Teologi, Gereja dan
Sakramen
Carolus Putranto Tri Hidayat
Teologi, Gereja dan Sakramen
Carolus Putranto Tri Hidayat
©Carolus Putranto Tri Hidayat
https://1katolik.com
Untuk seluruh peserta Kursus Pendidikan Kitab Suci KAJ
Pendahuluan
Dalam kesempatan ini, kita akan membicarakan tiga hal sekaligus, teologi, Gereja dan sakramen. Bukan tanpa alasan Kalau ketiganya dibicarakan dalam satu kesempatan karena memang satu sama lain saling berkaitan. Dalam arti luas, teologi berarti perbincangan tentang Allah.
Perbincangan ini mungkin terjadi jika pertama-tama Allah mewahyukan diri terlebih dahulu. Artinya, Sebelum orang berbicara tentang Allah, ia harus terlebih dahulu mengalami dan berbincang-bincang dengan Allah.
Perbincangan dengan dan tentang Allah tidak pernah hanya menjadi perkara personal. Setiap kali Allah mewahyukan Diri, terbentuklah suatu Komunitas - suatu bangsa: perwahyuan Allah di Gunung Sinai melahirkan bangsa Israel; perwahyuan Allah dalam diri Yesus dan Roh Kudus, melahirkan Israel Baru, yaitu Gereja. Maka, teologi selalu berangkat dari pengalaman suatu komunitas, dalam hal ini Gereja.
Bagaimana orang dapat mengalami Allah, berbincang- bincang denganNya untuk kemudian berbicara tentang diriNya? Pengalaman pergaulan dengan Yang Ilahi dapat dialami dalam Gereja karena ia menjadi sakramen, yaitu tanda dan sarana, kehadiran Allah. Hal itu hanya mungkin terjadi berkat kehadiran Roh Kudus yang memenuhi Gereja, seperti dahulu Roh yang sama memenuhi Yesus Kristus.
Bukankah dalam Credo, kepercayaan akan Roh Kudus langsung disusul dengan keyakinan akan Gereja yang
dipenuhi oleh kehadiranNya? Melalui ketujuh sakramen yang dirayakan dalam Gereja, Allah membagikan anugerah- anugerah rohaniNya kepada putri-putraNya, sebagaimana dahulu Yesus berjalan-jalan dan berbuat baik sambil mengajar untuk mewartakan Kerajaan Allah.
Sesuai dengan tiga pembahasan besar yang hendak dikupas, tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama akan mengulas teologi. Dalam bagian ini akan dibahas pertama-tama makna luas dan makna sempit teologi. Setelah itu, akan dikupas beberapa konsep kunci dalam teologi katolik seperti wahyu-iman, penerusan Wahyu dalam Kitab Suci dan Tradisi serta penjaga penafsiran yang benar dalam magisterium. Diperkenalkan juga konsep 'sensus fidei' yang menggarisbawahi kehadiran Roh Kudus dalam seluruh umat Beriman yang juga menentukan apakah suatu ajaran iman itu setia atau menyimpang dari warisan para rasul. Rujukan utama bagian ini adalah dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum.
Bagian kedua melanjutkan bagian pertama, yaitu membahas bagaimana suatu komunitas yang terbentuk dari perwahyuan ilahi dapat dipahami. Maka, dii bagian ini, pertama-tama akan dikupas akar biblis dari konsep Gereja.
Setelah itu, beberapa pemikiran patristik pun dikupas. Yang mendapat penekanan khusus dalam bagian kedua ini adalah pergeseran dari gambaran Gereja yang bersifat hirarki-sentris ke Gereja sebagai Umat Allah. Akan dibicarakan juga apa artinya Gereja sebagai sakramen.
Rujukan utama bagian ini adalah dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium.
Bagian ketiga atau terakhir akan berbicara tentang sakramen. Pertama-tama akan diulas beragam makna yang termuat dalam istilah sakramen. Pendekaan antroplogis perlu dimasukkan di sini untuk melihat model simbol dan bahasa sebagai dua model yang dapat membantu memahami apa yang dimaksud dengan sakramen.
Selanjutnya akan diulas perbedaan antara Gereja sebagai sakramen dan ketujuh perayaan sakramental yang ditemukan dalam Gereja Katolik. Jika memungkinkan, akan diulas secara ringkas, makna simbolis dalam ketujuh sakramen itu, terutama tiga sakramen inisiasi: Baptis, Krisma dan Ekaristi. Rujukan utama bagian ini adalah dokumen Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium.
