1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam abad gaya hidup, penampilan adalah segalanya.perhatian terhadap urusan penampilan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sejarah. Urusan penampilan atau presentasi diri ini sudah lama menjadi perbincangan sosiolog dan kritikus budaya. Erving Goffman, misalnya dalam The Presentation of Self In Everyday (1959) mengemukakan bahwa kehidupan social terutama terdiri dari
penampilan teaterikal yang diritualkan, yang kemudian lebih dikenal dengan dramaturgi (dramaturgical approach) yang dimaksudkan adalah bahwa kita bertindak seolah-olah berda diatas panggung. Bagi Goffman, berbagai penggunaan ruang, barang-barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial tampil untuk memfasilitasi kehidupan social sehari-hari.1
Gaya hidup dapat tercermin dari apa yang dilakukan oleh si pengguna gaya hidup it sendiri, sebagai cara hidup yang dia pilih untuk menjalani hidupnya sehari harinya. Gaya hidup itu sendiri dapat dilihat dari beberapa aspek seperti yang diutarakan Goffman diatas. Namun banyak orang salah kaprah dengan menginginkan gaya hidup seperti yang dia idolakan, hanya saja mengikutinya hanya sebatas penampakan luarnya saja tanpa diikuti dengan aspek-aspek lainnya.
1 David Chaney, 1996,Lifestyles:sebuah pengantar komprehensif, Yogyakarta, Jalasutra, Hal. 15
Bagi David Chaney, aspek yang dijadikan tema-tema gaya hidup di bagi ke tiga jenis yaitu penampakan luar, kedirian dan sensibilitas. Gaya hidup sebenarnya dapat membantu kita mendefinisikan sikap, nilai-nilai dan menunjukan kekayaan serta posisi sosial kita. Maka dengan menggunakan pemahaman tentang gaya hidup, kita dapat membuat klasifikasi terhadap seseorang maupun diri kita sendiri.
Bagaimana gaya hidup seseorang bisa terlihat dari penampilan luarnya, misalnya saja seorang yang mengalami transgender atau biasa disebut banci. Bisa terlihat gaya hidupnya dari pakaian dan aksesoris yang dia pakai, atau seorang pekerja pabrik yang bisa terlihat dari seragam kerja yang dipakainya, disaat berkerja sehari-hari.
Penampakan luar yang terlihat dari penampilan bisa di kenali pula dengan simbol-simbol yang mereka pakai. Misalnya saja kursi roda yang dipakai oleh para manula atau para penderita penyakit yang membutuhkan kursi roda untuk bergerak. Atau para anggota partai yang memakai baju dengan warna yang sama dengan warna partainya.
Hal-hal tersebut dapat kita temui pada salah satu penderita penyakit mematikan yaitu HIV/AIDS, yang bisa dikenali dari gaya hidup penderitanya. Para penderita AIDS bisa dikenali dengan gaya hidup yang tersirat dari simbol-simbol yang mewakili sesuatu dari penderita. Penderita yang mempunyai ciri-ciri fisik pastinya menyimpan pesan tersirat yang menunjukan dirinya penderita AIDS.
Untuk dapat mengetahuinya kita harus menganalisis menggunakan metode dan acuan tertentu agar makna dari simbol tersebut tidak mengalami pengaburan
makna yang jauh. Untuk dapat memahaminya kita harus mengetahui HIV/AIDS dari ciri-ciri yang ditunjukannya, serta segala sesuatu hal tentang HIV/AIDS.
Pada pertengahan 1981, pusat pengendalian penyakit ( Centers of Disease Control, CDC ) di Amerika Serikat melaporkan adanya lima orang pria di Los
Angeles di diagnosis terinfeksi virus HIV. Kasus AIDS yang pertama kali dilaporkan memang terjadi di Amerika Serikat dan kemudian muncul kasus dari Amerika Utara dan Eropa. Sebenarnya pada awal 1980-an kasus AIDS juga ada di Rwanda dan Zaire, namun mungkin karena sistem pelaporan di negara-negara berkembang umumnya agak lambat, kita jarang mengetahuinya.2 Inilah kasus pertama yang dilaporkan di dunia. Kasus pertama yang dilaporkan di Amerika ini menyerang lima pria gay, menyebabkan pada saat itu penyakit ini dikenal sebagai penyakit kaum gay. Adapula yang mengatakan penyakit ini penyakit orang Afrika karena dibawa oleh para transmigran asal Afrika.
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS, sekalipun ada obat itu hanya untuk memperlambat proses penyebaran
virus HIV didalam tubuh kita. Pada awal tahun 1980-an obat-obatan yang beredar di dunia masih sangat terbatas.
