pertama- tama perubahan fisik, khususnya organ perasa

2) Kesehatan umum 3) Tingkat pendidikan 4) Keturunan

5) Lingkungan

c. Perubahan psikososial yang dialami lansia seperti : pensiunan, pada masa pensiunan akan mengalami kehilangan-kehilangan antara lain : 1) Kehilangan finansial

(26)

11

11 2) Kehilangan status

yang dulunya punya jabatan dan lengkap dengan fasilitasnya, sekarang sudah hilang karena sudah tidak bekerja lagi.

3) Kehilangan teman atau relasi

semasa masih bekerja mempunyai banyak teman dan relasi, karena faktor usia yang sudah tua, jadi tidak mungkin untuk bekerja sehingga otomatis semuanya hilang.

4) Kehilangan pekerjaan atau kegiatan

faktor usia yang sudah lanjut tidak mungkin lagi bisa bekerja di perusahaan atau tempat lainnya, karena keterbatasan tenaga dan pikiran. 5) Perubahan dalam cara hidup

memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit

6) Perubahan ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (kesusahan ekonomi) akibat meningkatnya biaya hidup

7) Gangguan saraf panca indera, sehingga timbul kebutaan dan ketulian 8) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan sehingga ekonomi menjadi

masalah.

2.2 Stres

2.2.1 Pengertian Stres

(27)

12

12 merespon gangguan psikis ini. Tujuannya agar manusia tetap waspada dan siap untuk menghindari bahaya. Kondisi ini jika berlangsung lama akan menimbulkan perasaan cemas, takut dan tegang (Wijono, 2006).

Menurut Sarafino (2008) mengartikan “stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang”. Stres adalah suatu keadaan yang dihasilkan oleh perubahan lingkungan yang diterima sebagai suatu hal yang mengancam, menantang serta merusak keseimbangan seseorang. Stres adalah perasaan tidak nyaman baik secara psikososial berupa cemas dan depresi yang di alami oleh lansia dengan kategori stres ringan, sedang dan berat (Brunner, 2002).

Berdasarkan dari definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi pada individu yang tidak menyenangkan dimana dari hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya tekanan fisik maupun psikologis pada individu. Kondisi yang dirasakan tidak menyenangkan itu disebabkan karena adanya tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang dipersepsikan oleh individu sebagai sesuatu yang melebih kemampuan

nya atau sumber daya yang dimilikinya.

2.2.2 Faktor predisposisi Stres

(28)

13

13 a. Biologi

Yang dapat mempengaruhi stres pada lansia yang lihat dari: faktor keturunan, status nutrisi, kesehatan.

b. Psikologi

Sedangkan dari psikologi itu sendiri meliputi: kemampuan verbal, pengetahuan moralnya, personal terhadap dirinya sendiri, dorongan / motivasi.

c. Sosial-budaya

Sedangkan menurut sosial- budaya meliputi: faktor- faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, posisi sosial, latar belakang budaya, agama serta pengetahuan.

2.2.3 Tingkat stres

(29)

14

14 2.2.4 Macam - macam stres

Menurut Hanun (2011), menyebutkan ada 4 macam-macam stress menurut psikologi manusia, diantaranya:

a. Stres kepribadiaan

Stres kepribadiaan adalah stres yang dipicu dari dalam diri seseorang yang berhubungan dengan cara pandang terhadap masalah dan kepercayaan atas dirinya.

b. Stres Psikososial

Stres psikososial adalah stres yang dipicu oleh hubungan relasi dengan orang kain di sekitarnya atau akibat situasi sosial lainnya, seperti stress adaptasi dengan lingkungan baru, dan masalah cinta, keluarga, serta stress macet dijalan raya, ataupun diejek orang lain dan sebagainya. c. Stres Bioekologi

Stres bioekologi adalah stres dipicu oleh dua hal, pertama, yaitu ekologi atau lingkungan, seperti polusi dan cuaca, sedangkan kedua adalah akibat kondisi biologis, misalnya akibat datang bulan, demam, asma, jerawatan, penuaan dan sebagainya.

d. Stres Pekerjaan

(30)