BAGIAN PERTAMA Teologi - Wahyu/iman -
Penerusannya
What you are is God's gift to you, what you become is your gift to God
(Hans Urs von Balthasar)
I. Teologi
Apa itu teologi? Seribu tahun yang lalu, Anselmus dari Cantebury (1033-1109), seorang rahib benediktin asal Italia pernah menawarkan jawabannya. Menurutnya, teologi adalah fides quaerens intellectum, artinya, iman yang mencari pertanggung-jawaban akalnya. Menurut definisi ini, iman mendahului akal. Dengan kata lain, ada kenyataan yang jauh lebih luas dari kemampuan akal kita. Meskipun St Anselmus adalah orang pertama yang merumuskan definisi ini, akan tetapi dia bukanlah orang pertama yang meyakini kebenarannya. St Agustinus dari Hippo (354-430) pernah mengibaratkan kenyataan (Allah) sebagai samudera raya dan akal kita adalah lubang yang dibuat di pasir pantai.
Dan bukankah Mzm.8 mengatakan bahwa mulut kanak- kanak dan bayi, yaitu mereka yang belum berkembang
kemampuan akal dan kesadarannya, akan memuliakan Allah dan membungkam para musuhNya?
Definisi ini tidak sejalan begitu saja dengan kecenderungan zaman modern yang menuntut pembuktian fisik sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran. Menurut kecenderungan zaman modern ini, sesuatu harus masuk akal lebih dahulu sebelum diyakini sebagai kebenaran.
Tetapi bagaimana menentukan bahwa sesuatu itu dapat diterima oleh akal? Satu-satunya kriteria yang menentukan bahwa sesuatu itu sesuai dengan akal sehat di zaman ini adalah bahwa ia harus dapat diterima panca indra. August Comte (1798-1857), seorang filsuf ilmiah asal Perancis pernah meramalkan bahwa semakin modern dan ilmiah zaman ini, semakin orang tidak membutuhkan teolog, iman dan dengan demikian, Tuhan. Menurutnya, sejarah pemikiran manusia memang berawal dari pemikiran teologis (fiktif), tetapi ia berkembang ke pemikiran metafisis (abstrak) dan berpuncak pada pemikiran scientifik-ilmiah (positif-yang dapat diindera). Dengan demikian, menurut Comte, segala yang fiktif dan abstrak, akan tunduk pada segala yang dapat diindera dan berguna.
Kita tentu dapat mempertanyakan pendapat Comte ini.
Benarkah kenyataan 'harus masuk akal' dan satu-satunya kriteria untuk dapat diterima akal sehat adalah sesuatu itu harus dapat 'diindera' dan 'berguna'? Bagaimana dengan misteri kematian, penderitaan, kasih, persahabatan, yang jelas bagian dari kenyataan tetapi tidak pernah dapat dikupas tuntas secara masuka akal? Dan kalau kegunaan adalah
kriteria, di mana manfaat 'kematian', 'sakit', dan apakah 'kasih' juga harus diukur dari manfaatnya?
Pertentangan antara yang 'fiktif' dan 'Ilmiah', antara yang 'naratif-tak berguna' dan 'manfaat', ternyata sudah melingkupi sejarah istilah teologi. Istilah teologi ini sendiri tidak berasal dari dunia Kristen-Yahudi. Tidak ada satu bagian pun dalam Kitab Suci yang menyebutnya. Bahkan seorang pemikir Kristen yang menjadi pelopor 'teologi' G e r e j a L at i n , Te r t u l i a n u s ( 1 5 5 - 2 2 0 ) , p e r n a h mempertanyakan peran teologi bagi perkembangan iman dengan ungkapan: apa hubungannya antara Athena dan Yerusalem? Pertanyaan ini mengungkapkan keresahan orang kristen yang berupaya setia dengan dunia Kitab Suci, yaitu dunia Kristen-Yahudi, di hadapan dunia baru, yaitu dunia Filsafat Yunani. Tertulianus sendiri tidak asing dengan filsafat. Sebelum bertobat, ia seorang orator dan ahli hukum di Kartago. Justru karena ia akrab dengan dunia Yunani, ia tahu kecenderungan budaya itu, khususnya filsafat, yang terlalu mengagungkan kemampuan akal dan dengan demikian membuka pintu untuk masuk ke dalam jerat kesombongan. Pertanyaannya, bagaimana teologi dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kesederhanaan Kitab Suci dan iman? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan melacak sejarah istilah teologi itu sendiri.
A. Teologi dalam pemikiran Platon dan Aristoteles Istilah teologi pertama kali digunakan oleh seorang filsuf besar Yunani, Platon. Istilah ini ditemukan dalam bukunya
yang berjudul Politik. Aristoteles, filsuf besar lainnya, yang tidak lain adalah murid Platon, memiliki konsep yang berbeda menyangkut teologi. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya kita cermati terlebih dahulu dua konsep yang erat terkait dengan teologi dalam sejarah pemikiran Yunani, yaitu mytos dan logos.
