II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teoritis
1. Disiplin Mengajar Guru a. Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa latin discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Saat ini kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian. Kedua, disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.
Achmad Slamet (2007: 214) menjelaskan bahwa disiplin berasal dari akar kata “disciple” yang berarti belajar. Robbins dalam Achmad Slamet (2007: 216) “disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang dilakukan secara sukarela dengan penuh kesadaran dan kesediaan mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau atasan baik tertulis maupun tidak tertulis”.
Disiplin berarti erat kaitannya dengan sadar terhadap hukum, orang yang mempunyai kesadaran terhadap berbagai aturan hukum akan mematuhi semua yang menjadi tuntunan peraturan tersebut, sehingga mereka akan menjadi taat terhadap berbagai peraturan yang ada, seperti yang dikemukakan oleh Erwin (2011: 135) bahwa dalam situasi yang konkret kesadaran hukum akan menjelma dalam bentuk kepatuhan atau ketaatan terhadap hukum. Kepatuhan terhadap hukum begitu tergantung pada pertumbuhan akal, kemauan dan rasa seseorang. Sedangkan menurut Abdurrahman dalam Nurhidayat (2006: 8), menyatakan bahwa kesadaran hukum itu adalah tidak lain dari pada suatu kesadaran yang ada dalam kehidupan manusia untuk selalu patuh dan taat pada hukum.
Dapat di ambil kesimpulan bahwa kesadaran hukum adalah suatu hal yang sudah disadari dan dihayati oleh seseorang untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang ada dalam hidup di lingkungan bermasyarakat dan bernegara
Berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah keadaan prilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dengan indikator: 1) sikap taat menjalankan tugas dan kewajiban, 2) pengendalian keinginan dan cara-cara untuk melakukan tindakan, 3) kepatuhan mengendalikan diri sesuai peraturan yang berlaku.
b. Mengajar
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kodisi atau sistem yang mendukung dan memungkinkan untuk
berlangsungnya proses belajar. Menurut Sardiman (2011: 47) menyatakan bahwa “mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik dengan suatu harapann terjadi proses pemahaman”.
Pengertian secara luas, mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Menurut Oemar Hamalik (2005: 48), “mengajar merupakan usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa”.
Sedangkan menurut Bohar Suharto yang dikutip oleh Pupuh Fathurrohman dan M. Sobri Sutikno (2007: 7) mengungkapkan bahwa
“mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelola) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan”.
Mengajar juga dapat diartikan sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental.
Pengertian mengajar seperti ini memberikan petunjuk bahwa fungsi pokok dalam mengajar itu adalah menyediakan kondisi yang kondusif, sedang yang berperan aktif dan banyak melakukan kegiatan adalah siswanya dalam upaya menemukan dan memecahkan masalah.
Berdasarkan teori-teori di atas maka dapat kita simpulkan bahwa mengajar adalah kegiatan yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri guru dan siswa untuk saling berinteraksi dalam suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran bisa tercapai.
c. Guru
Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan mutu guru untuk menjadi tenaga profesional agar peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil, sebagaimana dikemukakan oleh Nawawi (2008: 124) “guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kelas”.
Dalam pembelajaran guru sangat berperan penting seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (2011: 125) “guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Menurut Undang-Undang tersebut “Beban kerja Guru mencakup kegiatan pokok: (a) merencanakan pembelajaran; (b) melaksanakan
pembelajaran; (c) menilai hasil pembelajaran; (d) membimbing dan melatih peserta didik; dan (e) melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru”.
Menurut Uno (2012: 15) “guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidamg kependidikan”.
Budiningsih (2005: 35) mengemukakan “guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswanya dan membantu siswa menghubungkan antara apa yang sudah diketahui siswa dengan apa yang sedang dan akan dipelajari”.
Berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah suatu profesi di dalam dunia pendidikan yang bertugas melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil belajar, melakukan bimbingan dan latihan.