15

15 2.2.5 Faktor yang mempengaruhi ketegangan yang mengakibatkan stres

Menurut Kaplan dan Sadock (2007), Faktor- faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi dan ketegangan seseorang yang berakibat munculnya stres adalah :

a. Usia

Stres dapat terjadi pada semua usia. Khususnya pada lansia, lansia akan mengalami perubahan- perubahan fisik yang menurun secara signifikan. Jika lanjut usia tidak dapat menyesuaikan diri dan tidak dapat menerima keadaaan yang ada, lansia dapat dikatakan terkena stres.

b. Kondisi medis (diagnosis penyakit)

Terjadinya stres yang berhubungan dngan kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis.

c. Tingkat pendidikan

Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti yang berbeda-beda. Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan

(31)

16

16 dikarenakan pendidikan menjadikan individu lebih mudah memahami fenomena yang terjadi pada dirinya.

d. Komunikasi terapeutik

Komunikasi sangat dibutuhkan dalam pemberian informasi tentang sesuatu agar orang lain dapat membentuk pendapatnya berdasarkan sesuatu yang diketahuinya. Lansia sangat membutuhkan penjelasan yang optimal. Lansia yang stres akan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan berbahaya untuk kesehatan.

2.2.6 Dampak Stres

Menurut Helmi (2000), stres adalah peristiwa yang menekan sehingga seseorang dalam keadaan tidak berdaya dan biasanya menimbulkan dampak negatif, seperti pusing, mudah marah, sedih, sulit berkonsentrasi,nafsu makan berubah, sulit tidur, merokok terus menerus dan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

2.2.7 Stres pada lansia

(32)

17

17 mengakibatkan kematian. Adapun faktor penyebab yang mempengaruhi kejadian stres pada lansia:

1) Kondisi kesehatan fisik

Kondisi fisik yang sudah menurun membuat lansia memiliki ketergantungan terhadap orang lain, dimana lansia merasa tidak bebas lagi melakukan sesuatu pekerjaan.

2) Kondisi psikologi

Kondisi psikologi yang menurun membuat lansia merasa terhambat dalam berinteraksi dengan orang lain. Sehingga membuat seorang lansia tidak mau untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

3) Lingkungan

Lingkungan yang kurang harmonis dapat meningkatnya stres pada lansia, dikarenakan lingkungan yang kurang baik.

4) Keluarga

Keluarga lebih dominan untuk meningkatnya stres pada lansia, dimana dukungan serta motivasi sangat dibutuhkan lansia.

5) Pekerjaan

(33)

18

18 2.2.8 Penatalaksanaan Stres

Strategi menghadapi stres antara lain dengan mempersiapkan diri menghadapi stesor dengan cara melakukan perbaikan diri secara pisikis atau mental, fisik dan sosial. Perbaikan secara psikis atau mental yaitu dengan pengenalan diri lebih lanjut, penetapan tujuan hidup yang lebih jelas, pengaturan waktu yang baik. Perbaikan diri secara fisik dengan menjaga tubuh tetap sehat yaitu dengan memenuhi asupan gizi yang baik, olahraga teratur, istirahat yang cukup. Perbaikan diri secara sosial dengan melibatkan diri dalam suatu kegiatan, acara, organisasi dan kelompok sosial. Mengelola stres merupakan usaha untuk mengurangi atau meniadakan dampak negatif stresor (Sunaryo, 2004).

Menurut Chomaria (2009),dalam mengelola stres dapat dilakukan beberapa pendekatan antara lain:

a. Pendekatan farmakologi; menggunakan obat – obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter disusun saraf pusat otak (sistem limbik). Sebagaimana diketahui sistem limbik merupakan bagian otak yang mengatur alam pikiran, alam perasaan dan perilaku seseorang. Obat yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic) dan anti depresi (anti depressant).

(34)

19

19 c. Pendekatan kognitif; mengubah pola pikir individu berpikir positif dan sikap positif, membekali diri dengan pengetahuan tentang stres, menyimbangkan aktivitas otak kiri dan otak kanan. Menurut Potter & Perry (2002), relaksasi adalah terapi perilaku kognitif pada intervensi non farmakologis yang dapat mengubah persepsi klien. Salah satunya adalah relaksasi otogenik berupa hipnoterapi yang menggunakan pendekatan kognitif dalam penatalaksanaanya.

2.3 Relaksasi

2.3.1 Pengertian Relaksasi

Relaksasi adalah salah satu teknik didalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. (Snyder & Lindquist, 2002).