Mytos, mytologi, upacara
Arti paling dasar dari mytos adalah ucapan yang berwibawa dan tidak dapat dibantah. Ia tidak dapat dibantah karena berasal dari para dewa dan membuat hidup manusia memiliki makna. Melalui pendarasan mytos atau mytologi (mytologi, dari kata mythos, yaitu kisah para dewa, dan legein, yaitu membacakan-menceritakan), manusia dapat menjalin relasi dengan para dewa, mengalami kembali kekuatan mereka dan memahami dunia di sekitarnya.
Biasanya, pendarasan mytos ini dilakukan dalam upacara.
Meskipun sebagai istilah dan konsep, mytos berasal dari dunia Yunani, tetapi keberadaannya dapat ditemukan juga dalam hampir semua budaya.
Sebagai contoh, dalam budaya Jawa, ada kisah asal-usul (mytos) padi. Menurut kepercayaan mereka, tanaman padi yang menjadi penopang kehidupan manusia, berasal dari pertemuan antara Dewi Sri (benih padi) dan Dewa Wisnu (air). Dengan demikian, bagi masyarakat Jawa, segala hal yang terkait dengan padi (menanam, merawat dan memanennya) memiliki makna yang mendalam dan harus diperlakukan secara istimewa. Itu sebabnya, banyak ritual dijalankan mulai dari proses menabur benih dan juga
dalam setiap tahap lainnya. Berikut contoh beberapa upacara agraria yang dilakukan masyarakat Yogyakarta:
Upacara menabur benih biasanya dilakukan oleh lelaki, pertama- tama dengan menanam sembilan butir gabah; satu butir diletakkan di tengah dan delapan butir ditanam di delapan penjuru mata angin. Upacara ritual juga dilakukan pada waktu akan dimulainya tandur (tanam), dengan kelengkapan upacara berupa jenang pethak (bubur putih), pisang kluthuk, kinang (kapur-sirih), dan bunga. Kelengkapan upacara ini dibawa ke sawah kemudian diletakkan di dekat tempat pesemaian. Setelah dibacakan doa (mantra-mantra) sembari membakar kemenyan, kelengkapan upacara (sesaji) dibagi-bagi menjadi beberapa bagian dan masing-masing bagian diletakkan di sudut-sudut kotak Sawah (mbuwaki) untuk disajikan kepada penjaga Sawah (baureksa). Sisa kelengkapan upacara tersebut kemudian dibagi- bagikan kepada para pekerja di sawah.
Ritual-ritual di atas memperlihatkan bahwa mytos bukanlah kisah khayalan. Mytos membentuk suatu cara pandang atas dunia (world view). Bagi masyarakat tradisional, dunia adalah suci karena tidak pernah lepas dari campur tangan yang ilahi. Keyakinan ini diungkapkan dalam bentuk mytos dan dipentaskan atau dikisahkan kembali dalam ritual- ritual. Setiap kali ritual dipentaskan, mytos diucapkan dan dewa-dewi diyakini hadir kembali, menciptakan atau membarui dunia ini.
Manusia ikut ambil bagian dalam karya penciptaan dengan bercocok-tanam, sesuai petunjuk yang diberikan oleh para
pribadi ilahi itu. Oleh karena itu, mengolah sawah dan hasil bumi lebih dari sekedar kegiatan ekonomi. Sawah dan padi bersifat suci dan karena itu punya makna mendalam.
Bandingkan dengan cara pandang modern dalam mengolah sawah. Dalam cara pandang modern, sawah dan padi hanyalah alat produksi. Tidak ada Upacara rohani yang dibuat dalam setiap prosesnya selain menaburkan pupuk kimia, menyemprotkan cairan kimia pembunuh hama dan hasil panen dikarungi untuk kemudian dilemparkan ke atas truk dan berakhir di gudang penyimpanan yang pengab. Masyarakat industri kehilangan 'cita rasa akan yang suci' (sense of sacred) dan memandang dunia ini semata sebagai mesin produksi. Tidak heran, salah satu kehausan orang modern adalah haus akan makna hidup. Masyarakat tradisional tidak pernah mengalami krisis makna hidup seperti orang modern karena dunia yang suci, yang terkait dengan yang ilahi, selalu melahirkan makna bagi setiap pribadi.
Logos
Apa itu logos tidak dapat dipisahkan dari gagasan dasar dalam sejarah pemikiran Yunani. Semula, logos dikaitkan dengan penyebutan, pertangungjawaban, pembenaran.