d. Disiplin Mengajar Guru
PP 53 tahun 2010 mengatur tentang disiplin PNS. Di dalam peraturan tersebut diatur tentang displin, pelanggaran disiplin, larangan, dan juga kewajiban PNS. Kewajiban PNS yang diatur antara lain:
1. mengucapkan sumpah/janji PNS 2. mengucapkan sumpah/janji jabatan
3. setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD-RI 1945, NKRI dan Pemerintah
4. menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan
5. melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS denga penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab
6. menjujung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat PNS 7. mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan /atau golongan
8. memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan
9. bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara
10. melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan dan materiil 11. masuk kerja dan menaati jam kerja
12. mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan
13. menggunakan dan memelihara barang- barang milik negara dengan sebaik-baiknya
14. memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat 15. membimbing bawahan dalam melaksankan tugas
16. memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan karier
17. menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Menurut Robbins dalam Achmad Slamet (2007: 216) “disiplin adalah suatu sikap dan perilaku yang dilakukan secara sukarela dengan penuh kesadaran dan kesediaan mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau atasan, baik tertulis maupun tidak tertulis”. Dalam rangka peningkatan disiplin guru, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru, yaitu:
1. Kehadiran
2. Pelaksanaan tugas (kegiatan) 3. Program tindak lanjut
Untuk lebih jelasnya ketiga hal tersebut di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kehadiran
a. Hadir di sekolah 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan pulang setelah jam pelajaran selesai
b. Menandatangani daftar hadir
c. Hadir dan meninggalkan kelas tepat waktu
d. Tidak meninggalkan sekolah tanpa seizin Kepala Sekolah e. Mencatat kehadiaran siswa setiap hari
2. Pelaksanaan tugas (kegiatan)
a. Mengatur siswa yang akan masuk kelas dengan berbaris secara teratur
b. Melaksanakan semua tugasnya secara tertib dan teratur
a. Membuat program catur wulan
b. Membuat persiapan mengajar sebelum mengajar
c. Mengikuti upacara, peringatan hari besar agama/nasional dan acara lainnya yang diselenggarakan oleh sekolah
d. Memeriksa setiap pekerjaan atau latihan siswa serta mengembalikan kepada siswa
e. Menyelesaikan administrasi kelas secara baik dan teratur
f. Tidak mengajar di sekolah lain tanpa seizin tertulis dari pejabat yang berwenang
g. Melaksanakan ulangan harian minimal 3 kali dalam satu catur wulan dan ulangan umum setiap akhir catur wulan
h. Tidak merokok selama berada di lingkungan sekolah i. Mengisi buku batas pelajaran setiap selesai mengajar j. Mengisi buku agenda guru
k. Berpakaian olahraga selama memberikan pelajaran praktek olahraga Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
l. Mempersiapkan dan memeriksa alat yang akan dipergunakan dalam pelajaran/praktek Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta mengembalikan pada tempat semula
m. Mengawasi siswa selama jam istirahat
n. Mengikuti senam yang dilaksanakan bersama-sama siswa di sekolahnya
o. Berpakaian rapi dan pantas sesuai dengan ketentuan yang berlaku p. Melaksanakan 9 K
3. Program Tindak Lanjut
a. Memeriksa kebersihan anak secara berkala
b. Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memberikan program pengayaan kepada yang mempunyai kecakapan lebih
c. Mengatur pemindahan tempat duduk siswa secara berkala
Menurut Sardiman (2011: 47) menyatakan bahwa mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik dengan suatu harapan terjadi proses pemahaman.
Selain itu Menurut Sardiman (2011: 123) “guru adalah suatu komponen manusia dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan aktif dalam usaha pembentukan sumber daya manusia”.
Jadi berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin mengajar guru adalah suatu tingkah laku atau perbuatan oleh seorang tenaga pendidik yang sesuai dengan peraturan dalam menyampaikan pengetahuan pada anak didik atau siswa dalam usaha pembentukan sumber daya manusia.
e. Ciri-ciri guru yang disiplin
Adapun ciri-ciri guru yang disiplin dapat dilihat sebagai berikut:
1. Disiplin terhadap perundang-undangan
2. Seorang guru dituntut untuk secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian yang harus dikembangkan oleh seorang guru
3. Disiplin taat terhadap organisasi profesi
4. Sikap hormat dan bekerjasama dengan teman seprofesi
5. Seorang guru harus memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial yang berarti bahwa guru harus menciptakan dan memelihara hubungan dengan sesama guru dan sekaligus memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya.