(35)

20

20 Relaksasi adalah keheningan total. Relaksasi merupakan kemampuan untuk melampaui pikiran, waktu, ruang, dengan mencapai sebuah momen kedamaian dan ketenangan batin tepatnya untuk mencapai suatu momen antara dua pikiran. Relaksasi hanya bisa terjadi ketika tubuh dan pikiran hening (Soraya, 2007).

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi adalah salah satu bentuk terapi yang berupa pemberian instruksi kepada seseorang dalam bentuk gerakan-gerakan yang tersusun secara sistematis untuk merilekskan otot-otot dan mengembalikan kondisi dari keadaan tegang ke keadaan rileks, normal dan terkontrol. Dengan kendornya otot-otot tubuh, yang tegang menjadi rileks, maka akan tercipta suasana perasaan yang tenang dan nyaman. Perasaan yang tenang dan nyaman akan menopang lahirnya pola pikir dan tingkah laku yang positif, normal dan terkontrol pula.

2.3.2 Jenis - jenis teknik relaksasi

Teknik relaksasi dewasa ini makin berkembang. Jenis-jenis teknik relaksasi ada diantaranya relaksasi napas dalam, relaksasi otogenik, cognitive imagery, mental imagery, stretch release relaxation, pernafasan diafragma,relaksasi

(36)

21

21 Teknik relaksasi dengan gerakan dan instruksi yang lebih sederhana dengan waktu yang efisien daripada teknik relaksasi lainnya adalah teknik relaksasi otogenik dimana hanya memerlukan waktu 15-20 menit yang biasanya nyaman dilakukan pada pagi atau sore hari. Relaksasi otogenik merupakan salah satu relaksasi yang dapat mengalihkan respon tubuh kita secara sadar berdasarkan perintah dari diri-sendiri,maka dapat membantu melawan efek akibat stres yang berbahaya. Relaksasi ini akan memberikan hasil setelah dilakukan sebanyak tiga kali (Greenberg, 2002).

2.4 Relaksasi Otogenik

2.4.1 Pengertian Relaksasi Otogenik

(37)

22

22 tubuh yang spesifik dianggap berjalan secara terpisah dari pikiran yang tertuju pada diri sendiri. Akan tetapi riset yang di lakukan selama lebih dari dua dekade belakangan ini membuktikan hal yang berbeda. Dengan mengalihkan respon tubuh secara sadar berdasarkan perintah kita sendiri kita dapat membantu melawan efek akibat stres yang berbahaya (Saunders, 2002). Ide dasar dari relaksasi autogenik ini adalah untuk mempelajari cara mengalihkan pemikiran berdasarkan anjuran sehingga dapat menyingkirkan respon stres yang menggangu pikiran. Tujuan relaksasi autogenik ini adalah untuk memberikan perasaan nyaman, mengurangi stres, memberikan ketenangan dan mengurangi ketegangan (National Safety Council, 2004).

2.4.2 Kontraindikasi

Relaksasi Otogenik tidak dianjurkan untuk anak dibawah 5 tahun, individu yang kurang motivasi atau individu yang memiliki masalah mental dan emosional berat. Jika merasa cemas atau gelisah selama atau sesudah latihan, atau mengalami efek samping tidak bisa diam,maka latihan harus dihentikan (Saunders, 2002).

2.4.3 Langkah-langkah Relaksasi Otogenik

(38)

23

23 2.4.3.1 Posisi tubuh

Menurut Greenberg (2002) dalam bukunya Stress Management, ada tiga posisi dasar untuk melakukan latihan relaksasi otogenik sama yang dikemukakan oleh Davis,et al,(1995) yaitu posisi berbaring dan dua macam posisi duduk. Pada posisi duduk memiliki dua keuntungan yaitu dapat dilakukan dimana saja dan meminimalkan respon mengantuk. Namun,dalam posisi duduk otot tidak serileks posisi berbaring. Pada posisi duduk pertama, kursi yang mendukung posisi rileks adalah kursi yang dapat menopang torso dan lengan serta kepala. Dalam posisi duduk, kepala disandarkan pada punggung kursi. Posisi duduk yang kedua adalah dengan menggunakan kursi tanpa topangan torso, kepala dan lengan dengan posisi duduk dengan tubuh condong kedepan dan lengan menopang pada paha,tangan, dan jari-jari,posisi kepala menggantung dan dagu mengarah ke dada (Greenberg, 2002). Selain itu sebelum melakukan terapi ini dianjukan untuk menghindari makan terlalu kenyang sebab makanan dalam lambung akan membuat teknik ini kurang efektif (National Safety Council, 2004).