Dari sana, lahir makna lainnya yang lebih luas seperti laporan, usulan, pembuktian atau penjelasan. Dengan demikian, logos dikaitkan dengan pikiran dan kata-kata manusia. Sampai di sini, sebenarnya, mytos dan logos memiliki makna yang sama, yaitu ucapan yang penuh wibawa, yang diyakini tanpa perlu pembuktian lagi.
Ketika pikiran dan gagasan menjadi lebih jelas dan lebih dapat dipertanggungjawabkan dalam permenungan filosofis, logos semakin dipisahkan dari mytos, dari opini (doxa) dan dari persepsi. Sejarah filsafat Yunani didominasi oleh ketegangan antara mytos dan logos.
Teologi Platon
Menurut Platon, teologi adalah jembatan antara mytos (kisah para dewa) dan logos (pengetahuan). Sebagai jembatan, teologi berperan mengungkapkan makna rahasia yang disembunyikan para dewa dalam mytologi supaya kisah-kisah mereka dapat diterima akal (logos) dan berguna untuk menuntun perilaku manusia di dunia (moral). Agar makna rahasia itu dapat disingkap, teologi harus menilai secara kritis mytos. Penilaian ini dapat dilakukan hanya jika dibuka ruang kebebasan berpikir yang tidak lagi diikat oleh kebiasaan atau tradisi lama tetapi membiarkan pikiran menguji sendiri mytos sebagai objek penilainnya.
Menurut Platon, walau merupakan kisah suci, mytos terbuka untuk penilaian kritis akal-budi sebab mytos menggunakan bahasa manusia. Yang dikritisi bukan para dewa-dewi, tetapi bahasa manusiawi yang ingin mengungkapkan keterlibatan mereka di dunia ini. Itulah tugas teologi: mengkritisi mytos sebagai bahasa manusia untuk lebih dapat melihat maksud sejati para dewa.
Dibedah dengan pisau akal budi, mytos ditanggalkan dari ciri-ciri amoral dan tahayulnya. Misalnya, perilaku para dewa yang kerapkali berperang di antara mereka sendiri (misalnya, Zeus bertempur melawan Hades) bukanlah
berarti para dewa itu tidak akur tetapi melambangkan pertempuran baik dan benar dalam diri manusia itu sendiri.
Teologi Aristoteles
Menurut Aristoteles, teologi adalah puncak dari pengetahuan kontemplatif (teoritis) atau pengetahuan filosofis. Penilaian kritis atas mytos tidak menghancurkan firman para dewa tetapi membuat membuka pintu bagi masuknya banyak pertanyaan terkait para dewa dan juga upaya untuk menjawabnya. Upaya menjawab pertanyaan terkait para pribadi ilahi inilah yang oleh Aristoteles disebut teologi, yaitu pengetahuan tentang para dewa (para ilahi).
Pengetahuan tentang yang ilahi ini tentu pengetahuan yang paling tinggi sebab dari yang ilahi muncul segala kenyataan. Maka, jika sampai pada pengetahuan yang ilahi, segala kenyataan dapat dipahami. Dalam kaca mata Aristoteles, dengan demikian, teologi berada di atas matematika (pengetahuan mengenai bilangan) dan di atas fisika (pengetahuan mengenai dunia fisik). Jika matematika membawa manusia sampai pada pengetahuan tentang hukum bilangan-angka yang diyakini membentuk dunia ini, dan hukum fisika membawa manusia memahami gejala- gejala semua kenyataan fisik, teologi menghantar manusia untuk memandang pribadi ilahi itu sendiri dan dari sana terbuka rahasia segala kenyataan.
Beberapa Butir Simpulan
Pertama, dari sejarah konsep teologi, dapat dilihat bahwa upaya menusia untuk mengenal dan memahami yang ilahi tidak mengharamkan keterlibatan usaha manusia yang bebas dan berkesadaran melalui penggunaan akal-budinya. Akal-budi tidak hanya dapat tetapi wajib diikutsertakan dalam upaya menghayati kepercayaan karena yang ilahi, yang dipercaya itu sendiri, hanya dapat dikenal dan dipahami melalui gejala-gejala duniawi. Mytos, misalnya, adalah kisah para dewa yang disampaikan melalui bahasa manusia, dan bukan bahasa para dewa. Beragam simbol dan pernak- pernik dalam upacara, dipilih dan diambil dari dunia sehari-hari. Dengan kata lain, penggunaan akal-budi dalam penghayatan kepercayaan mutlak diperlukan karena yang ilahi, yang menjadi objek kepercayaan, sampai kepada manusia berkat mediasi duniawi dan manusiawi. Akal-budi dilibatkan dalam hidup kepercayaan agar keyakinan tidak menjadi buta dan menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
Kedua, setiap orang yang percaya memang wajib menghayati kepercayaan secara rasional, tetapi ada kelompok tertentu yang mendalami upaya rasional itu secara khusus dengan mempelajarinya sebagai ilmu pengetahuan. Inilah yang disebut sebagai teolog, yaitu mereka yang secara khusus dan profesional mempelajari iman-kepercayaan secara kritis dan rasional. Sebelum munculnya teologi, para profesional yang mengungkapkan keyakinan dalam bahasa manusia adalah para penyair, yang menggubah karya-karya sastra dengan mengambil mytos sebagai inspirasinya.