Minimnya pengetahuan dan penyuluhan tentang HIV/AIDS menyebabkan masih banyak dan terus meningkatnya penyebaran virus HIV di dunia. Mudahnya virus ini menular hingga tidak terlihat gejala langsung, menyebabkan virus ini begitu cepat menular dari satu individu ke individu lainya. Setelah orang yang tertular virus ini, tubuhnya baru akan menghasilkan antibody dalam selang waktu
2 Danny I. Yatim. Dialog Seputar AIDS. Jakarta: PT. Grasindo. 2006. hal 22
dua atau tiga bulan, serta setelah penderita melakukan tes darah dan di pastikan dia HIV+ dia akan tetap sehat dan tidak Nampak gejala sakit apa-apa hanya merasakan gejala sakit ringan selama 7-10 tahun.3 Sebenarnya antara HIV dan AIDS terdapat suatu pengertian yang berbeda, dimana HIV adalah Virus yang
menyerang sistim imunn manusia sedangkan AIDS itu sendiri merupakan gabungan atau biasa disebut sindroma, dimana penyakit penyakit yang tadinya tidak mempunyai bahaya serius pada manusia sehat bisa menjadi suatu penyakit yang dapat mematikan dikarenakan virus HIV yang menyerang sistim imun menyebabkan kerusakan sistim daya tahan tubuh yang bepengaruh terhadap kekebalan tubuh manusia.
Dari minimnya informasi tersebut, harus seringnya pemberian penyuluhan bagi masyarakat tentu akan menekan laju penyebaran virus tersebut. Berbagai macam cara pemberian penyuluhan dilakukan, dari seminar, penyuluhan ke sekolah-sekolah atau bahkan lewat cara lain yang dirasa lebih efektif pada saat ini yaitu film. Dalam film kita bisa mengetahui simbol-simbol yang tersirat untuk mengambarkan gaya hidup penderita melalui sebuah metode semiotika.
Semiotika biasa digunakan untuk membaca suatu makna, yang tersirat dari sebuah tanda. Banyaknya kajian tentang tanda memungkinkan penggunanya dapat memilih sebuah metode analisa yang sesuai dengan yang diinginkan. Dalam memahami makna tanda pada gaya hidup para penderita HIV/AIDS kita menggunakan sebuah klasifikasi yang sesuai dengan realitasnya.
3 Ibid. Hal. 9
Film merupakan salah satu media yang saat ini lebih efektif untuk menceritakan suatu masalah atau fenomena yang terjadi. Ada film dokumenter, film historis, atau film yang berasal dari kisah yang pernah dialami oleh seseorang yang biasa disebut film biografi. Salah satu film yang menyangkut tentang penyakit HIV/AIDS adalah film yang diangkat dari kisah hidup seorang aktifis HIV/AIDS di Amerika yaitu Ron Woodroof.
Film dengan judul “DALLAS BUYERS CLUB” menceritakan tentang Ron Woodroof yang biasa dipanggil Ron, seorang rodeo ( penunggang banteng ) yang gemar berjudi, minum minuman keras dan berganti-ganti wanita ( seks bebas ).
Ron yang juga seorang teknisi listrik ini pada suatu hari tersengat listrik karena kurang fokus dengan kerjanya, mendapati dirinya terbaring di rumah sakit dan mendengarkan diagnosis dokter bahwa dirinya sudah terinfeksi virus HIV yang pada film ini bersetting tahun 1980-an. Dokter yang bingung karena Ron masih bisa hidup setelah sel darah T nya hanya mempunyai 9 point saja dari normalnya yang di miliki orang sehat sejitar 500-1500. Hal ini membuat dokter memperkirakan hari Ron hanya tersisa 30 hari saja untuk dapat menjalani hidup, dan tentu saja Ron yang tidak percaya marah kepada dokter dan juga memaki nya dengan mengatakan dalam 30 hari tidak ada yang dapat membunuh Ron dalam 30 hari.
Setelah Ron dapat menerima apa yang menimpa dirinya, Ron kembali kerumah sakit dan mencoba membeli obat yang di keluarkan oleh produsen obat di Amerika yaitu AZT. Namun federasi pemerintah yang mengatur izin peredaran obat ( FDA ) masih melarang peredaran bebas obat itu karena masih dalam tahap
pengujian. Ron yang mengetahui itu tentang rencana uji coba itu bersedia di jadikan objek uji coba namun salah satu dokter yang merasa kasihan dengan Ron tidak memberikanya, karena mengetahui adanya efek yang merugikan dan juga menolak pengujian dengan objek manusia.