6. Memelihara sikap terhadap anak didik
7. Di dalam kode etik guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia seutuhnya yang berjiwa pancasila, ini berarti guru harus membentuk anak didiknya menjadi manusia Indonesia yang berjiwa pancasila dan membentuk mental yang kuat dan dapat diandalkan sebagai pilar pembangunan bangsa Indonesia
8. Memelihara sikap terhadap tempat kerja
9. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik di tempat kerja dapat mempengaruhi produktivitas dan semangat kerja, hal ini perlu menjadi acuan setiap guru untuk menciptakan dan memlihara suasana yang nyaman dalam lingkungan sekolah agar tercipta suasana yang harmonis di sekolah
10. Memelihara hubungan yang baik dengan atasan
11. Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih besar guru akan selalu dalam pengawasan seorang pemimpin. Di dalam konteks ini guru wajib dan harus memelihara hubungan yang baik dengan atasannya atau kepala sekolahnya
12. Disiplin terhadap pekerjaan
13. Salah satu sikap yang paling diinginkan dan diperlukan sekaligus harus dimiliki oleh guru adalah guru harus disiplin terhadap pekerjaan yang harus diembannya agar tercipta proses belajar mengajar yang diinginkan
f. Faktor-faktor yang memengaruhi disiplin
Faktor-faktor yang memengaruhi disiplin guru dapat dibedakan menjadi faktor internal guru dan faktor ekternal guru. Faktor internal guru yang memengaruhi disiplin, yaitu dikarenakan adanya pengetahuan, kesadaran, keamanan untuk berbuat disiplin, faktor internal guru antara lain:
1) Karateristik guru
Persoalan belajar berkaitan dengan kondisi kepribadian guru itu sendiri, baik fisik maupun mental. Berkaitan dengan fisik tentu akan mudah diamati dan dipahami, dibandingkan dengan mental atau emosional.
2) Rasa percaya diri
Rasa percaya diri merupakan salah satu kondisi psikologi seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran.
Faktor eksternal guru yang mempengaruhi disiplin, yaitu dikarenakan adanya perintah, larangan, pengawasan, pujian, ancaman, hukuman dan sebagainya. Faktor eksternal guru antara lain:
1) Lingkungan sosial
a. Faktor lingkungan sekolah meliputi para siswa, para staf administrasi dan teman-teman sesama guru
b. Faktor lingkungan masyarakat meliputi masyarakat, tetangga, dan saudara
c. Faktor lingkungan keluarga meliputi anak dan anggota keluarga 2) Kurikulum Sekolah
Dalam proses pembelajaran di sekolah, kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran.
3) Sarana dan prasarana
Faktor yang termasuk sarana dan prasarana adalah dengan baik, ruangan, perpustakaan yang teratur, tersedianya fasilitas kelas dan laboratorium tersedianya buku-buku pelajaran dan media pembelajaran.
2. Aktivitas Belajar Siswa a. Aktivitas
Aktivitas berasal dari Bahasa Inggris yaitu active yang berarti giat atau sibuk. Jika ditambah “ty” (activity) yang berarti pekerjaan, kegiatan atau
aktivitas. Aktivitas sendiri menurut Sardiman (2011: 98) “Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik (jasmani) maupun mental (rohani), Dalam proses pembelajaran kedua aktivitas tersebut saling berkaitan sehingga membuahkan aktivitas yang optimal”. Sedangkan Menurut Aunurrahman (2009: 33), dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melakukan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kegiatan belajar.
Menurut Meier (2005: 91) Mengemukakan bahwa terdapat 4 unsur aktivitas belajar yang di kenal dengan istilah belajar SAVI yaitu:
1. Somatis: belajar dengan bergerak dan berbuat 2. Auditori: belajar dengan berbicara dan mendengar 3. Visual: belajar dengan mengamati dan menggambarkan
4. Intelektual: belajar dengan memecahkan masalah dan merenung
Menurut Sanjaya (2007: 141-144) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas belajar siswa sebagai berikut:
a) Guru
Guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran yang sangat mempengaruhi keberhasilan aktivitas belajar siswa karena guru berhadapan langsung dengan siswa. Beberapa hal yang mempengaruhi
keberhasilan aktivitas belajar siswa yang ada pada guru antara lain:
kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan pengalaman mengajar.
b) Sarana belajar
Keberhasilan implementasi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar. Yang termasuk ketersediaan sarana itu meliputi ruang kelas dan setting tempat duduk siswa, media, dan sumber belajar.
c) Lingkungan belajar
Lingkungan belajar merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran berorientasi aktivitas siswa. Ada dua hal yang termasuk ke dalam faktor lingkungan belajar yaitu lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik meliputi keadaan dan kondisi sekolah, misalnya jumlah kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, kamar kecil yang tersedia, serta di mana lokasi sekolah itu berada.
Termasuk ke dalam lingkungan fisik lagi adalah keadaan dan jumlah guru.
Keadaan guru misalnya adalah kesesuaian bidang studi yang melatarbelakangi pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diberikannya. Yang dimaksud dengan lingkungan psikologis adalah iklim sosial yang ada di lingkungan sekolah itu. Misalnya, keharmonisan hubungan antara guru dengan guru, antara guru dengan kepala sekolah, termasuk keharmonisan antara pihak sekolah dengan orang tua.