Setelah munculnya konsep teologi, para teolog profesional
ini adalah para filsof yang mempertanyakan hakikat dan sepak terjang para dewa dalam upaya mereka mencari hakikat kenyataan.
Ketiga, untuk kita, para murid Kristus yang hendak mendalami teologi, kita dapat belajar bahwa awal teologi adalah mytos, yaitu pengetahuan tentang yang ilahi, dan mytos ini berbentuk kisah. Meskipun ada perbedaan antara orang-orang Yunani kuno dan kita dalam hal keyakinan (orang-orang Yunani kuno percaya pada banyak dewa dan orang Kristen percaya pada Allah Tritunggal), tetapi kita dapat menemukan juga kesamaannya yaitu pentingnya peran pengisahan: Kitab Suci adalah 'kisah Allah dan manusia', jantung perayaan Ekaristi adalah 'kisah institusi' yang menghadirkan kembali Perjamuan Terakhir ketika Yesus menyerahkan tubuh dan darahNya secara simbolis, dan berkat pembaptisan, kisah Yesus Kristus terus terjadi melalui kisah hidup kita. Dengan demikian, kita tidak dapat bertologi tanpa kisah nenek moyang kita dalam beriman (Israel dan Gereja Perdana) dan juga tanpa kisah kita sendiri (hidup pribadi, keluarga dan masyarakat baik dalam skala lokal, Nasional maupun global).
Yang menjadi pertanyaan: apakah kisah tentang Allah dengan demikian adalah buatan imajinasi manusia?
Bagaimana manusia di segala zaman dan budaya dapat mengenal Dia yang disebut dengan beragam nama: Zeus di Yunani, Brahma di India, Thien di Tiongkok, YHWH di Israel? Salah satu kata kunci untuk menjawab pertanyaan itu adalah pengalaman akan Allah.
B. Pengalaman Akan Allah
Sebagai gejala bahasa, mythos bersifat manusiawi. Akan tetapi, di balik bahasa mythos, dapat ditemukan pengalaman akan Yang Ilahi. Apa artinya pengalaman akan Yang Ilahi? Bagaimana Yang Ilahi dapat dialami oleh manusia? Apa artinya pengalaman?
Pengalaman
Pengalaman memiliki makna yang begitu luas. Beberapa pemaknaannya dapat ditawarkan di sini.
-pengalaman manusiawi selalu melibatkan indra karena menjadi manusia berarti menjadi mahluk yang bertubuh- berjiwa
-objek pengalaman manusiawi adalah hal-hal konkrit yang berkat dorongan rasional menemukan keterkaitannya satu sama lainnya
-maka pengalaman secara bersamaan bersifat pasif (diterima begitu saja: pengalaman jatuh cinta, pengalaman terluka, dst) dan aktif (diolah dan direnungkan:
menemukan makna, mengubah, dst)
-pengalaman terjadi dalam sejarah (ruang dan waktu) karena menjadi manusia berarti menjadi mahluk yang menyejarah, tinggal dalam ruang dan waktu (omne quod recipitur in aliquo recipitur per modum recipientis: setiap hal yang diterima melalui sesuatu, diterima menurut cara penerimanya). Di sini, pengalaman melibatkan beberapa unsur seperti ingatan-kenangan, otoritas, keadaan aktual lingkungan dan Pribadi dan bahasa.
Pengalaman akan Allah
Terkait pengalaman akan Allah, baik dikutip pernyataan Karl Rahner berikut ini: Manusia masa depan entah menjadi seorang mistikus, artinya memiliki pengalaman tertentu, entah bukan mistikus sama sekali, sebab untuk sampai pada pengalaman dan keputusan pribadi, kesalehan masa depan kehilangan landasan kesepakatan bersama dan norma-norma religiusnya; pendidikan agama yang terjadi saat ini tidak lebih dari sekedar bungkusan institusional keagamaan.