2.4.3.2 Konsentrasi dan kewaspadaan

(39)

24

24 Dengan latihan yang teratur, maka akan semakin menguasai keterampilan berkonsentrasi pada latihan relaksasi ini. Hal yang mempengaruhi kesuksesan latihan adalah kerja sama, motivasi tinggi, self direction, self control dapat menjaga posisi tubuh yang kondusif untuk latihan, dapat

meminimalkan stimuli eksternal dan dapat memfokuskan mental pada proses serta konsentrasi pada sensasi tubuh (National Safety Council, 2004).

2.4.3.3 Fase dalam latihan otogenik

Menurut Greenberg (2002), fase latihan otogenik ini ada enam dengan prinsip yang sama dengan yang dituliskan National Safety Council (2004), yaitu :

a) Fase 1 fokus pada sensasi berat melalui tangan dan kaki dimulai dari tangan dan kaki yang dominan dengan kata kata instruksi untuk masing-masing ekstremitas cukup 1 kali.

b) Fase 2 fokus pada sensasi hangat tangan dan kaki dimulai dari tangan dan kaki yang dominan dengan kata-kata instruksi untuk masing-masing ekstresmitas cukup 1 kali.

c) Fase 3 fokus pada sensasi hangat dan berat area jantung dengan kata-kata instruksi diulang 4 hingga 5 kali.

d) Fase 4 fokus pada pernapasan dengan kata-kata instruksi diulang 4 hingga 5 kali.

(40)

25

25 f) Fase 6 fokus pada sensasi dingin kepala dengan kata-kata instruksi

diulang 5 hingga 5 kali.

2.4.3.4 Evaluasi Relaksasi Otogenik

Menurut National Safety Council (2004), evaluasi hasil latihan dapat diobsevasi dari 2 hal yaitu :

a) Respon verbal

Latihan relaksasi otogenik ini harus dilakukan secara terus menerus, minimal 15 menit dalam sehari sampai didapatkan perasaan rileks, sehingga secara verbal dapat didengarkan perkataan pada fase terakhir yaitu “keseluruhan tubuhku tenang dan rileks”.

b) Respon non verbal

Respon non verbal dapat di amati melalui menghitung frekuensi napas, jantung, dan mengukur tekanan darah segera setelah selesai melakukan. Bila berhasil dan terampil dalam melakukan teknik ini, maka napas akan tenang, jantung tenang,dan tekanan darah dalam batas fisiologis.

2.5 Pengaruh relaksasi otogenik terhadap stres

(41)

26

26 hormon kebahagiaan yang menciptakan perasaan sejahtera dan mengeluarkan senyawa-senyawa baik seperti endorfin yang dapat meningkatkan energi, mood dan dapat mengendalikan fungsi tubuh (Shigeo, 2011).

Referensi

Dokumen terkait

Pada hari selasa tanggal 9 Januari 2018, pengukuran awal (pre-test) dilakukan dengan kegiatan tanya jawab tentang macam alat dan bahan yang akan digunakan untuk melipat

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model guided inquiry learning terhadap hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol yang menggunakan

Melalui pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri, serta limbah home industry , diharapkan dapat menjadi alternatif bahan pakan penyusun complete feed dengan

Pertama-tama, orang harus mengeluarkan uang yang banyak, termasuk pajak yang tinggi, untuk membeli mobil, memiliki surat ijin, membayar bensin, oli dan biaya perawatan pun

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui faktor internal (fashion involvement dan

Maksud dari pendidikan adalah bukan saja membentuk dan menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki kemampuan (skill) serta kompetensi yang tinggi, tetapi juga

Artinya semakin tinggi tingkat kohesivitas, maka semakin tinggi pula tingkat konformitas dalam mengunjungi warung kopi pada komunitas Scorpio Aceh, dan begitu

Pengembang- an diri siswa sesuai model ADI 88 Baik Sekali Rata-rata 91 Baik Sekali Selain dilakukan uji keterbacaan buku penuntun praktikum oleh siswa, dilakukan juga