52 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 2 Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012. Subjek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Di lihat geografisnya SD ini terletak daerah kota kabupaten Cepu, jarak tempuh ke SD Negeri 2 Kapuan Cepu dari pusat kota kurang lebih 10 km. SD Negeri 2 Kapuan terletak masih di dearah Kabupaten Blora. Suasana SD Negeri 2 Kapuan bising karena disebelah timur gedung sekolah terdapat pasar.
Jumlah murid SD Negeri 2 kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora mulai dari kelas I sampai kelas VI adalah sebanyak 184 siswa dengan karakteristik setiap anak yang berbeda-beda. Siswa di SD Negeri 2 Kapuan ini mayoritas beragama Islam. Jumlah tenaga pendidik di SD ini terdiri dari 1 Kepala sekolah, 6 guru kelas dan 1 guru olahraga, 1 guru kesenian, 1 guru agama Islam, dan 1 penjaga sekolah.
Sarana pembelajaran SD Negeri 2 Kapuan yang terdiri dari 10 ruang terbagi menjadi 6 ruang kelas, 1 ruang guru, 1 ruang karawitan, 1 ruang komputer dan 1 ruang perpustakaan. Setiap ruang memiliki keadaan yang cukup baik, terdapat ventilasi yang memadai, penerangan yang cukup baik. Di setiap ruang kelas terdapat almari yang digunakan untuk menaruh buku paket pembelajaran. SD Negeri 2 Kapuan menyediakan dua wc, satu untuk guru dan satu untuk siswa, selain itu juga terdapat mushola yah berada di sebelah utara perpustakaan. Halaman SD Negeri 2 Kapuan cukup luas yang biasanya digunakan untuk upacara dan kegiatan sekolah lainnya.
Buku paket dan LKS menjadi satu-satunya sumber belajar selain guru, karena fasilitas perpustakaan belum dipergunakan secara maksimal. Media pembelajaran seperti alat peraga sudah dimiliki SD negeri 2 Kapuan, namun
belum dipergunakan secara maksimal. Jam efektif sekolah di mulai pukul 07.00-12.30, kecuali hari jumat dan sabtu pembelajaran di akhiri pukul 11.00.
Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa mayoritas berprofesi sebagai buruh tani dengan tingkat pendidikan masih rendah dari lulusan SD sampai SMA.
4.2 Pelaksanaan Try Out Penerapan Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik Learning Community
Sebelum dilakukan tindakan penelitian, terlebih dahulu dilakukan tindakan try out. Try out adalah uji coba mengajar dengan metode yang akan diteliti, sehingga kita sebagai peneliti nanti bisa mengetahui kesiapan guru dalam menggunakan metode yang akan kita teliti. Di dalam try out guru mengajar dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community. Tujuan utama melakukan try out adalah untuk mengetahui kesiapan guru dalam menggunakan teknik learning community di kelas. Selain ada guru, peneliti juga mengajak pengamat atau observer untuk ikut dalam try out, sehingga bukan hanya guru yang di lihat kesiapannya tetapi juga pengamat.
Try out penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 31 maret 2012 di SD Negeri 2 Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora. Guru menerapkan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dalam proses belajar mengajar.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community guru membagi kelas menjadi kelompok kecil yang heterogen.
Setelah itu kelompok melakukan diskusi dengan anggota masing-masing.
Gugu bertugas membimbing jalannya diskusi.
Kendala yang terjadi saat pelaksanaan try out adalah siswa belum terbiasa diskusi kelompok dan sharing pendapat dengan teman kelompoknya.
Tetapi secara keseluruhan kegiatan belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community berjalan dengan lancar. Hasil yang diperoleh setelah peneliti melakukan try out adalah guru
dan pengamat siap untuk melakukan pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community.
4.3 Hasil Penelitian
4.3.1 Kondisi Sebelum Tindakan
Kondisi awal merupakan keadaan siswa sebelum penelitian tindakankelas dilakukan. Berdasarkan kegiatan hasil observasi hasil belajar mata pelajaran PKn di kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu sebelum dilaksanakan penelitian pada semester II Tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan nilai hasil belajar siswa rendah, siswa pasif saat mengikuti pembelajaran dikarenakan guru hanya menggunakan metode konvensional (ceramah) serta tidak adanya alat peraga maupun metode menarik saat guru menjelaskan materi pembelajaran.
Pada ulangan semester II dengan Standar Kompetensi memahami kebebasan berorganisasi, terdapat beberapa siswa mendapatkan nilai rendah di bawah KKM yang ditentukan oleh sekolah untuk mata pelajaran PKn kelas V adalah 65. Selain itu juga terdapat beberapa siswa yang nilainya tuntas tetapi terlalu dekat dengan nilai KKM sehingga rata-rata kelas menjadi rendah. Adapun hasil ulangan harian sebelum dilakukan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Hasil Belajar PKn Sebelum Tindakan Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
No Nilai Frekuensi Prosentase
1 55-64 15 53%
2 65-74 6 19%
3 ≥ 75 7 28%
Jumlah 28 100%
Rata-rata 56,75
Maksimal 95
Minimal 55
N 28
Berdasarkan tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa distribusi hasil belajar sebelum tindakan di SD Negeri 2 Kapuan sebanyak 7 siswa mendapatkan nilai lebih dari 75 dengan prosentase 28%, diikuti oleh 6 siswa
yang mendapatkan nilai antara 65sampai 74 dengan prosentase 19% dan nilai 55 sampai 64 sejumlah 15 siswa dengan prosentase 53%. Selain itu pada tabel 4.1 distribusi hasil belajar pra siklus bahwa rata-rata nilai pra siklus adalah sebesar 56,75. Nilai maksimalnya sebesar 95 dan nilai minimalnya sebesar 55.