Karl Rahner melihat bahwa zaman modern membuat orang semakin sulit untuk percaya kepada Allah karena dunia modern tidak menerima kepercayaan kepada Allah itu sebagai yang utama dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan cara pandang tertentu terkait sejarah di mana pengalaman manusiawi terjadi. Pandangan pertama, sejarah bukanlah suatu kemajuan murni tetapi suatu sejarah yang ditandai dengan kemajuan dan kemunduran. Di hadapan pandangan sejarah seperti ini, orang Beriman diundang untuk memiliki di satu sisi harapan dan di sisi lainnya panggilan moral untuk berada bersama mereka yang dilupakan dan disingkirkan dalam sejarah. Pandangan kedua, manusia tidak memegang kendali sejarah sepenuhnya. Satu-satunya cara tidak tergilas oleh peristiwa demi peristiwa yang melintas dalam sejarah hidupnya, orang mencoba menemukan maknanya.
Makna
Dikaitkan dengan pengalaman, makna dapat berarti:
-pengalaman akan keteraturan: di balik segala kebijaksanaan dan kebudayaan, dapat ditemukan
pencarian akan keterarturan. Misalnya, tidak ada satu budayapun yang tidak menjadikan hukum-aturan sebagai pusat kehidupan bersama. Dalam arti ini pula, mythos dapat dipahami sebagai upaya untuk mengaitkan peristiwa satu dengan peristiwa lainnya untuk membuka peluang penemuan makna hidup. Kasih, persahabatan dan kebenaranan, misalnya, dijunjung tinggi karena diyakini dapat memberikan keteraturan hidup di tengah gelombang kehidupan yang tidak menentu.
-pengalaman kenabian: di tengah ketidakadilan yang mewarnai sejarah hidup manusia, kepercayaan akan Allah kerapkali tidak menjadi faktor yang membuat hidup teratur tetapi sebaliknya mengguncang tatanan lama yang melahirkan ketidakadilan tersebut.
-pengalaman pendengar: bagaimana menemukan keteraturan di tengah ketidakteraturan sejarah? Seorang anak belajar bahasa pertama-tama dengan mendengarkan dan dari situ ia dapat berbahasa yang membantunya untuk berkembang. Demikian juga manusia, ia dapat semakin manusiawi jika ia belajar terbuka pada yang lain, baik itu manusia lain, ciptaan lain, dan akhirnya belajar untuk terbuka pada Yang Lain, yaitu Sang Pencipta, Allah sendiri.
II. Wahyu
Apa itu Wahyu? Dalam tradisi Katolik, gambaran Wahyu ilahi ditemukan dalam Ibr. 1:1: Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita
dengan perantaraan anakNya". Beberapa butir penting dapat ditarik dari ayat ini:
Wahyu pertama-tama berarti Allah berbicara, artinya Ia mengkomunikasikan diriNya. Dalam Perjanjian Lama, komunikasi diri Allah kepada manusia yang diwakili bangsa Israel, meliputi:
1. Allah mengkomunikasikan kehendakNya. Kehendak Allah terutama ditemukan dalam kitab Taurat (Ia memberitakan firmanNya kepada Yakub, ketetapan- ketetapanNya dan hukumNya kepada Israel, Mzm. 147:19) 2. A l l a h m e n g k o m u n i k a s i k a n k e m u l i a a n d a n
kehamakuasaanNya. Kemahakuasaan Allah terungkap dalam alam ciptaan yang lahir berkat firmanNya (Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya, Mzm. 19:2).
3. Allah mengkomunikasikan belas kasih dan keadilanNya.
Belas kasih dan keadilan Allah terungkap dalam tindakanNya memilih, membimbing dan melindungi umatNya, Israel (Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepadaKu, Kel. 19:4).
Dalam Perjanjian Baru, komunikasi Allah terjadi dalam dan melalui seorang pribadi, yaitu Yesus dari Nazaret.
Perwahyuan ini unik dengan dua alasan: pertama, Yesus adalah Sang Pembawa Wahyu yang sejati (Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya, Yoh. 1:18);
kedua, Yesus juga adalah isi atau objek Wahyu itu sendiri
(Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa... Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku,Yoh. 14:9-11).
Menurut St Paulus, Wahyu adalah penyingkapan rencana Allah tentang keselamatan dalam Kristus (Rm. 16:25-27) dan juga tentang penghakiman yang adil (1Kor. 3:13).