Berdasarkan teori-teori di atas dapat kita simpulkan bahwa aktivitas adalah kegiatan yang memiliki arah dan tujuan, yang sering atau pernah dilakukan oleh setiap orang.
b. Belajar
Menurut Nana Sudjana (2005: 28) belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah “suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang”. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimanya dan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
Definisi belajar menurut Moh. Uzer Usman (2005: 5) adalah “proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antar individu dan individu dengan lingkungannya”. Seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya.
Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan.
Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar.
Sedangkan Menurut Oemar Hamalik (2007: 36) “belajar ialah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”. Menurut Skiner dalam Walgito (2010: 184) mendefinisikan definisi belajar adalah yaitu
“belajar merupakan proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif artinya tendensi ke arah yang lebih sempurna atau lebih baik dari keadaan sebelumnya”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa pemahaman pengetahuan yang lama.
c. Siswa
Istilah peserta didik pada pendidikan formal di sekolah jenjang dasar dan menengah dikenal dengan nama anak didik atau siswa. Siswa merupakan subjek yang menerima apa yang disampaikan oleh guru. Sosok siswa umumnya merupakan sosok anak yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, sesuai dengan pendapat Sardiman (2011: 111) “siswa adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar”. Siswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di suatu lembaga sekolah tertentu.
Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional: “Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu”.
Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian. Dalam proses belajar mengajar, karakteristik para siswa
sangat perlu diperhitungkan lantaran dapat mempengaruhi jalannya proses dan hasil pembelajaran siswa yang bersangkutan.
Dari teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa siswa adalah seseorang sebagai penerima, pencari, menyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan yang berkembang melelui proses pendidikan pada jenjang tertentu.
d. Aktivitas belajar siswa
Aktivitas belajar merupakan hal yang sangat penting bagi siswa, karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersentuhan dengan obyek yang sedang dipelajari seluas mungkin, karena dengan demikian proses penambahan pengetahuan akan lebih baik.
Aktivitas belajar siswa dapat berbentuk aktivitas jasmani dan aktivitas rohani. Aktivitas belajar adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Sadiman (2011: 98) “aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik (jasmani) maupun mental (rohani)”.
Menurut Oemar Hamalik (2011: 94) penggunaan asas aktivitas dalam belajar siswa memiliki manfaat tertentu, antara lain:
1. Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri 2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa 3. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada
gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok
4. Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dlam rangka pelayanan perbedaan individual
5. Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat
Rousseau (dalam Sardiman A.M., 2011: 96), memberikan penjelasan
“Pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis”.
Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan baik secara jasmani maupun rohani dan aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan untuk belajar.
Sardiman A.M. (2011: 95-96) berpendapat “Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Siswa dalam belajar diwajibkan berperan aktif, dengan kata lain belajar sangat diperlukan untuk adanya suatu aktivitas, dengan begitu aktivitas belajar sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya keberhasilan proses belajar.
Jenis-jenis aktivitas belajar menurut M. Dalyono (2009: 218-225) dibagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut:
1. Mendengarkan, 2. Mengamati
3. Menulis atau mencatat,
4. Membaca,
5. Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi, 6. Menyusun paper atau kertas kerja,
7. Mengingat, 8. Berfikir,
9. Latihan atau praktek.
Dari beberapa pengrtian di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa pemahaman pengetahuan.
B. Kerangka Pikir
Di dalam inovasi peradaban bangsa, pendidikan memegang peranan penting.
Hal ini karena pendidikan merupakan pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan ia berkembang.
Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang diharapkan menghasilkan masyarakat yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang kelak dapat dipergunakan serta bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu diperlukan adanya tenaga pendidik yang memberikan keteladanan pada siswa untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang baik.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya teladan guru yang dapat memacu siswa dalam melakukan aktivitas belajar, termasuk teladan yang sangat penting sebagai modal utama yaitu disiplin guru dalam proses belajar mengajar.
Apabila kita hubungkan dengan profesi seorang guru di sekolah maka kedisiplinan guru di sekolah mengandung arti sikap dan nilai-nilai di sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi, memperoleh penekanan tertentu dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa.
Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis Masalah
Adapun dalam penelitian ini hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Adanya pengaruh disiplin mengajar guru terhadap aktivitas belajar siswa di Sekolah Menengah Atas Tri Sukses Natar Kabupaten Lampung Selatan.
Disiplin mengajar guru (X)
1. Kehadiran
2. Pelaksanaan tugas 3. Program tindak
lanjut
Aktivitas belajar (Y)
1. Perhatian 2. Partisipasi 3. Tanggung jawab