Hasil analisis deskriptif ini juga memberikan makna bahwa masih terdapat siswa yang masih perlu mendapatkan perhatian dalam peningkatan hasil belajar terutama siswa yang berada pada nilai 55-64 atau siswa dengan nilai dibawah KKM atau belum tuntas.
Untuk lebih jelasnya data nilai pada tabel 4.1 dapat dibuat diagram seperti tampak pada gambar 4.1
Gambar 4.1 Hasil Belajar PKn Sebelum Tindakan Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Berdasarkan gambar 4.1 di atas tentang diagram hasil belajar pra siklus menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mendapatkan nilai 76 ke atas sebanyak 7 siswa dengan prosentase 28%. Siswa dengan nilai 66 sampai 75 sebanyak 6 siswa dengan prosentase 19%. Siswa dengan nilai 56 sampai 65 sebanyak 15 siswa dengan prosentase 53%.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, rendahnya minat dan hasil belajar yang didapat siswa dipengaruhi oleh beberapa hal, metode ceramah adalah salah satu metode yang kurang maksimal untuk pembelajaran PKn. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya minatbelajar siswa saat mengikuti pembelajaran PKn. Peneliti memberoleh data berupa nilai ulangan harian siswa pada mata pelajaran Pkn kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu tahun pelajaran 2011/2012
28% 19%
53%
0%
50%
100%
≥75 65-74 55-64
Hasil Belajar Pra siklus
Hasil Belajar Pra siklus
pada Standar Kompetensi memahami kebebasan berorganisas, dengan rata- rata yang belum mencapai KKM yaitu 65. Oleh Karena itu, dalam penelitian di SD Negeri 2 Kapuan Cepu peneliti menerapkan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community guna meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran PKn yang akan dilakukan dalam dua siklus.
4.3.2 Pelaksanaan Pembelajaran siklus I
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada kompetensi mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama. Dalam siklus ini dilaksanakan 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:
4.3.2.1 Perencanaan tindakan
Pada tanggal 4 Februari 2012 peneliti melakukan observasi awal.
Dalam kegiatan observasi peneliti juga mengadakan wawancara pada guru kelas V SD Negeri 2 Kapuan yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik siswa, pelaksanaan proses pembelajaran, minat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran, hasil belajar siswa serta memahami keadaan lingkungan SD Negeri 2 Kapuan Cepu. Setelah dilakukan observasi awal peneliti melakukan diskusi dengan guru kelas V mengenai materi pembelajaran yang akan digunakan untuk penelitian serta alat penunjang lain yang perlu digunakan untuk penelitian.
Rencana pelaksanaan penelitian dan persiapan instrumen yang dibutuhkan dalam penelitian disusun setelah peneliti memahami kondisi SD Negeri 2 Kapuan. Peneliti menyusun instrumen berupa soal evaluasi yang akan di ujikan terlebih dahulu. Uji validitas dan reliabelitasnya dilaksanakan di SD Negeri 1 Kapuan Cepu pada tanggal 30 Maret 2012.
Dari 30 butir soal evaluasi, terdapat 21 butir soal yang memenuhi persyaratan penelitian dan 9 soal tidak memenuhi persyaratan penelitian.
Dari 21 soal tersebut sudah tersebar semua indikator pada instrumen soal ini yang selanjutnya akan digunakan untuk melakukan evaluasi dan mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Penyusunan rencana pembelajaran dilakukan setelah diperoleh instrument yang dapat digunakan dalam penelitian. Rencana pembelajaran meliputi tahap pertama yaitu menyusun RPP siklus pertama yang terdiri dari 3 pertemuan. Pertemuan 1 menyampaikan materi, pertemuan 2 melanjutakn materi dan penerapkan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dan pertemuan 3 pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Tahap kedua yaitu menyusun angket minat belajar siswa berdasarkan indikator minat belajar siswa. Tahap ketiga menyusun lembar observasi penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community berdasarkan langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan teknik learning community. Tahap keempat menyusun lembar diskusi siswa, materi pembelajaran dan soal evaluasi akhir berdasarkan indikator dan tujuan pembelajaran.
4.3.2.2 Pelaksanaan siklus 1
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
1. Pertemuan pertama (2x35 menit)
Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 27 Maret 2012 pada mata pelajaran PKn kompetensi dasar mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama. Pada pertemuan pertama terdapat dua indikator pembelajaran yang disampaikan yaitu menjelaskan pengertian musyawarah dan menjelaskan azas dalam musyawarah dengan langkah- langkah pembelajaran sebagai berikut
a. Kegiatan awal
Pada kegiatan awal guru memberikan apersepsi dengan bertanya pada anak siapa yang sudah pernah melakukan musyawarah? Coba sebutkan musyawarah dalam hal apa?. Kemudian guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran dan mendorong siswa untuk aktif belajar dengan guru melibatkan siswa
mencari informasi tentang materi pembelajaran. Agar terjadi interaksi guru guru dengan siswa, guru melakukan tanya jawab pada siswa berkaitan dengan materi. Guru menjelaskan materi tentang pengertian musyawarah dan azas dalam musyawarah. Kemudian guru menunjukkan gambar musyawarah. Siswa diminta untuk berkelompok mengidentifikasi nilai dasar yang harus diperhatikan dalam musyawarah dan mencari contoh kegiatan musyawarah.