Penyingkapan ini sekaligus pelaksanaannya, dan karena itu suatu pernyataan. Dengan demikian, wahyu bersifat aktif- personal dan bukan pasif-kebendaan. Ia tidak tertutup pada masa lalu, tetapi terus maju sampai pada kepenuhannya saat Kristus datang kedua kalinya. Secara lebih terperinci, paham Wahyu menurut St Paulus dapat dijabarkan demikian:
1. Pelaku wahyu adalah Allah (1Kor. 2:10). Kristus bukan pertama-tama yang mewahyukan melainkan yang diwahyukan sebab Dialah isi perwahyuan itu sendiri (Gal. 1:16; Rm. 3:21-22). Yang meneruskan Wahyu adalah para rasul karena melalui pewartaan mereka Allah menyebarkan rahasia Kristus ke seluruh dunia (2Kor.
2:14). Penderitaan dan kematian para rasul merupakan perwujudan penderitaan dan kematian sekaligus kemuliaan Kristus dalam tubuh mereka (2Kor. 4:10-11).
2. Sasaran wahyu adalah semua orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani (Rm. 1:16). Meskipun mengandung kabar sukacita dan keselamatan, Wahyu juga mengandung panggilan utama, yaitu pertobatan (2Kor.
2:15-16).
3. Kepenuhan wahyu masih harus dinantikan pada parusia, yaitu penyingkapan kemuliaan Kristus secara penuh. Pada watu itu akan disingkapkan juga kemuliaan
ciptaan baru, yaitu mereka yang percaya dan tunduk pada Kristus (1Kor. 1:7; Kol. 3:3-4).
4. Isi wahyu adalah misteri Kristus sendiri (Rm. 16:25-26; Ef.
3:3-5). Kristus membawa kepenuhan perwahyuan dalam arti menggenapi apa yang Allah maksudkan dalam Perjanjian Lama.
Bagi para Bapa Apostolik, yaitu para Bapa Gereja yang berkarya setelah para rasul, wahyu memiliki ciri kosmis- universalistis, artinya, harmoni semesta alam berlaku sebagai penyataan hukum Allah dan dari harmoni ini para Bapa Gereja menyimpulkan peraturan etis bagi manusia.
Ada pengaruh filsafat Stoa yang kuat dalam pemahaman ini. Apa yang diwahyukan secara umum melalui alam semesta dan sejarah bangsa-bangsa, ditegaskan kembali secara khusus dalam Kitab Suci. Kekhususan itu terletak dalam sejarah bangsa Israel dan terutama dalam peristiwa Yesus. Melalui kekhususan inilah, Jati diri Allah lebih dikenal. Dalam surat kepada Umat di Magnesia, St Ignatius dari Antiokia menulis: bahwa ada satu Allah yang telah mewahyukan diri melalui Yesus Kristus, PuteraNya, yang merupakan SabdaNya; dengan Sabda itu Allah Keluar dari keheninganNya.
Bagi para Bapa Apologet, yaitu Bapa-bapa Gereja yang membela iman dengan tulisan dan kesaksian hidup mereka mulai dari abad kedua sampai akhir abad ketiga, Yesus Kristus menjadi kriteria Wahyu ilahi. Dalam terang Kristus, Perjnjian Lama menemukan maknanya yang terdalam. Berkat Kristus pula, Allah tidak saja diyakini
sebagai yang melampaui dunia dan ciptaan (Sang Pencipta), sesuatu yang juga diyakini oleh para filsuf Yunani, tetapi juga Allah yang bertindak di dalam dan melalui sejarah (Sang Penyelamat). Ada kesatuan antara ekonomi (perwujudan karya) Penciptaan dan ekonomi Keselamatan. Kesatuan inilah yang ditekankan oleh St Irenius dari Lyon khususnya, ketika ia berhadapan dengan bidaah Gnostik yang mempertentangkan Allah Pencipta sebagai Allah yang jahat dengan Allah Penyelamat sebagai Allah yang baik.
Bagi sekolah teologi Aleksandria, Wahyu dan pengetahuan (Gnosis) tidaklah bertentangan melainkan membentuk kesatuan berkat perutusan sang Logos. St Klemens dari Alexandria, misalnya, menggarisbawahi Kristus sebagai Guru universal yang mengajarkan rahasia terakhir segala kenyataan.
Perwahyuan ini terjadi khususnya ketika pembaptisan, yaitu pengangkatan pribadi manusia ke wilayah ilahi, dengan menjadi putri-putra Allah dalam Kristus. Origenes pun memusatkan perhatian pada Peran Kristus dalam perwahyuan. Baginya, Kristus adalah subjek sekaligus objek wahyu ilahi. Inkarnasi menjadi puncak pertama Wahyu tersebut. Puncak kedua adalah parusia. Dengan menghubungkan inkarnasi dan parusia, Origenes mengembangkan konsep Wahyu yang dinamis:
pemahaman akan perwahyuan maju selangkah demi selangkah sampai nanti kita semua diserupakan dengan Kristus.