Karena usaha Ron tak diterima, dia menyuap salah satu pekerja rumah sakit untuk mendapatkan AZT, obat ini justru malah membuat kondisi Ron malah menambah parah. Dengan sebuah alamat yang diberikan dari pekerja rumah sakit itu pula, Ron mendapati suatu alamat dokter yang melakukan pengobatan di negara Mexico dan Ron pergi menemuinya.
Dari sini lah Ron yang memahami tentang HIV/AIDS dari seorang dokter ini menjadi seorang aktivis AIDS yang mencari obat-obat yang masih dilarang di negaranya ke berbagai belahan dunia. Ron yang melihat peluang bisnis didalamnya dari banyaknya pengidap AIDS di daerah asalnya adalah guy, Ron mendapati kesulitan untuk memasarkannya dan memberikan pengetahuannya.
Maka Ron bertemu Rayon yang dia temui saat dirumah sakit yang juga pengidap AIDS ini adalah seorang guy juga yang dapat menguntungkan Ron dalam
menjalankan usahanya sekarang ini.
Karena Ron juga telah tidak di terima di tempatnya dulu berkerja, Ron serius menekuni usaha menjual obat obatan ini dengan membuat perkumpulan atau klub yang dinamainya “DALLAS BUYERS CLUB” yang di bantu Rayon sebagai assistenya, mampu menarik para pengidap AIDS di tempat asalnya itu. Setelah Ron berhasil dengan melewati diagnosis 30 hari sisa hidupnya dari dokter, Ron juga berhasil membuat club yang dia bangun menjadi menguntungkan.
Pendirian club tentu saja bukan karena alasan bisnis saja, melainkan Ron mempunyai sensibilitas yang menjadikan dia bukan hanya berjuang untuk dirinya saja tetapi untuk para pengidap agar mendapatkan perlakuan yang sebagaimana mestinya, dalam film ini memfokuskan kepada obat-obatan yang masih belum di setujui oleh badan legalitas distribusi obat pemerintah. Sensibilitas merupakan salah satu aspek dalam gaya hidup yang ditampilkan dalam sebuah tindakan yang muncul dari respon-respon suatu fenomena atau kejadian yang sedang dialami oleh Ron dalam film ini. Hal tersebut menjadikan Ron harus melakukan adaptasi gaya hidup dari seorang Rodeo yang lekat dengan seks, narkotika dan alcohol menjadi Ron yang harus melakukan hidup sehat demi bertahan hidup melawan penyakitnya.
Dalam film ini Ron Woodroof yang di bintangi oleh Matthew McConaughey serta Rayon yang diperankan oleh Jared Leto menuai banyak pujian dengan totalitas dalam memerankannya. Mereka berdua sangat terlihat mewakili tampak para pengidap AIDS dalam film Dallas Buyers Club yang disutradarai oleh Jean- March Valle, dan membuahkan piala Oscar kategori “The Best Actor” dan “The Best
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin meneliti gaya hidup penderita HIV/AIDS yang terdapat dalam film “DALLAS BUYERS CLUB”.
Peneliti akan mencoba melakukan penalaran dan berupaya menafsirkan adegan pada film ini dengan menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirs, untuk menemukan aspek-aspek gaya hidup yang tersirat di dalam tanda-tanda
yang ada dalam film Dallas Buyers Club ke dalam klasifikasi-klasifikasi yang telah ada agar dapat dimengerti dan dipahami pembacanya nanti..
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut, “ Bagaimana Gaya Hidup Penderita HIV/AIDS Pada Film Dallas Buyers Club?”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gaya hidup penderita HIV/AIDS didalam film Dallas Buyers Club.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian Gay Hidup Penderita HIV/AIDS Dalam Film Dallas Buyers Club ini diharapkan memberikan manfaat bagi pembacanya baik secara akademis maupun praktis, yaitu:
1.4.1 Manfaat Akademis
Penelitian yang membahas Gaya Hidup PenderitaHIV/AIDS Dalam Film Dallas Buyers Club diharapkan dapat mengelaborasi konsep-konsep semiotika
dalam gaya hidup penderita HIV/AIDS dalam film. Selain itu diharapkan menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.
1.4.2 Manfaat praktis
1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para sineas mengenai gaya hidup penderita HIV/AIDS dalam film agar dapat membuat film yang dapat di maknai dengan jelas dan dapat memberikan pembelajaran serta informasi mengenai hal-hal yang diperlukan bagi masyarakat Indonesia.
2. Digunakan sebagai salah satu referensi evaluasi kelebihan dan kekurangan film bertema penyakit atau masalah sosial yang telah dibuat sebelumnya, sehingga dapat menghasilkan film yang lebih kompleks dan berkualitas untuk kedepannya.