Setelah siswa berdiskusi siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Guru memberikan umpan balik kepada siswa dengan memberikan pertanyaan kepada setiap kelompok tentang pengertian musyawarah dan nilai dasar yang harus diperhatikan dalam musyawarah. Guru memberikan pujian kepada kelompok terbaik untuk meningkatkan minat belajar siswa.
c. Kegiatan penutup
Mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar tentang pengertian musyawarah dan azas musyawarah dengan kehidupan sehari-hari. Setelah itu siswa dengan bimbingan guru membuat ringkasan menyangkut materi yang sudah dipelajari.
2. Pertemuan kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2012.
Pembelajaran berlangsung selama 2 x 35 menit. Pertemuan kedua membahas materi dengan indikator menjelaskan bentuk keputusan bersama dan menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan bersama dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut
a. Kegiatan awal
Pada kegiatan awal guru mengadakan apersepsi dengan memberikan pertanyaan yang bersangkutan dengan materi bentuk keputusan bersama. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran dan mendorong siswa untuk aktif belajar dengan guru melibatkan siswa mencari informasi tentang materi pembelajaran. Agar terjadi interaksi guru guru dengan siswa, guru melakukan tanya jawab pada siswa berkaitan dengan materi. Guru menjelaskan materi tentang bentuk-bentuk keputusan bersama dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan bersama. Siswa mengidentifikasi contoh bentuk keputusan bersama dalam kehidupan sehari-hari dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan bersama. Guru memberikan contoh bentuk keputusan bersama yang ada dalam kehidupan nyata. Guru membagi siswa dalam lima kelompok dan memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk mencari contoh bentuk pengambilan keputusan yang ada pada lingkungan sekitar. Setelah siswa berdiskusi siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Guru memberikan umpan balik kepada siswa dengan memberikan pertanyaan kepada setiap kelompok tentang bentuk keputusan bersama yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan hal- hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan bersama.
Guru memberikan pujian kepada kelompok terbaik untuk meningkatkan minat belajar siswa.
c. Kegiatan akhir
Mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar tentang bentuk-bentuk keputusan bersam yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Setelah itu siswa dengan bimbingan guru membuat ringkasan menyangkut materi yang sudah dipelajari.
3. Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus 1 yang dilaksanakan pada tanggal l2 April 2012. Kegiatan pada pertemuan ketiga adalah melaksanakan evaluasi dari pembelajaran yang
sudah dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus 1 dan penyebaran angket minat belajar siswa. Evaluasi yang akan diberikan berupa tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda dan jumlah soal 20. Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ketiga yaitu guru menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Sebelum guru membagikan soal evaluasi, guru bersama dengan siswa terlebih dahulu merapikan tempat duduk supaya siswa tidak terlalu dekat duduknya.
Guru menjelaskan pada siswa tentang peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, guru bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa. Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan guru pada saat melakukan pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada pertemuan berikutnya.
4.3.2.3 Paparan Hasil Tindakan siklus 1
a. Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik Learning Communiry
Deskripsi Penerapan kembelajaran kontekstual dengan teknik learning community didapat dari hasil observasi. Observasi dilakukan untuk memantau langkah-langkah pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community di SD Negeri 2 Kapuan Cepu. Observasi ini dilaksanakan 2 kali, yaitu pada pembelajaran dipertemuan ke-1 dan ke-2.
Kegiatan observasi dilakukan dengan cara mengisi lembar observasi penerapan kembelajaran kontekstual dengan teknil learning community dengan membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pernyataan Ya atau Tidak. Hasil implementasi penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Implementasi Penerapan Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik Learning Community Pada Mata Pelajaran PKn kelas V Di SD
Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun 2011/2012 Pada Siklus I
No Langkah-langkah Siklus I
Aktivitas Guru yang diamati
1 Menyampaikan materi √ √
2 Apersepsi sesuai materi √ √
3 Memotivasi siswa x √
4 Menyampaikan tujuan pembelajaran √ √
5 Membagi siswa menjadi kelompok yang homogen √ √ 6 Membagi tugas yang harus di diskusikan siswa √ √
7 Menyampaikan petunjuk pelaksanaan diskusi √ √
8 Membimbing dan mengarahkan siswa dalam setiap diskusi √ √ 9 Meminta perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi √ √ 10 Membimbing siswa membuat kesimpulan hasil diskusi x √ 11 Melakukan tanya jawab tentang hal-hal yang belum dimengerti siswa √ √
Aktivitas siswa yang diamati
1 Mencatat penjelasn guru √ √
2 Mempunyai gairah dalam mengikuti proses pembelajaran. √ √ 3 Siswa dengan serius memperhatikan penjelasan guru. √ √ 4 Mendengarkan dan bergabung dengan kelompok √ √
5 Aktif bertanya dan membuat catatan. √ √
6 Berdiskusi dan bekerja sama dengan anggota kelompok √ √ 7 Siswa saling membantu dalam diskusi kelompok. √ √
8 Merasa leluasa dalam belajar. √ √
9 Menyajikan dan mendengarkan hasil diskus. √ √
10 Menunjukkan minat belajarnya dengan ikut aktif dalam diskusi x √
11 Tidak canggung untuk bertanya kepada guru. x √
12 Merasa lebih mudah menerima pelajaran PKn √ √
13 Tidak malu untuk menyampaikan pendapatnya x √
14 Membuat kesimpulan dari hasil diskusi √ √
15 Antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang guru berikan. x √
Keterangan:
v: dilakukan pada tiap pertemuan x: tidak dilakukan pada tiap pertemuan b. Analisis data hasil tes formatif siklus I
Pembelajaran PKn pada siklus I dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif yang dikerjakan siswa pada akhir pembelajaran siklus I. Deskripsi hasil belajar tes formatif 1 pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut
Tabel 4.3 Diskripsi Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012 Pada Siklus I
Jumlah Siswa
Nilai Terendah
Nilai
Tertinggi Rata-rata
25 60 100 79,6
Hasil belajar siswa pada Tes formatif siklus I dapat diketahui dari tabel 4.3 bahwa nilai terendah siswa adalah 65 dan nilai tertinggi siswa adalah 100. Rata-rata nilai siswa kelas V adalah 79,6. Rata-rata nilai siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan rata-rata nilai sebelum dilakukan tindakan (tabel 4.1). peningkatan nilai rata-rata siswa kelas V sebanyak 22,85 dari 56,75 menjadi 79,6.