Setelah melihat gejala dan konsep wahyu dalam Kitab Suci serta beberapa Bapa Gereja, sekarang kita akan melihat sekilas konsep wahyu dalam tiga konsili yang diadakan di jaman modern, yaitu konsili Trente, Vatikan I dan Vatikan II.
Dalam Konsili Trente (1545-1563), pembicaraan tentang Wahyu terpusatkan pada bagaimana ia diteruskan. Hal ini dapat dipahami mengingat konsili itu hendak Menanggapi tantangan yang diajukan oleh reformasi Protestan terutama dengan prinsip Sola Scriptura-nya. Yang termasuk paham Wahyu menurut para Bapa Konsili Trente adalah:
1. Sejarah Israel yang jejak tertulisnya ditemukan dalam Perjanjian Lama
2. Injil atau Peristiwa Yesus yang meliputi segala yang dibuat dan dikatakan oleh Kristus
3. Karya Roh Kudus, pewahyu, sepanjang zaman Gereja.
Karya ini meliputi proses penulisan Injil maupun penjaminan hal-hal yang walau tidak tertulis namun tertera dalam hati orang beriman dan yang diteruskan oleh para rasul serta pengganti mereka. Menurut pemahaman ini, sebagai peristiwa historis, Wahyu memang hanya terjadi sekali. Namun, sebagai sebuah kenyataan iman, apa yang terjadi hanya sekali itu terus hidup dan dapat dialami kembali oleh Mereka yang percaya.
Dalam Konsili Vatikan I (1869-1870), konsep Wahyu terkait dengan upaya konsili Menanggapi tantangan modernisme yang sangat percaya pada kemampuan akal budi untuk menyingkap misteri kehidupan. Percaya pada akal budi itu
tentu tidak berlawanan dengan iman, seperti sudah dilakukan juga oleh para Bapa Gereja. Namun demikian, ketika akal dianggap sebagai kriteria terakhir bagi kebenaran (rasionalisme teologi), iman kehilangan dimensi misterinya. Yang perlu diwaspadai tidak saja rasionalisme teologi tetapi juga fideisme, yaitu kecenderungan yang meremehkan akal dan menyamakan iman pada kepercayaan buta, irasional. Dalam konteks inilah, Konsili Vatikan I mengeluarkan ajarannya tentang wahyu. Menurut para Bapa Konsili, Allah secara pasti dapat dikenal melalui alam ciptaan dengan memakai terang kodrati akal budi.
Inilah wahyu kodrati. Namun demikian, kecenderungan akal yang mengarah pada egoisme dan menutup pintu bagi Allah, mengarahkan manusia kepada Wahyu adi-kodrati yang melampui akal budi manusiawi. Wahyu adi-kodrati ini ditemukan dalam Kitab Suci dan tradisi-tradisi.
Dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), Wahyu dipahami dari faktanya: dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya Allah berenan mewahyukan diri dan menyatakan rahasia kehendakNya (Ef.
1:9). Hakikat Wahyu, menurut Konsili Vatikan II, adalah bahwa Allah yang tak kelihatan dari kepenuhan cintaNya menganugerahkan diri kepada manusia, menyapa dan bergaul dengan mereka. sifat-sifat Wahyu: pertama, misteri ilahi, Wahyu adalah tindakan ilahi; kedua, historis, Wahyu terjadi dalam dunia, melalui peristiwa; ketiga, pengetahuan, wahyu diketahui berkat kesaksian, pewartaan dan ajaran;
keempat, personal, Wahyu senantiasa terwujud dalam perjumpaan pribadi antara Allah dan manusia. Jadi, Konsili Vatikan II memahami Wahyu sebagai relasi interpersonal
antara Allah dan manusia yang membawa manusia pada keselamatan.
Tentang Penulis
Rm Carolus Putranto Tri Hidayat adalah seorang imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta yang ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 2006. Perutusan studi dijalani di Universitas Kepausan Urbaniana untuk meraih gelar Master di bidang teologi misi (2004-2007). Setelah kurang lebih 3 tahun menjalani perutusan pastoral di Paroki Kalvari- Lubang Buaya dan Regina Caeli-Pantai Indah Kapuk, romo Uut, begitu ia biasa dipanggil, diutus lagi untuk belajar teologi fundamental di Institut Katolik Paris. Sejak 2016, romo Uut mendapat tugas perutusan untuk Mendampingi para calon Imam KAJ, mengampu mata kuliah teologi di STF Driyarkara dan Ketua Komisi Kateketik KAJ.