Untuk lebih jelasnya dapat dijabarkan pada tabel distribusi hasil belajar tes formatif siswa pada siklus 1 yang dapat dilihat pada tabel 4.4 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus I
No Nilai
Siklus I Keterangan
Jumlah siswa Prosentase Tuntas Tidak Tuntas
1 <65 5 20% √ -
2 65 - 70 1 4% √ -
3 71 - 76 2 8% √ -
4 77 - 82 6 24% √ -
5 83 - 88 4 16% √ -
6 89 - 94 3 12% √ -
7 95 - 100 4 16% - √
Jumlah 25 100
Nilai rata-rata 79,6 Nilai Terendah 60 Nilai Tertinggi 100
Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora. Untuk nilai < 65 sebanyak 5 siswa dengan prosentase 20%, nilai 65 sampai 70 sebanyak 1 siswa dengan prosentase 4%, nilai 71 sampai 76 sebanyak 2 siswa dengan
prosentase 8%, nilai 77 sampai 82 sebanyak 6 siswa dengan prosentase 24%, nilai 83 sampai 88 sebanyak 4 siswa dengan prosentase 16%, nilai 89 sampai 94 sebanyak 3 siswa dengan prosentase 12%, dan nilai 95 sampai 100 sebanyak 4 siswa dengan prosentase 16%. Jadi dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community pada siklus 1 dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa. Berdasarkan distribusi hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, dapat dituangkan dalam bentuk diagram yang dapat dilihat pada gambar 4.2 sebagai berikut:
Gambar 4.2 Analisis Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus I
Berikut disajikan dalam tabel prosentase ketuntasan belajar pada siklus 1. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai berikut:
Tabel 4.5 Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus 1
No Nilai
Sesudah Tindakan Keterangan Jumlah siswa Prosentase (%)
1 <65 5 20% Belum Tuntas
2 ≥65 20 80% Tuntas
Jumlah 25 100%
5
1 2
6
4 3 4
0 2 4 6 8
<65 65-70 71-76 77-82 83-88 89-94 95-100
c. Analisis Angket Minat Siklus I
Penilaian terhadap minat siswa menggunakan skala Likert dengan rentang 4 – 1, skor 4 (sangat setuju), skor 3 (setuju), skor 2 (tidak setuju), dam skor 1 (sangat tidak setuju). Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pernyataan. Rentangan yang dipakai 1 sampai 4, maka diperoleh skor terendah adalah 15 (1x15) dan skor tertinggi adalah 60 (4x15). Sebagai dasar pengelompokan digunakan rumus sebagai berikut:
kategori banyaknya
terendah skor
tertinggi I skor
_ _ _
Maka akan diperoleh kategori interval pada tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6 Kategori Interval Skala Likert Angket Minat Belajar Mata Pelajaran PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu
Pada Siklus I
Interval Kategori frekuensi 15 - 26,24 Tidak berminat 0 26,25-37,49 Kurang berminat 3
37,5-48,74 Berminat 0
48,75-60 Sangat berminat 22
Jumlah 25
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa minat belajar siswa pada siklus 1 dikategorikan sangat berminat sebanyak 22 siswa dan sebanyak 3 siswa kurang berminat dalam mengikuti pembelajaran PKn.
4.3.2.4 Refleksi
Berdasarkan pembelajaran yang dilaksanakan dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community hasil belajar siswa pada siklus telah mengalami peningkatan. Tetapi masih ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Siswa yang mencapai nilai
tuntas menjadi 20 siswa, yang sebelumnya 13 siswa. Selain itu minat belajar siswa pada siklus 1 menjadi meningkat. Refleksi ini digunakan sebagai bahan perbaikan dengan membandingkan apakah hasil tindakan proses pada siklus pertama sudah sesuai dengan indikator kinerja.
4.3.3 Pelaksanaan pembelajaran siklus II
Pelaksanaan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada kompetensi dasar mematuhi keputusan bersama. Dalam siklus ini dilaksanakan 3 kali pertemuan dengan rincian sebagai berikut:
4.3.3.1 Perencanaan tindakan
Pada rencana tindakan siklus II peneliti tetap menerapkan teknik learning community pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Siklus II diadakan selama tiga kali pertemuan. Dengan model pembelajaran ini diharapkan dapat lebih meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dari siklus I. Sebelum siklus II dilaksanakan peneliti melakukan beberapa tahap persiapaan membuat rencana pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran kontekstual teknik learning community, menyiapkan alat peraga, membuat instrumen penelitian yaitu angket minat belajar dan hasil belajar siswa pada akhir siklus. Selain itu menyiapkan sumber dan media pembelajaran berupa LKS.
4.3.3.2 Pelaksanaan siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
1. Pertemuan pertama (2x35 menit)
Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 16 April 2012 pada mata pelajaran PKn kompetensi dasar mematuhi Keputusan Bersama. Pada pertemuan pertama terdapat dua indikator pembelajaran yang disampaikan yaitu menjelaskan cara mematuhi keputusan bersama dan menjelaskan cara melaksanakan keputusan bersama dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Kegiatan awal
Pada kegiatan awal guru memberikan apersepsi dengan bertanya pada anak siapa yang masih ingat tentang materi bentuk-bentuk keputusan bersama?. Kemudian guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi pembelajaran dan mendorong siswa untuk aktif belajar dengan guru melibatkan siswa mencari informasi tentang materi pembelajaran. Agar terjadi interaksi guru guru dengan siswa, guru melakukan tanya jawab pada siswa berkaitan dengan materi. Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari.
Kemudian guru menceritakan contoh kasus tentang cara menerima hasil keputusan bersama. Guru membagi siswa kedalam kelompok. Siswa diminta untuk berkelompok mendiskusikan tentang cara menerima hasil keputusan bersama dan cara melaksanakannya dalam kehidupan sehari- hari. Setelah siswa berdiskusi siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Guru memberikan pujian kepada kelompok terbaik untuk meningkatkan minat belajar siswa.
Siswa membuat kesimpulan dari pengetahuan yang didapatnya dari diskusi kelompok
c. Kegiatan penutup
Guru mengadakan tanya jawab tentang hal-hal yang belum dipahami siswa. Guru bersama siswa meluruskan kesalahan pemahaman yang terjadi saat diskusi berlangsung.
2. Pertemuan kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 23 April 2012. Pembelajaran berlangsung selama 2 x 35 menit. Pertemuan kedua membahas materi dengan indikator memberi contoh pelaksanaan keputusan bersama dan menjelaskan manfaat mematuhi keputusan bersama dengan langkah- langkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Kegiatan awal
Pada kegiatan awal guru mengadakan apersepsi dengan memberikan pertanyaan tentang pengalaman menerima peraturan yang ditetapkan oleh orang tua. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan inti
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari . Guru menunjukkan gambar musyawarah. Guru membagi siswa kedalam kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mendiskusikan tentang manfaatmelaksanakan hasil keputusan bersama dan mencari contoh pelaksanaan hasil keputusan bersama dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Setelah siswa berdiskusi siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya didepan kelas. Setelah itu siswa membuat kesimpulan dari pengetahuan yang didapatnya dari diskusi kelompok.
c. Kegiatan akhir
Guru mengadakan tanya jawab tentang hal-hal yang belum dipahami siswa. Guru bersama siswa meluruskan kesalahan pemahaman yang terjadi saat diskusi berlangsung.
3. Pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus 1 yang dilaksanakan pada tanggal 30 April 2012. Kegiatan pada pertemuan ketiga adalah melaksanakan evaluasi dari pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua pada siklus 2 dan penyebaran angket minat belajar siswa. Evaluasi yang akan diberikan berupa tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda dan jumlah soal 15. Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ketiga yaitu guru menyampaikan kepada siswa tentang kesiapan dalam mengikuti evaluasi pembelajaran.
Sebelum guru membagikan soal evaluasi, guru bersama dengan siswa terlebih dahulu merapikan tempat duduk supaya siswa tidak terlalu dekat duduknya. Guru menjelaskan pada siswa tentang peraturan dalam
mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagikan soal evaluasi pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal evaluasi, guru bersama siswa mencocokkan hasil kerja siswa dan langsung mengumumkan hasil nilai tes kepada siswa.
4.3.3.3 Observasi
Dalam penelitian ini pengamatan dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan yang mengacu pada kegiatan guru pada saat melakukan pembelajaran.
4.3.3.4 Paparan Hasil Tindakan siklus II
a. Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik Learning Communiry
Deskripsi Penerapan kembelajaran kontekstual dengan teknik learning community didapat dari hasil observasi. Observasi dilakukan untuk memantau langkah-langkah pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community di SD Negeri 2 Kapuan Cepu. Observasi ini dilaksanakan 2 kali, yaitu pada pembelajaran dipertemuan ke-1 dan ke-2.
Kegiatan observasi dilakukan dengan cara mengisi lembar observasi penerapan kembelajaran kontekstual dengan teknil learning community dengan membubuhkan tanda cek (√) pada kolom pernyataan Ya atau Tidak.
Hasil implementasi penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Implementasi Penerapan Pembelajaran Kontekstual Dengan Teknik Learning Community Pada Mata Pelajaran PKn kelas V Di SD
Negeri 2 Kapuan Cepu Tahun 2011/2012 Pada Siklus II
No Langkah-langkah Siklus I
Aktivitas Guru yang diamati
1 Menyampaikan materi √ √
2 Apersepsi sesuai materi √ √
3 Memotivasi siswa x √
4 Menyampaikan tujuan pembelajaran √ √
5 Membagi siswa menjadi kelompok yang homogen √ √ 6 Membagi tugas yang harus di diskusikan siswa √ √ 7 Menyampaikan petunjuk pelaksanaan diskusi √ √ 8 Membimbing dan mengarahkan siswa dalam setiap diskusi √ √ 9 Meminta perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi √ √ 10 Membimbing siswa membuat kesimpulan hasil diskusi √ √ 11 Melakukan tanya jawab tentang hal-hal yang belum
dimengerti siswa
√ √
Aktivitas siswa yang diamati
1 Mencatat penjelasn guru √ √
2 Mempunyai gairah dalam mengikuti proses pembelajaran. √ √ 3 Siswa dengan serius memperhatikan penjelasan guru. √ √ 4 Mendengarkan dan bergabung dengan kelompok √ √
5 Aktif bertanya dan membuat catatan. √ √
6 Berdiskusi dan bekerja sama dengan anggota kelompok √ √ 7 Siswa saling membantu dalam diskusi kelompok. √ √
8 Merasa leluasa dalam belajar. √ √
9 Menyajikan dan mendengarkan hasil diskus. √ √ 10 Menunjukkan minat belajarnya dengan ikut aktif dalam
diskusi
√ √
11 Tidak canggung untuk bertanya kepada guru. √ √ 12 Merasa lebih mudah menerima pelajaran PKn √ √ 13 Tidak malu untuk menyampaikan pendapatnya √ √
14 Membuat kesimpulan dari hasil diskusi √ √
15 Antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang guru berikan. √ √
Keterangan:
v: dilakukan pada tiap pertemuan x: tidak dilakukan pada tiap pertemuan b. Analisis data hasil tes formatif siklus II
Pembelajaran PKn pada siklus II dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif yang dikerjakan siswa pada akhir pembelajaran siklus II. Deskripsi hasil belajar tes formatif 1 pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut
Tabel 4.8 Diskripsi Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V
SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012 Pada Siklus II
Jumlah Siswa Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
Rata-rata
28 65 100 85,17
Hasil belajar siswa pada Tes formatif siklus II dapat diketahui dari tabel 4.9 bahwa nilai terendah siswa adalah 65 dan nilai tertingg siswa adalah 100. Rata-rata nilai siswa kelas V adalah 85,17 Rata-rata nilai siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan rata-rata nilai siklus 1 (tabel 4.2). peningkatan nilai rata-rata siswa kelas V sebanyak 5,57 dari 79,6 menjadi 85,17. Data hasil belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.9 sebagai berikut:
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus II
No Nilai
Siklus II Keterangan
Jumlah siswa Prosentase Tuntas Tidak Tuntas
1 <65 0 0 - -
2 65 - 70 7 25% √ -
3 71 - 76 2 7,1% √ -
4 77 - 82 2 7,1% √ -
5 83 - 88 1 3,6% √ -
6 89 - 94 8 28,6% √ -
7 95 - 100 8 28,6% √ -
Jumlah 28 100%
Nilai rata-rata 85,17
Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Kapuan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora. Untuk nilai < 65 sebanyak 0 siswa dengan prosentase 0, nilai 65 sampai 70 sebanyak 7 siswa dengan prosentase 25%, nilai 71 sampai 76 sebanyak 2 siswa dengan prosentase 7,1%, nilai 77 sampai 82 sebanyak 2 siswa dengan prosentase 7,1%, nilai 83 sampai 88 sebanyak 1 siswa dengan prosentase 3,6%, nilai 89 sampai 94 sebanyak 8 siswa dengan prosentase 28,6%, dan nilai 95 sampai 100 sebanyak 8
siswa dengan prosentase 28,6%. Jadi dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community pada siklus II dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 28 siswa atau 100% dari 28 siswa. Berdasarkan distribusi hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, dapat dituangkan dalam bentuk diagram yang dapat dilihat pada gambar 4.3 sebagai berikut:
Gambar 4.3 Analisis Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus II
Berikut disajikan dalam tabel prosentase ketuntasan belajar pada siklus II.
Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.10 sebagai berikut:
Tabel 4.10 Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
Pada Siklus II
c. Analisis angket minat siklus II
Penilaian terhadap minat siswa menggunakan skala Likert dengan rentang 4 – 1, skor 4 (sangat setuju), skor 3 (setuju), skor 2 (tidak setuju), dam skor 1 (sangat tidak setuju). Skor keseluruhannya diperoleh dengan menjumlahkan seluruh skor butir pernyataan. Rentangan yang dipakai 1 sampai 4, maka diperoleh skor terendah adalah 15 (1x15) dan skor
0
7
2 2
9
7
0 1 2 4 6 8 10
<65 65-70 71-76 77-82 83-88 89-94 95-100
No Nilai Sesudah Tindakan Keterangan
Jumlah siswa Prosentase (%)
1 <65 0 0 Belum Tuntas
2 ≥65 28 100% Tuntas
Jumlah 28 100%
tertinggi adalah 60 (4x15). Sebagai dasar pengelompokan digunakan rumus sebagai berikut:
kategori banyaknya
terendah skor
tertinggi I skor
_ _ _
Maka akan diperoleh kategori interval pada tabel 4.11 sebagai berikut:
Tabel 4.11 Kategori Interval Skala Likert Angket Minat Belajar Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran
2011/2012 Pada Siklus II
Interval Kategori frekuensi 15 - 26,24 Tidak berminat 0 26,25-37,49 Kurang berminat 3
37,5-48,74 Berminat 0
48,75-60 Sangat berminat 22
Jumlah 25
Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa minat belajar siswa pada siklus 2 dikategorikan sangat berminat sebanyak 27 siswa dan sebanyak 1 siswa berminat dalam mengikuti pembelajaran PKn. Dengan demikian pada siklus II hampir semua siswa mempunyai minat belajar yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran Pkn dengan teknik learning community
4.3.3.5 Refleksi
Berdasarkan pembelajaran yang dilaksanakan dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community hasil belajar siswa pada siklus telah mengalami peningkatan. Tetapi masih ada siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Siswa yang mencapai nilai tuntas menjadi 27 siswa, yang sebelumnya 20 siswa. Selain itu minat belajar siswa pada siklus II menjadi meningkat. Dan indikator penelitian variabel minat dan hasil belajar sudah tercapai pada siklus II.
4.4 Hasil Analisis data
a. Pada siklus pertama dari hasil pengamatan peneliti dan teman sejawat dapat disimpulkan :
1. Siswa mulai terbiasa dengan kondisi belajar secara berkelompok.
2. Siswa senang dengan pembelajaran kelompok yang memanfaatkan lingkungan sekitar.
3. Siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran kontekstual teknik learning community.
4. Siswa masih kurang berminat dalam mengikuti pembelajaran.
5. Siswa dalam mengerjakan tugas kelompok juga kurang adanya kerja sama kelompok. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua siswa dari lima yang hanya mengerjakan tugas kelompok.
b. Pada siklus kedua dari hasil pengamatan peneliti dan teman sejawat dapat disimpulkan :
1. Suasana pembelajaran sudah mengarah kepada pembelajaran kontektual dengan teknik learning community
2. Siswa dalam kelompok menunjukkan saling membantu untuk mengerjakan tugas dan telah terjadi interaksi tanya jawab ketika teman dalam kelompok mengalami permasalahan belum memahami materi teman yang lain menjelaskannya
3. Guru berkeliling untuk mengawasi jalannya diskusi 4. Siswa sudah sangat berminat mengikuti pembelajaran
c. Minat belajar siswa pada siklus pertama mencapai 22 siswa dari 25 siswa sudah menunjukkan bahwa siswa tersebut sangat berminat mengikuti pembelajaran dan pada siklus meningkat menjadi 28 siswa dari 28 siswa menunjukkan bahwasiswa tersebut sangat berminat mengikuti pembelajaran. terbukti pada tabel minat belajar siswa dalam PBM di bawab ini:
Tabel 4.12 Perolehan Skor Angket Minat Belajar Siswa Kelas V Pada Mata Pelajaran PKn SD Negeri 2 Kapuan Cepu Semester II Tahun Pelajaran
2011/2012
Responden
Skor Kategori
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
1 55 55 Sangat Berminat Sangat Berminat
2 54 54 Sangat Berminat Sangat Berminat
3 49 49 Sangat Berminat Sangat Berminat
4 51 51 Sangat Berminat Sangat Berminat
5 53 53 Sangat Berminat Sangat Berminat
6 33 53 Kurang Berminat Sangat Berminat
7 60 60 Sangat Berminat Sangat Berminat
8 57 57 Sangat Berminat Sangat Berminat
9 56 56 Sangat Berminat Sangat Berminat
10 31 48 Kurang Berminat Sangat Berminat
11 53 53 Sangat Berminat Sangat Berminat
12 60 60 Sangat Berminat Sangat Berminat
13 57 57 Sangat Berminat Sangat Berminat
14 56 56 Sangat Berminat Sangat Berminat
15 51 51 Sangat Berminat Sangat Berminat
16 55 55 Sangat Berminat Sangat Berminat
17 54 54 Sangat Berminat Sangat Berminat
18 37 57 Kurang Berminat Sangat Berminat
19 51 51 Sangat Berminat Sangat Berminat
20 53 53 Sangat Berminat Sangat Berminat
21 55 55 Sangat Berminat Sangat Berminat
22 54 54 Sangat Berminat Sangat Berminat
23 49 49 Sangat Berminat Sangat Berminat
24 51 51 Sangat Berminat Sangat Berminat
25 53 53 Sangat Berminat Sangat Berminat
26 - 49 - Sangat Berminat
27 - 51 - Sangat Berminat
28 - 53 - Sangat Berminat
d. Hasil evaluasi penguasaan materi siswa juga mengalami peningkatan rata- rata kelas sebelum tindakan 56,75 menjadi 79,6 pada siklus I kemudian meningkat lagi menjadi 85,17 pada siklus II. Siswa yang tidak tuntas
sebelum tindakan ada 15 siswa pada siklus I siswa yang tidak tuntas 5 siswa kemudian pada siklus II seluruh siswa tuntas dan mencapai KKM yaitu 65.
Perbandingan nilai dan rata-rata nilai siswa kelas V pada mata pelajaran PKn saat pra siklus, tes formatif siklus I, dan tes formatif siklus II dapat dilihat pada gambar 4.4
Gambar 4.4 Perbandingan Nilai Rata-rata Mata Pelajaran PKN Kelas V Pra siklus, Siklus I dan Siklus II SD Negeri 2 Kapuan Cepu
Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan dalam penelitian tindakan kelas ini merupakan hasil observasi dan refleksi penelitian yang telah dilakukan pada tiap siklus. Proses belajar dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan dilakukan refleksi secara keseluruhan pada tiap-tiap siklusnya. Proses pembelajaran akan berlangsung optimal apabila terdapat interaksi yang baik antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik. Pembelajaran dengan menggunakan satu macam metode saja akan membuat peserta didik menjadi jenuh untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu guru perlu melakukan rencana-rencana baru dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi agar peserta didik tidak jenuh lagi. Proses pembelajaran dikatakan optimal bila terdapat keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran yang berarti bukan merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru.
56,75
79,6 85,17
0 20 40 60 80 100
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Pembelajaran dengan melibatkan peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan aktifitas peserta didik. Proses pembelajaran yang baik akan sangat berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.
Pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini mengambil standar kompetensi menghargai keputusan bersama. Dalam standar kompetensi tersebut terdapat dua materi yang harus disampaikan, yaitu mengenal bentuk- bentuk keputusan bersama dan mematuhi keputusan bersama.
Hasil observasi awal yang dilakukan menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar belum optimal karena tidak terjadi interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa secara maksimal yang mengakibatkan siswa kurang berminat mengikuti pembelajaran. Bahkan hasil belajar siswa juga masih sangat rendah dilihat dari nilai yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥ 65). Bentuk pemecahan dari permasalahan ini adalah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual teknik learning community pada mata pelajaran PKn di kelas V SD Negeri 2 Kapuan Cepu.
Selama pelaksanaan penelitian dengan penerapan pembelajaran teknik learning community pada standar kompetensi menghargai keputusan bersama dari dari siklus pertama ke siklus berikutnya menunjukkan perubahan dalam proses pembelajaran sehingga minat belajar dan hasil belajar siswa meningkat.
Peningkatan minat belajar siswa dilihat dari analisis angket minat siswa yang dibagikan pada saat akhir siklus. Hasil analisis menunjukkan bahwa minat siswa selama proses pembelajaran dari siklus pertama ke siklus berikutnya mengalami peningkatan. Minat belajar siswa sebelum penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community hanya 5 sampai 8 siswa dari 28 siswa yang sudah menunjukkan minat belajarnya dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian pada siklus I mengalami peningkatan sebanyak 20 siswa dari 28 siswa yang menunjukkan minat belajarnya dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 28 siswa atau dengan prosentase 100% dari 28 siswa yang ada di
kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus II seluruh siswa sudah menunjukkan minat belajarnya dalam mengikuti pembelajaran.
Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil ketuntasan nilai peserta sebelum penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community. Hasil belajar siswa sebelum penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community yang mencapai ketuntasan sebesar 47% dengan nilai KKM 65. Kemudian pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 80%. Karena hasil belajar pada siklus 1 belum mencapai indikator keberhasilan dengan prosentase ketuntasan 85%.
Siswa yang tuntas sebelum tindakan sebanyak 13 siswa dari 28 siswa. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I siswa yang tuntas menjadi 23 siswa.
Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 100% atau 28 siswa yang tuntas. Hal ini sudah menunjukkan bahwa indikator keberhasilan dalam penelitian sudah tercapai.
Menurut Susilo (2001:4) Learning Community atau masyarakat belajar adalah proses terjadinya komunikasi dua arah. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang sudah tahu ke yang belum tahu. Dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Di dalam masyarakat belajar ini setiap orang harus bersedia untuk berbicara dan berbagi pendapat, mendengarkan pendapat orang lain dan berkolaborasi membangun pengetahuan dengan orang lain dalam kelompoknya. Berdasarkan teori Susilo (2001:4) dapat disimpulkan Bahwa Bagaimana mengembangkan pengetahuan siswa melalui teknik learning community yang akan dilakukan secara kerja kelompok dalam proses pembelajaran, sehingga pemahaman siswa mengenai materi pembelajaran lebih mudah diterima dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. Untuk mengetahui minat belajar siswa dan hasil belajar, dalam pembelajaran maka diperlukan penerapan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dalam pembelajaran dengan siswa melakukan diskusi didalam kelompok yang homogen sehingga terjadi interaksi dan bertukar pendapat
antara siswa dengan siswa. Selain itu juga akan terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa.
Teori dari Susilo (2001:4) tersebut selaras dengan penerapan pembelajaran kontekstual yang penulis terapkan. Karena saat penulis menerapkan pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community, hasil dan minat belajar siswa meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa didapat dari hasil tes formatif pada siklus I dan II. Sedangkan untuk peningkatan minat belajar siswa diperoleh dari hasil angket minat yang dibagikan kepada setiap siswa.
Pembelajaran kontekstual dengan teknik learning community dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan minat serta pemahaman siswa terhadap mata pelajaran sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih baik dan hasil belajar siswa meningkat.